Jumat, 06 Mei 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 12]

CHAPTER 12: MY GIRL

Tidak ada yang salah dengan cuaca hari ini. Suhu tetap normal di atas dua puluh delapan derajat. Sepertinya musim semi benar-benar sudah datang.
Kuroto Hana, baru saja keluar dari toilet namun sialnya tertangkap oleh guru Bahasa Jepang dan diminta menempelkan brosur dari Universitas pada mading. Tidak bisa menolak dari guru temperamental itu, akhirnya mau tak mau perempuan berambut pendek itu keluar dari ruang guru dengan beberapa brosur di tangannya.
Mading lantai tiga utara beres, mading lantai tiga selatan beres. Saatnya turun ke lantai dua. Masih ada beberapa lembar lagi brosur dalam pelukannya. Kalau dia tidak bergegas, sepertinya akan dipastikan dia akan membolos pelajaran ke empat setelah istirahat.
Dipercepatnya langkahnya menuruni tangga menuju lantai dua. Di mana kelasnya berada. Benar juga, mungkin dia bisa bertemu dengan temannya dan meminta bantuan salah satu temannya. Setidaknya, supaya pekerjaan ini cepat selesai.
Dilain sisi tangga, seorang pria dengan kejema putih dan dasi merah melekat pada lehernya tengan berjalan menaiki tangga ditemani seorang siswa.
“Awas saja! Jika ini tidak selesai sampai bel masuk, akan kubakar brosur-brosur ini!” Sibuk dengan gerutuannya, Hana terus menuruni tangga tanpa memperdulikan apa-siapa-pun yang berpapasan dengannya di tangga. Bahkan pria berdasi itu.
“Kuroto Hana?”
Baru saat namanya terpanggil, perempuan bermata biru itu berhenti bergerak dan menoleh ke belakang, kea rah sumber suara.
Ishikawa Guren. Berdiri di anak tangga yang lebih tinggi darinya. Tersenyum ke arahnya.
“Ishikawa-san? Ah, selamat siang,” Hana menundukan kepalanya memberikan sapaan.
“Tidak perlu seformal itu. Kalau begitu, terima kasih, kamu bisa kembali ke kelasmu,” Ishikawa Guren berbicara pada siswa yang mengantarnya.
Hana mengikuti pandangan Ishikawa Guren dan menemukan sosok ketua kelasnya, Takatsu Rui.
“Ah! Rui-kun!” Ceplos Hana.
Siswa berambut gelap itu tersenyum sekilas ke arah Hana sebelum akhirnya menundukan kepalanya ke arah Ishikawa Guren dan menuruni tangga meninggalkan keduanya.
“Eh? Loh?” Hana cukup kebingungan karena Takatsu Rui pergi begitu saja.
“Bagaimana kabarmu?” Bersamaan dengan pertanyaan itu, tangannya ia julurkan untuk mengusap rambut pendek Hana.
“Ru-chaaaaaaan… tunggu sebentar!”
Sementara itu, di bawah tangga terdengar sebuah suara.
Takatsu Rui yang hendak berbelok menuju kelasnya terpaksa mengagalkan niatnya karena mendengar panggilan dari salah satu temannya.
“Ada apa Kai? Oh Kau bersama Haru?” Ketua kelas itu menyuarakan penglihatannya. Karena cukup asing juga melihat Natsume Haru, siswa yang notabene terlihat aneh, dan jarang bergaul, bisa berjalan bersama Kai.
“Yaah… kami baru dari kantin. Yuk bareng ke kelas,” tanpa ragu Kai memeluk leher Rui.
Tak lama kemudian munculah Natsume Haru dengan kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celananya, berjalan malas kea rah Rui dan Kei.
“Oh Hana! Ah… Siapa itu?” Ushio Kei melambai ke arah Hana namun berikutnya pemuda dengan semir rambut kuning itu terbingung dengan pria yang tengah mengacak rambut Hana.
Mendengar nama istrinya, Kuroto Yoshiki sebgaai Natsume Haru ikut menolehkan kepalanya ke arah anak tangga.
Crimson Red itu terbelalak dalam beberapa detik.
“Itu Ishikawa Guren dasar bodoh. Yang waktu Class fest memberikan sambutan itu loh,” Rui berbisik pada telinga Kei. Sementara Kei hanya mengangguk-angguk entah mengerti atau tidak.
“Jadi, apa itu pacar Hana?” Celetuk Kei.
“BUKAN! BUKAN PACARKU!” Dengan tergagap, Hana melepaskan tangan Guren dari kepalanya sebelum akhirnya berteriak ke arah Kei.
“Lihat, lihat itu pacarnya Hana,” disertai dengan tawa jahil Kei menyikut tangan Haru yang sudah berdiri di sampingnya.
Tapi tanpa diketahui oleh bocah SMA berambut pirang itu, Haru Natsume alias Kuroto Yoshiki tengah dongkol luar biasa.
“SUDAH KUBILANG BUKAN PACARKU!” Hana masih berteriak.
“Ayo, ayo jangan ganggu mereka,” Kei Ushio mendorong tubuh Rui dan Haru menjauh dari tangga. Tentu saja masih dengan cengiran bodohnya.
“HEI! KEI BODOH!” Hendak saja Hana melangkahkan kakinya untuk mengejar Kei, tapi sebuah cengkraman pada lengannya menahannya.
“Ahahaha, itu candaan yang bagus di siang hari. Benar kan Kuroto-san?” Ishikawa Guren tersenyum ke arahnya. Sebuah senyum menawan yang seharusnya bisa menawan setiap gadis yang melihatnya.
“Tapi aku berharap itu bukan candaan,” bisikan itu lolos dari bibir Ishikawa Guren.
“Eh?”
“Ah! Bukan! Bukan apa-apa!” Pria pemilik Ishikawa Corp. itu nampaknya salah tingkah.
“Hoo…” sementara Hana hanya ber-hoo ria.
“Ah, omong-omong Ishikawa-san apa yang anda lakukan di sini? Bukankah Class Fest sudah selesai?” Tanya Hana.
“Jangan terlalu formal. Kau bisa memanggilku Guren saja.”
“G-Guren!? Tapi itu kan…!?”
“Aku kemari karena ada perlu dengan kepala sekolah tadi.”
“Oh? Kepala sekolah? Ada apa?”
Tak habis pikir. Ishikawa Guren bisa mengalihkan perbincangan secepat itu.
Ishikawa Guren mendekat ke arah jendela. “Aku berpartisipasi sebagai penghunung antara sekolah dan kontraktor bangunan,” telunjuknya terarah pada tanah kosong di belakang sekolah yang sudah terpagari untuk—rencananya—bangunan sekolah baru.
“Begitu…” Hana mengangguk-angguk mengerti.
Sebuah bunyi menggema di seluruh lorong bangunan sekolah. Sebuah bunyi yang menandakan usainya istirahat siang. Bel masuk.
“WAAAAH!! SUDAH MASUK! BAGAIMANA INI!? ISHIKAWA-SAN TITIP INI!” Diserahkannya brosur yang seharusnya ia tempelkan di maging-mading pada Ishikawa sementara dirinya sendiri berlari menuruni tangga dan berlari menuju kelasnya. Jam berikutnya adalah Olah Raga. Ia tidak mau menyianyiakan waktunya pada pelajaran favoritnya ini.

