Senin, 25 November 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 37]

CHAPTER 37: BITTER PAST

Dengan cekatan Keigo segera menarik tangan Hana. Membuat sang empunya tangan tak bisa berkutik selain mengikuti kemana saja sang penarik pergi.
Yoshiki tentu saja tak akan diam saja membiarkan istrinya diseret pergi.
Drama perembutan seorang mahasiswi tomboy itu lantas membuat seluruh mahasiswa di tempat itu bertanya-tanya. Siapa sebenarnya Hana? Kenapa dosen terluarbiasa baik bisa seperti kenal lama dengannya? Kenapa mahasiswa tertampan bisa begitu menyukainya? Topik pembicaraan mahasiswi julit untuk seminggu kedepan sepertinya tidak akan jauh-jauh dari dua hal itu.
Di lain pihak Hana telah duduk di dalam mobil Keigo Yasumoto dengan tak kalah bingung. Mobil itu dikemudikan dengan kecepatan bagai kejar-kejaran mobil dalam film.
Hana tak sebodoh itu untuk menyadari jika Keigo Yasumoto menyetir dengan terburu-buru lantaran mobil yang sangat familiar bagi Hana nampak terus berusaha menyusul bahkan menyalip mobil Keigo Yasumoto. Mobil siapa lagi itu jika bukan mobil Yoshiki?
Sambil menolehkan wajahnya ke belakang untuk mengecek kondisi mobil Yoshiki yang nampak ngotot mengejar, Hana berujar panik, “a-anu Keigo-kun sebenarnya ada apa? Kenapa Keigo-kun bisa mengenal Yoshiki-kun? Dan kenapa Keigo-kun seperti membawaku lari? Yoshiki-kun mengejar di belakang! Kecepatan ini juga seharusnya bisa memanggil polisi berdatangan loh!”
“Seharusnya aku yang bertanya kepadamu Hana. Kenapa kamu bisa terpikat olehnya?” Tak berpaling dari kemudinya, Keigo balik bertanya.
“M-Maksudnya? Keigo-kun masih mempermasalahkan hal itu? Bukankah Keigo-kun yang pergi meninggalkanku sendirian!?”
“Dia yang mengirimku pergi.”
“D-dia?”
“Siapa lagi jika bukan Kuroto Yoshiki.”
Hana terperenjat, “t-tunggu, apa maksudnya itu Keigo-kun? Kenapa tiba-tiba Yoshiki-kun?”
Keigo Yasumoto menghelakan nafasnya berat, bersiap menceritakan sebuah kisah naas di tengah pelarian keduanya dari kejaran Yoshiki.
“Kakakku adalah Exorcist.”
Kedua mata Hana melebar mendengar kalimat awal dari kisah naas Keigo.
“Waktu itu, sepuluh tahun lalu, di mana usiaku hanya empat belas tahun, ayah tiba-tiba dipindah kerjakan ke area Timur Tengah. Ayah sudah berusaha menolak pemindahan tugas yang mendadak dan tak beralasan itu. Namun ayah tidak bisa terus keras kepala jika masih menginginkan pekerjaannya. Maka pindahlah kami sekeluarga.
Namun kakakku mengatakan hal aneh yang tak kupahami waktu itu. Ini semua pasti ulah Lucifer. Lucifer sang iblis besar itu. Begitu kutanyakan mengapa bisa Lucifer ikut campur urusan keluarga, kakak menjawab karena aku dekat denganmu. Denganmu yang memiliki kekuatan Lucifer yang tersegel,” pandangan Keigo Yasumoto sepenuhnya tertuju pada kedua bola mata Hana begitu ia member jeda pada ceritanya.
Hana tak mampu berkata-kata apapun untuk merespon cerita awal Keigo. Ia hanya terdiam dengan pikirannya sendiri.
“Masih ada kelanjutannya dari cerita kakak. Tentang kebenaran kecelakaan pesawat kedua orang tuamu.”
Begitu mendengar itu Hana merespon cepat, “Ada apa dengan kecelakaan orang tuaku Keigo-kun!? Jelaskan padaku!”
Keigo memejamkan matanya sejenak, menimbang-nimbang untuk menceritakan atau tidak, namun akhirnya keputusannya telah bulat, “Lucifer, atau pria yang kamu kenal dengan nama Kuroto Yoshiki itulah pelakunya.”
Nafas Hana seolah tertahan.
“Orang tuamu adalah Exorcist berperingkat puluhan saat itu. Dengan Lucifer yang kehilangan kekuatannya, sepertinya ia mengurangi bentrokan secara magis. Oleh sebab itu dengan kepala cerdiknya ia mengatur supaya beberapa Exorcist diterbangkan ke China yang memiliki konflik, yang mana konfliknya sendiri adalah bagian dari rencananya juga. Orang tuamu diterbangkan dengan pesawat naas itu bersama beberapa exorcist lain. Di tengah perjalanan ia meledakkan bom-bom yang sudah ia siapkan. Ia tidak menyuruh orang lain untuk memastikan rencananya berjalan lancar. Maka ia sendiri yang menyusup ke dalam pesawat. Bom bunuh diri itu menewaskan seluruh penumpang pesawat. Begitu semua jenazah teridentifikasi, ada salah satu yang menghilang. Begitu dicek pada rekaman pemindai, orang yang menghilang itu memiliki spectrum warna yang berbeda dari manusia. Maka diketahuilah jika pelakunya adalah Lucifer itu sendiri.”
Begitu penjelasan Keigo berakhir, Hana harus berusah payah menelan ludah karena tenggorokannya yang tiba-tiba kering, “t-tunggu…. Kenapa Yoshiki-kun harus melakukan itu?”
“Exorcist, terlebih kedua orang tuamu memang harus dibunuh demi kemudahan mendapatkanmu! Dialah pembunuh kedua orang tuamu Hana! Dia juga yang telah memisahkan kita karena ia menganggapku sebagai ancaman!”
Hana tenggelam dalam kekacauan pikirannya.
“Dia Lucifer! Dia akan melakukan apapun demi mendapatkan kekuatannya kembali!”
“…. Hentikan mobilnya Keigo-kun,” suara Hana yang hampir seperti bisikan itu tenggelam dalam bisingnya jalanan dan suara deru mobil Keigo.
“A-apa?” Keigo yang nampak fokus pada kemudi dan pedal gasnya nampak tak berhasil menangkap permintaan Hana.
“Aku mohon, Keigo-kun, hentikan mobilnya!” Kali ini Hana juga mencengkram tangan kiri Keigo.
CKIIIIIIIITTTTT!!!
Tanpa banyak permohonan lagi, Keigo menginjak pedal rem mobilnya. Menghentikan paksa mobil yang tadinya melaju dalam kecepatan 100 km/jam itu di tengah-tengah sebuah jembatan yang menjembatani sebuah waduk raksasa.
Dari arah belakang sebuah Audi gelap yang dikemudikan Yoshiki dengan cekatan juga menghentikan lajunya.
Wajah Hana yang luar biasa kacau keluar dari mobil Keigo. Air mata nampak memenuhi kedua pipinya. Rambut pendeknya secara acak-acakan menutupi seperempat wajahnya. Mendapati hal itu, Yoshiki dengan perasaan tak kalah berkecamuk keluar dari mobilnya.
“My Lad—“
“Sudah cukup!”
Yoshiki terdiam.
Akhirnya hal yang paling ia takutkan selama ini terjadi. Dengan kedatangan Keigo yang tak berhasil Yoshiki ketahui akan membawa bencana dalam kehidupannya yang tertata rapi.
“Dia sudah tau semuanya, Lucifer,” Keigo Yasumoto—orang yang paling Yoshiki hajar saat ini—muncul dari balik mobilnya dengan tenang.
Yoshiki terdiam tak mengucapkan apapun. Namun perlahan tangannya terjulur terbuka.
“My Lady, kembalilah,” tak bisa disembunyikan, sebuah nada berat dan penuh kesesakan keluar dari mulut Yoshiki.
Hana menggeleng kuat. Isakannya seolah ia tahan kuat-kuat. Ingus yang merembes keluar dari hidungnya pun ia tarik kembali.
“Aku lelah Yoshiki-kun. Terlalu banyak yang Yoshiki-kun sembuyikan dariku. B-Bahkan…. Sekarang aku tau j-jika…. Orang yang aku cintai, suamiku, adalah pembunuh kedua orang tuaku!” Isakan Hana pecah tak tertahankan sekarang.
Dengan segala luapan emosi, Hana mencabut sebuah cincin dari jari manisnya. Detik berikutnya Hana sudah melemparkan cincin pernikahannya ke arah waduk.
“!!!!” Kedua mata gelap Yoshiki melebar melihat benda silinder berlubang itung melayang bebas sebelum akhirnya tercelup ke dalam air yang cukup dalam.
“Ayo masuk Hana,” Keigo yang merasa iba dengan Hana meraih lengan Hana untuk mengajaknya kembali masuk ke dalam mobil.
BWOOOOOOSSSHHHH!
SWUUUUNGGGGH!
Gemuruh yang luar biasa tercipta begitu saja.
Kejadian berikutnya terjadi luar biasa cepat. Namun entah insting apa yang sudah menggerakkan Hana. Perempuan berambut pendek itu telah merentangkan kedua tangannya lebar-lebar melindungi Keigo
 Sementara di hadapannya sang suami telah dalam wujud yang bukan dirinya selama ini. Sebuah sayap hitam pekat merekah di balik punggungnya. Cakar-cakar hitam tajam panjang dari sosok suaminya berhenti tepat beberapa inchi saja dari dahinya. Dan tak bisa dipungkiri aura gelap yang dipancarkan oleh suaminya benar-benar mampu membuatnya terkencing di celana jika Hana tak menahannya. Aura yang luar biasa menekan itu seolah memperlihatkan kutukan, kebencian, dan kemarahan. Begitu luar biasa sampai timbul riak air pada danau dan menyebabkan getaran di berbagai tempat bagai gempa.
“Tidak Yoshiki-kun. Aku tidak akan membiarkanmu membunuh Keigo-kun,” ucap Hana yakin dengan tatapan tak gentarnya.
Yoshiki tersenyum tipis di balik gelapnya aura yang sudah seperti menelannya. Namun senyum itu hanya terjadi dalam beberapa detik saja, “My Lady, berselingkuh di hadapan suamimu adalah tindakan buruk kau tau.”
“Aku tau. Namun maaf,” Hana menundukkan wajahnya sekilas, “…. Aku bukan istrimu lagi.”
Yoshiki terhenyak.
“Kau bodoh My lady. Lebih memilih exorcist lemah sepertinya daripada aku. Lucifer. Lucifer yang memiliki segalanya!”
“Kamu memiliki segalanya karena kamu memang merebut segalanya! Termasuk orang tua Hana! Dasar iblis!”
“DIAM!” Yoshiki menatap dingin Keigo yang sudah seenaknya menyerang balik kalimatnya, “aku bisa menghancurkanmu berkeping-keping dari sini. Tidak hanya kau, asset keluargamu, bahkan keluargamu bisa kuhancurkan hanya dalam satu perintah saja.”
“Hentikan Yoshiki-kun!” Hana sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Air mata sudah menganak sungai pada pipinya.
“….” Yoshiki terdiam beberapa saat menatap betapa kacaunya isrinya.
“Yoshiki-kun… sebenarnya kenapa bisa seperti ini? Kenapa semua jadi serumit ini?” Tanya Hana di tengah isakannya.
“Kenapa Yoshiki-kun harus membunuh kedua orang tuaku? Kenapa Yoshiki-kun harus memisahkanku dengan Keigo-kun!? Kenapa…. Kenapa Yoshiki-kun melakukan semua ini kepadaku!? Kenapa kekuatan Yoshiki-kun harus berada di dalam diriku!?” Bagai orang yang kurang waras, Hana meracau tanpa henti.
“Percuma menanyakan itu kepada iblis sepertinya Hana. Dia akan memberikan jawaban-jawaban penuh tipu muslihat,” Keigo yang merasa iba dengan Hana berusaha menenangkan Hana.
“Tipu muslihat….” Hana berguman pelan, “Yoshiki-kun…. Tolong jawab yang satu ini sejujur mungkin….. Yoshiki-kun…. Apakah hubungan kita selama ini juga hanya sebuah tipu muslihat?”
Sebuah helaan nafas terdengar dari Yoshiki. Sayap hitam pekatnya yang tadi merekah lebar sekarang perlahan menutup dengan lemas, “menurutmu bagaimana? Apakah perasaanku kepadamu selama ini terlihat seperti tipu muslihat?” Yoshiki bertanya lemah dengan senyuman pahit terpatri jelas di wajahnya.
Hanya terhenyak karena kalimat dan ekspresi terlihat benar-benar sedih sekarang.
“Jangan dengarkan apapun kalimatnya Hana! Dia hanya sedang berusaha membuatmu bingung! Ingatlah jika adalah pemanipulatif ulung!” Dari arah belakang Keigo berusaha mengingatkan Hana.
“Aku mencintaimu My Lady.”
“JANGAN DENGARKAN IBLIS ITU HANA!”
“Aku harus memisahkanmu dari exorcist sialan di belakangmu itu karena tentu saja dia akan menjadi penghalang bagiku.”
“Menghalangi?” Hana bertanya lemah.
“Aku selalu mengawasimu My Lady. Setiap saat. Dari kelahiranmu, setiap waktu, kau tak pernah lepas dari pengawasanku. Berkali-kali menyamar dengan wajah dan penampilan berbeda dalam membantumu yang hanya manusia bodoh dan rentan dalam menjalani kehidupan. Aku tau cepat atau lambat exorcist akan menemukanmu yang membawa segel kekuatanku. Dugaanku itu benar. Kedua orang tuamu yang peneliti, Prof. Rayumi Tamaki ayahmu, dan Dr. Rayumi Shiho segera direkrut exorcist dalam tim Research. Aku harus melakukan sesuatu mengenai hal itu. Namun aku akui saat itu pikiranku sedang kacau semenjak menyadari ada seorang bocah laki-laki yang mulai dekat denganmu. Kau tau, kukira aku sudah gila saat itu. Begitu resah hanya karena seorang bocah mendekatimu.”
Hana menolehkan wajahnya kebelakang. Mendapati wajah Keigo yang mulai serius saat disebut-sebut bocah oleh Yoshiki.
“Yoshiki-kun…. Dari dulu aku sudah menyadari jika aku tidak akan mendapatkan kisah cinta yang indah. Aku tidak pernah berfikiran untuk dilamar oleh seorang pria… tapi mengetahui orang tuaku dibunuh oleh pria yang menjadi suamiku rasanya—“
“Aku melamarmu.”
Hana dengan cepat memalingkan kepalanya dari Keigo dan menatap Yoshiki dengan tidak percaya.
“Hari itu di pesawat, aku mengundang Prof. Rayumi Tamaki dan Dr. Rayumi Shiho ke ruang VVIP. Mereka duduk di hadapanku dengan wajah yang sangat tegang. Dan aku tau sekali jika exorcist sudah bersiap-siap menangkapku di luar…..

***

“Sial. Tidak disangka kita bisa kecolongan. Lucifer ada di pesawat ini, dan lebih parah lagi dia memanggil kedua orang tua Rayumi Hana.”
“Tidak apa-apa. Lucifer saat ini sangatlah lemah. Kita harus bisa memangkapnya.”
“Kedua Rayumi sudah memasuki ruang VVIP. Kita harus segera bersiap-siap,” sebuah komando terdengar. Dengan segera sepuluh orang exorcist berperingkat tertinggi yang berada di dalam burung besi itu berkumpul di area pintu ruang VVIP dengan Abschleppen Geist milik mereka masing-masing.
Kuroto Yoshiki terdiam dengan kedua kakinya ia silangkan, sementara kedua tangannya ia pertemukan jari-jarinya saja. Di hadapannya adalah kedua orang tua Rayumi. Sebuah senyum ia sunggingkan dengan sopan sebelum memulai kalimatnya.
“Terima kasih telah menerima undanganku, Mr. dan Mrs. Rayumi. Karena kalian sudah mengetahui identitasku, aku tidak perlu repot-repot memperkenalkan diri lagi.”
“Lucifer…” Tamaki tak bisa menahan desisan emosi dan kegugupannya.
“Benar. Lucifer. Namun namaku saat ini adalah Kuroto Yoshiki,” Yoshiki masih tak menghilangkan senyumannya.
“Apa maumu dari kami?”
Yoshiki membenarkan posisi duduknya menjadi lebih sopan untuk dipandang, “biarkan ini menjadi lebih formal sekarang. Mr. dan Mrs. Rayumi kukira anda berdua sudah tau apa yang akan saya katakana di sini,” Yoshiki mendadak merubah gaya bicaranya lebih sopan.
“Siapa yang bisa menebak isi kepala Lucifer?” Tamaki Rayumi masih berada dalam mode siaganya.
Yoshiki terkekeh kecil, “tidak perlu setegang itu Mr. Rayumi. Baiklah bila anda berdua memang tidak tau,” kali ini tatapan Yoshiki terarah langsung kepada keduanya dengan yakin, “saya ingin mengambil anak anda, Rayumi Hana, sebagai istri.”
“DASAR IBLIS TIDAK TAU DIUNTUNG!? BAGAIMANA MUNGKIN KAMU SEMUDAH ITU INGIN MERAMPAS ANAK KAMI!?” Shiho Tamaki yang sedari tadi nampak menahan diri sepertinya sudah kehilangan dirinya sekarang.
Yoshiki dengan tenang menjawab, “tidak ada yang ingin merampas anak anda di sini. Malah bukankah dengan melamarnya adalah cara baik-baik dan sopan?”
“DAN APA KAMU KIRA KAMI AKAN MEMBERIKAN ANAK KAMI BEGITU SAJA!?” Shiho semakin menjadi-jadi. Seakan tubuhnya yang sekarang telah ditahan sang suami itu sangat ingin memberikan penghakiman pada Yoshiki dengan cara menamparnya.
“Ibu sudah, tahan diri ibu!” Tamaki berusaha menenangkan istrinya yang kalap.
“Lucifer, kami sudah tau cerita lengkapnya. Mengenai segel yang berada dalam tubuh putrid kami, dan mengenai kekuatanmu. Kami memutuskan akan menyerahkan putri kami kepada exorcist yang akan melindunginya,” Tamaki membeberkan pembelaannnya dengan mantap.
“Rayumi-san, di sini tidak ada yang ingin menyakiti Hana, dia tidak perlu dilindungi sedemikian rupa.”
“SIAPA YANG BISA MENJAMIN JIKA IBLIS SEPERTIMU TIDAK AKAN MENYAKITI ANAKKU!?” Shiho kembari meracau.
Yoshiki terdiam sejenak, “sebenarnya siapa di sini yang menyakiti Hana? Bukankah itu anda sendiri Rayumi Shiho-san?”
Read More ->>

Sabtu, 02 November 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 36]

CHAPTER 36: The Problem Itself

“Silahkan duduk, anda datang lagi, apakah ada keperluan?” Tanya sang professor sopan.
“Hn. Tidak terlalu, aku hanya ingin mengenalkanmu pada istriku,” Yoshiki menggenggam tangan Hana yang terkatup di pahanya.
Kondisi ini cukup membuat Hana salah tingkah sekarang. Wajahnya pasti sangat memerah.
“Oh! Senang berkenalan dengan anda Miss Kuroto. Saya Shimomiya Akihiko, teman Kuroto-sama ketika berkuliah di sini dulu.”
Hana semakin tidak mengerti kondisinya saat ini. Seorang professor, diulangi kembali, seorang professor sedang memperkenalkan diri dengan sangat sopan padanya. Dan lagi, Profesor di depannya adalah teman suaminya dulu! Perkiraan Hana saat ini adalah jika sang Profesor adalah sesame iblis dengan pangkat yang mungkin cukup dekat dengan tahta sang raja.
“Dia manusia,” ucap Yoshiki tiba-tiba seolah-olah mampu membaca pikiran Hana.
“EH!?” Hana terkejut bukan main, begitu ditatapnya Shimomiya, pria itu hanya tersenyum tulus.
“Benar. Saya manusia,” Shimomiya menyetujui.
“L-Lalu kenapa? Shimomiya-sensei memanggil Yoshiki-kun dengan begitu hormat, itu artinya—“
“Benar. Saya tahu jika Kuroto-sama adalah seorang iblis, terlebih, seorang raja iblis, Lucifer,” walaupun berujar begitu, raut wajah Shimomiya tetap santai.
Hana terdiam. Ia cukup bingung harus merespon seperti apa. Pemikiran seorang dosen yang sudah bergelar professor memang susah dipahami, begitu pikir Hana.
“Kau membuatnya kebingungan Shimomiya,” Ujar Yoshiki datar.
“Begitu? Hahahaha, maafkan saya Miss Kuroto. Anggaplah saya sekutu kalian. Saya sebenarnya hanya bergerak oleh karena rasa penasaran saja. Walaupun bidang saya pendidikan saat ini, tapi ketertarikan saya justru pada hal-hal supranatural. Saya sangat terkejut begitu mengetahui teman kuliah saya adalah seorang iblis, terlebih Lucifer. Tidak heran jika Kuroto-sama mendapatkan penghargaan ketika kelulusan. Tidak heran bukan jika seorang Lucifer sangat cerdas?” Shimomiya bergurau di akhir kalimatnya.
“Begitu… ahahahaha….” Hana hanya mampu memberikan tertawa kaku.
Selanjutnya suaminya dan sang professor seperti terlibat pembicaraan yang sangat seru. Hana tak tau pasti, mungkin mengenai filsuf atau sejenisnya. Merea beradu pendapat namun Hana selalu tau jika dang professor selalu berada di jalan buntu ketika menghadapi argument suaminya.
Mengetahui isi kepalanya tak akan pernah sampai pada pembicaraan keduanya, Hana memutuskan untuk berhenti mendengarkan. Sebaliknya ia tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Suaminya, Kuroto Yoshiki adalah sosok yang melampaui akal sehat. Seorang professor manusia saja sampai takjub padanya. Tak heran rasanya… rasanya… begitu banyak perempuan yang tertarik kepada Yoshiki.
Perempuan bodoh mana yang tidak akan tertarik pada pria tampan, intelegen, dan kaya!? Yoshiki begitu sempurna untuk dipandang. Ditambah para perempuan yang mengincar Yoshiki bukanlah kelas teri ketika SMA, kebanyakan adalah perempuan terpandang dan jika dipasangkan dengan Yoshiki mungkin akan menjadi pasangan yang sempurna.
Dari kasus Otome Rin, Hana belajar jika Yoshiki pun akan tergoda oleh perempuan lain suatu saat nanti jika ia tidak waspada. Membayangkan Yoshiki meninggalkannya bersama perempuan lain…
‘PLAK!’ Hana menepuk kedua pipinya keras-keras guna menghilangkan pikiran buruknya.
Namun akibatnya Yoshiki dan Shimomiya menatapnya dengan tatapan bingung.
“Eh? AHAHAHAHA…” Hana tertawa canggung, “a-aku tidak apa-apa kok.”
Sekarang Yoshiki benar-benar menatapnya serius penuh pertanyaan, “apakah sesuatu mengganggumu My Lady?”
“Ah….” Hana terdiam beberapa saat, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Besar dari bagian hatinya ingin memberitau masalah ini kepada Yoshiki. Tapi hati kecilna terus menahannya. Sudah saatnya ia mampu mensejajarkan diri sebagai istri yang pantas bagi seorang Kuroto Yoshiki. Ia harus berusaha sendiri terlebih dahulu.
“Tidak ada kok, aku hanya menepuk diriku sendiri untuk menyadarkanku jika semua ini mimpi atau bukan. Karena semua ini keren sekali bagai mimpi,” Hana berdusta.
“Istri anda sangat polos juga ya, Kuroto-sama,” Shimomiya tertawa renyah setelahnya.
Yoshiki hanya menatap Shimomoiya sekilas, namun detik berikutnya pandangannya kembali tertuju pada Hana yang tengah mengikuti Shimomiya tertawa ringan. Setidaknya Yoshiki merasa jika Hana menyembunyikan sesuatu.

.

“Yoshiki-kun akan ikut unit kegiatan mahasiswa?”
Yoshiki melirik Hana sekilas begitu perempuan yang duduk di samping kursi kemudinya itu melontarkan pertanyaan tiba-tiba.
“Hn, kau bagaimana?” Yoshiki malah bertanya balik.
“Ah, umm… aku tidak tau, aku butuh saran dari seorang senior seperti Yoshiki-kun,” Hana tersenyum ringan.
Sebenarnya pertanyaan itu hanya pengalihan dari rasa khawatirnya akan pemikiran serangan-serangan dari para mahasiswi yang mengincar Yoshiki dan entah mengapa dari tadi ponselnya menerima banyak spam email tak beralamat asli berisikan ancaman untuk segera meninggalkan Yoshiki dan mengatakan jika ia adalah penipu dan pembohong.
Yoshiki menghelakan nafasnya, “kegiatan seperti itu biasanya hanya akan bertahan setidaknya sampai 2 bulan pertama perkuliahan, selanjutnya jika kau tidak benar-benar berminat di sana kau mungkin akan segera meninggalkan kegiatan tersebut.”
“Eh? Begitu? Jawaban yang sangat senior sekali ya,” Hana kembali membelikan senyumannya, sementara tangannya menahan getaran pada ponselnya yang tak pernah berhenti bergetar. Setiap detik email-email itu selalu berdatangan.
Hana juga tak tau pasti bagaimana bisa orang-orang yang menerornya bisa mengetahui alamat emailnya. Hana tidak takut. Hanya saja, menyebalkan jika harus menggubris mereka satu per satu.
“Sesuatu mengganggumu?” Yoshiki tiba-tiba bertanya.
Hana refleks menoleh ke arah suaminya yang sibuk menyetir, “kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”
“Kau tidak seperti biasanya. Kau memindah posisi duduk kita tadi. Kau memukul pipimu keras-keras. Dan kau menggegam ponselmu erat-erat sekarang.”
Hana gelagapan, “Oh, itu…”
“Aku harap kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku My Lady.”
Hana menghela nafas panjang sebelum berbicara kembali, “aku senang Yoshiki-kun peduli padaku,” dan dilanjutkan dengan cekikikan konyol.
“Hn? Jadi selama ini aku tidak peduli terhadapmu?”
Tawa Hana semakin menjadi-jadi mendengar pertanyaan manis suaminya.
“Omong-omong kita punya agenda malam keakraban dengan senior kan?” Hana mendadak merubah topic pembicaraan.
“Hn, ya. Ritual membosankan sebagai mahasiswa baru.”
“Woah woah, senior,” Hana bergurau, “wahai senior, ceritakan pada juniormu ini bagaimana ritualnya?”
“Tidak ada hal khusus. Hanya minum bersama, karaoke, dan sejenisnya.”
“Heee… hanya begitu… kukira akan lebih berat lagi…”
“Lebih berat?”
“Ituloh. Kalau di film yang pernah kutonton. Ada sebuah kampus kedokteran di Prancis yang melakukan kegiatan ospek pada mahasiswa baru. Mereka disuruh makan ginjal kelinci, lalu diguyur darah babi, dan kegiatan menjijikan mengerikan yang lainnya.”
“Hn, hal seperti itu memang ada di beberapa negara. Jepang salah satu negara yang tidak menerapkan system seperti itu meningat angka bunuh diri yang sangat tinggi. Pemerintah sangat melarang kegiatan yang sejenis itu.”
“Heeee….”
Hana yang terus merasa terganggu dengan getaran pada ponsel dalam genggamannya pun memutaskan membuka ponselnya. 151 email masuk dalam waktu hitungan menit saja. Sepertinya mereka benar-benar serius, pikir Hana.
Semua isi emailnya sangat identik sampai-sampai Hana langsung menghapus semua pesan yang masuk tanpa berfikir dua kali.
Ingin rasanya Hana menuangkan racun pada makanan atau minuman orang-orang ini ketika minum bersama besok. Tapi jika beberapa orang mati seketika karena keracunan pasti akan menjadi kasus yang sangat mencolok.
Sepertinya Hana harus memikirkan cara lain.

.
.

Seperti yang sudah direncanakan. Besok malamnya diadakan acara malam keakraban dengan para senior. Sebuah bar dan beberapa ruang karaoke telah disewa sampai pagi.
“Hei kenapa kau memotong rambutmu sependek itu?”
"Dia sedang depresi pasti.”
Hana hanya bisa tertawa dengan bibir tertekuk saat menghadapi beberapa seniornya yang terus mengajaknya bicara walau mabuk.
“Kau pasti ikut kegiatan sepak bola atau semacamnya?” Lagi-lagi seorang senior menyerang Hana dengan pertanyaannya.
“Tidak senpai. Aku tidak ikut kegiatan apapun.”
“Bagaimana bisa tidak ikut kegiatan apapun!? Manfaatkan tahun pertamamu dengan baik dasar junior bodoh!”
“Uh, maaf senior!” Hana hanya bisa menunduk patuh. Walaupun begitu tak dipungkiri jika Hana merasa kesal dari dalam perasaannya.
“Itulah kenapa senior dibutuhkan. Ayo kudidik kamu supaya jadi penerus yang baik. Mulai dari…” Tangan sang senior bergerak mengusap rambut Hana yang nampak menyembul tidak rapi, “panjangkan rambutmu… supaya kau punya pacar?”
GREP
Dalam skala seperdetik tangan sang senior telah ditarik dari rambut Hana. Tangan itu dicengkram erat oleh Yoshiki.
“Dia sudah punya kekasih. Dan kekasihnya tidak mempermasalahkan jika dia berambut pendek. Yang menjadi masalah di sini adalah sikapmu sebagai senior. Bukankah ini contoh yang buruk, eh? Senior,” dengan seringai dan pandangan yang merendahkan Yoshiki mencermahi.
“A-Apa-apaan!?” Sang senior yang tangannya dicengkram mulai tak terima.
“Junior sudah banyak gaya!” Yang lain mulai tersulut.
Namun Yoshiki hanya menghela nafas. Dia adalah raja iblis, sang Lucifer. Ia bisa memutar arah rotasi bumi seenaknya. Mengurusi remaja-remaja terlambat puber seperti ini hanya seperti meniup debu yang mengotori kulitnya.
Entah pesan apa yang sudah dikirimkan Yoshiki pada kepala-kepala para senior hanya dengan tatapannya saja. Hanya saja para senior itu tiba-tiba beringsut mundur dan pergi meninggalkan lokasi beramai-ramai.
“Lain kali jangan diam saja,” Yoshiki menatap datar ke arah Hana.
“Hah? Memangnya aku harus bagaimana?” Hana merespon dongkol, “harus marah-marah dan menghajar mereka supaya menimbulkan masalah yang lebih besar? Aku bukan tuan-raja-iblis yang bisa mengatur orang seenaknya!”
Yoshiki mendekatkan jarak antara dirinya dan Hana, sangat dekat sehingga mampu membuat Hana bertanya-tanya dengan wajah kesalnya.
“Lain kali katakan jika kau milikku. Milik Kuroto Yoshiki. Milik Lucifer.”
Sedetik kemudian ruam merah segera menguasai wajah Hana.
“B-Bodoh. Yang begitu tetap saja menghasilkan masalah yang lebih besar,” tak mampu menahan rasa malunya, Hana berujar sambil memalingkan wajahnya.
Yoshiki tersenyum simpul, diacak-acaknya rambut perempuan yang membuatnya gemas itu.
Sementara itu dari meja lain nampak beberapa teman satu departmen Hana mulai bergunjing.
“Astaga lihat! Kuroto-kun mengusap kepala si jelek!”
“Arggghhh!! Apa-apaan sih!”
“Tidak cocok! Kuroto-kun hanya cocok dengan kita! Bukan si buruk rupa itu!”
“Oh astaga lihat itu! Bukankah itu Keigo Yasumoto-kun? Anak Dr. Yasumoto yang sekarang juga dosen muda di departemen farmasi?”
Namun begitu seorang pria muda berpakaian rapi masuk, gunjingan mereka seketika berubah arah.
“Benar benar! Kudengar dia berumur 25 tahun dan sedang mengambil S3 di Habbaa—“
“Havard. Departemen of Stem Cell and Regenerative Biology,” salah satu dari mereka menimpali.
“Wow, keren sekali. Sepertinya Keigo Yasumoto-sensei memang tertarik pada bidang pengembangan obat biologis…”
Perkumpulan perempuan itu nampak asik mengamati pria berambut coklat rapi yang tengah berbincang-bincang dengan seorang mahasiswa tingkat akhir yang kebetulan mengikuti kegiatan bersama junior-juniornya.
“Dasar bodoh. Bukannya segera menyelesaikan skripsi kenapa malah main-main. Memangnya kamu itu senggang sekali apa?” Keigo Yasumoto meneriaki anak bimbingnya dengan kesal.
“Maaf sensei, besok saya akan segera mengirimkan revisinya ke meja anda sebelum pukul 12,” sang anak bombing nampak berojigi berkali-kali.
Berdasarkan kabar yang sudah tersebar ke seluruh penghuni departemen Kimia, Keigo Yasumoto adalah dosen semi tidak aktiv mengajar karena masih harus melanjutkan studi S3-nya, namun masih sangat aktiv membimbing mahasiswa dalam tugas akhirnya. Sifatnya yang begitu peduli kepada anak bimbingnya membuatnya selalu mendapat antrian panjang pendaftaran anak bimbing. Jika selama ini adalah mahasiswa yang mengejar dosen untuk revisi, maka pada kasus Keigo Yasumoto-sensei, dosennya lah yang mengejar mahasiswa. Hasilnya pun kebanyakan memuaskan.
“Tidak. Pastikan sebelum pukul 11 revisi sudah harus ada di meja saya. 1 jam saja tidak akan cukup untuk mengkoreksi kau tau!”
“T-Tapi sensei saya harus—“
Namun sayangnya ucapan sang mahasiswa bimbingannya sama sekali tak bisa masuk ke dalam telinga Keigo Yasumoto begitu kedua matanya tertuju pada seorang perempuan yang tengah asik menyesap jus jeruknya.
“Hana!” Keigo Yasumoto tercengang.
“Oh?” Sang murid bimbingan ikut tercengang, ia mengikuti mata Keigo yang tertuju pada Hana.
“Sensei… mengenal anak tahun pertama itu?”
“Pokoknya kamu selesaikan besok sampai jam 11 revisi harus sudah ada di meja saya,” tanpa memperdulikan murid bimbingannya yang masih ingin menjerit protes, Keigo Yasumoto bergegas ke arah Hana.
“Hana!” Bagaikan seseorang yang telah menahan rindu bertahun-tahun lamanya, Keigo memanggil nama Hana.
“Ngg?” Sementara yang dipanggil hanya menolehkan kepalanya santai dengan kondisi mulutnya masih memainkan sedotan plastik dan meniupkan udara ke dalamnya supaya es jeruknya memunculkan gelembung-gelembung udara.
BRUUK
Namun semuanya berjalan terlalu cepat. Tiba-tiba kepala Hana sudah ada dalam dekapan Keigo Yasumoto.
“Aku merindukanmu Hana. Sangat merindukanmu.”
Hal tersebut lantas membuat seisi ruangan ternganga bukan main. Seorang dosen yang sangat disanjung tiba-tiba memeluk seorang mahasiswi yang notabene bukan siapa-siapa.
“Eh?” Hana yang sangat terkejut dipeluk tiba-tiba, bingung harus bertindak seperti apa selain harus menjaga jus jeruknya agar tidak tumpah.
Sementara para perempuan di ruangan itu sibuk menutup mulut mereka yang terbuka lebar, Yoshiki dengan kondisi moodnya yang luar biasa buruk mendekat ke arah keduanya.
“Lepaskan,” dengan aura kegelapan dan penuh kutukan yang mungkin bisa dirasakan setiap orang di ruangan itu Yoshiki berguman mendekat, “lepaskan dia.”
Keigo Yasumoto terpaksa menghentikan kegiatan melepas rindunya seraya mendongkakkan kepalanya dan mendapati seorang pria berdiri tidak lebih dari 5 meter jauhnya.
“Kuroto… Yoshiki….” Dosen muda itu berguman mendesisikan nama sang pria.
“EEEEEEEHHHH!!!??? KEIGO-KUN!?” Seketika ketegangan diantara keduanya terpecahkan oleh teriakan melengking khas Hana.
“Keigo-kun bukan!? K-Kamu Keigo-kun benar? Hei, K-Keigo-k-kun….” Hana mencengkram kedua tangan Keigo Yasumoto dengan erat dan mengguncangnya beberapa kali.
Wajah kalem Keigo melunak dan memberikan senyuman lembut kepada Hana, “benar Hana, ini Keigo Yasumoto.”
Air mata bagaikan meletup-letup dari kelopak mata Hana.
Karena Keigo Yasumoto adalah…. Pria dari masa lalunya.



Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.