Jumat, 01 Januari 2016

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 5]

CHAPTER 5: HARU NATSUME
“My Lady! Itu My Lady!” Misaki berteriak bergitu melihat baying-bayang tubuh Hana yang menembus putihnya dunia.
“Buka gerbang!” teriak seorang prajurit.
“Yoshiki-kun! Yoshiki-kun! Bagaimana Yoshiki-kun!?” Begitu kakinya telah menapak ke dalam area manor, mulutnya sudah tidak bisa ditahan lagi untuk meneriakkan nama suaminya.
Beberapa prajurit yang datang untuk menyambut Hana seketika merubah raut wajah mereka menjadi masam dan tertunduk. Tidak ada raut bahagia sedikit pun dari sepersekian prajurit yang menyambutnya. Dengan begini, dapat disimpulkan jika sesuatu yang buruk telah terjadi.
“Hei! Yoshiki-kun di mana?” Tangannya mendarat mencengram salah satu kerah pakaian prajurit.
Prajurit itu hanya bisa menatap Hana dengan kerutan di alisnya. Kepalanya berusaha tertunduk menutupi ekspresinya.
“Kita… kalah.. My Lady…”
Bola mata sapphire Hana membulat sempurna. Tubuhnya seakan tak bertulang. Cengramannya mengendur membuat sang prajurit terlepas.
“Apa maksudnya itu!? Yoshiki-kun! Yoshiki-kun di mana!?” Sekali lagi Hana berteriak. Air mata tak terbendung memeleh keluar dari pelupuk matanya. Namun matanya sarat akan pertanyaan. Menatap seluruh prajurit di hadapannya meminta jawaban.
“My Lord tertangkap Exorcist bersama wakilnya, Arashi Tomuro.” Sebuah suara penuh wibawa menggema mengalahkan berisiknya badai salju.
Refleks seluruh pasang mata di tempat itu menoleh ke asal suara.
“Siapa kau!?” Para prajurit menodongkan senjata mereka seketika kepada sosok itu. Sosok pria berusia sekitaran 24-28 tahun dengan rambut putih  sebahunya yang menjuntai mengikuti arah angin, bermata abu-abu, dan mengenakan sebuah mantel hitam-merah.
“Exorcist…?” terdengar gumanan dari puluhan prajurit yang sudah dalam kuda-kuda siap.
“Exorcist?—Pftt—HA HA HA!” Pria itu tertawa lepas.
“Jangan samakan aku dengan para domba penurut sialan itu,” ada nada mengejek di dalam setiap katanya.
“Jadi siapa kau?” Sahut salah satu prajurit.
Hana hanya bisa bungkam dengan posisi siaga. Matanya terus mengawasi pria itu bagai elang.
“Namaku Haru Natsume. Iblis yang ditunjuk My Lord untuk menjaga My Lady.” Seketika kedua bola mata abu-abu itu meilirik kea rah Hana secara bersamaan.
“!!??” Tidak ada respon lain dari Hana selain kebingungan.
“Mustahil! Kami tidak pernah melihatmu di dekat My Lord!” protes salah seorang prajurit.
“Kedudukanku sama dengan Arashi Tomuro. Tapi aku bertugas di luar kerajaannya dan bertugas mengumpulkan informasi,” nada angkuh memenuhi ucapannya.
‘Siapa pria ini?’ Otak Hana bertanya diam-diam. Jika memang seperti yang diucapkannya—wakil Yoshiki—harusnya Yoshiki sudah berceritapadanya jika dia memiliki wakil lain. Tapi selama ini yang diketahuinya hanya Tomuro lah wakil Yoshiki. Dan tidak ada yang lain.
“GAAAHHH!!” Sebuah peikikan putus asa menarik Hana kembali pada dunianya. Menghentikan spekulasinya. Saphirre-nya menoleh ke asal suara.
Pria itu—Haru Natsume—telah berdiri beberapa meter dari tempat berdiri tadi, tangan kanannya terbuka membentuk sebuah cengkraman kepada udara dan sekarang telah dilumuri oleh darah. Tubuh seorang prajurit terjatuh di atas permukaan salju. Tanpa kepala.
Sebuah seringai mengembang pada bibir pria itu.
“My Lord memanggilku begitu dirinya di bawa menuju markas Exorcist. Arashi Tomuro telah terlebih dahulu berangkat ketika aku tiba. My Lord memberikan sebuah perintah absolut padaku untuk menjaga My Lady, dan membantu My Lady dalam menjalankan pemerintahan sampai My Lord kembali.
“KENAPA KAU TIDAK MENYELAMATKAN YOSHIKI-KUN!?” Hana kembali berteriak. Namun kali ini tidak dengan tatapan meminta jawaban. Tapi dengan kepala tertunduk dan bahu bergetar. Kedua tanganya menggenggam udara kuat.
Kedua iris abu-abu Natsume membulat melihat Hana dari belakang. Tentu saja, dia bisa melihat jelas gemetar pada punggung Hana.
“… Perintah My Lord adalah segera kembali dan jaga istriku.”
Langkah Hana menghentakan salju di bawahnya. Kedua kakinya melangkah penuh penekanan.
GRAB
Kedua tangannya kembali menyengkram kerah mantel seseorang. Kali ini leher Haru Natsume.
“DAN SEKARANG KAU SELAMAT SEMENTARA TUANMU TERTANGKAP!?” Bentakan lantang Hana memekakan telinga siapapun. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya.
“…” Tidak ada respon dari Haru Natsume.
“Ghhk—“ Gigi Hana saling bergemaltuk. Kini ia kembali tertunduk. Menyembunyikan Saphirenya kedalam gelapnya rambutnya.
Perlahan, tangannya melepaskan cengkramanpada mantel hitam pria itu.
SRAK. TRIIIIIING.
Begitu Hana melepaskan cengkraman itu, tubuhnya bergerak cepat merampas sebuah dagger dari salah satu prajurit. Suara gesekan antara dagger dan sarung dagger itu membuat suara melengking yang mengganggu telinga.
Detik berikutnya yang terlihat hanyalah sebuah percikan darah. Hana dengan tepat menusukkan dager itu pada jantung Haru Natsume—walaupun itu tidak berefek sama sekali.
Haru Natsume dengan dada kiri tertusuk sebuah dagger, kedua tangannya berusaha menahan agar dagger itu tidak menusuk semakin dalam karena tekanan yang dilancarkan si penusuk, yaitu Hana. Walaupun serangan fisik seperti ini tidak akan berpengaruh pada kehidupan dan nyawanya, tetap saja, pelaku penusukan ini adalah Kuroto Hana, si pemilik kekuatan tak terbatas. Apa jadinya jika di dalam dagger itu ada aliran kekuatan yang bisa meracuni tubuhnya!?
“Harusnya… harusnya … Yoshiki-kun yang kembali… TAPI KENAPA KAU YANG HARUS KEMBALI!?” Hana kembali berteriak dalam keputusasaannya. Menekan dagger itu lebih dalam lagi sekuat yang ia bisa.
Sepatu gelap yang dikenakan Haru mulai beradu dengan tanah. Menahan dorongan Hana memerlukan usaha dan tekanan ekstra pada kakinya sebagai penumpu.
Hingga—SRAAAK…
Tak kuat menahan beban, sepatunya tergelincir karena salju. Membuat dirinya dan Hana melayang di udara, menerima gravitasi bumi, dan terjatuh dengan dirinya ditindih oleh tubuh Hana.
“Kenapa…? KENAPA..!??” Dicabutnya dagger yang tadinya menancap dalam pada dada Haru. Menyebabkan menyemburnya banyak dari dari sana.
Setelah tangannya berhasil terangkat tinggi, kembali dihujamkannya tangan berdagger itu untuk sekali lagi menikam sosok di bawahnya.
GREB
Gerakan tangan Hana terhenti. Itu Misaki. Tengah menahan tangannya. Dan sekarang tengah menggelekng lemah kepada Hana.
Misaki menuntunnya bangkit. Mendenkapnya dalam pelukan erat. Menahan tangisan keputusasaan tuannya itu dalam pelukannya.
“….”Haru Natsume terdiam beberapa saat setelah berhasil bangkit. Dia tidak mengkhawatirkan lukanya sama sekali. Karena tanpa dipikirkan pun, sel tubuhnya sebagai iblis akan kembali beregenerasi hingga lukanya tertutup rapat.
“Syukurlah...” sebuah gumanan tipis terdengar dari sela-sela bibirnya.
Rambutnya yang senada dengan salju itu terbawa terpaan angin. Membuat kedua matanya telah tertutupi sempurna oleh helai-helai putih itu.
“Maaf… My Lady…”


Badai salju tidak berhenti sama sekali. Langit seolah ikut bersedih.
Di balik ributnya suara badai salju, di balik putihnya alam, di balik dinginnya suhu, sebuah pekikan, tangisan, teriakan menggema di seluruh manor.
Kuroto Hana, dengan keputusasaan menguasai dirinya menangis bagai orang gila. Meraung, berteriak, memekik.
Hari ini tidak ada aktivitas sama sekali di dalam manor. Semuanya sibuk merenanung dan menahan pahit mendengar raungan ratu mereka
Tidak ada yang tidak tahu penyebab kegilaan yang dialami sang ratu. Tidak ada hal lain lagi selain karena tuan mereka—Kuroto Yoshiki—ditahan oleh Exorcist. Dan tidak ada yang tahu, penahanan itu akan berlangsung sampai kapan.
Suara bantingan, dan lemparan sudah tidak asing di dengar diantara sela-sela raungan ini. Membuat siapapun yang mendengar ini tersayat hatinya.
“Y-Yoshiki-k-kun… Y-Yoshiki-kun…” sosok Hana tengah meringkuk di ujung ruangan dengan kedua tangannya menyengram erat selimut yang di bawakan oleh Misaki—karena yang sebelumnya telah ia robek habis. Setiap kalimatnya, bahunya begetar hebat. Air mata tak mau berhenti menganak sungai pada pipinya.
Dalam benaknya, terbayang sosok terakhir kali sang suami yang memperingatkan dirinya agar tidak berangkat ke departemen store. Sosok berwajah datar dan menyebalkan, sosok yang sangat dia cintai.
Seandainya… seandainya ia menuruti ucapan suaminya… suaminya tidak akan…
Tubuhnya bergerak menghadap tembok dengan keala tertunduk.
Seandainya… seandainya dia memiiki kekuatan untuk mengalahkan Exorcist itu…
Tanpa memperdulikan bunyi pintu terbuka dan masuknya Misaki ke kamarnya, kepalanya yang sudah membuat ancang-ancang segera dihantamkannya ke tembok.
BUGHHH…
“Eh?” Matanya terbuka dan menatap dua buah bantal di hadapannya tepat.
“Fyuuuh… untung masih sempat…” di sampingnya, Misaki beringsut menghela nafas lega.
“KENAPA KAU MENGHENTIKANKU MISKAKI!?”
“Memangnya apa yang anda dapat setelah menghantamkan kepala anda ke dining? My Lord tidak akan kembali walaupun kepala anda hancur.”
“Misaki… ini semua salahku. Seandainya aku—“
“Tidak. Ini semua salah Exorcist,” sela Misaki.
“Eh?”
“Mereka lah yang harus disalahkan. Merekalah yang mengibarkan bender perang terlih dahulu. Anda sama sekali tidak bersalah.”
“Tapi… seandainya aku lebih kuat—“
“Kalau begitu jadilah lebih kuat My Lady,” lagi-lagi Misaki memutus kalimatnya.
“…” Hana terdiam menatap Misaki.
 “Bagaimana bisa anda menjadi kuat sementara anda hanya meraung-raung saja seperti ini? Saya tahu anda sangat sedih karena My Lord tertangkap Exorcist. Tapi dengan meraung-raung saja tidak akan menghasilkan apapun. Malah membuat anda semakin terpuruk saja. Kenapa anda tidak mencoba menjadi lebih kuat hingga My Lord kembali?”
Kepala hitam itu akhirnya mengangguk mantap. Tubuhnya bangkit perlahan dan menegak. Dengan tatapan mantap ia menundukkan tubuhnya. “Maaf sudah merepotkan!”
“Ah… T-tidak. Anda tidak perlu sampai seperti itu My Lady…”


Setelah berhasil menenagkan Hana, dan Hana mau dibujuk untuk menerima sup kacang merah hangat, akhirnya Misaki keluar dari kamar sang ratu.
“Misaki.”
Tak diduga. Haru Natsume muncul di hadapannya tiba-tiba. Mata coklatnya menjadi awas seketika. Sejak kedatangannya ke mari, Misaki sama sekali tidak bisa merasakan hawa keberadaan iblis satu ini. Ada beberapa api kecurigaan yang masih berkobar dalam dirinya.
“Ada apa?” Tanpa minat Misaki menjawab. Walaupun pria ini mengaku sebagai wakil tuannya, tetap saja pria ini bukan tuannya. Apalagi dia tidak mengenal pria ini sama sekali. Tidak ada keharusan baginya untuk beramah-tamah.
“Kemari.” Haru Natsume telah berbalik badan. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku mantelnya dan ia berjalan tanpa memperdulikan Misaki
Tak punya pilihan lain. Misaki memutuskan untuk mengikuti langkah Haru Natsume.
Misaki tidak tahu jalan pikiran iblis dihadapannya. Tanpa ada pembicaraan lagi, ia disuruh mengikuti kepergiannya. Mencoba membaca pikiran pun gagal Misaki lakukan. Dari situ, Misaki tahu jika iblis di hadapannya bukanlah iblis rendahan. Pengawasannya tak berkurang sedikit pun.
TAP
Langkahnya terhenti. Misaki refleks ikut menghentikan pergerakan kakinya.
Haru Natsume berbalik badan dan menunjukkan wajah datarnya.
“Jadi, ada apa?” kedua mata Misaki memincing.
“Bagaimana keadaannya?”
“Keadaan?”
“My Lady.”
Kedua alis Misaki berkerut dalam. Bagaimana ini? Apakah dia harus membocorkan semuanya kepada iblis ini? Apa dia bisa dipercaya? Benarkah dia bukan Exorcist?
Sebanyak apapun ia berpikir, akhirnya ia menghela nafas lesu, “My lady terpuruk. Anda tahu sendiri My Lady sangat mencintai My Lord. Kehilangan My Lord pasti membuat My lady snagat terpukul. Yaah… dia hampir membenturkan kepalanya ke dinding.”
Atmosfir di sekitar tubuh Haru Natsume berubah seketika. Tubuhnya menegang. Tangannya kembali mengepal erat.
Misaki hanya memperhatika setiap perubahan dan pergerakan iblis di hadapannya. Masih ada satu lagi pertanyaan yang terlintas di benaknya, ‘kenapa dia berhenti di sini? Berhenti tepat di depan pintu ruang kerja sekaligus ruang pribadi My Lord?’
“Khh—“ Haru natsume menggeram kecil.
Tangannya yang semula mengepal erat kini bergerak hendak emraih gagang pintu ruang kerja Kuroto Yoshiki.
“Tunggu!”
Kalimat Misaki barusan menghentikan pergerakannya.
“Kau ingin memasuki ruangan My Lord!? Apa maksudmu!?” sembur Misaki menahan emosi.
“Aku akan masuk.”
“Cih! Aku tidak mengenal kau siapa. Tapi jangan seenaknya memasuki ruang kerja pribadi My Lord!”
Haru Natsume terdiam sejenak.
“… Misaki… ini aku. Kuroto Yoshiki. Tuanmu.”
Mendengar kalimat itu meluncur dari bibir iblis di hadapannya, amarah Misaki memuncak. Bisa-bisanya, di keadaan segenting, dan seburuk ini iblis kurang ajar ini mengaku sebagai tuannya.
ZZZRAAAK…
Tangan Misaki kini telah menggenggam sebuah sihir gelap yang dipadatkan dan membentuk semacam pedang pendek. Dan senjata itu telah diacungkan sempurna ke arah Haru Natsume.
Tidak ada perubahan ekspresi sama sekali pada wajah Haru Natsume. Tetap datar.
“Jangan seenaknya mengaku sebagai My Lord!” tangan Misaki yang menggenggam senjata itu mulai mengeluarkan cahaya ungu yang sepertinya siap ia lairkan pada senjatanya.
Tidak menghiraukan ucapan Misaki, Haru Natsume menggenggam gagang pintu dan membuka kamar kerja pribadi Kuroto Yoshiki. Lalu masuk ke dalamnya dengan santai.
“!!!????” Misaki terkejut luar biasa.
Kamar ini telah diberikan banyak sihir pelindung. Sehingga tidak ada siapapun yang menyusup masuk ke dalam. Jika tidak ada Yoshiki di dalam, maka sihirnya akan bekerja menjaga pintu itu. Tapi lihat sekarang, Haru Natsume baru saja memasuki kamar pribadi tuannya tanpa terluka sedikit pun. Dan lagi, pintu itu menggunakan kunci mantra, dan hanya si empunya sajalah yang tau mantranya.
“B-Bagaimana b-bisa?” Senjata Misaki telah lenyap. Kini yang tersisa hanyalah dirinya yang terdiam tidak mengerti.
“Bukankah sudah kubilang, aku Kuroto Yoshiki. Tuanmu.” Haru Natsume menyahuti dengan santai. Dirinya berjalan menuju meja kerja di hadapannya.
Misaki seketika membuat tubuhnya bersujud di ambang pintu ruang kerja Yoshiki.
“Maaf atas kelancangan saya My Lord!”
“Hn… cepat bangkit dari sana sebelum ada yang melihatmu,” sahut Haru Natsume. Tangannya bergerak membuka laci meja kerjanya.
“Dengar Misaki. Hanya kau yang mengetahui jika identitas sebenarnya Haru Natsume adalah Kuroto Yoshiki.”
Misaki mengangguk.
“sperren Sie Ihren Mund. ”
“GHUUKK—“ Misaki terbatuk seketika.
“Itu untuk menjaga mulutmu agar tidak mengungkapkan identitasku yang sebenarnya.”
Misaki menjulurkan lidahnya, ada sebuah symbol pentagram berwarna merah pada lidahnya yang kemudia perlahan-lahan hilang. Sebuah segel.
Haru Natsume meraih sesuatu dari laci yang tadi di bukanya. Sebuah alat perekam.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.