CHAPTER 35: END THE HIGHSCHOOL’S LIFE
Musik klasik memang sangat indah. Tapi terkadang kenangan buruknya seolah menjadi penghalangnya.
Yoshiki meraih sebuah lemari kaca dan mengeluarkan sebuah biola yang nampak rapuh dari sana.
“Ini Stradivarius. Biola langka yang menyebabkan kutukan bagi siapapun yang memainkannya.”
“Ehhh?” Hana bergidik ngeri.
Tak mempedulikan ketakutan Hana,Yoshiki memposisikan biolanya untuk segera dimainkan.
“Wolfgang Amadeus Mozar, Requiem in D minor.”
Alunan-alunan indah mulai tercipta dari gesekan senar dari jari Yoshiki yang begitu lihai.
Hana terperangah. Setiap gesekan yang dihasilkan seolah mempengaruhi aura aneh yang menguar dari balik punggung Yoshiki. Semuanya terasa…. Gelap. Namun juga… sangat indah. Yoshiki seolah memenjarakannya di suatu tempat sempit.
Terlintas di kepalanya mengenaik kejadian tadi sore. Rin Otome bercerita jika Yoshiki memainkan biola juga untuk perempuan itu. Hati kecilnya seperti dicubit. Alunan gelap dan indah yang dihasilkan oleh gesekan biola Yoshiki seolah semakin membawa Hana ke dalam jurang iri dengki. Ia akui ia iri, namun bagaimana lagi, walaupun Yoshiki memainkan untuknya seperti saat ini ia tak akan bisa memberikan penilaian apapun, Rin Otome memang lebih layak. Oleh karena Rin Otome lebih layak, rasa iri membuncah dalam diri Hana, membuatnya lepas kendali dan memenggal kepala perempuan malang itu.
Alunan biola menuju akhir dan Yoshiki mengakhiri permainannya dengan indah dan elegan.
Hana bertepuk tangan ringan, “keren sekali.”
Yoshiki hanya menatap datar, “kau tidak bisa mendengarkannya dengan baik kan?”
Hana sedikit tersentak. Yoshiki tau mengenai traumanya.
“Maaf,” Hana tersenyum ragu, “tapi aku bisa melihatnya kok, betapa keren Yoshiki-kun memainkannya. Juga…. Agak terdengar sedih ya… seperti baru saja merasakan kematian—ah.”
“Hn, ada apa?”
“Yoshiki-kun sedang berduka karena kematian Rin Otome ya? Aku… maaf… tubuhku bergerak sendiri di luar kendali. Dan tanpa sadar aku sudah membelah kepalanya….” Walaupun mengucapkan perminta maafan, namun Yoshiki bisa melihat seringai tipis dari bibir Hana.
“Hn…”
Yoshiki hanya diam mengamati langkah Hana yang terus membuat jarak diantara mereka menyempit. Hingga Hana sudah tepat berdiri di hadapannya. Tangan Hana meraih kepala Yoshiki dan semakin meniadakan jarak diantara keduanya.
‘Chuu~’
Tanpa sepatah kata lagi, Hana mendaratkan ciuman dalam pada bibir Yoshiki. Sedikit terkejut hanya dalam beberapa detik, namun Yoshiki segera memainkan perannya dengan baik, dibalasnya ciuman Hana dengan serius. Mengakibatkan ciuman itu menjadi sedikit lama dengan sedikit permainan lidah di dalamnya.
Hingga kedua bibir itu berpisah perlahan, menyisahkan wajah kemerahan Hana.
“A-aku mohon, untuk berikutnya, j-jangan biarkan perempuan lain sampai m-mencium bibir Yoshiki-kun,” ucap Hana dengan kepala tertunduk.
Oh. Hana cemburu.
Bibir tipis Yoshiki berberak membentuk senyuman miring.
“Ada apa My Lady? Kau cemburu? Jarang sekali melihatmu seperti ini.”
Hana menatap Yoshiki dengan wajah luar biasa merah, “A-apa-apaan itu! C-Curang! Yoshiki-kun menanyakan hal yang sudah sejelas itu!” Dipukulnya ringan dada Yoshiki.
Direngkuhnya tubuh kecil Hana, “maaf,” dan disandarkannya kepalanya pada bahu Hana, “aku hanya kelelahan, seharusnya aku tidak boleh melakukan itu. Ini semua salahku. Kupastikan hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.”
Hana bisa merasakan ketulusan dalam setiap kalimat Yoshiki, “kelelahan? Umm…” Yoshiki adalah iblis, raja iblis malahan, cukup aneh mendengar raja iblis mengeluh kelelahan.
“Hn. Menyedihkan sekali ya jika seorang raja mengeluh?” Ucap Yoshiki seolah membaca pikiran Hana.
“Aku juga merasa lelah. Dan hal yang bisa membuat moodku naik lagi hanyalah dirimu, namun kau… seolah-olah mengabaikanku… seenaknya pergi dengan teman-teman priamu, kalian memang hanya berteman, namun aku tetaplah merasa iri kepada mereka yang bisa bersenang-senang bersamamu.”
Hana terdiam. Ini pertama kali baginya mendengar Yoshiki begitu jujur dan tenang dalam menyatakan keglisahannya. Ia tau, yang Yoshiki maksud pastilah ketika ia secara sembarangan hendak mengajak temannya ke konser karena Yoshiki sangat sibuk, namun prianya itu segera datang dan menemaninya menonton konser, padahal Hana sendiri tau betapa berat pekerjaan suaminya itu.
Alis Hana mengerut. Sudah betapa egois ia selama ini?
“Untuk kejadian di orkesta, aku tidak menonton orkesta bersama Otome Rin. Kami hanya kebetulan bertemu di luar Hall. Lalu, aku hanya menawarkan tumpangan pulang untuknya.” Yoshiki menjeda kalimatnya sejenak sebelum kembali melanjutkan, “My Lady… sebenarnya aku telah menyiapkan tiket untukmu. Sejak dulu, hal yang sangat ingin kulakukan adalah bisa menonton orkesta denganmu, namun aku tau kondisimu, aku tak bisa membuatmu menderita hanya karena keinginan sepele seperti itu, namun di lain sisi terkadang, aku sangat ingin mengenalkanmu pada mitra-mitraku yang memiliki hobi sama denganku.”
Hana hanya bisa bungkam. Yoshiki telah membeberkan semuanya. Termasuk keinginannya. Pelukannya terhadap pelukan Yoshiki semakin mengerat.
Keduanya bertatapan beberapa saat seolah saling menyalurkan perasaan masing-masing. Hingga jarak diantara wajah mereka hilang dan digantikan oleh kecupan-kecupan hangat.
.
.
“HAAAAAAAAAAAA!!!?? SERIUUUSAAAN!?”
Teriakan itu akan menggema di seluruh mansion bila setiap ruangan tidaklah kedap suara. Namun beberapa pelayan yang kebetulan mendengarnya berbondong-bondong mendatangi kamar Hana karena khawatir.
“My Lady, apa terjadi sesuatu?” Tanya salah satu perwakilan pelayan.
Hana sendiri yang masih dalam keadaan terkejut semakin terkejut dengan munculnya puluhan pelayan di depan pintu kamarnya.
“Eh? T-Tidak ada, HAHAHA. K-Kalian kaget ya? HAHAHA!” Hana semakin menggila, membuat beberapa pelayan sweatdrop, “maaf, aku tidak bermaksud membuat kalian khawatir, aku hanya sekedar kaget, hahaha, nah, kalian boleh kembali bekerja, haha.”
Mata Hana kembali terarah pada layar di ponselnya. Untuk kesekian kalinya ia menatap tidak percaya.
Lantaran…
“DITERIMA DI UNIVERSITAS TOKYO PRODI KIMIA!”
Hana melompat seketika dari ranjangnya. Dengan keadaan yang tidak bisa dibilang rapi setelah tidur siangnya, Hana berlarian di lorong mansion tak memperdulikan pandangan khawatir yang dilancarkan siapapun ketika berpapasan dengannya.
Tanpa rasa sungkan sekalipun, Hana mendobrak pintu ruang kerja Yoshiki.
“Yoshiki-kun!”
“My Lady?” Yoshiki yang tengah duduk di sofa mugkin sedikit terkejut dengan kedatangan Hana yang serba heboh.
“Haahhh… Hahh…” Setelah puas menata nafasnya yang ngos-ngosan, Hana melangkah mendekati Yoshiki, “Yoshiki-kun sudah lihat web pengumuman?”
Yoshiki tak menjawab segera, namun ia hanya tersenyum tipis.
“Selamat My Lady…”
Hana mengangguk bahagia sementara kakinya melangkah mendekat.
“Umm, lalu bagaimana dengan Yoshiki-kun?”
Yoshiki menaikkan sebelah alisnya, “Kau kira aku tidak akan lolos?” Tanyanya dengan tampang sok.
“B-bukan begitu!” Lantas Hana merasa bersalah, “Yoshiki-kun pasti lolos, masalahnya, dimana Yoshiki-kun diterima?” Hana tertunduk. Benar ia bahagia mendapat perguruan tinggi dan jurusan yang ia inginkan, tapi bagaimana dengan Yoshiki? Suaminya itu terlampau cerdas, bagaimana jika Yoshiki diterima di tempat yang berbeda dengannya? Memiliki pemikiran itu bisa membuatnya cemas.
Yoshiki tak bisa menyembunyikan senyumannya lagi. Bibirnya mengembang lebar.
Didorongnya tubuh Hana yang tadinya duduk di sampingnya hingga sekarang terbaring dengan dirinya berada di atas.
“Aku juga, lolos di perguruan tinggi dan prodi yang sama denganmu.”
Kedua mata Hana melebar bahagia, “Serius!?” Hana tak bisa menyembunyikan kebahagiannya juga.
Tak menjawab pertanyaan Hana, Yoshiki mendekatkan wajahnya lebih lagi pada wajah Hana. Bibir keduanya bertautan, mengecup, dan larut dalam kelembutan untuk beberapa saat.
.
.
“Jadi seperti ini ya… Kuliah itu…” Hana menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, seolah ia tengah menghirup udara perkuliahaan itu sendiri.
Yoshiki melangkah di samping Hana dengan santai. Keduanya baru saja menghadiri acara penerimaan mahasiswa baru.
“Kalau Yoshiki-kun pasti sudah hampir bosan sekali ya?” Yoshiki melirik Hana sebentar, “tidak. Kali ini berbeda.”
“Berbeda?” Hana menatap Yoshiki penuh tanda tanya.
“Karena kau ada di sampingku. Tentu saja semuanya akan berbeda,” jawab Yoshiki santai tanpa menyadari jika kalimat ringannya itu bisa membuat Hana yang wajahnya sudah memerah itu meledak.
“A-Ahh… B-Begitu! Hahaha!” Hana tertawa garing untuk mengusir detakan jantungnya yang semakin cepat, “kampus luar biasa ya. Luas sekali daripada SMA dulu. Mungkin aku akan sering-sering tersasar di sini.”
“Kau bisa mengajakku jika ingin pergi ke suatu tempat di kampus ini.”
“Eh? Ah, benar juga ya, akan lucu jika raja iblis yang mulia ini tersasar. Pengetahuan denah lokasi pun sepertinya sudah menjadi standart ya bagi Yoshiki-kun.”
“Hn? Apa itu? Aku pernah menempuh program Profesor di sini. Wajar bukan jika aku sudah mengenal tempat ini.”
“EEEEEHHHH!!??? PROGRAM PROFESOR DI SINI!?”
“Hn.”
“Uwaaagh… senpai yang sangan senpai… Kuroto-sensei dulu di bidang apa?” Ucap Hana setenga bercanda.
“Major in Aquatic Life Sciences, Mrs. Kuroto,” dengan santai Yoshiki seperti balik mengerjai Hana.
POOF. Wajah Hana kembali memerah. Cukup mudah rasanya untuk mengalahkan Hana.
“Ayo nanti malam ke karaoke!”
“Ayo ayo! Aku baru berkenalan dengan anak-anak departemen Farmasi! Akan kuajak nanti!”
Terlihat 5 orang mahasiswa mahasiswi tengah bercengkrama di sebuah halte bus.
Hana tersenyum melihat tingkah kelimanya, membuat Yoshiki tanpa sadar ikut memperhatikan kelima mahasiswa tersebut.
“Ada apa?”
“Umm, tidak! Aku senang. Di sini banyak mahasiswi cantik-cantik dan mahasiswa ikemen-ikemen, bahkan sepertinya tadi ada yang sekilas mirip Yoshiki-kun loh.”
“…..” Dalam diam Yoshiki menundukkan badannya menyamai tinggi Hana, kemudian menghalingi pandangan Hana dengan wajahnya yang begitu datar, dan berakhir dengan memberikan kecupan singkat pada bibir Hana.
“!!!!” Adegan yang tidak sampai tiga detik itu seperti mampu meledakkan diri Hana.
“Jangan melihat mahasiswa lain.”
“U-UWW—M-MAAF! H-HABISNYA INI PERTAMA KALIKU. JADI SEMUANYA AKU AMATI!” Jawab Hana gagap, “u-uh… Yoshiki-kun tetap yang tertampan diantara mereka semua kok. A-a-anu!!” Hana nampak tak bisa melanjutkan kalimatnya.
“Hn?”
“Y-Yoshiki-kun j-juga jangan melihat mahasiswi lain! M-Mereka-mereka sangat cantik-cantik daripada aku…” semakin lama suara Hana semakin hilang.
Yoshiki terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan senyuman tipis di bibirnya, “tidak akan.”
Diraihnya tangan Hana, sementara tangannya yang lain meraih sesuatu dari saku celananya. Itu cincin pernikahan keduanya. Cincin pernikahan milik Hana.
Dipasangkannya benda perak berkilau itu pada jari manis Hana, “sekarang tidak perlu khawatir oleh peraturan dilarang menggunakan perhiasan berlebihan, kau bisa mengenakan cincin pernikahan kita tanpa perlu melepasnya sekarang.”
Semburat merah kembali muncul di wajah Hana begitu ditatapnya cincin pernikahannya telah membalut pangkal jari manisnya.
“Agar setiap orang di sini tau jika kau milikku.”
.
.
Minggu pertama perkuliahan bagi Hana terasa begitu menyenangkan. Ia mendapat beberapa teman baru, suaminya pun bisa dibilang cukup manusiawi dalam pergaulanannya.
Seperti biasa kabar keduanya adalah pasangan dengan cepat merebak di sekitar area departemen. Siapa juga yang akan tahan tidak menggosip jika ada seorang mahasiswa luar biasa tampan dan sempurna berpacaran dengan mahasiswi abnormal?
Sejujurnya semuanya terasa berat bagi Hana jika harus berhadapan dengan tatapan dan mulut tajam para perempuan di kampusnya. Lawannya bukan lagi bocah-bocah SMA yang masih labil.
“Umm…. Hana?”
Hana yang kala itu sibuk dengan ponselnya menolehkan kepalanya ke belakang begitu mendengar namanya terpanggil.
“Ah iya, ada apa?”
“Eh, kupanggil Hana saja ya boleh? Habisnya kalau Kuroto seperti memanggil Kuroto-kun.”
Hana tersenyum manis menimpali ucapan teman yang duduk di belakangnya, “boleh saja kok. Ada apa?”
Teman di belakangnya itu tersenyum ragu sebelum akhirnya menguatarakan pikirannya, “anu, apa benar Hana-san dan Kuroto-kun itu bertunangan?”
Ah. Pertanyaan ini rupanya.
“Umm!” Hana menangguk dengan masih mempertahankan senyumannya, “kami bertunangan.”
Yoshiki sepertinya baru saja pergi keluar kelas entah untuk melakukan urusan apa, padahal saat ini rasanya Hana sangan ingin menggenggam erat lengan suaminya itu.
“Begitu ya….”
“Kalau boleh tau, kenapa menanyakan ini? Apa ada masalah karena hubunganku dan Yoshiki-kun?”
“Masalah?” Teman sekelasnya itu memiringkan kepalanya, “tentu saja ada. Kenapa perempuan biasa-biasa saja sepertimu bisa jadi tunangan Kuroto-kun? Jelas saja aku lebih berkualitas daripadamu.”
Hana tertohok bukan main. Perempuan yang bahkan tak Hana kenal namanya itu dengan gamblang dan santai mengungkapkan kalimatnya begitu saja tanpa memperdulikan perasaan Hana setelah mendengarnya.
Hana mengigit bibir bawahnya kecil. Hatinya sakit. Pikirannya kembali kalut.
“Ada apa? Kau mau aku duduk di sisi kanan atau di sisi kiri?”
Tanpa disadari Hana telah melamun cukup lama hingga kedatangan Yoshiki dan dosen saja Hana tak menyadarinya.
“Oh, sudah kembali. Yoshiki-kun di sini saja ya,” Hana menepuk-nepuk kursi kosong di samping kanannya. Ia tak bisa membiarkan Yoshiki duduk di depan temannya yang jelas-jelas seperti memberikan pandangan perlawanan terhadap hubungannya.
“Hn? Bukankah kau tadi meletakkan tasku di tempat yang kau duduki sekarang?”
“Yaaah, itu tadi. Sekaranga aku berubah pikiran, hehe,” Hana tertawa garing.
“…. Hn…” Yoshiki meletakan pantatnya dengan agak ragu, ia masih mempertanyakan kepindahan tempat duduknya yang tiba-tiba tanpa alasan.
“Omong-omong… Yoshiki-kun darimana tadi?” Tanpa memperdulikan dosen yang sudah mulai memberikan kuliah, Hana tetap kembali memulai pembicaraan.
“Bertemu dengan seorang kenalan di departemen Pendidikan Sains.”
“Kenalan?”
“Hn. Kau ingin tau? Kita bisa ke tempatnya lagi setelah kelas berakhir.”
“Oh, umm… boleh.”
Perkuliahan baru dimulai 1 minggu dan Yoshiki sudah memiliki kenalan. Hal yang baru bagi Hana.
.
Hana hanya bisa mengekor pada Yoshiki. Pria itu terus berjalan tanpa ragu menuju departemen yang cukup asing bagi Hana. Departemen Pendidikan Sains. Terlebih keduanya memasuki ruang dosen begitu saja.
Yoshiki mengetuk sebuah ruangan yang di depannya bertuliskan Prof. Dr. Shimomiya Akihiko.
Terdengar sahutan izin masuk dari dalam. Suaranya terdengar berat dan serak. Benar saja, begitu Yoshiki membuka pintu nampaklah seorang pria berusia sekitar enam puluh tahunan duduk di mejanya dengan wajah yang awalnya kesal berubah menjadi sumringah.
“Kuroto-sama!” Sambut pria itu—dosen itu.
‘Uwaw, waw sekali,’ Hana tak bisa berhenti mengerjapkan matanya takjub. Seorang professor memanggil suaminya dengan hormat.
Read More ->>
Musik klasik memang sangat indah. Tapi terkadang kenangan buruknya seolah menjadi penghalangnya.
Yoshiki meraih sebuah lemari kaca dan mengeluarkan sebuah biola yang nampak rapuh dari sana.
“Ini Stradivarius. Biola langka yang menyebabkan kutukan bagi siapapun yang memainkannya.”
“Ehhh?” Hana bergidik ngeri.
Tak mempedulikan ketakutan Hana,Yoshiki memposisikan biolanya untuk segera dimainkan.
“Wolfgang Amadeus Mozar, Requiem in D minor.”
Alunan-alunan indah mulai tercipta dari gesekan senar dari jari Yoshiki yang begitu lihai.
Hana terperangah. Setiap gesekan yang dihasilkan seolah mempengaruhi aura aneh yang menguar dari balik punggung Yoshiki. Semuanya terasa…. Gelap. Namun juga… sangat indah. Yoshiki seolah memenjarakannya di suatu tempat sempit.
Terlintas di kepalanya mengenaik kejadian tadi sore. Rin Otome bercerita jika Yoshiki memainkan biola juga untuk perempuan itu. Hati kecilnya seperti dicubit. Alunan gelap dan indah yang dihasilkan oleh gesekan biola Yoshiki seolah semakin membawa Hana ke dalam jurang iri dengki. Ia akui ia iri, namun bagaimana lagi, walaupun Yoshiki memainkan untuknya seperti saat ini ia tak akan bisa memberikan penilaian apapun, Rin Otome memang lebih layak. Oleh karena Rin Otome lebih layak, rasa iri membuncah dalam diri Hana, membuatnya lepas kendali dan memenggal kepala perempuan malang itu.
Alunan biola menuju akhir dan Yoshiki mengakhiri permainannya dengan indah dan elegan.
Hana bertepuk tangan ringan, “keren sekali.”
Yoshiki hanya menatap datar, “kau tidak bisa mendengarkannya dengan baik kan?”
Hana sedikit tersentak. Yoshiki tau mengenai traumanya.
“Maaf,” Hana tersenyum ragu, “tapi aku bisa melihatnya kok, betapa keren Yoshiki-kun memainkannya. Juga…. Agak terdengar sedih ya… seperti baru saja merasakan kematian—ah.”
“Hn, ada apa?”
“Yoshiki-kun sedang berduka karena kematian Rin Otome ya? Aku… maaf… tubuhku bergerak sendiri di luar kendali. Dan tanpa sadar aku sudah membelah kepalanya….” Walaupun mengucapkan perminta maafan, namun Yoshiki bisa melihat seringai tipis dari bibir Hana.
“Hn…”
Yoshiki hanya diam mengamati langkah Hana yang terus membuat jarak diantara mereka menyempit. Hingga Hana sudah tepat berdiri di hadapannya. Tangan Hana meraih kepala Yoshiki dan semakin meniadakan jarak diantara keduanya.
‘Chuu~’
Tanpa sepatah kata lagi, Hana mendaratkan ciuman dalam pada bibir Yoshiki. Sedikit terkejut hanya dalam beberapa detik, namun Yoshiki segera memainkan perannya dengan baik, dibalasnya ciuman Hana dengan serius. Mengakibatkan ciuman itu menjadi sedikit lama dengan sedikit permainan lidah di dalamnya.
Hingga kedua bibir itu berpisah perlahan, menyisahkan wajah kemerahan Hana.
“A-aku mohon, untuk berikutnya, j-jangan biarkan perempuan lain sampai m-mencium bibir Yoshiki-kun,” ucap Hana dengan kepala tertunduk.
Oh. Hana cemburu.
Bibir tipis Yoshiki berberak membentuk senyuman miring.
“Ada apa My Lady? Kau cemburu? Jarang sekali melihatmu seperti ini.”
Hana menatap Yoshiki dengan wajah luar biasa merah, “A-apa-apaan itu! C-Curang! Yoshiki-kun menanyakan hal yang sudah sejelas itu!” Dipukulnya ringan dada Yoshiki.
Direngkuhnya tubuh kecil Hana, “maaf,” dan disandarkannya kepalanya pada bahu Hana, “aku hanya kelelahan, seharusnya aku tidak boleh melakukan itu. Ini semua salahku. Kupastikan hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.”
Hana bisa merasakan ketulusan dalam setiap kalimat Yoshiki, “kelelahan? Umm…” Yoshiki adalah iblis, raja iblis malahan, cukup aneh mendengar raja iblis mengeluh kelelahan.
“Hn. Menyedihkan sekali ya jika seorang raja mengeluh?” Ucap Yoshiki seolah membaca pikiran Hana.
