Jumat, 06 Mei 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 12]

CHAPTER 12: MY GIRL

Tidak ada yang salah dengan cuaca hari ini. Suhu tetap normal di atas dua puluh delapan derajat. Sepertinya musim semi benar-benar sudah datang.
Kuroto Hana, baru saja keluar dari toilet namun sialnya tertangkap oleh guru Bahasa Jepang dan diminta menempelkan brosur dari Universitas pada mading. Tidak bisa menolak dari guru temperamental itu, akhirnya mau tak mau perempuan berambut pendek itu keluar dari ruang guru dengan beberapa brosur di tangannya.
Mading lantai tiga utara beres, mading lantai tiga selatan beres. Saatnya turun ke lantai dua. Masih ada beberapa lembar lagi brosur dalam pelukannya. Kalau dia tidak bergegas, sepertinya akan dipastikan dia akan membolos pelajaran ke empat setelah istirahat.
Dipercepatnya langkahnya menuruni tangga menuju lantai dua. Di mana kelasnya berada. Benar juga, mungkin dia bisa bertemu dengan temannya dan meminta bantuan salah satu temannya. Setidaknya, supaya pekerjaan ini cepat selesai.
Dilain sisi tangga, seorang pria dengan kejema putih dan dasi merah melekat pada lehernya tengan berjalan menaiki tangga ditemani seorang siswa.
“Awas saja! Jika ini tidak selesai sampai bel masuk, akan kubakar brosur-brosur ini!” Sibuk dengan gerutuannya, Hana terus menuruni tangga tanpa memperdulikan apa-siapa-pun yang berpapasan dengannya di tangga. Bahkan pria berdasi itu.
“Kuroto Hana?”
Baru saat namanya terpanggil, perempuan bermata biru itu berhenti bergerak dan menoleh ke belakang, kea rah sumber suara.
Ishikawa Guren. Berdiri di anak tangga yang lebih tinggi darinya. Tersenyum ke arahnya.
“Ishikawa-san? Ah, selamat siang,” Hana menundukan kepalanya memberikan sapaan.
“Tidak perlu seformal itu. Kalau begitu, terima kasih, kamu bisa kembali ke kelasmu,” Ishikawa Guren berbicara pada siswa yang mengantarnya.
Hana mengikuti pandangan Ishikawa Guren dan menemukan sosok ketua kelasnya, Takatsu Rui.
“Ah! Rui-kun!” Ceplos Hana.
Siswa berambut gelap itu tersenyum sekilas ke arah Hana sebelum akhirnya menundukan kepalanya ke arah Ishikawa Guren dan menuruni tangga meninggalkan keduanya.
“Eh? Loh?” Hana cukup kebingungan karena Takatsu Rui pergi begitu saja.
“Bagaimana kabarmu?” Bersamaan dengan pertanyaan itu, tangannya ia julurkan untuk mengusap rambut pendek Hana.
“Ru-chaaaaaaan… tunggu sebentar!”
Sementara itu, di bawah tangga terdengar sebuah suara.
Takatsu Rui yang hendak berbelok menuju kelasnya terpaksa mengagalkan niatnya karena mendengar panggilan dari salah satu temannya.
“Ada apa Kai? Oh Kau bersama Haru?” Ketua kelas itu menyuarakan penglihatannya. Karena cukup asing juga melihat Natsume Haru, siswa yang notabene terlihat aneh, dan jarang bergaul, bisa berjalan bersama Kai.
“Yaah… kami baru dari kantin. Yuk bareng ke kelas,” tanpa ragu Kai memeluk leher Rui.
Tak lama kemudian munculah Natsume Haru dengan kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celananya, berjalan malas kea rah Rui dan Kei.
“Oh Hana! Ah… Siapa itu?” Ushio Kei melambai ke arah Hana namun berikutnya pemuda dengan semir rambut kuning itu terbingung dengan pria yang tengah mengacak rambut Hana.
Mendengar nama istrinya, Kuroto Yoshiki sebgaai Natsume Haru ikut menolehkan kepalanya ke arah anak tangga.
Crimson Red itu terbelalak dalam beberapa detik.
“Itu Ishikawa Guren dasar bodoh. Yang waktu Class fest memberikan sambutan itu loh,” Rui berbisik pada telinga Kei. Sementara Kei hanya mengangguk-angguk entah mengerti atau tidak.
“Jadi, apa itu pacar Hana?” Celetuk Kei.
“BUKAN! BUKAN PACARKU!” Dengan tergagap, Hana melepaskan tangan Guren dari kepalanya sebelum akhirnya berteriak ke arah Kei.
“Lihat, lihat itu pacarnya Hana,” disertai dengan tawa jahil Kei menyikut tangan Haru yang sudah berdiri di sampingnya.
Tapi tanpa diketahui oleh bocah SMA berambut pirang itu, Haru Natsume alias Kuroto Yoshiki tengah dongkol luar biasa.
“SUDAH KUBILANG BUKAN PACARKU!” Hana masih berteriak.
“Ayo, ayo jangan ganggu mereka,” Kei Ushio mendorong tubuh Rui dan Haru menjauh dari tangga. Tentu saja masih dengan cengiran bodohnya.
“HEI! KEI BODOH!” Hendak saja Hana melangkahkan kakinya untuk mengejar Kei, tapi sebuah cengkraman pada lengannya menahannya.
“Ahahaha, itu candaan yang bagus di siang hari. Benar kan Kuroto-san?” Ishikawa Guren tersenyum ke arahnya. Sebuah senyum menawan yang seharusnya bisa menawan setiap gadis yang melihatnya.
“Tapi aku berharap itu bukan candaan,” bisikan itu lolos dari bibir Ishikawa Guren.
“Eh?”
“Ah! Bukan! Bukan apa-apa!” Pria pemilik Ishikawa Corp. itu nampaknya salah tingkah.
“Hoo…” sementara Hana hanya ber-hoo ria.
“Ah, omong-omong Ishikawa-san apa yang anda lakukan di sini? Bukankah Class Fest sudah selesai?” Tanya Hana.
“Jangan terlalu formal. Kau bisa memanggilku Guren saja.”
“G-Guren!? Tapi itu kan…!?”
“Aku kemari karena ada perlu dengan kepala sekolah tadi.”
“Oh? Kepala sekolah? Ada apa?”
Tak habis pikir. Ishikawa Guren bisa mengalihkan perbincangan secepat itu.
Ishikawa Guren mendekat ke arah jendela. “Aku berpartisipasi sebagai penghunung antara sekolah dan kontraktor bangunan,” telunjuknya terarah pada tanah kosong di belakang sekolah yang sudah terpagari untuk—rencananya—bangunan sekolah baru.
“Begitu…” Hana mengangguk-angguk mengerti.
Sebuah bunyi menggema di seluruh lorong bangunan sekolah. Sebuah bunyi yang menandakan usainya istirahat siang. Bel masuk.
“WAAAAH!! SUDAH MASUK! BAGAIMANA INI!? ISHIKAWA-SAN TITIP INI!” Diserahkannya brosur yang seharusnya ia tempelkan di maging-mading pada Ishikawa sementara dirinya sendiri berlari menuruni tangga dan berlari menuju kelasnya. Jam berikutnya adalah Olah Raga. Ia tidak mau menyianyiakan waktunya pada pelajaran favoritnya ini.

-[Yami no Ai]-

Hana tertegun di halaman belakang mansion. Duduk di sebuah ayunan yang sama sekali tidak berayun. Menatap bosan apapun yang dihadapannya.
Tapi sesekali ujung bibirnya tertarik.
Membayangkan wajah bodoh guru Bahasa Jepang kelas duanya dulu saat mengomelinya karena brosur yang seharusnya ia sebar malah ia berikan pada Ishikawa Guren, tamu istimewa Mirai no Gakoo.
“Hahaha… seharusnya kau lakukan sesuatu pada keriputmu itu,” gurau Hana.
Walau begitu, siswi kelas 3-1 itu hanya tertunduk waktu dirinya di sidang di dalam ruang guru sepulang sekolah tadi. Hanya bisa mendengarkan setiap kalimat menusuk guru itu.
“Membayangkan sesuatu yang lucu?” Haru Natsume beridi di samping Hana dengan kedua tangannya memasuki celana gelapnya.
“Haru-kun?” Hana mendongkakkan kepalanya menatap pria itu.
“Boleh saya duduk di samping anda?”
“Silahkan silahkan,” Hana segera menggeser duduknya. Memberikan tempat bagi Haru untuk duduk di sampingnya.
Begitu menempatkan pantatnya dengan nyaman dan menyatukan jari-jari tangannya di hadapannya, Haru Natsume berucap, “saya berharap anda masih mengingat jika anda milik My Lord.”
Hana menolehkan kepalanya seketika kepada pria di sampingnya. “Tentu saja aku milik Yoshiki-kun. Ada apa memangnya?”
“Ishikawa Guren. Entah kenapa dia selalu berusaha mendekati anda.”
“Mendekatiku?” Hana sedikit terperangah.
“Hari ini pun dia datang ke sekolah.”
“Ah itu? Katanya dia berurusan dengan pembangunan bangunan baru sekolah. Itu loh, lahan yang dipagari,” jelas Hana polos.
“Saya tahu itu.”
Sedetik kemudian Hana berpikir. Tentu saja Haru tahu. Iblis bisa dengan mudah membaca pikiran manusia biasa.
“Saya juga tahu jika dia menyukai anda.” Pria bermata darah itu memejamkan matanya. Berucap setenang mungkin.
“M-Menyukai!!??” Hana semakin terperangah.
“T-Tapi a-aku dan dia hanya berteman karena dulu pernah potong rambut bersama!”
“Itulah mengapa ia berusaha mendekati anda,” tanpa memperdulikan pembelaan Hana, Haru melanjutkan kalimatnya.
TEP.
Sesuatu terasa menyentuh tangannya. Membuka matanya, Natsume Haru melihat tangan Hana tengah menggenggam kedua tangannya.
“Tenang saja Haru-kun. Aku milik Yoshiki-kun.” Ucap Hana dengan senyumannya.
Haru Natsume terdiam beberapa saat setelah melihat Hana. Perlahan, sebuah senyuman tipis tumbuh di sudut bibirnya. Entah kenapa, batinya terasa lebih tenang setelah melihat senyuman Hana itu.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Kuroto Yoshiki sangat bersyukur karena Hana adalah takdirnya. Dengan begini rasanya kegundahannya berkurang.
Ia sepenuhnya sadar sejak awal ia menyamar sebagai Natsume Haru. Ini akan menjadi resikonya. Dan ia akan mengambil resiko itu apapun bentuknya.
“Mau saya bantu menyingkirkan Ishikawa Guren sialan itu?” Tawar Haru.
“Ahahaha, tidak usah sampai seperti itu. Omong-omong Haru-kun kalau bicara seperti itu sama seperti Yoshiki-kun ketika cemburu,” Hana setengah tertawa.
“My Lord?” Haru menaikan salah satu alisnya menatap Hana yang masih asyik tertawa.
“Yah. Yoshiki-kun jika cemburu selalu menyebut pria yang ia cemburui sebagai ‘sialan’,” jelas Hana.
Haru Natsume hanya memandangi Hana.
Sepertinya memang benar. Dirinya tanpa sadar menyebut pria yang membuatnya cemburu sebagai ‘sialan,’ dan tanpa sadar ia membawa kebiasaan itu walaupun sekarang telah menjadi Natsume Haru sekali pun.
“Yoshiki-kun… bagaimana kabarnya di sana ya?” Guman Hana tiba-tiba.
“Tenang saja. My Lord pasti akan baik-baik saja.” Jawab Natsume Haru yakin.

-[Yami no Ai]-

Di sebuah dataran Asia Tenggara. Lokasi yang cukup jauh dari tanah Jepang. Negara dengan banyaknya pulau yang menjadi kebanggaannya. Negara yang disebut dengan Indonesia.  Lebih tepatnya, di sebuah pedalaman kota Probolinggo. Sebuah bangunan yang dari luar nampak seperti pabrik pada umumnya, namun di dalamnya, janganlah salah, salah satu markas besar Exorcist berdiri di sini.
CRIING… CRIING…
Suara gemirisik dari rantai-rantai yang saling beradu menggema di dalam sebuah ruagan. Ruangan yang anehnya memiliki penerangan berwarna ungu. Bukan lampu. Bukanlah lampu yang menjadi penerangan. Lagipula, itu bukanlah sebuah alat penerangan. Sinar UV (Ultra Violet) telah dipasang dari lampu-lampu dim yang disebar di seluruh ruangan. Fungsi SInar UV itu adalah untuk terus memeriksa setiap pergerakan yang ada di dalam ruangan itu.
Di tengah ruangan persegi empat dengan pintu baja berlapis-lapis itu, dari atapnya tergantung beberapa rantai. Rantai yang pada ujungnya mengikat tangan. Sementara itu, tepat dibawahnya masih ada rantai-rantai lain yang mengikat sepasang kaki.
Sebuah tubuh manusia seukuran remaja dua puluh tahunan telah terkurung sempurna di tempat itu. Semua alat geraknya telah terbelenggu oleh rantai-rantai yang telah diberikan segel-segel tertentu. Sementara itu, seluruh wajahnya telah tertutupi oleh helm berbentuk besi, di mana hanya ada lubang pada bagian mulutnya.
Dan tidak jauh dari tubuh itu, sebuah penjara berbentuk lingkarang mengitari tubuh itu. Dari penjara itu telah dialirkan listrik dengan berjuta-juta voltase. Sekali sentuh, hangus sudah tubuhmu.
Dengan sinar UV dan penjara beraliran listrik berjuta-juta voltase seperti itu, dipastika tidak akan ada manusia yang bisa bertahan di dalam sana. Tidak bagai manusia. Tapi hal itu masih mungkin bagi seorang iblis.
Dari balik penjara itu, dari balik helm itu, sebuah seringai terlihat. Dan diikuti sebuah gumanan, “semuanya akan segera siap, My Lord.”
-[Yami no Ai]-

Keesokan harinya, semuanya tetap terasa sama. Sekolah adalah hal utama.
Tapi sepertinya hari ini tidak akan terasa sama. Kemunculan dua adik kelasnya di hadapannya ini sepertinya memiliki maksud tersendiri.
“Ada apa ya?” Tanya Hana canggung.
“Kuroto-senpai… dekat dengan Natsume-senpai kan?”
Oh, lihatlah wajah-wajah polos itu. Sepertinya ini tidak asing. Benar saja, Hana sering melihat ini. Para fansgirl Yoshiki selalu menatap Yoshiki seperti itu. Ah… sepertinya bisa ditebak adik-adik kelasnya ini adalah fansgirl Haru.
“Iya…” Hana mengangguk mengiyakan.
“Kalau begitu… boleh titip ini?” Salah satu adik kelas itu mneyodorkan sebuah amplop.
Tanpa Hana pikir lebih jauh pun, sudah jelas terlihat jika surat yang ia terima ini adalah surat cinta.
“Boleh. Akan segera kuberikan padanya,” Hana menyanggupi.
“Senpai mau? Yeaaay! Terima kasih senpai!” Kedua adik kelasnya itu saling beradu pandang dengan senyuman merekah. Kemudian ber-ojigi di hadapan Hana dan pergi dengan keriuhan mereka sendiri.
“Haah…” setelah diyakini kedua anak itu telah menghilang dari pandangannya, Hana menghela nafas berat.
Dibolak-baliknya kertas persegi panjang itu. Dengan tangannya yang kosong ia sandarkan pada bangkunya, Hana mengamati surat cinta itu. Lucu juga. Bukan lucu yang menjurus pada ejekan. Tapi lucu yang menjurus pada suatu hal yang manis. Di mana seorang perempuan menyukai seorang pria, dan untuk menyampaikan perasaannya itu ditulisnya sebuah pesan untuk sang pria. Kalau dipikir-pikir sudah berkali-kali Hana melihat Yoshiki dihadang seorang siswi hanya untuk diberikan sebuah surat seperti ini.
Hana terdiam.
Waktu itu ia sama sekali tidak menyadari ini. Yang ia rasakan hanyalah kesal melihat para siswi itu. Tapi sekarang ia menyadari bagaimana perasaan-perasaan yang ingin tersampaikan itu. Dirinya memang tidak pernah melakukan ini, oleh sebab itu ia sama sekali tidak tahu bagaiamana rasanya menyampaiakan perasaan suka ewat sebuah pesan—walau terlihat norak di zaman modern ini.
“Surat? Dari Ishikawa Guren?”
Baru saja dipikirkan, Natsume Haru telah berdiri di dekat bangkunya dengan tatapan terfokus pada surat di tangannya.
“Bukan. Coba buka dan baca.” Hana menjulurkan surat itu.
Dengan ragu, Natsume Haru akhirnya menerima kertas persegi panjang itu. Membukanya dan melihat isinya.
Mungkin karena mengira surat ini berasal dari Ishikawa Guren untuk Hana, Natsume Haru membacanya dengan serius di awal. Namun setelah menyadari apa yang sebenarnya terjadi dari setiap kalimat yang ia baca. Sekarang ia tahu jika surat ini hanyalah sebuah surat dari salah satu penggemarnya.
Tanpa ada niat Natsume Haru meremat kertas itu dan melemparnya kea rah keranjang sampah di pojokan kelas, dah hebatnya bisa masuk dengan tepat.
Hana shock melihat bagaimana surat yang berisi tumpahan perasaan seorang gadis dibuang begitu saja di dalam keranjang sampah.
“Haru-kun bodoh! Kenapa dibuang!?”
“Karena tidak penting.”
“Tidak penting bagaimana!?”
Untuk beberapa saat ditatapnya sapphire Hana yang memancarkan emosi.
“Karena saya sudah memiliki wanita saya.”

Dan bertepatan dengan usainya kalimat Haru yang menimbulkan tanda tanya besar dalam kepala Hana, kelas dimulai.
Read More ->>

Jumat, 29 April 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 11]

CHAPTER  11: KARAOKE BOX

“KUROTOOOOOO!!” Sebuah suara khas remaja laki-laki menggema di dalam lapangan indoor. Membuat Hana yang kebetulan lewat sana dari membeli jus di mesin penjual minuman di dekat sana menoleh.
Hamazura Otsuki, pemuda dari kelas 3-3, teman sekelas Hana waktu berada di kelas 2, bersandar pada pintu lapangan dengan nafasnya yang terputus-putus.
Tentu saja Hana hanya bisa menaikan alisnya melihat Hamazura Otsuki. Remaja berambut dan beriris cokelat tua itu masih sibuk mengatur nafasnya.
“Ada apa, Hamazura-kun?” Hana dengan santai menanyakan pertanyaan itu dengan mulutnya dipenuhi sedotan yang menghunungkan dengan jus yang baru dibelinya.
“Apakah kamu nanti sibuk?” Selagi menghapus keringat di seluruh permukaan wajahnya, remaja itu menanyakan maksudnya.
“Ha? Hmm… aku belum menyelesaikan tugas Shigure-sensei,” Hana sempat bertopang dagu berpikir sebelum akhirnya menjawab.
“Wah ternyata guru PKK-mu dia juga ya? Sudahlah, lupakan tugasnya. Ikut aku saja bagaimana?”
“Mana mungkin! Tugasnya besok harus sudah dikumpulkan!”
“Cuman sebentar deh! Ayolah!” Sekarang Hamazura Otsuki sudah menepukkan kedua tangannya, berpose memohon kepada Hana.
“Memangnya ada apa sih?” Sedikit malas Hana bertanya.
“Nanti sepulang sekolah, kita ke karaoke bareng, bagaimana?”
“Haaaah?” Kedua kalinya Hana cengo menghadapi Hamazura. Setengah tidak percaya, teman yang selama ini jarang pergi ke tempat lain bersamanya tiba-tiba mengajaknya ke karaoke?
“Yaah… sekalian kencan buta juga sih. Tapi sebenarnya tujuannya mau berkaraoke saja. Gratis kok. Tenang saja. Kamu pasti mau kan?”
“T-tunggu! Kencan buta apa? Kenapa gratis? Ada apa-apanya ya?” Hana menatap curiga.
“Sebenarnya kita kekurangan satu perempuan. Kamu pasti mau datang kan?”
“Tidak mau, ah!”
“Makanannya juga gratis kok.”
“Oke aku mau.”
Hamazura Otsuki sweatdrop seketika. Bagaimana bisa semudah itu memancing Hana dengan makanan gratis?
“Tapi, Hamazura-kun, kenapa aku?” Hana menunjuk wajahnya sendiri dengan wajah polos.
“Yaaah… karena kamu perempuan pertama yang kulihat hari ini. Aku di lapangan terus hampir seharian ini.”
“Hooo… begitu,” Hana hanya ber-oh ria.
Memang benar, Summer Cup sebentar lagi akan dimulai. Pasti tim basket pria dan wanita di sekolahnya sedang berusaha mati-matian. Berkat retak hidung yang pernah dialaminya, Kaname-sensei benar-benar tidak bisa mengizinkannya mengikuti basket lagi.
“Kalau begitu, sepulang sekolah nanti jangan lupa ya! Karaoke Box di dekat stasiun oke?”
Hana hanya melambaikan tangannya, dan mulai kembali menuju ke kelasnya.

-[Yami no Ai]-

Jam terakhir telah berakhir. Guru pengajar pun sudah menghilang sejak beberapa menit yang lalu. Sejumlah siswa sudah meninggalkan kelas mereka masing-masing. Termasuk Hana. Di sampingnya, Haru Natsume berjalan santai.
“Ah, Natsume-kun bisa antar aku ke Karaoke Box dekat stasiun?”
“Karaoke Box? Kenapa?” Pemuda berambut putih itu hanya menatap Hana penasaran. Seingatnya ketiga sahabat Hana sama sekali tidak mengatakan apapaun soal Karaoke.
“Ada makanan gratis di sana. He he he,” Hana hanya nyengir tidak jelas. Membuat Haru Natsume semakin penasaran.

-[Yami no Ai]-

Akhirnya, tanpa pertanyaan lebih lanjut, Haru Natsume mengantarkan Hana pada Karaoke Box.
“Ah! Itu dia Kuroto!” Suara Hamazura Otsuki menyapa pendengaran Hana saat kakinya baru saja menyentuh permukaan tanah.
“Hamazura Otsuki?” Haru Natsume yang menyebutkan nama Hamazura dengan nada bertanya lantas membuat Hana menolehkan kepalanya kea rah pria itu.
“Ya. Dia yang mengajakku tadi.”
“Kenapa dia mengajakmu?”
“Entahlah,” Hana mengendikkan bahunya tidak mengerti, “aku ikut saja karena ada makanan gratis.”
Tanpa ba bi bu lagi, pria bersurai putih itu turun dari audi gelap yang sudah ia parkir. Ada yang aneh di sini. Firasatnya mengatakan hal yang merepotkan akan terjadi.
“Oh! Hai! Ada Haru Natsume juga ternyata, mau ikut jug—“ pertanyaan Hamazure terhenti begitu ia baru saja menyadari jika kedatangan Haru Natsume akan mengacaukan segalanya. Haru Natsume terlalu sempurna sebagai pria. Di sekolah saja Haru Natsume sudah banyak menarik perhatian seluruh siswi. Bagaimana jika jadinya jika Haru Natsume ikut bergabung dalam kencan buta ini!? Bisa-bisa seluruh perempuan yang ada lebih memilih Haru Natsume.
“Aku ikut.”
Dan sialnya Haru Natsume setuju untuk ikut.
“Eh Natusme-kun boleh ikut? Syukurlah kalau begitu!” Hana menepuk-nepuk bahu Hamazura Otsuki dengan riang.
“Hhhh…” Hamazura malang hanya bisa menghela nafas.

-[Yami no Ai]-

Benar saja, begitu memasuki ruang karaoke, beberapa perempuan yang sedang asyik menikmati lagu mereka tertegun melihat Haru Natsume yang memasuki ruang karaoke. Pria bermata red crimson itu seketika berhasil memikat seluruh tatapan mata di sana.
“Sudahlah masuk saja! Berhentilah menjadi pengecut!”
“Tidak usah! Aku banyak pekerjaan!”
“Pekerjaanmu bisa ditunda! Kamu harus segera mencari pacar!”
Sementara itu, riuh terdengar dari luar ruangan. Keributan yang dihasilkan oleh setiap adu mulut beserta suara hentakan kaki, seretan kaki, memenuhi lorong Karaoke Box.
“Aku bisa mencarinya sendiri!”
“Tidak bisa! Kau mau jadi perjaka tua hah!?”
Dan suara keributan yang bersalah dari dua orang itu semakin mendekat.
“Hei lepaskan!”
“Tidak akan!”
Dari pintu karaoke room Hana yang masih terbuka setelah kedatangan Haru Natsume, terlihat seorang pemuda yang sedang kesusahan menarik seorang pemuda lain dengan tangannya.
“Yo! Maaf telat!” Pemuda dengan suara nyaring itu memasuki ruang karaoke dengan tangannya masih setia menarik temannya yang juga masih setia meronta dari cengkramannya. Sungguh kontras. Pemuda itu bergaya rock’n’roll sementara pemuda yang ditariknya layaknya pria-pria kantoran dengan jas hitamnya.
“Dia temanku, agak pemalu, tapi tolong bergaulah dengannya. Perkenalkan, Ishikawa Guren.” Pemuda itu dengan segala kekuatannya, membuat Ishikawa Guren menghadapkan wajahnya pada seluruh penghuni karaoke roomnya.
Pria berambut cepak itu terbelalak seketika begitu tatapannya bertemu dengan sosok seorang perempuan berambut pendek yang tengah asyik memakan kripik kentang di meja. Tak kalah kaget, Haru Natsume menatap tak percaya pada Ishikawa Guren yang berdiri di depan pintu.
Sepertinya firasatnya benar. Suatu keadaan yang buruk bertemu dengan Ishikawa Guren di tempat sempit seperti ini. Apalagi melihat tatapan pria beriris jade itu seketika tertuju pada Hana membuat tubuhnya bereaksi keras.
Mengabaikan pertengkaran batin yang dialami Haru Natsume terhadap Ishikawa Guren, beberapa perempuan yang duduk di sisi lain bangku laki-laki mulai asyik membicarakan kedua pria tampan yang kedatangannya tak diduga ini. Haru Natsume, dan Ishikawa Guren menjadi mangsa bagi tatapan-tatapan para perempuan di Karaoke Box.
“Kuroto Hana?” Tak bisa menahan dirinya, Ishikawa Guren memanggil nama Hana. Siapa sangka ia akan bertemu dengan Hana di sini. Perempuan yang ia akui memberikan perasaan hangat pada dirinya. Senyumnya mengembang saat mengucapkan nama Hana.
“Ah ya?” Dengan polosnya Hana menoleh kea rah Ishikawa Guren.
“Hooo! Ishikawa-kun!” Hana tersenyum menyapa.
“Heee? Kalian sudah saling kenal?” Pemuda yang tadi sudah susah payah menarik Ishikawa Guren itu menatap Hana dan Guren penuh tanya.
“Hei, apa yang kamu lakukan di sini?” mengabaikan pertanyaan temannya, Guren mendekati Hana.
Haru Natsume bersiaga saat itu juga. Sialan. Dirinya benar-benar kesal. Ishikawa Guren adalah ancaman baginya. Bisa dilihat dengan jelas, Ishikawa Guren tertarik pada miliknya. Tidak bisa dibiarkan!
“Aku makan,” Hana menjawab polos. Mulutnya penuh dengan kripik kentang. Sudut bibirnya dipenuhi remahan bumbu kripik kentang.
“Ha ha. Lihatlah kamu makan seperti anak kecil,” Ishikawa Guren terkekeh sementara tangannya merain sapu tangan pada sakunya. Setelah didapatinya sapu tangan itu ia usapkan pada bibir Hana.
Cukup. Ishikawa Guren benar-benar membuatnya emosi sekarang.
Sementara Haru Nastume menatap dengan kekesalan yang luar biasa, seluruh perempuan di tempat itu menatap iri ke arah Hana.
Hana yang pipinya tiba-tiba diusap oleh sapu tangan Ishikawa hanya diam tanpa kata. Namun, saat sapphirenya bertemu dengan sapu tangan Ishikawa tiba-tiba sebuah déjà vu muncul dalam benaknya.

