CHAPTER 12: MY GIRL
Tidak ada yang salah dengan cuaca hari ini. Suhu tetap
normal di atas dua puluh delapan derajat. Sepertinya musim semi benar-benar
sudah datang.
Kuroto Hana, baru saja keluar dari toilet namun sialnya
tertangkap oleh guru Bahasa Jepang dan diminta menempelkan brosur dari
Universitas pada mading. Tidak bisa menolak dari guru temperamental itu,
akhirnya mau tak mau perempuan berambut pendek itu keluar dari ruang guru
dengan beberapa brosur di tangannya.
Mading lantai tiga utara beres, mading lantai tiga selatan
beres. Saatnya turun ke lantai dua. Masih ada beberapa lembar lagi brosur dalam
pelukannya. Kalau dia tidak bergegas, sepertinya akan dipastikan dia akan
membolos pelajaran ke empat setelah istirahat.
Dipercepatnya langkahnya menuruni tangga menuju lantai dua.
Di mana kelasnya berada. Benar juga, mungkin dia bisa bertemu dengan temannya
dan meminta bantuan salah satu temannya. Setidaknya, supaya pekerjaan ini cepat
selesai.
Dilain sisi tangga, seorang pria dengan kejema putih dan
dasi merah melekat pada lehernya tengan berjalan menaiki tangga ditemani
seorang siswa.
“Awas saja! Jika ini tidak selesai sampai bel masuk, akan
kubakar brosur-brosur ini!” Sibuk dengan gerutuannya, Hana terus menuruni
tangga tanpa memperdulikan apa-siapa-pun yang berpapasan dengannya di tangga.
Bahkan pria berdasi itu.
“Kuroto Hana?”
Baru saat namanya terpanggil, perempuan bermata biru itu
berhenti bergerak dan menoleh ke belakang, kea rah sumber suara.
Ishikawa Guren. Berdiri di anak tangga yang lebih tinggi
darinya. Tersenyum ke arahnya.
“Ishikawa-san? Ah, selamat siang,” Hana menundukan kepalanya
memberikan sapaan.
“Tidak perlu seformal itu. Kalau begitu, terima kasih, kamu
bisa kembali ke kelasmu,” Ishikawa Guren berbicara pada siswa yang
mengantarnya.
Hana mengikuti pandangan Ishikawa Guren dan menemukan sosok
ketua kelasnya, Takatsu Rui.
“Ah! Rui-kun!” Ceplos Hana.
Siswa berambut gelap itu tersenyum sekilas ke arah Hana
sebelum akhirnya menundukan kepalanya ke arah Ishikawa Guren dan menuruni
tangga meninggalkan keduanya.
“Eh? Loh?” Hana cukup kebingungan karena Takatsu Rui pergi
begitu saja.
“Bagaimana kabarmu?” Bersamaan dengan pertanyaan itu,
tangannya ia julurkan untuk mengusap rambut pendek Hana.
“Ru-chaaaaaaan… tunggu sebentar!”
Sementara itu, di bawah tangga terdengar sebuah suara.
Takatsu Rui yang hendak berbelok menuju kelasnya terpaksa
mengagalkan niatnya karena mendengar panggilan dari salah satu temannya.
“Ada apa Kai? Oh Kau bersama Haru?” Ketua kelas itu
menyuarakan penglihatannya. Karena cukup asing juga melihat Natsume Haru, siswa
yang notabene terlihat aneh, dan jarang bergaul, bisa berjalan bersama Kai.
“Yaah… kami baru dari kantin. Yuk bareng ke kelas,” tanpa
ragu Kai memeluk leher Rui.
Tak lama kemudian munculah Natsume Haru dengan kedua
tangannya ia masukan ke dalam saku celananya, berjalan malas kea rah Rui dan
Kei.
“Oh Hana! Ah… Siapa itu?” Ushio Kei melambai ke arah Hana
namun berikutnya pemuda dengan semir rambut kuning itu terbingung dengan pria
yang tengah mengacak rambut Hana.
Mendengar nama istrinya, Kuroto Yoshiki sebgaai Natsume Haru
ikut menolehkan kepalanya ke arah anak tangga.
Crimson Red itu terbelalak dalam beberapa detik.
“Itu Ishikawa Guren dasar bodoh. Yang waktu Class fest
memberikan sambutan itu loh,” Rui berbisik pada telinga Kei. Sementara Kei
hanya mengangguk-angguk entah mengerti atau tidak.
“Jadi, apa itu pacar Hana?” Celetuk Kei.
“BUKAN! BUKAN PACARKU!” Dengan tergagap, Hana melepaskan
tangan Guren dari kepalanya sebelum akhirnya berteriak ke arah Kei.
