CHAPTER 37: BITTER PAST
Dengan cekatan Keigo segera menarik tangan Hana. Membuat sang empunya tangan tak bisa berkutik selain mengikuti kemana saja sang penarik pergi.
Yoshiki tentu saja tak akan diam saja membiarkan istrinya diseret pergi.
Drama perembutan seorang mahasiswi tomboy itu lantas membuat seluruh mahasiswa di tempat itu bertanya-tanya. Siapa sebenarnya Hana? Kenapa dosen terluarbiasa baik bisa seperti kenal lama dengannya? Kenapa mahasiswa tertampan bisa begitu menyukainya? Topik pembicaraan mahasiswi julit untuk seminggu kedepan sepertinya tidak akan jauh-jauh dari dua hal itu.
Di lain pihak Hana telah duduk di dalam mobil Keigo Yasumoto dengan tak kalah bingung. Mobil itu dikemudikan dengan kecepatan bagai kejar-kejaran mobil dalam film.
Hana tak sebodoh itu untuk menyadari jika Keigo Yasumoto menyetir dengan terburu-buru lantaran mobil yang sangat familiar bagi Hana nampak terus berusaha menyusul bahkan menyalip mobil Keigo Yasumoto. Mobil siapa lagi itu jika bukan mobil Yoshiki?
Sambil menolehkan wajahnya ke belakang untuk mengecek kondisi mobil Yoshiki yang nampak ngotot mengejar, Hana berujar panik, “a-anu Keigo-kun sebenarnya ada apa? Kenapa Keigo-kun bisa mengenal Yoshiki-kun? Dan kenapa Keigo-kun seperti membawaku lari? Yoshiki-kun mengejar di belakang! Kecepatan ini juga seharusnya bisa memanggil polisi berdatangan loh!”
“Seharusnya aku yang bertanya kepadamu Hana. Kenapa kamu bisa terpikat olehnya?” Tak berpaling dari kemudinya, Keigo balik bertanya.
“M-Maksudnya? Keigo-kun masih mempermasalahkan hal itu? Bukankah Keigo-kun yang pergi meninggalkanku sendirian!?”
“Dia yang mengirimku pergi.”
“D-dia?”
“Siapa lagi jika bukan Kuroto Yoshiki.”
Hana terperenjat, “t-tunggu, apa maksudnya itu Keigo-kun? Kenapa tiba-tiba Yoshiki-kun?”
Keigo Yasumoto menghelakan nafasnya berat, bersiap menceritakan sebuah kisah naas di tengah pelarian keduanya dari kejaran Yoshiki.
“Kakakku adalah Exorcist.”
Kedua mata Hana melebar mendengar kalimat awal dari kisah naas Keigo.
“Waktu itu, sepuluh tahun lalu, di mana usiaku hanya empat belas tahun, ayah tiba-tiba dipindah kerjakan ke area Timur Tengah. Ayah sudah berusaha menolak pemindahan tugas yang mendadak dan tak beralasan itu. Namun ayah tidak bisa terus keras kepala jika masih menginginkan pekerjaannya. Maka pindahlah kami sekeluarga.
Namun kakakku mengatakan hal aneh yang tak kupahami waktu itu. Ini semua pasti ulah Lucifer. Lucifer sang iblis besar itu. Begitu kutanyakan mengapa bisa Lucifer ikut campur urusan keluarga, kakak menjawab karena aku dekat denganmu. Denganmu yang memiliki kekuatan Lucifer yang tersegel,” pandangan Keigo Yasumoto sepenuhnya tertuju pada kedua bola mata Hana begitu ia member jeda pada ceritanya.
Hana tak mampu berkata-kata apapun untuk merespon cerita awal Keigo. Ia hanya terdiam dengan pikirannya sendiri.
“Masih ada kelanjutannya dari cerita kakak. Tentang kebenaran kecelakaan pesawat kedua orang tuamu.”
Begitu mendengar itu Hana merespon cepat, “Ada apa dengan kecelakaan orang tuaku Keigo-kun!? Jelaskan padaku!”
Keigo memejamkan matanya sejenak, menimbang-nimbang untuk menceritakan atau tidak, namun akhirnya keputusannya telah bulat, “Lucifer, atau pria yang kamu kenal dengan nama Kuroto Yoshiki itulah pelakunya.”
Nafas Hana seolah tertahan.
“Orang tuamu adalah Exorcist berperingkat puluhan saat itu. Dengan Lucifer yang kehilangan kekuatannya, sepertinya ia mengurangi bentrokan secara magis. Oleh sebab itu dengan kepala cerdiknya ia mengatur supaya beberapa Exorcist diterbangkan ke China yang memiliki konflik, yang mana konfliknya sendiri adalah bagian dari rencananya juga. Orang tuamu diterbangkan dengan pesawat naas itu bersama beberapa exorcist lain. Di tengah perjalanan ia meledakkan bom-bom yang sudah ia siapkan. Ia tidak menyuruh orang lain untuk memastikan rencananya berjalan lancar. Maka ia sendiri yang menyusup ke dalam pesawat. Bom bunuh diri itu menewaskan seluruh penumpang pesawat. Begitu semua jenazah teridentifikasi, ada salah satu yang menghilang. Begitu dicek pada rekaman pemindai, orang yang menghilang itu memiliki spectrum warna yang berbeda dari manusia. Maka diketahuilah jika pelakunya adalah Lucifer itu sendiri.”
Begitu penjelasan Keigo berakhir, Hana harus berusah payah menelan ludah karena tenggorokannya yang tiba-tiba kering, “t-tunggu…. Kenapa Yoshiki-kun harus melakukan itu?”
“Exorcist, terlebih kedua orang tuamu memang harus dibunuh demi kemudahan mendapatkanmu! Dialah pembunuh kedua orang tuamu Hana! Dia juga yang telah memisahkan kita karena ia menganggapku sebagai ancaman!”
Hana tenggelam dalam kekacauan pikirannya.
“Dia Lucifer! Dia akan melakukan apapun demi mendapatkan kekuatannya kembali!”
“…. Hentikan mobilnya Keigo-kun,” suara Hana yang hampir seperti bisikan itu tenggelam dalam bisingnya jalanan dan suara deru mobil Keigo.
“A-apa?” Keigo yang nampak fokus pada kemudi dan pedal gasnya nampak tak berhasil menangkap permintaan Hana.
“Aku mohon, Keigo-kun, hentikan mobilnya!” Kali ini Hana juga mencengkram tangan kiri Keigo.
CKIIIIIIIITTTTT!!!
Tanpa banyak permohonan lagi, Keigo menginjak pedal rem mobilnya. Menghentikan paksa mobil yang tadinya melaju dalam kecepatan 100 km/jam itu di tengah-tengah sebuah jembatan yang menjembatani sebuah waduk raksasa.
Dari arah belakang sebuah Audi gelap yang dikemudikan Yoshiki dengan cekatan juga menghentikan lajunya.
Wajah Hana yang luar biasa kacau keluar dari mobil Keigo. Air mata nampak memenuhi kedua pipinya. Rambut pendeknya secara acak-acakan menutupi seperempat wajahnya. Mendapati hal itu, Yoshiki dengan perasaan tak kalah berkecamuk keluar dari mobilnya.
“My Lad—“
“Sudah cukup!”
Yoshiki terdiam.
Akhirnya hal yang paling ia takutkan selama ini terjadi. Dengan kedatangan Keigo yang tak berhasil Yoshiki ketahui akan membawa bencana dalam kehidupannya yang tertata rapi.
“Dia sudah tau semuanya, Lucifer,” Keigo Yasumoto—orang yang paling Yoshiki hajar saat ini—muncul dari balik mobilnya dengan tenang.
Yoshiki terdiam tak mengucapkan apapun. Namun perlahan tangannya terjulur terbuka.
“My Lady, kembalilah,” tak bisa disembunyikan, sebuah nada berat dan penuh kesesakan keluar dari mulut Yoshiki.
Hana menggeleng kuat. Isakannya seolah ia tahan kuat-kuat. Ingus yang merembes keluar dari hidungnya pun ia tarik kembali.
“Aku lelah Yoshiki-kun. Terlalu banyak yang Yoshiki-kun sembuyikan dariku. B-Bahkan…. Sekarang aku tau j-jika…. Orang yang aku cintai, suamiku, adalah pembunuh kedua orang tuaku!” Isakan Hana pecah tak tertahankan sekarang.
Dengan segala luapan emosi, Hana mencabut sebuah cincin dari jari manisnya. Detik berikutnya Hana sudah melemparkan cincin pernikahannya ke arah waduk.
“!!!!” Kedua mata gelap Yoshiki melebar melihat benda silinder berlubang itung melayang bebas sebelum akhirnya tercelup ke dalam air yang cukup dalam.
“Ayo masuk Hana,” Keigo yang merasa iba dengan Hana meraih lengan Hana untuk mengajaknya kembali masuk ke dalam mobil.
BWOOOOOOSSSHHHH!
SWUUUUNGGGGH!
Gemuruh yang luar biasa tercipta begitu saja.
Kejadian berikutnya terjadi luar biasa cepat. Namun entah insting apa yang sudah menggerakkan Hana. Perempuan berambut pendek itu telah merentangkan kedua tangannya lebar-lebar melindungi Keigo
Sementara di hadapannya sang suami telah dalam wujud yang bukan dirinya selama ini. Sebuah sayap hitam pekat merekah di balik punggungnya. Cakar-cakar hitam tajam panjang dari sosok suaminya berhenti tepat beberapa inchi saja dari dahinya. Dan tak bisa dipungkiri aura gelap yang dipancarkan oleh suaminya benar-benar mampu membuatnya terkencing di celana jika Hana tak menahannya. Aura yang luar biasa menekan itu seolah memperlihatkan kutukan, kebencian, dan kemarahan. Begitu luar biasa sampai timbul riak air pada danau dan menyebabkan getaran di berbagai tempat bagai gempa.
“Tidak Yoshiki-kun. Aku tidak akan membiarkanmu membunuh Keigo-kun,” ucap Hana yakin dengan tatapan tak gentarnya.
Yoshiki tersenyum tipis di balik gelapnya aura yang sudah seperti menelannya. Namun senyum itu hanya terjadi dalam beberapa detik saja, “My Lady, berselingkuh di hadapan suamimu adalah tindakan buruk kau tau.”
“Aku tau. Namun maaf,” Hana menundukkan wajahnya sekilas, “…. Aku bukan istrimu lagi.”
Yoshiki terhenyak.
“Kau bodoh My lady. Lebih memilih exorcist lemah sepertinya daripada aku. Lucifer. Lucifer yang memiliki segalanya!”
“Kamu memiliki segalanya karena kamu memang merebut segalanya! Termasuk orang tua Hana! Dasar iblis!”
“DIAM!” Yoshiki menatap dingin Keigo yang sudah seenaknya menyerang balik kalimatnya, “aku bisa menghancurkanmu berkeping-keping dari sini. Tidak hanya kau, asset keluargamu, bahkan keluargamu bisa kuhancurkan hanya dalam satu perintah saja.”
“Hentikan Yoshiki-kun!” Hana sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Air mata sudah menganak sungai pada pipinya.
“….” Yoshiki terdiam beberapa saat menatap betapa kacaunya isrinya.
“Yoshiki-kun… sebenarnya kenapa bisa seperti ini? Kenapa semua jadi serumit ini?” Tanya Hana di tengah isakannya.
“Kenapa Yoshiki-kun harus membunuh kedua orang tuaku? Kenapa Yoshiki-kun harus memisahkanku dengan Keigo-kun!? Kenapa…. Kenapa Yoshiki-kun melakukan semua ini kepadaku!? Kenapa kekuatan Yoshiki-kun harus berada di dalam diriku!?” Bagai orang yang kurang waras, Hana meracau tanpa henti.
“Percuma menanyakan itu kepada iblis sepertinya Hana. Dia akan memberikan jawaban-jawaban penuh tipu muslihat,” Keigo yang merasa iba dengan Hana berusaha menenangkan Hana.
“Tipu muslihat….” Hana berguman pelan, “Yoshiki-kun…. Tolong jawab yang satu ini sejujur mungkin….. Yoshiki-kun…. Apakah hubungan kita selama ini juga hanya sebuah tipu muslihat?”
Sebuah helaan nafas terdengar dari Yoshiki. Sayap hitam pekatnya yang tadi merekah lebar sekarang perlahan menutup dengan lemas, “menurutmu bagaimana? Apakah perasaanku kepadamu selama ini terlihat seperti tipu muslihat?” Yoshiki bertanya lemah dengan senyuman pahit terpatri jelas di wajahnya.
Hanya terhenyak karena kalimat dan ekspresi terlihat benar-benar sedih sekarang.
“Jangan dengarkan apapun kalimatnya Hana! Dia hanya sedang berusaha membuatmu bingung! Ingatlah jika adalah pemanipulatif ulung!” Dari arah belakang Keigo berusaha mengingatkan Hana.
“Aku mencintaimu My Lady.”
“JANGAN DENGARKAN IBLIS ITU HANA!”
“Aku harus memisahkanmu dari exorcist sialan di belakangmu itu karena tentu saja dia akan menjadi penghalang bagiku.”
“Menghalangi?” Hana bertanya lemah.
“Aku selalu mengawasimu My Lady. Setiap saat. Dari kelahiranmu, setiap waktu, kau tak pernah lepas dari pengawasanku. Berkali-kali menyamar dengan wajah dan penampilan berbeda dalam membantumu yang hanya manusia bodoh dan rentan dalam menjalani kehidupan. Aku tau cepat atau lambat exorcist akan menemukanmu yang membawa segel kekuatanku. Dugaanku itu benar. Kedua orang tuamu yang peneliti, Prof. Rayumi Tamaki ayahmu, dan Dr. Rayumi Shiho segera direkrut exorcist dalam tim Research. Aku harus melakukan sesuatu mengenai hal itu. Namun aku akui saat itu pikiranku sedang kacau semenjak menyadari ada seorang bocah laki-laki yang mulai dekat denganmu. Kau tau, kukira aku sudah gila saat itu. Begitu resah hanya karena seorang bocah mendekatimu.”
