Selasa, 27 Oktober 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 53]

 CHAPTER 53: LUNCH BOX

“My Lord!?” Pria dengan setelan jas rapi dan berkacamata itu terkejut bukan main mendapati sosok presiden yang ia naungi sebagai wakil presiden muncul di hadapannya.

“John. Bagaimana perjanjian?” Yoshiki bertanya santai.

“Kami baru akan melakukannya My Lord. Tunggu, kenapa anda di sini? Bukankah anda sedang melakukan bulan madu!?” Pria itu membenarkan letak kacamatannya yang turun.

“Hn. Aku sedang berbulan madu,” Yoshiki menarik tangan kanannya, sehingga Hana yang sedari tadi bersembunyi di belakangnya unjuk diri.

“Istri anda?”

“Hn. Kenalkan, Kuroto Hana.”

“S-Salam kenal. Saya K-Kuroto Hana. Terima kasih telah membimbing Yoshiki-kun selama ini!” Hana dengan kaku menundukkan badannya.

“Ahh!! T-tidak My Lady! Saya yang selama ini dibimbing oleh My Lord! Saya John Gregory. Vice President.”

“Apa maksudmu membimbing?” Yoshiki menatap Hana berpura-pura kesal.

“A-ah.. hahaha,” Hana hanya tertawa garing. Bukan karena Hana salah berbicara. Lagipula itu cukup umum diucapkan kepada siapapun bukan? Yang Hana tertawakan adalah apa yang Yoshiki ucapkan barusan. Teryata pria itu bisa bersikap menggemaskan.

“Mr. Kuroto! Anda datang!” Kali ini kedatangan Yoshiki membuat respon sang direktur rumah sakit terkejut.

“Mr. Carter, maaf tidak memberitau sebelumnya. Kebetulan aku dan istriku lewat jadi kami berdua mampir,” ucap Yoshiki dengan bahasa prancisnya yang fasih.

“Senang bisa bertemu dengan anda Mr. Kuroto!”

Kedua pria itu bersalaman sebelum akhirnya sang dokter kembali berucap, “ah, istri anda?”

“Hn. Dia Kuroto Hana,” Yoshiki memperkenalkan Hana dengan bahasa prancis, dan memeprkenalkan sang dokter dengan bahasa jepang pada Hana, “dia Carter Cassel, direktur rumah sakit ini.”

“N-nice to meet you!” Dengan gagap Hana mendundukkan badannya.

“Ah, it’s a pleasure to meet you Mrs. Kuroto,” Carter pun menanggapi dengan kaku.

“Kedatanganku di sini tidak resmi, mungkin aku akan ikut dalam perjanjian nati,” Yoshiki kembali menyambung pembincaraannya dengan sang dokter.

“Tentu. Tapi apa yang anda lakukan sebelum itu?”

“Hn. Aku berniat mengajak istriku berkeliling melihat obat-obatan di sini karena dia sedang mengambil study Kimia. Boleh?”

“Oh tentu saja boleh! Sebentar akan saya carikan yang sedang bekerja shift hari ini. Ah itu dia, Diland!” Sang dokter melambai kepada sesosok pria yang masih mengenakan pakaian non formal.

“Ya Dr. Carter?” Pria dengan perawakan berada di umur akhir dua puluhnya itu mendekat.

“Aku memiliki tamu special hari ini. Bisa kau pandu Mr. dan Mrs. Kuroto ini dalam menjelaskan pekerjaanmu?”

“Tentu bisa dokter.”

“Very good. Mrs. Kuroto you can follow him, he is Diland from pharmaceutical.”

Kembali dengan canggung Hana merespon, “O-okay!”

“Please follow me Mrs. Kuroto. We will go to Pharmacy Installation. Please wait me, I need to change my chlotes into the formal one.”

“….” Yoshiki hanya menatap datar kepergian Hana dan pria asing itu.

“Kalau begitu silahkan ke arah sini Mr. Kuroto,”Carter dan John mulai beranjak pula.

“Silahkan kalian mulai perjanjiannya. Aku sepertinya perlu mendapingi istriku sebentar.”

“Baiklah kalau begitu My Lord,” John merespon hormat.


.


“Please sit down here Mrs. Kuroto.” Diland dengan sopan menarikkan sebuah kursi bagi Hana di sebuah ruang pertemuan.

“Y-Yes,” lagi, Hana menjawab kikuk.

Suara pintu ruang pertemuan yang berada di belakang Hana membuat Hana tanpa sadar mengedarkan pandangannya. Dan sialnya, ia mendapati Yoshiki ada di sana.

“Bukannya tadi ikut Dr. Carter?” Tanya Hana bingung pada pria yang sekarang sudah dengan santainya duduk di sampingnya.

“Kedatanganku di sini tidak resmi. Sudah ada Vice President yang sejak awal bertugas. Aku bisa datang pada perjanjian kapanpun aku mau. Lagipula aku tidak bisa membiarkanmu berdua saja dengan dokter ini.”

“Haaaaahhh? Kenapa?”

“Tenang saja. Aku akan pergi jika aku ingin,” Yoshiki menimpali santai.

“Sorry to make you wait, Mrs. Kuro—” Diland menghentikan kalimatnya begitu mendapati sosok Yoshiki yang ternyata juga bergabung di dalam ruangan.

“Go ahead. Don’t mind me.” Yoshiki berujar datar.

“Ah, um—alright,” Diland sedikit kaku, “should we move into our Pharmacy Installation?”

“S-sure,” Hana beranjak dari tempat duduknya hendak mengikuti sang petugas farmasi.

“Oh, ada apa?” Namun pergerakan semuanya terhenti begitu Diland bertemu dengan seorang perempuan yang seusia dengannya di depan pintu. Perempuan itu sangat cantik dengan rambut panjangnya yang diikat pada bahunya.

“Kamu melupakan bekal makan siangmu! Dasar ceroboh!” perempuan itu menyerahkan sebuah plastik pada Diland dengan kesal.

“Astaga! Terima kasih banyak! Ke sini naik apa?” Diland menepuk kepalanya sembari menerima bungkusan itu.

“Bis sih, tidak apa aku bisa pulang sendiri kok. Jangan tinggalkan lagi bekalmu atau aku akan marah!”

“Aduh, aku benar-benar minta maaf. Mau tunggu sebentar? Aku akan mengantarmu pulang setelah menemani tamuku, kebetulan shiftku sedikit santai hari ini—ah—sorry, she is my wife, seems like I forgot to take my lunch, so she bring them here,” Diland menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal menghadap Hana dan Yoshiki.

“Sorry to bother,” sang istri terpaksa meminta maaf canggung pada Hana dan Yoshiki.

“I-It’s okay,” Hana pun ikut canggung.

“….” Sementara pandangan Yoshiki hanya tertuju pada Hana dengan pandangan datarnya.

Setelah Diland mengamankan makan siangnya dan berhasil meyakinkan istrinya jika ia akan melakukan pekerjaannya tidak lama sehingga sang istri mau menunggu di ruang kerjanya, akhirnya pembelajaran khusus bagi Hana mengenai hal farmasi segera dimulai.

“She is always made you a lunch?” Tanya Yoshiki tiba-tiba ketika ketiganya telah mencapai instalasi farmasi yang nampak belum terlalu sibuk.

“My wife?”

“Hn.”

“Most often, I take more shift today so she prepared one for me. Why asking?”

“…. No, just asking,” Yoshiki menjawab pertanyaan Diland, namun pandangannya tertuju pada Hana yang Nampak asyik mengamati beebrapa obat dalam rak.

“She is also your wife right?”

“Hn…” Yoshiki hanya berguman, pandangannya masih tak teralihkan dari Hana.

Diland terkekeh sopan, “we are on the same boat then.”

Yoshiki merasa konyol di sini. Ia merasa iri dengan apa yang dilakukan manusia? Ia iri karena istri DIland memberikan sebuah makan siang sementara Hana bahkan cukup jarang memperhatikannya? Konyol. Ia bahkan tidak membutuhkan makan siang untuk menunjang hidup.

Tapi terkadang, cukup membahagiakan jika Hana mau memberikan sesuatu untuknya di tengah kesibukannya. Seperti saat itu, rasa lemon madu yang Hana bawakan untuknya saat latihan bersama Tomuro benar-benar membekas di dalam indra pengecapnya. 

“Excuse me, I need to go,” Yoshiki yang mungkin merasa kesal dengan pemikiran konyolnya meninggalkan ruangan tiba-tiba. Meninggalkan Hana yang menatap kepergiannya dengan penuh tanda tanya.

“Eh? Where did he go?” Tanya Hana begitu mendapati Yoshiki sudah tidak berada di tempatnya semula.

“Maybe he back to Dr. Carter’s. He go after asking about my wife and lunch,” jawab Diland.

“Oooh….”

“Alright. Let’s we started. What do you want to know Mrs. Kuroto?”

“Ah, okay. But we can go faster, since you have an appointment to take your wife home.”

“It’s okay Mrs. Kuroto, she can wait.”

“No. We can’t make her wait more longer. I’m just a chemical undergraduate program, just give me a simple explanation.”

“Well… if you say so…”

Diland memeberikan jawaban untuk setiap pertanyaan yang Hana ajukan dengan cepat. Namun sayangnya kepala Hana tidak bisa menyerap semuanya. Mau bagaimana lagi, pemikirannya terpecah pada tingkah Yoshiki yang tiba-tiba pergi setelah menanyakan makan siang dan istri Diland.


.


Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat sampai keduanya telah kembali di berkendara di dalam mobil untuk kembali ke hotel.

Sesekali Yoshiki melirik pada kertas-kertas yang sedari tadi dibolak-balik istrinya, “catatan dari instalasi farmasi?”

“Ah, iya. Aku mencatat banyak hal. Setelah Diland pergi pamit mengantarkan istrinya, aku bertemu banyak orang di instalasi farmasi yang mau membantuku menjelaskan banyak hal menggantikan Diland.”

“Hn… baguslah. My Lady…”

Merasa terpanggil, Hana mengalihkan pandangannya pada suaminya yang masih sibuk dengan kemudinya.

“Mungkin ini terdengar kekanakan. Dan mungkin aku mengatakan ini di saat yang tidak tepat—”

He? Apa yang ingin dikatakan Yoshiki?

“—Konyol bukan, aku sedikit iri pada Diland. Sampai meninggalkan kalian tiba-tiba. Benar-benar kekanakan.”

Tidak ada komentar apapun keluar dari bibir Hana. Hana hanya merasa tidak memiliki hak untuk bertanya. Walau tanpa bertanya pun sebenarnya sepertinya ia mampu menebak apa yang sebenenarnya membuat Yoshiki gusar.

Perjalanan itu berlanjut dengan hening. Tanpa ada satupun dari keduanya kembali membuka suara.


.


Hingga malam kembali melahap sang matahari.

Kegugupan melanda Hana seketika begitu jam dinding hampir menunjukkan pukul tujuh malam. Benar. Malam ini ia akan menjalankan ‘misi’nya. Misi untuk bertemu pria yang membuatnya jatuh hati pertama kali.

Alasan dari kegugupannya adalah, ia sangat ragu apakah Yoshiki akan pergi lagi atau tidak malam ini. Jika Yoshiki tidak pergi, ia harus kembali merencakan semuanya dari awal, membuat plan B. 

Untunglah, sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak kepadanya, Yoshiki muncul dengan setelan jasnya yang rapi, bahkan pria itu telah memakai mantel karena udara malam Prancis yang dingin, “istirahatlah, besok kita akan menempuh perjalanan cukup panjang,” ucap pria itu sembari meraih ponsel yang ia tinggalkan di dekat nakas.

“Uhm,” Hana hanya mengangguk.

“Aku pergi, My Lady,” setelah mengucapkan kalimat itu, langkah sang pria terhenti di ambang pintu.

Cukup lama pria itu berdiri di sana dengan pandangan yang Hana tak bisa mengerti. Dalam diri Hana sudah berharap-harap cemas, takut jika sang pria membatalkan kepergiannya.

“Ada apa..?”

“Hn, tidak. Sial, aku ingin mengecup keningmu.”

Hana tercengang. Yoshiki pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat itu.

Tidak. Bukan saatnya memikirkan Yoshiki. Ia harus segera bergerak. Waktunya tidak banyak. Ia harus berhasil menemukan alamat yang dimaksud Keigo.

Tanpa banyak berpikir lagi, Hana melompat dari ranjangnya dan segera meraih mantelnya. Tak lupa dirobeknya kertas novel berisi alamat tempat keduanya berjanji untuk bertemu. Dompet sudah ia persiapkan berisi beberapa lembar dollar secukupnya.

“My Lady, anda hendak kemana?” Belum ada beberapa detik Hana melangkah keluar dari kamarnya, padahal ia sudah yakin sudah memastikan tidak ada maid sama sekali.

“Ah—mencari udara sebentar?”

Sang maid tidak segera setuju, pandangan dan ketegasannya seolah tidak mengenal ampun menatap Hana, “udara sedang sangat dingin di luar My lady, apalagi sudah cukup malam, berbahaya bagi anda berada di luar.”

“Aku tadi sudah izin Yoshiki-kun kok sebelum pergi. Dan dia mengizinkan,” kali ini Hana memberikan senyum meyakinkan.

Sejenak sang maid memandangi gelagatnya penuh, “baiklah bila begitu. Apa anda butuh ditemani My Lady?”

“Tidak perlu. Mungkin aku hanya sebentar. Aku hanya ingin melepaskan bosan di kamar.”

“Kalau begitu, hati-hati My Lady,” sang maid menunduk sopan.

Lampu hijau.

Menangguk sekilas, Hana kembali melajutkan langkahnya. Lobby, taman hotel, hingga ia benar-benar berada lebih dari 5 meter dari hotel.

Hana akan sangat bersyukur jika dewi keberuntungan memang berada di pihaknya saat ini. Sebuah taksi terlihat berhenti di tepi jalan. Tak perlu waktu lama baginya untuk mengetuk jendela pintu mobil tersebut.

“Uh, excuse me, is this a taxi?”

Sang pengemudi nampak kebingungan beberapa saat, “yes, but it is an online taxi.”

“Can I pay by cash? Please help me! I need to find someone!” Hana tidak bisa menyembunyikan kepanikan pada wajahnya. Berkali-kali ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan jika ia tidak diikuti.

“Are you followed?”

“Yes! Please help me! I’m just a tourist here! Seems like they want my money or something!” Sekarang Hana berbohong.

“Jump then,” entah sang sopir merasa iba, akhirnya ia memutuskan untuk mengizinkan Hana naik.

“Thank you,” Hana masih sibuk menolehkan kepalanya ke belakang ketika taxi sudah bergerak, masih memastikan apakah ia diikuti atau tidak.

“Where do you want to go?”

“Ah, uh, can you bring me to this street?” Hana menyerahkan robekan kertas berisi alamat tempat ia berjanji bertemu dengan Keigo.

“Sure. It’s not far from here, I can bring you there for at least under 10 minutes.”

“Great.”

Benar, belum ada sepuluh menit kemudian, Hana sudah menapakkan kakinya di alamat yang ia tuju. Alamat yang menunjukkan sebuah hotel, seperti yang diucapkan Keigo sebelumnya.

Hana menolehkan kepalanya was-was mencari sosok Keigo.

“Hana!”

Sebuah pelukan tiba-tiba menghilangkan hawa dingin yang sedari tadi berputar di sekitar tubuhnya.

“K-Keigo-kun?”

“Yaa… ini aku Hana…” Pria itu masih sibuk memeluknya.

“A-anu, Keigo-kun baik-baik saja?”

“Aku baik. Lukaku juga hampir sepenuhnya sembuh.”

“There she is, that girl who become Luicfer’s seal, Rayumi Hana. sebuah suara asing terdengar, membuat Hana lantas siaga dan melepaskan pelukannya.

Di sana seorang pria berusia mungkin hampir menyentuh dengan rambut kecoklatannya berdiri dengan anggun.

“Siapa dia Keigo-kun?”

“Oh, dia Adrian Nikole, dia seorang polisi.”

“Polisi!?”

“Juga seorang exorcist dengan peringkat 7. Aku sudah memberitaumu kan? Dia temanku yang akan membantu kita.”

“Yasumoto tell me that you will be come here, Lucifer’s seal. Pleased to meet you.”

“Come on Nikole, she has name, her name Rayumi Hana.”

“Hahaha,” pria itu tertawa renyah, “I’m sorry.”

“Awalnya aku memang sedikit tidak percaya jika kau memang berkenalan dengan si segel itu,” ucap Nikole dengan bahasa Jepangnya yang fasih. Membuat Hana cukup terkejut.

“Sudah kubilang kan kalau dia punya nama!”

“Bagaimana kalau kita pindah ke restoran? Tidak nyaman kan berbicara sambil berdiri?”

Read More ->>

Jumat, 09 Oktober 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 52]

 CHAPTER 52: PIECES HISTORY

“Kau tau exorcist bisa muncul dari mana saja! Apakagi ini bukan Jepang! Bagaimana bisa kau seceroboh itu berkeliaran tanpa ada pengawasan dariku?”

“Astaga demi apapun! Itu hanya lobby hotel Yoshiki-kun! Lagipula kamu sendriri kemana kemarin? Menghilang begitu saja. Dan juga aku tidak bisa mengabari Yoshiki-kun karena ponselku tidak ada padaku!”

“Ck!” Yoshiki hanya berdecak kesal.

Persetan dengan berbagai kekacauan yang ditimbulkan firmanya di cabang Paris! 

Akibat pertengkaran konyol tersebut, pasangan Hana-Yoshiki hanya diam dalam beberapa saat. Keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

Hingga Hana kembali tidak bisa menahan ketakjubannya begitu ia melihat lukisan sang ratu yang empunya kastil Versailles beratus tahun silam, “Marie Antoinette benar-benar cantik.”

“Menurutmu seperti itu?” Celetuk Yoshiki.

“Uhm… ya. Dibanding aku. Hahaha,” dengan santai Hana menanggapi, “sayang sekali dia harus dipenggal kepalanya dalam revolusi Prancis.”

“Hn, sejauh apa yang kau ketahui?”

Hana cukup mengambil waktu sebelum menjawab pertanyaan Yoshiki, “sedikit. Aku hanya tau dia dan Pengeran Louis XVI menikah. Pangeran Louis sangat mencintainya sampai-sampai dia menggunakan uang rakyat untuk menyenangkannya. Rakyat berontak dan timbullah revolusi. Padahal Marie Antoinette juga suka bermain di belakang pangeran.”

“Bagaimana jika aku berkata jika pria yang bermain dengan Marie adalah aku?”

“Eh?” Kalimat itu lantas mengambil atensi Hana sepenuhnya.

“Dia mendatangiku dengan sendirinya. Pada dasarnya dia hanya wanita yang suka kehidupan glamour. Dan aku hanya menggunakan tubuhnya, dan isi kepalanya yang kosong itu untuk menghancurkan Louis XVI.”

Hana kehilangan kalimatnya. Semuanya tertelan dalam kerongkongannya tanpa sempat terucap.

Menerima pandangan penuh pertanyaan dari Hana, Yoshiki hanya tersenyum miring dan kecut, “Aku sudah hidup lebih dari seribu tahun, My Lady. Sebagian besar sejarah dunia ini aku terlibat di dalamnya. Tentu saja, terlibat untuk membawa kehancuran bagi manusia ciptaan-Nya ini.”

Hana memijat pelipisnya pelan. Mencoba mencerna kenyataan baru yang ia dengar.

Baiklah. Suaminya memang seorang raja iblis. Sudah berapa kali ia mengingatkan dirinya sendiri jika hal-hal di luar nalar akan terjadi?

Oleh sebab itu ia tidak akan menyangkal jika seseorang meneriaki dirinya mengenai betapa ia tidak mengenal suaminya. 

“Yoshiki-kun… benar-benar selingkuhan dengan Marie Antoinette?”

“Hn. Louis itu bahkan sudah berkali-kali kita bersetubuh. Tapi pria itu benar-benar konyol. Ia tetap mencintai Marie bahkan sampai rela membiarkan kepalanya dipenggal seperti itu.”

DEG.

Sesuatu di dalam diri Hana seolah terpicu mendengarnya. Tidak bisa membohongi dirinya sendiri, Hana mengakui jika ia cukup kesal dan cemburu mendengar pernyataan Yoshiki. Tapi kembali lagi, Hana harus tau siapa Yoshiki. Yoshiki adalah Lucifer yang bahkan sudah ada jauh sebelum adanya dirinya. 

Pandangannya tertuju kembali pada lukisan sang ratu. Marie Antoinette benar-benar cantik. Wanita itu terlihat begitu berkharisma. Jauh lebih cantik daripada dirinya. Tentu saja Yoshiki akan sangat diuntungkan jika berhubungan dengan sang ratu.

“Selanjutnya aku menerima banyak informasi darinya mengenai kondisi kerajaan. Dan aku menjualnya pada Napoleon. Revolusi Prancis bisa berjalan dengan lancar sampai kedua kepala pemilik kastil Versailles ini terpenggal.”

“Yoshiki-kun… mengenal Napoleon?”

“Hn. Dia pribadi yang luar biasa.”

‘Yoshiki-kun juga luar biasa,’ batin Hana kesal atas jawaban ambigu Yoshiki.

“Aku hanya tau cerita perjuangan Napoleon. Tapi jika Yoshiki-kun mengatakan Napoleon luar biasa, aku jadi semakin yakin jika dulu Napoleon luar biasa keren sekali. Wajahnya juga cukup tampan, ehe,” timpal Hana dengan setengah terkekeh.

“Hn…” Entah kesal karena ucapan Hana yang terlalu menyanjung Napoleon, Yoshiki hanya menjawab dengan gumanan.

“Lalu setelah berbuat seperti menusuk ratu Marie Antoinette dari belakang, Yoshiki-kun cukup berani datang ke sini lagi ya.”

“Hn. Setelah lebih dari 300 tahun, akhirnya aku kembali memijakkan kaki di kastil ini.”

“Memangnya Yoshiki-kun tidak takut oleh arwah penasaran Marie Antoinette?” 

“Hn, seorang raja iblis takut pada arwah penasaran?” Yoshiki menjawab konyol.

Pandangan Hana kembali tertuju pada lukisan sang ratu yang begitu menawan hati. Kecantikan yang luar biasa. Tidak heran jika Pangeran Louis XVI sampai jatuh hati sedemikian rupa demi sang ratu. Dan sang ratu, pernah memiliki hubungan gelap dengan pria yang berstatus sebagai suaminya. Kuroto Yoshiki. Bahkan keduanya pernah berhubungan badan.

Kesal. Namun bagaimana lagi, Yoshiki juga seorang pria yang bahkan sudah hidup lebih dari berates tahun. Ia hanya muncul dalam kehidupan pria itu tidak lebih dari sepuluh tahun. 

Menyebalkan.


.


“….” Hana hanya bisa memandangi Yoshiki yang tiba-tiba memakai kembali setelan jasnya denga rapi. Padahal semenit lalu pria itu masih duduk di sampingnya membaca sebuah novel yang dulu pernah ia rekomendasikan.

Hana ingin tau kemana pria itu akan pergi secara tiba-tiba setiap malam. Namun harga dirinya yang konyol menahannya.

“Aku pergi, My Lady,” ucap pria itu begitu menutup pintu kamar hotel sambil berpesan, “jika kau membutuhkan sesuatu, ada maid di kamar sebelah.”

Dengan menyilangkan tangannya, Hana hanya menatap kesal pada pria yang telah menghilang dari balik pintu, “kenapa dia tidak mengatakan kemana akan pergi sih.”


.


Pukul delapan malam. Belum ada setengah jam sejak Yoshiki meninggalaknnya. Dan ia sudah sebosan ini. Padahal yang ia lakukan dengan atau tanpa Yoshiki sejak tadi setelah makan malam juga melakukan hal yang sama. Membaca buku bersama. Tapi sekarang semenarik apapun alur cerita yang disajikan oleh novel misteri di tangannya, Hana tetap merasa kebosanan.

Sebuah ketukan pada pintu kamarnya seolah menyelamatkannya dari kebosanan.

“My Lady, ada pesan dari My Lord,” seorang pelayan masuk membawa sebuah benda yang sangat dinantikan Hana.

Ponselnya.

Begitu benda itu diserahkan ke tangannya, sudah tertera sebuah jendela chat Yoshiki.

“Aku terburu-buru berangkat tadi. Maaf aku tidak memberitahumu. Aku ada meeting. Kemungkinan akan kembali tengah malam. Di bawah ada mobil dan supir jika kau ingin pergi ke suatu tempat. Jangan terlalu jauh dan beritau aku kemana kau pergi. Ada sesuatu yang ingin kau makan?”

Gila! Yoshiki memberikan ponselnya!

Terlalu bahagia, Hana melirik ke arah sang maid yang mengantarkan ponselnya, “umm… kamu mau terus di sini?”

“Ah… sebenarnya saya hanya disuruh memberikan ponsel ini pada and ajika My Lord mengirimkan pesan.”

“Kamu sudah boleh kembali ke kamarmu kok. Terima kasih.”

“Ah ta-tapi…” sang maid Nampak ragu.

“Apa ada hal yang lain lagi?”

“My Lord berkata untuk segera mengambil ponsel itu jika anda sudah selesai.”

Oh tentu saja. Yoshiki tidak akan segampang itu memberikan ponselnya.

“Berikan aku 5 menit. Aku perlu menelepon Yoshiki-kun. Setelah itu ponselnya akan kukembalikan.”

“Baik My Lady. Saya akan menunggu di luar,” sang maid yang merasa pekerjaannya dimudahkan, meninggalkan Hana sendirian.

Setelah memastikan sang maid benar-benar menghilang dibalik pintu. Dengan cepat Hana menekan nomor Keigo yang ia hapalkan. Yoshiki akan menghapus segala data tentang Keigo dalam ponselnya tentu saja!

Suara dering sambungan telepon sedikit melegakan Hana. Yoshiki tidak sampai memblokir nomor-nomor Keigo. Sisanya, ia hanya berharap suara dering sambungan itu berakhir.

‘Halo?’

Seketika Hana melirik ke arah pintu begitu mendengar suara jawaban Keigo. Ia sempat berpikir apa kamar ini tempat yang aman untuk menelepon Keigo. Bagaimana jika si maid atau siapapun mendengar hal ini? Tapi begitu ia mengingat-ingat, Yoshiki tipe pria yang sensitive terhadap kemananan, jadi ia cukup yakin jika ruangan ini kedap suara.

“Keigo-kun ini Hana!”

‘Hana! Astaga nomormu kode negara mana ini?’

“Aku ada di Prancis Keigo-kun.”

‘Prancis!?’

“Yoshiki-kun mengajakku paksa berbulan madu. Omong-omong bagaimana luka Keigo-kun?”

‘Aku melakukan 7 operasi pada ginjalku. Tapi semuanya sudah baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir.’

“Astaga aku sungguh minta maaf Keigo-kun…”

‘Sudah kukatakan tidak apa-apa. Bagaimana kamu bisa menghubungiku? Ke mana iblis itu pergi?’

“Yoshiki-kun selalu pergi ketika menjelang malam—entah kemana—sampai lewat malam.”

‘Setahuku ponselmu disita olehnya?’

“Dia mengirimkanku chat dan maid memintaku membalasnya, sekarang aku mengambil kesempata untuk menghubungimu.”

‘Aku sudah memesan tiket penerbangan ke Prancis. Perkiraan aku akan tiba besok siang. Kau akan berencana meninggalkan Prancis besok?’

“Eh—oh—t-tidak tau. Tunggu! Kenapa Keigo-kun sudah memesan tiket pesawat saja?”

‘Tidak ada waktu lagi Hana. Kebetulan aku memiliki kenalan Exorcist berperingkat 7 di sana. Aku akan meminta bantuannya untuk mengamankanmu.’

“A-aa…”

‘Besok jika iblis itu mengajakmu meninggalkan Prancis, kau harus menahannya sebisa mungkin. Aku akan mengirimkan lokasi hotel yang sudah kupesan sebentar lagi. Datangi aku ketika iblis itu pergi di malam hari. Aku akan memberikanmu ponsel untuk mempermudah komunikasi kita selagi kita menyusun rencana.’

Suara ketukan dari balik pintu membuat jantung Hana berdetak lebih cepat seketika.

“Baiklah kalau begitu Keigo-kun. Segera kirimkan alamatnya,” demikian Hana mengakhiri panggilannya.

“My Lady? Anda masih menelepon?” Suara Maid terdengar dari balik pintu.

Hana panik.

Sebuah alamat dari Keigo muncul dari room chat keduanya. Dengan cekatan Hana meraih pulpen dan sembarangan kertas yang merupakan novelnya untuk menuliskan alamat yang dituliskan Keigo. Berikutnya jarinya bergerak dengan cepat menghapus riwayat obrolan dan telepon dengan Keigo, dan memasukkan ponselnya pada mode muat ulang.

“My Lady?” Sang maid yang curiga memutuskan memasuki kamar Hana.

“Oh—tadi sepertinya ponselku error, jadi aku me-restart-nya. Lihat.” Hana menunjukkan ponselnya yang sedang memuat ulang.

“Ah!” Sang maid menunjukkan wajah menyesal.

“Nih bawa saja, sepertinya sudah tidak perlu menghubungi Yoshiki-kun,” Hana menyodorkan kembali ponselnya dengan ringan.

“Baiklah,” dengan sedikit ragu sang maid mengambil ponsel Hana, “saya ambil kembali.”

Sebelum meninggalkan ruangan, sang maid kembali berpesan, “jika My Lady merasa ingin menghubungi My Lord, My Lady boleh datang kepada saya.”

Hana mengangguk mengerti, “terima kasih.”


.


“….” Yoshiki hanya menatap datar layar ponselnya yang menunjukkan room chat antara dirinya dan Hana.

Status pesan telah terbaca sudah muncul sejak sepuluh menit yang lalu.

Berkali-kali ia mengintip ponselnya untuk memastikan apakah pesannya sudah dibalas. Namun pada akhirnya nihil. Pesannya dibiarkan terbaca tanpa ada balasan sedikit pun.

Hingga akhirnya Yoshiki benar-benar menyerah. Ia meletakkan ponselnya. 

“Menunggu istrimu membalas pesanmu, eh?”

Yoshiki hanya mendengus kesal mendengar ejekan yang dilontarkan oleh sosok yang hampir setara di sampingnya, “hn, sejak kapan kau suka mencampuri ursan orang lain, eh, Mammon?”

Bocah kecil itu terkikik, “aku suka melihatmu menderita haha. Padahal kalian berdua sedang bulan madu kan?”

“Hn. Terima kasih kepadamu yang sudah repot-repot mengganggu.”

“Ayolah aku hanya mengajakmu keluar ketika malam hari.”

“Hn…”


.


Tengah malam waktu Paris.

Bunyi pintu yang dibuka dengan halus tidak akan membuat Hana yang sedari tadi lelap dalam tidurnya terbangun. Yoshiki dengan muka lusuhnya melempar mantel yang ia gunakan pada sofa begitu.

Dipijatnya keningnya yang terasa berdenyut. Ia lelah.

Namun pandangannya bertemu dengan sosok Hana yang bergumul dengan selimutnya, menghangatkan dirinya.

Seketika senyum tipis muncul pada wajah datar sang pria. Onyx gelapnya seolah hanya terfokus pada kepala yang menyembul dari balik selimut itu. 

Ia menyibakkan rambut-rambut pendek Hana yang menutupi wajahnya. Dan lihatlah disana, wajah damai istrinya yang tenggelam dalam lautan mimpi.

“Selamat tidur My Lady,” gumannya.

.

Akibat udara dingin yang semakin menjalar pada tubuhnya, sapphire indah milik Hana terbuka seketika.

“Selamat pagi, My Lady,” sapaan itu menjadi awal bagaimana pagi Hana dimulai, prianya itu duduk di sampingnya dengan memainkan ponsel di tangannya. Bisa Hana lihat dari sana jika sang pria tengah sibuk mengamati berita internasional.

“Ah—Uh—Selamat pagi,” seketika Hana menegakkan tubuhnya, mengambil posisi siaga. Detik berikutnya ia merutuki kekonyolannya. Kenapa dia harus bertingkah waspada?

“Tidurmu nyenyak?”

“Ah—Ya…” Hana menjawab gagu.

“Hari ini kita akan mengunjungi Pont du Gard, sebaiknya kau segera bersiap-siap. Perjalannya akan memakan waktu 6 jam. Setelah itu kita akan langsung bertolak ke Roma.”

“Eh?”

Oke sialan. Apa yang Hana dan Keigo takutkan benar terjadi. Yoshiki benar-benar mengajaknya pergi meninggalkan Prancis!

Yoshiki menolehkan kepalanya mendengar respon Hana, “ada apa?”

“Eh!” Hana dengan gagu menjawab, “a-anu apa tidak bisa beristirahat sebentar untuk hari ini?” Sekarang Hana ingin menghajar dirinya sendiri.

“….” Yoshiki ragu sejenak mendengar pernyataan Hana, “kenapa?”

“U-udaranya dingin! Ayo istirahat sejenak untuk satu hari ini! Perjalanan lebih menyenangkan dengan cuaca cerah kan?”

“Hn… baiklah bila kau ingin begitu. Hari ini apa yang ingin kau lakukan? Berada di atas ranjang seharian penuh karena udara dingin? Aku bisa menemanimu.”

Seketika Hana meloncat bangun dari ranjangnya yang nyaman, “t-tidak!”

Semua kekehan kecil lolos dari bibir Yoshiki, “sayang sekali,” gumannya.

“Daripada tidak tau akan melakukan apa, mau ikut denganku?”

“Eh? Kemana?” Hana menatap Yoshiki kebingungan.

“Rumah sakit.”

“Heeeee??” Hana semakin kebingungan.

“Perusahaan farmasiku akan melakukan perjanjian dengan suatu rumah sakit. Seharusnya aku tidak perlu datang karena sudah diwakilkan oleh vice precident ku. Tapi karena kita tidak tau harus melakukan apa, mungkin kita bisa datang.”

“Heeeee,” Hana cukup terkejut, “itu acara yang sangat formal kan? Aku tidak membawa pakaian formal.”

“Kau tau masalahmu bisa kuselesaikan dalam hitungan detik. Lagipula kau dan aku tidak akan ikut dalam rapat perjanjiannya secara penuh. Kita hanya datang. Memantau. Bagaimana? Kau bisa belajar banyak hal mengenai kimia obat-obatan pada apoteker ahli mereka nanti.”

Hana kembali ragu. Namun ia sudah kehabisan ide untuk menolak ajakan Yoshiki. Alam sadarnya sendiri sangat menginginkan hal ini. Kapan lagi dia bisa belajar kepada ahlinya secara langsung?

Anggukan lemah diberikan oleh Hana, “baiklah…”

Yoshiki tersenyum tipis sebelum akhirnya mengacak rambut hitam istrinya, “baguslah. Ayo bersiap-siap. Setelah itu kita harus mengisi perutmu di restoran bawah sebelum ke rumah sakit.”

Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.