Kamis, 20 Desember 2018

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 23]

CHAPTER 23: THE TURTH OF NATSUME HARU

“H-habisnya aku mendengarkannya secara langsung kalimat yang seperti pengakuan cinta itu,” dengan wajahnya yang agak memerah Hana menjawab pertanyaan Yoshiki walaupun ia memalingkan wajahnya sejauh mungkin.
“Aku kebingungan. Kau sama sekali tidak memberiku petunjuk kenapa Ishikawa Guren mendatangimu. Kuputuskan untuk menelepon Umei Yui.”
“Yui-chan?”
Yoshiki mengangguk mantap, “dia menjelaskan semuanya kepadaku. Tiket, dan kolam renang itu.”
“Pantas saja…” Hana sweatdrop di tempat. Akhirnya ia mengetahui mengapa Natsume Haru tiba-tiba bisa muncul di Paradise Pool waktu itu.
Yoshiki membuang mukanya, “kau semakin akrab dengan si sialan itu. Memanggilnya dengan nama kecilnya sangat akrab. Yang benar saja.”
Sebelah alis Hana sedikit terangkat, “Yoshiki-kun, jangan bilang kamu cemburu gara-gara hal itu?”
Yoshiki kembali menatap Hana dengan kesal, “tentu saja, dia bahkan juga memanggilmu dengan akrab.”
“Eh? Cuman karena itu?” Hana sweatdrop.
“Cuman?” Muncul kedutan di pelipis Yoshiki.
Dikuasi rasa kesal, Yoshiki mendorong tubuh Hana hingga membentur lantai dan ditahannya kedua tangan Hana. Sementara ia sendiri harus bertumpu pada lututnya agar tidak menindih Hana. Kedua wajah itu saling berhadapan.
“Kau tidak mengizinkanku memakan masakan buatanmu, dan malah mengizinkan si sialan itu menikmati masakanmu. Hn, aku baru ingat berniat membuat si sialan itu memuntahkan semua masakan buatanmu yang telah ditelannya setelah aku kembali ke diriku,” Yoshiki menyeringai lebar.
“T-tunggu, waktu itu aku tidak tahu jika Natsume-kun adalah Yoshiki-kun,” Hana mulai panic. Ancaman Yoshiki terdengar seperti tidak main-main.
Yoshiki semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Hana. Salah satu tangannya yang menggenggam tangan Hana pun mengerat.
“Dan yang terburuk… kau meleaskan genggaman tanganku dan meraih tangannya.”
Dingin.
Yoshiki yang kali ini berada di hadapan Hana sangat berbeda dari Yoshiki yang biasanya. Terlalu dingin. Tidak ada secuil ekspresipun muncul ketika Yoshiki berujar.
Hana terpaku di tempatnya. Yang bisa ia rasakan detik itu adalah tiap cengkraman tangan Yoshiki semakin menguat.
Kerongkongannya secara tiba-tiba terasa kering. Ia butuh menelan salivanya. Namun tatapan lekat dan dingin yang diberikan Yoshiki benar-benar mengintimidasinya. Benar-benar sampai membuatnya takut untuk membasahi kerongkongannya.
“A-aa…” Entah apa yang ingin dikatakan Hana, yang keluar dari bibirnya yang terbuka hanyalah kalimat tidak jelas dan terbata.
‘Chu’
Dalam sekejap bibir Hana kembali tertutup oleh bibir Yoshiki.
Hana terkejut bukan main.
Tekan, dorong, sapu, lumat. Yoshiki benar-benar menghajar bibir Hana tanpa ampun.
Hampir saja Hana larut dalam ciuman Yoshiki yang memabukkan. Namun syukurlah akal sehatnya masih terjaga. Membuatnya memukul-mulu ringan punggung lebar Yoshiki.
Dengan begitu Yoshiki mengakhiri keagresivannya menikmati bibir Hana, “Hn? Ada apa? Sekarang pun kau masih menolakku?”
“B-bukan begitu!” Hana mati-matian menahan rasa malunya, “kita masih di sekolah!”
“Hn, kau tahu aku bisa mengatasi itu dengan mudah.”
Benar saja. Apa yang tidak bisa dilakukan seorang raja iblis? Melakukan pengamanan yang siap dalam beberapa detik adalah hal yang teramat mudah.
“Uh…” Hana sedikit menundukkan kepalanya. Menatap lutut Yoshiki yang menyangga di antara pinggang kecilnya.
“My Lady…” Yoshiki melepaskan penyamarannya, “bukankah ada hal yang harus kau jelaskan padaku?”
Hana kembali menatap wajah Yoshiki, pria itu telah kembali dengan dirinya yang bermata gelap dan berambut jagged, “e-eh?”
“Mau kah kau membayangkan perasaanku?” Yoshiki berguman dalam, “aku menanti kabar darimu sangat lama, mengkhawatirkanmu, namun kau sama sekali tidak memberikan respon, dan tiba-tiba aku harus melihatmu keluar dari mobil Ishikawa Guren, pria yang memiliki perasaan padamu.”
Kembali bola mata langit Hana melebar.
