Jumat, 25 Desember 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 56]

 CHAPTER 56: WHEN YOU ARE GONE

Sesuai apa yang dikatakan F-772, mereka tiba di sebuah apartemen sederhana setelah 20 menit perjalanan. Sementara Keigo sibuk mengeluarkan semua barang bawaan dari bagai mobil, Hana masih asyik mengusap kedua matanya dan menguap puas.

“Tidurmu nyenyak?” Keigo berjalan di samping Hana menaiki tangga menuju apartemen mereka.

“Maaf meninggalkan Keigo-kun tidur tadi.”

“Tidak apa-apa,” Keigo sudah boleh lega sekarang. Hana yang seharian penuh di dalam pesawat jarang memejamkan mata akhirnya benar-benar tertidur pulas, “kamu boleh menlanjutkan tidur lagi setelah beres menata barang.”

“Silahkan. Ini kamar apartemen kalian mulai sekarang,” F-772 sudah berada di depan pintu begitu keduanya tiba.

“Terima kasih,” Keigo menundukkan kepalanya.

F-772 tersenyum tipis, “ini notes berisi paduan singkat. Seperti dimana kamu bisa berbelanja beberapa kebutuhan, ah kontakku juga ada di sana jika kalian menemui masalah.”


.


“Huwaaa akhirnya selesai!” Hana menghempaskan tubuhnya pada lantai begitu selesai menata pakaiannya sendiri di dalam lemari.

“Kau lelah?” Dari balik ruangan Keigo mengintip dengan membawa dua cangkir beraroma manis.

“Sangat, seperti jantung dan tubuhku tidak pernah dipaksa bekerja berat,” Hana bangkit dalam satu sentakan, “aku semakin tua saja.”

“Haha, kamu kan masih dua puluh tahun. Jangan berlagak seperti nenek-nenek. Bahkan nenek-nenek jauh lebih energik disbanding denganmu,” Keigo menyodorkan segelas madu hangat.

“Kamu lihat ada nenek-nenek energik di mana memangnya?”

“Ya… pokoknya ada,” Keigo menjawab sembarangan.

Hana menyesap madunya perlahan, “heuuuum ini enak sekali untuk otot-ototku.”

“Hahaha, oke aku setuju kamu semakin tua, enak ya nek madu hangatnya?”

“Keigo-kun!!!”


.


Jeritan menggema di seluruh mansion kala itu. Teriakan demi teriakan yang memilukan seolah menahan seluruh penghuni mansion untuk menjalankan tugas. Lagipula sekarang siapa yang tidak akan merindung dan ketakutukan begitu mendengar tangisan pilu penyiksaan?

Benar, seluruh tim intelejen yang ditugaskan telah gagal mencari penerbangan pelarian Hana dalam satu malam. Yoshiki tidak pernah main-main dengan perkataannya juga. Eksekusi harus dilakukan bagi seluruh pembangkang yang gagal.

“Tidak My Lord, My Lord ampuni kami. Kami akan berusaha sebaik mungkin setelah ini. Kami akan menemukan My Lady sesegera mungkin,” tangisan penuh rintihan dan isakan itu keluar dari bibir yang sudah tidak berbentuk dari salah satu personil.

“Tentu saja kau harus menemukannya sesegera mungkin,” Yoshiki menjawab malas. Ia hanya duduk memandangi para agennya menderita secara fisik.

“Masukkan,” gumanan dingin itu seolah menjadi mimpi buruk bagi para agen.

“ARGGGHHHH!!!” Teriakan pilu kembali menggema setelah kepala para agen itu dimasukkan ke dalam air sulfat pekat. Wajah mereka yang hampir tidak berbentuk itu kembali meleleh oleh karena asam kuat, membuat warna asam pekat yang awalnya hanya kekuningan pucat itu menjadi air darah.

“My Lord, My Lord, kami mohon belas kasihan anda,” kembali salah satu personil memohon maaf di tengah rintihannya. 

Iblis tidak bisa mati seperti manusia. Mati yang digambarkan di mana jiwa meninggalkan tubuh jasmani tidak bisa terjadi pada iblis yang bahkan jiwanya tidak akan bisa diterima di alam berikutnya. Jiwa mereka akan terus tertanam pada tubuh jasmani sementara tubuh jasmani mereka disiksa sedemikian rupa. 

Padangan Yoshiki masihlah datar menghadapi rintihan permohonan maaf para agennya, wajah mereka yang sempat hancur oleh asam pekat perlahan kembali tumbuh beregenerasi, namun sayangnya sebelum regenerasi selesai Yoshiki sudah memberi aba-aba bagi para eksekutor untuk kembali menenggelamkan kepala para agennya pada asam pekat.

“Karena kalian tidak berhasil menemukannya, ini seperti memberi kesempatan pada si sialan itu untuk bersama milikku. Dan kalian tau betapa tersiksanya aku membayangkan hal itu? Maka aku membagi rasa sakit itu kepada kalian.”

“My Lo—arggghhh!!!”

Pekikan memilukan itu terus terjadi sampai kurun waktu lebih dari dua jam. Hingga akhirnya sang penguasa bangkit dari duduknya, “satu minggu, jika kalian gagal menemukannya lagi, berikutnya kalian tidak akan bisa berteriak sama sekali,” ujar Yoshiki dengan pandangan dinginnya.


.


Dua hari sejak kepindahan keduanya di negara kangguru. Sebenarnya yang menjadi penghalang terbesar bagi Hana untuk menikmati negara ini adalah bahasanya. Kemampuan berbahasa Inggris Hana tidaklah buruk, namun ia hanya kesusahan dalam mengucapkannya untuk berinteraksi secara langsung.

“Aku mendapatkan email pemberitahuan untuk interview besok siang,” Keigo tiba-tiba berucap setelah menyesap sodanya.

Udara pagi itu cukup bersahabat untuk keduanya melakukan jogging dan berhenti sejenak di sebuah taman dekat danau.

“Woah keren sekali Keigo-kun! Keigo-kun melamar apa?”

“Aku melamarmu,” walaupun berusaha membuat wajah yang serius, namun pria yang tidak bisa berhenti tersenyum dengan manis itu tetap tidak bisa menahan senyumnya saat menggoda Hana.

Namun candaan itu memberikan dampak tersendiri bagi Hana, wajahnya memerah bagai kepiting rebus.

Melihat itu Keigo mendadak merasa canggung, wajahnya ikut memerah karena kebodohannya sendiri.

“Hahahahaha!!!” Namun ia menutupinya dengan tawa canggung, “aku melamar di sebuah Lembaga les privat. Mereka tidak memiliki guru bahasa Jepang. Well…”

“Dasar Keigo-kun bodoh!” Hana meninju lengan pria itu dengan kesal.

“Haha, dukung aku dong,” Keigo masih sibuk tertawa.

Hana tersenyum menanggapi, “tentu. Akan kudukung untuk seterusnya.”


.


Bunyi tak nyaring timbul ketika layar macbook tertutup. Disusul dengan sebuah helaan nafas berat.

Kuroto Yoshiki memijat pelipisnya sejenak. Ia lelah. Jam dinding sudah menunjukkan waktu pukul tujuh pagi. 

Tubuh kakunya perlahan bangkit dari kursi yang sudah ia duduki sejak lebih dari delapan jam yang lalu tanpa tidur.

Setelah melakuakan peregangan dan sedikit mengacak rambutnya, sesuatu bergetar entah dari mana. Membuatnya menghelakan nafas berat dengan malas.

Meja yang penuh dengan tumpukkan kertas itu ia acak-acak guna menemukan sumber penghasil getaran itu. Ponselnya. Begitu ia mendapati benda persegi panjang itu, sudah ada beberapa panggilan tidak terjawab di sana.

Ia menelepon balik, “ada apa?”

Wajahnya benar-benar kusut, “tidak, izin resmi dari Kementrian Luar Negri dan Kedaulatan Norwegia sudah didapatkan.”

Kedua matanya sedikit memincing begitu merasakan cahaya matahari yang menerobos masuk melalui sela-sela gordennya, “kalau begitu aku akan tiba di kantor dalam tiga puluh menit, siapkan berkasnya.”

Begitu mengakhiri panggilan, jari pria itu bergerak memeriksa jajaran notifikasi penting lainnya, hingga akhirnya ia membersihkan seluruh notifikasi yang ada. Menyisahkan homescreen kosongnya. Membuat tangannya tergelitik usil membuka gallery. Tentu saja dalam sekali tekan semua foto yang paling mendominasinya seketika menjadi fokusnya, apalagi kalau bukan foto-foto random yang diambil oleh istrinya.

Dengan alasan seperti ‘wah kameranya keren’ istrinya itu berkali-kali mengambil foto dirinya jika moodnya sedang baik. Dari foto yang menunjukkan sisi timboy hingga girly sang istri, seolah ponsel Yoshiki menyimpan itu semua. Beberapa foto dirinya yang dipotret diam-diam pun tersemat. 

Seperti halnya sebuah foto dimana ia nampak sibuk bekerja. Foto ini diambil ketika sang istri tengah bosan menunggunya selesai bekerja.

“Lihat ini…. Yoshiki-kun sedang bekerja…. Hmmm…. Padahal cuman bekerja, tapi masih tetap tampan. Hmmm….” Hana memainkan fungsi zoom pada kamera ponsel Yoshiki, dan mengambil beberapa foto acak yang mana menurut dia menunjukkan pose unik suaminya.

Tanpa sadar ujung bibir yang sedari tadi nampak kaku itu mulai tertarik ke atas. Pandangannya melembut.

Ia menekan fungsi kunci pada ponselnya, menggelapkan seluruh tampilan layarnya.

Sedikit hembusan nafas, Yoshiki melangkah meninggalkan ruang kerjanya.


.


“Aku pulang,” Keigo muncul dari balik pintu.

“Selamat datang,” Hana menyahuti dari arah dapur. Beberapa suara logam alat masak pun terdengar menyusul.

“Hooo apa yang kau buat? Ini masih pukul 5 loh. Bukankah masih terlalu dini untuk makan malam? Atau kau sudah lapar saja? Dasar jagoan makan,” Keigo meletakkan mantel dan tasnya pada kursi.

Dengan wajah yang setengah memerah dan tangannya yang sibuk memoleskan bawang pada suatu daging ia menjawab, “aku membeli daging dengan diskon 70% tadi, dan kualitasnya bagus untuk dibuat steak. Aku berencana membuat pesta kecil-kecilan untuk merayakan interview-mu.”

“Hooo…. Bagaimana kamu bisa dapat diskon sebesar itu?” Sekarang Keigo sudah berhenti di depan daging yang sedang Hana rendam dengan tumpukkan bawang.

“Aku hanya datang ke minimarket yang ada dalam list yang diberikan exorcist kemarin, sebenarnya aku juga tidak terpikirkan untuk membuat pesat kecil-kecilan, lalu ketika aku melihat ibu-ibu berebutan aku jadi penasaran, ternyata mereka merebutkan daging ini. Langsung saja aku melesat ke dalam kerumunan itu,” ucap Hana penuh percaya diri.

“Haha… melesat bagaimana?” Keigo tertawa renyah.

“Orang Australia kan sedikit lebih tinggi daripada orang Jepang sepertiku, jadi aku bisa masuk disela-sela tubuh mereka.”

Keigo semakin tidak bisa menahan tawanya, “tidak semua orang Jepang sekecil kamu loh.”

Wajah Hana kembali memerah, kesal, “aku tidak kecil! Mereka saja yang sebesar titan!”

Keigo terbahak-bahak.

“Sana mandi dulu! Kamu bau!” Gerutu Hana kesal.

“Eh? Benarkah?” Keigo mulai mengendus permukaan pakaiannya, “bagaimana aku bisa bau? Aku hanya duduk saat interview, tidak berkeringat sama sekali—” namun klimatnya berhenti saat ia memiliki ide untuk mengisengi Hana, “kalau begitu, rasakan ini, kamu juga jadi bau!” Keigo memeluk Hana dari belakang tiba-tiba.

Tentu saja, wajah Hana akan memerah dan ia akan berteriak, “KEIGO-KUN BODOH!!!”


.


Yoshiki melangkah keluar dari lift sebuah gedung dengan percaya diri. Ia baru saja mendapat persetujuan penting dari seorang senat negara lain. Dengan begini, proyek yang ia sponsori lintas negara akan memberikan pundi-pundi keuntungan secara gila-gilaan padanya.

Begitu tiba pada aera parkir, ia mengeluarkan kontak mobilnya untuk membuka kuncinya. Memasuki mobilnya dan meregangkan dasi yang seolah menjerat lehernya.

Perasaan bagus mengalir pada seluruh tubuh pria itu, sedikit perayaan untuk memulai awal yang bagus sepertinya tidak buruk? Benar juga, seingatnya ia pernah menimkati yakiniku kualitas terbaik bersama koleganya. Hana sangat menyukai makanan penuh protein itu. Oleh sebab itu ia mengeluarkan ponselnya tanpa ragu, hendak mengabari sang istri untuk segera bersiap-siap sebelum ia menjemput—Ia terdiam menatap ponselnya.

“Sial,” Ia mengumpat cepat.

Ia bahkan lupa jika sang istri telah pergi meninggalkannya dan keberadaanya tak diketahui di mana.

Benda persegi panjang itu ia lemparkan sembarangan pada kursi di sampingnya, semenatara kepalanya bersandar pada jok dengan lemas, pandangannya menjadi kosong.


.


“Enak enak! Ini enak! Hana sejak kapan jago memasak?” Keigo tak bisa berhenti memuji rasa masakan Hana setiap kali ia memasukkan sepotong daging pada mulutnya.

“Ho ho ho! Diam-diam aku suka menyusup ke dapur saat semua koki tengah menyiapkan makan malam!” Hana dengan ponggahnya berujar.

“Begitu ya!” Keigo masih asyik melahap hidangannya.

Sayangnya akibat kalimatnya sendiri, Hana menjadi kurang nyaman dengan masakannya. Kepalanya sekarang penuh dengan, ‘apa yang dilakukan Yoshiki-kun sekarang?’, ‘bagaimana kabar Yoshiki-kun sekarang?’ dan beberapa perasaan bersalah karena meninggalkan pria itu.

“Kamu baik-baik saja? Tiba-tiba melamun?” Keigo yang menyadari keadaan Hana, ikut berhenti mengunyah makanannya.

“Eh? Ah! Tidak apa-apa kok, ayo dimakan yang banyak Keigo-kun!” Hana meletakkan telur mata sapi pada nasi Keigo.

Keigo mengulas senyum, sebelum kembali melahap hidangannya dengan puas.

“Bagaimana tadi interview-nya?” Hana kembali menyuapkan nasi pada mulutnya.

“Menyenangkan. Mereka memang sangat membutuhkan tentor orang Jepang. Malahan kita membicarakan keseharian di Jepang bagaimana, haha.”

“Apa mereka tau jika Keigo-kun juga mantan dosen?”

Keigo mengangguk sembari mengunyah, “ada dalam CV ku, mereka menanyakan mengapa aku keluar, aku mengatakan butuh suasana lain untuk melepaskan diri dari kejenuhan.”

“Lalu-lalu, kapan Keigo-kun akan mulai bekerja?”

“Besok. Karena tentor bahasa Jepang hanya aku di sana, sepertinya aku akan mendapat full timer.”

“Wooow, selamat Keigo-kun!”

Keigo meraih segelas jus jeruk dan meneguknya, “tapi dengan begitu waktuku bersamamu akan berkurang.”

“Ih, ya tidak masalah, aku kan bukan anak kecil,” Hana menekuk dahinya.

“Eh? Bukan?” Keigo bertanya polos.

“KEIGO-KUN!!!!”


.


Yoshiki hanya memutar gelas anggurnya. Menatap cairan pekat di dalamnya bergoyang perlahan mengikuti gravitasi.

Pandangannya datar dan kosong entah menatap kemana.

Para koki kelas atas berkali-kali menyajikan beberapa lembar yakiniku yang telah dimasak dengan sempura. Namun daging-daging berkualitas tinggi itu hanya teronggok di piring sang raja hingga dingin.

“My Lady….” Mulutnya berguman datar.

Sepertinya ia akan menyanyakan kewarasan dirinya setiap kepalanya membuat halusinasi adanya sosok Hana yang duduk di sampingnya. Sosok itu tertawa lepas sembari melemparkan banyolan gelap kesukaannya dan memukul-mukul ringan tubuhnya tergelak.

Tak bisa Yoshiki pungkiri. Hana adalah pendengar yang baik. Ia akan mendengar setiap ceritanya walaupun Ia sendiri tidak yakin apakah Hana memahami ceritanya. Walaupun kadang perempuan itu akan menyergah kalimat yang tidak sesuai dengan pendapatnya.

‘Apa? Yoshiki-kun merindukanku?’ Sosok itu duduk di hadapannya dengan seyum lima jarinya.

“Ya… aku merindukanmu…”

‘Aku juga merindukan Yoshiki-kun!” Senyum sosok itu semakin melebar, ‘mau bagaimana lagi? Yoshiki-kun memang sibuk bukan? Oh! Bagaimana hari Yoshiki-kun?’

Pria itu berguman sendirian menceritakan harinya kepada angin.

.

Hari terakhir di satu minggu janji seluruh agen untuk menemukan sang ratu. Mereka tidak ingin merasakan kengerian yang sama kembali mereka rasakan jika gagal menemukan sang ratu, atau mungkin hal yang lebih buruk akan terjadi?

Mereka tidak mau. Ditekan rasa takut mereka terus bergerak mengusahakan segala hal.

Mencari CCTV dari segala penjuru bandara adalah hal utama yang mereka lakukan.

“Cek Beijing Capital International Airport pukul 9 pagi. Gate 3.”

“Cocokkan dengan seluruh data yang ada pada CCTV keberangkatan dari Paris.”

“Tolong konfirmasi subyek yang ditemukan di bandara Schiphol. Dia mengenakan topi putih dan tas yang sama.”

“Perempuan itu mempunyai garis muka yang berbeda dengan My Lady. Tidak mungkin. Identitasnya juga sudah dipastikan. Dia benar-benar mahasiswa yang tinggal di Paris dan berlibur di Belanda.”

“Bagaimana dengan laki-laki berambut ikal yang keluar dari bandara Kairo? Proporsinya sesuai dengan tubuh My Lady. Bisa saja dia hanya menggunakan lensa kontak berwarna coklat.”

“Cari passportnya, cocokkan, klarifikasi.”

Pusat pencarian benar-benar hectic kala itu. 7 jam lagi sampai deadline penghakiman mereka jika gagal.


.


Yoshiki meneguk kopi kaleng yang sudah hampir habis menemaninya menanti pesawat jet pribadinya siap diberangkatkan. Pria itu bersandar pada teralis dengan pandangannya terarah pada landasan terbang bandara Narita.

Read More ->>

Senin, 07 Desember 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 55]

 CHAPTER 55: WIND RUNAWAY

“Cincinnya—” Hana sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi. Benda plastik itu sudah remuk tak berbentuk di lantai.

“Hn, kau sedih karena benda cincin murahan itu kuhancurkan? Ayolah My Lady, aku bisa membelikanmu berapa banyak yang kau mau. Lagipula, bukankah cincin ini lebih mahal?” Yoshiki kembali mendekati Hana untuk meraih tangan wanita itu, berniat memasangkan kembali cincin pernikahannya, “sebaiknya kau mengenakannya My Lady, aku sungguh tidak nyaman saat melihat kau melepaskannya.”

Namun Hana segera menepis tangannya.

“Hn…. Lihat siapa yang mulai membangkang sekarang?” Bagai sudah kehilangan akal, Yoshiki menahan kedua tangan Hana pada sofa dan menghimpi wanita itu.

“Kau kesal?”

Hana hanya memalingkan wajahnya.

“Kalau begitu bagaimana denganku My Lady?” Nada dingin terdengar dari mulut pria itu. “aku membawamu sejauh ini ke Eropa, berusaha membuatmu melupakan segala hal di Tokyo termasuk si sialan itu, namun siapa yang akan menyangkan jika kau akan diam-diam bertemu si sialan itu di tengah bulan madu kita?”

“Yoshiki-kun sendiri yang memaksakan bulan madu ini!”

“Hn…. Sekarang kau bermaksud mengatakan jika bulan madu ini sama sekali tidak sesuai keinginanmu?”

“Bagaimana ini bisa sesuai keinginanku jika dari awal Yoshiki-kun yang sudah memaksa!?”

Yoshiki terdiam.

Wajah bahagia Hana yang mengangguk ragu dan berujar jika ia senang melihat Menara eifel, wajah lucu Hana saat begitu menikmati berbagai sajian makanan, wajah terpukau Hana kala berada di kastil Versailles, semuanya terlintas di benak Yoshiki.

“Begitu…?” Nada yang digunakan pria itu terasa sangat berat.

Hana hanya mampu melirik wajah pria itu. Rasa bersalah seperti menguasai wajah kaku pria itu.

“Haha…” pria itu terkekeh.

Seketika kengerian menjalar di seluruh tubuh Hana. Yoshiki sudah kehilangan kewarasannya.

“Baiklah baiklah, kita akhiri saja bulan madu konyol ini. Kita pulang,” sembari tertawa lepas, pria itu melepaskan rengkuhannya, “bersiaplah, kita akan segera kembali ke Tokyo.”


.


Sekarang di sinilah Hana berada. Ruang tunggu bandara. Duduk degan segala kekacauan dalam pikirannya.

“Benar. Malam ini aku akan tiba di Tokyo. Hanya sebuah kekacauan kecil. Tentu. Aku ingin melihat kualitas turbinnya sendiri—” sementara itu Yoshiki yang berdiri tidak jauh darinya masih sibuk dengan urusannya. Bagaimana mungkin dia menyebut kekacauan besar ini sebagai kekacauan kecil? Hana tidak habis pikir.

“Aku mau ke toilet,” pamit Hana begitu berdiri.

Yoshiki terkekeh kecil, “Hn, apa ini? Strategi kabur dariku? Kau berpura-pura ke toilet padahal sebenarnya si sialan itu sudah menunggumu entah dimana untuk membawamu pergi dariku?”

Hana menatap jengah, “aku bahkan tidak menghubungi Keigo-kun sama sekali!”

“Keigo-kun…” Yoshiki mengulang bagaimana Hana menyebut sang sahabat dengan nada megejek.

“Terserah,” kesal. Tanpa peduli lagi Hana meninggalkan Yoshiki.


.


Helaan nafas keluar dari mulut Helaan itu begitu berat seolah bisa mengalahkan bunyi pancaran air dari kran yang ia gunakan untuk membasuh kedua telapak tangannya.

Dipercikkannya sedikit air pada wajahnya. Pantulan wajahnya pada cermin benar-benar parah. Wajahnya benar-benar kusut.

“Hana!”

Perempuan itu terkejut. Namanya dipanggil tiba-tiba dari belakang oleh seorang pria.

“Keigo-kun!?”

“Ssst! Jangan keras-keras. Ayo ikut!”

“Tunggu! Kenapa Keigo-kun tau aku di sini?”

“Aku bersama teman exorcist yang membantuku berusaha mencarimu karena kemarin malam kamu tidak datang. Nah, ayo! Kita tidak punya banyak waktu! Iblis itu akan menyadari banyak hal jika kita membuang-buang waktu!”

Hana terdiam. Kedua matanya tidak berkedip sama sekali.

Hana tidak hanya merasakan firasat buruk. Tapi semua hal yang pernah terjadi selama ini membuatnya enggan menyetujui rencana Keigo. Bayangan bagaimana Kuroto Yoshiki akan menggila dan menghancurkan setiap makhluk hidup yang meghalanginya bisa ia bayangkan dengan sempurna. 

Sudah berapa kali ia berusaha kabur dari Yoshiki? Dan sudah berapa nyawa ia korbankan karena keegoisannya?

‘Kau berpura-pura ke toilet padahal sebenarnya si sialan itu sudah menunggumu entah dimana untuk membawamu pergi dariku?’ Ucapan penuh sindiran dari Yoshiki kembali terngiang pada indra pendengarannya.

Hana menggeleng lemah, penuh ketakutan, “tidak, Keigo-kun.”

“Kamu kenapa Hana? Waktu kita sempit!”

“Dia akan mencelakaimu! Aku tidak ingin ada siapapun yang menderita lagi!”

“Tidak aka nada yang celaka Hana! Ayo!” Keigo sudah kehilangan kesabaran, pria itu meraih tangan Hana, berusaha menariknya, “semakin kita membuang-buang waktu di sini justru membuat kita semakin celaka!”

Hana kembali menggeleng, “tidak Keigo-kun! Tidak, Dia sudah membuat Keigo-kun operasi sekian banyak kali! Berikutnya bisa lebih parah lagi!”

GREB

Pria itu merengkuh Hana dalam pelukannya.

“Percayalah, aku sudah merencanakan semuanya dengan baik.”

Kalimat itu seolah menjadi penghibur tersendiri bagi Hana.

“Nah, ayo. Kita berpacu dengan waktu. Kesuksesan rencana ini juga bergantung dengan timing yang kita ambil. Kau mau kan, Hana?” Pria itu menatap lekat-lekan kedua sapphire Hana.

Hingga akhirnya sebuah anggukan diberikan.

“Bagus, ayo.” Tanpa mengambil waktu lebih banyak lagi, Keigo memberikan tasnya, “ganti pakaianmu, di dalam juga ada wig dan topi, kenakan semuanya. Kita sudah menghabiskan cukup waktu tadi. Kuharap kamu bisa berganti pakaian lebih cepat.”

Hana melakukan semua perintah Keigo. Dilucutinya semua pakaiannya dan berganti dengan set pakaian baru. Sebuah keuntungan dari rambut pendeknya, ia bisa mengenakan wig dengan lebih mudah.

“Kau terlihat manis dengan rambut panjang, haha,” Keigo setengah terkekeh melihat Hana yang baru saja keluar dari bilik toilet dengan penampilan barunya.

“Berisik ah!” respon Hana kesal, “lihat dirimu yang pria tapi malah masuk toilet perempuan tanpa malu! Memangnya tidak takut kalau ada yang masuk?”

“Aku sudah pasang tanda toilet sedang dibersihkan di luar. Juga ada temanku yang berjaga. Ah, pakaian lamamu bisa ditinggal saja. Aku tidak ingin mengkhawatirkan jika ada penyadap di dalam sana.”

Setelah meletakkan pakaian lamanya Hana mengikuti Keigo meninggalkan toilet. Dan benar saja, begitu ia keluar dari toilet, sosok exorcist yang ia temui beberapa hari lalu telah bersiaga.

“Segera masuk ke gerbang keberangkatan. Kalian sudah menghabiskan terlalu banyak waktu. Iblis itu sudah was-was,” ucap sang exorcist.

“Terima kasih banyak Nikole! Aku pasti akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti!” 

“Ya itu suatu hari nanti saja, sekarang cepat pergi sebelum iblis itu curiga! Ini sudah hampir 20 menit!”

Keigo mengangguk mantap.

“Ayo Hana,” ditariknya tangan sang perempuan untuk berlari ke gerbang keberangkatan.

“2 gerbang keberangkatan bandara ini hari ini sedang masa renovasi, maka beberapa penerbangan gerbangnya akan dijadikan satu. Nikole membantuku membuat passport palsu. Setiap gate keeper yang akan kita lewati adalah bagian dari exorcist network. Jadi kamu tidak perlu khawatir rencana ini gagal. Aku sudah memikirkan berbagai rencana cadangan. Karena bagaimanapun lawan kita adalah iblis mahakuasa, si Lucifer itu sendiri,” Keigo menejlaskan sembari terus menarik Hana menuju penjagaan.

“Saya Keigo Yasumoto dari exorcist, saya membawa Rayumi Hana,” ujar Keigo tanpa menunjukkan passport dan visanya.

“Oh Yasumoto-san, baiklah silahkan. Semoga selamat sampai tujuan,” ucap sang penjaga.

Tanpa banyak kata lagi, Keigo segera menarik Hana menuju landasan pacu. Menaikki sebuah pesawat dengan kelas bisnis. Hana bahkan tidak tau kemana tujuan penerbangan pesawat ini. Yang ia tau hanya begitu keduanya masuk, pintu pesawat segera ditutup, seolah mereka adalah penumpang terakhir.

“Kita akan kemana Keigo-kun?” Akhirnya Hana memberanikan diri untuk bertanya begitu pesawat benar-benar lepas landas. Tak bisa ia pungkiri selama pelariannya jantungnya terus berdetak kencang tanpa henti. Ketakutannya terhadap Yoshiki benar-benar nyata. Namun akhirnya ia bisa menghela nafas panjang setelah pesawat berhasil lepas landas tanpa ketahuan oleh Yoshiki.

Keigo mengeluarkan beberapa lembar tiket pesawat dari sakunya, seolah sengaja memperlihatkan itu pada Hana.

Melihat itu tentu saja Hana terkejut, “astaga banyak sekali. Ini penergbangan ke berbagai negara… Brazil…. Israel…. Findlandia….Korea Selatan…. Australia… dan lagi namanya beda-beda semua, dan bukan nama kita berdua.”

“Itulah rencananya. Aku membeli banyak penerbangan untuk kita berdua dengan nama berbeda-beda untuk mengecoh penelurusan iblis itu nanti.”

“Tapi bagaimana bisa? Nama di passport bagaimana?”

“Exorcist membantu kita berdua. Tapi hanya sampai pada taraf ini karena mereka juga sebenarnya sedang kesusahan.”

“Tapi Keigo-kun membeli semua tiket ini sendiri?”

“Ya,” Keigo mengangguk singkat.

Hana terdiam beberapa saat, ia yakin semua tiket penerbangan untuk pengecoh ini semuanya berharga 73000 Yen (10 Juta IDR) ke atas.

Merasakan keraguan Hana, Keigo menimpali, “tidak apa, itu harga yang pantas untuk mengecoh Lucifer. Jangan dipikirkan ok? Aku masih memiliki sisa tabungan untuk hidup kita berdua nanti.”

Keigo tersenyum lembut melihat wajah Hana yang masih terdiam menyedihkan, “hei bukankah sudah kubilang untuk tidak dipikirkan? Tenang saja, setelah sampai Australia, exorcist sudah menyiapkan sebuah apartemen sederhana. Namun kita tidak bisa terlalu berharap karena seperti kataku sebelumnya, mereka juga sedang kesusahan.”

Sebuah air mata yang sedari tadi mengumpul pada pelupuk matanya akhirnya terjatuh pada tiket-tiket yang hampir lusut pada genggaman emosionallnya.  Diiringi suara isakan kecil yang tertahan, tubuh itu gemetar nampak begitu rapuh.

Kedua iris Keigo melebar mengetahui hal itu, tubuh pria itu pun kehilangan kendali, tanpa sadar ia merengkuh tubuh gemetar di sampingnya, seolah ingin merasakan penderitaan yang dirasakan tubuh kecil itu.

Hana sendiri tidak tau. Ia merasakan kebahagiaan dari suatu kebebasan akan kebohongan yang selama ini menyelimutinya oleh Yoshiki. Namun di suatu sisi ada bagian dari dirinya yang menyesali keadaannya saat ini dan mempertanyakan, apakah dengan begini ia benar-benar akan berpisah dari Yoshiki?

Ia hanya bisa terisak di balik rengkuhan Keigo. Hingga kedua kelopak matanya terkatup lelah. Ia tertidur.

.

“Hahaha…” Yoshiki tertawa dalam nada beratnya. Telapak tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Pria itu terus tertawa seolah menertawakan dirinya sendiri.

Sudah hampir setengah jam sejak Hana terakhir izin untuk menggunakan toilet. Sampai detik ini ia sama sekali tidak melihat batang hidung perempuan itu.

Padahal ia sudah mencoba untuk mempercayai ucapan Hana. Membiarkan perempuan itu pergi tanpa ada pengawasan apapun. Mencoba memberikan perempuan itu kebebasan setelah ia sadar apa yang ia lakukan kemarin berlebihan.