“Lihat, lihat itu pacarnya Hana,” disertai dengan tawa jahil
Kei menyikut tangan Haru yang sudah berdiri di sampingnya.
Tapi tanpa diketahui oleh bocah SMA berambut pirang itu,
Haru Natsume alias Kuroto Yoshiki tengah dongkol luar biasa.
“SUDAH KUBILANG BUKAN PACARKU!” Hana masih berteriak.
“Ayo, ayo jangan ganggu mereka,” Kei Ushio mendorong tubuh
Rui dan Haru menjauh dari tangga. Tentu saja masih dengan cengiran bodohnya.
“HEI! KEI BODOH!” Hendak saja Hana melangkahkan kakinya
untuk mengejar Kei, tapi sebuah cengkraman pada lengannya menahannya.
“Ahahaha, itu candaan yang bagus di siang hari. Benar kan
Kuroto-san?” Ishikawa Guren tersenyum ke arahnya. Sebuah senyum menawan yang
seharusnya bisa menawan setiap gadis yang melihatnya.
“Tapi aku berharap itu bukan candaan,” bisikan itu lolos
dari bibir Ishikawa Guren.
“Eh?”
“Ah! Bukan! Bukan apa-apa!” Pria pemilik Ishikawa Corp. itu
nampaknya salah tingkah.
“Hoo…” sementara Hana hanya ber-hoo ria.
“Ah, omong-omong Ishikawa-san apa yang anda lakukan di sini?
Bukankah Class Fest sudah selesai?” Tanya Hana.
“Jangan terlalu formal. Kau bisa memanggilku Guren saja.”
“G-Guren!? Tapi itu kan…!?”
“Aku kemari karena ada perlu dengan kepala sekolah tadi.”
“Oh? Kepala sekolah? Ada apa?”
Tak habis pikir. Ishikawa Guren bisa mengalihkan
perbincangan secepat itu.
Ishikawa Guren mendekat ke arah jendela. “Aku berpartisipasi
sebagai penghunung antara sekolah dan kontraktor bangunan,” telunjuknya terarah
pada tanah kosong di belakang sekolah yang sudah terpagari untuk—rencananya—bangunan
sekolah baru.
“Begitu…” Hana mengangguk-angguk mengerti.
Sebuah bunyi menggema di seluruh lorong bangunan sekolah.
Sebuah bunyi yang menandakan usainya istirahat siang. Bel masuk.
“WAAAAH!! SUDAH MASUK! BAGAIMANA INI!? ISHIKAWA-SAN TITIP
INI!” Diserahkannya brosur yang seharusnya ia tempelkan di maging-mading pada
Ishikawa sementara dirinya sendiri berlari menuruni tangga dan berlari menuju
kelasnya. Jam berikutnya adalah Olah Raga. Ia tidak mau menyianyiakan waktunya
pada pelajaran favoritnya ini.
-[Yami no Ai]-
Hana tertegun di halaman belakang mansion. Duduk di sebuah
ayunan yang sama sekali tidak berayun. Menatap bosan apapun yang dihadapannya.
Tapi sesekali ujung bibirnya tertarik.
Membayangkan wajah bodoh guru Bahasa Jepang kelas duanya
dulu saat mengomelinya karena brosur yang seharusnya ia sebar malah ia berikan
pada Ishikawa Guren, tamu istimewa Mirai no Gakoo.
“Hahaha… seharusnya kau lakukan sesuatu pada keriputmu itu,”
gurau Hana.
Walau begitu, siswi kelas 3-1 itu hanya tertunduk waktu
dirinya di sidang di dalam ruang guru sepulang sekolah tadi. Hanya bisa
mendengarkan setiap kalimat menusuk guru itu.
“Membayangkan sesuatu yang lucu?” Haru Natsume beridi di
samping Hana dengan kedua tangannya memasuki celana gelapnya.
“Haru-kun?” Hana mendongkakkan kepalanya menatap pria itu.
“Boleh saya duduk di samping anda?”
“Silahkan silahkan,” Hana segera menggeser duduknya. Memberikan
tempat bagi Haru untuk duduk di sampingnya.
Begitu menempatkan pantatnya dengan nyaman dan menyatukan
jari-jari tangannya di hadapannya, Haru Natsume berucap, “saya berharap anda
masih mengingat jika anda milik My Lord.”
Hana menolehkan kepalanya seketika kepada pria di
sampingnya. “Tentu saja aku milik Yoshiki-kun. Ada apa memangnya?”
“Ishikawa Guren. Entah kenapa dia selalu berusaha mendekati
anda.”
“Mendekatiku?” Hana sedikit terperangah.
“Hari ini pun dia datang ke sekolah.”
“Ah itu? Katanya dia berurusan dengan pembangunan bangunan
baru sekolah. Itu loh, lahan yang dipagari,” jelas Hana polos.
“Saya tahu itu.”
Sedetik kemudian Hana berpikir. Tentu saja Haru tahu. Iblis
bisa dengan mudah membaca pikiran manusia biasa.
“Saya juga tahu jika dia menyukai anda.” Pria bermata darah
itu memejamkan matanya. Berucap setenang mungkin.
“M-Menyukai!!??” Hana semakin terperangah.
“T-Tapi a-aku dan dia hanya berteman karena dulu pernah
potong rambut bersama!”
“Itulah mengapa ia berusaha mendekati anda,” tanpa
memperdulikan pembelaan Hana, Haru melanjutkan kalimatnya.
TEP.
Sesuatu terasa menyentuh tangannya. Membuka matanya, Natsume
Haru melihat tangan Hana tengah menggenggam kedua tangannya.
“Tenang saja Haru-kun. Aku milik Yoshiki-kun.” Ucap Hana
dengan senyumannya.
Haru Natsume terdiam beberapa saat setelah melihat Hana.
Perlahan, sebuah senyuman tipis tumbuh di sudut bibirnya. Entah kenapa, batinya
terasa lebih tenang setelah melihat senyuman Hana itu.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Kuroto Yoshiki sangat bersyukur
karena Hana adalah takdirnya. Dengan begini rasanya kegundahannya berkurang.
Ia sepenuhnya sadar sejak awal ia menyamar sebagai Natsume
Haru. Ini akan menjadi resikonya. Dan ia akan mengambil resiko itu apapun
bentuknya.
“Mau saya bantu menyingkirkan Ishikawa Guren sialan itu?”
Tawar Haru.
“Ahahaha, tidak usah sampai seperti itu. Omong-omong
Haru-kun kalau bicara seperti itu sama seperti Yoshiki-kun ketika cemburu,”
Hana setengah tertawa.
“My Lord?” Haru menaikan salah satu alisnya menatap Hana
yang masih asyik tertawa.
“Yah. Yoshiki-kun jika cemburu selalu menyebut pria yang ia
cemburui sebagai ‘sialan’,” jelas Hana.
Haru Natsume hanya memandangi Hana.
Sepertinya memang benar. Dirinya tanpa sadar menyebut pria
yang membuatnya cemburu sebagai ‘sialan,’ dan tanpa sadar ia membawa kebiasaan
itu walaupun sekarang telah menjadi Natsume Haru sekali pun.
“Yoshiki-kun… bagaimana kabarnya di sana ya?” Guman Hana
tiba-tiba.
“Tenang saja. My Lord pasti akan baik-baik saja.” Jawab
Natsume Haru yakin.
-[Yami no Ai]-
Di sebuah dataran Asia Tenggara. Lokasi yang cukup jauh dari
tanah Jepang. Negara dengan banyaknya pulau yang menjadi kebanggaannya. Negara
yang disebut dengan Indonesia. Lebih
tepatnya, di sebuah pedalaman kota Probolinggo. Sebuah bangunan yang dari luar
nampak seperti pabrik pada umumnya, namun di dalamnya, janganlah salah, salah
satu markas besar Exorcist berdiri di sini.
CRIING… CRIING…
Suara gemirisik dari rantai-rantai yang saling beradu
menggema di dalam sebuah ruagan. Ruangan yang anehnya memiliki penerangan
berwarna ungu. Bukan lampu. Bukanlah lampu yang menjadi penerangan. Lagipula,
itu bukanlah sebuah alat penerangan. Sinar UV (Ultra Violet) telah dipasang
dari lampu-lampu dim yang disebar di seluruh ruangan. Fungsi SInar UV itu
adalah untuk terus memeriksa setiap pergerakan yang ada di dalam ruangan itu.
Di tengah ruangan persegi empat dengan pintu baja
berlapis-lapis itu, dari atapnya tergantung beberapa rantai. Rantai yang pada
ujungnya mengikat tangan. Sementara itu, tepat dibawahnya masih ada
rantai-rantai lain yang mengikat sepasang kaki.
Sebuah tubuh manusia seukuran remaja dua puluh tahunan telah
terkurung sempurna di tempat itu. Semua alat geraknya telah terbelenggu oleh
rantai-rantai yang telah diberikan segel-segel tertentu. Sementara itu, seluruh
wajahnya telah tertutupi oleh helm berbentuk besi, di mana hanya ada lubang
pada bagian mulutnya.
Dan tidak jauh dari tubuh itu, sebuah penjara berbentuk
lingkarang mengitari tubuh itu. Dari penjara itu telah dialirkan listrik dengan
berjuta-juta voltase. Sekali sentuh, hangus sudah tubuhmu.
