Chap 215 "Ahh~ lama..." si Exorcist berguman malas dan langsung menjatuhkan tubuhnya pada rerumputan sambil mengamati kejadian di depannya. "Kau hanya perlu memilih tuan iblis yang terhormat. Cukup tusukkan pedangmu yang penuh dengan kekuatan murni Rayumi Hana dan biarkan itu membunuhmu, atau kau mau membiarkan Rayumi Hana mati karena inti sari jiwaya ikut terserap?" ucapan si exorcist membuat Hana terkaget. Apa? Membunuh? Apa maksudnya!? Yoshiki terlihat kebingungan menatap pedang kusanaginya. "ahh... Apa kau tidak mau mati?" si Exorcist kembali berkicau. Tidak. Sejujurnya Yoshiki sama sekali tidak takut mati. Bahkan jika saat ini Tuhan memanggilnya paksa dan menyiksanya ia tak akan takut. Yang ia takutkan hanya sosok yang selalu tersenyum dengan konyol yaitu istrinya sendiri itu pergi mendahuluinya menemui Tuhan. Kepala pria berambut jaged itu dengan perlahan menoleh ke arah sang istri yang terkurung. Sebuah senyum hambar terluas pada bibir tipisnya. Sebentar lagi istrinya akan bebas dari belenggu rasa sakitnya. Ah benar juga, dirinya akan menancapkan pedang yang seharusnya menjadi senjatanya itu ke dalam jantungnya dan mati-matian menarik semua kekuatan yang dimiliki istrinya supaya tidak ada lagi exorcist atau iblis lain yang mengejar istrinya. Agar kehidupan lama yang normal milik Hana kembali. Dan dirinya sang raja iblis, akan mengakhiri masa kejayaannya. Ah... Seperti inikah rasanya pilihan hidup dan mati? Mati ya...? Bahkan kata itu jarang terlintas dalam pikirannya. Yoshiki mulai mengangkat pedangnya dan mengarahkan mata pedangnya ke arah jantungnya. Saphire Hana melebar. "Tidak! Jangan!! Yoshiki-kun!" Hana terus meneriakkan nama sang pria sambil menggelengkan kepalanya. Air mata tak tertampung mulai mengalir ke sana-kemari. "Jangan..." Hana masin menggeleng. Eskpresi pria yang biasanya sedingin es itu memancarkan sebuah ekspresi aneh. Hana tidak suka itu! Yoshiki sudah bulat. Ini pilihan terbaiknya. Setelah ini air mata yang turun dari kelopak mata Hana akan berhenti mengalir--pasti. ZRRRASH!! "tidaaak!" bersamaan dengan teriakan Hana, Yoshiki meusukkan pedang tajam itu sekaligus ke dadanya. Darah merah lantas mengucur keluar dari sana. "Gaaah!" Yoshiki berteriak menggelepar. Sakit. Tubuhnya terasa panas saat pedang itu menancap di dadanya. Dan sekarang dia harus bertahan dan menghisap kekuatan istrinya sebelum Tuhan berhasil menariknya dari dunia. "Yoshiki-kun! Yoshiki-kun!" Hana masih terus terisak dengan berlutut memandangi tubuh sang suami yang sedang berusaha mempertahankan kesadarannya. Hana tidaklah bodoh. Ia sangat tahu seberapa besar penderitaan Yoshiki sekarang. "Hentikan..." Hana menggeleng. Air matanya masih tumpah. Yoshiki masih terus berusaha bertahan. "Hentikan--" "Hentikan--" "Hentikaan!!" teriak Hana. Tiba-tiba sebuah cahaya berwarna kuning dan hitam menguar dari tubuh Hana dan menghancurkan pencara yang mengurungnya dengan sangat cepat.
Kamis, 30 April 2015
Yami no Ai [Chapter 215]
Published :
05.25
Author :
Hansel Vereiteln
Rabu, 29 April 2015
Yami no Ai [Chapter 214]
Published :
04.31
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 214 "Karena dia masih manusa mungkin tidak terlalu sakit, karena penarik roh hanya bekerja pada iblis sepertimu. Tapi bagaimana pun ini stunt gun, pasti menyakitkan kan?" iris coklat itu menyipit seperti meremehkan ke arah Yoshiki. "Sialan!" teriak Yoshiki emosi. Tangannya bergerak memerintahkan angin untuk menusuk sang Exorcist. Refleks Exorcist berbando "H-5" itu melompat mundur untuk menghindari serangan sang raja iblis. Sebuah saphire perlahan membuka. Hempasan angin berkecepatan tinggi tadi sukses membangunkannya dari tidur lelapnya. Tangan pemilik saphire itu bergerak mengucek karena saphirenya terasa gatal. "Ehm?" Hana perlahan bangkit. Masih bingung dengan keadaan sekitar. Exorcist itu menampakkan seringai di bibirnya. "Active!" ujarnya. Seketika muncul pilar-pilang berwarna keemasan dari tanah, lalu membuat atap. Saking cepatnya, Hana hanya bisa menatap pilar-pilar yang mulai membentuk penjara baginya. "Apa yang kau lakukan sialan!?" teriak Yoshiki emosi ke arah sang Exorcist. "Percobaan nomor 12, ada sedikit kegagalan. Hanya dilakukan pada saat Subjek takbergerak, kurang efektif. Hmm..." Exorcist dengan bando lengan bertuliskan H-5 itu berguman sambil mecoret-coret sebuah agenda. "Sialan!" Yoshiki menggeram. Exorcist di depannya berperingkat 5, ia harus segera menghabisi Eoxrcist itu. Dari tangannya muncul sebuah pedang bersarung hitam. Dikeluarkannya pedang itu. "Kusanagi..." bisiknya. Yoshiki segera melesat hendak menebas kapala sang Exorcist dengan memberikan segala kekuatannya pada pedang kusanagi-nya. "AKHHHH!!" Tiba-tiba teriakan Hana terdengar. Yoshiki langsung menghentikan serangannya dan menoleh ke arah Hana. Nampak wanitanya itu tengah tersungkur di tanah dengan meremas bagian dadanya dengan wajah menahan perih. "My Lady!?" teriak Yoshiki kaget. "Trap. Kekuatan Rayumi Hana adalah kelemahanmu jika kekuatan itu belum masuk ke dalam tubuhmu. Saat tadi aku menindih tubuhnya, aku memberikan segel di sektar tubuhnya. Dan sekarang segel itu aktif. Aku mengeluarkan kekuatan Rayumi Hana dan membuat penjara yang.... Terhubung pada pedang kusanagimu" jelas sang exorcist. Yoshiki yang melihat pedang kusanaginya terbebalak. "AKHHHH!!" Hana kembali menjerit. Mata onix Yoshiki melebar saat melihat bayangan kekuatan dalam diri Hana dipaksa keluar dan mengalir pada penjara yang mengurungnya kemudian mengalir pada kusanagi miliknya. "SIALAN! CEPAT LEPASKAN DIA!" geram Yoshiki. "Aku tak bisa," jawab sang exorcist enteng. "Kekuatannya tersalur pada pedangmu. Tapi kau tahu caranya kan My Lord?" lanjut exorcist itu dengan nada mengejek. Yoshiki tau! Dia tau apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan Hana. Tapi-- "Ayolah... Kau mau membiarkan dia mati kering?" si Exorcist berguman malas. "uuh..." Hana menggeram tertahan. "Y-Yoshiki-k-un..." Hana mengerjap ke arah Yoshiki. Pandangannya yang lelah mulai sayu. "My Lady...." Yoshiki mengerutkan dahinya. Tak sanggup melihat ekspresi istrinya saat itu. Dia harus melakukannya!
Selasa, 28 April 2015
Yami no Ai [Chapter 213]
Published :
03.10
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 213 "WAAA!! MENONTON DENGAN CARA SEPERTI INI LEBIH ASYIK!!" Teriak Hana dengan kedua tangannya ia rentangkan ke atas. Yoshiki hanya sweatdrop ringan melihat tingkah istrinya. Tubuhnya bergerak mendekati sang istri dan duduk di sampingnya. Saphire itu masih sibuk mengamati warna-warna yang bertebaran di langit. Tanpa sadar kepalanya sudah menengadah ikut mengamati meriahnya langit Tokyo malam ini. Entah sudah berapa menit Yoshiki habiskan untuk melihat letusan-letusan yang ada. "krrr...." sebuah dengkuran tipis terdengar. Refleks Yoshiki menolehkan kepalanya ke asal suara. Itu suara dengkuran Hana. Wanitanya itu sudah terlelap rupanya. Wajah polos Hana yang tertidur membuat sudut bibir Yoshiki sedikit terangkat. 'manis...' batinnya. Yoshiki bangkit berdiri menuju mobilnya dan membuka pintu, ini sudah waktunya untuk pulang. "!?" belum sempat Yoshiki berbalik, ia sudah merasakan sesuatu sudah berada di dekat sang istri. Benarlah perasaannya itu, sekarang sesosok manusia berambut cepak tengah menindih tubuh Hana. Sosok tampan berambut berwarna rambut kuning kecoklatan itu menyeringai menatap Yoshiki sinis. "Selamat malam My Lord" ujar sosok itu. Yoshiki tidaklah buta, melihat penampilan sosok tampan di depannya--dari jas yang dilengkapi pin kecil, dan sebuah bando lengan--dipastikan adalah Exorcist. Tunggu dulu! Lihat bando lengan sang Exorcist. Itu bertuliskan "H-5" yang berarti Exorcist di depannya adalah ranking ke-5 Exorcit terkuat. Apa yang dilakukan Exorcist berperingkat tinggi di sini!? Apa Exorcist tiba-tiba bergerak!? Tapi kenapa dia tak mengendus masalah itu sedikit pun!? Yoshiki menggeratkan giginya emosi. "Menyingkir dari milikku" ujar Yoshiki menahan emosinya. Sosok bermata oranye itu menyeringai puas. "Apa? Kau cemburu eh?" tangan sang exorcist bergelirya pada dada Hana. Sedikit rematan sosok itu berikan pada dada Hana. "Lihat tuan Kuroto Yoshiki, aku menyentuh milikmu" Yoshiki terdiam sebentar. "... Kau pelacur, cepat menyingkir dari tubuh istriku" Yoshiki geram. Pelacur? Bukankah itu sebutan untuk perempuan? Exorcist itu tertawa renyah, "Hahaha kau tahu ya kalau aku perempuan? Sepertinya benar gosip jika kau sangat possesiv" sosok tampan itu berpose berfikir. "Cepat menyingkir dari sana!" Yoshiki sudah kehabisan kesabaran. "Bagaimana jika aku.... Menolak?" ujar sang Exorcist sambil mengenakan ' Abschleppen Geist'nya yang berbentuk sarung tangan. Yoshiki masih menatap tajam ke arah sang Exorcist. Exorcist itu menggerakan tangannya ke kanan. Seketika muncul sebuah pentagram berwarna biru. Tangan yang mengenakan Abschleppen Geist itu melesak ke dalam pentagram itu dan saat setelah tangannya di tarik, tangan itu sedang menggenggam sebuah Abschleppen Geist lain model stunt gun. Yoshiki terbelalak. Exorcist itu mengarahkan stunt gun-nya ke leher jenjang Hana yang masih tertidur pulas. Aliran listrik mengalir pada stunt gun yang sudah berjarak 5 cm dari leher Hana.
Senin, 27 April 2015
Yami no Ai [Chapter 212]
Published :
05.51
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 212 Yoshiki tak menjawab pertanyaan Hana. Dirinya kesal. Kenapa wanita-nya itu sama sekali tak menyadari perasaannya itu? Sungguh menjengkelkan. Melihat reaksi sang suami yang diam membisu, sudut bibir Hana agak terangkat ke atas dan di lanjutkan dengan sebuah cengiran. "Hahaha," Hana tertawa lepas. Yoshiki kembali memalingkan wajahnya ke arah Hana karena mendengar tawa lepas Hana. Ekspresi pria itu nampak kusut. Segala emosi kesal, tidak suka, dan tidak terima berkumpul menjadi satu, namun sama sekali tak mengurangi dominasi ekspresi dingin andalannya. "Jadi benar Yoshiki-kun cemburu dengan Oogami-kun?" Hana berbicara ditengah gelak tawanya. Sungguh! Rasanya Yoshiki ingin sekali menindih wanita di sampingnya itu lalu memberi hukuman yang setimpal atas segala kesalahannya yang fatal. "Ahaha..." Akhirnya tawa Hana mereda. "Aku memang mengagumi Oogami-kun. Tapi... Ya hanya sebatas mengagumi. Dia keren. Tapi Yoshiki-kun jauh, bahkan sangat jauh lebih tampan Yoshiki-kun. Umm... Mungkin aku tadi terbawa emosi seorang fans. Tapi Yoshiki-kun sangat jauh lebih keren daripada Oogami-kun. Bahkan dari awal gulat kalian aku sudah tau bahwa Yoshiki-kun yang akan jadi pemenangnya" ujar Hana dengan senyum polosnya. Yoshiki menatap Hana lekat. Tak disangkanya, istrinya itu akan berbicara sejujur itu di depannya. "....--Ehem!" Yoshiki berdehem sebentar. "Hn, baguslah jika begitu" "Wah kurang beberapa menit lagi akan memasuki tahun baru!" ujar Hana tiba-tiba setelah melirik jam tangannya. Salju tidak turun malam ini, kemungkinan pesta kembang api diadakan sangatlah besar. Meninggalkan melihat acara setahun sekali sangatlah merugikan tentu saja. "Yoshiki-kun hentikan mobilnya! Aku ingin melihat kembang api!" perintah Hana tidak sabaran. Yoshiki tanpa protes melakukan kemauan Hana, pria itu menepikan mobilnya. Setelah mobil itu menepi, Hana terlihat langsung melompat keluar dan memandang ke sana ke mari. Mencari titik yang mungkin menjadi pusat perayaan kembang api. Mereka berhenti di sebuah jalan dekat pematang sungai. Yoshiki yang sudah keluar dari mobilnya langsung melempar jacket milik Hana yang tertinggal di mobil ke arah kepala Hana. "Hn, kenakan itu. Kembang api akan muncul di sana" Yoshiki menunjuk ke arah langit di seberang sungai. Setelah selesai memakai jacketnya, Hana dengan tidak sabar melihat jam tangan digitalnya. "5...4...3....2...." Hana segera mengangkat kepalanya menengadah ke langit. "1..." DUAR!! DUARR!! Letusan demi letusan kembang api mewarnai gelapnya malam Tokyo malam itu. Berbagai warna pecah di langit. Saphire Hana tak berhenti menatap keindahan pancaran-pancaran kembang api yang bertebangan. Bibir tipis Yoshiki sedikit terangkat melihat ekspresi Hana yang menatap ke arah kembang api dengan terkagum-kagum. 'seperti anak kecil saja,' pikir Yoshiki. "Hup!" Tiba-tiba Hana melompat melewati pagar pembatas dan menuju pematang sungai. Direbahkannya tubuh ramping miliknya di rerumputan.
Sabtu, 25 April 2015
Yami no Ai [Chapter 211]
Published :
20.13
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 211 Yoshiki menekuk tangannya dan meraih leher Oogami. Begitu dipastikan tangannya mendekap erat leher pegulat itu segera ditariknya dan dibantingnya pegulat itu 90 derajat. DRAAAAK! Semua terjadi begitu cepat. Sampai-sampai mata semua penonton tak berkedip memastikan mereka tak ketinggalan satu detik bagian terpenting. Masih dengan posisi Yoshik yang menahan tubuh berat Oogami yang tak sadarkan diri di atasnya karena tulang lehernya patah setelah menghantam permukaan keras ring gulat. "G-German...." "Su-su...plex!?" "GERMAN SUPLEX!!" Teriak para penonton heboh. "ITU GERMAN SUPLEX!! SUGOII! DIA MELAKUKANNYA!" "Kyaaa!! Dia tampan, keren, dan kuat!!" "Wow!!" dan sorakan para penonton tak berhenti terdengar. Yoshiki diumumkan sebagai pemenang. Saat Yoshiki menuruni ring, serbuan kamera dan penggemar barunya tiba-tiba langsung menyeruak, namun sebuah tangan datang dan menyeretnya pergi dari kerumunan. Sebuah tangan yang pemiliknya sangat dia butuhkan. Yoshiki tersenyum melihat wanitanya menariknya pergi. "Sok keren!" cibir Hana di tengah perjalanan pulang mereka. "Hn" "Tapi Oogami-kun masih lebih keren!" ledek Hana. "Hn, dia lemah" ujar Yoshiki datar. TAK! Kena sasaran Yoshiki, kau membuat Hana kesal seketika. "ITU KARENA KAU MENGGUNAKAN GERMAN SUPLEX TIBA-TIBA!!" protes Hana. "Hn. Aku tidak suka" ucap Yoshiki tiba-tiba. "Eh?" Hana kebingunan mendengar ucapan tidak nyambung Yoshiki. "Kau terlalu mengaguminya... Aku..." Yoshiki agak memalingkan wajahnya ke kanan. "tidak suka..." "Ara?" Hana menatap Yoshiki yang bertingkah aneh. "Yoshiki-kun, kau cemburu?"
Yami no Ai [chapter 210]
Published :
02.07
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 210 TING-TING Dan pertandingan berakhir dengan sangat cepat. Setelah mendapat tendangan yang dipastikan tepat pada pelipisnya, pegulat bertopeng gorila hitam itu terkapar tak berdaya. "WOAAAAA!!" dan seluruh penonton bersorak menyambut kemenangan ke-87-nya dengan sangat gemilang. "KEREN!! KAKOI!!" Hana berseru aneh sambil menyoraki Oogami. "Nee! Yoshiki-kun, Oogami-kun keren kan?" Hana menarik-narik lengan Yoshiki. Yoshiki di balik wajah datarnya, menyimpan rasa kesalnya. Jujur saja, dirinya sangat kesal melihat perempuan berambut pendek itu sangat mengagumi pegulat lucu bertopeng itu. "Untuk siapapun yang ada di sini, Oogami memberi kesempatan bagi para penonton untuk melakukan gulat yang sah" tiba-tiba komentator berbicara. Mendadak para penonton terdiam. "Dan bagi siapapun yang bisa mengalahkan Oogami, maka akan mendapat uang cash sebesar 8 juta yen" tambah sang komentator. "wow! 8 juta!" "8 juta!" para penonton mulai bersorak lagi. "Daaaan! Oogami akan membuka topengnya!" seru sang komentator. "WOOOOO!!" para penonton bersorak lebih heboh. "Jadi... Siapakah penonton pemberani itu!?" " ... ." sigh.... Para penonton langsung terdiam. Menanti siapakah yang akan berani mengadu nyawa mereka dengan sang pegulat profesional yang sudah memenangkan pertandingan sebanyak 87 kali tanpa kalah satu kalipun. SRAAAK Dari arah bangku deretan VIP terdengar suara seseorang bangkit dari kursinya. Seluruh tatapan mata seketika tertuju pada orang itu. "eh!?" Hana terkaget melihat Yoshiki bangkit dari kursinya. Wajah datar pria itu masih tak berubah. Tapi entah kenapa Hana bisa merasakan keseriusan dalam setiap inchi emosi datar di wajah suaminya. Yoshiki mulai melangkah menuju ring gulat. "Waa!! Ini dia!! Seorang penantang!!" seru sang komentator. "waa... Dia keren..." "Itu siapa!? Dia tampan sekali!" "kyaaa!! Pria itu tampan!!" "k-keren..." para penonton perempuan yang di awal mendudukung Oogami mulai terpaku pada sosok Yoshiki yang berjalan dengan tenang menuju ring gulat. Hana menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri melihat para penonton wanita yang memuji Yoshiki. "huh, dasar cari perhatian" guman Hana kesal. TING-TING! Gulat pun dimulai. Yoshiki sudah melepas jas hitamnya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam sakunya. Menatap tenang ke arah Oogami yang sudah bersiap. "cih... Bisa apa bocah kecil itu" "yaya... Dia hanya tampan saja..." gerutu penonton pria. Yoshiki tahu setiap gerutuan itu. Tapi kali ini ia akan fokus kepada serigala lucu di depannya yang sudah menyongsongnya dengan sangat cepat sekali. Namun Yoshiki bisa lebih cepat. Yoshiki menunduk menghindari Oogami dan melesat kebelakang pegulat itu. "!?" para penonton tersentak. Mereka ternganga melihat pertunjukan di depan mereka. Ada orang yang mampu menghindari Oogami!! Yoshiki mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Sementara Oogami juga masih tertegun terdiam di tempatnya. Dirinya sendiri masih shock mengetahui ada orang yang lebih cepat darinya.
Jumat, 24 April 2015
Yami no Ai [Chapter 209]
Published :
00.25
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 209 "AKU SUKA SEKALI GULAT!! APALAGI OOGAMI-KUN! KYAAA DIA KEREN DAN KUAT!!" Teriak Hana tiba-tiba. "Hn? Oogami? Gulat yang akan kau tonton gulat maskara?" "YA! YA!" Hana mengagguk bersemangat. Salju putih sudah hampir memenuhi seluruh Jepang saat ini. Walau jam sudah menunjukkan pukul 10 siang, kondisi alam masih tetaplah gelap. Udara hampir mencapai suhu 18 derajat. Tapi sedingin apapun itu, tidak ada yang bisa mendinginkan semangat dari Kuroto Hana. "Ayo Yoshiki-kun! Kita sudah hampir tertinggal beberapa jam!!" rengek Hana setelah melangkahkan kaki keluar mobil. Namun Yoshiki yang sedari tadi namanya diteriakkan Hana, sama sekali tak menggubris. Ia tetap berjalan dengan tenang memutari mobilnya yang terparkir dan berjalan ke arah Hana. Melihat gerakan Yoshiki yang tenang-tenang saja, Hana tak sabaran segera menarik lengan pria itu dan segera membawanya berjalan cepat menuju loket. Hana terengah-engah di depan loket dengan konyolnya. Nafas yang keluar dari mulutnya membentuk asap tipis yang kemudian menghilang. CTAK Tiba-tiba Hana merasa dahinya disentil. "Ittai!" refleks Hana meringis dan memegangi dahinya yang di sentil. Itu Yoshiki yang melakukannya. "Ada apa sih!?" protes Hana. "Hn, kau lupa mengenakan mantelmu" ujar Yoshiki datar. Hana menggembungkan bibirnya sebal. "Hah! Sudahlah! Cepat belikan tiketnya!" ucap Hana masih kesal. Dan akhirnya, dengan kewenangan Yoshiki, Hana bisa duduk di deretan bangku VIP yang tentu saja membuatnya melihat pertandingan gulat tanpa terhalang siapapun. "wua! Itu Leonardo! Dia keren sekali!" Hana langsung bersorak gembira melihat pertandingan yang tengah berlangsung saat ini. Terlihat seorang pria menggunakan topeng singa sedang menindih pria bertopeng putih entah berbentuk apa. "Hn, pertandingan Oogami itu masih setengah jam lagi" ujar Yoshiki mengusik keseruan Hana setelah membaca pamflet yang diberikan di loket tadi. "huh biarkan! Aku juga mau melihat pertandingan-pertandingan selain Oogami-kun kok" Dan setelah ronde kelas ringan berakhir, akhirnya puncak acara Gulat Menjelang Tahun Baru ini ditutup oleh pertandingan yang sudah ditunggu-tunggu oleh Hana. 'Oogami' muncul di atas ring gulat. Sesuai namanya, ia mengenakan topeng serigala. Tubuhnya yang hanya terbalut mini-boxer menampakkan otot-otot luar biasanya. "KYAAA!!" Seketika para penonton perempuan di arena gulat itu berteriak bersamaan. Begitu pula dengan Hana. Oogami, pegulat yang sedang naik daun itu telah melakukan 86 kali pertandingan dan tidak pernah terkalahkan satu kali pun. Dan ia berjanji, jika dia kalah nanti dia akan melepas topengnya dan menunjukkan wajahnya. Karena hanya dialah satu-satunya pegulat maskara yang wajahnya tidak diketahui umum. "Uwaaa! Pasti di balik topengnya itu Oogami-kun tampan sekali!" ujar Hana dengan wajahnya yang agak tersipu. " ... ." Yoshiki terdiam melihat gerak-gerik Hana. TING-TING! Dan gulat pun dimulai. Lawan dari Oogami kali ini juga pegulat pro. Pegulat itu mengenakan topeng gorila hitam.
Kamis, 23 April 2015
Yami no Ai [chapter 208]
Published :
00.42
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 208 Yoshiki tersenyum mendengar teriakan Hana. 'chu' dikecupnya lembut bibir sang istri. Ditengah kenikmatan yang sedang menguasai tubuhnya, wajah Hana mendadak memerah karena sesuatu yang lain. "Hn, aku mencintaimu My Lady" ujar Yoshiki sambil menatap lekat wajah Hana dengan bibirnya yang sedikit tersenyum. DEG-DEG-DEG-DEG Giliran Jantung Hana yang terpompa tiba-tiba dengan luar biasa cepat setelah mendengar ucapan suaminya barusan. Wajah pria yang tengah menyetubuhinya itu nampak serius, dan lagi... Senyuman itu... Sungguh membuat dirinya terasa terbang ke langit. "u-uh... Aku juga mencintaimu" ujar Hana sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Sementara pijatan demi pijatan terus di lancarkan oleh dinding milik Hana, milik Yoshiki mulai terasa berkedut. "khh... M-My... L-Lady... I'm gonna cumming" ujar Yoshiki dengan erangan tertahan. "Ahhh--mahhh!! Kaah! Give it to me Yoshiki-kun... Give me your cum!! I want you inside me!! Ngaaah!! Fuaaah!!" Hana terus meracau. Yoshiki terus menambah kecepatan genjotannya. Hingga akhirnya-- CRAT!! Tubuh Yoshiki yang berpelu menegang diam dengan menancapkan miliknya dalam-dalam di dalam rahim Hana. "Ukhh--kkhhh..." Yoshiki mengerang tertahan saat dirinya mengeluarkan spermanya di dalam Hana. "I'M CUM!!" Bersamaan dengan itu, Hana juga berteriak kencang merasakan dirinya meledak-ledak karena sesuatu yang aneh. Cairan putih Yoshiki akhirnya berhenti mengalir setelah memenuhi rahim Hana, bahkan ada beberapa yang lolos merembes keluar dari jepitan milik Yoshiki dan milik Hana. "hhh... Hhh... Hhhh..." keduanya terengah. Keduanya sibuk mengatur irama dentuman jantung dan nafas mereka masing-masing. Sampai akhirnya Yoshiki menarik keluar miliknya dari Hana. Saat itu juga, beberapa cairan lengket sperma miliknya keluar menyembul dari dalam milik Hana. Keluar dan turun mengotori lantai. "Hn... Benar-benar luar biasa" guman Yoshiki. "Yoshiki-kun?" ujar Hana. Saphirenya memang sedang sibuk mengamati Gyoza di piringnya. Dan tangannya pun sibuk menyuapkan Gyoza itu di mulutnya. Begitu pula mulutnya yang sangat sibuk mengunyah Gyoza itu hingga lembut untuk kemudian ditelan. Tapi pikirannya tak bisa diam begitu saja. Suami-istri itu kini sedang makan malam di sebuah restoran Jepang biasa. Sesuai keinginan Hana tentunya. "Hn?" Yoshiki merepson setelah meneguk anggur hitamnya. "Besok malam tahun baru" "Hn? Lalu?" "Apakah kau mau mengajakku pergi? Tapi jika kau sibuk... Aku tidak keberatan kok" "Hn. Aku tidak ada kesibukan saat itu. Kau ingin kemana?" "Ah... Itu..." Hana mengingat-ingat email yang didapatinya dari Shiro setelah ia berganti pakaian tadi. From: Ayaki Shiro Aku punya 2 tiket gulat maskara loh! Tapi Tomoaki-kun tidak mau pergi karena sibuk. Kuberikan untukmu mau? Ada Oogami-kun loh!! "--menonton gulat" lanjut Hana. "Hn?" Yoshiki menaikkan satu alisnya menatap Hana. "Kenapa? Apa aneh?" Hana bertanya polos. "Hn, tidak. Hanya saja aku baru tahu kalau kau menyukai pertandingan gulat"
Rabu, 22 April 2015
Yami no Ai [Chapter 207]
Published :
02.09
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 207 "Hn? Lalu?" Yoshiki mengarahkan miliknya ke sisi kiri paha Hana. "di sini?" "uuh... Bukan" Akhirnya mungkin karena kesal, jemari Hana tiba-tiba meraih milik Yoshiki dan di arahkannya pada miliknya. Yoshiki menyeringai melihat itu. Dan segera dimajukkannya pinggulnya untuk sedikit memasukkan miliknya. "uah..." Hana sedikit mendesah saat milik Yoshiki mulai menggesek dinding kemaluannya. Yoshiki masih terus mendorong pinggulnya. Matanya yang terkatup menunjukkan betapa dia menikmati setiap pijatan dari dinding kemaluan Hana. "shit....!" Yoshiki mengeram tertahan lalu mendorong pinggulnya sekuat tenaga. Miliknya seketika menghujam Hana dengan sangat dalam. "a-aaakk" wajah Hana tiba-tiba merona hebat. "I-itu... M-menyentuh... R-rahimku... Fuaaah!!" Tanpa izin dari Hana, Yoshiki segera memompa tubuh Hana. Keluar masuk keluar masuk dengan irama dan tenpo yang di percepat. Menimbulkan hawa panas di dalam ruangan ber-AC itu. Yoshiki agak menundukkan badannya. Hingga sekarang wajahnya dan wajah Hana mungkin berjarak tak lebih dari 20 cm. Nafas keduanya memburu seirama dengan kenikmatan yang terus mengalir pada keduanya. Setiap lenguhan kenikmatan yang terlancar dari bibir Hana seakan membuat nafsu Yoshiki terbakar gila. Benda Yoshiki seakan-akan tidak pernah lelah menusuk-nusuk milik Hana. "ahhh... Ahmmm... Y-Yoshiki-k-kun... Uahhh!!" Hana terus mengerang. Yoshiki tersenyum tipis mendengar namanya yang diserukan oleh wanita di bawahnya. Ah sunggu, inilah hal yang paling ditunggu-tunggunya. Game eroge kemarin sungguh membuatnya berfantasi aneh. Mendengarkan istrinya meneriakkan namanya saat sedang dicumbui saat ini adalah hadiah terbaik baginya. "Sekali hhh... Lagi..." ujar Yoshiki dengan nafasnya yang memburu. "panggil namaku" "uh-uh-ah!! Hyaaa!!" Hana merasakan tusukkan Yoshiki semakin cepat. Membuatnya merasa aneh karena kenikmatan. "hyaaa--uhmmmp!??" Ditengah desahan nikmat Hana, tiba-tiba ada yang menghalangi mulutnya. Hana langsung membuka lebar saphirenya yang tadi terlihat sayu. Itu adalah bibir Yoshiki. Lidah Yoshiki terus menekan bibir Hana. Mencoba menerobos masuk ke dalam mulutnya. "umh... Hummp..." Hana yang menjulurkan lidahnya juga langsung di sambut oleh lidah Yoshiki. Dan lumatan demi lumatan mulai menambah suasana panas. Keda tangan Yoshiki yang sudah bosan menyangga tubuhnya mulai bergerak meremas perlahan belahan dada kecil Hana. Kadang jemarinya menyentil puting payudara Hana hingga membuat puting itu sangat keras dan sensitif. Saat mereka menyudahi acara pemanggutan lidah mereka, terlihat benang-benang saliva di bibir keduanya. "Sebut namaku... My Lady..." Yoshiki menatap Hana serius. Tanpa mengurangi kecepatan genjotannya. Milik Hana terasa semakin banjir saja di bawah. Rangsangan itu, tatapan itu, sungguh membuat Hana menggila. "u-uh!! Y-Yoshiki-kun... Ahhh... Fuck me harder!! I'm Yours Yoshiki-kun!! Aku milikmu!! Ngaaah... Lakukan apapun yang kau inginkan terhadapku! Ahhh mmhah!!"
Selasa, 21 April 2015
Yami no Ai [Chapter 206]
Published :
01.36
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 206
"...shhh" Yoshiki nampak kembali menahan desahannya.
Hana menjulurkan lidahnya tepat di depan lubang kencing Yoshiki, dan mulai menjilati di sana, "...lck... Clk...." Hana mulai menjilat berputar.
"uhm!" namun sekali lagi di masukkannya benda panjang itu ke dalam mulutnya untuk dihisap-hisap.
Sementara itu milik Yoshiki yang terus dipermainkan oleh mulut Hana mulai berkedut.
"M-My L-Lady..." Yoshiki sedikit mengerang.
Saat itu Hana sedang menghisap kuat milik Yoshiki sehingga...
"CROT!" Sperma Yoshiki tak tertahankan tumpah ruah di dalam mulut Hana.
"P--Fuah!" Hana melepaskan milik Yoshiki. Wajahnya sedikit agak belepotan sperma Yoshiki yang menyembur kemana-mana.
"mmch..." Hana memainkan sperma Yoshiki yang ada di lidahnya, lalu dengan segera menelannya.
'... Rasa... Sperma Yoshiki-kun...' ineer Hana.
"Hn, saatnya bagian inti" Yoshiki berdiri tegak dengan miliknya yang juga masih berdiri tegak menantang.
Wajah Hana yang diacungi milik Yoshiki langsung merona.
"u-uh..." Hana segera berdiri. Melepaskan kemeja putihnya, branya, dan menurunkan celana dalam putihnya hingga telanjang.
Wajah Hana semakin merona melihat mata Yoshiki yang terus menatapnya.
Yoshiki maju mendekat ke arah Hana, sementara Hana menghindar dan mendekat ke arah meja kerja Yoshiki dan mulai menaikinya.
Hana membuka lebar kedua kakinya di sana, memperlihatkan belahan miliknya.
"m-masukan... Yoshiki-kun..." pinta Hana agak Tsundere.
"Hn?" Yoshiki menyeringai melihat posisi Hana saat ini.
Kemarin malam eroge yang dimainkannya menampilkan pose heroin yang sama seperti ini. Dan saat itu ia membayangkan. Bagaimana jika istrinya berpose seperti itu dan memohon agar dirinya dimasuki.
Ah, Yoshiki sudah berhasil menahan gejolak hormonnya semalaman. Saatnya menyantap daging empuk yang telah tersaji.
"Hn? Aku tak mendengar ucapanmu" goda Yoshiki sambil menyeringai.
Hana kesal mendengar ucapan Yoshiki, namun kegilaan dan nafsu sudah sepenuhnya menguasainya saat ini, "Masukkan Yoshiki-kun... Di dalamku..." ucap Hana dengan merona. Tangannya bergerak untuk melebarkan miliknya yang langsung memperlihatkan clitoris yang sepertinya sangat sensitif dan cairan liquid mengalir banyak.
"Hn? Memasukkan? Memasukkan apa? Dan... Kemana?" goda Yoshiki tak henti-hentinya.
"P-penismu... K-kedalam... V-vaginaku..." Hana nampak sangat merona sekarang.
"Hn. Baiklah kumasukkan..." Yoshiki melangkah mendekat ke arah Hana.
Dipegangnya miliknya dengan tanganya untuk diarahkan.
Entah sengaja atau tidak, Yoshiki mulai menggesekkan miliknya pada clitoris Hana yang sudah sangat sensitif.
"umhh..." Hana menutup kedua matanya merasakan sensasi aneh saat miliknya disentuhkan oleh milik Yoshiki.
Seringai terpatri pada bibir seksi Yoshiki. Tangannya terus bergerak membantu milikknya menggesek terus milik Hana.
"Masuk-kkan... Ahhh... Yoshiki-kun..." pinta Hana.
"Hn? Masukkan?" Yoshiki menarik miliknya, lalu malah di tusukkan pelan ke paha kanan Hana. "ke sini?"
"b-bukan..." Hana seperti mabuk saja.
Read More ->>
"...shhh" Yoshiki nampak kembali menahan desahannya.
Hana menjulurkan lidahnya tepat di depan lubang kencing Yoshiki, dan mulai menjilati di sana, "...lck... Clk...." Hana mulai menjilat berputar.
"uhm!" namun sekali lagi di masukkannya benda panjang itu ke dalam mulutnya untuk dihisap-hisap.
Sementara itu milik Yoshiki yang terus dipermainkan oleh mulut Hana mulai berkedut.
"M-My L-Lady..." Yoshiki sedikit mengerang.
Saat itu Hana sedang menghisap kuat milik Yoshiki sehingga...
"CROT!" Sperma Yoshiki tak tertahankan tumpah ruah di dalam mulut Hana.
"P--Fuah!" Hana melepaskan milik Yoshiki. Wajahnya sedikit agak belepotan sperma Yoshiki yang menyembur kemana-mana.
"mmch..." Hana memainkan sperma Yoshiki yang ada di lidahnya, lalu dengan segera menelannya.
'... Rasa... Sperma Yoshiki-kun...' ineer Hana.
"Hn, saatnya bagian inti" Yoshiki berdiri tegak dengan miliknya yang juga masih berdiri tegak menantang.
Wajah Hana yang diacungi milik Yoshiki langsung merona.
"u-uh..." Hana segera berdiri. Melepaskan kemeja putihnya, branya, dan menurunkan celana dalam putihnya hingga telanjang.
Wajah Hana semakin merona melihat mata Yoshiki yang terus menatapnya.
Yoshiki maju mendekat ke arah Hana, sementara Hana menghindar dan mendekat ke arah meja kerja Yoshiki dan mulai menaikinya.
Hana membuka lebar kedua kakinya di sana, memperlihatkan belahan miliknya.
"m-masukan... Yoshiki-kun..." pinta Hana agak Tsundere.
"Hn?" Yoshiki menyeringai melihat posisi Hana saat ini.
Kemarin malam eroge yang dimainkannya menampilkan pose heroin yang sama seperti ini. Dan saat itu ia membayangkan. Bagaimana jika istrinya berpose seperti itu dan memohon agar dirinya dimasuki.
Ah, Yoshiki sudah berhasil menahan gejolak hormonnya semalaman. Saatnya menyantap daging empuk yang telah tersaji.
"Hn? Aku tak mendengar ucapanmu" goda Yoshiki sambil menyeringai.
Hana kesal mendengar ucapan Yoshiki, namun kegilaan dan nafsu sudah sepenuhnya menguasainya saat ini, "Masukkan Yoshiki-kun... Di dalamku..." ucap Hana dengan merona. Tangannya bergerak untuk melebarkan miliknya yang langsung memperlihatkan clitoris yang sepertinya sangat sensitif dan cairan liquid mengalir banyak.
"Hn? Memasukkan? Memasukkan apa? Dan... Kemana?" goda Yoshiki tak henti-hentinya.
"P-penismu... K-kedalam... V-vaginaku..." Hana nampak sangat merona sekarang.
"Hn. Baiklah kumasukkan..." Yoshiki melangkah mendekat ke arah Hana.
Dipegangnya miliknya dengan tanganya untuk diarahkan.
Entah sengaja atau tidak, Yoshiki mulai menggesekkan miliknya pada clitoris Hana yang sudah sangat sensitif.
"umhh..." Hana menutup kedua matanya merasakan sensasi aneh saat miliknya disentuhkan oleh milik Yoshiki.
Seringai terpatri pada bibir seksi Yoshiki. Tangannya terus bergerak membantu milikknya menggesek terus milik Hana.
"Masuk-kkan... Ahhh... Yoshiki-kun..." pinta Hana.
"Hn? Masukkan?" Yoshiki menarik miliknya, lalu malah di tusukkan pelan ke paha kanan Hana. "ke sini?"
"b-bukan..." Hana seperti mabuk saja.
Minggu, 19 April 2015
Yami no Ai [chapter 205]
Published :
21.03
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 205
perut datar dan sebuah bra putih menyambut Yoshiki.
Hana sudah menyerah.
"Hn, lepas semua pakaianmu" ujar Yoshiki penuh perintah dengan nada datar.
"A-APA!!?"
"Hn, cepat lakukan"
"Ti-tidak mau!" Hana menatap ke arah lain sambil menggembungkan pipinya.
"Hn? Tidak mau? Kau yakin?" Yoshiki sendiri mulai melepas kemejanya.
" ... ." Hana tak menjawab dan masih memandang ke arah lain.
"Hn, sayang sekali. Padahal ini sudah bersiap, tapi sayangnya istriku tidak mau menyentuhnya. Sepertinya aku akan mencari wanita lain untuk melakukannya" ujar Yoshiki sambil menyentuh miliknya yang sudah tegang di bawah.
Hana tentu saja kaget mendengar ucapan Yoshiki, mau tak mau ia kembali mengarahkan kepalanya untuk menatap sang suami tidak terima. Dan saat itu, Saphirnya memandang tubuh berotot suaminya yang selama ini tersembunyi di balik kemeja yang selalu di kenakannya. Dengan keadaan telanjang, dan tangan kanannya mengusap pelan kejantanan miliknya.
BLUSH. Wajah Hana langsung mendidih seketika.
"A-apa itu tadi!? K-kau mengancamku!?" teriak Hana tidak terima.
Yoshiki menyeringai menatap Hana, kini kedua tangannya ia gunakan sebagai sandaran di meja yang ada di belakangnya.
Kuroto Yoshiki, dengan rambut ravennya, dan mata obsidian yang selalu menatap tajam, badan kekar tanpa sedikitpun lipatan lemak, serta kejantanan yang sudah mengacung tegak terpapar jelas di depan mata Hana.
'gluk' Hana meneguk ludahnya melihat pose Yoshiki sekarang.
Sepertinya miliknya yang di bawah juga sudah merespon itu dengan adanya rasa basah di sekitar selangkangannya.
Mata Hana menangkap benda lain. Yaitu laptop Yoshiki yang masih terbuka dan masih memperlihatkan scene seorang gadis yang memegang kejantanan milik pria.
"u-uh.." Hana mulai bicara. "Yoshiki-kun tidak perlu memainkan eroge..." Hana mulai berjongkok. "Yoshiki-kun hanya perlu memainkanku saja" Hana mulai memegang kejantanan Yoshiki yang sudah mengacung.
"ah... Ini sungguh besar dan hangat..." ujar Hana dengan senyumannya menatap penis Yoshiki yang ia genggam dengan tangan telanjang.
"...aaa... Umhhh... Mhh" Hana mengarahkan milik Yoshiki pada mulutnya, lalu mengulum milik Yoshiki yang bisa dibilang cukup besar pada mulut sedang Hana.
"...hhh..." Yoshiki terlihat menahan erangan kenikmatannya. Tapi dilihat dari ekspresinya, Yoshiki sangat menikmati sentuhan bibir Hana pada miliknya.
Hana mulai memaju mundurkan milik Yoshiki di dalam mulutnya. Sambil sesekali menghisap pelan.
"umm... Mmm.."
Yoshiki tersenyum melihat kepala Hana yang ada di bawah sedang melakukan aktivitas bersama miliknya.
Diusapnya rambut hitam pendek Hana dengan halus. "mempermainkanmu? Baiklah kita lihat berapa levelmu" ujar Yoshiki seolah membandingkan Hana dengan eroge yang biasa dimainkannya.
Hana melepaskan kulumannya pada milik Yoshiki, pekerjaan mengocoknya langsung digantikan oleh tangannya dengan sigap.
Milik Yoshiki yang sudah sangat licin karena liur Hana membuat kocokkan Hana semakin cepat.
Read More ->>
Sabtu, 18 April 2015
Yami no Ai [Chapter 204]
Published :
19.27
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 204
Tapi bedanya, ada sebuah headphone terpasang menutupi telinga suaminya itu. Sepanjang ia melihat sang suami bekerja, ia tak pernah melihat suaminya memakai headphone.
"Yoshiki-kun?" Hana mencoba memanggil nama suaminya.
" ... ." pria yang namanya dipanggil tak menggubris sedikit pun. Mata onixnya terus menatap lurus laptopnya. Dan mungkin tak berkedip sama sekali.
"Huh!" kesal karena diabaikan, Hana langsung beranjak mendekati suaminya itu. Melihat apa yang sebenarnya ditatap oleh sang suami.
Hana berhenti di belakang Yoshiki tepat.
Ternyata, yang nampak di layar laptop suaminya itu adalah...
Sebuah ero game. Dengan scene saat itu adalah, seorang gadis terlihat tengah memegang sesuatu. Dan itu adalah penis! Ya itu penis!
Wajah Hana merona seketika.
"Yoshiki-kun apa yang sedang kau lakukan!!?" teriak Hana super duper kencang. Sudah di pastikan Yoshiki mendengar suara teriakan Hana barusan walaupun ia mengenakan headphone.
Terbukti dengan Yoshiki yang mulai menurunkan headphonenya, lalu menoleh ke belakang dan menatap Hana dengan tatapan datarnya.
"Kenapa kau bermain eroge!?" wajah Hana semakin merona.
Muncul sebuah seringai di bibir Yoshiki. Seringai yang sangat mencurigakan. Onix milik Yoshiki seperti menelusuri setiap lekuk dari tubuh Hana.
Hana yang merasa ditatap langsung merasa aneh, dan memundurkan dirinya sambil mengatupkan kedua tangannya di antara dadanya hingga membentuk tanda silang.
"a-apa ya-yang kau lihat Yoshiki-kun!?" ujar Hana tergagap.
Yoshiki sudah mulai bangkit dari duduknya, "Hn. Aku punya pertanyaan untukmu My Lady" ujar Yoshiki dengan seringainya.
Pria yang sudah melepas jas dan dasi hitam yang kemarin malam masih melekat di tubuhnya itu menatap Hana aneh.
"A-Apa!?" Hana masih tergagap bingung.
"Hn, kenapa kau mengenakan daster tipis dan mini kemarin malam?" seringai Yoshiki semakin tajam.
BLUSH!
Wajah Hana sudah menjadi semerah kepiting rebus sekarang. Kenapa Yoshiki harus menanyakan hal itu!?
"A-Apa ma-maksudmu!?" Hana memanyunkan bibirnya mencoba mengelak.
"Hn? Kau ingin berbohong? Sayang sekali. Tapi aku ingin kau menjawab jujur..." Yoshiki semakin mendekati tubuh Hana. Mungkin jarak tubuh mereka sekarang sudah mencapai kurang dari 30 cm. Hana sudah tidak bisa mundur lagi. Ia sudah menabrak jendela besar ruang kerja Yoshiki.
"U-uh--" Hana semakin bingung. Yoshiki yang terus menghimpitnya hampir membuatnya hilang kesadaran.
"My Lady..." tiba-tiba tangan lembut suaminya terasa seperti meraba leher jenjangnya dan sedikit menyingkirkan kain kemeja putih yang menutupi leher Hana yang di kenakan Hana saat itu.
"..mch..."
sontak Hana kaget setengah mati menyadari lehernya merasakan sensasi aneh seperti gigitan tipis.
"k-kyaaa!!" Hana menjerit kecil.
"Hn..." Yoshiki masih menampakkan seringainya. Tangannya bergerak menarik kemeja putih Hana ke kanan dan ke kiri hingga membuat 4 kancing yang saling mengait menjadi terlepas dan berterbangan di udara. Memperlihatkan tubuh bagian dalam Hana.
Read More ->>
Jumat, 17 April 2015
Yami no Ai [Chapter 203]
Published :
19.47
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 203
"Hn" Yoshiki hanya berguman dingin.
"A-ada k-kepentingan apa My Lord berkunjung kemari?" ucap salah satu penjaga.
"Hn, menjanjikan roh ini diizinkan memasuki neraka kembali" Yoshiki menarik paksa roh yang bersembunyik di belakangnya untuk maju menunjukkan dirinya di depan para penjaga.
Salah seorang penjaga yang lain mendongkak, "Dia roh yang baru saja kabur kan?"
"Hii!!" roh itu kembali ketakutan.
"Ta-tapi My Lord, roh yang--"
"Masukkan dia kembali!" perintah Yoshiki mutlak.
"Yes, My Lord" ucap kedua penjaga itu bebarengan.
Yoshiki keluar dari sebuah lubang hitam dan muncul di depan pintu ruang kerjanya.
KLEK.
Langsung di bukanya pintu itu dan segera di langkahkannya kakinya memasuki ruang kerjanya.
Sepi...
Tidak ada tanda-tanda seseorang ada di ruangan tersebut.
"Hn? Kemana dia?" pikir Yoshiki.
"My Lady?" Yoshiki mulai memanggil perempuan yang dicarinya.
" ... ." tidak ada sahutan.
"My Lady?" diulanginya panggilan itu, namun kini ia mulai bergerak mencari keberadaan wanitanya itu.
"My Lad--" Yoshiki menghentikan panggilannya saat melihat orang yang di carinya ternyata ada di bawah kolong meja kerjanya. Sedang meringkuk ketakutan.
Yoshiki menghela nafas, bibirnya sedikit tertekuk ke atas membentuk senyuman tipis.
"Hn. My Lady?" Yoshiki berjongkok di dekat Hana sambil menampakkan dirinya.
BRUK
Saphire Hana yang menangkap tubuh suaminya itu langsung di respon cepat oleh otakknya untuk membuat tubuhnya langsung memeluk pria itu.
"Hwaaa!! Aku takut aku takut!"
Tangan Yoshiki bergerak mengusap punggung wanitanya itu. "Hn, sudah selesai"
Hana langsung mendongkak menatap Yoshiki. Memastikan perkataan Yoshiki tadi.
"Su-sungguh?"
"Hn"
"Hahhh...." Hana menghela nafas, "akhirnya hantu aneh itu pergi!"
"Hn?" Yoshiki sweatdrop melihat perubahan ekspresi Hana yang sangat cepat. "Kuroto Hana," Yoshiki memanggil nama wanitanya itu.
"Eh? Iya?"
"Jangan-pernah-lakukan-ritual-membahayakan-lagi!" ucap Yoshiki penuh penekanan dan tatapan serius.
"I-iya" Hana menunduk menyesal.
"Hn, sepertinya aku harus memberi pelajaran kepada Furuichi dan semua yang menipumu" ujar Yoshiki geram.
Di sebuah kamar yang sangat luas, terlihat sesuatu nampak bergunduk di dalam selimut.
Cahaya matahari pagi--ah bukan, lihat jam digital yang ada di atas bufet, itu menunjukkan pukul 11 am--sepertinya sudah mulai menembus tirai-tirai yang menutupi silaunya sinar matahari tersebut.
"nggh" terdengar suara erangan sang pemilik kamar.
"hmm?" Kuroto Hana baru saja terbangun dari tidur larut malamnya karena dikejar oleh roh neraka. Tangannya mengucek maanya yang terlihat masih berat untuk terbuka.
"Libur hari pertama tahun baru ya?" ia berguman.
"Yoshiki-kun--" TOK TOK "--Yoshiki-kun!" Hana yang masih dengan kemeja putih Yoshiki yang biasa digunakannya saat tidur menggedor pintu ruang kerja Yoshiki.
KLEK
Pintu itu terbuka sedikit.
"tidak dikunci?" gumannya dan langsung mendorong pintu tersebut hingga terbuka.
Di sana, suaminya sedang sibuk di depan laptop berlogo apel tergigit miliknya.
Read More ->>
Yami no Ai [Chapter 202]
Published :
00.27
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 202
"--tapi..." Yoshiki menatap Hana.
Air mata Hana kembali tumpah.
"Gomen! Gomennasai Yoshiki-kun!! Huweee!!"
"Ck! Kau sendiri kenapa melakukan ritual itu!?"
"Ha-habis... Ka-katanya... Aku dan Yoshiki-kun bisa lebih romantis dan harmonis"
GREP.
Yoshiki seketika memeluk tubuh Hana.
Jadi sebenarnya itulah yang terjadi. Yoshiki bisa sepenuhnya menebak apa yang sebenarnya terjadi dari keanehan daster yang di kenakan Hana tadi.
Isrtinya itu berharap dia menjadi romantis sehingga istrinya itu sudah bersiap-siap menggunakan daster. Konyol sekali memang.
"Hn, kau konyol sekali"
"Hiks... Hiks..." Hana masih sesenggukan.
"Hn, roh itu tidak akan pergi sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya, mengingat besar resiko tertangkap penjaga gerbang neraka." Yoshiki perlahan melepas pelukannya.
"Seandainya aku sudah melakukannya..." guman Yoshiki. Ya, seiandainya dia sudah melakukan pertukaran darah dengan istrinya itu, si roh akan tahu jika Hana adalah ratunya.
"Hn, tidak ada cara lain..." Yoshiki mulai bangkit melepaskan pelukannya.
"Ca-cara seperti apa Yoshiki-kun?"
"Hn, kau tunggu di sini. Kau aman di sini" ujar Yoshiki datar dan mulai membuka pintu lalu menutupnya kembali.
Yoshiki hilang dari hadapan Hana.
Roh berbentuk kobaran api tak kasat mata yang sedari tadi berusaha mendobrak pintu ruang kerja Yoshiki itu terkaget karena melihat sosok yang keluar dari ruangan tersebut. Yang keluar bukannya calon tubuhnya, melainkan rajanya.
Kuroto Yoshiki muncul, dengan wajah dinginnya dan aura kegelapannya yang menguar dari segala bagian tubuhnya.
"M-My L-Lord...?!" ucap roh itu terbata-bata.
"Hn, pergilah kembali ke tempatmu" perintah Yoshiki dengan nada dinginnya.
"T-Tapi... M-My L-Lord... C-calon... T-tubuh s-saya..."
"Hn, jangan kau sentuh. Dia milikku!" Yoshiki semakin mengeluarkan aura kegelapannya.
"A-aah... A-a...--" Roh itu terbata, "--T-tapi s-saya s-sudah t-tidak m-mempunyai t-tempat l-lagi M-My L-Lord, P-penjaga g-gerbang n-neraka p-p-pasti..."
"Hn, aku yang akan mengantarmu" potong Yoshiki.
"??" Saat Roh itu bertanya-tanya, tangan kanan Yoshiki terangkat dan di sebelah kiri mereka muncul sebuah lubang hitam.
Yoshiki segera melangkahkan kaki memasuki lubang tersebut, diikuti oleh sang roh.
Begitu lubang tertututp. Seketika tempat yang di masuki Yoshiki dan roh itu menjadi gelap gulita.
WEER... WEER...
tiba-tiba muncul cahaya dari obor-obor. Tempat itu sangat gelap. Yang terlihat hanya cahaya dari obor-obor kecil itu.
"Siapa di sana?" ucap sebuah suara baritone yang penuh penekanan.
"hii" si Roh langsung mundur beberapa meter setelah mendengar suara itu.
Yoshiki berada di depan kedua penjaga itu. Namun karena kegelapan, agak sulit melihat keberadaan Yoshiki.
Namun keberadaan Yoshiki tak seluruhnya di ketahui, aura kegilaan kematian yang menguar dari tubuh Yoshiki, yang sukses membuat iblis sehebat apapun pasti akan merinding langsung di kenali oleh dua orang penjaga itu.
"M-My Lord?" kedua penjaga itu langsung tersungkur dan bersujud.
Read More ->>
Kamis, 16 April 2015
Yami no Ai [Chapter 201]
Published :
00.58
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 201
akhirnya Hana berhenti di sebuah pintu.
TOK! TOK! TOK!
Digedornya pintu kayu itu dengan sekeras mungkin.
Rasanya sedari tadi ada sesuatu yang mengamati dan mengejarnya, dan apapun itu, sepertinya itu sudah semakin mendekat sekarang.
Hana mengetuk semakin keras. Ada apa ini? Kenapa Yoshiki-kun tidak segera membuka pintunya?
Mata Hana terus mengamati sekitar dengan ketakutan.
Di ujung lorong sana, Hana merasakan sesuatu itu berada di sana dan mengejarnya kemari.
"AAAAA!!" Hana berteriak ketakutan. Ini bukan cuma halusinasinya saja. Semua ini, rasa takutnya terasa benar-benar nyata.
"YOSHIKI-KUN!!" Hana terus mengetuk kasar.
KLEK.
Muncullah wajah datar Yoshiki dari balik pintu.
"Hn, apa-apa--" sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, onix Yoshiki menangkap sesuatu yang tengah melesat ke arahnya di dalam lorong. Dengan cekatan di tariknya Hana dan segera di tutupnya pintu dengan membisikkan beberapa mantra.
"..." Hana membisu. Ia tak bisa berkata apapun. Air mata mulai membanjiri pipinya. Ia sangat shock tadi.
Yoshiki langsung menghadapkan wajah Hana ke wajahnya.
"Kenapa roh neraka mengikutimu?!" tanya Yoshiki dengan nada keras.
"Hiks... Hiks... Hwaaa!!" Hana langsung menghambur ke arah Yoshiki dengan tangisannya yang pecah. "Aku tidak tahu...! Tidak tahu! Dia tiba-tiba meneleponku dan... Dan... Hwaaa!"
Wajah dingin Yoshiki entah kapan sudah berbuah menjadi sangat serius. Tangannya merengkuh tubuh Hana dan membelai rambut pendek Hana.
"Bagaimana bisa roh neraka bisa kemari dan mengejarmu?" Yoshiki nampak berfikir. "Mereka hanya bisa di panggil dengan ritual terlarang itu..."
Tiba-tiba Hana berhenti menangis.
"Ritual? Ritual!?" Hana menatap Yoshiki seketika.
Yoshiki mengerutkan alisnya melihat tatapan tajam Saphire Hana.
"t-tadi siang. Furuichi, Azuki, Chiyo, dan Haruki meberitahuku sebuah ritual. Kata mereka itu akan menambah keharmonisan dan keromantisan pasangan--"
Mata Onix Yoshiki terbelalak, seolah ia telah sepenuhnya memahami alur cerita Hana.
"Kau meneteskan darahmu!?" Yoshiki mencengkram tangan Hana kuat-kuat dan menarik Hana lebih dekat dengan tatapan tajamnya.
"T-tidak. A-aku menggunakan r-rambutku..." jawab Hana gugup. Sebenarnya butuh waktu beberapa detik bagi Hana untuk menjawab pertanyaan mudah Yoshiki. Namun entah kenapa ia seperti terjebak dalam kebingungan dan rasa bersalah dalam onix kelam suaminya.
"Hhh..." Yoshiki menghela nafas panjang.
"ja-jadi apa yag sebenarnya terjadi Yoshiki-kun?"
"Hn. Kau melakukan ritual terlarang. Ritual yang dulu di Eropa sering digunakan untuk penipuan. Ya seperti yang kau alami sekarang. Tujuan ritual itu adalam memanggil roh dari neraka dengan menjanjikan tubuh baru bagi roh yang dipanggil, dan roh pemilik tubuh asli akan dibuang di neraka. Tentu saja untuk itu, roh harus tahu, siapa yang akan menjadi calon wadah mereka. Yaitu dengan darah, rambut, atau kuku jari. Roh itu juga bersifat kutuk, jadi tidak bisa di batalkan. Mereka mungkin akan menurutiku, dan tidak menyerangku--"
Read More ->>
akhirnya Hana berhenti di sebuah pintu.
TOK! TOK! TOK!
Digedornya pintu kayu itu dengan sekeras mungkin.
Rasanya sedari tadi ada sesuatu yang mengamati dan mengejarnya, dan apapun itu, sepertinya itu sudah semakin mendekat sekarang.
Hana mengetuk semakin keras. Ada apa ini? Kenapa Yoshiki-kun tidak segera membuka pintunya?
Mata Hana terus mengamati sekitar dengan ketakutan.
Di ujung lorong sana, Hana merasakan sesuatu itu berada di sana dan mengejarnya kemari.
"AAAAA!!" Hana berteriak ketakutan. Ini bukan cuma halusinasinya saja. Semua ini, rasa takutnya terasa benar-benar nyata.
"YOSHIKI-KUN!!" Hana terus mengetuk kasar.
KLEK.
Muncullah wajah datar Yoshiki dari balik pintu.
"Hn, apa-apa--" sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, onix Yoshiki menangkap sesuatu yang tengah melesat ke arahnya di dalam lorong. Dengan cekatan di tariknya Hana dan segera di tutupnya pintu dengan membisikkan beberapa mantra.
"..." Hana membisu. Ia tak bisa berkata apapun. Air mata mulai membanjiri pipinya. Ia sangat shock tadi.
Yoshiki langsung menghadapkan wajah Hana ke wajahnya.
"Kenapa roh neraka mengikutimu?!" tanya Yoshiki dengan nada keras.
"Hiks... Hiks... Hwaaa!!" Hana langsung menghambur ke arah Yoshiki dengan tangisannya yang pecah. "Aku tidak tahu...! Tidak tahu! Dia tiba-tiba meneleponku dan... Dan... Hwaaa!"
Wajah dingin Yoshiki entah kapan sudah berbuah menjadi sangat serius. Tangannya merengkuh tubuh Hana dan membelai rambut pendek Hana.
"Bagaimana bisa roh neraka bisa kemari dan mengejarmu?" Yoshiki nampak berfikir. "Mereka hanya bisa di panggil dengan ritual terlarang itu..."
Tiba-tiba Hana berhenti menangis.
"Ritual? Ritual!?" Hana menatap Yoshiki seketika.
Yoshiki mengerutkan alisnya melihat tatapan tajam Saphire Hana.
"t-tadi siang. Furuichi, Azuki, Chiyo, dan Haruki meberitahuku sebuah ritual. Kata mereka itu akan menambah keharmonisan dan keromantisan pasangan--"
Mata Onix Yoshiki terbelalak, seolah ia telah sepenuhnya memahami alur cerita Hana.
"Kau meneteskan darahmu!?" Yoshiki mencengkram tangan Hana kuat-kuat dan menarik Hana lebih dekat dengan tatapan tajamnya.
"T-tidak. A-aku menggunakan r-rambutku..." jawab Hana gugup. Sebenarnya butuh waktu beberapa detik bagi Hana untuk menjawab pertanyaan mudah Yoshiki. Namun entah kenapa ia seperti terjebak dalam kebingungan dan rasa bersalah dalam onix kelam suaminya.
"Hhh..." Yoshiki menghela nafas panjang.
"ja-jadi apa yag sebenarnya terjadi Yoshiki-kun?"
"Hn. Kau melakukan ritual terlarang. Ritual yang dulu di Eropa sering digunakan untuk penipuan. Ya seperti yang kau alami sekarang. Tujuan ritual itu adalam memanggil roh dari neraka dengan menjanjikan tubuh baru bagi roh yang dipanggil, dan roh pemilik tubuh asli akan dibuang di neraka. Tentu saja untuk itu, roh harus tahu, siapa yang akan menjadi calon wadah mereka. Yaitu dengan darah, rambut, atau kuku jari. Roh itu juga bersifat kutuk, jadi tidak bisa di batalkan. Mereka mungkin akan menurutiku, dan tidak menyerangku--"
Rabu, 15 April 2015
Yami no Ai [Chapter 200]
Published :
02.20
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 200
Dengan sigap Yoshiki membuka pintu seolah mengejar angin tersebut.
Namun Yoshiki segera berhenti begitu mengetahui 'sesuatu' yang ia kejar sudah menghilang dengan cepat. Oleh sebab itu, ia kembali memasuki kamarnya.
"Ada apa Yoshiki-kun?" Hana sudah sepenuhnya menunjukkan tubuhnya yang telah mengenakan kemeja putih milik Yoshiki seperti biasa.
"Hn. Tidak. Kau... Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Yoshiki agak sweatdrop melihat tingkah aneh Hana.
Hana langsung menutupi dirinya dengan selimut kembali.
"TIDAK ADA!!" teriak Hana dari balik selimut.
'Huh, kapan sih ritual itu bekerja?' gerutu Hana.
Yoshiki menghela nafasnya. "Hn. Maaf My Lady aku--"
"SIBUK!" potong Hana tiba-tiba.
"Hn. Kau kesal?"
"huh, tidak. Untuk apa memikirkan pria dingin membosankan sepertimu" omel Hana di dalam selimut.
"Hn... Baiklah, aku di ruang kerjaku jika kau mencariku"
Dan Yoshiki pergi.
"aku ada di ruang kerjaku jika kau mencariku bla-bla-bla" ujar Hana kesal sambil keluar dari selimutnya.
"HUH!" Hana menarik selimutnya kembali sampai bagian lehernya.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam.
Kuroto Yoshiki masih sibuk di dalam ruang kerjanya, berkutit dengan laptopnya.
Sementara istrinya, Kuroto Hana sudah terlelap dalam mimpinya. Dengarkan saja dengkuran halusnya yang lucu itu. Sungguh damai.
SREET.. SRET..
Perlahan-lahan selimut putih yang digunakan istri Kuroto Yoshiki itu ditarik dari bawah.
Merasa tidurnya tak nyaman lagi, Hana bergerak menarik selimutnya.
Tenang sebentar.
Namun kembali lagi selimut itu tertarik ke bawah.
Akhirnya Hana terbagun sepenuhnya. Dan selimut itu berhenti bergerak.
TRUUUT TRUT
bunyi telepon kabel langsung menjadi fokus Hana.
Hana sempat merasa aneh sejak menempati kamar Yoshiki, telepon itu disediakan tapi tidak pernah ada seorang pun yang menghubungi telepon itu.
Tapi akhirnya telepon itu mendapat panggilannya. Di tengah malam seperti ini. Hana beranjak dengan malas menuju meja telepon tersebut.
TREK
Hana mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Moshi-moshi?" ujar Hana ngantuk.
" ... ." tak terdengar jawaban di telepon.
"moshi-moshi?" sekali lagi di ulang oleh Hana.
"...hhhkkhh" terdengar deru nafas pria dari telepon.
Hana ketakutak seketika. Oke, Hana memang takut hantu.
TREK. Segera ditutupnya kembali telepon itu.
Setengah tubuh Hana sudah merinding saat ini.
TRUUUT. TRUT.
Lagi, telepon itu berbunyi.
GLEK. Hana meneguk ludahnya menahan takut.
Diangkatnya telepon itu.
"moshi-moshi?"
"hahhh..." lagi-lagi terdengar suara berat nafas pria.
"KYAAAA!" Hana refleks melempar telepon itu.
"tubuhmu... Berikan tubuhmu... Gyhahahaha!!" telepon itu masih tersambung.
"KYAAA!!" Hana semakin menjerit ketakutan dab segera berlari keluar kamar.
Hana berlari di lorong-lorong dengan lampu remang-remang di manor Yoshiki, entah kenapa, lorong yang biasa ia lalui itu sangat sepi dan suram sekarang.
Nafasnya tersenggal-senggal. Ia ketakutan.
Apa-apaan itu tadi? Hantu? Apa ia sedang di kejar sekarang? YOSHIKI-KUUUN!!
Read More ->>
Dengan sigap Yoshiki membuka pintu seolah mengejar angin tersebut.
Namun Yoshiki segera berhenti begitu mengetahui 'sesuatu' yang ia kejar sudah menghilang dengan cepat. Oleh sebab itu, ia kembali memasuki kamarnya.
"Ada apa Yoshiki-kun?" Hana sudah sepenuhnya menunjukkan tubuhnya yang telah mengenakan kemeja putih milik Yoshiki seperti biasa.
"Hn. Tidak. Kau... Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Yoshiki agak sweatdrop melihat tingkah aneh Hana.
Hana langsung menutupi dirinya dengan selimut kembali.
"TIDAK ADA!!" teriak Hana dari balik selimut.
'Huh, kapan sih ritual itu bekerja?' gerutu Hana.
Yoshiki menghela nafasnya. "Hn. Maaf My Lady aku--"
"SIBUK!" potong Hana tiba-tiba.
"Hn. Kau kesal?"
"huh, tidak. Untuk apa memikirkan pria dingin membosankan sepertimu" omel Hana di dalam selimut.
"Hn... Baiklah, aku di ruang kerjaku jika kau mencariku"
Dan Yoshiki pergi.
"aku ada di ruang kerjaku jika kau mencariku bla-bla-bla" ujar Hana kesal sambil keluar dari selimutnya.
"HUH!" Hana menarik selimutnya kembali sampai bagian lehernya.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam.
Kuroto Yoshiki masih sibuk di dalam ruang kerjanya, berkutit dengan laptopnya.
Sementara istrinya, Kuroto Hana sudah terlelap dalam mimpinya. Dengarkan saja dengkuran halusnya yang lucu itu. Sungguh damai.
SREET.. SRET..
Perlahan-lahan selimut putih yang digunakan istri Kuroto Yoshiki itu ditarik dari bawah.
Merasa tidurnya tak nyaman lagi, Hana bergerak menarik selimutnya.
Tenang sebentar.
Namun kembali lagi selimut itu tertarik ke bawah.
Akhirnya Hana terbagun sepenuhnya. Dan selimut itu berhenti bergerak.
TRUUUT TRUT
bunyi telepon kabel langsung menjadi fokus Hana.
Hana sempat merasa aneh sejak menempati kamar Yoshiki, telepon itu disediakan tapi tidak pernah ada seorang pun yang menghubungi telepon itu.
Tapi akhirnya telepon itu mendapat panggilannya. Di tengah malam seperti ini. Hana beranjak dengan malas menuju meja telepon tersebut.
TREK
Hana mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Moshi-moshi?" ujar Hana ngantuk.
" ... ." tak terdengar jawaban di telepon.
"moshi-moshi?" sekali lagi di ulang oleh Hana.
"...hhhkkhh" terdengar deru nafas pria dari telepon.
Hana ketakutak seketika. Oke, Hana memang takut hantu.
TREK. Segera ditutupnya kembali telepon itu.
Setengah tubuh Hana sudah merinding saat ini.
TRUUUT. TRUT.
Lagi, telepon itu berbunyi.
GLEK. Hana meneguk ludahnya menahan takut.
Diangkatnya telepon itu.
"moshi-moshi?"
"hahhh..." lagi-lagi terdengar suara berat nafas pria.
"KYAAAA!" Hana refleks melempar telepon itu.
"tubuhmu... Berikan tubuhmu... Gyhahahaha!!" telepon itu masih tersambung.
"KYAAA!!" Hana semakin menjerit ketakutan dab segera berlari keluar kamar.
Hana berlari di lorong-lorong dengan lampu remang-remang di manor Yoshiki, entah kenapa, lorong yang biasa ia lalui itu sangat sepi dan suram sekarang.
Nafasnya tersenggal-senggal. Ia ketakutan.
Apa-apaan itu tadi? Hantu? Apa ia sedang di kejar sekarang? YOSHIKI-KUUUN!!
Senin, 13 April 2015
Yami no Ai [Chapter 199]
Published :
19.18
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 199
Hana menoleh ke arah jendela. Bibirnya tak sengaja tertarik dan membentuk senyuman yang lucu.
'nanti malam ya? Uuukkh! Aku benar-benar tak sabar!' batin Hana dengan wajahnya yang memerah.
Kepalanya membayangkan di mana dirinya berada di sebuah ranjang bersama Yoshiki, dan Yoshiki mulai membelainya dengan lembut seperti dulu dan memanggilnya, "My Lady.."
"KYAAAA!!" Teriak Hana tiba-tiba dengan wajahnya yang sudah semerah tomat.
"Hn?" Yoshiki cengo menatap Hana.
"Eh? Hehehe" Hana salah tingkah.
Hari sudah semakin malam. Hana duduk di pinggir ranjang dengan kedua kakinya terkatup rapat. Kepalanya menunduk dan tangannya meremat daster mininya yan sampai setengah pahanya.
Jantungnya terus berdegup kencang tak menentu, terus memompa darah menuju wajahnya yang memerah.
"Uuh... Kapan efek dari ritual itu berfungsi?"
lagi-lagi kepala Hana mempermainkannya. Kembali ia membayangkan Yoshiki muncul dengan segala pesonanya dan segera menyerang dirinya.
"uwaa!" wajah Hana mulai berasap.
KLEK.
Pintu terbuka, memperlihatkan Yoshiki masuk dengan jas hitamnya yang selalu melekat padanya.
Entah mata Hana yang salah atau apa, barusan ia melihat sesuatu yang mempesona dan kerena dari wajah datar Yoshiki.
DEG. Tak di duga, Hana menatap Yoshiki dengan wajah memerah malu.
"Hn? Ada apa denganmu?" ujar Yoshiki datar.
"Eh?" respon Hana.
"Kenapa kau mengenakan daster?" tanya Yoshiki lagi.
"Eh? EHHH??" Hana menjadi heboh.
"AH TIDAK TIDAK! SEBENTAR AKU GANTI DULU! KAU KELUARLAH!" teriak Hana heboh sambil mendorong Yoshiki keluar kamar dan menutup pintu kamar dengan keras.
BLAMB. Pintu tertutup dengan keras.
Yoshiki, masih dengan kebingungannya terdiam di luar. Ia kembali mengingat kejadian tadi saat ia membuka pintu kamarnya.
Ia melihat istrinya itu duduk di pinggir ranjang dengan posisi yang aneh. Dan... Mengenakan sehelai daster tipis yang pendek sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya dan... Sebuah tonjolan kecil di bagian dada Hana.
Tunggu! Imajinasi liar Yoshiki mulai menari. Ia membayangkan, dibalik daster itu, istrinya sama sekali tak mengenakan pakaian dalam.
Kenapa? Kenapa Hana melakukan itu? Biasanya jika ingin tidur pun, Hana selalu mengenakan salah satu kemejanya yang ada di lemari dengan alasan, "ada bau Yoshiki-kun. Aku suka sekali, membuatku tidak pernah kesepian walau tidur sendiri". Tapi tentu saja, istrinya itu tetap mengenakan pakaian dalamnya!
Sepertinya benar-benar ada yang aneh... Jangan-jangan... Isrtinya itu berniat menggodanya?
"Sudah" suara Hana yang dari dalam kamar menghentikan lamunan Yoshiki.
KLEK.
Yoshiki kembali membuka pintu kamarnya. Onix-nya langsung menatap sebuah gundukan besar selimut di atas ranjangnya. Itu pasti Hana.
"Hn. Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Yoshiki begitu ia menutup kembali pintu kamarnya.
Hana membuka selimutnya. Menampakkan wajahnya dengan pipinya yang digembungkan, "Hmm... Tidak ada" jawab Hana lesu.
SYUU..
Tiba-tiba Yoshiki merasakan sebuah angin tipis bertiup ke arah pintu.
Read More ->>
Hana menoleh ke arah jendela. Bibirnya tak sengaja tertarik dan membentuk senyuman yang lucu.
'nanti malam ya? Uuukkh! Aku benar-benar tak sabar!' batin Hana dengan wajahnya yang memerah.
Kepalanya membayangkan di mana dirinya berada di sebuah ranjang bersama Yoshiki, dan Yoshiki mulai membelainya dengan lembut seperti dulu dan memanggilnya, "My Lady.."
"KYAAAA!!" Teriak Hana tiba-tiba dengan wajahnya yang sudah semerah tomat.
"Hn?" Yoshiki cengo menatap Hana.
"Eh? Hehehe" Hana salah tingkah.
Hari sudah semakin malam. Hana duduk di pinggir ranjang dengan kedua kakinya terkatup rapat. Kepalanya menunduk dan tangannya meremat daster mininya yan sampai setengah pahanya.
Jantungnya terus berdegup kencang tak menentu, terus memompa darah menuju wajahnya yang memerah.
"Uuh... Kapan efek dari ritual itu berfungsi?"
lagi-lagi kepala Hana mempermainkannya. Kembali ia membayangkan Yoshiki muncul dengan segala pesonanya dan segera menyerang dirinya.
"uwaa!" wajah Hana mulai berasap.
KLEK.
Pintu terbuka, memperlihatkan Yoshiki masuk dengan jas hitamnya yang selalu melekat padanya.
Entah mata Hana yang salah atau apa, barusan ia melihat sesuatu yang mempesona dan kerena dari wajah datar Yoshiki.
DEG. Tak di duga, Hana menatap Yoshiki dengan wajah memerah malu.
"Hn? Ada apa denganmu?" ujar Yoshiki datar.
"Eh?" respon Hana.
"Kenapa kau mengenakan daster?" tanya Yoshiki lagi.
"Eh? EHHH??" Hana menjadi heboh.
"AH TIDAK TIDAK! SEBENTAR AKU GANTI DULU! KAU KELUARLAH!" teriak Hana heboh sambil mendorong Yoshiki keluar kamar dan menutup pintu kamar dengan keras.
BLAMB. Pintu tertutup dengan keras.
Yoshiki, masih dengan kebingungannya terdiam di luar. Ia kembali mengingat kejadian tadi saat ia membuka pintu kamarnya.
Ia melihat istrinya itu duduk di pinggir ranjang dengan posisi yang aneh. Dan... Mengenakan sehelai daster tipis yang pendek sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya dan... Sebuah tonjolan kecil di bagian dada Hana.
Tunggu! Imajinasi liar Yoshiki mulai menari. Ia membayangkan, dibalik daster itu, istrinya sama sekali tak mengenakan pakaian dalam.
Kenapa? Kenapa Hana melakukan itu? Biasanya jika ingin tidur pun, Hana selalu mengenakan salah satu kemejanya yang ada di lemari dengan alasan, "ada bau Yoshiki-kun. Aku suka sekali, membuatku tidak pernah kesepian walau tidur sendiri". Tapi tentu saja, istrinya itu tetap mengenakan pakaian dalamnya!
Sepertinya benar-benar ada yang aneh... Jangan-jangan... Isrtinya itu berniat menggodanya?
"Sudah" suara Hana yang dari dalam kamar menghentikan lamunan Yoshiki.
KLEK.
Yoshiki kembali membuka pintu kamarnya. Onix-nya langsung menatap sebuah gundukan besar selimut di atas ranjangnya. Itu pasti Hana.
"Hn. Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Yoshiki begitu ia menutup kembali pintu kamarnya.
Hana membuka selimutnya. Menampakkan wajahnya dengan pipinya yang digembungkan, "Hmm... Tidak ada" jawab Hana lesu.
SYUU..
Tiba-tiba Yoshiki merasakan sebuah angin tipis bertiup ke arah pintu.
Minggu, 12 April 2015
Yami no Ai [Chapter 198]
Published :
20.40
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 198
Mereka duduk membentuk lingkaran.
"Nah, sekarang kita butuh setetes darahmu" ucap Furuichi. Entah sejak kapan ia sudah menggenggam pisau kecil.
"Darah?" di lain pihak, Hana merasakan firasat buruk. "Apa tidak ada cara lain?"
Furuichi dan Chiyo bertatapan.
"Rambut. Berikan aku dua helai rambutmu" ucap Furuichi.
Hana segera menarik dua helai rambut hitam pendeknya dan memberikannya kepada Furuichi.
"Baiklah, kita mulai"
Furuichi meletakkan dua helai rambut Hana di atas selembar kertas. Dan meletakkan selembar kertas itu di tengah mereka.
"Nah, mari kita siapkan" Ucap Furuichi.
Azuki dan Haruki segera menutup gorden kelas dan menutup pintu kelas sambil memastikkan lorong benar-benar sepi.
Jam dinding menunjukkan pukul 4 sore. Dengan keadaan kelas yang gordennya di tutup, membuat sinar matahari sore terhalangi, kelas menjadi cukup gelap sekarang.
Setelah Haruki dan Azuki kembali bergabung dalam lingkaran, Chiyo segera menyalakan lilin putih yang berdiri di dekat lembaran kertas berisi rambut Hana.
"Pejamkan mata kalian" ucap Furuichi.
Chiyo, Haruki, dan Azuki segera menutup mata. Hana pun akhirnya menutup mata. Awalnya Hana sempat heran, kenapa hanya dia yang mengumpulkan rambut? Kenapa yang lain tidak? Jawaban yang muncul di kepala Hana setelah itu adalah, mungkin karena mereka pernah melakukan ritual ini, jadi mereka tidak perlu melakukannya lagi.
Sementara Yoshiki terus menunggu Hana di dalam mobil.
"Ck... Lama sekali, apa yang sedang dilakukannya?"
Chiyo mengucapkan sebuah mantra yang Hana tak mengerti. Tangannya kanannya berpegangan dengan Furuichi, dan tangan kirinya dipegang oleh Haruki. Ia sangat ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia tak ingin menggagalkan ritual dengan membuka matanya.
Sementara gadis berambut merah itu terus mengucap mantranya. Api pada lilin bergoyang-goyang dan mengeluarkan percikan kecil di atas rambut Hana, dan sedikit demi sedikit membakar dua helai rambut Hana.
Chiyo mengakhiri pembacaan mantarnya dan melepaskan gandengan tangannya.
"sudah selesai" ucapnya.
Hana perlahan membuka saphirenya yang tertutup. Dilihatnya dua helai rambutnya telah menghilang.
"Ritual ini akan bekerja nanti malam, tunggu saja Rayumi" ucap Chiyo tersenyum ke arah Hana.
"Baiklah! Kalau begitu aku kembali dulu! Yoshiki-kun sudah menungguku!" Hana segera melambaikan tangannya dan berlari keluar kelas dengan ceria seperti biasa.
" ... . 'Yoshiki-kun' katanya?" ujar Azuki sinis saat menatap kepergian Hana.
"Ah sudahlah, biarkan. Dia tidak akan selamat dari roh itu malam ini" ucap Furuichi sambil tersenyum menyeringai.
"Hn, kenapa lama sekali?" tanya Yoshiki begitu melihat Hana yang muncul membuka pintu mobil.
"Eh maaf. Tadi aku bicara dulu dengan Furuichi-chan" ucap Hana sambil menutup kembali pintu mobil.
"Hn? Ketua kelas? Untuk apa?" tanya Yoshiki lagi sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Yaa... Pembicaraan rahasia wanita" ucap Hana seolah membuat Yoshiki lebih penasaran.
"Hn" pada dasarnya, Yoshiki memang penasaran.
Read More ->>
Mereka duduk membentuk lingkaran.
"Nah, sekarang kita butuh setetes darahmu" ucap Furuichi. Entah sejak kapan ia sudah menggenggam pisau kecil.
"Darah?" di lain pihak, Hana merasakan firasat buruk. "Apa tidak ada cara lain?"
Furuichi dan Chiyo bertatapan.
"Rambut. Berikan aku dua helai rambutmu" ucap Furuichi.
Hana segera menarik dua helai rambut hitam pendeknya dan memberikannya kepada Furuichi.
"Baiklah, kita mulai"
Furuichi meletakkan dua helai rambut Hana di atas selembar kertas. Dan meletakkan selembar kertas itu di tengah mereka.
"Nah, mari kita siapkan" Ucap Furuichi.
Azuki dan Haruki segera menutup gorden kelas dan menutup pintu kelas sambil memastikkan lorong benar-benar sepi.
Jam dinding menunjukkan pukul 4 sore. Dengan keadaan kelas yang gordennya di tutup, membuat sinar matahari sore terhalangi, kelas menjadi cukup gelap sekarang.
Setelah Haruki dan Azuki kembali bergabung dalam lingkaran, Chiyo segera menyalakan lilin putih yang berdiri di dekat lembaran kertas berisi rambut Hana.
"Pejamkan mata kalian" ucap Furuichi.
Chiyo, Haruki, dan Azuki segera menutup mata. Hana pun akhirnya menutup mata. Awalnya Hana sempat heran, kenapa hanya dia yang mengumpulkan rambut? Kenapa yang lain tidak? Jawaban yang muncul di kepala Hana setelah itu adalah, mungkin karena mereka pernah melakukan ritual ini, jadi mereka tidak perlu melakukannya lagi.
Sementara Yoshiki terus menunggu Hana di dalam mobil.
"Ck... Lama sekali, apa yang sedang dilakukannya?"
Chiyo mengucapkan sebuah mantra yang Hana tak mengerti. Tangannya kanannya berpegangan dengan Furuichi, dan tangan kirinya dipegang oleh Haruki. Ia sangat ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia tak ingin menggagalkan ritual dengan membuka matanya.
Sementara gadis berambut merah itu terus mengucap mantranya. Api pada lilin bergoyang-goyang dan mengeluarkan percikan kecil di atas rambut Hana, dan sedikit demi sedikit membakar dua helai rambut Hana.
Chiyo mengakhiri pembacaan mantarnya dan melepaskan gandengan tangannya.
"sudah selesai" ucapnya.
Hana perlahan membuka saphirenya yang tertutup. Dilihatnya dua helai rambutnya telah menghilang.
"Ritual ini akan bekerja nanti malam, tunggu saja Rayumi" ucap Chiyo tersenyum ke arah Hana.
"Baiklah! Kalau begitu aku kembali dulu! Yoshiki-kun sudah menungguku!" Hana segera melambaikan tangannya dan berlari keluar kelas dengan ceria seperti biasa.
" ... . 'Yoshiki-kun' katanya?" ujar Azuki sinis saat menatap kepergian Hana.
"Ah sudahlah, biarkan. Dia tidak akan selamat dari roh itu malam ini" ucap Furuichi sambil tersenyum menyeringai.
"Hn, kenapa lama sekali?" tanya Yoshiki begitu melihat Hana yang muncul membuka pintu mobil.
"Eh maaf. Tadi aku bicara dulu dengan Furuichi-chan" ucap Hana sambil menutup kembali pintu mobil.
"Hn? Ketua kelas? Untuk apa?" tanya Yoshiki lagi sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Yaa... Pembicaraan rahasia wanita" ucap Hana seolah membuat Yoshiki lebih penasaran.
"Hn" pada dasarnya, Yoshiki memang penasaran.
Sabtu, 11 April 2015
Yami no Ai [Chapter 197]
Published :
19.38
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 197
"Akan kubacakan pembagian tempat duduk ini. Sebelum itu sepertinya semua pola tempat duduknya adalah laki-laki dan perempuan--"
"dan tidak ada protes untuk itu!" interupsi Eisuke-sensei.
"--Akan kubacakan..."
SIGH...
Setelah proses pembagian tempat duduk yang penuh dengan protes dan komentar, sekarang para siswa sudah terduduk diam dan rapi di tempatnya. Namun pandangan dari seluruh siswi langsung tertuju pada sebuah bangku yang berada di urutan ke tiga dari depan dan kedua dari kanan. Itu bangku Hana. Dan duduk bersama Yoshiki yang sepertinya tidak terpengaruh glare yang diberikan seluruh siswi di kelasnya.
"Haha..." Hana tertawa hambar.
"Eisuke-sensei! Kenapa aku harus duduk bersama Genji-kun sementara Rayumi duduk bersama Kuroto-kun?" rengek Kikuri.
"Sebenarnya Sensei memasangkan kalian berdasarkan rata-rata nilai kalian. Dan rata-ratamu sama dengan orang yang duduk di sebelahmu"
"Apa!? Jadi rata-rata untuk perempuan adalah Rayumi?" sahut siswi lain.
"Ya... Begitulah" jawab Eisuke-sensei.
"Ha? Apa?" Hana sedikit kaget mendengar jawaban Eisuke-sensei. "Bukannya nilaiku banyak yang jelek?"
"Ternyata siswi tercerdas di sini Hana-kun ya?" terdengar suara Suzaku di sebelah kanan Hana. Ternyata siswa berambut coklat itu duduk di sebrangnya.
Hana langsung sweatdrop menatap Suzaku.
"Yah mulai besok kalian masuk, tempat duduk kalian akan terus begini. Baiklah--" Eisuke-sensei berjalan menuju pintu kelas, "--Jangan sampai sakit" lanjut sensei keluar kelas. Lalu bel tanda pelajaran berakhir pun berbunyi.
"Baik. Terima kasih Sensei" ucap 2-1 bersamaan.
Yoshiki sudah hampir menaikkan kopling mobilnya dan menginjak gas untuk menjalankan mobilnya, tiba-tiba Hana berteriak, "Waa! Sebentar Yoshiki-kun! Komik Naruto-ku tertinggal di kelas!"
"Hn, biarkan saja, kita beli yang baru"
"Tidak mau! Aku mau yang itu!" rengek Hana.
Dengan helaan nafas, Yoshiki langsung mematikan mesin mobilnya.
"Hn, cepat"
"Yosh!" Hana langsung membuka pintu mobil dan berlari menuju kelasnya.
BRAK!
Hana membuka pintu kelasnya dengan kasar.
Ternyata di kelas masih ada beberapa temannya. Furuichi, Haruki, Chiyo, dan Azuki. Mereka berkumpul di ujung kiri kelas mengitari sesuatu.
Saat Hana mengambil komiknya yang berada di kolong mejanya, keempat temannya itu terus menatap ke arah Hana dengan tajam.
Atas rasa penasarannya, akhirnya Hana berjalan mendekat ke arah mereka.
"Hei, kalian sedang apa?" tanya Hana.
Furuichi menyeringai tipis.
"Hmm... Melakukan ritual" ucapnya.
"Eh? Ritual? Ritual apa?" kini Hana sudah ada di dekat mereka.
"Ritual cinta" jawab Azuki seolah memahami maksud Furuichi.
"Yap. Jika melakukan ritual ini, dijamin akan segera memiliki pacar jika masih belum memiliki pacar, dan jika sudah memiliki pacar, maka fungsi ritual ini untuk menambah keharmonisan dan keromantisan hubungan. Kau mau ikut Rayumi?" sambung Haruki.
"Benarkah? Baiklah, aku ikut" ucap Hana tanpa pikir panjang.
Chiyo segera bergeser, memberi Hana tempat untuk duduk di sampingnya.
Read More ->>
"Akan kubacakan pembagian tempat duduk ini. Sebelum itu sepertinya semua pola tempat duduknya adalah laki-laki dan perempuan--"
"dan tidak ada protes untuk itu!" interupsi Eisuke-sensei.
"--Akan kubacakan..."
SIGH...
Setelah proses pembagian tempat duduk yang penuh dengan protes dan komentar, sekarang para siswa sudah terduduk diam dan rapi di tempatnya. Namun pandangan dari seluruh siswi langsung tertuju pada sebuah bangku yang berada di urutan ke tiga dari depan dan kedua dari kanan. Itu bangku Hana. Dan duduk bersama Yoshiki yang sepertinya tidak terpengaruh glare yang diberikan seluruh siswi di kelasnya.
"Haha..." Hana tertawa hambar.
"Eisuke-sensei! Kenapa aku harus duduk bersama Genji-kun sementara Rayumi duduk bersama Kuroto-kun?" rengek Kikuri.
"Sebenarnya Sensei memasangkan kalian berdasarkan rata-rata nilai kalian. Dan rata-ratamu sama dengan orang yang duduk di sebelahmu"
"Apa!? Jadi rata-rata untuk perempuan adalah Rayumi?" sahut siswi lain.
"Ya... Begitulah" jawab Eisuke-sensei.
"Ha? Apa?" Hana sedikit kaget mendengar jawaban Eisuke-sensei. "Bukannya nilaiku banyak yang jelek?"
"Ternyata siswi tercerdas di sini Hana-kun ya?" terdengar suara Suzaku di sebelah kanan Hana. Ternyata siswa berambut coklat itu duduk di sebrangnya.
Hana langsung sweatdrop menatap Suzaku.
"Yah mulai besok kalian masuk, tempat duduk kalian akan terus begini. Baiklah--" Eisuke-sensei berjalan menuju pintu kelas, "--Jangan sampai sakit" lanjut sensei keluar kelas. Lalu bel tanda pelajaran berakhir pun berbunyi.
"Baik. Terima kasih Sensei" ucap 2-1 bersamaan.
Yoshiki sudah hampir menaikkan kopling mobilnya dan menginjak gas untuk menjalankan mobilnya, tiba-tiba Hana berteriak, "Waa! Sebentar Yoshiki-kun! Komik Naruto-ku tertinggal di kelas!"
"Hn, biarkan saja, kita beli yang baru"
"Tidak mau! Aku mau yang itu!" rengek Hana.
Dengan helaan nafas, Yoshiki langsung mematikan mesin mobilnya.
"Hn, cepat"
"Yosh!" Hana langsung membuka pintu mobil dan berlari menuju kelasnya.
BRAK!
Hana membuka pintu kelasnya dengan kasar.
Ternyata di kelas masih ada beberapa temannya. Furuichi, Haruki, Chiyo, dan Azuki. Mereka berkumpul di ujung kiri kelas mengitari sesuatu.
Saat Hana mengambil komiknya yang berada di kolong mejanya, keempat temannya itu terus menatap ke arah Hana dengan tajam.
Atas rasa penasarannya, akhirnya Hana berjalan mendekat ke arah mereka.
"Hei, kalian sedang apa?" tanya Hana.
Furuichi menyeringai tipis.
"Hmm... Melakukan ritual" ucapnya.
"Eh? Ritual? Ritual apa?" kini Hana sudah ada di dekat mereka.
"Ritual cinta" jawab Azuki seolah memahami maksud Furuichi.
"Yap. Jika melakukan ritual ini, dijamin akan segera memiliki pacar jika masih belum memiliki pacar, dan jika sudah memiliki pacar, maka fungsi ritual ini untuk menambah keharmonisan dan keromantisan hubungan. Kau mau ikut Rayumi?" sambung Haruki.
"Benarkah? Baiklah, aku ikut" ucap Hana tanpa pikir panjang.
Chiyo segera bergeser, memberi Hana tempat untuk duduk di sampingnya.
Jumat, 10 April 2015
Yami no Ai [Chapter 196]
Published :
19.56
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 196
"..." Orion terdiam menatap wajah polos Hana dengan sedikit wajahnya yang memerah.
"Kenapa? Tidak boleh?" tanya Hana lagi.
"Eh--eh! I-iya! B-boleh!" jawab Orion gelagapan.
"Hn. Sudah cukup sampai di sana reuninya" tiba-tiba sebuah suara dingin terdengar.
Yoshiki menatap sinis ke arah Orion.
"Eh? Yoshiki-kun..." Hana menoleh ke arah Yoshiki yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Hn. Aku membebaskan dari hukumanmu bukan berarti kau bebas berdekatan dengan istriku" ujar Yoshiki dingin.
Sementara Hana sudah menunduk menahan rasa panas di wajahnya yang menguap setelah mendengar kata "istriku" dari mulut Yoshiki.
"Gomennasai, My Lord" Orion segera berojigi sangat dalam di depan Yoshiki.
"Hn"
BRUK
Tiba-tiba Yoshiki merasakan pelukan dari samping tubuhnya. Itu Hana. Ia memeluknya dengan sangat hangat.
"Arigatou ne... Yoshiki-kun..." Hana mendongkak dan tersenyum tulus ke arah Yoshiki.
" ... ." Yoshiki terdiam menatap wajah Hana.
'D-dia... Manis...' batin Yoshiki.
"Tak kusangka kita sudah secepat ini sampai di semester 2" ucap Hana kepada Suzaku yang duduk di belakangnya.
"Yaa... Begitulah" timpal Suzaku.
"Hmm... Aku ingin segera naik kelas dan meninggalkan kelas ini" keluh Hana.
"He... Kenapa begitu?"
"Disini penuh dengan siswa cerdas. Dan aku tak secerdas itu..." ujar Hana sambil menghela nafas.
"Ahahaha. Hana-kun juga cerdas kok!" tawa Suzaku.
"Suzaku lebih cerdas" Hana menggembungkan pipinya. "Kemarin Suzaku dapat nilai 100 di ulangan harian matematika. Aku hanya 80"
"Bukannya pacar Hana-kun yang lebih cerdas? Dia selalu mendapat nilai 100 di ujian apapun. Mungkin dia akan diikutkan olimpiade sains nasional"
"Hm?" dengan pipi yang masih tergembung Hana menoleh ke arah Yoshiki. Pria itu sedang memainkan ponselnya sekarang.
'Yoshiki-kun cerdas? Itu wajar. Yoshiki-kun ikut olimpiade sains? Hahaha sepertinya tidak mungkin dia mau' inner Hana sweatdrop.
"Hn. Ada apa?"
Hana langsung tersadar begitu mendengar suara dingin khas Yoshiki. Ternyata pria itu sedang menatapnya sekarang.
"Ah... Tidak apa Yoshiki-kun! Hehe!" Hana menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"?" Yoshiki hanya menaikkan satu alisnya menatap Hana.
SRAAAAK
Pintu ruang kelas terbuka dan tertutup kembali.
Itu Eisuke-sensei. Wali kelas mereka.
Hari ini adalah hari terakhir mereka masuk sekolah. Mengingat besok adalah libur untuk tahun baru. Dan kelas hari ini ditutup homeroom oleh wali kelas mereka, Eisuke-sensei.
"Yaa... Homeroom kali ini hanya singkat. Besok adalah libur tahun baru kalian. Pastikan tidak membuat masalah di luar sekolah dan tetaplah belajar. Dan sebelum itu, sensei akan mengubah tempat duduk kalian untuk meningkatkan prestasi kalian lebih lagi. Ketua kelas tolong di bagikan" Eisuke-sensei memberikan selembar kertas kepada Furuichi--selaku ketua kelas--yang sudah siap menerima lembaran kertas tersebut.
" ... ." Furuichi terdiam sebentar menatap lembaran kertas tersebut.
"ck" dia berdecak kecil sambil tangannya meremas kesal kertas itu.
Read More ->>
"..." Orion terdiam menatap wajah polos Hana dengan sedikit wajahnya yang memerah.
"Kenapa? Tidak boleh?" tanya Hana lagi.
"Eh--eh! I-iya! B-boleh!" jawab Orion gelagapan.
"Hn. Sudah cukup sampai di sana reuninya" tiba-tiba sebuah suara dingin terdengar.
Yoshiki menatap sinis ke arah Orion.
"Eh? Yoshiki-kun..." Hana menoleh ke arah Yoshiki yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Hn. Aku membebaskan dari hukumanmu bukan berarti kau bebas berdekatan dengan istriku" ujar Yoshiki dingin.
Sementara Hana sudah menunduk menahan rasa panas di wajahnya yang menguap setelah mendengar kata "istriku" dari mulut Yoshiki.
"Gomennasai, My Lord" Orion segera berojigi sangat dalam di depan Yoshiki.
"Hn"
BRUK
Tiba-tiba Yoshiki merasakan pelukan dari samping tubuhnya. Itu Hana. Ia memeluknya dengan sangat hangat.
"Arigatou ne... Yoshiki-kun..." Hana mendongkak dan tersenyum tulus ke arah Yoshiki.
" ... ." Yoshiki terdiam menatap wajah Hana.
'D-dia... Manis...' batin Yoshiki.
"Tak kusangka kita sudah secepat ini sampai di semester 2" ucap Hana kepada Suzaku yang duduk di belakangnya.
"Yaa... Begitulah" timpal Suzaku.
"Hmm... Aku ingin segera naik kelas dan meninggalkan kelas ini" keluh Hana.
"He... Kenapa begitu?"
"Disini penuh dengan siswa cerdas. Dan aku tak secerdas itu..." ujar Hana sambil menghela nafas.
"Ahahaha. Hana-kun juga cerdas kok!" tawa Suzaku.
"Suzaku lebih cerdas" Hana menggembungkan pipinya. "Kemarin Suzaku dapat nilai 100 di ulangan harian matematika. Aku hanya 80"
"Bukannya pacar Hana-kun yang lebih cerdas? Dia selalu mendapat nilai 100 di ujian apapun. Mungkin dia akan diikutkan olimpiade sains nasional"
"Hm?" dengan pipi yang masih tergembung Hana menoleh ke arah Yoshiki. Pria itu sedang memainkan ponselnya sekarang.
'Yoshiki-kun cerdas? Itu wajar. Yoshiki-kun ikut olimpiade sains? Hahaha sepertinya tidak mungkin dia mau' inner Hana sweatdrop.
"Hn. Ada apa?"
Hana langsung tersadar begitu mendengar suara dingin khas Yoshiki. Ternyata pria itu sedang menatapnya sekarang.
"Ah... Tidak apa Yoshiki-kun! Hehe!" Hana menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"?" Yoshiki hanya menaikkan satu alisnya menatap Hana.
SRAAAAK
Pintu ruang kelas terbuka dan tertutup kembali.
Itu Eisuke-sensei. Wali kelas mereka.
Hari ini adalah hari terakhir mereka masuk sekolah. Mengingat besok adalah libur untuk tahun baru. Dan kelas hari ini ditutup homeroom oleh wali kelas mereka, Eisuke-sensei.
"Yaa... Homeroom kali ini hanya singkat. Besok adalah libur tahun baru kalian. Pastikan tidak membuat masalah di luar sekolah dan tetaplah belajar. Dan sebelum itu, sensei akan mengubah tempat duduk kalian untuk meningkatkan prestasi kalian lebih lagi. Ketua kelas tolong di bagikan" Eisuke-sensei memberikan selembar kertas kepada Furuichi--selaku ketua kelas--yang sudah siap menerima lembaran kertas tersebut.
" ... ." Furuichi terdiam sebentar menatap lembaran kertas tersebut.
"ck" dia berdecak kecil sambil tangannya meremas kesal kertas itu.
Kamis, 09 April 2015
Yami no Ai [Chapter 195]
Published :
20.35
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 195
"...K-Kurosu..." Akhirnya Hana mau bicara sambil memanyunkan bibirnya.
"Oh... Orion?"
"Hum!" Hana mengangguk.
"Dia tidak ada disini. Dia berada di penjara spesial"
"Eh? Kenapa?!"
"Besok adalah hari hukumannya. Dia harus di pindahkan"
"Kalau begitu beri tahu aku di mana letak penjara itu Tomuro-kun!" pinta Hana lagi.
Tomuro menautkan alisnya melihat ekspresi Hana. "Maaf. Saya tak memiliki otoritas itu My Lady"
Alis Hana berkerut ke atas. Matanya yang sedari tadi terasa panas sepertinya mulai berair.
"hiks..." dengan cepat Hana segera melangkah dan berlari entah kenapa.
CKLEK...
BLAM...
Pintu besar kamar Yoshiki terbuka dan kembali tertutup.
Yoshiki yang berada di sisi kanan ruangan tengah memantau suatu grafik dari laptopnya segera kehilangan konsentrasi dan menoleh ke arah Hana yang sudah mematung di depan pintu yang tertutup.
Pribadi yang biasanya ceria dan selalu memancarkan aura ceria itu seakan hilang dari sosok Hana. Ia terlihat sangat murung. Apalagi itu, ada sedikit warna memerah di bawah matanya. Dan agak sembam. Satu kesimpulan, Hana baru saja menangis.
Yoshiki segera bangkit dari duduknya tanpa disadari dan menuju ke arah Hana.
"Kau kenapa? Kau baru saja menangis" Ujar Yoshiki dengan nada khawatirnya.
Tak merespon pertanyaan Yoshiki, Hana menghadap ke arah lain dan menepis tangan Yoshiki yang berusaha menyentuh wajahnya.
"..." Yoshiki terdiam di tempatnya. Sementara Hana kembali melangkah menuju ranjangnya.
BRUK...
Hana merebahkan tubuhnya secara terlungkup di ranjang.
"Kurosu hanyalah seekor kucing. Walau aku memanjakannya pun itu karena dia kucing yang kupelihara. Tapi pria yang sangat kucintai tetap tidak mengerti itu" guman Hana.
Yoshiki terasa tertusuk sebuah panah tepat di jantungnya setelah mendengar ucapan Hana.
Benar... Hana hanya mencintainya. Itu hanya kucing... Sepertinya dirinya harus lebih mengendalikan sifatnya yang mudah cemburu.
"Hn... Baiklah... Akan kubatalkan hukuman mati-nya, dan kubebaskan"
Mendengar itu Hana langsung mendongkakkan wajah berantakannya ke arah Yoshiki. Matanya terbelalak entah kaget entah bahagia.
"Arigatou Yoshiki-kun!" segera di peluknya sang suami dengan bahagia. Air matanya kembali mengalir. Kali ini bukan lagi air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan.
"Hn..." Yoshiki membalas pelukan Hana dengan hangat.
"KUROSU!!" Hana yang baru saja berjalan bersama Yoshiki menuju taman belakang langsung berlari begitu melihat sosok remaja laki-laki berambut abu-abu tengah duduk di sebuah kursi.
"Ah, My Lady" Orion segera bangkit dan berojigi kepada Hana.
"Bagaimana anda bisa mengenali saya?" tanya Orion dengan tersenyum ramah.
"Rambutmu!" ujar Hana ceria.
"Ah rambut saya?"
"Ya! Aku senang Kurosu-kun tidak apa-apa!"
Untuk beberapa detik wajah Orion berubah sedikit memerah saat melihat wajah Hana yang tersenyum tulus ke arahnya. 'D-dia manis...' batin Orion.
"Ah ya. Maaf telat memperkenalkan diri. Nama saya sebenarnya Orion Futabu"
"Ku-ro-su!"
"Eh?"
"Aku lebih suka memanggilmu Kurosu hehe!"
Read More ->>
"...K-Kurosu..." Akhirnya Hana mau bicara sambil memanyunkan bibirnya.
"Oh... Orion?"
"Hum!" Hana mengangguk.
"Dia tidak ada disini. Dia berada di penjara spesial"
"Eh? Kenapa?!"
"Besok adalah hari hukumannya. Dia harus di pindahkan"
"Kalau begitu beri tahu aku di mana letak penjara itu Tomuro-kun!" pinta Hana lagi.
Tomuro menautkan alisnya melihat ekspresi Hana. "Maaf. Saya tak memiliki otoritas itu My Lady"
Alis Hana berkerut ke atas. Matanya yang sedari tadi terasa panas sepertinya mulai berair.
"hiks..." dengan cepat Hana segera melangkah dan berlari entah kenapa.
CKLEK...
BLAM...
Pintu besar kamar Yoshiki terbuka dan kembali tertutup.
Yoshiki yang berada di sisi kanan ruangan tengah memantau suatu grafik dari laptopnya segera kehilangan konsentrasi dan menoleh ke arah Hana yang sudah mematung di depan pintu yang tertutup.
Pribadi yang biasanya ceria dan selalu memancarkan aura ceria itu seakan hilang dari sosok Hana. Ia terlihat sangat murung. Apalagi itu, ada sedikit warna memerah di bawah matanya. Dan agak sembam. Satu kesimpulan, Hana baru saja menangis.
Yoshiki segera bangkit dari duduknya tanpa disadari dan menuju ke arah Hana.
"Kau kenapa? Kau baru saja menangis" Ujar Yoshiki dengan nada khawatirnya.
Tak merespon pertanyaan Yoshiki, Hana menghadap ke arah lain dan menepis tangan Yoshiki yang berusaha menyentuh wajahnya.
"..." Yoshiki terdiam di tempatnya. Sementara Hana kembali melangkah menuju ranjangnya.
BRUK...
Hana merebahkan tubuhnya secara terlungkup di ranjang.
"Kurosu hanyalah seekor kucing. Walau aku memanjakannya pun itu karena dia kucing yang kupelihara. Tapi pria yang sangat kucintai tetap tidak mengerti itu" guman Hana.
Yoshiki terasa tertusuk sebuah panah tepat di jantungnya setelah mendengar ucapan Hana.
Benar... Hana hanya mencintainya. Itu hanya kucing... Sepertinya dirinya harus lebih mengendalikan sifatnya yang mudah cemburu.
"Hn... Baiklah... Akan kubatalkan hukuman mati-nya, dan kubebaskan"
Mendengar itu Hana langsung mendongkakkan wajah berantakannya ke arah Yoshiki. Matanya terbelalak entah kaget entah bahagia.
"Arigatou Yoshiki-kun!" segera di peluknya sang suami dengan bahagia. Air matanya kembali mengalir. Kali ini bukan lagi air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan.
"Hn..." Yoshiki membalas pelukan Hana dengan hangat.
"KUROSU!!" Hana yang baru saja berjalan bersama Yoshiki menuju taman belakang langsung berlari begitu melihat sosok remaja laki-laki berambut abu-abu tengah duduk di sebuah kursi.
"Ah, My Lady" Orion segera bangkit dan berojigi kepada Hana.
"Bagaimana anda bisa mengenali saya?" tanya Orion dengan tersenyum ramah.
"Rambutmu!" ujar Hana ceria.
"Ah rambut saya?"
"Ya! Aku senang Kurosu-kun tidak apa-apa!"
Untuk beberapa detik wajah Orion berubah sedikit memerah saat melihat wajah Hana yang tersenyum tulus ke arahnya. 'D-dia manis...' batin Orion.
"Ah ya. Maaf telat memperkenalkan diri. Nama saya sebenarnya Orion Futabu"
"Ku-ro-su!"
"Eh?"
"Aku lebih suka memanggilmu Kurosu hehe!"
Yami no Ai [Chapter 195]
Published :
20.34
Author :
Hansel Vereiteln
Chap 195
"...K-Kurosu..." Akhirnya Hana mau bicara sambil memanyunkan bibirnya.
"Oh... Orion?"
"Hum!" Hana mengangguk.
"Dia tidak ada disini. Dia berada di penjara spesial"
"Eh? Kenapa?!"
"Besok adalah hari hukumannya. Dia harus di pindahkan"
"Kalau begitu beri tahu aku di mana letak penjara itu Tomuro-kun!" pinta Hana lagi.
Tomuro menautkan alisnya melihat ekspresi Hana. "Maaf. Saya tak memiliki otoritas itu My Lady"
Alis Hana berkerut ke atas. Matanya yang sedari tadi terasa panas sepertinya mulai berair.
"hiks..." dengan cepat Hana segera melangkah dan berlari entah kenapa.
CKLEK...
BLAM...
Pintu besar kamar Yoshiki terbuka dan kembali tertutup.
Yoshiki yang berada di sisi kanan ruangan tengah memantau suatu grafik dari laptopnya segera kehilangan konsentrasi dan menoleh ke arah Hana yang sudah mematung di depan pintu yang tertutup.
Pribadi yang biasanya ceria dan selalu memancarkan aura ceria itu seakan hilang dari sosok Hana. Ia terlihat sangat murung. Apalagi itu, ada sedikit warna memerah di bawah matanya. Dan agak sembam. Satu kesimpulan, Hana baru saja menangis.
Yoshiki segera bangkit dari duduknya tanpa disadari dan menuju ke arah Hana.
"Kau kenapa? Kau baru saja menangis" Ujar Yoshiki dengan nada khawatirnya.
Tak merespon pertanyaan Yoshiki, Hana menghadap ke arah lain dan menepis tangan Yoshiki yang berusaha menyentuh wajahnya.
"..." Yoshiki terdiam di tempatnya. Sementara Hana kembali melangkah menuju ranjangnya.
BRUK...
Hana merebahkan tubuhnya secara terlungkup di ranjang.
"Kurosu hanyalah seekor kucing. Walau aku memanjakannya pun itu karena dia kucing yang kupelihara. Tapi pria yang sangat kucintai tetap tidak mengerti itu" guman Hana.
Yoshiki terasa tertusuk sebuah panah tepat di jantungnya setelah mendengar ucapan Hana.
Benar... Hana hanya mencintainya. Itu hanya kucing... Sepertinya dirinya harus lebih mengendalikan sifatnya yang mudah cemburu.
"Hn... Baiklah... Akan kubatalkan hukuman mati-nya, dan kubebaskan"
Mendengar itu Hana langsung mendongkakkan wajah berantakannya ke arah Yoshiki. Matanya terbelalak entah kaget entah bahagia.
"Arigatou Yoshiki-kun!" segera di peluknya sang suami dengan bahagia. Air matanya kembali mengalir. Kali ini bukan lagi air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan.
"Hn..." Yoshiki membalas pelukan Hana dengan hangat.
"KUROSU!!" Hana yang baru saja berjalan bersama Yoshiki menuju taman belakang langsung berlari begitu melihat sosok remaja laki-laki berambut abu-abu tengah duduk di sebuah kursi.
"Ah, My Lady" Orion segera bangkit dan berojigi kepada Hana.
"Bagaimana anda bisa mengenali saya?" tanya Orion dengan tersenyum ramah.
"Rambutmu!" ujar Hana ceria.
"Ah rambut saya?"
"Ya! Aku senang Kurosu-kun tidak apa-apa!"
Untuk beberapa detik wajah Orion berubah sedikit memerah saat melihat wajah Hana yang tersenyum tulus ke arahnya. 'D-dia manis...' batin Orion.
"Ah ya. Maaf telat memperkenalkan diri. Nama saya sebenarnya Orion Futabu"
"Ku-ro-su!"
"Eh?"
"Aku lebih suka memanggilmu Kurosu hehe!"
Read More ->>
"...K-Kurosu..." Akhirnya Hana mau bicara sambil memanyunkan bibirnya.
"Oh... Orion?"
"Hum!" Hana mengangguk.
"Dia tidak ada disini. Dia berada di penjara spesial"
"Eh? Kenapa?!"
"Besok adalah hari hukumannya. Dia harus di pindahkan"
"Kalau begitu beri tahu aku di mana letak penjara itu Tomuro-kun!" pinta Hana lagi.
Tomuro menautkan alisnya melihat ekspresi Hana. "Maaf. Saya tak memiliki otoritas itu My Lady"
Alis Hana berkerut ke atas. Matanya yang sedari tadi terasa panas sepertinya mulai berair.
"hiks..." dengan cepat Hana segera melangkah dan berlari entah kenapa.
CKLEK...
BLAM...
Pintu besar kamar Yoshiki terbuka dan kembali tertutup.
Yoshiki yang berada di sisi kanan ruangan tengah memantau suatu grafik dari laptopnya segera kehilangan konsentrasi dan menoleh ke arah Hana yang sudah mematung di depan pintu yang tertutup.
Pribadi yang biasanya ceria dan selalu memancarkan aura ceria itu seakan hilang dari sosok Hana. Ia terlihat sangat murung. Apalagi itu, ada sedikit warna memerah di bawah matanya. Dan agak sembam. Satu kesimpulan, Hana baru saja menangis.
Yoshiki segera bangkit dari duduknya tanpa disadari dan menuju ke arah Hana.
"Kau kenapa? Kau baru saja menangis" Ujar Yoshiki dengan nada khawatirnya.
Tak merespon pertanyaan Yoshiki, Hana menghadap ke arah lain dan menepis tangan Yoshiki yang berusaha menyentuh wajahnya.
"..." Yoshiki terdiam di tempatnya. Sementara Hana kembali melangkah menuju ranjangnya.
BRUK...
Hana merebahkan tubuhnya secara terlungkup di ranjang.
"Kurosu hanyalah seekor kucing. Walau aku memanjakannya pun itu karena dia kucing yang kupelihara. Tapi pria yang sangat kucintai tetap tidak mengerti itu" guman Hana.
Yoshiki terasa tertusuk sebuah panah tepat di jantungnya setelah mendengar ucapan Hana.
Benar... Hana hanya mencintainya. Itu hanya kucing... Sepertinya dirinya harus lebih mengendalikan sifatnya yang mudah cemburu.
"Hn... Baiklah... Akan kubatalkan hukuman mati-nya, dan kubebaskan"
Mendengar itu Hana langsung mendongkakkan wajah berantakannya ke arah Yoshiki. Matanya terbelalak entah kaget entah bahagia.
"Arigatou Yoshiki-kun!" segera di peluknya sang suami dengan bahagia. Air matanya kembali mengalir. Kali ini bukan lagi air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan.
"Hn..." Yoshiki membalas pelukan Hana dengan hangat.
"KUROSU!!" Hana yang baru saja berjalan bersama Yoshiki menuju taman belakang langsung berlari begitu melihat sosok remaja laki-laki berambut abu-abu tengah duduk di sebuah kursi.
"Ah, My Lady" Orion segera bangkit dan berojigi kepada Hana.
"Bagaimana anda bisa mengenali saya?" tanya Orion dengan tersenyum ramah.
"Rambutmu!" ujar Hana ceria.
"Ah rambut saya?"
"Ya! Aku senang Kurosu-kun tidak apa-apa!"
Untuk beberapa detik wajah Orion berubah sedikit memerah saat melihat wajah Hana yang tersenyum tulus ke arahnya. 'D-dia manis...' batin Orion.
"Ah ya. Maaf telat memperkenalkan diri. Nama saya sebenarnya Orion Futabu"
"Ku-ro-su!"
"Eh?"
"Aku lebih suka memanggilmu Kurosu hehe!"
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.