“My Lord, kami menemukan mantel dan pakaian My Lady dibuang di toilet,” seorang pelayan datang membawa tumpukan pakaian Hana.

Yoshiki hanya memberikan tatapan datar, “si sialan itu cerdik juga.”

Tangannya membongkar isi saku pada mantel Hana dan menarik sebuah pemancar sinyal. Pemancar yang sudah ia siapak dengan harga fantastis yang tetap bisa memancarkan sinyal berfrekuensi rendah walau pada jarak sejauh diameter bumi ini menjadi sia-sia.

“Cari tau kemana penerbangan mereka.”

“Kami melakukan yang terbaik My Lord,” ucap sang pelayan agak ragu.

“Apa maksudnya?”

“Kami sudah melakukan pencarian sesegera mungkin setelah menemukan pakaian My Lady. Namun sepertinya My Lady pergi dengan menggunakan nama palsu.”

“Apa?” Kedua alis Yoshiki mengernyit, “si sialan itu! Periksa CCTV!”

“Sudah kami lakukan juga My Lord. Hanya saja kita mengalami kesulitan karena bandara ini sedang renovasi menyebabkan beberapa penerbangan hanya melewati satu gerbang saja. Ditambah My Lady menggunakan penyamaran yang tidak bisa kami perkirakan.”

“My Lord, jet pribadi sudah siap,” pelayan yang lain muncul dengan sebuah informasi.

Yoshiki terdiam sejenak setelah berdecak kesal, “lanjutkan pencarian. Jika sampai malam ini kalian masih tidak tau ke mana penerbangan My Lady, leher kalian yang akan jadi taruhannya.”

Semua pelayan yang mendengar hal itu tidak bisa menahan bulu kuduk mereka untuk berdiri. Ancaman tuan mereka tidak pernah main-main.

“Kita kembali ke Jepang. Aku memiliki janji.”

“Yes, My Lord.”


.


Setelah satu hari penuh penerbangan yang melelahkan Hana dan Keigo jalanin, pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mendarat di bandara Sydney Kingsford Smith.

“Anda Keigo Yasumoto dan Hana Rayumi?” Seorang pria dengan setelan jas rapih beserta berbandana lengan bertuliskan F-772 seketika menyambut keduanya begitu turun dari pesawat.

“Benar, saya Keigo Yasumoto dan ini Hana Rayumi,” Keigo memperkenalkan dirinya dan Hana.

“Salam kenal, saya F-772, exorcist yang bertugas mengantar kalian dan mungkin membantu kalian selama di Australia ini,” sosok dengan rambut pirang tebal itu balik memperkenalkan diri.

“Terima kasih, mohon bantuannya,” Keigo berojigi.

“Silahkan kemari,” F-772 mengarahkan keduanya pada gerbang pemeriksaan.

Sebuah negosiasi ringan dilakukan antara sang exorcist dan sang penjaga gerbang sebelum akhirnya ketiganya berhasil keluar bandara tanpa ada masalah.

“Apartemennya berjarak 20 menit dengan mobil, mungkin kalian bisa beristirahat sejenak setelah penerbangan kalian yang panjang,” ucap F-772 begitu ketiganya telah memasuki mobil. F-772 duduk di samping kursi kemudi sementara Keigo dan Hana duduk di belakang.

“Ah terima kasih,” ucap Keigo ramah.

“Maaf hanya saya yang berperingkat 772 yang menjadi pembantu kalian selama di sini, padahal di sini ada nona Rayumi Hana si pemegang segel. Australia sendiri sebenarnya punya peringkat 9. Tapi sepertinya beliau sedang bertugas di pusat setelah kekalahan exorcist kemarin.”

“Ah tidak apa-apa. Kami mengerti. Dibantu dalam pelarian ini saja kami sudah sangat berterima kasih.”

“Pasti susah ya?” Sang exorcist tiba-tiba membawa topik yang memberatkan udara.

Hana yang sedari tadi memutuskan untuk membisu sebagai bentuk penghakimannya sendiri, sekarang semakin menudukkan kepalanya.

“Mau bagaimana lagi, lawan kita Lucifer.”

“Hmmm… maksudku pasti susah ya menghadapi petinggi?”

“Ah itu, saya sebenarnya hanya exorcist non peringkat. Saya dibantu oleh teman dari Paris. Dia yang menyediakan jalur melarikan diri. Semuanya diarahkan oleh dia.”

Untuk beberapa saat F-772 hanya diam, namun ia kembali berbicara, “syukurlah…”

Entah karena lelah karena penerbangan atau karena memikirkan bebannya, kepala Hana sudah tersandar pada bahu Keigo dengan kedua matanya terpejam. Hana tertidur.

“Benar…. Syukurlah,” Keigo mengangguk lega.

“Karena sejujurnya seluruh peringkat atas di negara ini sudah tidak mampu mengurusi hal ini. Entah mereka fokus pada pemulihan diri, atau mereka sudah enggan berurusan dengan Lucifer. Pengecut. Padahal kita tidak boleh semudah itu menyerah pada iblis. Prinsipku, bila ada suatu kesempatan untuk menghancurkan iblis, bahkan sekecil apapun itu, aku pasti akan melakukannya.”

“F-772 anda sangat bersemangat ya…”

“Andai peringkatku bisa lebih tinggi lagi. Andai Abschleppen Geist ku bukan sebuah jarum.”

Read More ->>

Senin, 16 November 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 54]

 CHAPTER 54: Play Behind Me


“Aku masih tidak menyangka kamu benar-benar dekat dengan perempuan ini,” Nikole menerima ayam mentega pesanannya, walau begitu masih terdengar nada sindiran pada kalimatnya.

“Sebenarnya ada apa denganmu Nikole?” Keigo tidak bisa menahan kekesalan dirinya.

“Yah…” Nikole hanya menaikkan bahunya sekilas, “aku masih tidak bisa menangka saja.”

“Apa…?”

“Hanya karena perempuan ini memiliki takdir sebagai pemegang segel Lucifer, sudah berapa nyawa exorcist melayang? Apalagi perang besar kemarin.”

Hana terenyuh. Ia yang sedari tadi hanya menatap tidak mengerti kini hanya bisa menundukkan kepalanya penuh pengutukkan pada dirinya sendiri.

“Tunggu tunggu. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Exorcist pusat juga tidak bisa berbuat apa-apa, padahal kita harus segera menjauhkan Hana dari Lucifer.”

“Tentu saja. Lucifer itu sudah menghancurkan markas pusat sampai luluh lantak. Kita hanya bisa fokus untuk rebuild saat ini.”

“Eh?” Keigo hanya bisa melongo.

Sementara Hana hanya semakin menundukkan kepalanya.

“Perang terakhir kita dengan massa terbanyak terjadi karena kita mati-matian menahan Lucifer yang ternyata Tomuro Arashi yang menyamar.”

“Eh? Itu kapan?”

“Beberapa bulan yang lalu. Bukan hal yang aneh jika kau tidak tau Keigo. Peringkat pertama yang memberikan dekrit agar tidak mengerahkan exorcist tak berperingkat.”

Tubuh Keigo menegang, “pantas saja…”

Nikole hanya bisa mengangguk kaku, “kita terpuruk.”

Seketika pandangan Keigo tertuju pada Hana, “lalu bagaimana kita melindungi dia?”

“Kamu suka perempuan ini ya Keigo?”

Blush. Wajah pria berusia 25 tahun itu memerah bagai kepiting rebus.

“Astaga. Kamu ini anak SMA? Wajahmu merah sekali loh,” Nikole menghelakan nafasnya.

Dengan kesal, ditutupinya wajahnya dengan telapak tangannya, “pokoknya kita harus menjauhkan Hana dari iblis itu!”

“Ya iya. Kita jauhkan dari Lucifer.”

“Eh? Nikole mau membantuku?”

“Tentu. Akan kubantu sebisaku. Demi pemuda yang baru puber dan baru jatuh cinta.”

“Sialan kamu Nikole.”

“Kalau begitu aku akan mencoba menghubungi beberapa exorcist untuk membantu. Kamu buatlah rencana yang matang, awas kalau kamu gegabah, kamu sudah tau kan kondisi exorcist bagaimana?”

Keigo mengangguk mantap, “terima kasih Nikole!”

Pria itu hanya melambai ringan sebelum akhirnya meninggalkan area restoran.

 “Bagaimana caramu bisa kemari? Si Iblis itu benar-benar pergi?” Kali ini giliran Keigo bertanya dengan intens.

Hana mengangguk menjawab, “walaupun aku tadi aku benar-benar cemas jika dia tidak jadi pergi, dan entah mengapa dalam perjalanan aku merasa seperti sedang diikuti.”

TAP.

“Eh?”

Tau-tau kepala Hana sudah mendapat tepukan dan usapan lembut dari tangan kekar Keigo. Dosen muda itu hanya bisa memberikan tatapan murung.

“Maaf sudah membuatmu cemas dan merasakan hal seperti ini, semoga semua ini segera berakhir dan kamu bisa kembali ke kehidupan normalmu.”

Namun Hana hanya bertanya-tanya. Kehidupan normal seperti apa yang dimaksud oleh Keigo? Keadaan seperti sebelum ia bertemu Yoshiki? Di mana ia selalu kesulitan sendirian? Di mana ia harus sekolah sambil bekerja demi menyambung hidup? Di mana ia selalu dibully dan dibenci oleh seluruh dunia?

Hana tidak tau.


.


“My Lord, mohon maaf.”

“Hn, ada apa?” Yoshiki menolehkan kepalanya kesal.

Mamon yang ada di hadapannya juga ikut menolehkan kepalanya, ingin tau.

“Sebelumnya mohon maaf mengganggu waktu—”

“Ya, kamu sangat mengganggu. Jadi bisa cepat katakan apa maumu? Kita punya banyak hal untuk didiskusikan,” potong Mamon kesal.

“B-baik,” perempuan yang mendatangi Yoshiki itu menyerahkan beberapa lembar foto dengan gugup, “berikut laporan dari pengawal My Lady.”

DEG

Kedua bola mata Yoshiki melebar begitu melihat foto-foto yang diberikan.

Foto itu menunjukkan jika istrinya tengah seperti berada di sebuah restoran. Dengan Keigo Yasumoto. Keigo Yasumoto yang menepuk kepala istrinya.

Dilemparkannya foto-foto itu hingga berhamburan di udara sebelum akhirnya menyentuh kelembutan dari karpet mahal milik Mamon.

“Ho ho…” berkebalikan dengan Yoshiki yang depresi, Mamon yang melihat itu hanya menyeringai menahan tawa.

“Kau dikhianati, eh Lucifer? Oleh perempuan kebanggaanmu itu?”

“Laki-laki itu cinta pertamanya,” Yoshiki menyandarkan tubuhnya dengan serampangan pada punggung kursi.

“Kapan foto ini diambil?” Yoshiki menolehkan kepalanya pada pelayan yang memberikannya deretan foto yang membuat kepalanya berputar pening.

“Dua puluh menit yang lalu My Lord. Sekarang My Lady sudah dalam perjalanan pulang.”

“Hn….” Yoshiki terdiam beberapa saat.

“Enyahlah. Tetap pantau dia.”

“Yes, My Lord,” sang pelayan pergi meninggalkan Yoshiki yang frustasi hingga melonggarkan dasinya dengan kasar.

Meneguk wine dalam gelasnya, Mammon berujar, “kau boleh pulang daripada kau memberikan energi ingin membunuh itu kepadaku.”

Tanpa berpikir dua kali, Yoshiki menyambar mantelnya dan meninggalkan Mammon, “kita lanjutkan lagi lain waktu Mammon.”

Mamon hanya menaikkan kedua alisnya sementara mulutnya tak bisa berhenti tersenyum.


.


Yoshiki membawa keluar mobil yang ia kendarai dengan tenang. Oh dia hanya berusaha tenang. Kakinya berusaha mati-matian agar tidak menekan pedal gas sembarangan dan menabrak semua kendaraan yang ada di depannya. Genggamannya pada kemudi tidak main-main. 

“Kenapa si sialan itu bisa tau My Lady ada di sini…” Gumannya pada udara dingin yang sedari tadi mengalir di dalam mobil.

Semakin ia berpikir semakin ia menemukan sebuah jawaban absolut yang sudah ia tidak bisa tolak lagi seberapa ingin ia menolaknya, “My Lady…. Dia yang memberi tau si sialan itu.”

Decakan dan gertakan tidak bisa berhenti keluar dari mulutnya untuk beberapa saat.

.

CKLEK

Begitu membuka pintu yang Yoshiki dapati adalah kegelapan, dan tubuh tidur Hana yang sudah tertutupi selimut hingga lehernya.

Yoshiki hanya bisa meletakkan mantelnya pada rak mantel dengan perlahan. Sementara pandangannya tak bisa lepas dari sosok yang hampir sepenuhnya tertutupi oleh selimut.

Ia cukup yakin Hana hanya berpura-pura tidur di sana. Berdasarkan perhitungan waktu perjalanan, seharusnya ia tak memiliki selisih waktu yang panjang dengan waktu tibanya Hana di sini.

Ia tidak bisa berbuat apapun.

Segala gejolak ada di dalam dirinya. Bagaimana mungkin Hana bisa setega itu kembali mengkhianati dirinya bahkan di tengah bulan madu mereka? Bagaimana bisa ia mendapat jalan untuk bertemu si sialan itu? Bagaimana mereka bisa berhubu—pertanyaannya terhenti—Ia sudah tau jawabannya. Saat itu, saat ia memberi kesempatan Hana untuk membalas pesannya. Benar. Saat dimana ia menanti jawaban dari Hana atas pesannya, wanitanya itu justru berhubungan dengan pria lain.

Namun sekali lagi, sayangnya ia tak bisa berbuat apapun.


.


Sarapan di hari esok terasa bergitu mencekam bagi Hana. Memang dirinya yang memutuskan untuk tidak berbicara pada Yoshiki kecuali untuk hal-hal penting. Namun biasanya pria itu selalu membuka pembicaraan walaupun singkat. Tidak seperti saat ini. Pria itu makan dalam diam. Seolah pria itu sedang mengabaikannya.

Bahkan setelah sarapan selesai pria itu pergi begitu saja. Tidak mengatakan sepatah katapun.

Ada apa ini?


.


Bahkan ketika sudah mencapai setengah hari pria itu hanya duduk di mejanya dan sibuk dengan pekerjaannya. Mengabaikan seluruh ucapannya kemarin jika mereka seharusnya pergi ke tempat yang cukup jauh dari Prancis. Di sisi lain Hana bisa bersyukur jika Yoshiki benar-benar melupakan ajakannya untuk meninggalkan Prancis. Ia masih bisa bertemu dengan Keigo nanti malam.

Keigo Yasumoto, pria itu berjanji padanya akan berada di tempat yang sama nanti malam, menunggunya. Keputusan itu diambil akibat media penghubung keduanya yang terbatas. Hanya sebuah perjanjian yang bisa diandalkan. Jika malam nanti Hana tidak datang, maka diartikan Hana telah meninggalkan prancis. Dan Hana harus berusaha menghubungi Keigo selanjutnya.

Berada di satu ruangan tertutup bersama dengan Yoshiki yang seolah memberikan aura mencekik membuatnya merasa pening. Benar juga jika ada sebuah kalimat berbunyi, jarum jam akan bergerak lambat jika kamu menantikannya.

Sebaiknya ia memberi Yoshiki ruang untuknya sendiri, dengan begitu Hana memutuskan untuk meninggalkan kamar.

“Kemana?”

Kalimat itu lantas menghentikan Hana, sekaligus mengagetkan perempuan itu. Bukankah Yoshiki sedang tidak ingin berbicara dengannya?

“Mencari angin sebentar,” jawab Hana ragu.

Yoshiki tidak bisa menahan senyum mengejeknya untuk tidak terlihat jelas. Kemarin Hana juga beralsan begini untuk keluar bertemu dengan si sialan itu kan?

Tentu saja Hana menyadari perubahan wajah Yoshiki, “kenapa?”

“Hn. Tidak.”

Apa? Yoshiki memang selalu tidak bisa dipahami. Tapi kali ini sikap pria ini benar-benar diluar nalar Hana.


.


“Huh! Memangnya dia perempuan? Ngambek segala!” Hana menendang kaleng secara sembarangan dengan kesal. Dijatuhkan pantatnya pada sebuah tepian air mancur di sebuah taman.

Dikeluarkannya sebuah corn dog dari pembungkusnya, asap tebal seketika menyelimuti pandanganan Hana. 

“Asik… masih hangat…. Haup…. Amastaga emnak skali…”

Setengah hari itu, Hana menghabiskan beberapa lembar dollar hanya untuk corn dog saja.


.


Setelah puas bermain-main dengan burung dara dan mengisi perutnya hingga penuh dengan corn dog, Hana baru memutuskan untuk kembali menjelang malam tiba.

“Astaga aku ingin berendam dengan air hangat—”

Yoshiki tidak ada. Begitu ia membuka pintu kamarnya, sosok pria yang sedari tadi sibuk di mejanya itu telah menghilang. 

‘Dia pergi…’

Tunggu dulu. Kenapa dia harus bersedih karena pria itu pergi tiba-tiba? Bukankah ini hal yang bagus? Saatnya bersiap-siap untuk menemui Keigo.


.


“Masih pukul enam…” Guman Hana menatap jam dinding yang terasa berdetik begitu lambat, “jika aku berangkat sekarang apa Keigo-kun sudah di tempat?”

“Oh!” Mengingat sesuatu Hana segera merogoh saku pada mantelnya.

Didapatinya sebuah cincin plastic berwarna hitam dengan ukiran berbentuk tangkai daun.

Kemarin sebelum ia pulang, Keigo memberikannya cincin tersebut. Cincin yang seharusnya keigo berikan sebagai hadiah ulang tahunnya berbelas tahun lalu. Namun sayangnya, sebelum Keigo berhasil memberikan kado tersebut, sang keluarga sudah beranjak meninggalkan Jepang.

“Aku selalu menyimpannya, sehingga suatu saat nanti bisa kuberikan kepadamu, karena aku tahu, kita pasti akan bertemu lagi,” ucap pria itu dengan senyumnya yang tulus.

Hana menggenggam cincin tersebut dengan erat dengan kedua matanya terpejam, seolah-olah pria itu masih dihadapannya memberikan ketenangan dibalik semua kekacauan.

Tanpa pikir panjang segera dikenakannya cincin itu pada jari kelingkingnya—mau bagaimanapun cincin itu seharusnya dikenakan oleh bocah berusia 8 tahun.

Ia ingin menemui pria itu. Ia ingin melupakan segala kekacauan yang ditimbulkan oleh Yoshiki.

Hana sudah tidak memikirkan kembali apakah Keigo sudah ada di tempat pertemuan atau tidak. Kakinya melangkah memasuki lift hotel dan melangkah keluar dengan langkah lebar.

“Mau kemana?”

Langkahnya terhenti, Kuroto Yoshiki, pria itu sudah berdiri di depan lift dengan kedua tangannya terlipat di depan dada.

“E-eh? Y-Yoshiki-kun…. Bukankah kamu pergi?”

“Hn, dan aku kembali sekarang.”

“Eh? Ini kan masih pukul—”

Kalimat Hana terpotong begitu sang pria mendorongnya kembali masuk ke dalam lift.

“Memangnya kenapa? Kau belum menjawab pertanyaanku My Lady, akan pergi kemana kau?”

Hanya ada Hana dan Yoshiki di dalam lift yang mulai bergerak. Hanya ada dirinya dan Yoshiki yang menghimpitnya.

Skak mat. Hana sudah tidak tau harus menjawab apa. Pria itu benar-benar intens menatapnya dengan tatapan dinginnya.

Namun detik berikutnya pria itu seolah memberikan sebuah senyum, senyum yang mampu membawanya terjun ke neraka terdalam sekalipun, “kau manis sekali dengan pakaian itu My Lady, berencana kemana kau dengan penampilan manis seperti itu?”

Hana mengalihkan pandangannya, “ah t-tidak..”

“Hn, tidak? Jadi kau tidak berencana kemanapun? Kau menyambutku?”

Pria itu terus menekan Hana secara seduktif. Bahkan wajah pria it uterus mengejar wajah Hana. Berusaha selalu mengurangi jarak diantara mereka.

Denting lift menginterupsi, setelah berdecak kesal, Yoshiki meraih tangan Hana untuk menyeret perempuan itu memasuki suit mereka.

Didudukkannya perempuan berambut kelam itu pada sofa. Dan dituangkannya segelas wine untuk Hana, “minumlah.”

“A-Ah… a-aku…” Hana tidak tau harus menjawab apa.

“Kenapa? Kau sedang ditunggu seseorang?”

DEG

Kali ini Yoshiki benar-benar berbeda. Pria itu benar-benar mengeluarkan aura mengintimidasinya walaupun nada yang digunakan pria itu hanyalah nada mengejek.

Saat ini yang ada di kepala Hana hanya ada satu kesimpulan. Yoshiki mengetahui semuanya. Yoshiki tau jika ia diam-diam menemui Keigo. Dan fakta itu seperti membuat seluruh tubuhnya bergidik ngeri.

“T-Tidak…” lagi. Hana hanya bisa berguman tidak jelas.

Sebuah tawa rendah nan mengejek terdengar dari mulut Yoshiki yang hanya terbuka sedikit. Pria itu sibuk menunduk dan menggoyang-goyang gelas winenya.

“Bagaimana bulan madu ini? Kau senang?”

“Ah… um… ya, terima kasih.”

Lagi, tawa itu terdengar. Kali ini cukup keras.

“Tentu saja kau senang,” sambil berucap begitu, Yoshiki memindah posisi duduknya untuk duduk di samping Hana, mendekatkan tubuhnya pada perempuan yang sudah sangat ketakutan itu, “setiap malam kau bertemu si sialan itu dibelakangku.”

‘Benar! Yoshiki-kun tau!’ teriak kepala Hana.

Yoshiki kembali tertawa. Pria itu seperti tidak waras sama sekali sekarang. Diraihnya tangan Hana tanpa persetujuan sang pemilik dan membawanya pada dadanya.

“My Lady…. Kau harus tau… di sini sangat sakit sekali setiap mengetahui kau bersama si sialan itu,” cengkramannya pada tangan Hana di dadanya menguat sementara ekspresi wajahnya terlihat begitu kacau.

Kedua bola mata Hana melebar. Ia ingin kembali menarik tangannya cepat-cepat namun tentu saja cengkraman Yoshiki jauh lebih kuat.

“Hn…. Apa ini?” Onyx pria itu tertuju pada sebuah cincin yang melilit jari kelingking Hana.

Dilepasnya cincin tersebut, mendapatkan protes dari Hana, “j-jangan Yoshiki-kun.”

“Mainan plastic apa ini My Lady?” Pandangan pria itu kosong, “kau lebih memilih mengenakan mainan ini daripada cincin pernikahan kita?”

Hana meneguk ludahnya, “kumohon kembalikan Yoshiki-kun.”

“Si sialan itu memberikanmu ini? Hn, aku ingat. Dia sangat ingin memberikan benda ini di hari ulang tahunmu….”

‘Yoshiki-kun tau!’ Kaget Hana.

“Baiklah,” pria itu tiba-tiba bangkit dari tempatnya, meraih sebuah vas yang berada di nakas. Kemudian menghantamkan vas kramik itu pada cincin yang sudah ia letakkan di lantai hingga menyebabkan kegaduhan bunyi pecahan barang.

Read More ->>

Selasa, 27 Oktober 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 53]

 CHAPTER 53: LUNCH BOX

“My Lord!?” Pria dengan setelan jas rapi dan berkacamata itu terkejut bukan main mendapati sosok presiden yang ia naungi sebagai wakil presiden muncul di hadapannya.

“John. Bagaimana perjanjian?” Yoshiki bertanya santai.

“Kami baru akan melakukannya My Lord. Tunggu, kenapa anda di sini? Bukankah anda sedang melakukan bulan madu!?” Pria itu membenarkan letak kacamatannya yang turun.

“Hn. Aku sedang berbulan madu,” Yoshiki menarik tangan kanannya, sehingga Hana yang sedari tadi bersembunyi di belakangnya unjuk diri.

“Istri anda?”

“Hn. Kenalkan, Kuroto Hana.”

“S-Salam kenal. Saya K-Kuroto Hana. Terima kasih telah membimbing Yoshiki-kun selama ini!” Hana dengan kaku menundukkan badannya.

“Ahh!! T-tidak My Lady! Saya yang selama ini dibimbing oleh My Lord! Saya John Gregory. Vice President.”

“Apa maksudmu membimbing?” Yoshiki menatap Hana berpura-pura kesal.

“A-ah.. hahaha,” Hana hanya tertawa garing. Bukan karena Hana salah berbicara. Lagipula itu cukup umum diucapkan kepada siapapun bukan? Yang Hana tertawakan adalah apa yang Yoshiki ucapkan barusan. Teryata pria itu bisa bersikap menggemaskan.

“Mr. Kuroto! Anda datang!” Kali ini kedatangan Yoshiki membuat respon sang direktur rumah sakit terkejut.

“Mr. Carter, maaf tidak memberitau sebelumnya. Kebetulan aku dan istriku lewat jadi kami berdua mampir,” ucap Yoshiki dengan bahasa prancisnya yang fasih.

“Senang bisa bertemu dengan anda Mr. Kuroto!”

Kedua pria itu bersalaman sebelum akhirnya sang dokter kembali berucap, “ah, istri anda?”

“Hn. Dia Kuroto Hana,” Yoshiki memperkenalkan Hana dengan bahasa prancis, dan memeprkenalkan sang dokter dengan bahasa jepang pada Hana, “dia Carter Cassel, direktur rumah sakit ini.”

“N-nice to meet you!” Dengan gagap Hana mendundukkan badannya.

“Ah, it’s a pleasure to meet you Mrs. Kuroto,” Carter pun menanggapi dengan kaku.

“Kedatanganku di sini tidak resmi, mungkin aku akan ikut dalam perjanjian nati,” Yoshiki kembali menyambung pembincaraannya dengan sang dokter.

“Tentu. Tapi apa yang anda lakukan sebelum itu?”

“Hn. Aku berniat mengajak istriku berkeliling melihat obat-obatan di sini karena dia sedang mengambil study Kimia. Boleh?”

“Oh tentu saja boleh! Sebentar akan saya carikan yang sedang bekerja shift hari ini. Ah itu dia, Diland!” Sang dokter melambai kepada sesosok pria yang masih mengenakan pakaian non formal.

“Ya Dr. Carter?” Pria dengan perawakan berada di umur akhir dua puluhnya itu mendekat.

“Aku memiliki tamu special hari ini. Bisa kau pandu Mr. dan Mrs. Kuroto ini dalam menjelaskan pekerjaanmu?”

“Tentu bisa dokter.”

“Very good. Mrs. Kuroto you can follow him, he is Diland from pharmaceutical.”

Kembali dengan canggung Hana merespon, “O-okay!”

“Please follow me Mrs. Kuroto. We will go to Pharmacy Installation. Please wait me, I need to change my chlotes into the formal one.”

“….” Yoshiki hanya menatap datar kepergian Hana dan pria asing itu.

“Kalau begitu silahkan ke arah sini Mr. Kuroto,”Carter dan John mulai beranjak pula.

“Silahkan kalian mulai perjanjiannya. Aku sepertinya perlu mendapingi istriku sebentar.”

“Baiklah kalau begitu My Lord,” John merespon hormat.


.


“Please sit down here Mrs. Kuroto.” Diland dengan sopan menarikkan sebuah kursi bagi Hana di sebuah ruang pertemuan.

“Y-Yes,” lagi, Hana menjawab kikuk.

Suara pintu ruang pertemuan yang berada di belakang Hana membuat Hana tanpa sadar mengedarkan pandangannya. Dan sialnya, ia mendapati Yoshiki ada di sana.

“Bukannya tadi ikut Dr. Carter?” Tanya Hana bingung pada pria yang sekarang sudah dengan santainya duduk di sampingnya.

“Kedatanganku di sini tidak resmi. Sudah ada Vice President yang sejak awal bertugas. Aku bisa datang pada perjanjian kapanpun aku mau. Lagipula aku tidak bisa membiarkanmu berdua saja dengan dokter ini.”

“Haaaaahhh? Kenapa?”

“Tenang saja. Aku akan pergi jika aku ingin,” Yoshiki menimpali santai.

“Sorry to make you wait, Mrs. Kuro—” Diland menghentikan kalimatnya begitu mendapati sosok Yoshiki yang ternyata juga bergabung di dalam ruangan.

“Go ahead. Don’t mind me.” Yoshiki berujar datar.

“Ah, um—alright,” Diland sedikit kaku, “should we move into our Pharmacy Installation?”

“S-sure,” Hana beranjak dari tempat duduknya hendak mengikuti sang petugas farmasi.

“Oh, ada apa?” Namun pergerakan semuanya terhenti begitu Diland bertemu dengan seorang perempuan yang seusia dengannya di depan pintu. Perempuan itu sangat cantik dengan rambut panjangnya yang diikat pada bahunya.

“Kamu melupakan bekal makan siangmu! Dasar ceroboh!” perempuan itu menyerahkan sebuah plastik pada Diland dengan kesal.

“Astaga! Terima kasih banyak! Ke sini naik apa?” Diland menepuk kepalanya sembari menerima bungkusan itu.

“Bis sih, tidak apa aku bisa pulang sendiri kok. Jangan tinggalkan lagi bekalmu atau aku akan marah!”

“Aduh, aku benar-benar minta maaf. Mau tunggu sebentar? Aku akan mengantarmu pulang setelah menemani tamuku, kebetulan shiftku sedikit santai hari ini—ah—sorry, she is my wife, seems like I forgot to take my lunch, so she bring them here,” Diland menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal menghadap Hana dan Yoshiki.

“Sorry to bother,” sang istri terpaksa meminta maaf canggung pada Hana dan Yoshiki.

“I-It’s okay,” Hana pun ikut canggung.

“….” Sementara pandangan Yoshiki hanya tertuju pada Hana dengan pandangan datarnya.

Setelah Diland mengamankan makan siangnya dan berhasil meyakinkan istrinya jika ia akan melakukan pekerjaannya tidak lama sehingga sang istri mau menunggu di ruang kerjanya, akhirnya pembelajaran khusus bagi Hana mengenai hal farmasi segera dimulai.

“She is always made you a lunch?” Tanya Yoshiki tiba-tiba ketika ketiganya telah mencapai instalasi farmasi yang nampak belum terlalu sibuk.

“My wife?”

“Hn.”

“Most often, I take more shift today so she prepared one for me. Why asking?”

“…. No, just asking,” Yoshiki menjawab pertanyaan Diland, namun pandangannya tertuju pada Hana yang Nampak asyik mengamati beebrapa obat dalam rak.

“She is also your wife right?”

“Hn…” Yoshiki hanya berguman, pandangannya masih tak teralihkan dari Hana.

Diland terkekeh sopan, “we are on the same boat then.”

Yoshiki merasa konyol di sini. Ia merasa iri dengan apa yang dilakukan manusia? Ia iri karena istri DIland memberikan sebuah makan siang sementara Hana bahkan cukup jarang memperhatikannya? Konyol. Ia bahkan tidak membutuhkan makan siang untuk menunjang hidup.

Tapi terkadang, cukup membahagiakan jika Hana mau memberikan sesuatu untuknya di tengah kesibukannya. Seperti saat itu, rasa lemon madu yang Hana bawakan untuknya saat latihan bersama Tomuro benar-benar membekas di dalam indra pengecapnya. 

“Excuse me, I need to go,” Yoshiki yang mungkin merasa kesal dengan pemikiran konyolnya meninggalkan ruangan tiba-tiba. Meninggalkan Hana yang menatap kepergiannya dengan penuh tanda tanya.

“Eh? Where did he go?” Tanya Hana begitu mendapati Yoshiki sudah tidak berada di tempatnya semula.

“Maybe he back to Dr. Carter’s. He go after asking about my wife and lunch,” jawab Diland.

“Oooh….”

“Alright. Let’s we started. What do you want to know Mrs. Kuroto?”

“Ah, okay. But we can go faster, since you have an appointment to take your wife home.”

“It’s okay Mrs. Kuroto, she can wait.”

“No. We can’t make her wait more longer. I’m just a chemical undergraduate program, just give me a simple explanation.”

“Well… if you say so…”

Diland memeberikan jawaban untuk setiap pertanyaan yang Hana ajukan dengan cepat. Namun sayangnya kepala Hana tidak bisa menyerap semuanya. Mau bagaimana lagi, pemikirannya terpecah pada tingkah Yoshiki yang tiba-tiba pergi setelah menanyakan makan siang dan istri Diland.


.


Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat sampai keduanya telah kembali di berkendara di dalam mobil untuk kembali ke hotel.

Sesekali Yoshiki melirik pada kertas-kertas yang sedari tadi dibolak-balik istrinya, “catatan dari instalasi farmasi?”

“Ah, iya. Aku mencatat banyak hal. Setelah Diland pergi pamit mengantarkan istrinya, aku bertemu banyak orang di instalasi farmasi yang mau membantuku menjelaskan banyak hal menggantikan Diland.”

“Hn… baguslah. My Lady…”

Merasa terpanggil, Hana mengalihkan pandangannya pada suaminya yang masih sibuk dengan kemudinya.

“Mungkin ini terdengar kekanakan. Dan mungkin aku mengatakan ini di saat yang tidak tepat—”

He? Apa yang ingin dikatakan Yoshiki?

“—Konyol bukan, aku sedikit iri pada Diland. Sampai meninggalkan kalian tiba-tiba. Benar-benar kekanakan.”

Tidak ada komentar apapun keluar dari bibir Hana. Hana hanya merasa tidak memiliki hak untuk bertanya. Walau tanpa bertanya pun sebenarnya sepertinya ia mampu menebak apa yang sebenenarnya membuat Yoshiki gusar.

Perjalanan itu berlanjut dengan hening. Tanpa ada satupun dari keduanya kembali membuka suara.


.


Hingga malam kembali melahap sang matahari.

Kegugupan melanda Hana seketika begitu jam dinding hampir menunjukkan pukul tujuh malam. Benar. Malam ini ia akan menjalankan ‘misi’nya. Misi untuk bertemu pria yang membuatnya jatuh hati pertama kali.

Alasan dari kegugupannya adalah, ia sangat ragu apakah Yoshiki akan pergi lagi atau tidak malam ini. Jika Yoshiki tidak pergi, ia harus kembali merencakan semuanya dari awal, membuat plan B. 

Untunglah, sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak kepadanya, Yoshiki muncul dengan setelan jasnya yang rapi, bahkan pria itu telah memakai mantel karena udara malam Prancis yang dingin, “istirahatlah, besok kita akan menempuh perjalanan cukup panjang,” ucap pria itu sembari meraih ponsel yang ia tinggalkan di dekat nakas.

“Uhm,” Hana hanya mengangguk.

“Aku pergi, My Lady,” setelah mengucapkan kalimat itu, langkah sang pria terhenti di ambang pintu.

Cukup lama pria itu berdiri di sana dengan pandangan yang Hana tak bisa mengerti. Dalam diri Hana sudah berharap-harap cemas, takut jika sang pria membatalkan kepergiannya.

“Ada apa..?”

“Hn, tidak. Sial, aku ingin mengecup keningmu.”

Hana tercengang. Yoshiki pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat itu.

Tidak. Bukan saatnya memikirkan Yoshiki. Ia harus segera bergerak. Waktunya tidak banyak. Ia harus berhasil menemukan alamat yang dimaksud Keigo.

Tanpa banyak berpikir lagi, Hana melompat dari ranjangnya dan segera meraih mantelnya. Tak lupa dirobeknya kertas novel berisi alamat tempat keduanya berjanji untuk bertemu. Dompet sudah ia persiapkan berisi beberapa lembar dollar secukupnya.

“My Lady, anda hendak kemana?” Belum ada beberapa detik Hana melangkah keluar dari kamarnya, padahal ia sudah yakin sudah memastikan tidak ada maid sama sekali.

“Ah—mencari udara sebentar?”

Sang maid tidak segera setuju, pandangan dan ketegasannya seolah tidak mengenal ampun menatap Hana, “udara sedang sangat dingin di luar My lady, apalagi sudah cukup malam, berbahaya bagi anda berada di luar.”

“Aku tadi sudah izin Yoshiki-kun kok sebelum pergi. Dan dia mengizinkan,” kali ini Hana memberikan senyum meyakinkan.

Sejenak sang maid memandangi gelagatnya penuh, “baiklah bila begitu. Apa anda butuh ditemani My Lady?”

“Tidak perlu. Mungkin aku hanya sebentar. Aku hanya ingin melepaskan bosan di kamar.”

“Kalau begitu, hati-hati My Lady,” sang maid menunduk sopan.

Lampu hijau.

Menangguk sekilas, Hana kembali melajutkan langkahnya. Lobby, taman hotel, hingga ia benar-benar berada lebih dari 5 meter dari hotel.

Hana akan sangat bersyukur jika dewi keberuntungan memang berada di pihaknya saat ini. Sebuah taksi terlihat berhenti di tepi jalan. Tak perlu waktu lama baginya untuk mengetuk jendela pintu mobil tersebut.

“Uh, excuse me, is this a taxi?”

Sang pengemudi nampak kebingungan beberapa saat, “yes, but it is an online taxi.”

“Can I pay by cash? Please help me! I need to find someone!” Hana tidak bisa menyembunyikan kepanikan pada wajahnya. Berkali-kali ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan jika ia tidak diikuti.

“Are you followed?”

“Yes! Please help me! I’m just a tourist here! Seems like they want my money or something!” Sekarang Hana berbohong.

“Jump then,” entah sang sopir merasa iba, akhirnya ia memutuskan untuk mengizinkan Hana naik.

“Thank you,” Hana masih sibuk menolehkan kepalanya ke belakang ketika taxi sudah bergerak, masih memastikan apakah ia diikuti atau tidak.

“Where do you want to go?”

“Ah, uh, can you bring me to this street?” Hana menyerahkan robekan kertas berisi alamat tempat ia berjanji bertemu dengan Keigo.

“Sure. It’s not far from here, I can bring you there for at least under 10 minutes.”

“Great.”

Benar, belum ada sepuluh menit kemudian, Hana sudah menapakkan kakinya di alamat yang ia tuju. Alamat yang menunjukkan sebuah hotel, seperti yang diucapkan Keigo sebelumnya.

Hana menolehkan kepalanya was-was mencari sosok Keigo.

“Hana!”

Sebuah pelukan tiba-tiba menghilangkan hawa dingin yang sedari tadi berputar di sekitar tubuhnya.

“K-Keigo-kun?”

“Yaa… ini aku Hana…” Pria itu masih sibuk memeluknya.

“A-anu, Keigo-kun baik-baik saja?”

“Aku baik. Lukaku juga hampir sepenuhnya sembuh.”

“There she is, that girl who become Luicfer’s seal, Rayumi Hana. sebuah suara asing terdengar, membuat Hana lantas siaga dan melepaskan pelukannya.

Di sana seorang pria berusia mungkin hampir menyentuh dengan rambut kecoklatannya berdiri dengan anggun.

“Siapa dia Keigo-kun?”

“Oh, dia Adrian Nikole, dia seorang polisi.”

“Polisi!?”

“Juga seorang exorcist dengan peringkat 7. Aku sudah memberitaumu kan? Dia temanku yang akan membantu kita.”

“Yasumoto tell me that you will be come here, Lucifer’s seal. Pleased to meet you.”

“Come on Nikole, she has name, her name Rayumi Hana.”

“Hahaha,” pria itu tertawa renyah, “I’m sorry.”

“Awalnya aku memang sedikit tidak percaya jika kau memang berkenalan dengan si segel itu,” ucap Nikole dengan bahasa Jepangnya yang fasih. Membuat Hana cukup terkejut.

“Sudah kubilang kan kalau dia punya nama!”

“Bagaimana kalau kita pindah ke restoran? Tidak nyaman kan berbicara sambil berdiri?”

Read More ->>

Jumat, 09 Oktober 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 52]

 CHAPTER 52: PIECES HISTORY

“Kau tau exorcist bisa muncul dari mana saja! Apakagi ini bukan Jepang! Bagaimana bisa kau seceroboh itu berkeliaran tanpa ada pengawasan dariku?”

“Astaga demi apapun! Itu hanya lobby hotel Yoshiki-kun! Lagipula kamu sendriri kemana kemarin? Menghilang begitu saja. Dan juga aku tidak bisa mengabari Yoshiki-kun karena ponselku tidak ada padaku!”

“Ck!” Yoshiki hanya berdecak kesal.

Persetan dengan berbagai kekacauan yang ditimbulkan firmanya di cabang Paris! 

Akibat pertengkaran konyol tersebut, pasangan Hana-Yoshiki hanya diam dalam beberapa saat. Keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

Hingga Hana kembali tidak bisa menahan ketakjubannya begitu ia melihat lukisan sang ratu yang empunya kastil Versailles beratus tahun silam, “Marie Antoinette benar-benar cantik.”

“Menurutmu seperti itu?” Celetuk Yoshiki.

“Uhm… ya. Dibanding aku. Hahaha,” dengan santai Hana menanggapi, “sayang sekali dia harus dipenggal kepalanya dalam revolusi Prancis.”

“Hn, sejauh apa yang kau ketahui?”

Hana cukup mengambil waktu sebelum menjawab pertanyaan Yoshiki, “sedikit. Aku hanya tau dia dan Pengeran Louis XVI menikah. Pangeran Louis sangat mencintainya sampai-sampai dia menggunakan uang rakyat untuk menyenangkannya. Rakyat berontak dan timbullah revolusi. Padahal Marie Antoinette juga suka bermain di belakang pangeran.”

“Bagaimana jika aku berkata jika pria yang bermain dengan Marie adalah aku?”

“Eh?” Kalimat itu lantas mengambil atensi Hana sepenuhnya.

“Dia mendatangiku dengan sendirinya. Pada dasarnya dia hanya wanita yang suka kehidupan glamour. Dan aku hanya menggunakan tubuhnya, dan isi kepalanya yang kosong itu untuk menghancurkan Louis XVI.”

Hana kehilangan kalimatnya. Semuanya tertelan dalam kerongkongannya tanpa sempat terucap.

Menerima pandangan penuh pertanyaan dari Hana, Yoshiki hanya tersenyum miring dan kecut, “Aku sudah hidup lebih dari seribu tahun, My Lady. Sebagian besar sejarah dunia ini aku terlibat di dalamnya. Tentu saja, terlibat untuk membawa kehancuran bagi manusia ciptaan-Nya ini.”

Hana memijat pelipisnya pelan. Mencoba mencerna kenyataan baru yang ia dengar.

Baiklah. Suaminya memang seorang raja iblis. Sudah berapa kali ia mengingatkan dirinya sendiri jika hal-hal di luar nalar akan terjadi?

Oleh sebab itu ia tidak akan menyangkal jika seseorang meneriaki dirinya mengenai betapa ia tidak mengenal suaminya. 

“Yoshiki-kun… benar-benar selingkuhan dengan Marie Antoinette?”

“Hn. Louis itu bahkan sudah berkali-kali kita bersetubuh. Tapi pria itu benar-benar konyol. Ia tetap mencintai Marie bahkan sampai rela membiarkan kepalanya dipenggal seperti itu.”

DEG.

Sesuatu di dalam diri Hana seolah terpicu mendengarnya. Tidak bisa membohongi dirinya sendiri, Hana mengakui jika ia cukup kesal dan cemburu mendengar pernyataan Yoshiki. Tapi kembali lagi, Hana harus tau siapa Yoshiki. Yoshiki adalah Lucifer yang bahkan sudah ada jauh sebelum adanya dirinya. 

Pandangannya tertuju kembali pada lukisan sang ratu. Marie Antoinette benar-benar cantik. Wanita itu terlihat begitu berkharisma. Jauh lebih cantik daripada dirinya. Tentu saja Yoshiki akan sangat diuntungkan jika berhubungan dengan sang ratu.

“Selanjutnya aku menerima banyak informasi darinya mengenai kondisi kerajaan. Dan aku menjualnya pada Napoleon. Revolusi Prancis bisa berjalan dengan lancar sampai kedua kepala pemilik kastil Versailles ini terpenggal.”

“Yoshiki-kun… mengenal Napoleon?”

“Hn. Dia pribadi yang luar biasa.”

‘Yoshiki-kun juga luar biasa,’ batin Hana kesal atas jawaban ambigu Yoshiki.

“Aku hanya tau cerita perjuangan Napoleon. Tapi jika Yoshiki-kun mengatakan Napoleon luar biasa, aku jadi semakin yakin jika dulu Napoleon luar biasa keren sekali. Wajahnya juga cukup tampan, ehe,” timpal Hana dengan setengah terkekeh.

“Hn…” Entah kesal karena ucapan Hana yang terlalu menyanjung Napoleon, Yoshiki hanya menjawab dengan gumanan.

“Lalu setelah berbuat seperti menusuk ratu Marie Antoinette dari belakang, Yoshiki-kun cukup berani datang ke sini lagi ya.”

“Hn. Setelah lebih dari 300 tahun, akhirnya aku kembali memijakkan kaki di kastil ini.”

“Memangnya Yoshiki-kun tidak takut oleh arwah penasaran Marie Antoinette?” 

“Hn, seorang raja iblis takut pada arwah penasaran?” Yoshiki menjawab konyol.

Pandangan Hana kembali tertuju pada lukisan sang ratu yang begitu menawan hati. Kecantikan yang luar biasa. Tidak heran jika Pangeran Louis XVI sampai jatuh hati sedemikian rupa demi sang ratu. Dan sang ratu, pernah memiliki hubungan gelap dengan pria yang berstatus sebagai suaminya. Kuroto Yoshiki. Bahkan keduanya pernah berhubungan badan.

Kesal. Namun bagaimana lagi, Yoshiki juga seorang pria yang bahkan sudah hidup lebih dari berates tahun. Ia hanya muncul dalam kehidupan pria itu tidak lebih dari sepuluh tahun. 

Menyebalkan.


.


“….” Hana hanya bisa memandangi Yoshiki yang tiba-tiba memakai kembali setelan jasnya denga rapi. Padahal semenit lalu pria itu masih duduk di sampingnya membaca sebuah novel yang dulu pernah ia rekomendasikan.

Hana ingin tau kemana pria itu akan pergi secara tiba-tiba setiap malam. Namun harga dirinya yang konyol menahannya.

“Aku pergi, My Lady,” ucap pria itu begitu menutup pintu kamar hotel sambil berpesan, “jika kau membutuhkan sesuatu, ada maid di kamar sebelah.”

Dengan menyilangkan tangannya, Hana hanya menatap kesal pada pria yang telah menghilang dari balik pintu, “kenapa dia tidak mengatakan kemana akan pergi sih.”


.


Pukul delapan malam. Belum ada setengah jam sejak Yoshiki meninggalaknnya. Dan ia sudah sebosan ini. Padahal yang ia lakukan dengan atau tanpa Yoshiki sejak tadi setelah makan malam juga melakukan hal yang sama. Membaca buku bersama. Tapi sekarang semenarik apapun alur cerita yang disajikan oleh novel misteri di tangannya, Hana tetap merasa kebosanan.

Sebuah ketukan pada pintu kamarnya seolah menyelamatkannya dari kebosanan.

“My Lady, ada pesan dari My Lord,” seorang pelayan masuk membawa sebuah benda yang sangat dinantikan Hana.

Ponselnya.

Begitu benda itu diserahkan ke tangannya, sudah tertera sebuah jendela chat Yoshiki.

“Aku terburu-buru berangkat tadi. Maaf aku tidak memberitahumu. Aku ada meeting. Kemungkinan akan kembali tengah malam. Di bawah ada mobil dan supir jika kau ingin pergi ke suatu tempat. Jangan terlalu jauh dan beritau aku kemana kau pergi. Ada sesuatu yang ingin kau makan?”

Gila! Yoshiki memberikan ponselnya!

Terlalu bahagia, Hana melirik ke arah sang maid yang mengantarkan ponselnya, “umm… kamu mau terus di sini?”

“Ah… sebenarnya saya hanya disuruh memberikan ponsel ini pada and ajika My Lord mengirimkan pesan.”

“Kamu sudah boleh kembali ke kamarmu kok. Terima kasih.”

“Ah ta-tapi…” sang maid Nampak ragu.

“Apa ada hal yang lain lagi?”

“My Lord berkata untuk segera mengambil ponsel itu jika anda sudah selesai.”

Oh tentu saja. Yoshiki tidak akan segampang itu memberikan ponselnya.

“Berikan aku 5 menit. Aku perlu menelepon Yoshiki-kun. Setelah itu ponselnya akan kukembalikan.”

“Baik My Lady. Saya akan menunggu di luar,” sang maid yang merasa pekerjaannya dimudahkan, meninggalkan Hana sendirian.

Setelah memastikan sang maid benar-benar menghilang dibalik pintu. Dengan cepat Hana menekan nomor Keigo yang ia hapalkan. Yoshiki akan menghapus segala data tentang Keigo dalam ponselnya tentu saja!

Suara dering sambungan telepon sedikit melegakan Hana. Yoshiki tidak sampai memblokir nomor-nomor Keigo. Sisanya, ia hanya berharap suara dering sambungan itu berakhir.

‘Halo?’

Seketika Hana melirik ke arah pintu begitu mendengar suara jawaban Keigo. Ia sempat berpikir apa kamar ini tempat yang aman untuk menelepon Keigo. Bagaimana jika si maid atau siapapun mendengar hal ini? Tapi begitu ia mengingat-ingat, Yoshiki tipe pria yang sensitive terhadap kemananan, jadi ia cukup yakin jika ruangan ini kedap suara.

“Keigo-kun ini Hana!”

‘Hana! Astaga nomormu kode negara mana ini?’

“Aku ada di Prancis Keigo-kun.”

‘Prancis!?’

“Yoshiki-kun mengajakku paksa berbulan madu. Omong-omong bagaimana luka Keigo-kun?”

‘Aku melakukan 7 operasi pada ginjalku. Tapi semuanya sudah baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir.’

“Astaga aku sungguh minta maaf Keigo-kun…”

‘Sudah kukatakan tidak apa-apa. Bagaimana kamu bisa menghubungiku? Ke mana iblis itu pergi?’

“Yoshiki-kun selalu pergi ketika menjelang malam—entah kemana—sampai lewat malam.”

‘Setahuku ponselmu disita olehnya?’

“Dia mengirimkanku chat dan maid memintaku membalasnya, sekarang aku mengambil kesempata untuk menghubungimu.”

‘Aku sudah memesan tiket penerbangan ke Prancis. Perkiraan aku akan tiba besok siang. Kau akan berencana meninggalkan Prancis besok?’

“Eh—oh—t-tidak tau. Tunggu! Kenapa Keigo-kun sudah memesan tiket pesawat saja?”

‘Tidak ada waktu lagi Hana. Kebetulan aku memiliki kenalan Exorcist berperingkat 7 di sana. Aku akan meminta bantuannya untuk mengamankanmu.’

“A-aa…”

‘Besok jika iblis itu mengajakmu meninggalkan Prancis, kau harus menahannya sebisa mungkin. Aku akan mengirimkan lokasi hotel yang sudah kupesan sebentar lagi. Datangi aku ketika iblis itu pergi di malam hari. Aku akan memberikanmu ponsel untuk mempermudah komunikasi kita selagi kita menyusun rencana.’

Suara ketukan dari balik pintu membuat jantung Hana berdetak lebih cepat seketika.

“Baiklah kalau begitu Keigo-kun. Segera kirimkan alamatnya,” demikian Hana mengakhiri panggilannya.

“My Lady? Anda masih menelepon?” Suara Maid terdengar dari balik pintu.

Hana panik.

Sebuah alamat dari Keigo muncul dari room chat keduanya. Dengan cekatan Hana meraih pulpen dan sembarangan kertas yang merupakan novelnya untuk menuliskan alamat yang dituliskan Keigo. Berikutnya jarinya bergerak dengan cepat menghapus riwayat obrolan dan telepon dengan Keigo, dan memasukkan ponselnya pada mode muat ulang.

“My Lady?” Sang maid yang curiga memutuskan memasuki kamar Hana.

“Oh—tadi sepertinya ponselku error, jadi aku me-restart-nya. Lihat.” Hana menunjukkan ponselnya yang sedang memuat ulang.

“Ah!” Sang maid menunjukkan wajah menyesal.

“Nih bawa saja, sepertinya sudah tidak perlu menghubungi Yoshiki-kun,” Hana menyodorkan kembali ponselnya dengan ringan.

“Baiklah,” dengan sedikit ragu sang maid mengambil ponsel Hana, “saya ambil kembali.”

Sebelum meninggalkan ruangan, sang maid kembali berpesan, “jika My Lady merasa ingin menghubungi My Lord, My Lady boleh datang kepada saya.”

Hana mengangguk mengerti, “terima kasih.”


.


“….” Yoshiki hanya menatap datar layar ponselnya yang menunjukkan room chat antara dirinya dan Hana.

Status pesan telah terbaca sudah muncul sejak sepuluh menit yang lalu.

Berkali-kali ia mengintip ponselnya untuk memastikan apakah pesannya sudah dibalas. Namun pada akhirnya nihil. Pesannya dibiarkan terbaca tanpa ada balasan sedikit pun.

Hingga akhirnya Yoshiki benar-benar menyerah. Ia meletakkan ponselnya. 

“Menunggu istrimu membalas pesanmu, eh?”

Yoshiki hanya mendengus kesal mendengar ejekan yang dilontarkan oleh sosok yang hampir setara di sampingnya, “hn, sejak kapan kau suka mencampuri ursan orang lain, eh, Mammon?”

Bocah kecil itu terkikik, “aku suka melihatmu menderita haha. Padahal kalian berdua sedang bulan madu kan?”

“Hn. Terima kasih kepadamu yang sudah repot-repot mengganggu.”

“Ayolah aku hanya mengajakmu keluar ketika malam hari.”

“Hn…”


.


Tengah malam waktu Paris.

Bunyi pintu yang dibuka dengan halus tidak akan membuat Hana yang sedari tadi lelap dalam tidurnya terbangun. Yoshiki dengan muka lusuhnya melempar mantel yang ia gunakan pada sofa begitu.

Dipijatnya keningnya yang terasa berdenyut. Ia lelah.

Namun pandangannya bertemu dengan sosok Hana yang bergumul dengan selimutnya, menghangatkan dirinya.

Seketika senyum tipis muncul pada wajah datar sang pria. Onyx gelapnya seolah hanya terfokus pada kepala yang menyembul dari balik selimut itu. 

Ia menyibakkan rambut-rambut pendek Hana yang menutupi wajahnya. Dan lihatlah disana, wajah damai istrinya yang tenggelam dalam lautan mimpi.

“Selamat tidur My Lady,” gumannya.

.

Akibat udara dingin yang semakin menjalar pada tubuhnya, sapphire indah milik Hana terbuka seketika.

“Selamat pagi, My Lady,” sapaan itu menjadi awal bagaimana pagi Hana dimulai, prianya itu duduk di sampingnya dengan memainkan ponsel di tangannya. Bisa Hana lihat dari sana jika sang pria tengah sibuk mengamati berita internasional.

“Ah—Uh—Selamat pagi,” seketika Hana menegakkan tubuhnya, mengambil posisi siaga. Detik berikutnya ia merutuki kekonyolannya. Kenapa dia harus bertingkah waspada?

“Tidurmu nyenyak?”

“Ah—Ya…” Hana menjawab gagu.

“Hari ini kita akan mengunjungi Pont du Gard, sebaiknya kau segera bersiap-siap. Perjalannya akan memakan waktu 6 jam. Setelah itu kita akan langsung bertolak ke Roma.”

“Eh?”

Oke sialan. Apa yang Hana dan Keigo takutkan benar terjadi. Yoshiki benar-benar mengajaknya pergi meninggalkan Prancis!

Yoshiki menolehkan kepalanya mendengar respon Hana, “ada apa?”

“Eh!” Hana dengan gagu menjawab, “a-anu apa tidak bisa beristirahat sebentar untuk hari ini?” Sekarang Hana ingin menghajar dirinya sendiri.

“….” Yoshiki ragu sejenak mendengar pernyataan Hana, “kenapa?”

“U-udaranya dingin! Ayo istirahat sejenak untuk satu hari ini! Perjalanan lebih menyenangkan dengan cuaca cerah kan?”

“Hn… baiklah bila kau ingin begitu. Hari ini apa yang ingin kau lakukan? Berada di atas ranjang seharian penuh karena udara dingin? Aku bisa menemanimu.”

Seketika Hana meloncat bangun dari ranjangnya yang nyaman, “t-tidak!”

Semua kekehan kecil lolos dari bibir Yoshiki, “sayang sekali,” gumannya.

“Daripada tidak tau akan melakukan apa, mau ikut denganku?”

“Eh? Kemana?” Hana menatap Yoshiki kebingungan.

“Rumah sakit.”

“Heeeee??” Hana semakin kebingungan.

“Perusahaan farmasiku akan melakukan perjanjian dengan suatu rumah sakit. Seharusnya aku tidak perlu datang karena sudah diwakilkan oleh vice precident ku. Tapi karena kita tidak tau harus melakukan apa, mungkin kita bisa datang.”

“Heeeee,” Hana cukup terkejut, “itu acara yang sangat formal kan? Aku tidak membawa pakaian formal.”

“Kau tau masalahmu bisa kuselesaikan dalam hitungan detik. Lagipula kau dan aku tidak akan ikut dalam rapat perjanjiannya secara penuh. Kita hanya datang. Memantau. Bagaimana? Kau bisa belajar banyak hal mengenai kimia obat-obatan pada apoteker ahli mereka nanti.”

Hana kembali ragu. Namun ia sudah kehabisan ide untuk menolak ajakan Yoshiki. Alam sadarnya sendiri sangat menginginkan hal ini. Kapan lagi dia bisa belajar kepada ahlinya secara langsung?

Anggukan lemah diberikan oleh Hana, “baiklah…”

Yoshiki tersenyum tipis sebelum akhirnya mengacak rambut hitam istrinya, “baguslah. Ayo bersiap-siap. Setelah itu kita harus mengisi perutmu di restoran bawah sebelum ke rumah sakit.”

Read More ->>

Senin, 21 September 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 51]

  CHAPTER 51: SPECIAL PLACE, PARIS

Minggu ujian diawali dengan tekanan berat bagi Hana dan berakhir dengan helaan nafas berat pula.

“Gawat… aku tidak yakin dengan nilai kalkulusku…”guman Hana sembari mengigit sedotan sodanya.

“Aku bisa membuatmu mendapatkan nilai A untuk kalkulus, atau mungkin mata kuliah lain,” Yoshiki dari arah samping menimpali dengan santai.

Oh tentu saja. Hal yang mudah bagi seorang raja iblis bukan?

“Terima kasih,” jawab Hana sarkastis.

“Hei Kuroto couple, mau ikut ke Osaka?” Dari arah belakang keduanya terdengar suara riuh.

“Osaka?” Tanya Hana.

“Yap, kita berencana berlibur bersama setidaknya satu minggu sebelum kembali ke kampung halaman. Mau ikut?”

“Terima kasih, namun kita sudah merancangkan liburan sendiri,” Yoshiki menjawab tanpa diminta.

“Heeee… mau kemana kalian?”

“Entahlah, berkeliling dunia?” Ucap Yoshiki menggantung.

Siulan demi siulan menyahuti, “dunia orang yang sudah menikah memang berbeda.”

“Selamat berlibur teman-teman, kami permisi,” Yoshiki dengan seenaknya meraih pundak Hana dan membawa perempuan itu pergi.


.


“Aku bahkan tidak menyetujui apapun tentang rencana berpergian ini,” Hana hanya menatap Yoshiki yang mulai mengepak beberapa pakaiannya ke dalam sebuah koper.

Yoshiki hanya tertawa kecil mendengar ucapan Hana, “ayolah My Lady, ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan.”

“Tidak dengan semua beban ini.”

Yoshiki menghela nafasnya berat sebelum akhirnya membawa Hana duduk di sofa dan berlutut di hadapannya, “oleh sebab itu aku merencanakan hal yang bisa membuat bebanmu sedikit berkurang.”

“Yoshiki-kun selalu seperti itu.”

Ucapan tiba-tiba Hana membuat Yoshiki menghentikan gerakannya mengepak pakaian, “Hn?”

“Yoshiki-kun selalu memutuskan segalanya seenaknya. Memaksaku. Mengekangku.”

Mulut Yoshiki hanya sedikit terbuka sebelum bisa menjawab ucapan Hana. Ia bahkan tidak bisa melihat wajah Hana. Rambut hitam pendek yang sekarang telah sepanjang dagunya sudah sempurna menutupi ekspresi Hana.

DAKK!

Keheningan dipecahkan oleh bantingan tutup koper Yoshiki.

“Sialan. Ini menyebalkan sekali,” Yoshiki hanya memijit pelipisnya dengan ekspresinya penuh dengan kepenatan.

“Jika aku mengatakan jika semua tindakanku ini hanya untuk kebahagiaanmu kau juga tidak akan percaya. Lagipula sejak awal siapa yang akan mempercayai iblis bukan?”

Entah mengapa kalimat Yoshiki barusan terdengar seperti sarkasme pada telinga Hana.

“Atau, My Lady jangan-jangan kau menyesal menjadi iblis?”

Ah, Yoshiki mengatakannya. Kegundahan dalam dirinya berhasil ia katakan.

Sementara Hana hanya bisa menatapnya dengan pandangan tak menentu, Yoshiki kembali mengucapkan kalimatnya, “kau menyesal menjadi istriku?”

Dijatuhkannya tubuhnya pada tepian ranjang dengan memunggungi sang istri, “padahal hanya kau kebangganku. Menyebalkan sekali jika aku sampai kalah dibandingkan dengan manusia exorcist lemah seperti si sialan itu.”

Seolah tidak memberikan kesempatan bagi Hana untuk berbicara, Yoshiki dengan helaan nafas beratnya meninggalkan ruangan dengan berucap, “tidak ada bantahan. Kita pergi besok. Semuanya sudah dipersiapkan dengan baik.”

.

Dan di sinilah Hana berada. Sebuah pesawat jet pribadi. Yang demi apapun tidak pernah Hana impikan bisa menaikinya suatu saat ini. Sekarang pantatnya sudah berada di suatu kursi penumpang yang nyaman dengan beberapa potongan buah tersaji di hadapannya di tengah penerbangannya di antara langit biru melintasi samudera Hindia.

“Istirahatlah, masih sekitar 2 jam lagi sebelum mendarat di CDG,” dari arah samping, Yoshiki yang masih sibuk dengan beberapa berkas dan laptop di pangkuannya berguman.

“CDG?” Singkatan itu teredengar asing bagi Hana. Dan sejak awal ia memang tidak diberitau arah tujuan kepergian ini. Yoshiki hanya menyeretnya serta tanpa memperdulikan penolakan darinya.

“Paris Charles de Gaulle Airport.”

“….”

Apa?

Hana hanya bisa terdiam. Lantaran telinganya sama sekali tidak bisa menangkap satu kalimatpun dari apa yang diucapkan Yoshiki.

“…. Bahasa Latin?” Cengo Hana.

Yoshiki memberikan pandangannya pada Hana akhirnya, “Bandara Internasional Paris,” ujarnya dengan Bahasa Jepang.

Hana hanya bisa ber-oohh ria.

“Tadi itu Bahasa dan aksen—”

“Prancis.”

Tidak bisa dipungkiri. Suaminya memang luar biasa. Bahasa dan aksen Prancis pun terdengar begitu lembut pada bibirnya.

‘Ya! Ya! Yoshiki-kun memang luar biasa!’ Hana melipat kedua tangannya di depan dada dan mengangguk-angguk tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sementara sang suami hanya bisa sweatdrop melihat kelakukan istrinya.


.


Hamparan bandara internasional Prancis begitu bersih. Hanya berisi pesawat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan penerbangan. Tidak ada hujan. Tidak ada salju. Hanya matahari pagi di pukul delapan pagi waktu Paris.

Benar, matahari pagi yang hang—

“Dingin banget!” Hana memeluk dirinya sendiri dengan panik begitu menuruni pesawat.

“Suhunya memang masih 10 derajat celcius. Gunakan jaketmu,” Dari arah belakang Yoshiki memakaikan mantelnya pada Hana.

Seketika bau maskulin yang hanya dimiliki oleh Yoshiki mengisi indra penciuman Hana. Hana mabuk? Oh sekarang siapa perempuan yang akan berpaling dari karisma sang raja?

Hana hanya bisa melangkahkan kakinya mengekor di belakang sang pria yang nampaknya berusaha menjaga langkah kakinya memendek agar tetap bisa diikuti. Sementara seluruh pandangannya tertuju pada sekitarnya yang dipenuhi oleh manusia berkulit putih dengan wajah eksotis mereka.

“Kenapa kau berjalan di belakangnku? Kau akan hilang dalam kerumunan,” tiba-tiba saja tangan Hana yang sedari tadi melayang di udara digenggam oleh sebuah tangan besar.

“E-eeh—” Oke Hana tidak bisa menyembunyikan rona di wajahnya.

Demi debu di negara Prancis! Ini hanya sebuah gandingan tangan dan Hana salah tingkah!?

“Kita akan mengisi perut terlebih dahulu, ada sesuatu yang ingin kau makan?”

“Ramen?”

Dasar bodoh! Hana mengumpat pada dirinya sendiri berkali-kali. Sekacau itu pikirannya sampai jawabannya luar biasa ngawur seperti itu? Orang gila macam apa yang mencari ramen di Prancis?

“Cukup aneh kau meminta ramen di Prancis.”

MEMANG ANEH! KENAPA YOSHIKI-KUN MENGANGGAP ITU SERIUS SIH!?

“A—aa tidak! Lupakan lupakan!”

“Bagaimana jika spaghetti saja? Pasta berbentuk mie?”

“Haa… sebaiknya lupakan saja Yoshiki-kun. Aku akan makan apapun yang Yoshiki-kun pesan.”


.


“Foie Gras, Coq au Vin, Soupe a l’oignon, Confit de Canard, dan Crème Brulee.”

Hana hanya mengedipkan kedua matanya tidak mengerti apa-apa saja yang Yoshiki ucapkan pada pelayan yang telah membawa pergi pesanan mereka.

“…. Yoshiki-kun memesan racun?”

“Tunggu saja, semuanya makanan wajib yang harus dicoba jika kau berada di Prancis.” Jawab Yoshiki santai.

“… Hoo… semuanya terdengar seperti bahasa latin dan seperti racun jika berada di laboratorium.”

“Hn… memang seperti itu Bahasa Prancis.”

“Yoshiki-kun bisa berapa bahasa? Hebat sekali bahkan sampai logatnya pun sama persis.”

“Entahlah. Sepertinya aku hampir bisa seluruh bahasa di muka bumi ini.”

“Waaaw…” Hana bertepuk tangan ringan.

“Kau kira sudah berapa lama aku berada di muka bumi ini? Menunggumu.”

Hana terdiam sejenak. Topik pembicaraan yang awalnya terasa ringan menjadi cukup berat.

“Hee…” hanya gumanan konyol yang bisa Hana keluarkan.

Hana akan bersujud berterima kasih pada tiga orang pelayan yang datang di saat yang tempat membawakan makanan yang dipesan. 


.


“Pemandangannya keren sekali!! Astaga Paris memang keren!!” Dari sebuah beranda hotel Hana merentangkan kedua tangannya. Matahari sore yang berwarna kemerahan mengguyurnya tanpa ampun.

“Bahkan Menara Eifel terlihat, yah walaupun tidak terlalu jelas…”

“Pelayanku salah melakukan reservasi tempat, seharusnya kita menginap di hotel yang lebih dekat dengan Menara Eifel,” dari arah belakang Yoshiki menyahuti, pria itu tengah melepas kemejanya dengan tenang.

Wajah kemerahan Hana disamarkan oleh terangnya senja kala itu.

Sudah berapa tahun keduanya menikah? Dan Hana masih belum terbiasa dengan badan atletik sang suami.

“Kau bisa segera membersihkan badanmu, pukul 7 nanti kita akan mendatangi Menara Eifel.” 

“Oh sungguh? Oke aku mandi!” Bagai anak kecil, Hana berlari menuju kamar mandi.

Begitu ia melewati Yoshiki, pergerakannya tertahan, pasalnya pria itu tiba-tiba menggenggam tangannya.

“Mau kubantu?”

“E-eh?”

“Membersihkan tubuhmu? Bagaimana jika mandi bersama?”

“HEEEEEE!!????”

Oke. Gendang telinga Yoshiki sepertinya hampir pecah.

“Fufu… Sudah mandi sana,” dilepaskannya tangan Hana sembari ia terkekeh kecil.


.


Matahari telah sempurna tertelan malam. Suhu udara juga perlahan semakin menurun hingga hampir menyentuh 8 derajat celcius lagi. 

Keduanya melangkah beriringan menuju taman Eifel. Hana sibuk menyembunyikan tangannya yang masih belum terbiasa dengan dinginnya udara di balik saku mantelnya. Namun pandangannya bisa berkeliling ria menjelajah setiap sudut bangunan paris.

“Cantik sekali…” gumannya tanpa sadar mengangumi sisi arsitektur setiap bangunan.

“Masih lebih cantik itu kan?” Sahut Yoshiki dengan tangannya menunjuk ke sebuah Menara yang sangat terkenal di seluruh penjuru bumi. Menara Eifel. Lampu-lampu yang dinyalakan pada sekeliling Menara membuat kesan romantis tersendiri.

Begitu pandangan Hana terambil alih oleh sosok indah Menara Eifel, sapphire miliknya melebar takjub.

Benar. Indah.

Ujung bibir Yoshiki sedikit tertarik melihat wajah Hana yang begitu puas, “kau suka?”

“A-ah… u-um…” Kepalanya terangguk lemah.

Tidak pernah terlintas dipikirannya akan bisa menjajakkan kaki di luar negri setelah kepergian orang tuanya. Untuk bisa hidup saja ia sangat tertatih-tatih. Ia hanya sebatang kara. Hingga suatu hari ia memimpikkan aka nada seorang pangeran berkuda putih yang akan jadi penyemalat hidupnya. Seorang luar biasa yang memiliki kuasa dan memberikannya dunia. Namun kenyatan dunia yang menyakitkan membuatnya berharap pangeran berkuda putih itu berubah menjadi pangeran berkuda hitam. Ia juga ingin menghancurkan dunia yang telah menghancurkannya.

Sayangnya itu hanyalah khayalan bocah kelas 6 SD. Semuanya berangsur-angsur ia lupakan. Hingga malam bersalju itu datang.

Khayalan yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam. Khayalan mengenai pangeran kegelapan yang mendatanginya sudah hampir ia lupakan saat itu.

Tapi seolah dipermainkan oleh takdir, ia benar-benar bertemu pria dalam imajinasinya. Sosok angkuh nan penuh kuasa itu benar-benar mendatanginya.

“Kenapa? Kau melamun?”

Ucapan dari Yoshiki barusan membuatnya kembali ke alam sadarnya.

Sudah berapa banyak hal yang terjadi ia lalui bersama pria ini?

“Tidak… hanya terpikirkan sedikit hal…” Jawabnya menghindar.

“Hn… aku ingin menciummu.”

“!!???” Ucapan super blak-blakkan itu membuat Hana mendelik kebingungan.

“Boleh?”

“A-apa!?”

“Aku yakin kau mendengar jelas ucapanku My Lady. Aku ingin menciummu.”

Semuanya terasa begitu intens mendadak. Yoshiki yang mencengkram kedua bahunya dan tatapannya mengunci kedua bola matanya.

Dalam beberapa detik berpikir, ia mengira akan kalah oleh pesona sang iblis. Ia mengakui jika suasananya benar-benar mendukung, namun ternyata tidak secepat itu. 

Ditepisnya tangan Yoshiki dengan lembut sambal berucap, “tidak dengan segala ganjalan ini Yoshiki-kun.”

Pria dengan rambut jaged itu menghelakan nafasnya berat, “kau mengerikan sekali. Membiarkan suamimu tidak bisa menciummu dalam waktu yang lama.”

‘Berikan darahmu secepatnya!’ Kalimat Tomuro barusan terlintas di benak Hana. Tidak hanya itu, beberapa kalimat seperti berciuman… berhubungan sex… semuanya juga terpikirkan.

Dari arah samping, ia bisa melihat sang pria hanya berdiri memandang ke arah Menara dengan pandangan datarnya. Sebuah pandangan yang memandang seluruh dunia membosankan.

“Bukankah aku sudah mengatakan jika Yoshiki-kun ingin mencium perempuan, Yoshiki-kun bebas melakukannya dengan siapapun.”

Kepala pria itu kembali menoleh, kali ini pandangannya menjadi sedikit mendung.

“Kau benar-benar serius membiarkanku berciuman dengan perempuan lain?”

Kepala Hana terangguk perlahan—ia ragu, “u-um…”

Tawa mengejek keluar dari bibir pria itu, “jika aku bisa melakukannya aku sudah melakukannya sejak lama.”

“Eh?”

“Tidak ada.”

“Tidak ada?” Hana memiringkan kepalanya atas jawaban ambigu Yoshiki.

“Tidak ada perempuan di muka bumi ini yang bisa membahagiakanku yang seorang Lucifer, My Lady.”

“O-oh?” Sekarang Hana terlihat seperti menggali kuburannya sendiri.

“Kau pikir sudah berapa banyak wanita yang sudah kusentuh sepanjang masa hidupku?”

Hana hanya bisa memberikan tatapan tanpa ada jawaban untuk Yoshiki.

“Aku sangat bosan dengan kehidupanku. Sementara aku dikutuk untuk terus berada di muka bumi ini sampai hari penghakiman tiba. Hanya kau, satu-satunya, yang memberikanku perasaan aneh seperti ini. Semuanya, segalanya yang berkaitan dengan dirimu, seolah-olah hanya hal itu yang bisa membuatku bahagia.”

“Kalau begitu, jika hubungan ini akan berjalan cukup lama, apakah Yoshiki-kun juga akan merasa bosan denganku?”

Cukup lama bagi sang raja iblis untuk menjawab pertanyaan dari istrinya.

“Akan selalu ada hal baru darimu setiap hari. Hal-hal yang tidak bisa terprediksikan oleh kekuasaanku. Tidak aka nada kebosanan di sana.”

Hana mengerti. Yoshiki tidak hanya bosan dengan dunia yang ia tinggali. Yoshiki juga bosan dengan segala hal yang mampu ia baca dengan kekuasaannya yang otoritas.

Seharusnya malam itu keduanya bisa menghabiskan malam dengan lebih romantic. Ayolah, tidak semua pasangan di muka bumi ini bisa menikmati percintaan di tanah suci romantisme seperti Paris kan?

Tapi Hana lebih memilih hengkang begitu saja. Ia hanya terlalu pusing dengan segala pemikiran yang ada. Lagipula udara dingin juga semakin mencekik.

“Yoshiki-kun boleh tinggal lebih lama jika ingin, tidak perlu memaksakan diri menemaniku pulang,” Hana yang merasa tidak enak pada pria itu berujar.

“Hn? Tidak. Lagipula kau juga harus segera tidur lebih awal. Besok kita akan menuju istana Versailles.”

“Ah-hoo… apakah jauh?”

“Sekitar 25 km dari Paris.”

“Aku pernah mendengar nama itu di kelas sejarah,” Hana hanya melanjutkan pembicaraan untuk mengenyahkan suasana canggung.

“Tentu. Istana itu sangat bersejarah.”


.


“Astaga indah sekali!” Teriakan ketakjuban Hana menggema di dalam kastil yang penuh dengan ukiran indah di dalamnya.

“Sayangnya, dibalik keindahannya ada cerita kelam yang menyelimuti kastil ini,” ucap Yoshiki dari arah belakang Hana dengan tenang.

“Aku tau, ratu Marie Antoinette dulu dipenggal hidup-hidup kan di tempat ini?”

“Hn… kau tau…”

“Aku sempat membaca ulang sejarah di loby kemarin sebelum tidur,” Hana tersenyum percaya diri.

Pandangan Yoshiki memincing sejenak, “bukankah aku sudah mengingatkanmu untuk tidak berkeliaran sembarangan kemarin?”

“Aku hanya berada di loby Yoshiki-kun. Lagipula aku sangat bosan di dalam kamar sendirian!” Hana memutar bola matanya jengah karena sikap overprotective Yoshiki kembali muncul. Lagipula bukankah salah pria itu juga jika ia mati kebosanan karena ditinggal begitu saja di tengah liburan?

Read More ->>

Jumat, 04 September 2020

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 50]

 CHAPTER 50: SAILING MY HEART

Pintu berdaun dua itu kembali terbuka. Aktivitas Hana yang tengah asyik membolak-balik sebuah novel misteri di tangannya kembali terhenti.

Kali ini bukanlah para maid yang senantiasa menunjang kehidupannya seperti mengantarkan makanan, minuman, camilan, pakaian baru, dan sejenisnya. Bukan juga Tomuro yang seenak jidat datang mengganggunya. Melainkan sang Lucifer. Kuroto Yoshiki muncul dengan wajahnya yang kusut. Tak kalah, setelan yang biasa tertempel rapi pada tubuhnya nampak kacau balau.

“Petualangan detektif SMA perempuan eh?” Guman pria itu seraya melemparkan jasnya pada sofa terdekat.

“Ah, oh, i-iya,” tanpa sadar Hana merespon gumanan pria itu karena buku yang ia baca. Namun detik kemudian ia sedikit menyesali ucapannya. Padahal ia telah memutuskan untuk tidak akan bicara pada pria itu.

Sepertinya ia terbawa suasana karena kalimat Tomuro?

Yoshiki, pria itu menoleh Ke arah perempuan yang menjadi istrinya dengan ekspresi setengah terkejut. Ia merebahkan dirinya pada sofat, masih berusaha menjaga jarak untuk tidak kembali memicu kebencian Hana terhadap dirinya.

“Sampai mana?”

Hana menoleh ke arahnya dengan ekspresi tidak mengerti.

“Itu…” Yoshiki menunjuk ke arah buku yang tengah dibuka Hana di pertengahan halaman.

“Ah… sampai ditemukannya potongan kaki di tepi laut,” akhirnya Hana memutuskan untuk kembali merespon ucapan pria itu walau dengan penuh pertimbangan.

“Hn…. Buku itu cukup bagus dengan beberapa plot twist, kau akan menyukai bagian akhirnya.”

Hana hanya terdiam tanpa memberikan komentar apapun. Sejujurnya ia ingin menanyakan apakah buku ini pernah dibaca pria itu, dan apakah pria itu menyukai misteri sepertinya?

Sebuah dering dari ponsel Yoshiki memecah keheningan keduanya. Pria itu dengan malas menjawab panggilan telepon yang baru saja masuk.

“Hn? Ada apa Hazel?”

Hana hanya sesekali melirik ke arah pria itu tanpa sadar begitu nama yang taka sing di telinganya.

“Tidak, aku tidak di kantor sekarang. Semua dokumen sudah kuselesaikan kemarin. Bertemu? Saat ini? Ada apa?”

Hana masih sibuk mengamati Yoshiki yang sibuk dengan percakapan teleponnya. Tunggu. Kenapa dia peduli? Kenapa dia lebih memilih mendengarkan percakapan telepon Yoshiki daripada menyelesaikan novel di tangannya?

“Bukankah kau sudah berlatih tanding denganku kemarin? Kau ingin melakukannya lagi? Istirahatkan tubuhmu.”

Walau sekarang sudah tidak memandang sang pria, namun kepala Hana mengolah apa yang ia dengar dengan cerdik. Dan ia sekarang sepenuhnya curiga jika ular betina itu berusaha menggoda Yoshiki kembali.

Sekali lagi, tunggu. Memangnya kenapa dia peduli? Bukan urusannya kan jika Yoshiki bersama Hazel? Tidak ada urusannya lagi dengan dirinya kan? Bukankah ia sendiri yang memutuskan untuk menceriakan Yoshiki?

“Aku sudah bolos kuliah lebih dari tiga hari.” Tanpa sadar kalimat itu meluncur dari bibir Hana begitu Yoshiki menyudahi obrolan teleponnya.

“Hn? Kau ingin kembali kuliah?”

“Tentu saja!” Sungut Hana.

“Supaya kau bisa bertemu si sialan itu lagi?” Ucap Yoshiki tak acuh sambil meletakan ponselnya.

“Untuk berkuliah tentu saja. Aku sudah ketinggalan banyak materi tiga hari ini. Apalagi ponselku tidak ada, aku pasti tertinggal banyak tugas juga.”

“Lucky you, My Lady. Tidak ada tugas sama sekali tiga hari ini. Materi aku bisa mengajarkanmu lebih dari yang diajarkan oleh para dosen, dan sampai kau benar-benar paham. Sekarang sudah tidak ada masalah kan?” Tanya Yoshiki santai.

‘Masalahnya aku tidak mungkin memintamu mengajariku di keadaan seperti ini! Apa lagi sebentar lagi ujian akhir kan!’ Gerutu Hana dalam hati.

Namun kedua onyx Yoshiki terpaku pada sebuah benda yang Hana letakkan di dekat tumpukkan bukunya di nakas. Sebuah benda yang akan berkilauan begitu terkena terusan cahaya.

“Kau tak mengenakkannya?”

Pertanyaan tiba-tiba Yoshiki membuat Hana terpaksa menolehkan kepala hitamnya ke arah sumber suara. Terlebih ia terkaget karena sosok yang ia cari tiba-tiba sudah ada di sampingnya.

“Danau itu dalam sekali kau tau, mungkin sekitar 10 meter lebih, apalagi saat itu malam, dan dasar danau itu begitu berlumpur, dan karena ini cincinmu, milikmu, aku terhalang untuk menggunakan kekuatanku untuk mengambilnya,” sambil sibuk mengucapkan keluhannya, Yoshiki memasangkan cincin itu pada jari manis Hana, “jangan dilepaskan semudah itu.”

“Tapi aku—”

“Setelah ujian akhir kita akan berbulan madu,” Seolah tau Hana akan menjawab apa, Yoshiki dengan cepat  memotong dan mengganti alur pembicaraan.

“Apa?” Hana menunjukkan wajah penuh protes.

Perlahan Yoshiki mendudukkan dirinya di tepian ranjang, “maafkan aku, bahkan setelah lebih dari dari tiga tahun pernikahan kita, kita belum sekali pun melakukan bulan madu karena berbagai kesibukanku. Jadi aku memutskan untuk kita harus melakukan bulan madu setelah ujian akhir.

“Tapi—”

“Aku sudah menjadwalkan kita akan berangkat tepat setelah ujian akhir berakhir. Sampai liburan berakhir sekitar 3 minggu setelahnya. Kau ingin kemana saja?” Yoshiki menyerahkan ponselnya yang tengah menunjukkan pamphlet digital beberapa destinasi wisata di beberapa negara.

Kapan terakhir kali ia bermimpi berkeliling dunia? Entahlah, sepertinya dia tidak memiliki mimpi seperti itu setelah menyadari betapa tidak berdayanya dirinya.

Lagipula bagaimana bisa Yoshiki bertindak seegois itu? Dengan keadaan seperti ini seenaknya saja mengajak bulan madu.

Hana menyerahkan ponsel Yoshiki dengan enggan, “sebelum itu sebaiknya aku besok berangkat kelas sebelum terlalu banyak tertinggal materi. SIapa tau besok ada tugas yang harus dikerjakan juga.”

Yoshiki menatap Hana beberapa detik sebelum akhirnya kemuraman mengisi wajahnya—Hana bisa merasakan itu. Ia bangkit berdiri, “hn… sebegitu inginnya kau bertemu si sialan itu?”

“Aku hanya tidak ingin meninggalkan kelas lagi. Lagipula Keigo-kun bilang sudah menyerahkan surat pengunduran dirinya.”

Tak menjawab ucapan Hana, Yoshiki memilih meninggalkan Hana.


.


“Oh kamu masih hidup toh, kukira kamu sudah ditelan bumi. Habisnya kamu tidak ikut kelas hampir seminggu, ponselmu juga tidak aktif.”

“Enak saja! Aku baru tidak masuk 3 hari saja!” Protes Hana.

“…” Dari arah belakang Yoshiki hanya berjalan mengamati istrinya yang degan akrab kembali bersosialisasi dengan teman-temannya.

“Hebat sekali kamu minggu menuju ujian malah tidak masuk,” Hana kembali dicerca.

“Ya makanya aku hari ini masuk sebelum tertinggal terlalu banyak kan.”

“Omong-omong nanti ada kuliah tamu dari Profesor dari Rusia, mau ikut?”

“Waaah! Ikut ikut!”


.


“Tidak kusangka dosen waliku akan secemas itu setelah bolos 3 hari,” lesu Hana setelah keluar dari ruangan seorang dosen.

“Dia hanya terlalu khawatir saja,” respon Yoshiki santai dari arah belakang.

“Memangnya semua ini salah siapa aku sampai bolos 3 hari?” Hana mencibir dan melirik Yoshiki dengan kesal, “aku sampai tertinggal banyak materi.”

“Bukankah sudah kubilang kita bisa belajar bersama jika kau ingin. Aku akan mengajarimu lebih banyak sampai kau mengerti?”

Hana hanya menggembungkan pipinya kesal.

“Ayo segera pulang, aku akan mengajarimu.”

“Eh tidak bisa, aku berencana akan ikut kuliah tamu professor yang dari Rusia,” jawab Hana polos.

“Jam berapa?”

“Sekitar 2 siang nanti.”

“Kau tidak ingin makan siang dulu?”

“Hmmm…” Hana menjawab polos, “aku ingin soba di kantin.”

“Tentu, mari kita makan.”

“Tunggu dulu, aku masih marah dengan Yoshiki-kun loh. Jangan berharap Soba saja bisa menenangkanku.”

Yoshiki terkekeh kecil, “rencanaku gagal.”

“A-apa? Yoshiki-kun serius mau menyuapku dengan soba?”

.

Yoshiki mengotak atik ponselnya dengan malas di tengah-tengah sebuah kelas kuliah tamu yang dihadiri oleh seorang professor dari Rusia. Kuliah tamu adalah sebuah kelas di mana dosen pengajarnya berasal dari luar.

“Yoshiki-kun hormati professor-nya sedikit saja, jangan bermain ponsel,” guman Hana kesal.

“….” Yoshiki meletakkan ponselnya sejenak sebelum mengehela nafas, “memangnya kau paham apa yang dijelaskan dari penelitian professor itu?”

Seketika itu Hana menoleh ke arah Yoshiki dengan wajah polosnya dan menggeleng konyol, “tidak tau. Tapi keren sekali professor dari Rusia.”

“Hn…” Yoshiki menghelaka nafasnya kembali seolah tebakannya benar.

“Memangnya Yoshiki-kun sendiri tau?” Hana menggembungkan pipinya kesal.

“Kau yakin bertanya padaku?”

Hana semakin kesal mendengar jawaban Yoshiki.

“Baik, apakah ada pertanyaan untuk Dimitri-sensei?” ucap MC mengakhiri sesi perkuliahan dan membuka sesi tanya jawab.

“Saya!”

Hana terkejut bukan main begitu seseorang yang entah siapa duduk di sampingnya mengangkat tangannya untuk mengajukkan pertanyaan. Rasanya melihat pandangan sang professor yang seperti melihat ke arahnya mampu membuat jantung Hana berdetak kencang karena gugup.


.


“Astaga keren sekali memang professor dari Rusia itu,” Hana belum bisa menghilangkan ketakjubannya bahkan setelah kuliah telah berakhir.

“Bagaimana bisa kau menyebut itu keren tanpa mengerti perkuliahannya?” Keduanya berjalan meninggalkan gedung perkuliahan.

“Kuroto-san! Kuroto-san benar?”

Panggilan itu lantas membuat keduanya menoleh ke belakang. Seketika mengetahui siapa sang pemanggil membuat Hana mengucek matanya untuk memastikan pandangannya benar. Namun tetap saja tidak aka nada yang berubah dari pandangannya.

‘Dimitri-sensei memanggil Yoshiki-kun!?’

“Hn?” Yoshiki merespon malas.

‘RESPON MACAM APA ITU!?’ Teriak Hana dalam hati.

“Wah benar Kuroto-san! Sudah lebih dari lima tahun sejak kita terakhir bertemu!” Pria dengan rambut yang mulai beruban itu dengan sumringah bicara dengan Bahasa Rusia pada Yoshiki.

“Masih 8 tahun,” lagi-lagi Yoshiki merespon dengan malas.

‘UWAAAGHH MEREKA BICARA BAHASA ALIEN!’ Hana merasa terasingkan dengan Bahasa keduanya.

“Let’s using English instead, looks like somebody didn’t understand what we are saying of,” Yoshiki melirik Hana.

“Oh, alirght. Then, who are you miss?” Intens Dimitri terarah pada Hana. Dan hal itu sukses membuat Hana gelagapan bukan main.

“N-Nice t-to meet you!” Bahkan Hana tidak bisa mengucapkan salam perkenalan dengan tepat saking gugupnya, “I’m Hana Rayu—”

“She is Hana Kuroto. My Wife.” Seketika Yoshiki memotong kalimat Hana yang hendak memperkenalkan dirinya dengan nama belakang lamanya.

“Your wife? Really? But she is not using a ring like you Kuroto-san,” dengan polos Dimitri menunjuk jari-jari Hana yang tak mengenakan apapun.

“…..” Yoshiki hanya terdiam setelah mengetahui jika Hana tidak mengenakan cincinnya kembali. “Maybe she just forgot to wear it today.”

“Hoo… nice to meet you too then Kuroto-san!” Dimitri menunduk sopan di depan Hana.

‘WAAAAAAA PROFESSORNYA HORMAT KEPADAKU!’ Hana malah sibuk tercengan.

“Moreover Kuroto-san, what are you doing here?”

“Take bachelor degree again.”

“EEEEEHH—” Pria setengah abad itu Nampak terkejut, “w-why?”

“Just want to. You change your subject research Dimitri? Last time I see you, you are working on Cancer Cell right?”

“Yah, I found Biochemistry kinda interesting,”

Hana hanya terperanggah melihat Yoshiki yang sedang asyik mengobrol ria dengan professor yang membuatnya takjub. Suami-nya itu memang luar biasa luar dan dalam.

‘Kan dia memang Lucifer! Dari situ saja sudah luar biasa sekali!’ Ucapnya kesal dalam hati.

“Then, it’s pleased to meet you again Kuroto-san,” Dimitri mengundurkan dirinya sopan, professor itu bahkan juga menundukkan kepalanya sopan pada Hana, membuat perempuan itu kembali salah tingkah.

“Yoshiki-kun kenal Dimitri-sensei!?” Hana tak bisa menahan pertanyaan itu untuk diucapkan begitu sang professor menghilang di balik belokan.

“Dia rekan satu laboratoriumku dulu saat mengambil gelar Ph. D di Afrika. Kita sama-sama memiliki research tentang suatu penyakit kekuarangan protein di Afrika,” jelas Yoshiki santai.

“Hana! Hana kan!” Sebuah suara yang familiar bagi keduanya memaksa keduanya menoleh ke sumber suara. Seketika pandangan Yoshiki tidak bisa tenang.

“Keigo-kun! Keigo-kun bagaimana keadaanmu?”

“….” Yoshiki hanya menatap datar ketika keduanya berlarian saling menyambut. 

“Hn, sayang sekali kau masih hidup, padahal aku sangat menantikan untuk bertemu denganmu di neraka,” ucapan sarkastik dari Yoshiki lantas mengusik keduanya.

“Lucifer! Sudah cukup! Lepaskan dia!” Keigo melangkah maju seolah melindungi Hana.

“Hahaha….” Tawa konyol keluar dari bibir Yoshiki, “kau pikir berapa lama aku menantikannya? Lebih dari berabad-abad. Sejak dalam kandungan, setiap hari aku selalu mengamatinya, menjaganya, dan sekarang aku harus menyerahkannya kepada pria lain? Yang benar saja!”

“Kau hanya mengincar segel kekuatanmu padanya! Jangan berle—ugh!” merasakan sakit yang menusuk pada lukanya, Keigo terpaksa menghentikan kalimatnya.

“K-keigo-kun!” Khawatir dengan keadaan Keigo, lantas Hana segera membantu pria itu untuk duduk.

“Haha…” lagi-lagi sebuah tawa konyol keluar dari bibir Yoshiki, “lihatlah tubuhmu yang bahkan tidak bisa digunakan untuk berteriak itu. Sekali lagi kau muncul di hadapanku aku tidak bisa menjamin kepalamu masih akan menempel pada badanmu atau tidak, ayo My Lady!” ditariknya paksa tangan Hana untuk meninggalkan Keigo.

“T-Tunggu! Tidak! Keigo-kun,” susah payah Hana melepaskan dirinya dari cengkraman tangan Yoshiki yang menyakitkan, “lepaskan Yoshiki-kun! Keigo-kun membutuhkan bantuan untuk memeriksa dirinya! Biarkan aku mengantarkannya ke rumah sakit setidaknya! Urggh!”

“….” Yoshiki terdiam seketika.

‘Aku juga membutuhkan bantuanmu, kita bahkan belum menyelesaikan ritual pertukaran darah,’ Yoshiki tersenyum kecut.

“Sensei! Sensei!” Terdengar suara gaduh dari arah lorong di mana Keigo ditinggalkan.

“Dia sudah ditolong, sekarang kita pulang. Ujian sudah di depan mata My Lady. Kau harus belajar.”

Dengan enggan, Hana mengikuti tarikan paksa Yoshiki sebelum tangannya remuk oleh cengkraman tangan pria itu.


.


“Salah. Dipecah dulu dan dibuat turunannya terlebih dahulu,” Yoshiki menyerahkan kembali hasil pekerjaan Hana.

“…” Hana hanya meraih bukunya kembali dengan enggan.

Kedua onyx gelap Yoshiki hanya memandang Hana yang dengan enggan kembali mengerjakan, “… ada apa? Kau terlihat tidak fokus sama sekali.”

“Ah? Umm…” Hana hanya menjawab pertanyaan Yoshiki dengan sebuah gumanan sementara tangannya terus bergerak mengerjakan soal.

“…” pandangan Yoshiki mengosong beberapa saat begitu menyadari alasan kenapa Hana tidak fokus sama sekali, “menyebalkan sekali, padahal yang ada di hadapanmu adalah aku namun kau hanya memikirkan si sialan itu.”

Kedua sapphire Hana setengah terbelalak mendengar ucapan Yoshiki yang seolah bisa membaca pikirannya, “sudah, aku tidak tau bagaimana hasilnya karena angkanya aneh,” Hana menyodorkan kembali jawabannya untuk diperiksa Yoshiki.

“Seharusnya saat itu aku membunuhnya saja,” diambilnya jawaban Hana. Namun di sana tidak ada perubahan apapun yang signifikan.

Tidak ada jawaban keluar dari mulut Hana.

Yoshiki menutup buku Hana dibarengi dengan helaan panjang, “kita sudahi saja. Kau tidak akan bisa mengerjakan apapun jika tidak fokus. Dan aku—” namun Yoshiki tidak melanjutkan kalimatnya, pria itu hanya bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan.

‘—juga tidak bisa melihatmu yang hanya memikirkan si sialan itu.’

Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.