Chap 183
"Dia teman masa kecilku dulu. Dia yang selalu mengajariku permainan baru. Tapi dia tiba-tiba pindah ke negara asalnya, Belanda tanpa memberitahuku" jawab Hana polos.
"Aku tak menyangka dia menjadi Exorcist. Berperingkat 24 pula!" ucap Hana lagi.
Yoshiki hanya terdiam. Ia memikirkan sesuatu.
'Exorcist... Mereka semakin sering menyerang akhir-ahir ini. Tak akan kubiarkan... Tak akan kubiarkan mereka menyakitimu lagi My Lady...' geram Yoshiki, tangannya mengepal erat.
"Yoshiki-kun bisa kita mampir ke rumahku sebentar? Aku membutuhkan catatan Matematikaku kelas 1 dulu!" Hana yang tiba-tiba teringat tidak bisa menjawab latihan soal matematika. Kebetulan mereka berdua--Suami-istri Kuroto--tengah dalam perjalanan pulang dari kewajiban sekolah mereka--ah ralat, hanya kewajiban Hana mungkin.
"Hn..." Yoshiki langsung menuruti. Begitu sampai di depan rumah keluarga Rayumi, Yoshiki menghentikan mobil Mazda-nya.
Hana setelah melepas sabuk pengamannya langsung membuka pintu mobil dan berlari ke dalam rumah keluarga Rayumi yang dulu di tinggalinya.
Yoshiki menyusul dari belakang dengan santai.
"Eh? Kucing?" suara Hana yang terdengar seperti setengah berteriak membuat Yoshiki mempercepat jalannya untuk mengetahui apa yang dilihat Hana.
Ternyata seekor kucing berwarna keabuan berada di dalam sebuah kardus dan di letakkan di depan pintu rumah keluarga Rayumi persis.
"Miaw..." kucing itu sudah cukup dewasa dengan mata hijau-nya kucing itu bergelut manja di tangan Hana yang hendak menggendongnya.
"waa kawaii!!" Hana mengangkat kucing itu tinggi-tinggi.
Yoshiki merasakan firasat tidak enak terhadap kucing yang sedang menikmati gendongan Hana.
"Miaw..." lagi, kucing itu bergelayut manja.
Hana menurunkan gendongan kucing itu dan meletakannya di tanah, seketika kucing itu bergelayut manja di kaki Hana.
Yoshiki mengernyitkan alisnya melihat tingkah si kucing. Ada yang aneh... Kucing itu aneh... Seperti ada yang salah... Tapi apa? Seperti kucing itu terkena efek kekuatan Hana yang seperti dinding pelindung dari segala apa yang coba Yoshiki selidiki dan ketahui.
"howaa Kawaii!! Yoshiki-kun kita pelihara dia ya!! Ya! Ya!?" pinta Hana sambil kembali menggendong sang kucing.
Yoshiki jelas ingin mengatakan 'tidak!' dikarenakan perasangka buruk yang dirasakannya. Tapi itu hanya kucing biasa jika dilihat sekilas. Apabila ia menolak permintaan Hana, yang pasti istrinya itu tidak akan menurut dan tetap ngotot memeliharanya. Ya, Yoshiki hafal betul sifat istrinya. Percuma juga melarangnya.
"Hn... Terserah padamu" ucap Yoshiki malas.
"YEY!" Hana bersorak lucu. Lalu ia--sambil tetap menggendong si kucing--memasuki rumah lamanya untuk memenuhi keperluannya.
Sementara Yoshiki terus menatap kucing yang kini sudah ada di gendongan Hana.
"Nyaan..." kucing abu-abu itu lagi-lagi mengeong.
Sementara Hana masih sibuk bermain-main dengan kucing barunya, Yoshiki terus menyetir mobilnya ke arah Mansion.
"Oya. Kau belum ku beri nama!" seru Hana sembari menghentikan gelitikannya.
Jumat, 16 Januari 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar