Chap 112
SRAK...
Sebuah suara gorden diseret, dan kilau cahaya matahari terpaksa membuat Hana menampakan saphire indahnya. Perlahan setelah ia memicingkan matanya untuk membiasakan pupilnya dengan intensitas cahya yg ada akhirnya matanya terbuka normal.
"Ohayou My Lady. Anda lupa mengunci pintu anda. Maaf jika saya lancang" Misaki--miad yg biasa bertugas untuk membantu Hana terlihat tengah menuangkan sebuah teh pada cangkir keramik bermotif.
'Early tea' guman Hana. Ia hafal dan tahu persis kebiasaan di manor--ralat, istana--Yoshiki.
Misaki memberikan secangkir early tea yg segera Hana terima dan diminumnya perlahan.
Selagi Hana menyesap tehnya, Misaki dengan perlahan melepas perban yg melilit di antara tulang pipi kanan, hidung, tulang pipi kanan, dan sampai belakang kepala Hana. Lalu dilepasnya perlahan kasa yg digunakan untuk melindungi luka bekas jahitan pada hidung Hana. Sudah agak sedikit kering.
"Kalau begitu aku mandi dulu ya Misaki" setelah berpamitan dengan Misaki, Hana segera menuju kamar mandi pribadi yg ternyata sudah Yoshiki sudah sediakan di dalam kamar itu.
Misaki yg menunggu selesainya ritual mandi Hana, mulai menyiapkan segala perlengkapan Hana.
Setelah mengeringkan rambut pendeknya dengan handuk, Hana bergegas mengnakan seragamnya secepat mungkin.
Misaki sudah tidak ada di kamarnya, entah Hana tak mau repot-repot memikirkan kepergian maid itu.
"My Lady" bunyi ketukan pintu mengiringi suara Misaki yg terdengar dari luar kamar Hana.
"Ya, Misaki?" sahut Hana.
"My Lord menunggu anda untuk breakfast bersama. Apa anda sudah selesai?"
"sebentar. Aku tinggal menyisir rambutku!"
Misaki memilih menunggu keberadaan Hana. Sampai akhirnya pintu kamar yg sedari tadi tertutup, akhirnya terbuka dengan menampakan Hana yg sudah mengenakan seragam lengkap.
Misaki membungkuk sebentar. Lalu berjalan mendahului Hana. Hana segera mengikuti langkah Misaki. Sementara tangan kanannya masih sibuk membawa tas sekolahnya.
Sudah 3 kali Hana melewati "perempatan" di lorong istana Yoshiki. Kakinya sudah mulai bosan melangkah pelan-pelan seperti ini. Jika saja ia tahu dimana letak ruang makan, ia pasti akan berlari meninggalkan Misaki sekarang. Tapi masalahnya ia sama sekali tidak tahu dimana lokasi ruang makan. Jangankan lokasi, Hana saja masih bertanya-tanya bagaimana keadaan di ruang makan nantinya.
Tidak biasanya Yoshiki mengajaknya makan pagi bersama.
Akhirnya langkah Misaki berhenti juga di depan ruangan besar berdaun pintu dua. Misaki membuka salah satu daun pintu perlahan. Hana sudah tidak sabar. Ia begitu ingin melihat isi ruang makan.
Begitu saphirenya mengetahui isi ruang makan di manor Yoshiki, saphire itu tak henti-hentinya terbuka lebar. Takjup.
Bayangkan saja, di depan mata sudah terlihat sebuah ruangan luas. Berisi meja persegi panjang, dengan beberapa kursi di setiap beberapa centimeter. Di atas meja tersebut tertata rapi hidangan-hidangan italia. Seperti Tortelini, Lasagna, dan beberapa makanan lain yg Hana tak tau apa namanya.
Selasa, 11 November 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar