CHAPTER 2: DECLARATE THE WAR!
Deru salju ribut memenuhi langit malam. Kuroto Yoshiki yang baru saja mengeratkan mantel tebalnya dan hendak memasuki kursi belakang Audi Hitamnya tiba-tiba berhenti bergerak.
“Exorcist.” Mulutnya menggumankan sebuah kata.
Tap. Benar saja, dari arah belakangnya sebuah sepatu pantofel putih muncul dari arah gelapnya gang gedung. Walau begitu kepaa sombong Yoshiki sama sekali tidak menoleh guna menatap siapa sosok bermantel putih di belakangnya.
“Sudah kuduga kau pasti akan menyadariku Kuroto Yoshiki,” baritone itu memecah ributnya badai salju.
“Yosef Strauss. Y-1. Apa maumu?” Tidak diturunkannya sama sekali satu oktav pun suaranya yang penuh kesombongan itu.
Pemuda berambut abu-abu itu tersenyum tulus. “Tolong jangan sebutkan kode itu di sini. Aku sedang tidak mengenakan seragam tugas.”
“Itu bukan jawaban pertanyaanku.” Dengan cepat dan datar Yoshiki menyahuti ucapan pemuda itu.
“Ah, maaf,” mata abu-abu pemuda itu agak berkilat. “Sebenarnya…kehadiranku di sini adalah soal… pengibaran bendera perang karena kau telah lancang melakukan perjanjian darah pada Rayumi Hana.”
Kuroto Yoshiki telah berbalik sempurna menghadap Yosef Strauss. Bola mata hitamnya telah menjadi semerah azure dan menatap rendah siapapun yang ada di hadapannya.
“Hn. Mungkin aku harus mengoreksi kata-katamu. Dia Kuroto. Kuroto Hana.”
“Kami berencana merebut Rayumi Hana,” dengan tenang Yosef Strauss menyelesaikan kalimat perangnya.
Sampai kapanpun, pihak Exorcist tidak akan pernah mengakui jika si sumber kekuatan telah berhasil dimiliki oleh iblis yang notabene adalah musuh abadi Exorcist.
Yoshiki terdiam untuk sejenak. Rahangnya mengeras. Ekspresinya menjadi kaku. Tatapannya semakin tajam.
Ini buruk. Miliknya benar-benar terancam sekarang.
“Tidak akan kubiarkan kalian merampas milikku.”
Yosef Strauss tersenyum tipis. “Dengan begini bendera perang telah dikibarkan. Kalau begitu, selamat malam Mr. Kuroto,” dan sosok itu berbalik, menghilang ditelan bada salju.
Untuk sejenak tatapan kaku Yoshiki terus mengamati hilangnya sosok pemuda asal Israel itu. Hingga bayangan yang terlihat benar-benar tidak ada, barulah Yoshiki memasuki mobilnya.
“My Lord?” Supir Yoshiki yang sejak tadi ikut mengamati perbincangan kedua pria berkekuatan penuh itu akhirnya angkat bicara. Menanyakan keputusan tuannya.
Tidak ada jawaban dari Yoshiki. Sungguh, moodnya benar-benar menjadi buruk sekarang. Hanya tatapan kebencian yang menguar dari kedua bola matanya yang telah menjadi hitam.
Mengethaui kondisi tuannya tidak bisa dipertimbangkan lagi, tanpa banyak bicara lagi sang supir mulai memanaskan mesin mobil dan kemudian melajukan mobil itu membelah outihnya jalanan.
Pandangan Yoshiki teralih pada jendela gelap yang menampakan alam serba putih di luar sana. Sekilas matanya menghadap jam tangannya. Benar juga, hari ini, dua tahun lalu adalah pertama kalinya dia menunjukan diri di depan Hana.
Begitu banyak terjadi kenangan dan kejadian yang telah ia lalui bersama permepuan tomboy itu. Dan sekarang, musuh abadinya, para Exorcist sialan itu berencana merebutnya. Tidak bisa. Ini tidak bisa dibiarkan—kedua genggaman tangan Yoshiki mengepal erat.
---
“Tomuro!” Suara berat Yoshiki memenuhi tempat pelatihan selatan. Di ujung sana, seorang pemuda berambut merah menyala tengah memumunggui Yoshiki dengan mantel hitamnya.
“Apa lagi?” sahut Arashi Tomuro dengan malas. Tidak berbalik sedikitpun, sibuk dengan pekerjaannya yang entah apa itu.
“Yosef Strauss mendatangiku.”
Ucapan datar barusan sukses membuat kepala merah itu berbalik menghadap sang lawan bicara dengan ekspresi cukup kaget. “Y-1?”
“Hn.”
“Untuk apa dia menemuimu Yoshiki!?” kakinya melangkah mendekati Kuroto Yoshiki.
