CHAPTER 17: YOU’RE MY PRIDE
‘MATI AKU!!’ Hana
shock dan rasanya ada berbagai petir menyambar-nyambar di dalam dirinya.
‘JADI INI KAH RASANYA
MOMENT PALING MEMALUKAN DI DALAM HIDUP ITU!??’ Batin Hana berteriak-riak liar.
Hana hanya bisa
nyengir dan segera mengalihkan pandangannya dari pria itu sebisa mungkin.
Setelah mencapai menu
terakhir Hana tanpa sadar menoleh kembali pada sang pria yang mungkin sedang
melakukan pembayaran untuk set makan malamnya. Pria itu mengeluarkan dompetnya
dan nampak mengeluarkan sebuah credit card pula.
Sebuah Platinum Credit
Card.
Seketika bayangan
Kuroto Yoshiki yang juga pernah Hana lihat mengeluarkan kartu sejenis untuk
membayar bill makan malam mereka di tempat ini.
Saat Hana berkedip
untuk mengakhiri bayangan kenangan yang menghantuinya, ternyata pria itu tengah
menatapnya lekat.
Menyadari tatapan Hana
yang sepertinya hanya tertuju pada kartu kreditnya, pria itu segera menyusupkan
kartu kreditnya ke dalam bill agar pelayan mengurus sisanya.
Sebelum terjadi kontak
lagi, Hana cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Melanjutkan menyesap tehnya
yang masih hangat.
Yang ia lihat di
hadapannya hanyalah sebuah kursi kosong. Padahal di atas mejanya sudah lengkap
set untuk ‘kencan-makan-malam’. Tapi ia malah datang sendirian. Makan sendirian.
Menunggu kembang api sendirian. Melihat seorang pria asing yang mampu
mengigatkannya pada suaminya yang entah di mana sekarang.
Mungkin jika suaminya
ada di hadapannya, mungkin saat ini suaminya tengah meminum anggur favoritnya
dengan tampang bangsawan yang mampu menggoda siapapun wanita di ruangan ini.
Namun sekali lagi,
sayangnya, suaminya tidak di sini.
.
[Yami no Ai]
.
Menunggu lift mencapai
lantai longue restoran, Natsume Haru berdecak kesal karena benda berbentuk
balok ini tidak segera mencapai tujuannya.
Sepertinya kali ini ia
harus mengawasi Hana namun dengan konsekuensi jangan sampai terlihat oleh Hana.
Mengingat betapa bencinya Hana pada sosok Natsume Haru. Ditambah pesan Hana
yang menyuruhnya untuk tidak berbuat macam-macam.
.
[Yami no Ai]
.
Tinggal sepuluh menit
lagi sebelum kembang api pertama di luncurkan.
Hana berpindah dari
restoran ke sebuah bar hotel yang sepertinya di desain di dekat sebuah beranda
yang strategis untuk menonton festival kembang api kuil terdekat.
Seorang waiters yang
mengantar Hana menarik sebuah kursi bagi Hana. Setelah Hana menduduki kursinya,
waiters itu pergi.
Tatapannya tertuju
pada kilatan kaca yang tertata apik di rak sang bartender. Berbagai anggur dan
sulingan alcohol tersusun apik di sana.
Coba diingat-ingat
kembali, Hana tidak terlalu mengerti mengenai masalah anggur. Dulu Yoshiki
memesankannya apa? Oh buruk. Hana melupakan nama campuran soda tak beralkohol
yang dulu diucapkan Yoshiki dengan lidah fasihnya.
“Ingin meminum sesuatu
nona?” Sang bartender yang tengah sibuk mengelap botol anggur hingga mengkilap
menyempatkan diri bertanya pada Hana.
“Ah…” Hana menatap
bingung.
‘GAWAAAAAAT AKU LUPA
APA NAMA MINUMANNYA!!’ Batin Hana menangis.
