CHAPTER 14: POOL DAY
“Hn. Misaki apa My Lady mengatakan sesuatu tentang Natsume Haru akhir-akhir ini padamu?”
“Tidak sama sekali.” Misaki menjawab mantap, “apa… terjadi sesuatu?”
Natsume melirik datar Misaki sekilas. Mempertimbangkan apakah ia harus menceritakan masalah ini pada maid utama istrinya.
Sebuah helaan nafas berat terdengar sebelum Natsume memulai ceritanya, “My Lady… menyebut Natsume Haru sebagai pengkhianat. Pengkhianat yang telah bertanggung jawab atas tertangkapnya Kuroto Yoshiki.”
“Eh?”
“My Lady benar-benar membenci Natsume Haru sekarang. Menghindar, dan menatap dingin ke arah Natsume Haru. Namun aku tidak tahu apa yang membuatnya berpikir seperti itu.”
“Anda sudah menanyakannya pada My Lady?”
“Hn, dia tidak mau menjelaskan kenapa.”
“Dan dalam keadaan membingungkan seperti ini, Ishikawa Guren muncul dan memberikan tiket sialan itu. Mendekati milikku di saat yang sempurna,” terdengar jelas nada kekesalan di setiap patah kalimat yang diucapkan Natsume. Bahkan tangannya sekarang tengah mengepal erat.
“Maaf! Maafkan saya karena telah memberikan saran seperti itu pada My Lady!” Misaki seketika menunduk dalam begitu memahami perasaan tuannya.
“Hn…”
“Lalu bagaimana tindakan anda?”
“Hn, tentu saja. Aku akan ikut ke acara ‘tiket-gratis’ itu,” Natsume berujar penuh sindiran.
…
Hari yang ditunggu-tunggu pun datang.
Matahari bersinar cerah. Hari yang pas untuk menikmati kolam renang dan bermain-main.
Kuroto Hana tengah menolehkan kepalanya kesana kemari mencari gerombolan Yui. Hingga akhirnya pekikan namanya membuatnya mengetahui lokasi teman-temannya.
“HANA!!”
“OH! YUIII!” Hana berlari menyongsong teman-temannya.
“Ah, Ishikawa-san!”
Ishikawa Guren tersenyum tipis menanggapi sapaan Hana.
“Terima kasih atas tiketnya, aku mengundang teman-temanku, jadi mungkin akan berisik,” ujar Hana sopan.
“Tidak masalah. Aku memang menyuruhmu mengajak teman-temanmu,” Ishikawa Guren tersenyum menyahuti.
“Kalau begitu, teman-teman ini Ishikawa Guren-san. Kalian mungkin sudah mengenal Ishikawa-san, pria luar biasa yang banyak memberi bantuan pada sekolah kita,” Hana mengenalkan Ishikawa Guren pada teman-temannya.
“Ishikawa-san, ini teman-temanku,” Hana mulai menunjuk temannya satu-persatu. “Umei Yui dan kekasihnya Ida-kun.
“Jumlah orangnya tidak pas dengan jumlah tiket yang kuberikan?” Ishikawa menatap Hana bingung.
“Oh Yui bukankah sudah kukatakan untuk mengajak adikmu?” Hana balik bertanya pada Yui.
“Adikku mendadak demam, jadinya tidak bisa ikut.”
“Ah begitu…”
“Tapi ada orang lain yang menggantikan adikku. Walaupun tidak menggunakan tiket yang diberikan. Orang itu ingin ikut.”
“Siapa?” Hana menatap Yui bingung.
“Natsume Haru, salam kenal.” Tiba-tiba sosok albino itu muncul dan menjulurkan tangannya pada Ishikawa Guren.
Kedua bola mata Hana melebar seketika.
“Ishikawa Guren,” Ishikawa meraih tangan Natsume. “Bukankah kamu yang di barber shop kemarin?”
“Benar. Kita bertemu lagi, tuan CEO Ishikawa Corp.” Natsume tanpa sadar menatap tajam Ishikawa.
"S-Santai saja..." Ujung pelipis Ishikawa menurunkan setetes peluh.
Natsume sambil melepaskan jabatan tangannya menatap Ishikawa seolah berkata. HANA-MILIKKU-KAU-SENTUH-DIA-TAWAT-RIWAYATMU'.
“Err—“ Ishikawa kebingungan begitu merasakan hawa permusuhan.
"Sayang sekali Tuan CEO Ishikawa Corp. Aku telah memilili tiketku sediri. Jadi aku tak memerlukan tiketmu,” ucap Natsume datar.
Germobolan Hana akhirnya memasuki Paradise Pool. Berpisah di ruang ganti. Dan kembali berkumpul di kolam renang terdekat.
Paradise Pool memang sangat luas. Berbagai macam kolam renang tersedia. Dan beberapa arena air tersebar. Food court pun ada di setiap sudut. Jika membawa anak kecil, selalu gandeng dan jaga sebelum tersesat.