“Aku juga merasa lelah. Dan hal yang bisa membuat moodku naik lagi hanyalah dirimu, namun kau… seolah-olah mengabaikanku… seenaknya pergi dengan teman-teman priamu, kalian memang hanya berteman, namun aku tetaplah merasa iri kepada mereka yang bisa bersenang-senang bersamamu.”
Hana terdiam. Ini pertama kali baginya mendengar Yoshiki begitu jujur dan tenang dalam menyatakan keglisahannya. Ia tau, yang Yoshiki maksud pastilah ketika ia secara sembarangan hendak mengajak temannya ke konser karena Yoshiki sangat sibuk, namun prianya itu segera datang dan menemaninya menonton konser, padahal Hana sendiri tau betapa berat pekerjaan suaminya itu.
Alis Hana mengerut. Sudah betapa egois ia selama ini?
“Untuk kejadian di orkesta, aku tidak menonton orkesta bersama Otome Rin. Kami hanya kebetulan bertemu di luar Hall. Lalu, aku hanya menawarkan tumpangan pulang untuknya.” Yoshiki menjeda kalimatnya sejenak sebelum kembali melanjutkan, “My Lady… sebenarnya aku telah menyiapkan tiket untukmu. Sejak dulu, hal yang sangat ingin kulakukan adalah bisa menonton orkesta denganmu, namun aku tau kondisimu, aku tak bisa membuatmu menderita hanya karena keinginan sepele seperti itu, namun di lain sisi terkadang, aku sangat ingin mengenalkanmu pada mitra-mitraku yang memiliki hobi sama denganku.”
Hana hanya bisa bungkam. Yoshiki telah membeberkan semuanya. Termasuk keinginannya. Pelukannya terhadap pelukan Yoshiki semakin mengerat.
Keduanya bertatapan beberapa saat seolah saling menyalurkan perasaan masing-masing. Hingga jarak diantara wajah mereka hilang dan digantikan oleh kecupan-kecupan hangat.
.
.
“HAAAAAAAAAAAA!!!?? SERIUUUSAAAN!?”
Teriakan itu akan menggema di seluruh mansion bila setiap ruangan tidaklah kedap suara. Namun beberapa pelayan yang kebetulan mendengarnya berbondong-bondong mendatangi kamar Hana karena khawatir.
“My Lady, apa terjadi sesuatu?” Tanya salah satu perwakilan pelayan.
Hana sendiri yang masih dalam keadaan terkejut semakin terkejut dengan munculnya puluhan pelayan di depan pintu kamarnya.
“Eh? T-Tidak ada, HAHAHA. K-Kalian kaget ya? HAHAHA!” Hana semakin menggila, membuat beberapa pelayan sweatdrop, “maaf, aku tidak bermaksud membuat kalian khawatir, aku hanya sekedar kaget, hahaha, nah, kalian boleh kembali bekerja, haha.”
Mata Hana kembali terarah pada layar di ponselnya. Untuk kesekian kalinya ia menatap tidak percaya.
Lantaran…
“DITERIMA DI UNIVERSITAS TOKYO PRODI KIMIA!”
Hana melompat seketika dari ranjangnya. Dengan keadaan yang tidak bisa dibilang rapi setelah tidur siangnya, Hana berlarian di lorong mansion tak memperdulikan pandangan khawatir yang dilancarkan siapapun ketika berpapasan dengannya.
Tanpa rasa sungkan sekalipun, Hana mendobrak pintu ruang kerja Yoshiki.
“Yoshiki-kun!”
“My Lady?” Yoshiki yang tengah duduk di sofa mugkin sedikit terkejut dengan kedatangan Hana yang serba heboh.
“Haahhh… Hahh…” Setelah puas menata nafasnya yang ngos-ngosan, Hana melangkah mendekati Yoshiki, “Yoshiki-kun sudah lihat web pengumuman?”
Yoshiki tak menjawab segera, namun ia hanya tersenyum tipis.
“Selamat My Lady…”
Hana mengangguk bahagia sementara kakinya melangkah mendekat.
“Umm, lalu bagaimana dengan Yoshiki-kun?”
Yoshiki menaikkan sebelah alisnya, “Kau kira aku tidak akan lolos?” Tanyanya dengan tampang sok.
“B-bukan begitu!” Lantas Hana merasa bersalah, “Yoshiki-kun pasti lolos, masalahnya, dimana Yoshiki-kun diterima?” Hana tertunduk. Benar ia bahagia mendapat perguruan tinggi dan jurusan yang ia inginkan, tapi bagaimana dengan Yoshiki? Suaminya itu terlampau cerdas, bagaimana jika Yoshiki diterima di tempat yang berbeda dengannya? Memiliki pemikiran itu bisa membuatnya cemas.
Yoshiki tak bisa menyembunyikan senyumannya lagi. Bibirnya mengembang lebar.
Didorongnya tubuh Hana yang tadinya duduk di sampingnya hingga sekarang terbaring dengan dirinya berada di atas.
