Selasa, 18 Agustus 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [chapter 49]

 CHAPTER 49: BLOOD MATTER


Yoshiki gelisah.

Hana bisa melihat semuanya. Seolah ia benar-benar mengenal pria itu luar dan dalam. 

Nafas pria itu sedikit memburu, pandangan matanya tidak fokus, dan kakinya menghentak-hentak saat menyetir. Bahkan Hana bisa menangkap bola mata pria itu berkali-kali melirik ke arahnya seolah sedang memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.

Hingga pria itu menurunkannya dari gendongan di atas ranjang, pria itu hanya sibuk dengan kegelisahannya. Ia melepaskan jas, dasi, dan semua aksesoris merepotkan yang melekat pada dirinya. Pria itu duduk di ujung ranjang yang lain memunggunginya. Cukup lama Yoshiki dalam posisinya, hanya diam tanpa mengatakan apapun. Namun sekali lagi, Hana sangat tahu jika kegelisahan itu telah berubah menjadi keresahan.


.


Ia hanya bisa terdiam merutuki keadaannya yang begitu Hina saat ini. Dirinya yang harus mati-matian menahan rasa haus darah yang menyengat. Dirinya yang harus mati-matian menahan hewan buas yang meraung di dalam dirinya untuk melahap istrinya.

Mungkin ini benar-benar moment terhina dalam hidupnya setelah berabad-abad ia hidup. Dirinya, seorang Lucifer, harus menahan hasrat seksualnya yang menggebu-nggebu setelah ia sendiri terangsang oleh sekitar. Dan sungguh demi apapun ia memang sudah cukup lama tidak menyentuh istrinya. Bukankah hal yang wajar jika seorang suami rindu untuk menyentuh istrinya?

Adik kecilnya yang dibawah sudah bangun dengan sempurna.

Sialan. Ia benar-benar ingin menyetubuhi Hana dengan keras saat ini.

“Sialan.” Makian itu tanpa sadar bocor dari bibirnya.

Ia merutuki dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa begitu mengistimewakan Hana!? Sampai-sampai di saat seperti ini ia sama sekali tidak bernafsu untuk melepaskan hasrat seksualnya pada wanita lain. Ia bisa saja dengan mudah menduakan Hana, menyetubuhi tubuh jalang-jalang di luar sana yang begitu menginginkan dirinya. Tapi demi apapun! Sepertinya Hana benar-benar telah menjadi candu baginya.

Ia ingin Hana ada di bawahnya. Ia ingin Hana dengan tubuh telanjangnya berada dalam rengkuhannya dan mendesahkan Namanya berkali-kali. Ia ingin melihat Hana terpuaskan oleh dirinya. Ia ingin melihat wajah Hana yang telah mencapai kenikmatan bersamanya.

“CK!!” Decakkan itu kembali bocor dari mulutnya.


.


Hana semakin merasa positif dengan pemikirannya. Yoshiki memang tengah menggumulkan sesuatu dalam diam dan decakkannya.

Sampai pria itu berdiri di hadapannya dengan wajah muram dan kakunya, “My Lady….” Namun tak hanya berhenti sampai di situ, sang pria mulai mendekatkan wajahnya padanya, memberikan tatapan memohon yang demi apapun akan jarang Hana lihat, “can we… fuck?”

Hana terkejut bukan main mendengar permohonan Yoshiki barusan. Ia tidak salah dengar kan? Seorang Kuroto Yoshiki? Meminta persetujuan darinya untuk having sex? Kemana perginya Kuroto Yoshiki yang pemaksa dan seenaknya sendiri? Bukankah selama ini keinginan pria itu harus selalu dituruti dan diiyakan bahkan dalam segala kondisi?

Bingung memberikan jawaban apa, Hana hanya bisa mengalihkan pandangannya.

“….” Yoshiki terdiam beberapa saat mendapati respon Hana yang seolah menghindarinya.

Ia memutuskan untuk menyimpulkan jika Hana menolak. Tentu saja.

Kepalanya tertunduk, ia tidak tau lagi, “kalau begitu… maukah kau…. Membantuku dengan mulut atau tanganmu saja?”

Untuk kesekian kalinya Hana kembali terkejut. Benar saja, Yoshiki tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Di bawah sana, milik Yoshiki yang telah mengeras menyembul dari balik celananya. Namun sayangnya ia tak bisa melihat ekspresi sang empunya karena sedang menunduk.

“…. K-kenapa tidak meminta bantuan p-perempuan lain? Aku yakin di luar sana akan banyak wanita yang akan dengan senang hati membantu Yoshiki-kun.”

Seketika itu juga Yoshiki mendongkakkan wajahnya, menatap Hana dengan tatapan tidak percaya.

‘Aku suamimu! Kau membiarkanku menyentuh jalang lain di luar sana!?’ Tatap Yoshiki getir.

Hana bisa melihat, kedua tangan Yoshiki yang ia gunakan untuk menyanggah tubuhnya pada ranjang terlihat mengepal kuat dan gemetar. Sejenak, pria ini marah.

Pria itu menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya beranjak, “baiklah bila begitu,” tanpa menunjukkan ekspresi wajahnya pria itu menuju kamar mandi.

“…..” Hana sendiri hanya bisa menatap punggung sang pria yang menghilang di balik pintu kamar mandi.

CKLAK

Pintu kamar mandi tertutup sempurna. Hanya terisisa dirinya di dalam kamar berukuran kecil iku. Diletakkan pantatnya pada kloset.

Sejenak ia hanya duduk dan merutuki keadaannya.

Untuk pertama kalinya. Dari sejarahnya yang panjang sejak ia dibuang ke dunia manusia, seorang raja iblis sepertinya harus bermasturbasi sendiri untuk menenangkan adik kecilnya.

Harga dirinya akan hancur. Tentu saja. Tapi hal itu bukanlah masalah jika Hana saja yang mengetahuinya.

Dengan enggan ia menurunkan celananya. Di sana, kejantanannya masih berdiri tegak.

“Hhhh…..” Ia hanya bisa mendesahkan nafas berat depresi.

‘Sialan.’

Sebuah bayangan tanpa diminta lewat di dalam kepalanya. Sebuah bayangan ketika istrinya sibuk menggenggam dan mengocok miliknya hingga menimbulkan kenikmatan tersendiri baginya.

Ketika isi kepalanya mempermainkannya, ia tanpa sadar sudah mempermainkan adiknya sendiri di bawah sana. Kedua pandangannya terpejam, ia sibuk membayangkan dan menginga-ingat bagaimana istrinya memanjakkan miliknya. Pijatan demi pijatan, jilatan demi jilatan, kocokan demi kocokan, kuluman demi kuluman, hisapan demi hisapan. Ia mengingat semuanya. Bagaimana ekspresi wanitanya yang begitu nakal memberinya kenikmatan tersendiri.

“M-My Lady….”

Membutuhkan asupan lebih lagi, bayangannya berubah menjadi bagaimana Hana tengah duduk di hadapannya dengan bertelanjang badan, dengan keduanya telah disatukan di bawah sana. Bagaimana wanitanya itu bergerak ke atas ke bawah memompa miliknya, bagaimana kedua dada kecil wanitanya itu bergerak sesuai irama, bagaimana wanitanya itu bernafas terenggah-enggah merasakan kenikmatan yang sama dengannya, bagaimana wanitanya itu mendesah dan meneriakkan namanya di tengah kenikmatan.

“Argh—My.. Lad—”

Ia keluar.

Ketika ia membuka mata yang terlihat hanya betapa memalukan dan hinanya dirinya yang berusaha memberikan kenikmatan pada dirinya sendiri.

Selamat Kuroto Yoshiki, kau menghancurkan harga dirimu sendiri karena seorang wanita.

Hukuman Tuhan? Oh mungkin saja. 

‘Sialan.’

Pintu kamar mandi kembali terbuka, sang raja iblis yang baru saja melakukan ritual penenangan adik kecilnya keluar dengan wajahnya yang tak bisa dibaca. Sebaliknya, Hana malah menatap kaget sang raja iblis dengan wajahnya yang luar biasa memerah. Tak memperdulikan hal itu, Kuroto Yoshiki pergi meninggalkan kamar.

“….” Hana masih terdiam melihat punggung lebar iblis itu meninggalkan kamar tanpa satu suarapun.

‘AAAAAAAAAAA—’ Namun batinnya meronta-ronta. Wajahnya yang padam seolah menjelaskan semuanya.

‘D-Dia meneriakkanku—’ Pikiran Hana kacau. Ia tak bisa berhenti memikirkan bagaimana pria yang berusaha ia tinggalkan itu berada di dalam kamar mandi, memanjakan dirinya sendiri dengan membayangkan sesuatu yang berkaitan dengannya.

‘Astaga astaga astaga! Yoshiki-kun!’ Semakin ia membayangkannya semakin malu dirinya.

.

Beberapa hari berlalu sejak kejadian malam itu. Hana sudah dilepaskan dari pengaruh obatnya, namun tidak ada kebebasan sama sekali baginya. Ponselnya diambil alih, ia hanya bisa bergerak di dalam kamar tidur sementara di luar penjagaan benar-benar ketat. 

