Selasa, 18 Juli 2017

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 18]

CHAPTER 18: UMEI YUI’S PLAN

“Kenapa kamu? Wajahmu seperti habis diserbu lebah saja,” Yui menyadari wajah Hana yang campur aduk.
“Yaaah… biasa lah, kena omel,” Hana menjawab santai tanpa ingin menjelaskan lebih jauh kepada Yui.
Setelah berteriak seperti itu, Hana pasti akan diterjang oleh omelan guru-guru.
“Omong-omong, Haru-san, sepertinya kamu punya hutang penjelasan padaku,” Hana berdiri di samping Natsume dengan raut wajah kesal.
Natsume Haru yang awalnya bertopang dagu malas menatap keluar jendela, menoleh ke arah Hana perlahan. Sejenak ia menaikkan sebelah alisnya karena tidak mengerti maksud Hana. Namun detik berikutnya ia menyadari apa yang Hana sedang bicarakan.
“Hanya tidak ingin membiarkan serangga yang menginjak-injak harga diri My Lord terus hidup,” jawab Natsume santai.
“Itu berlebihan! Sangat berlebihan!” Hana mendekatkan wajahnya pada Natsume agar pembicaraan mereka yang tidak normal tidak terdengar siapapun.
“Tidak untuk ukuran serangga. Ayolah, siapapun tidak akan mengatakan berlebihan jika melihat ada anak yang mencabut satu persatu kaki semu.”
Hana memijat pelipisnya.
“Lain kali tolong, bicarakan dulu padaku.”
“Aku juga berharap, kamu membicarakan apapun padaku terlebih dahulu.”
Hana tersentak karena kalimat Natsume yang membalikkan kalimatnya.
“Apa-apaan itu, kamu saja belum mengembalikan ponselku,” Hana menggerutu. Lebih baik ia segera kembali ke kursinya. Berdebat dengan Natsume Haru di kelas bukanlah hal yang bagus.
.
-[Yami no Ai]-
.
“Hei hei hari ini ada kedai krepe yang baru di buka di dekat stasiun loh, katanya diskon 70% untuk 500 pembeli pertama! Yuk ke sana!” Maki berjingkat heboh sambil menunjukkan layar ponselnya diantara agenda makan siang empat sekawan itu.
“Asik juga, aku juka sedang ingin Mix Berry, bagaimana kalau nanti ke sana?” Yui berceletuk.
“SHIRO MAU!” Shiro mengacungkan sumpitnya ke udara.
Semua mata tertuju pada Hana yang belum memberikan respon.
“Y-yah… boleh lah…” mana mungkin Hana menolak tatapan ketiga sahabatnya itu.
.
-[Yami no Ai]-
.
Setelah jam pelajaran terakhir terlewati, empat perempuan yang sudah tak sabar menikmati krepe diskonan segera meninggalkan kelas diiringi rencana-rencana mereka mengenai krepe apa saja yang akan mereka beli.
“Shiro mau Vanilla Chesse, lalu Dark Choco, lalu Blueberry, lalu…”
“Astaga Shiro, perutmu akan sakit jika memakan sebanyak itu,” Maki menyahuti sambil bercanda.
“Habisnya ini kan kesempatan langkah. Hanya membayar 30% saja!” Shiro menggembungkan pipinya.
“Tapi kan tidak perlu sebanyak itu,” Yui sweatdrop.
Hana hanya tersenyum menanggapi.
“Krepe?”
Sebuah suara baritone penuh tanda tanya datang dari arah belakang. Membuat kerumunan itu menoleh ke arah Natsume Haru.
Yui tersenyum jahil sekilas.
“Benar. Kita mau ke kedai krepe. Mau ikut juga Haru-kun?” Dalam kepala Yui sudah tersusun sebuah scenario yang menurutnya epic.
“Hei! Yui! Jangan sembarangan mengajak dong!” Protes Hana. “Memangnya dia nggak malu kalau ikut kerumunan perempuan?” Hana mendekat dan memberikan tatapan ‘jangan-ikut!’ secara bersamaan.
Natsume kembali kesal.
“Lalu bagaimana cara anda pulang?”
“Aku akan naik taksi atau semacamnya.”
Membiarkan Hana naik taksi? Jangan harap Kuroto Yoshiki a.k.a Natsume Haru menyetujui Hana melakukan itu.
“Tidak—“ Natsume terdiam sejenak sebelum membuang nafas berat.
“Ini ponselmu, hubungi aku jika kamu sudah selesai, akan kujemput,” akhirnya mau tak mau Natsume menyerahkan ponsel Hana.
‘Woaaaa…. Apa ini? Beruntung sekali!’ Batin Hana bersorak gembira. Akhirnya ponselnya kembali.
“Seharusnya kamu berikan ponselku dari kemarin,” Hana segera meraih ponselnya dan berpaling menuju teman-temannya.
Natsume hanya menatap datar kepergiian Hana dan teman-temannya. Mengenai ponsel Hana, rencananya hari ini membawanya pada seorang ‘kenalan’ yang berada di departemen komunikasi pusat untuk memblokir lajur komunikasi ID Ponsel Hana dan ID Ponsel Ishikawa Guren. Karena bukan Kuroto Yoshiki, ia menjadi benar-benar kesulitan dalam banyak hal.
Sepertinya dia akan memundurkan rencananya menjadi besok.
Getaran kecil pada saku celananya mengusik susunan rencananya. Sebuah email masuk, tentu saja Natsume hafal dengan getaran ponselnya sendiri.
Sambil berjalan menuruni tangga, Natsume meraih ponselnya dan mengecek email yang baru saja masuk.
“My Lady?” Natsume menggumanan nama sang pengirim email.
“Jangan aneh-aneh. Jangan menyusulku sebelum kuminta. Aku tidak mau tiba-tiba melihatmu saat sedang memakan krepe nanti.” Begitulah isi email itu.
Jempol Natsume menekan fungsi lock pada ponselnya dan kembali mengantongi benda persegi panjang itu.
“Ck…”
.
-[Yami no Ai]-
.
Lihat antrian para siswa yang sudah antri memanjang di depan kedai krepe yang baru di buka itu. Semua orang dengan kemauan yang sama untuk mendapat diskon pasti rela datang lebih awal dari jam buka.
“Kalau begitu Yui dan Shiro tolong carikan tempat duduk ya, biar aku dan Hana yang mengantri,” Maki member saran.
“Boleh, aku Mix Berry ya,” Yui tersenyum menyetujui.
“Ah Shiro mau…. Blueberry…. Vanill—“
“Shiro Blueberry saja.” Maki menarik tangan Hana meninggalkan Shiro untuk segera mengambil antrian.
“HEEEEEE!!??” Shiro sendiri tidak bisa berkutik saat Yui juga menariknya.
.
-[Yami no Ai]-
.
Natsume Haru menatap layar ponselnya yang tetap dalam keadaan mati di atas mejanya.
Sebuah email pada layar MAC-nya mengalihkan perhatiannya pada detik berikutnya.
Dari Hazel.
Dilampirkan juga sebuah rekaman LIVE. Natsume mengarahkan pointer pada lampiran yang dikirimkan Hazel. Setelah memuat data untuk beberapa detik, layar monitor telah menunjukkan sebuah rekaman langsung.
Hazel telah diberikan misi khusus untuk datang ke Indonesia, menilik langsung daerah tempat Tomuro ditahan.
Memasuki area paling terbatas dalam objek vital negara bukanlah hal yang susah bagi seorang Iblis sekelas Hazel. Masalahnya hanya tinggal melumpuhkan Exorcist yang berjaga.
Layar MAC Natsume menunjukkan perjalanan setelah menuruni tangga di ruang turbin. Sebuah lorong panjang dengan penerangan yang lumayan.
Untuk sementara Hazel sedang menyamar menjadi sosok manusia. Menggunakan wajah, dan wig untuk menutupi jati dirinya. Sementara kamera kecil terselip pada bros yang menempel pada blazer coklatnya. Hazel tidak menggunakan sihir penyamaran karena Exorcist pasti akan segera menyadari jika ada aura Iblis mendekat.
.
-[Yami no Ai]-
.
“Mix Berry untuk Yui, dan Blueberry untuk Shiro. Dan… Tadaaaaa kita dapat bonus Large Krepe sebagai pembeli ke 300!” Maki meletakan sebuah mangkuk besar berisi crepe dengan campuran variasi di setiap sisinya.
“Woahahahaha….” Shiro tertawa melihat besarnya crepe gratisan.
“Sepertinya kita beruntung sekali. Pengunjung kelipatan 100 mendapatkan crepe ini katanya,” Hana duduk di hadapan Yui.
Saat melihat wajah Hana, Yui teringat sesuatu.
“Omong-omong nanti bagaimana caramu pulang?” Yui menopang dagunya dengan satu tangan.
Hana mengigit krepenya dan menatap Yui polos, “Si Natsume itu akan menjemputku,” Hana mengkerucutkan bibirnya kesal.
“Bagaimana kalau orang lain saja yang mengantarmu pulang? Sekalian mengantar kita pulang. Bagus kan?” Yui mencoba mencari persetujuan dari anggota lain.
“Diantar pulang? Boleh sih,” Maki mengangguk setuju.
“Shiro sudah dijemput Tomoaki-kun,” Shiro menggeleng sambil mengunyah krepe gratisan.
“Dimakan sendiri bonusnya…” Hana sweatdrop.
“Hana dengarkan aku,” Yui meminta perhatian hana lagi.
“Ah ya, memangnya kita mau diantar siapa?” Hana menaikan sebelah alisnya.
“Rahasia,” Yui mengerlikan matanya kemudian melanjutkan memakan krepenya.
“Haaah?” Hana sweatdrop.
.
-[Yami no Ai]-
.
Dua jam berlalu. Matahari sudah sepenuhnya tenggelam dari padatnya Tokyo.
Natsume keluar berjalan kaki dari manor. Manornya yang hanya berupa ‘kerajaan keci’ itu selain tersembunyi oleh suatu segel, diletakan di sebuah tepat yang sangat strategis. Supaya tidak ada yang curiga dengan mobil-mobil atau aktivitas keluar masuk suatu jalan namun menghilang tiba-tiba. Maka manor itu di letakan sebuah persimpangan jalan yang renggang penduduk. Sebuah rumah diletakan di sana untuk mengurangi kecurigaan.
Natsume memilih menyerahkan semua tugas pengamatan pada tim khusus. Ia hanya tinggal menunggu laporan masuk dan melakukan rapat strategi setelah itu. Percuma saja jika ia terus ikut melakukan pengamatan tetapi atensinya selalu teralih pada ponselnya yang tidak menunjukkan tanda-tanda mendapat kiriman dari Hana.
Hana memang melarangnya untuk datang tiba-tiba dan bertindak aneh-aneh. Tapi Hana tidak melarangnya untuk meneleponnya kan?
Natsume mencari kontak Hana.Rasanya sekarang apa yang akan ia lakukan harus dipikir-pikir matang-matang dulu. Jika ia kembali salah melangkah, ia akan mendapat hadiah berupa tatapan permusuhan dari Hana.
Setelah menekan tombol dial, nada sambung terdengar. Natsume menghela nafas lega. Hana tidak mematikan ponselnya.
.
-[Yami no Ai]-
.
Ponsel Hana terus bergetar tanpa henti di dalam tasnya yang tertutup.
“Kalau begitu hati-hati Shiro, Tomoaki-senpai!” Hana melambali pada sebuah mobil yang baru saja bergerak.
“Shiro sudah dijemput, maka sekarang tinggal…” belum habis kalimat Yui, sebuah mobil sedan berwarna cerah berhenti tepat di depan ketiganya yang sedang berdiri di depan sebuah minimarket.
Kaca bagian kemudi mobil itu terbuka. Wajah Ishikawa Guren muncul dari baliknya.
“Menunggu lama? Maaf aku buru-buru menyelesaikan rapatku karena menerima email dari Umei-san,” Ishikawa Guren tersenyum.
Hana melirik Yui dongkol. Ternyata orang yang dimaksud untuk menjemput adalah Ishikawa Guren. Sementara Yui hanya tersenyum tak berdosa.
“Ah, kalian cepatlah masuk. Aku yakin orang tua kalian khawatir jika kalian tidak segera pulang.”
.
-[Yami no Ai]-
.
Natsume terus menatap layar ponselnya. Tidak ada satupun panggilannya yang direspon oleh Hana. Begitupun email-email yang sudah ia kirimkan.
Berbagai spekulasi bermunculan di benaknya. Mulai dari jika Hana masih bermain dengan temannya, Hana marah padanya dan sengaja tidak mau mengangkat panggilan darinya, sampai Hana mengalami suatu bahaya.
Tanpa sengaja ia meremat ponselnya erat.
“My lady…”
Maka dikirimkannya email sekali lagi yang berbunyi, “Anda membenci saya? Bila begitu saya bisa menyuruh supir lain untuk menjemput anda, tolong respon anda.”
.
-[Yami no Ai]-
.
Getaran kecil pada ponsel Hana tentu saja segera terhapus karena deru mobil yang kembali menambah kecepatan setelah Ishikawa Guren berhenti untuk menurunkan Hisegawa Maki. Maka tinggalah Yui dan Hana untuk dianatar.
“Waaah, Ishikawa-san sampai rela datang menjemput padahal sedang dalam rapat pekerjaannya,” Yui mulai memanas-manasi.
Ishikawa tersenyum, “rapatnya memang sudah hampir selesai.”
Yui menggoyang bahu Hana yang duduk di depan dari belakang. Memberikan tatapan kamu-harus-berterimakasih-loh.
Sebelum menghela nafas, Hana sempat membalas tatapan Yui kesal.
“Terima kasih Guren-kun,” Hana curiga jika Yui lah yang memanggil Ishikawa Guren untuk menjemput. Tapi Hana tidak punya bukti sama sekali jika Yui memang memanggil Ishikawa Guren.
“Ah, tidak tidak, rapat seperti itu sering kulakukan, jadi tidak masalah jika yang sekarang dipercepat,” Ishikawa Guren kembali melontarkan senyumannya.
"Yamete yo!" akhirnya Hana mengelurakan ponselnya dan mulai menelepon Yoshiki. 'Aku pasti dimarahi' Hana sudah bersiap-siap untuk tearsdropnya.
"Moshi-moshi?" tak di duga. Telepon itu diangkat oleh Yoshiki.
"Ah m-moshi-m-moshi" Hana sangat gugup.
"Hn. Nani?"
"Ah eto apa aku mengganggumu? Teman-temanku--"
"Tidak aku sedang istirahat sebentar."
"Huft. Gomen Yoshiki-kun kau bisa melanjutk--"
"Tidak. Aku memang merindukanmu."
Dan saat itu juga Yui, Maki, dan Shiro mengalami shock berat.
"A-akh..." wajah Hana memerah seketika.
"APAAN SIH!? AKU MALU TAHU!!" Hana meneriaki Yoshiki dengan keras, membuat seluruh penghuni restoran kue yg mereka singgahi terganggu.
"Hn. Tapi aku sungguh-sungguh merindukan--"
"Coto! Kuroto-san jika kau memang merindukan Hana kenapa tidak sedari tadi menelepon? DASAR TSUNDERE!" ucap Shiro ceplas-ceplos.
"Hn. Kau siapa?"
"Eh etto itu tadi Ayaki Shiro dari kelas 1-2. Aku pergi bersamanya, Maki, dan Umei Yui dari kelas 1-1. Gomen tidak memberitahumu."
"Hn. Daijobu. Mau kujemput nanti pulang?"
"A-AAAH! Tidak usah! Kau pasti sibuk sekali."
"Hn. Untukmu apapun kulakukan."
Sebuah kenangan tiba-tiba menghantam ingatannya.
“Y-Yoshiki-kun?” Hana berguman pelan. Kedua Sapphirenya terbuka lebar.
“Ishikawa-san bisa berhenti di dekat pertigaan di sana, aku tinggal di belakang apartemen itu,” Yui dari bangku belakang menunjuk sebuah jalan.
Hana tersadar dari lamunannya berkat suara Yui.
Mobil Ishikawa kembali berhenti untuk menurunkan penumpang.
“Terima kasih atas tumpangannya,” Yui tersenyum ke arah Ishikawa Guren lewat kaca Hana yang diturunkan.
“Dan… selamat bersenang-senang,” Yui mengerling nakal pada Hana.
“Haaah?” Hana membuka mulutnya lebar dengan sebelah alisnya terangkat tidak mengerti.
Begitu Yui telah menghilang dari pandangan, Ishikawa Guren kembali melajukan mobilnya. Kali ini sedikit lebih lambat.
Tiba-tiba Hana teringat ponselnya. Segera dibukanya resleting tasnya dengan tergesa-gesa. Gawat! Dia baru ingat jika dia lupa menghubungi Natsume Haru!
Begitu ia menekan fungsi lock, ponselnya menunjukan jajaran notifikasi email dan panggilan tak terjawab yang masuk.
‘Astaga!’ Pekik Hana dalam hati.
51 Email masuk dan 28 Panggilan tak terjawab. Dan sudah sejak tiga jam yang lalu.
“’Yoshiki-kun’?” Di tengah rasa shock yang lemanda Hana, Ishikawa Guren menyebut nama pria yang barusan digumankan Hana.
“Ah, ah, ada apa Guren-kun?” Sepertinya pikiran Hana sudah teralih pada serbuan email dan panggilan masuk dari Natsume.
“Yoshiki-kun itu siapa?” Ishikawa Guren kembali mengajukkan pertanyaannya.
‘Tunggu dulu, Yoshiki? Sepertinya nama itu tidak asing,’ pikir Natsume menerawang.
Lidah Hana bergerak sedikit, “kekasihku.”
“Eh?” Ishikawa Guren menoleh seketika ke arah Hana.
Hana tak menggubris respon kaget Ishikawa. Kepalanya tertunduk menatap layar ponselnya.
“Kukira kekasihmu itu Natsume Haru,” Ishikawa setengah bercanda.
“Kan sudah kubilang bukan,” Hana menatap Ishikawa dengan menggembungkan pipinya sementara tangannya menggenggam erat ponselnya.
“Ponselmu? Sudah kembali?”
“Ah, ya. Sudah. Loh, kok Guren-kun tahu ponselku sempat tidak bersamaku?”
“Umei Yui meneleponmu seusai keluar dari kolam renang kemarin. Dan katanya yang menjawab Natsume Haru itu. Kami mengkhawatirkanmu karena tiba-tiba pergi begitu saja.”
Akhirnya Ishikawa Guren menyinggung tema yang paling tidak ingin Hana bicarakan.
“Maaf! Aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin!” Hana menepuk kedua tangannya.
“Tidak, tidak. Tidak masalah,” Guren tersenyum garing.
DRRRTT….

Ponsel Hana kembali bergetar.
Read More ->>

Rabu, 05 Juli 2017

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 17]

CHAPTER 17: YOU’RE MY PRIDE

‘MATI AKU!!’ Hana shock dan rasanya ada berbagai petir menyambar-nyambar di dalam dirinya.
‘JADI INI KAH RASANYA MOMENT PALING MEMALUKAN DI DALAM HIDUP ITU!??’ Batin Hana berteriak-riak liar.
Hana hanya bisa nyengir dan segera mengalihkan pandangannya dari pria itu sebisa mungkin.
Setelah mencapai menu terakhir Hana tanpa sadar menoleh kembali pada sang pria yang mungkin sedang melakukan pembayaran untuk set makan malamnya. Pria itu mengeluarkan dompetnya dan nampak mengeluarkan sebuah credit card pula.
Sebuah Platinum Credit Card.
Seketika bayangan Kuroto Yoshiki yang juga pernah Hana lihat mengeluarkan kartu sejenis untuk membayar bill makan malam mereka di tempat ini.
Saat Hana berkedip untuk mengakhiri bayangan kenangan yang menghantuinya, ternyata pria itu tengah menatapnya lekat.
Menyadari tatapan Hana yang sepertinya hanya tertuju pada kartu kreditnya, pria itu segera menyusupkan kartu kreditnya ke dalam bill agar pelayan mengurus sisanya.
Sebelum terjadi kontak lagi, Hana cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Melanjutkan menyesap tehnya yang masih hangat.
Yang ia lihat di hadapannya hanyalah sebuah kursi kosong. Padahal di atas mejanya sudah lengkap set untuk ‘kencan-makan-malam’. Tapi ia malah datang sendirian. Makan sendirian. Menunggu kembang api sendirian. Melihat seorang pria asing yang mampu mengigatkannya pada suaminya yang entah di mana sekarang.
Mungkin jika suaminya ada di hadapannya, mungkin saat ini suaminya tengah meminum anggur favoritnya dengan tampang bangsawan yang mampu menggoda siapapun wanita di ruangan ini.
Namun sekali lagi, sayangnya, suaminya tidak di sini.
.
[Yami no Ai]
.
Menunggu lift mencapai lantai longue restoran, Natsume Haru berdecak kesal karena benda berbentuk balok ini tidak segera mencapai tujuannya.
Sepertinya kali ini ia harus mengawasi Hana namun dengan konsekuensi jangan sampai terlihat oleh Hana. Mengingat betapa bencinya Hana pada sosok Natsume Haru. Ditambah pesan Hana yang menyuruhnya untuk tidak berbuat macam-macam.
.
[Yami no Ai]
.
Tinggal sepuluh menit lagi sebelum kembang api pertama di luncurkan.
Hana berpindah dari restoran ke sebuah bar hotel yang sepertinya di desain di dekat sebuah beranda yang strategis untuk menonton festival kembang api kuil terdekat.
Seorang waiters yang mengantar Hana menarik sebuah kursi bagi Hana. Setelah Hana menduduki kursinya, waiters itu pergi.
Tatapannya tertuju pada kilatan kaca yang tertata apik di rak sang bartender. Berbagai anggur dan sulingan alcohol tersusun apik di sana.
Coba diingat-ingat kembali, Hana tidak terlalu mengerti mengenai masalah anggur. Dulu Yoshiki memesankannya apa? Oh buruk. Hana melupakan nama campuran soda tak beralkohol yang dulu diucapkan Yoshiki dengan lidah fasihnya.
“Ingin meminum sesuatu nona?” Sang bartender yang tengah sibuk mengelap botol anggur hingga mengkilap menyempatkan diri bertanya pada Hana.
“Ah…” Hana menatap bingung.
‘GAWAAAAAAT AKU LUPA APA NAMA MINUMANNYA!!’ Batin Hana menangis.
“Jadi kau mengikutiku tanpa memiliki rencana apapun. Padahal kau sendiri tidak tahu apa-apa soal minuman,” sebuah suara penuh cemoohan terdengar dari samping Hana.
Itu pria yang tadi di restoran.
‘UWAAA DIA YANG TADI!’ Saat Ini Hana merasa kesialan tengah mengikutinya. Pria yang tadi membuatnya malu setengah mati ada di sampingnya. Saking shocknya dia sampai ejekan sang pria tak bisa ia dengarkan.
“Waah… kebetulan sekali yah… kita bertemu lagi,” Hana tertawa garing. Mungkin menertawakan nasibnya.
Pria dalam setelan jas itu kembali menggunakan nada mencemoohnya, “benar-benar kebetulan.”
“Maksudnya apa?” Hana yang tidak mengerti mengendurkan senyumnya.
“Kebetulan yang disengaja,” ucap pria itu to the point.
“Hah?” Sekarang Hana semakin tidak mengerti.
Natsume Haru dengan tergesa-gesa keluar dari lift sempit yang mengukungnya. Melangkah cepat ingin segera menuju ke restoran yang dulunya ia dan Hana gunakan. Memasuki longue bar tanpa menyadari Hana tengah duduk di antara deretan kursi.
Pria di samping Hana melipat kedua tangannya di depan dadanya, kebetulan pandangannya menatap sosok Natsume yang tergesa-gesa, “bagaimana dengan pria berambut putih itu?”
Hana mengikuti arah pandangan sang pria dan menemukan punggung Natsume telah berjalan melewatinya.
“Pakaiannya bagus. Mungkin dia punya kartu kredit yang lebih baik dariku,” pria itu mencondogkan sedikit tubuhnya dan berbisik seolah mengejek.
Baiklah. Hana mengerti sekarang. Sepenuhnya mengerti.
Sekilas Hana menatap tidak percaya pada pria itu. Namun sang pria malah menatapnya dengan sebuah senyum yang mengejek.
“Menurutmu… aku sedang sengaja mendekatimu… karena aku melihat kartu kreditmu?”
Pria itu tidak menyahuti. Namun senyum di bibirnya melebar.
‘Hahaha…’ rasanya Hana ingin tertawa sekarang. Tertawa ironis lebih tepatnya.
“Maaf Tuan,” rasanya Hana ingin menangis sekarang.
Memang benar Hana tidak lebih dari seorang siswa SMA biasa yang bekerja part-time untuk menghidupi kesehariannya yang dibawah kata sederhana. Sebelumnya ia tak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi manusia yang dikelilingi harta. Dirinya tidak khatam dengan kegiatan-kegiatan menghamburkan uang untuk makan malam di resto mahal seperti ini. Bisa dibilang Hana sangat kikuk jika tidak bersama seseorang yang telah merubah hidupnya, sang suami, Kuroto Yoshiki.
“Sepertinya anda salah sangka. Aku di sini hanya untuk melihat kembang api.”
Beberapa butir air mata bermunculan.
“Jika anda mengira saya mengincar anda karena kartu kredit anda…,” Hana tersenyum masam, “anda salah besar. Saya memang tidak tahu tingkatan kartu kredit….”
Natsume Haru melongokkan kepalanya saat berada di depan restoran mencari sosok Hana. Persetan dengan semua orang yang memandangnya aneh.
‘Tch, apa dia sudah di bar?’
Seingatnya tahun lalu setelah makan malam, ia mengajak Hana untuk menemaninya minum di longue bar. Hana pasti ke sana. Natsume segera bergegas kembali.
Setelah beberapa detik menyapu seluruh longue bar, Natsume menemukan sosok Hana. Duduk dan berbicara pada seorang pria di sebelahnya.
Tanpa berpikir panjang Natsume mendekati Hana yang nampaknya masih tidak menyadarinya.
“Hanya saja apa yang anda lakukan mengingatkan saya pada seseorang yang penting di hidup saya!”
Hana bangkit dari bangkunya dengan serampangan, tak bisa lagi menahan lelehan air matanya.
BRAK
Tubuhnya bertabrakan dengan tubuh Natsume yang tidak menyadari tindakan Hana tiba-tiba.
PSYUUUUUH DAAAAAR!! SYUUU DAAAR!! DAAAR! DAAR!!
Letupan kembang api bermekaran. Berkilatan menerangi malam Tokyo. Menyapu bersih langit gelap dengan percikan berwarna-warni dan meriah.
Hana sepenuhnya tahu siapa pria yang ditabraknya. Namun fokusnya telah teralih pada beranda bar yang terbuka lebar dan menampakan gemerlap kembang api.
Tanpa sadar tangan Hana melingkar pada tubuh Natsume.
Sama. Ukurannya, kekokohannya, kehangatannya, semuanya terasa sama dengan tubuh Yoshiki. Oleh sebab itu Hana memilih menyerah dan terus mendekap tubuh Natsume sementara ia mengamati kembang api.
“….” Natsume sendiri sedikit kaget melihat Hana yang dengan sukarela memeluknya.
Apalagi tadi Hana terlihat meneteskan air mata.
Sialan! Siapa yang telah berani membuat istrinya menangis seperti ini?
Pria itu memandang punggung Hana yang tengah memeluk Natsume dengan tatapan ‘dia-benar-benar-jalang-lihat-saja-dia-sudah-mendapatkan-pria-yang-tadi-kusebutkan’’
Natsume yang menyadari itu mengetahui siapa pelaku yang dicarinya. Sebuah tatapan membunuh dan merendahkan diberikan.
Sang pria tentu saja merasakan sensasi aneh dan lain dari tatapan Natsume langsung mengalihkan pandangannya.
Untunglah Natsume kembali teralihkan pada Hana yang sepertinya terlelap dalam dekapannya. Jika tidak mungkin pria itu sudah kehilangan kepalanya sekarang.
Menggendong Hana ala bridal, Natsume membawa Hana pulang. Mengabaikan pandangan pelayan dan tamu wanita yang berdecak iri.
.
[Yami no Ai]
.
Kelopak Hana terbuka perlahan. Silaunya lampu jalanan yang melewatinya semakin membuat indra penglihatannya itu mengerjap berkali-kali meminta untuk terjaga.
Dia ada di dalam mobil.
“Anda sudah bangun?” Natsume menyadari pergerakan kecil Hana.
“Aahh kenapa aku tertidur sih?” Hana menyamankan posisi duduknya dan menggerutu kecil karena kebodohannya.
“Pasti gara-gara kekenyangan dan… mataku panas…” nada bicara Hana menyurut.
“Dasar laki-laki berengsek. Enak saja mengatakan aku tertarik padanya karena kartu kreditnya!” Lalu terdiam sejenak sebelum kembali menlanjutkan dengan tawa getir, “…. Hahaha, Yoshiki-kun sepertinya aku memang tidak bisa melakukan apapun tanpamu.”
Natsume melirik Hana lewat kaca spion. Wanitanya itu terus memandang keluar jendela mobil dengan wajah sendu.
‘Pria itu…’ Pegangan pada setir kemudinya mengerat.
Hana adalah kebanggaannya. Harga dirinya. Pria itu telah merendahkan Hana. Itu berarti manusia rendah itu telah menginjak harga dirinya juga.
.
[Yami no Ai]
.
“Natsume-dono, saya telah menemukan orang yang anda cari. Ushio Komori. Direktur perusahaan desain yang lumayan besar di Kansai,” Misaka menyerahkan beberapa lembar kertas yang telah ia klip rapi pada Natsume.
“Hn,” Natsume membolak-balik data yang diberikan Misaki.
Semuanya tercetak rapi dan rinci. Mulai dari data pribadi, riwayat pekerjaan, keluarga, pendapatan, hingga data masa lalu ada di dalam lembaran-lembaran kertas yang diberikan Misaki atas perintah Natsume.
Seharusnya semua itu bisa dengan mudah sebagai seorang raja iblis. Namun mengungat keadaannya, Natsume tidak bisa sembarangan menggunakan sihirnya. Terlebih lagi untuk manusia. Bisa-bisa Exorcist segera mencium energi sihirnya yang sangat berbeda dari iblis-iblis lainnya sehingga semua rencananya akan porak poranda. Sama halnya ketika ia berniat memberikan sihir pendorong untuk Hana, ia mengurungkan niatnya.
