Selasa, 18 Juli 2017

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 18]

CHAPTER 18: UMEI YUI’S PLAN

“Kenapa kamu? Wajahmu seperti habis diserbu lebah saja,” Yui menyadari wajah Hana yang campur aduk.
“Yaaah… biasa lah, kena omel,” Hana menjawab santai tanpa ingin menjelaskan lebih jauh kepada Yui.
Setelah berteriak seperti itu, Hana pasti akan diterjang oleh omelan guru-guru.
“Omong-omong, Haru-san, sepertinya kamu punya hutang penjelasan padaku,” Hana berdiri di samping Natsume dengan raut wajah kesal.
Natsume Haru yang awalnya bertopang dagu malas menatap keluar jendela, menoleh ke arah Hana perlahan. Sejenak ia menaikkan sebelah alisnya karena tidak mengerti maksud Hana. Namun detik berikutnya ia menyadari apa yang Hana sedang bicarakan.
“Hanya tidak ingin membiarkan serangga yang menginjak-injak harga diri My Lord terus hidup,” jawab Natsume santai.
“Itu berlebihan! Sangat berlebihan!” Hana mendekatkan wajahnya pada Natsume agar pembicaraan mereka yang tidak normal tidak terdengar siapapun.
“Tidak untuk ukuran serangga. Ayolah, siapapun tidak akan mengatakan berlebihan jika melihat ada anak yang mencabut satu persatu kaki semu.”
Hana memijat pelipisnya.
“Lain kali tolong, bicarakan dulu padaku.”
“Aku juga berharap, kamu membicarakan apapun padaku terlebih dahulu.”
Hana tersentak karena kalimat Natsume yang membalikkan kalimatnya.
“Apa-apaan itu, kamu saja belum mengembalikan ponselku,” Hana menggerutu. Lebih baik ia segera kembali ke kursinya. Berdebat dengan Natsume Haru di kelas bukanlah hal yang bagus.
.
-[Yami no Ai]-
.
“Hei hei hari ini ada kedai krepe yang baru di buka di dekat stasiun loh, katanya diskon 70% untuk 500 pembeli pertama! Yuk ke sana!” Maki berjingkat heboh sambil menunjukkan layar ponselnya diantara agenda makan siang empat sekawan itu.
“Asik juga, aku juka sedang ingin Mix Berry, bagaimana kalau nanti ke sana?” Yui berceletuk.
“SHIRO MAU!” Shiro mengacungkan sumpitnya ke udara.
Semua mata tertuju pada Hana yang belum memberikan respon.
“Y-yah… boleh lah…” mana mungkin Hana menolak tatapan ketiga sahabatnya itu.
.
-[Yami no Ai]-
.
Setelah jam pelajaran terakhir terlewati, empat perempuan yang sudah tak sabar menikmati krepe diskonan segera meninggalkan kelas diiringi rencana-rencana mereka mengenai krepe apa saja yang akan mereka beli.
“Shiro mau Vanilla Chesse, lalu Dark Choco, lalu Blueberry, lalu…”
“Astaga Shiro, perutmu akan sakit jika memakan sebanyak itu,” Maki menyahuti sambil bercanda.
“Habisnya ini kan kesempatan langkah. Hanya membayar 30% saja!” Shiro menggembungkan pipinya.
“Tapi kan tidak perlu sebanyak itu,” Yui sweatdrop.
Hana hanya tersenyum menanggapi.
“Krepe?”
Sebuah suara baritone penuh tanda tanya datang dari arah belakang. Membuat kerumunan itu menoleh ke arah Natsume Haru.
Yui tersenyum jahil sekilas.
“Benar. Kita mau ke kedai krepe. Mau ikut juga Haru-kun?” Dalam kepala Yui sudah tersusun sebuah scenario yang menurutnya epic.
“Hei! Yui! Jangan sembarangan mengajak dong!” Protes Hana. “Memangnya dia nggak malu kalau ikut kerumunan perempuan?” Hana mendekat dan memberikan tatapan ‘jangan-ikut!’ secara bersamaan.
Natsume kembali kesal.
“Lalu bagaimana cara anda pulang?”
“Aku akan naik taksi atau semacamnya.”
Membiarkan Hana naik taksi? Jangan harap Kuroto Yoshiki a.k.a Natsume Haru menyetujui Hana melakukan itu.
“Tidak—“ Natsume terdiam sejenak sebelum membuang nafas berat.
“Ini ponselmu, hubungi aku jika kamu sudah selesai, akan kujemput,” akhirnya mau tak mau Natsume menyerahkan ponsel Hana.
‘Woaaaa…. Apa ini? Beruntung sekali!’ Batin Hana bersorak gembira. Akhirnya ponselnya kembali.
“Seharusnya kamu berikan ponselku dari kemarin,” Hana segera meraih ponselnya dan berpaling menuju teman-temannya.