"Hn," tiba-tiba Yoshiki berhenti. Tangannya merogoh saku celananya dengan cepat. Hana ikut berhenti karena reflek. "Dasar," ucap Yoshiki sambil melap rempah roti pada bibir Hana dengan sapu tangan
.
PLAK
Tanpa sadar ditepisnya tangan Ishikawa Guren.
Sekitka seluruh atensi di ruang karaoke yang kecil itu terarah pada Hana.
Kedua bola mata jade Ishikawa Guren melebar saat tangannya ditepis begitu saja oleh Hana.
“Eh?” Begitu sadar akan tindakannya, Hana menatap Ishikawa Guren dengan kerutan pada alisnya. “Ah! Maaf! Maafkan aku!” Hana segera bangkit dari duduknya dan melakukan ojigi berkali-kali di hadapan Ishikawa Guren.
Haru Natsume sendiri cukup terkaget melihat tindakan Hana.
“T-tidak. Ini seharusnya salahku. Aku yang tiba-tiba menyentuhmu. Jadi… Maaf!” Ishikawa Guren menudnukan kepalanya sedalam-dalamnya.
Dasar bodoh. Dirinya sudah melakukan seuatu kesalahan besar! Setelah kejadian Class Fest kemarin dia masih membuat kesalahan yang membuat Hana tidak nyaman. Tentu saja Hana akan melakukan itu! Dirinya tiba-tiba main usap pipi orang begitu saja. Tentu saja Hana akan marah!
“Hmeeeh…” Hamazura Otsuki menghela nafas berat. Sial sekali hari ini. Kencan buta hari ini sepertinya akan kacau. Dua pria yang kedatangannya tak ia duga ini akan memikat semua perempuan yang ada.
“Yo yo! Bagaimana kalau berkenalan terlebih dahulu?” Pemuda-penarik-Ishikawa-Guren menepukan tangannya meminta perhatian seluruh penghuni ruang karaoke tersebut. “Namaku Ichiro Katsuga, semester 3 Universitas Shuz.”
Merasa bahunya ditepuk oleh temannya, Guren segera mengerti dan memperkenalkan dirinya setelah berdehem pelan. “Ishikawa Guren, pemilik Ishikawa Corp.”
“Huwooo, sudah kuduga dia CEO Ishikawa Corp itu.”
“Benar-benar.”
“Wah, tak diduga.”
Ketiga perempuan yang duduk di samping Hana mulai memberikan komentar mereka.
“Aku Hamazura Otsuki! Kelas 3 di Mirai no Gakoo!” Tanpa mengurangi rasa percaya dirinya, Hamazura memperkenalkan dirinya. Ishikawa Guren dan Haru Natsume memang sangat memikat, tapi dia tidak boleh menyerah sebelum perang dimulai. Setidaknya begitulah anggapannya.
“Hooo…” ketiga perempuan itu asyik bertepuk tangan ria.
Seharusnya ini giliran Natsume Haru, tapi pria itu sama sekali tidak berniat melakukan perkenalan konyol ini. Dirinya hanya diam dengan kedua tangannya ia lipat di depan dadanya, dengan punggungnya bersandar pada sofa.
Dengan kesal Hamazura meneriakinya, “Hei Haru! Perkenalkan dirimu!”
Sepertinya tidak ada pilihan lain. “Haru. Haru Natsume.”
Hanya itu. Dirinya bahkan tidak berdiri seperti ketiga pria sebelumnya.
Hal itu lantas membuat Hamazura semakin murka. “Apa-apaan itu ta—“
“Kereeen! Hei hei! Kamu masih sekolah ya? Sekolah di mana?” Salah satu perempuan menginterupsi teriakan emosi Hamazura.
“Boleh minta alamat emailnya?”
“Haru-san ya? Nama yang bagus?”
Dan diikuti oleh komentar-komentar lain.
“Nah sekarang giliranku!” Hana berdiri dari tempatnya. “Kuroto Hana! Kelas 3 di Mirai no Gakoo! Satu sekolah dengan Hamazura-kun!”
Melihat semangat Hana membuat ujung bibir Ishikawa Guren sedikit tertarik. Haru Natsume tentu saja menyadari itu. Sialan. Dirinya benar-benar dibuat kesal setengah mati hari ini. Melihat seorang pria yang diam-diam menyukai miliknya, dan tersenyum melihat miliknya benar-benar memuakkan!
“Nonomiya Ui, semester 1 Universitas Katsumoto.”
“Madoka Risa, semester 1 Universitas Katsumoto.”
“Miyaka Mutsuri, semester 2 Univeritas Shizu.”

-[Yami no Ai]-

Dan acara kencan buta pun dimulai. Masing-masing berusah menarik perhatian lawan jenis mana yang membuat mereka tertarik.
“Haru-san, daritadi kulihat dari tadi kamu hanya meminum kopi. Lidahmu akan pahit loh. Cobalah ini, milk shake,” Nonomiya Ui menyodorkan segelas milk shake coklat di hadapan Haru Natsume yang sedang asyik meminum kopi kalengnya.
“Tidak usah.” Hanya itu sahutan Haru Natsume. Sementara kedua bola mata red crimsonnya terus terarah pada Hana.
“Hei, apa benar ID Linemu ini?” Ishikawa Guren menujukan sesuatu pada layar ponselnya.
“Benar.” Hana mengangguk polos.
“Aku sudah mengirimkan pesan padamu kemarin kamu lihat?”
“Ah! Benarkah? Maaf aku belum membuka ponsel sama sekali sejak semalam! Dan ponselku tertinggal di rumah!” Hana membual tentu saja. Dia membawa ponselnya pada tasnya. Dan dirinya juga tahu Ishikawa Guren mengirimkannya pesan. Hanya saja, sepertinya sesuatu mencegahnya membuka pesan Ishikawa Guren dan membalasnya.
“Kalau begitu… apa nanti malam aku boleh meneleponmu?”
Hana terdiam dalam kegiatannya mengunyah kue kering. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya ia mau-mau saja melakukan itu. Tapi… Yoshiki pasti akan sangat kecewa dengannya. Dia tidak boleh melakukan ini. Namun ia tidak bisa menjawab apapun! Ia tidak tahu bagaimana cara menolak yang halus. Cara menolak dimana itu tidak akan menyakiti Ishikawa Guren.
“Kami punya banyak tugas untuk kelas besok. Sepulang ini kami akan mengerjakan tugas semalaman.” Ucap Haru Natsume tiba-tiba dnegan tenang.
Ishikawa Guren menoleh sekilah kea rah Haru Natsume.
“Benarkah?” Dan meminta konfirmasi pada Hana.
“Ah… ya begitulah…” Hana mengangguk menyetujui.
“Begitu? Sayang sekali.” Ishikawa Guren menghela nafas lesu.
Sementara itu, Hana mengacungkan jempolnya ke arah Haru dan memberikan tatapan konyol yang berarti ‘terima-kasih-atas-bantuannya.’
Haru Natsume sweatdrop melihat tingkah Hana.
“Omong-omong, kamu terlihat lebih manis daripada kemarin.”
Hana tersedak dalam upayanya meminum milk shakenya. Haru Natsume seketika menatap Ishikawa Guren tak percaya. Dia menggombal kepada Hana!? Apa itu tadi!? Kuno sekali.
“Ahh!” Ishikawa Guren seketika bangkit dari duduknya begitu melihat Hana tersedak. Menyodorkan sapu tangannya kepada Hana.
Hana segera menggerakan tangannya untuk menolak sapu tangan Ishikawa. DIambilnya tisu di atas meja dan segera diusapnya beberapa sisa semburannya tadi.
“Berhenti bercanda Ishikawa-san,” Hana terkekeh.
“Aku tidak bercanda. Menurutku memang begitu. Kau terlihat lebih manis daripada sebelumnya.”
“Eh? Kenapa begitu?”
“Karena aku selalu memikirkanmu. Jadi aku bisa mengingat jelas seperti apa dirimu sebelumnya.”
“Eh…?” Hana hanya berguman tidak mengerti.
Haru Natsume hanya diam. Mendnegarkan setiap pembicaraan antara Ishikawa Guren dan Hana.


“Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan…” gumannya.
Read More ->>

Kamis, 21 April 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 10]

CHAPTER 10: TOMMOROW AND TODAY

Class Fest telah selesai diselenggarakan. Tepat pada pukul sembilan malam semua acara dipastikan telah selesai. Waktunya berbesih. Malam itu harus semuanya beres.
“Hei. Kamu kenapa tadi?”
Kuroto Hana yang sedang asyik melepaskan aksesoris-aksesoris yang terisa pada dinding karena pembuatan rumah hantu membalikan kepalanya ke belakang. Menemukan sosok sahabatnya, Umei Yui berdiri dengan kedua tangannya berkacak pinggang.
“Yui? Bantu aku melepas ini!” Hana berusaha menarik sebuah selotip yang sepertinya menempel sangat erat.
Perempuan berambut ungu itu mau tak mau meyediakan tangannya untuk membantu Hana menarik karet lengket itu dari tembok. Dengan tenaga keduanya, akhirnya selotip itu mau lepas juga.
“Ayo beritahu aku apa yang terjadi tadi? Kamu menangis sesaat setelah bergandengan tangan dengan Ishikawa-san. Kupikir kamu tidak tertarik pada—“
“Dia temanku,” sela Hana.
“Teman?” Yui mengernyitkan alisnya.
“Ceritanya panjang sih…” Hana menghela nafas berat.
Yui terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan pertanyaannya, “lalu apa kamu tidak mau menceritakannya padaku?” Sejenak pandangannya terarah pada Maki yang sepertinya tengah berjalan ke arahnya dan Hana, “—pada kita?”
Sekali lagi Hana menghela nafas berat. “Kuceritakan nanti di grup chat saja bagaimana?”
“Hei tunggu. Jika nanti, Maki pasti akan disuruh tidur oleh kakaknya!”
“Tidak apa Yui-chan. Nanti malam aku berencana menonton siaran langsung bola luar negri. Jadi aku nanti mungkin akan tidur pagi,” Maki nyengir.
“Shiro pasti tidak akan tidur…” Yui berpikir lagi, “Jadi kau janji kan akan berceri—“ Yui menghentikan kalimatnya saat melihat orang yang diajaknya bicara malah melamun.
Ditariknya telinga Hana. “Kamu mendengarkanku kan?” Yui bicara tepat di depan telinga Hana dengan dahinya dihiasi oleh perempatan urat-uratnya.
“Ah! Aduuhduh! Iya! Iya! Kudengarkan! Aku janji!” Hana merintih, berusaha menjauhkan telinganya dari Yui.
Sementara Haru Natsume hanya melakukan apa tugasnya—kali ini sepertinya ia dapat jatah mengangkat seluruh perabotan keluar kelas—dengan sesekali melirik Hana.
Bersih-bersih kelas selesai selesai sebelum waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Syukurlah kelas 3-1 memiliki siswa yang rajin. Sehingga membersih kan kelas—dengan banyak hal yang harus dibersihkan—cepat selesai.
Kuroto Hana tengah berdiri di depan gerbang sekolah. Menunggu Haru Natsume menjemputnya tentu saja.
Panjang umur. Tak lama kemudian sebuah mobil audi gelap datang dan berhenti tepat di depan Hana. Anehnya Haru Natsume selaku supir tidak keluar dari tempatnya dan membukakan pintu untuk Hana seperti biasa. Hana membuka dan memasuki mobil dengan sendirinya. Hana sendiri juga tak memikirkan mengenai keanehan Haru. Ia tengah hanyut dalam pikirannya sendiri.
Perjalanan pulang sekolah malam itu terasa sangat hening. Hanya suara deru kendaraan dan suara lambu sen yang berbunyi berkedip-kedip yang memenuhi kegelapan dalam mobil itu.

-[Yami no Ai]-

Hana terdiam. Duduk meringkuk di atas ranjangnya dengan tangannya menggenggam ponsel pinter miliknya. Kepalanya ia sandarkan pada kedua tumit kakinya yang saling menempel.
Dia baru saja melakukan sesuatu yang salah. Sesuatu yang sangat salah.
Suaminya, Kuroto Yoshiki, tengah mati-matian berjuang dengan Exorcist di sana. Sementara dirinya malah bersenang-senang dengan teman masa kecilnya. Kejam sekali dirinya! Perempuan macam apa dirinya?
“Yoshiki-kun…” bisikan itu lolos dari bibirnya.
“!?” Haru Natsume mendongkakkan kepalnya seketika.
Rasanya barusan ia mendengar Hana memanggilnya.
Sekali lagi kepalanya ia tundukan. Menyembunyikan ekspresinya dengan rambut-rambut putihnya yang cukup panjang.
Mana mungkin Hana memanggilnya? Sepertinya ia dipermainkan oleh pikirannya.
Apa-apaan itu tadi? Hana bergandengan tangan dengan Guren Ishikawa? Apa maksudnya itu? Apa keduanya berniat mengikat suatu hubungan?
“SIALAN!” Haru Natsume berteriak seketika.
Gigi-giginya saling bergemelatuk. Tangan-tangannya mengerat menggenggam udara. Rahangnya mengeras.
“Guren Ishikawa sialan…” desisnya dingin.
Apa dia harus membunuh Guren Ishikawa? Tidak perlu dirinya. Cukup ia menyuruh orang ain yang membunuh bedebah yang sudah berani-berani menyentuh istrinya itu.
“Yoshiki-kun…”
Lagi-lagi suara Hana bergema di dalam kepalanya. Yang anehnya suara itu penuh dengan perasaan sedih, rasa bersalah, dan perasaan rindu.
Mungkin sebaiknya ia harus menemui Hana.

-[Yami no Ai]-

Ponsel Hana bergetar. Menunjukan sebuah notifikasi masuknya sebuah pesan di sebuah apliasi chatting.
UMEI: Jadi, sudah siap bercerita?
HISEGAWA: Siap mendengarkan.
AYAKI: Shiro di sini!
KUROTO: Ceritanya akan panjang…
HISEGAWA: Aku menengarkan ^^
UMEI: Jangan buang-buang waktu!
Perempatan siku muncul di dahi Hana, kesal.
“Dasar Yui ini! Dia sangat kepo sekali! Aku sedang mengetik sekarang dasar bodoh!” Omel Hana sementara tangannya mulai mengetik apa yang menjadi unek-uneknya.
AYAKI: Hana lama sekaliii~~
HISEGAWA: Dia sedang mengetik.
AYAKI: Ayolaaaah~~
KUROTO: Guren Ishikawa hanya temanku. Aku bertemu dengannya di tempat potong rambut saat SD dulu. Dia menangis ketakutan. Aku hanya mencoba membantu menenangkannya saja. Lalu kemarin saat aku potong rambut lagi, aku bertemu dengannya. Dan begitulah. Aku sendiri tidak menyangka dia akan menjadi sponsor utama class fest sekolah kita.
HISEGAWA: Apa!? Serius!? Kamu berteman dengan milyader itu!?
AYAKI: Err—dia menangis? Menangis karena potong rambut?
UMEI: KUROTO HANA! BUKANKAH SUDAH KUBILANG UNTUK BERHENTI MEMOTONG RAMBUTMU LAGI!? Cih. Aku sampai lupa untuk mengomelimu tadi. Padahal aku sudah sadar sejak bertemu denganmu pagi tad. Rambutmu menjadi lebih pendek.
HISEGAWA: BENAR! SAMPAI KAPAN KAMU MAU MENJADI SEPERTI ITU!?
AYAKI: DASAR HANA BODOH!
UMEI: AKU MEMBENCIMU!
“Hei… hei… kenapa mereka malah membicarak rambutku?” Di balik kedutan emosi Hana, muncul butiran-butiran sweatdrop Hana melihat kebodohan teman-temannya.
KUROTO: AKU SEDANG SERIUS! KALAU TIDAK MAU DENGAR YA SUDAH!
UMEI: Ah… ya… kalau begitu lanjutkan.
HISEGAWA: Maaf…
Hana menghela nafas. Entah sudah berapa kali dalam seharian ini. Sepertinya hari ini melelahkan jiwa dan raganya.
AYAKI: Lanjutkan saja, Bodoh!
KUROTO: Dia err… menceritakan sesuatu yang rahasia padaku. Karena rahasianya itu aku jadi semakin kasihan padanya. Dia ingin menikmati class fest yang dulu ia lewatkan saat sekolah. Aku hanya membantunya.
HISEGAWA: Sepertinya milyader itu masa lalunya kelam sekali. Dan sepertinya dia snagat pengecut dulu.
AYAKI: Kasihan. Sangat kasihan.
UMEI: Lalu apa yang membuatmu sedih dan murung sedari tadi?
KUROTO: Aku tidak seharusnya melakukan itu. Bergandengan tangan dengannya seperti itu… Aku tidak bisa. Ini salah. Ini salahku.
UMEI: Kenapa salah?
Tanpa sadar sebulir air mata mengalir turun pada pipi Hana. Membasahi layar sentuh ponsel yang tengah menampilkan ruang chat empat sahabat itu.
TOK. TOK. TOK. TOK.
Beberapa ketukan pada pintu kamarnya membuat Hana refleks mendongkakkan kepalanya ke arah pintu. Siapa yang datang padanya di malam selarut ini? Misaki? Apa ada masalah?
Segera diusapnya kedua matanya dengan kasar. Berusaha menutupi bekas tangisannya. Turun dari ranjang dan membukakan pintu.
“Iya. Ada ap—Natsume-kun?” Hana cukup kaget karena melihat sosok Haru Natsume di depan matanya.
Hana sudah dihadapannya. Tepi entah kenapa menatap Hana malah mengingatkannya pada rasa sakitnya. Rasa sakit pada dadanya yang terus berdenyut. Rasa sakit yang ditimbulkan karena kebodohannya.
“Mau masuk dulu? Tidak enak kalau bicara di depan pintu,” tawar Hana.
Tanpa menjawab, Haru Natsume berjalan memasuki kamar—yang memang seharusnya kamarnya juga—Hana.
Pikirannya kalut. Ia sendiri juga tidak tahu apa yang akan ia bicarakan dengan Hana sebagai Haru Natsume sekarang. Saat itu ia melihat sebuah notifikasi chat pada ponsel Hana yang tergeletak di atas ranjang.
ISHIKAWA: Selamat malam. Maaf mengganggu.
Kedua mata azure miliknya membulat sempurna.
“Omong-omong… Ada apa Natsume-kun malam-malam ke mari?” Hana yang baru saja menutup kembali pintu kamarnya berjalan mendekati Haru Natsume.
GREB.
Tiba-tiba saja salah satu pergelangan tangannya sudah digenggang oleh Haru Natsume. DItarik dan dihempaskan pada ranjangnya.
Entah apa gerangan. Lampu yang meneringai kamar Hana tiba-tiba mati dan membuat ruangan itu diliputi kegelapan.
Semua runtutan kejadian ini terjadi begitu cepat. Hana sampai tidak memiliki waktu untuk berpikir sama sekali.
“Kenapa kau lakukan ini!? Sebenarnya siapa Ishikawa Guren!?”
Hana tertegun ditempatnya. Walau dalam keadaan gelap, Hana bisa yakin jika Haru Natsume sedang menindihnya sekarang. Bicara tepat di hadapannya. Aura mengintimidasinya sangat terasa. Aura mengintimidasi yang sama ia rasakan pada Kuroto Yoshiki, suaminya.
“Maaf. Maafkan aku Yoshiki-kun. Maafkan aku karena sudah mengecewakanmu Yoshiki-kun… hiks… hiks…” tanpa sadar kalimat itu meluncur keluar dibarengi dengan isakan penyesalan.
Ganti Haru Natsume yang tertegun sekarang. Pengannya pada lengan-lengan Hana mengendur.
Hana menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.
“Aku… sudah membuatmu kecewa… Yoshiki-kun pasti akan membanciku sekarang. Aku mohon… Maafkan aku Yoshiki-kun…” Hana terus menggumankan nama Yoshiki walauun sebenarnya ia sadar, yang di depannya adalah Haru Natsume. Bukan Kuroto Yoshiki.
‘Apa yang sudah kukatakan pada Natsume-kun? Apa aku sudah gila sekarang?’ pikir Hana. Walau begitu, ia tidak peduli. Ia sangat ingin melanjutkan mengungkapkan unek-uneknya.
Tubuhnya terasa terangkat tiba-tiba. Dan…
GREB.
Sebuah pelukan dalam kegelapan. Hanya itu yang bisa Hana pikirkan sekarang. Haru Natsume memeluknya?
“Aku tidak membencimu. Sama sekali tidak. Memang benar aku kecewa. Tapi untuk kali ini… aku mengerti…”
Nada berat itu. Walau dengan suara Haru Natsume, Hana seolah-olah mendengar suara Kuroto Yoshiki secara langsung.
“Yoshiki-kun…?”
“Hn?”
Sapphire Hana terbelalak lebar dalam kegelapan. Yoshiki-kun! Orang yang berbicara dengannya saat ini benar-benar Yoshiki! Dieratkannya pelukannya tanpa sadar.
Sebuah cahaya seketika memenuhi kamar Hana yang sebelumnya tertelan oleh kegelapan.
“HUWAAAA!” Hana melompat kaget dan melepas pelukannya dari tubuh Haru Natsume.
“A-Apa yang kau lakukan Natsume-kun!?” Hana berteriak shock dengan jarinya ia gunakan untuk menunjuk-nunjuk wajah Haru Hanstume.
“Seharusnya itu yang ingin saya tanyakan. Kenapa anda tiba-tiba memeluk saya? Apa anda takut karena gelap?” Natsume Haru menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Memasang wajah tidak mengerti.
‘Eh?’ Batin Hana. ‘Apa tadi hanya khayalanku saja? Tapi semuanya terasa nyata.’
“Kalau sudah tidak ada perlu dengan saya lagi, saya undur diri dulu,” Haru Natsume pamit mengundurkan diri sebelum meninggalkan Hana.
“Ah. Ya,” Hana sendiri masih bingung atas apa yang baru saja terjadi.
Semuanya benar-benar terasa nyata. Intimidasi yang ia rasakan sangat khas dominasi Kuroto Yoshiki sekali. Pelukan erat yang ia rasakan. Suara berat itu. Dan gumanan milik suaminya itu. Semuanya terasa nyata.
Apa kepalanya sudah mulai rusak dan dia sudah mulai gila sekarang?
Membayangkan Haru Natsume adalah suaminya. Sepertinya dirinya sudah mulai gila sekarang. Hana sweatdrop.
“Omong-omong, Natsume-kun, tadi kenapa kamu kemari? AH! SUDAH PERGI!” Natsume Haru telah pergi sejak beberap menit lalu. Dan dirinyapun sepertinya sudah memberikan izin. Kenapa dia sampai lupa?

-[Yami no Ai]-

Haru Natsume menyusuri lorong panjang mansionnya. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celananya.  Pandangannya terus menatap tajam dan awas ke depan.
Keadaan mentalnya sepertinya sudah kembali normal dan tenang. Sekarang dirinya bisa kembali fokus.
Setidaknya ia tahu. Ini jelas-jelas bukan salah Hana. Memang benar Hana sedikit tergoda dan goyah. Tapi ini sepenuhnya salah Guren Ishikawa sialan itu.
Sialan. Di saat-saat seperti ini dirinya sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Hana. Yang dilakukannya tidak lebih dari tindakan seorang pengecut. Hanya muncul saat wanitanya sendiri dan ketakutan. Apa yang bisa dia lakukan saat wanitanya kebingungan bersama Guren Ishikawa? Meratapi rasa cemburunya? Benar-benar pengecut!
Ia harus segera mencari cara untuk menyelesaikan ini.

-[Yami no Ai]-

“KENAPA CHAT TERAKHIR KITA TIDAK KAU BALAS!!!??” Ledakan kemarahan menggema di dalam kelas 3-1.
Semua siswa yang sedang asyik melakukan aktivitasnya masing-masing pandangannya teralihkan pada Yui yang sedang berdiri di depan bangkunya, menunjuk ke arah Hana dengan tatapan membunuh. Diikuti oleh Maki dan Shiro yang berdiri melingkari Hana dengan tatapan menusuk mereka.
Sepertinya Hana akan menjalani dua hukuman sekaligus hari ini. Pertama, karena ia tidak membalas pesan teman-temannya. Dan kedua, karena ia telah memotong rambutnya lagi.
“Ah… Ya… Itu… aku tertidur…” Hana menggaruk pipinya yang tidak gatal.
“TERTIDUR KATAMU!? AKU BERTAHAN DARI KANTUK UNTUK MENDENGAR CERITAMU DAN SEKARANG KAU DENGAN GAMPANGNYA MENGATAKAN TERTIDUR HAH!?” Yui  menaikan satu kakinya di atas meja Hana.
Hana shock melihat kaki Yui. Gawat. Sepertinya Yui benar-benar marah. Lihat saja tatapan membunuhnya. Bahkan sepertinya ia bisa membayangkan aura kegelapan menguar pada punggung Yui layaknya iblis-iblis yang ia lihat selama ini.
“TIDAK ADA MAAF!”
“BANTAI!”
“MAAAAAAAFF!!”
Dan keributan di kelas 3-1 tak terhindarkan lagi.
Seolah sudah wajar terjadi, seluruh siswa kelas 3-1 melanjutkan aktivitasnya kembali tanpa berniat mengganggu Hana dkk. Bahkan si ketua kelas, Rui, hanya tersneyum tipis menatap keributan itu.
“NATSUME HARU!” Sebuah lengkingan khas pria tua yang bersemanat terdengar dari pintu kelas bagian belakang.
Membuat sekali lagi perhatian seluruh siswa teralihkan. Termasuk membuat pertarungan sengit Hana melawan Yui, Shiro, Maki terhenti.
Itu Kaname-sensei. Guru piket hari ini dan sekaligus guru olah raga mereka.
“Ada apa sensei?” Natsume Haru hanya menyahuti dengan enteng.
Dengan kedua tangannya yang sibuk membawa kardus, Kaname-sensei berjalan memasuki kelas 3-1.
Menjatuhkan kardus itu depan Natsume Haru, beberapa siswa yang berada tidak jauh dengan Natsume Haru segera ikut menimbrung untuk melihat apa isi kardus tersebut. Ternyata, tidak lain, berisi kumpulan surat cinta.
“Ha ha…” semua siswa seketika sweatdrop.
“Sesekali bersihkan lokermu!” Kaname-sensei melanjutkan ceramahnya.
“Inilah penyebab utama saya malas membersihkan loker sensei,” ucap Natsume Haru enteng.
“Jika besok aku masih melihat lokermu berantakan, kau yang akan ku masukan ke dalam loker! Ingat itu!” Tanpa mempedulikan perlawanan Natsume Haru, Kaname-sensei tetap mempertegas peringatannya sebelum pergi meninggalkan kelas 3-1.

Sepertinya…. Tanpa sadar… Kuroto Yoshiki sedikit demi sedikit menikmati kehidupannya sebagai manusia biasa.
Read More ->>

Kamis, 14 April 2016

Yami no Ai: AFTER WOLRD [Chapter 9]

CHAPTER 9: NIGHT OF CLASS FEST

Keheningan memenuhi ruang kelas yang telah disulap menjadi rumah hantu. Setiap detik sama sekali tak terlewatkan bagi Haru Natsume untuk memeluk miliknya lebih erat.
Cukup lama. Hingga—“Haru-kun?”
Panggilan sebuah nama yang seharusnya bukan namanya, membuat dirinya tersadar dari rasa mabuk atas rindunya pada pelukan istrinya.
Sementara pelukanya meregang, Hana mengambil kesempatan itu untuk mengangkat wajahnya yang tadi sudah sempurna terbenam di dalam dada bidang Haru Natsume, menatap pria itu kebingungan. “Kenapa memelukku?”
Seketika itu sadarlah Haru Natsume atas tindakan bodohnya. Bagaimana mungkin dia bisa lepas kontol dan memeluk Hana!? Saat itu juga dilepaskannya rengkuhannya.
“Maaf. Maafkan atas kelancangan saya!” Haru Natsume menundukan kepalanya dalam.
“Eh? Ah… T-tidak. A-Aku tidak apa. Angkat kepalamu Haru-kun!” Hana semakin kebingan saat melihat pelayannya ini menundukan kepala dalam di area sekolah yang rawan. Bagaimana jika ada yang melihat?
Mendengar itu, Haru Natsume segera mengangkat kepalanya.

[Yami no Ai]

Lorong kelas sudah cukup gelap. Jarum panjang jam yang berada di tiap-tiap kelas telah menunjuk pada angka tujuh.
Tapi berbeda dengan keadaan di luar. Lebih tepatnya di lapangan utama Mirai no Gakoo. Temaran cahaya yang dihasilkan oleh api unggun raksasa yang diletakan di tengah lapangan cukup untuk memberi penerangan pada acara puncak festival kelas. Yaitu menari di tengah api unggun. Acara di mana pasangan-pasangan menari mengelilingi api unggun.
Derap langkah kaki menggema memenuhi lorong yang sudah hampir tak berpenghuni, tentu saja, kebanyakan siswa sudah banyak yang berkumpul di lapangan. Haru Natsume setelah menaiki tangga menuju lantai dua, segera bergegas menuju ruang kelasnya. Di dalam kepalanya hanya berisi sebuah subjek. Kuroto Hana, istrinya. Mengingat kejadian tadi siang, sepertinya mental istrinya itu agak menurun. Ia harus segera menemui istrinya saat ini. Sialan dengan tugas dadakan yang diminta oleh ketua komite untuk membuang sampah tadi. Berperan sebagai manusia normal benar-benar bisa membuat emosinya meningkat.
Akhirnya, kakinya berbelok memasuki kelasnya yang anehnya dalam keadaan gelap, “My Lad—“
Tidak ada. Kuroto Hana tidak ada. Tidak ada sosok istrinya yang sedang duduk menjaga stan kelasnya.
Kemana perginya Hana? Apa kondisinya semakin memburuk mengingat sekarang sudah waktunya acara utama? Berbagai spekulasi buruk bergema di kepala Haru Natsume.
“Haru-kun!”
Mendengar namanya terpanggil, kepala putihnya secepat mungkin menoleh ke arah suara.
Seorang perempuan berambut hitam panjang berdiri tepat di depan pintu kelas.
Seharusnya ia tahu. Itu bukanlah suara Hana. Tapi dalam keadaan sebingung ini, ia sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Sekarang seorang perempuan dengan seragam yang menandakan ia adik kelasnya dua tingkat di bawahnya berdiri di depan pintu. Dengan suatu kemauan yang sudah Haru ketahui dengan mudah.
“Haru-kun… namaku Takane Sakura,” perempuan itu menundukan kepalanya hormat, “mungkin Haru-kun tidak mengenalku. Tapi aku selalu memperhatikan Haru-kun.”
Dengan perlahan perempuan itu mendongkakkan kepalanya menatap Haru walau posisi badannya tetap membungkuk. “Haru-kun… aku menyukaimu.”
Dan perlahan Takane Sakura menegakkan posisinya. Berjalan mendekat ke arah Haru Natsume. Selama itu kedua tangannya sibuk menarik dasi yang mengikat lehernya. Melepas kancing blazernya. Melepas beberapa kancing teratas seragamnya. Memperlihatkan kedua payudaranya yang memang terbilang berukuran di atas rata-rata remaja seumurannya.
“K-kita tidak perlu menari untuk m-membuktikan jika kita sepasang kekasih… Haru-kun… ayo ke ruang peristirahatan…,” dengan wajahnya yang memerah ia mendekatki Haru Natsume.
“….” Haru Natsume hanya mendukkan kepalanya. Ia sudah muak dengan semua ini. Ia harus segera menemukan istrinya sekarang!
Takene Sakura mulai menggenggam tangan Haru. Mengarahkannya pada salah satu payudaranya. “… lakukan apa yang Haru-kun…”
PLAK
Tanpa peduli, Haru mengibatkan tangannya dengan kasar dari sentuhan pada payudara Takane.
“Pergilah.” Setelah mengatakan hal sedingin itu, Haru Natsume berjalan meninggalkan kelas. Berniat mencari Hana di tempat lain. Tanpa memperdulikan Takane Sakura yang sudah menjatuhkan dirinya karena baru saja ditolak dengan taruhan harga diri perempuannya.
Sudah beberapa tempat di kelas yang sekiranya berbahaya telah ia datangi. Tidak ditemukan tanda-tanda Hana sama sekali. Haru Natsume sangat khwatair. Khawatir jika Hana melakukan hal-hal gila untuk mengatasi rasa putus asanya seperti tempo hari, menabrakan kepalanya pada tembok.
Hanya satu tempat yang belum di datanginya. Lapangan tenpat diselenggarakannya acara utama. Kemungkinan hanya di situ hanya berada.
Ketiga sahabat Hana, Yui pasti bersama Ida, Shiro akan bersama Hide, Maki sendiri mungkin akan bersama kakaknya bergandengan tangan menatap kobaran api unggun.
Acara Utama pada festival kelas selain berdansa juga bisa dilakukan dengan bergandengan tangan menatap api unggun. Hal itu merupakan symbol adanya sebuah ikatan namun bukanlah sepasang kekasih. Sebuah ikatan saling menyayangi. Bisa dilakukan oleh sebuah keluarga, dan sebuah persahabatan (namun hanya bisa dilakukan dengan jenis kelamin sama). Apabila dua orang berbeda gender bergandengan tangan menatap api unggun, itu menggambarkan sebuah rencana di masa depan untuk menjalin sebuah ikatan.
Haru Natsume melangkah keluar dari lorong kelas. Mata azure-nya segera menjelajah seluruh ruang di lapangan. Mengamati setiap wajah yang ada. Mencari sosok istrinya.
Saat itu juga. Kedua matanya terbelalak lebar. Dibarengi dengan denyutan pada dadanya.
Kuroto Hana, istrinya, tengah berada dalam jarak beberapa meter darinya. Menghadap api unggun dengan senyum di bibirnya. Tangannya berandengan dengan tangan Guren Ishikawa.
“My… Lady…” bibirnya berguman kosong.
“Ha ha ha…” dilanjutkan sebuah tawa kosong.
Bagaimana dirinya bisa berpikir terlalu jauh yang sekarang terlihat sebagai suatu kebodohan? Mengkhawatirkan Hana akan sangat terpuruk karena dirinya. Nyatanya, Hana sekarang tengah tersenyum bahagia bergadengan tangan dengan pria lain.
Kepalanya tertunduk dalam. Sementara tangannya meremat erat bagian dadanya yang terus berdenyut sakit.
Tidak kuat dengan apa yang ia lihat, Haru memutuskan untuk kembali memasuki lorong kelas.
Nafasnya seolah memendek, dadanya terus terasa sesak, padahal seharusnya ia sama sekali tak membutuhkan nafas untuk hidup. Seluruh tubuhnya bergetar kecil. Hingga membuat dirinya tak kuasa menyangga tubuhnya sendiri, mengharuskannya untuk bersandar pada tembok.
“Haru-kun…”
Untuk sekali lagi. Takane Sakura muncul di hadapan Haru.Seluruh seragamnya telah tertata rapi. Kali ini raut wajahnya menandakan kekhawatiran pada perilaku Haru.
“Haru-kun… baik-baik saja?” Sedikit takut akan sikap Haru sebelumnya, Takane Sakura perlahan-lahan mendekati Haru.
Benar-benar sialan. Sementara di depannya tersaji sebuah daging yang siap ua santap kapan saja, ia harus menahan diri jika ia milik seseorang. Namun seseorang itu malah bergandengan tangan dengan pria lain yang seharusnya tak ia lakukan.
Rasa kesal, marah, cemburu, benci, kecewa, penyesalan, iri, dan kegilaan mengguncahnya.
Ingin sekali ia bertindak sesuatu yang bisa menghentikan kegiatan Hana dan Guren sekarang. Tapi siapa dirinya sekarang? Dia hanya Haru Natsume yang tidak memiliki kuasa untuk melakukan itu. Lain lagi jika dirinya adalah Kuroto Yoshiki. Benar juga… jika dirinya Kuroto Yoshiki, hal ini tidak akan terjadi. Hana tidak akan bergandengan tangan dengan Guren. Hana akan menari dengannya mengelilingi api unggun. Namun sekali lagi… itu jika dirinya adalah Kuroto Yoshiki. Bukan Haru Natsume.
“Aku sudah menyuruhmu pergi. Jangan buat aku mengulangi lagi,” begitu bibirnya menggumankan kalimat dingin lagi, Haru Natsume berjalan meninggalkan Takane Sakura. Entah ke mana.

[Yami no Ai]

“Kuroto Hana!”
“Ah? Ya?” Hana yang baru saja meminjam beberapa peralatan seperti selotip dan cutter dari kelas sebelah tengah berjalan di lorong kelas saat namanya terpanggil.
Saat kepalanya berbalik retinanya menangkap bayangan Guren Ishikawa. “Guren Ishikawa-san!” Hana tersenyum cerah.
“Kenapa tidak menyapaku tadi?” Guren berdiri tepan di depan Hana.
“Ah! Maafkan aku!” Hana menundukkan kepalanya.
“Hei hei tidak masalah,” Guren menjadi salah tingkah melihat sikap Hana.
“Apa hanya perasaanku? Sikapmu menjadi berbeda… tidak se’heboh’ dulu… kamu menjadi agak kalem dan sopan…” Guren melanjutkan kalimatnya begitu Hana telah kembali pada posisinya.
“M-menurut anda begitu…” Hana sweatdrop.
“Permisi. Kami dari Kedai Takoyaki. Jika berminat kelian bisa mampir. Kami juga menyajikan beberapa milkshake gratis jika kalian beruntung. Setelah pembelian satu kotak Takoyaki kalian diizinkan mengambil undian milkshake,” seorang perempuan yang sepertinya berada pada satu tingkat di bawah Hana datang dengan membawa sebuah brosur mengenai stan kelasnya.

[Yami no Ai]

“Tak kusangka kita akan sama-sama dapat Milkshake bonus!” Hana tersenyum renyah.
“Benar juga ya. Ini lumayan.” Guren Ishikawa memasukan Takoyaki ke dalam mulutnya.
“Aku cukup kaget saat Guren-san datang ke sekolahku. Apalagi sebagai sponsor utama,” Hana membuka pembicaraan.
“Yaah… aku juga cukup kaget bertemu denganmu di sini. Ini… kamu pasti tahu… ini soal bisnis…” Guren mengendikan bahunya bersamaan.
“Aku tahu itu…” Hana membalas candaan pada kalimat Guren.
“Tapi aku senang. Sekolah ini mengingatkanku pada masa-masa sekolah dulu.”
“Nostalgia yang indah sepertinya…”
“Tidak juga. Aku agak pendiam saat bersekolah dulu. Menjadi siswa paling pecundang yang pernah ada. Saat Festival kelas pun aku hanya menjadi tukang kebersihan.”
“Eh…” Hana sedikit terhenyak.
“Menyedihkan sekali…”
Dalam lubuk hati Hana sekarang, Hana tengah sweatdrop. Sudah ia duga Guren akan mengalami hal itu. mengingat betapa bodohnya ia bertemu Guren dulu di tempat pemotongan rambut. Potong rambut saja ia takut.
“Seharusnya jika itu buruk, tidak perlu diingat-ingat lagi,” saran Hana.
“Hahaha benar juga. Omong-omong siapa pasanganmu untuk acara utama nanti?”
Pertanyaan Guren seketika membuat Hana sedikit tercekat.
“Ah… itu… a-aku tidak mempunyainya…” Hana menggaruk pipinya ragu.
“Oh? Benarkah? Lalu pria yang kemarin di tempat potong rambut?”
“Oh? Natsume-kun? Dia temaku. DIa juga satu kelas denganku.” Walaupun sebenarnya Haru Natsume adalah pelayan Hana.
“Begitu…”
“Ya,” Hana tersenyum.
“Kalau begitu… boleh aku meminta sesuatu darimu?” secara tiba-tiba tatapan dari Guren Ishikawa menatap Hana intens.
“Permintaan apa?” Hana sempat ragu.
“Mau menemaniku saat acara puncak? Aku diberi suatu kehormatan untuk menutup acara ini. Tentu saja aku juga harus menikmati acara utama.”
“Eh? T-Tapi kenapa aku? M-makusdku bukankah ada banyak siswi di sini yang cantik.”
“Karena hanya kamu yang ku kenal. Lagipula aku juga sudah keceplosan membicaran masa lalu burukku padamu. Kuharap kamu mau membantuku.” Guren terlihat lesu.
“Memangnya kita harus melakukan apa?” Hana kebingungan.
“Hmm… kita tidak mungkin menari—“
“TENTU SAJA TIDAK MUNGKIN!!” Hana menyela dengan wajahnya yang sangat memerah.
“Bagaimana dengan bergandengan tangan saja?”
Hana terdiam untuk berpikir beberapa saat. Rasa kasihannya pada Guren atas masa lalunya membuat Hana cepat menganggukan kepala setuju.

[Yami no Ai]

Di sini lah mereka berdua sekarang. Bergandengan tangan menatap terang dan panasnya kobaran api unggun. Sesekali beberapa pasangan siswa-siswi menari di depan mereka.
“Jadi seperti ini rasanya menikmati acara utama…” Guren berguman pelan.
Hana hanya menatap dan tersenyum menatap Guren. Turut bahagia atas apa yang Guren rasakan. Walaupun dalam hati Hana agak sweatdrop. Tidak menyangka, CEO sukses ternyata baru merasakan rasa senang acara utama festival kelas di umurnya ini.
“Hei lihat. Bukankah itu Kuroto Hana? Dia bersama Guren Ishikawa!”
“Wah benar! Astaga mereka berniat mengikat sebuah hubungan?”
“Tak kusangka Kuroto Hana bisa mengenal Guren Ishikawa!”
“Bagaimana mungken Guren Ishikawa tertarik pada Kuroto Hana!?”
“Jangan-jangan dia seorang Gay yang akan tobat. Tapi tidak bisa menghilangkan fetishnya yang aneh itu. Sehingga dia memilih Kuroto Hana yang tomboy?”
“Harapanku sirna.”
“Guren Ishikawa bodoh!”
Sementara itu sekelompok perempuan yang terebar di seluruh penjuru lapangan mulai mengeluarkan opini mereka saat tatapan mereka terarah sempurna pada Guren dan Hana.
Hana terserang rasa bergidik secara tiba-tiba.
“Ha ha ha…” Hana tertawa hambar dan sweatdrop.
Siapa sangka menggandeng Guren Ishikawa akan semenyusahkan ini?
Tunggu dulu. Rasanya seperti déjà vu. Dulu hal seperti ini pernah terjadi.
Pagi harinya di Mirai no Gakko seluruh siswi digemparkan dengan sebuah kejadian yang luar biasa. Tentu saja kalau bukan idola mereka--Yoshiki Kuroto--menggandeng tangan seorang gadis berdada rata, berambut pendek, tidak stylis, dan hyperactiv.
Beratus tatapan mengarah tepat kepada Hana. Dari ekspresi marah sampai ekspresi meremehkan terus menghujam kedapa Hana.
'Ha ha ha' tawa Hana hambar. 'siapa sangka digandeng Yoshiki di tempat seperti ini bisa membunuhku' batin Hana.
"Hn" nampaknya si idola tidak peduli dan dengan santainya menggandeng--ah mungkin bagi Hana menarik--Hana.
Kedua sapphire Hana terbelalak lebar. Yoshiki. Yoshiki. Yoshiki.
Ini salah. Ia tak boleh melakukan ini.
Tangannya melepaskan paksa genggaman hangat Guren. Membuat pria itu terkaget dengan tindakan Hana.
“Hana? Ada apa denganmu?” Guren kebingungan.
“M-Maaf! Aku tidak bisa melakukan ini!” Begitu kalimatnya selesai, Hana berlari meninggalkan Guren yang hanya bisa menatap Hana dengan kernyitan pada alisnya.
Bagaimana bisa melakukan hal sekejam ini? Suaminya tengah berusaha melawan para Exorcist sekarang. Bagaimana mungkin dia bisa bersenang-senang dengan Guren Ishikawa!?
“Maaf… Yoshiki-kun…” butiran-butiran air mengalir dari sudut pelupuk mata Hana.

[Yami no Ai]

Guren Ishikawa masih terdiam di posisinya. Membelakangi api unggun dan menatap ke arah terakhir ia melihat Hana menghilang dalam larinya.
Rambutnya yang seharusnya tertata rapi, berjatuhan menutupi matanya. Tangannya meremat udara dengan kuat.
“Hei… ada apa dengan Kuroto Hana?”
“Dia berlari masuk ke bangunan?”
“Sepertinya dia menangis tadi.”
“Menangis? Kenapa?”
“Entahlah. Aku juga tidak tahu.”
Beberapa perempuan yang bergerombol tadi meneruskan gossip-gossip mereka.

‘Untuk sejenak aku bisa merasakan kebahagiaanku saat menggenggam tanganmu. Dan sekarang aku kembali merasa sendiri di tengah kerumunan ini. Senyumu… menyelamatkanku. Kau memberiku kebahagiaan. Apa yang membuatmu terusik hingga kau pergi meninggalkanku? Aku harus mencari tahu itu… karena kau adalah takdirku. Kuroto Hana,’ batin Guren Ishikawa yakin.
Read More ->>

Jumat, 22 Januari 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 8]

CHAPTER 8: CLASS FEST
“DOMA-SAN!? DOMA-SAN?” Suara keributan dari arah pintu kelas memaksa seluruh penghuni kelas menolehkan kepala kea rah asal suara.
Seorang pemuda bergaya culun tengah terenggah-enggah di depan pintu kelas. Itu sekertaris Komite Kelas.
Sepertinya kedatangannya kali ini adalah untuk memanggil perwakilan Komite untuk mengikuti rapat Komite perihal Festival.
“Doma-san hari ini tidak masuk karena terkena demam,” Yui datang menghampiri.
“EH? Lalu bagaimana dengan rapat Komite-nya?”
“Begini saja. Karena biasanya aku yang menemani Doma-san untuk rapat komite, bagaimana jika aku mencari satu lagi siswa untuk menemaniku mengikuti rapat Komite?”
Sekertaris Komite terlihat berpikir sejenak, “boleh saja. Rapat dimulai pukul sepuluh tepat. Jangan terlambat.”
“Itu sepuluh menit lag—“
“Pokoknya jangan telat!” Sekertaris Komite telah menghilang, berlari ke kelas lain.
Yui berbalik dan melangkah kembali ke arah gerombolannya, “Ayo Hana ikut aku.”
“He? AKu? Kenapa?” Walau mulutnya terus bertanya-tanya, tapi tubuhnya tetap saja  menuruti tarikan Yui.

“Yui… kenapa kau mengajaku?” Hana bertopang dagu dengan malas.
“Karena yang lain sibuk menyiapkan untuk Festival. Kau yang tidak mengikuti rapat kelas kemarin mana tahu apa saja yang harus disiapkan. Daripada kau merepotkan teman yang lain, lebih baik kau membantuku di sini.”
“Hmeeeh…” Hana hanya mendesah keras.
SREEEK….
Pintu ruang rapat terbuka. Munculah Ketua dan Wakil Ketua Komite diikuti oleh dua orang dewasa di belakang mereka.
Keempatnya telah berdiri di depan ruangan sekarang.
“Selamat pagi, rapat Komite akan dimulai. Disamping saya telah berdiri dewan pendidikan kota , Tanaka Satsuki-san, dan pemegang saham utama Mirai no Gakoo sekaligus sponsor utama Festival kali ini, Ishikawa Guren-san.”
Mata Hana terbelalak lebar. Dari tempat duduknya sekarang walau terlhalang kepala-kepala siswa yang duduk di depannya, Hana bisa melihat jelas wajah pria yang kemarin dia temui di tempat potong rambut. Bukan pria biasa, melainkan pria yang dulu pernah memiliki sebuah kenangan dengannya.
“Ada apa Hana? Kau pasti terpesona dengan wajah berkharisma Ishikawa-san,” ucap Yui.
“Haaaa? Tidak,” Hana menjawa dengan wajah polosnya.
Malah sebaliknya ekspresi Yui menjadi aneh sekarang, “kau sama sekali tidak tertarik?”
Hana menggelengkan kepalanya.
“JANGAN-JANGAN KAU MULAI MENYUKAI PEREMPUAN SEKARANG?” Yui berteriak keras.
“Haah? Apa sih maksudmu? AKU NORMAL!” Hana tersululut emosi.
“Ehem!” Suara deheman keras menginterupsi keduanya. Suara deheman keras dari ketua Komite.
Hana dan Yui seketika membantu begitu melihat seluruh tatapan di ruangan itu ternyata diarahkan kepada keduanya.
“… dia ada di sini?” guman Ishikawa Guren penuh tanda tanya.

“Baiklah dengan ini rapat selesai, tolong jelaskan kembali mengenai apa saja yang kalian dapat di sini pada seluruh teman kelas kalian,” dengan begitu rapat Komite Festival berakhir.
Masing-masing siswa mulai berjalan meninggalan ruang rapat, termasuk Hana dan Yui.
“Kau yang harus menjelaskan ke depan kelas Yui,” lirik Hana kesal.
“Tapi kau juga harus membantuku,” Yui balas melirik kelas.
“Ah!” Ishikawa Guren yang berniat menyapa Hana kecewa begitu melihat Hana telah melangkah keluar rapat diikuti gerombolan siswa yang lain.
“Kenapa dia tidak menyapaku? Apa dia tidak mengenaliku? Apa karena potongan rambut baruku ini?” guman Ishikawa Guren lagi.
“Ishikawa-san.”
Guren Ishikawa lantas menoleh begitu namanya dipanggil.
“Terima kasih telah mau datang pada rapat kami,” ketua Komite melakukan ojigi dengan sopan.
“Sama-sama. Omong-omong, apa di sini ada siswa yang bernama Kuroto Hana?” Entah kenapa dia malah menanyakan nama itu, nama Hana. Padahal seharusnya ia sudah yakin jika itu memang Hana.
“Ada,dia siswa tomboy yang tadi. Dia dari kelas 3-1.”
Tidak rugi juga bertanya kepada ketua komite. Sebuah informasi yang cukup ia butuhkan baru saja ia dapatkan. Yaitu kelas Hana.

Gelap malam sudah menguasai langit. Di luar hanya ada cahaya yang dihasilkan oleh lampu beralirkan listrik.
Festival kelas akan dimulai empat hari lagi. Dan sejak hari ini pelajaran diliburkan dan diganti untuk persiapan untuk Festival.
Hari ini dikususkan untuk menyiapkan bahan-bahan keperluan Festival. Tiga hari kedepan akan digunakan untuk mulai menghias kelas. Apalagi kelas 3-1 mengambil tema rumah hantu. Pasti akan sangat memakan waktu untuk menyiapkan semuanya.
“Selamat malam Hana-kun.”
Hana balas melambai pada gerombolan adik kelas yang juga mulai meninggalkan sekolah.
DIIIN…
Sebuah klaskson mobil segera membuat kaki Hana melangkah mendekati mobil yang memberikan sinyal itu. Memasuki mobil tersebut.
“Aku tadi bertemu Ishikawa-san.”
Kalimat Hana yang tiba-tiba membuat Haru Natsume sedikit tercekat.
“Pria yang di tempat potong rambut kemarin?”
Hana mengangguk menyengiyakan. “Ternyata dia sponsor sekaligus pemegang saham terbesar Mirai no Gakoo.”
“Begitu…” Haru Natsume hanya berguman menanggapi.
Injakan pada pedal gas sedikit demi sedikit menambah kecepatan rotasi ban mobil yang membawa keduanya.
Tidak ada percakapan sama sekali setelah itu. Haru Natsume dan Hana sendiri mulai sibuk dengan pemandangan malam yang mereka lalui.
Sesekali mata azure Natsume melirik ke arah Hana.
‘Sialan. Kapan dia bertemu dengannya tadi? Apa saja yang terjadi tadi?’
Pegangannya pada setir kemudi mengerat seketika. Ingin sekali ia menanyakan hal itu. Tapi hal itu mustahil sekali. Akan sangat mencurigakan jika dia bertanya berlebihan seperti itu.
Lain lagi ceritanya jika Kuroto Yoshiki yang menanyakan hal itu.
‘Khh… sialan,’ rutuk Natsume.


