CHAPTER 55: WIND RUNAWAY
“Cincinnya—” Hana sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi. Benda plastik itu sudah remuk tak berbentuk di lantai.
“Hn, kau sedih karena benda cincin murahan itu kuhancurkan? Ayolah My Lady, aku bisa membelikanmu berapa banyak yang kau mau. Lagipula, bukankah cincin ini lebih mahal?” Yoshiki kembali mendekati Hana untuk meraih tangan wanita itu, berniat memasangkan kembali cincin pernikahannya, “sebaiknya kau mengenakannya My Lady, aku sungguh tidak nyaman saat melihat kau melepaskannya.”
Namun Hana segera menepis tangannya.
“Hn…. Lihat siapa yang mulai membangkang sekarang?” Bagai sudah kehilangan akal, Yoshiki menahan kedua tangan Hana pada sofa dan menghimpi wanita itu.
“Kau kesal?”
Hana hanya memalingkan wajahnya.
“Kalau begitu bagaimana denganku My Lady?” Nada dingin terdengar dari mulut pria itu. “aku membawamu sejauh ini ke Eropa, berusaha membuatmu melupakan segala hal di Tokyo termasuk si sialan itu, namun siapa yang akan menyangkan jika kau akan diam-diam bertemu si sialan itu di tengah bulan madu kita?”
“Yoshiki-kun sendiri yang memaksakan bulan madu ini!”
“Hn…. Sekarang kau bermaksud mengatakan jika bulan madu ini sama sekali tidak sesuai keinginanmu?”
“Bagaimana ini bisa sesuai keinginanku jika dari awal Yoshiki-kun yang sudah memaksa!?”
Yoshiki terdiam.
Wajah bahagia Hana yang mengangguk ragu dan berujar jika ia senang melihat Menara eifel, wajah lucu Hana saat begitu menikmati berbagai sajian makanan, wajah terpukau Hana kala berada di kastil Versailles, semuanya terlintas di benak Yoshiki.
“Begitu…?” Nada yang digunakan pria itu terasa sangat berat.
Hana hanya mampu melirik wajah pria itu. Rasa bersalah seperti menguasai wajah kaku pria itu.
“Haha…” pria itu terkekeh.
Seketika kengerian menjalar di seluruh tubuh Hana. Yoshiki sudah kehilangan kewarasannya.
“Baiklah baiklah, kita akhiri saja bulan madu konyol ini. Kita pulang,” sembari tertawa lepas, pria itu melepaskan rengkuhannya, “bersiaplah, kita akan segera kembali ke Tokyo.”
.
Sekarang di sinilah Hana berada. Ruang tunggu bandara. Duduk degan segala kekacauan dalam pikirannya.
“Benar. Malam ini aku akan tiba di Tokyo. Hanya sebuah kekacauan kecil. Tentu. Aku ingin melihat kualitas turbinnya sendiri—” sementara itu Yoshiki yang berdiri tidak jauh darinya masih sibuk dengan urusannya. Bagaimana mungkin dia menyebut kekacauan besar ini sebagai kekacauan kecil? Hana tidak habis pikir.
“Aku mau ke toilet,” pamit Hana begitu berdiri.
Yoshiki terkekeh kecil, “Hn, apa ini? Strategi kabur dariku? Kau berpura-pura ke toilet padahal sebenarnya si sialan itu sudah menunggumu entah dimana untuk membawamu pergi dariku?”
Hana menatap jengah, “aku bahkan tidak menghubungi Keigo-kun sama sekali!”
“Keigo-kun…” Yoshiki mengulang bagaimana Hana menyebut sang sahabat dengan nada megejek.
“Terserah,” kesal. Tanpa peduli lagi Hana meninggalkan Yoshiki.
.
Helaan nafas keluar dari mulut Helaan itu begitu berat seolah bisa mengalahkan bunyi pancaran air dari kran yang ia gunakan untuk membasuh kedua telapak tangannya.
Dipercikkannya sedikit air pada wajahnya. Pantulan wajahnya pada cermin benar-benar parah. Wajahnya benar-benar kusut.
“Hana!”
Perempuan itu terkejut. Namanya dipanggil tiba-tiba dari belakang oleh seorang pria.
“Keigo-kun!?”
“Ssst! Jangan keras-keras. Ayo ikut!”
“Tunggu! Kenapa Keigo-kun tau aku di sini?”
“Aku bersama teman exorcist yang membantuku berusaha mencarimu karena kemarin malam kamu tidak datang. Nah, ayo! Kita tidak punya banyak waktu! Iblis itu akan menyadari banyak hal jika kita membuang-buang waktu!”
Hana terdiam. Kedua matanya tidak berkedip sama sekali.
Hana tidak hanya merasakan firasat buruk. Tapi semua hal yang pernah terjadi selama ini membuatnya enggan menyetujui rencana Keigo. Bayangan bagaimana Kuroto Yoshiki akan menggila dan menghancurkan setiap makhluk hidup yang meghalanginya bisa ia bayangkan dengan sempurna.
Sudah berapa kali ia berusaha kabur dari Yoshiki? Dan sudah berapa nyawa ia korbankan karena keegoisannya?
‘Kau berpura-pura ke toilet padahal sebenarnya si sialan itu sudah menunggumu entah dimana untuk membawamu pergi dariku?’ Ucapan penuh sindiran dari Yoshiki kembali terngiang pada indra pendengarannya.
Hana menggeleng lemah, penuh ketakutan, “tidak, Keigo-kun.”
“Kamu kenapa Hana? Waktu kita sempit!”
“Dia akan mencelakaimu! Aku tidak ingin ada siapapun yang menderita lagi!”
“Tidak aka nada yang celaka Hana! Ayo!” Keigo sudah kehilangan kesabaran, pria itu meraih tangan Hana, berusaha menariknya, “semakin kita membuang-buang waktu di sini justru membuat kita semakin celaka!”
Hana kembali menggeleng, “tidak Keigo-kun! Tidak, Dia sudah membuat Keigo-kun operasi sekian banyak kali! Berikutnya bisa lebih parah lagi!”
GREB
Pria itu merengkuh Hana dalam pelukannya.
“Percayalah, aku sudah merencanakan semuanya dengan baik.”
Kalimat itu seolah menjadi penghibur tersendiri bagi Hana.
“Nah, ayo. Kita berpacu dengan waktu. Kesuksesan rencana ini juga bergantung dengan timing yang kita ambil. Kau mau kan, Hana?” Pria itu menatap lekat-lekan kedua sapphire Hana.
Hingga akhirnya sebuah anggukan diberikan.
“Bagus, ayo.” Tanpa mengambil waktu lebih banyak lagi, Keigo memberikan tasnya, “ganti pakaianmu, di dalam juga ada wig dan topi, kenakan semuanya. Kita sudah menghabiskan cukup waktu tadi. Kuharap kamu bisa berganti pakaian lebih cepat.”
Hana melakukan semua perintah Keigo. Dilucutinya semua pakaiannya dan berganti dengan set pakaian baru. Sebuah keuntungan dari rambut pendeknya, ia bisa mengenakan wig dengan lebih mudah.
“Kau terlihat manis dengan rambut panjang, haha,” Keigo setengah terkekeh melihat Hana yang baru saja keluar dari bilik toilet dengan penampilan barunya.
“Berisik ah!” respon Hana kesal, “lihat dirimu yang pria tapi malah masuk toilet perempuan tanpa malu! Memangnya tidak takut kalau ada yang masuk?”
“Aku sudah pasang tanda toilet sedang dibersihkan di luar. Juga ada temanku yang berjaga. Ah, pakaian lamamu bisa ditinggal saja. Aku tidak ingin mengkhawatirkan jika ada penyadap di dalam sana.”
Setelah meletakkan pakaian lamanya Hana mengikuti Keigo meninggalkan toilet. Dan benar saja, begitu ia keluar dari toilet, sosok exorcist yang ia temui beberapa hari lalu telah bersiaga.
“Segera masuk ke gerbang keberangkatan. Kalian sudah menghabiskan terlalu banyak waktu. Iblis itu sudah was-was,” ucap sang exorcist.
“Terima kasih banyak Nikole! Aku pasti akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti!”
“Ya itu suatu hari nanti saja, sekarang cepat pergi sebelum iblis itu curiga! Ini sudah hampir 20 menit!”
Keigo mengangguk mantap.
“Ayo Hana,” ditariknya tangan sang perempuan untuk berlari ke gerbang keberangkatan.
“2 gerbang keberangkatan bandara ini hari ini sedang masa renovasi, maka beberapa penerbangan gerbangnya akan dijadikan satu. Nikole membantuku membuat passport palsu. Setiap gate keeper yang akan kita lewati adalah bagian dari exorcist network. Jadi kamu tidak perlu khawatir rencana ini gagal. Aku sudah memikirkan berbagai rencana cadangan. Karena bagaimanapun lawan kita adalah iblis mahakuasa, si Lucifer itu sendiri,” Keigo menejlaskan sembari terus menarik Hana menuju penjagaan.
“Saya Keigo Yasumoto dari exorcist, saya membawa Rayumi Hana,” ujar Keigo tanpa menunjukkan passport dan visanya.
“Oh Yasumoto-san, baiklah silahkan. Semoga selamat sampai tujuan,” ucap sang penjaga.