“Jadi kau mengikutiku
tanpa memiliki rencana apapun. Padahal kau sendiri tidak tahu apa-apa soal
minuman,” sebuah suara penuh cemoohan terdengar dari samping Hana.
Itu pria yang tadi di
restoran.
‘UWAAA DIA YANG TADI!’
Saat Ini Hana merasa kesialan tengah mengikutinya. Pria yang tadi membuatnya
malu setengah mati ada di sampingnya. Saking shocknya dia sampai ejekan sang
pria tak bisa ia dengarkan.
“Waah… kebetulan
sekali yah… kita bertemu lagi,” Hana tertawa garing. Mungkin menertawakan
nasibnya.
Pria dalam setelan jas
itu kembali menggunakan nada mencemoohnya, “benar-benar kebetulan.”
“Maksudnya apa?” Hana
yang tidak mengerti mengendurkan senyumnya.
“Kebetulan yang
disengaja,” ucap pria itu to the point.
“Hah?” Sekarang Hana
semakin tidak mengerti.
Natsume Haru dengan
tergesa-gesa keluar dari lift sempit yang mengukungnya. Melangkah cepat ingin
segera menuju ke restoran yang dulunya ia dan Hana gunakan. Memasuki longue bar
tanpa menyadari Hana tengah duduk di antara deretan kursi.
Pria di samping Hana
melipat kedua tangannya di depan dadanya, kebetulan pandangannya menatap sosok
Natsume yang tergesa-gesa, “bagaimana dengan pria berambut putih itu?”
Hana mengikuti arah
pandangan sang pria dan menemukan punggung Natsume telah berjalan melewatinya.
“Pakaiannya bagus.
Mungkin dia punya kartu kredit yang lebih baik dariku,” pria itu mencondogkan
sedikit tubuhnya dan berbisik seolah mengejek.
Baiklah. Hana mengerti
sekarang. Sepenuhnya mengerti.
Sekilas Hana menatap
tidak percaya pada pria itu. Namun sang pria malah menatapnya dengan sebuah
senyum yang mengejek.
“Menurutmu… aku sedang
sengaja mendekatimu… karena aku melihat kartu kreditmu?”
Pria itu tidak
menyahuti. Namun senyum di bibirnya melebar.
‘Hahaha…’ rasanya Hana
ingin tertawa sekarang. Tertawa ironis lebih tepatnya.
“Maaf Tuan,” rasanya
Hana ingin menangis sekarang.
Memang benar Hana
tidak lebih dari seorang siswa SMA biasa yang bekerja part-time untuk
menghidupi kesehariannya yang dibawah kata sederhana. Sebelumnya ia tak pernah
merasakan bagaimana rasanya menjadi manusia yang dikelilingi harta. Dirinya
tidak khatam dengan kegiatan-kegiatan menghamburkan uang untuk makan malam di
resto mahal seperti ini. Bisa dibilang Hana sangat kikuk jika tidak bersama
seseorang yang telah merubah hidupnya, sang suami, Kuroto Yoshiki.
“Sepertinya anda salah
sangka. Aku di sini hanya untuk melihat kembang api.”
Beberapa butir air
mata bermunculan.
“Jika anda mengira
saya mengincar anda karena kartu kredit anda…,” Hana tersenyum masam, “anda
salah besar. Saya memang tidak tahu tingkatan kartu kredit….”
Natsume Haru
melongokkan kepalanya saat berada di depan restoran mencari sosok Hana.
Persetan dengan semua orang yang memandangnya aneh.
‘Tch, apa dia sudah di
bar?’
Seingatnya tahun lalu
setelah makan malam, ia mengajak Hana untuk menemaninya minum di longue bar.
Hana pasti ke sana. Natsume segera bergegas kembali.
Setelah beberapa detik
menyapu seluruh longue bar, Natsume menemukan sosok Hana. Duduk dan berbicara
pada seorang pria di sebelahnya.
Tanpa berpikir panjang
Natsume mendekati Hana yang nampaknya masih tidak menyadarinya.