Akhirnya, Festival kelas dimulai.
Setelah tiga hari terlewati, pagi yang cerah ini akan menjadi kelas festival terakhir Hana, dkk mengingat ini adalah tahun terakhir mereka di Mirai no Gakoo.
Tapi sayangnya tidak dengan Hana, dia harus menghabiskan waktunya di meja kasir.
“Hei, apa-apaan ini? Kenapa aku yang harus menjaga stand sementara kalian berkeliling?”
“Habisnya hanya Hana sendiri yang tidak punya pasangan,” jawab Shiro polos.
“Eh?”
“Tomoaki-kun!” Shiro bersorak begitu melihat bayangan pria berkacamat muncul di depan kelas mereka.
“S-Shiro…” HideTomoaki hanya bisa sweatdrop saat kekasihnya itu menggelayut manja pada lengannya.
“Shiro mau makan apel karamel! Yuk cari!” Shiro dengan kekuatannya menarik lengan Tomoaki.
Tomoaki bahkan belum sempat menyapa Hana—istri tuannya—yang tengah menatapnya kebingungan sekarang.
Melihat Shiro semakin meliar saja, Tomoaki akhirnya hanya bisa menundukan kepalanya sebagai izin pengunduran dirinya.
Hana hanya tersenyum tipis dan mengangguk menanggapi itu.
“Eh benar? Dia mengajakmu ke ruang istirahat?”
“Hwaaa pasti rasanya mendebarkan ya!”
“K-Kalian pelankan suara kalian!”
Sayup-sayup terdengar pembicaran perempuan yang sepertinya dilakukan di dekat ruang kelas 3-1.
“Lalu apa kalian juga akan berdansa di malam penutup Festival?”
“Tentu saja. Itu kan bukti jika aku berpacaran dengannya.”
“Kyaaa senangnya!”
“…” Hana terdiam mendengar pembicaraan tersebut.
Benar juga. Harusnya saat ini dia tengah berkeliling festival bersama Yoshiki dan kemudian menari pada acara puncak.
Sebuah senyum kecut terbentuk di bibirnya.
“Yoshiki-kun…” gumannya.
“My Lady?”
Kepala Hana yang sedari tadi menunduk seketika mendongkak. Haru Natsume tengah berdiri di hadapannya dengan kedua tanganya berada di dalam saku celananya.
“Natsume? Kenapa di sini? Tidak berkeliling festival?”
Tidak ada jawaban dari Haru Natsume. Yang ada pria itu hanya semakin mendekat ke arahnya dan sekarang telah duduk di kursi kosong di sebelahnya.
“Hei hei, jangan terlalu memaksakan diri untuk menjagaku. Aku tidak apa-apa di sini. Oh, apa jangan-jangan karena kau sudah hidup terlalu lama kau jadi bosan dengan festival sekolah?”
“…” masih tidak ada jawaban dari Haru Natsume.
“Hoi? Kau kenapa sih?” Hana menolehkan wajahnya menghadap wajah Haru sempurna.
Pemuda di sampingnya itu sama sekali tidak terbaca ekspresinya karena kepalanya yang terlalu tertunduk.
“Haaah… sudahlah terserah padamu saja. Omong-omong kau akan menari bersama siapa nanti saat acara puncak?”
Haru Natsume seketika membangkitkan kepalanya guna menatap Hana.
“Hmm?” Hana menaikan kedua alisnya menunggu jawaban.
Haru Natsume—Kuroto Yoshiki—menatap Hana dengan kedua alisnya saling terpaut.
“Kuroto?”
Keduanya seketika menoleh kea rah pintu kelas. Dua orang gadis berdiri di ambang pintu.
“Hwaa rumah hantu!” Seorang gadis yang lain menatap sekitar dengan ngeri.
“Gasai-san, Tachibana-san selamat datang, silahkan,” Hana bangkit berdiri guna menyodorkan tiket masuk rumah hantu kelasnya.
“Ah tidak, kami datang kemari bukan untuk masuk tempat menyeramkan seperti ini. Tapi untuk…” Gasai menyenggol lengan Tachibana.
“Ah, I-iya. H-Haru-s-san… a-aku ingin mengajakmu menari bersamaku di acara puncak nanti.”
Hana terdiam cengo dan hanya menatap Tachibana dan Haru secara bergantian.
“Aku sudah memiliki pasanganku.” Diluar dugaan. Hana sempat tertegun karena intonasi dingin yang digunakan Haru Natsume.
“K-Kalau begitu, ayo ke ruang istirahat H-Haru-s-san!” Tachibana menggebrak meja kasir menahan rasa malunya.
“Hn… bukankah sudah kubilang aku sudah memiliki pasanganku?”
Hana membeku mendengar kalimat Haru. Nada dan ekspresi yang ditampakan Haru sangat mirip dengan seseorang. Seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Kuroto Yoshiki—suaminya.
DRAK. DRAP. DRAP. DRAP.
Tiba-tiba saja Tachibana sudah menghilang dari pandangan.
“Woaa Tachibana! Tunggu aku!” Gasai segera berlari menyusul.
“Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah menemukan pasangan untuk berdansa di acara puncak?” terdengar jelas sekali jika nada bicara Haru sangat berat sekali kali ini.
“A-ah i-itu… Aku hanya akan menari dengan Yoshiki-kun. Jadi… aku tidak akan menari nanti,” Hana menggaruk pipinya yang tidak gatal.
“Yoshiki-kun sedang berjuang di sana. Mana mungkin aku bisa bersenang-senang di sini, dan menari dengan pria lain?” Sebuah cengiran mampir di wajah Hana.
Bibir Haru Natsume sedikit tertarik pada ujungnya.
Setengah hari kelas Festival telah berlangsung. Dan selama itu banyak perempuan yang meminta untuk menari bersamanya di acara puncak nanti. Seketika perhatiannya tertuju pada istrinya. Apakah istrinya itu juga akan mengajak pria lain untuk berdansa dengannya? Memikirkan itu saja sudah cukup membuat kepalanya berdenyut-denyut. Tapi syukurlah, ternyata istrinya sama sekali tidak melakukannya.
Namun sedeteik kemudian senyuman tipi situ menghilang.
Mata Azurenya menatap Hana yang terus tersenyum seolah tidak terjadi apapun. Senyuman polos yang membakar dadanya. Dirinya sepenuhnya mengerti, istrinya ini pastilah sangat mengharapkan dirinya—Kuroto Yoshiki—muncul, mengelilingi festival bersama, dan akhirnya berdansa di acara puncak.
“Ah, Haru aku ingin jus apel. Kau mau membelikannya untuku?”
“Tentu, tunggu sebentar,” Haru Natsume bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang kelas 3-1 menuju mesin penjual minuman di lantai bawah.
Walaupun dia bisa mengetahui apa yang istrinya inginkan, dia sama sekali tidak bisa berbuat apapun.
Menemani berkeliling festival, memasuki ruang istirahat, dan menari  di acara puncak bukanah maalah besar baginya. Bahkan dia juga ingin melakukannya bersama istrinya. Egonya yang sangat tinggi untuk membuktikan Hana miliknya membutanya juga merasa ingin berdansa di acara puncak.
Tapi ia tidak bisa. Tidak sebagai Haru Natsume.
Langkahnya berhenti begitu mencapai mesin penjual minuman. Memasukan uang dan menekan tombol minuman untu sekotak jus apel.

“Hhhh….” Setelah menghelakan nafas berat, tangannya kembali meraih ponselnya. Jempolnya bergerak menekan-nekan layar smartphone-nya.
Manik sapphire-nya tak berkedip begitu layar ponselnya menampilkan sebuah foto. Sebuah foto dengan pose sederhana antara dirinya dan Kuroto Yoshiki. Dirinya yang tersenyum dengan tanda peace pada jarinya. Dan Yoshiki yang memeluk bahunya dengan satu tangan.
“Wah wah apa ini?”
“Eh?” Ponselnya telah raib dari tangannya.
“Luka?” Hana bangkit dari duduknya seketika. Di hadapanya berdiri Luka tengah menatapnya rendah.
“Siapa ini Kuroto? Kekasihmu?” Luka menatap ponsel Hana dengan tatapan mengejek.
Hana menatap begis Luka sebagai balasan, “Ya. Dia kekasihku,” dan menjawab dengan mantap pertanyaan Luka.
Tentu saja Luka tidak mengingat Yoshiki. Padahal dua tahun lalu dia menyukai Yoshiki.
“Benarkah? Aku tidak yakin.” Luka kembali memasang wajah mengejeknya.
“Terserah padamu. Cepat kembalikan ponselku!” Tidak ada untungnya juga meladeni siswi pembuat masalah seperti Luka.
Merasa pancingannya tidak mempan, Luka kembali membuat pancingan lain, “kalau dia memang kekasihmu, maka dimana dia sekarang?”
“…” Hana membeku mendengar pertanyaan Luka.
“Dia tidak di sini sekarang? Tentu saja, karena kalian bukan kekasih,” Luka tersenyum kemenangan.
“Yoshiki-kun… kekasihku.” Kepala Hana telah tertunduk sekarang.
“Kalau dia kekasihmu maka dia pasti sudah di sini sekarang!”
TAP.
Haru Natsume muncul dengan kedua tangannya menggenggam kotak just.
“Kyaaaa ada Haru-kun di sini!” teriak Luka ke arah Haru.
“Jusmu…” Haru sama sekali tidak merespon Luka dan menyerahkan jus pesanan Hana.
“Ah, terima kasih,” guman Hana.
“Omong-omong Haru-kun! Mau menari denganku nanti?” Luka bersemangat.
“Tidak.”
“Hueeee Haru-kun jahat.” Luka berlari keluar sembari meletakan ponsel Hana di atas meja kasir.
Haru mengambil ponsel Hana yang diletakan sembarangan oleh Luka.
“!?” Kedua bola matanya melebar melihat apa yang tengah ditambilkan ponsel Hana. Sebuah foto antara dirinya dan si pemilik ponsel.
“Ponsel—“ Niatnya untuk mengembalikan ponsel itu terhenti saat Hana memotong kalimatnya.
“Natsume… sudah kuduga. Aku ingin sekali bersama Yoshiki-kun. Berlarian di lorong festival, berguling-guling dengannya di ruang istirahat, dan merusuh di acara puncak. Yoshiki-kun…. Yoshiki-kun… a-aku…” sudah tidak bisa lagi ditahannya. Air mata itu tumpah dari pelupuk matanya perlahan.
GREB.
Dalam hitungan detik, tubuh kekar Haru Natsume telah merengkuh tubuh rapuh Hana. Merengkuh dengan eratnya seolah jika ia melepaskan pelukan itu maka Hana akan hancur.
Dirinya sendiri pun sudah tidak bisa lagi menahan hasrat untuk memeluk dan menenangkan istrinya. Sedari tadi perasaannya bergejolak memikirkan perasaan istrinya tanpa bisa berbuat apapun.
Dan di saat seperti ini dirinya berharap bisa mengatakan kalimat, ‘aku di sini, My Lady.’
Read More ->>

Jumat, 15 Januari 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 7]

CHAPTER 7: A DAY WITHOUT YOSHIKI-KUN
“Wajahmu tidak banyak berubah ya. Mungkin yang berubah hanya tidak ada plester luka lagi di wajahmu,” guman Ishikawa Guren dengan tangannya ia gunakan untuk menumpu dagunya.
Guratan muncul di pelipis Hana. “Sialan. Kau mengejekku?”
“Terakhir bertemu denganmu pun ada tiga plester luka yang menempel di hidung, pelipis, dan bawah mata kananmu.”
“Heee… kau ingat sekali ya… kalau tidak salah waktu itu aku kenapa ya?”
“Bukannya kau bilang menyelamatkan kucing lalu ditabrak sepeda?” Kono yang seharusnya fokus pada rambut Hana kini mengikuti alur pembicaraan.
“Ah! Benar-benar!” Hana mengangguk-angguk menyetujui.
“Hoi! Rayu—Kuroto jangan menggerakan kepalamu sembarangan!” omel Kono yangkerepotan karena guntingannya menjadi tidak karuan sekarang karena Hana banyak gerak.
“Kuroto? Namamu Kuroto?” Guren menaikan kedua alisnya.
“Yaah sebenarnya—“
“Hahaha… ternyata anak laki-laki kurang ajar yang menari rambutku dengan keras dulu itu bernama Kuroto…” tanpa mengizinkan Hana melanjutkan kalimatnya, Guren segera memotongnya.
Hana, Kono, dan Natsume terdiam hingga Guren menyelesaikan tawanya.
“Sudah selesai,” Kono menghilangkan suasana canggung yang ada.
“Ah, sudah selesai rupanya,” pikiran Hana sudah melupakan jika Guren baru saja menyebutnya sebagai, ‘anak laki-laki’ tadi.
“Hmeh… sudah kuduga aku semakin tampan saja…” Hana menatap pantulan dirinya pada cermin di hadapannya. Melihat rambut hitamnya sudah menjadi lebih pendek sekarang. Senyumnya terkulum percaya diri.
“Kau… percaya diri sekali…” Guren mencibir dari arah samping.
“Apa? Aku memang seperti itu!” Lagi-lagi bertambah kerutan pada dahi Hana.
“Sudah-sudah kalian berdua. Sudah hampir sepuluh tahun sejak kalian terakhir bertemu bersama dan membuat tokoku kacau, tolong jangan diulangi lagi!” Kono mulai membersihkan sisa-sisa potonga rambut Hana di sekitar leher Hana.
“Kalian itu… tidak berubah sama sekali,” Kono melanjutkan kalimatnya begitu ia mulai melepas kain potong penutup tubuh Hana.
“Yuhuu… ini bagus sekali,” Hana berdiri dari kursinya dan menatap puas dirinya pada pantulan kaca. Dirinya yang baru saja mendapat potongan rambut baru, tubuhnya yang tertutupi oleh kemeja putih lengan panjang dan sebuah sweater tanpa lengan berwarna coklat, dan sebuah rok pendek berwarna abu-abu untuk menutupi pahanya.
“…” Guren terdiam menatap rok yang dikenakan Hana.
“Apa?” Hana menatap Guren seolah pria di sampingnya ini memiliki sebuah iri hati padanya.
“Kau… cross-dresser?” tanya Guren sweatdrop.
“Hah? Apa maksudmu?” Hana memiringkan kepalanya.
“Itu…” Guren menunjuk rok abu-abu Hana dengan ragu-ragu.
“Ini?” Hana menyentuh roknya, “apa aneh jika aku mengenakan rok?” Kini Hana malah bertanya balik.
“Tentu saja aneh. Kau itu laki-laki!”
“Aku perempuan.” Hana menjawab dengan polos.
“Apa?”
“Aku perempuan. Namaku Hana Kuroto.”
“…” Guren terdiam. Cukup lama. Hingga akhirnya—
“KAMU SERIUS!?” Sebuah teriakan menggema dari rongga mulut Guren.
“Aku serius,” Hana mengangguk dengan wajah polosnya.
“Sudah kuduga… kamu terlalu manis untuk ukuran wajah laki-laki…” Guren dengan wajahnya yang memerah malu karena salah tebak sempat berbatuk sedikit lalu memalingkan wajahnya, berfikir.
“Manis kau bilang? Hehe… sebentar lagi kau akan menyukaiku Ishikawa-kun,” Hana menyenggol tangan Guren dengan senyum jahilnya.
“EHEM!” Sebuah deheman terdengar dari arah kursi tunggu, membuat Hana dan Guren menoleh ke arah Haru Natsume bersamaan.
Haru tahu, Hana sama sekali tidak serius dengan godaannya barusan. Tapi hal itu tentu saja tidak bisa dibiarkan, cukup kesal juga rasanya mendengar candaan jahil itu.
Rasanya ingin sekali menarik Hana dari sana, dan mengingatkan jika dirinya adalah miliknya. Tapi mustahil sekali mengingat dirinya bukan lagi Kuroto Yoshiki, tapi Haru Natsume.
“Ah, sekarang giliran pria itu ya Kono-san,” Guren menunjuk Haru.
“Tidak. Pria itu tidak memotong rambutnya. Sekarang giliranmu Guren-kun,” Kono telah membersihkan kursi yang tadi ditempati Hana.
“He? Lalu untuk apa dia kemari?” Guren telah duduk di kursi yang telah disediakan.
“Menunggu Kuroto tentu saja,” Kono menutupi tubuh Guren dengan kain potong.
“Kono-san! Terima kasih ya! Uangnya kuletakan di tempat seperti biasa!” Bersamaan dengan teriakan itu sosok Hana dan sosok bermantel hitam-merah itu menghilang dari ruangan potong.
Sejenak ruangan menjadi hening dan hanya diisi oleh berisiknya gunting yang tengah sibuk membelah tiap helai rambut hitam Guren.
“Guren-kun?” Kono mau tak mau menyuarakan nama pemuda yang kini rambutnya tengah ia potong tersebut. Dari pantulan kaca, dengan jelas ia melihat jika pemuda itu tengan tersenyum tipi sekarang. Sungguh aneh.
“Sudah kuduga… dia perempuan…” Guren hanya menggumankan kalimat itu.
“Hana maksudmu?”
“Yaa…” Guren hanya berguman pelan.


