Kamis, 27 November 2014

Yami no Ai [Chapter 129]

Chap 129

"Yatta! Akhirnya kita benar-benar sampai di tempat tujuan!" Hana meregangkan otot-ototnya.
"Kau seperti nenek tua yang kena osteoporosis saja" ejek Yumi sambil tangannya menyodorkan segelas ocha.
"Terima kasih" Hana mengambil ocha dari tangan Yumi.
"Ayo-ayo cepat dirikan tenda! Siapa yang lebih cepat mendirikan tenda bisa mendapatkan tempat khusus dalam cerita malam nanti!" suara melengking dari Makoto Nara--siswa kelas 3-3--terdengar bersama tepukan-tepukan tangannya.
"Ahaha... Si tua bangka itu masih bersemangat rupanya" guman Hana.
"Kau nenek osteoporosis cepat dirikan tenda kita!" ucap Yumi.
"Kau juga harus membantu!" teriak Hana kesal.

Pada pukul 8 tepat para peserta perkemahan misteri telah berkumpul di lahan yang cukup luas. Hanya dengan di terangi cahaya dari api unggun di tengah mereka yang duduk melingkar.
Agenda cerita malam kali ini hanya kumpul bersama, dan membicarakan masalah survive keesokan harinya. Para panitia yang rata-rata siswa kelas 2 mulai berkumpul di tempat yang di sendirikan untuk mendisuksikan survive juga.
"Rayumi Hana kau bisa kan menjaga pos 8 sendiri?" Kikuri dengan wajah polosnya meminta pertumbangan kepada Hana yang sebenarnya sudah merasakan firasat buruk.
Hana ingin menolak. Tapi ia tak ingin membuat semua susunan menjadi kacau. Tak ada pilihan lain selain setuju.
Hana mengangguk.
Senyum Kikuri mengembang. "bagus."
"Hey sudah belum? Adu Adrenalin sudah hampir dimulai nih" Makoto-senpai terlihat berjalan dengan terburu-buru ke arah para panitia yang sedang melakukan rapat.
"Hah? Adu Adrenalin? Acara siapa itu?" Yumi berkoar.
"Ini kejutan" jawab Makoto-senpai.

Jadilah sekarang, masing-masing siswa berpasangan dua-dua. Dan Hana berpasangan dengan Isaka Runo. Seorang siswa kelas 1-4 dengan jambul di kepala hitamnya.
"Senpai takut hantu?" tanya Isaka.
"Aku? Aku saja petinggi dari para hantu-hantu itu.. Mana mungkin aku bisa takut... Ha ha ha" jawab Hana berusaha menyembunyikan rasa takutnya.
"Oh begitu. Syukurlah"
"Hei! Hana kenapa kalian tidak segera berjalan! Pasangan yang tadi sudah berangkat lebih dari 10 menit yang lalu!" Makoto-senpai muncul.
"Sabar! Dasar tua bangka!" teriak Hana emosi.
"Cepat berangkat atau kubunuh kau!"
"Iya ya!" Hana mau tak mau segera menggeret tubuh Isaki mengikutinya.
" ... ." tak begitu jauh dari posisi Hana. Terlihat sepasang mata hitam kelam tengah mengamati tiap pergerakan Hana.

Suara binatang malam dan gemerisik tumbuhan seakan ikut memeriakan kejutan-tidak-lucu-dari-Makoto. Membuat tubuh Hana semakin bergidik. Sebenarnya Hana tidak terlalu memperdulikan dengan hantu. Yang ia takut hanya... Cacing! Oke kemungkinan melihat cacing sangatlah kecil mengingat ini malam dan gelap, merasakan juga mustahil, ia mengenakan boots karet sekarang. Jadi yang ia takutkan dari spesies lain makhluk melata adalah... Ular! Hana sangat benci segala yang melata! Oh demi apapun! Setelah ia mencapai garis kuning diujung sana, Hana pasti akan memenggal kepala Makoto.
Read More ->>

Rabu, 26 November 2014

Yami no Ai [Chapter 128]

Chap 128

"Hn" Yoshiki menyalahkan transmisinya.
"Exorcist mengirimkan pasukan Xeon-21 berjumlah 8 orang. Ketuanya Choi Sakata berperingkat 1020 . Semua tewas. Kita kehilangan 5 orang. Dotsu dan Shizuka selamat"
"Hn. Bagaimana denga dia Tomuro?"
"'dia'? Ah maksudmu Hana? Dia sudah kuantar tadi. Mungkin dia sudah dalam perjalanan sekarang"
"Hn"
"Kau benar-benar akan..."
"Hn"
"Baiklah terserah apa katamu. Kan lebih baik aku yang menjaganya. Kau cukup memerintahku dari sini kan..."
"Ini tugas seorang suami Tomuro"
"Heh... Begitu... Maaf saja aku tidak pernah menjadi suami jadi aku tidak mengerti hal itu. Ngomong-ngomong sepertinya kau sangat menikmati menjadi seorang 'suami'..."
"Hn. Kembalilah bekerja Tomuro."
"Hahaha... Baiklah baiklah"

Setelah menempuh jarak 4 jam dari Tokyo ke Gunma, akhirnya rombongan klub misteri mencapai kaki bukit yang akan mereka daki. Terlihat hiruk pikuk polisi daerah Gunma yang mengerumuni suatu area yang berantakan bagai di terjang badai dengan garis polisi.
"Eh ada apa?" semua para siswa klub misteri merasa penasaran dengan apa yang terjadi.
"Ada tanah longsor satu jam yang lalu" jawab seorang siswa berkacamata bundar.
"Eh benarkah? Ku dengar daerah sini tanahnya kuat" timpal siswi lain.
"Penyebabnya adalah ledakan misterius yang sangat besar"
"Ledakan?" ujar beberapa siswa bebarengan.
"Serius?"
"Kau tahu dari mana Kagami-kun?"
"Heh, jangan remehkan Kagami Otsuki. Aku lah detektif paling handal disini" ujar Kagami dengan membenarkan letak kacamatanya.
"Dia punya paman yang bekerja di kepolisian pusat. Dia bisa dengan mudah mendapatkan informasi seperti itu" suara Yumi seolah menjawab pertanyaan semua siswa.
"Hoo begitu. Pantas saja..." guman seluruh siswa.
"Arghh!! Yumi sialan!!"
sementara terjadi kehebohan di dalam bis, pikiran Hana tak kalah hebohnya. Ia kalut, entah kenapa kejadian longsor tanah itu menurutnya karena ada hubungannya dengan Yoshiki.
"Hoy hoy sudah bercandanya! Kita sudah sampai!" suara Kikuri menginterupsi kehebohan di dalam bis.
"Eh sudah sampai ya?" Kagami celingukan.
JDUAK. Yumi menghantam kepala hijau tua Kagami dengan koran yang digulungnya.
"ittai!" terik Kagami.
"Kita harus mendaki sendiri bodoh!"
"Hah!? Kenapa?"
"Kau tidak ikut rapat kemarin sih" Echo Harai melewati Kagami yang masih memegangi kepalanya. Sementara Yumi sudah meninggalkan bis.
"Oy cotto! Matte!" teriaknya.

Matahari yang sedari tadi tinggi, kini sudah hampir menyembunyikan dirinya. Hana melirik jam tangannya, sudah pukul 5 sore rupannya. Ia tak sadar telah mendaki selama satu jam lebih. Peluh masih menetes di setiap langkahnya yang menapak ke atas.
"Ayo semangat Rayumi!" Yumi menyemangati Hana.
"Hm" Hana tersenyum. "Mau balapan?"
"Oh boleh." Yumi menjawab yakin.
Hana menatap Yumi yakin lalu segera melesat.
"Eh itu curaaang!" Yumi segera menyusul. Mereka berdua melangkah lebar. Tanpa membepedulikan barang-barang berat yang tengah mereka bawa.
"Hn." sebuah gumanan dingin terdengar dari balik-balik tanaman yang menjulang tinggi.
Read More ->>

Selasa, 25 November 2014

Yami no Ai [Chapter 127]

Chap 127

"KO3 meluncur" ucap sang lawan bicara yg merupakan ketua pasukan KO3 dengan yakin.
"Yosh!" Tomuro memarkirkan mobilnya dengan beberapa kali drift saat memasuki halaman mansion.
"Hn. Mereka datang. Bersiaplah Dotsu kau ikut melawan mereka"
"Yes, My Lord" Dotsu membungkuk hormat.
Yoshiki yang melihat bayang-bayang para Exorcist yang bergerak sangat cepat diantara pohon-pohon yang banyak tumbang karena longsor tadi hanya menyeringai.
"Hn. Kuserahkan pada kalian. Bunuh mereka semua" Yoshiki kemudian melesat meninggalkan tempat itu.
Meninggalkan Dotsu sendiri.
DRAP... SRET... KRAK... Terdengar derap-derap langkah kaki di sepanjang hutan lebat yang sudah cukup porak poranda.
Jas biru tua mereka berkibar mengikuti gerak angin dan langkah mereka.
Seorang laki-laki berambut kuning tua memimpin barisan. Matanya fokus terhadap halangan perjalanannya.
"Berhenti!" teriaknya.
Seluruh pasukan yang berjumlah 8 Exorcist Xeon-21 itu serempak berhenti.
Di depan mereka berdiri seorang pria bertopeng hitam dengan satu lubang untuk mata kirinya.
"Jadi ini kah iblis yang usil meledakan bebukitan tadi?" lelaki berambut kuning itu menatap tajam Dotsu.
"Exorcist..." Dotsu hanya berguman.
"Wahai Iblis. Akan kumusnahkan kau atas nama-Nya!" Lelaki itu mengacungkan pedangnya.
Kepala Dotsu terlihat mengamati pasukan dibelakan Lelaki berambut kuning itu.
"Tidak adil kan kalau satu melawan 9 orang sekaligus?" ujar Dotsu.
Seketika itu muncullah pasukan KO3 yang tadi dibawa Yoshiki.
"Ukh! Pantas saja dari tadi aku merasakan aura lain!" salah satu dari pasukan Xeon-21 berujar.
"Huh, memang bisa apa kalian yg berperingkat 1000 ke bawah? Apa sektor Gunma semakin bodoh mengirimkan kalian?" pemimpin pasukan KO3 berujar.
"Jangan remehkan kami! Aku Choi Sakata ketua pasukan Xeon-21 akan mengalahkan kalian para iblis!"
"wah wah... Kami berjumlah sepuluh orang loh. Memperkenalkan diri begitu yakin... Baiklah... Aku juga. Aku Shizuka Katsumi. Ketua pasukan KO3. Demi My Lord akan membunuh kalian pasukan Exorcist!" wanita berambut merah muda itu menatap yakin.
"ukh! Serang!" teriak Choi yakin.

"Ada apa Rayumi? Kau dari tadi diam saja. Sakit?" Yumi Azumi--siswa kelas 2-8--terlihat menghampiri Hana dengan menawarkan sekotak permen.
"Ah tidak hanya memikirkan sesuatu saja" Hana tersenyum lalu mengambil beberapa permen.
"hm? Soal quiz? Tak perlu terlalu dipikirkan ah" gadis berambut biru tua itu duduk di sebela kursi Hana yang kosong.
"Bukan itu..."
"Lalu?"
"Masalah lain..."
"Oh begitu--"
"Yumi-chan~ minta permen coklatnya!" terdengar suara manja dari siswa kelas 1.
"Ya ya sebentar!" Yumi membalas bosan. Mau tak mau perempuan itu bangkit berdiri dan meninggalkan Hana.
Hana kembali melanjutkan aktivitasnya yaitu melihat keluar jendela.
"Yoshiki-kun..."

Kuroto Yoshiki. Pria dengan mata onix itu tengah memandang langit biru. Rambut dongkernya sedikit tertiup angin. Wajah pucatnya terlihat semakin menawan karena cahaya matahari pagi.
"My Lord?" terdengar suara dari transmisinya.
Read More ->>

Senin, 24 November 2014

Yami no Ai [Chapter 126]

Chap 126

Para pasukan troll--yg pada dasarnya suka berjalan pelan-pelan--kalang kabut mengetahui langit-langit bawah tanah mulai runtuh.
Tidak ada tempat untuk lari. Tanah langsung menerjang mereka. Menindih tubuh mereka.
Efeknya terjadi getaran ringan di daerah yg lumayan dekat dengan daerah ledakan. Sementara itu longsor tanah telah terjadi selama 10 menit terakhir.

"para Troll di kalahkan!" ujar seorang berambut merah dengan kedua taring di giginya.
Pria paruh baya yang menerima laporan itu hanya menggeram kesal. "Tarik mereka. Jangan sampai manusia mengetahui"
Pria berambut merah itu mengangguk lalu segera melesat melaksanakan peritahnya.

"Lapor! Ledakan positif berasal dari iblis!" seorang perempuan berambut hitam panjang dengan tahi lalat di bawah bibirnya berujar mantap.
"Beraninya mereka membuat keributan disini... Seberapa kuat sihirnya?" pria berambut oranye yang menerima laporan itu mengernyitkan alisnya.
"Sekitar 0,6%"
"Lemah sekali. Nao-kun Kirimkan pasukan Xeon-21"
"Laksanakan!" pria berwajah datar dan beambut jabrik biru yang sedari tadi berdiri di samping kanan pria berambut orange itu mengangkat tangannya hormat lalu meninggalkan ruangan.
"Tapi... Taichi-taichou... Ada yang aneh. Aku merasakan aura lain di tempat itu... Aura mengerikan yang bisa membuatku berkeringat dingin"
"Hmm... Mungkin hanya perasaanmu saja Akira-san. Kembalilah ketempatmu"
"Benar... Pasti hanya perasaanku. Kalau begitu aku permisi Taichi-taichou" Akira segera keluar ruangan sang ketua.
Taichi Sabaku terdiam menatap kepergian Akari Fuu. Ketua dari departemen pertahanan sektor 16 Exorcist itu kembali mengernyitkan alisnya dibalik wajah tenangnya. Mau bagiamapun kemampuan klan Akira dalam pendekteksi tidak bisa diragukan lagi. Membuat pria bermata emas itu berguman, "Ya... Semoga hanya perasaanmu. Jika benar pria itu ada disini... Tidak tidak! Aku tidak boleh gegabah sebelum kemunculan pria itu dipastikan!"

"Hup" Tomuro terlihat menurunkan barang-barang Hana.
"Terima kasih Tomuro-kun" Hana tersenyum.
"Apa tidak sekalian dinaikan ke bisnya?"
"Ah tidak aku bisa sendiri. Lagian aku belum tahu di bis mana aku"
"Hmm begitu"
"Sekali lagi terima kasih sudah mengantar dan membantuku Tomuro-kun"
"Ah tidak masalah. Hana-kyun kan istri dari My Lord kita tercinta. Err-- kalau begitu lebih baik aku kembali"
"Ah benar. Eh tunggu!!" baru saja Tomuro hendak berbalik, Hana sudah mencegahnya.
"Ya?"
"Etto... Sebenarnya... Anno... Yoshiki sibuk apa?" tanya Hana ragu. Wajahnya menampakkan kekhawatiran.
"Engh? Ada apa Hana-kyun?" Tomuro mengerutkan alisnya. "Entahlah aku juga tidak tahu. Dia hanya mengatakan bahwa dia ada urusan"
Hana mengigit bibir bawahnya sebentar. "Begitu.. Baiklah hati-hati di jalan Tomuro-kun" Hana melambai.

Tomuro memasuki kembali mobil Chevorlet hitamnya. Setelah menyalakan mesinnya ia melaju secepat mungkin.
"KO3 meluncur!" teriak Tomuro melalu transmisi. Wajahnya serius menatap jalanan. Dengan kecepatan 120 km/jam ia bermanuver menembus jalanan Tokyo.
Read More ->>

Minggu, 23 November 2014

Yami no Ai [Chapter 125]

Chap 125

"Hn. Aku sudah menyiapkan semuanya. Dan semua berjalan sesuai rencana. Perintahkan kepada si maniak bom agar menyusulku"
"Maksudmu Dotsu? Apa lagi yg kau rencanakan?"
"Hn. Aku tidak pernah memerintahkanmu untuk menanyakan urusanku"
"hhh... Baiklah... Akan kulakukan"
Tomuro memejamkan matanya sejenak.
Pikirannya berfokus pada pria bermata satu yg mengenakan topeng hitam. Pria bernama Dotsu.
Nampaknya kini Tomuro sedang melacak keberadaan "si maniak bom".
"Yak!" teriak Tomuro seketika saat menemukan sosok yg dicarinya.
"Yosh semoga waktunya cukup" Tomuro segera berteleport ke arah pedalaman Kyoto dalam waktu sepersekian detik.
"Ohayou Dotsu-san!" teriak Tomuro nyaring. Membuat si pemilik nama yg tengah meraba-raba tanah di sana terkejut lalu menoleh ke arah Tomuro.
"Arashi-san?" Dotsu segera berdiri untuk menyambut kedatangan si wakil raja.
"My Lord memiliki tugas untukmu" ucap Tomuro to the point.
"Akan dengan senang hati saya laksanakan" Dotsu membungkuk hormat.
"Pergilan ke pegunungan Gunma. Daerah pegunungan barat daya tempat yg dijadikan festival kembang api tahun lalu"
Dotsu mengangguk mantap lalu berteleport hilang.
Tomuro juga ikut menghilang dari lokasi itu.

Langkah kaki Hana memendek saat ia semakin mendekati area garasi mobil manor Yoshiki yg sangat luas.
"Tomu--" Hana hendak meneriakan nama orang yg seharusnya menunggunya disini. Tapi nyatanya orang itu tidak ada.
"Loh? Kemana?" Hana menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Barangkali bisa menemukannya.
"Yo Hana-kyun!"
Hana langsung menoleh kebelakang begitu menyadari suara yg dicari-carinya terdengar dari belakang.
"Maaf aku tadi ke kamar kecil dulu. Hehe" Tomuro nyengir.
Hana sweatdrop.
"Jadi, ini barang-barang anda?" Tomuro melirik dua tas ransel besar yg ada di dekat kaki Hana.
"Ya, aku sekertariat. Bertanggung jawab dengan banyak lomba dengan lomba dan quiz yg akan berlangsung" Hana menghela nafas berat.
"Oke ayo berangkat" Tomuro membuka bagasi mobil Chevorlet hitam itu lalu memasukan dua tas besar Hana.

"Ledakan setelah kuberi perintah" Yoshiki menatap datar Dotsu namun wajahnya menyiratkan keseriusan.
"Yes My Lord!" Dotsu mengangguk mantap.
Pria bertopeng itu telah menyiapkan beratus bahan peledak yg ia pasang dengan luar biasa cepat. Ia hanya perlu menyebarkan bom-bom yg terbuat dari tanah liat di sekitar tempat yg ingin ia ledakkan. Maka bom-bom itu dengan sendirinya masuk ke dalam tanah untuk menjadi ranjau. Kalau biasanya ranjau digunakan untuk menjebak orang di atasnya, maka Yoshiki merubahnya. Ia gunakan untuk meledakkan sesuatu dibawah ranjau itu... Yang bergerak dalam jumlah ribuan di bawah tanah. Mereka adalah--
" 1... ." Yoshiki mulai memberi aba-aba.
"2..."
"3!" Yoshiki berteriak Yakin. Dotsu langsung mengaktifkan sihirnya untuk mengaktifkan bomnya yg tertanam.
DUAR!! BLLAAAR!! BLARR!!
Rentetan suara ledakan terdengar sampai berpuluh-puluh meter jauhnya. Jelas saja ledakan itu terjadi pada lahan seluas 3 hektar.
Tanah mulai runtuh.
Read More ->>

Sabtu, 22 November 2014

Yami no Ai [Chapter 124]

Chap 124

"Ah Yoshiki-kun" Hana segera menghampiri pria itu.
"Hn. Bagaimana hidungmu?" tanya pria itu datar.
"Sudah sembuh!" Hana menjawab girang.
"Hn"
"Ayo pulang aku ingin menyiapkan perlengkapanku!" Hana segera menghambur keluar ruangan.
"Ah My Lady sepertinya sangat bersemangat" Tomoaki terkekeh.
Yoshiki hanya melirik sebentar kepergian Hana. "Hn. Bagaimana keadaanya?"
"Sudah sembuh total. Saya benar-benar tak mempercayai ini"
"Hn. Salam untuk ayahmu" Yoshiki meninggalkan ruangan Tomoaki dan berjalan menyusul Hana.

"Hmmm~ hmm~" Hana bersiul riang saat menata pakaiannya di dalam tas. Tas ransel hitam itu sebenarnya sudah hampir penuh. Lihat saja bentuknya yg kini sudah menggelembung.
"Hn" Terdengar suara dingin yg berasal dari sudut ruangan Hana.
"HUWAAAA!!" Hana menatap Yoshiki kaget. Terang saja, pria itu tiba-tiba ada di sudut ruangat yg tak terlalu terkena cahaya lampu. Siapapun pasti mengira orang itu makhluk astral.
"Hn. Aku bukan Hantu" Yoshiki berjalan mendekati Hana.
"Kapan kau berangkat?" tanyanya.
"Uhm... Besok jam 8 mungkin"
"Hn"

Pagi-pagi sekali sebelum matahari memunculkan sinarnya, Hana sudah terbangun dan melanjutkan aktivitasnya yg terhenti kemarin karena memang sudah larut sekali--dan kalau bukan Yoshiki yg mengancam akan membatalkan izinnya jika Hana tak mau menuruti ucapannya sudah dipastikan Hana akan begadang.
Cepat-cepat dibersihkannya tubuhnya dan segera mempersiapkan segalanya.
"Ohayou~" suara Tomuro terdengar. Lalu setelah itu terdengar beberapa kali suara ketukan.
CKLEK. Si pemilik kamar segera membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Tomuro-kun?"
"Woaa! Ini masih jam 6 loh! Dan kau sudah bersiap-siap... Ckck! Kau terlalu bersemangat" Tomuro menyilangkan tangannya.
"Kau kemari hanya untuk bicara itu?" tanya Hana.
"Tidak. Yoshiki tak bisa mengantarmu karena beberapa urusan. Jadi aku yg menggantikannya mengantarkanmu"
"Oh begitu. Uhm... Urusan apa?"
"Entahlah. Mencari wanita penggantimu mungkin" jawab Tomuro enteng.
"hahaha" Hana tertawa hambar.
"Baiklah, ku tunggu di garasi ya."
"Oke" Hana melambai pada sosok Tomuro yg sudah berjalan memunggunginya.
Hana kembali menutup pintu kamarnya.

Tangannya sibuk memakai sweater tak berlengan pada tubuhnya yg sudah mengenakan kemeja hijau.
"Urusan...?" guman Hana. "Urusan apa?"

"Arashi-san kau mendengar?"
"Ya ini aku"
"Mereka menyadari pergerakan kita"
"Sudah kuduga. Bagimana dengan pasukan dunia bawah?"
"Mereka mengirimkan beribu troll dalam perjalanan"
"Beritahu aku posisi tentara-Nya"
"Sekitar 11Km dari titik perkemahan My Lady"
"Kalau begitu kita gunakan strategi KO3"
"Wakatta!" transmisi dimatikan.
"Nah, saatnya menggunakan isi kepalaku" guman Tomuro. Tangannya terus menggetuk-ngetuk setir bundar Chevorlet hitamnya.
"Hn... Tomuro?" Tomuro yg mengenali suara itu langsung mengambil alat transmisinya.
"Yes, My Lord?"
"Dimana dia?"
"Dalam persiapan"
"Hn. Lebih baik kita gunakan strategi KO3"
"Aku juga berfikir begitu! Tapi... Sepertinya posisimu sedikit tidak berguna ya"
Read More ->>

Jumat, 21 November 2014

Yami no Ai [Chapter 123]

Chap 123

"Apa maksudmu membiarkan dia mengikuti perkemahannya!?" teriak Tomuro.
"Hn"
"Apalagi di Gunma! Itu wilayah mereka!"
"Hn aku akan bertanggung jawab bila mereka menyerang"
"Jadi kau..."
"Hn. Aku akan mengawasinya"
"hhh... Aku tak mengerti jalan pikiranmu" Tomuro mengehla nafas berat.

"Jadi... Apa yg ingin Tomuro-kun katakan?" tanya Hana santai. Ia masih setia mengikuti langkah kaki pria bermata azure di depannya.
Tomuro tak menjawab. Ia masih ragu apakah akan menjawab atau tidak.
"Ehem" Hana berdehem.
"Eh... Ya..." Tomuro gelagapan. "hhh.... Yasudahlah kuberitahu saja"
Hana mengangkat sebelah alisnya kebingungan mendengar respon Tomuro.
"Perkemahanmu di wilayah Gunma?"
"Eh... Ya"
"Itu wilayah tentara-Nya" Hana tahu persis kemana pembicaraan serius ini.
"Itu sebabnya Yoshiki sempat tak mengizinkanmu mengikuti perkemahan itu"
" ... ." Hana terdiam. Ia masih belum bisa merespon ucapan Tomuro.
"Kau... Setidaknya kau harus menggunakan otakmu. Yoshiki mencintaimu--oke jika kau masih menyangkalnya--tapi sungguh jika Yoshiki melarangmu melakukan sesuatu maka aku mohon... Turuti apa kemauannya"
"J-Jadi..."
"Benar. Tolong pahami suasananya. Pasukan dunia bawah terus memaksanya untuk melakukan perjanjian darah denganmu. Mereka menyerang manor ini berkali-kali. Bahkan kemarin aku dan Yoshiki sampai turun tangan. Dan sekarang kau malah mendatangi mulut singa... Kau benar-benar merepotkan"
Hana terdiam di tempatnya mendengar tuturan Tomuro.
"Sudah ya, aku harus melatih para pasukan. Jaa" Tomuro melesat begitu saja. Meninggalkan Hana yg mematung di depan pintu kamar tidurnya.
"Dia..." guman Hana.

