Jumat, 29 April 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 11]

CHAPTER  11: KARAOKE BOX

“KUROTOOOOOO!!” Sebuah suara khas remaja laki-laki menggema di dalam lapangan indoor. Membuat Hana yang kebetulan lewat sana dari membeli jus di mesin penjual minuman di dekat sana menoleh.
Hamazura Otsuki, pemuda dari kelas 3-3, teman sekelas Hana waktu berada di kelas 2, bersandar pada pintu lapangan dengan nafasnya yang terputus-putus.
Tentu saja Hana hanya bisa menaikan alisnya melihat Hamazura Otsuki. Remaja berambut dan beriris cokelat tua itu masih sibuk mengatur nafasnya.
“Ada apa, Hamazura-kun?” Hana dengan santai menanyakan pertanyaan itu dengan mulutnya dipenuhi sedotan yang menghunungkan dengan jus yang baru dibelinya.
“Apakah kamu nanti sibuk?” Selagi menghapus keringat di seluruh permukaan wajahnya, remaja itu menanyakan maksudnya.
“Ha? Hmm… aku belum menyelesaikan tugas Shigure-sensei,” Hana sempat bertopang dagu berpikir sebelum akhirnya menjawab.
“Wah ternyata guru PKK-mu dia juga ya? Sudahlah, lupakan tugasnya. Ikut aku saja bagaimana?”
“Mana mungkin! Tugasnya besok harus sudah dikumpulkan!”
“Cuman sebentar deh! Ayolah!” Sekarang Hamazura Otsuki sudah menepukkan kedua tangannya, berpose memohon kepada Hana.
“Memangnya ada apa sih?” Sedikit malas Hana bertanya.
“Nanti sepulang sekolah, kita ke karaoke bareng, bagaimana?”
“Haaaah?” Kedua kalinya Hana cengo menghadapi Hamazura. Setengah tidak percaya, teman yang selama ini jarang pergi ke tempat lain bersamanya tiba-tiba mengajaknya ke karaoke?
“Yaah… sekalian kencan buta juga sih. Tapi sebenarnya tujuannya mau berkaraoke saja. Gratis kok. Tenang saja. Kamu pasti mau kan?”
“T-tunggu! Kencan buta apa? Kenapa gratis? Ada apa-apanya ya?” Hana menatap curiga.
“Sebenarnya kita kekurangan satu perempuan. Kamu pasti mau datang kan?”
“Tidak mau, ah!”
“Makanannya juga gratis kok.”
“Oke aku mau.”
Hamazura Otsuki sweatdrop seketika. Bagaimana bisa semudah itu memancing Hana dengan makanan gratis?
“Tapi, Hamazura-kun, kenapa aku?” Hana menunjuk wajahnya sendiri dengan wajah polos.
“Yaaah… karena kamu perempuan pertama yang kulihat hari ini. Aku di lapangan terus hampir seharian ini.”
“Hooo… begitu,” Hana hanya ber-oh ria.
Memang benar, Summer Cup sebentar lagi akan dimulai. Pasti tim basket pria dan wanita di sekolahnya sedang berusaha mati-matian. Berkat retak hidung yang pernah dialaminya, Kaname-sensei benar-benar tidak bisa mengizinkannya mengikuti basket lagi.
“Kalau begitu, sepulang sekolah nanti jangan lupa ya! Karaoke Box di dekat stasiun oke?”
Hana hanya melambaikan tangannya, dan mulai kembali menuju ke kelasnya.

-[Yami no Ai]-

Jam terakhir telah berakhir. Guru pengajar pun sudah menghilang sejak beberapa menit yang lalu. Sejumlah siswa sudah meninggalkan kelas mereka masing-masing. Termasuk Hana. Di sampingnya, Haru Natsume berjalan santai.
“Ah, Natsume-kun bisa antar aku ke Karaoke Box dekat stasiun?”
“Karaoke Box? Kenapa?” Pemuda berambut putih itu hanya menatap Hana penasaran. Seingatnya ketiga sahabat Hana sama sekali tidak mengatakan apapaun soal Karaoke.
“Ada makanan gratis di sana. He he he,” Hana hanya nyengir tidak jelas. Membuat Haru Natsume semakin penasaran.

-[Yami no Ai]-

Akhirnya, tanpa pertanyaan lebih lanjut, Haru Natsume mengantarkan Hana pada Karaoke Box.
“Ah! Itu dia Kuroto!” Suara Hamazura Otsuki menyapa pendengaran Hana saat kakinya baru saja menyentuh permukaan tanah.
“Hamazura Otsuki?” Haru Natsume yang menyebutkan nama Hamazura dengan nada bertanya lantas membuat Hana menolehkan kepalanya kea rah pria itu.
“Ya. Dia yang mengajakku tadi.”
“Kenapa dia mengajakmu?”
“Entahlah,” Hana mengendikkan bahunya tidak mengerti, “aku ikut saja karena ada makanan gratis.”
Tanpa ba bi bu lagi, pria bersurai putih itu turun dari audi gelap yang sudah ia parkir. Ada yang aneh di sini. Firasatnya mengatakan hal yang merepotkan akan terjadi.
“Oh! Hai! Ada Haru Natsume juga ternyata, mau ikut jug—“ pertanyaan Hamazure terhenti begitu ia baru saja menyadari jika kedatangan Haru Natsume akan mengacaukan segalanya. Haru Natsume terlalu sempurna sebagai pria. Di sekolah saja Haru Natsume sudah banyak menarik perhatian seluruh siswi. Bagaimana jika jadinya jika Haru Natsume ikut bergabung dalam kencan buta ini!? Bisa-bisa seluruh perempuan yang ada lebih memilih Haru Natsume.
“Aku ikut.”
Dan sialnya Haru Natsume setuju untuk ikut.
“Eh Natusme-kun boleh ikut? Syukurlah kalau begitu!” Hana menepuk-nepuk bahu Hamazura Otsuki dengan riang.
“Hhhh…” Hamazura malang hanya bisa menghela nafas.