Tanpa banyak kata lagi, Keigo segera menarik Hana menuju landasan pacu. Menaikki sebuah pesawat dengan kelas bisnis. Hana bahkan tidak tau kemana tujuan penerbangan pesawat ini. Yang ia tau hanya begitu keduanya masuk, pintu pesawat segera ditutup, seolah mereka adalah penumpang terakhir.
“Kita akan kemana Keigo-kun?” Akhirnya Hana memberanikan diri untuk bertanya begitu pesawat benar-benar lepas landas. Tak bisa ia pungkiri selama pelariannya jantungnya terus berdetak kencang tanpa henti. Ketakutannya terhadap Yoshiki benar-benar nyata. Namun akhirnya ia bisa menghela nafas panjang setelah pesawat berhasil lepas landas tanpa ketahuan oleh Yoshiki.
Keigo mengeluarkan beberapa lembar tiket pesawat dari sakunya, seolah sengaja memperlihatkan itu pada Hana.
Melihat itu tentu saja Hana terkejut, “astaga banyak sekali. Ini penergbangan ke berbagai negara… Brazil…. Israel…. Findlandia….Korea Selatan…. Australia… dan lagi namanya beda-beda semua, dan bukan nama kita berdua.”
“Itulah rencananya. Aku membeli banyak penerbangan untuk kita berdua dengan nama berbeda-beda untuk mengecoh penelurusan iblis itu nanti.”
“Tapi bagaimana bisa? Nama di passport bagaimana?”
“Exorcist membantu kita berdua. Tapi hanya sampai pada taraf ini karena mereka juga sebenarnya sedang kesusahan.”
“Tapi Keigo-kun membeli semua tiket ini sendiri?”
“Ya,” Keigo mengangguk singkat.
Hana terdiam beberapa saat, ia yakin semua tiket penerbangan untuk pengecoh ini semuanya berharga 73000 Yen (10 Juta IDR) ke atas.
Merasakan keraguan Hana, Keigo menimpali, “tidak apa, itu harga yang pantas untuk mengecoh Lucifer. Jangan dipikirkan ok? Aku masih memiliki sisa tabungan untuk hidup kita berdua nanti.”
Keigo tersenyum lembut melihat wajah Hana yang masih terdiam menyedihkan, “hei bukankah sudah kubilang untuk tidak dipikirkan? Tenang saja, setelah sampai Australia, exorcist sudah menyiapkan sebuah apartemen sederhana. Namun kita tidak bisa terlalu berharap karena seperti kataku sebelumnya, mereka juga sedang kesusahan.”
Sebuah air mata yang sedari tadi mengumpul pada pelupuk matanya akhirnya terjatuh pada tiket-tiket yang hampir lusut pada genggaman emosionallnya. Diiringi suara isakan kecil yang tertahan, tubuh itu gemetar nampak begitu rapuh.
Kedua iris Keigo melebar mengetahui hal itu, tubuh pria itu pun kehilangan kendali, tanpa sadar ia merengkuh tubuh gemetar di sampingnya, seolah ingin merasakan penderitaan yang dirasakan tubuh kecil itu.
Hana sendiri tidak tau. Ia merasakan kebahagiaan dari suatu kebebasan akan kebohongan yang selama ini menyelimutinya oleh Yoshiki. Namun di suatu sisi ada bagian dari dirinya yang menyesali keadaannya saat ini dan mempertanyakan, apakah dengan begini ia benar-benar akan berpisah dari Yoshiki?
Ia hanya bisa terisak di balik rengkuhan Keigo. Hingga kedua kelopak matanya terkatup lelah. Ia tertidur.
.
“Hahaha…” Yoshiki tertawa dalam nada beratnya. Telapak tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Pria itu terus tertawa seolah menertawakan dirinya sendiri.
Sudah hampir setengah jam sejak Hana terakhir izin untuk menggunakan toilet. Sampai detik ini ia sama sekali tidak melihat batang hidung perempuan itu.
Padahal ia sudah mencoba untuk mempercayai ucapan Hana. Membiarkan perempuan itu pergi tanpa ada pengawasan apapun. Mencoba memberikan perempuan itu kebebasan setelah ia sadar apa yang ia lakukan kemarin berlebihan.
“My Lord, kami menemukan mantel dan pakaian My Lady dibuang di toilet,” seorang pelayan datang membawa tumpukan pakaian Hana.
Yoshiki hanya memberikan tatapan datar, “si sialan itu cerdik juga.”
Tangannya membongkar isi saku pada mantel Hana dan menarik sebuah pemancar sinyal. Pemancar yang sudah ia siapak dengan harga fantastis yang tetap bisa memancarkan sinyal berfrekuensi rendah walau pada jarak sejauh diameter bumi ini menjadi sia-sia.
“Cari tau kemana penerbangan mereka.”
“Kami melakukan yang terbaik My Lord,” ucap sang pelayan agak ragu.
