Jumat, 26 Juni 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [chapter 46]

CHAPTER 46: LEFT THE UNBEATEN CREATURE

“Lihat, siapa yang kemarin telah melewati batas?” Ucapan Yoshiki begitu dingin. Pria itu menatapnya dengan pandangan tanpa cahaya sama sekali. Onyx gelapnya yang sejak awal jarang bercahaya akhir-akhir ini itu terlihat semakin pekat saat itu.
“Lucifer!” Teriak Keigo setengah menahan amarahnya.
“Kau diam di tempatmu atau seluruh tubuhmu kuhancurkan dari dalam sekarang!” Perintah Yoshiki cepat. Tanpa sadar kedua bola matanya yang memincing emosi pada Keigo berubah menjadi Azure.
Hana juga tidaklah bodoh. Yoshiki benar-benar dalam keadaan termarahnya sekarang. Aura gila yang Yoshiki pancarkan tanpa sadar sepertinya mampu membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. Hana tahu jika yang ada di hadapannya sudah lebih dari sekedar monster.
Entah ajaib atau memang karena charisma atau sesuatu dari diri Yoshiki, begitu pandangannya bertatapan dengan azure sang Lucifer tubuhnya benar-benar tidak bisa ia control untuk bergerak. Seolah semua implus yang dikirimkan dari otaknya tidak pernah sampai pada semua organ penggeraknya. Kaki tangannya bagai beku tak beraliran darah.
“A-apa maksud semua ini Yoshiki-kun?” Hana berusaha mati-matian menahan rasa takut yang seperti hampir mencekik lehernya.
“Haha…” Pria di hadapannya itu melayangkan tawa dingin yang benar-benar bisa mencubit seluruh permukaan kulitnya, “DI SINI AKU YANG BERTANYA MY LADY! KAU… KAU TELAH MELEWATI BATAS DENGAN SI SIALAN ITU!”
Hana tak mampu memberikan respon apapun selain memejamkan kedua matanya ketika Yoshiki meluapkan segala kemarahannya.
Kepalan pada tangan-tangan Yoshiki seolah semakin mengerat seraya buku-buku jarinya memutih, “kau milikku My Lady! Tidak ada pria lain yang boleh menyentuhmu selain aku! Kau milikku! Hanya milikku!”
Lagi-lagi tidak ada respon sama sekali dari mulut Hana yang ternganga tak tau akan berkata apa.
Tidak bisa menahan dirinya lebih lagi, diciumnya bibir tanpa perlindungan Hana. Sebuah ciuman yang menuntut dan memaksa ia lancarkan tanpa memperdulikan penolakan dari Hana. Ia tak peduli ketika tangan Hana berusaha mendorongnya menjauh.
Bersyukur oleh kebodohan Hana yang masih tidak bisa hidup tanpa asupan oksigen. Begitu merasa Hana hamper mati karena kehabisa nafas barulah Yoshiki melepaskan ciumannya.
“Yoshiki-kun kenapa sebenarnya!?” Kali ini Hana tak mau kalah marah.
“That fucking shit had kiss your goddamn forehead! Told you, you are mine!”
Tidak. Tunggu. Bukan saatnya kagum dengan aksen British yang digunakan Yoshiki ketika meluapkan kemarahannya dengan Bahasa inggris.
“Memangnya kenapa kalau Keigo-kun mencium keningku!?” Oh mungkin ini akan menjadi kali pertama Hana memprotes Yoshiki sedemikian intensnya?
“Ck!” Decakkan keras itu jelas terdengar pada telinga Hana.
“Lagipula Yoshiki-kun ini kenapa selalu mengetahui segalanya! Mengerikan! Menjijikkan! Berhenti menjadi stalker ku!”
“Haha….” Yoshiki menggunakan tangannya untuk mentupi wajahnya yang tengah sibuk tertawa, “My Lady, apa salahnya seorang suami ingin mengetahui segalanya tentang istrinya?” Tangannya sekarang berpindah mengusap pipi tan Hana, “lagipula…” suaranya terdengar menjadi lebih dingin dan datar.
“BERHENTI LUCIFER!!” Sebuah teriakan interupsi dari Keigo Yasumoto yang berusaha keras mengendalikan tubuhnya kembali.
“Hn… kau berisik sekali Keigo Yasumoto. Apakah sebaiknya kubuat mulutmu tak bisa digunakan selamanya?” Fokus Yoshiki beralih kepada sosok dosen muda yang masih kesusahan mengontol tubuhnya, “benar juga, bukankah dengan mulut itu kau seenaknya menyentuh milikku, eh?”
Tangan Yoshiki terjulur. Di ujung telapak tangan itu terkumpul sebuah aura pekat yang entah memiliki efek ap ajika mengenai suatu materi.
BRUGH
Pergerakkan Yoshiki terhenti begitu sesuatu memeluknya dari belakang. Itu Hana. Perempuan itu memeluknya dengan gemetaran.
“Jangan Yoshiki-kun. Kumohon. Jangan.” Bahkan nada bicara perempuan itu gemetaran.
Hana takut kepadanya?
“Aku akan lakukan apapun untuk Yoshiki-kun! Tapi jangan sakiti Keigo-kun!”
Oh sekarang terlihat dirinya adalah monster jahat yang berusaha merebut sang putri dari pangeran.
Namun detik berikutnya Hana menyesal dengan hal ceroboh yang ia ucapkan.
“Kalau begitu kembalilah padaku.”
Hana bisa melihat jelas ekspresi pria itu. Yoshiki hanya meliriknya dari arah samping namun entah mengapa ia bisa melihat jelas kesedihan dan keputusasaan dari sang pria.
“… Tidak… kalau itu…” Bagai menjilat kembali ludahnya Hana menundukkan kepalanya malu.
Yoshiki memejamkan kedua matanya sejenak. Entah menenangkan emosinya atau sekedar memikirkan solusi dari permasalahannya.
“Aku akan menjemputmu sore ini pukul 6 tepat. Hanya itu tawaran dariku. Kau menolak maka akan kupastikan mulut si sialan ini tidak bisa ia gunakan untuk mengunyah makanan esok pagi,” dengan begitu Yoshiki menghilang begitu saja tanpa menunggu persetujuan dari Hana.
“Ugh… dasar iblis gila.”
“Keigo-kun tidak apa-apa?” Tanya Hana.
“Tidak. Hanya saja tadi tubuhku benar-benar seperti mati rasa. Padahal seharusnya kekuatannya tidak akan semudah itu digunakan mengingat kamu ada di dekatnya. Dia lemah kepadamu kamu tau,” Keigo memegangi salah satu lututnya yang entah mengapa tadi benar-benar kaku dan susah sekali digerakkan.
“Itu namanya karisma dasar manusia bodoh,” sebuah suara yang sangat familiar bagi Hana menginterupsi keduanya.
“Tomuro Arashi-kun!” Oh hampir saja Hana menerjang pria berambut merah itu serampangan, untung saja implus penahan dirinya kali ini bekerja dengan baik.
“Karisma? Dan lagi… siapa kamu?”
“Tidak heran kamu hanya exorcist underated,” Tomuro menghelakan nafasnya.
Tentu saja Keigo akan kesal. Tujuan Tomuro memanglah seperti itu. Sayangnya kekesalan Keigo tidak akan membuatnya serta merta melemparkan tas kerjanya begitu saja.
“Aku Tomuro Arashi. Wakil langsung My Lord,” ingin sekali Tomuro memberikan efek-efek api pada auranya ketika ia memperkenalkan diri. Sayangnya ia harus menahan diri mengingat ini adalah lingkungan publik.


Hana bisa melihat jelas ekspresi kesal dan kecewa Tomuro yang mirip anak kecil karena harus menahan diri.
“Iblis lain!?” Keigo reflex melompat ke samping Hana untuk melindungi perempuan itu dengan posisi kuda-kuda yang lucu.
“Kamu mau melindungi My Lady dengan kekonyolanmu itu? Asal kau tahu aku bisa menghancurkanmu kapan saja bila begitu. Jangan sombong hanya karena kamu berhasil selamat dari My Lord beberapa kali. Itu semua tidak lebih karena adanya My Lady yang tidak ingin kamu celaka.”
Tidak ada respon dari Keigo. Ia hanya berusaha menahan dirinya agar tak tersulut oleh sang iblis. Lagipula ia sedikit banyak menyadari jika dirinya pun menyetujui kalimat Tomuro.
“My Lady…. Berhentilah bertindak bodoh. Kali ini tidakan anda benar-benar lucu. Meninggalkan My Lord hanya untuk Bersama teman lucu anda ini? Yang benar saja,” Tomuro menatap Keigo tidak percaya.
“Terserah aku mau bersama siapapun. Lagipula aku sama sekali tidak ingin kembali pada pria yang menyimpan banyak rahasia dariku! Dia selalu seperti itu! Melakukan segalanya sesukanya! Tapi hanya sebagian kecil saja hal yang kutahu! Hubungan suami istri macam apa itu?”
Tomuro menghelakan nafasnya berat, “padahal jauh di lubuk hatimu kamu berteriak bahagia karena bisa lepas dari kedua orang tuamu yang bahkan tindakannya jauh melebihi iblis. Dasar munafik.”
Hana tersentak mendengar ucapan Tomuro. Ia tak bisa menyangkal kebenaran yang diucapkan Tomuro sama sekali.
“Omong-omong saya di sini hanya ingin mengatakan kepada anda sebaiknya anda datang pada acara nanti malam. Saat bulan purnama super moon yang hanya terjadi beberapa puluh tahun sekali.”
“Sebenarnya acara apa itu? Tidak mungkin aku menyerahkan Hana begitu saja kepada kalian para iblis!” Keigo yang sedari tadi seolah menjadi pemeran sampingan berusaha masuk ke dalam alur pembicaraan.
Tomuro hanya melirik dingin pada Keigo, seolah benar-benar merendahkan keberadaan Keigo, “acara apapun itu, My Lord tidak akan membiarkan My Lady terluka atau sejenisnya.”
“Bagimana aku bisa percaya itu?” Keigo mendesis tidak terima.
“My Lady apakah pernah My Lord membuatmu celaka?” Tomuro tanpa banyak basa-basi langsung menembak Hana, “kejadian di tebing ketika anda camp, kejadian di kolam renang, terlebih ketika serangan exorcist, pernahkah My Lord membiarkan anda celaka?”
“….” Hana terdiam tak merespon. Semua kejadian demi kejadian yang disebutkan oleh Tomuro berkelabatan cepat di dalam kepalanya.
Semuanya.
Bagaimana suaminya itu benar-benar sangat menjaga dan melindunginya. Ekspresi kekhawatiran dan ketakutan pria itu selalu Nampak ketika berusaha melindunginya. Bahkan Hana sangat tau jika pria itu benar-benar tulus ingin menyelamatkannya dari segala kejadian sial yang menimpanya.
“Anda sudah tau apa jawabannya My Lady, dan aku yakin jika yang menjadi suamimu adalah exorcist lucu ini kamu pasti sudah lama meninggalkan dunia ini,” ucap Tomuro setengah meledek.
“Tapi hidupnya juga tidak akan dalam bahaya jika tidak berhubungan dengan Lucifer itu!” Keigo yang mungkin tidak terima oleh ledekan terus menerus Tomuro akhirnya angkat bicara kembali.
“Dasar bodoh, Dia sudah menyegel setengah kekuatan My Lord dalam tubuhnya. Asal kau tau ada banyak iblis keroco yang bahkan berusaha menyerangnya untuk mengambil alih kekuatan My Lord. Tanpa berhubungan dengan My Lord pun sebenarnya hidupnya selalu berada di perbatasan hidup dan mati.”
“Ugh…” Keigo hanya bisa berguman kesal tak mampu menjawab lagi.
Mulut Hana tak mengeluarkan jawaban apapun. Hingga iblis berambut merah itu melompat pergipun Hana sama sekali tidak mengeluarkan klarifikasi terkait.

.

Setengah hari Hana habiskan hanya untuk memikirkan pukul 6 sore ini Yoshiki akan menjemputnya.
Acara apakah gerangan itu?
Walaupun wangi hamburger menguar di seluruh dapur dan tempat makan, nyatanya perut Hana sama sekali tak terangsang untuk merasa lapar sama sekali. Rasanya ia seperti ingin menertawakan dirinya saat ini.
“Cepat selesaikan makannya.”
Hana hanya bisa menatap Keigo tidak mengerti. Jam masih menunjukkan pukul 4 sore. Bukankah ini terlalu sore untuk disebut makan malam?
“Sekarang baru pukul 4 sore loh Keigo-kun,” ucap Hana ragu.
“Iya, sebaiknya cepat. Pesawat kita pukul 5.30 sore. Selamat makan,” Keigo mempertemukan kedua tangannya sebelum melahap habis hidangan yang telah ia buat sejak setengah jam yang lalu.
“Pesawat!?” Sekarang Hana yang tidak akan bisa menikmati hidangan sebelum pertanyaan terbesarnya terjawab.
“Maaf saja Hana. Aku tidak akan membiarkan iblis itu kembali mengambilmu. Oleh sebab itu, kita akan kabur ke Meksiko.”
“T-Tunggu Keigo-kun! Y-Yoshiki-kun hanya mengajakku mengikuti suatu acara mala mini. Setelah itu aku akan kembali. Dan lagi kenapa Meksiko!?”
“Tidak ada jaminan iblis itu akan memulangkanmu! Dia licik Hana! Bisa-bisa semua ini adalah jebakan! Kenapa Meksiko… aku pernah cerita pernah dipindahkan ke tempat yang jauh kan? Itu sampai ke Meksiko. Aku punya rumah di Meksiko. Sementara kita akan mengasingkan diri.”
“Tapi….” Hana menatap hamburger yang seharusnya terlihat nikmat itu dengan tatapan enggan, bahkan ia hanya memainkan sendok garpunya di udara sekarang.
“Aku tahu. Kepindahan kita ke Meksiko tidak akan menghalangi iblis itu untuk terus mengejarmu. Tapi setidaknya akan mengulur waktu untuknya. Sisanya aku akan berusaha melobby exorcist untuk segera mengatur rencana.”
Hana bisa melihat tatapan kesungguhan dari kedua bola mata gelap pria itu. Ia ingin mengelak namun tatapan itu seolah memberi harapan untuknya.
Tunggu. Harapan?
Apakah ini berarti ia juga berharap untuk bisa lepas dari Yoshiki?
Dari Kuroto Yoshiki yang selama ini segala perbuatannya berhasil mencuri tidak hanya cintanya namun juga seluruh hidupnya?

.

Oleh sebab itu Hana telah berdiri di depan pintu masuk gerbang penerbangan menanti Keigo yang sedang mengurus administrasinya. Tudung jaket, topi, kacamata hitam, dan masker benar-benar membuatnya seperti sosok mencurigakan. Walau bersikeras untuk tampil senormal saja namun sayangnya Keigo benar-benar keras kepala kali ini.
“Maaf menunggu lama, ayo pesawat kita di gate sana. Keberangkatan kita sepertinya sedikit tertunda akibat badai di Meksiko. Tapi semoga tidak sampai lama.”
Hana hanya bisa mengangguk-angguk. Lagipula ini kali pertama ia pergi ke negara yang nun jauh di sana. Terakhir ia pergi ke luar negeri hanya ke Korea mengunjungi kerabat jauh ayahnya. Itupun sudah hampi 5 tahun lalu. “Omong-omong memangnya bagaimana pekerjaan Keigo-kun?” Kalimat itu tercetus begitu saja dari mulutnya.
“Aku sudah menghubungi bagian Tata Usaha untuk mengundurkan diri.”
Jawaban itu lantas membuat Hana terkejut setengah mati, “mengundurkan diri? Tunggu!”
“Aku bisa mencari pekerjaan lain di Meksiko kok. Jadi Hana tenang saja ya!” Keigo mengusap rambut Hana berusaha menenangkan perempuan itu.
“B-Bukan begitu… bagaimana dengan mahasiswa bimbingan Keigo-kun? Bukankah Keigo-kun juga merupakan dosen bimbingan paling terfavorit…?”
“Aku sudah menghubungi mereka untuk kuarahkan pada dosen pengganti, dan dosen yang menggantikanku juga tidak keberatan. Jadi tidak ada masalah kan? OK?”
“T-Tapi tetap saja!”
Hana tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Semua ini membuatnya semakin merasa bersalah saja. Ia tidak hanya mengacaukan kehidupan damai Keigo. Tetapi juga manusia-manusia di sekitar Keigo.

.

Yoshiki menarik lengan jasnya untuk melihat jelas waktu yang ditunjukkan oleh jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul enam lebih dua puluh dan tidak ada pertanda keberadaan Hana akan muncul dari balik apartemen sederhana Keigo.
“….!”
Pikiran buruk mulai menghantuinya seiring berjalannya detikan waktu.
Ia sengaja menghentikan orang-orang yang biasa ia suruh untuk mengamati Hana untuk kejutan dirinya sendiri begitu menjemput Hana. Niatnya supaya rasa rindu di dalam dirinya bisa terbayar.
Tanpa menunggu lebih lama lagi ia berlari memasuki apartemen. Kakinya melangkah cepat menuju kamar apartemen milik Keigo. Dan tentu saja setelah gedoran beberapa kali pada pintu tidak akan ada siapapun yang membukakan pintu. Bahkan setelah ia berhasil membobol masuk ke dalam apartemen itu, yang ia dapatkan hanya tempat kosong tak berpenghuni.
Niatnya menambung rindu untuk bisa melepaskannya tak bisa terbayar. Siapa sangkah keputusannya itu membuatnya tertipu mentah-mentah seperti ini?
Tak habis pikir ia menghubungi segala sumber informasinya untuk melacak keberadaan perempuan berambut pendek itu. Dan untungnya belum habis lima menit pertama ia sudah mendapat informasi positif mengenai keberadaan istrinya. Jangan pernah sekalipun meremehkan jaringan informasi para iblis di dunia modern seperti ini.
“My Lord, My Lady dan Keigo Yasumoto memesan tiket pesawat menuju Meksiko dengan penerbangan malam ini dengan delay sampai pukul 7 malam.”
Yoshiki mematikan panggilan telepon dan menggenggam ponsel pintar itu seolah mampu meremukkannya.
“Mencoba kabur dariku, eh My Lady?”
Read More ->>

Jumat, 05 Juni 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 45]

CHAPTER 45: HOW IS OUR BLOOD BOND’S WORK

“Anda mengenal mahasiswi ini, Yasumoto-sensei?” Sang petugas Nampak kebingungan namun tak berniat mencegah tindakan gegabah Keigo sama sekali.
“Tentu saja! Dia anak didikku!” Jawab Yasumoto tegas.
“Benar, dia dari departemen yang sama dengan anda,” sang petugas mengamati kartu mahasiswa Hana.
“Yang jelas pak, ini pasti hanya sebuah kecelakaan! Atau jika tidak pasti salah satu mahasiswa itu yang membuat masalah dengan Hana!” Keigo hampir-hampir menggebrak meja.
“Tenang Yasumoto-sensei!” petugas berusia sekitar setengah abad itu Nampak kerepotan dengan sikap Keigo.
“Mana mahasiswi lain yang katanya bertengkar dengan Hana?”
“Mereka sedang menemani teman mereka yang tak sadarkan diri ke rumah sakit sensei.”
Selama Keigo dan sang petugas terus berdebat, Hana hanya bisa menundukkan kepalanya. Menyesali perbuatan yang telah ia perbuat. Menyesali betapa ia tak bisa menahan emosinya yang kacau balau.
Telinganya berdengung tak menentu. Detak jantungnya tak menurun sama sekali intensitas debarannya.
Sekarang seolah Hana mampu melihat bayangan dari dirinya tersenyum menyeringai lebar dalam kegelapan. Sosok lain yang seperti bersembunyi di dalam dasar diri Hana. Sosok yang dilahirkan dari kehidupannya yang tidak sekalipun mengecap kasih sayang.
‘Bagaimana rasanya membunuh musuhmu?’ Tanya sosok itu tanpa mengurangi seringainya.
Hana seolah ingin menertawakan dirinya sekarang. Lihat bukan? Kepalanya benar-benar telah mengacaukannya sampai-sampai ia melihat bayangan lain dari dirinya. Sepertinya ia sedang mengidap sejenis schizophrenia sekarang.
‘Kenapa setakut itu? Bukankah kamu dulu juga pernah? Membunuh pria yang hampir memperkosamu? Namun kamu bisa melupakan semuanya secepat itu. Kenapa? Apa karena alasannya Yoshiki-kun? Dengan adanya Yoshiki-kun kau bebas melakukan kejahatan semamumu, bebas meluapkan emosimu, namun sekarang, kau bersama si lemah Keigo. Keigo Yasumoto tidak akan pernah bisa memuaskan emosimu. Kau menyesal?’
Hana hanya bisa diam memperhatikan sekujur tubuhnya bergetar.
‘Ooooh kamu takut pada dirimu sekarang? Takut jika dirimu telah tertelan kegelapan dan menjadi iblis?’ Bayangannya itu seolah semakin menampilkan seringai terlebarnya.
‘Kasihan sekali dirimu Hana. Seorang yang terlihat ramah dan selalu tersenyum di luar namun benar-benar busuk di dalam. Lihatlah luka lamamu yang semakin lama semakin busuk itu. Kamu tidak akan bisa kabur dari masa lalumu. Karena memang seperti itulah kamu dibentuk. Pribadi yang keras kepada dirinya sendiri hanya karena demi menghindari permasalah yang akan timbul. Menyedihkan.’
‘Padahal kamu sudah punya Yoshiki-kun yang mampu mengimbangimu? Tapi kamu malah melepas kesempatan itu dan berusaha menjalin hubungan dengan manusia normal sekelas Keigo. Memangnya manusia busuk sepertimu pantas disejajarkan dengan Keigo yang begitu bersih?’
Suara bukaan pintu yang terdengar kasar sempat menyadarkan Hana dari lamunannya. Itu beberapa gerombolan mahasiswi yang menghancurkan harinya hari ini.
“Teman saya sampai pingsan pak! Dia ini kriminal! Penjarakan saja bila perlu!” Teriak mereka semakin merunyamkan masalah. Beberapa petugas keamanan lain bermunculan berusaha menenangkan.
“Tenang saudara-saudara. Tolong dijelaskan semuanya perlahan,” sang petugas berusaha menengahi.
“Jalang ini menendang temanku sampai kepalanya membentur dinding!”
“Jaga cara bicaramu! Kamu mahasiswi bukan?” Keigo jelas tidak akan terima jika Hana diteriaki sekasar itu.
“Hah? Anda ini siapa?”
“Aku dosen departemen kimia. Sebaiknya kamu gunakan Bahasa yang lebih baik. Malulah kepada dirimu!”
Suasana semakin menegang, “huh, bahkan sekarang sampai dosen membela jalang ini! Sebenarnya apa yang istimewa darinya?”
“Memangnya apa yang istimewa darimu? Hanya cecenguk yang bisa mengumpat diam-diam? Kau pikir dirimu cantik? Tapi Yoshiki-kun bahkan tidak melirik sedikitpun ke arahmu,” suara Hana tiba-tiba muncul di tengah-tengah perpecahan.
“APA!?” Sergah mereka tidak terima.
“Kalian berani menamparku bukankah itu berarti kalian sudah menyiapkan segala kemungkinan terburuk akibat hal itu. Temanmu hanya pingsan, belum mati.”
“Jalang ini!”
“Kalian berani berkata buruk di belakangku, tapi tidak di depanku. Pengecut tetaplah pengecut.”
“Sudah cukup Hana!” Kali ini suara emosi Keigo yang memuncak. “Aku ingin kamu minta maaf pada mereka supaya masalah ini selesai sekarang!”
“Tidak segampang itu sensei! Teman kami tidak sadarkan diri di rumah sakit sekarang!”
“Ah maaf, barusan rumah sakit mengabari jika teman anda sudah siuman. Penyebabnya hanya shock ringan saja. Tidak ada masalah apapun pada kepalanya.”
“Aku minta maaf mengenai temanmu. Tapi tetap saja kalian yang terlebih dahulu yang membuat masalah,” sembari membungkukkan badannya Sembilan puluh derajat Hana meninggalkan ruangan kemanan kampus tanpa memperdulikan Keigo yang menatapnya kecewa.
Baru beberapa saat Hana melangkah meninggalkan ruangan kemanan kampus, sudah saja ia bertemu dengan sosok yang membuat seluruh harinya hancur hari ini. Kuroto Yoshiki. Pria itu berdiri bersandar pada tembok dengan santainya meminum cola kaleng dari mesin penjual minuman di dektatnya.
Hana memincingkan matanya kesal. Pria itu hanya menatapnya dengan tatapan datarnya seperti tidak terjadi apapun.
“Kenapa membuat banyak kesalah pahaman? Kita sudah berakhir Yoshiki-kun! Kalau Yoshiki-kun masih mengenakan cincin itu semua orang akan terus menerorku! Apalagi semua perempuan yang mengagumi Yoshiki-kun!”
Cukup lama Hana menanti jawaban dari Yoshiki. Pria itu masih meneguk colanya. Seolah ia sedang ingin menggoda perempuan malang itu.
“Siapa yang mengatakan kita berakhir My Lady?”
“Aku yakin Yoshiki-kun tidak tuli. Bukankah aku yang telah mengatakannya? Kita sudah berakhir.”
Yoshiki terkekeh ringan. Kekehan yang cukup terdengar pelan itu seketika mengeras tanpa Hana ketahui mengapa. Seolah seluruh tempat menggema oleh tawa Yoshiki.
“Perjanjian darah kita adalah abadi My Lady. Sebuah ikatan yang lebih kuat daripada ikatan pernikahan manusia. Dan lagi, memangnya kau bisa hidup tenang tanpaku, My Lady?” Sebuah seringaian mengisi wajah tampan nan tak bercela Yoshiki.
DEG
Jantung Hana seperti sekuat tenaga memompa seluruh pasokan oksigen yang dimilikinya ke seluruh tubuh demi menjaga keseimbangan tubuhnya.
Bagian tergelap dalam dirinya seolah bersorak kemenangan saat ini.
Tangan-tangan perempuan berambut pendek itu bergetar dan mengepal bergantian.
Seluruh tubuhnya seolah menahan implus untuk tidak berlari menerjang dan memeluk pria itu. Meluapkan segala kesedihannya dan membiarkan dirinya terlelap dalam dekapan sang pria.
Tapi tidak bisa. Ia sudah memutuskan untuk mengambil jalan untuk memutus hubungannya dengan sang pria.
“Kenapa berusaha sekeras itu?” Sebuah kalimat sindiran terdengar, “My Lady… aku mengingatkanmu kembali. Kau bukanlah manusia biasa saat ini. Di dalam dirimu mengalir darahku.”
Hana ingin menutup kedua telinganya saat ini. Namun ia hanya bisa menundukkan kepalanya yang bergetar.
TEP
Sebuah tangan besar datang seolah menjawab permintaannya. Kedua tangan lembut itu menutupi kedua telinganya.
“Jangan dengarkan apa yang dikatakan iblis itu, Hana.”
“…. Ck.” Yoshiki reflex mendecak kesal begitu Keigo Yasumoto menampakkan batang hidungnya.
“Kami akan menemukan cara supaya Hana tidak lagi menjadi seperti kalian,” Pria berusia dua puluhan tahun itu berusaha melawan kalimat Yoshiki.
“Cara?” Namun Yoshiki tak akan mau kalah, ia tertawa merendahkan, “apa yang bisa dilakukan Exorcist yang sedang dalam tahap kehancuran?”
“Hancur…?” Namun sayangnya Keigo tak memahami apa maksud ucapan Yoshiki.
“Hn. Tentu saja kau tidak tau. Exorcist berlevel rendah tidak akan mendapat informasi seperti ini. Kuberitahu saja, kalian sudah berada di ambang kehancuran dan berusaha keras untuk memulihkan diri sekarang. Perang terakhir sudah menguras hamper setengah pasukan terbaik kalian. Beberapa titik penting baik markas maupun pusat penelitian telah kami libas habis. Kalian sekarang hanya bisa berharap jika Vatikan mampu mensupport materil maupun non materil.”
“A-apa…?”
“My Lady,” kali ini pandangan Yoshiki berpindah pada Hana, sebuah pandangan yang diberikan dari seorang pemimpin absolut segalanya, “tidak ada gunanya berada di samping pria lemah yang tidak mampu melindungimu, sebaiknya kau selesaikan bermain-mainmu ini, karena jika kau ingin membuatku cemburu, kau sudah melakukannya dengan baik.”
Hana tercengang oleh kalimat datar Yoshiki. Pria itu selalu mengucapkan kalimat-kalimat yang di luar nalarnya. Hana benar-benar tidak akan menyangka akan mendengarkan pengakuan kecemburuan Yoshiki bisa segamblang ini. Dan itu cukup membuat perasaannya goyah.
“Aku akan melindunginya! Dan aku bisa melindunginya!” Keigo tentu saja tidak akan pernah mau kalah.
Yoshiki hanya memberikan sebuah senyum mengejek sebelum akhirnya menghilang dari keduanya.

