CHAPTER 18: UMEI YUI’S PLAN
“Kenapa kamu? Wajahmu
seperti habis diserbu lebah saja,” Yui menyadari wajah Hana yang campur aduk.
“Yaaah… biasa lah,
kena omel,” Hana menjawab santai tanpa ingin menjelaskan lebih jauh kepada Yui.
Setelah berteriak
seperti itu, Hana pasti akan diterjang oleh omelan guru-guru.
“Omong-omong,
Haru-san, sepertinya kamu punya hutang penjelasan padaku,” Hana berdiri di
samping Natsume dengan raut wajah kesal.
Natsume Haru yang
awalnya bertopang dagu malas menatap keluar jendela, menoleh ke arah Hana
perlahan. Sejenak ia menaikkan sebelah alisnya karena tidak mengerti maksud
Hana. Namun detik berikutnya ia menyadari apa yang Hana sedang bicarakan.
“Hanya tidak ingin
membiarkan serangga yang menginjak-injak harga diri My Lord terus hidup,” jawab
Natsume santai.
“Itu berlebihan!
Sangat berlebihan!” Hana mendekatkan wajahnya pada Natsume agar pembicaraan
mereka yang tidak normal tidak terdengar siapapun.
“Tidak untuk ukuran
serangga. Ayolah, siapapun tidak akan mengatakan berlebihan jika melihat ada
anak yang mencabut satu persatu kaki semu.”
Hana memijat
pelipisnya.
“Lain kali tolong,
bicarakan dulu padaku.”
“Aku juga berharap,
kamu membicarakan apapun padaku terlebih dahulu.”
Hana tersentak karena
kalimat Natsume yang membalikkan kalimatnya.
“Apa-apaan itu, kamu
saja belum mengembalikan ponselku,” Hana menggerutu. Lebih baik ia segera
kembali ke kursinya. Berdebat dengan Natsume Haru di kelas bukanlah hal yang
bagus.
.
-[Yami no Ai]-
.
“Hei hei hari ini ada
kedai krepe yang baru di buka di dekat stasiun loh, katanya diskon 70% untuk
500 pembeli pertama! Yuk ke sana!” Maki berjingkat heboh sambil menunjukkan
layar ponselnya diantara agenda makan siang empat sekawan itu.
“Asik juga, aku juka
sedang ingin Mix Berry, bagaimana kalau nanti ke sana?” Yui berceletuk.
“SHIRO MAU!” Shiro
mengacungkan sumpitnya ke udara.
Semua mata tertuju
pada Hana yang belum memberikan respon.
“Y-yah… boleh lah…”
mana mungkin Hana menolak tatapan ketiga sahabatnya itu.
.
-[Yami no Ai]-
.
Setelah jam pelajaran
terakhir terlewati, empat perempuan yang sudah tak sabar menikmati krepe
diskonan segera meninggalkan kelas diiringi rencana-rencana mereka mengenai
krepe apa saja yang akan mereka beli.
“Shiro mau Vanilla
Chesse, lalu Dark Choco, lalu Blueberry, lalu…”
“Astaga Shiro, perutmu
akan sakit jika memakan sebanyak itu,” Maki menyahuti sambil bercanda.
“Habisnya ini kan
kesempatan langkah. Hanya membayar 30% saja!” Shiro menggembungkan pipinya.
“Tapi kan tidak perlu
sebanyak itu,” Yui sweatdrop.
Hana hanya tersenyum
menanggapi.
“Krepe?”
Sebuah suara baritone
penuh tanda tanya datang dari arah belakang. Membuat kerumunan itu menoleh ke
arah Natsume Haru.
Yui tersenyum jahil
sekilas.
“Benar. Kita mau ke
kedai krepe. Mau ikut juga Haru-kun?” Dalam kepala Yui sudah tersusun sebuah
scenario yang menurutnya epic.
“Hei! Yui! Jangan
sembarangan mengajak dong!” Protes Hana. “Memangnya dia nggak malu kalau ikut
kerumunan perempuan?” Hana mendekat dan memberikan tatapan ‘jangan-ikut!’
secara bersamaan.
Natsume kembali kesal.
“Lalu bagaimana cara
anda pulang?”
“Aku akan naik taksi
atau semacamnya.”
Membiarkan Hana naik
taksi? Jangan harap Kuroto Yoshiki a.k.a Natsume Haru menyetujui Hana melakukan
itu.
“Tidak—“ Natsume
terdiam sejenak sebelum membuang nafas berat.
“Ini ponselmu, hubungi
aku jika kamu sudah selesai, akan kujemput,” akhirnya mau tak mau Natsume
menyerahkan ponsel Hana.
‘Woaaaa…. Apa ini?
Beruntung sekali!’ Batin Hana bersorak gembira. Akhirnya ponselnya kembali.
“Seharusnya kamu
berikan ponselku dari kemarin,” Hana segera meraih ponselnya dan berpaling
menuju teman-temannya.
Natsume hanya menatap
datar kepergiian Hana dan teman-temannya. Mengenai ponsel Hana, rencananya hari
ini membawanya pada seorang ‘kenalan’ yang berada di departemen komunikasi
pusat untuk memblokir lajur komunikasi ID Ponsel Hana dan ID Ponsel Ishikawa
Guren. Karena bukan Kuroto Yoshiki, ia menjadi benar-benar kesulitan dalam
banyak hal.
Sepertinya dia akan
memundurkan rencananya menjadi besok.
Getaran kecil pada
saku celananya mengusik susunan rencananya. Sebuah email masuk, tentu saja
Natsume hafal dengan getaran ponselnya sendiri.
Sambil berjalan
menuruni tangga, Natsume meraih ponselnya dan mengecek email yang baru saja
masuk.
“My Lady?” Natsume
menggumanan nama sang pengirim email.
“Jangan aneh-aneh.
Jangan menyusulku sebelum kuminta. Aku tidak mau tiba-tiba melihatmu saat
sedang memakan krepe nanti.” Begitulah isi email itu.
Jempol Natsume menekan
fungsi lock pada ponselnya dan kembali mengantongi benda persegi panjang itu.
“Ck…”
.
-[Yami no Ai]-
.
Lihat antrian para
siswa yang sudah antri memanjang di depan kedai krepe yang baru di buka itu.
Semua orang dengan kemauan yang sama untuk mendapat diskon pasti rela datang
lebih awal dari jam buka.
“Kalau begitu Yui dan
Shiro tolong carikan tempat duduk ya, biar aku dan Hana yang mengantri,” Maki
member saran.
“Boleh, aku Mix Berry
ya,” Yui tersenyum menyetujui.
“Ah Shiro mau….
Blueberry…. Vanill—“
“Shiro Blueberry
saja.” Maki menarik tangan Hana meninggalkan Shiro untuk segera mengambil
antrian.
“HEEEEEE!!??” Shiro
sendiri tidak bisa berkutik saat Yui juga menariknya.
.
-[Yami no Ai]-
.
Natsume Haru menatap
layar ponselnya yang tetap dalam keadaan mati di atas mejanya.
Sebuah email pada
layar MAC-nya mengalihkan perhatiannya pada detik berikutnya.
Dari Hazel.
Dilampirkan juga
sebuah rekaman LIVE. Natsume mengarahkan pointer pada lampiran yang dikirimkan
Hazel. Setelah memuat data untuk beberapa detik, layar monitor telah
menunjukkan sebuah rekaman langsung.
Hazel telah diberikan
misi khusus untuk datang ke Indonesia, menilik langsung daerah tempat Tomuro
ditahan.
Memasuki area paling
terbatas dalam objek vital negara bukanlah hal yang susah bagi seorang Iblis
sekelas Hazel. Masalahnya hanya tinggal melumpuhkan Exorcist yang berjaga.
Layar MAC Natsume
menunjukkan perjalanan setelah menuruni tangga di ruang turbin. Sebuah lorong
panjang dengan penerangan yang lumayan.
Untuk sementara Hazel
sedang menyamar menjadi sosok manusia. Menggunakan wajah, dan wig untuk
menutupi jati dirinya. Sementara kamera kecil terselip pada bros yang menempel
pada blazer coklatnya. Hazel tidak menggunakan sihir penyamaran karena Exorcist
pasti akan segera menyadari jika ada aura Iblis mendekat.
.
-[Yami no Ai]-
.
“Mix Berry untuk Yui,
dan Blueberry untuk Shiro. Dan… Tadaaaaa kita dapat bonus Large Krepe sebagai
pembeli ke 300!” Maki meletakan sebuah mangkuk besar berisi crepe dengan
campuran variasi di setiap sisinya.
“Woahahahaha….” Shiro
tertawa melihat besarnya crepe gratisan.
“Sepertinya kita
beruntung sekali. Pengunjung kelipatan 100 mendapatkan crepe ini katanya,” Hana
duduk di hadapan Yui.
Saat melihat wajah
Hana, Yui teringat sesuatu.
“Omong-omong nanti
bagaimana caramu pulang?” Yui menopang dagunya dengan satu tangan.
Hana mengigit krepenya
dan menatap Yui polos, “Si Natsume itu akan menjemputku,” Hana mengkerucutkan
bibirnya kesal.
“Bagaimana kalau orang
lain saja yang mengantarmu pulang? Sekalian mengantar kita pulang. Bagus kan?”
Yui mencoba mencari persetujuan dari anggota lain.
“Diantar pulang? Boleh
sih,” Maki mengangguk setuju.
“Shiro sudah dijemput
Tomoaki-kun,” Shiro menggeleng sambil mengunyah krepe gratisan.
“Dimakan sendiri
bonusnya…” Hana sweatdrop.
“Hana dengarkan aku,”
Yui meminta perhatian hana lagi.
“Ah ya, memangnya kita
mau diantar siapa?” Hana menaikan sebelah alisnya.
“Rahasia,” Yui
mengerlikan matanya kemudian melanjutkan memakan krepenya.
“Haaah?” Hana
sweatdrop.
.
-[Yami no Ai]-
.
Dua jam berlalu.
Matahari sudah sepenuhnya tenggelam dari padatnya Tokyo.
Natsume keluar
berjalan kaki dari manor. Manornya yang hanya berupa ‘kerajaan keci’ itu selain
tersembunyi oleh suatu segel, diletakan di sebuah tepat yang sangat strategis.
Supaya tidak ada yang curiga dengan mobil-mobil atau aktivitas keluar masuk
suatu jalan namun menghilang tiba-tiba. Maka manor itu di letakan sebuah
persimpangan jalan yang renggang penduduk. Sebuah rumah diletakan di sana untuk
mengurangi kecurigaan.
Natsume memilih
menyerahkan semua tugas pengamatan pada tim khusus. Ia hanya tinggal menunggu
laporan masuk dan melakukan rapat strategi setelah itu. Percuma saja jika ia
terus ikut melakukan pengamatan tetapi atensinya selalu teralih pada ponselnya
yang tidak menunjukkan tanda-tanda mendapat kiriman dari Hana.
Hana memang
melarangnya untuk datang tiba-tiba dan bertindak aneh-aneh. Tapi Hana tidak
melarangnya untuk meneleponnya kan?
Natsume mencari kontak
Hana.Rasanya sekarang apa yang akan ia lakukan harus dipikir-pikir
matang-matang dulu. Jika ia kembali salah melangkah, ia akan mendapat hadiah
berupa tatapan permusuhan dari Hana.
Setelah menekan tombol
dial, nada sambung terdengar. Natsume
menghela nafas lega. Hana tidak mematikan ponselnya.
.
-[Yami no Ai]-
.
Ponsel Hana terus
bergetar tanpa henti di dalam tasnya yang tertutup.
“Kalau begitu
hati-hati Shiro, Tomoaki-senpai!” Hana melambali pada sebuah mobil yang baru
saja bergerak.
“Shiro sudah dijemput,
maka sekarang tinggal…” belum habis kalimat Yui, sebuah mobil sedan berwarna
cerah berhenti tepat di depan ketiganya yang sedang berdiri di depan sebuah
minimarket.
Kaca bagian kemudi
mobil itu terbuka. Wajah Ishikawa Guren muncul dari baliknya.
“Menunggu lama? Maaf
aku buru-buru menyelesaikan rapatku karena menerima email dari Umei-san,”
Ishikawa Guren tersenyum.
Hana melirik Yui
dongkol. Ternyata orang yang dimaksud untuk menjemput adalah Ishikawa Guren.
Sementara Yui hanya tersenyum tak berdosa.
“Ah, kalian cepatlah
masuk. Aku yakin orang tua kalian khawatir jika kalian tidak segera pulang.”
.
-[Yami no Ai]-
.
Natsume terus menatap
layar ponselnya. Tidak ada satupun panggilannya yang direspon oleh Hana.
Begitupun email-email yang sudah ia kirimkan.
Berbagai spekulasi
bermunculan di benaknya. Mulai dari jika Hana masih bermain dengan temannya,
Hana marah padanya dan sengaja tidak mau mengangkat panggilan darinya, sampai
Hana mengalami suatu bahaya.
Tanpa sengaja ia
meremat ponselnya erat.
“My lady…”
Maka dikirimkannya
email sekali lagi yang berbunyi, “Anda membenci saya? Bila begitu saya bisa
menyuruh supir lain untuk menjemput anda, tolong respon anda.”
.
-[Yami no Ai]-
.
Getaran kecil pada
ponsel Hana tentu saja segera terhapus karena deru mobil yang kembali menambah
kecepatan setelah Ishikawa Guren berhenti untuk menurunkan Hisegawa Maki. Maka
tinggalah Yui dan Hana untuk dianatar.
“Waaah, Ishikawa-san
sampai rela datang menjemput padahal sedang dalam rapat pekerjaannya,” Yui
mulai memanas-manasi.
Ishikawa tersenyum,
“rapatnya memang sudah hampir selesai.”
Yui menggoyang bahu
Hana yang duduk di depan dari belakang. Memberikan tatapan
kamu-harus-berterimakasih-loh.
Sebelum menghela
nafas, Hana sempat membalas tatapan Yui kesal.
“Terima kasih
Guren-kun,” Hana curiga jika Yui lah yang memanggil Ishikawa Guren untuk
menjemput. Tapi Hana tidak punya bukti sama sekali jika Yui memang memanggil
Ishikawa Guren.
“Ah, tidak tidak,
rapat seperti itu sering kulakukan, jadi tidak masalah jika yang sekarang
dipercepat,” Ishikawa Guren kembali melontarkan senyumannya.
"Yamete yo!" akhirnya Hana
mengelurakan ponselnya dan mulai menelepon Yoshiki. 'Aku pasti dimarahi' Hana
sudah bersiap-siap untuk tearsdropnya.
"Moshi-moshi?" tak di duga. Telepon
itu diangkat oleh Yoshiki.
"Ah m-moshi-m-moshi" Hana sangat
gugup.
"Hn. Nani?"
"Ah eto apa aku mengganggumu?
Teman-temanku--"
"Tidak aku sedang istirahat sebentar."
"Huft. Gomen Yoshiki-kun kau bisa
melanjutk--"
"Tidak. Aku memang merindukanmu."
Dan saat itu juga Yui, Maki, dan Shiro
mengalami shock berat.
"A-akh..." wajah Hana memerah
seketika.
"APAAN SIH!? AKU MALU TAHU!!" Hana
meneriaki Yoshiki dengan keras, membuat seluruh penghuni restoran kue yg mereka
singgahi terganggu.
"Hn. Tapi aku sungguh-sungguh
merindukan--"
"Coto! Kuroto-san jika kau memang
merindukan Hana kenapa tidak sedari tadi menelepon? DASAR TSUNDERE!" ucap
Shiro ceplas-ceplos.
"Hn. Kau siapa?"
"Eh etto itu tadi Ayaki Shiro dari kelas
1-2. Aku pergi bersamanya, Maki, dan Umei Yui dari kelas 1-1. Gomen tidak
memberitahumu."
"Hn. Daijobu. Mau kujemput nanti
pulang?"
"A-AAAH! Tidak usah! Kau pasti sibuk
sekali."
"Hn. Untukmu apapun kulakukan."
Sebuah kenangan
tiba-tiba menghantam ingatannya.
“Y-Yoshiki-kun?” Hana
berguman pelan. Kedua Sapphirenya terbuka lebar.
“Ishikawa-san bisa
berhenti di dekat pertigaan di sana, aku tinggal di belakang apartemen itu,”
Yui dari bangku belakang menunjuk sebuah jalan.
Hana tersadar dari
lamunannya berkat suara Yui.
Mobil Ishikawa kembali
berhenti untuk menurunkan penumpang.
“Terima kasih atas
tumpangannya,” Yui tersenyum ke arah Ishikawa Guren lewat kaca Hana yang
diturunkan.
“Dan… selamat
bersenang-senang,” Yui mengerling nakal pada Hana.
“Haaah?” Hana membuka
mulutnya lebar dengan sebelah alisnya terangkat tidak mengerti.
Begitu Yui telah menghilang
dari pandangan, Ishikawa Guren kembali melajukan mobilnya. Kali ini sedikit
lebih lambat.
Tiba-tiba Hana
teringat ponselnya. Segera dibukanya resleting tasnya dengan tergesa-gesa.
Gawat! Dia baru ingat jika dia lupa menghubungi Natsume Haru!
Begitu ia menekan
fungsi lock, ponselnya menunjukan jajaran notifikasi email dan panggilan tak
terjawab yang masuk.
‘Astaga!’ Pekik Hana
dalam hati.
51 Email masuk dan 28
Panggilan tak terjawab. Dan sudah sejak tiga jam yang lalu.
“’Yoshiki-kun’?” Di
tengah rasa shock yang lemanda Hana, Ishikawa Guren menyebut nama pria yang
barusan digumankan Hana.
“Ah, ah, ada apa
Guren-kun?” Sepertinya pikiran Hana sudah teralih pada serbuan email dan
panggilan masuk dari Natsume.
“Yoshiki-kun itu
siapa?” Ishikawa Guren kembali mengajukkan pertanyaannya.
‘Tunggu dulu, Yoshiki?
Sepertinya nama itu tidak asing,’ pikir Natsume menerawang.
Lidah Hana bergerak
sedikit, “kekasihku.”
“Eh?” Ishikawa Guren
menoleh seketika ke arah Hana.
Hana tak menggubris
respon kaget Ishikawa. Kepalanya tertunduk menatap layar ponselnya.
“Kukira kekasihmu itu Natsume
Haru,” Ishikawa setengah bercanda.
“Kan sudah kubilang
bukan,” Hana menatap Ishikawa dengan menggembungkan pipinya sementara tangannya
menggenggam erat ponselnya.
“Ponselmu? Sudah
kembali?”
“Ah, ya. Sudah. Loh,
kok Guren-kun tahu ponselku sempat tidak bersamaku?”
“Umei Yui meneleponmu
seusai keluar dari kolam renang kemarin. Dan katanya yang menjawab Natsume Haru
itu. Kami mengkhawatirkanmu karena tiba-tiba pergi begitu saja.”
Akhirnya Ishikawa
Guren menyinggung tema yang paling tidak ingin Hana bicarakan.
“Maaf! Aku benar-benar
minta maaf atas kejadian kemarin!” Hana menepuk kedua tangannya.
“Tidak, tidak. Tidak
masalah,” Guren tersenyum garing.
DRRRTT….
Ponsel Hana kembali
bergetar.