-[Yami no Ai]-

Benar saja, begitu memasuki ruang karaoke, beberapa perempuan yang sedang asyik menikmati lagu mereka tertegun melihat Haru Natsume yang memasuki ruang karaoke. Pria bermata red crimson itu seketika berhasil memikat seluruh tatapan mata di sana.
“Sudahlah masuk saja! Berhentilah menjadi pengecut!”
“Tidak usah! Aku banyak pekerjaan!”
“Pekerjaanmu bisa ditunda! Kamu harus segera mencari pacar!”
Sementara itu, riuh terdengar dari luar ruangan. Keributan yang dihasilkan oleh setiap adu mulut beserta suara hentakan kaki, seretan kaki, memenuhi lorong Karaoke Box.
“Aku bisa mencarinya sendiri!”
“Tidak bisa! Kau mau jadi perjaka tua hah!?”
Dan suara keributan yang bersalah dari dua orang itu semakin mendekat.
“Hei lepaskan!”
“Tidak akan!”
Dari pintu karaoke room Hana yang masih terbuka setelah kedatangan Haru Natsume, terlihat seorang pemuda yang sedang kesusahan menarik seorang pemuda lain dengan tangannya.
“Yo! Maaf telat!” Pemuda dengan suara nyaring itu memasuki ruang karaoke dengan tangannya masih setia menarik temannya yang juga masih setia meronta dari cengkramannya. Sungguh kontras. Pemuda itu bergaya rock’n’roll sementara pemuda yang ditariknya layaknya pria-pria kantoran dengan jas hitamnya.
“Dia temanku, agak pemalu, tapi tolong bergaulah dengannya. Perkenalkan, Ishikawa Guren.” Pemuda itu dengan segala kekuatannya, membuat Ishikawa Guren menghadapkan wajahnya pada seluruh penghuni karaoke roomnya.
Pria berambut cepak itu terbelalak seketika begitu tatapannya bertemu dengan sosok seorang perempuan berambut pendek yang tengah asyik memakan kripik kentang di meja. Tak kalah kaget, Haru Natsume menatap tak percaya pada Ishikawa Guren yang berdiri di depan pintu.
Sepertinya firasatnya benar. Suatu keadaan yang buruk bertemu dengan Ishikawa Guren di tempat sempit seperti ini. Apalagi melihat tatapan pria beriris jade itu seketika tertuju pada Hana membuat tubuhnya bereaksi keras.
Mengabaikan pertengkaran batin yang dialami Haru Natsume terhadap Ishikawa Guren, beberapa perempuan yang duduk di sisi lain bangku laki-laki mulai asyik membicarakan kedua pria tampan yang kedatangannya tak diduga ini. Haru Natsume, dan Ishikawa Guren menjadi mangsa bagi tatapan-tatapan para perempuan di Karaoke Box.
“Kuroto Hana?” Tak bisa menahan dirinya, Ishikawa Guren memanggil nama Hana. Siapa sangka ia akan bertemu dengan Hana di sini. Perempuan yang ia akui memberikan perasaan hangat pada dirinya. Senyumnya mengembang saat mengucapkan nama Hana.
“Ah ya?” Dengan polosnya Hana menoleh kea rah Ishikawa Guren.
“Hooo! Ishikawa-kun!” Hana tersenyum menyapa.
“Heee? Kalian sudah saling kenal?” Pemuda yang tadi sudah susah payah menarik Ishikawa Guren itu menatap Hana dan Guren penuh tanya.
“Hei, apa yang kamu lakukan di sini?” mengabaikan pertanyaan temannya, Guren mendekati Hana.
Haru Natsume bersiaga saat itu juga. Sialan. Dirinya benar-benar kesal. Ishikawa Guren adalah ancaman baginya. Bisa dilihat dengan jelas, Ishikawa Guren tertarik pada miliknya. Tidak bisa dibiarkan!
“Aku makan,” Hana menjawab polos. Mulutnya penuh dengan kripik kentang. Sudut bibirnya dipenuhi remahan bumbu kripik kentang.
“Ha ha. Lihatlah kamu makan seperti anak kecil,” Ishikawa Guren terkekeh sementara tangannya merain sapu tangan pada sakunya. Setelah didapatinya sapu tangan itu ia usapkan pada bibir Hana.
Cukup. Ishikawa Guren benar-benar membuatnya emosi sekarang.
Sementara Haru Nastume menatap dengan kekesalan yang luar biasa, seluruh perempuan di tempat itu menatap iri ke arah Hana.
Hana yang pipinya tiba-tiba diusap oleh sapu tangan Ishikawa hanya diam tanpa kata. Namun, saat sapphirenya bertemu dengan sapu tangan Ishikawa tiba-tiba sebuah déjà vu muncul dalam benaknya.

"Hn," tiba-tiba Yoshiki berhenti. Tangannya merogoh saku celananya dengan cepat. Hana ikut berhenti karena reflek. "Dasar," ucap Yoshiki sambil melap rempah roti pada bibir Hana dengan sapu tangan
.
PLAK
Tanpa sadar ditepisnya tangan Ishikawa Guren.
Sekitka seluruh atensi di ruang karaoke yang kecil itu terarah pada Hana.
Kedua bola mata jade Ishikawa Guren melebar saat tangannya ditepis begitu saja oleh Hana.
“Eh?” Begitu sadar akan tindakannya, Hana menatap Ishikawa Guren dengan kerutan pada alisnya. “Ah! Maaf! Maafkan aku!” Hana segera bangkit dari duduknya dan melakukan ojigi berkali-kali di hadapan Ishikawa Guren.
Haru Natsume sendiri cukup terkaget melihat tindakan Hana.
“T-tidak. Ini seharusnya salahku. Aku yang tiba-tiba menyentuhmu. Jadi… Maaf!” Ishikawa Guren menudnukan kepalanya sedalam-dalamnya.
Dasar bodoh. Dirinya sudah melakukan seuatu kesalahan besar! Setelah kejadian Class Fest kemarin dia masih membuat kesalahan yang membuat Hana tidak nyaman. Tentu saja Hana akan melakukan itu! Dirinya tiba-tiba main usap pipi orang begitu saja. Tentu saja Hana akan marah!
“Hmeeeh…” Hamazura Otsuki menghela nafas berat. Sial sekali hari ini. Kencan buta hari ini sepertinya akan kacau. Dua pria yang kedatangannya tak ia duga ini akan memikat semua perempuan yang ada.
“Yo yo! Bagaimana kalau berkenalan terlebih dahulu?” Pemuda-penarik-Ishikawa-Guren menepukan tangannya meminta perhatian seluruh penghuni ruang karaoke tersebut. “Namaku Ichiro Katsuga, semester 3 Universitas Shuz.”
Merasa bahunya ditepuk oleh temannya, Guren segera mengerti dan memperkenalkan dirinya setelah berdehem pelan. “Ishikawa Guren, pemilik Ishikawa Corp.”
“Huwooo, sudah kuduga dia CEO Ishikawa Corp itu.”
“Benar-benar.”
“Wah, tak diduga.”
Ketiga perempuan yang duduk di samping Hana mulai memberikan komentar mereka.
“Aku Hamazura Otsuki! Kelas 3 di Mirai no Gakoo!” Tanpa mengurangi rasa percaya dirinya, Hamazura memperkenalkan dirinya. Ishikawa Guren dan Haru Natsume memang sangat memikat, tapi dia tidak boleh menyerah sebelum perang dimulai. Setidaknya begitulah anggapannya.
“Hooo…” ketiga perempuan itu asyik bertepuk tangan ria.
Seharusnya ini giliran Natsume Haru, tapi pria itu sama sekali tidak berniat melakukan perkenalan konyol ini. Dirinya hanya diam dengan kedua tangannya ia lipat di depan dadanya, dengan punggungnya bersandar pada sofa.
Dengan kesal Hamazura meneriakinya, “Hei Haru! Perkenalkan dirimu!”
Sepertinya tidak ada pilihan lain. “Haru. Haru Natsume.”
Hanya itu. Dirinya bahkan tidak berdiri seperti ketiga pria sebelumnya.
Hal itu lantas membuat Hamazura semakin murka. “Apa-apaan itu ta—“
“Kereeen! Hei hei! Kamu masih sekolah ya? Sekolah di mana?” Salah satu perempuan menginterupsi teriakan emosi Hamazura.
“Boleh minta alamat emailnya?”
“Haru-san ya? Nama yang bagus?”
Dan diikuti oleh komentar-komentar lain.
“Nah sekarang giliranku!” Hana berdiri dari tempatnya. “Kuroto Hana! Kelas 3 di Mirai no Gakoo! Satu sekolah dengan Hamazura-kun!”
Melihat semangat Hana membuat ujung bibir Ishikawa Guren sedikit tertarik. Haru Natsume tentu saja menyadari itu. Sialan. Dirinya benar-benar dibuat kesal setengah mati hari ini. Melihat seorang pria yang diam-diam menyukai miliknya, dan tersenyum melihat miliknya benar-benar memuakkan!
“Nonomiya Ui, semester 1 Universitas Katsumoto.”
“Madoka Risa, semester 1 Universitas Katsumoto.”
“Miyaka Mutsuri, semester 2 Univeritas Shizu.”

-[Yami no Ai]-

Dan acara kencan buta pun dimulai. Masing-masing berusah menarik perhatian lawan jenis mana yang membuat mereka tertarik.
“Haru-san, daritadi kulihat dari tadi kamu hanya meminum kopi. Lidahmu akan pahit loh. Cobalah ini, milk shake,” Nonomiya Ui menyodorkan segelas milk shake coklat di hadapan Haru Natsume yang sedang asyik meminum kopi kalengnya.
“Tidak usah.” Hanya itu sahutan Haru Natsume. Sementara kedua bola mata red crimsonnya terus terarah pada Hana.
“Hei, apa benar ID Linemu ini?” Ishikawa Guren menujukan sesuatu pada layar ponselnya.
“Benar.” Hana mengangguk polos.
“Aku sudah mengirimkan pesan padamu kemarin kamu lihat?”
“Ah! Benarkah? Maaf aku belum membuka ponsel sama sekali sejak semalam! Dan ponselku tertinggal di rumah!” Hana membual tentu saja. Dia membawa ponselnya pada tasnya. Dan dirinya juga tahu Ishikawa Guren mengirimkannya pesan. Hanya saja, sepertinya sesuatu mencegahnya membuka pesan Ishikawa Guren dan membalasnya.
“Kalau begitu… apa nanti malam aku boleh meneleponmu?”
Hana terdiam dalam kegiatannya mengunyah kue kering. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya ia mau-mau saja melakukan itu. Tapi… Yoshiki pasti akan sangat kecewa dengannya. Dia tidak boleh melakukan ini. Namun ia tidak bisa menjawab apapun! Ia tidak tahu bagaimana cara menolak yang halus. Cara menolak dimana itu tidak akan menyakiti Ishikawa Guren.
“Kami punya banyak tugas untuk kelas besok. Sepulang ini kami akan mengerjakan tugas semalaman.” Ucap Haru Natsume tiba-tiba dnegan tenang.
Ishikawa Guren menoleh sekilah kea rah Haru Natsume.
“Benarkah?” Dan meminta konfirmasi pada Hana.
“Ah… ya begitulah…” Hana mengangguk menyetujui.
“Begitu? Sayang sekali.” Ishikawa Guren menghela nafas lesu.
Sementara itu, Hana mengacungkan jempolnya ke arah Haru dan memberikan tatapan konyol yang berarti ‘terima-kasih-atas-bantuannya.’
Haru Natsume sweatdrop melihat tingkah Hana.
“Omong-omong, kamu terlihat lebih manis daripada kemarin.”
Hana tersedak dalam upayanya meminum milk shakenya. Haru Natsume seketika menatap Ishikawa Guren tak percaya. Dia menggombal kepada Hana!? Apa itu tadi!? Kuno sekali.
“Ahh!” Ishikawa Guren seketika bangkit dari duduknya begitu melihat Hana tersedak. Menyodorkan sapu tangannya kepada Hana.
Hana segera menggerakan tangannya untuk menolak sapu tangan Ishikawa. DIambilnya tisu di atas meja dan segera diusapnya beberapa sisa semburannya tadi.
“Berhenti bercanda Ishikawa-san,” Hana terkekeh.
“Aku tidak bercanda. Menurutku memang begitu. Kau terlihat lebih manis daripada sebelumnya.”
“Eh? Kenapa begitu?”
“Karena aku selalu memikirkanmu. Jadi aku bisa mengingat jelas seperti apa dirimu sebelumnya.”
“Eh…?” Hana hanya berguman tidak mengerti.
Haru Natsume hanya diam. Mendnegarkan setiap pembicaraan antara Ishikawa Guren dan Hana.


“Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan…” gumannya.
Read More ->>

Kamis, 21 April 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 10]

CHAPTER 10: TOMMOROW AND TODAY

Class Fest telah selesai diselenggarakan. Tepat pada pukul sembilan malam semua acara dipastikan telah selesai. Waktunya berbesih. Malam itu harus semuanya beres.
“Hei. Kamu kenapa tadi?”
Kuroto Hana yang sedang asyik melepaskan aksesoris-aksesoris yang terisa pada dinding karena pembuatan rumah hantu membalikan kepalanya ke belakang. Menemukan sosok sahabatnya, Umei Yui berdiri dengan kedua tangannya berkacak pinggang.
“Yui? Bantu aku melepas ini!” Hana berusaha menarik sebuah selotip yang sepertinya menempel sangat erat.
Perempuan berambut ungu itu mau tak mau meyediakan tangannya untuk membantu Hana menarik karet lengket itu dari tembok. Dengan tenaga keduanya, akhirnya selotip itu mau lepas juga.
“Ayo beritahu aku apa yang terjadi tadi? Kamu menangis sesaat setelah bergandengan tangan dengan Ishikawa-san. Kupikir kamu tidak tertarik pada—“
“Dia temanku,” sela Hana.
“Teman?” Yui mengernyitkan alisnya.
“Ceritanya panjang sih…” Hana menghela nafas berat.
Yui terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan pertanyaannya, “lalu apa kamu tidak mau menceritakannya padaku?” Sejenak pandangannya terarah pada Maki yang sepertinya tengah berjalan ke arahnya dan Hana, “—pada kita?”
Sekali lagi Hana menghela nafas berat. “Kuceritakan nanti di grup chat saja bagaimana?”
“Hei tunggu. Jika nanti, Maki pasti akan disuruh tidur oleh kakaknya!”
“Tidak apa Yui-chan. Nanti malam aku berencana menonton siaran langsung bola luar negri. Jadi aku nanti mungkin akan tidur pagi,” Maki nyengir.
“Shiro pasti tidak akan tidur…” Yui berpikir lagi, “Jadi kau janji kan akan berceri—“ Yui menghentikan kalimatnya saat melihat orang yang diajaknya bicara malah melamun.
Ditariknya telinga Hana. “Kamu mendengarkanku kan?” Yui bicara tepat di depan telinga Hana dengan dahinya dihiasi oleh perempatan urat-uratnya.
“Ah! Aduuhduh! Iya! Iya! Kudengarkan! Aku janji!” Hana merintih, berusaha menjauhkan telinganya dari Yui.
Sementara Haru Natsume hanya melakukan apa tugasnya—kali ini sepertinya ia dapat jatah mengangkat seluruh perabotan keluar kelas—dengan sesekali melirik Hana.
Bersih-bersih kelas selesai selesai sebelum waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Syukurlah kelas 3-1 memiliki siswa yang rajin. Sehingga membersih kan kelas—dengan banyak hal yang harus dibersihkan—cepat selesai.
Kuroto Hana tengah berdiri di depan gerbang sekolah. Menunggu Haru Natsume menjemputnya tentu saja.
Panjang umur. Tak lama kemudian sebuah mobil audi gelap datang dan berhenti tepat di depan Hana. Anehnya Haru Natsume selaku supir tidak keluar dari tempatnya dan membukakan pintu untuk Hana seperti biasa. Hana membuka dan memasuki mobil dengan sendirinya. Hana sendiri juga tak memikirkan mengenai keanehan Haru. Ia tengah hanyut dalam pikirannya sendiri.
Perjalanan pulang sekolah malam itu terasa sangat hening. Hanya suara deru kendaraan dan suara lambu sen yang berbunyi berkedip-kedip yang memenuhi kegelapan dalam mobil itu.

-[Yami no Ai]-

Hana terdiam. Duduk meringkuk di atas ranjangnya dengan tangannya menggenggam ponsel pinter miliknya. Kepalanya ia sandarkan pada kedua tumit kakinya yang saling menempel.
Dia baru saja melakukan sesuatu yang salah. Sesuatu yang sangat salah.
Suaminya, Kuroto Yoshiki, tengah mati-matian berjuang dengan Exorcist di sana. Sementara dirinya malah bersenang-senang dengan teman masa kecilnya. Kejam sekali dirinya! Perempuan macam apa dirinya?
“Yoshiki-kun…” bisikan itu lolos dari bibirnya.
“!?” Haru Natsume mendongkakkan kepalnya seketika.
Rasanya barusan ia mendengar Hana memanggilnya.
Sekali lagi kepalanya ia tundukan. Menyembunyikan ekspresinya dengan rambut-rambut putihnya yang cukup panjang.
Mana mungkin Hana memanggilnya? Sepertinya ia dipermainkan oleh pikirannya.
Apa-apaan itu tadi? Hana bergandengan tangan dengan Guren Ishikawa? Apa maksudnya itu? Apa keduanya berniat mengikat suatu hubungan?
“SIALAN!” Haru Natsume berteriak seketika.
Gigi-giginya saling bergemelatuk. Tangan-tangannya mengerat menggenggam udara. Rahangnya mengeras.
“Guren Ishikawa sialan…” desisnya dingin.
Apa dia harus membunuh Guren Ishikawa? Tidak perlu dirinya. Cukup ia menyuruh orang ain yang membunuh bedebah yang sudah berani-berani menyentuh istrinya itu.
“Yoshiki-kun…”
Lagi-lagi suara Hana bergema di dalam kepalanya. Yang anehnya suara itu penuh dengan perasaan sedih, rasa bersalah, dan perasaan rindu.
Mungkin sebaiknya ia harus menemui Hana.

