CHPATER 24: HOW THE TRIP BEGINNING
“Ah aku mau keripik kentang juga!” dengan pengucapan yang tergesa-gesa setelah menelan sebongkah kue manju—yang merupakan hasil rampasan dari kursi depan—Hana berusaha meraih keripik kentang kursi tengah.
“Sudah sudah! Kamu sudah terlalu banyak makan Hana!” Omel salah satu siswi.
“Sedikit saja! Jangan pelit dong!” Hana berusaha meraih keripik kentang yang dijauhkan daripadanya. Walaupun kepalanya terpusat pada keripik kentang tetapi tidak dengan sapphire-nya yang terus bergerak ke segala penjuru mencari sang kepala jagged biru dongker.
“Woops kena!” Hana berhasil meraih sejumlah kripik kentang.
“Makasih ya! Hehe!” sambil nyengir lima jari Hana meninggalkan kursi tengah.
Hana membuka pintu gerbong dengan salah satu tangannya yang kosong.
Ia tak berhasil menemukan Yoshiki di dalam gerbong. Pilihan terakhir adalah Yoshiki berada di ruang pemisah antar gerbong.
Benar saja. Sosok yang dicari Hana tengah berdiri menghadap pemandangan luar. Seperti biasa, kedua tangannya juga ia sembunyikan ke dalam kantung celananya.
“Lagi-lagi menyendiri,” sindir Hana. Ia memasukan kripik kentang hasil meminta paksanya ke dalam mulut.
“Hn,” Yoshiki menoleh pelan.
“Mau?” Hana menyodorkan keripik kentang di tangannya dengan wajah polos.
Yoshiki sweatdrop melihat tingkah Hana. “Kau sudah memakan berapa jenis makanan? Padahal kereta baru saja berangkat.”
“Entah. Banyak,” Hana menyuapkan kripik kentang terakhir. Setelah itu ia sedikit mendongkakkan kepalanya, melihat ke dalam gerbong, “muehehehe, selanjutnya aku ingin coklat.”
“Kau membeli pakaian renang juga tadi?” Tiba-tiba Yoshiki bertanya.
“Ah, tidak. Yui yang membelikan paksa untukku,” Hana sweatdrop.
“Hn…” hanya dibalas gumanan ambigu oleh Yoshiki.
“Umm? Kenapa?”
“Tch, kau akan mengumbar tubuhmu jika memakai pakaian renang. Dan mata seluruh lelaki akan dengan bebas memandanginya.”
“Eh? Hahahaha, tidak akan ada yang memandangku Yoshiki-kun. Tubuh Yui jauuuuh lebih bagus daripada aku,” Hana tertawa kecil.
DUK
Semuanya terlalu tiba-tiba. Dalam hitungan detik, Yoshiki telah mengurung Hana diantara dinding gerbong dan dirinya.
“Ishikawa Guren sialan itu telah dengan bebas memandangi tubuhmu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kala itu, dan sekarang harus berpuluh-puluh pria yang harus memandangi tubuhmu?”
Hana benar-benar terkejut karenanya.
“Wow wow, tenang Yoshiki-kun,” keringat dingin bercucuran di sekitar pelipis Hana. Walau hal seperti ini kerap terjadi, tetapi dikunci di tempat umum seperti ini tetap membuatnya ketakutan.
“A-aku tidak akan memakai pakaian renangnya oke?” Sekarang yang bisa ia lakukan hanya menangkan suaminya.
Dengan perlahan pria jagged itu melepaskan Hana, ia menghela nafas sejenak, “baguslah.”
“Good girl,” Yoshiki dengan wajah datarnya mengusap rambut kelam Hana.
SREEEEG
Pintu geser gerbong terbuka dan menampakkan sosok Rui.
“Loh? Di sini? Pantas di dalam tidak ricuh. Tukang rampas makanan sedang dijinakkan rupanya,” Rui melewati keduanya dengan santai menuju toilet.
Wajah Hana seketika memerah padam.
.
Akhirnya 4 jam perjalanan dari Tokyo ke Nara telah ditempuh. Sang raja iblis harus bertahan duduk di kursi kereta yang biasa saja kenyamanannya ditambah suara bising dari ributnya kelas 3-4. Walaupun keberisikan yang paling mendominasi adalah keberisikan istrinya sendiri, Kuroto Hana yang berusaha mencuri makanan dari tiap kursi dan bercanda dengan suaranya yang nyaring dan cempreng.
“HUWAAAAA UDARA NARA!” Hana melebarkan kedua tangannya begitu ia keluar kereta. Seolah bisa menyerap segala udara yang ada di sekelilingnya, Hana membuka mulutnya lebar-lebar bernafas dengan mulutnya. Dan membuangnya dengan wajah lega.
