Kamis, 29 Juli 2021

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 66]

 Chapter 66: That Shameless Straight Woman


Langkah kaki dari sebuah sepatu dengan hak yang cukup tinggi menggema di hampir seluruh Lorong menuju ruang sang presdir.

“Kau sudah membawa berkasnya?”

“Sudah Tenko-sama.”

“Hari ini kita harus berhasil mengancam Kuroto Yoshiki.”

“Baik Tenko-sama,” pria dengan setelan jas berwarna abu-abu gelap setia mengekor di belakang Tenko.

Brak.

Perempuan dengan rambut ikal hitamnya itu membuka ruangan presdir tanpa mengetuk. Seketika seluruh kepala yang ada di dalam ruangan itu nampak terarah pada sang perempuan. 

“Aku sendiri yang akan memastikan divisi produksi. Kau bisa kembali,” Yoshiki berujar pada seorang pria yang berasal dari divisi pemasaran.

“Baik Kuroto-sama. Saya undur diri,” sang pria dengan canggung melangkahkan kaki keluar dari ruangan yang tiba-tiba tensinya naik.

“Ah, anu, silahkan duduk,” dengan konyol Hana segera bangkit dari kursinya, padahal dirinya tengah asik menikmati sebuah pancake dibalut madu.

“Kau duduk saja My Lady,” Yoshiki bangkit dari kursinya untuk kemudian menarik Hana duduk pada kursi tamu.

“Eh?” Hana menunjukkan wajah konyol kebingungannya, “kenapa?”

Yoshiki memberikannya tatapan datar, “karena kau istriku, sekarang duduk.”

Suasana hati prianya itu sedang buruk. Hana mengetahui hal tersebut, oleh sebab itu tak ingin memperumit permasalahan, ia lebih memilih menuruti perintah sang suami.

Mata sapphire Hana bertanya-tanya, siapa kedua sosok di hadapannya ini. Seorang wanita yang rambutnya seolah setiap hari di bawah ke salon itu seperti tengah menatapnya rendah.

‘Uwagh…. Menyebalkan sekali…’ Namun bagaimanapun Hana harus menahan diri.

Dan di samping perempuan itu ada seorang pria paruh baya, tebakan Hana, pria itu adalah bawahan sang wanita.

“Kita cepat saja, aku muak berada di ruangan yang sama dengan manusia yang derajatnya di bawahku,” Perempuan pemimpin Tenko Group itu membuka mulut.

‘Ah sialan,’ Hana tau kalimat perempuan itu merujuk padanya, karena sudut mata perempuan itu selalu terarah padanya.

“Lebih cepat lagi jika kau segera keluar dari ruangan ini jika kau terus mengatakan omong kosong,” Namun Yoshiki sedang sama dalam kondisi terburuknya.

Shiroi Tenko menyeringai tipis, “kenapa kamu marah Kuroto-san?”

“Aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladenimu, Tenko-san.”

Perempuan itu dengan tenang merespon, “selalu kasar seperti biasa, kau tidak bisa jujur pada dirimu Kuroto-san. Tapi tidak apa-apa, pembukaan ini sudah cukup untuk membuat jantungmu bersiap-siap. Keluarkan datanya,” Shiroi Tenko memberikan aba-aba pada pria di sampingya.

Pria di samping Shiroi Tenko mengeluarka beberapa map dari tas hitamnya, “kami berencana membawa saham kami ke pengadilan untuk melakukan penuntutan dan klaim. Dengan data sebanyak ini kami yakin bisa mengambil alih perusahaan ini.”

Pada onyx Yoshiki hanya terpantul angka-angka yang menurut sang pria mampu menjatuhkannya. Tidak salah. Dengan semua data itu, Yoshiki tau mereka tidak akan bersusah payah untuk mengambil hak milik perusahaannya menjadi hak milik mereka.

“Hooo…” Yoshiki merespon santai, “kau benar-benar ingin mengancamku.”

“Ancaman Tenko group tidak akan pernah main-main, Kuroto-san,” Shiroi menjawab congkak.

“Menarik,” Yoshiki mengangguk, “apa yang kau inginkan?”

Wanita itu menyibakkan rambutnya penuh kemenangan, “aku menginginkanmu, Kuroto-san.”

“!!!!!” Seketika tubuh Hana menegang mendegar ucapan sang wanita, “eh? Apa maksudnya?”

“Maksudnya, aku menginginkan suami anda, Kuroto Hana-san,” wanita itu yang bagi Hana sama sekali tidak punya malu mengucapkan terang-terangan hal seperti itu.

“….. a-apa?” Hana kehilangan kalimatnya, ia tak habis pikir.

“Jika hanya itu yang ingin kau sampaikan, maka pintu keluar ada di tempat yang sama saat kau masuk,” Yoshiki berguman dingin.

