CHAPTER 60: Looking For Your Attention
“Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan anda Prof. Kuroto,” Pria dengan badan tambun di hadapannya itu berujar senang.
“Suatu kehormatan pula bisa bertemu dengan anda tuan Lee,” Yoshiki menjawab santai.
Lee tertawa, “mengingat sangat susah sekali bertemu dengan anda tatap muka.”
“Saya juga memiliki banyak sekali riset untuk ditangani,” Yoshiki memberikan senyum kepercayaan dirinya.
Shin Ma Lee, seorang buron Interpol yang merupakan pemilik berbagai situs pembunuhan di deep web. Satu-satunya hubungan yang Yoshiki miliki dengan manusia ini hanyalah eksperimen yang dimiliki pria itu. Sebuah eksperimen radioakktif pada tubuh manusia. Dan ia tidaklah berbohong mengenai kesibukannya. Seorang businessman dan seorang researcher adalah kesehariannya.
Makan malam itu berjalan tenang selama beberapa jam. Keduanya sibuk menertawakan hal-hal yang tidak seharusnya ditertawakan oleh manusia pada umunya.
“Hahaha anda benar-benar orang yang menarik Prof. Kuroto,” Lee tertkekeh.
Yoshiki hanya menyinggungkan senyunya merespon.
“Bagaimana jika anda mengikuti lab kami di Korea Utara?”
Yoshiki terkekeh kecil, “anda merekrut saya tuan Lee?”
“Saya bisa menyiapkan fasilitas yang jauh lebih lengkap untuk anda, untuk memuaskan rasa penasaran anda. Sebagai gantinya, data yang selama ini kita diskusikan bisa kita gunakan untuk membuat senjata biologis.”
“Untuk menyerang Korea Selatan?”
Lee tertawa, “anda memang sangat cerdas professor.”
Yoshiki meletakkan gelasnya, membersihka bibirnya dengan lap, dan beranjak, “sayang sekali tuan Lee. Saya sama sekali tidak tertarik. Ditambah, saya sudah memiliki fasilitas saya sendiri.”
“Ah, begitu kah?”
“Kalau begitu, saya permisi,” dengan begitu Yoshiki meninggalkan restoran yang telah dipesan secara VVIP itu.
Langkahnya menggema di dalam area parker bawah tanah yang memiliki pencahayaan minimal itu. Kakinya melangkah lebar menuju mobilnya. Sementara itu kepalanya sama sekali tidak bisa berhenti memikirkan sosok berambut hitam itu—Hana.
‘Setelah ini ke game center dan membeli Red Crimson 2,’ begitulah isi kepalanya sembari meilirik jam tangannaya yang dilapisi radium sehingga bisa menyala dalam gelap, ‘pukul 9 malam, masih sempat, perjalanan Sapporo ke Tokyo… aku akan tiba pukul 11 malam, semoga dia masih bangun’ isi kepala pria itu benar-benar terisi oleh sosok Hana. Red Crimson 2 adalah lanjutan dari game favorit Hana. Setidaknya ia akan memberikan Hana sebuah oleh-oleh yang mungkin akan meningkatkan mood wanitanya itu. Ia tersenyum tipis tanpa sadar. Memikirkan wanita itu bahagia membuatnya tanpa sadar merasakan kebahagiaan yang sama.
DOOORR DZING DZING
Rentetan tembakan tiba-tiba menghujaninya. Tubuhnya dengan cepat beradaptasi dan segera mencari perlindungan di balik mobil yang terparkir.
Lelehan darah mengalir pada pipi kanannya, “Ck,” ia berdecak kesal melihat pipinya tergores oleh peluru.
Mata gelapnya menyalah dalam kegelapan. Mencari sosok sniper yang sudah kurang ajar menyerangnya. Begitu mendapati lokasi si sniper, dengan cepat Yoshiki melesat ke belakang sniper dan mengunci tubuh sniper tersebut.
“B-Bagaimana bisa?” Si sniper hanya bisa meronta kecil pada kuncian lengan Yoshiki di lehernya.
“Lee memerintahkanmu? Konyol sekali. Beri tahu aku di mana dia,” bukannya menjawab pertanyaan sang sniper, Yoshiki malah balik bertanya.
“Ternyata anda memang bukan Profesor yang biasa-biasa saja ya?”
Yoshiki menyeringai lebar. Ia tidak perlu lagi repot-repot mencari Lee. Pria tua dengan jas putihnya itu telah hadir di hadapannya dengan gerombolan pembunuh bayaran di belakangnya.
Dalam satu sentakan Yoshiki mematahkan leher si sniper sebelum akhirnya ia bangkit berdiri dan menyatakan, “memang bukan.”
“Kesempatan terakhir untuk anda Professor. Bergabung dengan tim kami atau—” Para pembunuh bayaran elit yang berdiri di belakang Lee mengeluarkan senjata mereka masing-masing.
Seringai pada bibir Yoshiki semakin melebar, “wah wah, terima kasih banyak atas kesempatan yang anda berikan Mr. Lee. Namun sekali lagi, saya tidak tertarik.”
Lee terkekeh pelan, “Sungguh, sayang sekali. SAYANG SEKALI OTAK CEMERLANG ANDA AKAN KUSITA HARI INI. SEMUANYA, BUNUH PRIA ITU DAN SISAKAN OTAKNYA!” Lee berteriak mengeluarkan perintahnya. Seketika barisan pembunuh bayaran itu berlarian menerjang Yoshiki.
Sebuah aura hitam menguar dari balik punggung Yoshiki. Disusul sebuah kilatan kegelapan yang memadat hingga membentuk pedang pada tangan kanan pria itu. Tekanan udara turun seketika. Sudah terlambat bagi para pembunuh bayaran itu menyadari jika lawan mereka bukanlah lawan yang akan bisa mereka atasi bahkan dengan pasukan berkali-kali lipat sekalipun.
Semua terjadi begitu cepat. Sementara Lee hanya bisa membelalakkan bola matanya tidak percaya, satu-satu dari pembunuh bayarannya ditebas tanpa perlawanan oleh Yoshiki. Aura kehitaman bercampur dengan cipratan darah seolah berpesta di tempat parkir tersebut. Dibubuhi suara teriakan kesakitan seolah menyemarakkan simfoni yang dikondekturi oleh sang iblis pembunuh.
“S-Siapa kau sebenarnya!?” Badan Lee sudah lemas, ia hanya bisa terduduk dengan seluruh badannya gemetaran menatap monster yang perlahan mendekatinya.
“Hn… karena kau akan mati sebentar lagi maka akan kujawab pertanyaanmu,” langkah kaki Yoshiki semakin mendekat pada Lee seolah menjadi hitung mundur kematiannya, Yoshiki tersenyum congkak, “aku Lucifer.”
SRAAAAT---Belum selesai kepala Lee memproses informasi yang masuk, sayangnya kepala pemilik situs besar di dark web itu telah terpenggal.
Sebuah helaan nafas berat terdengar dari mulut Yoshiki, ia kembali melirik jam tangannya, “sekarang aku terlambat sepuluh menit,” ia menggerutu malas.
“My Lord,” dari arah belakang sang supir muncul dengan kepala tertunduk.
“Bersihkan mereka. Tidak perlu kau. Perintahkan makhluk dunia bawah untuk mengeksekusi ini. Lagipula mereka akan senang mendapat makan malam sebanyak ini. Kita pergi, kau harus bisa mencapai game center sebelum tutup.”
“Yes, My Lord.”
.
.
Tepat pukul sebelas malam, Yoshiki mencapai mansionnya. Tangannya menggenggam sebuah kantung belanjaan berisi beberapa cd game sebagai oleh-olehnya untuk Hana dari Sapporo. Begitu memasuki mansion, tujuannya bisa dipastikan adalah penjara bawah tanah, menemui istrinya.
“My Lord,” seluruh penjaga seketika menunduk hormat begitu raja mereka yang agung menampakkan wajahnya.
Penjara yang ditempati Hana menggunakan pengaman berupa retina check. Setelah menginputkan data retinanya, pintu besi itu bergeser menampakkan ruangan serba gelap. Yoshiki harus membiasakan pandangannya dengan intensitas yang ada sebelum akhirnya mendapati gundukan selimut di atas ranjang.
“Sudah tidur?”
Sedetik kemudian gundukan selimut itu terbuka dan menampakkan sosok berambut pendek yang ia rindukan.
“Aku membawa oleh-oleh untukmu. Kalaupun ini bisa disebut oleh-oleh karena seharusnya di Tokyo pun ada,” Yoshiki terkekeh pelan sembari menyerahkan kantung berisi game.
Perlahan Hana membuka kantung tersebut dan mendapati beberapa game yang cukup ia nantikan. Hana semakin yakin setiap perempuan yang suka bermain game akan berteriak iri kepadanya karena memiliki suami yang bisa memenuhi hasrat bermain gamenya.
“Kau sudah makan malam?”
Hana menghentikan aktivitasnya meng-unboxing apa yang dibawakan Yoshiki untuknya, dan memilih meletakannya pada nakas di samping, “bukankah Yoshiki-kun bisa melihat sendiri di cctv?”