Hana menolehkan wajahnya kebelakang. Mendapati wajah Keigo yang mulai serius saat disebut-sebut bocah oleh Yoshiki.
“Yoshiki-kun…. Dari dulu aku sudah menyadari jika aku tidak akan mendapatkan kisah cinta yang indah. Aku tidak pernah berfikiran untuk dilamar oleh seorang pria… tapi mengetahui orang tuaku dibunuh oleh pria yang menjadi suamiku rasanya—“
“Aku melamarmu.”
Hana dengan cepat memalingkan kepalanya dari Keigo dan menatap Yoshiki dengan tidak percaya.
“Hari itu di pesawat, aku mengundang Prof. Rayumi Tamaki dan Dr. Rayumi Shiho ke ruang VVIP. Mereka duduk di hadapanku dengan wajah yang sangat tegang. Dan aku tau sekali jika exorcist sudah bersiap-siap menangkapku di luar…..
***
“Sial. Tidak disangka kita bisa kecolongan. Lucifer ada di pesawat ini, dan lebih parah lagi dia memanggil kedua orang tua Rayumi Hana.”
“Tidak apa-apa. Lucifer saat ini sangatlah lemah. Kita harus bisa memangkapnya.”
“Kedua Rayumi sudah memasuki ruang VVIP. Kita harus segera bersiap-siap,” sebuah komando terdengar. Dengan segera sepuluh orang exorcist berperingkat tertinggi yang berada di dalam burung besi itu berkumpul di area pintu ruang VVIP dengan Abschleppen Geist milik mereka masing-masing.
Kuroto Yoshiki terdiam dengan kedua kakinya ia silangkan, sementara kedua tangannya ia pertemukan jari-jarinya saja. Di hadapannya adalah kedua orang tua Rayumi. Sebuah senyum ia sunggingkan dengan sopan sebelum memulai kalimatnya.
“Terima kasih telah menerima undanganku, Mr. dan Mrs. Rayumi. Karena kalian sudah mengetahui identitasku, aku tidak perlu repot-repot memperkenalkan diri lagi.”
“Lucifer…” Tamaki tak bisa menahan desisan emosi dan kegugupannya.
“Benar. Lucifer. Namun namaku saat ini adalah Kuroto Yoshiki,” Yoshiki masih tak menghilangkan senyumannya.
“Apa maumu dari kami?”
Yoshiki membenarkan posisi duduknya menjadi lebih sopan untuk dipandang, “biarkan ini menjadi lebih formal sekarang. Mr. dan Mrs. Rayumi kukira anda berdua sudah tau apa yang akan saya katakana di sini,” Yoshiki mendadak merubah gaya bicaranya lebih sopan.
“Siapa yang bisa menebak isi kepala Lucifer?” Tamaki Rayumi masih berada dalam mode siaganya.
Yoshiki terkekeh kecil, “tidak perlu setegang itu Mr. Rayumi. Baiklah bila anda berdua memang tidak tau,” kali ini tatapan Yoshiki terarah langsung kepada keduanya dengan yakin, “saya ingin mengambil anak anda, Rayumi Hana, sebagai istri.”
“DASAR IBLIS TIDAK TAU DIUNTUNG!? BAGAIMANA MUNGKIN KAMU SEMUDAH ITU INGIN MERAMPAS ANAK KAMI!?” Shiho Tamaki yang sedari tadi nampak menahan diri sepertinya sudah kehilangan dirinya sekarang.
Yoshiki dengan tenang menjawab, “tidak ada yang ingin merampas anak anda di sini. Malah bukankah dengan melamarnya adalah cara baik-baik dan sopan?”
“DAN APA KAMU KIRA KAMI AKAN MEMBERIKAN ANAK KAMI BEGITU SAJA!?” Shiho semakin menjadi-jadi. Seakan tubuhnya yang sekarang telah ditahan sang suami itu sangat ingin memberikan penghakiman pada Yoshiki dengan cara menamparnya.
“Ibu sudah, tahan diri ibu!” Tamaki berusaha menenangkan istrinya yang kalap.
“Lucifer, kami sudah tau cerita lengkapnya. Mengenai segel yang berada dalam tubuh putrid kami, dan mengenai kekuatanmu. Kami memutuskan akan menyerahkan putri kami kepada exorcist yang akan melindunginya,” Tamaki membeberkan pembelaannnya dengan mantap.
“Rayumi-san, di sini tidak ada yang ingin menyakiti Hana, dia tidak perlu dilindungi sedemikian rupa.”
“SIAPA YANG BISA MENJAMIN JIKA IBLIS SEPERTIMU TIDAK AKAN MENYAKITI ANAKKU!?” Shiho kembari meracau.
Yoshiki terdiam sejenak, “sebenarnya siapa di sini yang menyakiti Hana? Bukankah itu anda sendiri Rayumi Shiho-san?”
Read More ->>
Dengan cekatan Keigo segera menarik tangan Hana. Membuat sang empunya tangan tak bisa berkutik selain mengikuti kemana saja sang penarik pergi.
Yoshiki tentu saja tak akan diam saja membiarkan istrinya diseret pergi.
Drama perembutan seorang mahasiswi tomboy itu lantas membuat seluruh mahasiswa di tempat itu bertanya-tanya. Siapa sebenarnya Hana? Kenapa dosen terluarbiasa baik bisa seperti kenal lama dengannya? Kenapa mahasiswa tertampan bisa begitu menyukainya? Topik pembicaraan mahasiswi julit untuk seminggu kedepan sepertinya tidak akan jauh-jauh dari dua hal itu.
Di lain pihak Hana telah duduk di dalam mobil Keigo Yasumoto dengan tak kalah bingung. Mobil itu dikemudikan dengan kecepatan bagai kejar-kejaran mobil dalam film.
Hana tak sebodoh itu untuk menyadari jika Keigo Yasumoto menyetir dengan terburu-buru lantaran mobil yang sangat familiar bagi Hana nampak terus berusaha menyusul bahkan menyalip mobil Keigo Yasumoto. Mobil siapa lagi itu jika bukan mobil Yoshiki?
Sambil menolehkan wajahnya ke belakang untuk mengecek kondisi mobil Yoshiki yang nampak ngotot mengejar, Hana berujar panik, “a-anu Keigo-kun sebenarnya ada apa? Kenapa Keigo-kun bisa mengenal Yoshiki-kun? Dan kenapa Keigo-kun seperti membawaku lari? Yoshiki-kun mengejar di belakang! Kecepatan ini juga seharusnya bisa memanggil polisi berdatangan loh!”
“Seharusnya aku yang bertanya kepadamu Hana. Kenapa kamu bisa terpikat olehnya?” Tak berpaling dari kemudinya, Keigo balik bertanya.
“M-Maksudnya? Keigo-kun masih mempermasalahkan hal itu? Bukankah Keigo-kun yang pergi meninggalkanku sendirian!?”
“Dia yang mengirimku pergi.”
“D-dia?”
“Siapa lagi jika bukan Kuroto Yoshiki.”
Hana terperenjat, “t-tunggu, apa maksudnya itu Keigo-kun? Kenapa tiba-tiba Yoshiki-kun?”
Keigo Yasumoto menghelakan nafasnya berat, bersiap menceritakan sebuah kisah naas di tengah pelarian keduanya dari kejaran Yoshiki.
“Kakakku adalah Exorcist.”
Kedua mata Hana melebar mendengar kalimat awal dari kisah naas Keigo.
“Waktu itu, sepuluh tahun lalu, di mana usiaku hanya empat belas tahun, ayah tiba-tiba dipindah kerjakan ke area Timur Tengah. Ayah sudah berusaha menolak pemindahan tugas yang mendadak dan tak beralasan itu. Namun ayah tidak bisa terus keras kepala jika masih menginginkan pekerjaannya. Maka pindahlah kami sekeluarga.
Namun kakakku mengatakan hal aneh yang tak kupahami waktu itu. Ini semua pasti ulah Lucifer. Lucifer sang iblis besar itu. Begitu kutanyakan mengapa bisa Lucifer ikut campur urusan keluarga, kakak menjawab karena aku dekat denganmu. Denganmu yang memiliki kekuatan Lucifer yang tersegel,” pandangan Keigo Yasumoto sepenuhnya tertuju pada kedua bola mata Hana begitu ia member jeda pada ceritanya.
Hana tak mampu berkata-kata apapun untuk merespon cerita awal Keigo. Ia hanya terdiam dengan pikirannya sendiri.
“Masih ada kelanjutannya dari cerita kakak. Tentang kebenaran kecelakaan pesawat kedua orang tuamu.”
Begitu mendengar itu Hana merespon cepat, “Ada apa dengan kecelakaan orang tuaku Keigo-kun!? Jelaskan padaku!”
Keigo memejamkan matanya sejenak, menimbang-nimbang untuk menceritakan atau tidak, namun akhirnya keputusannya telah bulat, “Lucifer, atau pria yang kamu kenal dengan nama Kuroto Yoshiki itulah pelakunya.”
Nafas Hana seolah tertahan.
“Orang tuamu adalah Exorcist berperingkat puluhan saat itu. Dengan Lucifer yang kehilangan kekuatannya, sepertinya ia mengurangi bentrokan secara magis. Oleh sebab itu dengan kepala cerdiknya ia mengatur supaya beberapa Exorcist diterbangkan ke China yang memiliki konflik, yang mana konfliknya sendiri adalah bagian dari rencananya juga. Orang tuamu diterbangkan dengan pesawat naas itu bersama beberapa exorcist lain. Di tengah perjalanan ia meledakkan bom-bom yang sudah ia siapkan. Ia tidak menyuruh orang lain untuk memastikan rencananya berjalan lancar. Maka ia sendiri yang menyusup ke dalam pesawat. Bom bunuh diri itu menewaskan seluruh penumpang pesawat. Begitu semua jenazah teridentifikasi, ada salah satu yang menghilang. Begitu dicek pada rekaman pemindai, orang yang menghilang itu memiliki spectrum warna yang berbeda dari manusia. Maka diketahuilah jika pelakunya adalah Lucifer itu sendiri.”
Begitu penjelasan Keigo berakhir, Hana harus berusah payah menelan ludah karena tenggorokannya yang tiba-tiba kering, “t-tunggu…. Kenapa Yoshiki-kun harus melakukan itu?”
“Exorcist, terlebih kedua orang tuamu memang harus dibunuh demi kemudahan mendapatkanmu! Dialah pembunuh kedua orang tuamu Hana! Dia juga yang telah memisahkan kita karena ia menganggapku sebagai ancaman!”
Hana tenggelam dalam kekacauan pikirannya.
“Dia Lucifer! Dia akan melakukan apapun demi mendapatkan kekuatannya kembali!”
“…. Hentikan mobilnya Keigo-kun,” suara Hana yang hampir seperti bisikan itu tenggelam dalam bisingnya jalanan dan suara deru mobil Keigo.
“A-apa?” Keigo yang nampak fokus pada kemudi dan pedal gasnya nampak tak berhasil menangkap permintaan Hana.
“Aku mohon, Keigo-kun, hentikan mobilnya!” Kali ini Hana juga mencengkram tangan kiri Keigo.
CKIIIIIIIITTTTT!!!
Tanpa banyak permohonan lagi, Keigo menginjak pedal rem mobilnya. Menghentikan paksa mobil yang tadinya melaju dalam kecepatan 100 km/jam itu di tengah-tengah sebuah jembatan yang menjembatani sebuah waduk raksasa.
Dari arah belakang sebuah Audi gelap yang dikemudikan Yoshiki dengan cekatan juga menghentikan lajunya.
Wajah Hana yang luar biasa kacau keluar dari mobil Keigo. Air mata nampak memenuhi kedua pipinya. Rambut pendeknya secara acak-acakan menutupi seperempat wajahnya. Mendapati hal itu, Yoshiki dengan perasaan tak kalah berkecamuk keluar dari mobilnya.
“My Lad—“
“Sudah cukup!”
Yoshiki terdiam.
Akhirnya hal yang paling ia takutkan selama ini terjadi. Dengan kedatangan Keigo yang tak berhasil Yoshiki ketahui akan membawa bencana dalam kehidupannya yang tertata rapi.
“Dia sudah tau semuanya, Lucifer,” Keigo Yasumoto—orang yang paling Yoshiki hajar saat ini—muncul dari balik mobilnya dengan tenang.
Yoshiki terdiam tak mengucapkan apapun. Namun perlahan tangannya terjulur terbuka.
“My Lady, kembalilah,” tak bisa disembunyikan, sebuah nada berat dan penuh kesesakan keluar dari mulut Yoshiki.
Hana menggeleng kuat. Isakannya seolah ia tahan kuat-kuat. Ingus yang merembes keluar dari hidungnya pun ia tarik kembali.
“Aku lelah Yoshiki-kun. Terlalu banyak yang Yoshiki-kun sembuyikan dariku. B-Bahkan…. Sekarang aku tau j-jika…. Orang yang aku cintai, suamiku, adalah pembunuh kedua orang tuaku!” Isakan Hana pecah tak tertahankan sekarang.
Dengan segala luapan emosi, Hana mencabut sebuah cincin dari jari manisnya. Detik berikutnya Hana sudah melemparkan cincin pernikahannya ke arah waduk.
“!!!!” Kedua mata gelap Yoshiki melebar melihat benda silinder berlubang itung melayang bebas sebelum akhirnya tercelup ke dalam air yang cukup dalam.
“Ayo masuk Hana,” Keigo yang merasa iba dengan Hana meraih lengan Hana untuk mengajaknya kembali masuk ke dalam mobil.
BWOOOOOOSSSHHHH!
SWUUUUNGGGGH!
Gemuruh yang luar biasa tercipta begitu saja.
Kejadian berikutnya terjadi luar biasa cepat. Namun entah insting apa yang sudah menggerakkan Hana. Perempuan berambut pendek itu telah merentangkan kedua tangannya lebar-lebar melindungi Keigo
Sementara di hadapannya sang suami telah dalam wujud yang bukan dirinya selama ini. Sebuah sayap hitam pekat merekah di balik punggungnya. Cakar-cakar hitam tajam panjang dari sosok suaminya berhenti tepat beberapa inchi saja dari dahinya. Dan tak bisa dipungkiri aura gelap yang dipancarkan oleh suaminya benar-benar mampu membuatnya terkencing di celana jika Hana tak menahannya. Aura yang luar biasa menekan itu seolah memperlihatkan kutukan, kebencian, dan kemarahan. Begitu luar biasa sampai timbul riak air pada danau dan menyebabkan getaran di berbagai tempat bagai gempa.
“Tidak Yoshiki-kun. Aku tidak akan membiarkanmu membunuh Keigo-kun,” ucap Hana yakin dengan tatapan tak gentarnya.
Yoshiki tersenyum tipis di balik gelapnya aura yang sudah seperti menelannya. Namun senyum itu hanya terjadi dalam beberapa detik saja, “My Lady, berselingkuh di hadapan suamimu adalah tindakan buruk kau tau.”
“Aku tau. Namun maaf,” Hana menundukkan wajahnya sekilas, “…. Aku bukan istrimu lagi.”
Yoshiki terhenyak.
“Kau bodoh My lady. Lebih memilih exorcist lemah sepertinya daripada aku. Lucifer. Lucifer yang memiliki segalanya!”
“Kamu memiliki segalanya karena kamu memang merebut segalanya! Termasuk orang tua Hana! Dasar iblis!”
“DIAM!” Yoshiki menatap dingin Keigo yang sudah seenaknya menyerang balik kalimatnya, “aku bisa menghancurkanmu berkeping-keping dari sini. Tidak hanya kau, asset keluargamu, bahkan keluargamu bisa kuhancurkan hanya dalam satu perintah saja.”
“Hentikan Yoshiki-kun!” Hana sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Air mata sudah menganak sungai pada pipinya.
“….” Yoshiki terdiam beberapa saat menatap betapa kacaunya isrinya.
“Yoshiki-kun… sebenarnya kenapa bisa seperti ini? Kenapa semua jadi serumit ini?” Tanya Hana di tengah isakannya.
“Kenapa Yoshiki-kun harus membunuh kedua orang tuaku? Kenapa Yoshiki-kun harus memisahkanku dengan Keigo-kun!? Kenapa…. Kenapa Yoshiki-kun melakukan semua ini kepadaku!? Kenapa kekuatan Yoshiki-kun harus berada di dalam diriku!?” Bagai orang yang kurang waras, Hana meracau tanpa henti.
“Percuma menanyakan itu kepada iblis sepertinya Hana. Dia akan memberikan jawaban-jawaban penuh tipu muslihat,” Keigo yang merasa iba dengan Hana berusaha menenangkan Hana.
“Tipu muslihat….” Hana berguman pelan, “Yoshiki-kun…. Tolong jawab yang satu ini sejujur mungkin….. Yoshiki-kun…. Apakah hubungan kita selama ini juga hanya sebuah tipu muslihat?”
Sebuah helaan nafas terdengar dari Yoshiki. Sayap hitam pekatnya yang tadi merekah lebar sekarang perlahan menutup dengan lemas, “menurutmu bagaimana? Apakah perasaanku kepadamu selama ini terlihat seperti tipu muslihat?” Yoshiki bertanya lemah dengan senyuman pahit terpatri jelas di wajahnya.
Hanya terhenyak karena kalimat dan ekspresi terlihat benar-benar sedih sekarang.
“Jangan dengarkan apapun kalimatnya Hana! Dia hanya sedang berusaha membuatmu bingung! Ingatlah jika adalah pemanipulatif ulung!” Dari arah belakang Keigo berusaha mengingatkan Hana.
“Aku mencintaimu My Lady.”
“JANGAN DENGARKAN IBLIS ITU HANA!”
“Aku harus memisahkanmu dari exorcist sialan di belakangmu itu karena tentu saja dia akan menjadi penghalang bagiku.”
“Menghalangi?” Hana bertanya lemah.
“Aku selalu mengawasimu My Lady. Setiap saat. Dari kelahiranmu, setiap waktu, kau tak pernah lepas dari pengawasanku. Berkali-kali menyamar dengan wajah dan penampilan berbeda dalam membantumu yang hanya manusia bodoh dan rentan dalam menjalani kehidupan. Aku tau cepat atau lambat exorcist akan menemukanmu yang membawa segel kekuatanku. Dugaanku itu benar. Kedua orang tuamu yang peneliti, Prof. Rayumi Tamaki ayahmu, dan Dr. Rayumi Shiho segera direkrut exorcist dalam tim Research. Aku harus melakukan sesuatu mengenai hal itu. Namun aku akui saat itu pikiranku sedang kacau semenjak menyadari ada seorang bocah laki-laki yang mulai dekat denganmu. Kau tau, kukira aku sudah gila saat itu. Begitu resah hanya karena seorang bocah mendekatimu.”
Hana menolehkan wajahnya kebelakang. Mendapati wajah Keigo yang mulai serius saat disebut-sebut bocah oleh Yoshiki.
“Yoshiki-kun…. Dari dulu aku sudah menyadari jika aku tidak akan mendapatkan kisah cinta yang indah. Aku tidak pernah berfikiran untuk dilamar oleh seorang pria… tapi mengetahui orang tuaku dibunuh oleh pria yang menjadi suamiku rasanya—“
“Aku melamarmu.”
Hana dengan cepat memalingkan kepalanya dari Keigo dan menatap Yoshiki dengan tidak percaya.
“Hari itu di pesawat, aku mengundang Prof. Rayumi Tamaki dan Dr. Rayumi Shiho ke ruang VVIP. Mereka duduk di hadapanku dengan wajah yang sangat tegang. Dan aku tau sekali jika exorcist sudah bersiap-siap menangkapku di luar…..
***
“Sial. Tidak disangka kita bisa kecolongan. Lucifer ada di pesawat ini, dan lebih parah lagi dia memanggil kedua orang tua Rayumi Hana.”
“Tidak apa-apa. Lucifer saat ini sangatlah lemah. Kita harus bisa memangkapnya.”
“Kedua Rayumi sudah memasuki ruang VVIP. Kita harus segera bersiap-siap,” sebuah komando terdengar. Dengan segera sepuluh orang exorcist berperingkat tertinggi yang berada di dalam burung besi itu berkumpul di area pintu ruang VVIP dengan Abschleppen Geist milik mereka masing-masing.
Kuroto Yoshiki terdiam dengan kedua kakinya ia silangkan, sementara kedua tangannya ia pertemukan jari-jarinya saja. Di hadapannya adalah kedua orang tua Rayumi. Sebuah senyum ia sunggingkan dengan sopan sebelum memulai kalimatnya.
“Terima kasih telah menerima undanganku, Mr. dan Mrs. Rayumi. Karena kalian sudah mengetahui identitasku, aku tidak perlu repot-repot memperkenalkan diri lagi.”
“Lucifer…” Tamaki tak bisa menahan desisan emosi dan kegugupannya.
“Benar. Lucifer. Namun namaku saat ini adalah Kuroto Yoshiki,” Yoshiki masih tak menghilangkan senyumannya.
“Apa maumu dari kami?”
Yoshiki membenarkan posisi duduknya menjadi lebih sopan untuk dipandang, “biarkan ini menjadi lebih formal sekarang. Mr. dan Mrs. Rayumi kukira anda berdua sudah tau apa yang akan saya katakana di sini,” Yoshiki mendadak merubah gaya bicaranya lebih sopan.
“Siapa yang bisa menebak isi kepala Lucifer?” Tamaki Rayumi masih berada dalam mode siaganya.
Yoshiki terkekeh kecil, “tidak perlu setegang itu Mr. Rayumi. Baiklah bila anda berdua memang tidak tau,” kali ini tatapan Yoshiki terarah langsung kepada keduanya dengan yakin, “saya ingin mengambil anak anda, Rayumi Hana, sebagai istri.”
“DASAR IBLIS TIDAK TAU DIUNTUNG!? BAGAIMANA MUNGKIN KAMU SEMUDAH ITU INGIN MERAMPAS ANAK KAMI!?” Shiho Tamaki yang sedari tadi nampak menahan diri sepertinya sudah kehilangan dirinya sekarang.
Yoshiki dengan tenang menjawab, “tidak ada yang ingin merampas anak anda di sini. Malah bukankah dengan melamarnya adalah cara baik-baik dan sopan?”
“DAN APA KAMU KIRA KAMI AKAN MEMBERIKAN ANAK KAMI BEGITU SAJA!?” Shiho semakin menjadi-jadi. Seakan tubuhnya yang sekarang telah ditahan sang suami itu sangat ingin memberikan penghakiman pada Yoshiki dengan cara menamparnya.
“Ibu sudah, tahan diri ibu!” Tamaki berusaha menenangkan istrinya yang kalap.
“Lucifer, kami sudah tau cerita lengkapnya. Mengenai segel yang berada dalam tubuh putrid kami, dan mengenai kekuatanmu. Kami memutuskan akan menyerahkan putri kami kepada exorcist yang akan melindunginya,” Tamaki membeberkan pembelaannnya dengan mantap.
“Rayumi-san, di sini tidak ada yang ingin menyakiti Hana, dia tidak perlu dilindungi sedemikian rupa.”
“SIAPA YANG BISA MENJAMIN JIKA IBLIS SEPERTIMU TIDAK AKAN MENYAKITI ANAKKU!?” Shiho kembari meracau.
Yoshiki terdiam sejenak, “sebenarnya siapa di sini yang menyakiti Hana? Bukankah itu anda sendiri Rayumi Shiho-san?”