“Hanya saja apa yang
anda lakukan mengingatkan saya pada seseorang yang penting di hidup saya!”
Hana bangkit dari
bangkunya dengan serampangan, tak bisa lagi menahan lelehan air matanya.
BRAK
Tubuhnya bertabrakan
dengan tubuh Natsume yang tidak menyadari tindakan Hana tiba-tiba.
PSYUUUUUH DAAAAAR!!
SYUUU DAAAR!! DAAAR! DAAR!!
Letupan kembang api
bermekaran. Berkilatan menerangi malam Tokyo. Menyapu bersih langit gelap
dengan percikan berwarna-warni dan meriah.
Hana sepenuhnya tahu
siapa pria yang ditabraknya. Namun fokusnya telah teralih pada beranda bar yang
terbuka lebar dan menampakan gemerlap kembang api.
Tanpa sadar tangan
Hana melingkar pada tubuh Natsume.
Sama. Ukurannya,
kekokohannya, kehangatannya, semuanya terasa sama dengan tubuh Yoshiki. Oleh
sebab itu Hana memilih menyerah dan terus mendekap tubuh Natsume sementara ia
mengamati kembang api.
“….” Natsume sendiri
sedikit kaget melihat Hana yang dengan sukarela memeluknya.
Apalagi tadi Hana
terlihat meneteskan air mata.
Sialan! Siapa yang
telah berani membuat istrinya menangis seperti ini?
Pria itu memandang
punggung Hana yang tengah memeluk Natsume dengan tatapan
‘dia-benar-benar-jalang-lihat-saja-dia-sudah-mendapatkan-pria-yang-tadi-kusebutkan’’
Natsume yang menyadari
itu mengetahui siapa pelaku yang dicarinya. Sebuah tatapan membunuh dan
merendahkan diberikan.
Sang pria tentu saja
merasakan sensasi aneh dan lain dari tatapan Natsume langsung mengalihkan
pandangannya.
Untunglah Natsume
kembali teralihkan pada Hana yang sepertinya terlelap dalam dekapannya. Jika
tidak mungkin pria itu sudah kehilangan kepalanya sekarang.
Menggendong Hana ala
bridal, Natsume membawa Hana pulang. Mengabaikan pandangan pelayan dan tamu
wanita yang berdecak iri.
.
[Yami no Ai]
.
Kelopak Hana terbuka
perlahan. Silaunya lampu jalanan yang melewatinya semakin membuat indra
penglihatannya itu mengerjap berkali-kali meminta untuk terjaga.
Dia ada di dalam
mobil.
“Anda sudah bangun?”
Natsume menyadari pergerakan kecil Hana.
“Aahh kenapa aku
tertidur sih?” Hana menyamankan posisi duduknya dan menggerutu kecil karena
kebodohannya.
“Pasti gara-gara
kekenyangan dan… mataku panas…” nada bicara Hana menyurut.
“Dasar laki-laki
berengsek. Enak saja mengatakan aku tertarik padanya karena kartu kreditnya!”
Lalu terdiam sejenak sebelum kembali menlanjutkan dengan tawa getir, “….
Hahaha, Yoshiki-kun sepertinya aku memang tidak bisa melakukan apapun tanpamu.”
Natsume melirik Hana
lewat kaca spion. Wanitanya itu terus memandang keluar jendela mobil dengan
wajah sendu.
‘Pria itu…’ Pegangan
pada setir kemudinya mengerat.
Hana adalah
kebanggaannya. Harga dirinya. Pria itu telah merendahkan Hana. Itu berarti
manusia rendah itu telah menginjak harga dirinya juga.
.
[Yami no Ai]
.
“Natsume-dono, saya
telah menemukan orang yang anda cari. Ushio Komori. Direktur perusahaan desain
yang lumayan besar di Kansai,” Misaka menyerahkan beberapa lembar kertas yang
telah ia klip rapi pada Natsume.
“Hn,” Natsume
membolak-balik data yang diberikan Misaki.
Semuanya tercetak rapi
dan rinci. Mulai dari data pribadi, riwayat pekerjaan, keluarga, pendapatan,
hingga data masa lalu ada di dalam lembaran-lembaran kertas yang diberikan
Misaki atas perintah Natsume.
Seharusnya semua itu
bisa dengan mudah sebagai seorang raja iblis. Namun mengungat keadaannya, Natsume
tidak bisa sembarangan menggunakan sihirnya. Terlebih lagi untuk manusia.
Bisa-bisa Exorcist segera mencium energi sihirnya yang sangat berbeda dari
iblis-iblis lainnya sehingga semua rencananya akan porak poranda. Sama halnya
ketika ia berniat memberikan sihir pendorong untuk Hana, ia mengurungkan
niatnya.
Sebuah seringai
mengejek muncul di antara rahang tegasnya. Sepertinya kali ini ia harus
melakukannya secara ‘manusiawi’.
“Manusia seperti ini
yang menginjak harga diriku?”
.
[Yami no Ai]
.
Beberapa ketukan di
tengah malam memang bukanlah hal sopan.
“Kau pikir ini jam
berapa hah!?” Respon yang wajar dari sang pemilik rumah yang menggerutu kesal
karena tidurnya terganggu.
Wajahnya yang
mengantuk berubah terkejut begitu menyadari jika orang yang muncul dari balik
pintunya adalah pria yang ia lihat di bar tadi.
“Oh, kamu yang tadi
kan?” Pria itu setengah menguap.
“Benar, ada yang ingin
kubicarakan denganmu,” Natsume menahan seringainya.
“Baiklah, baiklah,
masuklah dulu,” dengan polosnya Ushio mempersilahkan Natsume masuk. Membuat
Natsume tak kuasa menahan senyuman jahatnya.
“Jadi, apa yang
ingin—tunggu, dari mana kamu tahu rumahku?” Sepertinya Ushio telah sepenuhnya
sadar dari ngantuknya. Namun semua itu telah terlambat. Ia telah mengizinkan
seorang predator memasuki kediamannya.
“Ushio Komori dari
Arts Graphic bukan?” Natsume berujar tenang sementara ia menatap tajam buruan
di hadapannya.
“B-benar,” Ushio tanpa
sadar meneguk ludah karena kerongkongannya mendadak kering.
“K-kamu sendiri
siapa?”
Natsume sudah tidak
bisa menahan seringaiannya. Maka seringaian serigala itu muncul. Sebuah
seringai penuh kepercaya dirian dan ditambah sebuah tatapan merendahkan.
“Dengan pendapatanmu
yang sekarang tidak heran jika kartu kreditmu adalah jenis Mastercard Platinum
milik bank swasta,” Natsume perlahan bangkit dari duduknya sementara tangannya
meraih sesuatu dari saku kemejanya.
“A-apa? K-kamu
siapa!?” Ushio mencoba bersiaga karena predator di hadapannya sekarang terasa
lebih mengancam.
“Aku?” Natsume
meletakan sebuah kartu kredit berwarna gelap di atas meja yang memasihkan keduanya.
Ushio Komori
terbelalak melihat kartu kredit jenis VISA yang baru saja diletakan di atas
meja. Bukan Kartu Kredit Platinum seperti miliknya. Tapi sebuah VISA Infinite.
“Aku adalah bos dari bos-bosmu,”
sementara Ushio sibuk shock karena di hadapannya tersaji VISA yang tak
sembarangan orang bisa memilikinya, Natsume telah selesai menutupi tangannya
dengan sarung tangan.
Untuk ukuran otak
seorang direktur, walaupun masih ngantuk, Ushio langsung sadar jika kedatangan
orang yang katanya “bos dari bos-bosnya” ini ada hubungannya dengan kejadian ia
membuat seorang perempuan yang tadi orang “bos dari bos-bosnya” ini menangis di
bar.
Ushio kembali
memandang VISA menggoda di hadapannya dengan maksud mencari tahu siapa sang
pemilik VISA Infinite tersebut.
“K-Kuroto
Y-Yoshiki!!!???” Kali ini adalah puncak keterkejutan Ushio. Ia benar-benar
terkejut seaakan jantungnya bisa berhenti seketika.
Siapa pebisnis yang
tidak mengenal nama Kuroto Yoshiki? Bahkan katanya nama itu sudah terbang ke
seluruh dunia. Salah satu ‘pria dalam kegelapan’ yang menguasai saham
perusahaan-perusahaan besar. Memiliki ratusan anak perusahaan yang berskala
besar dan bergerak dalam berbagai bidang di seluruh Jepang, atau mungkin
seluruh dunia?
Tidak ada yang tahu
bagaimana wajah Kuroto Yoshiki walaupun rumornya telah menyebar luas di
kalangan pebisnis. Karena wajar saja mereka yang menjadi pioneer-pioneer tidak
layak bertatap muka dengan mereka yang berkuasa.
Dan sekarang ia
melihat dengan mata kepalanya sendiri, sang ‘pria dalam kegelapan’, sang
penguasa segala industri di tanah Jepang.
Kuroto Yoshiki yang
luar biasa, menatapnya rendah, dengan menggenggam sebuah pisau lipat.
Apa? Tunggu? Pisau
lipat?
CRAAAAAT!!
Sementara Ushio masih
tertegun, pisau itu telah tertancap tepat di tengah-tengah kerongkongannya.
“Bghh? Bhuuggh!!”
Beberapa muncratan darah keluar dari mulut Ushio.
“Hn, itulah mengapa
aku memakai sarung tangan. Agar darah hinamu ini tidak mengotoriku.”
Dengan matanya yang
terbelalak lebar ia bisa melihat wajah merendahkan yang entah kenapa nampak
agung dari paras Natsume.
“Kau pikir kau hebat
hanya karena memiliki kartu kredit Platinum?” Lagi. Natsume menggunakan nada
mengejek.
“Hn, kau tahu siapa
perempuan yang telah kau buat menangis tadi?”
Ushio hanya menggeleng
lemah sementara lehernya tertahan oleh pisau Natsume.
“Dia istriku.” Natsume
Haru menarik pisau lipatnya secara serampangan. Membuat banyak darah
bermuncratan.
“Dan kau membuatnya
menangis,” dengan alunan nada datar dan santainya, Natsume menelusupkan kedua
jarinya ke dalam bola mata kanan Ushio. Lalu menarik keluar bola mata itu.
Mencabut semua sel saraf yang tersambung.
“G-ggghhh…” Ushio
tidak bisa berteriak. Pita suaranya telah terputus akibat pisau lipat.
“Kau pikir dia
mengincarmu karena kartu kredit murahanmu? Sayang sekali…”
Natsume menancapkan
pisau lipatnya pada dahi Ushio. Kemudian bangkit berdiri meninggalkan mayat
Ushio.
“… Suaminya adalah
Lucifer. Benda lempengan seperti kartu kredit hanyalah butiran pasir.”
.
[Yami no Ai]
.
“Kuroto Hana tolong
bawakan fotocopy soal ini ke kelas ya.”
“Baik bu.”
Hana yang seharusnya
hanya mengumpulkan tugas Bahasa Jepang yang telat ia kumpulkan malah tertangkap
guru Kesenian.
“Hup,” Hana mengangkat
beberapa tumpuk kertas sekaligus.
Sapphire Hana tak
sengaja menangkap sebuah headline pada Koran yang diletakan tak jauh dari
tumpukan kertas soal.
“HEEEEEEEE!!!?? DIA
KAN YANG KEMARIN!!??”
Pekikan Hana otomatis
membuat siapapun yang berada di ruang guru saat itu pastilah menoleh ke arah
Hana.
‘TEWAS MENGERIKAN:
MAYAT DIREKTUR PERUSAHAAN DESAIN DITEMUKAN TAK WAJAR’
0 komentar:
Posting Komentar