.

TEP
Sebuah coklat panas di dalam mug yang cukup penuh tersaji di depan Hana. Keigo Yasumoto sang pembuat coklat panas melepaskan celemeknya sebelum akhirnya duduk di depan Hana.
“Hujan badai lagi ya? Padahal seharusnya ramalan cuacanya cerah,” entah bermaksud meringankan suasana atau sekedar berbasa-basi Keigo membuka pembicaraan.
“Jangan-jangan ini perbuatan Yoshiki-kun lagi,” Hana menimpali setengah bercanda.
Keigo nampak menimbang-nimbang sesuatu sebelum akhirnya menjawab, “kalaupun memang ulahnya, iblis satu itu labil sekali. Tidak kusangka Lucifer akan seperti itu.”
Hana terkekeh pelan. Dirangkulkan permukaan tangannya pada mug yang masih mengalirkan panas itu. Memutar-mutar mugnya supaya tangannya bisa merasakan hangat yang merata.
“Memangnya Keigo-kun tidak takut?”
Sejenak Keigo terdiam. Entah memikirkan jawaban dari pertanyaan Hana atau sekedar tertelan oleh dirinya sendiri.
“…. Sejujurnya, setelah aku melaporkan pada markas cabang mengenai keberadaanmu sudah bersamaku…” kembali Keigo mengambil jeda, “mereka nampak murung, dan hanya berkata akan menyampaikan hal ini pada markas pusat. Aku tidak mengerti. Harusnya mereka lebih bersemangat karena kunci telah berada di jangkauan, tapi mereka sampai sekarang tidak melakukan apapaun. Ternyata perang kemarin benar-benar mampu melumpuhkan seluruh aspek exorcist.”
“Kunci? Ternyata Keigo-kun juga menganggapku sebagai alat ya? Astaga… sebenarnya apa gunanya aku hidup kalua hanya diperlakukan sebagai alat seperti ini,” guman Hana dengan diselangi tawa kecutnya. 
“Tidak, bukan begitu,” merasa bersalah dengan pemilihan kalimatnya yang salah Keigo menginterupsi kalimat Hana.
“Hahaha… tidak apa-apa kok Keigo-kun. Aku setengah sarkas saja kok tadi,” Respon Hana terkekeh.
Keheningan cukup lama tercipta. Suara gaduh angin yang menerpa dinding-dinding kokoh dan kaca apartemenlah yang mengisi keheningan itu. Keduanya tenggelam dalam pemikiran masing-masing.
“Hei, Keigo-kun….” Walaupun kembali membuka pembicaraan namun kepala Hana tidak mendongkan sama sekali. Kedua pandangannya sibuk mengamati pantulan dirinya yang tercetak pada coklat gelap yang masih mengeluarkan uap panas.
“Keigo-kun…. Tidak takut denganku?”
“Eh?” Keigo membutuhkan waktu beberapa detik untuk mencerna pertanyaan Hana, bahkan otak cerdasnya tidak mampu ia gunakan untuk menjawab pertanyaan sesederhana itu.
“Keigo-kun tau kan? Aku sudah melakukan perjanjian darah dengan Yoshiki-kun. Aku bukan manusia lagi, dan mungkin tidak akan bisa hidup seperti manusia,” Hana bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Keigo yang masih mematung di kursinya, “Aku bisa saja menjadi salah satu penghancur kehidupan Keigo-kun , lagipula,” Tanpa ada persiapan Hana menduduki meja dan medekatkan wajahnya pada wajah Keigo begitu intens, “kenapa Keigo-kun mau menyelamatkanku?”
Kedua bola mata Keigo bergetar.
Hana hanya bisa melirik sayu kedua bola mata itu. Ia sepenuhnya mengerti. Keigo teman masa kecilnya ini hanya manusia biasa pada umunya. Ia hanya tak ingin menyakiti siapapun dan terlibat dengan siapapun saat ini. Kalaupun ia hancur, biarlah dirinya sendiri yang hancur. Tidak dengan orang lain. Tidak dengan Keigo.
Ia tidak sebodoh itu menyetujui proposal Keigo yang berkata ‘aku akan menyelamatkanmu dengan ini itu!’ Kenyataannya Keigo hanyalah Exorcist underated. Jangankan melawan Yoshiki yang bisa dibilang last boss, melawan iblis keroco pun Hana akan ragu.
“Karena aku menyayangimu Hana. Sejak dulu, setiap saat aku melihatmu aku selalu ingin melindungimu…” Walaupun berujar seperti itu, Keigo sedikit menundukkan kepalanya tidak berani menatap kedua mata Hana.
“Aku ini kotor Keigo-kun. Aku membenci diriku lebih dari siapapun yang membenciku. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku yang begitu egois dan seenaknya sendiri!”
GREB
Rasa hangat menyelimuti seluruh tubuh Hana. Pemuda dari masa kecilnya seolah menyalurkan kenyamanan dari pelukannya.
“Aku tidak peduli walaupun kau berpikir begitu. Aku akan selalu melindungimu bagaimanapun caranya.”
Air mata yang tak tertahan lagi perlahan mencair dan mengotori pipi Hana.
Usapan pada rambut pendek Hana dari tangan Keigo seolah semakin menenggelamkan dirinya dalam lautan kenyamanan.
“Percaya padaku, oke?” Hana bersumpah saat itu Keigo benar terlihat seperti seorang pangeran berkuda putih yang berusaha menyelamatkannya dari kegelapan.
Chu
Sebuah kecupan ringan tak terprekdiksikan mendarat indah pada kening Hana.
Bagai virus yang bekerja dengan kecepatan tinggi, wajah Hana memerah dalam sepersekian detik.
Berbagai pertanyaan seperti ‘memangnya aku ingin diselamatkan?’ hancur seketika. Hana tidak perlu menanyakan pertanyaan ini lagi sepertinya.

