CHAPTER 4: RESULT OF THE WAR
Sepersekian detik dari seringaiannya, tubuh Arashi Tomuro tiba-tiba membuat delapan refleksi tubuhnya (bayangannya). Kesembilan Arashi Tomuro berlari menyebar mengelilingi Yosef Strauss. Melesat secara bersamaan kea rah sang Exorcist dan menusukan sebuah beda hitam padat yang terbentuk dari partikel-partikel sihir gelapnya.
“GYAHAHAHAHAHA!!”
“Ugh!!” Manik abu-abu Yosef melebar saat kesembilan musuhnya menyerangnya serentak.
TING!
TRANG!
Mata abu-abu itu kembali membelalak semakin lebar.
Padahal dia sudah berhasil memutar tubuhnya dan melempar semua senjata Tomuro. Sayangnya dirinya hanya bisa memukul kedelapan senjata.
Seringai pada bibir pemuda berambut merah itu mengembang. Kedelapan bayangannya memang gagal. Tapi tidak dengan dirinya yang asli. Senjatanya berhasil menembus tepat ke dalam dada kanan sang Exorcist.
Manik abu-abu Yosef dengan bergetar melirik ke arah Abschleppen Geist miliknya yang telah ia coba tusukan kea rah sang iblis teryata sama sekali tidak menyentuh satu inchi pun sang iblis. Padahal Tomuro sendiri berhasil menusukan senjatanya hingga menusuk paru-parunya. Sungguh miris.
-[Yami no Ai]-
Di hadapan manik azurenya, sebuah palu, tombak, dan gergaji mesin menghantam secara bersamaan. Menghela nafas malas, menutup maniz azurenya, dirinya berguman, “tidak berguna…” dan ketiga Abschleppen Geist akhirnya hanya menghantam tanah. Tentu saja, karena subjek sasaran mereka telah melesat lima meter ke kanan.
Ketiganya terbebelalak sesaat, mengetahui sang subjek sudah berdiri dengan tenang, lepas dari serangan mereka.
SYUUUT
Tiba-tiba saja, tombak sepanjang 2 meter melesat dengan tepat mengincar kepala raven Kuroto Yoshiki.
TEP
Sayangnya, Abschleppen Geist yang awalnya berkecepatan tinggi itu harus terhenti dalam genggaman tangan sang raja iblis. Kepala ravennya menoleh beberapa derajat, memperlihatkan tajamnya tatapan azure-nya.
Pemuda berambut putih yang baru saja melemparkan Abschleppen Geist miliknya itu hanya bisa menegukkan ludah. Peluh menetes dari pelipisnya.
“Peraturan pertama, Abschleppen Geist tidak bisa digunakan untuk menyegel Lucifer…”gumannya dengan tatapan tidak percaya. Dan tatapannya itu ia tujukan kepada sang iblis yang dengan tenang berbalik badan menghadap ketiganya.
-[Yami no Ai]-
Rayumi Hana dengan kekhawatirannya yang luar biasa, berjalan di belakang sang Exorcist berbando lengan ‘H-5’. Kepalanya tidak berhenti mendongkak menatap rambut kuning kecoklatan H-Funf. Alisnya berkerut-kerut kebingungan.
“Hei, kau mau membawaku ke mana?” kernyitan pada alis Hana semakin dalam.
“Mau ke kafe sebelah? Aku yang traktir deh,” H-Funf menoleh ke arah Hana, tangannya menunjuk sebuah kafe kopi.
Hana menundukan kepalanya, “aku tidak suka kopi.”
H-Funf terdiam melihat Rayumi Hana.
“Mereka juga menyediakan minuman yang lain kok…”
“Susu, ada?”
“A-ada…” cukup sweatdrop yang dirasakan H-Funf. Bagaimana bisa sandranya ini bertingkah biasa-biasa saja?
“Kalau begitu aku mau.”
Kedua bola mata oranye miliknya sejenak hanya mengikuti gerakan Hana yang sudah berjalan mendahuluinya, hingga akhirnya dia ikut melangkah.
Kini keduanya telah duduk saling berhadapan. Kedua perempuan berambut pendek itu saling bertatapan. Hilda terus mempertahankan senyumnya menghadapi wajah ditekuk Hana.
“Jadi… ada apa?” Hana memberanikan diri membuka mulut.
Kejadian saat tahun baru setahun lalu terus terbayang di pikirannya. Orang di hadapannya inilah yang telah menyerangnya, dan suaminya. Kedua tangannya yang ia letakan di atas kedua pahanya meremat kesal. Merutuk. Merutuki dirinya yang lemah. Merutuki kehadrian Exorcist ini. Dan merutuki semuanya.
“Aku tidak akan melukaimu atau menyerangmu kok. Santai saja.” Hilda tersenyum ringan merasakan ketegangan Hana.