“Mengibarkan bendera perang. Mereka menginginkan milikku.” Geraman tertahan terselip dari bibir Yoshiki.
“Jadi Exorcist tidak menyerah?” kerutan di alis Tomuro tercetak jelas.
“Hn.”
“Jadi, apa yang akan kita lakukan My Lord?” salah satu alis Arashi Tomuro naik, menunggu jawaban dari tuannya.
Kedua tangan Yoshiki mengepal erat. “Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh milikku barang seujung rambut pun.”
“Perintahmu?”
Tatapan Yoshiki sekarang dengan mantap menatap wakilnya. “Arashi Tomuro, bawa semua pasukan untuk melindungi milikku!”
Senyum Arashi Tomuro mengembang jelas. “Yes, My Lord!”
---
Dengan langkah tergesa, kedua kaki hitam itu melangkah menuju perpustakaan utama. Onyx hitamnya menjelajah dengan cepat setiap sudut luas perpustakaan miliknya. Menemukan sosok berambut hitam pendek di sana.
Itu dia. Wanitanya itu sedang duduk di kursi. Tengah memainkan sebuah game pada ponsel pintarnya.
“My Lady?” Gumanan datar itu lantas membuat perempuan berambut hitam itu menghentikan aktivitasnya. Mem-pause game misteri dalam ponselnya, dan menolehkan kepalanya kepada sumber suara.
“Ah, Yoshiki-kun!” Layaknya anak kecil, Kuroto Hana menghambur kea rah sang suami dan memeluknya erat.
Senyuman tipis menghiasi bibir Yoshiki. Tangannya tanpa bisa menahan lagi, mengusap rambut pendek perempuannya itu.
Kepala hitam itu mendongkak menatap wajah datar Kuroto Yoshiki. “Uhm? Ada apa Yoshiki-kun? Kau terasa aneh…”
Yoshiki terdiam. Sepertinya dengan dirinya yang telah menjadi iblis, mulai bisa merasakan perasaan di sekitarnya.
“Hn, Exorcist… mengibarkan bendera perang.”
Saphirre itu terbelalak lebar. “Kenapa? Sekarang kenapa lagi!? Bukankah aku sudah melakukan perjanjian darah!?”
Tak kuasa menatap ekspresi bersalah itu, Yoshiki kembali merengkuh tubuh Hana ke dalam pelukannya.
“Mereka… berusaha mengambilku dariku…” ada sedikit geraman ketakutan di setiap ucapan Yoshiki. Walaupun dirinya pasti akan berusahan menjaga miliknya ini hingga titik darah penghabisan, ada saja perasaan takut kehilangan perempuan yang dipeluknya erat itu.
“…” Tidak ada sahutan dari Hana.
“Aku akan melindungimu My Lady… tidak akan kubiarkan mereka menyentuhmu barang seujung rambut pun,” pelukan Yoshiki semakit erat. Seolah memenjarakan Hana dan menjaga Hana dalam pelukannya.
“Yoshiki-kun…”
“Hn, jangan khawatir. Pertempuran ini tidak akan lama. Aku akan menyingkirkan mereka semua.”
***
Keesokan paginya. Fajar menyingsing dengan terangnya. Menyinari bumi ini tanpa ampun, menerangi setiap sudut gelap Tokyo.
Kuroto Yoshiki dengan jubah hitam yang telah lama tak digunakanannya tengah sibuk memantau dan membuat rencana bersama Arashi Tomuro. Di kanan kiri terlihat banyaknya prajurit yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mansion Yoshiki benar-benar dalam mode darurat perang.
Sementara itu Kuroto Hana hanya bisa mengintip dari kejahuan keributan di luar mansion. Hiruk pikuk para prajurit yang tengah membakar semangat mereka memekakan telinga.
Tentu saja, Kuroto Yoshiki segera menyadari keberadaan istrinya yang tengah mengintip tersebut. Dengan segera dihampirinya.
“Hn, apa yang membuatmu kemari My Lady? Apa Misaki meninggalkanmu?” tangan kekarnya mengusap lembut pipi tan perempuan itu.
“Yoshiki-kun…”
“Hn?”
“Apa aku tidak bisa membantumu?”
Pertanyaan itu seketika membuat Yoshiki tercekat.
“Apa kau sudah berhenti menggunakan otakmu My Lady?” Yang benar saja. Dirinya berusaha agar perempuannya ini tidak sampai tersentuh mereka. Sekarang malah perempuannya ini datang kepadanya, meminta ikut campur dalam pertempuran bagaikan memberikan makanan kepada singa lapar.
“T-Tapi… setidaknya aku ingin berguna!”
Yoshiki mengertiarti tatapan bersalah yang diberikan oleh istrinya itu.
“Aku bisa menanganinya sendiri My Lady,” tangannya bergerak mengacak kepala hitam istrinya itu.