-[Yami no Ai]-

Ponsel Hana bergetar. Menunjukan sebuah notifikasi masuknya sebuah pesan di sebuah apliasi chatting.
UMEI: Jadi, sudah siap bercerita?
HISEGAWA: Siap mendengarkan.
AYAKI: Shiro di sini!
KUROTO: Ceritanya akan panjang…
HISEGAWA: Aku menengarkan ^^
UMEI: Jangan buang-buang waktu!
Perempatan siku muncul di dahi Hana, kesal.
“Dasar Yui ini! Dia sangat kepo sekali! Aku sedang mengetik sekarang dasar bodoh!” Omel Hana sementara tangannya mulai mengetik apa yang menjadi unek-uneknya.
AYAKI: Hana lama sekaliii~~
HISEGAWA: Dia sedang mengetik.
AYAKI: Ayolaaaah~~
KUROTO: Guren Ishikawa hanya temanku. Aku bertemu dengannya di tempat potong rambut saat SD dulu. Dia menangis ketakutan. Aku hanya mencoba membantu menenangkannya saja. Lalu kemarin saat aku potong rambut lagi, aku bertemu dengannya. Dan begitulah. Aku sendiri tidak menyangka dia akan menjadi sponsor utama class fest sekolah kita.
HISEGAWA: Apa!? Serius!? Kamu berteman dengan milyader itu!?
AYAKI: Err—dia menangis? Menangis karena potong rambut?
UMEI: KUROTO HANA! BUKANKAH SUDAH KUBILANG UNTUK BERHENTI MEMOTONG RAMBUTMU LAGI!? Cih. Aku sampai lupa untuk mengomelimu tadi. Padahal aku sudah sadar sejak bertemu denganmu pagi tad. Rambutmu menjadi lebih pendek.
HISEGAWA: BENAR! SAMPAI KAPAN KAMU MAU MENJADI SEPERTI ITU!?
AYAKI: DASAR HANA BODOH!
UMEI: AKU MEMBENCIMU!
“Hei… hei… kenapa mereka malah membicarak rambutku?” Di balik kedutan emosi Hana, muncul butiran-butiran sweatdrop Hana melihat kebodohan teman-temannya.
KUROTO: AKU SEDANG SERIUS! KALAU TIDAK MAU DENGAR YA SUDAH!
UMEI: Ah… ya… kalau begitu lanjutkan.
HISEGAWA: Maaf…
Hana menghela nafas. Entah sudah berapa kali dalam seharian ini. Sepertinya hari ini melelahkan jiwa dan raganya.
AYAKI: Lanjutkan saja, Bodoh!
KUROTO: Dia err… menceritakan sesuatu yang rahasia padaku. Karena rahasianya itu aku jadi semakin kasihan padanya. Dia ingin menikmati class fest yang dulu ia lewatkan saat sekolah. Aku hanya membantunya.
HISEGAWA: Sepertinya milyader itu masa lalunya kelam sekali. Dan sepertinya dia snagat pengecut dulu.
AYAKI: Kasihan. Sangat kasihan.
UMEI: Lalu apa yang membuatmu sedih dan murung sedari tadi?
KUROTO: Aku tidak seharusnya melakukan itu. Bergandengan tangan dengannya seperti itu… Aku tidak bisa. Ini salah. Ini salahku.
UMEI: Kenapa salah?
Tanpa sadar sebulir air mata mengalir turun pada pipi Hana. Membasahi layar sentuh ponsel yang tengah menampilkan ruang chat empat sahabat itu.
TOK. TOK. TOK. TOK.
Beberapa ketukan pada pintu kamarnya membuat Hana refleks mendongkakkan kepalanya ke arah pintu. Siapa yang datang padanya di malam selarut ini? Misaki? Apa ada masalah?
Segera diusapnya kedua matanya dengan kasar. Berusaha menutupi bekas tangisannya. Turun dari ranjang dan membukakan pintu.
“Iya. Ada ap—Natsume-kun?” Hana cukup kaget karena melihat sosok Haru Natsume di depan matanya.
Hana sudah dihadapannya. Tepi entah kenapa menatap Hana malah mengingatkannya pada rasa sakitnya. Rasa sakit pada dadanya yang terus berdenyut. Rasa sakit yang ditimbulkan karena kebodohannya.
“Mau masuk dulu? Tidak enak kalau bicara di depan pintu,” tawar Hana.
Tanpa menjawab, Haru Natsume berjalan memasuki kamar—yang memang seharusnya kamarnya juga—Hana.
Pikirannya kalut. Ia sendiri juga tidak tahu apa yang akan ia bicarakan dengan Hana sebagai Haru Natsume sekarang. Saat itu ia melihat sebuah notifikasi chat pada ponsel Hana yang tergeletak di atas ranjang.
ISHIKAWA: Selamat malam. Maaf mengganggu.
Kedua mata azure miliknya membulat sempurna.
“Omong-omong… Ada apa Natsume-kun malam-malam ke mari?” Hana yang baru saja menutup kembali pintu kamarnya berjalan mendekati Haru Natsume.
GREB.
Tiba-tiba saja salah satu pergelangan tangannya sudah digenggang oleh Haru Natsume. DItarik dan dihempaskan pada ranjangnya.
Entah apa gerangan. Lampu yang meneringai kamar Hana tiba-tiba mati dan membuat ruangan itu diliputi kegelapan.
Semua runtutan kejadian ini terjadi begitu cepat. Hana sampai tidak memiliki waktu untuk berpikir sama sekali.
“Kenapa kau lakukan ini!? Sebenarnya siapa Ishikawa Guren!?”
Hana tertegun ditempatnya. Walau dalam keadaan gelap, Hana bisa yakin jika Haru Natsume sedang menindihnya sekarang. Bicara tepat di hadapannya. Aura mengintimidasinya sangat terasa. Aura mengintimidasi yang sama ia rasakan pada Kuroto Yoshiki, suaminya.
“Maaf. Maafkan aku Yoshiki-kun. Maafkan aku karena sudah mengecewakanmu Yoshiki-kun… hiks… hiks…” tanpa sadar kalimat itu meluncur keluar dibarengi dengan isakan penyesalan.
Ganti Haru Natsume yang tertegun sekarang. Pengannya pada lengan-lengan Hana mengendur.
Hana menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.
“Aku… sudah membuatmu kecewa… Yoshiki-kun pasti akan membanciku sekarang. Aku mohon… Maafkan aku Yoshiki-kun…” Hana terus menggumankan nama Yoshiki walauun sebenarnya ia sadar, yang di depannya adalah Haru Natsume. Bukan Kuroto Yoshiki.
‘Apa yang sudah kukatakan pada Natsume-kun? Apa aku sudah gila sekarang?’ pikir Hana. Walau begitu, ia tidak peduli. Ia sangat ingin melanjutkan mengungkapkan unek-uneknya.
Tubuhnya terasa terangkat tiba-tiba. Dan…
GREB.
Sebuah pelukan dalam kegelapan. Hanya itu yang bisa Hana pikirkan sekarang. Haru Natsume memeluknya?
“Aku tidak membencimu. Sama sekali tidak. Memang benar aku kecewa. Tapi untuk kali ini… aku mengerti…”
Nada berat itu. Walau dengan suara Haru Natsume, Hana seolah-olah mendengar suara Kuroto Yoshiki secara langsung.
“Yoshiki-kun…?”
“Hn?”
Sapphire Hana terbelalak lebar dalam kegelapan. Yoshiki-kun! Orang yang berbicara dengannya saat ini benar-benar Yoshiki! Dieratkannya pelukannya tanpa sadar.
Sebuah cahaya seketika memenuhi kamar Hana yang sebelumnya tertelan oleh kegelapan.
“HUWAAAA!” Hana melompat kaget dan melepas pelukannya dari tubuh Haru Natsume.
“A-Apa yang kau lakukan Natsume-kun!?” Hana berteriak shock dengan jarinya ia gunakan untuk menunjuk-nunjuk wajah Haru Hanstume.
“Seharusnya itu yang ingin saya tanyakan. Kenapa anda tiba-tiba memeluk saya? Apa anda takut karena gelap?” Natsume Haru menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Memasang wajah tidak mengerti.
‘Eh?’ Batin Hana. ‘Apa tadi hanya khayalanku saja? Tapi semuanya terasa nyata.’
“Kalau sudah tidak ada perlu dengan saya lagi, saya undur diri dulu,” Haru Natsume pamit mengundurkan diri sebelum meninggalkan Hana.
“Ah. Ya,” Hana sendiri masih bingung atas apa yang baru saja terjadi.
Semuanya benar-benar terasa nyata. Intimidasi yang ia rasakan sangat khas dominasi Kuroto Yoshiki sekali. Pelukan erat yang ia rasakan. Suara berat itu. Dan gumanan milik suaminya itu. Semuanya terasa nyata.
Apa kepalanya sudah mulai rusak dan dia sudah mulai gila sekarang?
Membayangkan Haru Natsume adalah suaminya. Sepertinya dirinya sudah mulai gila sekarang. Hana sweatdrop.
“Omong-omong, Natsume-kun, tadi kenapa kamu kemari? AH! SUDAH PERGI!” Natsume Haru telah pergi sejak beberap menit lalu. Dan dirinyapun sepertinya sudah memberikan izin. Kenapa dia sampai lupa?

-[Yami no Ai]-

Haru Natsume menyusuri lorong panjang mansionnya. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celananya.  Pandangannya terus menatap tajam dan awas ke depan.
Keadaan mentalnya sepertinya sudah kembali normal dan tenang. Sekarang dirinya bisa kembali fokus.
Setidaknya ia tahu. Ini jelas-jelas bukan salah Hana. Memang benar Hana sedikit tergoda dan goyah. Tapi ini sepenuhnya salah Guren Ishikawa sialan itu.
Sialan. Di saat-saat seperti ini dirinya sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Hana. Yang dilakukannya tidak lebih dari tindakan seorang pengecut. Hanya muncul saat wanitanya sendiri dan ketakutan. Apa yang bisa dia lakukan saat wanitanya kebingungan bersama Guren Ishikawa? Meratapi rasa cemburunya? Benar-benar pengecut!
Ia harus segera mencari cara untuk menyelesaikan ini.

-[Yami no Ai]-

“KENAPA CHAT TERAKHIR KITA TIDAK KAU BALAS!!!??” Ledakan kemarahan menggema di dalam kelas 3-1.
Semua siswa yang sedang asyik melakukan aktivitasnya masing-masing pandangannya teralihkan pada Yui yang sedang berdiri di depan bangkunya, menunjuk ke arah Hana dengan tatapan membunuh. Diikuti oleh Maki dan Shiro yang berdiri melingkari Hana dengan tatapan menusuk mereka.
Sepertinya Hana akan menjalani dua hukuman sekaligus hari ini. Pertama, karena ia tidak membalas pesan teman-temannya. Dan kedua, karena ia telah memotong rambutnya lagi.
“Ah… Ya… Itu… aku tertidur…” Hana menggaruk pipinya yang tidak gatal.
“TERTIDUR KATAMU!? AKU BERTAHAN DARI KANTUK UNTUK MENDENGAR CERITAMU DAN SEKARANG KAU DENGAN GAMPANGNYA MENGATAKAN TERTIDUR HAH!?” Yui  menaikan satu kakinya di atas meja Hana.
Hana shock melihat kaki Yui. Gawat. Sepertinya Yui benar-benar marah. Lihat saja tatapan membunuhnya. Bahkan sepertinya ia bisa membayangkan aura kegelapan menguar pada punggung Yui layaknya iblis-iblis yang ia lihat selama ini.
“TIDAK ADA MAAF!”
“BANTAI!”
“MAAAAAAAFF!!”
Dan keributan di kelas 3-1 tak terhindarkan lagi.
Seolah sudah wajar terjadi, seluruh siswa kelas 3-1 melanjutkan aktivitasnya kembali tanpa berniat mengganggu Hana dkk. Bahkan si ketua kelas, Rui, hanya tersneyum tipis menatap keributan itu.
“NATSUME HARU!” Sebuah lengkingan khas pria tua yang bersemanat terdengar dari pintu kelas bagian belakang.
Membuat sekali lagi perhatian seluruh siswa teralihkan. Termasuk membuat pertarungan sengit Hana melawan Yui, Shiro, Maki terhenti.
Itu Kaname-sensei. Guru piket hari ini dan sekaligus guru olah raga mereka.
“Ada apa sensei?” Natsume Haru hanya menyahuti dengan enteng.
Dengan kedua tangannya yang sibuk membawa kardus, Kaname-sensei berjalan memasuki kelas 3-1.
Menjatuhkan kardus itu depan Natsume Haru, beberapa siswa yang berada tidak jauh dengan Natsume Haru segera ikut menimbrung untuk melihat apa isi kardus tersebut. Ternyata, tidak lain, berisi kumpulan surat cinta.
“Ha ha…” semua siswa seketika sweatdrop.
“Sesekali bersihkan lokermu!” Kaname-sensei melanjutkan ceramahnya.
“Inilah penyebab utama saya malas membersihkan loker sensei,” ucap Natsume Haru enteng.
“Jika besok aku masih melihat lokermu berantakan, kau yang akan ku masukan ke dalam loker! Ingat itu!” Tanpa mempedulikan perlawanan Natsume Haru, Kaname-sensei tetap mempertegas peringatannya sebelum pergi meninggalkan kelas 3-1.

Sepertinya…. Tanpa sadar… Kuroto Yoshiki sedikit demi sedikit menikmati kehidupannya sebagai manusia biasa.
Read More ->>

Kamis, 14 April 2016

Yami no Ai: AFTER WOLRD [Chapter 9]

CHAPTER 9: NIGHT OF CLASS FEST

Keheningan memenuhi ruang kelas yang telah disulap menjadi rumah hantu. Setiap detik sama sekali tak terlewatkan bagi Haru Natsume untuk memeluk miliknya lebih erat.
Cukup lama. Hingga—“Haru-kun?”
Panggilan sebuah nama yang seharusnya bukan namanya, membuat dirinya tersadar dari rasa mabuk atas rindunya pada pelukan istrinya.
Sementara pelukanya meregang, Hana mengambil kesempatan itu untuk mengangkat wajahnya yang tadi sudah sempurna terbenam di dalam dada bidang Haru Natsume, menatap pria itu kebingungan. “Kenapa memelukku?”
Seketika itu sadarlah Haru Natsume atas tindakan bodohnya. Bagaimana mungkin dia bisa lepas kontol dan memeluk Hana!? Saat itu juga dilepaskannya rengkuhannya.
“Maaf. Maafkan atas kelancangan saya!” Haru Natsume menundukan kepalanya dalam.
“Eh? Ah… T-tidak. A-Aku tidak apa. Angkat kepalamu Haru-kun!” Hana semakin kebingan saat melihat pelayannya ini menundukan kepala dalam di area sekolah yang rawan. Bagaimana jika ada yang melihat?
Mendengar itu, Haru Natsume segera mengangkat kepalanya.

[Yami no Ai]

Lorong kelas sudah cukup gelap. Jarum panjang jam yang berada di tiap-tiap kelas telah menunjuk pada angka tujuh.
Tapi berbeda dengan keadaan di luar. Lebih tepatnya di lapangan utama Mirai no Gakoo. Temaran cahaya yang dihasilkan oleh api unggun raksasa yang diletakan di tengah lapangan cukup untuk memberi penerangan pada acara puncak festival kelas. Yaitu menari di tengah api unggun. Acara di mana pasangan-pasangan menari mengelilingi api unggun.
Derap langkah kaki menggema memenuhi lorong yang sudah hampir tak berpenghuni, tentu saja, kebanyakan siswa sudah banyak yang berkumpul di lapangan. Haru Natsume setelah menaiki tangga menuju lantai dua, segera bergegas menuju ruang kelasnya. Di dalam kepalanya hanya berisi sebuah subjek. Kuroto Hana, istrinya. Mengingat kejadian tadi siang, sepertinya mental istrinya itu agak menurun. Ia harus segera menemui istrinya saat ini. Sialan dengan tugas dadakan yang diminta oleh ketua komite untuk membuang sampah tadi. Berperan sebagai manusia normal benar-benar bisa membuat emosinya meningkat.
Akhirnya, kakinya berbelok memasuki kelasnya yang anehnya dalam keadaan gelap, “My Lad—“
Tidak ada. Kuroto Hana tidak ada. Tidak ada sosok istrinya yang sedang duduk menjaga stan kelasnya.
Kemana perginya Hana? Apa kondisinya semakin memburuk mengingat sekarang sudah waktunya acara utama? Berbagai spekulasi buruk bergema di kepala Haru Natsume.
“Haru-kun!”
Mendengar namanya terpanggil, kepala putihnya secepat mungkin menoleh ke arah suara.
Seorang perempuan berambut hitam panjang berdiri tepat di depan pintu kelas.
Seharusnya ia tahu. Itu bukanlah suara Hana. Tapi dalam keadaan sebingung ini, ia sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Sekarang seorang perempuan dengan seragam yang menandakan ia adik kelasnya dua tingkat di bawahnya berdiri di depan pintu. Dengan suatu kemauan yang sudah Haru ketahui dengan mudah.
“Haru-kun… namaku Takane Sakura,” perempuan itu menundukan kepalanya hormat, “mungkin Haru-kun tidak mengenalku. Tapi aku selalu memperhatikan Haru-kun.”
Dengan perlahan perempuan itu mendongkakkan kepalanya menatap Haru walau posisi badannya tetap membungkuk. “Haru-kun… aku menyukaimu.”
Dan perlahan Takane Sakura menegakkan posisinya. Berjalan mendekat ke arah Haru Natsume. Selama itu kedua tangannya sibuk menarik dasi yang mengikat lehernya. Melepas kancing blazernya. Melepas beberapa kancing teratas seragamnya. Memperlihatkan kedua payudaranya yang memang terbilang berukuran di atas rata-rata remaja seumurannya.
“K-kita tidak perlu menari untuk m-membuktikan jika kita sepasang kekasih… Haru-kun… ayo ke ruang peristirahatan…,” dengan wajahnya yang memerah ia mendekatki Haru Natsume.
“….” Haru Natsume hanya mendukkan kepalanya. Ia sudah muak dengan semua ini. Ia harus segera menemukan istrinya sekarang!
Takene Sakura mulai menggenggam tangan Haru. Mengarahkannya pada salah satu payudaranya. “… lakukan apa yang Haru-kun…”
PLAK
Tanpa peduli, Haru mengibatkan tangannya dengan kasar dari sentuhan pada payudara Takane.
“Pergilah.” Setelah mengatakan hal sedingin itu, Haru Natsume berjalan meninggalkan kelas. Berniat mencari Hana di tempat lain. Tanpa memperdulikan Takane Sakura yang sudah menjatuhkan dirinya karena baru saja ditolak dengan taruhan harga diri perempuannya.
Sudah beberapa tempat di kelas yang sekiranya berbahaya telah ia datangi. Tidak ditemukan tanda-tanda Hana sama sekali. Haru Natsume sangat khwatair. Khawatir jika Hana melakukan hal-hal gila untuk mengatasi rasa putus asanya seperti tempo hari, menabrakan kepalanya pada tembok.
Hanya satu tempat yang belum di datanginya. Lapangan tenpat diselenggarakannya acara utama. Kemungkinan hanya di situ hanya berada.
Ketiga sahabat Hana, Yui pasti bersama Ida, Shiro akan bersama Hide, Maki sendiri mungkin akan bersama kakaknya bergandengan tangan menatap kobaran api unggun.
Acara Utama pada festival kelas selain berdansa juga bisa dilakukan dengan bergandengan tangan menatap api unggun. Hal itu merupakan symbol adanya sebuah ikatan namun bukanlah sepasang kekasih. Sebuah ikatan saling menyayangi. Bisa dilakukan oleh sebuah keluarga, dan sebuah persahabatan (namun hanya bisa dilakukan dengan jenis kelamin sama). Apabila dua orang berbeda gender bergandengan tangan menatap api unggun, itu menggambarkan sebuah rencana di masa depan untuk menjalin sebuah ikatan.
Haru Natsume melangkah keluar dari lorong kelas. Mata azure-nya segera menjelajah seluruh ruang di lapangan. Mengamati setiap wajah yang ada. Mencari sosok istrinya.
Saat itu juga. Kedua matanya terbelalak lebar. Dibarengi dengan denyutan pada dadanya.
Kuroto Hana, istrinya, tengah berada dalam jarak beberapa meter darinya. Menghadap api unggun dengan senyum di bibirnya. Tangannya berandengan dengan tangan Guren Ishikawa.
“My… Lady…” bibirnya berguman kosong.
“Ha ha ha…” dilanjutkan sebuah tawa kosong.
Bagaimana dirinya bisa berpikir terlalu jauh yang sekarang terlihat sebagai suatu kebodohan? Mengkhawatirkan Hana akan sangat terpuruk karena dirinya. Nyatanya, Hana sekarang tengah tersenyum bahagia bergadengan tangan dengan pria lain.
Kepalanya tertunduk dalam. Sementara tangannya meremat erat bagian dadanya yang terus berdenyut sakit.
Tidak kuat dengan apa yang ia lihat, Haru memutuskan untuk kembali memasuki lorong kelas.
Nafasnya seolah memendek, dadanya terus terasa sesak, padahal seharusnya ia sama sekali tak membutuhkan nafas untuk hidup. Seluruh tubuhnya bergetar kecil. Hingga membuat dirinya tak kuasa menyangga tubuhnya sendiri, mengharuskannya untuk bersandar pada tembok.
“Haru-kun…”
Untuk sekali lagi. Takane Sakura muncul di hadapan Haru.Seluruh seragamnya telah tertata rapi. Kali ini raut wajahnya menandakan kekhawatiran pada perilaku Haru.
“Haru-kun… baik-baik saja?” Sedikit takut akan sikap Haru sebelumnya, Takane Sakura perlahan-lahan mendekati Haru.
Benar-benar sialan. Sementara di depannya tersaji sebuah daging yang siap ua santap kapan saja, ia harus menahan diri jika ia milik seseorang. Namun seseorang itu malah bergandengan tangan dengan pria lain yang seharusnya tak ia lakukan.
Rasa kesal, marah, cemburu, benci, kecewa, penyesalan, iri, dan kegilaan mengguncahnya.
Ingin sekali ia bertindak sesuatu yang bisa menghentikan kegiatan Hana dan Guren sekarang. Tapi siapa dirinya sekarang? Dia hanya Haru Natsume yang tidak memiliki kuasa untuk melakukan itu. Lain lagi jika dirinya adalah Kuroto Yoshiki. Benar juga… jika dirinya Kuroto Yoshiki, hal ini tidak akan terjadi. Hana tidak akan bergandengan tangan dengan Guren. Hana akan menari dengannya mengelilingi api unggun. Namun sekali lagi… itu jika dirinya adalah Kuroto Yoshiki. Bukan Haru Natsume.
“Aku sudah menyuruhmu pergi. Jangan buat aku mengulangi lagi,” begitu bibirnya menggumankan kalimat dingin lagi, Haru Natsume berjalan meninggalkan Takane Sakura. Entah ke mana.

[Yami no Ai]

“Kuroto Hana!”
“Ah? Ya?” Hana yang baru saja meminjam beberapa peralatan seperti selotip dan cutter dari kelas sebelah tengah berjalan di lorong kelas saat namanya terpanggil.
Saat kepalanya berbalik retinanya menangkap bayangan Guren Ishikawa. “Guren Ishikawa-san!” Hana tersenyum cerah.
“Kenapa tidak menyapaku tadi?” Guren berdiri tepan di depan Hana.
“Ah! Maafkan aku!” Hana menundukkan kepalanya.
“Hei hei tidak masalah,” Guren menjadi salah tingkah melihat sikap Hana.
“Apa hanya perasaanku? Sikapmu menjadi berbeda… tidak se’heboh’ dulu… kamu menjadi agak kalem dan sopan…” Guren melanjutkan kalimatnya begitu Hana telah kembali pada posisinya.
“M-menurut anda begitu…” Hana sweatdrop.
“Permisi. Kami dari Kedai Takoyaki. Jika berminat kelian bisa mampir. Kami juga menyajikan beberapa milkshake gratis jika kalian beruntung. Setelah pembelian satu kotak Takoyaki kalian diizinkan mengambil undian milkshake,” seorang perempuan yang sepertinya berada pada satu tingkat di bawah Hana datang dengan membawa sebuah brosur mengenai stan kelasnya.