Sebuah seringai mengejek muncul di antara rahang tegasnya. Sepertinya kali ini ia harus melakukannya secara ‘manusiawi’.
“Manusia seperti ini yang menginjak harga diriku?”
.
[Yami no Ai]
.
Beberapa ketukan di tengah malam memang bukanlah hal sopan.
“Kau pikir ini jam berapa hah!?” Respon yang wajar dari sang pemilik rumah yang menggerutu kesal karena tidurnya terganggu.
Wajahnya yang mengantuk berubah terkejut begitu menyadari jika orang yang muncul dari balik pintunya adalah pria yang ia lihat di bar tadi.
“Oh, kamu yang tadi kan?” Pria itu setengah menguap.
“Benar, ada yang ingin kubicarakan denganmu,” Natsume menahan seringainya.
“Baiklah, baiklah, masuklah dulu,” dengan polosnya Ushio mempersilahkan Natsume masuk. Membuat Natsume tak kuasa menahan senyuman jahatnya.
“Jadi, apa yang ingin—tunggu, dari mana kamu tahu rumahku?” Sepertinya Ushio telah sepenuhnya sadar dari ngantuknya. Namun semua itu telah terlambat. Ia telah mengizinkan seorang predator memasuki kediamannya.
“Ushio Komori dari Arts Graphic bukan?” Natsume berujar tenang sementara ia menatap tajam buruan di hadapannya.
“B-benar,” Ushio tanpa sadar meneguk ludah karena kerongkongannya mendadak kering.
“K-kamu sendiri siapa?”
Natsume sudah tidak bisa menahan seringaiannya. Maka seringaian serigala itu muncul. Sebuah seringai penuh kepercaya dirian dan ditambah sebuah tatapan merendahkan.
“Dengan pendapatanmu yang sekarang tidak heran jika kartu kreditmu adalah jenis Mastercard Platinum milik bank swasta,” Natsume perlahan bangkit dari duduknya sementara tangannya meraih sesuatu dari saku kemejanya.
“A-apa? K-kamu siapa!?” Ushio mencoba bersiaga karena predator di hadapannya sekarang terasa lebih mengancam.
“Aku?” Natsume meletakan sebuah kartu kredit berwarna gelap di atas meja yang memasihkan keduanya.
Ushio Komori terbelalak melihat kartu kredit jenis VISA yang baru saja diletakan di atas meja. Bukan Kartu Kredit Platinum seperti miliknya. Tapi sebuah VISA Infinite.
“Aku adalah bos dari bos-bosmu,” sementara Ushio sibuk shock karena di hadapannya tersaji VISA yang tak sembarangan orang bisa memilikinya, Natsume telah selesai menutupi tangannya dengan sarung tangan.
Untuk ukuran otak seorang direktur, walaupun masih ngantuk, Ushio langsung sadar jika kedatangan orang yang katanya “bos dari bos-bosnya” ini ada hubungannya dengan kejadian ia membuat seorang perempuan yang tadi orang “bos dari bos-bosnya” ini menangis di bar.
Ushio kembali memandang VISA menggoda di hadapannya dengan maksud mencari tahu siapa sang pemilik VISA Infinite tersebut.
“K-Kuroto Y-Yoshiki!!!???” Kali ini adalah puncak keterkejutan Ushio. Ia benar-benar terkejut seaakan jantungnya bisa berhenti seketika.
Siapa pebisnis yang tidak mengenal nama Kuroto Yoshiki? Bahkan katanya nama itu sudah terbang ke seluruh dunia. Salah satu ‘pria dalam kegelapan’ yang menguasai saham perusahaan-perusahaan besar. Memiliki ratusan anak perusahaan yang berskala besar dan bergerak dalam berbagai bidang di seluruh Jepang, atau mungkin seluruh dunia?
Tidak ada yang tahu bagaimana wajah Kuroto Yoshiki walaupun rumornya telah menyebar luas di kalangan pebisnis. Karena wajar saja mereka yang menjadi pioneer-pioneer tidak layak bertatap muka dengan mereka yang berkuasa.
Dan sekarang ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, sang ‘pria dalam kegelapan’, sang penguasa segala industri di tanah Jepang.
Kuroto Yoshiki yang luar biasa, menatapnya rendah, dengan menggenggam sebuah pisau lipat.
Apa? Tunggu? Pisau lipat?
CRAAAAAT!!
Sementara Ushio masih tertegun, pisau itu telah tertancap tepat di tengah-tengah kerongkongannya.
“Bghh? Bhuuggh!!” Beberapa muncratan darah keluar dari mulut Ushio.
“Hn, itulah mengapa aku memakai sarung tangan. Agar darah hinamu ini tidak mengotoriku.”
Dengan matanya yang terbelalak lebar ia bisa melihat wajah merendahkan yang entah kenapa nampak agung dari paras Natsume.
“Kau pikir kau hebat hanya karena memiliki kartu kredit Platinum?” Lagi. Natsume menggunakan nada mengejek.
“Hn, kau tahu siapa perempuan yang telah kau buat menangis tadi?”
Ushio hanya menggeleng lemah sementara lehernya tertahan oleh pisau Natsume.
“Dia istriku.” Natsume Haru menarik pisau lipatnya secara serampangan. Membuat banyak darah bermuncratan.
“Dan kau membuatnya menangis,” dengan alunan nada datar dan santainya, Natsume menelusupkan kedua jarinya ke dalam bola mata kanan Ushio. Lalu menarik keluar bola mata itu. Mencabut semua sel saraf yang tersambung.
“G-ggghhh…” Ushio tidak bisa berteriak. Pita suaranya telah terputus akibat pisau lipat.
“Kau pikir dia mengincarmu karena kartu kredit murahanmu? Sayang sekali…”
Natsume menancapkan pisau lipatnya pada dahi Ushio. Kemudian bangkit berdiri meninggalkan mayat Ushio.
“… Suaminya adalah Lucifer. Benda lempengan seperti kartu kredit hanyalah butiran pasir.”
.
[Yami no Ai]
.
“Kuroto Hana tolong bawakan fotocopy soal ini ke kelas ya.”
“Baik bu.”
Hana yang seharusnya hanya mengumpulkan tugas Bahasa Jepang yang telat ia kumpulkan malah tertangkap guru Kesenian.
“Hup,” Hana mengangkat beberapa tumpuk kertas sekaligus.
Sapphire Hana tak sengaja menangkap sebuah headline pada Koran yang diletakan tak jauh dari tumpukan kertas soal.
“HEEEEEEEE!!!?? DIA KAN YANG KEMARIN!!??”
Pekikan Hana otomatis membuat siapapun yang berada di ruang guru saat itu pastilah menoleh ke arah Hana.

‘TEWAS MENGERIKAN: MAYAT DIREKTUR PERUSAHAAN DESAIN DITEMUKAN TAK WAJAR’
Read More ->>

Selasa, 30 Mei 2017

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 16]

CHAPTER 16: RANDOM STEP CLOSER

“Ya?” Sahut Natsume santai.
“A-aku menelepon nomor Hana kan ini?” Yui kebingungan sendiri.
“Kau menelepon nomor yang benar Umei.”
“Lalu kenapa kau yang mengangkatnya?”
“Karena ponsel Hana ada padaku. Kau memiliki perlu dengannya?” Jawab Natsume santai.
“Apa… Apa yang sebenarnya terjadi tadi? Katanya kamu menggendong Hana keluar Paradise Pool. Kalian  berdua pulang begitu saja!” Di tengah pertanyaannya, Yui melontarkan protes.
“Hn, kami berdua pulang.”
“Apa-apaan jawabanmu yang seakan menghindari pertanyaanku itu,” Yui menggerutu.
“Hn.”
“Astaga kami bingung sekali tadi. Bahkan Ishikawa-san sempat ingin menyusul kalian.”
“….” Tidak ada sahutan dari Natsume.
“Baiklah, aku tidak mengerti seperti apa hubungan kalian, semoga berjalan lancar. Selamat malam.”
“Selamat malam.”
Panggilan berakhir.
Natsume menatap dalam ponsel Hana.
“…. Ini akan segera berakhir My Lady,” gumannya yakin.

-[Yami no Ai]-

Rusia, Moscow, 12:26 waktu setempat
EXORCIST ASSOCIATION HEADQUATERS
Humanity Staff Room
“Email dari kedutaan?” Seorang pria membetulkan letak kacamatanya sembari menyesap latte-nya.
Double klik pada email yang nampaknya sudah diterima sejak beberapa jam yang lalu.
“GUUH—UHUUK!” Pria itu terbatuk setelah menyemburkan beberapa mili kopinya.
“Hoho ada apa dengan anda Tuan Ivanovic? Menumpahkan kopi anda?” Pemuda berambut gelap yang kebetulan melihat aksi sang pria membuat sebuah guyonan.
“Ini kabar buruk.”
Pria itu mengabaikan guyonan juniornya dan segera melakukan print out email yang diterima.
Sebuah ketukan pintu yang terkesan menuntut dan darurat menggema di ruangan general manager.
“Masuk.”
“Pak, kedaulatan menuntut kita karena campur tangan kita dalam penangkapan agen rahasia federasi.”
“Oh Tuhan!” Sang general manager dengan hand band bertuliskan A-29 berdiri dari kursinya.
“Bagaimana mereka tahu?” A-29 memijat keningnya dalam.
Exorcist Rusia yang menyadari beberapa iblis telah menyusup sebagai agen spesial Rusia. Sementara beberapa agen itu telah ditugaskan untuk menyusup sebagai mata-mata America. Exorcist bergerak sendiri tanpa himbauan dari kedaulatan untuk membocorkan informasi pada America. Agar penyusup iblis itu bisa berada dalam genggaman pemerintah America, dan Exorcist America bisa mengurusi bagian penyegelan.
Namun itu semua telah terbongkar sekarang.

-[Yami no Ai]-

Kuroto Hana memiliki pertanyaan untuk diajukan pada Misaki. Oleh karena itu ia sedang berdiri di depan pintu kamar pribadi sang maid.
Begitu hendak mengetuk pintu ia sadar bahwa pintu kayu itu sama sekali tidak terkunci, malahan ada sebuah cela terbuka.
Akibatnya Hana bisa mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar dari kamar itu.
“Apa? Kau ingin keluar? Tentu saja kau tak diizinkan. Umhh… Nghh… Ahh…”
“!?” Antara kaget dan ingin tahu, Hana memberanikan diri untuk mengintip aktivitas apa yang ada di kamar Misaki.
Sapphirenya melebar saat melihat Misaki bertubuh telanjang tengah bergerak ke atas dan ke bawah sementara di bawahnya ada seorang pria yang terikat di seluruh alat geraknya. Dan Hana bisa melihat jelas ada sesuatu seperti cincin yang melilit pada penis sang pria.
KRIEEET
Pintu kamar Misaki bergerak sedikit karena mendapat dorongan dari tubuh Hana.
Seketika Misaki berhenti bergerak dan menoleh ke arah Hana dengan melancarkan sebuah serangan berupa gumpalan kegelapan yang tajam di ujungnya.
Tentu saja serangan itu segera musnah tepat di depan mata Hana.
“!!”
“My Lady!” Misaki segera turun dari posisinya.
“Misaki, maaf, maaf aku tidak bermaksud mengintip,” Hana bingung menjelaskan situasinya.
“Tidak My Lady anda tidak harus meminta maaf. Ini salah saya karena tidak menyadari anda.”
Tatapan Hana terfokus pada benda vital Misaki yang sangat basah. ‘Astaga, aku salah waktu ya.’
“Kamu teruskan saja dulu Misaki, jika sudah selesai tolong ke kamarku ya, hehe,” Hana nyengir lima jari. Sejujurnya ia sangat bingung harus bertindak dan berkata apa saat ini.
“Saya akan segera ke sana setelah berpakaian My Lady.”
“Ah… baiklah… terserah sih… Pokoknya kutunggu di kamarku. Oke? Dagh!” Hana ngeloyor pergi sebelum kecanggungan semakin terasa.

