Jumat, 31 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 102]

Chap 102

"Eh?" Hana segera mencari asal suara.
ZRUSSS...
Tiba-tiba sebuah batu terbakar yg hampir mirip meteor melayang dan sepertinya menyerang Hana sebagai obyek sasaran.
DRUAK TRANG
Tiba-tiba sebuah kelebatan seseorang datang menghadang batu terbakar tadi dengan pedang di tangannya.
"Eh?" Hana semakin bingung dengan keadaannya sekarang.
"Yo-yo-shi-ki-kun?" ucap Hana terbata setelah melihat sosok yg baru saja menyelamatkannya ternyata Yoshiki.
"Wah wah, tidak kusangka My Lord akan turun tangan" sebuah suara meremehkan terdengar. Dan muncullah sesosok manusia dengan rambut panjang berwarna hijau muda. Anehnya, telingannya runcing ke atas.
"Elf" guman Yoshiki.
"Elf?" tanya Hana.
"Maaf My Lord, jika anda bersikeras tidak segera melakukan 'perjanjian darah' maka dunia bawah akan kerepotan"
Sosok itu kembali menyerang dengan batu terbakar ke arah Yoshiki.
GROOOW
Pedang berkilau yg dipegang Yoshiki bagai menyerap api beserta bara dari batu yg terlempar.
"di-diserap?" sosok itu nampak gugup. Ia mundur kebelakang.
"Kau mendatangi kematianmu sendiri" Yoshiki mengambil kuda-kuda.
ZRASSHH
Pedang Kusanagi milik Yoshiki menebas sosok Elf berambut biru tadi sampai 4 bagian termutilasi.
Bagian-bagian yg terpotong dari tubuh Elf tadi perlahan menjadi batu lalu rapuh menjadi debu dan terbawa angin.
Hana masih terdiam di tempatnya. Kepalanya masih memproses penglihatannya. Susah sekali menyangkal bahwa yg ia lihat barusan adalah kenyataan. Bukan film fiksi.
Yoshiki kembali menyarungkan pedangnya.
"Tak kusangka mereka akan menyerangmu juga" ucap Tomuro terkekeh. "bodoh sekali"
"Hn."
Yoshiki menatap Hana yg masih kebingungan.
"Hn, apa yg kau lakukan disini? Bukanya Tomuro sudah menyuruhmu tetap di rumah?" tanya Yoshiki.
"A-a-ah a-k--"
"Dia merindukanmu" belum sempat Hana menamatkan ucapannya, Tomuro sudah langsung menyela ucapan Hana. Walau ada benarnya.
Wajah Hana kontan memerah seperti tomat.
Walaupun dasar tindakannya yg bersepeda menuju manor pria di depannya adalah khawatir, tapi ia juga tak bisa menyangkal bahwa ia sangat merindukan pria itu.
"Hn. Benarkah?"
Wajah Hana semakin memerah.
"uh!" geram Hana. Diinjaknya kaki Yoshiki lalu berjalan pergi.
"Ukh!" ganti Yoshiki yg menggeram karena kakinya diinjak begitu saja.
"dasar tsundere" cibir Tomuro.
"siapa yg Tsundere Hah!?" Hana menunjuk wajah Tomuro tidak terima.
"Kau" jawab Tomuro.
"Uk-uhh!" Hana menggembungkan pipinya dan berbalik arah untuk mengambil sepedanya.
"Hn. Mau kemana?"
"Pulang! Sudah tidak ada gunanya disini" Hana segera menaiki sepedanya.
"Ku antar. Biar sepedamu dibawa Tomuro"
"Hah? Kenapa?"
"Hn. Tomuro" Yoshiki menatap Tomuro.
Awalnya Tomuro menatap Yoshiki malas, "duuh, iya iya" Tomuro segera menuju sepeda yg dinaiki Hana.
"Permisi nona tsundere, biar nii-chan bawakan sepeda nona ke rumah"
"nii-chan?" Hana menatap Tomuro jijik dan segera turun dari sepedanya.
"Kubawa ke tempat penjualan barang bekas saja sepeda ini" Tomuro segera menayuh pedal sepeda Hana.
Read More ->>

Kamis, 30 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 101]

Chap 101

Pria bermata setajam elang itu tahu betul jalan pikiran pria tua sialan yg seperti menginterogasinya.
"Walaupun kau ketua kementrian aku tidak akan segan membunuhmu jika kau berani menyentuh milikku" ujar Yoshiki serius.
"'Milikku?' anda bahkan belum melakukan perjanjian darah" pria tua itu sedikit terkekeh.
Yoshiki kembali terdiam.
"Dia hanyalah manusia My Lord. Kita tidak perlu memperdebatkan seorang manusia yg telah berani mengkhianati suaminya," si pria tua nampak sedang me-'replay' sebuah rekaman kamera cctv jalanan yg sepertinya menangkap bayangan Hana dan Kisaragi tengah berboncengan--dengan tangan Hana berpegang pada jacket Kisaragi.
Tanpa diduga ada suatu perasaan yg seperti mencubit Hatinya. Yoshiki merasakan itu.
Jelas sekali, ia tidak suka melihat Hana--yg ia claim sebagai miliknya--berdekatan dengan pria lain. Apalagi dengan posisi Hana yg seperti itu.
Tapi ini demi keselamatan Hana, ia harus menahan egoisnya untuk kali ini. Ya hanya kali ini.
Yoshiki hanya menatap datar rekaman cctv yg sedari tadi di re-play berkali-kali oleh si tua.
"Jadi kau memanggilku kesini hanya untuk memperlihatkan rekaman ini?" tanya Yoshiki bosan.
"Hm? Tidak, kami berharap anda berniat melepaskan dia jika anda tidak segera melakukan 'perjanjian darah' dengannya. Sebelum pasukan 'Tentara-Kristus' menyadari"
"..." Yoshiki tak menjawab, ia segera berjalan meninggalkan si pria tua.

Bunyi decitan rem motor ber-rpm milik Kisaragi memecah keheningan malam. Setelah mematikan mesin kendaraan itu, Hana segera turun dan mengembalikan helm yg tadi dipakainya.
"Arigatou ne Kisaragi-kun" Hana tersenyum menatap adik kelasnya.
"Tidak masalah. Kalau begitu aku permisi, senpai" Kisaragi balas tersenyum. Dinyalakannya kembali mesin motornya dan ia segera melaju pergi.
Setelah yakin sosok Kisaragi telah hilang ditelan kegelapan malam--ini sudah pukul 7 malam--Hana segera melangkahkan kakinya menuju rumahnya.

Keesokan paginya lagi-lagi Hana mendapati bangku pria yg selalu pikirkan bahkan sebelum tidur itu kosong.
Diambilnya ponselnya lalu diteleponnya orang yg bersangkutan.
"Halo?" terdengar sahutan suara Tomuro.
"Tomuro-kun? Kemana Yoshiki-kun?" tanya Hana kesal, kenapa lagi-lagi Tomuro yg mengangkat?
"Eh, dia sibuk!"
"Sibuk?"
"Iya. Sudah ya. Jaa" dan telepon di tutup.
Aneh. Ini aneh.
Ia harus mencari tahu sendiri. Langkah pertama, ia hanya perlu memastikan keberadaan dan keadaan Yoshiki. Nanti setelah sepulang sekolah, ia harus segera menuju manor Yoshiki.

Dengan berbekal sepeda yg tadi digunakannya untuk berangkat sekolah, Hana mengayuh sepedanya itu menuju manor Yoshiki. Walau senja sudah terlihat, tetapi semangat keingin tahuan Hana tetap tidak surut.
Sesampainya di depan manor Yoshiki, Hana segera memarkirkan sepedanya begitu saja.
Aneh, ada yg aneh. Kemana para penjaga gerbang? Kenapa... Manor ini nampak sepi?
Saphire Hana terus berkelana menjelajahi setiap lekuk manor besar di depannya.
"Hana?" suara Tomuro kembali terdengar.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 100]

Chap 100

"Bisa antar aku pulang sekalian?"
"Eh? Kenapa senpai?" remaja dengan rambut aneh ala anak band labil itu sedikit bingung dengan pertanyaan sekaligus pemintaan Hana.
"Aku... Aku... Aku tadi jatuh saat praktek PKK dan pergelangan kakiku sakit. B-bisa a-antar aku?"
"Oh okay. Tunggu sebentar ya senpai" Kisaragi Idate nampak seperti berbincang sesuatu dengan rekannya sampai akhirnya ia kembali mendatangi Hana sambil membawa tas tangannya.
"ayo senpai"

Kini keduanya sudah berada di tempat parkir. Mata saphirenya menatap bosan siswa di depannya sementara tangannya masih sibuk mengenakan helm pengaman kepalanya.
"Alasanku bodoh sekali. Mana ada orang yg kakinya terkilir bisa lari-lari di lorong, naik tangga lagi. Huft, untunglah dia tak menyadarinya" pikir Hana.
"ung? Ada apa senpai?" pertanyaan Kisaragi mengembalikan Hana dari lamunannya.
"Eh tidak" Hana segera bergegas menaiki motor Kisaragi.
Awalnya Hana agak canggung dibonceng oleh juniornya sendiri. Tangannya sibuk berpegangan pada kedua pahanya. Tentu saja, Hana mau berpegangan pada apa lagi? Tubuh Kisaragi? Oh jangan konyol, Hana baru saja mengenal kouhainya itu sejak penerimaan siswa baru. Bahkan walaupun Sasano yg memboncengnya Hana masih ragu apakah ia akan berpegangan pada tubuh kakaknya itu.
Sebenarnya Hana tadi sudah memutuskan untuk meminta tolong Sasano, tapi apa boleh buat Sasano sudah pulang untuk mengantarkan pacar barunya yg sakit untuk kontrol.
GLUDUK...
Terdengar gemuruh langit dengan disertai beberapa kilatan cahaya yg memenuhi langit berawan kelam. Hana mendongkakkan kepalanya.
"Mendung... Sepertinya akan hujan..." guman Hana.
"uwaaa gawat! Aku tidak bawa jas hujan lagi!" tiba-tiba Kisaragi berteriak panik lalu mempercepat laju kendaraannya.
Tubuh Hana yg menerima hukum kelembaman karena tiba-tiba Kisaragi mempercepat laju kendaraannya hampir terjelembab kebelakang. Untung Hana bisa segera mempertahankan posisinya.
"HEY!" teriak Hana tak terima.
"Gomen senpai. Bisa berpegangan padaku? Aku tidak mau senpai sampai jatuh"
"E-eh?" mau tak mau akhirnya tangan Hana memegang samping kanan-kiri jacket biru muda Kisaragi.

"Wah-wah sepertinya istri yg katanya 'sangat kau cintai' itu sepertinya sedang bermesraan bersama pria lain" suara bariton khas pria berumur sekitar 50-60 tahunan terdengar seperti meremehkan.
"..." orang yg sepertinya diajak bicara oleh pria itu hanya terdiam.
"Benarkah dialah perempuan yg diramalkan itu?" tanya pria itu.
"..." lagi, lawan bicara pria itu sama sekali tak menggubris pertanyaannya.
"Kau sangat keras kepala sekali My Lord, harga dirimu yg menjijikan itu juga nantinya yg akan menjatuhkanmu. Seperti halnya sekarang, padahal kau bisa saja membunuhku disini. Kenapa tidak kau lakukan itu My Lord? Kuroto Yoshiki?"
"Kau hanya vampir kelaparan. Tidak ada gunanya membunuhmu" jawab Yoshiki dengan tatapan dan ucapan yg sangat dingin.
Pria tua itu nampak menahan emosinya.
"Baiklah, tapi kami juga menginkan dia"
Yoshiki terdiam di tempatnya.
Read More ->>

Selasa, 28 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 99]

Chap 99

"Tomuro-kun? Kenapa ponsel Yoshiki ada padamu?"
"Dengarkan aku Hana. Ini serius. Yoshiki sedang dalam interogasi dunia bawah"
Alis Hana berkerut. Apa lagi ini? Kenapa semakin rumit? Hana semakin merasakan firasat buruk yg sedari tadi ditepisnya.
"Dunia bawah?"
"Ya, akan kujelaskan lebih lanjut jika situasinya sudah membaik. Sekarang dengarkan aku Hana. Patuhi instruksiku."
Tubuh Hana menegang. Nada bicara Tomuro tak biasanya begini--paling tidak biasanya ada sedikit nada canda. Sepertinya situasinya benar-benar serius. Dan sepertinya ada sangkut pautnya dengan Yoshiki.
"B-baik" jawab Hana sambil meneguk ludah.
"Pertama beritahu aku lokasimu sekarang"
"Aku di sekolah. Sebentar lagi pulang"
"Usahakan kau pulang tidak sendiri. Dan usahakan kau pulang bersama laki-laki agar bisa melindungimu bila terjadi apa-apa"
"'apa-apa' yg seperti apa Tomuro-kun?"
"jangan banyak tanya cukup lakukan!"
"B-baiklah"
"Lalu, sampai dua hari kedepan kau harus tetap dirumah"
"Apa maksudmu!? Kau menyuruhku diam saja di rumah tanpa memberi penjelasan apapun? Kau gila! Besok aku ada ujian Kimia!" baik, Hana bisa menuruti perintah Tomuro pertama tapi ia tidak bisa--sangat tidak bisa!--menuruti pertintah yg kedua. Tidak ikut ujian Kimia sama dengan ujian susulan dan sama dengan mengerjakan di ruang guru. Hana tak mau ambil resiko mengerjakan ujian dengan tak santai karena dipelototi berpasang mata guru disana.
"Ini demi keselamatanmu!" nada bicara Tomuro naik satu oktaf. Membuat Hana tersentak mendengarnya.
"Mereka akan--bbzzt--zzt-trek tuut tuut" Panggilan terputus.
Hana menatap layar ponselnya keheranan. Satu pertanyaan 'sebenarnya apa yg terjadi?'
"Waktu menelepon sudah habis Arashi-san" ucap seorang wanita blonde sambil memegang ponsel yg tadi baru saja ia rampas dari tangan Tomuro.
"Oh begitu..."--DUAR. Seketika muncul ledakan kecil dari ponsel itu.
"Ukh!" refleks wanita itu menjatuhkan ponsel yg meledak itu.
"wah meledak! Sepertinya Yoshiki harus beli ponsel yg tidak sekali pakai. Masa' baru dibuat sekali telepon langsung meledak" ujar Tomuro seolah mengejek wanita di depannya dengan seringai di bibirnya sehingga memperlihatkan sedikit gigi taringnya.
"Shit!" rutuk wanita itu.
Gagal sudah rencana untuk mengambil informasi dari ponsel milik raja iblis.
Melihat wanita itu merutuk Tomuro hanya bertanya, "kenapa?"
"Sialan!" teriak wanita itu lalu dihempaskannya pecut yg nampaknya persis sepeti dengan pecut yg digunakan dalam adegan BDSM.
"eits" Tomuro menghindar dengan mudah.
'huft, untung SIM-CARDnya selamat' batin Tomuro.
"wanita tidak boleh menyerang pria loh" Tomuro terus berusaha menghindari setiap cambukan dari pecut itu.

"Kisaragi-san, kita searah kan?" tanya Hana setelah mengatur nafasnya yg ngos-ngosan setelah berlari dari halaman depan sekolah ke arah bangunan sekolah lama yg sering digunakan klub band untuk berlatih yg letaknya sangat jauh dari halaman depan. Apalagi harus menaiki 6 anak tangga.
"Eh, Rayumi-senpai? Ada apa?" kouhai Hana tersebut mendatangi senpainya yg bergelagat aneh.
Read More ->>

Senin, 27 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 98]

Chap 98

"Itu artinya kau masih memikirkan masa lalumu kan?"
"Jangan bercanda. Aku hanya ingin menyimpan benda-benda itu karena aku membecinya. Terlahir sebagai manusia? Cih" Yoshiki segera mematikan kembali sumber penerangan ruangan itu. Membuat gelap gulita menyelimuti ruangan itu. Hana mengikuti langkah Yoshiki meninggalkan tempat itu.
Tempat dimana kenangan Kuroto Yoshiki dikubur.

Keesokan harinya sosok Yoshiki tak terlihat. Setidaknya hanya Hana lah yg mengetahui itu. Karena semua orang berfikir bahwa Kuroto Yoshiki masuk hari ini. Tentu saja karena Hana adalah pengecualian bagi semua Iblis. Hana spesial. Kira-kira itulah deskripsi yg tepat.
Awalnya siswi dengan rambut sebahu itu beranggapan si raja Iblis sedang sibuk mengurusi urusannya. Entahlah urusan bisnis, atau urusan lain. Hana tak mau ambil pusing.
Setelah 5 hari ketidak munculan Yoshiki, Hana menjadi cukup resah. Ia berkali-kali melirik ke bangku belakang yg merupakan bangku pria itu entah untuk apa. Apa mungkin pria itu muncul secara tiba-tiba di tengah pelajaran Ekonomi dari Makio-sensei? Tidak mungkin. Hana terlalu konyol kali ini.
Tapi sungguh, hati kecil siswi hyperactive itu sedikit berguncang. Apalagi mengingat Kuroto Yoshiki--suaminya--itu bukan manusia.
Bagaimana jika ada apa-apa?
Dan lebih buruknya lagi...
Bagaimana jika pria itu meninggalkannya?
Deg. Jantung Hana berdetak semakin kencang.
Tidak adanya Yoshiki dalam kehidupannya selama 5 hari kemarin memang membawa dampak bagus untuk kegiatan "move on"nya. Tapi tak bisa dipungkiri ia masihlah memikirkan pria bermata onix itu.
Sudah cukup. Hana sangat-sangatlah penasaran dimana keberadaan lelaki itu.
Dikeluarkannya ponsel hitamnya. Ditekannya dengan lihai beberapa tombol di ponsel itu. Sampai akhirnya ia mendekatkan speaker depan ponselnya ke telinganya.
Terdengar nada "Tuut...Tuut...Tuut..."
sampai 6 kali berturut-turut.
1 kali lagi bunyi "tuut" jika pria disebrang yg ia hubungi tak menjawab panggilan teleponnya maka kesimpulan yg muncul dibenaknya akan semakin rumit.
Satu, Yoshiki sedang sibuk dengan segala urusan bisnisnya.
Dua, Yoshiki pergi. Menjahuinya. Itu artinya juga meninggalkannya.
Oke... Seharusnya Hana senang sekarang. Yoshiki telah menghilang dari kehidupannya. Itu artinya tidak akan ada orang lain lagi yg akan memanfaatkannya.
Dia bebas sekarang... Bebas untuk... Untuk apa? Ia bebas untuk apa?
Mata Hana perlahan menjadi merah dan terasa panas. Tak terasa benda cair mengalir dari sana. Membasahi permukaan pipinya.
Benarkah... Alasan menghilangnya Yoshiki karenanya? Semoga tidak! Semoga tidak!
Sebuah getaran kecil mengalihkan kegiatan Hana. Ponselnya sepertinya bergetar.
"Panggilan masuk. Yoshiki Kuroto."
Begitulah yg tertera pada layar ponselnya.
Dengan sigap ditekannya tombol dial hijau pada ponselnya dan kini koneksi mereka tersambung.
"Hana?"
senyum sumringah Hana seketika berubah menjadi guratan murung. Yang tadi itu bukanlah suara yg sangat ditunggu-tunggunya.
Read More ->>

Minggu, 26 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 97]

Chap 97

"Pelelangan pelacur?"
"Hn. Ibuku hampir menjadi pelacur"
"Eh?" Hana sedikit terkejut mendengar ucapan Yoshiki.
"Selanjutnya mereka jatuh cinta dan menikah. Tapi Takeda tak pernah membiarkan prajuritnya memikirkan hal lain selain perang. Maka ia berusaha membunuh Akihito. Bertepatan dengan itu terkuaklah bahwa Marie salah satu anak dari hasil perselngkihuan seorang pedagang masyur saat itu. Marie dan Akihito dibawa ke Jerman dan Marie mengandung. Saat itu aku berusaha mendapatkan kemuliaanku sebagai malaikat. Tapi Ia menolakku dan menjatuhkanku ke bumi. Sebagai anak Marie dan Akihito. Kenanganku dihapus. Aku terlahir sebagai anak manusia. Polos. Tak ternoda. Sepertinya Ia berusaha membuatku menyadari keberadaanku yg jauh dibandingkan denganNya. Tapi aku menyadarinya saat aku berumur 14 tahun. Aku adalah Lucifer. Banyak orang hendak membunuhku setelahnya. Bahkan Akihito menyerahkanku pada para penyamun. Aku membakar mereka. Termasuk Akihito. Setelah itu Marie berusaha melindungiku. Tapi hati manusia itu mudah berubah. Marie ingin membunuhku. Ia sudah berkali-kali mencoba membunuhku. Terakhir, ia ingin menjatuhkan diri bersamaku dari ketinggian--sekitar lantai 6-8 jika dibayangkan dengan bangunan zaman sekarang--tapi aku selamat. Ia mati"
Tiba-tiba Yoshiki merasakan sebuah pelukan dari belakang setelah ia mengahiri ceritanya.
"Hn"
"Aku... Tidak menyangka masa lalumu seperti itu..." guman Hana. Kepala hitamnya ia sandarkan di bahu pria berambut biru dongker yg ia peluk.
"Khu..." Yoshiki mulai terkekeh. "Khukhukhu"
"Eh?" Hana cukup bingung setelah mendengar tawa aneh Yoshiki.
"Masa lalu? Aku bahkan menganggap itu bagai angin lalu. Tak berarti" ucap Yoshiki sarkatis.
"Tak berarti?"
"Hn."
"Hhhh" Hana menghela nafas berat. "Tapi aku penasaran dengan wajahmu waktu kau masih balita!" Hana mendadak bersemangat.
"Hn" Yoshiki kembali fokus pada lembaran di tangannya.
"Lalu kenapa kau menyimpan foto ini?" Hana menatap foto berbingkai yg sedari tadi dipegangnya.
"Aku pernah menjadi manusia. Setidaknya itulah kenangan yg kumiliki sebagai manusia"
Hana terdiam mendengar penuturan Yoshiki.
Yoshiki bangkit dari tempatnya. Ia berjalan ke arah salah satu rak buku. Menekan salah satu buku bersampul putih. Lalu muncullah pintu rahasia.
Yoshiki memasuki ruangan itu.
Tanpa disuruh juga Hana segera mengikuti Yoshiki karena rasa penasarannya yg tinggi.
Ruangan yg ia masuki sangatlah gelap dan pengap.
KLIK
Sebuah penerangan muncul dari sebuah lampu neon di pusat ruangan. Sehingga membuat seisi ruangan gelap tadi bercahaya.
Di ruangan itu terdapat sebuah tempat tidur kayu, beberapa mainan khas anak kecil, dan banyak foto. Foto dengan obyek yg sama seperti foto yg dipegangnya tadi. Dari pada disebut foto, semua benda berbingkai itu lebih mirip disebut dengan lukisan dan sketsa.
Hana terkejut melihat ruangan itu.
"Ini kenangan yg kumiliki sebagai Manusia"
"Kau... Menyayangi ibumu kan?" tanya Hana.
"Hn. Ia lebih baik dari Akihito"
Read More ->>

Sabtu, 25 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 96]

Chap 96

"Hn"
"Kita mau kemana sih?"
Yoshiki tak menjawab. Ia terus melangkah. Namun ia tetap memperhatikan langkah Hana.
Mereka berdua berjalan, berkelok, menaiki tangga, dan berjalan lagi. Ya, ini resiko memiliki mansion yg luas. Lelah.
Hana mengatur nafasnya yg ngos-ngosan. Akhirnya pria pemandu jalan di depannya berhenti di sebuah ruangan berdaun pintu dua.
Pintu berdaun dua itu terbuka dengan sendirinya. Yoshiki segera memasuki ruangan itu. Hana pun mengekor di belakangnya.
"Ini ruangan pribadiku" jelas Yoshiki.
Hana tak memperdulikan penjelasan Yoshiki. Saphirenya telah terpana oleh buku-buku yg berjajar rapi di rak ruangan itu.
"Keren!! Bahkan koleksi Agatha Crhriste-nya lengkap! Kyaaa Sherlock Holmes! Ada Arsene Lupin juga!!" Hana bersorak kegirangan mengelilingi rak-rak buku itu.
"Hn" Yoshiki memilih duduk di sebuah kursi putar yg di depannya tersedia meja baca.
Ruangan ini merupakan ruangan pribadi Yoshiki. Tak ada yg boleh memasuki ruangan ini selain dirinya. Itulah peraturan yg wajib dipatuhi seluruh penghuni mansionnya. Jika ada yg berani memasuki ruangan itu, bahkan Tomuro pun, Yoshiki akan langsung memusnahkan orang itu.
Lalu kenapa Hana diperbolehkan?
Sementara Hana masih ribut dengan buku-buku misteri koleksi Yoshiki, terdengar ketukan dari pintu berdaun dua tadi.
"Hn" Yoshiki membuka pintu itu sedikit lalu keluar dan menutupnya kembali.
"Hn. Tomuro?"
"Kabar bagus Yoshiki. Tambang mutiara di daerah Afrika telah diledakan. Untuk sementara presiden Holl tidak bisa berkutik selain mengikuti kemauan kita"
Bibir Yoshiki membentuk seringai.
"Kuserahkan padamu Tomuro"
"Siap laksanakan jendral!" Tomuro berpose siap bagai prajurit-prajurit perang yg menghadap atasannya.
"Hn"
"Oh ya, sepertinya kau tidak sendiri di sana?"
"Hn. Dia ada di dalam"
"My Lady?"
"Hn"
"Bukannya ini ruangan pribadimu ya? Kenapa ada orang lain yg masuk? Kau tidak memusnahkannya?"
"Hn. Kami telah menjadi satu"
"Ck! Sekali-kali izinkan aku hanya mengintip saja"
"Hn."
"Kalau begitu aku permisi. Titip salam buat My Lady ya... My Lord~" goda Tomuro sebelum ia menghilang.
"Hn" Yoshiki kembali memasuki ruang pribadinya.
Mendadak ruangan menjadi sepi. Padahal tadi Hana sangat ribut.
Onix Yoshiki menangkap Hana tengah menatap sebuah foto berbingkai.
"Hn"
Gumanan Yoshiki menginterupsi kegiatan Hana.
Hana mendongkak dan menatap Yoshiki.
"Yoshiki-san, ini siapa?" Hana menunjukan seorang wanita paruh bayah tengah tersenyum tipis. Gaun birunya yg menjuntai beserta beberapa aksesoris berkilauan nampak mempercantik wanita berambut sebahu yg ada di foto.
"Ibuku"
Hana tercekat mendengar jawab Yoshiki.
"Ibu?"
"Diego Marie. Itu namanya" Yoshiki kembali duduk di kursinya tadi. Entah kapan tangannya sudah memegang beberapa kertas print-out.
"Diego Marie?" Hana mengulai nama ibu Yoshiki.
"Hn. Aku lahir dengan darah campuran. Jerman-Jepang. Ayahku Akihiko Kuroto. Seorang prajurit perang Shigen Takeda. Bertemu ibuku yg seorang Biarawati gereja yg dianggap sesat di pelalangan pelacur"
Read More ->>

Jumat, 24 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 95]

Chap 95

Ia juga ingin bersandar pada pria yg dicintainya.
PLUK
Tiba-tiba sebuah tangan besar merengkuh kepalanya dan menyandarkan kepalanya pada sebuah bahu yg kokoh.
"Eh?"
"Kau bisa menggunakan bahuku jika kau mau..." ucap Yoshiki seolah tahu apa yg ada di pikirannya.
"T-tapi k-kenapa?"
"Hn. Karena aku suamimu"
Wajah Hana sedikit memerah mendengarnya. Bibir Hana tersenyum tipis.
'Aku tidak mengerti... Dia hanya memanfaatkanku... Hhh... Entahlah, mungkin setelah kehangatan ini aku kan menghadapi sesuatu yg sulit lagi' pikir Hana sambil memejamkan matanya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan pemutaran film. Yang ia rasakan sekarang adalah nyaman yg luar biasa.
Yoshiki menyadari sudah tidak ada pergerakan pada bahunya. Yg ia rasakan sekarang hanyalah hembusan nafas yg damai.
Benar saja, Hana sudah terlelap dalam tidurnya.
Tangan Yoshiki menelusuri rambut hitam Hana.
Bibirnya tak sengaja tertekuk ke bawah. Membentuk senyuman tipis.

"Hn. Mau tidur sampai kapan?" ujar Yoshiki.
Perlahan saphire Hana terbuka. Berkedip sebentar sebelum terbuka sempurna.
"eghh..." Hana mengerjapkan matanya lagi.
"EH!? AKU KETIDURAN!!" teriak Hana.
"Hn"
Hana melirik jam di ponselnya. "GAWAT! SUDAH JAM SEGINI!" Hana segera bangkit.
"Kau akan ke perpustakaan kota kan? Mencari bahan untuk menulis laporan kegiatan klub Misterimu" tebak Yoshiki.
"Eh? Kok tau?"
"Tomuro yg memberitahuku"
"Kalian... Menggeledah rumahku ya?" tebak Hana sweatdrop.
"Hn"
"Sudahlah! Aku mau ke stasiun!"
"Hn. Shinkasen baru saja lewat pukul 3 lebih 40 menit tadi. Sekarang sudah pukul 3 lebih 42 menit. Kau akan sampai di stasiun pukul 4 lebih 1 dengan kecepatan berjalanmu"
"ukh..." Hana benar-benar tak bisa menyangkal ucapan Yoshiki.
"Sial kalau begitu aku akan ke rumah Yuki-kun saja untuk meminta bantuannya"
"Tidak perlu. Akan kuantar kau ke tempat istimewa yg kau ketahui tapi tak pernah kau masuki. Disana kupastikan kau menemukan semua materimu"
Hana cukup tertarik dengan tempat yg dimaksud Yoshiki. Jadi ia tak mungkin menolak ajakan itu

Dalam perjalanan, otak Hana masihlah bekerja. Ia memandang keluar jendela. Ia ingat betul jalan-jalan yg ia lalui sekarang. Bahkan menurut perkiraannya Yoshiki akan membawanya ke tempat itu....
Mobil Porsche 911 Yoshiki berhenti dan terparkir manis diantara jajaran mobil-mobil berkelas lainnya. Terjawab sudah pertanyaan Hana.
Yoshiki memang membawanya ke tempat yg sesuai dengan perkiraannya.
Yaitu mansion Yoshiki.
Yoshiki segera turun. Tapi nampaknya Hana tak kunjung turun.
"Hn. Kenapa?"
"Kenapa katamu? Ini kan mansionmu! Kenapa kau membawaku kemari? Kau kan mau menunjukan tempat yg bisa kugunakan untuk materi klub Misteri!"
"Hn. Ruangan itu ada di salah satu dari sekian banyak ruangan di mansionku"
"Kau tidak menipuku kan?" Hana menatap Yoshiki curiga.
"Hn" Yoshiki tak memperdulikan itu dan melangkah meninggalkan Hana.
"Eh? Hoy! Tunggu!" Hana segera keluar dari mobil dan berlari mengejar Yoshiki.

"Hey! Tunggu!" akhirnya Hana berhasil menyamai langkah Yoshiki.
Read More ->>

Kamis, 23 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 94]

Chap 94

Runnings Days dimulai. Diawali dengan seorang gadis berambut pirang bernama Lizabeth W. Hooks menyukai seorang pemuda keturunan Jepang-Belanda yg tengah kuliah di Jerman dengan jurusan Teknik Lingkungan bernama Firtz Hyoundai. Tapi sayangnya pemuda itu bertemu dengan pembunuh ayahnya dan ternyata pembunuh ayahnya itu adalah ayah dari Liz. Liz mengetahui itu tidak memperdulikan permasalahan ayahnya.
Demi menguji kesetiaan Liz, Hyoundai memaksa Liz melihatnya menguliti ayahnya di depan Liz.
Liz menangis tersedu-sedu.
Hyoundai mulai menguliti bagian wajah sang ayah dan dengan kulit yg berdarah itu Hyoundai memakaikan kulit wajah itu kepada wajahnya seperti topeng. Lalu Hyoundai menoleh secara tiba-tiba kearah Liz.
Hana terlonjak bukan main melihat wajah mengerika Hyoundai.
"KYAAAAA!!" Hana tidak sengaja mencengkram tangan orang di samping kanannya.
"Eh maaf" Hana segera melepas cengkramannya karena malu.
"Hn" jawab orang itu.
"Eh?" Hana merasa aneh dengan jawaban orang itu.
Dengan keadaan bioskop yg gelap dan hanya diterangi oleh cahaya dari layar Hana berusaha melihat wajah orang di sebelahnya.
Dilihatnya wajah seorang pria dengan rambut yg mencuat kebelakang menatap dirinya.
"Yoshiki-san!?" Hana lebih terlonjak lagi begitu tahu orang yg disampingnya adalah err--suaminya.
"Hn"
"K-kkau... K-kau..." Hana bingung mau berkata apa.
"Kenapa kau disini!?" akhirnya Hana menyelesaikan kalimatnya.
"menonton"
Hana sweatdrop mendengar jawaban Yoshiki.
"Aku tahu! Tapi kenapa harus..." Hana tidak melanjutkan kalimatnya.
Mungkin beginilah kalimat tanya Hana yg sebenarnya... 'Kenapa kau disini? Menonton Runnings Days? Kenapa bisa kau duduk di sampingku? Kenapa harus aku?'
"Hn entahlah" jawab Yoshiki datar.
"Tapi aku tidak melihatmu antri di belakangku tadi!"
"Aku menyuruh orang lain antri"
'Ah benar juga' pikir Hana.
"Jadi, kau mengikutiku?"
"Hn"
"Kena--"
pertanyaan Hana terhenti saat terdengar desahan dan layar bioskop memperlihatkan hubungan seksual antara Liz dan Hyoundai.
Dimana posisi Liz sekarang sepenuhnya telanjang dengan menungging sementara Hyoundai di belakang terus menggenjot tubuh Liz.
"GYAAAAA!! kenapa ada adegan ini!!!" wajah Hana refleks memerah. Ia kembali melihat poster kecil yg tadia ia terima di bagian loket. Ternyata benar film ini ber-rating 17+.
"uwaaaa!!" Hana mengecilkan suaranya sadar kalau ini di bioskop.
Yoshiki tersenyum dengan seringainya melihat tingkah Hana.
Adegan seksual masih belum berakhir. Hana menoleh kekanan dan kekiri. Semua pasangan sibuk berpelukan. Bahkan di samping kiri Hana ada sepasang pasangan. Dimana si wanita tengah menyembunyikan kepalanya di bahu si pria.
"a-aku tidak mau melihat ini Jin-kun!" terderngar suara kecil si wanita.
Si pria mengelus kepala si wanita. "ahahaha kalau begitu bersembunyilah dulu disana" jawab si pria.
DEG! Seketika ada perasaan aneh muncul dalam diri Hana. Wajahnya murung.
Ini manusiawi bukan?
Read More ->>

Rabu, 22 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 93]

Chap 93

"Urusai!" muka Hana terus memerah padam.
"Jawab aku Ha-na-chan" goda Setsuna.
"Hn" suara dingin Yoshiki menginterupsi kegiatan Hana dan Setsuna.
Setsuna seketika sweatdrop melihat penampakan Yoshiki. Ia lupa bahwa ada orang lain di rumah Hana.
"Apa aku mengganggu?" tanya Yoshiki menatap datar Hana dan Setsuna.
"kami tidak melakukan apapun!!" teriak Hana dengan wajah memerah.
"Ah gawat aku lupa! Hari ini aku harus menjemput adikku dari TK! Gomen Hana! Tolong lanjutkan ya! Kan tinggal membuat soal saja! Jaa" Setsuna langsung berlari keluar rumah Hana.
"Oyyy!!" teriak Hana menatap kepergian Setsuna. Yang benar saja? Kalau begini jadi tugas individu saja.
"Hn" Yoshiki kembali duduk di sofa yg didudukinya tadi.
Hana kembali fokus pada ketikannya.
"kau tidak mengerjakan tugasmu?" tanya Hana.
"Izuki yg menawarkan diri untuk mengerakannya sendiri"
"itu curang namanya!"
"tidak. Dia yg menawarkan diri, aku tidak memaksanya"
Hana menatap Yoshiki heran.
"Hhh dasar kau ini... Padahal kan Izuki cantik, rambutnya panjang bergelombang, berwarna keunguan... Pintar--"
"Hn. Lalu?" potong Yoshiki.
"Kan enak kerja kelompok dengannya..."
"Aku tidak tertarik"
"Ha? Kenapa?"
"Bukannya sudah kukatakan. Aku tidak tertarik kepada wanita lain selain dirimu"
BLUSH. Wajah Hana memerah seketika mendengar ucapan Yoshiki.
Tapi ia mengingat suatu hal... Wajahnya kembali murung.
"hentikan itu Yoshiki-san"
Hp Yoshiki nampaknya bergetar, menampakan sebuah panggilan.
"Hn"
"Hn"
"Aku kesana"
Yoshiki beranjak dari duduknya.
"Sudah mau pulang?" Hana ikut bangun.
"Hn. Tomuro sepertinya kerepotan" Yoshiki menuju pintu. Diikuti oleh Hana.
"Oh ya... Kau sudah pernah melihat alat reproduksi pria secara langsung kan?" pertanyaan Yoshiki lantas membuat wajah Hana kembali memerah seperti tomat. Hana tau secara pasti milik siapa yg di maksud Yoshiki. Tentunya itu milik Yoshiki sendiri.
"Hn. Tidak akan kubiarkan kau melihat organ reproduksi pria lain secara langsung. Kau hanya perlu milikku. Dan yg boleh melihat organ reproduksimu hanyalah aku. Hanya aku" ucap Yoshiki sebelum ia menghilang dalam kepulan asap.
Hana menunduk di tempatnya. "Lalu... Apakah hanya aku yg bisa melihat milikmu? Apakah kau mengizinkan wanita lain melihat organ reproduksimu?" guman Hana sebelum ia menutup pintu.

Besoknya pada hari minggu Hana berniat menonton "Runnings Days" Film adaptasi dari sebuah Light Novel buatan Nanako Haku. Sebuah Film bergenre romance/hurt/comfort disertai dengan adegan horor dan gore. Tapi tetap mengutamakan feel romance-nya.
Salah satu alasan Hana rela mengantri di depan loket tiket adalah hal itu, genre film itu sangatlah 'setipe' dengan Hana.
Setelah mengantri selama setengah jam Hana segera mencari tempat duduk yg sesuai dengan yg tertera pada tiketnya.
Hana memandang sekeliling. Ternyata semua yg datang rata-rata membawa pasangan masing-masing.
"Hahaha... Sial..." tawa Hana hambar.
Film akhirnya diputar setelah waktu menunjukan pukul 1 siang.
Read More ->>

Selasa, 21 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 92]

Chap 92

Muncullah pemuda dengan jacket DC berwarna biru ke abu-abuan.
"Yo!" ucap Setsuna dengan mengacungkan tangannya.
"Silahkan masuk"
Setsuna tersenyum dan segera melangkah masuk menuju ruang tamu.
Setsuna melihat ternyata sudah ada orang lain disanda. Tengah menatapnya dengan tatapan datar namun dingin.
"Loh? Kuroto?"
"Hn"
"Sedang apa disini? Mengerjakan tugas juga?" Setsuna duduk di sofa yg bersebrangan dengan Yoshiki. Hana menghidangkan ocha yg sama.
"Hn tidak. Hanya mengawasi milikku"
"mengawasi?" Setsuna kebingungan.
"Hn. Lupakan"
"Jadi mau mengerjakan sekarang?" tawar Hana.
"tentu. Aku membawa banyak data" Setsuna mengeluarkan laptopnya dari tas punggungnya.
Hana duduk di samping Setsuna. Mereka berdua pun fokus mengerjakan.

"..." Yoshiki bangkit.
"Eh mau kemana?" tanya Hana.
"ada telepon" Yoshiki segera menuju ruang belakang.
"oh"
Hana kembali fokus mengerjakan tugasnya.
Sebenarnya mereka baru saja membuat teori dasar. Belum bagian inti. Kenapa sangat lama? Karena mereka berdua berbeda jenis kelamin. Rasanya akan sangat aneh membahas alat kelamin masing-masing bukan?
Yoshiki dibalik dinding pemisah ruang tamu dan dapur diam-diam mendengarkan pembicaraan Hana dan Setsuna.
"nah sekarang kita urai fungsi-fungsi bagian pada alat reproduksi" itu suara Setsuna.
"Ah i-iya" jawab Hana.
Hening terasa. Hanya terdengar suara kertas digeser, ketikan pada keyboard laptop, dan suara-suara kecil lainnya.
"eghh... S-sudah?" wajah Setsuna sedikit memerah.
"sudah..." jawab Hana ragu. Wajahnya juga memerah.
"B-baiklah akan ku tulis" Hana menyalin data yg diberikan oleh Setsuna. Wajahnya memerah luar biasa saat melihat gambar--yg harusnya sudah biasa di bab reproduksi--alat reproduksi pria milik Setsuna.
Hening kembali. Hanya tersengar suara ketikan oleh Hana.
"K-kau pernah melihat organ reproduksi pria?" pertanyaan Setsuna refleks membuat Hana bahkan Yoshiki pun bereaksi.
"Eh?" Hana kaget dengan pertanyaan Setsuna.
"Ah lupakan itu pertanyaan konyol" Setsuna terkekeh. "Aku hanya bercanda" lanjutnya.
"Ahh! Kau ini!" Hana merengut. Tapi untung saja. Kalau Setsuna serius ia akan semakin bingung harus menjawab apa.
Ia pernah melihat organ reproduksi pria. Bukan hanya secara visual, tapi juga secara langsung. Ya... Itu milik Yoshiki.
"Kalau aku pernah. Melihat milik perempuan. Tapi hanya secara visual. Dari JAV" ucap Setsuna tiba-tiba.
"Eh? M-maksdnya? K-kenapa kau cerita padaku?"
Setsuna terdiam sejenak. "EHHHH!! SIAL AKU KECEPLOSAN!!"
Hana sweatdrop melihat Setsuna.
"kau... Hentai" Hana manatap Setsuna ngeri.
"Tidak! Itu sudah biasa kan! Umurku 16 tahun! Itu normal!"
"normal? Pelajar berusia 16 tahun menonton JAV itu normal?"
"Tunggu dulu! Dari mana kau tahu JAV itu berbau porno? Jangan-jangan kau juga melihat JAV ya!"
JLEB. Kena sasaran.
Hana membeku di tempatnya.
"Heee benar rupanya" Setsuna tersenyum aneh.
"Berisik! Aku tidak sengaja melihatnya tahu!" Hana berusaha kembali fokus pada ketikannya.
"fufufufu... Berarti kau sudah pernah melihat 'penis' kan?"
Read More ->>

Senin, 20 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 91]

Chap 91

Pada pukul 9 siang pintu depan Hana berbunyi.
"Apa tidak terlalu pagi kerja kelompoknya?" guman Hana sambil membuka pintu.
CKLEK.
Muncullah sosok berambut jaged berwarna hitam kebiruan. Menatap Hana dengan kilatan obsidian mata hitamnya.
"Eh? Yoshiki-san?" Hana cukup kaget ternyata yg muncul bukanlah Setsuna Yahiko. Tapi malah Kuroto Yoshiki.
"Hn"
"A-ada a-apa kemari?"
"Hn. Apa tidak boleh?" tanya Yoshiki balik.
"Eh tidak apa kok. Silahkan masuk"
Yoshiki segera masuk dan langsung mendudukan dirinya di sofa empuk di ruang tamu.
"Tunggu sebentar kubuatkan ocha"
"Hn"
Tak lama kemudian muncullah Hana dengan nampan berisi nampan dengan 2 cangkir ocha diatasnya.
"S-sebenarnya ada apa Yoshiki-san kemari? Apa ada keperluan?" tanya Hana lagi yg tidak puas dengan jawaban Yoshiki tadi.
"Setsuna Yahiko akan kemari untuk mengerjakan materi reproduksi denganmu" jawab Yoshiki.
"He? Terus kenapa?"
"Aku harus mengawasi kalian berdua"
"Kenapa?"
"Aku tidak mau mengambil resiko"
Awalnya Hana masih tidak paham dengan pembicaran Yoshiki yg seakan-akan berputar-putar tidak jelas. Sampai akhirnya ia menyadari apa maksud ucapan pria itu.
"Aku tidak akan sampai melakukan 'itu' dengan Setsuna-kun!" ucap Hana dengan wajah memerah.
"Sudah kukatakan aku tidak mau mengambil resiko" Yoshiki menyesap ocha yg dihidangkan Hana.
"Hn. Kelihatannya kau sangat sibuk dengan kegiatan club"
"Ehm... Ya begitulah"
"Kenapa?"
DEG! Jantung Hana seakan berhenti berdetak mendengar pertanyaan dengan nada mengintimidasi dari suara Yoshiki terdengar.
Seolah pria itu tau semua kesibukannya itu dikarenakan dirinya.
"Eh etto... Anno... Hanya terarik saja..." jawab Hana seadanya.
"Kau tidak pernah tertarik dengan olah raga tennis Kuroto Hana"
Hana terdiam kembali. Apalagi saat Yoshiki memanggilnya dengan 'Kuroto Hana' seakan menunjukan dirinya adalah milik pria di depannya dan pria di depannya tau segalanya tentangnya.
"A-aku m-mau belajar, materi olah raga bab selanjutnya tentang tennis!" elak Hana.
"Hn. Kau bisa memintaku mengajarkannya padamu"
"Eh?"
"Hn"
"Tidak. Aku hanya seorang budak..." Hana menundukan kepalanya.
"Ck!" Yoshiki segera menindih Hana dan memaksa Hana menatap wajahnya.
"Aku tidak suka melihatmu berdekatan dengan pria lain! Termasuk dengan Raito Ahashi"
Hana tau siapa yg dimaksud Yoshiki. Raito Ahashi adalah pemain tenis terpopuler di Mirai no Gakko. Siswa cerdas dan tampan kebanggaan Mirai no Gakko.
"Aku hanya berlatih tennis dengannya Yoshiki-san!" Hana mencoba mendorong tubuh Yoshiki menjauh. Tapi gagal pria itu seakan terus berusaha mendekapnya.
"Tapi aku tidak suka! Aku benci melihatmu saat kau terpesona padanya!"
DEG. Hati kecil Hana seakan merespon ucapan Yoshiki barusan. Pria di depannya sedang cemburu berat. Tapi benarkah begitu? Atau itu hanya hayalan Hana? Atau cuma akal-akalan Yoshiki untuk membuat Hana luluh?
Pintu depan Hana kembali berbunyi.
Yoshiki segera melepaskan kunciannya dan membiarkan Hana untuk membuka pintu.
CKLEK.
Read More ->>

Minggu, 19 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 90]

Chap 90

Pandangan seisi kelas seketika teralih kepada Hana.
"Bukan hanya kamu. Izuki dan Chisui juga pasangannya cowok" ucap Yahiko.
Hana mengendarkan pandangannya ke seluruh kelas.
"Kalau Chi-chan dengan Sora-kun tidak masalah! Mereka kan pacaran!" Hana kembali mengedarkan pandangannya mencari Izuki.
Gadis bermata lavender yg dicari Hana ternyata berpasangan dengan Yoshiki.
Tunggu? Yoshiki?
Hana menatap keduanya dengan tatapan jengkel.
"Akkkh! Kusso! Aku mau protes!" Hana berjalan dengan langkah yg lebar menuju ruang guru.

5 menit kemudian...
Hana memasuki kelas dengan wajah murung.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Setsuna.
"Dasar guru mesum sialan! Sialan! Hentai!" Hana berteriak-teriak aneh.
"memangnya kau diapakan olehnya?" tanya Setsuna lagi.
"dia menjawab begini, 'tidak masalah pasangannya tidak sejenis. Asal tidak melakukan tindakan perkawinan seperti di buku.' Lalu guru sialan itu menatapku dengan pandangan mesum dan berkata lagi, 'atau kau mau melakukannya dengan Setsuna-san?' itu menakutkan!" Hana tearsdrop di tempat.
Seluruh kelas menertawakan Hana.
"Ahahaha sudahlah kita selesaikan saja. Gara-gara kamu pake acara protes-protes segala, waktu kita jadi terbuang. Untung laporan ini dikumpulkan minggu depan"
Hana masih tearsdrop di tempatnya.
Setsuna tak habis pikir dengan kelakuan Hana yg super hyperactive itu. "kalau begitu besok golden week aku ke rumahmu untuk menyelasikan tugas itu" lalu Setsuna kembali ke tempat duduknya semula.
Sementara Hana masih mengusap ingusnya yg tersisa efek tearsdropnya tadi. Dilihatnya Yoshiki tengah bicara dengan Izuki yg sekarang sedang tersenyum menatap Yoshiki.

"Ibu! Aku mau tahu cina pedas, super sandwich dengan paprika yg banyak, dan tolong air putihnya" Hana memesan makanan di sebuah kantin yg cukup ramai. Suzaku hanya bisa menatap badan Hana dari belakang dengan shock.
"semoga uangku cukup" gumannya.
Jam makan siang kali ini nampak Hana yg tidak biasanya terlihat di area kantin sekolah sekarang sedang meminum air putih dengan terburu-buru.
"oi oi! Kalau pedas kenapa masih dimakan sih?" Suzaku menatap Hana bingung.
Hana tidak merespon ucapan Suzaku. Malah ia mengambil jus lemon kotak yg sedari tadi diminum Suzaku dan meminumnya sendiri.
Suzaku cengo melihat Hana.
"pedaaaaass!!" teriak Hana. Bibirnya memerah.

Dan begitulah hari sekolah berakhir. Hana pulang setelah jam menunjukkan pukul 8 malam. Ia masih harus berkutat dengan sebuah sketsa untuk poster klub Misteri. Sebagai sekertaris ini sudah menjadi tanggung jawabnya. Hana tak masalah pulang jam berapapun hari ini. Toh besok sudah mulai golden week.
"Hahhh..." Hana merebahkan tubuhnya di ranjangnya.
Penat masih menjalari kepalanya.
Dipejamkannya saphire seindah lautan miliknya sejenak.
Kepalanya tidak sengaja membawanya kepada ingatannya tadi. Saat ia melihat keakraban Yoshiki degan Izuki.
Tak sengaja pipi Hana mengembung. "aku tidak peduli! Yoshiki Kuroto bukan siapa-siapaku di sekolah!" teriak Hana frustasi.
Read More ->>

Sabtu, 18 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 89]

Chap 89

"Sekarang aku di klub lari yg sama dengan Sasano"
"aku tahu. Kau sering bercanda dengannya" jawab Hana.
"Mau main ke klub lari?" tawar Suzaku.
"Ah tidak usah. Merepotkan nanti. Lagi pula aku tidak mau mengganggu konsentrasi Sasano-kun yg akan ikut perlombaan musim depan"
"Wah padahal aku terkesan dengan waktu larimu saat kau dihukum"
"Eh? Kau tahu!?" sontak Hana menatap mata coklat Suzaku.
"..." Yoshiki diam-diam mengawasi dan mendengar pembicaraan Hana dan Suzaku.
"Aku tahu. Waktu itu aku disuruh Miwako-sensei untuk mengambil contoh praktikum yg ketinggalan. Aku tidak sengaja melihatmu berlari sangat cepat. Lagipula Kaname-sensei juga bercerita tentangmu di kelasku dulu"
"Kaname-sensei bercerita di kelas 1-1? Bercerita seperti apa!?" Hana tidak sengaja memegang lengan tangan kanan Suzaku yg tersandar di kursi duduknya karena penasaran.
"..." onix Yoshiki menatap tangan Hana.
"begini, 'di kelas 1-4 sepertinya ada pelari baru. Dia si hyperactive. Berlari 3x putaran dalam 2 menit saja' kami semua terlonjak mendengarnya. Kau gesit juga rupanya"
"ah sebenarnya itu...." Hana menggaruk lehernya yg tidak gatal. Benar saat itu ia tak berlari sendiri. Ia dibantu oleh Yoshiki.
Yoshiki?
Hana menoleh kebelakang untuk melihat keberadaan pria itu.
Seketika saphirenya bertemu dengan onix gelap pria itu. Tatapannya yg dingin dan menusuk bagai mengikat Hana dan tak membiarkan Hana lepas.
"oi!" Suzaku menyadarkan Hana.
"eh, eh. I-iya? Kenapa?" Hana sadar dan segera kembali menghadap Suzaku.
"Kau kenapa sih? Ada apa dengan Kuroto?"
"Eh tidak. Tidak ada apa-apa"
"Kau mantannya ya?"
Hana terdiam. Sampai ia menjawab, "ehm. Begitulah"
"Tak kusangka kau juga tertarik dengan lelaki"
"Ha!? Apa maksudmu Suzaku-kun!? Aku normal tau!"
"Hee begitu? Kukira kau Yuri" Suzaku terkekeh.
"Siapa yg YURI!?" Hana menatap pria tampan di depannya dengan tatapan tidak terima.
"tenang aku hanya bercanda. Calm Down Rayumi-san"
"hhhh" Hana menghela nafas. Kembali merileks-kan otot-ototnya.
"Nanti jam makan siang mau makan denganku? Aku traktir deh sebagai tanda maafku"
"Hontou!?" Hana menatap Suzaku dengan tatapan berbinar.
"Kau... Nafsu makanmu sepertinya akan menakutkan" Suzaku menatap Hana dengan tatapan kengerian.
"Hohoho. Kau akan melihatnya nanti"

"Apa-apaan itu tadi! Memberi tugas tapi langsung pergi tanpa menjelaskan! Padahal ini kan bab baru!" Hana menatap buku biologi di depannya dengan malas. Mulutnya beruman tidak jelas tentang protesnya.
"Hahaha... Setidaknya aku sekelompok denganmu Rayumi" sebuah suara terdengar.
Tanpa melirik pun Hana sudah tau bahwa pemilik suara itu adalah Yahiko Setsuna. Siswa berambut merah dan berwajah pucat.
"Menyebalkan!" Hana menjatuhkan kepalanya di meja dan berguman lagi.
"Jadi, mau mengerjakan yg mana dulu?" tawar Setsuna.
"AKU MAU PROTES!" Hana bangkit dari tempat duduknya.
"Yang benar saja! Ini materi reproduksi! Kenapa aku harus berpasangan dengan cowok!" Hana menunjuk-nunjuk wajah Setsuna dengan tampang tsunderenya.
Read More ->>

Jumat, 17 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 88]

Chap 88

Hidup tanpa Yoshiki. Yoshiki hanya teman.
Begitulah isi otak Hana sekarang. Ia mencoba kembali kepada dirinya dulu. Dirinya yg sangat sibuk di kegiatan sekolah sehingga membuat namanya terkenal seantero Mirai no Gakoo. Ah sebenarnya tanpa harus sibuk dengan kegiatan sekolah pun Hana sudah cukup dikenal. Tentu saja karena sikapnya yg err--freak.
Semoga saja... Dengan segala kesibukan barunya ia mampu melupakan orang itu. Orang yg telah berhasil memilikinya seutuhnya. Ya... Semoga.

Keesokan harinya...
"Rayumi Hana! Kau dicari oleh Kisaragi!" ucap Mikami yg baru memasuki kelas sambil membenarkan letak kacamatanya.
"Gawaaat!" Hana segera berusaha mencari tempat sembunyi.
Gotcha! Sepertinya Hana menemukan tempat sembunyi yg baik. Yaitu di samping kiri sebuah tempat duduk. Sudut mati jika dilihat dari pintu kelas.
"semoga gak ketemu!" guman Hana.
"Hn. Apa yg kau lakukan?" sebuah suara nan dingin mengalun. Sontak membuat Hana mendongkak ke asal suara.
"Eh-eh? Yoshiki-kun?" Hana semakin shock saat mengetahui bahwa ia bersembunyi di balik bangku pria itu.
'Aduh! Kenapa di saat segenting ini aku malah terpesona oleh ketampanannya sih!' rutuk Hana.
Yoshiki masih menunggu jawaban dari Hana. Buku bertuliskan "Managemen Private" yg sedari tadi dibacanya kini sudah ia tutup.
"RAYUMI-SAN!" sebuah suara menggelegar mengusik ketenangan kelas 2-1.
DEG. Rasanya perut Hana bagai diperas saat mendengar suara itu.
"King kong sialan! Kenapa dia sampai mencari kesini sih!" Hana merutuk lagi.
Hana mencoba mengintip untuk mencari keberadaan si "king kong" tadi.
'Tidak ada! Yes! Sepertinya king kong sialan itu tidak masuk kemari!'
Hana hendak bersorak saat telinga kirinya tertarik dengan sangat keras.
"ITTEEE!!" Hana meringis.
"Siapa suruh kau tidak ikut latihan dengan SMA Tarako kemarin!? Kita SMA Mirai kalah 7-0! Kau tahu sendiri kan!?"
"LEPASKAN DULU TELINGAKU!" Hana masih berusaha melepaskan telinganya.
"Ikut aku!" Kisaragi--ketua klub basket pria-wanita menarik Hana keluar dengan cara yg sangat bagus. Ia cukup menarik telinga Hana, maka otomatis si pemilik telinga akan mengikuti.
Setelah kedua pembuat onar itu menghilang dari kelas. Kelas langsung menjadi cukup sunyi.
"..." Yoshiki terdiam di tempatnya.
"Ck! Dia benar-benar serius akan menjauh dariku!"

Hana berjalan dengan lunglai saat memasuki kelas. Badannya melemas dan jatuh di bangkunya dengan keringat bercucuran. Rambutnya berantakan, seragamnya menjadi awut-awutan.
"hoshh... Hoshhh" Hana berhafas berat.
"Mati aku..." keluh Hana.
"Kau diapakan oleh king kong itu?" Suzaku--siswa berambut coklat--yg duduk di depan Hana menoleh kebelakang.
"hng?" Hana menatap Suzaku dengan tatapan orang aneh.
"Dia memaksaku mendrible bola dengan memutari lapangan sebanyak 5x! Tanpa jatuh sedikitpun!"
"fufufu" Suzaku tertawa kecil.
"oleh sebab itulah aku keluar dari klub basket. Klub itu berisi orang-orang aneh sih" lanjut Suzaku.
"Oh ya kau mantan pemain bernomor 7 kan?"
Suzaku tersenyum.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 87]

Chap 87

"aku meninggalkanmu disini. Selama 2 jam. Untunglah efeknya cepat selesai"
Hana hanya bisa terdiam menatap Yoshiki.
"Cepat kenakan seragammu, akan kuantar kau pulang" Yoshiki memalingkan wajahnya yg dingin itu. Benar-benar Yoshiki Kuroto. Lelaki dengan wibawa luar biasa tinggi. Bahkan ia tak rela wajahnya yg memerah samar karena melihat tubuh Hana terlihat.
"Eh?" Hana baru sadar dia masih belum mengenakan seragamnya. Segeralah dikenakannya seragam itu.
"Bukannya kau ada jadwal makan bersama dengan dewan direksi Austria ya?" tanya Tomuro yg tiba-tiba muncul.
"Batalkan"
Hana yg masih sibuk mengenakan pakaiannya dengan rapi mencuri dengar pembicaraan dua pria itu.
"Kau gila? Ini kesempatan kita menguasai Austria..."
"Hn. Aku tidak peduli" Yoshiki berjalan melewati Tomuro.
Hana segera menyusul Yoshiki dengan langkah lebar setelah mengenakan seragamnya.