[Yami no Ai]

“Tak kusangka kita akan sama-sama dapat Milkshake bonus!” Hana tersenyum renyah.
“Benar juga ya. Ini lumayan.” Guren Ishikawa memasukan Takoyaki ke dalam mulutnya.
“Aku cukup kaget saat Guren-san datang ke sekolahku. Apalagi sebagai sponsor utama,” Hana membuka pembicaraan.
“Yaah… aku juga cukup kaget bertemu denganmu di sini. Ini… kamu pasti tahu… ini soal bisnis…” Guren mengendikan bahunya bersamaan.
“Aku tahu itu…” Hana membalas candaan pada kalimat Guren.
“Tapi aku senang. Sekolah ini mengingatkanku pada masa-masa sekolah dulu.”
“Nostalgia yang indah sepertinya…”
“Tidak juga. Aku agak pendiam saat bersekolah dulu. Menjadi siswa paling pecundang yang pernah ada. Saat Festival kelas pun aku hanya menjadi tukang kebersihan.”
“Eh…” Hana sedikit terhenyak.
“Menyedihkan sekali…”
Dalam lubuk hati Hana sekarang, Hana tengah sweatdrop. Sudah ia duga Guren akan mengalami hal itu. mengingat betapa bodohnya ia bertemu Guren dulu di tempat pemotongan rambut. Potong rambut saja ia takut.
“Seharusnya jika itu buruk, tidak perlu diingat-ingat lagi,” saran Hana.
“Hahaha benar juga. Omong-omong siapa pasanganmu untuk acara utama nanti?”
Pertanyaan Guren seketika membuat Hana sedikit tercekat.
“Ah… itu… a-aku tidak mempunyainya…” Hana menggaruk pipinya ragu.
“Oh? Benarkah? Lalu pria yang kemarin di tempat potong rambut?”
“Oh? Natsume-kun? Dia temaku. DIa juga satu kelas denganku.” Walaupun sebenarnya Haru Natsume adalah pelayan Hana.
“Begitu…”
“Ya,” Hana tersenyum.
“Kalau begitu… boleh aku meminta sesuatu darimu?” secara tiba-tiba tatapan dari Guren Ishikawa menatap Hana intens.
“Permintaan apa?” Hana sempat ragu.
“Mau menemaniku saat acara puncak? Aku diberi suatu kehormatan untuk menutup acara ini. Tentu saja aku juga harus menikmati acara utama.”
“Eh? T-Tapi kenapa aku? M-makusdku bukankah ada banyak siswi di sini yang cantik.”
“Karena hanya kamu yang ku kenal. Lagipula aku juga sudah keceplosan membicaran masa lalu burukku padamu. Kuharap kamu mau membantuku.” Guren terlihat lesu.
“Memangnya kita harus melakukan apa?” Hana kebingungan.
“Hmm… kita tidak mungkin menari—“
“TENTU SAJA TIDAK MUNGKIN!!” Hana menyela dengan wajahnya yang sangat memerah.
“Bagaimana dengan bergandengan tangan saja?”
Hana terdiam untuk berpikir beberapa saat. Rasa kasihannya pada Guren atas masa lalunya membuat Hana cepat menganggukan kepala setuju.

[Yami no Ai]

Di sini lah mereka berdua sekarang. Bergandengan tangan menatap terang dan panasnya kobaran api unggun. Sesekali beberapa pasangan siswa-siswi menari di depan mereka.
“Jadi seperti ini rasanya menikmati acara utama…” Guren berguman pelan.
Hana hanya menatap dan tersenyum menatap Guren. Turut bahagia atas apa yang Guren rasakan. Walaupun dalam hati Hana agak sweatdrop. Tidak menyangka, CEO sukses ternyata baru merasakan rasa senang acara utama festival kelas di umurnya ini.
“Hei lihat. Bukankah itu Kuroto Hana? Dia bersama Guren Ishikawa!”
“Wah benar! Astaga mereka berniat mengikat sebuah hubungan?”
“Tak kusangka Kuroto Hana bisa mengenal Guren Ishikawa!”
“Bagaimana mungken Guren Ishikawa tertarik pada Kuroto Hana!?”
“Jangan-jangan dia seorang Gay yang akan tobat. Tapi tidak bisa menghilangkan fetishnya yang aneh itu. Sehingga dia memilih Kuroto Hana yang tomboy?”
“Harapanku sirna.”
“Guren Ishikawa bodoh!”
Sementara itu sekelompok perempuan yang terebar di seluruh penjuru lapangan mulai mengeluarkan opini mereka saat tatapan mereka terarah sempurna pada Guren dan Hana.
Hana terserang rasa bergidik secara tiba-tiba.
“Ha ha ha…” Hana tertawa hambar dan sweatdrop.
Siapa sangka menggandeng Guren Ishikawa akan semenyusahkan ini?
Tunggu dulu. Rasanya seperti déjà vu. Dulu hal seperti ini pernah terjadi.
Pagi harinya di Mirai no Gakko seluruh siswi digemparkan dengan sebuah kejadian yang luar biasa. Tentu saja kalau bukan idola mereka--Yoshiki Kuroto--menggandeng tangan seorang gadis berdada rata, berambut pendek, tidak stylis, dan hyperactiv.
Beratus tatapan mengarah tepat kepada Hana. Dari ekspresi marah sampai ekspresi meremehkan terus menghujam kedapa Hana.
'Ha ha ha' tawa Hana hambar. 'siapa sangka digandeng Yoshiki di tempat seperti ini bisa membunuhku' batin Hana.
"Hn" nampaknya si idola tidak peduli dan dengan santainya menggandeng--ah mungkin bagi Hana menarik--Hana.
Kedua sapphire Hana terbelalak lebar. Yoshiki. Yoshiki. Yoshiki.
Ini salah. Ia tak boleh melakukan ini.
Tangannya melepaskan paksa genggaman hangat Guren. Membuat pria itu terkaget dengan tindakan Hana.
“Hana? Ada apa denganmu?” Guren kebingungan.
“M-Maaf! Aku tidak bisa melakukan ini!” Begitu kalimatnya selesai, Hana berlari meninggalkan Guren yang hanya bisa menatap Hana dengan kernyitan pada alisnya.
Bagaimana bisa melakukan hal sekejam ini? Suaminya tengah berusaha melawan para Exorcist sekarang. Bagaimana mungkin dia bisa bersenang-senang dengan Guren Ishikawa!?
“Maaf… Yoshiki-kun…” butiran-butiran air mengalir dari sudut pelupuk mata Hana.

[Yami no Ai]

Guren Ishikawa masih terdiam di posisinya. Membelakangi api unggun dan menatap ke arah terakhir ia melihat Hana menghilang dalam larinya.
Rambutnya yang seharusnya tertata rapi, berjatuhan menutupi matanya. Tangannya meremat udara dengan kuat.
“Hei… ada apa dengan Kuroto Hana?”
“Dia berlari masuk ke bangunan?”
“Sepertinya dia menangis tadi.”
“Menangis? Kenapa?”
“Entahlah. Aku juga tidak tahu.”
Beberapa perempuan yang bergerombol tadi meneruskan gossip-gossip mereka.

‘Untuk sejenak aku bisa merasakan kebahagiaanku saat menggenggam tanganmu. Dan sekarang aku kembali merasa sendiri di tengah kerumunan ini. Senyumu… menyelamatkanku. Kau memberiku kebahagiaan. Apa yang membuatmu terusik hingga kau pergi meninggalkanku? Aku harus mencari tahu itu… karena kau adalah takdirku. Kuroto Hana,’ batin Guren Ishikawa yakin.
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.