“Apa maksudnya?”
“Kami sudah melakukan pencarian sesegera mungkin setelah menemukan pakaian My Lady. Namun sepertinya My Lady pergi dengan menggunakan nama palsu.”
“Apa?” Kedua alis Yoshiki mengernyit, “si sialan itu! Periksa CCTV!”
“Sudah kami lakukan juga My Lord. Hanya saja kita mengalami kesulitan karena bandara ini sedang renovasi menyebabkan beberapa penerbangan hanya melewati satu gerbang saja. Ditambah My Lady menggunakan penyamaran yang tidak bisa kami perkirakan.”
“My Lord, jet pribadi sudah siap,” pelayan yang lain muncul dengan sebuah informasi.
Yoshiki terdiam sejenak setelah berdecak kesal, “lanjutkan pencarian. Jika sampai malam ini kalian masih tidak tau ke mana penerbangan My Lady, leher kalian yang akan jadi taruhannya.”
Semua pelayan yang mendengar hal itu tidak bisa menahan bulu kuduk mereka untuk berdiri. Ancaman tuan mereka tidak pernah main-main.
“Kita kembali ke Jepang. Aku memiliki janji.”
“Yes, My Lord.”
.
Setelah satu hari penuh penerbangan yang melelahkan Hana dan Keigo jalanin, pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mendarat di bandara Sydney Kingsford Smith.
“Anda Keigo Yasumoto dan Hana Rayumi?” Seorang pria dengan setelan jas rapih beserta berbandana lengan bertuliskan F-772 seketika menyambut keduanya begitu turun dari pesawat.
“Benar, saya Keigo Yasumoto dan ini Hana Rayumi,” Keigo memperkenalkan dirinya dan Hana.
“Salam kenal, saya F-772, exorcist yang bertugas mengantar kalian dan mungkin membantu kalian selama di Australia ini,” sosok dengan rambut pirang tebal itu balik memperkenalkan diri.
“Terima kasih, mohon bantuannya,” Keigo berojigi.
“Silahkan kemari,” F-772 mengarahkan keduanya pada gerbang pemeriksaan.
Sebuah negosiasi ringan dilakukan antara sang exorcist dan sang penjaga gerbang sebelum akhirnya ketiganya berhasil keluar bandara tanpa ada masalah.
“Apartemennya berjarak 20 menit dengan mobil, mungkin kalian bisa beristirahat sejenak setelah penerbangan kalian yang panjang,” ucap F-772 begitu ketiganya telah memasuki mobil. F-772 duduk di samping kursi kemudi sementara Keigo dan Hana duduk di belakang.
“Ah terima kasih,” ucap Keigo ramah.
“Maaf hanya saya yang berperingkat 772 yang menjadi pembantu kalian selama di sini, padahal di sini ada nona Rayumi Hana si pemegang segel. Australia sendiri sebenarnya punya peringkat 9. Tapi sepertinya beliau sedang bertugas di pusat setelah kekalahan exorcist kemarin.”
“Ah tidak apa-apa. Kami mengerti. Dibantu dalam pelarian ini saja kami sudah sangat berterima kasih.”
“Pasti susah ya?” Sang exorcist tiba-tiba membawa topik yang memberatkan udara.
Hana yang sedari tadi memutuskan untuk membisu sebagai bentuk penghakimannya sendiri, sekarang semakin menudukkan kepalanya.
“Mau bagaimana lagi, lawan kita Lucifer.”
“Hmmm… maksudku pasti susah ya menghadapi petinggi?”
“Ah itu, saya sebenarnya hanya exorcist non peringkat. Saya dibantu oleh teman dari Paris. Dia yang menyediakan jalur melarikan diri. Semuanya diarahkan oleh dia.”
Untuk beberapa saat F-772 hanya diam, namun ia kembali berbicara, “syukurlah…”
Entah karena lelah karena penerbangan atau karena memikirkan bebannya, kepala Hana sudah tersandar pada bahu Keigo dengan kedua matanya terpejam. Hana tertidur.
“Benar…. Syukurlah,” Keigo mengangguk lega.
“Karena sejujurnya seluruh peringkat atas di negara ini sudah tidak mampu mengurusi hal ini. Entah mereka fokus pada pemulihan diri, atau mereka sudah enggan berurusan dengan Lucifer. Pengecut. Padahal kita tidak boleh semudah itu menyerah pada iblis. Prinsipku, bila ada suatu kesempatan untuk menghancurkan iblis, bahkan sekecil apapun itu, aku pasti akan melakukannya.”
“F-772 anda sangat bersemangat ya…”
“Andai peringkatku bisa lebih tinggi lagi. Andai Abschleppen Geist ku bukan sebuah jarum.”
0 komentar:
Posting Komentar