Sabtu, 19 Desember 2015

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 3]

CHAPTER 3: THE 2ND DAY OF WAR

Fajar hari kedua peperangan antara yang gelap dan yang terang meningsing namun terhalang oleh gumpalan-gumpalan awan dingin pembawa badai salju. Menurut ramalan cuaca hari ini memang dipastikan aka nada badai salju.
Kuroto Yoshiki menatap datar ke bawah. Seluruh pasukannya telah bersiap dengan segala persenjataan mereka. Menunggu perintah absolut dari wakilnya untuk mengorbankan jiwa mereka.
“Tomuro?”
“Mereka sudah bergerak. Tapi…,” seorang pemuda berwajah serius menjawab ucapan Yoshiki tanpa mengurangi sedikitpun raut wajah seriusnya.
“Jelaskan.”
“Mereka bergerak dengan pasukan sedikit. Ini berbeda dari yang kemarin.” Kerutan pada alis merahnya semakin dalam. Tangannya ia silangkan di depan dadanya. Mata azhure miliknya menatap serius ke depan menggunakan kemampuannya untuk melihat jarak ber-ribu-ribu meter ke daerah pertempuran yang telah ditentukan.
Yoshiki terdiam untuk beberapa saat.
“Ini pasti bagian dari rencana Y-Eins. Baiklah untuk sementara, LM-11 Keluar!” Dengan aba-aba absolute itu, dari arah samping kanan mansion dua puluh naga berpenumpang terbang dengan kecepatan penuh.
“Yoshiki-kun?” Tiba-tiba dari arah belakang, sebuah suara menginterupsi konsentrasi keduanya.
Baik Yoshiki maupun Tomuro seketika menolehkan kepalanya ke belakang.
“My Lady?” Setelah berbalik badan, Yoshiki melangkah mendekati istrinya yang tengah berdiri di ambang pintu.
“Yoshiki-kun, Shiro mengajakku memakan cheess cake di departemen store. Boleh?”
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan.
“Tidak boleh?” Hana memiringkan kepalanya sedikit dan kedua alisnya berkerut kecewa.
Sebenarnya dirinya sepenuhnya mengerti jika sekarang sedang dalam kondisi darurat perang. Tapi tawanran cheess cake dari Shiro benar-benar menggoyahkan pemikirannya.
Tangan Yoshiki bergerak memijat pelipisnya. Sejujurnya dia sama sekali tidak kuat melihat ekspresi Hana yang seperti itu.
“Hn… Akan ada badai salju My Lady…” Yoshiki tidak membahas masalah perang sama sekali guna mengurangi kecemasan Hana.
“Aku tahu. Aku tidak akan pulang sebelum badai saljunya berhenti. Menurut prakiraan cuaca badai saljunya hanya berlangsung sekitar tiga sampai empat jam.” Sekrang Hana menyerang Yoshiki dengan tatapan memohonnya.
Yoshiki semakin memijat pelipisnya.
“Baiklah…”
“APA!?” Tomuro yang awalanya berpikiran jika tuannya itu pasti akan menolak seketika gagal fokus pada pengamatannya pada medan perang dan berteriak alay.
“Eh?” Hana hanya cengo mendengar teriakan Tomuro.
“Tunggu Yoshiki! Kau sudah gila!?” pekik Tomuro.
“Kembali atur pasukan Tomuro,” ucap Yoshiki datar.
“Cih!” Dengan agak kesal atas keputusan tuannya, Tomuro kembali ke posisinya.
“Kazuhiko akan mengantarmu.”
“Uhm!” Hana mengangguk mantap menyetujui. Kedua kakinya berjinjit untuk menyamai tinggi Yoshiki, dan kemudian, ‘chu…’ dikecupnya bibir Yoshiki.
“He he he, kalau begitu aku berangkat Yoshiki-kun.” Dengan cengiran dan lambaian tangan Hana berlari meninggalkan Yoshiki.
“Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Musuh mengincarnya dank au malah membiarkan dia pergi keluyuran!?” Protes Tomuro begitu Yoshiki telah kembali berdiri di sampingnya.
“AM-28 ikuti dan awasi My Lady.” Tanpa menggubris ucapan Tomuro, Yoshiki memerintahkan pasukan pengintai mengawasi Hana.
“Yes, My Lord.” Suara seorang perempuan menggema dari alat transmisi.
“Hei! Aku berniat menggunakan AM-28 setelah ini untuk bersiaga!”
“Kau gunakan AM-30.”
“Cerberus peliharanmu  akan mengacaukan rencanaku!”
“Kalau begitu gunakan rencana yang lain.”
Tomuro terdiam setelah berkedi beberapa kali. Sudah hampir berabad-abad dirinya melayani pria berambud raven ini. Dan dirinya sepenuhnya mengerti jika Yoshiki sangat menyebalkan.
Dalam pembagian pasukan pada pihak iblis, biasanya setiap pasukan berisi sepuluh sampai dua puluh jiwa. Setiap pasukan memiliki nama berupa dua huruf dan disusul dua angka. Setiap pasukan disusun sesuai dengan kehendak ketua pasukan. Dan anggota setiap pasukan juga sesuai dengan kehendak kepala pasukan yang telah ditunjuk oleh Yoshiki.


“Shiro!” kedua tangan Hana yang telah terbalut mantel dan sarung tangan coklat melambai ditengah-tengah lapangan parkir yang sepenuhnya telah ditutupi oleh salju.
“Hana! Cepat kemari! DI luar dingin!” Dari arah departemen store Shiro balas melambai, ditambahi dengan lompatan-lompatan hyperactive miliknya. Sukses membuat dirinya menjadi perhatian pengunjung sekitar.
“Maki… tolong kau ingatkan Shiro agar tidak terlalu hyperactive.” Yui menepuk bahu maki dengan menghela nafas.
“Ah… ha ha ha..” Maki hanya menyahuti dengan tawa sweatdropnya.
“Apa kalian menunggu lama?” Hana yang baru saja melangkahkan kakinya memasuki departemen store mulai mebersihkan mantelnya yang dipenuhi tumpukan salju.
“Tidak kok. Ayo cepat, chess cake-nya enak jadi antriannya cukup panjang.” Timpal Yui.
“Yooosh!!” Shiro segera melesat meninggalkan ketiganya.
“Memangnya siapa paman baik hati yang memberikan kita tiket makan chess cake sepuasnya itu?” Hanya yang berjalan diantara Yui dan Maki bertanya.
“Entahlah. Dia sangat tampan dengan kulit tropisnya. Sepertinya dia bukan orang Jepang,” sahut Maki.
“Kami bertemu dengannya kemarin waktu pulang dari membeli roti browniss di lantai atas.” Yui menimpali.
“Kalian bertemu dengannya di sini?”
“Yah. Dia nampak kebingungan. Katanya teman-teman yang janjinya ikut dengannya kemari hari ini mendapat kesibukan, jadi dia memberikan keempat tiket ini pada kita.” Yui menatap empat lembar tiket berwarna kuning di tangannya.
“Entah kenapa pas sekali jumlahnya ada empat.” Maki tersenyum.
“Benar juga…” guman Hana. Sesuatu mengganggu pikirannya.
Sementara itu, dua orang berkacamata dan bermantel hitam memasuki pintu utama departemen store dan terus mengamati kepergian keempat perempuan itu.


“Bagaimana persiapan kalian?” seorang pemuda berambut abu-abu tengah mengacingkan jas hitamnya rapat. Sebuah jas hitam dengan logo salib merah pada dada kanan.
“Siap.” Seorang berambut merah jabrik membalas sementara tanagn kirinya ia gunakan untuk memasang bando lengannya yang bertuliskan ‘X-3’.
“Selalu siap,” jawab pemuda blonde dengan tenang.
“H-Funf siaaaap!” seorang perempuan berambut ekstra pendek membalas dengan kedua tangannya teracung bersemangat.
“Kau sudah memahami tugasmu kan H-Funf?” Seorang pria berambut putih muncul dari belakang perempuan itu.
“A-Drei kau berlebihan! Kau pikir aku bodoh hingga kau perlu memastiak hal itu berkali-kali?”
“Aku hanya memastikan. Karena kunci keberhasilan rencana ini ada padamu.”
“Kau bisa menangani mereka kan H-Funf?” X-3 angkat bicara.
“Laporan baru saja tiba. Sepertinya pasukan yang dikirimkan untuk menjaga Rayumi Hana hanya AM-28.” Yosef Strauss mematikan alat transmisinya.
“Tidak masalah.” Guman H-Funf dengan seringai di bibirnya.
“Kuharap kau tidak mengacaukan apapun.” Pemuda berambut putih itu kini tengah meneguk kopinya.
“Sudah kubilang, kau terlalu berlebihan A-Drei!” geramnya. “Ah, Y-Eins?”
“Ada apa H-Funf? Ada yang ingin kau tanyakan?”
“Dendam hanya akan menimbulkan dendam yang lain.”
Yosef Strauss terdiam dengan kedua matanya membesar.