“Sudah kuduga, tempat ini besar!” Hana berdiri di tengah-tengah pintu masuk utama dengan kedua tangannya di pinggang dan kedua kakinya terbuka lebar. Mengamati pemandangan Paradise Pool.
“Hana kau ini anak kecil?” Yui sweatdrop melihat tingkah Hana.
“Ah itu mereka.”
Sebuah suara familiar refleks membuat Hana dan Yui menoleh ke arah sumber suara.
Ida dan Ishikawa Guren muncul bersamaan. Disusul Natsume Haru di belakang keduanya.
“Hmmm… Ishikawa-san dan Natsume-san badan kalian bagus sekali,” Yui auto fokus pada perut berbentuk milik Ishikawa dan Natsume, kemudian melirik kecil pada perut kekasihnya, Ida.
“Maaf deh kalau perutku tidak berbentuk!” desah Ida kesal.
“Ida-kun kamu itu terlalu kurus! Coba makan sesuatu yang bergizi tinggi!” Yui dan Ida terjebak dalam pertengkaran mereka sendiri.
“Ha ha,” Hana tertawa hambar menatap dua sejoli itu bertengkar.
Ishikawa Guren mendekati Hana dan berkata, “Hana-san kamu terlihat cocok dengan pakaian renang itu.”
“E-eh?” Wajah Hana tiba-tiba memerah padam.
“T-terima kasih…” Hana menunduk menatap one piece biru tua yang melekat pada tubuhnya, “Ishikawa-san barusan memanggil nama kecilku?”
Pipi Ishikawa Guren juga terlihat sedikit memerah. “T-Tidak boleh?”
“Yaah boleh sih,” Hana tersenyum simpul.
“Hana-san juga boleh memanggilku dengan nama kecilku,” Ishikawa Guren menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Baiklah… Guren-kun!” Tanpa memikirkan apapun Hana menyetujui permintaan Ishikawa.
Sementara Natsume Haru yang menjaga jarak dengan keduanya tidak dapat mendengar apapun. Ia hanya bisa melihat keduanya berbicara dengan sangat akrab.
“… tch.”
“Waah Yui dan Ida-san udah masuk air saja!” Celetuk Hana begitu melihat sepasang kekasih itu telah berada di tengah kolam. Kolam 0,5 meter.
‘Benar juga. Yui tidak bisa berenang.’ Hana sweatdrop di tempat.
“Kalau begitu aku juga!” Ucap Hana yakin.
Mundur beberapa langkah, dan melompat memasuki kolam sedalam 1,5 meter di samping kolam 0,5 meter. Meluncur menggunakan gaya bebas dari sisi kolam ke sisi kolam yang lain.
“Hana hebat…” daripada terkesima, Yui lebih merasa dirinya sangat menyedihkan.
“Berikutnya Yui-chan akan bisa seperti itu. Ayo kembali dicoba. Pegang tanganku dan ayunkan kakimu. Aku akan menarikmu.”
Yui menoleh ke arah Ida. Pemuda itu tersenyum tulus. Ah… mungkin inilah alasan ia jatuh cinta pada pemuda kurus ini.
Mengangguk setuju, Yui menyelamkan dirinya dan mengikuti aba-aba dari Ida.
PYAAASH
Kepala Hana muncul di permukaan begitu mencapi sisi kolam sebrang. Menyadari Ishikawa memperhatikannya, Hana melambai pada Ishikawa dan tersenyum lebar.
“Ah,” Ishikawa balas melambai pendek.
Pada bola mata gelap Ishikawa terpantul birunya kolam. Dan itu… mengingatkannya pada masa lalunya. Di mana ia ditenggelamkan ramai-ramai oleh anak-anak yang membullynya ketika SMP.
Menggelengkan kepalanya untuk menghapus kenangan itu, Ishikawa Guren berjalan mendekati kolam.
‘Sampai kapan aku menjadi menyedihkan? Aku datang kemari untuk menghapus phobia itu…’ perlahan-lahan, hingga pengusaha kaya itu berhasil duduk di tepian kolam dengan kedua kakinya tercelup.
‘Ternyata tidak seburuk itu…’ batinya lagi.
Natsume berdiri tepat di samping Ishikawa Guren yang tengah duduk di tepi kolam.
“Apa maumu?” Nada dingin dan penuh dengan permusuhan terdengar.
Ishikawa mendongkak menatap Natsume. Tidak menjawab sepatah katapun.
“Kuperingatkan kau. Jangan sentuh dia.” Lirikan tajam dan penuh penekanan diberikan.
“Kamu…. Jangan-jangan kamu juga tertarik dengan Hana?”
“Dia milikku.”
Ishikawa hendak mengutarakan pertanyaannya berikutnya, namun sebuah keributan menginterupsinya.
Suara cipratan air yang ribut di ujung sana. Beserta teriakan beberapa orang.