"Yosh! Akhirnya Hidung anda sembuh total!" Tomoaki yg baru saja melakukan cek hasil rotgen pada sinar-x pada hidung Hana mulai menampakan wajah berseri. Selama dua hari terakhir ia sudah bekerja keras untuk memastikan kalau Hana meminum obatnya atau tidak.
Mata coklatnya memacarkan binar bahagia. "baru kali ini aku menyembuhkan pasien retak tulang hanya dalam waktu empat hari"
"Tentu saja! Hanya Hana yg bisa begitu!" Hana membusungkan dadanya untuk memunculkan efek sombong pada dirinya.
"Wah wah setelah sembuh anda ingin melakukan apa?"
"Aku ingin prepare untuk perkemahan misteri besok!" teriak Hana bersemangat. Walau sebenarnya Hana sudah selsai 78% dalam prepare barang-barangnya.
Ia sudah sepenuhnya lupa mengenai bahaya yg menantinya nanti. Yang ada di kepalanya adalah bayangan menyenangkan dan mendebarkan perkemahan misteri nanti.
"Oh dari klub misteri ya?" Tomoaki Hide berusaha menyamai arah bicara Hana.
"Ya!" jawab Hana bersemangat.
"Shiro-chan tidak tertarik dengan klub seperti itu" Tomoaki menggaruk pipinya yg tidak gatal "ia lebih tertarik dengan Judo dan Elektronika"
"Dan Tomoaki-senpai adalah dokter muda. Pasangan yg serasi"
CKLEK. Pintu berwarna putih dan satu-satunya di ruangan itu terbuka. Menampakan sosok berpakaian berkerah putih, dengan dasi merah kehitamannya beserta blaser kecoklatannya.
"Hn." terdengar gumanan dari pria itu.
Read More ->>

Kamis, 20 November 2014

Yami no Ai [Chapter 122]

Chap 122

"Eh? EHHHH??? Apa salah telingaku?" begitu Hana merespon ucapan Yoshiki, yg ia dengar hanyalah kata 'kutusuk telingamu hingga berdarah' hingga membuatnya cukup kaget.
"Kenapa?" tanya Hana polos. Sambil tangannya digunakan untuk menutupi--melindungi--telinganya.
"Hn. Lupakan" jawab Yoshiki tak acuh.
"Eh?" Hana sweatdrop mendengar jawaban Yoshiki.
Berbicara dengan pria dingin memang kesulitan tersendiri.

Derap langkah dua pasang sepatu menggema di lorong-lorong mansion Yoshiki.
"Ne... Tomuro-kun terima kasih mau mengantarkan aku ke ruangan Yoshiki-kun" Hana membuka pembicaraan dengan nada riangnnya. Terlihat jelas Hana bahagia hari ini.
"Tidak masalah. Hari ini aku juga ingin menemuinya juga. Uhm... Kenapa kelihatannya Hana-kyun bahagia sekali?"
"Oh. Eh? Aku kelihatan sebahagia itu ya? Hehe" Hana malah cekikikan tidak jelas.
Tomuro sweatdrop mendengar jawaban Hana.
"Uhmm baiklah kuberi tahu... Yoshiki-kun... Mengijinkanku mengikuti perkemahan misteri di pedalaman Gunma!" teriak Hana girang.
"Apa!?" giliran Tomuro yg berteriak ke arah Hana.
"eh?" Hana mematung setelah ditatap horor oleh Tomuro.
"Ayo..." Tomuro segera menyeret tangan Hana dengan cepat.

BRAK!
Tanpa permisi, Tomuro yg menyeret tangan Hana langsung memasuki ruang kerja Yoshiki.
"Hn" Yoshiki hanya menatap datar kedua orang yg baru saja membuat kerusuhan di tempatnya. Tangannya yg semula sibuk menulis sesuatu kini sudah berhenti.
"Ap--"
"Hn. Aku tahu. Itu bisa kita bicarakan nanti. Sekarang bisakah kau keluar? Kami ada pembicaraan khusus" Yoshiki langsung memotong semprotan kalimat Tomuro.
Tomuro menggerutu pelan. Ditutupnya pintu yg tadi dibukannya lebar-lebar setelah Hana masuk.
"Hn. Duduklah"
Hana mematuhi ucapan Yoshiki dan segera duduk di kursi yg bersebrangan dengan posisi duduk Yoshiki.
"Kau senang?" tanya Yoshiki. Tangannya kembali sibuk mengetik sesuatu di laptopnya yg berlogo apel yg telah tergigit.
Hana menanggapinya dengan cepat. "tentu! Aku sangat senang!"
"Hn. Saatnya membicarakan persyaratan"
Hana langsung menatap Yoshiki mantap. Ia sudah menyiapkan hatinya barangkali pria di depannya ini punya syarat yg err-- berlebihan.
"Patuhi apa yg dikatan Tomoaki dalam proses penyembuhan hidungmu. Dan-- Hn. Hanya itu saja"
"Eh? Hanya itu?"
"Hn."
"Aku pasti akan mematuhinya! Pasti!" Hana bersorak gembira.
"Hn. Kembalilah ke kamarmu" ujar Yoshiki lagi dengan fokus ke pada laptopnya.
Sebenarnya Hana cukup menggerutu dalam hatinya, jika hanya ingin memberitahu syarat seperti itu lebih baik dikatakan tadi dalam perjalanan. Kan bisa mengurangi energi yg terkuras untuk berjalan. Apalagi nanti bila Hana tersasar?
Ketika Hana melangkah keluar dilihatnya Tomuro sedang bersila tangan. Setelah melihat Hana, Tomuro langsung nyelonong memasuki ruangan Yoshiki.
"tunggu aku, kita bicara" bisik Tomuro.
Hana mendengar itu cukup penasaran. Jadi memilih untuk menunggu keluarnya Tomuro.
Read More ->>

Rabu, 19 November 2014

Yami no Ai [Chapter 121]

Chap 121

"Eh? Kok tidak mau?" Tomoaki sempat kebingungan dengan jawaban Hana.
Hana menggeleng. "Aku tidak suka obat Tomoaki-senpai. Kemarin itu pengecualian" Hana turun dari ranjangnya dan hendak melangkah keluar.
Dipegangnya gagang pintu lalu berhenti sejenak. "sembuh cepatpun tidak ada yg bisa kuperbuat" guman Hana sambil membuka pintu putih itu. Dan segera dilangkahkannya kakinya keluar.
"Eh, My--Kuroto-sama!" Tomoaki nampak berlari mengejar Hana.

Hana terus melangkah sambil menenteng tas coklat sekolahnya.
"Hn. Kenapa kau disini?" tidak sengaja Hana berpapasan dengan Yoshiki yg juga nampaknya baru saja keluar dari ruangan khusus dari pemilik rumah sakit utama di Tokyo ini.
Wajah Hana langsung berpaling begitu saphirenya bertemu dengan onix kelam Yoshiki.
"Kuroto-sama!" terdengar sayup-sayup suara putra dari pemilik rumah sakit Hide ini.
"Ah! My Lord! My Lady kabuur!" teriak Tomoaki kepayahan setelah berlari.
GREP.
Tangan besar Yoshiki segera mengait pada lengan Hana.
Hana berusaha melepaskan tangan Yoshiki dengan mengibatkannya namun gagal.
"hhh.... Hhh... Anda harus meminum obat ini!" Tomuro mengelap keringatnya sembari menunjukkan dua buah kapsul kuning yg masih dibawahnya.
"Tidak perlu. Walaupun aku sembuh aku tetap tidak bisa kemana-mana" Hana berusaha kembali mengibatkan tangannya--berharap Yoshiki melepaskan cengkramannya.
" ... ." Yoshiki masih diam seribu kata.
"Tapi anda harus sembuh! Shiro ingin segera berenang dengan anda!"
Hana ikut terdiam mendengar ucapan Tomoaki.
"Tomoaki-senpai... Kau mencintai Shiro?"
"T-tentu..." wajah Tomoaki nampak berubah agak kemerahan dibagian pipinya.
"Apakah kau akan menuruti jika Shiro meminta cake desert seharga 2500 yen?"
"Eh? Tidak ada cake semahal itu My Lady!"
"Hanya perumpamaan. Jawab saja"
"mmm... Entahlah. Asal itu membuatnya bahagia akan saya belikan. Tapi saya akan tetap mengawasinya agar keinginannya itu tidak merusak atau menyakiti dirinya. Kan cake gulanya agak berbahaya"
"Andai dia juga berfikiran begitu..." guman Hana. Tangannya masih berusaha melepaskan diri.
"Hn. Baiklah ku izinkan kau ikut perkemahan misteri" Yoshiki berujar tiba-tiba.
Hana otomatis mendongkakkan kepalanya. Menatap wajah tampan pria yg mencengkarm tangannya dengan erat.
"Hn. Minum obatmu" ujar Yoshiki lagi.
Wajah Hana mendadak sumringah mendengar ucapan Yoshiki.
"H-hontou? Kau mengizinkanku!?" Hana memegang kedua tangan Yoshiki bersemangat. Matanya berkaca-kaca bahagia.
"Hn. Kita bicarakan lagi nanti, sekarang minum obatmu. Atau kita akan terlambat" Hana mengangguk mantap.
Disahutnya kedua kapsul kuning di tangan Tomoaki. Segera diteguknya dengan ditemani oleh sebotol air mineral yg ikut dibawah Tomoaki berlari-lari ria mengejar Hana tadi.

"Hn. Bagaimana ujian Fisikamu tadi?"
Hana bersiul ria.
"My Lady?"
Hana masih bersiul ria.
Yoshiki yg masih fokus dengan kemudinya mulai kesal dengan sikap Hana yg tak memperdulikannya.
"Akan kutusuk telingamu hingga berdarah. Kuroto Hana" ujar Yoshiki kesal.
Read More ->>

Selasa, 18 November 2014

Yami no Ai [Chapter 120]

Chap 120

"Boleh kupinjam?"
ucapan Hana refleks membuat Tomuro berhenti melangkah.
"Hah?" Tomuro segera berbalik ke arah Hana dan memasang wajah bodoh.
Hana sweatdrop melihat wajah Tomuro. "sudah kuduga" gumannya menatap ekspresi konyol Tomuro.
"Kenapa sih?" Tomuro menatap Hana penasaran.
"Tidak.. Tidak. Lupakan ayo lanjutkan perjalanannya butlerku yg tampan" ucap Hana dengan senyum memaksa.
"Yosh! Mari saya antarkan anda!"

Yoshiki terdiam menatap pedang megkilap di depannya. Rasanya akhir-akhir ini ia sangat sering mengeluarkan pedang legendaris itu.
Kedua onix Yoshiki tertutup rapat. "hhh" terdengar hembusan nafas berat dari sang pemilik onix.
"Oy! Kau disana?" suara Tomuro membuat onix itu kembali nampak.
"Masuklah Tomuro" gumannya seolah tau siapa yg baru saja mengganggu lamunannya.
"Oke!" suara Tomuro kembali terdengar. Tak lama kemudian tubuh ideal pria berambut merah itu terlihat.
"Hn. Ada apa?"
"Kau memberitahunya kalau kau baru saja bertempur? Bukannya kau bilang rahasiakan?"
"Awalnya aku memang berniat merahasiakannya namun sepertinya itu tidak penting"
"Setidaknya beri tahu aku juga! Aku tadi sempat berbohong seperti orang bodoh kepada Hana!" rutuk Tomuro.
"Hn. Kau bertemu dengannya?"
"Iya. Dia tersasar tadi. Jadi aku mengantarnya..."
"Hn"
"Dia bicara soal meminjam uang tadi... Kenapa ya?" guman Tomuro.
"Apa maksudmu?" tanya Yoshiki dengan wajah datar. Namun sarat akan rasa penasaran.
"Entah. Dia tiba-tiba bicara ingin meminjam uang sebesar 2500 yen kepadaku. Tapi setelah itu ya begitulah... Tidak begitu jelas"
"Hn"
"Hei mereka benar-benar hampir mengetahui keberadaan Hana! Aku merasakan hawa tidak enak tadi!"
"Tentara-Nya maksudmu?"
"Ya!"
Yoshiki terdiam sejenak. Disandarkannya tubuhnya pada sandaran kursi putarnya.
Ia sadar ia harus segera membuat keputusan.
"Apalagi para pasukan dunia bawah tadi terus menyerang mansion ini!"
Yoshiki mengatupkan kedua matanya.
Andai Hana tau... Yoshiki tak bisa membiarkannya mengikuti perkemahan misteri karena nyawanya terancam.
Bagaimana jika Hana tiba-tiba ditangkap oleh pasukan dunia bawah? Atau lebih parahnya lagi... Hana tertangkap oleh tentara-Nya! Itu lebih buruk lagi!

Keesokan harinya Yoshiki mengantar Hana untuk kontrol di rumah sakit utama Tokyo. Milik keluarga Hide.
Tomoaki untuk sekali lagi mengulangi tindakannya kemarin, yaitu memeriksa rongga hidung Hana dengan senter kecilnya.
Sesuai perkiraan hidung Hana akan sembuh sekitar 3 hari kedepan. Hana cukup senang menanggapinya. Dengan begitu ia bisa leluasa mengikuti perkemahan misteri dengan leluasa tanpa gangguan dari perban gatal di sekitar hidungnya. Sungguh tidak bisa membuatnya berkonsentrasi!
Mengingat masalah perkemahan misteri membuat Hana kembali murung seketika.
"Yosh, ini obatmu My Lady" Tomoaki memberikan 2 kapsul kuning seperti kemarin. Namun bedanya kali ini tanpa suntikan amfethamin karena diperkirakan hidung Hana sudah tidak akan menimbulkan rasa nyeri lagi.
Hana menatap obat di tangan Tomoaki hambar.
"Aku tidak mau"
Read More ->>

Senin, 17 November 2014

Yami no Ai [Chapter 119]

Chap 119

"Sampai kapan kau akan mengerti... Aku tidak ingin kau terluka" guman Yoshiki pelan.
"Aku tidak peduli" jawab Yoshiki dingin.
"Ugh! Sudah kuduga percuman aku bercerita kepadamu!" teriak Hana kesal lalu keluar sambil membanting pintu.

