Rabu, 28 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 194]

Chap 194

"Apa yang kau lakukan di sini Tomuro-kun?" Hana mendekati Tomuro.
"Ya... Seperti biasa..."
"He...." Hana hanya ber-"he" ria.
Tiba-tiba sebuah benda putih mulus mendarat di hidung Hana.
"Eh?" Hana menatap benda putih itu.
"Sa.... Sa... SALJU!!"
Dan malam itu. Salju pertama turun.

"Ne? Yoshiki-kun?" Hana tiba-tiba bicara. Padahal saat itu ia sedang duduk di depan laptopnya yang layarnya menampilakn sebuah game RPG.
"Hn?" Sementara orang yang di panggilnya tengah membaca sebuah buku kecil.
"Kau dari mana tadi?" Hana masih fokus pada gamenya.
"Hn. Kenapa menanyakan itu?"
"Ngg-- hanya penasaran"
"Hn. Rahasia bisnis. Bisa di bilang begitu"
"Haa?"
"Hn"
"Kau tak mau memberitahuku Yoshiki-kun?"
"Hn"
BRAK
Hana melepas headphone yang sedari tadi melekat di telinganya lalu secara kasar kembali meletakan di meja.
Wajah Hana menunjukkan wajah menahan emosi. Ada tiga siku tertanam di jidat Hana.
"Udara dingin menjadi lebih dingin sekarang!"
"Hn.... Kau penasaran?" Yoshiki masih tak terpengaruh emosi Hana.
"Tentu saja!!"
"Hn... Tenang saja aku tidak pergi bermanja-manja dengan wanita lain"
Ekspresi itu! Nada bicara itu! Datar dan... Ugh-- SANGAT MENYEBALKAN!
Hana sangat paham maksud ucapan Yoshiki barusan. Pria itu menyidnirnya! Dengan sangat-sangat-sangat-- gory.
"Huh" Hana kembali memasang headphonenya. Melanjutkan game-nya yang sempat ia pause.

Walau salju turun pun pikiran Hana tak bisa tenang dan bersantai memikirkan cara bersenang-senang dengan salju yang melimpah. Entah kenapa ia masih terus memikirkan kucing abu-abu itu. Ah iya. Kurosu bukanlah seorang kucing. Dia seorang manusia.
Ia ingin sekali lagi merengek di depan Yoshiki agar membebaskan Kurosu. Tapi hal itu pasti akan memicu perang dunia selanjutnya, mengingat Yoshiki adalah pria pencemburu.
Tapi ia tetap saja tak bisa diam saja!
Ah!
Tiba-tiba Hana terpikirkan untuk menengok Kurosu. Seingatnya sel penjara Kurosu ada di tingkat yang mudah di raih.

Hana berjalan menyusuri lorong. Sedari tadi ia terus berusaha mengingat-ingat jalan yang pernah dilaluinya saat pengenalan ruangan yang di lakukan oleh para maid kepadanya.
Dari belakang Hana, kebetulan Tomuro baru saja berbelok dari ujung lorong yang lain. Mata azure-nya yang liar langsung menatap tubuh Hana.
"Hmm? My Lady?" Tomuro langsung menyebut nama panggilan Hana.
"Eh?" Hana langsung berhenti dan berbalik guna mencari orang yang memanggilnya. "Tomuro-kun?"
"Yo! Mau kemana?"
"E-etto...." Hana gelagapan.
"Mau kemana?"
"A-ah! Yoshiki-kun di mana ya!?" Hana bicara apapun yang terlintas di pikirannya. Ia sudah terpergok Tomuro.
"My Lord ada di ruangannya. Tapi... Sebodoh apapun My Lady... Tak mungkin sampau tersesat di lantai bawah ini" ucap Tomuro sambil memasang ekspresi berfikir.
Hana sweatdrop mendengar perkataan Tomuro. "Bodoh katamu?"
"Atau... Itu hanya alasan?" tebak Tomuro dengan seringainya.
"Uh!?" Ya, Hana juga sudah mengira kebohongannya pasti akan dengan cepat terungkap.
"Hehehe. Sebenarnya anda mau kemana?"
Read More ->>

Selasa, 27 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 193]

Chap 193

Yoshiki menaikkan satu alisnya menatap Hana yang bergelayut manja di lengannya.
"Hn. Percuma, kau akan mencoba membujukku untuk membatalkan hukumannya kan?"
"Eh!? Kok tau!?" Hana refleks mengerucutkan bibirnya.
"Hn. Hanya menebak" jawab Yoshiki datar.
"Ta-tapi itu hanya rencana B!"
"Hn. Rencana B?"
"Y-Ya... Aku memang berniat bermanja-manja seperti keinginanmu awalnya! Tapi setelah itu aku terpikir untuk--"
"Hn. Kissu site"
"Ah? Apa?"
"Hn. Cium aku"
"APAAAAA!!?" Hana langsung blushing berat.
"Hn."
Wajah Hana sudah semakin merah dan ia berusaha memenangkan jantungnya yang tadi sepertinya hampir meledak karena ucapan inosen Yoshiki.
"T-Tapi ini kan... D-Di--"
"Hn. Kau bilang ingin memanjakanku kan?" ujar Yoshiki dingin.
"T-Ta-- AH! MOU!" Hana malah kesal sendiri terhadap dirinya.
"T-Tutup matamu!"
"Hn. Tidak"
"Ha!? ASTAGA KUROTO YOSHIKI KAU SANGAT MENYEBALKAN!!"
"Hn"
"U-uuuh!!"
akhirnya setelah melalui banyak perdebatan tidak penting, Hana membulatkan tekatnya untuk melaksanakan permintaan suaminya.
Manor House Yoshiki memang bukanlah tempat umum. Tapi keberadaan para penghuni lain seperti pasukan, dan para pelayan membuat Hana merasa malu mencium Yoshiki di tempat ini.
Kakinya ia jinjitkan perlahan. Dengan sedikit kesal ia menutup Saphirenya. Ia berusaha mendekatkan wajahnya dengan wajah Yoshiki supaya bibir mereka bertemu dan masalahnya selesai!
"u-u..." Hana merintih kecil. Padahal ia sudah sedari tadi menjinjit? Tapi kenapa tidak sampai-sampai? Matanya yang terpejam menghalanginya mengetahui keadaanya dan keadaan Yoshiki saat ini.
"..." sudut bibit Yoshiki tertarik keatas saat melihat ekspresi lucu Hana.
"Hn" tangannya bergerak memeluk tubuh istrinya dan diciumnya bibir istrinya dengan lembut.
'Yoshiki-kun....'

"Yoru kepala laboratorium yang bertanggung jawab atas misi Orion Futaba sudah di tangkap. Dan Kusagane Jiroubu juga. Tapi sepertinya dewan mentri itu tidak terlalu tahu menahu" Tomuro meletakan berkas-berkas di dalam folder kuning di atas meja dekat cangkir teh Yoshiki.
Saat itu sang raja memang sedang bersantai menikmati langit sore bersama istrinya. Ya, seharusnya memang ia sedang bersantai dan membicarakan suatu topik bersama istrinya. Tapi istrinya itu malah meninggalkannya di green house karena melihat suatu tanaman obat.
"Hn"
"Kapan hukuman matinya?"
"Hn. Lusa. Aku sendiri yang akan melakukannya"
"Tak kusangka kau yang akan repot-repot membunuhnya"
"Hn. Dia bermanja-manja dengan milikku--"
"Tapi bisa dibilang dia yang menyelamatkan My Lady" potong Tomuro.
"..." Yoshiki terdiam mendengar ucapan Tomuro.
"Hei jangan bilang kau lupa? Dia yang berlari mencarimu dan mengatakan semuanya padamu kan?"
"Tch... Kau ingin aku membatalkan hukumannya?"
"Ah tidak-tidak. Dia tetap dihukum. Tapi tidak dengan membunuhnya. Kufikir My Lady akan menyimpan dendam padamu kalau kau tetap bersikeras membunuhnya"
"Hn..."
"Woa! Ada Tomuro-kun!" suara Hana terdengar membuat Tomuro menoleh mencari asal suara.
"Yo My Lady!"
Read More ->>

Senin, 26 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 192]

Chap 192

"Orion Futaba. Kau bertujuan menculik My Lady untuk menyerahkannya pada dewan mentri Jiroubu" Yoshiki kembali bicara dengan nada dingin.
"Ah!? Kurosu... Benarkah itu?" nada bicara Hana semakin menjadi lirih.
"Tapi kenapa Yoshiki-kun!?" Hana kembali bertanya kepada Yoshiki.
"Hn. Exorcist terus gencar menyerang. Para dewan ingin cepat--" Yoshiki tiba-tiba menghentikan ucapannya di tengah-tengah.
"cepat?" Hana memiringkan kepalanya. Ia membutuhkan kelanjutan ucapan Yoshiki!
"Hn. Tidak. Lupakan" tiba-tiba Yoshiki berubah aneh.
"??" Hana menatap Yoshiki aneh.
"Hn. Orion Futaba. Aku akan memaksamu untuk memperlihatkan wujud aslimu"
tidak ada reaksi sedikit pun dari si kucing.
Ah sepertinya di sudah benar-benar menyerah sekarang.
"Zurück zur Form von der Sie kamen!!"
Muncul sebuah cahaya hitam yag tiba-tiba menyelimuti Orion.
"Hmm... Ini pilihanku..." guman Orion.
Perlahan-lahan tubuhnya terasa perih dan nyeri yang terasa sangat menyakitka. Tubuhnya sedikit demi sedikit berubah.
Rantai yang mengekangnya telah di lepas saat Yoshiki menyerukan perintah mutlaknya.
Rintihan demi rintahan memilukan terdengar dari mulut si kucing. Air mata mengucur dari pelupuk matanya. Siapapun yang melihat ekspresi si kucing pasti langsung mengiba. Begitu pula Hana.
"RRRAAAAARGHHHH!!" jeritan Kurosu yang awalnya terdengar melengking kini terdengar seperti suara manusia.
Saphire Hana membulat. Di depannya. Sudah bukan lagi seekor kucing manis berbulu abu-abu yang ditemukannya beberapa hari yang lalu.
Tapi seorang pemuda berambut abu-abu yang cukup kurus. Hana tak bisa melihat ekspresi si pemuda karena ia tengah tertunduk sekarang.
"K-Kurosu..." Hana mencoba memanggil nama 'si kucing'.
"Saya... Bukanlah Kurosu... Nama saya adalah Orion Futaba. Saya memiliki Misi untuk... Menculik anda..." Si pemuda berambut abu-abu dengan sekuat tenaga mencoba kembali mengangkat kepalanya menatap wajah Hana.
Sel-sel tubuhnya yang masih terasa sakit, seakan semaki terbakar saat ia mencoba menggerakan tubuhnya.
"Hn. Hukuman matimu 3 hari lagi" Yoshiki berbalik badan dan langsung berjalan keluar ruangan gelap itu.
"Tunggu! Yoshiki-kun!? Kenapa kau kejam sekali! Lagi pula dia tidak berhasil menculik atau pun melukaiku kan!?" Hana yang menyongsong Yoshiki menarik coatnya hingga pria itu berhenti berjalan.
"Hn. 'Kejam'?" Yoshiki berhenti berjalan. Pria it terdiam di tempatnya.
"Dia memanfaatkanmu..."
Hana terdiam mendengar ucapan Yoshiki.
"Menyembunyikan identitasnya yang ternyata seorang pria, dan bermanja-manja denganmu... Membayangkannya sudah membuatku muak!" geram Yoshiki.
"..... Eh? Yoshiki-kun cemburu?" ceplos Hana polos.
"Tentu saja! Orion sialan itu seenaknya bermanja-manja dengamu dengan menyamar sebagai kucing! Ck!"
Hana terdiam menatap ekspresi suaminya.
Lucu. Iya, sangat lucu.
Perlahan senyum mengembang di wajah Hana.
Tangan Hana bergelayut tiba-tiba di lengan Yoshiki. "Kalau begitu kenapa Yoshiki-kun tidak coba bermanja-manja denganku?" goda Hana.
Read More ->>

Minggu, 25 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 191]

Chap 191

"Kau menghantamnya tepat di bawah dagu?" Yoshiki mendongkak ke arah Hana sambil tangannya menunjuk dagunya sendiri.
"Eh? Tahu dari mana!?" Hana salah tingkah.
"Hn, dagunya bengkak"
"Ah begitu. Maaf maaf aku tidak sengaja menghantamnya tadi" jawab Hana polos.
'Tak sengaja' katamu?' pikir Yoshiki.
"Hn. Sudahlah. Biar Tomuro yang mengurus ini. Kita kembali. Ada yang ingin kubicarakan" Yoshiki segera bangkit dan menarik tangan Hana.
Di luar gedung mereka berdua bertemu Tomuro yang baru saja mengamankan komplotan para penculik.
"Hoe... Sudah?" Tomuro menghentikan pekerjaannya sebentar.
"Hn. Yang di sini kuserahkan padamu Tomuro" Kuroto Yoshiki berbicara dengan nada dinginnya yang penuh perintah seperti biasa.
"Yes! My Lord!" ujar Tomuro penuh penekanan.