“T-Tapi—“
“Tunggu aku. Berikan aku pelukan setelah aku menghabisi mereka. Jika kau memang ingin berguna, maka lakukan itu.”
“Yoshiki?” Suara tergesa dari Arashi Tomuro menginterupsi keduanya.
“Hn?”
“Exorcist mulai bergerak. Mereka menuju distrik barat di mana ada padang rumput luas di kaki gunung. Mereka memilih lokasi tersebut karena jauh dari pemukiman.”
“Hn. Pasukan mereka?”
“Barisan pertama Lithium-41 dikepalai Asimov, A-56.”
Onyx gelap Yoshiki sedari tadi terus menangkap pancaran kebahagiaan dari raut wajah wakilnya. Tentu saja otak cerdasnya segera memangkap isi pikiran dari wajah kebagaiaan itu.
“Cepat berikan perintahmu Yoshiki!” Bahkan dia bicara seperti itu dengan raut wajah seolah kehausan, haus akan pertarungan berikutnya, haus akan lawan yang kuat, haus bertarung sekuat tenaga dan melepaskan rasa kebosanannya.
“Ini catur Tomuro. Jendral perang pihak Exorcist kali ini adalah Yosef Strauss. Dia menggunakan pasukan Exorcist rendahan layaknya sebuah bidak catur. Dan tentu saja, bukankah lebih baik kau saja yang turun tangan untuk bermain catur dengannya?”
Kalimat Yoshiki yang bernada rendah itu sukses membuat Tomuro kegirangan.
“Akan kupastikan mereka bertekuk lutut padamu My Lord!” Tatapan azure Tomuro dengan yakin membelah gelapnya onyx Yoshiki.
“SK-9 bergerak. Tenggara distrik Selatan!”
Begitu perintah itu turun. 10 iblis segera melesat meninggalkan mansion.
“Baiklah… mari kita lihat seberapa cerdas dirimu Yosef Strauss,” seringai Tomuro melebar.
---
“Bawa pasukan Copper-74 untuk berikutnya.” Dengan tenang, Yosef Strauss duduk di kursinya dan memimpin jalannya peperangan.
“Lalu Xeon-13 ke barat daya.”
“Bukan kah itu terlalu cepat Y-1!?” Sela sosok berambut pirang panjang.
“Kita harus bergerak cepat W-6, dilihat dari pergerakan prajurit iblis itu, yang menjadi jendral kali ini adalah dia.”
“Dia?”
“Ya. Dia. Iblis gila yang waktu itu memenggal kepala Yehuda Strauss, kakekku,” Kerutan kepahitan mengisi wajah tan Yosef Strauss, “Arashi Tomuro.”
---
“Cerdas! Dia cerdas! Selanjutnya MG-55!”
Membayangkan betapa hebatnya lawannya kali ini saudah mampu membuatnya merasakan getaran pada tubuhnya.
Akhirnya—Akhirnya ada yang sebanding dengannya, walaupun ini hanya masalah strategi dan pikiran. Setidaknya lawannya kali ini sudah hampir membuat jantungnya kembali berdetak kegirangan.
“Yosef Strauss eh?” bersamaan dengan munculnya kenangan dimana dirinya dulu berhasil mengalahkan si peringkat pertama Exorcist 12 tahun lalu, bibirnya menyeringai.
---
Pertikaian di mana-mana. Detingan logam menggema di antara sunyinya gemerisik daun. Sabetan benda tajam bergemirincing menyahuti.
Seolah Distrik Selatan telah menjadi medan perang utama, pasukan Exorcist dan pasukan iblis bertarung habis-habisan. Tanpa ampun. Tanpa menyerah.
“Matiii!” Pekikan kutukan menggema di mana-mana.
Abschleppen Geist menyegel setiap iblis yang bersentuhan dengannya. Sebuah senjata dengan bebagai macam itu adalah Rosario bagi para Exorcist.
Membantai atau disegel. Hanya itu pilihan bagi para iblis.
Udara dingin, dan salju yang perlahan mulai turun di hari itu menjadi saksi kegilaan dunia yang tidak bisa diraih dan dinalar oleh manusia biasa. Perang dingin antara hitam dan putih.
“Serahkan Rayumi Hana, maka perang ini berakhir. Kalian akan tersegel jika terkena Abschleppen Geist.Jangan sia-siakan kehidupan yang diberikan Tuhan untuk kalian.” Ucap seorang Exorcist berbando M-112.
“Ceh. Kau pikir kami peduli? My Lord yang memberikan kehidupan untuk kami. Dan My Lady adalah ratu kami. Jika kalian berharap kami menyerahkan My Lord? Kalian sedang bermimpi!” Dengan yakin sosok pria paruh baya menghardik Exorcist di hadapannya.