"Sial! Tinggal 1 minggu lagi! Aku harus bagaimana? Kerja dadakan? Yang benar saja! Uh sial! Kikuri sialan!" Hana berjalan sambil menghentak-hentakakkan kakinya kesal.
"Oy! Kasihan lantainya!" sebuah suara malas yg familiar terdengar dari belakang Hana. Membuat Hana refleks menoleh kebelakang.
"Ng? Tomuro-kun! Aku merindukanmu! Kyaaaa" Hana tiba-tiba menghambur ke arah Tomuro. Hendak memeluk Tomuro mungkin.
"wow! Wow! Tenangkan dirimu Hana-kyun" Tomuro langsung bergerak ke kiri untuk menghindari Hana yg tiba-tiba menyongsongnya.
"Ehehe maaf. Habis sudah lama aku tak melihatmu"
"Aku... Semakin sibuk karena suamimu tercinta itu selalu memberiku tugas yg lumayan menyulitkan"
"Sebenarnya ada apa sih? Kenapa bajumu dan Yoshiki sama-sama berdarah? Kau baru saja berlatih dengan Yoshiki?"
"Ini?" Tomuro menunjuk mantel hitamnya yg banyak bekas cipratan darah. "Err... Aku dan dia habis bermain survival game! Pelurunya pakai bola darah. Bukan cat"
"Apa?" Hana cengo mendengar jawaban Tomuro.
"Ah lupakan. Kau mau kemana Hana-kyun? Biar butler ter tampan se istana ini membantu anda"
"butler? Tampan?" Hana hanya sweatdrop.
"Ahaha. Mau kemana?"
"Kamarku"
"Ah baiklah kuantar. Dari pada nanti kau tersasar"
'Aku sudah hampir tersasar Tomuro-kun!' inner Hana berteriak.
Tomuro terus melangkah. Diikuti oleh Hana di belakangnya.
"Tomuro-kun?"
"Ehm? Ya?" respon Tomuro.
"Apakah kau punya uang?"
Tomuro nampak merasa aneh dengan pertanyaan Hana. "Punya. Kenapa?"
Hana terdiam sejenak. Memikirkan suatu hal yg konyol. Hutang kepada Tomuro sebesar 2500 �(yen). Itu konyol! Hana tau itu konyol!
Tapi dia harus mengikuti perkemahan misteri itu bagaimana pun caranya!
Kikuri Shu adalah rival bayangan Hana. Dulu waktu acara pengenalan klub di kelas 1, dua-duanya berniat memecahkan misteri yg diberikan klub misteri. Dan naasnya mereka dibuat menjadi 1 tim untuk melawan tim lainnya.
Sudah bisa ditebak bagaimana akhirnya, mereka gagal karena mereka berbeda jalan pikiran. Sejak saat itu Hana, bahkan Kikuri saling mengganggap rival. Namun entah mengapa mereka selalu menampakan hubungan pertemanan yg normal di luar.
Apalagi baru-baru ini, Hana mengetahui kalau Kikuri juga menyukai Yoshiki. Sedikit panas Hana mendengarnya.
Dan sekarang ia tak mau kehilangan harga dirinya kepada rivalnya itu dengan tidak mengikuti perkemahan misteri karena tidak punya uang. Apalagi "tidak punya uang"nya setelah seluruh Mirai no Gakoo tau ia baru saja "putus" dengan Yoshiki. Bisa hancur lebur harga dirinya jika Kikuri beranggapan "Hana mampu karena Kuroto". Tidak bisa! Apapun caranya ia harus mendapat 2500 �(yen) dan mengikuti perkemahan misteri.
Ya walaupun itu artinya ia harus membuang harga dirinya kepada orang lain. Seperti saat ini ia berniat hutang kepada Tomuro.
Read More ->>

Minggu, 16 November 2014

Yami no Ai [Chapter 118]

Chap 118

"My Lady?" sebuah suara dingin terdengar dari belakang Hana.
Refleks Hana menoleh kebelakang. Didapataninya sosok yg sedari tadi di carinya. Hanya mengenakan kaos hitam dan celana jeans abu-abu dengan sepatu hitamnya. Dengan banyak bercak darah terciprat di hampir seluruh tubuhnya.
"Yoshiki-kun? Darimana kau? K-kenapa t-tubuhmu...?"
"Hn" Yoshiki berjalan melewati Hana.
"Hanya sekedar melenyapkan pengganggu. Kau merindukanku?" tanya Yoshiki dengan seringainya.
"T-tidak!" wajah Hana seketika memerah.
Yoshiki tersenyum tipis mendengar ucapan tsundere Hana.

Setelah menunggu selama 5 menit, akhirnya Yoshiki muncul dengan mengenakan kemeja biru tua dan celana kain hitam. Sungguh tampak gagah.
Yoshiki langsung menuju tempat duduknya. Dan Hana juga langsung duduk di kursi yg berhadapan dengan Yoshiki.
"Hn. Jadi..."
"Eh, apa aku tidak mengganggumu? Sepertinya kau..." Hana melirik beberapa lembar kertas di atas meja Yoshiki, "...sibuk"
"Hn. Aku tidak peduli" Yoshiki menyingkirkan kertas-kertas yg berserakan di atas mejanya.
"Aku... Hanya minta tolong ajari mengerjakan soal Fisika"
"Hn. Coba kulihat"
Hana menyerahkan buku soalnya. "Nomor 8"
"Hn. Ini begini. Kemarilah" Hana cukup terkaget. Perasaan dia baru saja memberikan buku soalnya. Dan Yoshiki langsung tahu caranya? Gila! Memang seberapa cepat kecepatan membaca Yoshiki? Dan... Dia langsung tahu caranya!!
Hana langsung menyeret kursinya untuk mendekat ke meja Yoshiki. Lalu ia memperhatikan Yoshiki menjelaskan cara mengerjakan soal yg tidak bisa ia kerjakan.
"Hn. Kau mengerti?"
"I-iya. Ternyata gampang" guman Hana.
"Hn. Ada apa denganmu? Sedari tadi di perjalanan pulang kau juga sedikit nampak tertekan" Yoshiki menatap Hana serius, "apa hidungmu masih terasa sakit?"
"Bukan. Bukan hidung. Sebenarnya..."
"Hn?"
"Ah lupakan. Baiklah terima kasih Yoshiki-kun aku akan kembali ke kamarku" Hana bangki dari tempat duduknya.
"Tidak akan kubiarkan kau menyimpan rahasia dariku" ucapan dingin Yoshiki membuat kaki Hana membeku dan membuat Hana kembali berbalik untuk menatap Yoshiki yg sekarang sudah fokus terhadap laptop hitamnya.
"Sebaiknya kau beritahu aku apa masalahmu"
"Jika aku memberitahumu... Apa kau mau berjanji untuk membantuku?"
Yoshiki menghentikan pekerjaannya.
"Ceritakan"
Hana menghela nafas. Jujur ia sangat tidak kuat menangani sifat pemaksa Ysohiki.
"Aku butuh uang untuk mengikuti perkemahan misteri"
setelah mendengar penjelasan dari Hana, Yoshiki kembali fokus kepada pekerjaannya.
Muncul perempatan siku di dahi Hana. Bahkan Yoshiki tak merespon ceritanya!
"Setidaknya respon aku!" rutuk Hana kesal. Hana benar-benar ingin kembali sekarang.
"Tidak kuizinkan"
"Apa?"
"Apa otak dan matamu sudah tak berfungsi dengan benar? Kau tidak menyadari kondisimu?"
Hana melirik perban di hidungnya.
"Hidungku hanya retak Yoshiki-kun! Lagi pula kata Tomoaki-senpai hidungku akan sembuh lusa! Tak masalah bagiku!"
Yoshiki terdiam. Ia kembali fokus pada pekerjaannya.
Read More ->>

Sabtu, 15 November 2014

Yami no Ai [Chapter 117]

Chap 117

"Permisi~" Hana menggeser pintu bambu geser dari klub Misteri.
"Wah kau berhasil membawa bajing loncat ini kemari ya Kotori" ujar Kikuri begitu Hana muncul di depannya.
"siapa yg kau maksud bajing loncat hah?" perempatan siku muncul di dahi Hana.
"Ahahaha" Kikuri terkekeh. "Kau bisa ikut kan perkemahan minggu depan kan?" tanya Kikuri serius.
"uhm..." Hana nampak menimbang-nimbang sesuatu.
"Biayanya 2500 �"
"A-apa? Semahal itu?" Hana cukup terngangah.
"Iya. Itu untuk perjalanan selama 2 hari. Kita sudah dapat izin resmi dari kepala sekolah loh. Oh ya kau kan tim kreativ. Kau wajib datang"
"Ya... Akan kupikirkan" jawab Hana ragu.

Perjanjiannya adalah, Hana akan tinggal di tempat Yoshiki selama penyembuhan hidungnya yg retak. Oleh sebab itu, kini sekarang Hana kembali terduduk di kursi di samping kursi kemudi Ferari FF Silver yg dikemudikan Yoshiki.
Kepalanya terasa semakin pecah. Memikirkan biaya perkemahan misteri dan ujian Kimia dadakan tadi.
Hana memijit keningnya merenung. Dari mana ia akan mendapatkan uang sebanyak 2500 � (yen) dalam waktu singkat? Uang yg diberikan Yoshiki sudah habis terpakai untuk memberi seragam, dan sepatu basketnya.
Satu hal yg Hana rutuki saat ini, 'kenapa ia begitu boros?'
Saat ini Hana tengah terduduk di meja belajarnya. Ruangan miliknya itu tertutup sekarang. Tidak ada yg boleh mengganggunya sekarang! Termasuk Misaki!
Bisa dibilang stress meter Hana sudah hampir mencapai puncaknya.
Di depannya sudah terbuka buku catatan Fisika. Besok ia harus menempuh ujian Fisika.
Tapi kepalanya tidak bisa fokus kepada catatan rumit materi Simpangan yg kini terbuka.
Hana mengambil buku-buku soal Fisikanya dari tas. Barangkali dengan mengerjakan beberapa soal ia bisa melupakan masalah uang itu.
Hana mulai membaca soal nomor pertama dengan seksama.
1 detik...
4 detik...
8 detik...
10 detik...
DUK
Hana membenturkan kepalanya ke meja belajarnya.
"sial... Susah... Aku tidak bisa konsentrasi arghhh!! Apalagi perban ini gatal sekali!" Hana menjambaki rambutnya.
Hana bangkit langsung dari tempat duduknya. Ia membawa buku soalnya beserta alat tulisnya keluar ruangannya.

Setelah melangkah keluar dari kamar nyamannya dan nekat menjelajah sendiri manor Yoshiki dengan berbekal daya ingat rendah tentulah Hana tau pasti ia akan mengalami hal ini... Tersesat. Hana tersesat setelah berkali-kali sok tahu berkelok ke sana kemari di manor yg sangat luas ini.
Oke, penyesalan selalu datang di akhir. Jika penyesalan datang di awal, Hana pasti masih membeku di depan meja belajarnya.
Rasanya ingin menangis saja. Rasa stress di kepalanya ditambah sekarang ia tersesat. Sempurna!
Sepertinya ia benar-benar tak berjodoh dengan Yoshiki. Ia harus tersesat dulu sebelum menuju ruangan Yoshiki.
Lagipula itu hanya hipotesis konyol Hana kalau Yoshiki sedang ada di ruangannya.
Gugur sudah keinginan Hana untuk meminta bantuan Yoshiki untuk menyelesaikan soal Fisika-nya. Ia sekarang ingin kembali ke kamarnya! Tapi bagaimana caranya? Ia sepenuhnya tersesat
Read More ->>

Jumat, 14 November 2014

Yami no Ai [Chapter 116]

Chap 116

"oke sudah selesai. Saatnya kembali. My Lord sudah menunggu" Tomoaki membantu Hana turun ranjang dan berjalan bersama Hana menuju ruangan tadi.

CKLEK.
Tomoaki membukakan pintu putih yg tadi ia gunakan untuk keluar. Dibelakangnya, Hana masih setia mengekor Tomoaki.
Yoshiki langsung molehkan kepala ke pintu. Dan orang pertama yg dicarinya adalah Hana. Wanitanya itu kini kembali mengenakan perban di wajahnya.
"Hn. Bagaimana?" tanya Yoshiki pada Tomoaki.
"Penyembuhan sudah mencapai 45% tapi bagaimanapun lebih baik My Lady dibawa ke rumah sakit yg fasilitasnya lebih lengkap"
Yoshiki terdiam.
"Tenang My Lord, saya sendiri dan Tomoaki yg akan menangani My Lady" suara berat ayah Tomoaki terdengar.
"Hn" guman Yoshiki.