“Aku juga, lolos di perguruan tinggi dan prodi yang sama denganmu.”
Kedua mata Hana melebar bahagia, “Serius!?” Hana tak bisa menyembunyikan kebahagiannya juga.
Tak menjawab pertanyaan Hana, Yoshiki mendekatkan wajahnya lebih lagi pada wajah Hana. Bibir keduanya bertautan, mengecup, dan larut dalam kelembutan untuk beberapa saat.
.
.
“Jadi seperti ini ya… Kuliah itu…” Hana menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, seolah ia tengah menghirup udara perkuliahaan itu sendiri.
Yoshiki melangkah di samping Hana dengan santai. Keduanya baru saja menghadiri acara penerimaan mahasiswa baru.
“Kalau Yoshiki-kun pasti sudah hampir bosan sekali ya?” Yoshiki melirik Hana sebentar, “tidak. Kali ini berbeda.”
“Berbeda?” Hana menatap Yoshiki penuh tanda tanya.
“Karena kau ada di sampingku. Tentu saja semuanya akan berbeda,” jawab Yoshiki santai tanpa menyadari jika kalimat ringannya itu bisa membuat Hana yang wajahnya sudah memerah itu meledak.
“A-Ahh… B-Begitu! Hahaha!” Hana tertawa garing untuk mengusir detakan jantungnya yang semakin cepat, “kampus luar biasa ya. Luas sekali daripada SMA dulu. Mungkin aku akan sering-sering tersasar di sini.”
“Kau bisa mengajakku jika ingin pergi ke suatu tempat di kampus ini.”
“Eh? Ah, benar juga ya, akan lucu jika raja iblis yang mulia ini tersasar. Pengetahuan denah lokasi pun sepertinya sudah menjadi standart ya bagi Yoshiki-kun.”
“Hn? Apa itu? Aku pernah menempuh program Profesor di sini. Wajar bukan jika aku sudah mengenal tempat ini.”
“EEEEEHHHH!!??? PROGRAM PROFESOR DI SINI!?”
“Hn.”
“Uwaaagh… senpai yang sangan senpai… Kuroto-sensei dulu di bidang apa?” Ucap Hana setenga bercanda.
“Major in Aquatic Life Sciences, Mrs. Kuroto,” dengan santai Yoshiki seperti balik mengerjai Hana.
POOF. Wajah Hana kembali memerah. Cukup mudah rasanya untuk mengalahkan Hana.
“Ayo nanti malam ke karaoke!”
“Ayo ayo! Aku baru berkenalan dengan anak-anak departemen Farmasi! Akan kuajak nanti!”
Terlihat 5 orang mahasiswa mahasiswi tengah bercengkrama di sebuah halte bus.
Hana tersenyum melihat tingkah kelimanya, membuat Yoshiki tanpa sadar ikut memperhatikan kelima mahasiswa tersebut.
“Ada apa?”
“Umm, tidak! Aku senang. Di sini banyak mahasiswi cantik-cantik dan mahasiswa ikemen-ikemen, bahkan sepertinya tadi ada yang sekilas mirip Yoshiki-kun loh.”
“…..” Dalam diam Yoshiki menundukkan badannya menyamai tinggi Hana, kemudian menghalingi pandangan Hana dengan wajahnya yang begitu datar, dan berakhir dengan memberikan kecupan singkat pada bibir Hana.
“!!!!” Adegan yang tidak sampai tiga detik itu seperti mampu meledakkan diri Hana.
“Jangan melihat mahasiswa lain.”
“U-UWW—M-MAAF! H-HABISNYA INI PERTAMA KALIKU. JADI SEMUANYA AKU AMATI!” Jawab Hana gagap, “u-uh… Yoshiki-kun tetap yang tertampan diantara mereka semua kok. A-a-anu!!” Hana nampak tak bisa melanjutkan kalimatnya.
“Hn?”
“Y-Yoshiki-kun j-juga jangan melihat mahasiswi lain! M-Mereka-mereka sangat cantik-cantik daripada aku…” semakin lama suara Hana semakin hilang.
Yoshiki terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan senyuman tipis di bibirnya, “tidak akan.”
Diraihnya tangan Hana, sementara tangannya yang lain meraih sesuatu dari saku celananya. Itu cincin pernikahan keduanya. Cincin pernikahan milik Hana.
Dipasangkannya benda perak berkilau itu pada jari manis Hana, “sekarang tidak perlu khawatir oleh peraturan dilarang menggunakan perhiasan berlebihan, kau bisa mengenakan cincin pernikahan kita tanpa perlu melepasnya sekarang.”
Semburat merah kembali muncul di wajah Hana begitu ditatapnya cincin pernikahannya telah membalut pangkal jari manisnya.
“Agar setiap orang di sini tau jika kau milikku.”
.
.