“Hei, Haru-kun lihat, potonga baruku bagus bukan?”
Sudah hampir sepuluh menit Hana terus membanggakan potongan rambut barunya. Mengotak atik kaca kemudi juga berkali-kali ia lakukan. Tentu saja, Haru sudah menjawab pertanyaan Hana berkali-kali dengan jawaban yang sama.
“Omong-omong My Lady…” entah kenapa nada bicara Haru menjadi agak serius, namun matanya sama sekali tak teralihkan dari jalanan.
“Hm? Ada apa Haru-kun?”
“Tolong jangan menggoda pria sembarangan.”
“Menggoda? Ah maksudmu Ishikawa Guren tadi? Ahahaha… aku hanya bercanda.”
“Anda milik My Lord, My Lady.” Ucapan Haru sekarang seolah menegaskan kembali jika Hana adalah milik Yoshiki.
“Aku mengerti… aku mengerti…”


“Yaa… aku sedang dalam perjalan ke sana. Tunggu saja. Yaa… baiklah kalau begitu,” dan panggilan diputuskan.
Guren Ishikawa menekan tombol kembali utama. Menghelakan nafas panjang hingga menimbulkan uap-uap di sekitar mulutnya.
Salju memang sudah berhenti turun. Walau begitu, suhu udara sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda akan naik temperaturnya.
“Kuroto… Hana…” tangannya bergerak meraih dompet yang ia letakan pada saku belakang celananya. Membuka dompet coklat tersebut, dan mengeluarkan secarik foto dari sana.
“Lama tidak bertemu…” gumannya sambil jempol tangannya mengusap permukaan foto tersebut.
Foto sepuluh tahun lalu yang diambil oleh ibunya sebagai kenang-kenangan potong rambutnya. Foto dirinya bersama dengan seorang anak berambut sangat pendek, memakai kaos merah, dan celana pendek biru tengah mengacungkan jarinya membentuk tanda peace.
“Ah! Sialan! Aku lupa meminta alamat emailnya tadi!” rutuknya tiba-tiba.


Sebuah getaran terasa saat Hana hampir terlelap mengikuti rasa lelahnya.
“Maki? Halo? Ada apa?” sebuah panggilan baru saja masuk pada ponselnya. Saphirrenya melirik ke arah jam dinding sekilas. Jam istirahat baru saja dimulai memang. Pantas Maki bisa meneleponnya.
“Hanaaaaaaaaaa!!” sebuah teriakan hampir merusak speaker ponselnya. Untungnya Hana telah siaga dan menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
“Maki, berisik. Aku kesiangan tadi, jadi kuputuskan untuk bolos hari ini. Ah, dan Yoshiki-kun juga izin hari ini.”
“Yoshiki-kun?”
“Eh?” Hana terdiam sejenak.
Maki melupakan Yoshiki. Apa itu berarti Yoshiki sudah menggunakan sihirnya untuk menghapus keberadaannya?
“Ah, lupakan-lupakan. Ada apa Maki?” Hana kembali pada pertanyaan utama.
“Hanya bangun kesiangan? Hahh… syukurlah…” terdnegar jelas helaan nafas lega Maki dari sebrang sana, “omong-omong lima hari kedepan akan diadakan class-fest tahun ini loh. Kita sudah melakukan perundingan tadi. Dan hasilnya, kita akan mengadakan rumah hantu tahun ini.”
“Rumah hantu? Hei… hei… memangnya yakin?” Hana membalikan badanya menjadi terlentang di atas ranjang.
“Tentu saja yakin.”
“Persiapannya akan repot loh.”
“Tenang saja, Yui dan Shiro istirahat kali ini sudah menghilang bersama teman-teman yang lain untuk mencari bahan.”
“Kalian itu… niat sekali…” Hana sweatdrop.
“Yah, ini kan tahun terakhir kita di sekolah. Kita semua ingin menikmati semua stand yang disajikan.”
“Oh, maksudnya rumah hatunya akan dibuat otomatis?”
“Ya, begitulah.”
“Haah… baiklah terserah.”
“Oke. Kalau begitu aku pergi dulu, rapat komite akan segera dimulai.”
“Kau ikut Komite kelas Maki?”
“Iya. Untuk menghindari rasa kesepian saat festival berlangsung saja. Sudah yaa…” dan panggilan diputus.
Hana hanya menatap pantulan cahaya menyilaukan dari layar ponselnya.
“Yoshiki-kun… kau menghapus ingatan semuanya ya?” gumannya.


Pagi cerah menyambut awal musim semi. Bau serbuk bunga mulai bertebaran.
Hana telah siap dengan seragamnya, beserta tasnya yang telah lengkap berisi seluruh perlengkapan sekolah hari ini.
Kakinya melangkah membawanya menuju mobil yang akan digunakan untuk mengantarnya menuju sekolah hari ini. Sebuah senyum kecut menghiasi wajahnya.
Ini akan menjadi hari sama seperti saat ia belum mengenal Kuroto Yoshiki. Hari yang sama sebelum Kuroto Yoshiki pindah.  Dirinya yang sendirian, dan bebas.
“Pagi…” guman Hana malas saat dibukanya pintu depan mobil. Walaupun moodnya hari ini sedang buruk, tapi sebuah sapaan kepada supirnya harus ia berikan.
“Pagi, My Lady.”
Hana terdiam membeku. Saat kepalanya mulai memasuki mobil, pandangan pertama yang disapanya adalah wajah tampan Haru Natsume.
“Kenapa kau yang menjadi supirku? Dan lagi apa-apaan seragam itu!?” Hana menunjuk seragam Mirai no Gakoo yang melekat pada tubuh Haru Natsume.
“Hmm… My Lord meminta saya agar selalu berada di sisi anda,” sebuah jawaban simpel.
“Haahhh…” helaan nafas berat terdengar dari bibir Hana. “Tapi kau tidak perlu sengaja masuk sebagai siswa baru di sekolahku kan? Jangan-jangan kau berniat masuk ke kelasku juga?” Hana telah menyamankan dirinya pada kursinya.
“Saya tidak berniat menjadi siswa baru. Rencananya, saya telah menjadi siswa dan… ya dikelas My Lady.”
Hana melirik malas ke arah Haru yang tengah sibuk dengan urusan menyetirnya, “kenapa kau tidak menyamar menjadi Yoshiki-kun saja?”
“!...” Haru Natsume yang hendak menekan pedal gas terdiam sejenak.
“Saya tidak bisa menyamar menjadi My Lord,” setelah kalimat itu terucap sempurna, diinjaknya pedal gas perlahan-lahan. Membawa Audi Hitam itu melaju.
Mata azure-nya mengamati wujud perempuan di sampinya. Tengah menyandarkan dagunya pada tangannya. Menatap kosong dan bosan kea rah luar jendela.
Genggamannya pada setir seketika mengerat. Giginya bergemelatuk kecil.
‘Aku di sini, My Lady…’


“Ah! Kuroto! Pagi! Tunggu… kau memotong rambutmu lagi?” dari arah belakang terdengar suara yang Hana kenal, suara Takatsu Rui si ketua kelas
“Takatsu, pagi,” Hana tersenyum simpul.
Takatsu memanggilnya dengan panggilan, ‘Kuroto’. Sepertinya ini juga perbuatan Yoshiki.
“Kenapa absen kemarin?”
Tipikal ketua kelas yang sempurna. Menanyakan kejelasan absennya kemarin.
“Aku hanya bangun kesiangan kemarin,” Hana menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
“Hanya kesiangan? Syukurlah… kukira kau kena demam musim dingin. Omong-omong besok kelas kita akan—“
“Rumah hantu bukan? Maki sudah memberitahuku,” Hana memotong segera.
“Begitu? Baguslah, tidak ada lagi yang harus kujelaskan ulang.”
Keduanya telah sampai di dalam kelas bersama dengan pembicaraan mereka.
“Pagi Haru-kun!” sebuah sapaan yang memekikan telinga membuat Hana menoleh kebelakang guna mengetahui apa yang menyebabkan pekikan itu.
Ternyata, segerombol siswi tengah menyambut kedatangan seorang siswa yang tentu sajasangat di kenal oleh Hana. Haru Natsume.
‘Haha… kira-kira bagaimana caranya menanggapi perempuan-perempuan ini?’ batin Hana. Beberapa gambaran dalam pikirannya muncul. Seperti Haru yang mulai melambaikan tangannya dan tersenyum ke arah semua perempuan yang ada.
Akhirnya, pemuda yang ditunggu-tunggu muncul. Kepala putihnya yang tinggi itu tentu saja bisa terlihat dari balik kerumunan para perempuan.
‘Haha… ini dia’—“Eh?” Hana terperangah.
Haru Natsume melewati para siswi itu begitu saja. Tanpa ada senyuma sama sekali. Bahkan yang ada hanyalah sebuah wajah dingin. Membuat kerumunan itu kecewa berat.
‘Seperti… Yoshiki-kun…’
Entah kenapa, sikap dan tingkah Haru Natsume sangat mirip dengan Kuroto Yoshiki—suaminya. Sebuah sikap di mana ia tidak tertarik dan tidak peduli terhadap kerumunan fans itu.
“Sudah, sudah. Bel masuk akan segera berbunyi. Cepat kalian kembali ke kelas masing-masing,” Takatsu segera muncul sebelum para siswi penyebab keributan itu mengikuti Haru memasuki kelas.
Dengan ditutupnya pintu kelas, keributan mereda.
“Hahhh… selalu saja seperti ini setiap hari…” desah Takatsu Rui.
“HANAAAAA!!”
“—GHUK!”
Sebuah terjangan bertenaga baru saja menghantam tubuh Hana dari belakang.
“S-Shiro… Sakit! Lepas! Kau terlalu erat!” Hana dengan nafas megap-megapnya berusaha melepaskan pelukan erat Shiro pada lehernya.
“Shiro… lepaskan dia…” Yui muncul dengan helaan nafasnya.
“TAPI SHIRO MERINDUKAN HANA!” Shiro tetap ngotot dan malah memeluk leher Hana semakin erat.
“S-Shiro…” Hana semakin megap-megap.
“Baik!” dengan riang dilepaskannya pelukannya.
“Aduh, Shiro… ini masih pagi,” ujar Hana dengan mengusap-usap lehernya.
“Yo, Hana. Bagaimana kabarmu?” Yui Umei bertanya dengan senyumnya.
“Aku baik,” balas Hana dengan senyumannya pula.
“Tidak masuk kelas, dan masuk dengan keadaan rambut terpotong pendek. Berani sekali kau? Coba panjangkan sedikit rambutmu itu!” Maki muncul dengan kedua tangan tangannya ia silangkan di depan dadanya.
“Pagi, Maki,” Hana tersenyum.
“Jika kau terus memotong rambutmu, tidak aka nada pria yang tertarik padamu loh,” nasehat pagi hari oleh Maki.
“Hana! Kau akan sendiri selamanya!” Shiro membesar-besarkan.
‘Sialan… karena Yoshiki menghapus segalanya, aku jadi terlihat seperti seorang jomblo mengerikan,’ batin Hana kesal.
“Omong-omong, ada kabar besar!” Maki tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.
“Kudengar kelas sebelah akan membuat rumah zombie yang ada ruang peristirahatannya!”
“EH!?” Ketiganya lantas menanggapi dengan kekagetan.
“Itu serius?” Yui meminta ketegasan.
“Ini masih rencana. Jika ketua Komite meluluskan saja. Ini masihlah sebuah rencana rahasia!”
“Lalu, bagaimana kau tahu rencana ini Maki?” sahut Hana.
“Temanku dari kelas sebelah ikut merencanakan ini.”
“HUWOOO RUANG PERISTI—UMHPP!” Shiro yang hampir meneriakan rencana rahasia segera dibekap mulutnya oleh Maki.
“Shiro ini rahasia!” Maki kembali mengingatkan.
“Tak kusangka tahun ini akan sangat pemberani,” guman Yui, “ruang istirahat kan hanya pernah berhasil dilakukan dua tahun lalu saat kita baru masuk sekolah ini.”
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.