Rabu, 05 Juli 2017

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 17]

CHAPTER 17: YOU’RE MY PRIDE

‘MATI AKU!!’ Hana shock dan rasanya ada berbagai petir menyambar-nyambar di dalam dirinya.
‘JADI INI KAH RASANYA MOMENT PALING MEMALUKAN DI DALAM HIDUP ITU!??’ Batin Hana berteriak-riak liar.
Hana hanya bisa nyengir dan segera mengalihkan pandangannya dari pria itu sebisa mungkin.
Setelah mencapai menu terakhir Hana tanpa sadar menoleh kembali pada sang pria yang mungkin sedang melakukan pembayaran untuk set makan malamnya. Pria itu mengeluarkan dompetnya dan nampak mengeluarkan sebuah credit card pula.
Sebuah Platinum Credit Card.
Seketika bayangan Kuroto Yoshiki yang juga pernah Hana lihat mengeluarkan kartu sejenis untuk membayar bill makan malam mereka di tempat ini.
Saat Hana berkedip untuk mengakhiri bayangan kenangan yang menghantuinya, ternyata pria itu tengah menatapnya lekat.
Menyadari tatapan Hana yang sepertinya hanya tertuju pada kartu kreditnya, pria itu segera menyusupkan kartu kreditnya ke dalam bill agar pelayan mengurus sisanya.
Sebelum terjadi kontak lagi, Hana cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Melanjutkan menyesap tehnya yang masih hangat.
Yang ia lihat di hadapannya hanyalah sebuah kursi kosong. Padahal di atas mejanya sudah lengkap set untuk ‘kencan-makan-malam’. Tapi ia malah datang sendirian. Makan sendirian. Menunggu kembang api sendirian. Melihat seorang pria asing yang mampu mengigatkannya pada suaminya yang entah di mana sekarang.
Mungkin jika suaminya ada di hadapannya, mungkin saat ini suaminya tengah meminum anggur favoritnya dengan tampang bangsawan yang mampu menggoda siapapun wanita di ruangan ini.
Namun sekali lagi, sayangnya, suaminya tidak di sini.
.
[Yami no Ai]
.
Menunggu lift mencapai lantai longue restoran, Natsume Haru berdecak kesal karena benda berbentuk balok ini tidak segera mencapai tujuannya.
Sepertinya kali ini ia harus mengawasi Hana namun dengan konsekuensi jangan sampai terlihat oleh Hana. Mengingat betapa bencinya Hana pada sosok Natsume Haru. Ditambah pesan Hana yang menyuruhnya untuk tidak berbuat macam-macam.
.
[Yami no Ai]
.
Tinggal sepuluh menit lagi sebelum kembang api pertama di luncurkan.
Hana berpindah dari restoran ke sebuah bar hotel yang sepertinya di desain di dekat sebuah beranda yang strategis untuk menonton festival kembang api kuil terdekat.
Seorang waiters yang mengantar Hana menarik sebuah kursi bagi Hana. Setelah Hana menduduki kursinya, waiters itu pergi.
Tatapannya tertuju pada kilatan kaca yang tertata apik di rak sang bartender. Berbagai anggur dan sulingan alcohol tersusun apik di sana.
Coba diingat-ingat kembali, Hana tidak terlalu mengerti mengenai masalah anggur. Dulu Yoshiki memesankannya apa? Oh buruk. Hana melupakan nama campuran soda tak beralkohol yang dulu diucapkan Yoshiki dengan lidah fasihnya.
“Ingin meminum sesuatu nona?” Sang bartender yang tengah sibuk mengelap botol anggur hingga mengkilap menyempatkan diri bertanya pada Hana.
“Ah…” Hana menatap bingung.
‘GAWAAAAAAT AKU LUPA APA NAMA MINUMANNYA!!’ Batin Hana menangis.
“Jadi kau mengikutiku tanpa memiliki rencana apapun. Padahal kau sendiri tidak tahu apa-apa soal minuman,” sebuah suara penuh cemoohan terdengar dari samping Hana.
Itu pria yang tadi di restoran.
‘UWAAA DIA YANG TADI!’ Saat Ini Hana merasa kesialan tengah mengikutinya. Pria yang tadi membuatnya malu setengah mati ada di sampingnya. Saking shocknya dia sampai ejekan sang pria tak bisa ia dengarkan.
“Waah… kebetulan sekali yah… kita bertemu lagi,” Hana tertawa garing. Mungkin menertawakan nasibnya.
Pria dalam setelan jas itu kembali menggunakan nada mencemoohnya, “benar-benar kebetulan.”
“Maksudnya apa?” Hana yang tidak mengerti mengendurkan senyumnya.
“Kebetulan yang disengaja,” ucap pria itu to the point.
“Hah?” Sekarang Hana semakin tidak mengerti.