Walaupun begitu ketegangan Hana sama sekali tidak berkurang.
“Hei, boleh aku bertanya?” Kini giliran Hilda yang melontarkan pertanyaan.
Pelayan kafe datang dan meletakan pesanan traktiran Hilda. Segelas coklat panas untuk Hana. Dan segelas kopi hangat untuk Hilda.
Hana sedikit memincingkan matanya, “bertanya apa?”
“… Kau…” Hilda mengambil ponsel dari saku kemeja dalamnya, “mencintai Lucifer?”
“Eh? Lucifer?”
“Maksudku Kuroto Yoshiki.” Hilda mengutak atik ponselnya.
“Aku mencintainya!”
Hilda terpengarah. Kedua bola matanya melebar sedikit. DI hadapannya, Rayumi Hana baru saja mengatakan perasaannya tanpa ada keragu-raguan sedikitpun.
“Dia hanya iblis yang egois, sombong, kejam, dan intinya dia itu iblis—“
“Aku tidak peduli! Aku mencintai Yoshiki-kun!” Sekali lagi mentakan perasannya dengan lantang.
“Hey, hey, tidak kusangka seorang perempuan tomboy akan seperti itu jika sudah menyukai seseorang.”
Hana kembali duduk di bangkunya. Tubuhnya sempat bangkit beberapa senti dari bangkunya untuk megeaskan perasaannya tadi.
“Cih…” Hana membuang mukanya menahan rona merah di wajahnya.
Bagaimana pun Exorcist di hadapannya ini juga sama tomboy-nya seperti dirinya. Mana mungkin dia menjatuhkan harga dirinya sebagai sesame perempuan tomboy seperti ini!?
Hilda menahan tawa melihat tingkah Hana yang sangat-sangat Tsundere.
“Aku juga… sama sepertimu kok… tapi orang yang kusukai sama sekali tidak memiliki kepekaan…” guman Hilda.
“Eh?”
“AH—ADUH!”
Belum sempat Hana menolehkan kembali kepalanya, sebuah gelas berisi kopi melayang begitu saja ke arahnya. Sekali kedipan, refleksnya menjadi melambat.
SPLASH!
BRAK!
Dan jadilah Hana sekarang terjatuh di lantai dengan tumpahan kopi di seluruh bajunya. Noda hitam itu mengotori sweater putihnya.
“W-WAAAHH!! M-Maaf Rayumi! P-Pelayan tolong lapnya!” teriak Hilda kebingungan.
Seorang pelayan dengan tanggap segera mendatangi Hana. Membantu membersihkan tubuh Hana, dan membersihkan kekacauan yang dibuat Hilda.
“Uh, noda kopinya…” Hana merengut melihat noda kopi yang menempel pada sweaternya.
“Kalau cepat-cepat dicuci akan bisa hilang kok,” sahut Hilda.
Manik biru Hana merengut melirik Hazel. Exorcist itu tengah sibuk dengan ponselnya.
“Nah, Ki-rim!” Hilda menekan layar ponsel pintarnya dengan semangat.
“Apa yang baru saja kau kirim?” Hana berkedip sweatdrop.
“Sesuatu yang akan merubah jalannya perang ini,” ujar Hilda yakin.
Mata Hana terbebalalk lebar. Tentu saja, Exorcist ini datang kemari pasti bukan hanya datang untuk tiba-tiba mentraktirnya susu coklat. Pasti ada sesuatu yang berhubungan dengan perang.
“Apa yang baru saja kau kirim?” Hana berteriak lantang.
Seluruh penghuni kafe lantas menoleh kea rah keributan. Tapi Hana tidak peduli.
“Hey, hey, tenanglah. Kita menjadi pusat perhatian loh!” peringat Hilda.
“Aku tidak peduli! Apa yang baru saja kau kirim!?” Hana berteriak semakin lantang.
“Hahh… kau memang tidak pantang menyerah ya…” Hilda menghela nafas.
Setelah beberapa detik mengutak atik ponselnya, ditunjukannya layar ponsel pintarnya pada Hana. Sebuah foto di mana dia terkena tumpahan kopi Hilda. Dan tentu saja… ada sebuah editan sederhana di sana.
Nampak dirinya tengah tertunduk menatap tumpahan kopi di bajunya. Namun noda kopi di gambar itu telah diedit warnanya menjadi merah, dan… ada sebuah pedang yang nampak tertancap pada perutnya.
“B-Bagaimana…?” Bibir Hana keluh. Dirinya takjub dan ketakutan. Takjub karena dengan sebuah ponsel saja, Exorcist ini sudah mampu mengedit hingga sebagus dan senyata itu. Sekaligus juga takut, karena dengan foto itu… Yoshiki akan…
Baik Yoshiki maupun Tomuro keduanya seketika terdiam di tempat dengan kedua mata melebar.
Yoseff Straus dan Aidrin Polystinkov tengah menunjukan layar ponsel mereka. Menunjukan gambar yang baru saja di kirimkan Hilda.
“H-Funf telah berhasil menangkap Rayumi Hana,” jelas A-Drei.
Tanpa memperdulikan penjelasan A-Drei, Yoshiki segera melesat pergi. Tujuannya hanya satu. Hana! Dirinya harus menyelamatkan istrinya!
“Kejar!” Ketiganya segera melesat mengikuti kecepatan berlari sang raja iblis yang sudah di luar nalar.
“Khh! My Lady…” Bagaimana dia bisa sebodoh itu membiarkan istrinya hanya dengan pengawasan sekelompok pasukan pengintai!? Bagaimana dia bisa tak menyadari ketidak adaan H-Funf!?
Sebuah bayangan palu yang melesat hendak menghantam kepalanya terlihat jelas, walaupun itu berada di belakangnya.
Mata Azure-nya berkilat. Sebuah aura gelap yang ia keluarkan dari punggungnya menghantap Aidrin jatuh.
TEP.
Yoshiki berhenti melangkah. Tubuhnya semakin mengeluarkan aura kematian.
“D-dia… mengeluarkan 40% kekuatannya…” guman X-Zwei dengan bibirnya sedikit bergetar.
“Berhenti. Kuroto Yoshiki, Lucifer.” Sebuah suara perempuan menginterupsinya. Membuatnya terpaksa menoleh ke asal suara.
H-Funf berdiri di hadapannya dengan tenang.
‘Perempuan ini… perempuan ini yang telah…’ giginya bergemalatuk.
H-Funf menunjukan ponselnya. Pada layarnya tertera gambar Hana tengah di dudukan di suatu tempat dengan kedua tangannya diikat di belakang. Kepalanya dikenakan sebuah helm. Lehernya seperti dipasangi sebuah choker. Tapi tak membuatnya ragu jika itu Hana atau bukan.
“Kau menyerangku dia mati. Tadi yang kukirimkan dan diperlihatkan rekan-rekanku hanyalah editanku saja.”
Yoshiki terdiam. Bagaimana bisa dia termakan dengan jebakan seperti itu!?
“Tapi kali ini aku serius. Dikepala, leher, dan tangannya sudah kupasangi jebakan buatanku sendiri. Jebakan pada kepalanya berfungsi memisahkan tenngkoraknya dengan rahang bawahnya. Choker di lehernya memiliki sebuah sekrup yang akan berjalan membor lehernya hingga kedalaman sepuluh sentimeter. Borgol di tangannya akan memberikan sengatan listrik sebesar seratus volt.
“Dengan kau bergerak sedikit saja, aku akan menekan tombol ini, dan kesemua alat itu akan bekerja,” tangan kiri Hilda memegang sebuah pengontrol jarak jauh.
“Kami sudah tahu. Jika kekuatanmu tidak akan bekerja jika itu berhubungan dengan Rayumi Hana. Jadi dipastikan kau tidak akan bisa merebut pengontrol jarak jauh ini dengan kekuatanmu.
“Menyerahlah tanpa syarat Lucifer. Hanya itu pilihanmu. Jika kau benar-benar menyerah, aku bisa dengan senang hati melepaskan Rayumi Hana tanpa kau perintah.”
Akhirnya dirinya mengerti. Pengibaran bendera perang yang terang-terangan dikobarkan oleh Yoseff Strauss, semua peperangan ini hanyalah alat untuk memancingnya masuk ke dalam jebakan ini. Dengan berselimutkan Hana, dirinya jadi tidak bisa menembus rencana yang dibuat para Exorcist.
“Khhh—“ Yoshiki menggeram pelan. Merutuki segala kebodohan dan kesalahan yang telah ia buat. Aura kegelapan yang menyelimutinya perlahan mereda dan benar-benar Hilang.
Xin Zhao mengangguk kepada seluruh rekannya. Menandakan Kuroto Yoshiki telah menghentikan sihirnya. Matanya berbeda warna. Hitam dan kuning. Permukaan kulit pada dahi, kelopak mata hingga pipinya terbentang sebuah luka goresan. Ternyata pada suatu pertarungan matanya terkena serangan, hingga memaksanya kehilangan satu matanya. Namun dirinya bertemu dengan seorang professor yang memberinya sebuah mata buatan. Berbola mata kuning. Bola mata yang bisa melihat kekuatan sihir lawannya.
Hilda mengeluarkan sesuatu dari tasnya, melemparkan benda itu pada Aidrin.
Sebuah borgol.
Selama ini tidak ada alat apapun yang bisa menahan kekuatan sang Lucifer. Bahkan Abschleppen Geist pun tidak mempan.
Borgol yang baru saja terasang pada pergelangan tangan Yoshiki adalah benda buatan Hilda yang telah Hilda rancang dengan kemungkinan “bisa” menahan kekuatan sang raja Iblis.
Aidrin hanya bisa percaya, dan berdoa jika benda temuan sahabatnya ini memang benar-benar bisa menahan kekuatan raja Iblis.
Kepala Yoshiki tertus tertunduk. Menyembunyikan ekspresi wajahnya dengan poni-poni rambutnya yang terurai memenuhi wajah tampannya.
“Ayo, jalan.” Aidrin membimbing Yoshiki berjalan kea rah yang mereka tuju, markas mereka.
Mengetahui Yoshiki sama sekali tidak melakukan perlawanan, dan Xing Zhao menyetujui jika Yoshiki benar-benar mematikan sihirnya, Hilda mengambil keputusan, “aku menghargai sikap pria-mu. Sesuai janji, Rayumi Hana kulepaskan,” ditekannya beberapa tombol pada pengontrol jarak jauhnya.
Tidak ada respon dari Yoshiki. Dirinya hanya terus melangkah mengikuti arahan dari Aidrin.
“Y-Eins!” Pekikan Michaelis membuat ketiga Exorcist lain menghalihkan pandangannya.
Di depan mereka, seseorang yang mereka kenal tengah terkapar berlumuran darah di tanah, dan tak jauh dari sana, seseorang nampak duduk bersandar di pohon seperti tengah berusaha menyembuhkan tubuhnya.
Yosef Strauss dalam keadaan tidak sadar. Luka di dadanya terus mengeluarkan darah segar.
Keempat Exorcist yang ada segera disibukan dengan keberadaan jendral mereka yang tak sadarkan diri. Menggunakan kesempatan itu, Yoshiki dan Tomuro saling bertatapan. Bahkan dalam sekali tatapan itu, Tomuro bisa mengerti maksud Yoshiki.
Keduanya bertukar tempat. Tomuro menyamar menjadi Yoshiki, dan Yoshiki menyamar menjadi Tomuro. Ah, sepertinya borgol buatan Hilda sama sekali tidak berfungsi.
Xing Zhao dan Michaelis Slach membopong tubuh Yosef Strauss, sementara Aidrin dan Hilda tetap mengawal Kuroto Yoshiki.
“Hei… bagaimana dengan yang di sana?” Hilda menunjuk kea rah Tomuro.
Yoshiki yang tengah menyamar menjadi Tomuro, segera melesat pergi.
“Ah! Dia kabur!” Hilda berseru.
“Biarkan saja dia. Misi kita telah selesai. Lucifer di tangan kita. Kita juga harus segera kembali untuk menyelamatkan Y-Eins!” tandas Aidrin.
Bersamaan dengan bunyi PSSSHHH yang mulai terdengar. Semua alat yang tadinya terpasang di tubuhnya mulai lepas satu persatu.
Dengan cekatan Hana segera melepaskan ketiga alat tersebut dari tubuhnya. Membanting helm jebakan pada kepalanya dengan kasar.
Wajahnya terlihat kacau. Rambutnya tidak karuan. Air mata menganak sungai mengotori wajahnya.
Exorcist itu membuatnya pingsan dengan obat yang dia campurkan pada susu coklatnya, mungkin timingnya adalah saat dia terjatuh terkena tumpahan kopi. Membuatnya tersadar dalam keadaan penuh jebakan seperti ini.
Yoshiki…
Di kepalanya hanya berisi sosok suaminya itu. Tanpa memperdulikan sahabat-sahabatnya yang mungkin masih memakan cheess cake mereka, Hana berlari menuju lapangan parkir.
Sapphire-nya menemukan mobil yang digunakan oleh supir yang tadi mengantarnya di lapangan parkir, dan hasilnya sesuai dugaan, setelah didatanginya mobil itu, di dalamnya tidak ada paman yang biasa menjadi supirnya. Kemungkinan besar supirnya telah tertangkap Exorcist.
Berlari. Tanpa memperdulikan badai salju yang menerpa tubuhnya, kaki-kaki Hana menapaki putihnya jalanan. Berlari sekuat tenaga melawan angin, dan dingin. Berlari secepat mungkin menuju manornya.
Air mata tidak henti-hentinya mengalir dan terbawa angin badai yang kencang.
Kencangnya tiupan badai salju sama sekali tak menurunkan kecepatan larinya. Kedua kakinya terus menapak lebar.
Tujuannya hanya satu, departemen store.
“My Lady…” gumannya berat.
Dirinya telah gagal. Gagal menjaga istrinya. Gagal menjaga kehormatannya.Para Exorcist sialan itu telah menginjak-injaknya hari ini.
Pertarungan terakhir:
Exorcist menyatakan misi mereka berhasil dan berakhir.
Jumat, 25 Desember 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar