Chap 114
Diikuti oleh 2 'rekan' Yoshiki tadi.
Hana segera bangkit dari duduk manisnya untuk menyambut kedatangan ketiga pria tersebut.
Yoshiki langsung duduk di samping Hana. Dan dua pria yg dibelakang Yoshiki langsung duduk di sofa yg bersebrangan dengan Yoshiki. Hana akhirnya juga ikut duduk.
"Hn. Bisa berikan berkasnya?" ujar Yoshiki.
Hana masih terbingung. Kenapa ia disini? Ada hubungannya kah pertemuan kedua pria di depannya dengan dirinya? Dan lagi, Hana sangat penasaran dengan pemuda bermantel di sebelah si pria paruh bayah yg kini tengah menyerahkan sebuah map kuning.
Yoshiki membuka map kuning tersebut lalu mengambil lembaran dari map itu. Ternyata lembaran yg ada di map itu berisi hasil cetak sinar x rotgen.
Hana tahu betul apa yg dilihat Yoshiki. Sebuah hasil rotgen dari tulang hidung yg retak kecil. Itu hasil rotgennya!
Memang kapan Hana melakukan tes rotgen? Oh ya, setelah Tomoaki menyuntikan bius pada dirinya, mendadak ia terpaksa harus tertidur. Mungki saja saat itu.
"Hn. Tomoaki kau periksa lagi dia. Aku ingin bicara dengan ayahmu berdua."
Tunggu? Yoshiki bilang siapa? 'Tomoaki'?
Hana mendongkakkan kepalanya seketika.
"Yes, My Lord" pemuda pirang bermantel hitam itu bangkit sambil melepas topinya. Menampakan kacamata dan mata biru lautnya.
"Tomoaki-senpai!?" mulut Hana terngangan kaget.
Tomoaki tersenyum. "Mari ikut saya My Lady"
Hana masih tak bergeming dari tempatnya. Tapi sebuah denyutan kecil di hidungnya membuatnya harus berdiri dan mengikuti Tomoaki.
"sepertinya efek Amfethamin-nya sudah hampir habis" guman Tomoaki sambil menuntun Hana ke arah yg akan mereka tuju.
Onix Yoshiki sempat melirik keduanya pergi. "Jika kau berani macam-macam akan kubunuh kau" ucapan dingin Yoshiki hampir bisa membuat Tomoaki bergidik ngeri.
"serahkan pada saya" hanya itu yg bisa Tomoaki jawab.
Akhirnya keduanya sampai pada ruangan beranjang. Jaraknya sekita 4-5 ruangan dari ruangan Yoshiki dan si pria paruh baya tadi.
Hana masih memegangi hidungnya yg mulai terasa gatal aneh.
Tomoaki mendudukan Hana di pinggiran ranjang putih di ruangan itu. Di samping ranjang itu terdapat meja kecil yg diatasnya sudah tertata rapi beberapa perlatan kedokteran milik Tomoaki.
Pemuda blonde itu menyiapkan jarum suntik berisi amfethamin di dalamnya. Disuntikannya cairan itu ke dalam tubuh Hana dengan volume kecil. Hanya untuk mengurangi rasa sakit dari retaknya tulang Hidung Hana.
"Oke, sekarang bisa dongkakkan kepala anda My Lady?"
Hana melaksanakan permintaan Tomoaki. Anak sulung keluarga Hide itu segera menyalakan senter kecilnya dan mengarahkannya pada hidung Hana.
"errr... Yosh! Luar biasa seperti biasa. Tahap penyembuhannya sangatlah luar biasa!" Tomoaki mematikan kembali senternya. Ia sekarang sibuk dengan peralatannya di meja.
"Tomoaki-senpai... Kenapa kau disini?"
pertanyaan Hana membuat Tomoaki mengehentikan pekerjaannya barang setengah menit.
"Keluarga Hide adalah pengikut setia suami anda"
ucapan Tomoaki sangatlah mengejutkan bagi Hana.
Rabu, 12 November 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar