Rabu, 21 Januari 2015

Yami no Ai [Chapter 187]

Chap 187

"Yoshiki?"
"Hn" Yoshiki yang tengah bersantai di beranda lantai 3 menoleh ke arah asal suara. Tomuro. Pria berambut merah itu berdiri di ambang pintu.
"Dimana My Lady menemukan kucing itu? Aku merasakan--"
"--Firasat aneh!?" potong Yoshiki.
"Eh... Ya. Begitulah. Kau juga merasakannya sepertinya"
"Hn"
"Kau tak bisa 'melihat'nya?"
"..." Yoshiki terdiam beberapa saat.
"Hoi, Yoshiki!?"
"Aneh. Itu kata yang tepat untuk kucing itu"
"'Aneh'?"
"Hn. Dari luar dia terlihat seperti kucing biasa. Tapi dia memancarkan aura busuk seperti kita, namun dalam skala kecil. Itu hanya bisa dirasakan olehku dan iblis dengan kepekaan tinggi sepertimu Tomuro"
"Jadi?"
"Hn, aku sudah berkali-kali menepis perasaan ini. Aku terus mencoba meyakinkan diriku bahwa itu hanya kucing biasa. Tapi karena kau juga bisa merasakannya... Aku jadi tak bisa menganggap remeh kucing itu"
"Tapi kenapa dia bisa menyembunyikan keberadaannya?"
"Hn, dia iblis kelas rendah... Dan mungkin dari klan itu... Tapi rasanya cukup tidak mungkin..."
"Klan itu? Hoy Yoshiki! Bicara padaku tanpa memberiku kalimat menggantung! Kau membuatku penasaran! Sial!"
"Hn. Orion"
"'Orion'? Bukannya itu klan yang kau musnahkan karena mereka melanggar perintahmu?"
"Hn. Oleh sebab itu aku menganggapnya tidak mungkin..."
"Orion ya..? Mereka spesialis kelas bawah yang tak akan berguna jika tidak ada orang yang memiliki kemampuan tinggi di dekatnya"
"Hn. Kemampuan mereka mengopy kemampua orang di dekat mereka"
"Eh!? Jangan-jangan!? Dia mengopy kemampuan My Lady!?"
"Hn, hanya itu pikiranku saat ini"
"Tapi apa tujuannya? Kenapa dia sampai repot-repot bertransformasi menjadi kucing?"
"Hn. Kita harus menyelidikinya Tomuro"
"Lalu dimana My Lady dan kucing itu sekarang?"
"Hn, Mereka berjalan sore"
"Apa?! Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranmu... Sungguh..."
Yoshiki menatap ke arah lain. Wajahnya menatap datar hamparan pemandangan indah yang membentang di depan matanya.
'Hn... Untuk sekarang hanya ini yang bisa kulakukan...'

"Hatchi..." Hana bersin untuk kesekian kalinya. Diusapnya hidungnya berkali-kali.
"Hhh... Memang dingin. Tapi heran juga kenapa aku bisa sering bersin"
Itu karena suamimu membicarakan dan terus memikirkanmu Kuroto Hana.
"Myau!" Kurosu mengeong.
"Ehehe. Ayo kita berhenti di sana Kurosu" Hana menunjuk sebuah bangku kosong di dekat pohon-pohon rimbun.
Mereka baru saja mengitari taman kota. Dan mereka kini tiba di sudut taman kota. Bagian tersepi yang jarang di datangi orang lain.
Sementara Hana terus berjalan, Kurosu dengan setia mengekor di belakang Hana.
Bukannya sangat ingin mengikuti Hana, tapi walaupun ia ingin kabur toh dia sama sekali tak berkutik karena tali kekang yang mengikat lehernya. Jadi tiada pilihan lain selain patuh dan mengikuti kemanapun kemauan Hana--tuannya saat ini.
BRUUK
Hana menjatuhkan pantatnya pada bangku taman.
"hwaa!" Hana mengusap peluh yang menetes di sekitar lehernya sambil meregangkan badannya.
"Mya!" Kurosu melompat ke kursi taman dan duduk di paha Hana.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.