Keadaan sunyi kembali menjalar di dalam mobil Ferarri FF Silver yg tengah dikendarai Yoshiki untuk mengantar Hana.
Hana semakin tidak tahan akan suasana mencekam seperti ini!
"a-ano... Terima kasih sudah menyelamatkanku..." ucap Hana akhirnya.
"Hn"
Hana bingung hendak berkata apa lagi. Respon 'Hn' milik Yoshiki bagikan skak-mat bagi Hana. Ia sudah tak bisa bicara lagi.
"Kau tidak memiliki perasaan terhadapnya kan?" ucapan tiba-tiba Yoshiki refleks membuat Hana menatap pria itu. Lalu Hana menunduk.
"Ya..." jawab Hana datar.
"Hn. Lalu kenapa kau menerima pernyataan cintanya?"
"A-aku... Entahlah. Aku sama sekali tidak pernah berpacaran dengan siapapun. Aku hanya ingin melupakanmu! Jadi aku harus memiliki penggantimu!"
"Kau hanya milikku. Hana Kuroto. Bahkan bisa dibilang Cinta, perasaan, dan hatimu sudah kueksploitasi sendiri sekarang" ucap Yoshiki dengan seringainya.
Hana menunduk mendengar ucapan Yoshiki.
"Aku sepertinya memang hanya milikmu. Tapi sayangnya aku tak bisa memilikimu" guman Hana.
"Apa maksudmu?"
"Aku budakmu kan... Seorang budak tidak pantas menginginkan tuannya"
Yoshiki terdiam mendengar penyartaan Hana.
"Kalau begitu aku akan menjauh dari kehidupan sang tuan" Hana tersenyum aneh kearah Yoshiki.

Mesin Ferarri FF itu perlahan menurun dan berhenti di depan sebuah rumah.
Hana hendak turun dari mobil mewah itu. Tapi tangannya dicegah oleh tangan kekakr Yoshiki.
"Eh?" Hana terhenti. "Ada apa?"
"Berhenti memanggilku dengan sebutan 'tuan'. Dan lagi aku tak akan membiarkanmu pergi menjauh dariku" Yoshiki menatap Hana dengan tatapan serius.
Hana menepis cengkraman Yoshiki. Dan tersenyum miris.

Keesokan harinya Hana benar-benar menjauh dari Yoshiki. Tidak hanya dari Yoshiki saja. Tapi kepada semua hal yg berbau Yoshiki.
Pada jam pelajaran ia berkutat fokus pada materi. Pada jam istirahat ia segera keluar kelas. Entah kemana.
Bahkan pulang pun Hana langsung berjalan secepat kilat meninggalkan kelas dan berlajan pulang.
Hebatnya dalam seharian Yoshiki terasa dicueki oleh Hana.
Tidak ada satu tatapan pun yg bertemu antara onix Yoshiki dan Saphire Hana.
Read More ->>

Rabu, 15 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 86]

Chap 86

Hana menarik wajah Yoshiki terus.
"Yoshiki-kun..." Hana menggeliat lagi. Ditariknya kerah kemeja Yoshiki.
"Hn" Yoshiki berusaha menahan hormonya.
Tiba-tiba sesuatu seperti tangan menyentuh miliknya yg dibawah yg hampir mengeras. Tentu saja itu tangan Hana. Tangan siapa lagi?
"khhh" Yoshiki terus menahan gejolak di tubuhnya.
Tapi--
Segera di tariknya kedua tangan Hana. Menindih wanita berambut pendek itu dibawah rengkuhannya. Dan menatap mata saphire yg kini sayu itu.
"Hentikan..." gumannya.
"Aku tidak ingin melukaimu lagi"
"nghhh rape me Yoshiki-kun..." Hana masih memohon.
"..." Yoshiki tidak menjawab. Ia sudah kehabisan akal.
Ia tidak mau lagi. Menyakiti Hana dengan memperkosanya tanpa Hana sadari.
Pria bermata onix itu bangkit dan pergi meninggalkan istrinya terus bergerak aneh.

Hana membuka matanya dengan satu gerakan.
"umm" Hana merasa tidak asing dengan ruangan tempatnya berada.
Dekorasinya... Perabotannya... Semuanya... Seperti kamar Yoshiki.
Yoshiki? Kenapa dia bisa berada di kamar pria itu?
Hana segera bangkit. Dan saat itu ia sadar, ia sudah tidak mengenakan seragam sekolahnya. Hanya sebuah bra saja yg membungkus tubuh atasnya.
"j-jangan... J-jangan..." Hana menatap seragamnya yg terjatuh di lantai dengan tatapan nanar.
Air mata kembali menganak sungai di pipinya.
"Yoshiki... Memperkosaku lagi..." Hana mengigit bibir bawahnya menahan tangis.
"Hn" terdengar gumanan dingin.
Hana refleks mundur saat mendengar suara itu. Suara iblis itu.
"Kau sudah sadar?" tanya Yoshiki dingin.
Hana menatap Yoshiki seperti seseorang yg memiliki trauma mendalam. Begitu ketakutan saat melihat wajah Yoshiki.
"Ada apa denganmu? Apa ada bagian tubuhmu yg sakit?" Yoshiki mendekat.
"BERHENTI!" Teriak Hana tiba-tiba.
Yoshiki tercekat.
"Kau memperkosaku lagi! Aku membencimu! Sangat membencimu!"
Yoshiki terdiam menatap Hana. Ia tersenyum miris.
"Kaba menjualmu untuk menyelamatkan adiknya dari penyiksaan kakak kelasnya. Mereka hampir memperkosamu. Dan ditubuhmu sudah mengalir obat dari suntikan mereka saat aku datang"
"K-kaba-k-kun? M-menjualku? JANGAN MAIN-MAIN YOSHIKI KUROTO! JANGAN MENIPUKKU!"
"Dia menjualmu" Tangan Yoshiki menarik sesuatu. Dan ternyata sesuatu itu adalah Kaba sendiri. Dengan keadaan mengerikan. Wajahnya berdarah-darah. Seperti bekas penyiksaan.
"K-Kaba?" Hana segera menghampiri Kaba yg terduduk setengah sadar.
"Hana...? Maaf..." guman Kaba yg berusaha mendongkakkan wajahnya untuk melihat Hana.
"Apa maksudmu?"
"Mereka menginginkanmu. Jadi aku menukarmu dengan adikku"
Hana bangkit dan mundur satu langkah. Tubuhnya bergentar.
"..." Yoshiki masih mengamati perubahan mimik Hana.
"Bunuh dia Tomuro"
dan munculah pria merah itu sambil kemudian menyeret tubuh Kaba entah kemana.
"sekarang kau percaya?"
"kau... Menyelamatkanku?" tanya Hana balik.
"Hn. Itu sudah menjadi tugas seorang suami."
"Lalu kenapa aku berantakan seperti ini?"
"Mereka memberimu obat perangsang, narkotika, dan banyak lagi. Membuatmu tak bisa mengontrol tubuhmu"
Read More ->>

Selasa, 14 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 85]

Chap 85

Organ tubuhnya berceceran dilantai UKS. Darah menggenangi lantai putih UKS.
"Hhh hhh hhh" dilihatnya Hana sedang tergeletak di lantai dengan keadaan yg cukup merangsang siapapun yg melihatnya.
"Hn" Yoshiki segera menggendong Hana ala bridal style.

Yoshiki merebahkan tubuh Hana di atas ranjangnya. Tubuh Hana nampak menggeliat-menggeliat aneh.
"Misaki!" teriak Yoshiki.
Seketika seorang maid muncul.
"Panggil Tomoaki!" titah Yoshiki.
"Yes, My Lord" Misaki undur diri.
Tak berselang lama munculah seorang berambut blonde. Seorang yg mungkin akan membuat Hana bangun seketika dan menatap orang itu tidak percaya--hanya jika Hana sedang dalam keadaan normal.
Tentu saja, orang itu adalah Tomoaki. Pacar dari sahabat hyperactivenya yg berketurunan albino. Siapa lagi kalau bukan Shiro?
"periksa dia!" perintah Yoshiki tidak sabaran.
Tomoaki segera menaruh peralatannya di meja terdekat.
Wajahnya serius mengamati Hana yg sudah meliuk-liuk tidak jelas di atas ranjang.
"My Lord, saya harus mengambil sample darahnya"
Yoshiki terdiam sesaat. "Ck!" Yoshiki mendecih. Ia nampak bingung dan menimbang-nimbang sesuatu.
"Baiklah. Jika kau berani macam-macam akan ku bunuh kau"
"keluarga Tomoaki sepenuhnya budak anda sang raja iblis. Saya tidak akan melanggar hal itu My Lord"
"Hn"
Tomoaki mulai menyiapkan alat suntik dan memasang mikroskop elektriknya.
Setelah memperoleh sedikit darah dari tubuh Hana, segera di teteskan darah Hana pada kaca pengamat. Diberinya setetes entah zat apa itu lalu diamatinya lewat mikroskop.
Sementara Tomoaki masih sibuk dengan mikroskopnya, Hana semakin menggeliat dan sekarang mendesah.
"ngghhhh" wajahanya nampak semakin sayu.
Yoshiki yg satu-satunya pria di dekat ranjang segera menjadi sasaran Hana.
"mmmhhhh" Hana menatap Yoshiki.
"Yo-s-shi-ki-k-kun?"
"Hn" Yoshiki masih tidak bergeming. Ia berusaha menahan hasratnya mati-matian.
"Fuck me Yoshiki-kun" Hana menungging aneh.
'glup' Yoshiki menelan ludahnya. Hormonnya semakin memuncak.
Hana berganti posisi. Tapi semua posisinya terus membuat hormon Yoshiki naik. Naik. Dan naik sampai Yoshiki tidak tahan.
"selain di beri obat perangsang, ternyata My Lady juga diberik sejenis narkotika. Yg dilarutkan dengan alkohol 96%" ucap Tomuro.
Yoshiki membelalak kaget.
"Apa-apa'an dosis itu!?"
"saya bisa memberikan penenang pada My Lady. Tapi mungkin efeknya hanya akan sedikit mengingat dosisnya sangat besar"
"tidak perlu. Kau kembalilah"
"Permisi My Lord" setelah membungkuk, Tomoaki keluar dari ruangan besar yg merupakan kamar Yoshiki.
Yoshiki mendekati Hana.
Hana masih menggeliat. Deru nafasnya terdengar semakin kencang.
Entah sejak kapan. 4 kancing seragamnya sudah terlepas. Memperlihatkan tubuh bagian dalamnya.
Yoshiki mengelus puncak kepala Hana.
"ini... Salahku" gumannya.
"seandainya aku tidak terlalu pengecut!" Yoshiki masih berguman.
"Yoshiki-kun... Please... Fuck me" Hana menatap Yoshiki dengan tatapan memohon. Bibirnya terus berusaha untuk bertemu dengan bibir Yoshiki.
Yoshiki terdiam. "never.."
Read More ->>

Senin, 13 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 84]

Chap 84

"Nah sekarang tidak akan ada yg mengganggu" siswa yg berbadan besar entah sejak kapan sudah membawa sebuah suntik berisi cairan bening.
"He-hentikan... HENTIKAAAN!!" Hana berteriak sejadinya dengan sangat keras.

"!!" Yoshiki yg mendengar sayup-sayup teriakan Hana dari kejahuan segera berlari menuju asal suara.
Dan tak sengaja berpapasan dengan Kaba.
"Di mana Hana? Kau apakan dia!?" Yoshiki menahan Kaba dengan banyak pertanyaan.
Kaba yg bertemu Yoshiki menjadi sangat ketakutan.
"K-Kurot-to..?"
"Dimana dia!?" Yoshiki menaikkan satu oktaf suaranya.

"Akhhh!!" Hana masih berusaha meronta. Wajahnya semakin tak karuan karena air mata sudah membasahi seluruh pipinya.
Tangan kanannya sudah di genggam oleh siswa yg berambut biru tua. Pegangan siswa berambut merah di belakangnya tak kunjung mengendur. Sementara siswa yg berambut ungu mulai menyuntikan jarum suntik ke kulit tangan Hana.
"AKKKKHHH!!!" Hana memekik semakin kencang saat jarum suntik itu sukses menusik pori-pori kulitnya, dan terasa sesuatu cairan memasuki tubuhnya.

Yoshiki yg mendengar itu sekali lagi segera berlari secepat mungkin menuju asal suara.

"hhh...hhh..." tubuh Hana seketika lunglai dengan deru nafas yg cepat.
Tidak ada pemberontakan.
Tidak ada gerakan kasar.
Siswa yg sedari tadi menahan tubuh Hana dari belakang akhirnya memutuskan untuk melepaskan Hana.
Wajah Hana perlahan memerah. Wajahnya menjadi sayu. Deru nafasnya menjadi semakin berat.
"cepat sekali daya kerjanya" siswa berambut biru berucap.
"Aku menyuruhnya menamba dosisnya" balas siswa yg bertubuh besar.
"heee...."
Hana menatap ketiga siswa di depannya dengan tatapan sayu.
"unghhhh" tubuh Hana menggelinjang.
"Baiklah. Itadakimasu~" siswa berambut biru tua mendekatkan wajahnya dengan wajah Hana--hendak mencium Hana.
BRAAAAK!
Pintu UKS dibuka paksa.
Yoshiki menatap Hana yg tergeletak di lantai dikerumuni oleh 3 siswa yg sudah bertelanjang dada.
Onixnya mengecil tanda shock.
Seketika amarah memenuhi dirinya.
"Oi oi masih ada siswa lain disini?" guman siswa yg berambut merah.
"Bukanya kau... Si Yoshiki Kuroto itu?"
Yoshiki tak memperdulikan itu. Yg ada di kepalanya sekarang adalah Hana. Dan hanya Hana.
"Jangan sentuh...." Yoshiki berjalan mendekat.
"Hey! Mana sopan santunmu? Pulang sana kau masih kecil!" siswa berambut biru menghadang Yoshiki.
"Jangan sentuh... Milikku!" Yoshiki meghantam pipi siswa itu. Hingga membuatnya terjelembab kebelakang dan kepalanya membentur lantai hingga berdarah.
"akh!"
"Apa yg kau lakukan hah!?" siswa berambut merah berlari menerjang Yoshiki.
BLAR
Tiba-tiba tubuh siswa itu terbakar. Sebuah api misterius menyelimuti tubuh siswa itu.
"uaaaa!! Rghhh!! Panas! Aarrgh!!" jeritan memilukan siswa itu terdengar.
"Hakuto!" siswa berambut ungu itu menatap ngeri temanya yg terbakar.
Yoshiki melewati siswa itu.
"ughh!" siswa berambut ungu itu menatap ngeri Yoshiki.
"si-siapa k-kau s-sebenarnya?"
Yoshiki menatap tajam siswa itu.
ZRASSH
Seketika tubuh siswa itu termutilasi.
Read More ->>

Minggu, 12 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 83]

Chap 83

"..." Kaba berjalan tertatih ke arah Hana.
Hana yg melihat Kaba dengan keadaan tertatih segera berlari menghampiri Kaba.
"Kaba-kun!? Kau kenapa??"

"Kenapa kau disini?" Tomuro mendatangi Yoshiki yg tengah terduduk di ruang meeting dengan kakinya yg ia angkat di meja rapat.
"Hn. Apa maumu?"
"Aku tidak mengerti denganmu. Kau semakin aneh. Sebenarnya bagaimana perasaanmu kepada Hana?"
"..." Yoshiki hanya melirik Tomuro.
"Lebih baik kau lupakan perasaan itu! Kau seorang raja Iblis Yoshiki! Bukanya memerintahmu, tapi aku sahabatmu! Aku yg tau lebih baik tentangmu dari pada siapapun!"
"Aku... Mencintainya Tomuro..."
"Hentikan itu! Jika saja sejak awal kau menangkapnya sebagai tawanan dan tidak perlu sampai melakukan rencana 'cinta' ini semua tidak akan terjadi!"
"..." Yoshiki tak menjawab
"Kalau begitu kau harus bertanggung jawab! Kau harus tetap mengawasinya! Dia milikmu kan!?" teriak Tomuro.
"...dia... Mungkin sedang bersenang-senang dengan pacar barunya..." guman Yoshiki.
"Lalu kenapa!? Kau terlalu pecundang untuk melihatnya bahagia dengan orang lain?"
Seketika Yoshiki menatap tajam Tomuro.
"Ternyata benar kau seorang pengecut"
DUAKH!
Tomuro terpelanting kebelakang dengan luka lembam di wajahnya.
"Siapa yg kau sebut pengecut?" tanya Yoshiki dengan suara dinginnya.
Tomuro bangkit dan menatap balik mata Yoshiki dengan tajam.
"kalau begitu kenapa kau tidak mengawasinya sekarang juga hah!?"
"Ck!" Yoshiki mendecih lalu melesat secepat mungkin.