“Tenggelam! Dia tenggelam!”
“!!!” Natsume Haru terperanjat.
Hana tenggelam!
Tanpa sedetikpun terbuang, Natsume Haru langsung melompat memasuki kolam. Berenang secepatnya menggapai Hana.
“….” Sementara itu, Ishikawa Guren hanya bisa membulatkan kedua matanya.
Bayangan masa lalunya kembali menghantuinya. Membuat tubuhnya tak bisa bergerak.
Tangan Hana terus menggapai-gapai apapun walau nihil. Kaki kirinya kram. Nafas. Ia membutuhkan udara.
Gapai.
Gapai.
TEP.
Tangan Natsume meraih tangan Hana. Sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk membopong tubuh Hana. Kakinya mengayuh mendorong ke permukaan.
PSYAAAASH
Keduanya muncul di permukaan. Natsume dengan segera mengangkat tubuh Hana dan dibantu oleh seorang penjaga kolam yang tanggap.
Semua orang berkumpul untuk mengetahui kondisi Hana.
“Ghuuk… uhuk…” Hana menumpahkan kumpulan air yang terjebak di kerongkongannya.
“K-kakiku… k-kram…” Hana meraih kaki kirinya dengan lemah.
Sang penjaga kolam dengan sigap memberikan pijatan darurat pada kaki kiri Hana.
“Seharusnya anda melakukan pemanasan sebelum memasuki kolam!” omel sang penjaga kolam seusai memberikan pijatan darurat.
“Maafkan saya,” Hana berguman lemah.
“Jangan turun ke kolam hingga kaki anda benar-benar bisa digerakkan lagi.”
“Terima kasih. Maaf merepotkan,” Hana mulai bangkit dari posisi terlentangnya.
Setiap orang yang mengerumuni Hana perlahan-lahan menghilang.
Natsume Haru hanya duduk di tepi kolam memperhatikan Hana dalam diam. Ia ingin mendekat dan menanyakan keadaan Hana, namun niat itu ia urungkan. Mengingat tatapan tidak suka dan benci yang diberikan Hana saat memasuki pintu utama tadi, ia tidak ingin menerima tatapan itu lagi.
“HANA HANA! OH ASTAGA KAMU TIDAK APA!?” Yui segera menyongsong dan memeluk Hana yang terlihat lemah.
“Aku tidak apa, Yui,” jawab Hana lemah.
“Kenapa kau bisa tenggelam?” Yui menatap Hana lekat.
“Kakiku kram,” Hana menjawab dengan senyuman lesu.
“Gawat… biasanya seseorang setelah tenggelam akan sangat takut pada air untuk berikutnya.” Ida tiba-tiba bicara.
“Tenang saja Ida-kun, aku tidak takut pada air kok!” Hana memberikan senyumnya.
“Tapi Natsume-kun benar-benar keren. Dia yang menolongmu.” Yui berdecak kagum.
“…” Hana melirik Natsume melalui celah tubuh Yui dan Ida. Tentu saja lirikan itu akan bertabrakan dengan tatapan Natsume yang selalu terarah pada Hana. Detik itu begitu tatapan keduanya beradu, Hana mengalihkan pandangannya.
“Bagaimana jika kita makan dulu untuk mengendurkan suasana?” Yui yang menyadari mood Hana memburuk, segera memberikan saran terbaik.
Hana mengangguk mantap.
“Kalau begitu ayo ke loker Yui, kita ambil handuk dan makan siang!” Mood Hana membaik seketika.
Mereka berdua bangkit berdiri dan menuju loker perempuan.
“Natsume-san kamu keren sekali,” Ida dengan polos mendekati Natsume dan menyikutnya.
“Hn…” Natsume hanya merespon malas.
Begitu Hana dan Yui hendak memasuki loker perempuan. Ishikawa Guren muncul dengan nafas tersenggal-senggal.
“Hana-san!”
“Oh? Guren-kun?”
Yui tersenyum nakal. Sepertinya ia harus memberikan kesempatan bagi sahabatnya untuk bicara.
“Kalau begitu aku saja yang ambilkan. Kalian berdua santailah.” Yui segera nyelonong masuk ruang loker.
“Terima kasih Yui,” sahut Hana.
“Jadi, kamu tidak apa-apa Hana-san?” Ishikawa menatap Hana khawatir.
“Aku tidak apa kok. Haha.”
“M-maaf…” Ishikawa tertunduk dan berguman lemah tiba-tiba.
“Eh? Maaf untuk apa?”
“Maaf karena tidak bisa menolongmu. A-aku—“
TEP.
Hana menyentuh pundak Ishikawa dan menenangkan pemuda itu.
“Tidak apa Guren-kun, yang penting aku baik-baik saja sekarang,” Hana tersenyum meyakinkan.
“Hana-san… kamu dan pemuda berambut putih itu… berpacaran?” Tidak mampu menahan pertanyaannya, Ishikawapun melontarkannya.
“Eh?” Hana membeku seketika. “Kenapa Guren-kun berpikir seperti itu?”
“Dia yang mengatakannya,” jelas Ishikawa.
Hana menundukkan kepalanya.
‘Kenapa Haru-kun mengatakan pada Ishikawa jika kita berdua berpacaran?’
Gigi Hana mengerat marah. ‘Pria itu…. pria itu benar-benar memanfaatkan segelanya dengan baik. Menolongku dan mengatakan kita berpacaran… yang benar saja!’
“Hana? Sudah selesai?” Yui muncul dengan dua buah keranjang di tangannya.
“Eh?” Yui menyadari mood Hana kembali memburuk. “Ada apa?”
“Tidak. Ayo,” Hana menarik keluar Yui dan Guren.
“Ida-kun, Natsume-kun, ayo makan!” Yui mengangkat tinggi-tinggi dua keranjang di tanganya.
Ida menepuk pelan pundak Natsume, “hei, ayo.”
“Hn…” Natsume menyahut datar dan mengikuti Ida.
Kelima orang tersebut berakhir dengan duduk dengan di suatu meja setelah mendapat jus yang dibelikan oleh Ida—karena Ida kalah suit dari Ishikawa dan Natsume.
“Woaaaa… sandwich, onigiri, telur dadar, sosis, tempura, karage, dan salad!” Mata Ida berbinar sempurna.
“Kalian yang membuat ini?” Ishikawa bertanya kepada kedua wanita.
Yui mengangguk menyetujui, “Aku membuat Karage-nya sendiri, dan Hana membuat Sandwich-nya sendiri. Yang lain kita masak berdua. Jadi jangan salahkan aku jika kalian menyadari ada banyak tomat pada sandwich dan salad-nya. Itu semua ulah Hana.”
“Yui!” Protes Hana.
“….” Sebuah senyum simpul terurai pada bibir Natsume.
Istrinya… masih mengingat jelas favoritnya dan tanpa sadar menuangkan banyak pada setiap masakannya.
“Hei Yui-chan aku ingin mencoba Karage-mu!” Celetuk Ida tak sabaran.
“Ya, ya, makan saja,” Yui menyedot jusnya.
“Yosh! Ittadakimasu!”
“Kalau begitu, aku boleh?” Ishikawa menunjuk ke arah sandwich sementara pandangan matanya tertuju pada Hana.
“Ah silahkan Guren-kun,” Hana menyodorkan keranjang berisi sandwich pada Guren.
“!!??” Natsume Haru nampak seperti tersedak saat meminum jusnya.
Ia tidak salah dengar barusan kan?
Hana… memanggil Ishikawa Guren dengan nama kecilnya.
“…..” genggamannya pada gelas plastic jusnya mengerat tanpa sadar.
Natsume Haru duduk di bangku paling ujung. Menopang dagunya dan menatap datar ke arah lain. Hambar.
‘Sejauh mana hubungan mereka?’
“Hmm? Natsume-kun tidak makan?” Yui yang menyadari jika si pemuda albino hanya melamun menatap entah ke mana, mengajukan pertanyaan.
Natsume menoleh ke arah Yui dan menjawab, “tidak.”
“Ayolah, Natsume-kun. Ini,” Yui meraih sepotong sandwich, “makanlah.”
SAAAT
Hana segera meraih sandwich dari tangan Yui.
“Jika ingin makan, makan saja yang lain. Tapi kusarankan agar kamu tidak makan.” Ujar Hana dingin.
“….” Natsume terdiam.
Rasanya ingin sekali tersenyum getir.
“Tidak apa Umei, aku memang tidak lapar,” jawab Natsume tak acuh.
“Ya. Dia tidak lapar,” imbuh Hana cuek.
“Hei, kamu ini kenapa sih? Lagipula Natsume-kun sudah menyelamatkanmu kan tadi?” Protes Yui.
“Aku tidak menyuruhnya menyelamatkanku,” Hana menjawab seketika.
Suasana membeku beberapa saat setelah kalimat Hana
“O-omong-omong sandwich ini enak,” Ishikawa Guren kembali meraih sandwich di keranjang.
“Benarkah?” Hana kembali sumringah.
“Y-ya… hanya saja… porsi tomatnya memang melebihi ambang batas…” jawab Ishikawa jujur.
“Eh? M-maaf…”
“Di sini tidak ada yang maniak tomat! Kau membuatkan sandwich ini untuk siapa sih!?” Omel Yui.
‘Untukku. Sandwich-sandwich itu untukku!’ Natsume hanya bisa melirik keranjang sandwich lewat ujung kelopak matanya.
Kemudian ia menangkap visual Ishikawa Guren yang terus melahap habis sandwich buatan istrinya.
‘…. Setelah ini semua selelsai, akan kubuat kau memuntahkan semua itu dengan paksa. Sialan.’