Kini keduanya telah berjalan di lorong manor house Yoshiki. Tangan kanan Hana yang lecet telah di beri plester luka oleh para maid. Dan sekarang saatnya ke topik utama. Pembicaraan yang ingin di lakukan Yoshiki. Oleh sebab itu Hana sekarang terus mengekor di belakang Yoshiki.
"Nee... Yoshiki-kun... Kita ke mana?"
Yoshiki tak menjawab. Ia terus berjalan tanpa menghiraukan Hana sedikit pun.
'Hmm... Kenapa dia?' bersamaan dengan pipi Hana yang menggembung ia berfikir. 'Marah padaku?'
TAP
Akhirnya kaki Yoshiki berhenti melangkah. Setelah mereka berdua turun 4 lantai sampai lantai pertama bawah tanah akhirnya Yoshiki berhenti di depan sebuah pintu besar. Berdaun dua, dan.... Sepertinya menyeramkan.
"Itu ruangan apa Yoshiki-kun?" Hana agak bergidik ngeri.
"Hn" Yoshiki hanya berguma. Dan kedua pintu itu terbuka. Yoshiki langsung melangkah masuk.
Awalnya Hana sangat ragu untuk masuk mengikuti langkah suaminya. Tapi ia sangat penasaran akan apa yang akan di katakan suaminya. Lagi pula, walau ia merasakan hawa mengerikan, ia malah merasa hormon dalam tubuhnya sedikit terangsang. Mirip seperti hormon seksualnya yang bekerja... Tapi bukan... Bukan yang seperti itu. Ini aneh... Terasa lebih aneh.
Akhirnya diputuskannya untuk ikut memasuki ruangan gelap itu.

"Orion Futaba" suara dingin Yoshiki menggema di dalam ruangan gelap itu.
Hana yang berada di belakang Yoshiki langsung membulatkan matanya saat melihat kucing berbulu abu-abunya di rantai dengan kejam di sebuah kursi. Setiap kaki dan tangannya dirantai. Begitu pula lehernya.
"Kurosu! Yoshiki-kun!? Kenapa kau merantai Kurosu!?" Hana yang mungkin hendak menyelamatkan kucingnya langsung di tahan Yoshiki.
"Kenapa!? Kenapa Yoshiki-kun!?" Hana terus meronta dan bertanya.
"Hn. Dia bukan kucing. Dia iblis rendahan" ujar Yoshiki dengan dingin.
"Apa!?" Hana semakin kaget mendengar penuturan Yoshiki.
"Orion. Dia klan yang bisa meng'copy' kemampuan orang di dekatnya. Dia memanfaatkanmu untuk menyembunyikan identitasnya dariku My Lady" jelas Yoshiki.
"K-Kurosu..." Hana masih shock.
Kucing abu-abu itu tak memancarkan keceriaan seperti biasa. Kali ini kucing itu hanya diam terantai tak bergerak. Seolah menyerah pada takdirnya.
Read More ->>

Sabtu, 24 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 190]

Chap 190

"wah... Wah... Kau berani rupanya" si pria bangkit membawa pisau lipat.
Hana bergeser mundur.
Oke, dia tidak memperhitungkan kalau pria itu akan bangkit dan sedang membawa pisau.
BRAK! SRAK!!
Suara hantaman-hantaman di luar makin keras.
"Bos! Dua orang penyusup menghancurkan semuanya! Bagaimana ini!?" seorang remaja pendek masuk ke ruangan Hana dengan berwajah ketakutan.
"cih! Kau tangani itu! Aku masih punya dendam pada wanita ini" si pria kembali menoleh ke arah Hana dengan wajah dibuat mengerikan.
"Saa... Nona, mari kita berpesta!" si pria menghunuskan pisaunya dari atas ke bawah.
KRACK!
Pisau itu tepat membelah ikatan rapat tali di tangan Hana.
Hana segera melompat mundur sambil menyeringai.
"Bo-doh!" Hana menendang wajah pria itu dengan punggung kaki kanannya.
DRAAK!
Pria itu jatuh terlungkup di lantai. Kini dahi kepala pria itu yang agak benjol.
"Khhh...!" tapi si pria tetap berusaha bangun.
"Kono Yaroo!!" ia kembali bangun dan menyerang Hana dengan pukulan bertubi-tubi.
Hana terus berusaha menghindari pukulan demi pukulan yang di lancarkan oleh si pria. Hana terus bergerak mundur, karena si pria terus melangkah maju sambil telus melancarkan pukulan demi pukulan.
DUK
Jalan buntu Kuroto Hana. Kau terlalu banyak mundur sampai tidak menyadari tembok di belakangmu.
"HAHA!" Si pria terbahak dan melancarkan serangan terakhirnya yang dipikirnya akan menghancurkan wajah Hana.
Dalam detik-detik saat kepalan kuat tangan si pria yang hendak menggepengkan wajahnya, kepala Hana beringsut turun dan--
BRAK!
Tangan si pria menghantam dinding.
"AKH!" si pria refleks menjerit.
DRAK!
Tepat dari bawah, Hana melancarkan bogemannya ke arah dagu si pria dengan sekuat tenaga.
Si pria terbanting dengan keras. Tak sadarkan diri.
"a-ittai..." Hana meringis melihat tangannya yang baru saja ia gunakan untuk membuat pingsan pria berbobot 70kg.
"My Lady!" sebuah suara Familiar terdengar menggema memasuki ruangan Hana.
Kuroto Yoshiki, pria itu masuk dengan wajah khawatir luar biasa. Lari pria itu terhenti karena melihat orang yang dicarinya berdiri dengan senyum mengembang. Tangannya melambai seolah tak pernah terjadi apapun.
Sementara di sampingnya, terletak tubuh pingsan si penculik.
"Yo! Yoshiki-kun!" ujar Hana bersemangat.
TAP
Kaki Yoshiki kembali melangkah lebar. Di sambutnya Hana dengan pelukan erat.
"Ah? Hahaha" Hana hanya tertawa saat pria yang dicintainya memeluknya erat.
"Kau tak apa?" Onix Yoshiki langsung menelusuri setiap sudut bagian tubuh Hana.
"Ah tidak apa!"
"Tanganmu lecet!" Yoshiki memegang lembut jemari Hana di mana punggung tangannya terlihat agak terkelupas tipis.
"Hehehe. Sudah terbiasa"
Onix Yoshiki kembali menatap tubuh pingsan si penculik. Ah hampir saja ia melupakan kecoak itu.
"Hn, kenapa?" Yoshiki kembali pada nada dinginnya.
"Eh? Etto--" Hana menggaruk pipinya yang tidak gatal. "bagaimana ya menjelaskannya..."
"Hn" Yoshiki berjongkok di dekat tubuh pingsan si penculik.
Read More ->>

Jumat, 23 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 189]

Chap 189

Tomuro yang sedang membaca sebuah buku langsung melirik Yoshiki sebal.
"ada apa?"
"Ponsel Hana tidak bisa dihubungi!"
"Eh? Apa terjadi sesuatu!?"
"Ck!"
"Aku akan mencarinya di sekitar taman kota. Kau tunggu disini!" Tomuro segera melompat dan melesat mencari keberadaan Hana.

Kaki-kaki kecil Kurosu terus berusaha berlari secepat mungkin.
Akhirnya sampai juga ia di kediaman tuan rajanya. Sekarang ia harus mencari di mana keberadaan tuan rajanya itu.
Mudah saja, tinggal mengikuti aura kematian dan kau akan menemukannya.
Kurosu memasuki sebuah beranda di lantai 3. Di sana sang raja berada. Menatap khawatir pemandangan di bawahnya.
"Miauw" akhirnya Kurosu mengeong.
Yoshiki langsung menoleh ke asal suara dengan cepat.
"Orion... Futaba..." Yoshiki berujar dingin sambil menyipitkan matanya.
Kurosu langsung bergidik begitu berhadapan dengan sang raja. Seakan ia bisa melihat sekeliling remaja di depannya di kelilingi aura hitam pekat. Dan seolah ia bisa mencium bau busuk kematian dari remaja di depannya.
Sel-sel dalam tubuh kucingnya seakan gemetar ketakutan.
"Apa yang kau lakukan pada milikku?" Di tangan Yoshiki sudah terdapat api hitam siap menembak Orion.
"Ti-tidak tuan. Sa-saya hanya pesuruh. Tadi My Lady mengajak saya bermain, lalu My Lady diculik oleh 3 orang pria"
"Apa? Ceritamu konyol Orion"
"Tidak My Lord! My Lady dimasukkan ke dalam mobil sedan putih!"
"Hentikan omong kosongmu Orion!"
"Mereka menuju gedung Shiratori yang tidak di teruskan!"
"Ap--" Yoshiki tiba-tiba teringat berita penjualan organ tubuh yang tadi pagi menjadi headline di koran langgangannya. Semua terjadi di lingkup Shiratori Construction. Sudah ditemukan 6 mayat termutilasi dengan banyak organ tubuh di ambil. Motifnya adalah penjualan organ tubuh.
Dengan cepat di raihnya ponselnya dan menghubungi Tomuro.
"Halo? My Lord?"
"Hn, Shiratori Construction. Cepat"
"Yes, My Lord!"
Dan Kuroto Yoshiki bersama Arashi Tomuro melesat ke arah Shiratori construction.

"Hei... Dia perempuan atau laki-laki sih?" seorang pria paruh baya menarik dagu Hana guna melihat wajahnya.
"Mana?" pria lain menanggapi.
"Laki-laki manis mungkin"
"Dia perempuan"
"Hahh... Kenapa kita ribut? Kita tinggal menelanjanginya. Apa susahnya?"
"Ah kau benar"
Mata Hana membulat sempurna. Ia kembali menendang-nendang mencoba melepaskan diri dari pria di dekatnya.
"Wah, wah... Jangan terlalu bertingkah...!" pria di dekat Hana mulai meelpaskan jacket Hana.
DUAKH!
Sebuah suara hantaman terdengar dari arah depan. Hana dan si pria lantas mendongkak melihat keadaan.
BRAAK! BRUK! DRAK!
Suara itu semakin keras.
'Itu Yoshiki-kun!' pikir Hana senang.
Matanya menangkap ekspresi wajah pria di sampingnya yang nampak kebingungan. Ia tak bisa melewatkan kesempatan ini!
DURKH!
Hana menghamkan kakinya dengan kuat ke pusat kepala si pria. Kebetulan solnya terbuat dari benda keras.
Si pria jatuh menghantam lantai dengan keras. Hidung pria itu berdarah karena menghantam lantai beserta gigi-giginya.
"Ittai!" ringis pria itu.
Read More ->>

Kamis, 22 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 188]

Chap 188

Sudut bibir Hana tertarik ke atas hingga membentuk senyuman tipis. Tangannya bergerak menyusuri bulu-bulu halus Kurosu.
"Ne Kurosu aku bawa ini" Hana mengeluarkan benang yang digulung serupa bola kecil dari saku jacketnya.
"Huh? Bola-bola kucing ya... Huh... Saatnya memerankan peran kucing"
Kurosu langsung melompat merebut bola-bola benang dari tangan Hana hingga benda itu menggelinding di tanah.
Kucing abu-abu itu dengan semangat memainkan mainan barunya.
Hana hanya tersenyum melihat kucing manisnya dari tempatnya duduk.
"Oh!?" Bola itu karena terus dipermainkan oleh Kurosu akhirnya menggelinding memasuki semak-semak yang di belakangnya terdapat rimbunan pohon gelap.
"Ah, akan kuambilkan. Kau tetap disini saja Kurosu" Hana segera berlari memasuki pepohonan gelap itu.
Kurosu tak tinggal diam, ia mengikuti ke mana Hana pergi.
"Hmm? Di mana ya menggelindingnya?" Hana sudah mengelingi daerah semak-semak tepat kira-kira bola benang itu tersangku 3 kali. Tapi tetap tidak ketemu.
"Miyauw" Kurosu ikut mencari.
Hana berjongkok untuk memeriksa apakah ada bola benangnya di bawah ranting-ranting semak-semak.
"humm" Hana berjalan sambil berjongkok. Mengitari sesemakan yang ditemuinya.
TAP
Tiba-tiba dua pasang kaki terlihat di depan mata Hana.
"Eh?"
SRAAK
Hana langsung di bius oleh sapu tangan yang sepertinya sudah di suntikan chlorofom.
Pandangan Hana mengabur... Saphire-nya perlahan menutup...
Bayangan terakhir yang dilihatnya adalah kucing abu-abunya itu..
'Tolong... Yoshiki-kun...'

DEG
Yoshiki tertegun di tempatnya.
Ada apa ini!? Firasat aneh apa ini!?
Pria emo itu kini sedang berada di sebuah bar kecil. Tangan kanannya memegang sebuah panah hard dart.
Langsung di lemparkannya panah dart di tangannya ke arah sasaran, dan menembus titik tengah. 100 point.
Setelah tangannya kosong, diraihnya ponselnya dengan cepat.
Jarinya menari dengan cepat di atas ponsel pintarnya dan kemudian di tekannya tombol "call" hijau.
".... Tuut.... Tuut.... Maaf nomor--" KLIK
Dengan tidak sabar dimatikannya telepon itu. Lalu di cobanya lagi. Berkali-kali, namun hasilnya sepertinya nihil.
'My Lady? Ada apa denganmu? Ck!' Yoshiki segera kembali menuju manor housenya dengan cepat.

"..." Kurosu terdiam di tepatnya. Kucing itu duduk dengan mengibat-ibatkan ekornya ke kanan dan ke kiri seolah terlihat bingung.
"Bagaimana ini!? My lady diculik! Yang benar saja, penculik yang sebenarnya itu aku! Bukan mereka! Ah sial... Apa yang harus kulakukan!? Memberi tahu My Lord untuk menyelamatkan My Lady? Tidak! Itu konyol! Jika berjahuan dengan My Lady akan membuat My Lord bisa mengetahui identitasku yang sebenarnya. Lalu My Lord akan langsung memusnahkanku! Sial! Bagaimana ini!?"
wanita tomboy yang beberapa menit yang lalu menemaninya kini telah raib setelah di bawa masuk ke dalam mobil box oleh dua penculik.
Misinya kacau! Ia gagal!
"..... --Tidak ada cara lain!" Kurosu segera berlari secepat yang ia bisa menuju manor house majikannya.

"Tomuro!" Yoshiki berteriak tak sabaran.
Read More ->>

Rabu, 21 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 187]

Chap 187

"Yoshiki?"
"Hn" Yoshiki yang tengah bersantai di beranda lantai 3 menoleh ke arah asal suara. Tomuro. Pria berambut merah itu berdiri di ambang pintu.
"Dimana My Lady menemukan kucing itu? Aku merasakan--"
"--Firasat aneh!?" potong Yoshiki.
"Eh... Ya. Begitulah. Kau juga merasakannya sepertinya"
"Hn"
"Kau tak bisa 'melihat'nya?"
"..." Yoshiki terdiam beberapa saat.
"Hoi, Yoshiki!?"
"Aneh. Itu kata yang tepat untuk kucing itu"
"'Aneh'?"
"Hn. Dari luar dia terlihat seperti kucing biasa. Tapi dia memancarkan aura busuk seperti kita, namun dalam skala kecil. Itu hanya bisa dirasakan olehku dan iblis dengan kepekaan tinggi sepertimu Tomuro"
"Jadi?"
"Hn, aku sudah berkali-kali menepis perasaan ini. Aku terus mencoba meyakinkan diriku bahwa itu hanya kucing biasa. Tapi karena kau juga bisa merasakannya... Aku jadi tak bisa menganggap remeh kucing itu"
"Tapi kenapa dia bisa menyembunyikan keberadaannya?"
"Hn, dia iblis kelas rendah... Dan mungkin dari klan itu... Tapi rasanya cukup tidak mungkin..."
"Klan itu? Hoy Yoshiki! Bicara padaku tanpa memberiku kalimat menggantung! Kau membuatku penasaran! Sial!"
"Hn. Orion"
"'Orion'? Bukannya itu klan yang kau musnahkan karena mereka melanggar perintahmu?"
"Hn. Oleh sebab itu aku menganggapnya tidak mungkin..."
"Orion ya..? Mereka spesialis kelas bawah yang tak akan berguna jika tidak ada orang yang memiliki kemampuan tinggi di dekatnya"
"Hn. Kemampuan mereka mengopy kemampua orang di dekat mereka"
"Eh!? Jangan-jangan!? Dia mengopy kemampuan My Lady!?"
"Hn, hanya itu pikiranku saat ini"
"Tapi apa tujuannya? Kenapa dia sampai repot-repot bertransformasi menjadi kucing?"
"Hn. Kita harus menyelidikinya Tomuro"
"Lalu dimana My Lady dan kucing itu sekarang?"
"Hn, Mereka berjalan sore"
"Apa?! Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranmu... Sungguh..."
Yoshiki menatap ke arah lain. Wajahnya menatap datar hamparan pemandangan indah yang membentang di depan matanya.
'Hn... Untuk sekarang hanya ini yang bisa kulakukan...'

"Hatchi..." Hana bersin untuk kesekian kalinya. Diusapnya hidungnya berkali-kali.
"Hhh... Memang dingin. Tapi heran juga kenapa aku bisa sering bersin"
Itu karena suamimu membicarakan dan terus memikirkanmu Kuroto Hana.
"Myau!" Kurosu mengeong.
"Ehehe. Ayo kita berhenti di sana Kurosu" Hana menunjuk sebuah bangku kosong di dekat pohon-pohon rimbun.
Mereka baru saja mengitari taman kota. Dan mereka kini tiba di sudut taman kota. Bagian tersepi yang jarang di datangi orang lain.
Sementara Hana terus berjalan, Kurosu dengan setia mengekor di belakang Hana.
Bukannya sangat ingin mengikuti Hana, tapi walaupun ia ingin kabur toh dia sama sekali tak berkutik karena tali kekang yang mengikat lehernya. Jadi tiada pilihan lain selain patuh dan mengikuti kemanapun kemauan Hana--tuannya saat ini.
BRUUK
Hana menjatuhkan pantatnya pada bangku taman.
"hwaa!" Hana mengusap peluh yang menetes di sekitar lehernya sambil meregangkan badannya.
"Mya!" Kurosu melompat ke kursi taman dan duduk di paha Hana.
Read More ->>

Selasa, 20 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 186]

Chap 186

Rasanya, ada yang tidak beres mengenai kucing itu.

Yoshiki terdiam di meja kerjanya. Ia baru saja meregangkan tubuhnya setelah membaca data-data yang diberikan Tomuro padanya.
SRAAK
Ia bangkit dari kursinya. Berjalan meninggalkan ruang kerjanya.

"Waah... Coba ukuranmu lebih besar. Kau mungkin akan terlihat seperti anjing!" Hana menatap lucu Kurosu yang diberinya pengikat leher yang di sambung dengan tali.
"maouw" Kurosu hanya mengeong.
"Hehehe. Ayo..." Hana tersenyum riang seraya melangkahkan kakinya untuk memulai jogging sore.
"Hn" tak diduga, Kuroto Yoshiki lewat di depan Hana.
Suaminya itu masih tetap sama. Tetap memasang wajah datar dan menusuk.
"Eh loh? Yoshiki-kun?" refleks Hana berhenti.
"Hn. Mau berangkat?" tanya Yoshiki datar.
"Yap!" jawab Hana bersemangat.
"Hn. Kau akan berlari kemana saja?"
"Uhm... Taman... Lalu... Hanya sekitar komples ini saja..."
"Hn" Yoshiki hanya berguman.
Exorcist sedang gencara-gencarnya mencari Hana. Ia juga tak bisa meremehkan dunia bawah. Walau dibawah perintahnya, itu tidak menjamin. Bisa saja ada satu bedebah lolos dan mengincar istrinya itu.
"Kau bawa ponsel?" Hana yang bersiap melangkahkan kaki kembali berhenti.
"Ah... Iya bawa" Hana menunjuk kantong jaketnya yang menggelembung.
"Hn. Kembali sebelum jam 5 sore" Yoshiki melirik jam tangannya.
"Yosha!" Hana langsung berlari secepat mungkin.
"Hn" Yoshiki menatap datar kepergian Hana. Dan kucing abu-abu yang berlari di samping Hana.
"!??"
'Kenapa kucing itu? Dia... Bukan kucing biasa!'

"Jadi begitu..." Jiroubu Kusagane menopang dagunya berfikir.
Wanita blonde berjas putih di depannya hanya menunjukkan senyum menyeringai.
"anda setuju kan Jiroubu-sama?" si wanita mulai berjalan mendekat.
"Tapi kau sudah bertindak tanpa seizinku..!"
"Oh ayolah. Ini akan menjadi rencana sempurna Jiroubu-sama" si wanita menempelkan tubuhnya kepada dada bidang Jiroubu dan mengelusnya.
"Hentikan... Yoru..."
"Hm? Hentikan?" wanita yang dipanggil 'Yoru' mulai meraba-raba bagian bawah milik Jiroubu sambil tersenyum licik.
"Dasar..."

'Huh. Bahkan sampai sekarang aku masih belum ketahuan. Tapi bagaimanapun... Berada di dekat My Lord membuat bulu kudukku berdiri. Seperti itukah kehebatan sang raja iblis? Aku hanya mendengar kekuatannya dari cerita para senior dan buku. Tidak lebih. Tak kusangkah berada di dekatnya hampir membuatku ketakutan. Hufft... Untung saja aku bisa mengontrol diriku. Tapi konyol... Istri dari sang raja iblis, ratu yang memegang kehidupan sang suami ternyata sangat bodoh. Dia dengan muda kutipu. Khu khu khu. Kurasa ini akan berjalan dengan mudah.'
"Uhm? Nande Kurosu?" kenapa kau terus menatapku?"
Ia menatapku. Sial ketahuan!
"Maow!" aku mengeong lucu.
"Ahahaha. Ayo terus" ia mempercepat larinya. Aku dengan mudah mengikutinya.
'Kurosu? Huh. Nama konyol apa itu? Namaku Orion. Orion Futaba bodoh. Dengan membawamu kepada Yoru akan membantuku membangkitkan klan Futaba. Walaupun kamu golongan terendah. Aku tak akan menyerah begitu saja!'
Read More ->>

Senin, 19 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 185]

Chap 185

Ya, Yoshiki membaca pikiran pria yang tengah membuat 'video call' dengannya.
"uk--" si pria nampaknya kehabisan kata-kata.
"Tapi My Lord--"
'KLIK' Yoshiki mematikan komunikasi mereka tanpa banya kata.
"Hn..." Yoshiki menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursinya. Ia baru saja menghela nafas panjang.
Ia lelah? Mungkin saja.
"My Lady..." gumannya.