Jam digital di dashboard mobil Ferari FF silver Yoshiki sudah menunjukan hampir pukul 8. Walau jam pelajaran di Mirai Gakoo masih akan dimulai 1 jam lagi, speedometer mobil yg dikendarainya tidak menunjukan tanda-tanda 'mengemudi santai'. Ah sudah kebiasaan Yoshiki.
Di samping kursi kemudi, Hana terduduk.
"Masih sakit?" tiba-tiba Yoshiki bersuara.
"Eh?" Hana yg tadi sempat melamun refleks menoleh ke arah Yoshiki.
"Hidungmu"
Hana menyentuh permukaan perban yg membalut hidungnya. "Sudah tidak. Tadi Tomoaki-senpai memberiku sebuah suntikan dan 2 buah obat"
"Hn"
"Oh ya Yoshiki-kun, kenapa tidak membawaku ke rumah sakit? Kalau karena biaya--"
"biaya? Yg benar saja" Yoshiki tersenyum meremehkan.
Memang benar. Mana mungkin soal biaya. Tapi rasanya ada yg aneh. Pria disampingnya seolah tak mengijinkanya diperiksa di rumah sakit.
"lalu kenapa?" tanya Hana yg sudaj tak mampu menahan rasa penasarannya.
"Hn" Yoshiki melirik Hana sebentar. "karena aku tidak percaya. Bisa saja di sana terselip tentara-Nya yg berusaha merebutmu dariku. Kau tahu aku buta terhadapmu. Aku tak mau kau tiba-tiba diserang mereka--dan aku tidak tahu--lalu mereka memiliki kekuatanmu. Lebih baik kubuh kau sekarang dari pada mereka berhasil memilikimu"
Hana mendengar ucapan Yoshiki hanya tersenyum manyun. Bagian dadanya terasa sesak. Begitu jahat pria di sampingnya. Padahal Hana sangat mencintainya, tapi pria disampingnya terang-terangnya mengatakan bahwa dirinya hanyalah sebagai pemasok kekuatan.
Ternyata semua perhatian Yoshiki memanglah palsu. Benar. Mana ada cinta sejati. Itu mustahil.

"etto... Permisi apakah ini kelas Rayumi Hana-senpai?" seorang siswi dengan dasi berbentuk pita bergaris satu tengah bertanya pada Amakusa Mato--si ketua kelas.
"Ya dia di dalam, mungkin sedang berpacaran dengan Kuroto" jawab Amakusa tak acuh.
Siswi berambut model belah tengah itu segera memasuki kelas 2-1 setelah berujar permisi.
"Rayumi Hana-senpai?" gadis itu mendekati Hana yg tengah mengerjakan sesuatu di bukunya.
"Eh ya?"
"Ano, Kikuri Shu-senpai meminta anda ke klub misteri sekarang"
"Oh baiklah" Hana segera menata buku-bukunya yg berantakan lalu beranjak mengikuti adik kelasnya itu.
Tanpa Hana sadari lagi-lagi sebuah tatapan dingin terus memperhatikannya sedari tadi.
Read More ->>

Kamis, 13 November 2014

Yami no Ai [Chapter 115]

Chap 115

Bertambah lagi satu misteri yg mengganggu jalan pikiran Hana.
Kakak kelas yang selama ini ia kenal sebagai pacar sahabat hyperactive-nya--si Shiro--ternyata mengenal si raja iblis Kuroto Yoshiki!
"Apakah kau juga iblis...?" akhirnya Hana melontarkan kembali pertanyaannya.
"Tidak. Saya manusia"
"Lalu... Kenapa?"
"Akan saya ceritakan jika anda mau meneguk 2 kapsul obat yg saya berikan secara langsung" tawar Tomoaki.
"Meneguk langsung? Apa tidak bisa kalau dilarutkan dengan es krim atau ditaburkan dengan roti? Obat itu pahit Tomoaki-senpai!"
"a-a" Tomoaki menggeleng. "Jika dilarutkan dengan sesuatu yg manis, percuma obat itu diminum"
"Apa tidak ada syarat yg lain!?" Hana masih tidak mau mengalah.
"Jika anda begitu ingin tahu cerita saya maka itulah syaratnya" Tomoaki menyeringai tipis.
"Uh! Awas saja jika kau berbohong!"
"Tidak, percaya pada saya My Lady" Tomoaki menyodorkan 2 buah kapsul berwarna kuning.
Awalnya Hana menatap nanar 2 kapsul berukuran kecil di tangan Tomoaki.
Tapi rasa penasarannya mengalahkan segalanya.
Segera disambarnya kedua kapsul itu lalu ditegaknya bersama segelas air putih.
Mati-matian Hana menelan kedua kapsul itu. Baru kali ini dia berhasil dipaksa meminum obat secara langsung, tanpa pelarutan seperti biasa.
"ahahaha, memangnya ada apa dengan meneguk obat secara langsung?" Tomoaki terkekeh pelan.
"pahit!" jawab Hana.
"Baiklah sesuai janji akan saya ceritakan...." Tomoaki mulai bercerita.
"Pada masa Showa, nenek moyang keluarga Hide melakukan perlawanan terhadap penguasa setempat. Tapi para penguasa selalu berhasil mengalahkan pasukan keluarga Hide. Kakek moyang keluarga Hide yg merasa terpojok melakukan ritual 'Faust' jika disebutkan di zaman ini. Yaitu pemanggilan iblis. Dilakukanlah perjanjian, dan kebetulan yg menaggapi ritual waktu itu adalah My Lord sendiri. Ia menjanjikan kemenangan, sementara itu ia meminta bayaran yaitu dengan membuat seluruh keluarga Hide turun-temurun menjadi pengabdi setia My Lord. Dan keesokan harinya setelah fajar menyingsing, pasukan Hide segera menggempur habis pasukan penguasa yg jumlahnya berkali-kali lipat pasukan Hide. Kami menang. Sesuai perjanjian, kami keluarga Hide di seluruh dunia menjadi pengabdi setia My Lord. Walau kami seorang manusia. Oleh sebab itu kami lumayan tahu mengenai kehidupan My Lord. Tapi mulut kami sudah terkunci, sehingga tidak bisa bercerita mengenai apapun yg berkaitan dengan 'iblis' kepada manusia lain" Tomuro mengakhiri ceritanya.
"Oh begitu" Hana hanya ber-ooh ria.
Tomoaki memasangkan beberapa kasa di hidung Hana, lalu diakhiri dengan membalutkan perban di sekitar hidung Hana.
"Ngomong-ngomong tadi itu Tou-san dari Tomoaki-senpai?"
"Uhm? Iya. Tou-san mendiskusikan tentang perawatan anda di ruah sakit utama di Tokyo. Sekitar 4 hari kedepan hidung anda akan sembuh seperti semula"
"Ha? Secepat itu? Hanya 4 hari?"
"iya... Mungkin penyembuhannya bisa dipercepat karena kekuatan dari tubuh anda"
"Hmm" Hana hanya berguman.
Read More ->>

Rabu, 12 November 2014

Yami no Ai [Chapter 114]

Chap 114

Diikuti oleh 2 'rekan' Yoshiki tadi.
Hana segera bangkit dari duduk manisnya untuk menyambut kedatangan ketiga pria tersebut.
Yoshiki langsung duduk di samping Hana. Dan dua pria yg dibelakang Yoshiki langsung duduk di sofa yg bersebrangan dengan Yoshiki. Hana akhirnya juga ikut duduk.
"Hn. Bisa berikan berkasnya?" ujar Yoshiki.
Hana masih terbingung. Kenapa ia disini? Ada hubungannya kah pertemuan kedua pria di depannya dengan dirinya? Dan lagi, Hana sangat penasaran dengan pemuda bermantel di sebelah si pria paruh bayah yg kini tengah menyerahkan sebuah map kuning.
Yoshiki membuka map kuning tersebut lalu mengambil lembaran dari map itu. Ternyata lembaran yg ada di map itu berisi hasil cetak sinar x rotgen.
Hana tahu betul apa yg dilihat Yoshiki. Sebuah hasil rotgen dari tulang hidung yg retak kecil. Itu hasil rotgennya!
Memang kapan Hana melakukan tes rotgen? Oh ya, setelah Tomoaki menyuntikan bius pada dirinya, mendadak ia terpaksa harus tertidur. Mungki saja saat itu.
"Hn. Tomoaki kau periksa lagi dia. Aku ingin bicara dengan ayahmu berdua."
Tunggu? Yoshiki bilang siapa? 'Tomoaki'?
Hana mendongkakkan kepalanya seketika.
"Yes, My Lord" pemuda pirang bermantel hitam itu bangkit sambil melepas topinya. Menampakan kacamata dan mata biru lautnya.
"Tomoaki-senpai!?" mulut Hana terngangan kaget.
Tomoaki tersenyum. "Mari ikut saya My Lady"
Hana masih tak bergeming dari tempatnya. Tapi sebuah denyutan kecil di hidungnya membuatnya harus berdiri dan mengikuti Tomoaki.
"sepertinya efek Amfethamin-nya sudah hampir habis" guman Tomoaki sambil menuntun Hana ke arah yg akan mereka tuju.
Onix Yoshiki sempat melirik keduanya pergi. "Jika kau berani macam-macam akan kubunuh kau" ucapan dingin Yoshiki hampir bisa membuat Tomoaki bergidik ngeri.
"serahkan pada saya" hanya itu yg bisa Tomoaki jawab.

Akhirnya keduanya sampai pada ruangan beranjang. Jaraknya sekita 4-5 ruangan dari ruangan Yoshiki dan si pria paruh baya tadi.
Hana masih memegangi hidungnya yg mulai terasa gatal aneh.
Tomoaki mendudukan Hana di pinggiran ranjang putih di ruangan itu. Di samping ranjang itu terdapat meja kecil yg diatasnya sudah tertata rapi beberapa perlatan kedokteran milik Tomoaki.
Pemuda blonde itu menyiapkan jarum suntik berisi amfethamin di dalamnya. Disuntikannya cairan itu ke dalam tubuh Hana dengan volume kecil. Hanya untuk mengurangi rasa sakit dari retaknya tulang Hidung Hana.
"Oke, sekarang bisa dongkakkan kepala anda My Lady?"
Hana melaksanakan permintaan Tomoaki. Anak sulung keluarga Hide itu segera menyalakan senter kecilnya dan mengarahkannya pada hidung Hana.
"errr... Yosh! Luar biasa seperti biasa. Tahap penyembuhannya sangatlah luar biasa!" Tomoaki mematikan kembali senternya. Ia sekarang sibuk dengan peralatannya di meja.
"Tomoaki-senpai... Kenapa kau disini?"
pertanyaan Hana membuat Tomoaki mengehentikan pekerjaannya barang setengah menit.
"Keluarga Hide adalah pengikut setia suami anda"
ucapan Tomoaki sangatlah mengejutkan bagi Hana.
Read More ->>

Selasa, 11 November 2014

Yami no Ai [Chapter 113]

Chap 113

Sementara di ujung meja makan persegi panjang itu tertata 2 kursi. Salah satunya telah diduduki Yoshiki yg kini sudah menikmati hidangan di depannya. Dari caranya menikmati hidangannya, jelas terlihat kalau ia seorang bagsawan.
Hana berjalan memasuki ruang yg temboknya tak dibiarkan kosong tapi dipenuhi oleh lukisan-lukisan berkelas.
"Dozo My Lady" Misaki yg sudah mendahului Hana berada di samping kursi kosong yg berada di ujung meja makan persegi panjang itu.
Yoshiki masih sibuk menikmati hidangannya.
Hana menduduki kursi yg disediakan Misaki. Setelah Hana merasa nyaman dengan posisinya, Misaki segera membuka lampin dan membeberkannya di pangkuan Hana.
"arigatou, Misaki-san" senyum Hana. Misaki balas tersenyum. Lalu mulai menghidangkan beberapa macam hidangan yg ada pada sebuah piring B&B kecil untuk Hana.
"Hn. Kau lama" guman Yoshiki sambil mengelap mulutnya--padahal sebenarnya tidak ada bercak noda di sekita mulutnya.
"Eh maaf, aku kesulitan untuk melepas perbannya. Padahal sudah dibantu Misaki"
"Hn"
"Ngg, kenapa kau mengajakku sarapan bersama? Apalagi sepertinya... Aku hanya tamu dadakan disini" ujar Hana setelah saphirenya mengelilingi seisi meja makan.
Memang tak hanya ada Yoshiki dan Hana. Tapi juga ada seorang pria bermantel hitam, disamping pria itu ada seorang pemuda berambut blonde namun mengenakan sebuah topi sehingga membuat Hana melihat jelas wajah si pemuda.
"Hn. Makanlah makananmu" Yoshiki menyandarkan tubuhnya pada kursi tempatnya. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel mininya. Setelah itu pandangannya semakin fokus ke arah benda mini itu.
Hana yg melihat Lasagna tersaji bersama beberapa pasta di sampingnya membuat dirinya tak bisa menahan gejolak lapar perutnya. Segera disuapkannya Lasagna di piringnya setelah ia potong dengan pisau--tentu saja dengan sedikit kesusahan.
Andai Hana sedang dirumahnya, seorang diri, ia pasti sudah berteriak "ukhh! Sugoii!!". Tapi ditahannya. Matanya terpejam menikmati tiap lelehan pasta di mulutnya.

Jujur saja, Hana masih belum mau berhenti makan. Ia masih ingin menghabiskan Tiramisu Cake tadi. Tapi apa boleh buat, Yoshiki dan 2 rekannya--begitulah anggapan Hana--sudah beranjak dari meja makan. Mana mungkin ia masih menempel di meja makan dan memakan Tiramisu Cake seorang diri? Dan itulah alasan sekarang Hana berada di sebuah ruangan yg cukup luas. Dengan segala perabotan mewahnya. Beserta sofa empuk yg kini didudukinya.
'Ada apalagi memang?' Tanya Hana dalam hati. Tadi tiba-tiba saja Misaki mengantarkan Hana ke ruangan asing ini.
Kemana Yoshiki? Pasti dia sedang menemani rekannya. Oh ayolah, kenapa tadi tidak biarkan ia setidaknya membawa Tiramisu Cake untuk bekal mengemil di tempat asing ini. Ruangan bercat dominasi hijau ini memang nampak asing walaupun dalam satu manor dengan istana utama. Tapi Hana masih belum paham seluruh ruangan di istana Yoshiki!
CKLEK
Pintu putih ruangan itu yg sedari tadi tertutup kini terbuka menampakan sosok Yoshiki yg sudah berseragam sekolah.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 112]

Chap 112

SRAK...
Sebuah suara gorden diseret, dan kilau cahaya matahari terpaksa membuat Hana menampakan saphire indahnya. Perlahan setelah ia memicingkan matanya untuk membiasakan pupilnya dengan intensitas cahya yg ada akhirnya matanya terbuka normal.
"Ohayou My Lady. Anda lupa mengunci pintu anda. Maaf jika saya lancang" Misaki--miad yg biasa bertugas untuk membantu Hana terlihat tengah menuangkan sebuah teh pada cangkir keramik bermotif.
'Early tea' guman Hana. Ia hafal dan tahu persis kebiasaan di manor--ralat, istana--Yoshiki.
Misaki memberikan secangkir early tea yg segera Hana terima dan diminumnya perlahan.
Selagi Hana menyesap tehnya, Misaki dengan perlahan melepas perban yg melilit di antara tulang pipi kanan, hidung, tulang pipi kanan, dan sampai belakang kepala Hana. Lalu dilepasnya perlahan kasa yg digunakan untuk melindungi luka bekas jahitan pada hidung Hana. Sudah agak sedikit kering.
"Kalau begitu aku mandi dulu ya Misaki" setelah berpamitan dengan Misaki, Hana segera menuju kamar mandi pribadi yg ternyata sudah Yoshiki sudah sediakan di dalam kamar itu.
Misaki yg menunggu selesainya ritual mandi Hana, mulai menyiapkan segala perlengkapan Hana.

Setelah mengeringkan rambut pendeknya dengan handuk, Hana bergegas mengnakan seragamnya secepat mungkin.
Misaki sudah tidak ada di kamarnya, entah Hana tak mau repot-repot memikirkan kepergian maid itu.
"My Lady" bunyi ketukan pintu mengiringi suara Misaki yg terdengar dari luar kamar Hana.
"Ya, Misaki?" sahut Hana.
"My Lord menunggu anda untuk breakfast bersama. Apa anda sudah selesai?"
"sebentar. Aku tinggal menyisir rambutku!"
Misaki memilih menunggu keberadaan Hana. Sampai akhirnya pintu kamar yg sedari tadi tertutup, akhirnya terbuka dengan menampakan Hana yg sudah mengenakan seragam lengkap.
Misaki membungkuk sebentar. Lalu berjalan mendahului Hana. Hana segera mengikuti langkah Misaki. Sementara tangan kanannya masih sibuk membawa tas sekolahnya.

Sudah 3 kali Hana melewati "perempatan" di lorong istana Yoshiki. Kakinya sudah mulai bosan melangkah pelan-pelan seperti ini. Jika saja ia tahu dimana letak ruang makan, ia pasti akan berlari meninggalkan Misaki sekarang. Tapi masalahnya ia sama sekali tidak tahu dimana lokasi ruang makan. Jangankan lokasi, Hana saja masih bertanya-tanya bagaimana keadaan di ruang makan nantinya.
Tidak biasanya Yoshiki mengajaknya makan pagi bersama.
Akhirnya langkah Misaki berhenti juga di depan ruangan besar berdaun pintu dua. Misaki membuka salah satu daun pintu perlahan. Hana sudah tidak sabar. Ia begitu ingin melihat isi ruang makan.
Begitu saphirenya mengetahui isi ruang makan di manor Yoshiki, saphire itu tak henti-hentinya terbuka lebar. Takjup.
Bayangkan saja, di depan mata sudah terlihat sebuah ruangan luas. Berisi meja persegi panjang, dengan beberapa kursi di setiap beberapa centimeter. Di atas meja tersebut tertata rapi hidangan-hidangan italia. Seperti Tortelini, Lasagna, dan beberapa makanan lain yg Hana tak tau apa namanya.
Read More ->>

Minggu, 09 November 2014

Yami no Ai [Chapter 111]

Chap 111

Ia masih belum bisa dan yakin.
Ditatapnya wajah Hana yg berpeban di sekitar hidung dengan sendu.

"Ohayou..." ucapan Yoshiki membuat kerlapan demi kerlapan mata Hana terbuka semakin lebar.
Ia mengerang sebentar. Rasa nyeri masih terasa di hidungnya. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana ia disikut oleh pemain tim F.
Hana terdiam sejenak. Tangannya menyentuh secara perlahan perban-perban yg menutupi hidungnya.
"Hidungmu retak. Tapi dengan pengobatan berkala akan sembuh" ucapan Yoshiki mengalihkan pandangan Hana dari hidungnya ke arah pria itu.
"Yoshiki-kun... Terima kasih. Maaf sudah merepotkanmu" guman Hana.
"Hn"
Hana kembali menatap hidungnya yg terperban.
"Mulai besok kembalilah ke tempatku"
ucapan Yoshiki lagi-lagi membuat Hana mengalihkan pandangannya ke arah pria itu. Namun kali ini dengan refleks yg sangat cepat.
"Eh?"
"Setidaknya kau butuh bantuan untuk memasang kembali perban-perbanmu"
Hana hendak menyangkal ucapan Yoshiki, namun ia sadar memang menyusahkan bila harus memasang perban dengan rapi.
Hana hampir saja mengangguk, begitu ia sadar jika keadaannya yg tinggal di tempat Yoshiki akan menguntungkan Yoshiki.
Melihat Hana yg tak segera menjawab ajakannya Yoshiki segera bangkit dari tempatnya.
"Ini tasmu. Kelas sudah berakhir 3 jam yg lalu. Sekarang sudah malam. aku sudah menyiapkan ruang khusus untukmu kali ini, bukan di kamarku jika kau takut aku melakukan hal-hal yg tak kau inginkan. Tapi itu terserah apa maumu"
"... Aku ikut"
Yoshiki segera membawa tas Hana dan segera membantu Hana yg agak kesusahan turun dari ranjang UKS.

"wow hidungmu kenapa? Jangan bilang kalau Yoshiki kelaparan lalu mengigit hidungmu!?" Tomuro yg hendak menuju ruang arsip tidak sengaja berpapasan dengan Hana dan Yoshiki.
"Memang begitu" guman Hana malas.
"Ha? Sungguh?" Tomuro menatap Yoshiki meminta penjelasan.
"Hn"
"Oh ya. Aku ingin bicara denganmu sebentar" Tomuro segera berjalan menjahui Hana. Yoshiki mengikutinya dari belakang.
"Tentara-Nya sepertinya sudah mencium keberadaan Hana. Kau harus segera melakukannya Yoshiki" bisik Tomuro begitu ia yakin suaranya tak akan terdengar Hana yg kira-kira sudah 7 darinya.
"Hn" Yoshiki berguman. Tapi dibalik gumanannya itu ia berfikir. Berfikir keras malah.
"Dengarkan aku Yoshiki! Dia sudah menjadi milikmu hati, jiwa, cinta, dan tubuhnya--seperti keinginanmu! Sekarang saatnya meresmikan semuanya dengan melakukan perjanjian darah!"
"Hn" Yoshiki kembali berguman lalu meninggalkan Tomuro.

"Ini kamarmu" Yoshiki mengantarkan Hana ke sebuah ruangan berukuran sedang--bagi Yoshiki. Perabot normal berisi ranjang king size, lemari pakaian, bufet, lampu tidur, dan beberapa rak berisi buku.
"setidaknya sampai retak hidungmu sembuh kau harus disini. Ini kuncimu jika kau tidak mempercayaiku" Yoshiki memberikan sebuah mata kunci pintu yg di tutupnya. Meninggalkan Hana sendirian di kamar itu.
Read More ->>

Sabtu, 08 November 2014

Yami no Ai [Chapter 110]

Chap 110

segera seluruh lapangan dihebohkan dengan kasus yg baru saja terjadi. Bukannya ribut mengenai kecelakaan Hana, yg diributkan malah Kuroto Yoshiki--si pangeran idaman--menggendong Rayumi Hana ke UKS.
"Aku melihatmu nomor 3. Kau sengaja menyikut Hana kan?"
Yang merasa dirinya disebut hanya terdiam.

Yoshiki yg menggendong Hana secara terburu-buru akhirnya sampai juga di depan ruang UKS. Begitu membuka pintu munculah seorang berpakaian serba putih dengan rambut blondenya.
"Tomoaki!" Yoshiki berteriak panik meneriakan nama si penjaga UKS.
Direbahkannya tubuh Hana yg masih menahan sakit di hidungnya di ranjang putih UKS.
Darah dari hidung Hana terus merembes membasahi tangan, baju, leher dan sampai ranjang putih UKS.
"Tenang. Semua harap keluar. Biarkan aku dan Kuroto Yoshiki disini!" ucapan Tomoaki membuat semua petugas kesehatan yg bertugas segera keluar ruangan dan menutup pintu.
"My Lady jangan panik. Tolong sedikit dongkakkan kepalamu"
Hana melepaskan pegangan tangannya pada hidungnya dan segera mendongkak menuruti perintah Tomoaki.

Setelah beberapa jam akhirnya Yoshiki bisa merilekskan tubuhnya yg tegang.
Sedari tadi ia tak bisa tenang dan fokus. Ia harus mengontrol pikiran manusia se Mirai Gakoo untuk meyakinkan Hana tak perlu dipanggilkan dokter.
Sementara pikirannya sendiri tak bisa melepaskan barang sedetik Hana yg terus menahan sakit di hidungnya yg ternyata retak sedikit dan ada luka robek tipis--walau sangat kecil--yg harus dijahit Tomoaki.
Sudah 6 jam berlalu sejak insiden kecelakaan Hana. Tomoaki harus mati-matian berusaha memberikan upaya terbaik bagi istri tuannya. Untung ia bisa. Tentu saja, ia adalah Tomoaki Hide. Calon kepala pemimpin rumah sakit besar Tomoaki.
"Biarkan My Lady istirahat My Lord, sepertinya retakan dihidungnya bisa disebuhkan dengan perlahan mengingat umur My Lady masih muda."
"Apa maksudmu? Kau tidak bisa menyembuhkannya secara instan?"
"My Lord, saya bekerja sendiri disini. Saya tak menggunakan kekuatan apapun. Hanya berbekal perlengkapan kecil saya, maka hanya begini yg saya bisa. Maafkan saya My Lord"
"ck! Tidak adakah cara menyembuhkannya secara langsung!?" Yoshiki berdecak sambil menjambak rambut ravennya.
Sungguh, ia benar-benar tak ingin melihat Hana yg menahan sakit di hidungnya. Itu seperti mimpi buruk rasanya. Orang yg berani membuat miliknya terluka akan mendapat balasan yg setimpal. Yoshiki akan memastikan itu.
"ada My Lord"
ucapa Tomoaki refleks membuat Yoshiki menatap tajam Tomoaki.
"dengan melakukan 'perjanjian darah'"
Yoshiki membeku mendengar lanjutan ucapan Tomoaki.
Benar. Perjanjian darah adalah jawaban yg tepat. Dengan mengubah Hana menjadi iblis akan melepaskan segala penderitaan jasmaninya.
Tapi setelah itu... Ia masih belum bisa mengetahui kelanjutannya. Bagai film yg terpotong ditengah-tengah. Masihlah tanda tanya besar.
Lalu apa yg akan terjadi setelah Hana telah menjadi iblis? Bahagiakah Hana? Atau justru Hana malah terpuruk karena ekstensi manusia dan iblis?
Read More ->>

Jumat, 07 November 2014

Yami no Ai [Chapter 109]

Chap 109

Wajah Hana memerah seketika mendengar ucapan Yoshiki. "Ti-tidak begitu! Syukurlah kalau begitu! Kau tidak menyentuh salah satu bagian tubuhku secara sembarangan kan? Kau tidak mencuri cium kan?" Hana perlahan memundurkan tubuhnya satu langkah sambil tangannya disilangkan entah untuk apa--untuk melindungi dada datarnya mungkin.
Seketika semua mata tertuju pada Hana.
"Eh-eh? Hanya bercanda" Hana mengibat-ibatkan tangannya kepada semua penghuni kelas yg menatapnya. Sepertinya kau harus belajar memelankan suaramu, Kuroto Hana.
Berhasil. Alasan konyolnya yg mengatakan "hanya bercanda" bisa mengurangi intensitas tatapan kepadanya walaupun hanya tiga perempat. Tapi setidaknya tidak seperti tadi.
"Hn. Kau berharap aku menyentuhmu waktu kau tidur?"
"TIDAK! ARGHHH! sudahlah pusing bicara denganmu!" rutuk Hana.
"Hn. Kenapa kau menggunakan seragam olah raga?"
"Ini? Aku kan akan ikut tes pemilihan tim inti untuk basket musim dingin!" jawab Hana bersemangat.
"Doakan aku berhasil ya Yoshiki-kun!"
"Hn. Doa? Yang benar saja" Yoshiki tersenyum dengan tatapan mengejek.

"Baiklah! Tim E dengan Tim F! Priiit" peluit dibunyikan tanda permainan basket telah dimulai.
Suara decitan sepatu karet dan pantulan bola basket pada lantai menggema seketika di lapangan indoor basket Mirai no Gakoo.
Hana yg berada di tim E sudah mendrible bola. Melewati beberapa musuh di tim F lalu melemparkan bola basket ke arah ring dari luar. Masuk.
"Priit! E 3 point!"
permainan kembali dilanjut.
Hana semakin terbakar suasana. Keringatnya sudah membasahi seluruh tubuhnya.
"Rayumi!" refleks Hana segera melompat untuk menerima shot dari teman setimnya. Ia segera melanjutkan dengan melemparkan bola itu ke ring.
"Masuk! E 3 Point!"
Yoshiki terdiam menatap permainan Hana. Ia bersandar pada selasar besi.

Permainan terus berlanjut sampai skor menunjukan angka 56-50 dengan tim E memimpin.
"Sedikit lagi!" teriak Hana. Kini ia bersiap melakukan lay-up.
Ketika hendak melemparkan bola ke dalam ring tiba-tiba...
DRAK...
Sebuah siku tangan menabrak keras hidung Hana hingga membuat Hana jatuh terguling ke lantai.
Bola terpantul keluar lapangan.
Tangan Hana masih sibuk memegangi hidungnya.
"RAYUMI HANA!" Seketika seluruh pemain, panitia, bahkan penonton pun mengerubungi Hana.
"arg---" Hana merintih tertahan.
"HANA!" teriak Yoshiki panik.
Ia segera melesat memaksa masuk ke dalam kerumunan orang yg melihat keadaan Hana.
Dilihatnya Hana dengan kedua tangan menutupi hidungnya. Begitu didekati ternyata hidung Hana berdarah banyak. Bahkan sampai menetes-netes di lantai.
Dengan sigap diangkatnya tubuh Hana ala bridal style. Tapi wajahnya nampak kaku dan cemas.
"minggir!" teriaknya pada kerumunan orang yg segera memberi jalan pada Yoshiki.
Hana masih terus merintih.
Petugas kesehatan segera mengikuti Yoshiki yg sedang mengangkut Hana ke UKS.
"Hei, itukan Kuroto Yoshiki?"
"Benar. Kenapa ya?"
"Dia menggendong Rayumi! Kyaaa aku juga mau!"
"Ck! Lagi-lagi cari perhatian"
"Kuroto Yoshiki menggendong Rayumi?"
Read More ->>

Kamis, 06 November 2014

Yami no Ai [Chapter 108]

Chap 108

"Masih pukul 9 malam" Hana melirik jam ponselnya.
Tiba-tiba ponsel kecilnya itu bergetar menunjukan sebuah logo pesan di tengahnya--tanda email masuk.
Dibukanya segera email masuk yg membuatnya penasaran.

From: Taichou
Besok latih tanding untuk penentuan siapa saja yg akan ikut untuk Winter Cup.

"Jadi aku masuk juga? Kyaaaaa!!" Hana bersorak kegirangan setelah membaca email dari ketua basket--si king kong.
Yoshiki hanya melirik tingkah Hana.

To: Taichou
Pasti! Aku pasti akan ikut!
SEND

Hana menatap ponselnya dengan berbinar. Akhirnya turnamen basket yg ditunggunya selama sebulan membuahkan hasil.
"Hn. Ada apa?"
akibat kegirangannya, Hana melupakan si makhluk sempurna tengah duduh di tempat yg sama dengannya.
"Eh... Itu basket. Taichou memberiku kesempatan Yoshiki! Kyaaaa!!" Hana berteriak lagi sambil menatap Yoshiki. Sepertinya Hana harus belajar mengendalikan dirinya.
"Hn"
"semoga aku lolos seleksi dan masuk tim inti! Lalu aku akan ikut klub Misteri berkemah lalu... Lalu..."
"Tunggu. Kau akan berkemah?"
"uhm. Iya"
Yoshiki terdiam.
"Kenapa?"
"Hn. Tidak"
"Kau menyebalkan"
"Hn"
"Semakin menyebalkan"
"Hn"
"mooou! Cukup 'Hn'mu itu sangat-sangat menyebalkan!"
"Hn"
perempatan siku muncul di dahi Hana. Entah kenapa ia baru sadar bahwa pria yg pernah--dan sampai sekarang--ia cintai sangat menyebalkan.
"Aku tidur!" ucap Hana kesal. Ia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Agar Yoshiki tak bisa melihat semua "kelakuannya" saat tidur.
"Hn. Percuma kau tutupi. Tingkahmu saat tidur sangat banyak. Tanpa susah payah aku membuka selimut itu, selimut itu sudah terbuka sendiri"
"Dasar mesum" gumanan Hana terdengar dari balik selimut.
Bibir Yoshiki agak tertekuk membentuk senyuman tipis mendengar ucapan Hana.

Sudah 2 jam sejak Hana menutup dirinya dengan selimut. Jam sudah hampir menunjukan tengah malam.
Yoshiki meregangkan tubuhnya. Di letakannya lembaran di tangannya yg nampaknya berisi autonomi tubuh manusia. Yoshiki menghembuskan nafas berat.
"manusia... Hmm" gumannya.
Ia mengganti posisinya yg membelakangi wanita yg tertidur pulas di belakangnya hingga kini wajahnya mendekati wajah damai Hana yg tengah tertidur. Bahkan Yoshiki bisa merasakan hembusan nafas kehidupan mengalir keluar masuk dari hidung Hana.
"aku benar-benar tak ingin merampas nafas hidup yg telah diberikan-Nya kepadamu..." guman Yoshiki.
Tangan pucat Yoshiki perlahan mengelus puncak kepala Hana.
Hana sedikit menggerang, namun kembali tertidur pulas.
'Chu' dikecupnya perlahan puncak kepala Hana. Cukup lama. Sampai akhirnya ia mengakhiri dengan berat hati.
"Oyasuminasi My Lady... My Wife" Setelah itu Yoshiki segera turun dari ranjang Hana. Dan menghilang dalam kepulan asap kecil.

"Hey! Kenapa kemarin kau menghilang begitu saja sih!?" Hana langsung menggebrak meja Yoshiki begitu ia selesai menaruh tas beratnya di bangkunya.
"Hn" Yoshiki hanya menatap Hana datar.
Hana menatap Yoshiki bosan.
"Memang kau menginginkan aku tidur di sampingmu sampai pagi?"
Read More ->>

Rabu, 05 November 2014

Yami no Ai [Chapter 107]

Chap 107

"Ukh! Sebenarnya apa maumu!? Aku hanya budakmu kan? Kenapa kau begitu mengekangku?"
Gigi Yoshiki semakin bergemelatuk mendengar ucapan Hana.
Ia sudah tidak sanggup lagi melanjutkan hal ini.
"Hn" Yoshiki tak menggubris Hana, ia melangkahkan kakinya meninggalkan Hana.
"Aku tidak mengerti...." ucap Hana. "Aku mohon Yoshiki-kun! Sembuhkan kaki Ahashi-kun supaya ia bisa mengikuti pertandingannya! Bagaimanapun juga ini salahku!" Hana memegangi lengan baju Yoshiki.
"Hn. Kau menyuruhku menyembuhkan orang yg telah berani-beraninya menyetuh istriku sembarangan?"
Ucapan Yoshiki refleks membuat Hana tertegun.
"Aku mohon Yoshiki! Jika perlu aku akan membiarkanmu menyentuhku malam ini! Ini semua salahku! Aku mohon!" Hana beralih ke depan tubuh Yoshiki dan menatap wajah Yoshiki dengan pipi basah oleh air mata.
"Kenapa kau... Rela seperti itu demi dia?"
"Aku mohon Yoshiki-kun..."
Yoshiki meneruskan jalannya tanpa menjawab lagi ucapan Hana.
"Eh?" permintaan Hana tak dikabulkan Yoshiki sepetinya. Hana mendongkak untuk meminta penjelasan.
"Akan kusuruh Tomuro untuk melakukannya nanti" ucapan Yoshiki seolah menjawab pertanyaan Hana.
Air mata berhenti wajah Hana. Jawaban Yoshiki barusan sudah cukup menghentikan laju air matanya.

Malam harinya, Yoshiki mendatangi kediaman Rayumi. Kemungkinan besar adalah untuk menagih janji Hana tadi siang.
"Menagih janji?" tanya Hana saat melihat sosok Yoshiki di ambang pintunya.
"Hn" Yoshiki langsung memasuki kediaman Rayumi begitu saja.
Hana tersenyum miris sambil menutup kembali pintu depan.
Ketika ia memasuki kamarnya, di dapatinya Yoshiki tengah terduduk di pinggiran ranjang queen size-nya sambil mengotak-atik hp canggihnya.
"Hn. Sudah siap?"
"ehm..." Hana mendekati Yoshiki. Ia hanya mengenakan piyama tidur putihnya.
Hana sudah memutuskan akan melakukan ini. Memang ini adalah salahnya. Ahashi sudah nampak baik-baik saja tadi. Dan nampak seperti tidak terjadi apapun.
Saat Hana menaiki ranjangnya tiba-tiba sebuah hentakan menariknya. Seperdetik berikutnya ia sudah ada dibawah seorang pria yg amat dikenalnya. Menatapnya bagai hewan buas kelaparan.
Hana memejamkan matanya. Bagaimanapun walau ia sudah berkali-kali menguatkan hatinya, tapi rasa trauma masih menguasainya.
"Hn. Maaf sudah memperkosamu waktu itu"
Saphire Hana terbelalak sempurna mendengar ucapan pria diatasnya.
"Eh?"
"Hn. Sekarang aku hanya ingin melihatmu tidur"
lagi, ucapan Yoshiki membuat Hana kaget untuk kedua kalinya.
"Eh? J-jadi janjinya..."
"Hn. Tidurlah" Yoshiki kembali ke posisinya dari awal--yaitu duduk di tepi ranjang.
Hana cepat-cepat kembali merapikan piyamanya yg sepat bernatakan.
Jujur saja wanita berambut kelam sebahu itu sudah berkali-kali menghela nafas lega karena janjinya telah dilupakan. Dan digantikan oleh keinginan aneh... Melihat dirinya tidur? Cukup lucu untuk pria sejenis Kuroto Yoshiki.
"T-tapi ini masih teralalu sore untuk tidur" Hana terduduk di pojokan ranjangnya.
Sementara Yoshiki masih terdiam membelakangi Hana.
Read More ->>

Selasa, 04 November 2014

Yami no Ai [Chapter 106]

Chap 106

"Baiklah kuterima tantanganmu Kuroto. Giant! Wasit!" teriak Ahashi.
Munculah seorang siswa berbadan cukup gendut.
"Kau yakin Raito?" tanya siswa itu.
"Huh, siswa yg terkenal karena ketampanannya tiba-tiba mengajakku bertanding. Akan kuhancurkan semua harga dirinya" guman Ahashi sambil berlari menuju posisinya.
Yoshiki tahu persis apa yg ada di pikiran Ahashi. Termasuk semua rencana untuk mengalahkan Yoshiki.
Yoshiki dengan seringainya mulai men-service Ahashi.
Permainan dimulai. Semua gadis seakan bersorak mendukung pangeran mereka. Bahkan para siswa yg awalnya tak ingin ikut andil menonton pertandingan, jadi ikut tertarik melihat.
"Masuk. Bola Kuroto" teriak Giant.
Ahashi menatap nanar bola yg baru saja terpantul dihadapannya.
Seluruh siswi bersorak kegirangan.
Permainan kembali dilanjutkan.
"Masuk. Bola Yoshiki"
lagi dan lagi point Yoshiki terus bertambah.
" 2-10 " ujar Giant yg nampak tidak percaya akan hasil. Raito Ahashi--sahabatnya--kalah telak.
Ahashi yg sudah kehilangan semangatnya karena tertinggal jauh semakin bermain aneh.
Yoshiki tersenyum sinis menatap Ahashi.
Akhirnya sang raja iblis memberi kesempatan kepada musuhnya untuk melakukan reli. Sebuah reli yg sangat panjang dan lama. Tapi semua bola selalu diarahkan Yoshiki ke sisi kanan dan kiri bergantian. Membuat Ahashi harus bergerak ke kanan dan ke kiri selincah mungkin.
'bagus, sedikit lagi!' Yoshiki menghantamkan raketnya ke bola sekuat tenaga. Membuat bola itu terpantul ke arah kiri jauh dari Ahashi.
"gawat!" batin Ahashi. Siswa kelas 2-4 itu segera menuju arah bola dengan melompat.
KRAK-
Persendiannya kaki kanan yg ia gunakan untuk bertumpuh terasa nyut-nyutan.
"arghhh!!" Ahashi tersungkur ke tanah lalu tangannya mencengkram kakinya ke sakitan.
Semua nampak kaget dan segera mengerubuti Ahashi. "panggil perawat UKS!" teriak semuanya panik.

Langkah kaki yg terkesan terburu-buru dengan hentakan kuat menggema di koridor sekolah. Padahal jam sekolah sudah berakhir setengah jam yg lalu. Seharusnya sekolah sudah hampir sepi.
Tidak tidak, jangan berfikir itu hantu. Justru sebaliknya itu adalah Hana yg tengah berlari.
"Yoshiki-kun!"
Akhirnya sosok yg dicarinya ketemu juga. Tak diduga pria itu sedang berjalan di daerah lorong laboratorium.
"Hn" Yoshiki berbalik.
"Bagaimana kencanmu dengan pangeran tennis itu?" lanjut Yoshiki.
PLAK!
Sebuah tamparan kasar membuat pipi pucat Yoshiki memerah.
"Kau....! Kau.... Kenapa kau melakukan itu kepada Ahashi-kun! Minggu depan dia ada pertandingan! Kau sudah menghancurkan impiannya!" air mata membanjiri pipi Hana.
Yoshiki hanya menatap Hana nanar. Ia baru saja di tampar oleh wanita di depannya.
"Hn" Yoshiki kembali berbalik. Ia menyandarkan tubuhnya ke arah dinding di sampingnya.
"Kau... Selalu saja membela pria lain. Kau tahu aku tidak suka melihatmu berdekatan dengan pria lain..."
"Tapi aku hanya belajar tennis!"
"Kau bisa belajar denganku. Aku akan mengajarimu" guman Yoshiki.
Read More ->>

Senin, 03 November 2014

Yami no Ai [Chapter 105]

Chap 105

Hana menunduk. Kepalanya sekarang penuh dengan berbagai hal.
"Sudah ya aku pulang, ini sudah 17 menit. Aku tidak mau menangani para cerebeus peliharaan Yoshiki" POOF, tubuh Tomuro hilang begitu saja.

Dengan seragam olah raga putihnya, Hana mendatangi lapangan tenis dengan raket tenis di tangannya. Nampak percaya diri.
Di lapangan sendiri sudah ada seorang siswa berambut pirang tengah mengatur sebuah alat pelempar bola.
"Raito-kun!" teriak Hana memanggil siswa tersebut.
"Ah? Rayumi-san" siswa tersebut menatap Hana.
"Aku sudah siap!" teriak Hana yakin.
"Oh! Baiklah" Raito Ahashi segera menuju ke arah Hana.
"Baiklah begini cara memegang grip-nya" Raito mengajari Hana dasar-dasar permainan Tenis.
"Begini?"
"Bukan-bukan. Begini" Tangan Ahashi memegang tangan Hana untuk membenarkan caranya memegang grip.
"Hmmm. Lalu kau hanya cukup mengayunkannya jika bola datang. Oke?" Alat pelempar bola itu mulai bekerja dan melemparkan sebuah bola tenis.
TAK!
Hana tak berhasil mengenai bola itu.
"Tidak bisaaa" Hana memasang wajah murung pada Ahashi.
"Wajar kan, sini aku ajari" Ahashi berada di belakang Hana. Dengan tangan kanannya memandu tangan Hana yg memegang raket. Dan tangan kirinya berpegangan pada samping perut kiri Hana untuk menyeimbangkan tubuh Hana.
Wajah Hana sedikit memerah menyadari tangan Ahashi berada di daerah perutnya.

Kuroto Yoshiki yg tengah mengutak-atik ponselnya di atas atap sekolah hilang fokus saat melihat sosok Hana.
Ia memincingkan matanya, ternyata benar itu Hana. Dan sedang berlatih Tenis dengan siswa lain.
Onix Yoshiki melihat kedekatan yg amat sangat diantara keduanya. Perasaannya membuncah kembali. Ia segera menuruni tangga dan menuju ke arah lapangan.

Sebuah bola nampak terbang ke arah mereka, dengan sigap tangan Ahashi menuntun Hana untuk menerima bola.
TAK!
Bola itu melayang jauh karena pukulan raket Hana.
Mata Hana berbinar menatap bola itu terbang.
"BERHASILL!" Teriaknya.
"Jangan senang dulu! Bola selanjutnya datang!" Ahashi kembali menggerakkan lengan Hana.
TAK!
Bola itu kembali terbang setelah menerima pukulan dari Hana.
TAK!
Bola itu kembali ke arah Hana.
"Eh?" tak hanya Hana yg kaget, bahkan Ahashi juga kaget dan segera menghindari bola yg entah kenapa bisa kembali ke arahnya, dengan kecepatan tinggi.
"Apa!?" Ahashi menatap siapa pelaku yg ada di seberang lapangan yg ternyata ada Yoshiki.
"Yoshiki-kun!? Apa-apaan tadi!? Itu bahaya tau!" Hana segera menuju ke arah Yoshiki dan memarahi Yoshiki.
"Hn. Apa yg kau lakukan bersamanya?"
"Hah? Tentu saja latiahan tenis!!"
"Oh latihan tenis, dan sedekat itu? Sampai berpegangan seperti tadi?" sindir Yoshiki.
"A-aku k-kan belum bisa!"
"Hn. Kalau begitu akan ku uji, pantas kah dia melatihmu. Raito Ahashi, aku menantangmu bermain tenis satu set" tantang Yoshiki. Seketika lapangan dipenuhi oleh para gadis yg tertarik oleh permainan dua siswa legendaris se Mirai Gakoo. Antara Kuroto Yoshiki si pangeran sekolah, dan Raito Ahashi si pangeran tenis.
Read More ->>

Minggu, 02 November 2014

Yami no Ai [Chapter 104]

Chap 104

"Hn. Romantis sekali" Yoshiki menatap tangan Hana yg menggenggam tangan Tomuro.
"Eh?" Hana segera menatap Yoshiki.
Sementara Tomuro langsung melepaskan cengkraman tangan Hana.
"Pulanglah Tomuro" perintah Yoshiki.
"Tapi aku ada perlu dengan Tomuro-kun!"
"Hn, perlu apa?" selidik Yoshiki.
"Eh, etto...etto..." Hana nampak kesulitan menjawab pertanyaan Yoshiki.
"Dia ingin menduskisikan denganku sebaiknya anakku yg akan dikandungnya laki-laki atau perempuan" jawab Tomuro asal.
"Ehhhh!??" wajah Hana memerah mendegar penuturan Tomuro. "siapa yg mau membicarakan itu!?"
"Hn. Hentikan itu Tomuro. Aku tidak suka walau itu hanya bercanda"
"Hhh iya-iya. Sudah sana kamu saja yg kembali"
"Kuberi waktu kalian bicara 20 menit. Setelah 20 menit aku akan menyeret Tomuro keluar lalu memberikannya sebagai makanan cebereus" Yoshiki segera memasuki mobilnya dan melaju menghilang menembus kegelapan malam.

"Mau bicara apa?" tanya Tomuro.
Setelah memastikan mobil Yoshiki sudah tak terlihat Hana segera menanyakan pertanyaannya yg sedari tadi disimpannya.
"Kenapa para penghuni dunia bawah meminta Yoshiki melakukan perjanjian darah? Dengan siapa Yoshiki akan melakukan perjanjian darah?"
"Kau... Sudah seberapa tau tentang masalah ini?"
"Entahlah. Bisa beritahu aku Tomuro-kun? Aku mohon!" pinta Hana.
"Baiklah, tapi Yoshiki memberiku waktu cuma 20 menit"
"Pasti cukup! Jelaskan seringkas mungkin"
Tomuro menatap Hana sebentar lalu berujar, "Kau adalah anak yg diramalkan. Manusia yg memiliki kekuatan tak terbatas yg akan membawa perubahan di dunia. Yoshiki mengetahui kaulah orangnya maka ia memilihmu. Sebenarnya ada 2 pilihan. Jika kau jatuh pada 'Pasukan-Kristus' maka dunia selamat--kira-kira begitu. Namun kau berada di pihak kami. Yoshiki mendapatkanmu. Dia berhasil mendapatkan kekuatan dari tubuhmu. Tapi bukan berarti kami sudah menang dari mereka. Kami harus menjadikanmu bagian dari kami. Dengan melakukan perjanjian darah"
"Tunggu! Bukannya perjanjian darah tidak akan merubahku menjadi iblis? Itukan hanya untuk menandai suatu perjanjian?"
"Jadi Yoshiki sudah memberitahumu sedikit ya.... Memang benar. Tapi kau akan meminum darah Yoshiki kan?"
Hana mengangguk.
"Setelah meminum darahnya kau akan mati. Tapi jiwamu akan mendekam di dalam tubuhmu dan kau akan kembali hidup, sebagai iblis"
"Apa Yoshiki melakukan itu pada semua iblis?"
"Tidak. Setahuku Yoshiki tidak pernah melakukan perjanjian darah. Bahkan aku dirubahnya dengan cara yg kasar, bayangkan dia tiba-tiba datang dan menusuk tubuhku dengan pedang dan ternyata aku hidup lagi"
"Kenapa Yoshiki tidak segera melakukan perjanjian itu?"
"Karena dia memikirkanmu. Aku sudah bilang kan dia mencintaimu. Dia tak ingin menyulitkanmu jika kau menjadi iblis. Estetika iblis dan manusia masihlah berlaku. Ini dunia-Nya"
Hana terdiam mendengar jawaban Tomuro.
"Ja-jadi, selama hampir seminggu ini Yoshiki tidak terlihat..."
"Dia bersikeras mempertahankanmu"
Read More ->>

Sabtu, 01 November 2014

Yami no Ai [Chapter 103]

Chap 103

"Huh, mana ada wakil raja iblis naik sepeda untuk mengantarkan sepeda istri sang raja" Tomuro tak henti-hentinya merutuki kegiatanya.

Saphire Hana masih saja memandang keluar jendela di sampingnya. Menatap lampu neon jalanan malam. Tetapi alisnya tak henti-hentinya berkerut.
"Ada yg ingin kau tanyakan?" tebak Yoshiki.
"Eh?" Hana segera menoleh ke arah Yoshiki.
"Hn. Akan kujawab semua pertanyaanmu"
Hana terdiam sejenak.
"Ada banyak yg ingin kutanyakan..."
Yoshiki tak menyahuti. Tapi tiba-tiba ia memelankan laju kendaraannya dan memarkirkan mobil porsche-nya di depan sebuah cafe.
Hana kembali menatap kebingungan.
Yoshiki segera turun dan membukakan pintu Hana.
Hana yg masih kebingungan mau tak mau harus melangkah keluar dan mengikuti Yoshiki.
Ternyata Yoshiki membawanya kesebuah cafe.
Yoshiki memesan capuccino late dan Hana memesan coklat hangat dengan cream.
"Jadi, apa yg ingin kau tanyakan?" Yoshiki membuka pembicaraan.
"ngg... Mulai dari Elf dan Dunia Bawah. Apa itu?"
bibir Yoshiki agak tertarik ke atas mendengar pertanyaan Hana.
"Mungkin bisa disebut sebagai dunia lain dari dunia manusia"
"seperti... Hantu?" tebak Hana.
"Ya. Dunia bawah terdiri dari makhluk-makhluk pemberontak-Nya. Seperti Hantu, Vampire, Drakula, Elf, Troll, Monster, dan segela makhluk abadi lainnya. Dan diatas semua itu kami para Demon adalah yg paling berkuasa"
"Lalu kenapa mereka menyerang tadi?"
"Hn. Mereka--"
"Apa itu 'perjanjian darah'?" potong Hana.
Yoshiki terdiam sesaat. Ia sempat ragu apakah ia akan menjawab pertanyaan Hana satu ini. Sebelumnya ia menghela nafas sebelum memulai penjelasannya.
"Perjanjian Darah adalah perjanjian akan adanya ikatan. Biasanya dilakukan oleh pasangan yg menikah atau perjanjian hidup-mati lainnya. Caranya adalah harus saling meminum darah masing-masing pembuat perjanjian."
"Apakah setelah melakukan itu aku akan menjadi iblis?" tanya Hana polos.
"Tidak. Sebenarnya untuk menjadikan manusia biasa menjadi iblis itu sedikit sulit. Pada dasarnya manusia memiliki 2 sisi di hatinya. Pertama manusia itu harus disiksa sampai mencampai ambang kematiannya. Saat itulah keinginannya untuk hidup yg sangat egois akan memudahkannya untuk menjadi iblis, lalu hanya tinggal memancing kegelapan dihatinya semakin menguasainya maka ia akan menjadi iblis"
"Caranya merepotkan sekali"
"Hn"
"Apa kau melakukan itu pada semua wanita yg kau jadikan iblis?"
"Hn"
Hana terdiam memandang Yoshiki. Masih ada, masih ada satu pertanyaan lagi. Tapi entah kenapa ia tak bisa menanyakan pertanyaan itu secara langsung.

Mobil Yoshiki berhenti begitu sampai di depan rumah kediaman Rayumi. Terlihat Tomuro yg menatap bosan Hana yg sedang turun dari mobil Yoshiki.
Hana segera menuju ke arah Tomuro.
"Gomen sudah merepotkan Tomuro-kun"
"Tidak masalah, sudah ya aku pulang" Tomuro hendak melangkahkan kaki namun ternyata tangannya ditahan oleh Hana.
"Bisa tunggu sebentar. Ada yg ingin kutanyakan"
Tomuro hanya menatap Hana kebingungan.
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.