“Hoo, kau mengusirku Kuroto-san?”

Yoshiki tidak bergeming.

“Setelah foto-foto yang kukirimkan kepadamu kemarin malam, kau bergeming? Setelah menikmati foto-foto itu? Ah, kira-kira apa yang sudah kau lakukan pada foto-fotoku?” Shiroi Tenko semakin menggila.

Memang benar jika kemarin malam Yoshiki mendapatkan sebuah email berisi foto-foto dengan pose sangat vulgar.

“A-apa?” Hana tetap tidak bisa mengatakan apapun.

Dengan santai, Yoshiki mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi chat dan memperlihatkan kolom chat Shiroi Tenko yang menunjukkan notifikasi 30 chat belum terbaca, “menikmati? Kulihat saja tidak,” Yoshiki meletakan ponselnya dengan santai di atas meja.

Melihat itu Tenko semakin meradang, “bodoh sekali Kuroto-san, kau adalah pria terbodoh yang kutemui seumur hidupku. Lihat saja, besok hak milik perushaan ini akan dibalik namakan menjadi perusahaanku!”

“Tenko-san, asal kau tau, kehilangan satu perusahaan bukanlah sebuah masalah bagiku. Namun, aku ini pria yang keras kepala. Apa yang harusnya menjadi milikku haruslah tetap menjadi milikku. Jika kau memang yakin dengan seluruh kemampuan pengacara dan finansialmu, aku akan menerima peperangan yang kau ajukan tanpa berat hati.

“Kita lihat saja besok, Ku-ro-to-sa-ma,” perempuan itu bangkit berdiri dan mencemooh nama pria itu sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.

Suara pintu yang ditutup membawa keheningan di dalam ruangan Yoshiki.

“Hhhh…” Pria berambut dongker gelap itu hanya bisa menghela nafas malas, “merepotkan.”

“D-dia siapa Yoshiki-kun? Apa-apaan itu tadi!?” Hana membuka mulutnya.

“Shiroi Tenko, CEO Tenko Group. Pemilik saham terbesar di perusahaan ini,” Yoshiki menjawab santai sembari kembali meraih ponselnya dan jarinya menari-nari di atas layar sentuh ponsel tersebut.

“K-kenapa dia seperti itu? Ada apa dia dengan Yoshiki-kun?” Nada bicara Hana tidak karuan.

“….. Hn?” Yoshiki menghentikan sejenak aktivitasnya, menatap Hana dengan sebelah alis terangkat, “dia tertarik padaku tentu saja.”

“A-apa?”

Hana tidak habis pikir dengan apa yang sudah terjadi di hadapannya. Perempuan gila pemilik perusahaan besar yang datang terang-terangan merendahkan dirinya karena memiliki perasaan pada suaminya. Dan suaminya yang sangat santai menanggapi apa yang terjadi.

Yoshiki bangkit berdiri, “sekarang ayo kita pulang, sepertinya moodku sedang tidak baik.”

“Apa? T-Tunggu.”

“Hn?” Yoshiki menatap Hana dengan santai.

“Mood Yoshiki-kun buruk? Lalu bagaimana denganku? Kenapa Yoshiki-kun bisa sesantai itu!? Tenko gila itu menyukai Yoshiki-kun dan menginginkan Yoshiki-kun! Kenapa Yoshiki-kun bisa sesantai itu menanggapinya!? Yoshiki-kun juga menyukai perempuan itu!?” Hana meraung-raung tanpa bisa menahan dirinya.

BRAK

Detik berikutnya Yoshiki sudah mengunci tubuh Hana pada dinding, wajah pria itu sangat kaku, menatap Hana dengan setengah memincing, “mana mungkin aku menyukainya, kan?” Pria tu berdesis tidak suka, “aku hanya milikmu My Lady.”

Ketegangan pada tubuh Hana berkurang, “tapi…”

Sebuah kecupan mendarat pada bibir Hana, membuat sang empunya terpaksa menghentikan kalimatnya.

“jangan khawatir, aku akan segera menyelesaikan masalah ini.”

Padangan Hana untuk berikutnya nampak tertuju ke bawah, tidak lagi menatap onyx sang pria, “aku… takut…”

“Takut?” Pria itu menaikkan sebelah alisnya.

“Dia cantik! Keren! Elegan! Sexy! Tegas! Bahkan sama seperti Yoshiki-kun yang memiliki perusahan, seorang CEO! Dia memiliki segalanya!” Hana menyerukan semua hal yang membuatnya takut, hingga nada bicaranya menurun, “tidak seperti aku…”

“Lalu?”

“Eh?” Respon pria itu membuat kepala Hana kembali mendongkak.

“Kau kira aku peduli pada hal-hal yang kau sebutkan tadi?” Pria itu bertanya dengan nada datar.

“…..” Hana tidak bisa menjawab, pandangannya hanya tertuju pada sang pria.

Disodorkannya ponselnya pada Hana, “My Lady, aku sama sekali tidak tertarik padanya. Bahkan email pancingan yang dikirimkannya sama sekali tidak kubuka.”

Dengan ragu tangan tan Hana menerima ponsel sang pria, menekan email yang berasal dari sang CEO Wanita.

Sapphire Hana melebar. Ia tak bisa menahan salah satu tangannya untuk tidak menutupi mulutnya yang hampir terbuka lebar. Ia terkejut. Pasalnya yang ia dapati adalah kumpulan foto yang sangat tidak senonoh dan vulgar. Bagaimana bisa perempuan terhormat sekelas CEO bisa melakukan hal sehina ini!?

Pegangan Hana semakin mengerat sementara ia terus mencsroll puluhan foto yang dilampirkan pada email itu. Pada foto-foto tersebut terlihat pose Shiroi Tenko yang tidak mengenakan pakaian barang selembarpun, berpose memamerkan setiap lekuk tubuhnya hingga bagian sensitifnya. Bahkan yang membuat Hana tak habis pikir, perempuan itu mengirimkan foto bagian bawah tubuhnya yang ia buka lebar-lebar dengan memberikan editan bertuliskan ‘masukkan milikmu kemari tuan.’

Dengan kesal dan tanpa meminta persetujuan sang empunya ponsel, dihapusnya email tersebut.

“Hn, kau menghapusnya?” Yoshiki bertanya dengan nada datarnya.

“Iya kuhapus! Kenapa? Tidak boleh?”

“Hn, tidak masalah, lagi pula sebenarnya aku bisa melihat isi email tersebut tanpa harus membukanya,” sekarang pria itu tersenyum jahil.

“A-apa? J-jadi Yoshiki-kun sebenarnya sudah tau?”

Yoshiki mengangguk santai, “aku ini Lucifer, apa yang tidak bisa kulakukan?” Seringai pria itu seolah semakin melebar.

Hana kesal. Diserahkannya ponsel tersebut pada tangan Yoshiki.

“Hn, tapi aku benar-benar tidak tertarik. Aku berharap kaulah yang memberikanku foto-foto seperti itu.”

Seketika kepala Hana terdongkak menatap wajah Yoshiki, “a-apa?”

Pria itu tersenyum jahil.

“Enak saja! Aku tidak akan memberikan foto-foto seperti itu!” Wajah Hana telah luar biasa memerah.


.


Hana masih menatap tidak percaya suaminya, Kuroto Yoshiki, yang tengah asyik membolak-balik sebuah buku bertajuk Perang Salib, tenggelam di dalam sela-sela rak buku berkategori sejarah.

“Hn, sudah mendapatkan bukumu?” Pria itu menutup bacaannya begitu melihat sosok istrinya berdiri dari luar rak buku.

Hana mengangguk kecil, “Yoshiki-kun tidak apa-apa?”

“Hn? Kenapa denganku?”

“Bukankah hari ini Shiroi Tenko akan mengajukan gugat saham untuk perusahaan Yoshiki-kun?”

Bukannya menjadi serius ataupun tegang, pria itu malah kembali membuka buku tebalnya, dan kembali mengarahkan seluruh atensinya pada paragraf terakhir yang ia baca, “aku sudah mengirimkan orang-orang yang bisa membalikkan keadaan. Tenko tidak akan bisa mengambil alih perusahaanku,” pria itu berujar santai.

Hana masih menatap tidak percaya, “santai sekali sih. Bagaiman jika suruhanmu gagal?”

“Tidak akan. Mereka tau konsekuensinya jika gagal.”

“Ah, Yoshiki-kun seram sekali bisa mengatakan hal semengerikan itu dengan wajah datar.”

“Jika mereka gagal, aku masih punya banyak cara untuk merebut kembali perusahaanku, dan menghancurkan Tenko Group jika mereka berani macam-macam, dari pada itu,” pria itu menghilangkan jarak antara dirinya dan Hana untuk kemudian meraih pinggang wanita itu untuk mendekat padanya, “kau tertarik pada sejarah perang salib?”

“Aku hanya tertarik pada perang dunia. Yoshiki-kun terlalu santai. Memangnya Yoshiki-kun tidak khawatir Shiroi Tenko akan melakukan hal-hal aneh lainnya?”

Yoshiki mendenguskan nafasnya malas, “kenapa kau bersikap berlebihan sekali? Lagipula seharusnya persidangan sudah selesai beberapa waktu lalu, sebentar lagi kabar baik akan datang.”

“Karena dia Shi—”

“Oh, tidak datang ke persidangan dan malah bermesraan di toko buku? Konyol sekali,” sebuah suara menginterupsi keduanya seketika.

Betapa kagetnya sapphire Hana begitu mendapati sosok Shiroi Tenko yang sangat elegan tengan menatapnya penuh penghinaan.

“Untuk apa aku datang ke persidangan yang sudah jelas akan kumenangkan?” Bukannya melepaskan rengkuhannya pada pinggang Hana, pria itu malah semakin mengeratkan pegangannya.

“A-anu Y-Yoshiki-kun,” Hana kelabakan, menurutnya bukan waktunya untuk bermesraan seperti ini, dihadapannya ada monster yang seharusnya ia bersiaga menghadapi.

“Tch!” Tenko berdecak sangat keras, “sungguh tidak berkelas. Tunggu saja, aku pasti akan merebutmu dari perempuan tidak berkelas itu.”

“Hah? Apa?” Hana sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, dilepaskannya pelukan Yoshiki dan mulai mencondongkan tubuhnya pada Tenko, “bagaimana bisa anda mengatakan hal sehina merebut pasangan orang lain semudah itu!?”

“Pasangan? Kamu menyebut Kuroto-san sebagai pasangan setelah meninggalkannya ke Australia?”

Keduanya terkejut seketika. Dan hal yang sama terlintas pada kepala Yoshiki dan Hana adalah, bagaimana wanita ini bisa tau!?

“Lihat, wajahmu sangat bisa ditebak, aku tau dari mana? Apa yang tidak bisa kuketahui sebagai seorang penguasa?”

Tidak ada kalimat yang bisa Hana ucapkan selain alisnya yang mulai mengerut waspada.

“Kamu sama sekali tidak menguntungkan apapun bagi Kuroto-san. Tidak seperti aku yang memiliki segalanya dan bisa menopang Kuroto-san dari segala aspek. Ekonomi, Popularitas, Integritas, Sosial, Status. Bahkan aku yakin, aku jauh lebih bisa memuaskan Kuroto-san dalam aspek seksual. Menyerahlah, Hana-san, kamu hanyalah beban. Oh, kenapa aku menyebutmu beban? Karena setelah kepergianmu ke Australia, Kuroto-san yang bahkan selalu pulang setelah seharian bekerja ke kantor malah mampir ke tempat minum!”

Kedua mata Yoshiki melebar, ia sama sekali tidak menyadari apa yang ia lakukan setelah kepergian Hana benar-benar sekacau itu. Dan Shiroi Tenko menyadari hal itu. Sudah berapa lama perempuan itu menguntitnya? Ia terlalu jatuh ke dalam rasa putus asa kehilangan Hana sampai-sampai tidak menyadari jika ada perempuan gila yang menguntitnya?

Onyx Yoshiki sekarang hanya bisa menatap rambut hitam pendek Hana dari belakang. Wanitanya itu sama sekali tidak memberikan respon apapun. 

Sesuatu dalam dirinya tergelitik, apa yang dirasakan dan dipikirkan wanitanya itu sekarang? Penyesalan? Karena kenyataannya Hana meninggalkannya, dan penyebab dari segala kekacauan dalam dirinya adalah perginya Hana dari sisinya.

“Aku benar kan, Kuroto-san?” Tenko seolah seperti semakin memberikan bahan bakar untuk membakar suasana.

‘Benar.’ Yoshiki ingin menjawab dengan lantang. 

Tapi tentu saja ia tidak bisa membiarkan wanitanya dipermalukan seperti ini, “sebelum itu, Tenko-san, bagaimana kau bisa menjadi begitu menjijikan dengan selalu membuntutiku?” Yoshiki bertanya dengan nada datar, mengembalikan buku yang tadi dibacanya pada rak.

“Tentu saja, karena aku mencintai Kuroto-san. Aku harus tau apa saja yang dilakukan setiap saat,” Tenko menjawab tak kalah santai.

“A-A…” Hana tidak bisa melanjutkan apa yang ingin ia katakana, ia sampai kehabisan kata mendengar argument Shiroi Tenko.

Yoshiki melangkah hingga menyamai posisi Hana, “kau sudah mendapatkan buku yang kau inginkan?”

“Ah, aku tidak ingin membeli apapun hari ini,” Hana menjawab lesu.

Tidak perlu lama bagi Yoshiki menyadari jika istrinya sedang dalam mood yang buruk, “kalau begitu, kita bisa pulang sekarang,” digandengnya erat tangan Hana untuk ia tarik melangkah menjahui Shiroi Tenko yang mulai meracau gila.

“Aku benar. Aku benar Kuroto-san. Perempuan itu beban bagimu! Sebaiknya kau campakkan perempuan murahan itu! Datanglah padaku Kuroto-san!”