“….” Yoshiki terdiam sejenak mendengar jawaban dingin Hana, “Hn, aku belum mengamatimu sama sekali sejak pukul enam.”
Hana mengambil cukup waktu untuk berujar, “sudah. Ini sudah pukul sebelas malam lagipula,” dengan kepala tertunduk.
Suasananya mendadak canggung dan tegang. Keduanya hanya terdiam. Yoshiki hanya bisa menautkan kedua alisnya, murung. Ia harus mengurungkan niatnya untuk sekedar memeluk dan mencium kening istrinya.
“Baiklah My Lady, kau bisa melanjutkan—”
“Luka di pipi itu kenapa?” Pertanyaan tiba-tiba Hana membuat Yoshiki tertegun, “darah di jas Yoshiki-kun juga, apa perut Yoshiki-kun terluka?”
“Hanya luka tembakan—”
“Tembakan!?” Tanpa sadar Hana bertingkah berlebihan dan meraih bercak darah yang menepel pada jas bagian perut Yoshiki.
“Hanya di pipi, yang di situ hanya terkena cipratan darah saja.”
Hana menghela nafas berat. Ia beranjak meraih P3K yang ditempelkan pada dinding.
“Bagaimana bisa terkena tembakan? Apa yang Yoshiki-kun lakukan sebenarnya?” Hana marah kepada pria ini, tapi entah mengapa ia tidak bisa menutup mata melihat pria ini ketika dalam keadaan terluka.
“Pemilik dark web gila ingin merekrutku bekerja di laboratoriumnya. Aku menolak. Mungkin karena dia takut rahasia yang ada padaku terkuak ke muka umum dia menyerangku dengan puluhan pembunuh bayaran,” Yoshiki menyeringai tipis, “tanpa ia tahu siapa lawannya sebenarnya.”
Diusapkannya alkohol pembersih luka pada luka goresan yang cukup lebar itu. Yoshiki mengernyit perih dibuatnya.
“Lagipula kenapa luka ini tidak beregenerasi seperti biasa?” Tanya Hana sambil menyiapkan plester luka.
“…. Untuk mendapatkan perhatian darimu tentu saja.”
Hana mendongkan tidak percaya apa yang baru saja ia dengar, dengan ragu-ragu ditempelkannya plester luka untuk menutupi goresan pada pipi Yoshiki. Selanjutnya pria itu tersenyum lembut dan mengusap rambutnya, “terima kasih. Aku senang.”
Hana tidak bisa mengatakan apapun. Tubuhnya merespon tak terkontrol. Wajahnya benar-benar merah sekarang.
“Selamat malam My Lady.”
.
Esok harinya Yoshiki tidak bisa berhenti tersenyum ketika sendirian dan tenggelam dalam pikirannya. Berkali-kali jarinya menyentuh plester yang dipasangkan Hana seolah menjadi jimat keberuntungannya.
“Kuroto-sama? Kuroto-sama?”
“!!” Yoshiki terbangunkan oleh panggilan yang dilakukan oleh seorang pria paruh bayah.
“Hn, ya, ada apa?”
“Ini proposal dari minggu lalu oleh bagian RnD,” pria itu menyodorkan beberapa tumpuk map.
“Letakan saja di situ, akan kulihat sebentar lagi.”
“Anda tidak apa-apa Kuroto-sama? Ada luka di pipi anda?” sang pegawai menatap cemas.
“Tidak apa-apa, ini hanya goresan, sebentar lagi akan sembuh karena plester luka ini ditempelkan oleh istriku.”
“Ah begitu,” sang pegawai nampak tersenyum canggung, “karena ucapan anda saya jadi teringat bekal yang istri saya siapkan harus segera dihangatkan dulu, saya permisi Kuroto-sama.”
Begitu sang pegawai telah menghilang dari balik pintu ia segera meraih ponselnya, mendial nomor yang ia beri nama sebagai mine.
“My Lady,” ucapnya begitu sambungan itu terhubung.
“Umm, Yoshiki-kun?”
Yoshiki tidak menjawab, ia sempat terdiam berpikir.
“Yoshiki-kun…?” Tanya Hana ragu akibat tidak terdengarnya lagi suara Yoshiki.
“Buatkan aku bento dan bawakan ke kantor.”
“Eh?” Hana tidak bisa menahan keterkejutannya. Out of the blue tiba-tiba meminta bento?
“Aku akan melepas bola besi di kakimu sebagai gantinya kau akan memakai gelang kaki pelacak. Maid akan memasangkannya untukmu dan supir akan mengantarkanmu ke lokasi. Kau bisa bertanya pada siapapun mengenai letak ruanganku ketika tiba di sini,” instruksi Yoshiki cepat.
“Eh? Tapi ini kan sudah lewat jam makan siang?” Hana kembali menjauhkan ponselnya dari telinga guna melihat layarnya, ia tidak salah. Ini sudah pukul 1 siang, “lagipula butuh waktu untuk membuatnya, mengantarnya juga.”
“Tidak masalah, aku tidak ada meeting setelah ini.”
“A-a…” Hana sudah tidak tau harus mengatakan apa.
“Aku menunggumu, My Lady.”
Dengan begitu panggilan berakhir. Menyisahkan Hana yang masih terdiam kebingungan atas permintaan—perintah—Yoshiki tiba-tiba.
KRIEEET
Belum habis Hana berpikir, pintu dengan keamanan penjaranya sudah terbuka dan menampakkan para maid, “My Lady, My Lord mengizinkan anda menggunakan dapur.”
“EEEEEHHHH!!” Otak Hana semakin berteriak.
.
Pada akhirnya Hana benar-benar melakukan apa yang diminta Yoshiki. Dengan helaan nafas, perempuan berambut gelap itu keluar dari mobil sambil membawa bento yang sejujurnya ia buat asal-asalan. Beberapa sushi gulung, sosis, telur gulung, karage seharusnya cukup.
Kalau dipikir-pikir sepertinya ini pertama kalinya datang ke kantor Yoshiki di luar mansion. Begitu masuk pun ia disajikan dengan pemandangan serba mewah yang lebih mirip hotel daripada loby kantor.
Berkali-kali ia bertemu beberapa office lady yang nampak sibuk namun tetap terlihat elegan dan cantik. Kemeja berenda berbagai warna dikombinasikan dengan vest yang tak kalah cantik, ditambah span di atas lutut, juga make up yang kontur membuat semua pekerja perempuan yang Hana lihat nampak sempurna.
Dan dirinya?
Hanya memakai celana jeans longgar untuk menyembunyikan lekukan gelang kaki pelacak gpsnya, sneaker, kemeja biasa dan jaket kebesarannya, tanpa make up sedikit pun.
“Aku mau mati saja,” gumannya.
“Permisi, ada yang bisa saya bantu…?”
Sebuah suara reflex membuat Hana membalikkan badannya. Seorang office lady yang sungguh terlihat elite dan cantik menegurnya, ah dia pasti sangat terlihat bodoh sampai ditegur seseorang, “Ah, iya, saya sedang mencari ruangan Yoshiki k—ah tidak—Kuroto Yoshiki.”
“Kuroto Yoshiki…? Sachou? (President)”
“Ah ya, Sachou,” Hana mengangguk-angguk gugup.
“Ada perlu apa dengan Sachou? Sebelumnya sudah ada janji? Omong-omong anda siapa dan dari mana?”
Hana cukup kelabakan oleh pertanyaan yang diberikan, “Anu saya disuruh mengantarkan ini ke ruangannya Sachou, saya kenalannya,” jawab Hana gugup.
“Kenalan?” Sang office lady yang nampak ragu mulai memandangi Hana dari atas ke bawah.
‘Ah, mati saja aku, kenapa aku datang dengan pakaian seperti ini,’ kalimat tersebut terngiang dalam benak Hana.
“Hmm, ruangan Sachou ada di lantai delapan. Setelah keluar dari lift silahkan mengikuti Lorong yang ada di sebelah kanan, lurus saja ruangan Sachou ada di sebelah kiri, pintu ke 4.”
“Terima kasih,” Hana menunduk berterima kasih.
“Sama-sama,” sang office lady tersenyum ramah sebelum akhirnya meninggalkan Hana.
.
Bunyi denting lift membawa Hana pada lantai delapan sesuai instruksi si office lady, beberapa pegawai yang sibuk nampak mendahului Hana keluar dari lift, sementara dirinya hanya bisa melangkah kecil—ragu-ragu.
Lantai ini tak jauh berbeda dari lobby. Semuanya nampak elegan dan berkilau. Mungkin jika ia tanpa sengaja menyenggol salah satu vas yang menjadi pajangan, diperlukan salah satu ginjalnya untuk mengganti.
“Astaga apa yang kulakukan di sini,” ia kembali berguman insecure.
“Pintu ke empat… ah—” Hana berhenti tepat di sebuah pintu bertuliskan ‘President’.
“—Semoga tidak salah,” Diketuknya pintu tersebut.
CKLEK.
Dari balik pintu tersebut, sosok pria dengan jas berwarna biru dongker gelapnya muncul, “aku menunggumu My Lady.”