Jumat, 09 Oktober 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 52]

 CHAPTER 52: PIECES HISTORY

“Kau tau exorcist bisa muncul dari mana saja! Apakagi ini bukan Jepang! Bagaimana bisa kau seceroboh itu berkeliaran tanpa ada pengawasan dariku?”

“Astaga demi apapun! Itu hanya lobby hotel Yoshiki-kun! Lagipula kamu sendriri kemana kemarin? Menghilang begitu saja. Dan juga aku tidak bisa mengabari Yoshiki-kun karena ponselku tidak ada padaku!”

“Ck!” Yoshiki hanya berdecak kesal.

Persetan dengan berbagai kekacauan yang ditimbulkan firmanya di cabang Paris! 

Akibat pertengkaran konyol tersebut, pasangan Hana-Yoshiki hanya diam dalam beberapa saat. Keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

Hingga Hana kembali tidak bisa menahan ketakjubannya begitu ia melihat lukisan sang ratu yang empunya kastil Versailles beratus tahun silam, “Marie Antoinette benar-benar cantik.”

“Menurutmu seperti itu?” Celetuk Yoshiki.

“Uhm… ya. Dibanding aku. Hahaha,” dengan santai Hana menanggapi, “sayang sekali dia harus dipenggal kepalanya dalam revolusi Prancis.”

“Hn, sejauh apa yang kau ketahui?”

Hana cukup mengambil waktu sebelum menjawab pertanyaan Yoshiki, “sedikit. Aku hanya tau dia dan Pengeran Louis XVI menikah. Pangeran Louis sangat mencintainya sampai-sampai dia menggunakan uang rakyat untuk menyenangkannya. Rakyat berontak dan timbullah revolusi. Padahal Marie Antoinette juga suka bermain di belakang pangeran.”

“Bagaimana jika aku berkata jika pria yang bermain dengan Marie adalah aku?”

“Eh?” Kalimat itu lantas mengambil atensi Hana sepenuhnya.

“Dia mendatangiku dengan sendirinya. Pada dasarnya dia hanya wanita yang suka kehidupan glamour. Dan aku hanya menggunakan tubuhnya, dan isi kepalanya yang kosong itu untuk menghancurkan Louis XVI.”

Hana kehilangan kalimatnya. Semuanya tertelan dalam kerongkongannya tanpa sempat terucap.

Menerima pandangan penuh pertanyaan dari Hana, Yoshiki hanya tersenyum miring dan kecut, “Aku sudah hidup lebih dari seribu tahun, My Lady. Sebagian besar sejarah dunia ini aku terlibat di dalamnya. Tentu saja, terlibat untuk membawa kehancuran bagi manusia ciptaan-Nya ini.”

Hana memijat pelipisnya pelan. Mencoba mencerna kenyataan baru yang ia dengar.

Baiklah. Suaminya memang seorang raja iblis. Sudah berapa kali ia mengingatkan dirinya sendiri jika hal-hal di luar nalar akan terjadi?

Oleh sebab itu ia tidak akan menyangkal jika seseorang meneriaki dirinya mengenai betapa ia tidak mengenal suaminya. 

“Yoshiki-kun… benar-benar selingkuhan dengan Marie Antoinette?”

“Hn. Louis itu bahkan sudah berkali-kali kita bersetubuh. Tapi pria itu benar-benar konyol. Ia tetap mencintai Marie bahkan sampai rela membiarkan kepalanya dipenggal seperti itu.”

DEG.

Sesuatu di dalam diri Hana seolah terpicu mendengarnya. Tidak bisa membohongi dirinya sendiri, Hana mengakui jika ia cukup kesal dan cemburu mendengar pernyataan Yoshiki. Tapi kembali lagi, Hana harus tau siapa Yoshiki. Yoshiki adalah Lucifer yang bahkan sudah ada jauh sebelum adanya dirinya. 

Pandangannya tertuju kembali pada lukisan sang ratu. Marie Antoinette benar-benar cantik. Wanita itu terlihat begitu berkharisma. Jauh lebih cantik daripada dirinya. Tentu saja Yoshiki akan sangat diuntungkan jika berhubungan dengan sang ratu.

“Selanjutnya aku menerima banyak informasi darinya mengenai kondisi kerajaan. Dan aku menjualnya pada Napoleon. Revolusi Prancis bisa berjalan dengan lancar sampai kedua kepala pemilik kastil Versailles ini terpenggal.”

“Yoshiki-kun… mengenal Napoleon?”

“Hn. Dia pribadi yang luar biasa.”

‘Yoshiki-kun juga luar biasa,’ batin Hana kesal atas jawaban ambigu Yoshiki.

“Aku hanya tau cerita perjuangan Napoleon. Tapi jika Yoshiki-kun mengatakan Napoleon luar biasa, aku jadi semakin yakin jika dulu Napoleon luar biasa keren sekali. Wajahnya juga cukup tampan, ehe,” timpal Hana dengan setengah terkekeh.

“Hn…” Entah kesal karena ucapan Hana yang terlalu menyanjung Napoleon, Yoshiki hanya menjawab dengan gumanan.

“Lalu setelah berbuat seperti menusuk ratu Marie Antoinette dari belakang, Yoshiki-kun cukup berani datang ke sini lagi ya.”

“Hn. Setelah lebih dari 300 tahun, akhirnya aku kembali memijakkan kaki di kastil ini.”

“Memangnya Yoshiki-kun tidak takut oleh arwah penasaran Marie Antoinette?” 

“Hn, seorang raja iblis takut pada arwah penasaran?” Yoshiki menjawab konyol.

Pandangan Hana kembali tertuju pada lukisan sang ratu yang begitu menawan hati. Kecantikan yang luar biasa. Tidak heran jika Pangeran Louis XVI sampai jatuh hati sedemikian rupa demi sang ratu. Dan sang ratu, pernah memiliki hubungan gelap dengan pria yang berstatus sebagai suaminya. Kuroto Yoshiki. Bahkan keduanya pernah berhubungan badan.

Kesal. Namun bagaimana lagi, Yoshiki juga seorang pria yang bahkan sudah hidup lebih dari berates tahun. Ia hanya muncul dalam kehidupan pria itu tidak lebih dari sepuluh tahun. 

Menyebalkan.


.


“….” Hana hanya bisa memandangi Yoshiki yang tiba-tiba memakai kembali setelan jasnya denga rapi. Padahal semenit lalu pria itu masih duduk di sampingnya membaca sebuah novel yang dulu pernah ia rekomendasikan.

Hana ingin tau kemana pria itu akan pergi secara tiba-tiba setiap malam. Namun harga dirinya yang konyol menahannya.

“Aku pergi, My Lady,” ucap pria itu begitu menutup pintu kamar hotel sambil berpesan, “jika kau membutuhkan sesuatu, ada maid di kamar sebelah.”

Dengan menyilangkan tangannya, Hana hanya menatap kesal pada pria yang telah menghilang dari balik pintu, “kenapa dia tidak mengatakan kemana akan pergi sih.”


.


Pukul delapan malam. Belum ada setengah jam sejak Yoshiki meninggalaknnya. Dan ia sudah sebosan ini. Padahal yang ia lakukan dengan atau tanpa Yoshiki sejak tadi setelah makan malam juga melakukan hal yang sama. Membaca buku bersama. Tapi sekarang semenarik apapun alur cerita yang disajikan oleh novel misteri di tangannya, Hana tetap merasa kebosanan.

Sebuah ketukan pada pintu kamarnya seolah menyelamatkannya dari kebosanan.

“My Lady, ada pesan dari My Lord,” seorang pelayan masuk membawa sebuah benda yang sangat dinantikan Hana.

Ponselnya.

Begitu benda itu diserahkan ke tangannya, sudah tertera sebuah jendela chat Yoshiki.

“Aku terburu-buru berangkat tadi. Maaf aku tidak memberitahumu. Aku ada meeting. Kemungkinan akan kembali tengah malam. Di bawah ada mobil dan supir jika kau ingin pergi ke suatu tempat. Jangan terlalu jauh dan beritau aku kemana kau pergi. Ada sesuatu yang ingin kau makan?”

Gila! Yoshiki memberikan ponselnya!

Terlalu bahagia, Hana melirik ke arah sang maid yang mengantarkan ponselnya, “umm… kamu mau terus di sini?”

“Ah… sebenarnya saya hanya disuruh memberikan ponsel ini pada and ajika My Lord mengirimkan pesan.”

“Kamu sudah boleh kembali ke kamarmu kok. Terima kasih.”

“Ah ta-tapi…” sang maid Nampak ragu.

“Apa ada hal yang lain lagi?”

“My Lord berkata untuk segera mengambil ponsel itu jika anda sudah selesai.”

Oh tentu saja. Yoshiki tidak akan segampang itu memberikan ponselnya.

“Berikan aku 5 menit. Aku perlu menelepon Yoshiki-kun. Setelah itu ponselnya akan kukembalikan.”

“Baik My Lady. Saya akan menunggu di luar,” sang maid yang merasa pekerjaannya dimudahkan, meninggalkan Hana sendirian.

Setelah memastikan sang maid benar-benar menghilang dibalik pintu. Dengan cepat Hana menekan nomor Keigo yang ia hapalkan. Yoshiki akan menghapus segala data tentang Keigo dalam ponselnya tentu saja!

Suara dering sambungan telepon sedikit melegakan Hana. Yoshiki tidak sampai memblokir nomor-nomor Keigo. Sisanya, ia hanya berharap suara dering sambungan itu berakhir.

‘Halo?’

Seketika Hana melirik ke arah pintu begitu mendengar suara jawaban Keigo. Ia sempat berpikir apa kamar ini tempat yang aman untuk menelepon Keigo. Bagaimana jika si maid atau siapapun mendengar hal ini? Tapi begitu ia mengingat-ingat, Yoshiki tipe pria yang sensitive terhadap kemananan, jadi ia cukup yakin jika ruangan ini kedap suara.

“Keigo-kun ini Hana!”

‘Hana! Astaga nomormu kode negara mana ini?’

“Aku ada di Prancis Keigo-kun.”

‘Prancis!?’

“Yoshiki-kun mengajakku paksa berbulan madu. Omong-omong bagaimana luka Keigo-kun?”

‘Aku melakukan 7 operasi pada ginjalku. Tapi semuanya sudah baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir.’

“Astaga aku sungguh minta maaf Keigo-kun…”

‘Sudah kukatakan tidak apa-apa. Bagaimana kamu bisa menghubungiku? Ke mana iblis itu pergi?’

“Yoshiki-kun selalu pergi ketika menjelang malam—entah kemana—sampai lewat malam.”

‘Setahuku ponselmu disita olehnya?’

“Dia mengirimkanku chat dan maid memintaku membalasnya, sekarang aku mengambil kesempata untuk menghubungimu.”

‘Aku sudah memesan tiket penerbangan ke Prancis. Perkiraan aku akan tiba besok siang. Kau akan berencana meninggalkan Prancis besok?’

“Eh—oh—t-tidak tau. Tunggu! Kenapa Keigo-kun sudah memesan tiket pesawat saja?”

‘Tidak ada waktu lagi Hana. Kebetulan aku memiliki kenalan Exorcist berperingkat 7 di sana. Aku akan meminta bantuannya untuk mengamankanmu.’

“A-aa…”

‘Besok jika iblis itu mengajakmu meninggalkan Prancis, kau harus menahannya sebisa mungkin. Aku akan mengirimkan lokasi hotel yang sudah kupesan sebentar lagi. Datangi aku ketika iblis itu pergi di malam hari. Aku akan memberikanmu ponsel untuk mempermudah komunikasi kita selagi kita menyusun rencana.’

Suara ketukan dari balik pintu membuat jantung Hana berdetak lebih cepat seketika.

“Baiklah kalau begitu Keigo-kun. Segera kirimkan alamatnya,” demikian Hana mengakhiri panggilannya.

“My Lady? Anda masih menelepon?” Suara Maid terdengar dari balik pintu.

Hana panik.

Sebuah alamat dari Keigo muncul dari room chat keduanya. Dengan cekatan Hana meraih pulpen dan sembarangan kertas yang merupakan novelnya untuk menuliskan alamat yang dituliskan Keigo. Berikutnya jarinya bergerak dengan cepat menghapus riwayat obrolan dan telepon dengan Keigo, dan memasukkan ponselnya pada mode muat ulang.

“My Lady?” Sang maid yang curiga memutuskan memasuki kamar Hana.

“Oh—tadi sepertinya ponselku error, jadi aku me-restart-nya. Lihat.” Hana menunjukkan ponselnya yang sedang memuat ulang.

“Ah!” Sang maid menunjukkan wajah menyesal.

“Nih bawa saja, sepertinya sudah tidak perlu menghubungi Yoshiki-kun,” Hana menyodorkan kembali ponselnya dengan ringan.

“Baiklah,” dengan sedikit ragu sang maid mengambil ponsel Hana, “saya ambil kembali.”

Sebelum meninggalkan ruangan, sang maid kembali berpesan, “jika My Lady merasa ingin menghubungi My Lord, My Lady boleh datang kepada saya.”

Hana mengangguk mengerti, “terima kasih.”


.


“….” Yoshiki hanya menatap datar layar ponselnya yang menunjukkan room chat antara dirinya dan Hana.

Status pesan telah terbaca sudah muncul sejak sepuluh menit yang lalu.

Berkali-kali ia mengintip ponselnya untuk memastikan apakah pesannya sudah dibalas. Namun pada akhirnya nihil. Pesannya dibiarkan terbaca tanpa ada balasan sedikit pun.

Hingga akhirnya Yoshiki benar-benar menyerah. Ia meletakkan ponselnya. 

“Menunggu istrimu membalas pesanmu, eh?”

Yoshiki hanya mendengus kesal mendengar ejekan yang dilontarkan oleh sosok yang hampir setara di sampingnya, “hn, sejak kapan kau suka mencampuri ursan orang lain, eh, Mammon?”

