Senin, 21 September 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 51]

  CHAPTER 51: SPECIAL PLACE, PARIS

Minggu ujian diawali dengan tekanan berat bagi Hana dan berakhir dengan helaan nafas berat pula.

“Gawat… aku tidak yakin dengan nilai kalkulusku…”guman Hana sembari mengigit sedotan sodanya.

“Aku bisa membuatmu mendapatkan nilai A untuk kalkulus, atau mungkin mata kuliah lain,” Yoshiki dari arah samping menimpali dengan santai.

Oh tentu saja. Hal yang mudah bagi seorang raja iblis bukan?

“Terima kasih,” jawab Hana sarkastis.

“Hei Kuroto couple, mau ikut ke Osaka?” Dari arah belakang keduanya terdengar suara riuh.

“Osaka?” Tanya Hana.

“Yap, kita berencana berlibur bersama setidaknya satu minggu sebelum kembali ke kampung halaman. Mau ikut?”

“Terima kasih, namun kita sudah merancangkan liburan sendiri,” Yoshiki menjawab tanpa diminta.

“Heeee… mau kemana kalian?”

“Entahlah, berkeliling dunia?” Ucap Yoshiki menggantung.

Siulan demi siulan menyahuti, “dunia orang yang sudah menikah memang berbeda.”

“Selamat berlibur teman-teman, kami permisi,” Yoshiki dengan seenaknya meraih pundak Hana dan membawa perempuan itu pergi.


.


“Aku bahkan tidak menyetujui apapun tentang rencana berpergian ini,” Hana hanya menatap Yoshiki yang mulai mengepak beberapa pakaiannya ke dalam sebuah koper.

Yoshiki hanya tertawa kecil mendengar ucapan Hana, “ayolah My Lady, ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan.”

“Tidak dengan semua beban ini.”

Yoshiki menghela nafasnya berat sebelum akhirnya membawa Hana duduk di sofa dan berlutut di hadapannya, “oleh sebab itu aku merencanakan hal yang bisa membuat bebanmu sedikit berkurang.”

“Yoshiki-kun selalu seperti itu.”

Ucapan tiba-tiba Hana membuat Yoshiki menghentikan gerakannya mengepak pakaian, “Hn?”

“Yoshiki-kun selalu memutuskan segalanya seenaknya. Memaksaku. Mengekangku.”

Mulut Yoshiki hanya sedikit terbuka sebelum bisa menjawab ucapan Hana. Ia bahkan tidak bisa melihat wajah Hana. Rambut hitam pendek yang sekarang telah sepanjang dagunya sudah sempurna menutupi ekspresi Hana.

DAKK!

Keheningan dipecahkan oleh bantingan tutup koper Yoshiki.

“Sialan. Ini menyebalkan sekali,” Yoshiki hanya memijit pelipisnya dengan ekspresinya penuh dengan kepenatan.

“Jika aku mengatakan jika semua tindakanku ini hanya untuk kebahagiaanmu kau juga tidak akan percaya. Lagipula sejak awal siapa yang akan mempercayai iblis bukan?”

Entah mengapa kalimat Yoshiki barusan terdengar seperti sarkasme pada telinga Hana.

“Atau, My Lady jangan-jangan kau menyesal menjadi iblis?”

Ah, Yoshiki mengatakannya. Kegundahan dalam dirinya berhasil ia katakan.

Sementara Hana hanya bisa menatapnya dengan pandangan tak menentu, Yoshiki kembali mengucapkan kalimatnya, “kau menyesal menjadi istriku?”

Dijatuhkannya tubuhnya pada tepian ranjang dengan memunggungi sang istri, “padahal hanya kau kebangganku. Menyebalkan sekali jika aku sampai kalah dibandingkan dengan manusia exorcist lemah seperti si sialan itu.”

Seolah tidak memberikan kesempatan bagi Hana untuk berbicara, Yoshiki dengan helaan nafas beratnya meninggalkan ruangan dengan berucap, “tidak ada bantahan. Kita pergi besok. Semuanya sudah dipersiapkan dengan baik.”

.

Dan di sinilah Hana berada. Sebuah pesawat jet pribadi. Yang demi apapun tidak pernah Hana impikan bisa menaikinya suatu saat ini. Sekarang pantatnya sudah berada di suatu kursi penumpang yang nyaman dengan beberapa potongan buah tersaji di hadapannya di tengah penerbangannya di antara langit biru melintasi samudera Hindia.

“Istirahatlah, masih sekitar 2 jam lagi sebelum mendarat di CDG,” dari arah samping, Yoshiki yang masih sibuk dengan beberapa berkas dan laptop di pangkuannya berguman.

“CDG?” Singkatan itu teredengar asing bagi Hana. Dan sejak awal ia memang tidak diberitau arah tujuan kepergian ini. Yoshiki hanya menyeretnya serta tanpa memperdulikan penolakan darinya.

