Jumat, 22 Januari 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 8]

CHAPTER 8: CLASS FEST
“DOMA-SAN!? DOMA-SAN?” Suara keributan dari arah pintu kelas memaksa seluruh penghuni kelas menolehkan kepala kea rah asal suara.
Seorang pemuda bergaya culun tengah terenggah-enggah di depan pintu kelas. Itu sekertaris Komite Kelas.
Sepertinya kedatangannya kali ini adalah untuk memanggil perwakilan Komite untuk mengikuti rapat Komite perihal Festival.
“Doma-san hari ini tidak masuk karena terkena demam,” Yui datang menghampiri.
“EH? Lalu bagaimana dengan rapat Komite-nya?”
“Begini saja. Karena biasanya aku yang menemani Doma-san untuk rapat komite, bagaimana jika aku mencari satu lagi siswa untuk menemaniku mengikuti rapat Komite?”
Sekertaris Komite terlihat berpikir sejenak, “boleh saja. Rapat dimulai pukul sepuluh tepat. Jangan terlambat.”
“Itu sepuluh menit lag—“
“Pokoknya jangan telat!” Sekertaris Komite telah menghilang, berlari ke kelas lain.
Yui berbalik dan melangkah kembali ke arah gerombolannya, “Ayo Hana ikut aku.”
“He? AKu? Kenapa?” Walau mulutnya terus bertanya-tanya, tapi tubuhnya tetap saja  menuruti tarikan Yui.

“Yui… kenapa kau mengajaku?” Hana bertopang dagu dengan malas.
“Karena yang lain sibuk menyiapkan untuk Festival. Kau yang tidak mengikuti rapat kelas kemarin mana tahu apa saja yang harus disiapkan. Daripada kau merepotkan teman yang lain, lebih baik kau membantuku di sini.”
“Hmeeeh…” Hana hanya mendesah keras.
SREEEK….
Pintu ruang rapat terbuka. Munculah Ketua dan Wakil Ketua Komite diikuti oleh dua orang dewasa di belakang mereka.
Keempatnya telah berdiri di depan ruangan sekarang.
“Selamat pagi, rapat Komite akan dimulai. Disamping saya telah berdiri dewan pendidikan kota , Tanaka Satsuki-san, dan pemegang saham utama Mirai no Gakoo sekaligus sponsor utama Festival kali ini, Ishikawa Guren-san.”
Mata Hana terbelalak lebar. Dari tempat duduknya sekarang walau terlhalang kepala-kepala siswa yang duduk di depannya, Hana bisa melihat jelas wajah pria yang kemarin dia temui di tempat potong rambut. Bukan pria biasa, melainkan pria yang dulu pernah memiliki sebuah kenangan dengannya.
“Ada apa Hana? Kau pasti terpesona dengan wajah berkharisma Ishikawa-san,” ucap Yui.
“Haaaa? Tidak,” Hana menjawa dengan wajah polosnya.
Malah sebaliknya ekspresi Yui menjadi aneh sekarang, “kau sama sekali tidak tertarik?”
Hana menggelengkan kepalanya.
“JANGAN-JANGAN KAU MULAI MENYUKAI PEREMPUAN SEKARANG?” Yui berteriak keras.
“Haah? Apa sih maksudmu? AKU NORMAL!” Hana tersululut emosi.
“Ehem!” Suara deheman keras menginterupsi keduanya. Suara deheman keras dari ketua Komite.
Hana dan Yui seketika membantu begitu melihat seluruh tatapan di ruangan itu ternyata diarahkan kepada keduanya.
“… dia ada di sini?” guman Ishikawa Guren penuh tanda tanya.

“Baiklah dengan ini rapat selesai, tolong jelaskan kembali mengenai apa saja yang kalian dapat di sini pada seluruh teman kelas kalian,” dengan begitu rapat Komite Festival berakhir.
Masing-masing siswa mulai berjalan meninggalan ruang rapat, termasuk Hana dan Yui.
“Kau yang harus menjelaskan ke depan kelas Yui,” lirik Hana kesal.
“Tapi kau juga harus membantuku,” Yui balas melirik kelas.
“Ah!” Ishikawa Guren yang berniat menyapa Hana kecewa begitu melihat Hana telah melangkah keluar rapat diikuti gerombolan siswa yang lain.
“Kenapa dia tidak menyapaku? Apa dia tidak mengenaliku? Apa karena potongan rambut baruku ini?” guman Ishikawa Guren lagi.
“Ishikawa-san.”
Guren Ishikawa lantas menoleh begitu namanya dipanggil.
“Terima kasih telah mau datang pada rapat kami,” ketua Komite melakukan ojigi dengan sopan.
“Sama-sama. Omong-omong, apa di sini ada siswa yang bernama Kuroto Hana?” Entah kenapa dia malah menanyakan nama itu, nama Hana. Padahal seharusnya ia sudah yakin jika itu memang Hana.
“Ada,dia siswa tomboy yang tadi. Dia dari kelas 3-1.”
Tidak rugi juga bertanya kepada ketua komite. Sebuah informasi yang cukup ia butuhkan baru saja ia dapatkan. Yaitu kelas Hana.

Gelap malam sudah menguasai langit. Di luar hanya ada cahaya yang dihasilkan oleh lampu beralirkan listrik.
Festival kelas akan dimulai empat hari lagi. Dan sejak hari ini pelajaran diliburkan dan diganti untuk persiapan untuk Festival.
Hari ini dikususkan untuk menyiapkan bahan-bahan keperluan Festival. Tiga hari kedepan akan digunakan untuk mulai menghias kelas. Apalagi kelas 3-1 mengambil tema rumah hantu. Pasti akan sangat memakan waktu untuk menyiapkan semuanya.
“Selamat malam Hana-kun.”
Hana balas melambai pada gerombolan adik kelas yang juga mulai meninggalkan sekolah.
DIIIN…
Sebuah klaskson mobil segera membuat kaki Hana melangkah mendekati mobil yang memberikan sinyal itu. Memasuki mobil tersebut.
“Aku tadi bertemu Ishikawa-san.”
Kalimat Hana yang tiba-tiba membuat Haru Natsume sedikit tercekat.
“Pria yang di tempat potong rambut kemarin?”
Hana mengangguk menyengiyakan. “Ternyata dia sponsor sekaligus pemegang saham terbesar Mirai no Gakoo.”
“Begitu…” Haru Natsume hanya berguman menanggapi.
Injakan pada pedal gas sedikit demi sedikit menambah kecepatan rotasi ban mobil yang membawa keduanya.
Tidak ada percakapan sama sekali setelah itu. Haru Natsume dan Hana sendiri mulai sibuk dengan pemandangan malam yang mereka lalui.
Sesekali mata azure Natsume melirik ke arah Hana.
‘Sialan. Kapan dia bertemu dengannya tadi? Apa saja yang terjadi tadi?’
Pegangannya pada setir kemudi mengerat seketika. Ingin sekali ia menanyakan hal itu. Tapi hal itu mustahil sekali. Akan sangat mencurigakan jika dia bertanya berlebihan seperti itu.
Lain lagi ceritanya jika Kuroto Yoshiki yang menanyakan hal itu.
‘Khh… sialan,’ rutuk Natsume.


Akhirnya, Festival kelas dimulai.
Setelah tiga hari terlewati, pagi yang cerah ini akan menjadi kelas festival terakhir Hana, dkk mengingat ini adalah tahun terakhir mereka di Mirai no Gakoo.
Tapi sayangnya tidak dengan Hana, dia harus menghabiskan waktunya di meja kasir.
“Hei, apa-apaan ini? Kenapa aku yang harus menjaga stand sementara kalian berkeliling?”
“Habisnya hanya Hana sendiri yang tidak punya pasangan,” jawab Shiro polos.
“Eh?”
“Tomoaki-kun!” Shiro bersorak begitu melihat bayangan pria berkacamat muncul di depan kelas mereka.
“S-Shiro…” HideTomoaki hanya bisa sweatdrop saat kekasihnya itu menggelayut manja pada lengannya.
“Shiro mau makan apel karamel! Yuk cari!” Shiro dengan kekuatannya menarik lengan Tomoaki.
Tomoaki bahkan belum sempat menyapa Hana—istri tuannya—yang tengah menatapnya kebingungan sekarang.
Melihat Shiro semakin meliar saja, Tomoaki akhirnya hanya bisa menundukan kepalanya sebagai izin pengunduran dirinya.
Hana hanya tersenyum tipis dan mengangguk menanggapi itu.
“Eh benar? Dia mengajakmu ke ruang istirahat?”
“Hwaaa pasti rasanya mendebarkan ya!”
“K-Kalian pelankan suara kalian!”
Sayup-sayup terdengar pembicaran perempuan yang sepertinya dilakukan di dekat ruang kelas 3-1.
“Lalu apa kalian juga akan berdansa di malam penutup Festival?”
“Tentu saja. Itu kan bukti jika aku berpacaran dengannya.”
“Kyaaa senangnya!”
“…” Hana terdiam mendengar pembicaraan tersebut.
Benar juga. Harusnya saat ini dia tengah berkeliling festival bersama Yoshiki dan kemudian menari pada acara puncak.
Sebuah senyum kecut terbentuk di bibirnya.
“Yoshiki-kun…” gumannya.
“My Lady?”
Kepala Hana yang sedari tadi menunduk seketika mendongkak. Haru Natsume tengah berdiri di hadapannya dengan kedua tanganya berada di dalam saku celananya.
“Natsume? Kenapa di sini? Tidak berkeliling festival?”
Tidak ada jawaban dari Haru Natsume. Yang ada pria itu hanya semakin mendekat ke arahnya dan sekarang telah duduk di kursi kosong di sebelahnya.
“Hei hei, jangan terlalu memaksakan diri untuk menjagaku. Aku tidak apa-apa di sini. Oh, apa jangan-jangan karena kau sudah hidup terlalu lama kau jadi bosan dengan festival sekolah?”
“…” masih tidak ada jawaban dari Haru Natsume.
“Hoi? Kau kenapa sih?” Hana menolehkan wajahnya menghadap wajah Haru sempurna.
Pemuda di sampingnya itu sama sekali tidak terbaca ekspresinya karena kepalanya yang terlalu tertunduk.
“Haaah… sudahlah terserah padamu saja. Omong-omong kau akan menari bersama siapa nanti saat acara puncak?”
Haru Natsume seketika membangkitkan kepalanya guna menatap Hana.
“Hmm?” Hana menaikan kedua alisnya menunggu jawaban.
Haru Natsume—Kuroto Yoshiki—menatap Hana dengan kedua alisnya saling terpaut.
“Kuroto?”
Keduanya seketika menoleh kea rah pintu kelas. Dua orang gadis berdiri di ambang pintu.
“Hwaa rumah hantu!” Seorang gadis yang lain menatap sekitar dengan ngeri.
“Gasai-san, Tachibana-san selamat datang, silahkan,” Hana bangkit berdiri guna menyodorkan tiket masuk rumah hantu kelasnya.
“Ah tidak, kami datang kemari bukan untuk masuk tempat menyeramkan seperti ini. Tapi untuk…” Gasai menyenggol lengan Tachibana.
“Ah, I-iya. H-Haru-s-san… a-aku ingin mengajakmu menari bersamaku di acara puncak nanti.”
Hana terdiam cengo dan hanya menatap Tachibana dan Haru secara bergantian.
“Aku sudah memiliki pasanganku.” Diluar dugaan. Hana sempat tertegun karena intonasi dingin yang digunakan Haru Natsume.
“K-Kalau begitu, ayo ke ruang istirahat H-Haru-s-san!” Tachibana menggebrak meja kasir menahan rasa malunya.
“Hn… bukankah sudah kubilang aku sudah memiliki pasanganku?”
Hana membeku mendengar kalimat Haru. Nada dan ekspresi yang ditampakan Haru sangat mirip dengan seseorang. Seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Kuroto Yoshiki—suaminya.
DRAK. DRAP. DRAP. DRAP.
Tiba-tiba saja Tachibana sudah menghilang dari pandangan.
“Woaa Tachibana! Tunggu aku!” Gasai segera berlari menyusul.
“Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah menemukan pasangan untuk berdansa di acara puncak?” terdengar jelas sekali jika nada bicara Haru sangat berat sekali kali ini.
“A-ah i-itu… Aku hanya akan menari dengan Yoshiki-kun. Jadi… aku tidak akan menari nanti,” Hana menggaruk pipinya yang tidak gatal.
“Yoshiki-kun sedang berjuang di sana. Mana mungkin aku bisa bersenang-senang di sini, dan menari dengan pria lain?” Sebuah cengiran mampir di wajah Hana.
Bibir Haru Natsume sedikit tertarik pada ujungnya.
Setengah hari kelas Festival telah berlangsung. Dan selama itu banyak perempuan yang meminta untuk menari bersamanya di acara puncak nanti. Seketika perhatiannya tertuju pada istrinya. Apakah istrinya itu juga akan mengajak pria lain untuk berdansa dengannya? Memikirkan itu saja sudah cukup membuat kepalanya berdenyut-denyut. Tapi syukurlah, ternyata istrinya sama sekali tidak melakukannya.
Namun sedeteik kemudian senyuman tipi situ menghilang.
Mata Azurenya menatap Hana yang terus tersenyum seolah tidak terjadi apapun. Senyuman polos yang membakar dadanya. Dirinya sepenuhnya mengerti, istrinya ini pastilah sangat mengharapkan dirinya—Kuroto Yoshiki—muncul, mengelilingi festival bersama, dan akhirnya berdansa di acara puncak.
“Ah, Haru aku ingin jus apel. Kau mau membelikannya untuku?”
“Tentu, tunggu sebentar,” Haru Natsume bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang kelas 3-1 menuju mesin penjual minuman di lantai bawah.
Walaupun dia bisa mengetahui apa yang istrinya inginkan, dia sama sekali tidak bisa berbuat apapun.
Menemani berkeliling festival, memasuki ruang istirahat, dan menari  di acara puncak bukanah maalah besar baginya. Bahkan dia juga ingin melakukannya bersama istrinya. Egonya yang sangat tinggi untuk membuktikan Hana miliknya membutanya juga merasa ingin berdansa di acara puncak.
Tapi ia tidak bisa. Tidak sebagai Haru Natsume.
Langkahnya berhenti begitu mencapai mesin penjual minuman. Memasukan uang dan menekan tombol minuman untu sekotak jus apel.

“Hhhh….” Setelah menghelakan nafas berat, tangannya kembali meraih ponselnya. Jempolnya bergerak menekan-nekan layar smartphone-nya.
Manik sapphire-nya tak berkedip begitu layar ponselnya menampilkan sebuah foto. Sebuah foto dengan pose sederhana antara dirinya dan Kuroto Yoshiki. Dirinya yang tersenyum dengan tanda peace pada jarinya. Dan Yoshiki yang memeluk bahunya dengan satu tangan.
“Wah wah apa ini?”
“Eh?” Ponselnya telah raib dari tangannya.
“Luka?” Hana bangkit dari duduknya seketika. Di hadapanya berdiri Luka tengah menatapnya rendah.
“Siapa ini Kuroto? Kekasihmu?” Luka menatap ponsel Hana dengan tatapan mengejek.
Hana menatap begis Luka sebagai balasan, “Ya. Dia kekasihku,” dan menjawab dengan mantap pertanyaan Luka.
Tentu saja Luka tidak mengingat Yoshiki. Padahal dua tahun lalu dia menyukai Yoshiki.
“Benarkah? Aku tidak yakin.” Luka kembali memasang wajah mengejeknya.
“Terserah padamu. Cepat kembalikan ponselku!” Tidak ada untungnya juga meladeni siswi pembuat masalah seperti Luka.
Merasa pancingannya tidak mempan, Luka kembali membuat pancingan lain, “kalau dia memang kekasihmu, maka dimana dia sekarang?”
“…” Hana membeku mendengar pertanyaan Luka.
“Dia tidak di sini sekarang? Tentu saja, karena kalian bukan kekasih,” Luka tersenyum kemenangan.
“Yoshiki-kun… kekasihku.” Kepala Hana telah tertunduk sekarang.
“Kalau dia kekasihmu maka dia pasti sudah di sini sekarang!”
TAP.
Haru Natsume muncul dengan kedua tangannya menggenggam kotak just.
“Kyaaaa ada Haru-kun di sini!” teriak Luka ke arah Haru.
“Jusmu…” Haru sama sekali tidak merespon Luka dan menyerahkan jus pesanan Hana.
“Ah, terima kasih,” guman Hana.
“Omong-omong Haru-kun! Mau menari denganku nanti?” Luka bersemangat.
“Tidak.”
“Hueeee Haru-kun jahat.” Luka berlari keluar sembari meletakan ponsel Hana di atas meja kasir.
Haru mengambil ponsel Hana yang diletakan sembarangan oleh Luka.
“!?” Kedua bola matanya melebar melihat apa yang tengah ditambilkan ponsel Hana. Sebuah foto antara dirinya dan si pemilik ponsel.
“Ponsel—“ Niatnya untuk mengembalikan ponsel itu terhenti saat Hana memotong kalimatnya.
“Natsume… sudah kuduga. Aku ingin sekali bersama Yoshiki-kun. Berlarian di lorong festival, berguling-guling dengannya di ruang istirahat, dan merusuh di acara puncak. Yoshiki-kun…. Yoshiki-kun… a-aku…” sudah tidak bisa lagi ditahannya. Air mata itu tumpah dari pelupuk matanya perlahan.
GREB.
Dalam hitungan detik, tubuh kekar Haru Natsume telah merengkuh tubuh rapuh Hana. Merengkuh dengan eratnya seolah jika ia melepaskan pelukan itu maka Hana akan hancur.
Dirinya sendiri pun sudah tidak bisa lagi menahan hasrat untuk memeluk dan menenangkan istrinya. Sedari tadi perasaannya bergejolak memikirkan perasaan istrinya tanpa bisa berbuat apapun.
Dan di saat seperti ini dirinya berharap bisa mengatakan kalimat, ‘aku di sini, My Lady.’
Read More ->>

Jumat, 15 Januari 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 7]