Bocah kecil itu terkikik, “aku suka melihatmu menderita haha. Padahal kalian berdua sedang bulan madu kan?”

“Hn. Terima kasih kepadamu yang sudah repot-repot mengganggu.”

“Ayolah aku hanya mengajakmu keluar ketika malam hari.”

“Hn…”


.


Tengah malam waktu Paris.

Bunyi pintu yang dibuka dengan halus tidak akan membuat Hana yang sedari tadi lelap dalam tidurnya terbangun. Yoshiki dengan muka lusuhnya melempar mantel yang ia gunakan pada sofa begitu.

Dipijatnya keningnya yang terasa berdenyut. Ia lelah.

Namun pandangannya bertemu dengan sosok Hana yang bergumul dengan selimutnya, menghangatkan dirinya.

Seketika senyum tipis muncul pada wajah datar sang pria. Onyx gelapnya seolah hanya terfokus pada kepala yang menyembul dari balik selimut itu. 

Ia menyibakkan rambut-rambut pendek Hana yang menutupi wajahnya. Dan lihatlah disana, wajah damai istrinya yang tenggelam dalam lautan mimpi.

“Selamat tidur My Lady,” gumannya.

.

Akibat udara dingin yang semakin menjalar pada tubuhnya, sapphire indah milik Hana terbuka seketika.

“Selamat pagi, My Lady,” sapaan itu menjadi awal bagaimana pagi Hana dimulai, prianya itu duduk di sampingnya dengan memainkan ponsel di tangannya. Bisa Hana lihat dari sana jika sang pria tengah sibuk mengamati berita internasional.

“Ah—Uh—Selamat pagi,” seketika Hana menegakkan tubuhnya, mengambil posisi siaga. Detik berikutnya ia merutuki kekonyolannya. Kenapa dia harus bertingkah waspada?

“Tidurmu nyenyak?”

“Ah—Ya…” Hana menjawab gagu.

“Hari ini kita akan mengunjungi Pont du Gard, sebaiknya kau segera bersiap-siap. Perjalannya akan memakan waktu 6 jam. Setelah itu kita akan langsung bertolak ke Roma.”

“Eh?”

Oke sialan. Apa yang Hana dan Keigo takutkan benar terjadi. Yoshiki benar-benar mengajaknya pergi meninggalkan Prancis!

Yoshiki menolehkan kepalanya mendengar respon Hana, “ada apa?”

“Eh!” Hana dengan gagu menjawab, “a-anu apa tidak bisa beristirahat sebentar untuk hari ini?” Sekarang Hana ingin menghajar dirinya sendiri.

“….” Yoshiki ragu sejenak mendengar pernyataan Hana, “kenapa?”

“U-udaranya dingin! Ayo istirahat sejenak untuk satu hari ini! Perjalanan lebih menyenangkan dengan cuaca cerah kan?”

“Hn… baiklah bila kau ingin begitu. Hari ini apa yang ingin kau lakukan? Berada di atas ranjang seharian penuh karena udara dingin? Aku bisa menemanimu.”

Seketika Hana meloncat bangun dari ranjangnya yang nyaman, “t-tidak!”

Semua kekehan kecil lolos dari bibir Yoshiki, “sayang sekali,” gumannya.

“Daripada tidak tau akan melakukan apa, mau ikut denganku?”

“Eh? Kemana?” Hana menatap Yoshiki kebingungan.

“Rumah sakit.”

“Heeeee??” Hana semakin kebingungan.

“Perusahaan farmasiku akan melakukan perjanjian dengan suatu rumah sakit. Seharusnya aku tidak perlu datang karena sudah diwakilkan oleh vice precident ku. Tapi karena kita tidak tau harus melakukan apa, mungkin kita bisa datang.”

“Heeeee,” Hana cukup terkejut, “itu acara yang sangat formal kan? Aku tidak membawa pakaian formal.”

“Kau tau masalahmu bisa kuselesaikan dalam hitungan detik. Lagipula kau dan aku tidak akan ikut dalam rapat perjanjiannya secara penuh. Kita hanya datang. Memantau. Bagaimana? Kau bisa belajar banyak hal mengenai kimia obat-obatan pada apoteker ahli mereka nanti.”

Hana kembali ragu. Namun ia sudah kehabisan ide untuk menolak ajakan Yoshiki. Alam sadarnya sendiri sangat menginginkan hal ini. Kapan lagi dia bisa belajar kepada ahlinya secara langsung?

Anggukan lemah diberikan oleh Hana, “baiklah…”

Yoshiki tersenyum tipis sebelum akhirnya mengacak rambut hitam istrinya, “baguslah. Ayo bersiap-siap. Setelah itu kita harus mengisi perutmu di restoran bawah sebelum ke rumah sakit.”

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.