SRAAAK!!
Arashi Tomuro berdiri dari duduk tenangnya. Wajahnya menunjukan kebingungan luar biasa.
“Mereka menarik pasukan secara serempak?” Tebak Yoshiki dengan tenang.
“Sialan! Sebenarnya rencana apa yang digunakannya!?” geram Tomuro. Kedua tangannya mengepal erat. “Apa Y-Eins sialan itu mempermainkanku!?”
“Tenangkan dirimku Tomuro… Kau akan termakan jebakannya jika kepalamu tidak dingin…” Sejujurnya dirinya sendiri juga kebingungan. DIa tidak bisa membaca isi pikiran para peringkat tertinggi Exorcist karena dalam rencana mereka tentu saja berisi keberadaan Hana yang merupakan penghalang dari kekuatannya.
Mata Azhure Tomuro menangkap bayangan pergerakan sesuatu yang sangat cepat dan berkekuatan tinggi. Tengah melesat menuju medang perang.
“Mereka bergerak.” Yoshiki seketika berdiri dari posisi duduknya.
Bibir Tomuro melengkuk memebentuk sebuah seringai. “Mari kita pukul pantat anak nakal ini,” guman Tomuro dengan aura kegelapan menguar dari punggungnya.


“Sial. Yang lain mungkin sedang menikmati menghantam wajah Exorcist,” decak malas seorang pria bermantel hitam.
“Berhenti menggerutu Kaga! Kita di sini juga memiliki tugas penting untuk menjaga My Lady!” Perempuan di hadapannya menghardiknya keras.
“Aku tahu Yuu. Aku hanya bosan jika terus berdiam diri,” pria itu menopang dagunya malas.
Yuu Aburame yang merupakan ketua dari pasukan AM-28 dan Kaga Ousawa wakil dari pasukan AM-28 kini sedang duduk di sebuah kafe di dekat restoran cheess cake yang dikunjungi ratu mereka bersama sahabta-sahabatnya. Di meja mereka terhidang kopi panas yang seharusnya menggoda selera di saat cuaca dingin seperti ini. Tapi sayangnya mereka berdua adalah sepasang drakula yang tidak meminum kopi tentu saja.
“Benar. Aku juga bosan jika hanya harus melawan cecenguk seperti kalian.” Sebuah suara menginterupsi keduanya. Membuat keduanya segera menoleh ke asal suara yang ternyata sudah berdiri dengan tenang di depan meja mereka.
“Yo!” Seorang perempuan berambut kuning kecoklatan tersenyum menyapa mereka.
Melihat jas hitam dan bando lengan itu keduanya langsung siaga.
“Exorcist!?”
Dengan kemunculan Exorcist ini di sini, telah dipastikan pasukan AM-28 lainnya telah dibabat habis.
“Tenang kalian berdua. Mari berpindah tempat terlebih dahulu. Aku tidak ingin pertempuran membosankan kita menyakiti warga sipil.”
“Sialan!” Tanpa banyak pikir lagu, Kaga menghantamkan tangan kosongnya tepat pada wajah Hilda. Namun—Tep. Tangan Hilda yang telah mengenakan sarung tangan Abschleppen Geist menyentuh kepalan tangan Kaga dan tentu saja menyegel vampir tidak sabaran itu. Untunglah suasana kafe sedang sangat sepi sehingga tidak ada yang begitu memperhatikan tindakan Hilda barusan. Hilda sedikit bersyukur karena Aidrin yang biasa menceramahinya tidak ada di sini. Karena pastinya dia akan diomeli habis-habisan karena menggunakan Abschleppen Geist sembarangan.
“Nah, nona vampire anda masih mau bertarung di ruang sempit yang memungkinkan anda terkena Abschleppen Geist-ku sangat besar?” Tanya Hilda dengan enteng.
“Tch.” Dengan kesal Yuu menuruti ucapan Exorcist di hadapannya, berteleport menuju lapangan parkir.
Tumpukan putihlembut di mana-mana. Alam menjadi serba putih dengan kencangnya kecepatan angin. Badai salju yang diperkurakan benar-benar terjadi sejak beberapa menit yang lalu.
“Hahh… syukurlah aku memakai celana. Jika memakai rok mungkin aku sudah mati kedinginan sekarang.” Hilda mulai mengatakan omong kosong.
“Berhenti bicara Exorcist!” Yuu diluar kesabarannya mengeluarkan sebuah tembakan-tebakan sihir berwarna ungu.
Memiliki refleks yang bagus, Hilda menghindari empat tembakan yang dilancarkan iblis di hadapannya.
“Hei kau mau main tembak-tembakan dengaanku? Baiklah… aku juga punya… tapi peluruku… berwarna putih…” Hilda membentuk jari kedua tangannya seperti pistol—“BANG!”—dan dua buah letupan sihir keluar dari kedua jari telunjuk Hana, melesat ke arah Yuu.
Dengan alam yang serba putih, tembakan Hilda yang berkecepatan tinggi tentu saja semakin sulit untuk dilihat.
PSYAT
PSYAT
PSYAT
PSYAT
Keempatnya dengan tepat mengenai kedua tangan dan kaki Yuu. Menahan tubuh Yuu pada dinding belakang departemen store.
“Haaah… sudah kuduga melawan kalian sama sekali tidak bisa membuatku hangat,” desah Hilda malas.
Yuu masih berusaha keras melepaskan tembakan sihir Hilda, namun sepertinya peluru sihir itu menancap dalam ke tembok.
“Sudah sudah, sebentar lagi kamu bebas kok.”—TEP. Tangan Hana yang bersarung tangan Abschleppen Geist menyentuh kepala Yuu.


“Keberatan jika memberikan Y-Eins padaku Yoshiki?” Tomuro tengah berlari di samping Yoshiki. Keduanya berlari dengan kecepatan yang tidak bisa dinalar oleh pemikiran manusia.
“… Jangan gegabah.”
“Di depan!”
Yoshiki segera melompat menjauh. Berlari ke arah lain.
Langkah kaki Tomuro terhenti. DI hadapannya, berdiri seorang pemuda berambut abu-abu.
Seringai menghiasi bibir Tomuro. “Wajahmu tidak jauh berbeda dari pria tua itu.”
Alis gelap pemuda itu mengernyit, menatap tidak suka pada sosok iblis di hadapannya.
“AKAN KUPENGGAL LEHERMU!!” Arashi Tomuro merentangkan kedua tangannya lebar. Seketika angin besar berkecepatan tinggi berhembus ke arah Yosef Strauss.
“Kekuatan dari wakil Lucifer memang hebat.” Di hadapannya. Iblis gelap yang tengah menguarkan aura hitam kematian itu adalah iblis yang telah membantai kakeknya dua belas tahun lalu. Api dendam dalam dirinya berkobar seketika.
“Dendam hanya akan menimbulkan dendam yang lain.” Ucapan Hilda terngiang di kepalanya.
Bibirnya membentuk senyuman tipis. “Terima kasih, Hilda.”
“Abschleppen Geist!” Tangannya ia angkat ke atas. Munculah sebuah lingkarang sihir putih yang berjalan turun kea rah tangannya. Memunculkan sebuah pedang dalam genggaman tangannya.
“Oh, benda yang sama dengan milik Yehuda.” Ucap Tomuro dengan kekuatannya yang meluap-luap.
“Ini memang milik kakek. Beliau mewariskannya padaku. Agar aku juga bisa, menghapus keberadaan kalian—Iblis—di dunia ini.” Yosef melesat ke arah Tomuro.
Langkah Yoshiki terhenti.
Di hadapannya berdiri tiga Exorcist telah menggenggam Abschleppen Geist mereka masing-masing.
“Hn…” guman Yoshiki malas.


“Selamat siang.”
Sebuah suara menginterupsi keempat sahabat yang tengah asyik memakan cheess cake mereka.
“Ah ya?” Yui dengan sopan bertanya.
“Apa Cheess Cake-nya enak?” Hilda dengan senyumanya bertanya.
Hana yang baru saja memakan cheess cake dengan garpunya, tertegun begitu melihat sosok Hilda di hadapannya.
Tidak salah lagi, dia Exorcist yang waktu itu menyerangnya di malam tahun baru. Mata Hana membulat sempurna. Cheess cake dalam kerongkongannya ia telan perlahan.
‘Gawat…’
“ENAK! SANGAT ENAK!” Teriak Shiro.
“Kalau begitu syukurlah, sepertinya aku harus menyampaikan pada temanku jika kalian menyukai kuenya.”
“Eh? Anda teman paman yang waktu itu?” Tanya Maki.
“Ah…” Bibir Hilda membentuk senyuman yang ditekuk.
‘Paman katanya?’ batin Hilda shock. Dalam kepalanya terbayang sosok Yosef. ‘Dia memang terlihat sangat dewasa untuk ukuran remaja sepertinya.’
“…Ya.” Sambung Hilda.
“Wah! Kalau begitu pas sekali! Tolong sampaikan rasa terima kasih kami padanya!” Yui menyahut.
“Tentu saja. Sebagai rasa terima kasih, kamu yang di sana, bisa ikut aku dan membantuku?” Hilda menunjuk Hana yang duduk agak jauh dari Hilda.
Kelopak Hana sama sekali tidak berkedip sekali pun. Dirinya terlalu shock.
‘Bagaimana ini? Dia ada di sini. Apa dia akan menangkapku? Yoshiki-kun? APa sesuatu terjadi dengan Yoshiki-kun? Apa mereka akan membunuhku?’
“HANA! Dengarkan orang yang berbicara padamu!” teriak Shiro yang duduk di hadapannya
“Hei, Hana!” Maki menyikut tangan Hana pelan.
“Eh?” Hana akhirnya berkedip dan kesadarannya sepertinya telah kembali.
“Ah… I-Iya…”

-TO BE CONTINUTED-

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.