Read More ->>

Sabtu, 10 Juli 2021

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 65]

 CHAPTER 65: HUSBAND’S WORK

“Cih,” perempuan itu seolah kehilangan sopan santunnya, tanpa diundang langsung menduduki kursi di hadapan Yoshiki dan menyilangkan kakinya.

“Tidak kusangka seleramu serendah ini, Kuroto-san,” wanita itu menyodorkan ponselnya yang tengah menampilkan foto dirinya dan Hana tengah makan bersama di restoran cepat saji siang tadi.

“Hn, dengan merendahkan orang lain apakah kau akan terlihat lebih tinggi dan pantas, Tenko-san?” Yoshiki berguman datar.

“Siapapun akan mengatakan aku lebih baik daripada istrimu itu Kuroto-san.”

Yoshiki menegakkan badannya, “bagaimana jika aku mengatakan bahwa kau sama sekali tidak sebanding dengan istriku?” mata pria itu berkilat, marah.

“Apa? Kamu ini buta Kuroto-san?” Shiroi Tenko nampak menaikkan sebelah alisnya.

“Tidak. Penglihatanku saat ini adalah yang terbaik.”

“Ah aku mengerti,” perempuan itu mengangguk congkak, “tentu saja aku tidak akan sebanding dengan istrimu yang jauh di bawahku benar?”

Yoshiki menyilangkan posisi kakinya sementara punggungnya ia sandarkan pada kuris, pria itu terkekeh, terkekeh mengejek, “baiklah, coba sebutkan apa saja yang membuatmu lebih baik daripada istriku.”

“Aku cantik.”

“Cantik hanya soal selera.”

“Seleramu rendahan Kuroto-san.”

Yoshiki kembali terkekeh, “lalu kenapa kau begitu mengejar pria yang menurutmu memiliki selera rendahan?”

“Aku tidak mengerti. Apa yang kamu lihat dari perempuan yang bahkan pergi makan siang dengan suaminya tanpa menggunakan riasan sedikitpun?”

“Tenko-san, penampilan bukanlah hal yang utama bagiku.”

“Konyol,” perempuan itu berguman tidak percaya.

“Kenyataannya memang seperti itu,” Yoshiki menimpali datar.

“Lalu, hal apa yang utama bagimu?”

Sebuah senyuman merendahkan tercetak pada wajah tampan Yoshiki, “memangnya apa untungnya bagiku memberitahumu Tenko-san?”

“Kuroto-kun semoga kamu masih ingat jika saham Tenko Group adalah 28% di perusahaan ini.”

Yoshiki tertawa mengejek, “lalu?”

“Dengan beberapa persidangan aku bisa mengambil asset saham dan menguras kepemilikan perusahaan ini.”

“Oh?” Yoshiki menatap dengan pandangan mempermainkan, “begitu?”

Perempuan itu memincingkan matanya, “apa maksudmu?”

“Maksudku? Astaga Tenko-san, kenapa kau masih bertanya? Tentu saja karena aku tidak peduli dengan ancamanmu.”

Perempuan itu bangkit berdiri seketika, “aku sama sekali tidak bermain-main di sini Kuroto-kun.”

“Begitupun aku.”

Perempuan itu berdecak kencang, “lihat saja Kuroto-kun. Kamu pasti akan menjadi milikku,” sebelum akhirnya bangkit berdiri untuk meninggalkan ruangan Yoshiki.

“….” Onyx itu hanya menatap datar pintu ruangannya yang baru saja terbanting kasar.

“…. Merepotkan.”


.


Cklek

Pintu kamar tidur itu terbuka, membuat kepala hitam Hana seketika terarah pada sumber suara.

“Selamat datang Yoshiki-kun,” sambutnya begitu mendapati sosok suaminya yang sudah melepas jasnya dan menyandarkannya pada lengannya.

Tak menjawab, pria itu melemparkan jasnya sembarangan dan menaiki ranjang dengan sepatu yang bahkan belum ia lepas. Yoshiki merangkak di atas ranjang tempat sang istri nampak sibuk dengan ponsel yang pegang secara horizontal.

“Eh? Kenapa?” Kepala bermata sapphire itu menatap kebingungan pada sikap sang suami.

“My Lady…” tangan pria itu mengusap lembut pipi Hana.

“Eh loh? Ada apa Yoshiki-kun?” Hana kebingungan, pria di hadapannya sama sekali tak bisa ia tebak maksud dan kemauannya di balik wajah datarnya.

Berikutya terjadi begitu cepat, Yoshiki sudah mengangkat badan Hana, sementara tubuh pria itu malah berbaring nyaman di ranjang. Posisi terlah berbalik. Yoshiki berada di bawah, dan Hana duduk pada pinggang pria itu.

“Heh? K-Kenapa?” Hana hanya bisa meracau kebingungan.

“My Lady…” kembali, pria itu berguman dengan nada beratnya.

“Y-Ya?”

“Katakan jika kau mencintaiku.”

“HAAAAAAHHH!??” Wajah Hana benar-benar memerah sampai telinganya sekarang, “kenapa tiba-tiba begitu?”

Hana selalu tidak bisa memahami Yoshiki. Pria itu selalu tiba-tba melakukan hal-hal yang menurutnya tak beralasan.

Jika diingat-ingat lagi, Yoshiki pernah tiba-tiba memeperkosanya saat berada di penginapan SMA nya hanya karena pria itu cemburu pada si ketua kelas tanpa mengatakan apapun.

“Katakan saja,” pria itu berguman datar dan dingin.

“A-aku akan mengatakannya tapi jelaskan kenapa terlebih dahulu. Yoshiki-kun pulang dari kantor tiba-tiba menjadi aneh seperti ini bagaimana aku bisa tenang-tenang saja!?”

Pria itu tertegun untuk beberapa saat, menyadari jika tindakannya ini benar-benar tidak beralasan bagi Hana.

Sebuah helaan nafas terdengar, “aku tidak kenapa-kenapa,” lagipula tidak mungkin bukan dia menceritakan pada Hana jika moodnya kacau hanya karena seorang manusia wanita mengejarnya sedemikian rupa?

“Bohong sekali,” ujar Hana tidak percaya.

“Hn… tapi aku ingin mendengarnya. Mendengar kalimat kau mencintaiku.”

“Bagaimana Yoshiki-kun bisa mengatakan itu dengan wajah sedatar itu sih!?”

“Hn? Kenapa? Memangnya itu hal yang merepotkan?”

“Y-yah bukannya merepotkan sih…”

“Kalau begitu tinggal katakan saja.”

Wajah Hana memerah pekat,menatap pria itu tidak percaya. Bagaimana mungkin pria itu bisa setenang dan sedater itu terhadap sebuah perasaan yang sensitif!? Oke memang benar budaya di barat mengatakan hal seperti mencintai kepada pasangan adalah hal yang biasa, tapi tidak dengan dirinya!

“A-Aku…” susah payah bibir Hana bergerak melawan deguban jantungnya.

“…… M-m…” bibir Hana gemetar, hingga, “MENCINTAI YOSHIKI-KUN!” Diakhiri dengan nafas yang memburu.

Pria itu tersenyum lembut, “aku juga mencintaimu, My Lady.”

Blush

Hana sudah tidak bisa mempertahankan dirinya sekarang. Jantunya seperti meledak detik itu.


.


Alarm pagi itu berbunyi. Tentu saja dengan malas sebuah tangan kekar terjulur dari balik selimut untuk menonaktifkan alarm tersebut.

Belum habis beberapa detik, selanjutnya bunyi ketukan pada pintu benar-benar membuat pria itu keluar dari balik selimutnya, “masuk,” ujarnya malas.

Sepeti biasa, sang sekretaris akan muncul memberitahukan segala jadwalnya, “selamat pagi My Lord, hari ini anda harus melakukan rapat dengan para kepala cabang. Dilanjutkan dengan makan malam bersama CEO Tenko Group.”

“Apa?” Yoshiki yang awalnya hanya mendengarkan tanpa minat seketika terbangun sempurna begitu mendengar nama Tenko.

“Maaf, My Lord?” Sang sekretaris nampak ragu.

“Tenko Group. Aku tidak ingat memiliki janji makan malan dengan CEO mereka.”

“Permintaan ini baru diajukan kemarin malam. Karena topik yang dibahas mengenai saham, sementara saya memeberikan persetujuan, namun jika My Lord menolak saya bisa memberikan kabar pada mereka.”

Yoshiki memijat pelipisnya, “ganti pada rapat formal, aku tidak ingin makan malam dengan siapapun nanti malam.”

“Yes, My Lord,” sang sekretaris berojigi sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu.

“Ada apa Yoshiki-kun?” Kepala hitam Hana keluar dari balik tebal dan hangatnya selimut.

“Hn? Kau terbangun? Maaf, selamat pagi My Lady.”

Badan Hana dengan enggan keluar dari balik selimut dan menuruni ranjang, “ada apa?” Lagi, Hana mengulangi pertanyaanya.

“Hanya masalah pekerjaan,” Yoshiki menjawab santai.

Tapi sapphire itu seolah menatap tidak puas dengan jawaban Yoshiki, “Yoshiki-kun dari kemarin malam aneh loh.”

“Hn? Begitukah?”

Kepala hitam Hana mengangguk, “Yoshiki-kun jika memiliki sesuatu masalah…. Unek-unek… umm… apapun itu, boleh kok bercerita padaku. Lagipula ini sudah… 4 tahun pernikahan kita tapi aku masih tidak terlalu mengenal pekerjaan Yoshiki-kun.”

Pria itu tersenyum tipis, “pagi ini setelah sarapan, sebelum aku berangkat rapat dengan para kepala cabang, aku harus pergi ke suatu tempat, sebuah rumah sakit kecil.”

Hana tidak bisa menahan diri untuk tidak memiringkan kepalanya kebingungan, “Yoshiki-kun sakit?”

“Tidak, in pekerjaanku. Bukankah kau bilang ingin mengenal pekerjaanku?”


.


Yoshiki membuka sebuah pintu kaca rumah sakit yang terletak sangat jauh di pinggir dan sangat jauh dari hiruk pikuk Tokyo.

‘Wah, kalau ini lebih cocok disebut sebagai rumah sakit hantu,’ Hana yang berjalan di belakang Yoshiki sibuk memandangi sekitar dengan tersenyum kaku. 

“Kuroto-sensei,” seorang suster tiba-tiba muncul dari balik lorong.

“EH KAGET!!” Dan konyolnya Hana malah berteriak seketika melihat kemunculan sang suster yang menegenakan pakaian serba putih.

Baik Yoshiki maupun sang suster menatap Hana aneh.

“A-ah maaf, habisnya muncul seseorang memakai pakaian putih dari balik Lorong yang gelap,” wajah Hana memerah malu akan kebodohannya.

“Ini istriku, Hana Kuroto. Dia akan menemaniku hari ini,” Yoshiki memperkenalkan Hana pada sang suster.

“Kalau begitu silahkan menuju ruangan bedah nol lima, pasien sudah menunggu anda. Saya akan menyiapkan beberapa anti radian untuk anda,” berikutnya sang suster kembali berjalan menuju Lorong lain yang sama gelapnya.

Melihat Yoshiki yang juga mulai melangkah, kaki Hana bergerak berusaha menyamai langkah sang suami, “Yoshiki-kun ini rumah sakit? Kenapa tidak ada pasien di sini? Dan…. Gelap sekali…” kepala Hana mengedar ke seluruh penjuru Lorong.

“Karena memang rumah sakit ini sudah ditinggalkan,” Yoshiki menjawab santai.

“Lalu tadi kenapa masih ada pasien?”

Yoshiki menolehkan kepalanya pada Hana, “pasien khusus.”

“Khusus?”

“Hn, sangat khusus bukan? Sampai seorang raja iblis yang harus turun tangan menangani.”

“Benar juga…” Hana mengangguk-anggukan kepalanya sepanjang Lorong, “memang dia kenapa? Terkena sihir?” Tanya Hana konyol.

Yoshiki tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tertarik ke atas, “kau bisa melihatnya sendiri ketika sampai, My Lady.”


.


“Silahkan, anti radian anda Kuroto-sensei,” seorang suster sudah siap dengan suntikannya.

“Hn, sebenarnya aku tidak memerlukannya.”

“Untuk prosedur kemanan saja sensei,” sang suster keras kepala.

Dengan dengusan malas, Yoshiki menggulung lengan bajunya untuk membiarkan sang suster memberinya anti radian.

“Berikan untuk istriku juga.”

“Baik, sensei.”

Yoshiki kembali menggulung lengan bajunya. Walaupun begitu pandangannya tertuju pada sang istri yang melihat dari balik ruangan dengan kaca tembus pandang yang besar. Wanitanya itu hanya beridiri menatapnya. Tak berapa lama sang suster datang memberikan suntikan anti radian pada Hana. Pencegahan memang diperlukan, apalagi Hana adalah sesuatu yang lain yang tidak bisa berjalan sesuai keinginannya. Memang benar seharusnya tubuh wanitanya itu telah kekal sebagai seorang iblis, tapi tetap saja ia tidak bisa tenang.

“Aku mulai,” dari arah dalam ruangan terdengar suara berat Yoshiki. Sebelum akhirnya pria itu benar-benar bekerja dengan memunggungi Hana dan sang suster.

“Anu, itu pasien?” Tanya Hana pada sang suster.

“Benar. Dia merupakan pasien percobaan.”

“Percobaan!?” Hana tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terkejut.

Sang suster mengangguk, “Kuroto-sama tidak pernah menceritakan ini pada anda?”

Hana terdiam. Pandangannya kembali tertuju pada sang suami yang tengah sibuk menggerakkan tangannya pada sebuah tubuh. Sebuah tubuh yang mungkin sudah tidak berbentuk tubuh lagi. 

Benar. Dia tidak pernah mendengar cerita apapun. Dan kemungkinan penyebabnya adalah, dirinya yang terlalu dominan dan egois dalam percakapan mereka. Dirinya terlalu kekanak-kanakan membuat setiap pembicaraan hanya tertuju padanya dan permasalahannya. Tidak ada kesempatan bagi Yoshiki menceritakan kehidupan dan hari-hari yang sudah dilaluinya. Terlabih lagi akhir-akhir ini hubungan mereka tidaklah baik dan penuh masalah.

Kepala Hana menggeleng dengan berat, “tidak.”

“Begitu… kami adalah sebuah perusahaan yang bekerja di bidang kedokteran. Peralatan medis, dan obat-obatan pun kami suplai ke seluruh penjuru Jepang. Radiasi dan efeknya sangat jarang naik kasusnya ke permukaan. Selain memang kasusnya sangat-sangat jarang, kasus manusia yang terkena radiasi biasanya sangat mengerikan, seperti yang anda lihat, pasien sama sekali tidak berbentuk jika sudah terpapar radiasi yang sangat-sangat berlebihan. Oleh sebab itu kami mengadakan sebuah penelitian rahasia. Dan Kuroto-sensei adalah satu-satunya dokter yang sangat cocok dengan pekerjaan ini.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Kuroto-sensei adalah dokter lepas yang padahal memiliki banyak lisensi praktik tapi sama sekali tidak bekerja di rumah sakit manapun. Dan Kuroto-sensei bersedia merahasiakan, dan melakukan praktik mengerikan yang kebanyakan ditolak dokter lain karena melanggar hak asasi manusia.”

Hana hanya bisa menganggukan kepala.

“Namun tenang saja, kami membayar Kuroto-sensei dengan harga yang sangat mahal. Mau bagaimanapun kami berhasil menemukan dokter seluarbiasa Kuroto-sensei adalah sebuah keajaiban.”

“Sangat mahal?”

Sang suster mengangguk, “karena ini penelitian rahasia dan beresiku, saya pun diberi gaji yang sangat mahal, Kuroto-sensei mungkin mendapat 1 juta yen untuk satu kali pengeluaran laporan.”

“S-satu juta yen!!?”

“Oh, Kuroto-sensei juga tidak bercerita masalah ini? Apa saya terlalu banyak bicara?”

“Tidak, tidak, terima kasih sudah memberitahuku,” Hana menggelengkan kepalanya cepat.

Sapphire Hana kembali tertuju pada sang suami yang nampaknya sudah tidak lagi melakukan sesuatu pada tubuh yang terlihat mengerikan itu. Ia tidak bisa berhenti kagum. Yoshiki memiliki banyak hal yang sama sekali tidak ia ketahui sebagai istrinya.

“Bodohnya aku…” tanpa sadar ia berguman.

“Maaf?” Sang suster di sampingnya yang mendengar itu lantas bertanya.

“Oh, tidak apa-apa,” dengan canggung Hana merespon.

“Ah benar juga, saya harus meminta sensei untuk menyelesaikan laporan 2 operasi sebelumnya,” sang suster kembali menceletuk.

“Sebelumnya?”

Sang suster mengangguk, “sensei bukan tipe orang yang akan menunda laporan. Namun sepertinya beberapa minggu lalu terjadi sesuatu pada sensei. Performa operasinya menurun dan beliau izin untuk membuat laporan setelah beberapa operasi kedepan. Kami mencoba memahami hal tersebut. Tapi karena sekarang sensei sudah kembali seperti semula, sepertinya saya bisa mengingatkan sensei untuk menyerahkan laporan.”

Hana terdiam. 

Beberapa minggu lalu yang dimaksud tidak lain pasti saat ia dengan tindakan anak kecilnya meninggalkan Yoshiki ke Australia bersama Keigo.

Apa yang sudah ia lakukan pada Yoshiki?


.


“Yoshiki-kun,” Hana memanggil nama pria yang tengah fokus menyetir di sampingnya. Keduanya sekarang dalam perjalanan menuju kantor.

“Hn?” Pria itu hanya merespon datar.

“Sampai liburan universitas selesai, aku ingin ikut Yoshiki-kun ketika bekerja.”

Ucapan tiba-tiba Hana membuat Yoshiki sempat menoleh tidak percaya kepada sang perempuan, “kau… yakin?”

Hana mengangguk mengiyakan, “lalu aku ingin mendengar keluhan Yoshiki-kun mengenai apa yang sudah Yoshiki-kun lalui.”

Kembali Yoshiki menolehkan kepalanya kepada Hana. Onyx gelap itu menatap sedikit tidak percaya. Sosok yang selama ini selalu membuatnya menahan diri sekarang malah menawarkan hal yang paling ia lakukan.

“Kenapa menatapku begitu sih?” Hana yang merasa ditatap aneh mulai protes dengan wajahnya yang semi memerah, malu.

“Hn, hanya terkejut.”

“Memangnya aneh!?”

“Tidak, aku jadi senang, sejujurnya.”

Sebuah kalimat singat dari Yoshiki, yang mampu membuat Hana merenung cukup lama.

Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.