-[Yami no Ai]-

“Tidak kusangka selera Misaki seperti itu…” masih terbayang apa yang ia lihat barusan.
Seorang pria terikat secara menyilang dengan penis yang terikat sesuatu. Menahan agar tidak ada cairan yang merembes dari sana. ‘Itu pasti sakit…’ Hana menggelengkan kepalanya ringan.
“My Lady,” dan disusul dengan beberapa kali ketuka di pintu kamarnya.
Itu Misaki. Pelayannya itu benar-benar mengakhiri ‘permainannya’ dan memilih mendatangi dirinya. Sepertinya Hana agak merasa bersalah sekarang.
Hana membuka pintu kamarnya, “ah Misaki, masuklah,” Hana segera menghapus pemikirannya tentang apa yang sudah dilakukan Misaki barusan.
Misaki mengikuti perintah Hana untuk masuk.
Duduk di sebuah sofa, keduanya memulai pembicaraan.
“Misaki ada yang ingin kutanyakan padamu.”
“… Maaf My Lady jika ini mengenai Ishikawa Guren, saya tidak bisa memberikan pendapat apapun,” tentu saja Misaki tidak ingin insiden kepalanya yang dibenturkan ke dinding sampai dirinya tewas sementara oleh Natsume Haru terulang lagi.
“Eh? Ada apa Misaki? Sesuatu terjadi?” Hana terdiam karena pernyataan Misaki. Hana mencium sesuatu yang aneh.
Misaki membisu sejenak. “… Tidak ada. My Lady. Silahkan melanjutkan pertanyaan anda.”
‘Sesuatu benar-benar terjadi. Sepengetahuanku tidak ada orang lain yang mengetahui soal Ishikawa Guren di istana ini kecuali Natsume Haru dan Misaki. Jadi kemungkinannya Natsume Haru melakukan sesuatu kepada Misaki karena Ishikawa Guren. Pria itu lagi....’
“Baiklah,” Hana memutuskan mengakhiri tema pembicaraan yang nampaknya sangat dihindari Misaki.
“Ini soal tubuhku Misaki,” Hana menatap Misaki serius.
“Tubuh anda?”
Hana mengangguk. “Misaki… aku ini sudah bukan ‘manusia’ lagi kan?”
“Benar My Lady…” Misaki sepertinya sedikit bingung dengan pertanyaan Hana.
“Aku sudah ‘sama’ sepertimu kan?” Lagi-lagi Hana memberikan pertanyaan ambigu.
“Tentu My Lady…” kali ini Misaki memberikan nada yang agak meragukan.
“Lalu, lalu, kenapa aku masih ‘lapar’ dalam makanan manusia? Lalu kenapa aku masih membutuhkan ‘oksigen’ untuk bernafas? Bukankah para Iblis sudah tidak—“ Hana tidak meneruskan kalimatnya.
“Maaf My Lady, soal itu saya tidak mengerti sama sekali. Anda bisa bertanya pada Natsume-dono mengenai itu.”
“Natsume Haru!? Kenapa harus dia!?” Emosi Hana kembali meletup begitu Misaki menyebut nama pria itu. “Dan Misaki apa Natsume Haru mengatakan sesuatu tentang Ishikawa Guren?”
Misaki bangkit dari duduknya. “Natsume-dono akan menjawab pertanyaan-pertanyaan anda My Lady, saya permisi.”
Melihat reaksi Misaki, Hana sepenuhnya yakin jika Natsume Haru telah melakukan sesuatu hingga Misaki tidak berani mengatakan apapun padanya.
“Di mana aku bisa menemui pengkhianat itu?” Hana mendesiskan suaranya.
Misaki berhenti melangkah, menjawab pertanyaan Hana sebelum kemudian benar-benar keluar dari kamar Hana, “Natsume-dono ada di dojo sayap kanan.”

-[Yami no Ai]-

Pandangan Natsume datar. Walalupun begitu kedua tangannya tetap menjaga kekonstanan ayunan pedang bambunya. Ke atas, ke bawah dengan ritme yang sama.
Namun bayangan saat Hana melepaskan genggaman tangannya masih memenuhi kepalanya.
Rasa kesal memenuhi rongga dadanya. Hentakan pada ayunan pedangnya menguat seolah jika pedang itu diarahkan pada sesuatu bisa membuatnya terbelah menjadi dua.
‘My Lady…’ gigi-gignya bergesek.
“Di sini kamu rupanya, pengkhianat berengsek.”
Natsume Haru refleks menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Orang yang selama ini mengisi pikirannya tengah berdiri di depan pintu dojo.
Menghentikan kegiatannya, Natsume Haru mendekati Hana. “Anda mencari saya My Lady?”
“Ya. Kembalikan ponselku!”
Natsume Haru terdiam sejenak. “Maafkan saya. Untuk sementara saya tidak bisa mengembalikan ponsel anda.”
“Kamu ini kenapa sih!? Kamu pasti juga melakukan sesuatu pada Misaki kan!?”
“…” Natsume hanya menunjukkan raut kebingungan. Bingung untuk menjawab pertanyaan Hana seperti apa.
“Sudah kuduga.”
“Anda bisa menanyakan dan berdiskusi tentang apapun pada saya My Lady.”
“Memangnya kau ini siapa?” Tanya Hana ketus.
‘Aku suamimu.’ Kedua alis Natsume Haru tertaut.
“Saya wakil langsung My Lord.”
“Aku punya pertanyaan untukmu. Misaki tidak bisa menjawabnya oleh karena itu aku kemari dengan terpaksa.” Hana memalingkan wajahnya ke arah lain.
Bibir Natsume Haru membentuk senyuman samar.
‘Benar-benar tidak jujur…’ batinnya.
“Mari berbicara sambil menikmati cemilan malam,” sembari tersenyum sekilas Natsume keluar dari area dojo.

-[Yami no Ai]-

“Jadi, apa yang ingin anda tanyakan?” Natsume Haru menyodorkan sebuah the yang baru saja ia racik ke arah Hana.
“Tentang tubuhku.  Seperti yang kamu ketahui, aku tenggelam tadi. Padahal seharusnya…” intonasi Hana menurun.
“Anda hanya perlu latihan saja. Karena sudah terbiasa bernafas anda jadi panik begitu tenggelam di dalam air. Sebenarnya tadi anda hanya butuh ketenangan saja.” Natsume menjawab santai.
“Benarkah? Hmm begitu ternyata…” Hana mengangguk-angguk mengerti.
“Anda juga bisa mengeluarkan beberapa ‘sihir’ seharusnya,” sambung Natsume.
“Sihir? Aku? Seperti apa?” Hana mulai tertarik.
“Kemarikan tangan anda, saya akan memberikan pendorong.”
Hana telah menjulurkan tangannya, namun Natsume yang juga hendak menjulurkan tangannya mengurungkan diri.
Hana menaikan sebelah alisnya melihat respon Natsume.
“Lebih baik anda tunggu My Lord kembali saja untuk membantu memberikan pendorong sihir untuk anda.”
“Oh,” Hana menarik tangannya, “baiklah, biar Yoshiki-kun saja yang melakukan.”
“My Lady… kemungkinan ini semua akan segera berakhir, bisakah… bisakah anda menjaga diri anda untuk beberapa minggu lagi?” Ada sedikit nada kegetiran dari kalimat Natsume.
Entah bagaimana Hana menangkap dan memahami perasaan Natsume saat ini. Pria di hadapannya itu sekarang seperti terlihat lelah dan menyedihkan.
Sapphire Hana sedikit melebar.
“Anda milik My Lord. Tolong selalu ingat itu. Seperti yang anda ketahui jika My Lord sangat pencemburu karena anda adalah harga diri terbesarnya.”
“Aku tahu itu. Kamu tidak perlu mengingatkanku lagi.”
Natsume menatap Hana lekat.
“Ya, semoga anda mengerti,” ucap Nastume lemah.
Ia tahu, sejak awal hal ini akan menjadi resikonya karena telah kalah.
“Pada akhirnya aku hanya tinggal melatih diriku sendiri. Seharusnya Misaki bisa menjawab pertanyaanku. Karena kamu Misaki jadi takut memberikan pendapatnya,” Hana melipat kedua tangannya di depan dada dan memberikan tatapan marah.
“Itu karena dia telah memberikan saran sembarangan dengan mengizinkan anda menerima tiket dari si sialan Ishikawa Guren itu. Oleh sebab itu untuk kedepannya saya ingin anda harus selalu bertanya kepada saya, dan hanya saya,” Natsume membuang muka.
“—Selera seksual Misaki keras ya…” Hana tidak mendengarkan kalimat Natsume barusan karena kepalanya telah sibuk mengingat-ingat apa yang ia lihat tadi di kamar Misaki.
Sekarang di kepalanya malah terngiang penis yang pria yang berdiri tegak dengan cincin di tengah-tengahnya.
Hana terdiam begitu menyadari sesuatu di bawah miliknya mulai terasa lembab.
Natsume menaikan satu alisnya melihat reaksi aneh Hana.
“Ada apa dengan selera seksual Misaki?” Selidik Natsume.
“Eh!? AAAAH! Tidak. Bukan apa-apa kok,” Hana memalingkan wajahnya yang setengah memerah.
“Sepertinya kali ini saya harus menebas kepala Misaki,” guman Natsume.
“Kamu ini sudah gila ya?” Hana menatap Natsume ngeri.
“Mungkin saja,” Natsume menyahut ambigu.
Tidak ingin menambah runyam masalah Misaki, Hana memutuskan untuk menjelaskan, “Tadi aku melihat Misaki sedang melakukan hubungan seksual,” wajah Hana memerah kesal karena terpaksa menjelaskan hal memalukan di depan Natsume.
“… Apa saja yang anda lihat?”
“Yaah… seorang polos tengah terikat di ranjang. Dan ada sesuatu seperti ring di alat vital pria itu—“
“Anda melihatnya!?” Natsume seketika memotong penjelasan polos Hana.
“Ada dalam jarak pandangku soalnya.”
“Hhh…” Natsume menghela nafas berat.
Lagi-lagi dia kecolongan. Sepertinya benar-benar susah menjaga Hana saat dirinya bukan Kuroto Yoshiki. Baiklah, tidak masalah, hal seperti ini masih bisa ditoleransi.
“Umm soal pandangan, bukannya besok ada festival kembang api ya?”
“Benar, besok tanggalnya,” jawab Natsume yakin.
Hana terdiam sejenak.
Festival kembang api di kuil. Tahun lalu dirinya dan Hana melihatnya di sebuah beranda restoran sebuah hotel karena memang di situlah spot terbaik untuk melihat kembang api yang bermekaran di langit malam Tokyo.
Natsume memandang Hana tanpa berkedip sekalipun.
Sekali lagi, pria itu merasa kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa menemani istrinya.

-[Yami no Ai]-

Malam hari berikutnya, kuil-kuil telah disibukan dengan acara kembang api yang akan dilaksanakan serentak pada pukul delapan malam. Masih ada satu jam sebelum ledakan-ledakan mengisi gelapnya langit.
“Kenapa kamu bersikeras untuk mengantarku!? Aku bisa berangkat sendiri!” Hana yang duduk di bangku belakang tengah dongkol luar biasa. Pasalnya supirnya ternyata adalah Natsume Haru. Kebodohannya sendiri karena ia tak memeriksa siapa supirnya.
Tidak ada sahutan dari Natsume Haru.
Hana tentu saja akan menolak jika ia yang menjadi supirnya jadi cara terampuh hanya diam-diam menjadi supir pengganti Hana. Kali ini ia tidak ingin kecolongan lagi.
Natsume Haru memarkir mobilnya di lantai bawah.
Hana berpesan begitu keluar dari mobil. “Kalau bisa, jangan berbuat aneh-aneh.”
Natsume hanya bisa memandang bayangan punggung Hana yang mulai lenyap.
“Tch,” decaknya.
Seharusnya ia bisa berjalan di samping Hana. Dan seharusnya malam ini bisa menjadi kencan mereka.
Kepalanya membentur kemudi.
“Menyebalkan,” gumannya.

-[Yami no Ai]-

Seorang waiter mengantarkan Hana pada sebuah meja kosong. Memberikan Hana buku menu dan menunggu Hana memutuskan pesanannya.
“Tolong yang ini,” jari telunjuk Hana menunjuk sebuah set makan malam dengan harga total sembilan ribu yen.
“Baik, tolong menunya,” sang waiter dengan sopan menerima pesanan Hana.
Sementara Natsume Haru sudah tidak bisa menahan rasa bosannya. Walaupun Hana menyuruhnya untuk tidak bertindah macam-macam. Ia tetap penasaran dengan keadaan istrinya sekarang.