Read More ->>
“Hn. Misaki apa My Lady mengatakan sesuatu tentang Natsume Haru akhir-akhir ini padamu?”
“Tidak sama sekali.” Misaki menjawab mantap, “apa… terjadi sesuatu?”
Natsume melirik datar Misaki sekilas. Mempertimbangkan apakah ia harus menceritakan masalah ini pada maid utama istrinya.
Sebuah helaan nafas berat terdengar sebelum Natsume memulai ceritanya, “My Lady… menyebut Natsume Haru sebagai pengkhianat. Pengkhianat yang telah bertanggung jawab atas tertangkapnya Kuroto Yoshiki.”
“Eh?”
“My Lady benar-benar membenci Natsume Haru sekarang. Menghindar, dan menatap dingin ke arah Natsume Haru. Namun aku tidak tahu apa yang membuatnya berpikir seperti itu.”
“Anda sudah menanyakannya pada My Lady?”
“Hn, dia tidak mau menjelaskan kenapa.”
“Dan dalam keadaan membingungkan seperti ini, Ishikawa Guren muncul dan memberikan tiket sialan itu. Mendekati milikku di saat yang sempurna,” terdengar jelas nada kekesalan di setiap patah kalimat yang diucapkan Natsume. Bahkan tangannya sekarang tengah mengepal erat.
“Maaf! Maafkan saya karena telah memberikan saran seperti itu pada My Lady!” Misaki seketika menunduk dalam begitu memahami perasaan tuannya.
“Hn…”
“Lalu bagaimana tindakan anda?”
“Hn, tentu saja. Aku akan ikut ke acara ‘tiket-gratis’ itu,” Natsume berujar penuh sindiran.
…
Hari yang ditunggu-tunggu pun datang.
Matahari bersinar cerah. Hari yang pas untuk menikmati kolam renang dan bermain-main.
Kuroto Hana tengah menolehkan kepalanya kesana kemari mencari gerombolan Yui. Hingga akhirnya pekikan namanya membuatnya mengetahui lokasi teman-temannya.
“HANA!!”
“OH! YUIII!” Hana berlari menyongsong teman-temannya.
“Ah, Ishikawa-san!”
Ishikawa Guren tersenyum tipis menanggapi sapaan Hana.
“Terima kasih atas tiketnya, aku mengundang teman-temanku, jadi mungkin akan berisik,” ujar Hana sopan.
“Tidak masalah. Aku memang menyuruhmu mengajak teman-temanmu,” Ishikawa Guren tersenyum menyahuti.
“Kalau begitu, teman-teman ini Ishikawa Guren-san. Kalian mungkin sudah mengenal Ishikawa-san, pria luar biasa yang banyak memberi bantuan pada sekolah kita,” Hana mengenalkan Ishikawa Guren pada teman-temannya.
“Ishikawa-san, ini teman-temanku,” Hana mulai menunjuk temannya satu-persatu. “Umei Yui dan kekasihnya Ida-kun.
“Jumlah orangnya tidak pas dengan jumlah tiket yang kuberikan?” Ishikawa menatap Hana bingung.
“Oh Yui bukankah sudah kukatakan untuk mengajak adikmu?” Hana balik bertanya pada Yui.
“Adikku mendadak demam, jadinya tidak bisa ikut.”
“Ah begitu…”
“Tapi ada orang lain yang menggantikan adikku. Walaupun tidak menggunakan tiket yang diberikan. Orang itu ingin ikut.”
“Siapa?” Hana menatap Yui bingung.
“Natsume Haru, salam kenal.” Tiba-tiba sosok albino itu muncul dan menjulurkan tangannya pada Ishikawa Guren.
Kedua bola mata Hana melebar seketika.
“Ishikawa Guren,” Ishikawa meraih tangan Natsume. “Bukankah kamu yang di barber shop kemarin?”
“Benar. Kita bertemu lagi, tuan CEO Ishikawa Corp.” Natsume tanpa sadar menatap tajam Ishikawa.
"S-Santai saja..." Ujung pelipis Ishikawa menurunkan setetes peluh.
Natsume sambil melepaskan jabatan tangannya menatap Ishikawa seolah berkata. HANA-MILIKKU-KAU-SENTUH-DIA-TAWAT-RIWAYATMU'.
“Err—“ Ishikawa kebingungan begitu merasakan hawa permusuhan.
"Sayang sekali Tuan CEO Ishikawa Corp. Aku telah memilili tiketku sediri. Jadi aku tak memerlukan tiketmu,” ucap Natsume datar.
Germobolan Hana akhirnya memasuki Paradise Pool. Berpisah di ruang ganti. Dan kembali berkumpul di kolam renang terdekat.
Paradise Pool memang sangat luas. Berbagai macam kolam renang tersedia. Dan beberapa arena air tersebar. Food court pun ada di setiap sudut. Jika membawa anak kecil, selalu gandeng dan jaga sebelum tersesat.