"Jadi bagaimana tuan Jiroubu?"
pria yang baru saja melihat layar di depannya menghitam karena pemutusan komunikasi tiba-tiba perlahan berbalik badan sambil menggeratkan giginya kesal.
"My Lord benar-benar keras kepala" geramnya.
"Hm... Begitu. Jadi apa tindakan anda selanjutnya?" seorang pria berjas dengan telingannya yang runcing.
"...." pria yang dipanggil 'Jiroubu' tak berkutik. Diam berfikir.
"Para Exorcist akan terus menyerang kita!"
BRAK!
Jiroubu Kasugane kepala mentri dunia bawah menggebrak meja di dekatnya dengan lumayan keras.
"Aku tahu itu!"
Si Elf penanya terdiam melihat emosi yang sedari tadi ditahan drakula di depannya.
"Kita culik.... My Lady..." ucap Jiroubu akhirnya.
"Tidak perlu khawatir akan hal itu Jiroubu-sama" suara seorang wanita tiba-tiba terdengar.
Refleks Jiroubu dan si Elf menoleh ke arah suara datang.
Seorang wanita mengenakan setelan jas laboratorium putih tengah berdiri di ambang pintu.
"Kami sudah melaksanakan rencana itu"

"Maow..." Kurosu tampak bermanja ria dengan Hana yang duduk di dalam kubah taman belakang.
Matahari sudah terbenam sejak tadi.
Mengingat besok sudah pekan remidial, Hana pasti akan sangat kebosanan.
Ya, pekan ulangan telah ia selesaikan kemarin. Dan setelah ini tidak ada satupun buku pelajaran yang akan terlihat menarik untuk dibaca.
Tangannya bergerak mengelus bulu lembut kucingnya. Bau harum khas shampoo kucing bertebaran seketika.
Jelas saja, ia baru saja memandikan kucingnya--ralat, Hana mandi bersama dengan si kucing. Dan karena itu Hana mulai terpikirkan sesuatu. Kucing benci air kan? Lalu... Kenapa sikap Kurosu yang ia mandikan tadi biasa saja?
"Ah entahlah" guman Hana.
Ia menggendong kucing abu-abu itu dan menghadapkan wajahnya dengan wajah si Kucing.
"Myaw!" Kurosu hanya mengeong.
"Hmm... Yoshiki-kun sedang apa ya sekarang?"
"Myaow!"
"Ahahaha. Untung ada kamu Kurosu. Aku jadi tidak kesepian!"
"Myaaa!!"

"Hn. Kenapa kau terus tersenyum sedari tadi?" tanya Yoshiki masih fokus dengan kemudinya. Kini keduanya dalam perjalanan pulang dari sekolah yang menyebalkan dan membosankan.
"Hm?" Hana menoleh ke arah Yoshiki. "Ah, terlihat begitu ya? Hehe"
"Hn. Ada apa?"
"Hari ini aku akan mengajak Kurosu jalan-jalan" ucap Hana ceria.
"Hn..." Yoshiki kembali fokus pada kemudinya.
Ada yang aneh. Ia merasa tidak suka tiba-tiba dengan sikap Hana yang terlalu dekat dengan kucing barunya akhir-akhir ini.
'Itu hanya kucing! Itu wajar! Apalagi Hana penyuka kucing!' ia sudah berkali-kali mengatakan hal itu kepada dirinya sendiri untuk menenangkan dirinya yang bergejolak karena rasa cemburu.
Tapi tiap kali ia berfikir soal kucing itu, rasanya ada yang aneh.
Read More ->>

Sabtu, 17 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 184]

Chap 184

"Uhm apa ya..." Hana berfikir sejenak.
"Aha! Bagaimana jika Kurosu!"
"Kurosu?" Yoshiki mengulang nama yang diberikan Hana kepada kucing barunya.
"Humm!" Hana hanya mengangguk.
"Hn. Kenapa Kurosu?" tanya Yoshiki datar.
"Entah... Nama itu lewat begitu saja di kepalaku" jawab Hana polos.
"Hn..."

Hana memasuki manor house Yoshiki masih tetap dengan menggendong kucing yang dinamainya dengan nama "Kurosu".
"Ah, Yoshiki" Tomuro yang sepertinya baru saja lewat berpapasan dengan Hana dan Yoshiki langsung menuju ke arah Yoshiki.
"Hn"
"Dunia bawah mengirimimu banyak data" ujar Tomuro.
"Hn..." Yoshiki segera berjalan meninggalkan Tomuro dan Hana yang sibuk dengan kucingnya.
Setelah menatap kepergian Yoshiki, Tomuro beralih menatap ke arah Hana.
"woaa!! Kucing!" ucap Tomuro bersemangat.
Hana yang sedang menurunkan si kucing dari gendongannya menjadi kaget karena teriakan Tomuro.
"Maoww!!" si kucing tiba-tiba menyalak Tomuro.
"Woe! Galak!" Tomuro berhenti seketika dan sweatdrop di tempat.
"eh?" tiba-tiba Tomuro merasakan sesuatu yang berbahaya dan asing dari tubuh si kucing.
"Kau dapat dari mana kucing itu Hana-chan?" tanya Tomuro sambil menunjuk kucing yang seakan terus menatapnya dengan sinis.
"Rahasia" Hana kembali menggendong kucingnya. "dan sepertinya kau sudah bosan memanggilku 'kyun'. Baguslah"
"Hee... Kau mau kupanggil 'kyun' saja?"
"Tidak terima kasih" jawab Hana ketus lalu berjalan menuju kamarnya. Untung saja Tomuro tak mengikutinya.

"Nee, Kurosu makanlah. Aku sudah meminta ini dengan susah kepada bibi koki. Kau harus menghabiskannya oke?" Hana menuangkan semangkuk 'sereal' kucing di sebuah piring yang ia sediakan khusus untuk kucingnya.
"myaww..." si Kucing hanya menatap datar tumpukan sereal di piring'nya'.
"Eh? Kenapa? Kau tidak suka?"
"miyaww"
"Ini enak loh"
"Mauw..." si kucing abu-abu malah berbalik badan dan berjalan ke arah lain. Ia melompat ke arah meja dan mulai mengendus di sana.
Hana sekarang berada di beranda lantai 3 manor house. Ia tengah bersantai bersama secangkir teh dan beberapa biskuit dan sepiring omelette.
Apa? Omelette? Seingatnya ia tak membawa omelette. Lalu omelette siapa?
Hana mengedarkan pandangannya. Tapi tak menemukan siapapun.
Kurosu terus mengendus sampai akhirnya ia berhenti mengendus saat berada di depan sepiring omelette. Langsunglah disantapnya omelette nikmat di piring itu.
"eeh! Kurosu!! Kau tak boleh makan sembarangan! Itu serealmu habiskan!" Hana kewalahan terhadap sikap Kurosu yang terus memakan omelette nikmat itu.
"...." sepasang mata Azure merah yang sedari tadi mengawasi dari balik dinding akhirnya menarik dirinya seolah sudah puas akan apa yang telah ia lihat.

"salam, My Lord" sebuah monitor transparan menampakkan wajah seorang pria paruh baya berwibara di depan Yoshiki persis.
"Hn. Apa maumu?" tanya Yoshiki dingin to the point.
"Kami--"
"Jika kau ingin membahas soal istriku lagi, aku tak akan memberimu kesempatan menghubungiku lagi" potong Yoshiki.
Read More ->>

Jumat, 16 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 183]

Chap 183

"Dia teman masa kecilku dulu. Dia yang selalu mengajariku permainan baru. Tapi dia tiba-tiba pindah ke negara asalnya, Belanda tanpa memberitahuku" jawab Hana polos.
"Aku tak menyangka dia menjadi Exorcist. Berperingkat 24 pula!" ucap Hana lagi.
Yoshiki hanya terdiam. Ia memikirkan sesuatu.
'Exorcist... Mereka semakin sering menyerang akhir-ahir ini. Tak akan kubiarkan... Tak akan kubiarkan mereka menyakitimu lagi My Lady...' geram Yoshiki, tangannya mengepal erat.

"Yoshiki-kun bisa kita mampir ke rumahku sebentar? Aku membutuhkan catatan Matematikaku kelas 1 dulu!" Hana yang tiba-tiba teringat tidak bisa menjawab latihan soal matematika. Kebetulan mereka berdua--Suami-istri Kuroto--tengah dalam perjalanan pulang dari kewajiban sekolah mereka--ah ralat, hanya kewajiban Hana mungkin.
"Hn..." Yoshiki langsung menuruti. Begitu sampai di depan rumah keluarga Rayumi, Yoshiki menghentikan mobil Mazda-nya.
Hana setelah melepas sabuk pengamannya langsung membuka pintu mobil dan berlari ke dalam rumah keluarga Rayumi yang dulu di tinggalinya.
Yoshiki menyusul dari belakang dengan santai.
"Eh? Kucing?" suara Hana yang terdengar seperti setengah berteriak membuat Yoshiki mempercepat jalannya untuk mengetahui apa yang dilihat Hana.
Ternyata seekor kucing berwarna keabuan berada di dalam sebuah kardus dan di letakkan di depan pintu rumah keluarga Rayumi persis.
"Miaw..." kucing itu sudah cukup dewasa dengan mata hijau-nya kucing itu bergelut manja di tangan Hana yang hendak menggendongnya.
"waa kawaii!!" Hana mengangkat kucing itu tinggi-tinggi.
Yoshiki merasakan firasat tidak enak terhadap kucing yang sedang menikmati gendongan Hana.
"Miaw..." lagi, kucing itu bergelayut manja.
Hana menurunkan gendongan kucing itu dan meletakannya di tanah, seketika kucing itu bergelayut manja di kaki Hana.
Yoshiki mengernyitkan alisnya melihat tingkah si kucing. Ada yang aneh... Kucing itu aneh... Seperti ada yang salah... Tapi apa? Seperti kucing itu terkena efek kekuatan Hana yang seperti dinding pelindung dari segala apa yang coba Yoshiki selidiki dan ketahui.
"howaa Kawaii!! Yoshiki-kun kita pelihara dia ya!! Ya! Ya!?" pinta Hana sambil kembali menggendong sang kucing.
Yoshiki jelas ingin mengatakan 'tidak!' dikarenakan perasangka buruk yang dirasakannya. Tapi itu hanya kucing biasa jika dilihat sekilas. Apabila ia menolak permintaan Hana, yang pasti istrinya itu tidak akan menurut dan tetap ngotot memeliharanya. Ya, Yoshiki hafal betul sifat istrinya. Percuma juga melarangnya.
"Hn... Terserah padamu" ucap Yoshiki malas.
"YEY!" Hana bersorak lucu. Lalu ia--sambil tetap menggendong si kucing--memasuki rumah lamanya untuk memenuhi keperluannya.
Sementara Yoshiki terus menatap kucing yang kini sudah ada di gendongan Hana.

"Nyaan..." kucing abu-abu itu lagi-lagi mengeong.
Sementara Hana masih sibuk bermain-main dengan kucing barunya, Yoshiki terus menyetir mobilnya ke arah Mansion.
"Oya. Kau belum ku beri nama!" seru Hana sembari menghentikan gelitikannya.
Read More ->>

Kamis, 15 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 182]

Chap 182

Senyum tipis terlukis jelas di wajah Yoshiki.
"Hn... Gomen sudah membuatmu ketakutan..."
besi penahan tangan dan kaki Hana supaya tubuhnya tetap tertahan di lantai retak dan hancur dengan sekali pandang oleh Yoshiki.
Hana langsung bangun dan bangkit memeluk suaminya.
"Gomenne... Gomenne... Hiks... Gomenne..." Hana masih menangis dengan keras. Dipeluknya erat tubuh suaminya.
TRANG... TRANG...
4 besi berat dan runcing yang tadi sempat menancap di punggung pria itu kini terjatuh satu persatu. Meninggalkan luka menganga lebar yang banjir darah.
Tangan Hana yang memeluk Yoshiki perlahan dibasahi oleh darah pria itu. Refleks Hana melepaskan pelukannya dan menatap nanar darah yang sudah mengotori tangannya hampir keseluruhan.
Ini semua salahnya... Andai dia mendengarkan ucapan Yoshiki, dia tidak akan mengalami kegilaan ini, dan Yoshiki tidak perlu sampai menahan besi-besi berat dan runcing itu!
Sakit... Ya, pasti sakit. Dan luka yang di alami Yoshiki walau hanya fisik tetaplah parah. Lihat jumlah darah yang merembes keluar!
Bola mata saphire Hana membulat lebar tak bisa membayangkan rasa sakit yang kini ditanggung suaminya.
"Hn... Ada apa?" walau begitu... Ucapan pria itu tak pernah berubah. Tetap datar. Walau ia yakin pasti luka itu menimbulkan rasa perih.
Hana langsung mendongkak, dan menarik wajah pria di depannya ke wajahnya dan dipertemukannya kedua bibir mereka.
Yoshiki agak tersentak karena perlakuan Hana. Begitu bibir mereka bertemu, sebuah kekuatan tak terdefinisikan mengalir di seluruh tubuh Yoshiki. Menyembuhkan luka dalam fisik yang diterimanya secara perlahan namun pasti.
Setelah yakin cukup, Hana melepaskan ciumannya. Sisa air mata masih menggenang di pelupuk matanya.
"Gomen..." Hana langsung menunduk. Tak berani menatap Onix suaminya.
"..." Yoshiki hanya menatap Hana datar.
"Gomen..." kali ini Hana tak bisa menahan tangisnya yang sepertinya ingin melonjak keluar. Tangannya mulai bergetar.
"Gomen... Karenaku... Yoshiki-kun jadi harus terluka seperti--"
PUK
Tangan Yoshiki berada di atas kepala Hana yang menunduk. Mengusapnya sebentar.
"Hn. Dasar bodoh" ucap Yoshiki dingin. "Aku tak peduli jika tubuhku tadi hancur. Aku tidak peduli akan sakit yang nanti ku rasakan. Yang ku takutkan hanya..." Yoshiki terdiam sejenak.
"Kehilanganmu..." Tangan Yoshiki meremat erat kemejanya di bagian dada.
Hana tercengang mendengar perkataan Yoshiki.
"Hn. Jika kau tak mendengarkan ucapanku sekali lagi akan kubunuh kau" ucap Yoshiki tiba-tiba dengan dingin.
Ucapan pria itu memang dingin dan menusuk... Tapi...
Senyum mengembang di wajah Hana.
Hana sepenuhnya tahu... Itu adalah bentuk kasih sayang dan cinta dari suaminya.
"Hum... Tapi yang bersalah di sini seharusnya Rasley-kun!" Hana tiba-tiba menggembungkan pipinya.
"Hn. Rasley?" Yoshiki mengulang nama pria yang di sebutkan Hana.
"Iya. Rasley-kun. Cowok Exorcist yang mengikatku disini tadi memakai topeng. Dan setelah topengnya dilepas ternyata itu Rasley Ratherfur-kun"
"Hn. Siapa dia?" selidik Yoshiki.
Read More ->>

Rabu, 14 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 181]

Chap 181

'Cinta? Apa itu cinta?' Yoshiki terpaku pada pikirannya sendiri.
"Kau tak bisa menjawab?" ujar si Exorcist.
"...." Yoshiki masih terpaku terhadap pikirannya.
"Sudah kuduga ini akan menjadi soal tak terpecahkan untukmu"
"... Perasaan..." Yoshiki membuka mulutnya "... Menjijikan. Di mana aku ingin selalu bersamanya, memeluknya, menjaganya, melihatnya tersenyum, membahagiakannya, memberinya kasih sayang, dan... Benci saat melihatnya bersama orang lain"
"..." pemuda berambut coklat itu hanya memperhatikan gerak bibir Yoshiki dengan datar. "Kasih sayang? Aku baru tahu jika di kamus iblis ada 'Kasih sayang'" cibirnya.
"Oleh sebab itu aku menyebutnya menjijikan" Yoshiki menggeratkan giginya saat menyebut kata 'menjijikan'.
"Kau hanya menginginkan kekuatannya saja kan?" tanya si Exorcist lagi.
"... Kau tak perlu tahu itu..." balas Yoshiki.
"Hee... Begitu..."
"Jangan katakan... Kau membawanya ke markas para Exorcist?"
"Ah tidak tidak. Dari awal aku tak berniat menyerahkan si bodoh tak bisa bermain lompat tali itu kepada Exorcist. Aku sendiri yang tidak akan tega melihatnya tersiksa" Si Exorcist mulai melepas sihir pengikatnya.
"Lakukan sesukamu tuan Iblis. Kau lulus. Anggap saja begitu. Dia ada di gudang bekas penyimpanan ikan di dekat pelabuhan sini. Sampaikan salamku padanya" dan sang Exorcist membuka pintu gerbong 4 dan memasukinya.
Yoshiki langsung melesat begitu saja. Ini sudah tinggal 1:03 detik lagi. Sial! Lain kali pasti akan dibunuhnya pemuda itu!
0:12 Yoshiki menemukan gudang yang di maksud.
0:05 Yoshiki membuka gudang yang dikunci gembok super banyak.
0:04 Hana menatap Yoshiki dengan wajah sembam dan putus asa. Yoshiki menatap Hana dengan raut terbelalak luar biasa shock. Jaraknya dan Hana yang terbaring di lantai sekitar 5 meter. Dan alat-alat berat yang siap meluncurkan besi-besi runcing terlihat siap mencincang Hana.
0:03 Yoshiki melesat ke arah Hana.
0:02 Mesin mulai berbunyi.
0:01 Yoshiki semakin dekat dengan Hana. Hana memejamkan matanya pasrah.
0:00 TIIIT Mesin berbunyi nyaring dan langsung melepaskan besi-besi runcing ke arah sasaran--tubuh Hana.
DRAK!! DRAK-DRAK! TAK!!
Tes...
Tes...
Tetes demi tetes cairan merah membasahi lantai dingin gudang
Clack... Clack...
Lagi... Tetes demi tetes cairan merah kental itu menetes
"Daijobu.. Ka... My Lady ghh..?" suara berat Yoshiki membuat Hana yang terpejam langsung membuka matanya.
Pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah tampan suaminya yang biasa ia lihat nampak dingin kini berubah menjadi wajah berekspresi campur aduk.
Tes...
Darah yang meluncur dari sudut bibir suaminya menetes tepat di pipi tan Hana.
Kuroto Yoshiki perlahan kembali menegakkan badannya walau punggungnya terasa berat, dan perih.
Ya, ia telah melindungi istrinya dari serbuan besi-besi runcing dengan punggunya.
"Yoshiki-kun... Hiks... Yoshiki-kun!!!" tangis Hana pecah walau tidak dengan suara cempreng biasanya. Mungkin suaranya telah habis karena selama kurang lebih 10 menit ia terus berteriak meminta tolong.
Read More ->>

Selasa, 13 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 180]

Chap 180

Begitu sampai di gerbong 4, Yoshiki langsung di sambut banyak gerutuan dari para penumpang.
Kepalanya ia tolehkan ke kanan dan ke kiri mencari sosok istrinya.
"My Lady!?" gumannya kebingungan. Ia berlari menuju pintu ke penghubung gerbong 5.
BRAK. Dibukanya pintu itu dengan kasar. Dan ia langsung di sambut oleh seorang siswa berumur sekitar 15 tahun dengan rambut coklatnya.
"R-vierundzwanzing!!" ujar Yoshiki geram.
"Akhirnya anda sampai disini juga" ucap pemuda itu sambil memakai bando lengannya yang bertuliskan "R-24".
"kembalikan milikku...." guman Yoshiki. Ekspresinya tak tentu saat ini. Kedua matanya sukses tertutup rambutnya karena ia menundukan kepalanya.
"Milikmu? Hanya karena kau sudah sembarangan menikahi dan menyetubuhinya kau menyebutnya "milikku""?
"..." Yoshiki terdiam di tempatnya. Ia sedikit tercekat mendengar ucapan musuhnya ini.
Bayangan wajah Hana menari di benaknya.
Benar... Dia yang telah seenaknya merenggut kehidupan normal wanitanya itu.
"lalu kenapa?" ujar Yoshiki tertahan. "lalu kenapa jika memang begitu?"
"Tak sadarkah kau? Kau sudah mengurungnya ke dalam sangkarmu yang sempit dan mengerikan itu"
"..." Yoshiki kembali terdiam untuk beberapa saat. Perlahan-lahan giginya menggerat.
TRANG
Dengan hitungan seperjuta detik, yang terlihat adalah adu dua benda logam mengkilat.
Yoshiki dengan pedang kusanagi-nya. Dan si Exorcist dengan sebuah pisau kecil.
"Heh... Kau bahkan tak bisa menahan emosimu. Ada apa denganmu tuan Iblis? Tak biasanya emosimu kacau" ejek sang Exorcist.
"Hentikan omong kosong ini dan kembalikan milikku kau Exorcist sialan!!" teriak Yoshiki.
"Tidak bisa. Aku sudah mengikatnya pada alat pencincangku" Sang Exorcist masih menahan pedang Yoshiki dengan pisau bermata kecil di tangannya. Peluh mulai membasahi tubuhnya. Harus ia akui kekuatan pria yang kali ini menjadi lawannya sangatlah luar biasa.
"APA!?" geram Yoshiki.
"Aku menyebutnya begitu sih. Dia ku taruh di tengah-tengah, dan di sekelilingnya terdapat besi-besi runcing yang sudah ku atur timer selama 10 menit--ah sekarang mungkin sudah 7 menit--untuk mencincang tubuhnya"
"!?" Yoshiki segera melepaskan panggutan pedangnya dan hendak bersiap-siap berpindah tempat dengan cepat. Namun kakinya seperti di tahan sesuatu.
"Sebelum aku mengizinkanmu pergi kau takkan bisa kabur dari sini" ucap si Exorcist.
"Aku tahu kau bisa dengan mudah melepaskan diri dari sini dengan kekuatan Iblis sejatimu. Tapi aku berharap kau mau menjawab pertanyaan mudahku. Sebuah pertanyaan yang menurutku penuh misteri yang harus kau selesaikan. Anggap saja sebagai kemenanganmu melawanku setelah kau berhasil menjawab pertanyaanku"
Yoshiki menaikkan satu alisnya.
"Bagaimana perasaanmu kepada Rayumi Hana?"
Yoshiki untuk kesekian kalinya terdiam mendengar pertanyaan lawannya.
"Aku mencintainya" tak peduli harga dirinya yang dingin hancur atau apapun itu, Yoshiki mengatakan perasaannya. Entah mengapa sepertinya perasaannya mengalahkan harga dirinya yang konyol.
"apa itu "cinta" bagimu?"
Read More ->>

Senin, 12 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 179]

Chap 179

"...." sepasang bola mata berwarna hitam kecoklatan memandang Hana yang baru saja memasuki gerbong 4 dengan sedikit tercengang.
"ah... Siapa sangka buruan yang akan mendatangi jebakan?"

Yoshiki melirik jam tangannya lagi dengan risau.
"Ini sudah 20 menit, dia lama sekali!" guman Yoshiki khawatir.
Lagi dan lagi, pria itu terus melihat jarum jam Rolex-nya berputar.
"5 menit lagi akan melewati stasiun prefektur Kanagawa. Saat itu akan ku lepas semua sihir dan hipnotisku. Tapi sepertinya banyak polisi sudah berkumpul di depan stasiun" guman Yoshiki.

Hana berhenti di bagian belakang gerbong 4. Ia berdiri tepat di depan pintu yang jika di masuki membawa ke penghubung gerbong 5.
"Tidak ada apa pun... Hhh... Tidak ada siapapun yang mirip dengan pembunuh tadi"
Hana memaksa kepalanya untuk mengingat-ingat wajah dan ekspresi pelaku penembakan yang lari menabraknya. Saat itu si pelaku mengenakan topi yang menutupi wajahnya dan sebuah kumis--ah itu pasti kumis pasangan.
Hana hendak membuka pintu gerbong 4. Ia telah sempurna melupakan ucapan suaminya.
Hana mulai menarik ke bawah gagang pintu gerbong 4 itu. Dan segera di tariknya pintu itu lalu di langkahkan kakinya menuju penghubung antara gerbong 4 dan gerbong 5.
"UMHPPP!!" Tiba-tiba seseorang mebekap Hana dengan sebuah sapu tangan yang nampaknya dibubuhi obat tidur.
Hana kaget setengah mati. Ia mencoba berontak. Tapi sayang... Pandangannya mengabur... Kabur... Dan semuanya gelap.
Tubuh Hana lunglai, dengan sigap si pembekap menahan tubuh Hana.

Mystery Express perlahan-lahan mengurangi laju kecepatannya. Lalu bersamaan dengan bunyi berdecit tinggi, Mytery Express berhenti juga.
Suara gaduh pasukan polisi memasuki gerbong sudah menggema.
Yoshiki telah melepaskan semua sihirnya. Otomatis para penghuni Mytery Express agak kebingungan mengenai apa saja yang baru saja mereka lihat dan alami.
"Disini polisi. Jangan ada yang bergerak sedikit pun!"
TKP segera di pasangi garis polisi. Dan lalu lalang polisi di gerbong VIP dan 1 menjadi tak asing lagi.
Sementara Kuroto Yoshiki terus menghentak-hentakkkan kakinya ringan. Ia sangat risau. Kemana perginya istrinya itu? Sudah hampir setengah jam ia tak terlihat.
"!!!?" Yoshiki tercekat seketika. Ia baru saja membaca pikiran dari musuhnya itu. Dan ia baru saja membaca kata "apakah barangmu ada yang hilang?"
sontak Yoshiki bangkit dari duduknya dan segera berlari menuju gerbong 4. Namun sayang ia langsung di tahan oleh inspektur polisi.
"Maaf anda tidak bisa--" "!??"
Tanpa banyak bicara, Yoshiki menyalurkan isi pikirannya, segala yang ia tahu mengenai kasus pembunuha Akira si penyanyi opera kepada si inspektur polisi.
Inspektur polisi yang agak shock karena tiba-tiba mendapat penglihatan reka adegan pembunuhan Akira si penyanyi opera melepaskan Yoshiki begitu saja. Kesempatan itu tak di sia-siakan Yoshiki. Ia langsung melesat menuju gerbong 4.
"yaa.. Mystery Express berakhir disini"
"Hhh... Kenapa kita harus turun di stasiun Kanagawa?!"
Read More ->>

Minggu, 11 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 178]

Chap 178

"Hn. Kasus yang sudah di siapkan oleh pihak penyelenggara sangatlah mudah, hanya sebuah drama pembunuhan buatan yang sangat konyol yang diperankan oleh para petugas yang menyamar sebagai penumpang. Mereka duduk di gerbong 4 sekarang" jelas Yoshiki.
"Berhenti Yoshiki-kun! Aku yang akan memecahkan misteri ini sendirian!" Hana berdiri tiba-tiba dari duduknya.
"Hn... Ada syaratnya"
"Ha? Apa? Kan aku yang memecahkan sendiri? Aku tak minta bantuanmu kan? Kenapa ada syaratnya?" Hana sweatdrop.
"Hn. Bukan. Maksudku ada syaratnya jika kau ingin memecahkan misteri ini sendiri"
"he?" Hana cengo. Tak mengerti maksud Yoshiki.
"Hn. Jangan terlalu jauh dariku. Jika kau ingin ke gerbong 4 maka kau harus kutemani"
"memang kenapa?"
"Hn. Lakukan apa perkataanku My Lady" ucap Yoshiki tegas dan serius.
"Hhh... Ha'i ha'i..." Hana menghela nafas. "Baiklah... Akan kumulai penyelidikanku!" Hana segera bergegas menuju pintu gerbong VIP dan membukanya. Mayat wanita pirang cantik tergeletak langsung menyambut kedatangan Hana.
Dijongkokkannya tubuhnya untuk memeriksa tubuh Akira. Posisi penyanyi opera itu setengah terlentang. Di kepala wanita itu terdapat sebuah lubang. Lubang berdiameter kecil, cukup untuk sebuah peluru bersarang.
Hana mengintip ke dalam lubang itu dengan satu matanya dia tutup.
"Hmm... Sudah di pastikan dia ditembak di jarak tadi mengingat pelurunya tertanam dalam di kepalanya" pikir Hana.
Ia ganti menyelidiki pistol model AK-07 di dekat mayat itu.
"Hmm... Aku tidak bisa mengidentifikasi apapun dari ini..." guman Hana.
Ia segera bangkit dan menyusuri gerbong 2.
Gerbong 2 sangat aneh... Semua penghuninya duduk dan menatap lurus ke depan. Mungkin hipnotis Yoshiki masih berpengaruh.
Hana beralih ke gerbong 3.
Gerbong 3 nampak biasa saja. Penghuninya tak meributkan apapun.
"Loh aneh? Apa Yoshiki tak menggunakan hipnotisnya disini?" pikir Hana melihat penghuni gerbong 3 yang masih beraktivitas secara normal.
"Tapi... Mereka tak meributkan soal mayat" Hana berjalan memperhatikan wajah-wajah penguni gerbong 3 satu per satu.
Tak sadar tubuh Hana telah mencapai ujung gerbong 3. Kini ia berdiri di depan pintu gerbong 3 yang menuju gerbong 4.
'Hn. Jangan terlalu jauh dariku. Jika kau ingin ke gerbong 4 maka kau harus kutemani'
Ucapan Yoshiki terngiang di kepala Hana saat ia hendak memegang gagang pintu gerbong 3.
"Apakah aku harus kembali ke gerbong VIP dan meminta Yoshiki-kun menemaniku? Aaahh... Kejahuan! Tapi... Sepertinya ada yang aneh dengan Yoshiki-kun... Kenapa dia sepertinya sangat khawatir? Atau jangan-jangan... Kunci jawaban semua misteri ada di gerbong 4? Huh, dasar. Pasti begitu! Lihat saja Yoshiki-kun! Aku pasti bisa memecahkan misteri ini sendiri!!" dengan pikiran konyolnya itu, Hana membuka pintu gerbong 3 dan melanjutkan membuka pintu gerbong 4 dengan percaya diri.
Gerbong 4 juga terlihat sama. Tidak ada yang spesial.
"Hmm? Apa pembunuhnya bersembunyi disini ya?" Hana berguman konyol.
Read More ->>

Sabtu, 10 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 177]

Chap 177

"...." dari gerbong 2 seorang pemuda berambut coklat tersenyum tipis. "Jadi... Sudah dimulai?" gumannya.

"Jangan ada yang mendekat!" teriak Hana dengan tubuhnya di rentangkan seperti menghalangi.
"Jika ada yang berani mendekat sedikit pun akan kulaporkan pada polisi nanti!" teriak Hana agak ngotot.
Kerumunan yang terlihat panik, bingung, penasaran tadi sekejap diam. Semua berhenti bergerak dan mengeluarkan suara.
Sebenarnya Hana juga tak kalah panik. Ia sendiri juga bingung akan kasus penembakan yang mayat korban penembakannya telah ia lindungi saat ini.
Bukannya ini hanya sebuah game misteri buatan? Jadi kasusnya hanya dibuat-buat kan? Tidak ada pelaku dan korban sungguhan kan? Tapi kenapa!? Kenapa Akira si penyanyi opera harus tergeletak dengan darah menggenang di belakangnya!?
"Memang kau siapa? Kau hanya anak SMA biasa kan?" tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan.
"Ah aku... Aku.." Hana tak bisa menjawab. Ia sendiri juga bukan siapa-siapa. Tapi entah mengapa ia memang harus menjaga TKP.
"Hn" bersamaan dengan gumanan dingin menusuk itu sebuah gelombang tak kasat mata terpancar.
Orang yang tadi meneriaki Hana kini diam. Dan para penonton lain mulai duduk teratur di tempat mereka masing-masing termasuk pada penghuni gerbong VIP bagai terhipnotis.
"Eh!? Yoshiki-kun!?" Hana lantas menoleh ke belakang.
"Hn, dari mana saja kau?" Yoshiki langsung menanyai Hana to the point. Walau terdengar datar, tapi dari raut wajah pria itu terlihat kalau ia sedang khawatir sekali.
"A-aku... Aku buang air kecil, lalu ada surat ini--" Hana menunjukkan kertas yang tadi ia dapat dari pintu bilik kamar mandinya "Lalu aku kemari dan..."
"Hn" Yoshiki langsung mengambil kertas yang di tunjukkan Hana, di bacanya sekilas kertas itu, dan di kembalikannya lagi kepada Hana.
"Hn, aku tahu pelakunya"
"Eh apa!?" Hana kaget.
"Hn..." Yoshiki tak memperdulikan ucapan kaget Hana yang seolah meminta penjelasan lebih. Tapi ada hal lain yang mengusik pikirannya, kemana perginya R-vierundzwanzing yang ada di gerbong 2? Exorcist itu tiba-tiba lenyap dari pengawasannya.
Yoshiki kembali berkonsentrasi mencari keberadaan musuhnya itu. Ternyata remaja putra itu tengah ada di toilet antara gerbong 2 dan 3. Apa yang di lakukannya?
Hanya mencuci sapu tangan...
"Hn.." Yoshiki berguman. Ia masih terus berusaha membaca pikiran remaja itu. Tapi tetap saja tak membuahkan hasil.
"Ada apa denganmu Yoshiki-kun?" Hana tiba-tiba melongo di depan Yoshiki.
"Hn. Tidak ayo kembali" Yoshiki langsung menarik tangan Hana memasuki gerbong VIP.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi Yoshiki-kun!?" Hana langsung menginterogasi Yoshiki begitu pantatnya terasa nyaman duduk di kursi gerbong VIP.
"Hn, pembunuhan atas rasa dendam" ujar Yoshiki datar.
"Itu tadi bukan kasus yang sebenarnya kan!?"
"Hn bukan, lihat saja tadi raut wajah para petugas yang agak kebingungan dengan penembakan yang tiba-tiba itu"
"Aku tidak melihat satu pun petugas.."
"Hn, mereka di belakang tertutup oleh para kerumunan"
"Sou ka, lalu?"
Read More ->>

Jumat, 09 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 176]

Chap 176

Ia akan memecahkan misterinya ini! Ia pasti bisa!

Sementara si pria raven masih tetap terdiam di tempat duduknya. Ia masih berusaha membaca pikiran lawannya kali ini. Menunggu si lawan lengah, dan saat itu ia akan masuk dan menyerang lalu menghancurkan segalanya. Tak sengaja bibirnya tertarik membentuk seringaian yang cukup menawan.
Dan Kuroto Yoshiki.... Sementara kau sibuk dengan pikiranmu sendiri... Istrimu sudah melangkah memasuki kandang Singa...

Hana membuka pintu gerbong 1 dengan perlahan. Kakinya melangkah perlahan sementara matanya sibuk memperhatikan sekelilingnya.
Gerbong 1 tak jauh beda dengan gerbong VIP. Hanya saja gerbong VIP lebih mewah--ya, siapapun itu tahu itu. Tapi selebihnya struktur pemetaannya tak jauh beda dengan gerbong VIP. 4 di kanan, 4 di kiri.
Tapi sejauh mata memandang, tidak ada secuil pun kasus terlihat. Tidak ada darah, tidak ada jeritan, tidak ada suara tembakan, tidak ada apapun! Hanya suasana seperti keadaan gerbong kereta pada umumnya.
Seorang anak berumur sekitar tujuh tahunan terlihat mendekat ke arah Hana.
"Nii-chan!" ucap anak itu.
Hana menundukkan wajahnya untuk melihat bocah tujuh tahun di bawahnya itu.
Hana sempat sweatdrop saat mendengar dirinya dipanggil dengan sebutan 'nii-chan' tadi.
"Uhm? Ada apa?" Hana tersenyum ramah.
"Nii-chan ayo bermain!" ucap anak itu.
"Hmm? Bermain?" Hana berjongkok untuk menyamakan tingginya dan tinggi anak itu.
DOOOR!! DOOR!!
Tiba-tiba terdengar dua bunyi tembakan dari belakang Hana.
Hana refleks terbelalak kaget dan menoleh ke belakang.
BRAK!
Tiba-tiba tubuhnya di tabrak oleh seseorang pria bertubuh besar yang baru saja melakukan penembakan barusan.
Hana terjatuh sambil memegang bahunya yang terasa agak sedikit sakit.
Saat Hana bangun, Hana langsung shock melihat genangan darah di dekat kakinya.
Di situ... Mayat seorang wanita yang sangat cantik tergeletak bersimbah darah secara tertelungkup.
Sementara pistol yang pelurunya telah menembus bagian tubuh sang wanita juga tergeletak begitu saja di dekat mayat.
Refleks Hana langsung menutupi mata bocah tujuh tahun di dekatnya.
"KYAAAAA!!" Terdengar pekikan suara khas wanita dari belakang Hana.

Yoshiki langsung bangkit dari duduknya saat mendengar suara teriakan wanita dari gerbong sebelah.
"My Lady!!" bukan, bukannya Yoshiki tak sadar itu bukan suara Hana, tapi Yoshiki sangat khawatir mengenai keadaan Hana saat ini. Wanitanya itu sudah sangat dekat dengan hal-hal berbahaya sekarang. Ya, itu sudah pasti.
Di langkhakannya kakinya menuju pintu gerbong penghubung gerbong VIP dan gerbong 1. Nampaknya seluruh penghuni gerbong VIP lainnya juga merasakan penasaran sehingga berebut menuju pintu.
Saat semua orang berebut pintu, Yoshiki menyadari seseorang penghuni gerbong VIP tidak ada.
Akira si penyanyi opera tidak ada. Dan sadarlah Yoshiki bahwa wanita cantik berambut pirang kalem itu telah tewas di depan pintu gerbong VIP.
"Ck! Sial! Di mana My Lady sekarang!?" Yoshiki berdecak.
Read More ->>

Kamis, 08 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 175]

Chap 175

"Orang?" Hana memiringkan kepala menatap Yoshiki.
"Hn. Semua orang yang ada di gerbong ini"
"He? Bagaimana caranya?"
"Hn..." Yoshiki berguman sebentar.
"Hhh... Itu memang mudah bagimu! Tapi tidak untukku!" Hana menyilangkan kedua tangannya lalu menggembungkan pipinya sambil menatap ke arah lain.
"Hn..." Yoshiki hanya berguman. Tapi sepertinya ia berusaha menahan senyumannya karena melihat wajah polos Hana.
"Huh" Hana masih merajuk.
"Hn, akan kuberi tahu"
"Nah, begitu!" Hana langsung menatap Yoshiki penuh arti.
"hhh.... Di gerbong ini seperti kau tau hanya diisi oleh kelas bangsawan"
"Hum! Hum!" Hana mengangguk.
"Akan kuurutkan dari bangku sebelah kanan dari depan. Pertama, Yuuta Kanna. Seorang broker permata untuk daerah timur. Lalu Mao Ling, seorang pedagang besar Cina. Kamijou Hagane, pemilik Hagane Corp."
"Hoo... Yang ada di televisi dalam iklan tekstil kemarin ya?" potong Hana.
"Hn. Lalu selanjutnya Akira Kujiki. Pemain opera"
"Eh!!? Dia pemain opera Akira-san!?" Hana terbelalak kaget.
"Hn. Pelankan suaramu" ujar Yoshiki datar.
"Eh maaf" Hana memelankan suaranya.
"Hn. Sekarang bangku deretan kita. Pertama yang diujung adalah Dex Uria. Wanita keturunan Yunani, istri dari Watanuki Renji. Dia menggantikan suaminya yang terbang ke Eropa hari ini. Lalu ada Taiyo Umae. Pelajar kaya raya karena dipercayai dalam pembuatan softaware. Dan dibelakang kita, Pakuri Suba, anak dari penulis novel misteri best seller."
"Heee.... Yoshiki-kun kereeeen!!"
"Hn. Mereka orang terkenal" Yoshiki hanya berguman datar.
"Lalu... Lalu... Bisahkah kau membaca pikiran mereka?"
"Hn, Uang, Game, Kekuasaan, wanita, dan hal membosankan lainnya"
"Hee... Begitu"
'Hn, ya. Andai aku juga bisa membaca pikiranmu... My Lady...' ucap Yoshiki dalam hati sambil menatap Hana datar.
"Yoshiki-kun aku permisi mau ke toilet" Hana mulai bangkit dari duduknya.
"Hn. Jangan lama-lama"

"fyuh" Hana mencuci tangannya di wastafel sesudah keluar dari kamar kecil untuk sekedar membuang urinenya.
Sambil berkaca, Hana masih mencuci tangannya.
Mata saphire Hana terbelalak mendapati sesuatu tertempel di pintu bilik toilet yang tadi digunakannya.
Dengan segera diambilnya kertas yang tertempel itu. Di sana tertulis,
"selamat, anda berperan sebagai detektif dalam drama pembunuhan kali ini. Segera menuju gerbong 1 untuk melihat TKP"
"Eh? Sudah dimulai!?" Hana langsung melirik jam tangannya.
Masih jam 1 kurang beberapa menit.
"hmm? Apa perkiraan Yoshiki-kun salah? Ah ya sudahlah" Hana terlalu girang. Ia sangat bahagia ternyata kasus di dalam kereta Misteri di mulai juga.
Dirinya kebetulan berada di toilet antara gerbong pertama dan gerbong VIP, jadi ia bisa langsung menuju gerbong 1 tanpa di ketahui Yoshiki.
Kenapa ia tak ingin Yoshiki mengetahui? Tentu saja karena nanti Yoshiki akan mengacaukan semuanya. Dengan segala kemampuan Yoshiki, suaminya itu nanti pasti akan langsung memecahkan misterinya. Tidak seru! Oleh sebab itu Hana tak ingin Yoshiki tau.
Karena perannya kali ini adalah detektif.
Read More ->>

Rabu, 07 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 174]

Chap 174

Yoshiki mengehela nafas lega. Semua prasangka buruk yang dirasanya ditepisnya jauh-jauh.
Tidak ada yang boleh menyentuh wanitanya itu, alam pun tahu akan hal itu. Ia akan melindungi miliknya itu sampai kapanpun.
"Eh Yoshiki-kun?" Hana menoleh ke arah Yoshiki.
"Hn, dari mana saja kau?" ujar Yoshiki datar.
"Uhmm... Aku bosan. Dari tadi kau melamun terus... Aku jadi tidak ada teman. Jadi... Aku jalan-jalan" jawab Hana polos.
"Hn..." Yoshiki hanya berguman.
"Saa, terima kasih atas informasinya Rakeru-chan!" Hana berojigi pada wanita yang tadi di tanyainya.
"Ya, sama-sama" jawab wanita berjas ungu itu sambil balas berojigi.
Hana segera mengikuti Yoshiki yang sudah nyelonong masuk ke gerbong VIP tadi.

Onix Yoshiki sedari tadi tak bisa tenang. Padahal pemandangan di sebelahnya sangatlah indah, lihat saja, Gunung Fuuji baru saja terlewat begitu saja.
Wajah pria itu nampak tegang, pandangannya lurus ke depan. Bukan, bukan kepada Hana yang sedang terpesona oleh pemandangan di luar cendela. Tapi pandangan pria itu kosong. Ia bahkan sempat tak berkedip.
Pikiran pria itu berkecamuk luar biasa. Ia tahu, sebentar lagi bahaya besar akan menghadangnya dari seorang siswa berumur 17 tahun yang juga seorang Exorcist berperingkat 24.
Lemah? Memang.
Reigh Wittlats. Pemuda dari negara Belanda yang hanya menguasai teknik bertarung standart--sebagaimana teknik bertarung yang biasa dimiliki Exorcist berperingkat 20-30, Yoshiki sudah tak kaget lagi masalah itu--tapi masalahnya... Pemuda itu memiliki otak cerdas yang mengerikan.
Yoshiki sudah berkali-kali membaca pikiran Reigh, namun yang ia dapatkan hanya kata "aku tahu kau membaca pikiranku".
Yoshiki tersenyum. Kali ini lawannya benar-benar cerdas. Bahkan ia tahu bahwa pikirannya sedang dalam proses penembusan, tapi ia sudah mengosongkan pikirannya dan hanya mengisinya kata "aku tau kau membaca pikiranku".
Benar... Ini akan sangat menarik, mengingat Yoshiki selalu mencari lawan bertarung fisik yang tak terkalahkan. Kali ini ia mendapatkan... Lawan yang sangat kuat dalam bidang yang menggunakan otak masing-masing.
"Hum? Kau kenapa Yoshiki-kun?" tiba-tiba saat Yoshiki berkedip untuk membangungkan dirinya dari pikirannya sendiri, dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah konyol Hana berserta sepasang mata Saphire favoritnya.
"Hn?" Yoshiki menaikkan satu alisnya merespon pertanyaan Hana.
"Hahh... Aku bosan!! Kapan permainannya dimulai sih!!" gerutu Hana.
Yoshiki melirik jam tangan Rolex di tangannya sekilas.
"Hn, sekitar jam 01.10 p.m" jawab Yoshiki.
"Eh hontouuu!!?" Hana menatap Yoshiki bersemangat. Bahkan ia lupa kenapa ia malah bertanya hal konyol seperti itu kepada suaminya yang notabene raja iblis.
Yoshiki selalu tahu apa yang akan terjadi setelahnya... Itu salah satu kekuatan praktisnya sebagai raja Iblis.
"Uuuh!! Kurang setengah jam lagi dong" gerutu Hana setelah melihat ponselnya.
"aku bosaaaan" lagi, Hana menguap dengan lebar.
"Hn, kalau begitu gunakan waktu setengah jam untuk menganalisis semua orang"
Read More ->>

Selasa, 06 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 173]

Chap 173

"Hn, Kuroto Yoshiki" ucap Yoshiki menunjukan tiket miliknya kepada penjaga.
"woaaa?!! VIP class?" guman si penjaga pintu kaget.
Hana ikut memberikan tiketnya. "Kuroto Hana" ucap Hana bersemangat.
"Anda berdua... Adik-kakak?" ucap salah satu pria yang gendut berkacamata.
Seketika Yoshiki menatap si ptugas dengan dingin.
"Eh-eh" untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan Hana segera melerai keduanya. "Tak apa Yoshiki-kun... Sudahlah jangan dipikirkan...." Hana segera menarik tangan Yoshiki menaiki kereta.
"Hn..." Yoshiki hanya berguman.
Andai saja Hana tak bertindak cepat tadi, mungkin petugas gemuk berkacamata itu sudah menjadi babi panggang sekarang. Tapi mau bagaimana pun tidak ada yang menyalahkan ucapan petugas yang baru melihat sekilas Hana dan Yoshiki. Lihat saja penampilan Hana sekarang, ia mengenakan kaos hitam yang ditutupi oleh kemeja putih berlengan panjang bersama celana jeans hitamnya. Ditambah rambut ekstra pendeknya, sungguh Hana terlihat sangat seperti pria. Apalagi lihat rambut Hana yang sangat hitam dan hampir sewarna dengan rambut raven Yoshiki. Hanya iris mereka sajalah yang berbeda.
Tapi ada satu hal yang Hana syukuri dari tadi. Untung saja petugas tadi hanya berujar demikian, bagaimana jika ia malah berujar, "kalian... Yaoi?" ah mungkin Hana yang akan menghantam pria gendut itu sampai hidungnya patah jika memang ia berujar begitu tadi.
"Ini tempat duduk anda. Silahkan" petugas satunya yang dari tadi mengikuti Hana dan Yoshiki sambil membawakan tas kecil Hana menunjuk dan mempersilahkan keduanya pada sebuah bangku khas kereta uap yang sudah dimodifikasi.
Yoshiki langsung duduk di ujung bangku hingga membuat dirinya menempel pada cendela kereta uap itu. Hana segera menyusul duduk di depan hadapan Yoshiki.
"...." Yoshiki terdiam seketika setelah sempat mengawasi sekitar.
"Woaaa!! Ruangannya kereeeen!!" Hana bersorak lucu sambil tangannya ia gerak-gerakkan menggambarkan kebahagiaannya. Memang gerbong VIP ini di desain khusus bagi para bangsawan yang biasanya mendapat undangan khusus.
"Nee... Terima kasih Yoshiki-kun! Terima kasih!!" Hana berjingkrak di depan Yoshiki.
"Hn," Yoshiki hanya berguman. Andai Hana tahu siapa yang mengrimkan dua tiket kereta misteri itu...
'Dia disini... R-vierundzwanzing....' pikir Yoshiki.

Dari salah satu gerbong kereta, di salah satu bangku penumpang, seorang pria berambut coklat berkacamata menyandarkan kepalanya pada tangannya yang ia sandarkan pada cendela tengan tersenyum. "Game... Start... My Lord" gumannya.

"!?" Yoshiki tiba-tiba membuka matanya yang tadi ia pejamkan.
"My Lady!?" Yoshiki langsung bangun dari tempat duduknya. Dilihatnya bangku di depannya sudah kosong. Wanitanya itu sudah raib dari pandangannya.
Segeralah Yoshiki berlari menuju pintu menuju keluar gerbong untuk menemukan wanitanya itu.
SRAK
Dibukanya pintu gerbong VIP dengan kasar.
"Jam 1 siang ya?" terlihat Hana sedang bertanya kepada seorang wanita berambut ikal.
"Ya, jam 1. Wah kau baru ya?" ujar wanita itu.
Read More ->>

Senin, 05 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 172]

Chap 172

Diam-diam Hana terkekeh pelan. Ia senang. Sangat senang. Ponsel suaminya sangat bersih dari tuduhan "selingkuh tak beralasannya". Bahkan tidak ada satu pun email dari seorang perempuan yang dibalas Yoshiki. Email Hazel pun sepertinya hanya dibalas seperlunya saja.
Hanya ada satu nama yang berada paling atas dan berisi percakapan yang aktif. Sebuah percakapan email bertuliskan "Mine" yang berisi chatnya dengan Yoshiki.
"Hn? Kenapa tau tersenyum sendiri?" pertanyaan Yoshiki yang terdengar tiba-tiba itu membuat Hana segera memalingkan wajahnya ke arah Yoshiki.
"Hehehe tidak" Hana nyengir.

"Hn" Yoshiki menatap datar 2 tiket berwarna hijau kecoklatan di meja kerjanya. Tiket itu berlogo kereta uap di bawahnya.
Di atas logo kereta uap itu bertulsikan "Mystery Express"
Ia baru saja menerima dua buah tiket itu tadi pagi. Saat ia beristrirahat di bangku tamannya, tiba-tiba sebuah amplop putih terbang ke arahnya. Yoshiki tentu saja menangkap amplop itu dan melihat isinya yang berupa 2 tiket yang kini ada di depannya, dan sebuah pesan kecil ditangannya yang bertuliskan,
"Konnichiwa My Lord.
Besok malam pada pukul 8 tepat, Mystery Express yang merupakan event kereta misteri tahunan yang diadakan oleh pihak swasta akan dimulai dan berangkat. Diharapkan anda bisa mengikuti acara ini dan memecahkan misteri yang ada. Haha, tapi bukannya bagi anda tidak ada satu pun misteri di dunia ini selain My Lady?"
Kertas di tangannya yang semula hanya memiliki 4 bekas lipatan itu kini sudah berbentuk tak karuan karena telah diremat-rematnnya berkali-kali.
"Ck, berani-beraninnya kau mengirimkan surat konyol ini, R-vierunzwanzing"
"Yoshiki-kuun!" tiba-tiba pintu besar ruang kerjanya terbuka. Menampilkan sosok hyperactive yang berajah ceria.
"Hn" respon Yoshiki.
"Kau tahu Mystery Express!?" Hana segera berjalan ke arah meja Yoshiki dengan wajah berbinar.
"Hn" Yoshiki hanya berguman. Tapi ia sangat kaget, apa maksudnya pertanyaan istrinya itu!?
"Ticket Mystery Express!!?" Hana berteriak kaget saat melihat 2 tiket super-duper apa yang diinginkannya tergeletak di atas meja Yoshiki.
"Hn. Dari mana kau tahu?"
"Sherlockian harus tahu apa saja hal-hal di dekatnya!" Hana mengangkat kerah bajunya bersifat sombong.
"Hn, kau mau ikut?"
"Mau... Tapi tiketnya sudah habis terjual" Guman Hana sambil menatap sendu dua tiket berlogo kereta uap di tangannya.
"Hn. Itu tiket kita berdua"
ucapan Yoshiki yang serba singkat dan tidak mengandung kejelasan itu membuat Hana menatap berbinar kepada Hana.
"Eh!? Sungguuuh!?"

sebuah kereta berwarna kehijauan dan agak kehitaman itu berhenti pada jalur 6 stasiun Tokyo. Tau lah Yoshiki bahwa kereta uap ini lah yang dimaksud. Tentu saja Yoshiki mudah menemukan kereta itu, ingat, kereta yang akan mereka tumpangi berbahan dasar uap.
Setelah akhirnya kereta itu berhenti sambil sang kondektur meniup sebuah peluit menandakan kereta akan berhenti lama.
Dua orang petugas berseragam merah nampak berjaga di penjuru pintu kereta.
Read More ->>

Sabtu, 03 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 171]

Chap 171

Ia tersenyum. Gadis gipsi gelap itu tersenyum.
"Apa menurutmu aku berhasil melawanmu?"
Yoshiki menatap datar Saan.
Ia tahu, karena ia bisa membaca pikiran perempuan sekarat di bawahnya.
Saan Liam, sebenarnya mengalami cekcok dengan Exorcist lainnya. Untuk membuat argumennya terbukti juga sekalian membuktikan dirinya lebih baik, ia memilih untuk menyerang sang raja iblis sendirian.
"Hn. Manusia konyol" guman Yoshiki. Ia mengangkat kakinya, berniat menendang atau menginjak tubuh di dekat kakinya itu.
Hana yang melihat itu dari kejahuan langsung berteriak, "Yamete Yoshiki-kun!"
"Hn?" refleks Yoshiki membalikkan tubuhnya.
Hana berlari ke arah Yoshiki. "Sudah cukup.... Sudah cukup Yoshiki-kun" ujar Hana.
"Aku memang membencinya karena dia telah seenaknya mendekatimu. Tapi... Sudah cukup, dia sepertinya sangat menderita" Hana langsung berjongkok di dekat Saan Liam.
"Hn. Jadi memang benar ini salah paham?"
Hana mengangguk.
"Hh.. Dasar perempuan" Yoshiki menghela nafas berat.
"Sekarang menjauhlah. Akan kusegel saja dia, tanpa kubunuh. Aku tak mau melawan dia lagi kedepannya"
Hana bangkit lalu berjalan mundur menjahui tubuh Saan Liam yang sudah semakin lemas dan pucat karena kehabisan darah.
Yoshiki merapalkan sebuah mantara. Lalu disentuhnya dahi Saan Liam yang sudah tak bisa melakukan apapun itu. Cahaya tipis keunguan sedikit terpancar pada telapak tangan Yoshiki.
Bersamaan dengan sebuah suara melengking tipis, sebuah lubang terbuka di dekat tubuh Saan Liam. Lubang itu nampak kelam dan sangat luas. Tubuh Saan Liam tertaik ke 'dimensi' tersebut sampai lubang itu tertutup kembali.
"Hn" Yoshiki menatap datar lubang yang dibuatnya telah tertutup.
"Yoshiki-kun..." akhirnya Hana angkat bicara.
"Hn?"
"Boleh kupinjam ponselmu?"
Yoshiki segera mengambil benda hitam kecil dari saku celanannya.
"Hn" Yoshiki menyodorkan ponsel canggihnya.
"Eh!!?!" Hana terkaget melihat Yoshiki yang menyodorkan ponselnya. Hancur sudah hayalannya yang mengatak Yoshiki akan berkata, "Hn. Untuk apa?" ternyata tidak! Hana senang karena dengan begitu ia bisa memata-matai ponsel Yoshiki kapan pun.

"Hee.. Kau banyak menerima email dari para siswi" guman Hana sambil sedikit sweatdrop menatap layar ponsel suaminya itu yang kini telah menampilakan list email masuk.
"Hn" Yoshiki mulai fokus pada kemudinya.
"Waa! Ada Kurama Wataru si Bendahara OSIS! Kau... Benar-benar tenar Yoshiki. Bahkan ketua OSIS si ice-princess kebalikan darimu sampai mengrimi pesan pendek bertuliskan "Ohayoo" saja. Tapi.. Kenapa kau tak membalasnya!?"
"Hn. Tidak penting. Aku akan ganti alamat email"
"Eh? Bagaimana denganku? Apakah aku akan juga tidak punya alamat emailmu?"
"Hn, untukmu--spesial--kuberikan hanya untukmu. Atau jika tidak aku yang paling awal memberitahumu"
"Yatta!" Hana bersorak aneh.
"Hn.. Tentu saja karena aku kekasihmu" gumannya datar.
"Yoshiki-kun? Kenapa kau tak meng-acc semua kontak yang ingin berhubungan denganmu?"
"Hn, karena aku tidak peduli"
Hana sweatdrop mendengar ucapan Yoshiki.
Read More ->>

Jumat, 02 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 170]

Chap 170 Gadis berambut coklat yang mengenakan bando tangan bertuliskan "S-11" itu terus melesat. Berusaha meraih tubuh Yoshiki dengan cakar-cakar tajamnya yang pada bagian pegangannya memiliki sebuah logo cross. Yoshiki dengan mudah menghindari serangan-serangan yang dilancarkan oleh Saan Liam. Ia menatap datar setiap serangan Saan. Ia bosan. Tapi tak apalah, ia sudah hampir mati kebosanan karena selalu melawan lawan yang berperingkat lemah. Awalnya ia nampak tertarik dengan peringkat "11" musuhnya kali ini. Tapi rasanya tetap biasa-biasa saja. "Hn, hanya begitu?" Akhirnya Yoshiki memutuskan berhentik. Kedua tangannya masih tertanam di dalam saku celanannya. Wajahnya mengekspresikan suatu kebosanan. "Masih belum, itu tadi hanya pemanasan. Lagi pula kau belum membalas seranganku lho Ki-kun. Apa kau takut terbawa rangsangan tubuhku lalu tiba-tiba memperkosaku di depan istrimu?" wanita Gipsi itu menatap Yoshiki dengan wajahnya yang terlihat seperti mengejek. "Hn, kau membosankan" ucapan dingin Yoshiki refleks membuat perempat siku di dahi Saan. "APA KAU BILANG!?" Saan Liam terbawa emosi dengan konyolnya. "SIAL!" Saan Liam mulai menyerang dengan membabi buta. Yoshiki semakin mudah menghindari serangan konyol Saan. Namun kali ini serangan Saan Liam agak bervariasi. Cakaran-cakaran yang ditimbulkannya sedikit-demi sedikit membuat Yoshiki merasakan kembali nikmatnya pertarungan. "Hn" Yoshiki berhenti sebentar lalu mengeluarkan pedang Kusanagi miliknya. Lalu ia melesat ke arah Saan Liam yang langsung menyambutnya dengan tahanan pedangnya dengan menggunakan cakar-cakar di tangan Saan. "...." sementara Hana hanya terdiam menatap pertarungan yang diluar akal yang sedang dilihatnya. Bagaimana Yoshiki melesat dan menyerang Saan. Bagaimana Saan Liam berusaha merobek walau sejengkal tubuh Yoshiki. "Hn, nikmati kematianmu" guman Yoshiki. Lalu dihunuskannya pedangnya bertepatan saat Saan Liam tak melindungi bagian vitalnya--yaitu perut. Sehingga pedang itu tertancap masuk kedalam perutnya, merobek dan menembus segala organ Saan yang dilalui oleh pedang bermata tajam itu. "ugh.." Saan membeku di tempatnya. Mulutnya memuntahkan darah segar. Dirinya tak menyangka bisa seceroboh ini. "Hn" Yoshiki hanya menatap datar seongok tubuh sekarat di depannya. Tangannya terus menekan pedang kebanggaannya itu hingga membuat bunyi 'CRAT' tipis menandakan pedangnya telah berhasil menusuk tubuh Saan Liam dari depan ke belakang. Sebuah bekas menghitam tercetak di bawah mata Saan. Bibirnya memucat. Darah segar tak henti-hentinya keluar baik dari depan maupun dari belakang di bagian luka yang dibuat Yoshiki. 'CRAT' Dicabutnya pedang Kusanagi miliknya dengan kasar. Tubuh gadis Gipsi itu langsung limbung dan rebahlah tubuhnya di tanah dengan kasar. Darah masih saja merembes keluar. "saa.. Aku kalah ya" gumannya sambil menatap permukaan tanah yang kini menjadi ranjangnya. "Hn" Yoshiki menatap datar lagi tubuh sekarat di bawahnya dengan angkuh. Saan berusaha mendongkak menatap Yoshiki.
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.