Tangannya menarik pedang dari sarungnya dan mengarahkan kepada sang Exorcist M-112. Tapi dengan cekatan M-112 menangkisnya dengan tali baja yang menjadi Abschleppen Geist-nya.
–KIIIIINGG!!!
Sementara itu, di daerah lain, suasana tak jauh berbeda menjadi kenampakan yang tak asing.
–TSUB!
Sebuah paku yang ternyata berupa Abschleppen Geist menusuk dengan tepat pada kepala Troll berwujud manusia.
“—Gwaaah!” Sinar muncul dari paku tersebut dan menghilangkan sang Troll dalam sekejap.
“Fyuuuh…” Esxorcist berbando J-407 mengambil paku tersebut sembari menghela nafas.
Namun sayangnya Exorcist itu terlalu bodoh untuk menyadari jika ada sesosok warewolf dari arah belakangnya tengah mengendap-endap dengan dengan air liurnya yang menetes-netes.
–Sraak
Detik berikutnya, kepala Exorcist malang itu telah berada dalamkunyahan gigi-gigi tajam warewolf itu. Tubuhnya terjatuh dengan pendarahan luar biasa pada lehernya.
---
Tenggelamnya matahari membuat para pasukan Exorcist menarik diri dari gelapnya suasana hutan distrik selatan. Penarikan pasukan pada malam hari adalah hal umum dalam peperangan. Apalagi bagi para Exorcist yang sebenarnya hanyalah manusia biasa yang dipercaya dengan iman mereka memegang Abschleppen Geis untuk menyegel iblis yang pada dasarnya tidak bisa dibunuh.
Pertarungan hari pertama:
Exorcist kehilangan 422 nyawa
390 Iblis tersegel
Hasil yang setimpal untuk sebuah pengorbanan melindungi sesuatu yang berharga.
“Bagaimana Tomuro?” Kedua tangannya ia silangkan di depan dadanya, Kuroto Yoshiki bersandar di daun pintu ruang strategi.
Arashi Tomuro yang tengah duduk di kursi putarnya, memutar kursi tersebut hingga dirinya menatap tuannya.
“Mereka menarik diri. Tentu saja.” Bicara dengan kesombongannya dan mengendikan kedua bahunya.
“Hn. Perang belum berakhir.”
“Aku tahu. Aku juga sedang merencanakan strategi untuk besok.”
“Hn…”
“—Exorcist diperbolekan memiliki dendam eh, Yoshiki?” Langkah Yoshiki yang hendak meninggalkan ruangan strategi terhenti mendengar pertanyaan Tomuro.
“Yosef Strauss?” Yoshiki malah balik memberikan pertanyaan Tomuro.
“Yah…” Arashi Tomuro menangguk.
“Seharusnya, jika dia memang anak-Nya, dia tidak boleh menyimpan dendam,” sahut Yoshiki dengan datar. Tidak peduli.
“Tapi sepertinya anak yang satu ini cukup nakal sehingga dia diam-diam menyimpan dendam padaku yang telah membunuh Yehuda Strauss 12 tahun lalu.”
“Tomuro… jangan sampai termakan jebakan.” Setelah mengucapkan kalimat ambigu itu, Yoshiki benar-benar meninggalkan ruang strategi.
Tomuro hanya terdiam di kursinya. Entah mengerti apa arti ucapan Yoshiki barusan.
---
“A-Zwei… aku bosan,” seorang Exorcist perempuan berambut pendek berwarna kuning kecoklatan tengah meregangkan tubuhnya bagai kucing yang baru bangun tidur.
“Duduk di tempatmu kembali H-Funf!” Dengan jengkel pemuda berambut putih itu menyahuti.
“Tidak mau A-Zwei! Pantatku panas!”
“Bersabarlah, kita akan segera memenangkan peperangan ini.”
“Mana bisa menang jika kita hanya menonton seperti ini!? Hei Y-Eins kapan kita maju!?”
“H-Funf, bukankah aku sudah mengatakan semuanya dalam rapat kita empat hari yang lalu?” Yosef Strauss hanya membalas dengan senyuman.
“Ah, yang itu? Maaf aku ketiduran. Tee-hee,” Hilda mengggaruk pipinya yang tidak gatal lalu menjulurkan lidahnya tanpa dosa.
“Sudahlah. Kau hanya perlu mengikutiku saja.” Sahut Aidrin.
“Ah, begitu? Baiklah.” Jawab Hilda polos.
“Aku percaya padamu Y-Eins. Dengan rencana ini Rayumi Hana akan berhasil kita ambil.” Seorang berlogat Cina berbando lengan X-3 ikut andil.
“Ya, rencanamu luar biasa Y-Eins,” sambung seorang pemuda berambut blonde berbando lengan M-4.
-TO BE CONTINUTED-
Jumat, 11 Desember 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar