Kamis, 30 Oktober 2014

Yami no Ai [Chapter 101]

Chap 101

Pria bermata setajam elang itu tahu betul jalan pikiran pria tua sialan yg seperti menginterogasinya.
"Walaupun kau ketua kementrian aku tidak akan segan membunuhmu jika kau berani menyentuh milikku" ujar Yoshiki serius.
"'Milikku?' anda bahkan belum melakukan perjanjian darah" pria tua itu sedikit terkekeh.
Yoshiki kembali terdiam.
"Dia hanyalah manusia My Lord. Kita tidak perlu memperdebatkan seorang manusia yg telah berani mengkhianati suaminya," si pria tua nampak sedang me-'replay' sebuah rekaman kamera cctv jalanan yg sepertinya menangkap bayangan Hana dan Kisaragi tengah berboncengan--dengan tangan Hana berpegang pada jacket Kisaragi.
Tanpa diduga ada suatu perasaan yg seperti mencubit Hatinya. Yoshiki merasakan itu.
Jelas sekali, ia tidak suka melihat Hana--yg ia claim sebagai miliknya--berdekatan dengan pria lain. Apalagi dengan posisi Hana yg seperti itu.
Tapi ini demi keselamatan Hana, ia harus menahan egoisnya untuk kali ini. Ya hanya kali ini.
Yoshiki hanya menatap datar rekaman cctv yg sedari tadi di re-play berkali-kali oleh si tua.
"Jadi kau memanggilku kesini hanya untuk memperlihatkan rekaman ini?" tanya Yoshiki bosan.
"Hm? Tidak, kami berharap anda berniat melepaskan dia jika anda tidak segera melakukan 'perjanjian darah' dengannya. Sebelum pasukan 'Tentara-Kristus' menyadari"
"..." Yoshiki tak menjawab, ia segera berjalan meninggalkan si pria tua.

Bunyi decitan rem motor ber-rpm milik Kisaragi memecah keheningan malam. Setelah mematikan mesin kendaraan itu, Hana segera turun dan mengembalikan helm yg tadi dipakainya.
"Arigatou ne Kisaragi-kun" Hana tersenyum menatap adik kelasnya.
"Tidak masalah. Kalau begitu aku permisi, senpai" Kisaragi balas tersenyum. Dinyalakannya kembali mesin motornya dan ia segera melaju pergi.
Setelah yakin sosok Kisaragi telah hilang ditelan kegelapan malam--ini sudah pukul 7 malam--Hana segera melangkahkan kakinya menuju rumahnya.

Keesokan paginya lagi-lagi Hana mendapati bangku pria yg selalu pikirkan bahkan sebelum tidur itu kosong.
Diambilnya ponselnya lalu diteleponnya orang yg bersangkutan.
"Halo?" terdengar sahutan suara Tomuro.
"Tomuro-kun? Kemana Yoshiki-kun?" tanya Hana kesal, kenapa lagi-lagi Tomuro yg mengangkat?
"Eh, dia sibuk!"
"Sibuk?"
"Iya. Sudah ya. Jaa" dan telepon di tutup.
Aneh. Ini aneh.
Ia harus mencari tahu sendiri. Langkah pertama, ia hanya perlu memastikan keberadaan dan keadaan Yoshiki. Nanti setelah sepulang sekolah, ia harus segera menuju manor Yoshiki.

Dengan berbekal sepeda yg tadi digunakannya untuk berangkat sekolah, Hana mengayuh sepedanya itu menuju manor Yoshiki. Walau senja sudah terlihat, tetapi semangat keingin tahuan Hana tetap tidak surut.
Sesampainya di depan manor Yoshiki, Hana segera memarkirkan sepedanya begitu saja.
Aneh, ada yg aneh. Kemana para penjaga gerbang? Kenapa... Manor ini nampak sepi?
Saphire Hana terus berkelana menjelajahi setiap lekuk manor besar di depannya.
"Hana?" suara Tomuro kembali terdengar.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.