“Baru pertama kali ini ke Nara?” Amagawa muncul dari belakang Hana membawa tas berat di punggunnya.
“Ya!” Hana mengangguk semangat namun beberapa detik kemudian ia menyadari barang-barangnya yang belum ia angkut keluar, “oh gawat! Aku lupa barang-barangku!”
Hendak saja Hana kembali memasuki kereta, Yoshiki muncul menggendong dua buah tas dan salah satunya adalah miliknya. Dan tepat setelah Yoshiki keluar, pintu kereta tertutup.
“Wuooooh! Penyelamatku!” Diterjangnya tubuh Yoshiki dengan sebuah gelayutan manja.
“Hn, dasar ceroboh,” ucap Yoshiki datar.
Semua siswa yang melihat itu sweatdrop ria.
.
“Ayah! Ibu! Aku pulang!” Nashiro Amagawa membuka pintu tradisional dengan bersemangat.
“Waaah! Selamat datang Nashiro! Oh selamat datang juga teman-teman Nashiro. Terima kasih telah berteman dengan Nashiro. Silahkan menikmati penginapan keluarga Amagawa,” ibu Nashiro menyambut seketika.
“Terima kasih, maaf merepotkan,” beberapa siswa menjawab sebelum memasuki penginapan.
Bunyi deringan ponsel pertanda email masuk dari tiap-tiap ponsel milik siswa 3-4 yang memenuhi koridor penginapan menggema dalam beberapa detik. Semuanya Nampak kebingungan dan segera mengecek ponsel masing-masing.
“Itu pembagian kamar kalian. Silahkan menikmati,” dari arah pintu masuk Maki nyengir lima jari.
“Hei hei, tunggu. Kenapa kamu yang tentukan?” seorang siswa memprotes.
“Lihat dulu dong pembagiannya baru protes. Aku sudah kelompokkan kalian dengan baik. Kalian pasti sekamar dengan sahabat kalian. Aku tahu kok,” Maki merespon santai.
“Yah, baiklah. Pilihan yang bagus,” akhirnya sang siswa kembali mengantungi ponselnya dan menuju kamarnya.
“MAKI-CHAN SEMAUNYA SENDIRI!” Shiro mengerucutkan bibirnya.
“Aku kan melakukan ini juga demi kita…” Maki sweatdrop.
“Dan lagi, aku membuat ini supaya kalian berdua tidak sekamar! Ha ha!” Maki menunjuk tepat pada Hana dan Yoshiki.
“He?” Hana cengo.
“Di sini tertulis Kuroto-kun sekamar dengan ketua kelas, Amagawa-kun, dan—“ Kalimat Yui terpotong.
“Hn, itu bukan masalah,” Yoshiki menyerahkan tas Hana dan memanggul tasnya sendiri sebelum pergi menuju kamarnya.
“Hush.. hush… sana pergi,” bibir Maki mengkerucut sementara ia mengibas-ibaskan tangannya seolah mengusir Yoshiki yang telah menghilang di ujung lorong.
Lagi-lagi ponsel setiap orang berbunyi. Kali ini email pengingat untuk makan malam dari Amagawa.
“Satu jam lagi kita akan makan malam. Dipercepat ya beres-beresnya,” Hana membaca isi pesan Amagawa.
“Nah ayo kita segera menuju kamar kita dan melatakan semua barang berat ini,” Yui mendahului bergerak.
.
BRUK!
Seluruh penghuni kamar seketika menatap ke arah sumber suara. Kuroto Yoshiki tengah setengah melempar tasnya di ujung ruangan.
“Kuroto! Selamat datang di klub!” Rui mengerling aneh pada Yoshiki.
“Hn, kita harus segera turun sebentar lagi,” Yoshiki merespon datar.
“Yah. Amagawa sudah turun untuk membantu. Tapi masih ada waktu. Kemarilah, mari kita mendiskusikan sesuatu.”
“Hn, apa?” Yoshiki mendekat pada Rui.
Lengan Rui meraih leher Yoshiki dan membawanya duduk bersama Katsuki Andou.
“Jadi dengar, setelah makan mala mini para wanita akan menuju pemandian terbuka. Kita juga harus ke sana. Amagawa punya spot yang bagus untuk mengintip, kita berempat harus ke sana!”
Yoshiki sweatdrop menatap ketua kelasnya yang saat ini wajahnya sudah memerah luar biasa, bahkan ada sedikit darah mimisan menonjol keluar dari hidungnya. Sungguh orang mesum menjijikkan.
“Nice kaichou!”Andou mengacungkan jempol dengan menahan mimisan yang berusaha memancur keluar dari hidungnya.
“Ha ha ha ha!!” Rei tertawa membusungkan dadanya, seolah-olah bangga dengan idenya yang tidak bermutu.
Yoshiki hanya menatap datar makhluk-makhluk konyol di hadapannya. Mereka ingin mengintip wanita yang berendam tapi di sini, di mana mereka hanya membayangkan mereka sudah mimisan tidak jelas, bagaimana saat mengintip nanti? Banjir darah? Sungguh polos sekali. Berbeda dengan dirinya yang bahkan telah berhubungan badan dengan banyak perempun. Mengintip perempuan berendam adalah hal yang sangat membosankan baginya.
.
“Selamat makan!”
Setiap anggota kelas 3-4 bergantian menepuk tangannya di depan dada sebelum memulai makan malam. Menyantap makan malam dengan membicarakan apapun itu dengan teman sebangku masing-masing.
Yoshiki memasuki kafetaria penginapan bersama ketiga anggota kamarnya yang lain. Dalam sekejap mata gelapnya telah menemukan Hana yang duduk di tengah-tengah kepala-kepala anggota kelas 3-4 yang makan. Seperti biasa, Hana akan duduk di samping Yui, Shiro, dan Maki. Makan bersama sambil sesekali tertawa.
Ah, begitu suka ia mengamati Hana diam-diam.
“Ayo segera makan malam dan berendaaaaam,” Andou berguman ria sementara kedua tangannya sibuk mengambil lauk-pauk untuk makan.
Begitu biasa. Menu yang ada di kafetaria begitu biasanya baginya. Sangat jauh jika dibandingkan makanan yang biasa ia kecap di mansionnya. Yoshiki bukan pemilah makanan, karena makanan memang bukan sumber energinya, oleh sebab itu ia mengambil apapun yang sekiranya bisa ia habiskan sebagia manusia biasa. Beginilah cara hidup di antara manusia.
.
Inilah waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh Rui dan Andou. Waktu berendam. Sebelumnya telah ada broadcast email yang menginformasikan supaya malam ini setiap anggota kelas 3-4 tidur cepat karena besok akan diadakan senam pagi. Tapi siapa peduli soal itu?
“Ayo Kuroto,” Andou sebelum meninggalkan kamar mengikuti Rui di depannya sempat mengajak Yoshiki agar lebih cepat dalam menyiapkan peralatan mandinya.
“Kalian duluan saja,” respon Yoshiki singkat tanpa mengalihkan fokusnya pada alat-alat persiapan mandi miliknya.
“Oh, baik,” Andou menangguk, “cepat ya! Ini hal-hal yang paling kita tunggu-tunggu!”
“…” Tidak ada respon dari Yoshiki begitu Andou ngacir pergi.
.
“Umei,” begitu melihat sosok perempuan berambut ungu gelap panjang Yoshiki yang awalnya bersandar pada dinding menegakkan tubuhnya seketika.
“Kuroto-kun?” Umei Yui terpaksa menghentikan langkahnya—dan langkah Maki dan SHiro yang ada di belakangnya—menuju pemandian terbuka.
Sebenarnya ia menunggu kepala hitam hyperaktif yang muncul. Tapi kenapa ia tidak dalam gerombolannya?
Yoshiki terdiam saat berjalan mendekati gerombolan Yui, namun akhirnya ia memilih untuk bertanya, “Hana, dimana dia?”
“HANA MENONTON ANIME! DASAR BODOH! BELUM DEWASA!” Shiro menyahut emosi.
Begitu mendengar ucapan Shiro, Yoshiki segera berbalik badan memasuki pemandian pria tanpa mengucapkan terima kasih. Membuat Yui sweatdrop dan menggelengkan kepala, “astaga… pria itu…”
.
“Masih sepi… masih sepi…” Rui dengan hanya mengenakan selembar handuk yang menutupi pinggangnya tengah berdiri menunduk demi mengintip pada sebuah lubang berdiameter tidak lebih 10 cm yang terhubung pada pemandian perempuan di sebelah.
“Rui gentian dong!” Andou memprotes.
“Kubilang masih sepi!”
“Omong-omong kenapa ada lubang di sana dan tidak segera ditutup?” Seorang siswa bertanya pada Amagawa yang tengah melepas pakaiannya.
“Ada perbaikan saluran air beberapa hari lalu. Dan lubang itu diperlukan untuk beberapa perbaikan kedepannya. Karena kecil orang tuaku mengira tidak akan ada orang yang menyadarinya, makanya tidak ditutup. Tapi tentu saja aku tahu hal itu,” Amagawa sedikit mengeluarkan nada ponggah di akhir kalimatnya.
“Woaaa sungguh hebat tuan muda ini!”
“Mantap mantap!”
