Chap 98
"Itu artinya kau masih memikirkan masa lalumu kan?"
"Jangan bercanda. Aku hanya ingin menyimpan benda-benda itu karena aku membecinya. Terlahir sebagai manusia? Cih" Yoshiki segera mematikan kembali sumber penerangan ruangan itu. Membuat gelap gulita menyelimuti ruangan itu. Hana mengikuti langkah Yoshiki meninggalkan tempat itu.
Tempat dimana kenangan Kuroto Yoshiki dikubur.
Keesokan harinya sosok Yoshiki tak terlihat. Setidaknya hanya Hana lah yg mengetahui itu. Karena semua orang berfikir bahwa Kuroto Yoshiki masuk hari ini. Tentu saja karena Hana adalah pengecualian bagi semua Iblis. Hana spesial. Kira-kira itulah deskripsi yg tepat.
Awalnya siswi dengan rambut sebahu itu beranggapan si raja Iblis sedang sibuk mengurusi urusannya. Entahlah urusan bisnis, atau urusan lain. Hana tak mau ambil pusing.
Setelah 5 hari ketidak munculan Yoshiki, Hana menjadi cukup resah. Ia berkali-kali melirik ke bangku belakang yg merupakan bangku pria itu entah untuk apa. Apa mungkin pria itu muncul secara tiba-tiba di tengah pelajaran Ekonomi dari Makio-sensei? Tidak mungkin. Hana terlalu konyol kali ini.
Tapi sungguh, hati kecil siswi hyperactive itu sedikit berguncang. Apalagi mengingat Kuroto Yoshiki--suaminya--itu bukan manusia.
Bagaimana jika ada apa-apa?
Dan lebih buruknya lagi...
Bagaimana jika pria itu meninggalkannya?
Deg. Jantung Hana berdetak semakin kencang.
Tidak adanya Yoshiki dalam kehidupannya selama 5 hari kemarin memang membawa dampak bagus untuk kegiatan "move on"nya. Tapi tak bisa dipungkiri ia masihlah memikirkan pria bermata onix itu.
Sudah cukup. Hana sangat-sangatlah penasaran dimana keberadaan lelaki itu.
Dikeluarkannya ponsel hitamnya. Ditekannya dengan lihai beberapa tombol di ponsel itu. Sampai akhirnya ia mendekatkan speaker depan ponselnya ke telinganya.
Terdengar nada "Tuut...Tuut...Tuut..."
sampai 6 kali berturut-turut.
1 kali lagi bunyi "tuut" jika pria disebrang yg ia hubungi tak menjawab panggilan teleponnya maka kesimpulan yg muncul dibenaknya akan semakin rumit.
Satu, Yoshiki sedang sibuk dengan segala urusan bisnisnya.
Dua, Yoshiki pergi. Menjahuinya. Itu artinya juga meninggalkannya.
Oke... Seharusnya Hana senang sekarang. Yoshiki telah menghilang dari kehidupannya. Itu artinya tidak akan ada orang lain lagi yg akan memanfaatkannya.
Dia bebas sekarang... Bebas untuk... Untuk apa? Ia bebas untuk apa?
Mata Hana perlahan menjadi merah dan terasa panas. Tak terasa benda cair mengalir dari sana. Membasahi permukaan pipinya.
Benarkah... Alasan menghilangnya Yoshiki karenanya? Semoga tidak! Semoga tidak!
Sebuah getaran kecil mengalihkan kegiatan Hana. Ponselnya sepertinya bergetar.
"Panggilan masuk. Yoshiki Kuroto."
Begitulah yg tertera pada layar ponselnya.
Dengan sigap ditekannya tombol dial hijau pada ponselnya dan kini koneksi mereka tersambung.
"Hana?"
senyum sumringah Hana seketika berubah menjadi guratan murung. Yang tadi itu bukanlah suara yg sangat ditunggu-tunggunya.
Senin, 27 Oktober 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar