CHAPTER 53: LUNCH BOX
“My Lord!?” Pria dengan setelan jas rapi dan berkacamata itu terkejut bukan main mendapati sosok presiden yang ia naungi sebagai wakil presiden muncul di hadapannya.
“John. Bagaimana perjanjian?” Yoshiki bertanya santai.
“Kami baru akan melakukannya My Lord. Tunggu, kenapa anda di sini? Bukankah anda sedang melakukan bulan madu!?” Pria itu membenarkan letak kacamatannya yang turun.
“Hn. Aku sedang berbulan madu,” Yoshiki menarik tangan kanannya, sehingga Hana yang sedari tadi bersembunyi di belakangnya unjuk diri.
“Istri anda?”
“Hn. Kenalkan, Kuroto Hana.”
“S-Salam kenal. Saya K-Kuroto Hana. Terima kasih telah membimbing Yoshiki-kun selama ini!” Hana dengan kaku menundukkan badannya.
“Ahh!! T-tidak My Lady! Saya yang selama ini dibimbing oleh My Lord! Saya John Gregory. Vice President.”
“Apa maksudmu membimbing?” Yoshiki menatap Hana berpura-pura kesal.
“A-ah.. hahaha,” Hana hanya tertawa garing. Bukan karena Hana salah berbicara. Lagipula itu cukup umum diucapkan kepada siapapun bukan? Yang Hana tertawakan adalah apa yang Yoshiki ucapkan barusan. Teryata pria itu bisa bersikap menggemaskan.
“Mr. Kuroto! Anda datang!” Kali ini kedatangan Yoshiki membuat respon sang direktur rumah sakit terkejut.
“Mr. Carter, maaf tidak memberitau sebelumnya. Kebetulan aku dan istriku lewat jadi kami berdua mampir,” ucap Yoshiki dengan bahasa prancisnya yang fasih.
“Senang bisa bertemu dengan anda Mr. Kuroto!”
Kedua pria itu bersalaman sebelum akhirnya sang dokter kembali berucap, “ah, istri anda?”
“Hn. Dia Kuroto Hana,” Yoshiki memperkenalkan Hana dengan bahasa prancis, dan memeprkenalkan sang dokter dengan bahasa jepang pada Hana, “dia Carter Cassel, direktur rumah sakit ini.”
“N-nice to meet you!” Dengan gagap Hana mendundukkan badannya.
“Ah, it’s a pleasure to meet you Mrs. Kuroto,” Carter pun menanggapi dengan kaku.
“Kedatanganku di sini tidak resmi, mungkin aku akan ikut dalam perjanjian nati,” Yoshiki kembali menyambung pembincaraannya dengan sang dokter.
“Tentu. Tapi apa yang anda lakukan sebelum itu?”
“Hn. Aku berniat mengajak istriku berkeliling melihat obat-obatan di sini karena dia sedang mengambil study Kimia. Boleh?”
“Oh tentu saja boleh! Sebentar akan saya carikan yang sedang bekerja shift hari ini. Ah itu dia, Diland!” Sang dokter melambai kepada sesosok pria yang masih mengenakan pakaian non formal.
“Ya Dr. Carter?” Pria dengan perawakan berada di umur akhir dua puluhnya itu mendekat.
“Aku memiliki tamu special hari ini. Bisa kau pandu Mr. dan Mrs. Kuroto ini dalam menjelaskan pekerjaanmu?”
“Tentu bisa dokter.”
“Very good. Mrs. Kuroto you can follow him, he is Diland from pharmaceutical.”
Kembali dengan canggung Hana merespon, “O-okay!”
“Please follow me Mrs. Kuroto. We will go to Pharmacy Installation. Please wait me, I need to change my chlotes into the formal one.”
“….” Yoshiki hanya menatap datar kepergian Hana dan pria asing itu.
“Kalau begitu silahkan ke arah sini Mr. Kuroto,”Carter dan John mulai beranjak pula.
“Silahkan kalian mulai perjanjiannya. Aku sepertinya perlu mendapingi istriku sebentar.”
“Baiklah kalau begitu My Lord,” John merespon hormat.
.
“Please sit down here Mrs. Kuroto.” Diland dengan sopan menarikkan sebuah kursi bagi Hana di sebuah ruang pertemuan.
“Y-Yes,” lagi, Hana menjawab kikuk.
Suara pintu ruang pertemuan yang berada di belakang Hana membuat Hana tanpa sadar mengedarkan pandangannya. Dan sialnya, ia mendapati Yoshiki ada di sana.
“Bukannya tadi ikut Dr. Carter?” Tanya Hana bingung pada pria yang sekarang sudah dengan santainya duduk di sampingnya.
“Kedatanganku di sini tidak resmi. Sudah ada Vice President yang sejak awal bertugas. Aku bisa datang pada perjanjian kapanpun aku mau. Lagipula aku tidak bisa membiarkanmu berdua saja dengan dokter ini.”
“Haaaaahhh? Kenapa?”
“Tenang saja. Aku akan pergi jika aku ingin,” Yoshiki menimpali santai.
“Sorry to make you wait, Mrs. Kuro—” Diland menghentikan kalimatnya begitu mendapati sosok Yoshiki yang ternyata juga bergabung di dalam ruangan.
“Go ahead. Don’t mind me.” Yoshiki berujar datar.
“Ah, um—alright,” Diland sedikit kaku, “should we move into our Pharmacy Installation?”
“S-sure,” Hana beranjak dari tempat duduknya hendak mengikuti sang petugas farmasi.
“Oh, ada apa?” Namun pergerakan semuanya terhenti begitu Diland bertemu dengan seorang perempuan yang seusia dengannya di depan pintu. Perempuan itu sangat cantik dengan rambut panjangnya yang diikat pada bahunya.
“Kamu melupakan bekal makan siangmu! Dasar ceroboh!” perempuan itu menyerahkan sebuah plastik pada Diland dengan kesal.
“Astaga! Terima kasih banyak! Ke sini naik apa?” Diland menepuk kepalanya sembari menerima bungkusan itu.
“Bis sih, tidak apa aku bisa pulang sendiri kok. Jangan tinggalkan lagi bekalmu atau aku akan marah!”
“Aduh, aku benar-benar minta maaf. Mau tunggu sebentar? Aku akan mengantarmu pulang setelah menemani tamuku, kebetulan shiftku sedikit santai hari ini—ah—sorry, she is my wife, seems like I forgot to take my lunch, so she bring them here,” Diland menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal menghadap Hana dan Yoshiki.
“Sorry to bother,” sang istri terpaksa meminta maaf canggung pada Hana dan Yoshiki.
“I-It’s okay,” Hana pun ikut canggung.
“….” Sementara pandangan Yoshiki hanya tertuju pada Hana dengan pandangan datarnya.
Setelah Diland mengamankan makan siangnya dan berhasil meyakinkan istrinya jika ia akan melakukan pekerjaannya tidak lama sehingga sang istri mau menunggu di ruang kerjanya, akhirnya pembelajaran khusus bagi Hana mengenai hal farmasi segera dimulai.
“She is always made you a lunch?” Tanya Yoshiki tiba-tiba ketika ketiganya telah mencapai instalasi farmasi yang nampak belum terlalu sibuk.
“My wife?”
“Hn.”
“Most often, I take more shift today so she prepared one for me. Why asking?”
“…. No, just asking,” Yoshiki menjawab pertanyaan Diland, namun pandangannya tertuju pada Hana yang Nampak asyik mengamati beebrapa obat dalam rak.
“She is also your wife right?”
“Hn…” Yoshiki hanya berguman, pandangannya masih tak teralihkan dari Hana.
Diland terkekeh sopan, “we are on the same boat then.”
Yoshiki merasa konyol di sini. Ia merasa iri dengan apa yang dilakukan manusia? Ia iri karena istri DIland memberikan sebuah makan siang sementara Hana bahkan cukup jarang memperhatikannya? Konyol. Ia bahkan tidak membutuhkan makan siang untuk menunjang hidup.
Tapi terkadang, cukup membahagiakan jika Hana mau memberikan sesuatu untuknya di tengah kesibukannya. Seperti saat itu, rasa lemon madu yang Hana bawakan untuknya saat latihan bersama Tomuro benar-benar membekas di dalam indra pengecapnya.
“Excuse me, I need to go,” Yoshiki yang mungkin merasa kesal dengan pemikiran konyolnya meninggalkan ruangan tiba-tiba. Meninggalkan Hana yang menatap kepergiannya dengan penuh tanda tanya.
“Eh? Where did he go?” Tanya Hana begitu mendapati Yoshiki sudah tidak berada di tempatnya semula.
“Maybe he back to Dr. Carter’s. He go after asking about my wife and lunch,” jawab Diland.
“Oooh….”
“Alright. Let’s we started. What do you want to know Mrs. Kuroto?”
“Ah, okay. But we can go faster, since you have an appointment to take your wife home.”
“It’s okay Mrs. Kuroto, she can wait.”
“No. We can’t make her wait more longer. I’m just a chemical undergraduate program, just give me a simple explanation.”
“Well… if you say so…”
Diland memeberikan jawaban untuk setiap pertanyaan yang Hana ajukan dengan cepat. Namun sayangnya kepala Hana tidak bisa menyerap semuanya. Mau bagaimana lagi, pemikirannya terpecah pada tingkah Yoshiki yang tiba-tiba pergi setelah menanyakan makan siang dan istri Diland.
.
Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat sampai keduanya telah kembali di berkendara di dalam mobil untuk kembali ke hotel.
Sesekali Yoshiki melirik pada kertas-kertas yang sedari tadi dibolak-balik istrinya, “catatan dari instalasi farmasi?”
“Ah, iya. Aku mencatat banyak hal. Setelah Diland pergi pamit mengantarkan istrinya, aku bertemu banyak orang di instalasi farmasi yang mau membantuku menjelaskan banyak hal menggantikan Diland.”
“Hn… baguslah. My Lady…”
Merasa terpanggil, Hana mengalihkan pandangannya pada suaminya yang masih sibuk dengan kemudinya.
“Mungkin ini terdengar kekanakan. Dan mungkin aku mengatakan ini di saat yang tidak tepat—”
He? Apa yang ingin dikatakan Yoshiki?
“—Konyol bukan, aku sedikit iri pada Diland. Sampai meninggalkan kalian tiba-tiba. Benar-benar kekanakan.”
Tidak ada komentar apapun keluar dari bibir Hana. Hana hanya merasa tidak memiliki hak untuk bertanya. Walau tanpa bertanya pun sebenarnya sepertinya ia mampu menebak apa yang sebenenarnya membuat Yoshiki gusar.
Perjalanan itu berlanjut dengan hening. Tanpa ada satupun dari keduanya kembali membuka suara.
.
Hingga malam kembali melahap sang matahari.
Kegugupan melanda Hana seketika begitu jam dinding hampir menunjukkan pukul tujuh malam. Benar. Malam ini ia akan menjalankan ‘misi’nya. Misi untuk bertemu pria yang membuatnya jatuh hati pertama kali.
Alasan dari kegugupannya adalah, ia sangat ragu apakah Yoshiki akan pergi lagi atau tidak malam ini. Jika Yoshiki tidak pergi, ia harus kembali merencakan semuanya dari awal, membuat plan B.
Untunglah, sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak kepadanya, Yoshiki muncul dengan setelan jasnya yang rapi, bahkan pria itu telah memakai mantel karena udara malam Prancis yang dingin, “istirahatlah, besok kita akan menempuh perjalanan cukup panjang,” ucap pria itu sembari meraih ponsel yang ia tinggalkan di dekat nakas.
“Uhm,” Hana hanya mengangguk.
“Aku pergi, My Lady,” setelah mengucapkan kalimat itu, langkah sang pria terhenti di ambang pintu.
Cukup lama pria itu berdiri di sana dengan pandangan yang Hana tak bisa mengerti. Dalam diri Hana sudah berharap-harap cemas, takut jika sang pria membatalkan kepergiannya.
“Ada apa..?”
“Hn, tidak. Sial, aku ingin mengecup keningmu.”
Hana tercengang. Yoshiki pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat itu.
Tidak. Bukan saatnya memikirkan Yoshiki. Ia harus segera bergerak. Waktunya tidak banyak. Ia harus berhasil menemukan alamat yang dimaksud Keigo.
Tanpa banyak berpikir lagi, Hana melompat dari ranjangnya dan segera meraih mantelnya. Tak lupa dirobeknya kertas novel berisi alamat tempat keduanya berjanji untuk bertemu. Dompet sudah ia persiapkan berisi beberapa lembar dollar secukupnya.
“My Lady, anda hendak kemana?” Belum ada beberapa detik Hana melangkah keluar dari kamarnya, padahal ia sudah yakin sudah memastikan tidak ada maid sama sekali.
“Ah—mencari udara sebentar?”
Sang maid tidak segera setuju, pandangan dan ketegasannya seolah tidak mengenal ampun menatap Hana, “udara sedang sangat dingin di luar My lady, apalagi sudah cukup malam, berbahaya bagi anda berada di luar.”
“Aku tadi sudah izin Yoshiki-kun kok sebelum pergi. Dan dia mengizinkan,” kali ini Hana memberikan senyum meyakinkan.
Sejenak sang maid memandangi gelagatnya penuh, “baiklah bila begitu. Apa anda butuh ditemani My Lady?”
“Tidak perlu. Mungkin aku hanya sebentar. Aku hanya ingin melepaskan bosan di kamar.”
“Kalau begitu, hati-hati My Lady,” sang maid menunduk sopan.
Lampu hijau.
Menangguk sekilas, Hana kembali melajutkan langkahnya. Lobby, taman hotel, hingga ia benar-benar berada lebih dari 5 meter dari hotel.
Hana akan sangat bersyukur jika dewi keberuntungan memang berada di pihaknya saat ini. Sebuah taksi terlihat berhenti di tepi jalan. Tak perlu waktu lama baginya untuk mengetuk jendela pintu mobil tersebut.
“Uh, excuse me, is this a taxi?”
Sang pengemudi nampak kebingungan beberapa saat, “yes, but it is an online taxi.”
“Can I pay by cash? Please help me! I need to find someone!” Hana tidak bisa menyembunyikan kepanikan pada wajahnya. Berkali-kali ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan jika ia tidak diikuti.
“Are you followed?”
“Yes! Please help me! I’m just a tourist here! Seems like they want my money or something!” Sekarang Hana berbohong.
“Jump then,” entah sang sopir merasa iba, akhirnya ia memutuskan untuk mengizinkan Hana naik.
“Thank you,” Hana masih sibuk menolehkan kepalanya ke belakang ketika taxi sudah bergerak, masih memastikan apakah ia diikuti atau tidak.
“Where do you want to go?”
“Ah, uh, can you bring me to this street?” Hana menyerahkan robekan kertas berisi alamat tempat ia berjanji bertemu dengan Keigo.
“Sure. It’s not far from here, I can bring you there for at least under 10 minutes.”
“Great.”
Benar, belum ada sepuluh menit kemudian, Hana sudah menapakkan kakinya di alamat yang ia tuju. Alamat yang menunjukkan sebuah hotel, seperti yang diucapkan Keigo sebelumnya.
Hana menolehkan kepalanya was-was mencari sosok Keigo.
“Hana!”
Sebuah pelukan tiba-tiba menghilangkan hawa dingin yang sedari tadi berputar di sekitar tubuhnya.
“K-Keigo-kun?”
“Yaa… ini aku Hana…” Pria itu masih sibuk memeluknya.
“A-anu, Keigo-kun baik-baik saja?”
“Aku baik. Lukaku juga hampir sepenuhnya sembuh.”
“There she is, that girl who become Luicfer’s seal, Rayumi Hana. sebuah suara asing terdengar, membuat Hana lantas siaga dan melepaskan pelukannya.
Di sana seorang pria berusia mungkin hampir menyentuh dengan rambut kecoklatannya berdiri dengan anggun.
“Siapa dia Keigo-kun?”
“Oh, dia Adrian Nikole, dia seorang polisi.”
“Polisi!?”
“Juga seorang exorcist dengan peringkat 7. Aku sudah memberitaumu kan? Dia temanku yang akan membantu kita.”
“Yasumoto tell me that you will be come here, Lucifer’s seal. Pleased to meet you.”
“Come on Nikole, she has name, her name Rayumi Hana.”
“Hahaha,” pria itu tertawa renyah, “I’m sorry.”
“Awalnya aku memang sedikit tidak percaya jika kau memang berkenalan dengan si segel itu,” ucap Nikole dengan bahasa Jepangnya yang fasih. Membuat Hana cukup terkejut.
“Sudah kubilang kan kalau dia punya nama!”
“Bagaimana kalau kita pindah ke restoran? Tidak nyaman kan berbicara sambil berdiri?”