Dan para lelaki mulai berkerumun mengelu-elukan Amagawa.
“…” Yoshiki hanya menatap datar sementara ia memakai handuk pada pinggangnya.
Ia bisa tenang sekarang. Hana sepertinya tidak berniat mandi di pemandian terbuka saat ini.
Berkat lubang pengintip, kolam pemandin pria belum terjamah siapapun ketika Yoshiki mencelupkan dirinya. Ia menyandarkan tubuh dan kepalanya pada tepian. Memejamkan matanya menikmati kehangatan air yang menenggelamkan sepertiga tubuhnya.
‘Benar juga. Ada anime favoritnya yang tayang di jam ini,’ pikir Yoshiki.
“Oh Kuroto.”
Sapaan itu membuat Yoshiki kembali menaikkan kelopak matanya. Itu siswa paling pendiam di kelas 3-4, Midorino Suguru.
“Tidak ikut mengintip?” Siswa itu mencelupkan tubuhnya di sisi sebrang.
“Tidak,” jawab Yoshiki singkat.
“Kenapa?”
Sejujurnya Yoshiki agak terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.
“Tidak berminat,” lagi, Yoshiki menjawab singkat.
“E-eh? Kuroto-kun tidak berminat?”
Yoshiki menatap datar dengan malas. Tentu saja ia tidak berminat. Hanya mengintip perempuan telanjang? Ia bahkan sudah banyak menikmati tubuh perempuan dulu.
“Kau sendiri bagaimana? Tidak berminat?” Akhirnya Yoshiki malah membalik pertanyaannya karena merasa kurang nyaman.
“A-aku sama seperti Kuroto-kun. Aku tidak berminat,” nada bicara Midorino berubah agak gugup seketika, bahkan ia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
“Hn?” Yoshiki merespon datar.
Yoshiki tahu. Midorino Suguru mengalami penyimpangan seksual. Dan melihat dari gelagatnya sekarang, Midorino memiliki perasaan kepadanya.
“Kuroto-kun apa artinya kamu tidak berminat pada perempuan? Karena aku melihatmu sering ditembak perempuan tapi kamu tolak, sementara kamu memilih Hana yang justru sangat kelaki-lakian, apa sebenarnya Kuroto-kun.. i-itu…” Midorina kesusahan mengungkapkan kalimat terakhirnya karena merasa kalimat itu kurang pantas diucapkan.
“Kau mengira aku seorang homo sepertimu?” To the point, Yoshiki menatap Midorino Saguru dengan rendah.
“E-eh…” keringat dingin mengucur pada pelipis Midorino.
“Tentu saja tidak. Aku mencintai Hana tanpa memperdulikan apapun.”
“U-uh…” Midorino semakin menundukkan wajahnya.
“Kuroto-kun tahu darimana jika aku seorang homo?”
“Hn, hanya menebak,” tidak, raja iblis tidak perlu menebak hal yang sudah terlihat jelas di matanya seperti itu, “kau menatapku seperti para perempuan itu menatapku, dan kutebak, kau berniat menyatakan perasaan kepadaku juga.”
“A-aaah!” Midorino terkejut seketika.
“L-lalu… apa Kuroto-kun tidak takut atau jijik kepadaku?”
“Tidak. Itu urusanmu menyukai siapapun,” lebih tepatnya, Yoshiki tidak peduli.
Terdengar sayup-sayup teriakan emosi para perempuan di pemandian sebelah. Disusul suara lemparan barang dan beberapa kericuhan lain.
“Uwaaa gorilla! Gorila!” Beberapa siswa berlari terbirit-birit memasuki kolam.
“Ketahuan?” Tebak Yoshiki.
“Seperti yang kamu duga. Karena terlalu bersemangat semua berteriak berisik, membuat para perempuan menyadari lubang itu,” Amagawa merespon sedih.
“SIAAAAL KENAPA KALIAN KABUR SEMUA SIH!?” Setengah merintih memegangi kepalanya—yang pasti karena dihajar para perempuan—Rui mendekat ke arah kolam.
“Bagaimana misi mengintipmu ketua-san?” Yoshiki dengan menyandarkan salah satu tangannya pada tepi kolam bertanya pada Rui dengan wajah mengejek.
“Tcih!” Rui memasukkan dirinya ke dalam kolam, “lagian kenapa kamu tidak ikut?”
“Hmm… karena rencananya terlalu ceroboh?” Jawab Yoshiki sok.
“Hah?”
“Jika itu aku, aku akan melakukan dengan sebaik mungkin. Sehingga tidak ada yang akan menyadari rencanaku. Dan mengintip sepuasnya.”
“Memangnya ada cara itu? Dasar!” Rui tersenyum riang dan mencipratkan air pada Yoshiki.
Read More ->>
“Ah aku mau keripik kentang juga!” dengan pengucapan yang tergesa-gesa setelah menelan sebongkah kue manju—yang merupakan hasil rampasan dari kursi depan—Hana berusaha meraih keripik kentang kursi tengah.
“Sudah sudah! Kamu sudah terlalu banyak makan Hana!” Omel salah satu siswi.
“Sedikit saja! Jangan pelit dong!” Hana berusaha meraih keripik kentang yang dijauhkan daripadanya. Walaupun kepalanya terpusat pada keripik kentang tetapi tidak dengan sapphire-nya yang terus bergerak ke segala penjuru mencari sang kepala jagged biru dongker.
“Woops kena!” Hana berhasil meraih sejumlah kripik kentang.
“Makasih ya! Hehe!” sambil nyengir lima jari Hana meninggalkan kursi tengah.
Hana membuka pintu gerbong dengan salah satu tangannya yang kosong.
Ia tak berhasil menemukan Yoshiki di dalam gerbong. Pilihan terakhir adalah Yoshiki berada di ruang pemisah antar gerbong.
Benar saja. Sosok yang dicari Hana tengah berdiri menghadap pemandangan luar. Seperti biasa, kedua tangannya juga ia sembunyikan ke dalam kantung celananya.
“Lagi-lagi menyendiri,” sindir Hana. Ia memasukan kripik kentang hasil meminta paksanya ke dalam mulut.
“Hn,” Yoshiki menoleh pelan.
“Mau?” Hana menyodorkan keripik kentang di tangannya dengan wajah polos.
Yoshiki sweatdrop melihat tingkah Hana. “Kau sudah memakan berapa jenis makanan? Padahal kereta baru saja berangkat.”
“Entah. Banyak,” Hana menyuapkan kripik kentang terakhir. Setelah itu ia sedikit mendongkakkan kepalanya, melihat ke dalam gerbong, “muehehehe, selanjutnya aku ingin coklat.”
“Kau membeli pakaian renang juga tadi?” Tiba-tiba Yoshiki bertanya.
“Ah, tidak. Yui yang membelikan paksa untukku,” Hana sweatdrop.
“Hn…” hanya dibalas gumanan ambigu oleh Yoshiki.
“Umm? Kenapa?”
“Tch, kau akan mengumbar tubuhmu jika memakai pakaian renang. Dan mata seluruh lelaki akan dengan bebas memandanginya.”
“Eh? Hahahaha, tidak akan ada yang memandangku Yoshiki-kun. Tubuh Yui jauuuuh lebih bagus daripada aku,” Hana tertawa kecil.
DUK
Semuanya terlalu tiba-tiba. Dalam hitungan detik, Yoshiki telah mengurung Hana diantara dinding gerbong dan dirinya.
“Ishikawa Guren sialan itu telah dengan bebas memandangi tubuhmu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kala itu, dan sekarang harus berpuluh-puluh pria yang harus memandangi tubuhmu?”
Hana benar-benar terkejut karenanya.
“Wow wow, tenang Yoshiki-kun,” keringat dingin bercucuran di sekitar pelipis Hana. Walau hal seperti ini kerap terjadi, tetapi dikunci di tempat umum seperti ini tetap membuatnya ketakutan.
“A-aku tidak akan memakai pakaian renangnya oke?” Sekarang yang bisa ia lakukan hanya menangkan suaminya.
Dengan perlahan pria jagged itu melepaskan Hana, ia menghela nafas sejenak, “baguslah.”
“Good girl,” Yoshiki dengan wajah datarnya mengusap rambut kelam Hana.
SREEEEG
Pintu geser gerbong terbuka dan menampakkan sosok Rui.
“Loh? Di sini? Pantas di dalam tidak ricuh. Tukang rampas makanan sedang dijinakkan rupanya,” Rui melewati keduanya dengan santai menuju toilet.
Wajah Hana seketika memerah padam.
.
Akhirnya 4 jam perjalanan dari Tokyo ke Nara telah ditempuh. Sang raja iblis harus bertahan duduk di kursi kereta yang biasa saja kenyamanannya ditambah suara bising dari ributnya kelas 3-4. Walaupun keberisikan yang paling mendominasi adalah keberisikan istrinya sendiri, Kuroto Hana yang berusaha mencuri makanan dari tiap kursi dan bercanda dengan suaranya yang nyaring dan cempreng.
“HUWAAAAA UDARA NARA!” Hana melebarkan kedua tangannya begitu ia keluar kereta. Seolah bisa menyerap segala udara yang ada di sekelilingnya, Hana membuka mulutnya lebar-lebar bernafas dengan mulutnya. Dan membuangnya dengan wajah lega.
“Baru pertama kali ini ke Nara?” Amagawa muncul dari belakang Hana membawa tas berat di punggunnya.
“Ya!” Hana mengangguk semangat namun beberapa detik kemudian ia menyadari barang-barangnya yang belum ia angkut keluar, “oh gawat! Aku lupa barang-barangku!”
Hendak saja Hana kembali memasuki kereta, Yoshiki muncul menggendong dua buah tas dan salah satunya adalah miliknya. Dan tepat setelah Yoshiki keluar, pintu kereta tertutup.
“Wuooooh! Penyelamatku!” Diterjangnya tubuh Yoshiki dengan sebuah gelayutan manja.
“Hn, dasar ceroboh,” ucap Yoshiki datar.
Semua siswa yang melihat itu sweatdrop ria.
.
“Ayah! Ibu! Aku pulang!” Nashiro Amagawa membuka pintu tradisional dengan bersemangat.
“Waaah! Selamat datang Nashiro! Oh selamat datang juga teman-teman Nashiro. Terima kasih telah berteman dengan Nashiro. Silahkan menikmati penginapan keluarga Amagawa,” ibu Nashiro menyambut seketika.
“Terima kasih, maaf merepotkan,” beberapa siswa menjawab sebelum memasuki penginapan.
Bunyi deringan ponsel pertanda email masuk dari tiap-tiap ponsel milik siswa 3-4 yang memenuhi koridor penginapan menggema dalam beberapa detik. Semuanya Nampak kebingungan dan segera mengecek ponsel masing-masing.
“Itu pembagian kamar kalian. Silahkan menikmati,” dari arah pintu masuk Maki nyengir lima jari.
“Hei hei, tunggu. Kenapa kamu yang tentukan?” seorang siswa memprotes.
“Lihat dulu dong pembagiannya baru protes. Aku sudah kelompokkan kalian dengan baik. Kalian pasti sekamar dengan sahabat kalian. Aku tahu kok,” Maki merespon santai.
“Yah, baiklah. Pilihan yang bagus,” akhirnya sang siswa kembali mengantungi ponselnya dan menuju kamarnya.
“MAKI-CHAN SEMAUNYA SENDIRI!” Shiro mengerucutkan bibirnya.
“Aku kan melakukan ini juga demi kita…” Maki sweatdrop.
“Dan lagi, aku membuat ini supaya kalian berdua tidak sekamar! Ha ha!” Maki menunjuk tepat pada Hana dan Yoshiki.
“He?” Hana cengo.
“Di sini tertulis Kuroto-kun sekamar dengan ketua kelas, Amagawa-kun, dan—“ Kalimat Yui terpotong.
“Hn, itu bukan masalah,” Yoshiki menyerahkan tas Hana dan memanggul tasnya sendiri sebelum pergi menuju kamarnya.
“Hush.. hush… sana pergi,” bibir Maki mengkerucut sementara ia mengibas-ibaskan tangannya seolah mengusir Yoshiki yang telah menghilang di ujung lorong.
Lagi-lagi ponsel setiap orang berbunyi. Kali ini email pengingat untuk makan malam dari Amagawa.
“Satu jam lagi kita akan makan malam. Dipercepat ya beres-beresnya,” Hana membaca isi pesan Amagawa.
“Nah ayo kita segera menuju kamar kita dan melatakan semua barang berat ini,” Yui mendahului bergerak.
.
BRUK!
Seluruh penghuni kamar seketika menatap ke arah sumber suara. Kuroto Yoshiki tengah setengah melempar tasnya di ujung ruangan.
“Kuroto! Selamat datang di klub!” Rui mengerling aneh pada Yoshiki.
“Hn, kita harus segera turun sebentar lagi,” Yoshiki merespon datar.
“Yah. Amagawa sudah turun untuk membantu. Tapi masih ada waktu. Kemarilah, mari kita mendiskusikan sesuatu.”
“Hn, apa?” Yoshiki mendekat pada Rui.
Lengan Rui meraih leher Yoshiki dan membawanya duduk bersama Katsuki Andou.
“Jadi dengar, setelah makan mala mini para wanita akan menuju pemandian terbuka. Kita juga harus ke sana. Amagawa punya spot yang bagus untuk mengintip, kita berempat harus ke sana!”
Yoshiki sweatdrop menatap ketua kelasnya yang saat ini wajahnya sudah memerah luar biasa, bahkan ada sedikit darah mimisan menonjol keluar dari hidungnya. Sungguh orang mesum menjijikkan.
“Nice kaichou!”Andou mengacungkan jempol dengan menahan mimisan yang berusaha memancur keluar dari hidungnya.
“Ha ha ha ha!!” Rei tertawa membusungkan dadanya, seolah-olah bangga dengan idenya yang tidak bermutu.
Yoshiki hanya menatap datar makhluk-makhluk konyol di hadapannya. Mereka ingin mengintip wanita yang berendam tapi di sini, di mana mereka hanya membayangkan mereka sudah mimisan tidak jelas, bagaimana saat mengintip nanti? Banjir darah? Sungguh polos sekali. Berbeda dengan dirinya yang bahkan telah berhubungan badan dengan banyak perempun. Mengintip perempuan berendam adalah hal yang sangat membosankan baginya.
.
“Selamat makan!”
Setiap anggota kelas 3-4 bergantian menepuk tangannya di depan dada sebelum memulai makan malam. Menyantap makan malam dengan membicarakan apapun itu dengan teman sebangku masing-masing.
Yoshiki memasuki kafetaria penginapan bersama ketiga anggota kamarnya yang lain. Dalam sekejap mata gelapnya telah menemukan Hana yang duduk di tengah-tengah kepala-kepala anggota kelas 3-4 yang makan. Seperti biasa, Hana akan duduk di samping Yui, Shiro, dan Maki. Makan bersama sambil sesekali tertawa.
Ah, begitu suka ia mengamati Hana diam-diam.
“Ayo segera makan malam dan berendaaaaam,” Andou berguman ria sementara kedua tangannya sibuk mengambil lauk-pauk untuk makan.
Begitu biasa. Menu yang ada di kafetaria begitu biasanya baginya. Sangat jauh jika dibandingkan makanan yang biasa ia kecap di mansionnya. Yoshiki bukan pemilah makanan, karena makanan memang bukan sumber energinya, oleh sebab itu ia mengambil apapun yang sekiranya bisa ia habiskan sebagia manusia biasa. Beginilah cara hidup di antara manusia.
.
Inilah waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh Rui dan Andou. Waktu berendam. Sebelumnya telah ada broadcast email yang menginformasikan supaya malam ini setiap anggota kelas 3-4 tidur cepat karena besok akan diadakan senam pagi. Tapi siapa peduli soal itu?
“Ayo Kuroto,” Andou sebelum meninggalkan kamar mengikuti Rui di depannya sempat mengajak Yoshiki agar lebih cepat dalam menyiapkan peralatan mandinya.
“Kalian duluan saja,” respon Yoshiki singkat tanpa mengalihkan fokusnya pada alat-alat persiapan mandi miliknya.
“Oh, baik,” Andou menangguk, “cepat ya! Ini hal-hal yang paling kita tunggu-tunggu!”
“…” Tidak ada respon dari Yoshiki begitu Andou ngacir pergi.
.
“Umei,” begitu melihat sosok perempuan berambut ungu gelap panjang Yoshiki yang awalnya bersandar pada dinding menegakkan tubuhnya seketika.
“Kuroto-kun?” Umei Yui terpaksa menghentikan langkahnya—dan langkah Maki dan SHiro yang ada di belakangnya—menuju pemandian terbuka.
Sebenarnya ia menunggu kepala hitam hyperaktif yang muncul. Tapi kenapa ia tidak dalam gerombolannya?
Yoshiki terdiam saat berjalan mendekati gerombolan Yui, namun akhirnya ia memilih untuk bertanya, “Hana, dimana dia?”
“HANA MENONTON ANIME! DASAR BODOH! BELUM DEWASA!” Shiro menyahut emosi.
Begitu mendengar ucapan Shiro, Yoshiki segera berbalik badan memasuki pemandian pria tanpa mengucapkan terima kasih. Membuat Yui sweatdrop dan menggelengkan kepala, “astaga… pria itu…”
.
“Masih sepi… masih sepi…” Rui dengan hanya mengenakan selembar handuk yang menutupi pinggangnya tengah berdiri menunduk demi mengintip pada sebuah lubang berdiameter tidak lebih 10 cm yang terhubung pada pemandian perempuan di sebelah.
“Rui gentian dong!” Andou memprotes.
“Kubilang masih sepi!”
“Omong-omong kenapa ada lubang di sana dan tidak segera ditutup?” Seorang siswa bertanya pada Amagawa yang tengah melepas pakaiannya.
“Ada perbaikan saluran air beberapa hari lalu. Dan lubang itu diperlukan untuk beberapa perbaikan kedepannya. Karena kecil orang tuaku mengira tidak akan ada orang yang menyadarinya, makanya tidak ditutup. Tapi tentu saja aku tahu hal itu,” Amagawa sedikit mengeluarkan nada ponggah di akhir kalimatnya.
“Woaaa sungguh hebat tuan muda ini!”
“Mantap mantap!”
Dan para lelaki mulai berkerumun mengelu-elukan Amagawa.
“…” Yoshiki hanya menatap datar sementara ia memakai handuk pada pinggangnya.
Ia bisa tenang sekarang. Hana sepertinya tidak berniat mandi di pemandian terbuka saat ini.
Berkat lubang pengintip, kolam pemandin pria belum terjamah siapapun ketika Yoshiki mencelupkan dirinya. Ia menyandarkan tubuh dan kepalanya pada tepian. Memejamkan matanya menikmati kehangatan air yang menenggelamkan sepertiga tubuhnya.
‘Benar juga. Ada anime favoritnya yang tayang di jam ini,’ pikir Yoshiki.
“Oh Kuroto.”
Sapaan itu membuat Yoshiki kembali menaikkan kelopak matanya. Itu siswa paling pendiam di kelas 3-4, Midorino Suguru.
“Tidak ikut mengintip?” Siswa itu mencelupkan tubuhnya di sisi sebrang.
“Tidak,” jawab Yoshiki singkat.
“Kenapa?”
Sejujurnya Yoshiki agak terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.
“Tidak berminat,” lagi, Yoshiki menjawab singkat.
“E-eh? Kuroto-kun tidak berminat?”
Yoshiki menatap datar dengan malas. Tentu saja ia tidak berminat. Hanya mengintip perempuan telanjang? Ia bahkan sudah banyak menikmati tubuh perempuan dulu.
“Kau sendiri bagaimana? Tidak berminat?” Akhirnya Yoshiki malah membalik pertanyaannya karena merasa kurang nyaman.
“A-aku sama seperti Kuroto-kun. Aku tidak berminat,” nada bicara Midorino berubah agak gugup seketika, bahkan ia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
“Hn?” Yoshiki merespon datar.
Yoshiki tahu. Midorino Suguru mengalami penyimpangan seksual. Dan melihat dari gelagatnya sekarang, Midorino memiliki perasaan kepadanya.
“Kuroto-kun apa artinya kamu tidak berminat pada perempuan? Karena aku melihatmu sering ditembak perempuan tapi kamu tolak, sementara kamu memilih Hana yang justru sangat kelaki-lakian, apa sebenarnya Kuroto-kun.. i-itu…” Midorina kesusahan mengungkapkan kalimat terakhirnya karena merasa kalimat itu kurang pantas diucapkan.
“Kau mengira aku seorang homo sepertimu?” To the point, Yoshiki menatap Midorino Saguru dengan rendah.
“E-eh…” keringat dingin mengucur pada pelipis Midorino.
“Tentu saja tidak. Aku mencintai Hana tanpa memperdulikan apapun.”
“U-uh…” Midorino semakin menundukkan wajahnya.
“Kuroto-kun tahu darimana jika aku seorang homo?”
“Hn, hanya menebak,” tidak, raja iblis tidak perlu menebak hal yang sudah terlihat jelas di matanya seperti itu, “kau menatapku seperti para perempuan itu menatapku, dan kutebak, kau berniat menyatakan perasaan kepadaku juga.”
“A-aaah!” Midorino terkejut seketika.
“L-lalu… apa Kuroto-kun tidak takut atau jijik kepadaku?”
“Tidak. Itu urusanmu menyukai siapapun,” lebih tepatnya, Yoshiki tidak peduli.
Terdengar sayup-sayup teriakan emosi para perempuan di pemandian sebelah. Disusul suara lemparan barang dan beberapa kericuhan lain.
“Uwaaa gorilla! Gorila!” Beberapa siswa berlari terbirit-birit memasuki kolam.
“Ketahuan?” Tebak Yoshiki.
“Seperti yang kamu duga. Karena terlalu bersemangat semua berteriak berisik, membuat para perempuan menyadari lubang itu,” Amagawa merespon sedih.
“SIAAAAL KENAPA KALIAN KABUR SEMUA SIH!?” Setengah merintih memegangi kepalanya—yang pasti karena dihajar para perempuan—Rui mendekat ke arah kolam.
“Bagaimana misi mengintipmu ketua-san?” Yoshiki dengan menyandarkan salah satu tangannya pada tepi kolam bertanya pada Rui dengan wajah mengejek.
“Tcih!” Rui memasukkan dirinya ke dalam kolam, “lagian kenapa kamu tidak ikut?”
“Hmm… karena rencananya terlalu ceroboh?” Jawab Yoshiki sok.
“Hah?”
“Jika itu aku, aku akan melakukan dengan sebaik mungkin. Sehingga tidak ada yang akan menyadari rencanaku. Dan mengintip sepuasnya.”
“Memangnya ada cara itu? Dasar!” Rui tersenyum riang dan mencipratkan air pada Yoshiki.