Natsume Haru dengan tergesa-gesa keluar dari lift sempit yang mengukungnya. Melangkah cepat ingin segera menuju ke restoran yang dulunya ia dan Hana gunakan. Memasuki longue bar tanpa menyadari Hana tengah duduk di antara deretan kursi.
Pria di samping Hana melipat kedua tangannya di depan dadanya, kebetulan pandangannya menatap sosok Natsume yang tergesa-gesa, “bagaimana dengan pria berambut putih itu?”
Hana mengikuti arah pandangan sang pria dan menemukan punggung Natsume telah berjalan melewatinya.
“Pakaiannya bagus. Mungkin dia punya kartu kredit yang lebih baik dariku,” pria itu mencondogkan sedikit tubuhnya dan berbisik seolah mengejek.
Baiklah. Hana mengerti sekarang. Sepenuhnya mengerti.
Sekilas Hana menatap tidak percaya pada pria itu. Namun sang pria malah menatapnya dengan sebuah senyum yang mengejek.
“Menurutmu… aku sedang sengaja mendekatimu… karena aku melihat kartu kreditmu?”
Pria itu tidak menyahuti. Namun senyum di bibirnya melebar.
‘Hahaha…’ rasanya Hana ingin tertawa sekarang. Tertawa ironis lebih tepatnya.
“Maaf Tuan,” rasanya Hana ingin menangis sekarang.
Memang benar Hana tidak lebih dari seorang siswa SMA biasa yang bekerja part-time untuk menghidupi kesehariannya yang dibawah kata sederhana. Sebelumnya ia tak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi manusia yang dikelilingi harta. Dirinya tidak khatam dengan kegiatan-kegiatan menghamburkan uang untuk makan malam di resto mahal seperti ini. Bisa dibilang Hana sangat kikuk jika tidak bersama seseorang yang telah merubah hidupnya, sang suami, Kuroto Yoshiki.
“Sepertinya anda salah sangka. Aku di sini hanya untuk melihat kembang api.”
Beberapa butir air mata bermunculan.
“Jika anda mengira saya mengincar anda karena kartu kredit anda…,” Hana tersenyum masam, “anda salah besar. Saya memang tidak tahu tingkatan kartu kredit….”
Natsume Haru melongokkan kepalanya saat berada di depan restoran mencari sosok Hana. Persetan dengan semua orang yang memandangnya aneh.
‘Tch, apa dia sudah di bar?’
Seingatnya tahun lalu setelah makan malam, ia mengajak Hana untuk menemaninya minum di longue bar. Hana pasti ke sana. Natsume segera bergegas kembali.
Setelah beberapa detik menyapu seluruh longue bar, Natsume menemukan sosok Hana. Duduk dan berbicara pada seorang pria di sebelahnya.
Tanpa berpikir panjang Natsume mendekati Hana yang nampaknya masih tidak menyadarinya.
“Hanya saja apa yang anda lakukan mengingatkan saya pada seseorang yang penting di hidup saya!”
Hana bangkit dari bangkunya dengan serampangan, tak bisa lagi menahan lelehan air matanya.
BRAK
Tubuhnya bertabrakan dengan tubuh Natsume yang tidak menyadari tindakan Hana tiba-tiba.
PSYUUUUUH DAAAAAR!! SYUUU DAAAR!! DAAAR! DAAR!!
Letupan kembang api bermekaran. Berkilatan menerangi malam Tokyo. Menyapu bersih langit gelap dengan percikan berwarna-warni dan meriah.
Hana sepenuhnya tahu siapa pria yang ditabraknya. Namun fokusnya telah teralih pada beranda bar yang terbuka lebar dan menampakan gemerlap kembang api.
Tanpa sadar tangan Hana melingkar pada tubuh Natsume.
Sama. Ukurannya, kekokohannya, kehangatannya, semuanya terasa sama dengan tubuh Yoshiki. Oleh sebab itu Hana memilih menyerah dan terus mendekap tubuh Natsume sementara ia mengamati kembang api.
“….” Natsume sendiri sedikit kaget melihat Hana yang dengan sukarela memeluknya.
Apalagi tadi Hana terlihat meneteskan air mata.
Sialan! Siapa yang telah berani membuat istrinya menangis seperti ini?
Pria itu memandang punggung Hana yang tengah memeluk Natsume dengan tatapan ‘dia-benar-benar-jalang-lihat-saja-dia-sudah-mendapatkan-pria-yang-tadi-kusebutkan’’
Natsume yang menyadari itu mengetahui siapa pelaku yang dicarinya. Sebuah tatapan membunuh dan merendahkan diberikan.
Sang pria tentu saja merasakan sensasi aneh dan lain dari tatapan Natsume langsung mengalihkan pandangannya.
Untunglah Natsume kembali teralihkan pada Hana yang sepertinya terlelap dalam dekapannya. Jika tidak mungkin pria itu sudah kehilangan kepalanya sekarang.
Menggendong Hana ala bridal, Natsume membawa Hana pulang. Mengabaikan pandangan pelayan dan tamu wanita yang berdecak iri.
.
[Yami no Ai]
.
Kelopak Hana terbuka perlahan. Silaunya lampu jalanan yang melewatinya semakin membuat indra penglihatannya itu mengerjap berkali-kali meminta untuk terjaga.
Dia ada di dalam mobil.
“Anda sudah bangun?” Natsume menyadari pergerakan kecil Hana.
“Aahh kenapa aku tertidur sih?” Hana menyamankan posisi duduknya dan menggerutu kecil karena kebodohannya.
“Pasti gara-gara kekenyangan dan… mataku panas…” nada bicara Hana menyurut.
“Dasar laki-laki berengsek. Enak saja mengatakan aku tertarik padanya karena kartu kreditnya!” Lalu terdiam sejenak sebelum kembali menlanjutkan dengan tawa getir, “…. Hahaha, Yoshiki-kun sepertinya aku memang tidak bisa melakukan apapun tanpamu.”
Natsume melirik Hana lewat kaca spion. Wanitanya itu terus memandang keluar jendela mobil dengan wajah sendu.
‘Pria itu…’ Pegangan pada setir kemudinya mengerat.
Hana adalah kebanggaannya. Harga dirinya. Pria itu telah merendahkan Hana. Itu berarti manusia rendah itu telah menginjak harga dirinya juga.
.
[Yami no Ai]
.
“Natsume-dono, saya telah menemukan orang yang anda cari. Ushio Komori. Direktur perusahaan desain yang lumayan besar di Kansai,” Misaka menyerahkan beberapa lembar kertas yang telah ia klip rapi pada Natsume.
“Hn,” Natsume membolak-balik data yang diberikan Misaki.
Semuanya tercetak rapi dan rinci. Mulai dari data pribadi, riwayat pekerjaan, keluarga, pendapatan, hingga data masa lalu ada di dalam lembaran-lembaran kertas yang diberikan Misaki atas perintah Natsume.
Seharusnya semua itu bisa dengan mudah sebagai seorang raja iblis. Namun mengungat keadaannya, Natsume tidak bisa sembarangan menggunakan sihirnya. Terlebih lagi untuk manusia. Bisa-bisa Exorcist segera mencium energi sihirnya yang sangat berbeda dari iblis-iblis lainnya sehingga semua rencananya akan porak poranda. Sama halnya ketika ia berniat memberikan sihir pendorong untuk Hana, ia mengurungkan niatnya.
Sebuah seringai mengejek muncul di antara rahang tegasnya. Sepertinya kali ini ia harus melakukannya secara ‘manusiawi’.
“Manusia seperti ini yang menginjak harga diriku?”
.
[Yami no Ai]
.
Beberapa ketukan di tengah malam memang bukanlah hal sopan.
“Kau pikir ini jam berapa hah!?” Respon yang wajar dari sang pemilik rumah yang menggerutu kesal karena tidurnya terganggu.
Wajahnya yang mengantuk berubah terkejut begitu menyadari jika orang yang muncul dari balik pintunya adalah pria yang ia lihat di bar tadi.
“Oh, kamu yang tadi kan?” Pria itu setengah menguap.
“Benar, ada yang ingin kubicarakan denganmu,” Natsume menahan seringainya.
“Baiklah, baiklah, masuklah dulu,” dengan polosnya Ushio mempersilahkan Natsume masuk. Membuat Natsume tak kuasa menahan senyuman jahatnya.
“Jadi, apa yang ingin—tunggu, dari mana kamu tahu rumahku?” Sepertinya Ushio telah sepenuhnya sadar dari ngantuknya. Namun semua itu telah terlambat. Ia telah mengizinkan seorang predator memasuki kediamannya.
“Ushio Komori dari Arts Graphic bukan?” Natsume berujar tenang sementara ia menatap tajam buruan di hadapannya.
“B-benar,” Ushio tanpa sadar meneguk ludah karena kerongkongannya mendadak kering.
“K-kamu sendiri siapa?”
Natsume sudah tidak bisa menahan seringaiannya. Maka seringaian serigala itu muncul. Sebuah seringai penuh kepercaya dirian dan ditambah sebuah tatapan merendahkan.
“Dengan pendapatanmu yang sekarang tidak heran jika kartu kreditmu adalah jenis Mastercard Platinum milik bank swasta,” Natsume perlahan bangkit dari duduknya sementara tangannya meraih sesuatu dari saku kemejanya.
“A-apa? K-kamu siapa!?” Ushio mencoba bersiaga karena predator di hadapannya sekarang terasa lebih mengancam.
“Aku?” Natsume meletakan sebuah kartu kredit berwarna gelap di atas meja yang memasihkan keduanya.
Ushio Komori terbelalak melihat kartu kredit jenis VISA yang baru saja diletakan di atas meja. Bukan Kartu Kredit Platinum seperti miliknya. Tapi sebuah VISA Infinite.
“Aku adalah bos dari bos-bosmu,” sementara Ushio sibuk shock karena di hadapannya tersaji VISA yang tak sembarangan orang bisa memilikinya, Natsume telah selesai menutupi tangannya dengan sarung tangan.
Untuk ukuran otak seorang direktur, walaupun masih ngantuk, Ushio langsung sadar jika kedatangan orang yang katanya “bos dari bos-bosnya” ini ada hubungannya dengan kejadian ia membuat seorang perempuan yang tadi orang “bos dari bos-bosnya” ini menangis di bar.
Ushio kembali memandang VISA menggoda di hadapannya dengan maksud mencari tahu siapa sang pemilik VISA Infinite tersebut.
“K-Kuroto Y-Yoshiki!!!???” Kali ini adalah puncak keterkejutan Ushio. Ia benar-benar terkejut seaakan jantungnya bisa berhenti seketika.
Siapa pebisnis yang tidak mengenal nama Kuroto Yoshiki? Bahkan katanya nama itu sudah terbang ke seluruh dunia. Salah satu ‘pria dalam kegelapan’ yang menguasai saham perusahaan-perusahaan besar. Memiliki ratusan anak perusahaan yang berskala besar dan bergerak dalam berbagai bidang di seluruh Jepang, atau mungkin seluruh dunia?
Tidak ada yang tahu bagaimana wajah Kuroto Yoshiki walaupun rumornya telah menyebar luas di kalangan pebisnis. Karena wajar saja mereka yang menjadi pioneer-pioneer tidak layak bertatap muka dengan mereka yang berkuasa.
Dan sekarang ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, sang ‘pria dalam kegelapan’, sang penguasa segala industri di tanah Jepang.
Kuroto Yoshiki yang luar biasa, menatapnya rendah, dengan menggenggam sebuah pisau lipat.
Apa? Tunggu? Pisau lipat?
CRAAAAAT!!
Sementara Ushio masih tertegun, pisau itu telah tertancap tepat di tengah-tengah kerongkongannya.
“Bghh? Bhuuggh!!” Beberapa muncratan darah keluar dari mulut Ushio.
“Hn, itulah mengapa aku memakai sarung tangan. Agar darah hinamu ini tidak mengotoriku.”
Dengan matanya yang terbelalak lebar ia bisa melihat wajah merendahkan yang entah kenapa nampak agung dari paras Natsume.
“Kau pikir kau hebat hanya karena memiliki kartu kredit Platinum?” Lagi. Natsume menggunakan nada mengejek.
“Hn, kau tahu siapa perempuan yang telah kau buat menangis tadi?”
Ushio hanya menggeleng lemah sementara lehernya tertahan oleh pisau Natsume.
“Dia istriku.” Natsume Haru menarik pisau lipatnya secara serampangan. Membuat banyak darah bermuncratan.
“Dan kau membuatnya menangis,” dengan alunan nada datar dan santainya, Natsume menelusupkan kedua jarinya ke dalam bola mata kanan Ushio. Lalu menarik keluar bola mata itu. Mencabut semua sel saraf yang tersambung.
“G-ggghhh…” Ushio tidak bisa berteriak. Pita suaranya telah terputus akibat pisau lipat.
“Kau pikir dia mengincarmu karena kartu kredit murahanmu? Sayang sekali…”
Natsume menancapkan pisau lipatnya pada dahi Ushio. Kemudian bangkit berdiri meninggalkan mayat Ushio.
“… Suaminya adalah Lucifer. Benda lempengan seperti kartu kredit hanyalah butiran pasir.”
.
[Yami no Ai]
.
“Kuroto Hana tolong bawakan fotocopy soal ini ke kelas ya.”
“Baik bu.”
Hana yang seharusnya hanya mengumpulkan tugas Bahasa Jepang yang telat ia kumpulkan malah tertangkap guru Kesenian.
“Hup,” Hana mengangkat beberapa tumpuk kertas sekaligus.
Sapphire Hana tak sengaja menangkap sebuah headline pada Koran yang diletakan tak jauh dari tumpukan kertas soal.
“HEEEEEEEE!!!?? DIA KAN YANG KEMARIN!!??”
Pekikan Hana otomatis membuat siapapun yang berada di ruang guru saat itu pastilah menoleh ke arah Hana.

‘TEWAS MENGERIKAN: MAYAT DIREKTUR PERUSAHAAN DESAIN DITEMUKAN TAK WAJAR’

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.