Dengan sinar UV dan penjara beraliran listrik berjuta-juta
voltase seperti itu, dipastika tidak akan ada manusia yang bisa bertahan di
dalam sana. Tidak bagai manusia. Tapi hal itu masih mungkin bagi seorang iblis.
Dari balik penjara itu, dari balik helm itu, sebuah seringai
terlihat. Dan diikuti sebuah gumanan, “semuanya akan segera siap, My Lord.”
-[Yami no Ai]-
Keesokan harinya, semuanya tetap terasa sama. Sekolah adalah
hal utama.
Tapi sepertinya hari ini tidak akan terasa sama. Kemunculan
dua adik kelasnya di hadapannya ini sepertinya memiliki maksud tersendiri.
“Ada apa ya?” Tanya Hana canggung.
“Kuroto-senpai… dekat dengan Natsume-senpai kan?”
Oh, lihatlah wajah-wajah polos itu. Sepertinya ini tidak
asing. Benar saja, Hana sering melihat ini. Para fansgirl Yoshiki selalu
menatap Yoshiki seperti itu. Ah… sepertinya bisa ditebak adik-adik kelasnya ini
adalah fansgirl Haru.
“Iya…” Hana mengangguk mengiyakan.
“Kalau begitu… boleh titip ini?” Salah satu adik kelas itu
mneyodorkan sebuah amplop.
Tanpa Hana pikir lebih jauh pun, sudah jelas terlihat jika
surat yang ia terima ini adalah surat cinta.
“Boleh. Akan segera kuberikan padanya,” Hana menyanggupi.
“Senpai mau? Yeaaay! Terima kasih senpai!” Kedua adik
kelasnya itu saling beradu pandang dengan senyuman merekah. Kemudian ber-ojigi
di hadapan Hana dan pergi dengan keriuhan mereka sendiri.
“Haah…” setelah diyakini kedua anak itu telah menghilang
dari pandangannya, Hana menghela nafas berat.
Dibolak-baliknya kertas persegi panjang itu. Dengan
tangannya yang kosong ia sandarkan pada bangkunya, Hana mengamati surat cinta
itu. Lucu juga. Bukan lucu yang menjurus pada ejekan. Tapi lucu yang menjurus
pada suatu hal yang manis. Di mana seorang perempuan menyukai seorang pria, dan
untuk menyampaikan perasaannya itu ditulisnya sebuah pesan untuk sang pria.
Kalau dipikir-pikir sudah berkali-kali Hana melihat Yoshiki dihadang seorang
siswi hanya untuk diberikan sebuah surat seperti ini.
Hana terdiam.
Waktu itu ia sama sekali tidak menyadari ini. Yang ia
rasakan hanyalah kesal melihat para siswi itu. Tapi sekarang ia menyadari
bagaimana perasaan-perasaan yang ingin tersampaikan itu. Dirinya memang tidak
pernah melakukan ini, oleh sebab itu ia sama sekali tidak tahu bagaiamana
rasanya menyampaiakan perasaan suka ewat sebuah pesan—walau terlihat norak di zaman
modern ini.
“Surat? Dari Ishikawa Guren?”
Baru saja dipikirkan, Natsume Haru telah berdiri di dekat
bangkunya dengan tatapan terfokus pada surat di tangannya.
“Bukan. Coba buka dan baca.” Hana menjulurkan surat itu.
Dengan ragu, Natsume Haru akhirnya menerima kertas persegi
panjang itu. Membukanya dan melihat isinya.
Mungkin karena mengira surat ini berasal dari Ishikawa Guren
untuk Hana, Natsume Haru membacanya dengan serius di awal. Namun setelah
menyadari apa yang sebenarnya terjadi dari setiap kalimat yang ia baca.
Sekarang ia tahu jika surat ini hanyalah sebuah surat dari salah satu
penggemarnya.
Tanpa ada niat Natsume Haru meremat kertas itu dan
melemparnya kea rah keranjang sampah di pojokan kelas, dah hebatnya bisa masuk
dengan tepat.
Hana shock melihat bagaimana surat yang berisi tumpahan
perasaan seorang gadis dibuang begitu saja di dalam keranjang sampah.
“Haru-kun bodoh! Kenapa dibuang!?”
“Karena tidak penting.”
“Tidak penting bagaimana!?”
Untuk beberapa saat ditatapnya sapphire Hana yang
memancarkan emosi.
“Karena saya sudah memiliki wanita saya.”
Dan bertepatan dengan usainya kalimat Haru yang menimbulkan
tanda tanya besar dalam kepala Hana, kelas dimulai.