“Paris Charles de Gaulle Airport.”

“….”

Apa?

Hana hanya bisa terdiam. Lantaran telinganya sama sekali tidak bisa menangkap satu kalimatpun dari apa yang diucapkan Yoshiki.

“…. Bahasa Latin?” Cengo Hana.

Yoshiki memberikan pandangannya pada Hana akhirnya, “Bandara Internasional Paris,” ujarnya dengan Bahasa Jepang.

Hana hanya bisa ber-oohh ria.

“Tadi itu Bahasa dan aksen—”

“Prancis.”

Tidak bisa dipungkiri. Suaminya memang luar biasa. Bahasa dan aksen Prancis pun terdengar begitu lembut pada bibirnya.

‘Ya! Ya! Yoshiki-kun memang luar biasa!’ Hana melipat kedua tangannya di depan dada dan mengangguk-angguk tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sementara sang suami hanya bisa sweatdrop melihat kelakukan istrinya.


.


Hamparan bandara internasional Prancis begitu bersih. Hanya berisi pesawat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan penerbangan. Tidak ada hujan. Tidak ada salju. Hanya matahari pagi di pukul delapan pagi waktu Paris.

Benar, matahari pagi yang hang—

“Dingin banget!” Hana memeluk dirinya sendiri dengan panik begitu menuruni pesawat.

“Suhunya memang masih 10 derajat celcius. Gunakan jaketmu,” Dari arah belakang Yoshiki memakaikan mantelnya pada Hana.

Seketika bau maskulin yang hanya dimiliki oleh Yoshiki mengisi indra penciuman Hana. Hana mabuk? Oh sekarang siapa perempuan yang akan berpaling dari karisma sang raja?

Hana hanya bisa melangkahkan kakinya mengekor di belakang sang pria yang nampaknya berusaha menjaga langkah kakinya memendek agar tetap bisa diikuti. Sementara seluruh pandangannya tertuju pada sekitarnya yang dipenuhi oleh manusia berkulit putih dengan wajah eksotis mereka.

“Kenapa kau berjalan di belakangnku? Kau akan hilang dalam kerumunan,” tiba-tiba saja tangan Hana yang sedari tadi melayang di udara digenggam oleh sebuah tangan besar.

“E-eeh—” Oke Hana tidak bisa menyembunyikan rona di wajahnya.

Demi debu di negara Prancis! Ini hanya sebuah gandingan tangan dan Hana salah tingkah!?

“Kita akan mengisi perut terlebih dahulu, ada sesuatu yang ingin kau makan?”

“Ramen?”

Dasar bodoh! Hana mengumpat pada dirinya sendiri berkali-kali. Sekacau itu pikirannya sampai jawabannya luar biasa ngawur seperti itu? Orang gila macam apa yang mencari ramen di Prancis?

“Cukup aneh kau meminta ramen di Prancis.”

MEMANG ANEH! KENAPA YOSHIKI-KUN MENGANGGAP ITU SERIUS SIH!?

“A—aa tidak! Lupakan lupakan!”

“Bagaimana jika spaghetti saja? Pasta berbentuk mie?”

“Haa… sebaiknya lupakan saja Yoshiki-kun. Aku akan makan apapun yang Yoshiki-kun pesan.”


.


“Foie Gras, Coq au Vin, Soupe a l’oignon, Confit de Canard, dan Crème Brulee.”

Hana hanya mengedipkan kedua matanya tidak mengerti apa-apa saja yang Yoshiki ucapkan pada pelayan yang telah membawa pergi pesanan mereka.

“…. Yoshiki-kun memesan racun?”

“Tunggu saja, semuanya makanan wajib yang harus dicoba jika kau berada di Prancis.” Jawab Yoshiki santai.

“… Hoo… semuanya terdengar seperti bahasa latin dan seperti racun jika berada di laboratorium.”

“Hn… memang seperti itu Bahasa Prancis.”

“Yoshiki-kun bisa berapa bahasa? Hebat sekali bahkan sampai logatnya pun sama persis.”

“Entahlah. Sepertinya aku hampir bisa seluruh bahasa di muka bumi ini.”

“Waaaw…” Hana bertepuk tangan ringan.

“Kau kira sudah berapa lama aku berada di muka bumi ini? Menunggumu.”

Hana terdiam sejenak. Topik pembicaraan yang awalnya terasa ringan menjadi cukup berat.

“Hee…” hanya gumanan konyol yang bisa Hana keluarkan.

Hana akan bersujud berterima kasih pada tiga orang pelayan yang datang di saat yang tempat membawakan makanan yang dipesan. 


.


“Pemandangannya keren sekali!! Astaga Paris memang keren!!” Dari sebuah beranda hotel Hana merentangkan kedua tangannya. Matahari sore yang berwarna kemerahan mengguyurnya tanpa ampun.

“Bahkan Menara Eifel terlihat, yah walaupun tidak terlalu jelas…”

“Pelayanku salah melakukan reservasi tempat, seharusnya kita menginap di hotel yang lebih dekat dengan Menara Eifel,” dari arah belakang Yoshiki menyahuti, pria itu tengah melepas kemejanya dengan tenang.

Wajah kemerahan Hana disamarkan oleh terangnya senja kala itu.

Sudah berapa tahun keduanya menikah? Dan Hana masih belum terbiasa dengan badan atletik sang suami.

“Kau bisa segera membersihkan badanmu, pukul 7 nanti kita akan mendatangi Menara Eifel.” 

“Oh sungguh? Oke aku mandi!” Bagai anak kecil, Hana berlari menuju kamar mandi.

Begitu ia melewati Yoshiki, pergerakannya tertahan, pasalnya pria itu tiba-tiba menggenggam tangannya.

“Mau kubantu?”

“E-eh?”

“Membersihkan tubuhmu? Bagaimana jika mandi bersama?”

“HEEEEEE!!????”

Oke. Gendang telinga Yoshiki sepertinya hampir pecah.

“Fufu… Sudah mandi sana,” dilepaskannya tangan Hana sembari ia terkekeh kecil.


.


Matahari telah sempurna tertelan malam. Suhu udara juga perlahan semakin menurun hingga hampir menyentuh 8 derajat celcius lagi. 

Keduanya melangkah beriringan menuju taman Eifel. Hana sibuk menyembunyikan tangannya yang masih belum terbiasa dengan dinginnya udara di balik saku mantelnya. Namun pandangannya bisa berkeliling ria menjelajah setiap sudut bangunan paris.

“Cantik sekali…” gumannya tanpa sadar mengangumi sisi arsitektur setiap bangunan.

“Masih lebih cantik itu kan?” Sahut Yoshiki dengan tangannya menunjuk ke sebuah Menara yang sangat terkenal di seluruh penjuru bumi. Menara Eifel. Lampu-lampu yang dinyalakan pada sekeliling Menara membuat kesan romantis tersendiri.

Begitu pandangan Hana terambil alih oleh sosok indah Menara Eifel, sapphire miliknya melebar takjub.

Benar. Indah.

Ujung bibir Yoshiki sedikit tertarik melihat wajah Hana yang begitu puas, “kau suka?”

“A-ah… u-um…” Kepalanya terangguk lemah.

Tidak pernah terlintas dipikirannya akan bisa menjajakkan kaki di luar negri setelah kepergian orang tuanya. Untuk bisa hidup saja ia sangat tertatih-tatih. Ia hanya sebatang kara. Hingga suatu hari ia memimpikkan aka nada seorang pangeran berkuda putih yang akan jadi penyemalat hidupnya. Seorang luar biasa yang memiliki kuasa dan memberikannya dunia. Namun kenyatan dunia yang menyakitkan membuatnya berharap pangeran berkuda putih itu berubah menjadi pangeran berkuda hitam. Ia juga ingin menghancurkan dunia yang telah menghancurkannya.

Sayangnya itu hanyalah khayalan bocah kelas 6 SD. Semuanya berangsur-angsur ia lupakan. Hingga malam bersalju itu datang.

Khayalan yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam. Khayalan mengenai pangeran kegelapan yang mendatanginya sudah hampir ia lupakan saat itu.

Tapi seolah dipermainkan oleh takdir, ia benar-benar bertemu pria dalam imajinasinya. Sosok angkuh nan penuh kuasa itu benar-benar mendatanginya.

“Kenapa? Kau melamun?”

Ucapan dari Yoshiki barusan membuatnya kembali ke alam sadarnya.

Sudah berapa banyak hal yang terjadi ia lalui bersama pria ini?

“Tidak… hanya terpikirkan sedikit hal…” Jawabnya menghindar.

“Hn… aku ingin menciummu.”

“!!???” Ucapan super blak-blakkan itu membuat Hana mendelik kebingungan.

“Boleh?”

“A-apa!?”

“Aku yakin kau mendengar jelas ucapanku My Lady. Aku ingin menciummu.”

Semuanya terasa begitu intens mendadak. Yoshiki yang mencengkram kedua bahunya dan tatapannya mengunci kedua bola matanya.

Dalam beberapa detik berpikir, ia mengira akan kalah oleh pesona sang iblis. Ia mengakui jika suasananya benar-benar mendukung, namun ternyata tidak secepat itu. 

Ditepisnya tangan Yoshiki dengan lembut sambal berucap, “tidak dengan segala ganjalan ini Yoshiki-kun.”