-[Yami no Ai]-

“E-enak…” Hana tertegun akan rasa udang yang ia kecap.
Seorang pria yang duduk tidak jauh dari meja Hana menoleh ke arahnya dengan tatapan aneh. Tentu saja, siapapun akan menatapmu jika kau bertingkah kampungan di sebuah restoran hotel berbintang bukan?
Read More ->>

Senin, 03 April 2017

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 15]

CHAPTER 15: WHEN I CAN’T HOLD IT ANYMORE

“Haaah…” Yui menghela nafas berat.
“Makanlah Natsume-kun,” Yui menyodorkan sekotak bento yang berisi macam-macam masakan buatannya, “kamu lapar. Apalagai kamu sudah mengeluarkan banyak energy untuk menolong Hana tadi.”
“…” Natsume Haru hanya menatap bento yang disodorkan Yui.
“Dia tidak lapar Yui!” Hana masih memprotes.
‘Karena dia iblis! Dia tidak butuh makan!’ Pikir Hana.
‘Eh tunggu. Aku juga iblis. Lalu kenapa aku masih lapar dalam urusan makanan manusia? Dan lagi kenapa aku tenggelam tadi? Harusnya aku tidak membutuhkan oksigen kan?’
Hana seketika terdiam. Tenggelam dalam pikirannya.
“Tentu saja dia lapar!” Yui melawan cara pikir Hana.
“Habiskan, Natsume-kun!”
Tidak ada pilihan lain. Jika dia tidak makan di sini. Yui pasti akan sangat bingung kenapa dia tidak lapar sama sekali.
Meraih sepotong telur dadar dan kemudian memakannya.
“Bagaimana?” Yui menatap Natsume Haru dengan tatapan yakin.
“Ini enak,” Natsume Haru kembali mengambil telur dadar, dan melanjutkan dengan karage.
Tanpa Hana sadari, sapphirenya bergerak menuju pria itu dan mengawasi bagaimana pria itu benar-benar menyukai masakan Yui.
Bibirnya tanpa sengaja mengerucut tidak suka. Dan sesuatu dalam dirinya terasa tercubit.
‘Eh? Aku kenapa? Rasa kesal? Aku tidak suka Natsume menyukai makanan Yui…?’
Lama Hana terdiam.
‘… tentu saja aku tidak suka! Yui bisa-bisa tergoda oleh penghianat itu!’
Akhirnya Hana menyimpulkan sendiri bahwa rasa kesal dalam dirinya hanyalah karena takut Yui tergoda oleh Natsume Haru.
“Bagaimana jika setelah ini kita ke wahana seluncur yang tinggi itu?” Ida dengan polos menunjuk wahana tertinggi di Paradise Pool.
Semua kepala refleks menoleh ke arah yang ditunjuk Ida.
Yui dan Ishikawa Guren memucat tiba-tiba.
“B-bukankah setelah makan kita tidak boleh langsung bermain air?” Guren mencoba menghindar.
“A-aku… tidak ikut. Aku tidak bisa berenang,” guman Yui pasrah.
Ida meraih tangan Yui. Kedua insan itu saling menatap.
“Aku akan melindungimu, Yui-chan.”
“Ida-kun…”
“Hahaha…” Hana sweatdrop.
“Dan Hana akan dilindungi oleh Natsume-kun,” Yui mengerling jahil.
“Hah?” Protes Hana, “aku tidak mau!”
Mereka berlima pun menyudahi acara makan siang dan melanjutkan menikmati wahana yang ada di Paradise Pool.
“Woaaaa benar-benar tinggi!” Hana terkesima oleh tinggi seluncuran yang berada di pusat Paradise Pool.
“Guren-kun ayo coba!” Hana meraih tangan Ishikawa Guren.
Natsume Haru yang awalnya memasang wajah tidak berminat seketika terfokus pada tangan Hana yang mengait tangan Ishikawa Guren.
“...khh,” Natsume Haru yang tidak lain adalah Kuroto Yoshiki membuang muka.
Panggilan nama kecil itu… seberapa dekat hubungan mereka!?
Tangan Natsume mengepal erat membuat buku-buku jarinya memutih.
“Tunggu Hana-san… a-aku tidak bisa…” Ishikawa Guren nampak menahan tarikan Hana.
“Ayolah… sekali saja!” Hana bersikeras menarik tangan Ishikawa Guren.
“A-aku benar-benar tidak bisa!” Mau bagaimana lagi, Ishikawa Guren memang memiliki phobia terhadap kolam.
“Nanti akan sembuh!” Hana dengan keceriannya berhasil menarik Ishikawa Guren naik ke atas wahana.
“….” Kedua alis Ishikawa Guren tertaut ke atas, mengatasi rasa takutnya yang berlebihan pada seluncuran di depan matanya.
“Yuk, aku di depan, kamu di belakangku. Oke?” Hana sudah berada di dalam seluncuran. Kedua tangannya berpegangan pada kedua sisi seluncuran agar tubuhnya tidak terdorong masuk, menunggu Ishikawa Guren duduk dibelakangnya.
Hana merasakan seseorang telah duduk di belakangnya.
“Kau pasti bisa,” Hana berujar yakin sementara ia melepaskan pegangan tangannya.
Kedua orang itu meluncur searah dengan dorongan gravitasi dan air yang terus mengalir.
“Wuhuuu…” Hana berseru riang, “asik bukan?” Begitu ia menoleh ke belakang, bukan Ishikawa Guren yang ia lihat, melainkan Natsume Haru dengan tatapan datarnya.
“N-Natsume!?”
“My Lord tidak menyukai hubungan anda dan Ishikawa Guren. Hentikan segera.”
“A-apa? Kenapa kau di sini!? Mana Guren-kun?” Hana menatap Natsume marah.
“....” Tatapan datar diberikan Natsume Haru.
‘… Guren-kun,’ Natsume Haru meringis dalam batinnya.
“Sedekat apa hubungan anda?” Natsume bertanya dengan nada datar.
Tidak bisa. Yoshiki tidak bisa menjadi sosok Natsume yang seperti biasa. Dia tidak bisa memerankan sosok Natsume secara sempurna. Perasaan cemburu telah sepenuhnya menguasai dirinya.
“Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku!” Hana berteriak emosi.
Keduanya masih meluncur di dalam seluncuran tertinggi di Paradise Pool. Berputar, terdorong, dan meluncur.
“Dia masih di atas.” Natsume menjawab tenang.
‘Berhenti memikirkan si sialan itu!’
“Sekarang giliran anda menjawab pertanyaan saya. Sedekat apa hubungan anda dan si sialan itu?”
“Itu bukan urusanmu. Yang terpenting hanya aku dan dia tidak ada hubungan spesial.”
“Itu urusan saya. My Lord menyerahkan anda pada saya.”
“Kau tidak pantas mengatakan itu. Bukankah kau senang jika Yoshiki-kun tertangkap? Tidak kusangka Yoshiki-kun akan dikhianati bawahannya sendiri.”
“!?” Kedua mata Natsume Haru melebar.
PYAAASSHH
BYUUURR
Keduanya terhempas keluar seluncuran dan menghantam air kolam.
Hana segera memunculkan dirinya keluar dari kolam berkedalaman satu meter itu. Berniat segera keluar kolam meninggalkan Natsume Haru dan kembali menyusul Ishikawa Guren.
GREB
Pergelangan tangan Hana telah tertangkap Natsume.
“Lepaskan.” Ujar Hana tanpa menoleh sedikitpun.
“Bukan. Bukan seperti itu.” Rambut-rambut putih Natsume yang basah menutupi kedua kelopak mata sang pemuda.
“Kubilang lepaskan.” Hana mengabaikan ucapan Natsume.
“… Peringatan terakhir anda My Lady.”
Hana menarik tangannya sekuat tenaga.
Genggaman Natsume terlepas. Hana segera berlari ke tepi.
‘Tidak My Lady… jangan lepaskan tanganmu…’
Natsume terdiam di tempatnya. Pandangannya kosong.
“Hana-san,” Ishikawa Guren muncul setelah berlari kecil dari tangga seluncuran. Pria itu menyusul karena Hana tidak kunjung datang.
“Maaf, maaf Guren-kun. Ayo sekali lagi,” Hana meraih tangan Ishikawa Guren dan menggandengnya kembali menuju tangga seluncuran.
‘Kau melepaskan genggaman tanganku dan meraih tangan pria itu…’ Natsume Haru tersenyum getir.
GREB
Tangan Hana yang kosong tiba-tiba terasa digenggam sesuatu. Dan tubuhnya tertarik mengikuti tangan sang penggenggam. Saking kuatnya tarikan itu hingga Hana melepaskan tangan Ishikawa Guren.
Sadarlah Hana siapa sang penarik. Natsume Haru.
“Lepas—“
Tubuh Hana melayang, dan tertangkap oleh kedua tangan Natsume. Kejadian itu begitu cepat. Hana telah berada dalam gendongan Natsume yang tengah berlari menuju pintu keluar.
Semua pandangan seisi Paradise Pool seketika terarah pada Hana dan Natsume.
Begitu mencapai pintu keluar, sebuah mobil sedan gelap telah menanti dengan pintu terbuka. Natsume segera melemparkan Hana ke dalam mobil. Mengunci pintunya dan dirinya sendiri duduk di depan. Tanpa perintah, mobil itu segera melaju.
“Tidak! Apa yang kau lakukan!?” Hana mencoba membuka pintu mobil yang terkunci rapat.
“Paman hentikan mobilnya!” Hana berteriak member perintah pada sopir.
“Tetap kemudikan sampai manor atau aku akan membelah kepalamu.” Natsume melirik tajam kea rah sang sopir.
Sang sopir yang hanya iblis rendahan tentu saja lebih takut oleh kalimat ancaman Natsume.
“M-maaf My lady, saya tidak bisa…”
“Sebenarnya apa masalahmu pengkhianat? Aku dan Guren-kun hanya berteman!” Teriak Hana dari bangku belakang.
“’Guren-kun’?” Natsume mengulangi cara Hana memanggil Natsume Haru dengan nada merendahkan.
“Kalian terlalu dekat untuk disebut ‘hanya berteman’ My Lady. My Lord tidak menyukai itu,” Natsume berujar santai. Namun dibalik itu semua, ia menahan rasa sakit di dalam dadanya.
“Dia adalah ancaman,” lanjut Natsume.
“Justru kaulah ‘ancaman’ itu!” Hana berteriak ngotot dari belakang.
“Menarikku, dan menggendongku seperti itu! Kau pikir siapa kau menyentuhku seperti itu!?”
‘Aku suamimu!’
Natsume tenggelam dalam emosinya.
“Saya sudah memperingatkan anda tadi.”
“Bukan berarti kau bisa bertindak diluar batas seperti itu!”
“… maafkan saya.” Akhirnya Natsume pun meminta maaf.
“Barang-barangku bagaimana?”
“Saya sudah mengambilnya My Lady. Ada di samping anda,”
Hana menghela nafas berat. Astaga dirinya terlalu emosi sampai tidak menyadari tasnya sudah ada di sampingnya sejak tadi.
Hana meraih tasnya dan mengeluarkan isinya. Mencari ponselnya.
“Paman, ponselku di mana?” Hana mengacak-acak tasnya.
“Ponsel anda ada bersama saya.” Natsume menyahuti.
“Apa? Kembalikan ponselku!”
“Tidak.”
Dan bertepatan saat itu juga, sebuah panggilan masuk. Dari Ishikawa Guren.
Natsume menerima panggilan itu.
“Ha—“
“Jangan dekati Hana lagi.”
Dengan empat kata itu, Natsume mengakhiri panggilan itu. Tangannya kemudian bergerak untuk memblokir Ishikawa Guren.
“Eh?” Ishikawa Guren terpaku pada layar ponselnya yang menunjukkan tampilan kontak Hana namun dengan tulisan ‘pengguna tidak tersedia’. Hana memblokirnya. Bukan. Bukan Hana. Tetapi Natsume Haru.
“Bagaimana Ishikawa-san?” Yui yang berada di belakang Ishikawa berusara.
“D-dia memblokirku. Dan itu tadi suara Natsume Haru,” jawab ishikawa.
“M-maaf, semuanya jadi berantakan!” Yui berojigi meminta maaf.
“Tidak apa Umei-san.”
“Kau memblokirknya!?” Hana berteriak tidak terima.
“Apa saya harus menghancurkan ponsel anda juga?” Ucap Natsume tidak peduli.
“Anda milik My Lord. Maka saya akan melakukan apapun untuk membuat anda tetap aman. Termasuk dengan kemungkinan terburuk, saya akan memenjarakan anda jika perlu.”
Kedua sapphire Hana melebar mendengar kalimat itu.
“Kau gila….” Desis Hana.
Laju mobil menjadi nol. Mereka telah sampai.
Natsume Haru membuka pintunya dan berguman pelan, ‘benar. Aku gila karenamu, My Lady.’
Dibukakannya pintu Hana.
Hana segera keluar, niatnya menjauh dari Natsume sejauh mungkin. Pemuda ini berbahaya.
PLAK!
Namun sebuah tamparan malah diterima Hana.
“Gara-gara kamu! My Lord! My Lord tertangkap!”
Hazel McKen Allensway menatapnya emosi.
Hana hanya bisa meraba pipinya yang memerah karena tamparan Hazel barusan.
BRUAAAKK
Tubuh Hazel terpental dan menabrak dinding bangunan. Seandainya tidak ada bangunan itu mungkin Hazel bisa terlempar jauh.
“Di mana sopan santunmu pada My Lady?” Natsume berguman dingin.
“Ugggh…” Hazel perlahan bangkit sementara ia menahan perih di perutnya akibat tendangan Natsume.
Hazel mendongkakkan kepalanya, ia menemukan seseorang tak dikenalnya, dan ia sepenuhnya yakin bahwa sosok itulah yang telah berani menendangnya—dan mempermalukannya di depan Hana.
“Siapa kau?” Hazel mendekat. Kedua tangannya telah siap dengan sihir gelap.
Natsume Haru tidak menjawab, hanya menatap datar kedatangan Hazel.
Hazel yang merasa dipermainkan karena pertanyaannya tak dijawab, menambah kecepatan langkahnya dan membuat momentum untuk bentrokan dengan sang pria tak di kenal.
“!!!!” Mendadak Hazel menghentikan langkahnya.
“?” Natsume Haru yang telah bersiap-siap dengan kuda-kudanya untuk menghadang serangan Hazel bingung dengan tingkah Hazel.
“M-M….” Hazel berguman kacau.
“!!!” Natsume Haru yang menyadari jika identitasnya sebagai Kuroto Yoshiki hendak terbongkar segera menendang kembali Hazel.
BRUAAAK GRASSSAAAK
Hazel kembali terhenti karena tembok yang sama.
Natsume Haru mendekat ke arah Hazel, berjongkok tepat di hadapan Hazel, membelakangi Hana.
“Jangan sebutkan namaku, berpura-puralah tidak mengenalku,” bisik Natsume.
Hazel mengangguk paham.
“Temui aku setelah ini di pool room,” Natsume melanjutkan perintahnya.
“Natsume Haru. Wakil My Lord yang lain. Senang berkenalan denganmu Hazel McKen Allensway,” setelah mengucapkan perkenalan singkat, Natsume Haru berbalik pada Hana.
“Anda tak apa My Lady?” Kedua alis Natsume agak terangkat.
“Um..” Hana mengangguk pelan lalu meninggalkan Natsume begitu saja.