CHAPTER 7: A DAY WITHOUT YOSHIKI-KUN
“Wajahmu tidak banyak berubah ya. Mungkin yang berubah hanya tidak ada plester luka lagi di wajahmu,” guman Ishikawa Guren dengan tangannya ia gunakan untuk menumpu dagunya.
Guratan muncul di pelipis Hana. “Sialan. Kau mengejekku?”
“Terakhir bertemu denganmu pun ada tiga plester luka yang menempel di hidung, pelipis, dan bawah mata kananmu.”
“Heee… kau ingat sekali ya… kalau tidak salah waktu itu aku kenapa ya?”
“Bukannya kau bilang menyelamatkan kucing lalu ditabrak sepeda?” Kono yang seharusnya fokus pada rambut Hana kini mengikuti alur pembicaraan.
“Ah! Benar-benar!” Hana mengangguk-angguk menyetujui.
“Hoi! Rayu—Kuroto jangan menggerakan kepalamu sembarangan!” omel Kono yangkerepotan karena guntingannya menjadi tidak karuan sekarang karena Hana banyak gerak.
“Kuroto? Namamu Kuroto?” Guren menaikan kedua alisnya.
“Yaah sebenarnya—“
“Hahaha… ternyata anak laki-laki kurang ajar yang menari rambutku dengan keras dulu itu bernama Kuroto…” tanpa mengizinkan Hana melanjutkan kalimatnya, Guren segera memotongnya.
Hana, Kono, dan Natsume terdiam hingga Guren menyelesaikan tawanya.
“Sudah selesai,” Kono menghilangkan suasana canggung yang ada.
“Ah, sudah selesai rupanya,” pikiran Hana sudah melupakan jika Guren baru saja menyebutnya sebagai, ‘anak laki-laki’ tadi.
“Hmeh… sudah kuduga aku semakin tampan saja…” Hana menatap pantulan dirinya pada cermin di hadapannya. Melihat rambut hitamnya sudah menjadi lebih pendek sekarang. Senyumnya terkulum percaya diri.
“Kau… percaya diri sekali…” Guren mencibir dari arah samping.
“Apa? Aku memang seperti itu!” Lagi-lagi bertambah kerutan pada dahi Hana.
“Sudah-sudah kalian berdua. Sudah hampir sepuluh tahun sejak kalian terakhir bertemu bersama dan membuat tokoku kacau, tolong jangan diulangi lagi!” Kono mulai membersihkan sisa-sisa potonga rambut Hana di sekitar leher Hana.
“Kalian itu… tidak berubah sama sekali,” Kono melanjutkan kalimatnya begitu ia mulai melepas kain potong penutup tubuh Hana.
“Yuhuu… ini bagus sekali,” Hana berdiri dari kursinya dan menatap puas dirinya pada pantulan kaca. Dirinya yang baru saja mendapat potongan rambut baru, tubuhnya yang tertutupi oleh kemeja putih lengan panjang dan sebuah sweater tanpa lengan berwarna coklat, dan sebuah rok pendek berwarna abu-abu untuk menutupi pahanya.
“…” Guren terdiam menatap rok yang dikenakan Hana.
“Apa?” Hana menatap Guren seolah pria di sampingnya ini memiliki sebuah iri hati padanya.
“Kau… cross-dresser?” tanya Guren sweatdrop.
“Hah? Apa maksudmu?” Hana memiringkan kepalanya.
“Itu…” Guren menunjuk rok abu-abu Hana dengan ragu-ragu.
“Ini?” Hana menyentuh roknya, “apa aneh jika aku mengenakan rok?” Kini Hana malah bertanya balik.
“Tentu saja aneh. Kau itu laki-laki!”
“Aku perempuan.” Hana menjawab dengan polos.
“Apa?”
“Aku perempuan. Namaku Hana Kuroto.”
“…” Guren terdiam. Cukup lama. Hingga akhirnya—
“KAMU SERIUS!?” Sebuah teriakan menggema dari rongga mulut Guren.
“Aku serius,” Hana mengangguk dengan wajah polosnya.
“Sudah kuduga… kamu terlalu manis untuk ukuran wajah laki-laki…” Guren dengan wajahnya yang memerah malu karena salah tebak sempat berbatuk sedikit lalu memalingkan wajahnya, berfikir.
“Manis kau bilang? Hehe… sebentar lagi kau akan menyukaiku Ishikawa-kun,” Hana menyenggol tangan Guren dengan senyum jahilnya.
“EHEM!” Sebuah deheman terdengar dari arah kursi tunggu, membuat Hana dan Guren menoleh ke arah Haru Natsume bersamaan.
Haru tahu, Hana sama sekali tidak serius dengan godaannya barusan. Tapi hal itu tentu saja tidak bisa dibiarkan, cukup kesal juga rasanya mendengar candaan jahil itu.
Rasanya ingin sekali menarik Hana dari sana, dan mengingatkan jika dirinya adalah miliknya. Tapi mustahil sekali mengingat dirinya bukan lagi Kuroto Yoshiki, tapi Haru Natsume.
“Ah, sekarang giliran pria itu ya Kono-san,” Guren menunjuk Haru.
“Tidak. Pria itu tidak memotong rambutnya. Sekarang giliranmu Guren-kun,” Kono telah membersihkan kursi yang tadi ditempati Hana.
“He? Lalu untuk apa dia kemari?” Guren telah duduk di kursi yang telah disediakan.
“Menunggu Kuroto tentu saja,” Kono menutupi tubuh Guren dengan kain potong.
“Kono-san! Terima kasih ya! Uangnya kuletakan di tempat seperti biasa!” Bersamaan dengan teriakan itu sosok Hana dan sosok bermantel hitam-merah itu menghilang dari ruangan potong.
Sejenak ruangan menjadi hening dan hanya diisi oleh berisiknya gunting yang tengah sibuk membelah tiap helai rambut hitam Guren.
“Guren-kun?” Kono mau tak mau menyuarakan nama pemuda yang kini rambutnya tengah ia potong tersebut. Dari pantulan kaca, dengan jelas ia melihat jika pemuda itu tengan tersenyum tipi sekarang. Sungguh aneh.
“Sudah kuduga… dia perempuan…” Guren hanya menggumankan kalimat itu.
“Hana maksudmu?”
“Yaa…” Guren hanya berguman pelan.


“Hei, Haru-kun lihat, potonga baruku bagus bukan?”
Sudah hampir sepuluh menit Hana terus membanggakan potongan rambut barunya. Mengotak atik kaca kemudi juga berkali-kali ia lakukan. Tentu saja, Haru sudah menjawab pertanyaan Hana berkali-kali dengan jawaban yang sama.
“Omong-omong My Lady…” entah kenapa nada bicara Haru menjadi agak serius, namun matanya sama sekali tak teralihkan dari jalanan.
“Hm? Ada apa Haru-kun?”
“Tolong jangan menggoda pria sembarangan.”
“Menggoda? Ah maksudmu Ishikawa Guren tadi? Ahahaha… aku hanya bercanda.”
“Anda milik My Lord, My Lady.” Ucapan Haru sekarang seolah menegaskan kembali jika Hana adalah milik Yoshiki.
“Aku mengerti… aku mengerti…”


“Yaa… aku sedang dalam perjalan ke sana. Tunggu saja. Yaa… baiklah kalau begitu,” dan panggilan diputuskan.
Guren Ishikawa menekan tombol kembali utama. Menghelakan nafas panjang hingga menimbulkan uap-uap di sekitar mulutnya.
Salju memang sudah berhenti turun. Walau begitu, suhu udara sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda akan naik temperaturnya.
“Kuroto… Hana…” tangannya bergerak meraih dompet yang ia letakan pada saku belakang celananya. Membuka dompet coklat tersebut, dan mengeluarkan secarik foto dari sana.
“Lama tidak bertemu…” gumannya sambil jempol tangannya mengusap permukaan foto tersebut.
Foto sepuluh tahun lalu yang diambil oleh ibunya sebagai kenang-kenangan potong rambutnya. Foto dirinya bersama dengan seorang anak berambut sangat pendek, memakai kaos merah, dan celana pendek biru tengah mengacungkan jarinya membentuk tanda peace.
“Ah! Sialan! Aku lupa meminta alamat emailnya tadi!” rutuknya tiba-tiba.


Sebuah getaran terasa saat Hana hampir terlelap mengikuti rasa lelahnya.
“Maki? Halo? Ada apa?” sebuah panggilan baru saja masuk pada ponselnya. Saphirrenya melirik ke arah jam dinding sekilas. Jam istirahat baru saja dimulai memang. Pantas Maki bisa meneleponnya.
“Hanaaaaaaaaaa!!” sebuah teriakan hampir merusak speaker ponselnya. Untungnya Hana telah siaga dan menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
“Maki, berisik. Aku kesiangan tadi, jadi kuputuskan untuk bolos hari ini. Ah, dan Yoshiki-kun juga izin hari ini.”
“Yoshiki-kun?”
“Eh?” Hana terdiam sejenak.
Maki melupakan Yoshiki. Apa itu berarti Yoshiki sudah menggunakan sihirnya untuk menghapus keberadaannya?
“Ah, lupakan-lupakan. Ada apa Maki?” Hana kembali pada pertanyaan utama.
“Hanya bangun kesiangan? Hahh… syukurlah…” terdnegar jelas helaan nafas lega Maki dari sebrang sana, “omong-omong lima hari kedepan akan diadakan class-fest tahun ini loh. Kita sudah melakukan perundingan tadi. Dan hasilnya, kita akan mengadakan rumah hantu tahun ini.”
“Rumah hantu? Hei… hei… memangnya yakin?” Hana membalikan badanya menjadi terlentang di atas ranjang.
“Tentu saja yakin.”
“Persiapannya akan repot loh.”
“Tenang saja, Yui dan Shiro istirahat kali ini sudah menghilang bersama teman-teman yang lain untuk mencari bahan.”
“Kalian itu… niat sekali…” Hana sweatdrop.
“Yah, ini kan tahun terakhir kita di sekolah. Kita semua ingin menikmati semua stand yang disajikan.”
“Oh, maksudnya rumah hatunya akan dibuat otomatis?”
“Ya, begitulah.”
“Haah… baiklah terserah.”
“Oke. Kalau begitu aku pergi dulu, rapat komite akan segera dimulai.”
“Kau ikut Komite kelas Maki?”
“Iya. Untuk menghindari rasa kesepian saat festival berlangsung saja. Sudah yaa…” dan panggilan diputus.
Hana hanya menatap pantulan cahaya menyilaukan dari layar ponselnya.
“Yoshiki-kun… kau menghapus ingatan semuanya ya?” gumannya.


Pagi cerah menyambut awal musim semi. Bau serbuk bunga mulai bertebaran.
Hana telah siap dengan seragamnya, beserta tasnya yang telah lengkap berisi seluruh perlengkapan sekolah hari ini.
Kakinya melangkah membawanya menuju mobil yang akan digunakan untuk mengantarnya menuju sekolah hari ini. Sebuah senyum kecut menghiasi wajahnya.
Ini akan menjadi hari sama seperti saat ia belum mengenal Kuroto Yoshiki. Hari yang sama sebelum Kuroto Yoshiki pindah.  Dirinya yang sendirian, dan bebas.
“Pagi…” guman Hana malas saat dibukanya pintu depan mobil. Walaupun moodnya hari ini sedang buruk, tapi sebuah sapaan kepada supirnya harus ia berikan.
“Pagi, My Lady.”
Hana terdiam membeku. Saat kepalanya mulai memasuki mobil, pandangan pertama yang disapanya adalah wajah tampan Haru Natsume.
“Kenapa kau yang menjadi supirku? Dan lagi apa-apaan seragam itu!?” Hana menunjuk seragam Mirai no Gakoo yang melekat pada tubuh Haru Natsume.
“Hmm… My Lord meminta saya agar selalu berada di sisi anda,” sebuah jawaban simpel.
“Haahhh…” helaan nafas berat terdengar dari bibir Hana. “Tapi kau tidak perlu sengaja masuk sebagai siswa baru di sekolahku kan? Jangan-jangan kau berniat masuk ke kelasku juga?” Hana telah menyamankan dirinya pada kursinya.
“Saya tidak berniat menjadi siswa baru. Rencananya, saya telah menjadi siswa dan… ya dikelas My Lady.”
Hana melirik malas ke arah Haru yang tengah sibuk dengan urusan menyetirnya, “kenapa kau tidak menyamar menjadi Yoshiki-kun saja?”
“!...” Haru Natsume yang hendak menekan pedal gas terdiam sejenak.
“Saya tidak bisa menyamar menjadi My Lord,” setelah kalimat itu terucap sempurna, diinjaknya pedal gas perlahan-lahan. Membawa Audi Hitam itu melaju.
Mata azure-nya mengamati wujud perempuan di sampinya. Tengah menyandarkan dagunya pada tangannya. Menatap kosong dan bosan kea rah luar jendela.
Genggamannya pada setir seketika mengerat. Giginya bergemelatuk kecil.
‘Aku di sini, My Lady…’


“Ah! Kuroto! Pagi! Tunggu… kau memotong rambutmu lagi?” dari arah belakang terdengar suara yang Hana kenal, suara Takatsu Rui si ketua kelas
“Takatsu, pagi,” Hana tersenyum simpul.
Takatsu memanggilnya dengan panggilan, ‘Kuroto’. Sepertinya ini juga perbuatan Yoshiki.
“Kenapa absen kemarin?”
Tipikal ketua kelas yang sempurna. Menanyakan kejelasan absennya kemarin.
“Aku hanya bangun kesiangan kemarin,” Hana menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
“Hanya kesiangan? Syukurlah… kukira kau kena demam musim dingin. Omong-omong besok kelas kita akan—“
“Rumah hantu bukan? Maki sudah memberitahuku,” Hana memotong segera.
“Begitu? Baguslah, tidak ada lagi yang harus kujelaskan ulang.”
Keduanya telah sampai di dalam kelas bersama dengan pembicaraan mereka.
“Pagi Haru-kun!” sebuah sapaan yang memekikan telinga membuat Hana menoleh kebelakang guna mengetahui apa yang menyebabkan pekikan itu.
Ternyata, segerombol siswi tengah menyambut kedatangan seorang siswa yang tentu sajasangat di kenal oleh Hana. Haru Natsume.
‘Haha… kira-kira bagaimana caranya menanggapi perempuan-perempuan ini?’ batin Hana. Beberapa gambaran dalam pikirannya muncul. Seperti Haru yang mulai melambaikan tangannya dan tersenyum ke arah semua perempuan yang ada.
Akhirnya, pemuda yang ditunggu-tunggu muncul. Kepala putihnya yang tinggi itu tentu saja bisa terlihat dari balik kerumunan para perempuan.
‘Haha… ini dia’—“Eh?” Hana terperangah.
Haru Natsume melewati para siswi itu begitu saja. Tanpa ada senyuma sama sekali. Bahkan yang ada hanyalah sebuah wajah dingin. Membuat kerumunan itu kecewa berat.
‘Seperti… Yoshiki-kun…’
Entah kenapa, sikap dan tingkah Haru Natsume sangat mirip dengan Kuroto Yoshiki—suaminya. Sebuah sikap di mana ia tidak tertarik dan tidak peduli terhadap kerumunan fans itu.
“Sudah, sudah. Bel masuk akan segera berbunyi. Cepat kalian kembali ke kelas masing-masing,” Takatsu segera muncul sebelum para siswi penyebab keributan itu mengikuti Haru memasuki kelas.
Dengan ditutupnya pintu kelas, keributan mereda.
“Hahhh… selalu saja seperti ini setiap hari…” desah Takatsu Rui.
“HANAAAAA!!”
“—GHUK!”
Sebuah terjangan bertenaga baru saja menghantam tubuh Hana dari belakang.
“S-Shiro… Sakit! Lepas! Kau terlalu erat!” Hana dengan nafas megap-megapnya berusaha melepaskan pelukan erat Shiro pada lehernya.
“Shiro… lepaskan dia…” Yui muncul dengan helaan nafasnya.
“TAPI SHIRO MERINDUKAN HANA!” Shiro tetap ngotot dan malah memeluk leher Hana semakin erat.
“S-Shiro…” Hana semakin megap-megap.
“Baik!” dengan riang dilepaskannya pelukannya.
“Aduh, Shiro… ini masih pagi,” ujar Hana dengan mengusap-usap lehernya.
“Yo, Hana. Bagaimana kabarmu?” Yui Umei bertanya dengan senyumnya.
“Aku baik,” balas Hana dengan senyumannya pula.
“Tidak masuk kelas, dan masuk dengan keadaan rambut terpotong pendek. Berani sekali kau? Coba panjangkan sedikit rambutmu itu!” Maki muncul dengan kedua tangan tangannya ia silangkan di depan dadanya.
“Pagi, Maki,” Hana tersenyum.
“Jika kau terus memotong rambutmu, tidak aka nada pria yang tertarik padamu loh,” nasehat pagi hari oleh Maki.
“Hana! Kau akan sendiri selamanya!” Shiro membesar-besarkan.
‘Sialan… karena Yoshiki menghapus segalanya, aku jadi terlihat seperti seorang jomblo mengerikan,’ batin Hana kesal.
“Omong-omong, ada kabar besar!” Maki tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.
“Kudengar kelas sebelah akan membuat rumah zombie yang ada ruang peristirahatannya!”
“EH!?” Ketiganya lantas menanggapi dengan kekagetan.
“Itu serius?” Yui meminta ketegasan.
“Ini masih rencana. Jika ketua Komite meluluskan saja. Ini masihlah sebuah rencana rahasia!”
“Lalu, bagaimana kau tahu rencana ini Maki?” sahut Hana.
“Temanku dari kelas sebelah ikut merencanakan ini.”
“HUWOOO RUANG PERISTI—UMHPP!” Shiro yang hampir meneriakan rencana rahasia segera dibekap mulutnya oleh Maki.
“Shiro ini rahasia!” Maki kembali mengingatkan.
“Tak kusangka tahun ini akan sangat pemberani,” guman Yui, “ruang istirahat kan hanya pernah berhasil dilakukan dua tahun lalu saat kita baru masuk sekolah ini.”
Read More ->>

Jumat, 08 Januari 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 6]

CHAPTER 6: BARBER SHOP STORY

“Berikan ini padanya,” tangan Haru Natsume terjulur dengan sebuah alat perekam tergenggam.
Misaki hanya terdiam menatap tangan Haru Natsume yang terjulur. “Kenapa tidak anda berikan saja?”
“Hn?”
“My Lady sepertinya membenci anda. Kenapa tidak mencoba mengakrabkan diri saja?”
“Hn… Ide bagus…” guman Haru Natsume datar.
Keduanya kini telah meninggalkan ruang kerja Kuroto Yoshiki dan dalam perjalanan menuju ruang utama. Dari arah yang mereka tuju sayup-sayup terdengar suara derap langkah kaki yang terdengar seperti orang berlari.
“Ah! Misaki! Akhirnya aku menemukanmu! Ah—“ langkah lebar Hana yang berlarian terhenti begitu melihat sosok berambut putih dan berwajah datar di samping Misaki.
“Haru Natsume…” Hana menggumankan nama itu dengan mirip seperti desisan.
“My Lord menitipkan ini. Untuk anda My Lady,” disodorkannya mesin perekam dalam genggamannya.
Tatapan Saphirre Hana sempat menunjukkan kecurigaan. Tapi akhirnya tangannya tetap terjulur juga untuk menerima alat perekam itu.
Jempolnya yang agak gemetaran menekan satu-satunya tombol berwarna merah dan cukup besar pada mesin itu. Segera setelah beberapa menit bunyi gemerisik pada alat itu, sebuah suara yang membuat kedua bola mata Hana membulat lebar terdengar.
“My Lady… bagaimana kabarmu?”
Menekan kembali tombol itu, Hana menundukkan kepalanya dalam.
“Misaki, tolong ganggu aku,” dan setelah menggumankan kalimat itu, Hana kembali berlarian di lorong.
“My Lady… pasti sangat senang sekali,” ujar Misaki yang berdiri di belakag Haru Natsume.
Haru Natsume dengan kedua tangannya telah ia masukan sempurna ke dalam saku celananya, mulai berjalan meninggalkan Misaki.
‘Situasi sialan ini…’ kedua giginya bergemelatuk menahan emosi.
Seandainya dirinya tak mudah tertipu, seandainya dirinya bisa lebih tegas lagi terhadap keinginan Hana, situasi sialan ini mungkin tidak akan pernah terjadi.
Tomuro tertangkap untuk menggantikannya. Menurut perkiraannya, para Exorcist itu selambat-lamabatnya menyadari keberadaan Tomuro adalah satu tahun. Dirinya telah membuat Tomuro benar-benar menjadi seperti dirinya. Sihir anti Abschleppen Geist telah terpasang pada tubuh Tomuro.Tapi tentu saja, sekembalinya Tomuro, sihir itu akan ditariknya kembali.
Kakinya terus melangkah tanpa ada tujuan yang jelas. Tidak terpikirkan satu tempat pun yang akan menjadi tujuannya. Karena kepalanya sibuk memikirkan banyak hal.
Ini pertama kalinya dirinya harus kembali ke rumahnya dengan menjadi orang asing. Kira-kira, apa yang sedang dilakukan Kuroto Yoshiki saat ini? Bekerja di ruangannya. Sadarlah dirinya betapa membosankannya kesehariannya selama ini.
Tapi biasanya, setelah itu akan muncul seorang perempuan berambut pendek berwarna kelam yang tiba-tiba muncul dan menculiknya ke suatu tempat. Itulah istrinya, Kuroto Hana.
Kini istrinya itu berada dalam keadaannya yang terburuk sepertinya. Dirinya benar-benar tak menyangka jika kepergiannya akan menimbulkan dampak yang besar bagi Hana.
Setidaknya dirinya harus bertahan. Walaupun bukan sebagai Kuroto Yoshiki, suami dari Kuroto Hana, dirinya masih bisa menjaga Kuroto Hana sebagai Haru Natsume.
Selama Tomuro masih bisa menangani masalah di sana, bagian di sini akan diselesaikannya. Pertama-tama Tomuro memang tidak bisa memberikan informasi apapun karena kuncian sihir Exorcist. Tapi setidaknya dia jadi bisa mengerti dan mengenal para Exorcist peringkat 5 ke atas.
Yang perlu dilakukannya sekarang adalah memperkuat para pasukan, dan tetap menjalankan pemerintahan walau bukan sebagai Kuroto Yoshiki. Ini akan menyusahkan jika tanpa kekuatan aslinya, tapi bagaimanapun caranya dia harus segera melakukan ini.
Hana haruslah segera bangkit dari keterpurukannya agar pemerintahan di tempat ini kembali berlang—
“Hiks… hiks…”
Tubuhnya berhenti bergerak dan menegang seketika. Dia mengenal dengan pasti suara sesenggukan ini.
“Yoshiki-kun… Yoshiki-kun…” berujung pada sebuah rintihan yang memilukan.
Haru Natsume sudah tidak bisa mempertahankan pertahannya lagi. Tubuhnya limbung tersandar pada dinding kokoh nan dingin. Tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya yang kini tengah mengerut bercampur aduk antara sedih, dangeram pada dirinya sendiri.
Betapa dirinya ingin sekali memeluk Hana dari belakang. Mengatakan jika dirinya tidak apa-apa. Mengatakan jika dirinya akan selalu berada di sampingnya.
Perlahan namun pasti, kakinya kembali bergerak menjauh.
“Khh—maaf… My lady…”


“Jangan khawatirkan aku. Anggap saja tidak terjadi apapun. Aku selalu bersamamu—“
“Selalu bersamamu—“
“Bersamamu—“
Kelopak itu terbuka. Memunculkan sebuah sapphire sebiru lautan.
“Hhh… selalu bersamaku bagaimana?” tangannya bergerak menyapu rambutnya yang mulai memanjang.
“Sepertinya aku harus potong rambut,” tubuhnya bergerak bangkit perlahan sementara pandangannya terarah pada sisi samping ranjangnya yang kosong.
“Hei, harusnya aku mendapatkan ucapan selamat pagi darimu,” gumannya miris.
Suara deru salju yang ribut di luar pasti disadarinya.
“Badai salju belum reda ya? Jadi malas sekolah. Aku akan potong rambut saja hari ini.”
“Ohayou, My Lady.”
Hana yang tengah membuka sedikit gorden kamarnya untuk melihat putihnya alam di luar sana, menoleh ke belakang. Pelayan berambut coklat itu telah berdiri di depan pintu kamarnya. Berjalan dengan mendorong sebuah troli makanan.
“Early morning tea?” Hana tersenyum tipis dan kembali menjatuhkan diri pada ranjangnya. Mencari kehangatan dari dinginnya iklim.
Sementara sibuk meracik secangkir the yang pas, Misaki berujar, “seragam sekolah anda telah saya siap—“
“Ah, hari ini aku ingin membolos Misaki,” Hana menyela kalimat Misaki.
“Aku ingin memotong rambutku,” ditiupnya helaian rambut kelam yang menjuntai menutupi dahi hingga alisnya.
“Baiklah My Lady…”
Diterimanya cangkir porselen yang disuguhkan oleh Misaki. Pantulan wajahnya mengisi permukaan gelap the paginya. Wajah inilah, ratu iblis yang siap mengemban kewajiban berat.
Semalaman telah ia habiskan untuk berfikir mengenai keyakinan dan kemantapan perasaannya. Yoshiki tengah berjuang di sana, tentu saja ia tak bisa seenaknya saja berlaku seperti anak kecil di sini.
Lagipula, rekaman yang diberikan oleh Haru Natsume kemarin sudah lebih dari cukup untuk menguatkan perasaannya.
Ia memutuskan untuk mengemban berat tugas ini. Tentu saja, ia tidak akan sendirian. Misaki pasti akan membantunya. Masih ada Haru Natsume juga yang memang benar-benar wakil suaminya.
“Haru Natsume, dia wakilku yang lain. Selama ini dia bertugas di luar istana. Jadi keberadaannya tidak pernah diketahui siapapun kecuali aku dan Tomuro. Dia yang akan menjagamu hingga aku kembali.”
Hana memejamkan matanya selama ia mengecap manis asam the paginya. Ia bisa merasakan tannin yang mulai mengisi kerongkongannya dan lambungnya.
Setidaknya ia bisa bernafas lega sekarang, ternyata Haru Natsume bukanlah Exorcist seperti yang ditakutkan setiap orang. Jujur saja, rasa bencinya pada pria itu sangatlah besar. Haru Natsume, dia yang akan menjaganya sekarang.
“Hahh… diterima saja lah.”
Misaki menaikkan satu alisnya mendengar desahan pasrah Hana. Ingin dia mengetahui apa yang dimaksud ratunya ini, tapi apalah dayanya yang tak bisa membaca pikiran ratunya.


“Kau lama,” gerutu Hana dengan menatap jam tangan di pergelangan tangannya begitu mendengar suara pintu mobil yang terbuka.
Kepalanya ia tolehkan begitu merasakan kursi kemudi di sampingnya telah diduduki seseorang.
“H-Haru Natsume?” Tanyanya terbata begitu melihat sosok berambut putih itu telah duduk di sampingnya dengan mantel hitam-merahnya.
“Hm? Ya?” Haru Natsume setelah memasukan kunci untuk penggerak mesin, ia menolehkan wajahnya kea rah Hana.
“Anda harus memasang sabuk pengaman anda My Lady.”
“Tidak perlu. Cepat berangkat.” Hana melipat kedua tangannya ke depan dadanya.
“Anda harus My Lady,” wajah Haru Natsume tiba-tiba sudah berada di depan wajahnya saja.
Sebuah guratan merah terlihat samar pada pipi Hana.
SRRRT—TREK—
“Walaupun ini hanya sistem keamanan yang diciptakan manusia, tapi apa salahnya memanfaatkannya?” Haru tersenyum tipis menatap Hana.
Ruam samar tadi telah bertransormasi dengan ketebalan dan penyebaran yang merata pada wajah Hana.
Bagaiamana dirinya tidak memerah sementara di hadapannya tersaji seorang pria tampan dan tengah menatapmu dengan senyuman seksi.
“Fufufu,” Haru Natsume terkekeh perlahan selagi menegakan kembali tubuhnya. Menyalakan preseneling mobil.
“A-Apa-apaan itu!? Kenapa kau tertawa!? Kau mengejekku!?” Ini dia,sifat tsundere Hana keluar.
“Saya seharusnya tidak berhak melihat wajah anda yang tengah tersipu seperti ini. My Lord pasti akan cemburu,” ucap Haru dengan entengnya. Melajukan mobil Audi gelap itu meninggalkan mansion.
“E-eh? Memangnya kenapa?”
“Karena anda sangat manis bila begitu. My Lord pasti akan menghajar saya.”
Ruam merah pada wajah Hana kembali menebal seketika.
“Omong-omong anda akan memotong rambut di mana?”
“Di daerah Shinjuku. Bernama, ‘Day Light Barber’.”
“Yang di dekat kafe?” Haru Natsume memastikan kembali.
“Benar.” Hana mengangguk bersemangat.
“Kenapa anda ingin memotong rambut anda, My Lady?”
“Hah? Kenapa kau menanyakan itu? Kupikir Yoshiki-kun tidak akan protes walaupun aku menggundul rambutku,” Hana melirik Natsume sewot.
“Jika anda sampai meggundul rambut anda mungkin My Lord juga akan protes,”Natsume tertawa renyah.
“Aku hanya ingin menghilangkan kesedihanku saja.”
Begitu mendengar jawaban Hana, Natsume refleks menolehkan kepalanya guna melihat sang ratu. Ternyata Hana kini tengah menatap keluar jendela. Pantulan wajah sedihnya tergambar jelas pada kaca gelap mobil.
“My Lord akan selalu di sisi anda.”
Hana yang tadinya menopang dagunya pada jendela kini menoleh menatap Natsume yang sepertinya tengah sibuk dengan kemudinya.
“Aku tahu itu. Aku juga merasakannya. Dia tidak akan meninggalkanku. Bahkan aku masih bisa merasakan kehangatannya menyelimutiku,” guman Hana dengan senyuman hangat merekah pada bibirnya.


“Rayumi.” Sesosok bapak-bapak berusia sekitar empat-lima-puluh tahun datang menyambut Hana yang baru saja melangkah masuk dengan mengibat-ibatkan salju yang menumpuk pada bahunya.
“Ah, sekarang aku Kuroto. Kono-san,” Hana tersenyum ramah.
“Begitukah? Jadi kau sudah menikah?”
“Sudah. Umurku sudah 17 tahun Kono-san,” Hana meletakan mantel coklatnya pada gantungan yang tersedia dan bergegas menuju kursi pelanggan. Kebetulan hari ini pengunjungnya hanya dirinya.
“Jadi, siapa suamimu?” Pria paruh bayah itu membalutkan kain pada tubuh Hana agar selama sesi pemotongan hanya sedikit rambut yang mengotori Hana.
KLIIING—
Bunyi bel yang terpasang pada pintu membuat pria itu menatap ke arah orang yang baru saja memasuki tokonya. Haru Natsume.
“Dia suamimu? Selamat pagi Kuroto-san.”
“Eh bukan! Bukan dia!!” Hana refleks berteriak dengan wajah panik dan memerah.
“Hmm?” Haru Natsume yang baru saja memasuki took segera menyadari apa yang baru saja terjadi.
“Dia bukan suamiku!” Hana kembali berteriak menegaskan.
Hori Natsume tersenyum tertetuk. ‘Tidak diakui suami oleh istri sendiri ternyata menyebalkan sekali…’ batinya.
“Bukan? Lalu siapa dia? Selingkuhanmu?” tanya Kono Tooru dengan bercanda.
“Bukan juga! Mana mau aku berselingkuh dengan pria menyebalkan seperti dia! Ah, potong seperti biasa ya Kono-san.”
“Jadi suamimu di mana sekarang?” Kono Tooru mulai menyiapkan segala peralatan yang akan digunakannya untuk memperbaruhi rambut Hana.
Ada jeda sejenak bagi Hana untuk berfikir. Mana mungkin ia mengatakan jika suaminya tertangkap Exorcist sekarang.
“Dia sedang bertugas sekarang…” jawab Hana ragu.
Siapapun di ruangan itu pasti akan segera menangkap nada sedih yang baru saja dilontarkan Hana secara tidak langsung.
Haru Natsume—Kuroto Yoshiki—terdiam duduk di tempatnya.
“Dia pasti selamat. Hanya pria tangguh yang mampu menikahi perempuan liar sepertimu Hana-kun,” bunyi potongan memenuhi ruangan.
“Perempuan liar?” Dari arah belakang Haru Natsume menyahuti.
Dari arah kaca terlihat jelas Hana sedang melirik sebal ke arah Natsume.
“Dia sudah menjadi langgananku sejak masih SD. Selalu datang kemari meminta potong rambut seperti anak laki-laki dan tak jarang datang kemari dengan plester di mana-mana,” kekehan pria tua itu berbaur dengan suara guntingan pada rambut Hana.
“Kalau tidak salah dulu ada ya, anak laki-laki yang takut dipotong hingga menangis,” sapphire Hana menerawang jauh.
“Guren-kun?”
“Jadi namanya Guren yah… waktu itu merepotkan sekali ya. Ibunya sampai bingung.”
“Syukurlah dengan ajakanmu dia mau memotong rambutnya.”
Haru Natsume terus memasang telinga dan mendengarkan perbincangan antara Hana dan si tukang potong.
“Apa setelah itu dia sering potong rambut kemari Kono-san?”
“Tidak sering. Tapi aku sudah memotongnya tiga kali sejak saat itu.”
“Wah… kalau tidak salah dia beda umur lima tahun denganku. Dia mungkin sudah jadi pegawai yang mapan ya?”
“Pernah dengar nama Ishikawa?”
“Ishikawa? Maksudnya perusahaan yang baru-baru ini hampir menguasai perekonomian industry besar Tokyo? Apa hubungannya?”
“Namanya Ishikawa Guren.”
“EH!? BENARKAH!? ANAK CULUN ITU CEO PERUSAHAAN ISHIKAWA!?” Hana hampir melompat dari kursinya. Mengingat betapa terkejutnya dia, ternyata bocah yang ditemuinya sebelas tahun lalu, bocah yang menangis karena takut rambutnya akan dipotong, ternyata telah tumbuh menjadi sosok luar biasa.
KLIIING—
“Permisi.”
Ketiga penghuni ruangan otomatis mengalihkan pandnagannya pada sosok bermantel coklat yang baru saja memasuki ruang potong.
“Kebetulan yang luar biasa. Selamat datang Guren-kun.” Kono Tooru tersenyum menyambut.
“Kebetulan? Sepertinya sudah ada pelanggan yah? Yaah baiklah lagi pula meeting masih dimulai dua jam lagi,” pria berambut hitam cepak itu melirik jam tangannya sementara ia menjatuhkan pantatnya di sebuah kursi memanjang yang sama dengan yang digunakan Haru Natsume.
“Loh?” Kedua mata coklat Ishikawa Guren memincing menatap kea rah cermin di hadapannya yang menatulkan wajah Kono yang sibuk memotong rambut seorang perempuan yang terasa sangat familiar pada neutron otaknya.
“Kau… kau kan yang waktu itu…” tak bisa menahan hasratnya, Ishikawa Guren menuruni kursinya dan berjalan mendekat kea rah Hana.
“Anak nakal yang waktu itu menjambak rambutku sangat keras.” Ishikawa Haru bertatapan dengan wajah Hana.
“Yo! Sudah lama tak berjumpa!” Hana tersenyum memperlihatkan deretan gigi-giginya. “Tak kusangka kau menjadi CEO ya!”
“Ya… begitulah…” Guren mengusap belakang rambutnya. Agak tersipun.
Sementara itu, mata abu-abu Natsume sama sekali tak lepas dari sosok jakung Ishikawa Guren.
Read More ->>

Jumat, 01 Januari 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 5]

CHAPTER 5: HARU NATSUME
“My Lady! Itu My Lady!” Misaki berteriak bergitu melihat baying-bayang tubuh Hana yang menembus putihnya dunia.
“Buka gerbang!” teriak seorang prajurit.
“Yoshiki-kun! Yoshiki-kun! Bagaimana Yoshiki-kun!?” Begitu kakinya telah menapak ke dalam area manor, mulutnya sudah tidak bisa ditahan lagi untuk meneriakkan nama suaminya.
Beberapa prajurit yang datang untuk menyambut Hana seketika merubah raut wajah mereka menjadi masam dan tertunduk. Tidak ada raut bahagia sedikit pun dari sepersekian prajurit yang menyambutnya. Dengan begini, dapat disimpulkan jika sesuatu yang buruk telah terjadi.
“Hei! Yoshiki-kun di mana?” Tangannya mendarat mencengram salah satu kerah pakaian prajurit.
Prajurit itu hanya bisa menatap Hana dengan kerutan di alisnya. Kepalanya berusaha tertunduk menutupi ekspresinya.
“Kita… kalah.. My Lady…”
Bola mata sapphire Hana membulat sempurna. Tubuhnya seakan tak bertulang. Cengramannya mengendur membuat sang prajurit terlepas.
“Apa maksudnya itu!? Yoshiki-kun! Yoshiki-kun di mana!?” Sekali lagi Hana berteriak. Air mata tak terbendung memeleh keluar dari pelupuk matanya. Namun matanya sarat akan pertanyaan. Menatap seluruh prajurit di hadapannya meminta jawaban.
“My Lord tertangkap Exorcist bersama wakilnya, Arashi Tomuro.” Sebuah suara penuh wibawa menggema mengalahkan berisiknya badai salju.
Refleks seluruh pasang mata di tempat itu menoleh ke asal suara.
“Siapa kau!?” Para prajurit menodongkan senjata mereka seketika kepada sosok itu. Sosok pria berusia sekitaran 24-28 tahun dengan rambut putih  sebahunya yang menjuntai mengikuti arah angin, bermata abu-abu, dan mengenakan sebuah mantel hitam-merah.
“Exorcist…?” terdengar gumanan dari puluhan prajurit yang sudah dalam kuda-kuda siap.
“Exorcist?—Pftt—HA HA HA!” Pria itu tertawa lepas.
“Jangan samakan aku dengan para domba penurut sialan itu,” ada nada mengejek di dalam setiap katanya.
“Jadi siapa kau?” Sahut salah satu prajurit.
Hana hanya bisa bungkam dengan posisi siaga. Matanya terus mengawasi pria itu bagai elang.
“Namaku Haru Natsume. Iblis yang ditunjuk My Lord untuk menjaga My Lady.” Seketika kedua bola mata abu-abu itu meilirik kea rah Hana secara bersamaan.
“!!??” Tidak ada respon lain dari Hana selain kebingungan.
“Mustahil! Kami tidak pernah melihatmu di dekat My Lord!” protes salah seorang prajurit.
“Kedudukanku sama dengan Arashi Tomuro. Tapi aku bertugas di luar kerajaannya dan bertugas mengumpulkan informasi,” nada angkuh memenuhi ucapannya.
‘Siapa pria ini?’ Otak Hana bertanya diam-diam. Jika memang seperti yang diucapkannya—wakil Yoshiki—harusnya Yoshiki sudah berceritapadanya jika dia memiliki wakil lain. Tapi selama ini yang diketahuinya hanya Tomuro lah wakil Yoshiki. Dan tidak ada yang lain.
“GAAAHHH!!” Sebuah peikikan putus asa menarik Hana kembali pada dunianya. Menghentikan spekulasinya. Saphirre-nya menoleh ke asal suara.
Pria itu—Haru Natsume—telah berdiri beberapa meter dari tempat berdiri tadi, tangan kanannya terbuka membentuk sebuah cengkraman kepada udara dan sekarang telah dilumuri oleh darah. Tubuh seorang prajurit terjatuh di atas permukaan salju. Tanpa kepala.
Sebuah seringai mengembang pada bibir pria itu.
“My Lord memanggilku begitu dirinya di bawa menuju markas Exorcist. Arashi Tomuro telah terlebih dahulu berangkat ketika aku tiba. My Lord memberikan sebuah perintah absolut padaku untuk menjaga My Lady, dan membantu My Lady dalam menjalankan pemerintahan sampai My Lord kembali.
“KENAPA KAU TIDAK MENYELAMATKAN YOSHIKI-KUN!?” Hana kembali berteriak. Namun kali ini tidak dengan tatapan meminta jawaban. Tapi dengan kepala tertunduk dan bahu bergetar. Kedua tanganya menggenggam udara kuat.
Kedua iris abu-abu Natsume membulat melihat Hana dari belakang. Tentu saja, dia bisa melihat jelas gemetar pada punggung Hana.
“… Perintah My Lord adalah segera kembali dan jaga istriku.”
Langkah Hana menghentakan salju di bawahnya. Kedua kakinya melangkah penuh penekanan.
GRAB
Kedua tangannya kembali menyengkram kerah mantel seseorang. Kali ini leher Haru Natsume.
“DAN SEKARANG KAU SELAMAT SEMENTARA TUANMU TERTANGKAP!?” Bentakan lantang Hana memekakan telinga siapapun. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya.
“…” Tidak ada respon dari Haru Natsume.
“Ghhk—“ Gigi Hana saling bergemaltuk. Kini ia kembali tertunduk. Menyembunyikan Saphirenya kedalam gelapnya rambutnya.
Perlahan, tangannya melepaskan cengkramanpada mantel hitam pria itu.
SRAK. TRIIIIIING.
Begitu Hana melepaskan cengkraman itu, tubuhnya bergerak cepat merampas sebuah dagger dari salah satu prajurit. Suara gesekan antara dagger dan sarung dagger itu membuat suara melengking yang mengganggu telinga.
Detik berikutnya yang terlihat hanyalah sebuah percikan darah. Hana dengan tepat menusukkan dager itu pada jantung Haru Natsume—walaupun itu tidak berefek sama sekali.
Haru Natsume dengan dada kiri tertusuk sebuah dagger, kedua tangannya berusaha menahan agar dagger itu tidak menusuk semakin dalam karena tekanan yang dilancarkan si penusuk, yaitu Hana. Walaupun serangan fisik seperti ini tidak akan berpengaruh pada kehidupan dan nyawanya, tetap saja, pelaku penusukan ini adalah Kuroto Hana, si pemilik kekuatan tak terbatas. Apa jadinya jika di dalam dagger itu ada aliran kekuatan yang bisa meracuni tubuhnya!?
“Harusnya… harusnya … Yoshiki-kun yang kembali… TAPI KENAPA KAU YANG HARUS KEMBALI!?” Hana kembali berteriak dalam keputusasaannya. Menekan dagger itu lebih dalam lagi sekuat yang ia bisa.
Sepatu gelap yang dikenakan Haru mulai beradu dengan tanah. Menahan dorongan Hana memerlukan usaha dan tekanan ekstra pada kakinya sebagai penumpu.
Hingga—SRAAAK…
Tak kuat menahan beban, sepatunya tergelincir karena salju. Membuat dirinya dan Hana melayang di udara, menerima gravitasi bumi, dan terjatuh dengan dirinya ditindih oleh tubuh Hana.
“Kenapa…? KENAPA..!??” Dicabutnya dagger yang tadinya menancap dalam pada dada Haru. Menyebabkan menyemburnya banyak dari dari sana.
Setelah tangannya berhasil terangkat tinggi, kembali dihujamkannya tangan berdagger itu untuk sekali lagi menikam sosok di bawahnya.
GREB
Gerakan tangan Hana terhenti. Itu Misaki. Tengah menahan tangannya. Dan sekarang tengah menggelekng lemah kepada Hana.
Misaki menuntunnya bangkit. Mendenkapnya dalam pelukan erat. Menahan tangisan keputusasaan tuannya itu dalam pelukannya.
“….”Haru Natsume terdiam beberapa saat setelah berhasil bangkit. Dia tidak mengkhawatirkan lukanya sama sekali. Karena tanpa dipikirkan pun, sel tubuhnya sebagai iblis akan kembali beregenerasi hingga lukanya tertutup rapat.
“Syukurlah...” sebuah gumanan tipis terdengar dari sela-sela bibirnya.
Rambutnya yang senada dengan salju itu terbawa terpaan angin. Membuat kedua matanya telah tertutupi sempurna oleh helai-helai putih itu.
“Maaf… My Lady…”


Badai salju tidak berhenti sama sekali. Langit seolah ikut bersedih.
Di balik ributnya suara badai salju, di balik putihnya alam, di balik dinginnya suhu, sebuah pekikan, tangisan, teriakan menggema di seluruh manor.
Kuroto Hana, dengan keputusasaan menguasai dirinya menangis bagai orang gila. Meraung, berteriak, memekik.
Hari ini tidak ada aktivitas sama sekali di dalam manor. Semuanya sibuk merenanung dan menahan pahit mendengar raungan ratu mereka
Tidak ada yang tidak tahu penyebab kegilaan yang dialami sang ratu. Tidak ada hal lain lagi selain karena tuan mereka—Kuroto Yoshiki—ditahan oleh Exorcist. Dan tidak ada yang tahu, penahanan itu akan berlangsung sampai kapan.
Suara bantingan, dan lemparan sudah tidak asing di dengar diantara sela-sela raungan ini. Membuat siapapun yang mendengar ini tersayat hatinya.
“Y-Yoshiki-k-kun… Y-Yoshiki-kun…” sosok Hana tengah meringkuk di ujung ruangan dengan kedua tangannya menyengram erat selimut yang di bawakan oleh Misaki—karena yang sebelumnya telah ia robek habis. Setiap kalimatnya, bahunya begetar hebat. Air mata tak mau berhenti menganak sungai pada pipinya.
Dalam benaknya, terbayang sosok terakhir kali sang suami yang memperingatkan dirinya agar tidak berangkat ke departemen store. Sosok berwajah datar dan menyebalkan, sosok yang sangat dia cintai.
Seandainya… seandainya ia menuruti ucapan suaminya… suaminya tidak akan…
Tubuhnya bergerak menghadap tembok dengan keala tertunduk.
Seandainya… seandainya dia memiiki kekuatan untuk mengalahkan Exorcist itu…
Tanpa memperdulikan bunyi pintu terbuka dan masuknya Misaki ke kamarnya, kepalanya yang sudah membuat ancang-ancang segera dihantamkannya ke tembok.
BUGHHH…
“Eh?” Matanya terbuka dan menatap dua buah bantal di hadapannya tepat.
“Fyuuuh… untung masih sempat…” di sampingnya, Misaki beringsut menghela nafas lega.
“KENAPA KAU MENGHENTIKANKU MISKAKI!?”
“Memangnya apa yang anda dapat setelah menghantamkan kepala anda ke dining? My Lord tidak akan kembali walaupun kepala anda hancur.”
“Misaki… ini semua salahku. Seandainya aku—“
“Tidak. Ini semua salah Exorcist,” sela Misaki.
“Eh?”
“Mereka lah yang harus disalahkan. Merekalah yang mengibarkan bender perang terlih dahulu. Anda sama sekali tidak bersalah.”
“Tapi… seandainya aku lebih kuat—“
“Kalau begitu jadilah lebih kuat My Lady,” lagi-lagi Misaki memutus kalimatnya.
“…” Hana terdiam menatap Misaki.
 “Bagaimana bisa anda menjadi kuat sementara anda hanya meraung-raung saja seperti ini? Saya tahu anda sangat sedih karena My Lord tertangkap Exorcist. Tapi dengan meraung-raung saja tidak akan menghasilkan apapun. Malah membuat anda semakin terpuruk saja. Kenapa anda tidak mencoba menjadi lebih kuat hingga My Lord kembali?”
Kepala hitam itu akhirnya mengangguk mantap. Tubuhnya bangkit perlahan dan menegak. Dengan tatapan mantap ia menundukkan tubuhnya. “Maaf sudah merepotkan!”
“Ah… T-tidak. Anda tidak perlu sampai seperti itu My Lady…”


Setelah berhasil menenagkan Hana, dan Hana mau dibujuk untuk menerima sup kacang merah hangat, akhirnya Misaki keluar dari kamar sang ratu.
“Misaki.”
Tak diduga. Haru Natsume muncul di hadapannya tiba-tiba. Mata coklatnya menjadi awas seketika. Sejak kedatangannya ke mari, Misaki sama sekali tidak bisa merasakan hawa keberadaan iblis satu ini. Ada beberapa api kecurigaan yang masih berkobar dalam dirinya.
“Ada apa?” Tanpa minat Misaki menjawab. Walaupun pria ini mengaku sebagai wakil tuannya, tetap saja pria ini bukan tuannya. Apalagi dia tidak mengenal pria ini sama sekali. Tidak ada keharusan baginya untuk beramah-tamah.
“Kemari.” Haru Natsume telah berbalik badan. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku mantelnya dan ia berjalan tanpa memperdulikan Misaki
Tak punya pilihan lain. Misaki memutuskan untuk mengikuti langkah Haru Natsume.
Misaki tidak tahu jalan pikiran iblis dihadapannya. Tanpa ada pembicaraan lagi, ia disuruh mengikuti kepergiannya. Mencoba membaca pikiran pun gagal Misaki lakukan. Dari situ, Misaki tahu jika iblis di hadapannya bukanlah iblis rendahan. Pengawasannya tak berkurang sedikit pun.
TAP
Langkahnya terhenti. Misaki refleks ikut menghentikan pergerakan kakinya.
Haru Natsume berbalik badan dan menunjukkan wajah datarnya.
“Jadi, ada apa?” kedua mata Misaki memincing.
“Bagaimana keadaannya?”
“Keadaan?”
“My Lady.”
Kedua alis Misaki berkerut dalam. Bagaimana ini? Apakah dia harus membocorkan semuanya kepada iblis ini? Apa dia bisa dipercaya? Benarkah dia bukan Exorcist?
Sebanyak apapun ia berpikir, akhirnya ia menghela nafas lesu, “My lady terpuruk. Anda tahu sendiri My Lady sangat mencintai My Lord. Kehilangan My Lord pasti membuat My lady snagat terpukul. Yaah… dia hampir membenturkan kepalanya ke dinding.”
Atmosfir di sekitar tubuh Haru Natsume berubah seketika. Tubuhnya menegang. Tangannya kembali mengepal erat.
Misaki hanya memperhatika setiap perubahan dan pergerakan iblis di hadapannya. Masih ada satu lagi pertanyaan yang terlintas di benaknya, ‘kenapa dia berhenti di sini? Berhenti tepat di depan pintu ruang kerja sekaligus ruang pribadi My Lord?’
“Khh—“ Haru natsume menggeram kecil.
Tangannya yang semula mengepal erat kini bergerak hendak emraih gagang pintu ruang kerja Kuroto Yoshiki.
“Tunggu!”
Kalimat Misaki barusan menghentikan pergerakannya.
“Kau ingin memasuki ruangan My Lord!? Apa maksudmu!?” sembur Misaki menahan emosi.
“Aku akan masuk.”
“Cih! Aku tidak mengenal kau siapa. Tapi jangan seenaknya memasuki ruang kerja pribadi My Lord!”
Haru Natsume terdiam sejenak.
“… Misaki… ini aku. Kuroto Yoshiki. Tuanmu.”
Mendengar kalimat itu meluncur dari bibir iblis di hadapannya, amarah Misaki memuncak. Bisa-bisanya, di keadaan segenting, dan seburuk ini iblis kurang ajar ini mengaku sebagai tuannya.
ZZZRAAAK…
Tangan Misaki kini telah menggenggam sebuah sihir gelap yang dipadatkan dan membentuk semacam pedang pendek. Dan senjata itu telah diacungkan sempurna ke arah Haru Natsume.
Tidak ada perubahan ekspresi sama sekali pada wajah Haru Natsume. Tetap datar.
“Jangan seenaknya mengaku sebagai My Lord!” tangan Misaki yang menggenggam senjata itu mulai mengeluarkan cahaya ungu yang sepertinya siap ia lairkan pada senjatanya.
Tidak menghiraukan ucapan Misaki, Haru Natsume menggenggam gagang pintu dan membuka kamar kerja pribadi Kuroto Yoshiki. Lalu masuk ke dalamnya dengan santai.
“!!!????” Misaki terkejut luar biasa.
Kamar ini telah diberikan banyak sihir pelindung. Sehingga tidak ada siapapun yang menyusup masuk ke dalam. Jika tidak ada Yoshiki di dalam, maka sihirnya akan bekerja menjaga pintu itu. Tapi lihat sekarang, Haru Natsume baru saja memasuki kamar pribadi tuannya tanpa terluka sedikit pun. Dan lagi, pintu itu menggunakan kunci mantra, dan hanya si empunya sajalah yang tau mantranya.
“B-Bagaimana b-bisa?” Senjata Misaki telah lenyap. Kini yang tersisa hanyalah dirinya yang terdiam tidak mengerti.
“Bukankah sudah kubilang, aku Kuroto Yoshiki. Tuanmu.” Haru Natsume menyahuti dengan santai. Dirinya berjalan menuju meja kerja di hadapannya.
Misaki seketika membuat tubuhnya bersujud di ambang pintu ruang kerja Yoshiki.
“Maaf atas kelancangan saya My Lord!”
“Hn… cepat bangkit dari sana sebelum ada yang melihatmu,” sahut Haru Natsume. Tangannya bergerak membuka laci meja kerjanya.
“Dengar Misaki. Hanya kau yang mengetahui jika identitas sebenarnya Haru Natsume adalah Kuroto Yoshiki.”
Misaki mengangguk.
“sperren Sie Ihren Mund. ”
“GHUUKK—“ Misaki terbatuk seketika.
“Itu untuk menjaga mulutmu agar tidak mengungkapkan identitasku yang sebenarnya.”
Misaki menjulurkan lidahnya, ada sebuah symbol pentagram berwarna merah pada lidahnya yang kemudia perlahan-lahan hilang. Sebuah segel.
Haru Natsume meraih sesuatu dari laci yang tadi di bukanya. Sebuah alat perekam.
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.