.

BRAAAK!!
Kursi yang Yoshiki gunakan bergerak mundur dengan kasar begitu terdorong oleh dirinya yang tiba-tiba bangkit begitu saja. Seluruh peserta rapat seketika menatapnya aneh.
“M-My Lord?” Tanya salah seorang peserta rapat yang kala itu merasa khawatir.
Seluruh tubuh Yoshiki meradang oleh gejolak emosi yang luar biasa. Tangannya yang menggenggam ponselnya bergetar, bahkan benda persegi itu sempat melorot dari pegangannya dan menghantam meja. Rahangnya mengeras bukan main. Isi kepalanya kacau balau.
Semua itu tidak lebih dikarenakan sebuah foto yang baru saja dikirimkan kepadanya dari pengawal yang selalu ia siapkan untuk memata-matai sang istri.
Namun ia dengan cepat kembali memiliki kendali atas dirinya. Ia tidak akan lepas kontrol lagi seperti yang lalu-lalu. Ia kembali menduduki kursinya yang hamper tertendang jauh olehnya.
“Lanjutkan kembali,” dengan datar dan tenang Yoshiki meminta rapat yang sempat tertunda oleh kekagetannya itu kembali berlanjut.
Suasana kembali kondusif. Namun tidak bagi Yoshiki. Kaki kanannya menghentak-hentak tak tentu. Bersyukur atas lantai karpet yang dipijaki Yoshiki sehingga suara hentakan sepatu pantofel hitamnya tidak kembali menginterupsi rapat.
“Kau milikku My Lady…” gumannya pelan entah pada siapa.

.

“Oh dosenmu adalah T-sensei untuk mata kuliah Fisika Dasar? Kudengar T-sensei banyak melakukan penelitian mengenai gempa loh.”
“Dan T-sensei itu kalau mengajar luar biasa random!” Protes Hana terhadap tuturan Keigo. Keduanya baru saja keluar dari area parkir dan menuju ruang kuliah.
SRET
Hana yakin waktu itu suduh matanya menangkap bayangan Yoshiki. Namun waktu berjalan seolah begitu cepat. Tiba-tiba Yoshiki sudah menguncinya di antara bangunan.
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.