Beberapa ketukan di pintu menghentikan aktivitas Natsume yang hendak menembak bola billiard.
“Hn, masuk.”
Pintu terbuka, munculah sosok Hazel.
“M—“
DRAAAK
Sebuah bola billiard melesat tepat di samping Hazel.
“…” Hazel melirik ke samping, ia melihat lubang yang sama diameternya dengan bola billiard di pintu.
“Sudah kukatakan jangan sebut namaku,” Natsume berujar santai, pria itu duduk di sebuah sofa dengan kaki tersilang.
“Maafkan saya,” Hazel berojigi meminta maaf.
“Hn, sebelum itu dari mana kau tahu jika ini aku?”
“... Dari mata anda. Dari tatapan anda.” Jawab Hazel sembari mengigit bibir bawahnya.
“Tatapanku?” Ulang Natsume.
Hazel mengangguk, “hanya anda yang menatap saya sangat rendah seperti itu. Tatapan memabukkan yang selalu membuat saya jatuh cinta pada anda.”
“Hentikan omong kosongmu Hazel.”
“Tatapan mempesona yang sama. Tatapan yang selalu saya ingat ketika kita melakukan hubungan hard-sex dan bondage. Tatapan panas yang mampu membuat saya selalu basah.”
“… Kau benar-benar Masokis,” Ujar Natsume meremehkan.
“Oleh karena itu saya mampu mengenali anda.”
“Tidak diragukan lagi. Kau sudah bersamaku selama lebih dari delapan ratus tahun.”
“Jadi… sebenarnya apa yang terjadi?”
“Aku menginginkan laporanmu di Rusia,” Natsume tak menjawab pertanyaan Hazel.
Hazel tersenyum lebar, bangga pada dirinya sendiri, “Vladimir Putin menyetujui proposal kita untuk pusat Exorcist di Moskow. Saya sudah membuat laporan tertulis, saya akan segera menyerahkannya.”
“Hn, kerja bagus.” Natsume bangkit berdiri, mengembalikan stick billiardnya pada tempatnya.
“Seperti yang kau tahu, Kuroto Yoshiki tertahan oleh Exorcist. Namun itu bukan aku, itu Tomuro yang menyamar menjadi diriku dengan sempurna. Dan aku di sini menyamar sebagai Natsume Haru.”
“Syukurlah. Saya sangat khawatir karena berita anda tertangkap Exorcist.”
“Kau pikir aku selemah itu?”
“Tidak. Maafkan saya.”
“Kemari, buka mulutmu,” Natsume menggerakan jarinya mengundang Hazel untuk mendekat.
Hazel membuka mulutnya lebar-lebar.
“sperren Sie Ihren Mund.“
“AGHHK—“ Dengan terbentuknya segel di mulut Hazel, sekarang dia tidak bisa sembarangan memanggil nama Yoshiki dan tidak akan membocorkan kebenaran jika Natsume Haru sesungguhnya adalah Kuroto Yoshiki sang Lucifer.
“Hn, kembalilah. Urusan kita telah selesai.”
“Sedikit French Kiss?”
“Di mimpimu,” Natsume menjawab dingin.
Sebuah getaran yang cukup keras di ruangan yang sepi terdengar begitu Hazel pamit. Sumbernya adalah ponsel Hana di atas nakas.
Natsume meraih ponsel tersebut. Sebuah panggilan dari Umei Yui.
“…” Natsume terdiam memikirkan apakah sebaiknya ia mengambil panggilan ini atau tidak.
“Halo,”
“….” Tidak ada sahutan untuk beberapa saat dari Yui.
“….”
“….”
“NATSUME-KUN!?”
Read More ->>

Jumat, 27 Januari 2017

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 14]

CHAPTER 14: POOL DAY

“Hn. Misaki apa My Lady mengatakan sesuatu tentang Natsume Haru akhir-akhir ini padamu?”
“Tidak sama sekali.” Misaki menjawab mantap, “apa… terjadi sesuatu?”
Natsume melirik datar Misaki sekilas. Mempertimbangkan apakah ia harus menceritakan masalah ini pada maid utama istrinya.
Sebuah helaan nafas berat terdengar sebelum Natsume memulai ceritanya, “My Lady… menyebut Natsume Haru sebagai pengkhianat. Pengkhianat yang telah bertanggung jawab atas tertangkapnya Kuroto Yoshiki.”
“Eh?”
“My Lady benar-benar membenci Natsume Haru sekarang. Menghindar, dan menatap dingin ke arah Natsume Haru. Namun aku tidak tahu apa yang membuatnya berpikir seperti itu.”
“Anda sudah menanyakannya pada My Lady?”
“Hn, dia tidak mau menjelaskan kenapa.”
“Dan dalam keadaan membingungkan seperti ini, Ishikawa Guren muncul dan memberikan tiket sialan itu. Mendekati milikku di saat yang sempurna,” terdengar jelas nada kekesalan di setiap patah kalimat yang diucapkan Natsume. Bahkan tangannya sekarang tengah mengepal erat.
“Maaf! Maafkan saya karena telah memberikan saran seperti itu pada My Lady!” Misaki seketika menunduk dalam begitu memahami perasaan tuannya.
“Hn…”
“Lalu bagaimana tindakan anda?”
“Hn, tentu saja. Aku akan ikut ke acara ‘tiket-gratis’ itu,” Natsume berujar penuh sindiran.

Hari yang ditunggu-tunggu pun datang.
Matahari bersinar cerah. Hari yang pas untuk menikmati kolam renang dan bermain-main.
Kuroto Hana tengah menolehkan kepalanya kesana kemari mencari gerombolan Yui. Hingga akhirnya pekikan namanya membuatnya mengetahui lokasi teman-temannya.
“HANA!!”
“OH! YUIII!” Hana berlari menyongsong teman-temannya.
“Ah, Ishikawa-san!”
Ishikawa Guren tersenyum tipis menanggapi sapaan Hana.
“Terima kasih atas tiketnya, aku mengundang teman-temanku, jadi mungkin akan berisik,” ujar Hana sopan.
“Tidak masalah. Aku memang menyuruhmu mengajak teman-temanmu,” Ishikawa Guren tersenyum menyahuti.
“Kalau begitu, teman-teman ini Ishikawa Guren-san. Kalian mungkin sudah mengenal Ishikawa-san, pria luar biasa yang banyak memberi bantuan pada sekolah kita,” Hana mengenalkan Ishikawa Guren pada teman-temannya.
 “Ishikawa-san, ini teman-temanku,” Hana mulai menunjuk temannya satu-persatu. “Umei Yui dan kekasihnya Ida-kun.
 “Jumlah orangnya tidak pas dengan jumlah tiket yang kuberikan?” Ishikawa menatap Hana bingung.
“Oh Yui bukankah sudah kukatakan untuk mengajak adikmu?” Hana balik bertanya pada Yui.
“Adikku mendadak demam, jadinya tidak bisa ikut.”
“Ah begitu…”
“Tapi ada orang lain yang menggantikan adikku. Walaupun tidak menggunakan tiket yang diberikan. Orang itu ingin ikut.”
“Siapa?” Hana menatap Yui bingung.
“Natsume Haru, salam kenal.” Tiba-tiba sosok albino itu muncul dan menjulurkan tangannya pada Ishikawa Guren.
Kedua bola mata Hana melebar seketika.
“Ishikawa Guren,” Ishikawa meraih tangan Natsume. “Bukankah kamu yang di barber shop kemarin?”
“Benar. Kita bertemu lagi, tuan CEO Ishikawa Corp.” Natsume  tanpa sadar menatap tajam Ishikawa.
"S-Santai saja..." Ujung pelipis Ishikawa menurunkan setetes peluh.
Natsume sambil melepaskan jabatan tangannya menatap Ishikawa seolah berkata. HANA-MILIKKU-KAU-SENTUH-DIA-TAWAT-RIWAYATMU'.
“Err—“ Ishikawa kebingungan begitu merasakan hawa permusuhan.
"Sayang sekali Tuan CEO Ishikawa Corp. Aku telah memilili tiketku sediri. Jadi aku tak memerlukan tiketmu,” ucap Natsume datar.
Germobolan Hana akhirnya memasuki Paradise Pool. Berpisah di ruang ganti. Dan kembali berkumpul di kolam renang terdekat.
Paradise Pool memang sangat luas. Berbagai macam kolam renang tersedia. Dan beberapa arena air tersebar. Food court pun ada di setiap sudut. Jika membawa anak kecil, selalu gandeng dan jaga sebelum tersesat.
“Sudah kuduga, tempat ini besar!” Hana berdiri di tengah-tengah pintu masuk utama dengan kedua tangannya di pinggang dan kedua kakinya terbuka lebar. Mengamati pemandangan Paradise Pool.
“Hana kau ini anak kecil?” Yui sweatdrop melihat tingkah Hana.
“Ah itu mereka.”
Sebuah suara familiar refleks membuat Hana dan Yui menoleh ke arah sumber suara.
Ida dan Ishikawa Guren muncul bersamaan. Disusul Natsume Haru di belakang keduanya.
“Hmmm… Ishikawa-san dan Natsume-san badan kalian bagus sekali,” Yui auto fokus pada perut berbentuk milik Ishikawa dan Natsume, kemudian melirik kecil pada perut kekasihnya, Ida.
“Maaf deh kalau perutku tidak berbentuk!” desah Ida kesal.
“Ida-kun kamu itu terlalu kurus! Coba makan sesuatu yang bergizi tinggi!” Yui dan Ida terjebak dalam pertengkaran mereka sendiri.
“Ha ha,” Hana tertawa hambar menatap dua sejoli itu bertengkar.
Ishikawa Guren mendekati Hana dan berkata, “Hana-san kamu terlihat cocok dengan pakaian renang itu.”
“E-eh?” Wajah Hana tiba-tiba memerah padam.
“T-terima kasih…” Hana menunduk menatap one piece biru tua yang melekat pada tubuhnya, “Ishikawa-san barusan memanggil nama kecilku?”
Pipi Ishikawa Guren juga terlihat sedikit memerah. “T-Tidak boleh?”
“Yaah boleh sih,” Hana tersenyum simpul.
“Hana-san juga boleh memanggilku dengan nama kecilku,” Ishikawa Guren menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Baiklah… Guren-kun!” Tanpa memikirkan apapun Hana menyetujui permintaan Ishikawa.
Sementara Natsume Haru yang menjaga jarak dengan keduanya tidak dapat mendengar apapun. Ia hanya bisa melihat keduanya berbicara dengan sangat akrab.
“… tch.”
“Waah Yui dan Ida-san udah masuk air saja!” Celetuk Hana begitu melihat sepasang kekasih itu telah berada di tengah kolam. Kolam 0,5 meter.
‘Benar juga. Yui tidak bisa berenang.’ Hana sweatdrop di tempat.
“Kalau begitu aku juga!” Ucap Hana yakin.
Mundur beberapa langkah, dan melompat memasuki kolam sedalam 1,5 meter di samping kolam 0,5 meter. Meluncur menggunakan gaya bebas dari sisi kolam ke sisi kolam yang lain.
“Hana hebat…” daripada terkesima, Yui lebih merasa dirinya sangat menyedihkan.
“Berikutnya Yui-chan akan bisa seperti itu. Ayo kembali dicoba. Pegang tanganku dan ayunkan kakimu. Aku akan menarikmu.”
Yui menoleh ke arah Ida. Pemuda itu tersenyum tulus. Ah… mungkin inilah alasan ia jatuh cinta pada pemuda kurus ini.
Mengangguk setuju, Yui menyelamkan dirinya dan mengikuti aba-aba dari Ida.
PYAAASH
Kepala Hana muncul di permukaan begitu mencapi sisi kolam sebrang. Menyadari Ishikawa memperhatikannya, Hana melambai pada Ishikawa dan tersenyum lebar.
“Ah,” Ishikawa balas melambai pendek.
Pada bola mata gelap Ishikawa terpantul birunya kolam. Dan itu… mengingatkannya pada masa lalunya. Di mana ia ditenggelamkan ramai-ramai oleh anak-anak yang membullynya ketika SMP.
Menggelengkan kepalanya untuk menghapus kenangan itu, Ishikawa Guren berjalan mendekati kolam.
‘Sampai kapan aku menjadi menyedihkan? Aku datang kemari untuk menghapus phobia itu…’ perlahan-lahan, hingga pengusaha kaya itu berhasil duduk di tepian kolam dengan kedua kakinya tercelup.
‘Ternyata tidak seburuk itu…’ batinya lagi.
Natsume berdiri tepat di samping Ishikawa Guren yang tengah duduk di tepi kolam.
“Apa maumu?” Nada dingin dan penuh dengan permusuhan terdengar.
Ishikawa mendongkak menatap Natsume. Tidak menjawab sepatah katapun.
“Kuperingatkan kau. Jangan sentuh dia.” Lirikan tajam dan penuh penekanan diberikan.
“Kamu…. Jangan-jangan kamu juga tertarik dengan Hana?”
“Dia milikku.”
Ishikawa hendak mengutarakan pertanyaannya berikutnya, namun sebuah keributan menginterupsinya.
Suara cipratan air yang ribut di ujung sana. Beserta teriakan beberapa orang.
“Tenggelam! Dia tenggelam!”
“!!!” Natsume Haru terperanjat.
Hana tenggelam!
Tanpa sedetikpun terbuang, Natsume Haru langsung melompat memasuki kolam. Berenang secepatnya menggapai Hana.
“….” Sementara itu, Ishikawa Guren hanya bisa membulatkan kedua matanya.
Bayangan masa lalunya kembali menghantuinya. Membuat tubuhnya tak bisa bergerak.
Tangan Hana terus menggapai-gapai apapun walau nihil. Kaki kirinya kram. Nafas. Ia membutuhkan udara.
Gapai.
Gapai.
TEP.
Tangan Natsume meraih tangan Hana. Sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk membopong tubuh Hana. Kakinya mengayuh mendorong ke permukaan.
PSYAAAASH
Keduanya muncul di permukaan. Natsume dengan segera mengangkat tubuh Hana dan dibantu oleh seorang penjaga kolam yang tanggap.
Semua orang berkumpul untuk mengetahui kondisi Hana.
“Ghuuk… uhuk…” Hana menumpahkan kumpulan air yang terjebak di kerongkongannya.
“K-kakiku… k-kram…” Hana meraih kaki kirinya dengan lemah.
Sang penjaga kolam dengan sigap memberikan pijatan darurat pada kaki kiri Hana.
“Seharusnya anda melakukan pemanasan sebelum memasuki kolam!” omel sang penjaga kolam seusai memberikan pijatan darurat.
“Maafkan saya,” Hana berguman lemah.
“Jangan turun ke kolam hingga kaki anda benar-benar bisa digerakkan lagi.”
“Terima kasih. Maaf merepotkan,” Hana mulai bangkit dari posisi terlentangnya.
Setiap orang yang mengerumuni Hana perlahan-lahan menghilang.
Natsume Haru hanya duduk di tepi kolam memperhatikan Hana dalam diam. Ia ingin mendekat dan menanyakan keadaan Hana, namun niat itu ia urungkan. Mengingat tatapan tidak suka dan benci yang diberikan Hana saat memasuki pintu utama tadi, ia tidak ingin menerima tatapan itu lagi.
“HANA HANA! OH ASTAGA KAMU TIDAK APA!?” Yui segera menyongsong dan memeluk Hana yang terlihat lemah.
“Aku tidak apa, Yui,” jawab Hana lemah.
“Kenapa kau bisa tenggelam?” Yui menatap Hana lekat.
“Kakiku kram,” Hana menjawab dengan senyuman lesu.
“Gawat… biasanya seseorang setelah tenggelam akan sangat takut pada air untuk berikutnya.” Ida tiba-tiba bicara.
“Tenang saja Ida-kun, aku tidak takut pada air kok!” Hana memberikan senyumnya.
“Tapi Natsume-kun benar-benar keren. Dia yang menolongmu.” Yui berdecak kagum.
“…” Hana melirik Natsume melalui celah tubuh Yui dan Ida. Tentu saja lirikan itu akan bertabrakan dengan tatapan Natsume yang selalu terarah pada Hana. Detik itu begitu tatapan keduanya beradu, Hana mengalihkan pandangannya.
“Bagaimana jika kita makan dulu untuk mengendurkan suasana?” Yui yang menyadari mood Hana memburuk, segera memberikan saran terbaik.
Hana mengangguk mantap.
“Kalau begitu ayo ke loker Yui, kita ambil handuk dan makan siang!” Mood Hana membaik seketika.
Mereka berdua bangkit berdiri dan menuju loker perempuan.
“Natsume-san kamu keren sekali,” Ida dengan polos mendekati Natsume dan menyikutnya.
“Hn…” Natsume hanya merespon malas.
Begitu Hana dan Yui hendak memasuki loker perempuan. Ishikawa Guren muncul dengan nafas tersenggal-senggal.
“Hana-san!”
“Oh? Guren-kun?”
Yui tersenyum nakal. Sepertinya ia harus memberikan kesempatan bagi sahabatnya untuk bicara.
“Kalau begitu aku saja yang ambilkan. Kalian berdua santailah.” Yui segera nyelonong masuk ruang loker.
“Terima kasih Yui,” sahut Hana.
“Jadi, kamu tidak apa-apa Hana-san?” Ishikawa menatap Hana khawatir.
“Aku tidak apa kok. Haha.”
“M-maaf…” Ishikawa tertunduk dan berguman lemah tiba-tiba.
“Eh? Maaf untuk apa?”
“Maaf karena tidak bisa menolongmu. A-aku—“
TEP.
Hana menyentuh pundak Ishikawa dan menenangkan pemuda itu.
“Tidak apa Guren-kun, yang penting aku baik-baik saja sekarang,” Hana tersenyum meyakinkan.
“Hana-san… kamu dan pemuda berambut putih itu… berpacaran?” Tidak mampu menahan pertanyaannya, Ishikawapun melontarkannya.
“Eh?” Hana membeku seketika. “Kenapa Guren-kun berpikir seperti itu?”
“Dia yang mengatakannya,” jelas Ishikawa.
Hana menundukkan kepalanya.
‘Kenapa Haru-kun mengatakan pada Ishikawa jika kita berdua berpacaran?’
Gigi Hana mengerat marah. ‘Pria itu…. pria itu benar-benar memanfaatkan segelanya dengan baik. Menolongku dan mengatakan kita berpacaran… yang benar saja!’
“Hana? Sudah selesai?” Yui muncul dengan dua buah keranjang di tangannya.
“Eh?” Yui menyadari mood Hana kembali memburuk. “Ada apa?”
“Tidak. Ayo,” Hana menarik keluar Yui dan Guren.
“Ida-kun, Natsume-kun, ayo makan!” Yui mengangkat tinggi-tinggi dua keranjang di tanganya.
Ida menepuk pelan pundak Natsume, “hei, ayo.”
“Hn…” Natsume menyahut datar dan mengikuti Ida.
Kelima orang tersebut berakhir dengan duduk dengan di suatu meja setelah mendapat jus yang dibelikan oleh Ida—karena Ida kalah suit dari Ishikawa dan Natsume.
“Woaaaa… sandwich, onigiri, telur dadar, sosis, tempura, karage, dan salad!” Mata Ida berbinar sempurna.
“Kalian yang membuat ini?” Ishikawa bertanya kepada kedua wanita.
Yui mengangguk menyetujui, “Aku membuat Karage-nya sendiri, dan Hana membuat Sandwich-nya sendiri. Yang lain kita masak berdua. Jadi jangan salahkan aku jika kalian menyadari ada banyak tomat pada sandwich dan salad-nya. Itu semua ulah Hana.”
“Yui!” Protes Hana.
“….” Sebuah senyum simpul terurai pada bibir Natsume.
Istrinya… masih mengingat jelas favoritnya dan tanpa sadar menuangkan banyak pada setiap masakannya.
“Hei Yui-chan aku ingin mencoba Karage-mu!” Celetuk Ida tak sabaran.
“Ya, ya, makan saja,” Yui menyedot jusnya.
“Yosh! Ittadakimasu!”
“Kalau begitu, aku boleh?” Ishikawa menunjuk ke arah sandwich sementara pandangan matanya tertuju pada Hana.
“Ah silahkan Guren-kun,” Hana menyodorkan keranjang berisi sandwich pada Guren.
“!!??” Natsume Haru nampak seperti tersedak saat meminum jusnya.
Ia tidak salah dengar barusan kan?
Hana… memanggil Ishikawa Guren dengan nama kecilnya.
“…..” genggamannya pada gelas plastic jusnya mengerat tanpa sadar.
Natsume Haru duduk di bangku paling ujung. Menopang dagunya dan menatap datar ke arah lain. Hambar.
‘Sejauh mana hubungan mereka?’
“Hmm? Natsume-kun tidak makan?” Yui yang menyadari jika si pemuda albino hanya melamun menatap entah ke mana, mengajukan pertanyaan.
Natsume menoleh ke arah Yui dan menjawab, “tidak.”
“Ayolah, Natsume-kun. Ini,” Yui meraih sepotong sandwich, “makanlah.”
SAAAT
Hana segera meraih sandwich dari tangan Yui.
“Jika ingin makan, makan saja yang lain. Tapi kusarankan agar kamu tidak makan.” Ujar Hana dingin.
“….” Natsume terdiam.
Rasanya ingin sekali tersenyum getir.
“Tidak apa Umei, aku memang tidak lapar,” jawab Natsume tak acuh.
“Ya. Dia tidak lapar,” imbuh Hana cuek.
“Hei, kamu ini kenapa sih? Lagipula Natsume-kun sudah menyelamatkanmu kan tadi?” Protes Yui.
“Aku tidak menyuruhnya menyelamatkanku,” Hana menjawab seketika.
Suasana membeku beberapa saat setelah kalimat Hana
“O-omong-omong sandwich ini enak,” Ishikawa Guren kembali meraih sandwich di keranjang.
“Benarkah?” Hana kembali sumringah.
“Y-ya… hanya saja… porsi tomatnya memang melebihi ambang batas…” jawab Ishikawa jujur.
“Eh? M-maaf…”
“Di sini tidak ada yang maniak tomat! Kau membuatkan sandwich ini untuk siapa sih!?” Omel Yui.
‘Untukku. Sandwich-sandwich itu untukku!’ Natsume hanya bisa melirik keranjang sandwich lewat ujung kelopak matanya.
Kemudian ia menangkap visual Ishikawa Guren yang terus melahap habis sandwich buatan istrinya.
‘…. Setelah ini semua selelsai, akan kubuat kau memuntahkan semua itu dengan paksa. Sialan.’
Read More ->>

Selasa, 10 Januari 2017

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 13]



CHAPTER 13: MISSUNDERSTANDING

“Natsume-dono,” begitu melihat punggung sosok yang dikenalnya Misaki seketika menyerukan nama sosok itu.
“Hn?” Natsume Haru berhenti melangkah dan menoleh kea rah Misaki.
“Sampai kapan? Sampai kapan kondisinya seperti ini?”
Natsume tahu apa yang sedang ditanyakan pelayan istrinya ini.
“Se—“
“My Lady tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. My Lady menginginkan My Lord di sampingnya.” Belum sempat Natsume mengatakan satu kata pun, Misaki sudah menyerangnya dengan pernyataan yang mencekik lehernya.
Setelah hening untuk beberapa saat akhirnya pemuda albino itu menjawab, “seminggu lagi, aku akan mengakhiri ini semua minggu ini Misaki.”
“Seminggu… semoga My Lady masih bisa bertahan sampai saat itu. Exorcist tidak akan menyerang hingga saat itu kan?”
“Tidak. Mereka telah menangkap Arashi Tomuro yang menyamar sebagai diriku.”
“Itu kabar baik…”
.
-[Yami no Ai]-
.
Sudah beberapa hari terlewati sejak saat itu. Sejak Kuroto Yoshiki tertangkap oleh Exorcist. Sejak kedatangan Natsume Haru.
Natsume Haru muncul tiba-tiba dan mengatakan jika dirinya adalah wakil Yoshiki yang lain. Menggantikan Yoshiki yang harus tertahan oleh Exorcist. Tak dapat dipungkiri jika Hana pernah memiliki rasa benci pada pemuda albino itu.
Yoshiki-kun tertangkap, ini semua salahmu. Seharusnya kau yang ditangkap, bukan Yoshiki-kun.’
Namun itu hanyalah sikap egois semata. Kenyataannya secara psikologis, Hana tak ingin kehilangan Yoshiki. Oleh sebab itu ia membutuhkan sesuatu untuk disalahkan dan dibenci.
Hana merapatkan pelukannya pada kedua lututnya. Malam semakin larut dan suhu udara semakin menurun.
Jika diingat-ingat lagi, Natsume Haru memang sangat menyebalkan. Bagaimana cara pemuda itu menyingkapi masalah cinta yang polos dalam kasus surat cinta sangat-sangatlah menyebalkan. Memang benar dia adalah seorang iblis, tapi bukankah itu berlebihan?
Lalu, bagaimana pemuda itu memeluknya. Memeluknya saat dibutuhkannya sebuah sandaran.
Ia harus berterima kasih pada Natsume Haru. Untuk semuanya.
Hana beranjak dari duduknya dan segera melangkah memasuki kamarnya. Rasa hangat menyeruak begitu saja. Ternyata di luar beranda memang sangat dingin.
“Kuroto Yoshiki untuk sementara telah lenyap. Hal bagus bukan? Aku bisa menjaga My Lady lebih leluasa. Tanpa ada pengganggu. Aku mencintai dan menjaga dia dengan caraku sendiri Misaki.”
“…Eh?” Langkah Hana untuk membuka pintu kamarnya terhenti seketika.
Itu tadi Natusme Haru bukan? Apa maksudnya?
Mencintai dan menjaga?
Natsume Haru?
Pecahan kenangan di mana pemuda itu memeluknya dan menatapnya saat festival sekolah pun kembali terngiang. Bayangan berganti saat Natsume menerima surat cinta.
Saya sudah memiliki wanita saya.’
Apa itu maksudnya dirinya?
“….”
Terdengar sahutan Misaki, Hana mulai menajamkan kembali telinganya.
“Atau mungkin sebaiknya Kuroto Yoshiki tidak perlu kembali? Hidup seperti ini, sampai berabad-abad ke depan pun pasti bahagia.”
Hana tertegun oleh kalimat Natsume.
Natsume Haru…. Bersyukur karena Kuroto Yoshiki yang merupakan suaminya ditangkap oleh Exorcist? Dan Natsume Haru ternyata memiliki perasaan padanya?
Jadi, selama ini…. Perhatian itu… pelukan itu… kehangatan itu…
.
-[Yami no Ai]-
.
“Ishikawa-san!” Keluar dari gerbang sekolah, Hana melambai ke arah pria dengan jasnya yang telah ia sampirkan di tangannya.
Ishikawa Guren hanya tersenyum dengan tangannya melambai rendah.
“Ada apa? Tiba-tiba ingin bertemu?” Hana telah berada di hadapan Ishikawa, memberikan tatapan ceria miliknya.
“Lihat,” Ishikawa menunjukkan beberapa lembar tiket di tangannya.
“Woaaa ini tiket berenang!” Hana tercengang.
Ishikawa menjulurkan tangannya, mengartikan bahwa tiket-tiket itu untuk Hana.
“Eh? Buatku?” Hana menunjuk dirinya sendiri.
Ishikawa mengangguk sambil mempertahankan senyumannya.
Dengan ragu Hana menerima lembaran-lembaran tiket dari tangan Ishikawa.
“T-Tapi ini terlalu banyak Ishikawa-san.”
“Kalau begitu ajak saja teman-temanmu. Aku juga sudah memegang satu tiket.”
“Ah? Aku boleh mengajak teman-temanku juga?” Hana semakin sumringah.
Ishikawa kembali mengangguk, “ajak saja.”
“Kalau begitu, hari minggu besok jam 10 siang,” Ishikawa memasuki mobilnya.
“Tentu! Terima kasih banyak!” Hana berojigi sementara mobil sedan putih itu mulai menyala dan melaju perlahan.
“Hana!” Seketika Hana menolehkan kepalanya begitu mendengar namanya terpanggil.
“Yui?” Hana menyebut nama perempuan yang memanggil namanya.
“Di sini kau rupanya, daritadi Natsume Haru mencarimu kemana-mana,” Yui menunjuk kea rah pemuda albino yang tengah berdiri di depan gerbang sekolah—tengah menatapnya.
“Maaf, aku ada perlu dengan Ishikawa Guren-san.”
“Ishikawa-san!? Sudahlah Hana, kalian segeralah jadian!” Celetuk Yui tak sabar.
Natsume nampak sedikit mendongkakkan kepalanya begitu mendengar nama pemilik Ishikawa Corp.
“Dia hanya teman masa kecil Yui. Dan… yuk ke kolam renang!” Hana dengan bangga menunjukkan lembaran-lembaran tiket yang baru ia peroleh dari Ishikawa.
“I-Ini… Paradise Pool kelas VIP… Kita bisa naik wahana yang lain dengan gratis! Ishikawa Guren memberimu sebanyak ini!?” Yui tak kalah terkejut.
Hana menangguk mantap.
“Totalnya ada  4 tiket. Akan kita berikan pada siapa saja?” Hana membolak-balik lembaran tiket di tangannya, “Untukku, Yui, dan Ida-san tentu saja… hmmm sisa satu.”
“Hei kamu melupakan dia…” lagi-lagi Yui dengan seenaknya menunjuk ke belakang. Menunjuk Natsume Haru yang menatap serius ke arah keduanya.
“Natsume-kun?” Hana menggumankan nama pria itu. Detik berikutnya kepalanya hanya berisi gambaran-gambaran memuakkan mengenai pria itu. Fakta bahwa pria itu menginginkan suaminya, Kuroto Yoshiki tidak perlu kembali.
“Lebih baik tidak,” ucap Hana lemah.
“Oh! Tentu saja! Dia akan mengganggu kencanmu dengan Ishikawa-san!” Yui menepuk kedua tangannya seolah mengerti segalanya.
“Aku tidak berkencan dengannya Yui. Bukankah sudah kukatakan itu berkali-kali?” Hana menggerutu malas sementara ia membagikan tujuh tiket pada Yui. “Berikan kepada Maki dan Shiro, sisanya kamu ajak siapapun juga boleh. Adikmu yang kelas 3 SD itu juga boleh.”
“Heee kenapa? Bukankah kamu juga sedang kosong? Berkencanlah saja dengannya. Dia kaya dan tampan,” Yui menerima tiket.
Hana tak menyahuti lagi kalimat Yui. Kakinya melangkah melewati perempuan berambut ungu itu begitu saja dan berjalan pulang tanpa memperdulikan Natsume atau siapapun.
Mood Hana luar biasa buruk sekarang.
Dia tidak kosong! Dirinya adalah milik Kuroto Yoshiki. Kaya? Tampan? Memang benar Ishikawa Guren sangat cocok dengan point-point itu. Tapi tetap saja tidak bisa dibandingkan sama sekali dengan Kuroto Yoshiki yang terlampau sempurna.
Lalu tanpa diminta, bayangan sosok Natsume kembali membayangi kepalanya.
Hana meremat erat pegangan tasnya.
Pemuda itu adalah mood breaker utamanya. Terburuk! Natsume Haru adalah yang terburuk! Terkejam!
“My Lady!” Tak kuasa menahan tarikan pada tangannya, tubuh Hana berputar ke belakang. Natsume Haru, telah menarik tangannya.
Rasa kesal itu kembali membuncah begitu wajah Natsume Haru mengisi indra penglihatannya.
“Apa maumu pengkhianat?” Desis Hana.
“….” Natsume terdiam beberapa saat. Kedua bola matanya bergerak tak menentu. Pemuda itu kebingungan.
“Maaf My Lady, saya tidak mengerti apa maksud anda. Anda tiba-tiba berubah seperti ini. Dan… apa itu pengkhianat?”
Yoshiki sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi dengan Hana. Sejak pagi Hana tiba-tiba menjadi seperti ini. Menolak diantar ke sekolah dan memilih berjalan kaki. Selama di sekolah pun wanitanya itu sama sekali tak menghiraukannya. Sekarang, Hana malah mengirimkan sinyal permusuhan padanya, pada Natsume Haru.
“Kau pengkhianat! Aku membencimu!” Hana menghentakkan tangannya hingga cengkraman pria itu mengendur.
Apa? Pengkhianat? Apa yang sudah dilakukan oleh sosok Natsume Haru?
Tidak. Lupakan itu untuk sementara. Ada hal yang lebih penting.
“Anda baru saja menemui… Ishikawa Guren?”
Hana yang sudah melangkah beberapa meter dari Natsume terpaksa berhenti.
“Itu bukan urusanmu…” ucap Hana dingin dan kembali melangkah.
Natsume membeku seketika.
“Tch!” Decakan kesal mengisi rongga mulut Natsume.
Dengan langkah cepat Natsume menyusul Hana.
“Bila begitu, lebih baik saya musnahkan saja Ishikawa Guren. Dia merupakan ancaman bagi My Lord.” Ucap Natsume tegas.
“Ancaman? Hahahaha,” Hana tertawa miris, “kaulah yang sebenarnya ancaman itu sendiri!”
Natusme menautkan kedua alisnya. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Hana.
“Tolong, jelaskan apa yang sebenarnya telah saya salah perbuat.”
Hana melirik dingin Natsume sekilas, “tidak ada yang bisa kujelaskan padamu. Jika Yoshiki-kun sampai tidak selamat, kaulah pembunuh. Pengkhianat. Dan jika kamu berani melakukan sesuatu pada Ishikawa-san, akulah yang akan membunuhmu.”
Yoshiki-kun? Ini ada hubungannya dengan penangkapan dirinya?
“Jika saya memiliki salah kepada My Lord, mohon maafkan saya. Namun untuk masalah Ishikawa Guren, saya tidak akan tinggal diam.”
“… Aku tidak peduli.”
.
-[Yami no Ai]-
.
Dering ponsel menunjukkan adanya panggilan masuk menggema di dalam kamar anak sulung keluarga Umei.
“Ya, ya, tunggu sebentar,” sang pemilik ponsel segera mengakhiri aktivitas mengeringkan rambutnya yang telah usai ia cuci.
Meraih ponselnya dan menjawab panggilan masuk itu, “halo dengan Umei Yui.”
“Umei-san.”
Kaget karena suara sang penelepon, Yui menatap layar ponselnya sekilas. Nomor tak dikenal. Pantas saja.
“Natsume-san?” Tebak Yui.
“Hn, ada yang ingin kutanyakan,” dari ujung sana terdengar betapa berwibawa dan mengerikannya suara pemuda itu.
“Oh… silahkan silahkan,” Yui tidak mau membuang-buang waktu dengan menanyakan ‘kamu tahu nomor ponselku dari siapa?’ Karena dari nada bicara Natsume, Yui tahu hal ini sangat mendesak sekali.
“Kau tahu kenapa Ishikawa Guren menemui Hana?” Yui bisa menangkap jelas kekesalan luar biasa dari tiap penekanan kalimat pria itu.
‘Jadi, Hana tidak memberitahunya…’ pikir Yui.
“Ishikawa-san memberikan beberapa tiket VIP class Paradise Pool,” entah bagaimana Yui tidak bisa berbohong.
“Tiket?”
Yui mengangguk refleks dalam percakapan teleponnya, “total empat tiket. Hana menitipkan tujuh tiket padaku untuk diberikan kepada teman-teman. Tiket ini untuk hari minggu besok. Katanya, Ishikawa-kun juga akan datang.”
“…..”
Lama tidak ada sahutan dari Natsume Haru.
“N-Natsume-san?”
“Hn, kalau begitu terima kasih informasinya. Umei Yui.”
“A-ah ada satu sisa tiket sebenarnya, jika Natsume-san mau ikut aku bisa memberikannya.”
“Tidak. Aku tidak akan menerima apapun dari si sialan itu.”
“A-ano Natsume-san!”
“Hn?”
“Apa Natsume-san benar-benar tidak mau ikut? Tempatnya menyenangkan, kita bersenang-senang dengan teman-teman,”
“Aku akan ikut. Tapi tidak dengan tiket si sialan itu. Selamat malam.”
Panggilan diakhiri sepihak oleh Natsume.
Yui menatap layar ponselnya dengan pikiran berkecamuk.
“…. Astaga astaga. Natsume Haru benar-benar keren. Suaranya luar biasa berwibawa,” yui menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
“Tidak-tidak,” menggeleng-nggelengkan kepalanya menolak segara pemikirannya yang terpesona pada sosok albino itu.
“Aku sudah memiliki Ida-kun,” ucapnya mantap.
“Hei hei,” lalu tiba-tiba sebuah pemikiran datang, “kenapa Natsume-san sangat penasaran sekali? Si sialan? Apa Natsume-san sedang cemburu?”
Di kepala Yui terbentuk skema…
Ishikawa > Hana < Natsume
Yui tertawa hambar berikutnya. ‘Hahaha astaga aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini…’
“Oh sebaiknya aku harus menyiapkan pakaian renang terbaik!”
.
-[Yami no Ai]-
.
“Misaki?” Perempuan berambut coklat pendek itu lantas menoleh ke belakang begitu namanya dipanggil. Menghentikan kegiatannya membaca selembar kertas.
“My Lady,” menyadari sosok yang telah memanggilnya adalah sang ratu, maid itu menundukkan kepalanya dalam, memberi hormat.
“Misaki sedang apa? Sibuk?” Hana melongok ke arah kertas yang dibawa Misaki.
“Tidak, saya hanya mengatur pertemuan-pertemuan yang harus dihadiri para dewan.”
Hana menundukkan kepalanya, “Misaki pasti kerepotan setelah Yoshiki-kun dan Tomuro-kun pergi.”
“Tidak. Tidak,” Misaki segera menggelengkan kepalanya kuat saat menyadari perasaan Hana, “lagi pula ada Natsume-sama yang membantu.”
“Ah anu Misaki,” Hana kembali mengangkat kepalanya, memulai pembicaraan yang ingin dia utarakan, “ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”
Kedua alis Misaki sedikit tertaut, “silahkan, My Lady.”
“Ishikawa Guren memberikanku tiket untuk ke kolam renang. Teman-temanku yang lain juga mendapatkannya. Aku harus apa? Yoshiki-kun sedang berjuang di luar sana. Mana mungkin aku bersenang-senang di sini.”
Lidah Misaki keluh. Ia tidak mempu memberikan saran apapun. Hal ini terlalu sensitif.
“Apa… Natsume-sama tahu hal ini?” Tanya Misaki ragu.
“Kenapa malah membicarakan Natsume Haru!?” Tatapan Hana memincing.
Natsume Haru yang saat itu tengah bermain dart di ruangan dekat kedua wanita itu berbicara seketika berhenti menembakkan panah dart di tangannya. Memasang kedua telinganya, Natsume mendengarkan percakapan antar wanita itu.
Misaki terdiam membeku. Kembali tak bisa mengatakan apapun. Walaupun ingin, lidahnya telah tersegel agar tidak mengatakan apapun tentang fakta bahwa Natsume Haru adalah Kuroto Yoshiki, suami dari sang ratu.
“Ah Um, tidak, lupakan saja, maaf, My Lady.”
“Jadi, bagaiaman Misaki?”
“Jika anda memang mencintai My Lord, lebih baik anda tidak datang. Tetapi anda juga berhak bersenang-senang, saya mengkhawatirkan kondisi anda akhir-akhir ini. Asal anda bisa menjaga diri anda.” Misaki menekankan kalimatnya di akhir.
Hana mengangguk, “kalau begitu Misaki bisa siapkan pakaian renang untukku?”
“Yes, My Lady.” Misaki menunduk taat.
“Yosh, terima kasih Misaki!” Hana melambai sumringah dan pergi meinggalkan Misaki.
Klek
Pintu di belakang Misaki terbuka dan munculah Natsume Haru dari baliknya.
DRAAAK
Kejadian itu terlalu cepat. Begitu Misaki menoleh ke belakang, Natsume Haru telah meraih mulut Misaki dengan kasar dan menghantamkan kepala sang maid pada tembok.
Retak. Tembok yang terkena hantaman kepala Misaki itu retak berat. Beberapa tetes darah menetes dari sana.
Sementara Misaki sukses meninggal sementara. Gegar otak tentu saja. Momentum yang diciptakan kepalanya bersirobok dengan kerasnya dinding mansion. Tubuh manusia memang sangatlah lemah. Hingga proses regenerasi selesai, Misaki akan tetap tak sadarkan diri.
Namun jika regenerasi Misaki tidak cepat, tidak mungkin ia ditunjuk sebagai maid pribadi sang ratu.
Dalam hitungan detik, kornea Misaki yang tadinya tenggelam ke atas, kembali muncul. Misaki telah sadar sepenuhnya.
“M-M…”
GRRRRT
Tidak ada ampun. Begitu Misaki hendak mengucapkan suatu kalimat, tangan lebar Natsume kembali mencengkram erat rongga mulut Misaki.
“Hak katamu? Kau sendiri memiliki hak apa mengatakan hal seperti itu padanya?” Ucap Natsume dingin.
“Lain kali jika dia meminta saran padamu mengenai Ishikawa Guren sialan itu, kau harus membuatnya selalu mengingatku, mengingat kondisiku.” Perlahan dilepaskannya cengkraman pada mulut Misaki.
“Ha’i. Maafkan saya, Natsume-dono,” Misaki menunduk dalam.
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.