Sementara Kuroto Yoshiki sejak hari itu benar-benar berwajah suntuk. Seperti pria itu benar-benar sudah lelah menjalani hidupnya.

“Hoi! Kamu kenapa sih?”

Di tengah asyiknya ia menikmati kesendiriannya dengan menenggelamkan diri dalam wine berkualitas tinggi, seorang pria berambut jabrik merah tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.

“Tomuro…” ia hanya bisa mendesah malas.

“Kamu seperti mayat hidup,” mulut Tomuro memang selalu seenaknya.

“Aku belum meminum darahnya.”

“Astaga kau kecanduan setelah meminum darahnya bulan penuh itu?” Pria berambut jabrik itu menuangkan vodka pada gelasnya.

“Aku bahkan belum meminum darahnya sejak malam itu.”

“Ha? Apa?”

“….”

“…”

“….”

“Sama sekali? Belum meminum darah My Lady?”

“Hn.”

“Sex juga?”

“Bagaimana aku bisa menyentuh tubuhnya jika darahnya saja tidak berhasil kudapatkan?”

“BUODOOOO! KAMU INI MIKIR APA SIH SAMPAI TIDAK MEMINUM DARAHNYA?? LAGI PULA BAGAIMANA BISA KAMU BERTAHAN TIDAK MENYENTUHNYA MALAM ITU?”

“….” Tidak ada jawaban dari Yoshiki.

“Hei hei! Ayolah My Lord! Lihat kondisimu! Seperti zombie! Sadarlah hei! Ayo minum darahnya!”

“Dia akan semakin membenciku Tomuro,” Yoshiki meneguk winenya dengan pandangannya yang hambar itu tertuju kedepan, entah memandang apa.

“ARGGGHH!! Demi anjing peliharanmu yang suka memakan kakiku! Kamu sudah sinting ya? Kenapa kau jadi sensitive sekali mengenai perasaan? Jangan jadi semakin menjijikkan!”

“…” Sekali lagi Yoshiki tidak memberikan sepatah kata pun jawaban.

“Hadeeeh, kalau begitu di mana My Lady sekarang? Kamu melepaskan dia lagi supaya dia bisa minggat lagi sama mantannya itu?”

“Dia ada di kamar.”

“Oh baguslah, masih agak terhormat ah ya. Kukira kamu akan meletakkannya pada penjara bawah tanah,” Tomuro mulai beranjak dari kursinya setelah menegak habis winenya.

“Itu akan menjadi pilihan terakhir jika dibutuhkan.”

“Well…”

Dari balik jubah merah hitamnya, Tomuro Arashi meninggalkan sang raja untuk menemui sang ratu.

.

“Salam!” Bersamaan dengan teriakan itu, pintu dua kusen yang menjadi penghalang Hana merasakan kebebasan terbuka lebar.

Pria berambut jabrik merah mencolok itu membentangkan kedua tangannya penuh semangat, ditambah senyum sumringah di mulutnya itu sungguh terlihat aneh dengan tabiatnya yang seorang kaki tangan Lucifer.

“Tomuro-kun…” Hana mengucapkan nama pria itu.

“Yo! Lagi ngapain?” Pria itu mendekati sang perempuan yang tenga duduk di tepi ranjang.

“Membaca light novel.”

“Oooh… kamu mau baca sebanyak ini?” Tomuro meraih tumpukan buku yang berada di nakas.

“Mau bagaimana lagi kan? Aku dipenjara di sini. Tanpa ponsel, tanpa laptop, tanpa internet. Aku bisa mati kebosanan.”

“Ya itu kan salahmu sendiri,” jawab Tomuro asal.

“Salahku? Bagaimana bisa?”

“Dih! Anak ini masih belum sadar juga? Dasar bodoh!” Disentilnya dahi lebar Hana.

“Ouch! Sakit astaga! Kenapa sih?” Hana mengusap dahinya yang memerah dengan kesal.

“Coba bayangkan jika Yoshiki memberimu akses internet, orang pertama yang akan kau hubungi pastilah… si Yasumoto itu kan?”

DEG

Hana teridam menyadari jika tebakan Tomuro memang sangat tepat sasaran.

“Tuhkan… benar.”

Hana hanya bisa menundukkan kepalanya, “aku hanya ingin tau kondisinya, lagi pula ini semua salahku karena telah menyeretnya ke dalam masalah ini.”

“Yoshiki akan cemburu kamu tau.”

Hana menatap Tomuro tidak percaya, “Aku hanya ingin tau keadaannya Tomuro-kun! Kenapa Yoshiki-kun harus cemburu karena hal itu?”

Tomuro mengangkat kedua bahunya sekilas, “entahlah. Aku juga terkadang tidak bisa memahami pola pikirnya. Dia tidak akan jadi Lucifer jika pola pikirnya mudah ditebak,” pria dengan rambut merah itu terkekeh, “tapi yang jelas kamu adalah kebanggannya, kebanggaan yang telah lama ia cari selama ia hidup di muka bumi ini lebih dari beribu tahun lamanya.”

Tidak ada jawaban dari Hana.

“Oke, saatnya membicarakan apa yang menjadi tujuanku ke sini.”

Hana mendongkakkan kepalanya tertarik.

“Kamu sudah meminum darah Yoshiki kan?”

DEG

Hana terdiam. Bukan karena ada suatu perasaan dari dalam dirinya. Tapi karena tatapan Tomuro. Tatapan pria itu benar-benar seperti sedang mengintimidasinya. 

Glup.

Susah payah ia menelan liurnya.

“I-Iya.”

“My Lady, malam itu semua makhluk dunia bawah akan kehilangan banyak energi, oleh sebab itu pengisian energi harus kembali dilakukan tergantu individunya. Ada yang memakan jiwa, memakan daging, meminum darah, terserah. Lalu kenapa kamu meminum darah? Kamu tau?”

Hana menggeleng lemah. Memang hal ini menjadi pertanyaan terbesar bagi Hana.

“Karena kau diikat dengan perjanjian darah bersama tuan kami. Lucifer.”

Hana mengangguk-angguk mengerti. Sekarang pertanyaannya telah terjawab.

“Bagaimana rasanya begitu haus akan darah Yoshiki?”

“Menyiksa. Itu benar-benar pertama kali bagiku merasa begitu haus dan tersiksa. Seolah-olah diriku sedang disetir oleh sesuatu yang buas yang bukan diriku.”

“Lalu?”

“Setelah aku meminum darah Yoshiki-kun…” Tanpa sadar tangan Hana bergerak memegang lehernya, “rasanya begitu lega dan menenangkan,” ucapan Hana semakin lirih.

“Perjanjian darah akan sempurna dan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak jika keduanya saling memberikan darah. Yoshiki…” Tiba-tiba saja wajah Tomuro semakin mendekat ke arah Hana bersamaan dengan tatapan tajamnya, “tidak meminum darahmu kan?”

“Eh? T-tidak…” Hana menjawab gagu akibat tatapan Tomuro.

“Yoshiki memang sang raja iblis, ia tidak terlalu merasakan efek seperti kehausan seperti itu secara langsung, tapi tetap saja, DIA MEMBUTUHKAN DARAHMU!”

Hana luar biasa shock. Pertama kali baginya melihat iblis merah ini begitu marah dan berteriak padanya. 

“T-Tapi Yoshiki-kun tidak mengatakan apapun padak—” Hana terdiam. Ia mengingat bagaimana pria itu berusaha mengatakan sesuatu padanya kemarin namun tak jadi diungkapkan, dan wajah pria itu begitu terlihat menyedihkan memang saat itu.

Tomuro terdiam sejenak membaca ekspresi Hana, “dia mengatakannya padamu kan?” Tebak Tomuro.

Tak ada jawaban dari Hana.

“Dia, raja iblis bodoh itu takut jika kau akan semakin membencinya jika menyakitimu. Aku tidak menyangka dia akan menjadi semenijijikkan ini karenamu,”

Sekali lagi Hana tak memberikan jawaban.

Helaan nafas keluar dari mulut sang iblis merah, “dia tidak mendapat darah darimu…. Dan kutebak kalian tidak akan berhubungan sex juga kan?”

Kepala Hana terdongkak dengan wajah memerah, “a-apa?”

“Selain saling berbagi darah biasanya hasrat untuk sex juga akan timbul.”

“A-aaa—” Wajah Hana semakin padam.

“Namun sepertiya mustahil bagi kalian berdua yang sedang…” Kalimat Tomuro terhenti begitu melihat wajah Hana yang telah memerah padam, “kalian berhubungan sex?”

Dalam kepala Hana teringat bagaimana Yoshiki mendesahkan namanya. Hana akui suara pria itu benar-benar sexy sehingga mampu membuat seluruh bagian tubuhnya memanas.

“T-tidak mungkin kan,” Hana memalingkan wajahnya yang memerah.

“Lalu kenapa wajahmu memerah?”

“H-Habis Tomuro-kun menanyakan sesuatu seperti itu dengan gambalangnya!” Tak tahan akan malu Hana melempar bantalnya ke arah wajah sang iblis merah.

“Padahal pembicaraan ini cukup umum,” sang iblis merah menangkap bantal yang dilemparkan sebelum mengenai wajahnya.

“Umum apanya. Sudah pergi sana!”

“Baiklah baiklah My Lady,” Tomuro hendak melangkah keluar kamar, “berikan darahmu secepatnya. Ingat itu,” sebelum akhirnya pintu kamarnya tertutup.

Read More ->>

Sabtu, 01 Agustus 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [chapter 48]

Chapter 48: For Your Sake

“Ah. Maaf karena tidak mengenali anda My Lady,” ketiga pria dengan jabatan yang luar biasa itu menundukkan kepalanya kepada Hana.
Namun sayangnya Hana tidak bisa memberikan respon kepada pria-pria itu. Untuk menangguk mungkin bisa ia lakukan namun harus banyak tenaga ia berikan.
Yoshiki yang menyadari jika ketiganya menyadari keanehan Hana yang tidak bergerak mengucapkan, “dia sedikit sakit hari ini.”
“Akan kuantar kau ke tempat yang bisa membuatmu santai,” ucap Yoshiki pada Hana sebelum ia mendorong pergi kursi roda Hana dari kerumunan.
Kursi roda itu berhenti berputar ketika telah mencapai ujung ruangan yang cukup sepi.
Didekatkan wajahnya pada wajah Hana dan berujar lembut seolah menanangkan sang istri, “Tunggu aku sebentar di sini, ok?” 
Tentu saja tidak akan ada respon dari Hana.
Yoshiki tersenyum tipis, diusapnya rambut Hana yang telah tertata rapi, “jadilah istri yang baik,” setelah itu Yoshiki meninggalkan Hana menuju kerumunan para orang penting.
Alunan jazz di dalam ruangan menggema dari seorang wanita berkulit hitam. Perempuan itu mengalunkan nada-nada indah di atas panggung dan dihujani oleh kilatan kamera. Benar juga, perempuan itu peraih penghargaan internasional yang Hana lihat di iklan beberapa hari lalu. Ta khayal, pesta ini benar-benar hanya berisi orang-orang luar biasa. Tentu saja luar biasa bahkan sampai dua iblis besar termasuk di dalamnya. 
Akibat kejadian kaburnya dirinya, Hana menduga pesta ini telah sampai di penghujung acara. Hanya tersisa waktu ramah tamah.
Di sana pria yang menyebut suaminya tengah berdiri di tengah perkumpulan beberapa pria berjabatan penting lainnya. Walau tak bisa mendengar apa yang tengah diperbincangkan oleh perkumpulan itu, Hana hanya merasa yakin jika ucapan mereka akan sangat berpengaruh pada laju pertumbuhan dunia ini.
Tak jauh dari sana terlihat meja penuh dengan hidangan pembuka yang benar-benar bisa mengocok isi perut Hana setelah insiden kejar-kejaran tadi. Sepiring salad sepertinya tidak cukup. Ia harus mencoba beberapa muffin dan krim kocok. Ditambah es krim mungkin? Oh ada pancake juga astaga!
Sayangnya Hana harus menelan semua keinginannya itu dalam satu tegukan ludahnya. Tubuhnya sangat susah digerakkan. Yang benar saja! Rasanya ia ingin membunuh Yoshiki saat ini.
“Anda menginginkan float, lady?”
Suara asing yang tiba-tiba membuat Hana melirik seketika kea rah sumber suara. Susah payah ia menggerakkan lehernya. Namun sepertinya ia tak menyesali segala susah payahnya. Pasalnya pemuda yang mengajaknya bicara ini benar-benar tampan dan manis. 
“Saya lihat dari tadi sepertinya lady terus menatap kea rah floatnya, apa mau saya bantu ambilkan?”
Oh demi dewa apapun! Pemuda ini tidak hanya tampan tapi juga sangat baik hati!
Satu anggukan yang susah payah Hana berikan. Pemuda itu dengan tersenyum mengambilkan float coklat yang entah bagaimana bisa sang pemuda tau apa keinginan Hana.
“Silahkan.”
Dan ya, Hana luar biasa malu. Bagaimana mungkin ia bisa membiarkan sisi lemahnya dilihat oleh pemuda baik dan tampan ini! Bahkan pemuda itu mau repot-repot menggenggamkan gelas kecil float pada tangan Hana.
“Maaf tiba-tiba mengganggu anda. Habisnya saya tidak tau harus berbicara dengan siapa di sini. Saya hanya datang mewakili ayah saya yang sakit. Ayah saya hanya pegusaha otomotif newbie dan beliau sangat senang menerima undangan semegah ini. Saya kira acaranya akan seperti apa. Ternyata isinya benar-benar orang luar biasa. Saya jadi takut berbicara dengan siapapun di sini, haha,” pemuda yang sudah mengambil tempat duduk di samping Hana itu mulai bercerita tanpa diminta.
Begitu rupanya. Hana mulai sedikit banyak tau mengenai perasaan pemuda ini. Lagipula siapa yang tidak akan canggung dengan pesta semegah ini?
Dibalik alisnya yang hanya bisa terangkat itu tentu saja Hana sangat ingin mengatakan banyak hal pada pemuda itu. Tapi berbicara satu kata akan cukup menguras energinya!
Pemuda itu menyadari tatapan sedih Hana untuknya, “Hahaha, lady tidak perlu menatapku sesedih itu.”
“….” Yoshiki diantara para kerumunan orang luar biasa itu hanya menatap kosong ke arah Hana yang tengah menatap seorang pemuda yang bicara padanya. Gelas anggur di tangannya ia goyang-goyangkan tanpa alasan. Sesuatu di dalam dadanya lagi-lagi terasa sakit. Hana yang membencinya sekarang bisa akrab dengan seorang pemuda asing begitu saja?
“My Lord, apakah istri anda sedang sakit? Karena saya lihat tadi My Lady berada di kursi roda,” ucap seorang pria padanya.
“Hn, stroke ringan,” jawab Yoshiki seenaknya.
“Ah cincin pada jari anda sangat indah Lady! Sungguh cincin pernikahan yang indah! Walaupun bukan seorang ahli berlian, saya sangat yakin jika berlian itu benar-benar luar biasa!” Lagi-lagi sang pemuda memberinya pujian, “suami anda pasti sosok yang luar biasa!”
Sayangnya bagi Hana hal itu bukanlah pujian.

.

“Hn, kau melupakan sesuatu My Lady,” ujar Yoshiki tiba-tiba ketika mobil telah berhenti sempurna.
Walau sapphire Hana hanya memberikan tatapan tidak suka, Yoshiki tetap meraih jemari kanan Hana dan menyelipkan sesuatu di sana. 
Hana kaget bukan main. Benda yang ia yakin sudah ia lempar ke dalam waduk itu telah kembali terpasang pada jari manisnya. Bahkan tidak ada bercak lumpur atau kotor sama sekali di sana. Seolah berlian yang bersinar indah itu tengah mengejekknya.
“Dengan begini, semuanya akan tau jika kau milikku,” diarahkannya jemari Hana pada wajahnya dan dikecupnya lembut punggung tangan Hana sambal berguman, “milik Kuroto Yoshiki seorang.”

.

Meningat hal itu mampu membuat Hana menggertakkan giginya kesal. Ingin sekali ia menyibakkan tangannya dan menampar Yoshiki habis-habisan saat itu.
“Saya penasaran suami anda yang mana—ah es krimnya hampir mencair!” Pemuda itu dengan cekatan meraih es krim yang tadinya ia genggamkan pada tangan Hana sebelum tetesan air pada permukaannya mengenai dress Hana.
“Lady, saya turut bersedih atas kondisi anda. Umm, jika anda berkenan, mungkin saya akan membantu anda menyuapkan es krim yang sedikit mencair ini. Anda menginginkannya bukan?” Bersusah payah Hana mengangguk demi menjawab permintaan manis sang pemuda. Sepertinya Tuhan baru saja mengirimkan malaikat kepadanya.
“Baiklah…” diambilnya sesendok kecil es krim untuk diarahkan pada mulut Hana.
“Dia tidak bisa memakan es krim.”
Ucapan berat Yoshiki tiba-tiba menginterupsi keduanya.
“Oh? Begitukah? Maafkan saya bila begitu. Apakah Tuan istri dari Lady ini?” Pemuda itu berujar sopan sembari meminta maaf.
“Hn. Terima kasih telah menemani istriku,” Yoshiki menjawab dengan nada datarnya, “apa kalian berdua sudah selesai? Jika ya, kami permisi.”
“Uh. I-Iya,” sang pemuda hanya menjawab kikuk saat melihat Yoshiki sudah mendorong kursi roda Hana menjauh menuju berada.
Hana tidak bisa melakukan apapun dengan kondisi tubuhnya yang hampir lumpuh sementara Yoshiki terus mendorong kursi rodanya menuju beranda. Beranda itu benar-benar luas bertaburkan cahaya bintang-bintang pada langit malam yang cerah.
 “Aku memintamu menjadi istri yang baik bukan My Lady?” Yoshiki berguman tiba-tiba saat keduanya tiba pada tepian beranda, “istri yang baik tidak akan membuat suaminya cemburu bukan?”
Hana terbelalak bukan main mendengar kalimat Yoshiki.
Melihat Hana yang seolah hendak melayangkan protes, Yoshiki menghelakan nafasnya berat. DIkeluarkannya sebuah jarum suntik yang terisi penuh oleh sebuah cairan bening.
Ketakutan kembali menjalar pada seluruh tubuh Hana. Trauma yang sudah diberikan Yoshiki mengenai kondisi tubuhnya kembali menghantuinya.
“Tenang saja. Obat ini justru adalah penawar pelumpuh yang sebelumnya. Kau ingin berbicara kan?” Diraihnya tangan Hana untuk disuntikkannya penawar itu dengan volume tidak melebihi dari 0,2 mL saja.
Penawar itu bekerja dengan cepat. Tubuh Hana yang awalnya terasa berat sedikit demi sedikit mulai terasa ringan dan ia merasa bisa menggerakkan mulutnya untuk berbicara.
“Aku benar-benar tidak mengerti Yoshiki-kun.” Itu kalimat pertama yang diucapkan Hana.
“Hn?” Salah satu alis Yoshiki terangkat, “apa yang tidak kau mengerti?”
“Semuanya. Yoshiki-kun sebenarnya kenapa? Aku hanya berbicara kepada seseorang dan Yoshiki menganggapnya aku berselingkuh dengan orang itu sampai-sampai Yoshiki-kun cemburu?”
Yoshiki menerima segelas wine dari baki pelayan, “tidak. Aku… memang cemburu pada pemuda itu. Dalam artian… sejak tadi kau hanya menatapku penuh kebencian, ketidaksukaan, dan permusuhan. Tetapi tatapanmu pada pemuda itu cukup lembut,” digoyang-goyangkannya wine dalam gelasnya, “aku…. Cemburu akan hal itu. Katakanlah aku iri pada posisi pemuda itu yang bisa menerima tatapan seperti itu darimu.”
“Kalau begitu siapa yang tidak akan marah jika disuntik dengan pelumpuh tiba-tiba?”
Yoshiki menyesap winenya, “aku hanya berusaha meminimalisir kesempatanmu untuk meninggalkanku lagi. Lagipula ini juga demi kebaikanmu.”
“Kebaikanku? Bagaimana bisa ini disebut dengan demi kebaikanku!?”
“Selain sebenarnya aku sangat ingin mengenalkanmu pada beberapa rekan bisnisku, ada hal lain yang cukup khusus hari ini.”
Hana hanya menunggu Yoshiki kembali melanjutkan jeda pada kalimatnya.
“Malam ini bulan akan menjadi sangat dekat dengan bumi. Siklus ini hanya terjadi sekitar satu windu sekali. Yang mana energi yang menjadi sumber kehidupan makhluk bukan manusia akan lebih banyak terhisap. Dan waktu puncaknya adalah—”
“AAAARGGGHHHHH!!!”
“KYAAAAAA!!”
Bersamaan dengan itu teriakan kekacauan membahana di dalam hall. Suara pecahan, bantingan, sesuatu berjatuhan seperti menjadi sebuah orkesta kekacauan di dalam sana.
“A-Ada apa?” Tatap Hana bingung.
“Sudah dimulai.”
“Apanya yang sudah dimulai Yoshiki-k—t-tunggu…” Rasa haus dan lapar seolah menghajar isi perut Hana tiba-tiba.
“Sebenarnya pesta ini memiliki panggung tersendiri. Para penghuni dunia bawah mengumpulkan manusia untuk dijadikan santapan saat ini.”
Hana entah meraung entah menggertakkan giginya, bersusah payah mempertanyakan hal yang sama, “i-ini… ada apa?”
“Intinya, malam ini energimu benar-benar habis. Dan kau harus segera mengisinya ulang. Seperti mereka,” dengan tenang Yoshiki menunjuk ke arah hall yang menunjukkan kekacauan di aman para iblis bertopeng manusia mulai memangsa entah darah, daging, ataupun jiwa mereka.
Hana membelalakkan kedua matanya kaget.
“Oleh sebab itu malam ini kau harus ada di dekatku tidak peduli apapun,” Yoshiki dengan santai melepas dasinya, melepas dua kancing teratas tuxedonya untuk memperlihatkan lehernya yang jenjang dan kekar kepada Hana, “karena kau akan sangat membutuhkanku sebagai pengikat perjanjian darah.”
DEEGGG.
DEG.
Tubuh Hana seolah tergoncang luar biasa melihat leher Yoshiki yang tanpa pertahanan.
“Kau tidak akan bisa menahannya. Seperti manusia yang membutuhkan makan. Kau membutuhkan asupan darah saat ini juga,” Yoshiki menatap Hana datar.
Bau anyir merekah dari seluruh penjuru hall terbawa angina melintasi indra penciuman Hana. Sesuatu seperti binatang meraung-raung di dalam diri Hana tak terkendali. Bau darah benar-benar membuatnya tertelan oleh kegilaan.
GRATAAAKK
Tanpa ia sadari ia sudah bangun dari kursi rodanya dan telah meraih kedua bahu Yoshiki. Dirinya yang tadi lumpuh dan hanya bisa berbicara sekarang benar-benar bisa bergerak dengan bebas. Gila memang hasrat terpendam di dalam dirinya yang begitu menginginkan darah.
Mati-matian ia menahan kesadarannya yang seolah semakin tertelan oleh dirinya yang lain.
“I am all yours, My Lady.”
Kalimat itu seolah menjadi lampu hijau bagi kegilaan Hana. Tubuhnya bergerak cepat untuk menancapkan kedua gigi taringnya ke dalam leher Yoshiki. Begitu cairan merah itu menyentuh lidahnya, tidak ada siapapun yang bisa menghentikan dirinya untuk melepaskan dahaga.
Ia hanya bisa menyesal walaupun tenggorokkannya tak pernah berhenti menelan gumpalan merah darah sang raja iblis.
“….” Yoshiki menatap ke arah lain saat Hana telah mencapai ketenangannya dalam menikmati darahnya.
“Minum saja sebanyak yang kau mau.”
Entah karena keduanya sedang terhubung atau karena Hana sedang meminum darah Yoshiki, entah mengapa saat Yoshiki mengatakan kalimatnya yang barusan Hana bisa merasakan jika Yoshiki tengah berbahagia. Seolah darah Yoshiki yang ia minum memberitahu jika sang empunya sedang berbahagia. Hana hanya tau, Yoshiki berbahagia saat itu.
Perlahan Hana melepaskan gigitannya begitu ia sudah merasa penuh. Ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Namun Yoshiki mengangkat dagu Hana, membuat wajah campur aduk Hana terlihat jelas tanpa gangguan. Sedih, ingin meningis, marah, kecewa, semuanya ada di sana.
“…. Tidak perlu meyalahkan dirimu sendiri, hal ini wajar bagi semua makhluk dunia bawah,” Yoshiki mengusap sisa-sisa darah yang berceceran pada bibir Hana dalam sekali usap.
Kebahagian yang ia rasakan ketika ia memberikan darahnya untuk istrinya perlahan-lahan sirna ketika ia sampai pada pemikiran apakah istrinya ini menyesal setelah menjadi iblis?
“…..” Yoshiki masih sibuk mengamati ekspresi Hana, sebelum perempuan itu menarik wajahnya dan kembali menunduk.
“My Lady—” kalimat itu tidak bisa ia lanjutkan.
Ia juga menginginkan darah Hana. Istrinya. Pertukaran darah akan sempurna jika sang pengikat perjanjian saling memberikan darah. Namun dengan kondisi yang seperti ini, Yoshiki tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya tidak ingin membuat Hana semakin membencinya.
“…” Hana hanya memberikan lirikan begitu mendengar dirinya terpanggil.
“—Tidak,” Yoshiki meraih tubuh Hana untuk ia gendong, “ayo kita pulang.”
Hana kembali dibuat kaget bukan main. Lantaran tubuhnya kembali terasa lumpuh. Rupanya hasrat gila tadi hanyalah sementara. Setelah ia puas mendapatkan darah Yoshiki, tubuhnya kembali lumpuh.
Hall benar-benar kacau. Seluruh lantai dan dinding dipenuhi bercak darah. Katakanlah bagai tempat pembantaian massal. Tidak hanya pembunuhan, bahkan pemerkosaan massal terjadi di tempat ini. Tubuh-tubuh telanjang dan terpotong-potong berserakan di seluruh penjuru lantai.
“Mereka succubus,” Yoshiki menjelaskan begitu pandangan Hana tertuju pada perkumpulan perempuan yang tengah memperkosa beberapa pria, “mereka mengambil daya hidup manusia dengan bersetubuh.”
“Anda pulang, My Lord?” Tegur seorang pria tua yang sibuk menggoyangkan pingganya untuk perempuan di hadapannya. Parahnya perempuan itu benar-benar terlihat teler.
“Hn, jangan terlalu keras pada istrimu Benny,” Ujar Yoshiki sambal berlalu.
Dari sudut matanya Hana bisa melihat, pria gendut yang disebut sebagai Benny itu mengigit leher sang wanita, ia menghisap darah wanita itu di tengah persetubuhan mereka.
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.