Minggu pertama perkuliahan bagi Hana terasa begitu menyenangkan. Ia mendapat beberapa teman baru, suaminya pun bisa dibilang cukup manusiawi dalam pergaulanannya.
Seperti biasa kabar keduanya adalah pasangan dengan cepat merebak di sekitar area departemen. Siapa juga yang akan tahan tidak menggosip jika ada seorang mahasiswa luar biasa tampan dan sempurna berpacaran dengan mahasiswi abnormal?
Sejujurnya semuanya terasa berat bagi Hana jika harus berhadapan dengan tatapan dan mulut tajam para perempuan di kampusnya. Lawannya bukan lagi bocah-bocah SMA yang masih labil.
“Umm…. Hana?”
Hana yang kala itu sibuk dengan ponselnya menolehkan kepalanya ke belakang begitu mendengar namanya terpanggil.
“Ah iya, ada apa?”
“Eh, kupanggil Hana saja ya boleh? Habisnya kalau Kuroto seperti memanggil Kuroto-kun.”
Hana tersenyum manis menimpali ucapan teman yang duduk di belakangnya, “boleh saja kok. Ada apa?”
Teman di belakangnya itu tersenyum ragu sebelum akhirnya menguatarakan pikirannya, “anu, apa benar Hana-san dan Kuroto-kun itu bertunangan?”
Ah. Pertanyaan ini rupanya.
“Umm!” Hana menangguk dengan masih mempertahankan senyumannya, “kami bertunangan.”
Yoshiki sepertinya baru saja pergi keluar kelas entah untuk melakukan urusan apa, padahal saat ini rasanya Hana sangan ingin menggenggam erat lengan suaminya itu.
“Begitu ya….”
“Kalau boleh tau, kenapa menanyakan ini? Apa ada masalah karena hubunganku dan Yoshiki-kun?”
“Masalah?” Teman sekelasnya itu memiringkan kepalanya, “tentu saja ada. Kenapa perempuan biasa-biasa saja sepertimu bisa jadi tunangan Kuroto-kun? Jelas saja aku lebih berkualitas daripadamu.”
Hana tertohok bukan main. Perempuan yang bahkan tak Hana kenal namanya itu dengan gamblang dan santai mengungkapkan kalimatnya begitu saja tanpa memperdulikan perasaan Hana setelah mendengarnya.
Hana mengigit bibir bawahnya kecil. Hatinya sakit. Pikirannya kembali kalut.
“Ada apa? Kau mau aku duduk di sisi kanan atau di sisi kiri?”
Tanpa disadari Hana telah melamun cukup lama hingga kedatangan Yoshiki dan dosen saja Hana tak menyadarinya.
“Oh, sudah kembali. Yoshiki-kun di sini saja ya,” Hana menepuk-nepuk kursi kosong di samping kanannya. Ia tak bisa membiarkan Yoshiki duduk di depan temannya yang jelas-jelas seperti memberikan pandangan perlawanan terhadap hubungannya.
“Hn? Bukankah kau tadi meletakkan tasku di tempat yang kau duduki sekarang?”
“Yaaah, itu tadi. Sekaranga aku berubah pikiran, hehe,” Hana tertawa garing.
“…. Hn…” Yoshiki meletakan pantatnya dengan agak ragu, ia masih mempertanyakan kepindahan tempat duduknya yang tiba-tiba tanpa alasan.
“Omong-omong… Yoshiki-kun darimana tadi?” Tanpa memperdulikan dosen yang sudah mulai memberikan kuliah, Hana tetap kembali memulai pembicaraan.
“Bertemu dengan seorang kenalan di departemen Pendidikan Sains.”
“Kenalan?”
“Hn. Kau ingin tau? Kita bisa ke tempatnya lagi setelah kelas berakhir.”
“Oh, umm… boleh.”
Perkuliahan baru dimulai 1 minggu dan Yoshiki sudah memiliki kenalan. Hal yang baru bagi Hana.
.
Hana hanya bisa mengekor pada Yoshiki. Pria itu terus berjalan tanpa ragu menuju departemen yang cukup asing bagi Hana. Departemen Pendidikan Sains. Terlebih keduanya memasuki ruang dosen begitu saja.
Yoshiki mengetuk sebuah ruangan yang di depannya bertuliskan Prof. Dr. Shimomiya Akihiko.
Terdengar sahutan izin masuk dari dalam. Suaranya terdengar berat dan serak. Benar saja, begitu Yoshiki membuka pintu nampaklah seorang pria berusia sekitar enam puluh tahunan duduk di mejanya dengan wajah yang awalnya kesal berubah menjadi sumringah.
“Kuroto-sama!” Sambut pria itu—dosen itu.
‘Uwaw, waw sekali,’ Hana tak bisa berhenti mengerjapkan matanya takjub. Seorang professor memanggil suaminya dengan hormat.