"Ayo kita ke UKS!" Hana membopong tubuh Kaba dengan kesusahan. Sekolah sudah hampir gelap. Mustahil masih ada siswa yg berkeliaran. Jadi mau tidak mau Hana harus membopong dan merawat Kaba sendiri di UKS.
Dengan kesusahan, akhirnya Hana membaringkan tubuh Kaba di ranjang UKS.
Hana segera mencari kesana-sini alat P3K.

"Hn. Kemana dia?" Yoshiki yg baru sampai di lapangan outdoor basket menoleh kesana-kemari untuk mencari sosok istrinya.
"Wah, wah, kerja bagus Kaba!" sebuah suara berat terdengar. Membuat Hana menoleh ke asal suara.
"kyaaa" Hana menjerit sesaat setelah tubuhnya di tarik seseorang dari belakang.
Hana terus meronta sebisa mungkin.
Seseorang dibelakang Hana terus menahan kedua tangan Hana sebisa mungkin.
"ssst kau berisik sekali" siswa bermata violet yg bersuara berat tadi datang menghampiri Hana ditemani temannya yg berambut biru tua.
"ternyata kau memang liar" ucap siswa yg berambut biru tua sambil menatap Hana dengan tatapan bernafsu.
Hana semakin ketakutan.
"T-tolong! K-kaba-kun!" Hana menatap Kaba yg sudah terduduk di ranjang dengan tatapan memohon dan ketakutan.
"Woy Kaba! Dia minta tolong tuh" ucap siswa yg berambut biru tua.
"Apa adikku sudah kalian lepaskan?" Kaba malah bertanya sesuatu yg aneh.
"Oh, sudah. Dia ada di depan gerbang sekarang"
"Baiklah" Kaba berjalan melewati Hana.
"Maaf... Aku memang menyukaimu. Tapi aku lebih mencintai adikku" Kaba berguman lalu berjalan keluar UKS.
Hana masih menatap punggung Kaba yg menjauh dengan nanar.
Read More ->>

Sabtu, 11 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 82]

Chap 82

"begitu" guman Hana.
"Hn"
"Aku tak mau dengar lagi ucapan Tomuro-kun" guman Hana menatap keluar jendela.
Iris Onix Yoshiki melirih Hana sebentar. "..."
"Hn. Hujan memang sudah reda, tapi kau harus tetap mengenakan pakaian hangat" ucap Yoshiki.
"Aku tahu" Hana tersenyum kecut lalu melangkah ke arah pintu depan rumahnya.

Yoshiki langsung memasuki mobilnya dan meninggalkan kediaman Rayumi setelah memastikan Hana menutup pintu rumah beratap biru itu.
Percepatan Lamborghini putih yg dikendarai Yoshiki kini mencapai 100 Km/jam. Wajahnya menatap lurus kedepan.
Kakinya masih sibuk menginjak pedal gas, dan tangannya sibuk dengan kemudi dan perseneling.
"Sial!" teriaknya tiba-tiba.
Kakinya terus menginjak pedal gas sampai speedometer mencapai angka 120 km/jam.
Saat mencapai tikungan tajam terdengar decitan melengking tinggi dari ban mobil itu saat melakukan drift.
CKIIIT
Mobil mewah itu berhenti seketika.
"hh...hhh...hh" Yoshiki Kuroto nampak terengah-engah dengan keringat bercucuran di dahinya.
DUAK
Tangan Yoshiki menghantam kemudi mobil.
"My Lady..." gumannya.

"Hana maaf!" Kaba--dengan wajah murung--tiba-tiba duduk di depan Hana yg tengah menyantap roti isi yg tadi baru saja di belinya.
"Eh Kaba-kun?"
"Apa kau menungguku kemarin?" tanya Kaba lagi.
"I-iya sih"
"Maaf!" Kaba ber-ojigi. "Aku ada keperluan mendadak. Aku ingin mengabarimu. Tapi ponselku tertinggal di rumah!"
"Eh begitu... Tak masalah sih" jawab Hana sambil tersenyum.
"Lelaki macam apa yg membiarkan pacarnya menunggu sendirian di tengah guyuran hujan hingga membuat pacarnya demam?" Yoshiki tiba-tiba sudah berdiri di ambang meja makan kantin--bangku tempat Hana dan Kaba duduk.
"Eh? Kau demam?" Kaba semakin menatap Hana khawatir.
"Ah. I-iya sih tapi sudah sembuh kok"
"Maafkan aku Hana" Kaba berguman. Wajahnya nampak muram.
"sudahlah jangan dipikirkan"
"Tapi hari ini aku sudah menyiapkan semuanya! Hari ini pasti bisa! Mau kah kau menunggu sekali lagi?" pinta Kaba dengan wajah memelas.
"sebenarnya ada apa sih?"
"I-ini... K-kejutan! Ya! Kejutan!" jawab Kaba bingung.
"..." Yoshiki berlalu meninggalkan Hana dan Kaba.
"Hee, baiklah aku akan menunggu lagi"

"Wah wah dia benar-benar di sana. Kau sudah siapkan semua kan Kaba?" sebuah seringai terbentuk di wajah seorang siswa berambut ungu tua.
"..." Kaba hanya menatap nanar ketiga kakak kelasnya. Matanya sembab dan lembam. Pipinya terasa sakit dan perih. Bibirnya mengalirkan sedikit darah. Perutnya mual aneh. Tangannya kaku. Kakinya terasa berat karena keseleo mungkin.
"Kan sudah dibilang jangan melawan" ucap seorang kakak kelasnya yg berambut merah.
"Untung kami sedang bosan dengan adikmu" sahut seorang siswa berambut biru cepak.
"Bagus bagus... Bahkan dia membawa beberapa obat dan suntikan penenang" tawa siswa pertama.
"Aku sudah tidak sabar untuk menikmati tubuhnya" siswa berambut merah tadi sudah memegangi miliknya yg entah kenapa bisa nampak menonjol.
"Baiklah Kaba lakukan tugasmu!" perintah siswa pertama.
Read More ->>

Jumat, 10 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 81]

Chap 81

Yoshiki berlutut untuk menyamai tinggi kepalanya dan tinggi kepala Hana.
Didekatkannya kedua dahi mereka hingga bersentuhan.
"..." mata Yoshiki bertemu dengan mata Hana.
Jantung Hana mulai berdetak kencang. Memacu setiap adrenalin dalam tubuhnya.
Oh demi apapun! Di depannya sekarang adalah makhluk paling sempurna! Dengan wajah pucatnya, mata obsidiannya, bibirnya, rambut hitamnya yg agak basah, dan sebagainya.
"a-aaa..." Hana berusaha memundurkan kepalanya. Namun sayang kepalanya sudah ditahan oleh tangan kekar Yoshiki.
"hn" Yoshiki memundurkan kepalanya kembali.
"sudah lumayan dingin"
Hana kembali memegang dahinya dengan telapak tangannya untuk memastikan.
"benar juga..."
"Hn. Sudah pukul 8. Besok kau harus belajar untuk test Matematika kan?"
"B-benar j-juga. Baiklah aku pulang saja" Hana langsung melangkah. Namun Yoshiki menahannya dengan menggenggam erat pergelangan tangan kanan Hana.
"Eh?"
"Hn. Kuantar"
Hana jelas tak bisa menolak. Memang ada cara lain untuk menuju rumahnya yg berada cukup jauh dengan manor Yoshiki? Ada, memang ada, yaitu berjalan sendirian dengan resiko tinggi. Tentu saja Hana tak akan mengambil resiko gila itu.
"Misaki berikan dia pakaian yg lebih hangat." ucap Yoshiki pada Misaki.
"Yes My Lord" Misaki berojigi.
"Kutunggu di tempat parkir" ucap Yoshiki pada Hana lalu ia segera menuju tempat parkir.

"Kau tidur selama 3 jam" ucap Tomuro. Sementara Hana masih sibuk mengancingkan mantel hangat yg diberikan Misaki.
"Hontou? Selama itu kah?"
Tomuro tersenyum aneh. "Dan selama itu dia terus memegangi tanganmu. Mengelus puncak kepalamu. Dan berguman sesuatu di telangamu"
"Eh?" Hana menatap Tomuro.
"Lalu setelah itu dia berbasah-basahan di luar"
"..." Hana tak menjawab. Ia mengingat jelas, beberapa helai rambut Yoshiki memang sedikit basah.
"Aku tahu kau marah, tapi kau harus kembali padanya. Dia semakin menyedihkan saja"
Hana tau. Siapa yg dimaksud dengan "dia" dalam ucapan Tomuro barusan.
Yoshiki Kuroto. Itulah subyek yg tepat. Subyek yg menjadi tokoh utama luar biasa dalam hidupnya.
"..." Hana tak menjawab, setelah mengenakan mantelnya secara sempurna ia segera bergegas menuju tempat parkir.

"Hn. Sepertinya aku belum mengucapkannya. Selamat... Atas hari jadimu dengan si sialan itu" ucap Yoshiki dengan nada dingin dan khas mengejek. Tangannya meremat kemudi mobil Lamborghini putihnya.
"..." Hana tak menjawab. Bibirnya tertekuk.
Onix Yoshiki melirik Hana sedikit.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Yoshiki.
"ehm, sudah baikan" Hana tersenyum, "setelah istirahat tadi tubuhku lebih nyaman. Oh ya aku tidur sampai berapa jam tadi ya?" ucap Hana disengaja seperti bertanya pada diri sendiri. Namun ia ingin memancing Yoshiki.
Yoshiki menjawab "3 jam" seperti yg di katakan Tomuro, atau..."Hn. Entahlah, aku tidak peduli, yg terpening adalah kau harus tetap hidup untuk memberikanku kekuatan"
Hana tersenyum sedih. Ia semakin bingung. Sangat bingung.
Sebenci itukah Tuhan padanya hingga mempermainkan perasaannya seperti ini?
Read More ->>

Kamis, 09 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 80]

Chap 80

Ditiupnya perlahan sup merah itu. Dengan sendok sup yg tersedia Hana mulai mengecap rasa sup merah itu.
Sementara Misaki masih terlihat sibuk dengan trolinya.
Hana kembali menyuapkan sesendok sup merah hangat ke mulutnya. Mengecapnya perlahan lalu di telannya. Sehingga menciptakan suasana panas di perutnya yg terasa dingin.
"Yo!" sebuah suara 'Drak' terdengar.
Refleks Hana dan bahkan Misaki pun menoleh ke asal suara.
Rambut merah menyala bagai jilat api neraka. Mata menyala bagai mata hewan buas yg siap menerkam siapapun. Kulit putih pucat menawan.
"Tomuro-kun?" ucap Hana.
"Bukan. Aku pengantar paket"
"he??" Hana sweatdrop.
Tomuro berjalan mendekat ke arah Hana.
TEP. Tangannya langsung memegang dahi lebar Hana. Tentu saja untuk memeriksa keadaan Hana.
"wah benar suhumu tinggi sekali"
"hmmm" Hana hanya berguman malas. Kembali dikecapnya sup merah di tangannya.
"Kau nampaknya butuh sesuatu yg mampu membuatmu berkeringat, supaya demammu sembuh" Tomuro melangkah mendekati Misaki. Ekor Saphire Hana hanya mengikuti setiap gestur Tomuro.
"seperti ini..." Tomuro menyambar wajah Misaki, mengarahkan wajah merona maid itu ke wajahnya. Lalu dimasukannya lidahnya ke dalam mulut sang maid.
Misaki awalnya cukup kaget. Tapi akhirnya ia menikmati setiap panggutan lidah Tomuro.
Mereka bercumbu hampir lebih dari 2 menit. Ruangan berantakan itu pun untuk sesaat di penuhi suara 'lck...clk...ckl...' aneh.
Wajah Hana merona melihat adegan luar biasa di depannya.
"seperti itu" Tomuro tersenyum menatap Hana setelah menyudahi aksi gilanya.
"apa maksudmu sih?" Hana memalingkan wajahnya menahan rona malu di wajahnya.
"Hahaha aku hanya bercanda" Tomuro tergelak.
"Ah ngomong-ngomong, kenapa kamar ini berantakan sekali?" mata Hana menelusuri setiap sudut kamar Yoshiki--yang dulu juga kamarnya.
"itu..." Misaki berguman tidak jelas.
"Dia mengobrak-abrik tempat ini" jawab Tomuro.
Fokus Hana teralih kepada Tomuro seketika.
"Tepat setelah kau menerima pernyataan cinta si ketua klub pecinta alam itu" lanjut Tomuro.
"Eh? Kenapa?"
"Menurumu kenapa? Bayangkan saja. Seorang suami tiba-tiba melihat istrinya, yg seharusnya ada di dekatnya tiba-tiba harus melihat istrinya menerima pernyataan cinta orang asing. Tertawa bahagia bersama orang asing itu. Sang suami sangat tidak terima hal itu. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa melampiaskan kemarahannya pada sesuatu yg lain. Pada kasus ini, kamar ini lah korbannya" Tomuro berjalan menghadap cendela malam yg tirainya di buka sehingga memantulkan cahaya bulan--membelakangi Hana.
"Ak...Aku bukan siapa-siapanya. Aku hanyalah pemasok kekuatannya" Hana terbata.
"Khu..." Tomuro terkekeh lagi.
"Kau benar-benar bodoh. Coba kau fikir kembali--"
"Hn." ucapan Tomuro terhenti saat terdengar gumanan dingin yg bahkan sanggup mengalahkan dinginnya udara saat ini.
"Bagaimana demammu?" Yoshiki datang menghampiri Hana.
Hana yg tengah duduk di pinggir ranjang entah kenapa tak bisa berkata apapun. Entah mengapa.
Read More ->>

Rabu, 08 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 79]

Chap 79

Pergerakan Hana membuat Yoshiki sadar dan menatap Hana yg berada dalam gendongan bridal style-nya sudah terbangun sempurna.
"Eh?" Hana mencoba berontak.
Namun pegangan tangan Yoshiki jauh lebih erat.
Langkah kaki jenjang Yoshiki berhenti di depan sebuah pintu berdaun dua yg cukup besar. Pintu itu terbuka keduanya. Segeralah si pemilik kamar memasuki ruangan di balik pintu itu.
Mata saphire Hana melihat sekitar. Ia hafal betul tempat yg dimasukinya.
Cukup gelap, tapi tak membuatnya lupa ruangan yg menjadi saksi betapa Hana mencintai pria yg menggendongnya.
SRAK.
Kaki Yoshiki terdengar menginjak banyak kertas.
Penasran, Hana segera menengok kebawah, saat itulah ia sadar ruangan yg ini berbeda dengan ruangan yg dulu. Ruangan ini sangat berantakan. Kertas-kertas berserakan. Buku berjatuhan. Dan lain sebagainya.
Yoshiki menjatuhkan tubuh Hana dengan perlahan di atas ranjang empuk berwarna putih.
"Misaki!" teriak Yoshiki.
"Yes, My Lord?" seorang maid berambut coklat datang menghampiri Yoshiki setelah sepersekian detik.
"Buatkan dia sup yg hangat. Coklat panas, atau apapun itu. Dan berikan dia pakaian yg lebih hangat"
"Yes My Lord" maid itu berojigi.
Tubuh Hana nampak semakin tidak enak--sedikit mati rasa. Bibirnya terasa kering. Matanya berat. Padahal ia sangat ingin terjaga dan mendengarkan pembicaraan Yoshiki.
Tapi rasa kantuk terus menyerang kedua kelopak matanya. Membuatnya tak mampu terus bertahan membuka mata.
Setelah kepergian Misaki, Yoshiki--dengan kedua tangannya berada di dalam saku celana kainnya--beralih pandangan ke arah Hana yg kembali tertidur pulas.
"..." Yoshiki menatap Hana dengan kedua alis berkerut ke atas. Matanya sarat akan kesedihan.
Tangan kanannya bergerak keluar dari saku celananya dan mulai mengelus puncak kepala Hana hingga rambut pendek Hana.
"Tidak bisakah kau mengerti perasaanku My Lady?" guman Yoshiki.

Kedua saphire Hana perlahan membuka kembali. Mengerjap perlahan lalu terbuka sedikit.
"nghhh" eluh Hana sambil meregangkan tubuhnya.
"Ohayou... My Lady" suara Misaki menyambut bangunnya Hana.
"Eh? Ohayou Misaki-san" jawab Hana sambil mengucek matanya.
"Bagaimana tidur anda?" tanya Misaki sambil tersenyum. Tangannya sibuk menyiapkan sesuatu di atas nampan.
"GAWAT! AKU TERTIDUR! ADUH! AKU HARUS SEGERA PULANG!" Hana segera bangkit begitu saja setelah menepuk jidatnya.
Misaki menahan Hana dengan lembut.
"Anda bisa demam lagi jika keluar dari sini"
Hana menyentuh puncak kepalanya.
"Aku sudah sembuh!"
"Tapi My Lord meminta saya supaya anda tetap disini sampai demam anda turun. Suhu badan anda masihlah 38 derajat."
Hana tak melawan. Apalagi Misaki terus berusaha mendorong tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang.
"Silahkan" Misaki menyajikan sebuah bubur berwarna merah di atas sebuah nampan.
KRUYUK.
Perut Hana berbunyi saat hidungnya mencium bau lezat yg menguar dari kuah sup.
"glek" Hana menelan ludah.
Misaki kembali tersenyum.
"K-kalau begitu... Itadakimasu" Hana membawa mangkuk kecil berisi sup.
Read More ->>

Selasa, 07 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 78]

Chap 78

"Jadi, si sialan itu tidak datang padahal dia yg mengajakmu." ucap Yoshiki. Matanya masih tetap fokus kepada jalanan yg telah terbasahi oleh air hujan.
Hana--yang duduk di kursi disamping kursi kemudi--hanya bisa bungkam.
"Kenapa kau tiba-tiba memaksaku untuk pulang bersamamu?" tanya Hana setelah bungkam cukup lama.
"Kalau aku meninggalkanmu, kau tidak akan pulang sebelum menatap wajah si sialan itu"
"kenapa kau memanggilnya dengan sebutan 'si sialan' dia memiliki nama"
Kedua tangan Yoshiki meremas roda kemudi dengan keras. "Karena aku membencinya."
"kenapa? Dia tak berbuat salah denganmu"
"..." Yoshiki terdiam sesaat. Matanya sarat kebencian.
"khu" Yoshiki terkekeh pelan.
Tangan kanannya tiba-tiba meremas bagian dadanya. Sementara tangan kirinya masih sibuk dengan kemudi.
Hana menatap Yoshiki yg bertingkah aneh.
'Sialan. Disini sakit sekali.' rutuk Yoshiki dalam hati. Flashback ringan menghantuinya. Saat dimana Kaba menarik tangan Hana. Saat Kaba menyatakaan perasaannya kepada Hana. Saat Hana dan Kaba saling tersenyum satu sama lain....
Mulutnya masih sibuk terkekeh aneh.
"Jika kalian sampai melanjutkan hubungan kalian sampai tahap yg lebih. Akan kubunuh dia, atau bahkan kau pun kubunuh" guman Yoshiki.
"Eh?" Hana kaget mendengar pernyataan Yoshiki.

Guyuran hujan memecahkan suasana sepi yg melanda antara Yoshiki dan Hana. Kepala Hana sendiri terlalu kalut untuk berfikir. Disebelahnya, adalah suaminya--entahlah mungkin ini sebutan yg benar--tengah sibuk menyetir. Suaminya yg sangat dicintainya. Suaminya yg sangat ia percaya. Suami yg terlah menghancurkan perasaannya berkeping-keping. Suami yg telah memberikannya kehangatan.
" ... ." Hana terdiam. Tubuhnya kembali mengigil. Digosokannya kedua tangannya yg memerah. Kedua kakinya dinaikkan ke kursi hingga lututnya menekuk dan bertemu dengan dagunya.
Yoshiki yg menyadari itu segera mematikan AC yg menyala di dalam mobil.
Hana menggosokkan lagi kedua tangannya lalu ditiupkannya udara hangat dari mulutnya untuk menghangatkan tangannya.
Saat itu Hana mencium suatu bau. Bau familiar yg selalu mengguncah jantungnya.
'Ini... Bau Yoshiki...' pikir Hana. Seketika wajahnya memerah samar. Entah kenapa rasanya sangat hangat dan tenang saat mencium bau maskulin dari tubuh suaminya itu.
TEP.
Tiba-tiba sebuah tangan lebar nan hangat menyentuh dahi Hana. Hana yg sempat menutup matanya tadi segera membuka matanya.
"kau hampir demam" ucap Yoshiki dingin. Tapi raut wajahnya menunjukkan kekuatiran. Segera diinjaknya pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju suatu tempat.

"nghhh?" Hana berguman pelan. Matanya terbuka perlahan-lahan. Sebuah cahaya yg cukup terang membuatnya kembali mengatupkan matanya.
'hng? Rasanya seperti digendong. Mimpi...' pikir Hana setengah sadar. Tapi lama kelamaan tubuh Hana sedikit tergoncang. Mungkin tempo langkah kaki si penggendong semakin lebar.
'Tunggu!' Hana segera membuka kedua matanya.
Saphirenya bertemu dengan dagu pria yg sangat dikenalnya.
Read More ->>

Senin, 06 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 77]

Chap 77

Awalnya Hana menatap Kaba dengan tatapan bingung dan curiga.
"Baiklah, kutunggu" jawab Hana akhirnya.
Saat bel pulang sekolah mulai menggema keadaan langit sudah sangat gelap. Padahal jam dinding masih menunjukan pukul 4 sore. Mendung. Menurut perkiraan cuaca pun nampaknya akan turun hujan walaupun tidak sampai badai.
Hana segera membersihkan mejanya dan membawa tas punggungnya keluar kelas dengan tergesa-gesa.
"..." mata onix Yoshiki mengikuti Hana.

"Apa maksudmu obat itu tertinggal?!" bentak seorang siswa berambut perak.
"Go-gomen Senpai!" Kaba hanya bisa menunduk mendengar bentakan dari seniornya.
"cih. Gagal sudah rencana kita!" rutuk siswa lain.
"Sudahlah, masih ada hari esok. Jika dia masih meninggalkan obat itu, maka kita tinggal menggunakan adiknya" seorang siswa dengan rambut hitam ikal nampak tengah bicara dengan santai.
"Hentikan. Jangan lakukan apapun lagi kepada adikku!" wajah Kaba berubah drastis seperti pengecut.
"kau bawa obat itu besok. Kita berhasil menikmati Hana, adikmu bebas" jawab siswa lain dengan seringai di wajahnya.

Hujan sudah mengguyur sejak 10 menit lalu. Membasahi seluruh area Mirai no Gakoo.
Sementara Hana masih tak bergeming dari tempatnya. Ia menunduk menatap bola basket yg dibawanya tadi untuk menghibur diri menunggu Kaba.
Tubuhnya basah kuyup sempurna. Namun ia masih tak mau beranjak dari tempatnya.
Tiba-tiba sebuah mantel hangat khas seragam laki-laki Mirai no Gakoo menutupi bagian punggung Hana.
Hana mendongkak kaget. Dilihatnya Yoshiki tengah berbasah-basahan di dekatnya dengan memakaikan mantel seragam miliknya.
Wajah dinginnya masih tak berubah.
"Kau bisa sakit." Yoshiki marik tangan Hana dan membawanya berteduh di bangku penonton yg beratap.
'Tangannya... Hangat..' ucap Hana dalam Hati saat merasakan tarikan tangan Yoshiki.
"Apa kau bodoh? Tidak bisa kah kau menunggu si sialan itu disini? Tidak perlu berhujan-hujanan segala!" omel Yoshiki setelah Hana mendudukan pantatnya di salah satu bangku penonton. Sementaar Yoshiki masih berdiri di depan Hana.
"ma-maaf" entah kenapa Hana malah meminta maaf.
Tubuh Hana menggigil sebentar. Wajar jika Hana kedinginan. Suhu sudah mencapa 17 derajat sekarang.
"ck!" decak Yoshiki.
"gunakan ini" Yoshiki memberikan beberapa lembar pakaian--yg entah sejak kapan di bawanya.
Sebuah satu set pakaian lengkap dengan pakaian dalam.
"i-ini?" Hana menatap bingung.
"Pakaian yg sudah kusiapkan untukmu beberapa waktu lalu"
"eh?"
"Kau belum mengenakannya jadi benda ini tak termasuk pengecualian terhadap kekuatanku"
"be-begitu"
"Hn. Gantilah diujung sana. Tak akan ada yg mengintipmu. Akupun tak akan mengintipmu"
Hana tersenyum menerima pakaian hangat yg diberikan Yoshiki.

Tak lama kemudian Hana selesai mengenakan semua pakian hangat yg diberikan Yoshiki. Kini tubuhnya terbalut oleh coat berwarna hijau navy. Dibaliknya terdapat berlapis-lapis yg memungkinkan dirinya tak akan kedinginan lagi.
"Hn" Yoshiki bangkit dan menatap Hana.
Read More ->>

Minggu, 05 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 76]

Chap 76

"Sebenarnya apa yg terjadi dengan kalian! Aku tak mengerti! Yg ku tahu waktu hari pertama masuk sekolah kau menemui kami dengan wajah sembam dan menceritakan bahwa kau dan Kuroto putus dengan menangis." ucap Yui.
"..." Hana tak menjawab. Tentu saja, mana mungkin Hana menceritakan semua hal rumit dan luar biasa dihidupnya bersama Kuroto Yoshiki.
"Dia... Tidak memperkosamu kan?" tanya Maki.
DEG.
Tubuh Hana bergetar mendengar pertanyaan Maki.
"a-a..." lidah Hana sempat keluh, "-tentu saja tidak. Jangan bercanda ah Maki"
"Habis kau tidak seperti biasa, seperti... Ada yg hilang darimu"
"Ya. Shiro juga merasa begitu" timpal Shiro.
"itu hanya perasaan kalian" Hana berusaha menutupi.
"Hhh... Hana dengarkan aku. Apapun yg terjadi kami tetap sahabatmu. Kami akan sekuat tenaga membantumu apapun itu masalahnya. Ya kan?" Yui menatap Maki dan Shiro bergantian.
"uhm" Maki dan Shiro mengangguk.
Hana tersenyum rapuh, "terima kasih kawan-kawan"

"Jadi kau benar-benar menembaknya Kaba?" sebuah suara terdengar di ruangan klub pecinta alam.
"y-ya begitulah"
"Kau benar-benar menyukainya ya?" terdengar suara lain yg berbeda.
"t-tentu saja"
"hhh apa sih yg bisa disukai dari anak itu" rutuk suara lain.
"..."
"sudahlah, yang penting dengan begini rencana kita untuk mencicipi gadis liar akan terpenuhi" sahut suara yg pertama.
"kuharap dia seliar seperti gayanya. Sehingga bisa asyik jika kita BDSM dia" sahut suara baru.
"Kau mau mem-BDSM anak itu?" suara ketiga.
"Entah, hanya bayangan saja"
"Kau tidak melupakan rencana kita kan, ketua?" tanya suara kedua dengan menampilkan seringai.
"..." Kaba hanya bisa menunduk.

"Hanaaa~" seorang siswi berkacamat tiba-tiba memeluk Hana dari belakang.
"Eh? Arui-san?" Hana kaget.
"Kamu jadi dengan Kaba-kun ya?"
"eh... I-iya"
"Pajak Jadian dong" jawab Arui dengan senyumnya.
"eh?" Hana shock berat.
"Pajak! Pajak!"
"Go-gomen Arui-san ta-tapi aku... Harus menabung" jawab Hana.
"aaaaa Hana gak asyik. Kamu nyasar ya di kelas ini? Miskin sendiri"
DEG. Tubuh Hana membeku.
Yoshiki mendongkakkan wajahnya menatap Arui.
"Ha-Hana?" tiba-tiba seorang siswa yg suaranya sangat familiar di telinga Hana memasuki ruang kelas.
"Eh? Kaba-kun?" Hana kaget.
"Wah pacarnya datang. Hoy kau pacarnya kan? Setidaknya rayakanlah hari jadianmu dengannya" Arui menatap Kaba.
"Arui? Baiklah nanti saja" Kaba mendengus setelah menatap Arui. Sebenarnya Kaba dan Arui berasal dari kelas yang sama, yaitu kelas 1-1.
"Baik. Kupegang janjimu"
Kaba mengangguk.
Seperti orang yg tergesa-gesa, Kaba segera menyambar dan menarik tangan Hana.
"..." Onix Yoshiki masih mengekor kepada Kaba dan Hana.
Tangannya meremat udara dengan keras.

"Hana, nanti bisa tunggu aku setelah pulang sekolah?" tanya Kaba dengan nada yg aneh--sulit dijelaskan.
"ung? Ada apa denganmu Kaba-kun? Kau nampak aneh?" Hana menatap Kaba.
"ah ti-tidak, tidak apa. Bisa kan?"
"baiklah. Dimana?"
"Lapangan basket out door"
"Oke. Ada apa memang?"
"i-ini ke-kejutan"
Read More ->>

Sabtu, 04 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 75]

Chap 75

"AKU INGIN LEPAS DARIMU! APA SALAHNYA BERPACARAN DENGAN ORANG LAIN!?" teriak Hana tak kalah keras.
"Kau istriku My Lady..." suara Yoshiki merendah.
Hana terdiam saat mendengar Yoshiki memanggilnya 'My Lady'.
"Kau milikku. Tubuhmu, jiwamu, dan cintamu hanya milikku!!" Yoshiki tanpa sadar mendorong tubuh Hana semakin keras ke arah dinding.
"arghhh..." Hana mengerang kesakitan.
BRUK!
Yoshiki menarik tubuh Hana dan mendaratkannya dengan kasar di sofa terdekat.
Segeralah ditindihnya tubuh kecil di depannya.
"ukh" Hana hanya bisa menggerang.
Yoshiki semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Hana.
"sa-sakit..." Hana menggerang lagi.
Yoshiki tercekat saat mendengar Hana merintih.
Tubuhnya mundur perlahan lalu terduduk di sofa.
"gomen" ucap Yoshiki.
Lalu pria berambut emo itu bangkit dan pergi meninggalkan kediaman Rayumi.
Sementara Hana hanya bisa terdiam di tempatnya. Menahan rasa perih di bagian tulang punggungnya.

15 menit setelah kepergian Yoshiki, pintu rumah kediaman Rayumi terdengar seperti diketuk dari luar.
Hana--dengan tangan masih memegangi tulang punggungnya--berjalan menuju pintu dan membukakan pintu itu.
Nampaklah seorang pria paruh bayah dengan pakaian serba putih.
Siapapun pasti tau kalau pria itu seorang dokter rumahan.
"eh? Apa anda salah alamat?" tanya Hana cengo. Tentu saja, ia sama sekali tak merasa telah memanggil dokter.
"Hana Kuroto-sama?" dokter itu menatap Hana.
"a...ah... I-iya" Hana menjawab dengan tersendat-sendat. Dokter itu memanggilnya dengan nama 'Hana Kuroto'. Akhirnya taulah Hana siapa dalang dibalik kedatangan dokter ini.
"Suami anda berkata sepertinya anda memiliki rasa sakit di bagian punggung" ucap dokter itu.
"Suami?"
"Benar. Suami anda"
"a...ah baiklah silahkan masuk"
"Sepertinya ada bagian yag memar. Tapi tidak masalah. Dibiarkan juga akan sembuh dalam 2 hari. Tolong jangan gerakan terlalu berlebihan tulang punggung anda" jelas dokter itu setelah memeriksa bagian belakang Hana selama setengah jam.
"Baik dokter. Terima kasih" Hana berojigi.

"Jadi... Kau jadian dengan Kaba-san?" tanya Yui sembari meminum white-coffe-nya.
"begitulah" jawab Hana biasa.
"Hey kau jadian tidak sih? Kok seperti biasa-biasa saja begitu?" tanya Maki.
"aku jadian kok" jawab Hana.
"..." Shiro tak berkomentar. Ia masih berkutat dengan es krim vanilla-nya.
Empat sahabat itu kini sedang melakukan "rapat penting". Setidaknya mereka menganggap begitu. Walaupun hal yg dibahas selalu tidak penting rata-rata.
"boleh aku bertanya lagi?" pinta Yui.
"hmm?" Hana menatap Yui.
"Kau... Masih menyukai Kuroto kan?"
DEG.
Tepat sekali Yui. Pertanyaanmu bagaikan panah bermata api yg menusuk tepat di pusat tubuh Hana.
Hana menunduk sebentar. "enathlah..."
"Kau mau menjadikan Kaba sebagai pelampiasan perasaanmu?" tanya Yui lagi.
Hana semakin menunduk.
"Aku hanya ingin melupakannya" jawab Hana dengan nada rendahnya.
Read More ->>

Jumat, 03 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 74]

Chap 74

"kalau begitu. Aku permisi. Selamat malam... Hana..." Yoshiki melangkah keluar dari kediamaan Rayumi.
Sementara Hana hanya bisa memandang mobil hitam Yoshiki melaju kencang hingga tak terlihat.

Keesokan harinya kelas Exelent kedatangan Kaba si ketua pecinta-alam. Siswa bertubuh tegap itu segera berjalan menuju bangku Hana--yg melewati bangku Yoshiki--dan mengagetkan Hana dengan kedatangannya.
" ... ." ekor mata Yoshiki mengikuti pergerakan siswa itu.
Diambang pintu kelas Exelent terlihat Yui, Shiro, dan Maki tengah asik mengintip.
"R-Rayumi-s-san...?"
"Eh? K-kaba-s-san?" Hana mendongkak menatap wajah Kaba.
"B-bisa bicara di luar?"
"B-boleh" mereka segera melangkah keluar kelas Exelent.
" ... ." setelah memastikan kedua orang itu telah meninggalkan ruangan, Yoshiki segera bangkit dari duduknya dan membuntuti kedua orang tersebut.
Saat melewati pintu kelas Exelent, Yoshiki berpapasan dengan Yui, Shiro, dan Maki.
Langkahnya terhenti saat mendapati Hana dan Kaba ternyata hanya duduk di dudukan marmer di dekat kelas Exelent.
Hana duduk di dekat Kaba dengan jarak tidak lebih dari 10cm, apalagi wajah Hana yg tersipu malu ketika menatap wajah Kaba. Membuat Yoshiki terus berdecak dan menahan rasa geram dirinya.
"Sudah makan?" tanya Kaba.
"Sudah. Kau sendiri?"
"Belum, tapi asal bersamamu aku tetap bisa kenyang kok"
"Hahaha, kau jago ngegombal ya"
"Yoshiki Kuroto itu... Dia matanmu?"
"a...." Hana terbata sebentar. "I-iya"
"Oh, lalu apa hatimu masih bisa menerima seorang lagi?"
"a-apa maksudmu?"
"maksudku, aku menyukaimu. Maukah kau menjadi pacarku?" Kaba, dengan wajah super seriusnya menatap Hana meminta jawaban.
Refleks wajah Yoshiki menatap dua sejoli itu dengan tiba-tiba begitu ia mendengar pernyataan Kaba terhadap Hana.
"Tapi... Aku..." Hana menunduk bingung.
"tak apa, aku akan menunggu, sampai kau siap" jawab Kaba.
"apakah kau... Mencintaiku, Kaba-kun?"
"tentu! Itu sudah pasti!"
"K-kalau begitu. Ini tanggal jadian kita" Hana memalingkan wajahnya yg memerah.
DEG. DEG. DEG.
Tubuh Yoshiki bergetar hebat. Ia sempat limbung namun untunglah ia bisa menahan keseimbangannya.
'Hana menerimanya. Dia serius ingin pergi dariku. Tidak! Tidak akan kubiarkan! Kau hanya milikku seorang!'

BRAK!
Rumah depan kediamaan Rayumi terbuka dengan paksa oleh seseorang. Hana yg mendengar itu sangat kaget, ia segera menuju ruang depan dengan tergesa-gesa.
Saat sampai di ruang depan Hana sangat shock. Ia melihat Yoshiki disana. Berdiri di ambang pintunya. Dengan aura hitam menguar di belakangnya.
"APA MAKSUDMU!?" teriak Yoshiki dari tempatnya.
Hana hanya menatap Yoshiki bingung.
GREP--
Tiba-tiba tubuh Yoshiki sudah berada di depan Hana dan menghimpitnya di antara tembok.
"APA MAKSUDMU MENERIMA PERNYATAAN CINTANYA??" Lagi, Yoshiki mempertegas pertanyaannya. Tanpa menurunkan satu oktafpun suaranya.
"Lepaskan arghh-ku!" rintih Hana, ia berusaha mendorong jauh pria berotot di depannya.
"JAWAB AKU!!" Yoshiki masih ngotot.
"..." Hana terdiam sebentar.
Read More ->>

Kamis, 02 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 73]

Chap 73

Tubuh kecilnya merosot kebawah.
Otaknya merekam kejadian tadi saat Yoshiki mencegah tangan pelanggannya untuk menyentuh dada ratanya.
"Hentikan sikapmu itu..." guman Hana.
Ia menenggelamkan kepalanya di antara kedua kakinya yg kini telah di tekuk.
"Berhenti membuatku mencintaimu..."

Sejak kejadian itu, Yoshiki lebih sering memperhatikan Hana.
Ia selalu menguntit Hana dari kejahuan. Agak konyol memang, tapi mau bagaimana lagi? Dirinya 'buta' akan Hana.
Pernah terjadi, saat berjalan pulang dari sekolah Hana merasa ada sosok yg mengikutinya. Dikejarnya sosok itu yg kemudian ikut berlari setelah mendengar derap lari Hana menuju tempat sepi dan kemudian sosok itu menghilang.
Berkat itu pekerjaan Yoshiki sebagai 'calon penguasa dunia' harus terhenti sementara.
Saat di kelas pun Yoshiki diam-diam mengamati wajah Hana dari belakang.

"Hana, kau dapat salam dari Kaba-kun dari kelas 2-4" ucap seorang siswi kepada Hana.
Yoshiki yg tak sengaja mendengar itu mulai mencuri dengar.
"Kaba-kun? Si ketua klub pecinta alam itu?" tebak Hana.
"benar"
"Kenapa?"
"Entahlah. Dia tiba-tiba berkata begini padaku, 'tolong aku titip pesan kepada Hana Rayumi siswi di kelasmu', begitu"
"Dia pasti menyuakimu Hana..." siswi lain yg berambut jingga ikut bicara.
"ah mana mungkin" canda Hana.
" ... ." Yoshiki yg sedari tadi menjadi pendengar yg baik hanya bisa diam membisu. Perasaannya campur aduk.

From: Maki
jadi, Kaba-kun menyukaimu. Aku tak meragukan itu.

To: Maki
kau gila. Aku saja baru saja mengenalnya kemarin

From: Maki
tapi gosipnya dari kelas 2-4 mengatakan kalau Kaba-kun menyukaimu

Dan begitulah, di tangah pengerjaan tugas Math, Hana malah asyik berkirim email dengan Maki.

TOK. TOK. TOK
Ketika hendak mengetik balasan dari email konyol itu terdengarlah suara ketukan dari pintu depan.
Diliriknya jam dinding di dekatnya. Pukul sembilan malam. Kira-kira siapa yg akan berkunjung di rumah orang di jam malam seperti ini.
Segeralah di buka pintu depan itu setelah Hana mencapainya.
"konban--" ucapan salam Hana terhenti saat melihat sosok tampan dengan rambut shagy-nya.
"..." sosok itu menatap Hana datar.
"Yoshiki-kun? Kenapa kau disini?"
"aku kebetulan lewat daerah ini. Dan memutuskan untuk berhenti"
"oh begitu. Masuklah kalau begitu"
"Hn" Yoshiki memasuki kediaman Rayumi dan segera menduduki sofa kosong di ruang depan.
Hana menuju dapur dan tak lama ia datang sambil membawa sebuah nampan berisi ocha.
Hana menyajikan ocha hijau itu di depan Yoshiki.
"Kaba... Menyukaimu?" Yoshiki buka suara.
"Eh?"
"apa dia menyukaimu?"
Hana tak menjawab.
"apa kau juga mencintainya?"
Lama Hana tak menjawab sampai akhirnya ia berucap, "jika dia memang menyukaiku, maka itu akan menjadi ide yg bagus bagiku untuk move on."
"Hn..." guman Yoshiki.
Terjadi keheningan yg cukup terasa selama kurun waktu 5 menit.
Jujur Hana merasa tak nyaman, tapi mengingat renggangnya hubungan antara dirinya dan Yoshiki membuatnya memilih diam.
Yoshiki meminum ocha yg disajikan Hana.
Read More ->>

Rabu, 01 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 72]

Chap 72

Hana berteriak emosi pada dua pria di depannya.
"Hana, kau mau ikut pria itu atau kau mau kuhukum seperti yg lain?" si pemilik Bar mengancam.
Yoshiki segera menarik Hana keluar dari tempat itu.

Ketika mencapai tempat parkir Hana sedikit meronta dan menolak.
Karena Hana menolak mau tak mau Yoshiki bertindak kasar. Ia membuka mobilnya dengan cepat dan memaksa Hana memasukinya, lalu mengunci pintu mobil itu. Setelah itu ia harus memutar dan masuk pintu sebelah--bagian kemudi.
Dijalankannya mobil Pigeot-nya.
"Apa maksudmu membeliku?" akhirnya Hana buka suara.
Yoshiki tidak bergeming, masih fokus dengan kemudinya.
"Aku tidak mau berhutang lagi kepadamu..." Hana bicara lagi.
" ... ."
"...ah aku tahu. Kau 'membeli'ku seharga 4 milyar yen supaya kau bisa melakukan hal 'itu' sepuasnya kan? Supaya kekuatanmu--"
CKIIIIT. Mobil berwarna putih mengkilap itu terhenti seketika.
"Suami macam apa yg rela tubuh istrinya dijamah orang lain!?" ucap Yoshiki parau--setengah berteriak.
Hana hanya melirik Yoshiki, tak berani menatapnya secara langsung.
"Apa... Apa maksudmu bekerja di tempat seperti itu? Apa maumu!? DASAR PELACUR!" teriak Yoshiki emosi.
PLAK!
Tak segan, tangan Hana menampar pipi Yoshiki dengan sangat keras.
Yoshiki terdiam tak bergeming.
"Kau fikir aku mau bekerja di tempat seperti itu!?" tanya Hana dengan sedikit rendah.
"Aku ditipu! Dia si tua itu mengatakan akan mempekerjakanku sebagai maid di sebuah resto! Aku terlanjur menandatangani kontrak kerja!" Air mata Hana sudah terlanjur menganak sungai.
"lalu kenapa kau membriarkan pria tadi hampir menyetuhmu?" Yoshiki kembali ke duduk semulanya--menatap kemudi.
"Aku takut! Aku tak bisa berbuat apa-apa! Lalu kau sendiri bagaimana? Kenapa kau ada disana? Apa kau mencari PELACUR juga disana?" tanya Hana tak kalah emosi dengan menekan kata 'pelacur'.
"Bagaimana jika pria tadi benar-benar menyentuhmu?" tanya Yoshiki dengan nada berat.
" ... ." Hana terdiam. "D-dia hanya menyentuh dadaku. Kekuatanku tidak akan diambilnya hanya karena ia menyentuh dadaku"
Yoshiki menggeratkan giginya, tangannya mengepal menggenggam kemudi. Tubuhnya bergejolak setelah mendengar jawaban Hana.
"TIDAK ADA PRIA LAIN YANG BOLEH MENYENTUHMU SELAIN AKU!!" ucap Yoshiki tegas.
"Kenapa? Hubunganmu dan aku hanyalah budak-dan-tuan. Walaupun aku budakmu, aku masih memiliki HAK untuk bersama orang lain. Kau menikahiku juga untuk mempertegas hubungan budak-tuan kita kan?"
Yoshiki tersenyum miris. Hatinya hancur berkeping-keping.
Pria berambut shagy itu terdiam sesaat.
"Aku tidak ingin melihatmu bekerja di tempat seperti itu lagi" lalu dijalankannya mobil mewah itu menuju kediaman Rayumi.

Setelah melewati perdebatan yg cukup lama, akhirnya Hana menerima uang dan segala bantuan dari Yoshiki.
Hana terdiam menatap amplop kuning berisi uang dari Yoshiki. Jangan tanyakan jumlah, karena Hana sendiri belum melihat isinya.
Hana menatap nanar amplop kuning itu lalu melemparnya begitu saja. Ia menangis dalam diam. Tubuhnya pun bergetar.
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.