Natsume hanya menatap datar kepergiian Hana dan teman-temannya. Mengenai ponsel Hana, rencananya hari ini membawanya pada seorang ‘kenalan’ yang berada di departemen komunikasi pusat untuk memblokir lajur komunikasi ID Ponsel Hana dan ID Ponsel Ishikawa Guren. Karena bukan Kuroto Yoshiki, ia menjadi benar-benar kesulitan dalam banyak hal.
Sepertinya dia akan memundurkan rencananya menjadi besok.
Getaran kecil pada saku celananya mengusik susunan rencananya. Sebuah email masuk, tentu saja Natsume hafal dengan getaran ponselnya sendiri.
Sambil berjalan menuruni tangga, Natsume meraih ponselnya dan mengecek email yang baru saja masuk.
“My Lady?” Natsume menggumanan nama sang pengirim email.
“Jangan aneh-aneh. Jangan menyusulku sebelum kuminta. Aku tidak mau tiba-tiba melihatmu saat sedang memakan krepe nanti.” Begitulah isi email itu.
Jempol Natsume menekan fungsi lock pada ponselnya dan kembali mengantongi benda persegi panjang itu.
“Ck…”
.
-[Yami no Ai]-
.
Lihat antrian para siswa yang sudah antri memanjang di depan kedai krepe yang baru di buka itu. Semua orang dengan kemauan yang sama untuk mendapat diskon pasti rela datang lebih awal dari jam buka.
“Kalau begitu Yui dan Shiro tolong carikan tempat duduk ya, biar aku dan Hana yang mengantri,” Maki member saran.
“Boleh, aku Mix Berry ya,” Yui tersenyum menyetujui.
“Ah Shiro mau…. Blueberry…. Vanill—“
“Shiro Blueberry saja.” Maki menarik tangan Hana meninggalkan Shiro untuk segera mengambil antrian.
“HEEEEEE!!??” Shiro sendiri tidak bisa berkutik saat Yui juga menariknya.
.
-[Yami no Ai]-
.
Natsume Haru menatap layar ponselnya yang tetap dalam keadaan mati di atas mejanya.
Sebuah email pada layar MAC-nya mengalihkan perhatiannya pada detik berikutnya.
Dari Hazel.
Dilampirkan juga sebuah rekaman LIVE. Natsume mengarahkan pointer pada lampiran yang dikirimkan Hazel. Setelah memuat data untuk beberapa detik, layar monitor telah menunjukkan sebuah rekaman langsung.
Hazel telah diberikan misi khusus untuk datang ke Indonesia, menilik langsung daerah tempat Tomuro ditahan.
Memasuki area paling terbatas dalam objek vital negara bukanlah hal yang susah bagi seorang Iblis sekelas Hazel. Masalahnya hanya tinggal melumpuhkan Exorcist yang berjaga.
Layar MAC Natsume menunjukkan perjalanan setelah menuruni tangga di ruang turbin. Sebuah lorong panjang dengan penerangan yang lumayan.
Untuk sementara Hazel sedang menyamar menjadi sosok manusia. Menggunakan wajah, dan wig untuk menutupi jati dirinya. Sementara kamera kecil terselip pada bros yang menempel pada blazer coklatnya. Hazel tidak menggunakan sihir penyamaran karena Exorcist pasti akan segera menyadari jika ada aura Iblis mendekat.
.
-[Yami no Ai]-
.
“Mix Berry untuk Yui, dan Blueberry untuk Shiro. Dan… Tadaaaaa kita dapat bonus Large Krepe sebagai pembeli ke 300!” Maki meletakan sebuah mangkuk besar berisi crepe dengan campuran variasi di setiap sisinya.
“Woahahahaha….” Shiro tertawa melihat besarnya crepe gratisan.
“Sepertinya kita beruntung sekali. Pengunjung kelipatan 100 mendapatkan crepe ini katanya,” Hana duduk di hadapan Yui.
Saat melihat wajah Hana, Yui teringat sesuatu.
“Omong-omong nanti bagaimana caramu pulang?” Yui menopang dagunya dengan satu tangan.
Hana mengigit krepenya dan menatap Yui polos, “Si Natsume itu akan menjemputku,” Hana mengkerucutkan bibirnya kesal.
“Bagaimana kalau orang lain saja yang mengantarmu pulang? Sekalian mengantar kita pulang. Bagus kan?” Yui mencoba mencari persetujuan dari anggota lain.
“Diantar pulang? Boleh sih,” Maki mengangguk setuju.
“Shiro sudah dijemput Tomoaki-kun,” Shiro menggeleng sambil mengunyah krepe gratisan.
“Dimakan sendiri bonusnya…” Hana sweatdrop.
“Hana dengarkan aku,” Yui meminta perhatian hana lagi.
“Ah ya, memangnya kita mau diantar siapa?” Hana menaikan sebelah alisnya.
“Rahasia,” Yui mengerlikan matanya kemudian melanjutkan memakan krepenya.
“Haaah?” Hana sweatdrop.
.
-[Yami no Ai]-
.
Dua jam berlalu. Matahari sudah sepenuhnya tenggelam dari padatnya Tokyo.
Natsume keluar berjalan kaki dari manor. Manornya yang hanya berupa ‘kerajaan keci’ itu selain tersembunyi oleh suatu segel, diletakan di sebuah tepat yang sangat strategis. Supaya tidak ada yang curiga dengan mobil-mobil atau aktivitas keluar masuk suatu jalan namun menghilang tiba-tiba. Maka manor itu di letakan sebuah persimpangan jalan yang renggang penduduk. Sebuah rumah diletakan di sana untuk mengurangi kecurigaan.
Natsume memilih menyerahkan semua tugas pengamatan pada tim khusus. Ia hanya tinggal menunggu laporan masuk dan melakukan rapat strategi setelah itu. Percuma saja jika ia terus ikut melakukan pengamatan tetapi atensinya selalu teralih pada ponselnya yang tidak menunjukkan tanda-tanda mendapat kiriman dari Hana.
Hana memang melarangnya untuk datang tiba-tiba dan bertindak aneh-aneh. Tapi Hana tidak melarangnya untuk meneleponnya kan?
Natsume mencari kontak Hana.Rasanya sekarang apa yang akan ia lakukan harus dipikir-pikir matang-matang dulu. Jika ia kembali salah melangkah, ia akan mendapat hadiah berupa tatapan permusuhan dari Hana.
Setelah menekan tombol dial, nada sambung terdengar. Natsume menghela nafas lega. Hana tidak mematikan ponselnya.
.
-[Yami no Ai]-
.
Ponsel Hana terus bergetar tanpa henti di dalam tasnya yang tertutup.
“Kalau begitu hati-hati Shiro, Tomoaki-senpai!” Hana melambali pada sebuah mobil yang baru saja bergerak.
“Shiro sudah dijemput, maka sekarang tinggal…” belum habis kalimat Yui, sebuah mobil sedan berwarna cerah berhenti tepat di depan ketiganya yang sedang berdiri di depan sebuah minimarket.
Kaca bagian kemudi mobil itu terbuka. Wajah Ishikawa Guren muncul dari baliknya.
“Menunggu lama? Maaf aku buru-buru menyelesaikan rapatku karena menerima email dari Umei-san,” Ishikawa Guren tersenyum.
Hana melirik Yui dongkol. Ternyata orang yang dimaksud untuk menjemput adalah Ishikawa Guren. Sementara Yui hanya tersenyum tak berdosa.
“Ah, kalian cepatlah masuk. Aku yakin orang tua kalian khawatir jika kalian tidak segera pulang.”
.
-[Yami no Ai]-
.
Natsume terus menatap layar ponselnya. Tidak ada satupun panggilannya yang direspon oleh Hana. Begitupun email-email yang sudah ia kirimkan.
Berbagai spekulasi bermunculan di benaknya. Mulai dari jika Hana masih bermain dengan temannya, Hana marah padanya dan sengaja tidak mau mengangkat panggilan darinya, sampai Hana mengalami suatu bahaya.
Tanpa sengaja ia meremat ponselnya erat.
“My lady…”
Maka dikirimkannya email sekali lagi yang berbunyi, “Anda membenci saya? Bila begitu saya bisa menyuruh supir lain untuk menjemput anda, tolong respon anda.”
.
-[Yami no Ai]-
.
Getaran kecil pada ponsel Hana tentu saja segera terhapus karena deru mobil yang kembali menambah kecepatan setelah Ishikawa Guren berhenti untuk menurunkan Hisegawa Maki. Maka tinggalah Yui dan Hana untuk dianatar.
“Waaah, Ishikawa-san sampai rela datang menjemput padahal sedang dalam rapat pekerjaannya,” Yui mulai memanas-manasi.
Ishikawa tersenyum, “rapatnya memang sudah hampir selesai.”
Yui menggoyang bahu Hana yang duduk di depan dari belakang. Memberikan tatapan kamu-harus-berterimakasih-loh.
Sebelum menghela nafas, Hana sempat membalas tatapan Yui kesal.
“Terima kasih Guren-kun,” Hana curiga jika Yui lah yang memanggil Ishikawa Guren untuk menjemput. Tapi Hana tidak punya bukti sama sekali jika Yui memang memanggil Ishikawa Guren.
“Ah, tidak tidak, rapat seperti itu sering kulakukan, jadi tidak masalah jika yang sekarang dipercepat,” Ishikawa Guren kembali melontarkan senyumannya.
"Yamete yo!" akhirnya Hana mengelurakan ponselnya dan mulai menelepon Yoshiki. 'Aku pasti dimarahi' Hana sudah bersiap-siap untuk tearsdropnya.
"Moshi-moshi?" tak di duga. Telepon itu diangkat oleh Yoshiki.
"Ah m-moshi-m-moshi" Hana sangat gugup.
"Hn. Nani?"
"Ah eto apa aku mengganggumu? Teman-temanku--"
"Tidak aku sedang istirahat sebentar."
"Huft. Gomen Yoshiki-kun kau bisa melanjutk--"
"Tidak. Aku memang merindukanmu."
Dan saat itu juga Yui, Maki, dan Shiro mengalami shock berat.
"A-akh..." wajah Hana memerah seketika.
"APAAN SIH!? AKU MALU TAHU!!" Hana meneriaki Yoshiki dengan keras, membuat seluruh penghuni restoran kue yg mereka singgahi terganggu.
"Hn. Tapi aku sungguh-sungguh merindukan--"
"Coto! Kuroto-san jika kau memang merindukan Hana kenapa tidak sedari tadi menelepon? DASAR TSUNDERE!" ucap Shiro ceplas-ceplos.
"Hn. Kau siapa?"
"Eh etto itu tadi Ayaki Shiro dari kelas 1-2. Aku pergi bersamanya, Maki, dan Umei Yui dari kelas 1-1. Gomen tidak memberitahumu."
"Hn. Daijobu. Mau kujemput nanti pulang?"
"A-AAAH! Tidak usah! Kau pasti sibuk sekali."
"Hn. Untukmu apapun kulakukan."
Sebuah kenangan tiba-tiba menghantam ingatannya.
“Y-Yoshiki-kun?” Hana berguman pelan. Kedua Sapphirenya terbuka lebar.
“Ishikawa-san bisa berhenti di dekat pertigaan di sana, aku tinggal di belakang apartemen itu,” Yui dari bangku belakang menunjuk sebuah jalan.
Hana tersadar dari lamunannya berkat suara Yui.
Mobil Ishikawa kembali berhenti untuk menurunkan penumpang.
“Terima kasih atas tumpangannya,” Yui tersenyum ke arah Ishikawa Guren lewat kaca Hana yang diturunkan.
“Dan… selamat bersenang-senang,” Yui mengerling nakal pada Hana.
“Haaah?” Hana membuka mulutnya lebar dengan sebelah alisnya terangkat tidak mengerti.
Begitu Yui telah menghilang dari pandangan, Ishikawa Guren kembali melajukan mobilnya. Kali ini sedikit lebih lambat.
Tiba-tiba Hana teringat ponselnya. Segera dibukanya resleting tasnya dengan tergesa-gesa. Gawat! Dia baru ingat jika dia lupa menghubungi Natsume Haru!
Begitu ia menekan fungsi lock, ponselnya menunjukan jajaran notifikasi email dan panggilan tak terjawab yang masuk.
‘Astaga!’ Pekik Hana dalam hati.
51 Email masuk dan 28 Panggilan tak terjawab. Dan sudah sejak tiga jam yang lalu.
“’Yoshiki-kun’?” Di tengah rasa shock yang lemanda Hana, Ishikawa Guren menyebut nama pria yang barusan digumankan Hana.
“Ah, ah, ada apa Guren-kun?” Sepertinya pikiran Hana sudah teralih pada serbuan email dan panggilan masuk dari Natsume.
“Yoshiki-kun itu siapa?” Ishikawa Guren kembali mengajukkan pertanyaannya.
‘Tunggu dulu, Yoshiki? Sepertinya nama itu tidak asing,’ pikir Natsume menerawang.
Lidah Hana bergerak sedikit, “kekasihku.”
“Eh?” Ishikawa Guren menoleh seketika ke arah Hana.
Hana tak menggubris respon kaget Ishikawa. Kepalanya tertunduk menatap layar ponselnya.
“Kukira kekasihmu itu Natsume Haru,” Ishikawa setengah bercanda.
“Kan sudah kubilang bukan,” Hana menatap Ishikawa dengan menggembungkan pipinya sementara tangannya menggenggam erat ponselnya.
“Ponselmu? Sudah kembali?”
“Ah, ya. Sudah. Loh, kok Guren-kun tahu ponselku sempat tidak bersamaku?”
“Umei Yui meneleponmu seusai keluar dari kolam renang kemarin. Dan katanya yang menjawab Natsume Haru itu. Kami mengkhawatirkanmu karena tiba-tiba pergi begitu saja.”
Akhirnya Ishikawa Guren menyinggung tema yang paling tidak ingin Hana bicarakan.
“Maaf! Aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin!” Hana menepuk kedua tangannya.
“Tidak, tidak. Tidak masalah,” Guren tersenyum garing.
DRRRTT….

Ponsel Hana kembali bergetar.
Read More ->>

Rabu, 05 Juli 2017

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 17]

CHAPTER 17: YOU’RE MY PRIDE

‘MATI AKU!!’ Hana shock dan rasanya ada berbagai petir menyambar-nyambar di dalam dirinya.
‘JADI INI KAH RASANYA MOMENT PALING MEMALUKAN DI DALAM HIDUP ITU!??’ Batin Hana berteriak-riak liar.
Hana hanya bisa nyengir dan segera mengalihkan pandangannya dari pria itu sebisa mungkin.
Setelah mencapai menu terakhir Hana tanpa sadar menoleh kembali pada sang pria yang mungkin sedang melakukan pembayaran untuk set makan malamnya. Pria itu mengeluarkan dompetnya dan nampak mengeluarkan sebuah credit card pula.
Sebuah Platinum Credit Card.
Seketika bayangan Kuroto Yoshiki yang juga pernah Hana lihat mengeluarkan kartu sejenis untuk membayar bill makan malam mereka di tempat ini.
Saat Hana berkedip untuk mengakhiri bayangan kenangan yang menghantuinya, ternyata pria itu tengah menatapnya lekat.
Menyadari tatapan Hana yang sepertinya hanya tertuju pada kartu kreditnya, pria itu segera menyusupkan kartu kreditnya ke dalam bill agar pelayan mengurus sisanya.
Sebelum terjadi kontak lagi, Hana cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Melanjutkan menyesap tehnya yang masih hangat.
Yang ia lihat di hadapannya hanyalah sebuah kursi kosong. Padahal di atas mejanya sudah lengkap set untuk ‘kencan-makan-malam’. Tapi ia malah datang sendirian. Makan sendirian. Menunggu kembang api sendirian. Melihat seorang pria asing yang mampu mengigatkannya pada suaminya yang entah di mana sekarang.
Mungkin jika suaminya ada di hadapannya, mungkin saat ini suaminya tengah meminum anggur favoritnya dengan tampang bangsawan yang mampu menggoda siapapun wanita di ruangan ini.
Namun sekali lagi, sayangnya, suaminya tidak di sini.
.
[Yami no Ai]
.
Menunggu lift mencapai lantai longue restoran, Natsume Haru berdecak kesal karena benda berbentuk balok ini tidak segera mencapai tujuannya.
Sepertinya kali ini ia harus mengawasi Hana namun dengan konsekuensi jangan sampai terlihat oleh Hana. Mengingat betapa bencinya Hana pada sosok Natsume Haru. Ditambah pesan Hana yang menyuruhnya untuk tidak berbuat macam-macam.
.
[Yami no Ai]
.
Tinggal sepuluh menit lagi sebelum kembang api pertama di luncurkan.
Hana berpindah dari restoran ke sebuah bar hotel yang sepertinya di desain di dekat sebuah beranda yang strategis untuk menonton festival kembang api kuil terdekat.
Seorang waiters yang mengantar Hana menarik sebuah kursi bagi Hana. Setelah Hana menduduki kursinya, waiters itu pergi.
Tatapannya tertuju pada kilatan kaca yang tertata apik di rak sang bartender. Berbagai anggur dan sulingan alcohol tersusun apik di sana.
Coba diingat-ingat kembali, Hana tidak terlalu mengerti mengenai masalah anggur. Dulu Yoshiki memesankannya apa? Oh buruk. Hana melupakan nama campuran soda tak beralkohol yang dulu diucapkan Yoshiki dengan lidah fasihnya.
“Ingin meminum sesuatu nona?” Sang bartender yang tengah sibuk mengelap botol anggur hingga mengkilap menyempatkan diri bertanya pada Hana.
“Ah…” Hana menatap bingung.
‘GAWAAAAAAT AKU LUPA APA NAMA MINUMANNYA!!’ Batin Hana menangis.
“Jadi kau mengikutiku tanpa memiliki rencana apapun. Padahal kau sendiri tidak tahu apa-apa soal minuman,” sebuah suara penuh cemoohan terdengar dari samping Hana.
Itu pria yang tadi di restoran.
‘UWAAA DIA YANG TADI!’ Saat Ini Hana merasa kesialan tengah mengikutinya. Pria yang tadi membuatnya malu setengah mati ada di sampingnya. Saking shocknya dia sampai ejekan sang pria tak bisa ia dengarkan.
“Waah… kebetulan sekali yah… kita bertemu lagi,” Hana tertawa garing. Mungkin menertawakan nasibnya.
Pria dalam setelan jas itu kembali menggunakan nada mencemoohnya, “benar-benar kebetulan.”
“Maksudnya apa?” Hana yang tidak mengerti mengendurkan senyumnya.
“Kebetulan yang disengaja,” ucap pria itu to the point.
“Hah?” Sekarang Hana semakin tidak mengerti.
Natsume Haru dengan tergesa-gesa keluar dari lift sempit yang mengukungnya. Melangkah cepat ingin segera menuju ke restoran yang dulunya ia dan Hana gunakan. Memasuki longue bar tanpa menyadari Hana tengah duduk di antara deretan kursi.
Pria di samping Hana melipat kedua tangannya di depan dadanya, kebetulan pandangannya menatap sosok Natsume yang tergesa-gesa, “bagaimana dengan pria berambut putih itu?”
Hana mengikuti arah pandangan sang pria dan menemukan punggung Natsume telah berjalan melewatinya.
“Pakaiannya bagus. Mungkin dia punya kartu kredit yang lebih baik dariku,” pria itu mencondogkan sedikit tubuhnya dan berbisik seolah mengejek.
Baiklah. Hana mengerti sekarang. Sepenuhnya mengerti.
Sekilas Hana menatap tidak percaya pada pria itu. Namun sang pria malah menatapnya dengan sebuah senyum yang mengejek.
“Menurutmu… aku sedang sengaja mendekatimu… karena aku melihat kartu kreditmu?”
Pria itu tidak menyahuti. Namun senyum di bibirnya melebar.
‘Hahaha…’ rasanya Hana ingin tertawa sekarang. Tertawa ironis lebih tepatnya.
“Maaf Tuan,” rasanya Hana ingin menangis sekarang.
Memang benar Hana tidak lebih dari seorang siswa SMA biasa yang bekerja part-time untuk menghidupi kesehariannya yang dibawah kata sederhana. Sebelumnya ia tak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi manusia yang dikelilingi harta. Dirinya tidak khatam dengan kegiatan-kegiatan menghamburkan uang untuk makan malam di resto mahal seperti ini. Bisa dibilang Hana sangat kikuk jika tidak bersama seseorang yang telah merubah hidupnya, sang suami, Kuroto Yoshiki.
“Sepertinya anda salah sangka. Aku di sini hanya untuk melihat kembang api.”
Beberapa butir air mata bermunculan.
“Jika anda mengira saya mengincar anda karena kartu kredit anda…,” Hana tersenyum masam, “anda salah besar. Saya memang tidak tahu tingkatan kartu kredit….”
Natsume Haru melongokkan kepalanya saat berada di depan restoran mencari sosok Hana. Persetan dengan semua orang yang memandangnya aneh.
‘Tch, apa dia sudah di bar?’
Seingatnya tahun lalu setelah makan malam, ia mengajak Hana untuk menemaninya minum di longue bar. Hana pasti ke sana. Natsume segera bergegas kembali.
Setelah beberapa detik menyapu seluruh longue bar, Natsume menemukan sosok Hana. Duduk dan berbicara pada seorang pria di sebelahnya.
Tanpa berpikir panjang Natsume mendekati Hana yang nampaknya masih tidak menyadarinya.
“Hanya saja apa yang anda lakukan mengingatkan saya pada seseorang yang penting di hidup saya!”
Hana bangkit dari bangkunya dengan serampangan, tak bisa lagi menahan lelehan air matanya.
BRAK
Tubuhnya bertabrakan dengan tubuh Natsume yang tidak menyadari tindakan Hana tiba-tiba.
PSYUUUUUH DAAAAAR!! SYUUU DAAAR!! DAAAR! DAAR!!
Letupan kembang api bermekaran. Berkilatan menerangi malam Tokyo. Menyapu bersih langit gelap dengan percikan berwarna-warni dan meriah.
Hana sepenuhnya tahu siapa pria yang ditabraknya. Namun fokusnya telah teralih pada beranda bar yang terbuka lebar dan menampakan gemerlap kembang api.
Tanpa sadar tangan Hana melingkar pada tubuh Natsume.
Sama. Ukurannya, kekokohannya, kehangatannya, semuanya terasa sama dengan tubuh Yoshiki. Oleh sebab itu Hana memilih menyerah dan terus mendekap tubuh Natsume sementara ia mengamati kembang api.
“….” Natsume sendiri sedikit kaget melihat Hana yang dengan sukarela memeluknya.
Apalagi tadi Hana terlihat meneteskan air mata.
Sialan! Siapa yang telah berani membuat istrinya menangis seperti ini?
Pria itu memandang punggung Hana yang tengah memeluk Natsume dengan tatapan ‘dia-benar-benar-jalang-lihat-saja-dia-sudah-mendapatkan-pria-yang-tadi-kusebutkan’’
Natsume yang menyadari itu mengetahui siapa pelaku yang dicarinya. Sebuah tatapan membunuh dan merendahkan diberikan.
Sang pria tentu saja merasakan sensasi aneh dan lain dari tatapan Natsume langsung mengalihkan pandangannya.
Untunglah Natsume kembali teralihkan pada Hana yang sepertinya terlelap dalam dekapannya. Jika tidak mungkin pria itu sudah kehilangan kepalanya sekarang.
Menggendong Hana ala bridal, Natsume membawa Hana pulang. Mengabaikan pandangan pelayan dan tamu wanita yang berdecak iri.
.
[Yami no Ai]
.
Kelopak Hana terbuka perlahan. Silaunya lampu jalanan yang melewatinya semakin membuat indra penglihatannya itu mengerjap berkali-kali meminta untuk terjaga.
Dia ada di dalam mobil.
“Anda sudah bangun?” Natsume menyadari pergerakan kecil Hana.
“Aahh kenapa aku tertidur sih?” Hana menyamankan posisi duduknya dan menggerutu kecil karena kebodohannya.
“Pasti gara-gara kekenyangan dan… mataku panas…” nada bicara Hana menyurut.
“Dasar laki-laki berengsek. Enak saja mengatakan aku tertarik padanya karena kartu kreditnya!” Lalu terdiam sejenak sebelum kembali menlanjutkan dengan tawa getir, “…. Hahaha, Yoshiki-kun sepertinya aku memang tidak bisa melakukan apapun tanpamu.”
Natsume melirik Hana lewat kaca spion. Wanitanya itu terus memandang keluar jendela mobil dengan wajah sendu.
‘Pria itu…’ Pegangan pada setir kemudinya mengerat.
Hana adalah kebanggaannya. Harga dirinya. Pria itu telah merendahkan Hana. Itu berarti manusia rendah itu telah menginjak harga dirinya juga.
.
[Yami no Ai]
.
“Natsume-dono, saya telah menemukan orang yang anda cari. Ushio Komori. Direktur perusahaan desain yang lumayan besar di Kansai,” Misaka menyerahkan beberapa lembar kertas yang telah ia klip rapi pada Natsume.
“Hn,” Natsume membolak-balik data yang diberikan Misaki.
Semuanya tercetak rapi dan rinci. Mulai dari data pribadi, riwayat pekerjaan, keluarga, pendapatan, hingga data masa lalu ada di dalam lembaran-lembaran kertas yang diberikan Misaki atas perintah Natsume.
Seharusnya semua itu bisa dengan mudah sebagai seorang raja iblis. Namun mengungat keadaannya, Natsume tidak bisa sembarangan menggunakan sihirnya. Terlebih lagi untuk manusia. Bisa-bisa Exorcist segera mencium energi sihirnya yang sangat berbeda dari iblis-iblis lainnya sehingga semua rencananya akan porak poranda. Sama halnya ketika ia berniat memberikan sihir pendorong untuk Hana, ia mengurungkan niatnya.
Sebuah seringai mengejek muncul di antara rahang tegasnya. Sepertinya kali ini ia harus melakukannya secara ‘manusiawi’.
“Manusia seperti ini yang menginjak harga diriku?”
.
[Yami no Ai]
.
Beberapa ketukan di tengah malam memang bukanlah hal sopan.
“Kau pikir ini jam berapa hah!?” Respon yang wajar dari sang pemilik rumah yang menggerutu kesal karena tidurnya terganggu.
Wajahnya yang mengantuk berubah terkejut begitu menyadari jika orang yang muncul dari balik pintunya adalah pria yang ia lihat di bar tadi.
“Oh, kamu yang tadi kan?” Pria itu setengah menguap.
“Benar, ada yang ingin kubicarakan denganmu,” Natsume menahan seringainya.
“Baiklah, baiklah, masuklah dulu,” dengan polosnya Ushio mempersilahkan Natsume masuk. Membuat Natsume tak kuasa menahan senyuman jahatnya.
“Jadi, apa yang ingin—tunggu, dari mana kamu tahu rumahku?” Sepertinya Ushio telah sepenuhnya sadar dari ngantuknya. Namun semua itu telah terlambat. Ia telah mengizinkan seorang predator memasuki kediamannya.
“Ushio Komori dari Arts Graphic bukan?” Natsume berujar tenang sementara ia menatap tajam buruan di hadapannya.
“B-benar,” Ushio tanpa sadar meneguk ludah karena kerongkongannya mendadak kering.
“K-kamu sendiri siapa?”
Natsume sudah tidak bisa menahan seringaiannya. Maka seringaian serigala itu muncul. Sebuah seringai penuh kepercaya dirian dan ditambah sebuah tatapan merendahkan.
“Dengan pendapatanmu yang sekarang tidak heran jika kartu kreditmu adalah jenis Mastercard Platinum milik bank swasta,” Natsume perlahan bangkit dari duduknya sementara tangannya meraih sesuatu dari saku kemejanya.
“A-apa? K-kamu siapa!?” Ushio mencoba bersiaga karena predator di hadapannya sekarang terasa lebih mengancam.
“Aku?” Natsume meletakan sebuah kartu kredit berwarna gelap di atas meja yang memasihkan keduanya.
Ushio Komori terbelalak melihat kartu kredit jenis VISA yang baru saja diletakan di atas meja. Bukan Kartu Kredit Platinum seperti miliknya. Tapi sebuah VISA Infinite.
“Aku adalah bos dari bos-bosmu,” sementara Ushio sibuk shock karena di hadapannya tersaji VISA yang tak sembarangan orang bisa memilikinya, Natsume telah selesai menutupi tangannya dengan sarung tangan.
Untuk ukuran otak seorang direktur, walaupun masih ngantuk, Ushio langsung sadar jika kedatangan orang yang katanya “bos dari bos-bosnya” ini ada hubungannya dengan kejadian ia membuat seorang perempuan yang tadi orang “bos dari bos-bosnya” ini menangis di bar.
Ushio kembali memandang VISA menggoda di hadapannya dengan maksud mencari tahu siapa sang pemilik VISA Infinite tersebut.
“K-Kuroto Y-Yoshiki!!!???” Kali ini adalah puncak keterkejutan Ushio. Ia benar-benar terkejut seaakan jantungnya bisa berhenti seketika.
Siapa pebisnis yang tidak mengenal nama Kuroto Yoshiki? Bahkan katanya nama itu sudah terbang ke seluruh dunia. Salah satu ‘pria dalam kegelapan’ yang menguasai saham perusahaan-perusahaan besar. Memiliki ratusan anak perusahaan yang berskala besar dan bergerak dalam berbagai bidang di seluruh Jepang, atau mungkin seluruh dunia?
Tidak ada yang tahu bagaimana wajah Kuroto Yoshiki walaupun rumornya telah menyebar luas di kalangan pebisnis. Karena wajar saja mereka yang menjadi pioneer-pioneer tidak layak bertatap muka dengan mereka yang berkuasa.
Dan sekarang ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, sang ‘pria dalam kegelapan’, sang penguasa segala industri di tanah Jepang.
Kuroto Yoshiki yang luar biasa, menatapnya rendah, dengan menggenggam sebuah pisau lipat.
Apa? Tunggu? Pisau lipat?
CRAAAAAT!!
Sementara Ushio masih tertegun, pisau itu telah tertancap tepat di tengah-tengah kerongkongannya.
“Bghh? Bhuuggh!!” Beberapa muncratan darah keluar dari mulut Ushio.
“Hn, itulah mengapa aku memakai sarung tangan. Agar darah hinamu ini tidak mengotoriku.”
Dengan matanya yang terbelalak lebar ia bisa melihat wajah merendahkan yang entah kenapa nampak agung dari paras Natsume.
“Kau pikir kau hebat hanya karena memiliki kartu kredit Platinum?” Lagi. Natsume menggunakan nada mengejek.
“Hn, kau tahu siapa perempuan yang telah kau buat menangis tadi?”
Ushio hanya menggeleng lemah sementara lehernya tertahan oleh pisau Natsume.
“Dia istriku.” Natsume Haru menarik pisau lipatnya secara serampangan. Membuat banyak darah bermuncratan.
“Dan kau membuatnya menangis,” dengan alunan nada datar dan santainya, Natsume menelusupkan kedua jarinya ke dalam bola mata kanan Ushio. Lalu menarik keluar bola mata itu. Mencabut semua sel saraf yang tersambung.
“G-ggghhh…” Ushio tidak bisa berteriak. Pita suaranya telah terputus akibat pisau lipat.
“Kau pikir dia mengincarmu karena kartu kredit murahanmu? Sayang sekali…”
Natsume menancapkan pisau lipatnya pada dahi Ushio. Kemudian bangkit berdiri meninggalkan mayat Ushio.
“… Suaminya adalah Lucifer. Benda lempengan seperti kartu kredit hanyalah butiran pasir.”
.
[Yami no Ai]
.
“Kuroto Hana tolong bawakan fotocopy soal ini ke kelas ya.”
“Baik bu.”
Hana yang seharusnya hanya mengumpulkan tugas Bahasa Jepang yang telat ia kumpulkan malah tertangkap guru Kesenian.
“Hup,” Hana mengangkat beberapa tumpuk kertas sekaligus.
Sapphire Hana tak sengaja menangkap sebuah headline pada Koran yang diletakan tak jauh dari tumpukan kertas soal.
“HEEEEEEEE!!!?? DIA KAN YANG KEMARIN!!??”
Pekikan Hana otomatis membuat siapapun yang berada di ruang guru saat itu pastilah menoleh ke arah Hana.

‘TEWAS MENGERIKAN: MAYAT DIREKTUR PERUSAHAAN DESAIN DITEMUKAN TAK WAJAR’
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.