“Sudah kuduga, tempat ini besar!” Hana berdiri di tengah-tengah pintu masuk utama dengan kedua tangannya di pinggang dan kedua kakinya terbuka lebar. Mengamati pemandangan Paradise Pool.
“Hana kau ini anak kecil?” Yui sweatdrop melihat tingkah Hana.
“Ah itu mereka.”
Sebuah suara familiar refleks membuat Hana dan Yui menoleh ke arah sumber suara.
Ida dan Ishikawa Guren muncul bersamaan. Disusul Natsume Haru di belakang keduanya.
“Hmmm… Ishikawa-san dan Natsume-san badan kalian bagus sekali,” Yui auto fokus pada perut berbentuk milik Ishikawa dan Natsume, kemudian melirik kecil pada perut kekasihnya, Ida.
“Maaf deh kalau perutku tidak berbentuk!” desah Ida kesal.
“Ida-kun kamu itu terlalu kurus! Coba makan sesuatu yang bergizi tinggi!” Yui dan Ida terjebak dalam pertengkaran mereka sendiri.
“Ha ha,” Hana tertawa hambar menatap dua sejoli itu bertengkar.
Ishikawa Guren mendekati Hana dan berkata, “Hana-san kamu terlihat cocok dengan pakaian renang itu.”
“E-eh?” Wajah Hana tiba-tiba memerah padam.
“T-terima kasih…” Hana menunduk menatap one piece biru tua yang melekat pada tubuhnya, “Ishikawa-san barusan memanggil nama kecilku?”
Pipi Ishikawa Guren juga terlihat sedikit memerah. “T-Tidak boleh?”
“Yaah boleh sih,” Hana tersenyum simpul.
“Hana-san juga boleh memanggilku dengan nama kecilku,” Ishikawa Guren menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Baiklah… Guren-kun!” Tanpa memikirkan apapun Hana menyetujui permintaan Ishikawa.
Sementara Natsume Haru yang menjaga jarak dengan keduanya tidak dapat mendengar apapun. Ia hanya bisa melihat keduanya berbicara dengan sangat akrab.
“… tch.”
“Waah Yui dan Ida-san udah masuk air saja!” Celetuk Hana begitu melihat sepasang kekasih itu telah berada di tengah kolam. Kolam 0,5 meter.
‘Benar juga. Yui tidak bisa berenang.’ Hana sweatdrop di tempat.
“Kalau begitu aku juga!” Ucap Hana yakin.
Mundur beberapa langkah, dan melompat memasuki kolam sedalam 1,5 meter di samping kolam 0,5 meter. Meluncur menggunakan gaya bebas dari sisi kolam ke sisi kolam yang lain.
“Hana hebat…” daripada terkesima, Yui lebih merasa dirinya sangat menyedihkan.
“Berikutnya Yui-chan akan bisa seperti itu. Ayo kembali dicoba. Pegang tanganku dan ayunkan kakimu. Aku akan menarikmu.”
Yui menoleh ke arah Ida. Pemuda itu tersenyum tulus. Ah… mungkin inilah alasan ia jatuh cinta pada pemuda kurus ini.
Mengangguk setuju, Yui menyelamkan dirinya dan mengikuti aba-aba dari Ida.
PYAAASH
Kepala Hana muncul di permukaan begitu mencapi sisi kolam sebrang. Menyadari Ishikawa memperhatikannya, Hana melambai pada Ishikawa dan tersenyum lebar.
“Ah,” Ishikawa balas melambai pendek.
Pada bola mata gelap Ishikawa terpantul birunya kolam. Dan itu… mengingatkannya pada masa lalunya. Di mana ia ditenggelamkan ramai-ramai oleh anak-anak yang membullynya ketika SMP.
Menggelengkan kepalanya untuk menghapus kenangan itu, Ishikawa Guren berjalan mendekati kolam.
‘Sampai kapan aku menjadi menyedihkan? Aku datang kemari untuk menghapus phobia itu…’ perlahan-lahan, hingga pengusaha kaya itu berhasil duduk di tepian kolam dengan kedua kakinya tercelup.
‘Ternyata tidak seburuk itu…’ batinya lagi.
Natsume berdiri tepat di samping Ishikawa Guren yang tengah duduk di tepi kolam.
“Apa maumu?” Nada dingin dan penuh dengan permusuhan terdengar.
Ishikawa mendongkak menatap Natsume. Tidak menjawab sepatah katapun.
“Kuperingatkan kau. Jangan sentuh dia.” Lirikan tajam dan penuh penekanan diberikan.
“Kamu…. Jangan-jangan kamu juga tertarik dengan Hana?”
“Dia milikku.”
Ishikawa hendak mengutarakan pertanyaannya berikutnya, namun sebuah keributan menginterupsinya.
Suara cipratan air yang ribut di ujung sana. Beserta teriakan beberapa orang.
“Tenggelam! Dia tenggelam!”
“!!!” Natsume Haru terperanjat.
Hana tenggelam!
Tanpa sedetikpun terbuang, Natsume Haru langsung melompat memasuki kolam. Berenang secepatnya menggapai Hana.
“….” Sementara itu, Ishikawa Guren hanya bisa membulatkan kedua matanya.
Bayangan masa lalunya kembali menghantuinya. Membuat tubuhnya tak bisa bergerak.
Tangan Hana terus menggapai-gapai apapun walau nihil. Kaki kirinya kram. Nafas. Ia membutuhkan udara.
Gapai.
Gapai.
TEP.
Tangan Natsume meraih tangan Hana. Sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk membopong tubuh Hana. Kakinya mengayuh mendorong ke permukaan.
PSYAAAASH
Keduanya muncul di permukaan. Natsume dengan segera mengangkat tubuh Hana dan dibantu oleh seorang penjaga kolam yang tanggap.
Semua orang berkumpul untuk mengetahui kondisi Hana.
“Ghuuk… uhuk…” Hana menumpahkan kumpulan air yang terjebak di kerongkongannya.
“K-kakiku… k-kram…” Hana meraih kaki kirinya dengan lemah.
Sang penjaga kolam dengan sigap memberikan pijatan darurat pada kaki kiri Hana.
“Seharusnya anda melakukan pemanasan sebelum memasuki kolam!” omel sang penjaga kolam seusai memberikan pijatan darurat.
“Maafkan saya,” Hana berguman lemah.
“Jangan turun ke kolam hingga kaki anda benar-benar bisa digerakkan lagi.”
“Terima kasih. Maaf merepotkan,” Hana mulai bangkit dari posisi terlentangnya.
Setiap orang yang mengerumuni Hana perlahan-lahan menghilang.
Natsume Haru hanya duduk di tepi kolam memperhatikan Hana dalam diam. Ia ingin mendekat dan menanyakan keadaan Hana, namun niat itu ia urungkan. Mengingat tatapan tidak suka dan benci yang diberikan Hana saat memasuki pintu utama tadi, ia tidak ingin menerima tatapan itu lagi.
“HANA HANA! OH ASTAGA KAMU TIDAK APA!?” Yui segera menyongsong dan memeluk Hana yang terlihat lemah.
“Aku tidak apa, Yui,” jawab Hana lemah.
“Kenapa kau bisa tenggelam?” Yui menatap Hana lekat.
“Kakiku kram,” Hana menjawab dengan senyuman lesu.
“Gawat… biasanya seseorang setelah tenggelam akan sangat takut pada air untuk berikutnya.” Ida tiba-tiba bicara.
“Tenang saja Ida-kun, aku tidak takut pada air kok!” Hana memberikan senyumnya.
“Tapi Natsume-kun benar-benar keren. Dia yang menolongmu.” Yui berdecak kagum.
“…” Hana melirik Natsume melalui celah tubuh Yui dan Ida. Tentu saja lirikan itu akan bertabrakan dengan tatapan Natsume yang selalu terarah pada Hana. Detik itu begitu tatapan keduanya beradu, Hana mengalihkan pandangannya.
“Bagaimana jika kita makan dulu untuk mengendurkan suasana?” Yui yang menyadari mood Hana memburuk, segera memberikan saran terbaik.
Hana mengangguk mantap.
“Kalau begitu ayo ke loker Yui, kita ambil handuk dan makan siang!” Mood Hana membaik seketika.
Mereka berdua bangkit berdiri dan menuju loker perempuan.
“Natsume-san kamu keren sekali,” Ida dengan polos mendekati Natsume dan menyikutnya.
“Hn…” Natsume hanya merespon malas.
Begitu Hana dan Yui hendak memasuki loker perempuan. Ishikawa Guren muncul dengan nafas tersenggal-senggal.
“Hana-san!”
“Oh? Guren-kun?”
Yui tersenyum nakal. Sepertinya ia harus memberikan kesempatan bagi sahabatnya untuk bicara.
“Kalau begitu aku saja yang ambilkan. Kalian berdua santailah.” Yui segera nyelonong masuk ruang loker.
“Terima kasih Yui,” sahut Hana.
“Jadi, kamu tidak apa-apa Hana-san?” Ishikawa menatap Hana khawatir.
“Aku tidak apa kok. Haha.”
“M-maaf…” Ishikawa tertunduk dan berguman lemah tiba-tiba.
“Eh? Maaf untuk apa?”
“Maaf karena tidak bisa menolongmu. A-aku—“
TEP.
Hana menyentuh pundak Ishikawa dan menenangkan pemuda itu.
“Tidak apa Guren-kun, yang penting aku baik-baik saja sekarang,” Hana tersenyum meyakinkan.
“Hana-san… kamu dan pemuda berambut putih itu… berpacaran?” Tidak mampu menahan pertanyaannya, Ishikawapun melontarkannya.
“Eh?” Hana membeku seketika. “Kenapa Guren-kun berpikir seperti itu?”
“Dia yang mengatakannya,” jelas Ishikawa.
Hana menundukkan kepalanya.
‘Kenapa Haru-kun mengatakan pada Ishikawa jika kita berdua berpacaran?’
Gigi Hana mengerat marah. ‘Pria itu…. pria itu benar-benar memanfaatkan segelanya dengan baik. Menolongku dan mengatakan kita berpacaran… yang benar saja!’
“Hana? Sudah selesai?” Yui muncul dengan dua buah keranjang di tangannya.
“Eh?” Yui menyadari mood Hana kembali memburuk. “Ada apa?”
“Tidak. Ayo,” Hana menarik keluar Yui dan Guren.
“Ida-kun, Natsume-kun, ayo makan!” Yui mengangkat tinggi-tinggi dua keranjang di tanganya.
Ida menepuk pelan pundak Natsume, “hei, ayo.”
“Hn…” Natsume menyahut datar dan mengikuti Ida.
Kelima orang tersebut berakhir dengan duduk dengan di suatu meja setelah mendapat jus yang dibelikan oleh Ida—karena Ida kalah suit dari Ishikawa dan Natsume.
“Woaaaa… sandwich, onigiri, telur dadar, sosis, tempura, karage, dan salad!” Mata Ida berbinar sempurna.
“Kalian yang membuat ini?” Ishikawa bertanya kepada kedua wanita.
Yui mengangguk menyetujui, “Aku membuat Karage-nya sendiri, dan Hana membuat Sandwich-nya sendiri. Yang lain kita masak berdua. Jadi jangan salahkan aku jika kalian menyadari ada banyak tomat pada sandwich dan salad-nya. Itu semua ulah Hana.”
“Yui!” Protes Hana.
“….” Sebuah senyum simpul terurai pada bibir Natsume.
Istrinya… masih mengingat jelas favoritnya dan tanpa sadar menuangkan banyak pada setiap masakannya.
“Hei Yui-chan aku ingin mencoba Karage-mu!” Celetuk Ida tak sabaran.
“Ya, ya, makan saja,” Yui menyedot jusnya.
“Yosh! Ittadakimasu!”
“Kalau begitu, aku boleh?” Ishikawa menunjuk ke arah sandwich sementara pandangan matanya tertuju pada Hana.
“Ah silahkan Guren-kun,” Hana menyodorkan keranjang berisi sandwich pada Guren.
“!!??” Natsume Haru nampak seperti tersedak saat meminum jusnya.
Ia tidak salah dengar barusan kan?
Hana… memanggil Ishikawa Guren dengan nama kecilnya.
“…..” genggamannya pada gelas plastic jusnya mengerat tanpa sadar.
Natsume Haru duduk di bangku paling ujung. Menopang dagunya dan menatap datar ke arah lain. Hambar.
‘Sejauh mana hubungan mereka?’
“Hmm? Natsume-kun tidak makan?” Yui yang menyadari jika si pemuda albino hanya melamun menatap entah ke mana, mengajukan pertanyaan.
Natsume menoleh ke arah Yui dan menjawab, “tidak.”
“Ayolah, Natsume-kun. Ini,” Yui meraih sepotong sandwich, “makanlah.”
SAAAT
Hana segera meraih sandwich dari tangan Yui.
“Jika ingin makan, makan saja yang lain. Tapi kusarankan agar kamu tidak makan.” Ujar Hana dingin.
“….” Natsume terdiam.
Rasanya ingin sekali tersenyum getir.
“Tidak apa Umei, aku memang tidak lapar,” jawab Natsume tak acuh.
“Ya. Dia tidak lapar,” imbuh Hana cuek.
“Hei, kamu ini kenapa sih? Lagipula Natsume-kun sudah menyelamatkanmu kan tadi?” Protes Yui.
“Aku tidak menyuruhnya menyelamatkanku,” Hana menjawab seketika.
Suasana membeku beberapa saat setelah kalimat Hana
“O-omong-omong sandwich ini enak,” Ishikawa Guren kembali meraih sandwich di keranjang.
“Benarkah?” Hana kembali sumringah.
“Y-ya… hanya saja… porsi tomatnya memang melebihi ambang batas…” jawab Ishikawa jujur.
“Eh? M-maaf…”
“Di sini tidak ada yang maniak tomat! Kau membuatkan sandwich ini untuk siapa sih!?” Omel Yui.
‘Untukku. Sandwich-sandwich itu untukku!’ Natsume hanya bisa melirik keranjang sandwich lewat ujung kelopak matanya.
Kemudian ia menangkap visual Ishikawa Guren yang terus melahap habis sandwich buatan istrinya.
‘…. Setelah ini semua selelsai, akan kubuat kau memuntahkan semua itu dengan paksa. Sialan.’