Pria dengan rambut jaged itu menghelakan nafasnya berat, “kau mengerikan sekali. Membiarkan suamimu tidak bisa menciummu dalam waktu yang lama.”

‘Berikan darahmu secepatnya!’ Kalimat Tomuro barusan terlintas di benak Hana. Tidak hanya itu, beberapa kalimat seperti berciuman… berhubungan sex… semuanya juga terpikirkan.

Dari arah samping, ia bisa melihat sang pria hanya berdiri memandang ke arah Menara dengan pandangan datarnya. Sebuah pandangan yang memandang seluruh dunia membosankan.

“Bukankah aku sudah mengatakan jika Yoshiki-kun ingin mencium perempuan, Yoshiki-kun bebas melakukannya dengan siapapun.”

Kepala pria itu kembali menoleh, kali ini pandangannya menjadi sedikit mendung.

“Kau benar-benar serius membiarkanku berciuman dengan perempuan lain?”

Kepala Hana terangguk perlahan—ia ragu, “u-um…”

Tawa mengejek keluar dari bibir pria itu, “jika aku bisa melakukannya aku sudah melakukannya sejak lama.”

“Eh?”

“Tidak ada.”

“Tidak ada?” Hana memiringkan kepalanya atas jawaban ambigu Yoshiki.

“Tidak ada perempuan di muka bumi ini yang bisa membahagiakanku yang seorang Lucifer, My Lady.”

“O-oh?” Sekarang Hana terlihat seperti menggali kuburannya sendiri.

“Kau pikir sudah berapa banyak wanita yang sudah kusentuh sepanjang masa hidupku?”

Hana hanya bisa memberikan tatapan tanpa ada jawaban untuk Yoshiki.

“Aku sangat bosan dengan kehidupanku. Sementara aku dikutuk untuk terus berada di muka bumi ini sampai hari penghakiman tiba. Hanya kau, satu-satunya, yang memberikanku perasaan aneh seperti ini. Semuanya, segalanya yang berkaitan dengan dirimu, seolah-olah hanya hal itu yang bisa membuatku bahagia.”

“Kalau begitu, jika hubungan ini akan berjalan cukup lama, apakah Yoshiki-kun juga akan merasa bosan denganku?”

Cukup lama bagi sang raja iblis untuk menjawab pertanyaan dari istrinya.

“Akan selalu ada hal baru darimu setiap hari. Hal-hal yang tidak bisa terprediksikan oleh kekuasaanku. Tidak aka nada kebosanan di sana.”

Hana mengerti. Yoshiki tidak hanya bosan dengan dunia yang ia tinggali. Yoshiki juga bosan dengan segala hal yang mampu ia baca dengan kekuasaannya yang otoritas.

Seharusnya malam itu keduanya bisa menghabiskan malam dengan lebih romantic. Ayolah, tidak semua pasangan di muka bumi ini bisa menikmati percintaan di tanah suci romantisme seperti Paris kan?

Tapi Hana lebih memilih hengkang begitu saja. Ia hanya terlalu pusing dengan segala pemikiran yang ada. Lagipula udara dingin juga semakin mencekik.

“Yoshiki-kun boleh tinggal lebih lama jika ingin, tidak perlu memaksakan diri menemaniku pulang,” Hana yang merasa tidak enak pada pria itu berujar.

“Hn? Tidak. Lagipula kau juga harus segera tidur lebih awal. Besok kita akan menuju istana Versailles.”

“Ah-hoo… apakah jauh?”

“Sekitar 25 km dari Paris.”

“Aku pernah mendengar nama itu di kelas sejarah,” Hana hanya melanjutkan pembicaraan untuk mengenyahkan suasana canggung.

“Tentu. Istana itu sangat bersejarah.”


.


“Astaga indah sekali!” Teriakan ketakjuban Hana menggema di dalam kastil yang penuh dengan ukiran indah di dalamnya.

“Sayangnya, dibalik keindahannya ada cerita kelam yang menyelimuti kastil ini,” ucap Yoshiki dari arah belakang Hana dengan tenang.

“Aku tau, ratu Marie Antoinette dulu dipenggal hidup-hidup kan di tempat ini?”

“Hn… kau tau…”

“Aku sempat membaca ulang sejarah di loby kemarin sebelum tidur,” Hana tersenyum percaya diri.

Pandangan Yoshiki memincing sejenak, “bukankah aku sudah mengingatkanmu untuk tidak berkeliaran sembarangan kemarin?”

“Aku hanya berada di loby Yoshiki-kun. Lagipula aku sangat bosan di dalam kamar sendirian!” Hana memutar bola matanya jengah karena sikap overprotective Yoshiki kembali muncul. Lagipula bukankah salah pria itu juga jika ia mati kebosanan karena ditinggal begitu saja di tengah liburan?

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.