Chap 194
"Apa yang kau lakukan di sini Tomuro-kun?" Hana mendekati Tomuro.
"Ya... Seperti biasa..."
"He...." Hana hanya ber-"he" ria.
Tiba-tiba sebuah benda putih mulus mendarat di hidung Hana.
"Eh?" Hana menatap benda putih itu.
"Sa.... Sa... SALJU!!"
Dan malam itu. Salju pertama turun.
"Ne? Yoshiki-kun?" Hana tiba-tiba bicara. Padahal saat itu ia sedang duduk di depan laptopnya yang layarnya menampilakn sebuah game RPG.
"Hn?" Sementara orang yang di panggilnya tengah membaca sebuah buku kecil.
"Kau dari mana tadi?" Hana masih fokus pada gamenya.
"Hn. Kenapa menanyakan itu?"
"Ngg-- hanya penasaran"
"Hn. Rahasia bisnis. Bisa di bilang begitu"
"Haa?"
"Hn"
"Kau tak mau memberitahuku Yoshiki-kun?"
"Hn"
BRAK
Hana melepas headphone yang sedari tadi melekat di telinganya lalu secara kasar kembali meletakan di meja.
Wajah Hana menunjukkan wajah menahan emosi. Ada tiga siku tertanam di jidat Hana.
"Udara dingin menjadi lebih dingin sekarang!"
"Hn.... Kau penasaran?" Yoshiki masih tak terpengaruh emosi Hana.
"Tentu saja!!"
"Hn... Tenang saja aku tidak pergi bermanja-manja dengan wanita lain"
Ekspresi itu! Nada bicara itu! Datar dan... Ugh-- SANGAT MENYEBALKAN!
Hana sangat paham maksud ucapan Yoshiki barusan. Pria itu menyidnirnya! Dengan sangat-sangat-sangat-- gory.
"Huh" Hana kembali memasang headphonenya. Melanjutkan game-nya yang sempat ia pause.
Walau salju turun pun pikiran Hana tak bisa tenang dan bersantai memikirkan cara bersenang-senang dengan salju yang melimpah. Entah kenapa ia masih terus memikirkan kucing abu-abu itu. Ah iya. Kurosu bukanlah seorang kucing. Dia seorang manusia.
Ia ingin sekali lagi merengek di depan Yoshiki agar membebaskan Kurosu. Tapi hal itu pasti akan memicu perang dunia selanjutnya, mengingat Yoshiki adalah pria pencemburu.
Tapi ia tetap saja tak bisa diam saja!
Ah!
Tiba-tiba Hana terpikirkan untuk menengok Kurosu. Seingatnya sel penjara Kurosu ada di tingkat yang mudah di raih.
Hana berjalan menyusuri lorong. Sedari tadi ia terus berusaha mengingat-ingat jalan yang pernah dilaluinya saat pengenalan ruangan yang di lakukan oleh para maid kepadanya.
Dari belakang Hana, kebetulan Tomuro baru saja berbelok dari ujung lorong yang lain. Mata azure-nya yang liar langsung menatap tubuh Hana.
"Hmm? My Lady?" Tomuro langsung menyebut nama panggilan Hana.
"Eh?" Hana langsung berhenti dan berbalik guna mencari orang yang memanggilnya. "Tomuro-kun?"
"Yo! Mau kemana?"
"E-etto...." Hana gelagapan.
"Mau kemana?"
"A-ah! Yoshiki-kun di mana ya!?" Hana bicara apapun yang terlintas di pikirannya. Ia sudah terpergok Tomuro.
"My Lord ada di ruangannya. Tapi... Sebodoh apapun My Lady... Tak mungkin sampau tersesat di lantai bawah ini" ucap Tomuro sambil memasang ekspresi berfikir.
Hana sweatdrop mendengar perkataan Tomuro. "Bodoh katamu?"
"Atau... Itu hanya alasan?" tebak Tomuro dengan seringainya.
"Uh!?" Ya, Hana juga sudah mengira kebohongannya pasti akan dengan cepat terungkap.
"Hehehe. Sebenarnya anda mau kemana?"
Read More ->>
"Apa yang kau lakukan di sini Tomuro-kun?" Hana mendekati Tomuro.
"Ya... Seperti biasa..."
"He...." Hana hanya ber-"he" ria.
Tiba-tiba sebuah benda putih mulus mendarat di hidung Hana.
"Eh?" Hana menatap benda putih itu.
"Sa.... Sa... SALJU!!"
Dan malam itu. Salju pertama turun.
"Ne? Yoshiki-kun?" Hana tiba-tiba bicara. Padahal saat itu ia sedang duduk di depan laptopnya yang layarnya menampilakn sebuah game RPG.
"Hn?" Sementara orang yang di panggilnya tengah membaca sebuah buku kecil.
"Kau dari mana tadi?" Hana masih fokus pada gamenya.
"Hn. Kenapa menanyakan itu?"
"Ngg-- hanya penasaran"
"Hn. Rahasia bisnis. Bisa di bilang begitu"
"Haa?"
"Hn"
"Kau tak mau memberitahuku Yoshiki-kun?"
"Hn"
BRAK
Hana melepas headphone yang sedari tadi melekat di telinganya lalu secara kasar kembali meletakan di meja.
Wajah Hana menunjukkan wajah menahan emosi. Ada tiga siku tertanam di jidat Hana.
"Udara dingin menjadi lebih dingin sekarang!"
"Hn.... Kau penasaran?" Yoshiki masih tak terpengaruh emosi Hana.
"Tentu saja!!"
"Hn... Tenang saja aku tidak pergi bermanja-manja dengan wanita lain"
Ekspresi itu! Nada bicara itu! Datar dan... Ugh-- SANGAT MENYEBALKAN!
Hana sangat paham maksud ucapan Yoshiki barusan. Pria itu menyidnirnya! Dengan sangat-sangat-sangat-- gory.
"Huh" Hana kembali memasang headphonenya. Melanjutkan game-nya yang sempat ia pause.
Walau salju turun pun pikiran Hana tak bisa tenang dan bersantai memikirkan cara bersenang-senang dengan salju yang melimpah. Entah kenapa ia masih terus memikirkan kucing abu-abu itu. Ah iya. Kurosu bukanlah seorang kucing. Dia seorang manusia.
Ia ingin sekali lagi merengek di depan Yoshiki agar membebaskan Kurosu. Tapi hal itu pasti akan memicu perang dunia selanjutnya, mengingat Yoshiki adalah pria pencemburu.
Tapi ia tetap saja tak bisa diam saja!
Ah!
Tiba-tiba Hana terpikirkan untuk menengok Kurosu. Seingatnya sel penjara Kurosu ada di tingkat yang mudah di raih.
Hana berjalan menyusuri lorong. Sedari tadi ia terus berusaha mengingat-ingat jalan yang pernah dilaluinya saat pengenalan ruangan yang di lakukan oleh para maid kepadanya.
Dari belakang Hana, kebetulan Tomuro baru saja berbelok dari ujung lorong yang lain. Mata azure-nya yang liar langsung menatap tubuh Hana.
"Hmm? My Lady?" Tomuro langsung menyebut nama panggilan Hana.
"Eh?" Hana langsung berhenti dan berbalik guna mencari orang yang memanggilnya. "Tomuro-kun?"
"Yo! Mau kemana?"
"E-etto...." Hana gelagapan.
"Mau kemana?"
"A-ah! Yoshiki-kun di mana ya!?" Hana bicara apapun yang terlintas di pikirannya. Ia sudah terpergok Tomuro.
"My Lord ada di ruangannya. Tapi... Sebodoh apapun My Lady... Tak mungkin sampau tersesat di lantai bawah ini" ucap Tomuro sambil memasang ekspresi berfikir.
Hana sweatdrop mendengar perkataan Tomuro. "Bodoh katamu?"
"Atau... Itu hanya alasan?" tebak Tomuro dengan seringainya.
"Uh!?" Ya, Hana juga sudah mengira kebohongannya pasti akan dengan cepat terungkap.
"Hehehe. Sebenarnya anda mau kemana?"