-[Yami no Ai]-

Hana tertegun di halaman belakang mansion. Duduk di sebuah ayunan yang sama sekali tidak berayun. Menatap bosan apapun yang dihadapannya.
Tapi sesekali ujung bibirnya tertarik.
Membayangkan wajah bodoh guru Bahasa Jepang kelas duanya dulu saat mengomelinya karena brosur yang seharusnya ia sebar malah ia berikan pada Ishikawa Guren, tamu istimewa Mirai no Gakoo.
“Hahaha… seharusnya kau lakukan sesuatu pada keriputmu itu,” gurau Hana.
Walau begitu, siswi kelas 3-1 itu hanya tertunduk waktu dirinya di sidang di dalam ruang guru sepulang sekolah tadi. Hanya bisa mendengarkan setiap kalimat menusuk guru itu.
“Membayangkan sesuatu yang lucu?” Haru Natsume beridi di samping Hana dengan kedua tangannya memasuki celana gelapnya.
“Haru-kun?” Hana mendongkakkan kepalanya menatap pria itu.
“Boleh saya duduk di samping anda?”
“Silahkan silahkan,” Hana segera menggeser duduknya. Memberikan tempat bagi Haru untuk duduk di sampingnya.
Begitu menempatkan pantatnya dengan nyaman dan menyatukan jari-jari tangannya di hadapannya, Haru Natsume berucap, “saya berharap anda masih mengingat jika anda milik My Lord.”
Hana menolehkan kepalanya seketika kepada pria di sampingnya. “Tentu saja aku milik Yoshiki-kun. Ada apa memangnya?”
“Ishikawa Guren. Entah kenapa dia selalu berusaha mendekati anda.”
“Mendekatiku?” Hana sedikit terperangah.
“Hari ini pun dia datang ke sekolah.”
“Ah itu? Katanya dia berurusan dengan pembangunan bangunan baru sekolah. Itu loh, lahan yang dipagari,” jelas Hana polos.
“Saya tahu itu.”
Sedetik kemudian Hana berpikir. Tentu saja Haru tahu. Iblis bisa dengan mudah membaca pikiran manusia biasa.
“Saya juga tahu jika dia menyukai anda.” Pria bermata darah itu memejamkan matanya. Berucap setenang mungkin.
“M-Menyukai!!??” Hana semakin terperangah.
“T-Tapi a-aku dan dia hanya berteman karena dulu pernah potong rambut bersama!”
“Itulah mengapa ia berusaha mendekati anda,” tanpa memperdulikan pembelaan Hana, Haru melanjutkan kalimatnya.
TEP.
Sesuatu terasa menyentuh tangannya. Membuka matanya, Natsume Haru melihat tangan Hana tengah menggenggam kedua tangannya.
“Tenang saja Haru-kun. Aku milik Yoshiki-kun.” Ucap Hana dengan senyumannya.
Haru Natsume terdiam beberapa saat setelah melihat Hana. Perlahan, sebuah senyuman tipis tumbuh di sudut bibirnya. Entah kenapa, batinya terasa lebih tenang setelah melihat senyuman Hana itu.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Kuroto Yoshiki sangat bersyukur karena Hana adalah takdirnya. Dengan begini rasanya kegundahannya berkurang.
Ia sepenuhnya sadar sejak awal ia menyamar sebagai Natsume Haru. Ini akan menjadi resikonya. Dan ia akan mengambil resiko itu apapun bentuknya.
“Mau saya bantu menyingkirkan Ishikawa Guren sialan itu?” Tawar Haru.
“Ahahaha, tidak usah sampai seperti itu. Omong-omong Haru-kun kalau bicara seperti itu sama seperti Yoshiki-kun ketika cemburu,” Hana setengah tertawa.
“My Lord?” Haru menaikan salah satu alisnya menatap Hana yang masih asyik tertawa.
“Yah. Yoshiki-kun jika cemburu selalu menyebut pria yang ia cemburui sebagai ‘sialan’,” jelas Hana.
Haru Natsume hanya memandangi Hana.
Sepertinya memang benar. Dirinya tanpa sadar menyebut pria yang membuatnya cemburu sebagai ‘sialan,’ dan tanpa sadar ia membawa kebiasaan itu walaupun sekarang telah menjadi Natsume Haru sekali pun.
“Yoshiki-kun… bagaimana kabarnya di sana ya?” Guman Hana tiba-tiba.
“Tenang saja. My Lord pasti akan baik-baik saja.” Jawab Natsume Haru yakin.

-[Yami no Ai]-

Di sebuah dataran Asia Tenggara. Lokasi yang cukup jauh dari tanah Jepang. Negara dengan banyaknya pulau yang menjadi kebanggaannya. Negara yang disebut dengan Indonesia.  Lebih tepatnya, di sebuah pedalaman kota Probolinggo. Sebuah bangunan yang dari luar nampak seperti pabrik pada umumnya, namun di dalamnya, janganlah salah, salah satu markas besar Exorcist berdiri di sini.
CRIING… CRIING…
Suara gemirisik dari rantai-rantai yang saling beradu menggema di dalam sebuah ruagan. Ruangan yang anehnya memiliki penerangan berwarna ungu. Bukan lampu. Bukanlah lampu yang menjadi penerangan. Lagipula, itu bukanlah sebuah alat penerangan. Sinar UV (Ultra Violet) telah dipasang dari lampu-lampu dim yang disebar di seluruh ruangan. Fungsi SInar UV itu adalah untuk terus memeriksa setiap pergerakan yang ada di dalam ruangan itu.
Di tengah ruangan persegi empat dengan pintu baja berlapis-lapis itu, dari atapnya tergantung beberapa rantai. Rantai yang pada ujungnya mengikat tangan. Sementara itu, tepat dibawahnya masih ada rantai-rantai lain yang mengikat sepasang kaki.
Sebuah tubuh manusia seukuran remaja dua puluh tahunan telah terkurung sempurna di tempat itu. Semua alat geraknya telah terbelenggu oleh rantai-rantai yang telah diberikan segel-segel tertentu. Sementara itu, seluruh wajahnya telah tertutupi oleh helm berbentuk besi, di mana hanya ada lubang pada bagian mulutnya.
Dan tidak jauh dari tubuh itu, sebuah penjara berbentuk lingkarang mengitari tubuh itu. Dari penjara itu telah dialirkan listrik dengan berjuta-juta voltase. Sekali sentuh, hangus sudah tubuhmu.
Dengan sinar UV dan penjara beraliran listrik berjuta-juta voltase seperti itu, dipastika tidak akan ada manusia yang bisa bertahan di dalam sana. Tidak bagai manusia. Tapi hal itu masih mungkin bagi seorang iblis.
Dari balik penjara itu, dari balik helm itu, sebuah seringai terlihat. Dan diikuti sebuah gumanan, “semuanya akan segera siap, My Lord.”
-[Yami no Ai]-

Keesokan harinya, semuanya tetap terasa sama. Sekolah adalah hal utama.
Tapi sepertinya hari ini tidak akan terasa sama. Kemunculan dua adik kelasnya di hadapannya ini sepertinya memiliki maksud tersendiri.
“Ada apa ya?” Tanya Hana canggung.
“Kuroto-senpai… dekat dengan Natsume-senpai kan?”
Oh, lihatlah wajah-wajah polos itu. Sepertinya ini tidak asing. Benar saja, Hana sering melihat ini. Para fansgirl Yoshiki selalu menatap Yoshiki seperti itu. Ah… sepertinya bisa ditebak adik-adik kelasnya ini adalah fansgirl Haru.
“Iya…” Hana mengangguk mengiyakan.
“Kalau begitu… boleh titip ini?” Salah satu adik kelas itu mneyodorkan sebuah amplop.
Tanpa Hana pikir lebih jauh pun, sudah jelas terlihat jika surat yang ia terima ini adalah surat cinta.
“Boleh. Akan segera kuberikan padanya,” Hana menyanggupi.
“Senpai mau? Yeaaay! Terima kasih senpai!” Kedua adik kelasnya itu saling beradu pandang dengan senyuman merekah. Kemudian ber-ojigi di hadapan Hana dan pergi dengan keriuhan mereka sendiri.
“Haah…” setelah diyakini kedua anak itu telah menghilang dari pandangannya, Hana menghela nafas berat.
Dibolak-baliknya kertas persegi panjang itu. Dengan tangannya yang kosong ia sandarkan pada bangkunya, Hana mengamati surat cinta itu. Lucu juga. Bukan lucu yang menjurus pada ejekan. Tapi lucu yang menjurus pada suatu hal yang manis. Di mana seorang perempuan menyukai seorang pria, dan untuk menyampaikan perasaannya itu ditulisnya sebuah pesan untuk sang pria. Kalau dipikir-pikir sudah berkali-kali Hana melihat Yoshiki dihadang seorang siswi hanya untuk diberikan sebuah surat seperti ini.
Hana terdiam.
Waktu itu ia sama sekali tidak menyadari ini. Yang ia rasakan hanyalah kesal melihat para siswi itu. Tapi sekarang ia menyadari bagaimana perasaan-perasaan yang ingin tersampaikan itu. Dirinya memang tidak pernah melakukan ini, oleh sebab itu ia sama sekali tidak tahu bagaiamana rasanya menyampaiakan perasaan suka ewat sebuah pesan—walau terlihat norak di zaman modern ini.
“Surat? Dari Ishikawa Guren?”
Baru saja dipikirkan, Natsume Haru telah berdiri di dekat bangkunya dengan tatapan terfokus pada surat di tangannya.
“Bukan. Coba buka dan baca.” Hana menjulurkan surat itu.
Dengan ragu, Natsume Haru akhirnya menerima kertas persegi panjang itu. Membukanya dan melihat isinya.
Mungkin karena mengira surat ini berasal dari Ishikawa Guren untuk Hana, Natsume Haru membacanya dengan serius di awal. Namun setelah menyadari apa yang sebenarnya terjadi dari setiap kalimat yang ia baca. Sekarang ia tahu jika surat ini hanyalah sebuah surat dari salah satu penggemarnya.
Tanpa ada niat Natsume Haru meremat kertas itu dan melemparnya kea rah keranjang sampah di pojokan kelas, dah hebatnya bisa masuk dengan tepat.
Hana shock melihat bagaimana surat yang berisi tumpahan perasaan seorang gadis dibuang begitu saja di dalam keranjang sampah.
“Haru-kun bodoh! Kenapa dibuang!?”
“Karena tidak penting.”
“Tidak penting bagaimana!?”
Untuk beberapa saat ditatapnya sapphire Hana yang memancarkan emosi.
“Karena saya sudah memiliki wanita saya.”

Dan bertepatan dengan usainya kalimat Haru yang menimbulkan tanda tanya besar dalam kepala Hana, kelas dimulai.
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.