“Aku menyalahkan kebodohkanku. Bagaimana mungkin aku bisa sekhawatir itu padamu?” Entah sejak kapan Yoshiki berbicara dengan sedikit menundukkan kepalanya, membuat kedua mata tajamnya yang dingin tersembunyi di balik poninya yang sedikit menjuntai. Membuat Hana bertanya-tanya akan ekspresi Yoshiki.
“Kenyataannya kau tidak kenapa-kenapa dan malah tersenyum bahagia keluar dari mobil si sialan itu. Aku penasaran, bagaimana bisa kau diantar pulang oleh si sialan itu dan apa saja yang kau lakukan atau bicarakan dengannya selama aku tidak di dekatmu,” Yoshiki mulai menggunakan nada congkak, “oh, atau memang sejak awal kau tidak mengizinkanku ikut karena si sialan itu memang ikut dalam acara kali—“
“Bukan begitu!” Hana tiba-tiba menyela kalimat Yoshiki.
“…” Bibir Yoshiki sedikit terbuka, kedua bola mata gelapnya sekarang sibuk mengamati Hana yang ada di bawahnya.
“Guren-kun tiba-tiba saja datang dan berinisiatif mengantar kami pulang. Kebetulan saja memang aku paling akhir turun. Maafkan aku karena tidak menyadari email dan panggilan darimu. Aku sama sekali tidak menyadarinya,” Hana menatap berusaha Yoshiki dengan segala keberaniannya,”t-tapi sunggu Yoshiki-kun, aku tidak melakukan apapun dengannya. Kami hanya berbincang tentang sesuatu yang umum. Tidak ada hal khusus.”
“Oh… Guren-kun?” Yoshiki mengulangi cara Hana menyebut nama Ishikawa Guren dengan akrab.
“D-dia memintaku memanggilnya dengan nama kecilnya saja.”
“Hn, dan lagi, aku tidak menyangka jika dia benar-benar akan menyatakan perasaannya padamu kemarin,” Hana tak bisa membaca ekspresi Yoshiki yang menatapnya dengan seringai namun juga tersenyum meremehkan.
Yoshiki semakin menunjukkan ekspresinya yang meremehkan, “bagaimana jika aku tidak datang saat itu?”
“AKU TAHU!” Hana seketika merespon cepat sindiran Yoshiki dengan kuat.
Yoshiki terdiam menatap Hana.
“Yui, Maki, dan Shiro juga memberitahuku begitu. Dan aku sedikit banyak tahu jika Gure—“ Hana menginterupsi kalimatnya agar mengurangi kecemburuan Yoshiki, “Ishikawa-kun akan menyatakan perasaannya padaku. Oleh sebab itu…”
Hening beberapa saat karena Hana menghentikan kalimatnya. Sementara itu Yoshiki dengan tenang menunggu. Namun hal pertama yang muncul bukanlah lanjutan cerita Hana, tetapi air mata Hana. Yoshiki sedikit tersentak melihatnya.
“Aku berniat mengatakan jika aku tidak bisa menerimanya…” Hana berguman lemah diantara tumpahan air matanya.
Kedua onix Yoshiki membulat sempurna.
“Lagipula aku sudah memberitahu kepada Ishikawa-kun jika aku sudah memiliki kekasih ketika dia mengantarku pulang. Dia mengira jika kekasihku adalah Natsume Haru, aku mengelak—tentu saja—dan memberitahunya jika kekasihku adalah Yoshiki-kun,” Hana tersenyum tipis pada sosok Yoshiki yang menindihnya.
“Yoshiki-kun…” Tangan Hana bergerak mengalungi leher jenjang Yoshiki.
“Maafkan aku yang beberapa kali sempat melupakanmu, tapi sungguh, aku hanya mencintaimu, percayalah.”
“Buktikan,” Yoshiki berujar tiba-tiba.
“Eh?”
“Buktikan ucapanmu dengan melakukan sesuatu.”
“Sesuatu a-apa?”
“Hn, entahlah. Apapun itu,” Yoshiki hanya menatap datar Hana.
“A-ah… aku mau berdansa denganmu di prom night kelulusan?” Hana mulai berkeringat dingin.
“Hn, tentu kau harus berdansa denganku jika kau tidak ingin melihat acara prom night menjadi kacau dan penuh tumpukan mayat,” ujar Yoshiki santai.
Hana semakin terpojok, “a-aku t-tidak tahu lagi!”
“Hn,” Yoshiki mendekatkan wajahnya pada wajah Hana untuk beberapa detik. Membuat keringat di pelipis Hana bercucuran karena intimidasi langsung Yoshiki.
Hingga akhirnya sang Lucifer menarik dirinya tanpa melakukan sesuatu sambil berujar, “Untuk sekarang aku mempercayaimu. Tetapi jika kau kembali melupakanku, kupastikan aku akan memberikan hukuman yang akan membuatmu jera.”
Seketika bulu kuduk Hana berdesir.
Kedua bola mata langit Hana menangkap tangan Yoshiki bergerak memasuki saku celanan kanannya yang kemudian menariknya kembali dengan sebuah cincin.
“Ah,” Hana hanya bisa menganga kecil melihat cincin itu Yoshiki selipkan diantara jari-jarinya.
“Salah satu hal yang paling kubenci ketika harus menjadi Natsume Haru adalah aku tidak bisa memakai cincin ini,” Yoshiki berguman sembari menatapi cincin yang telah terpasang di jari manisnya, “cincin ini… bukti jika aku milikmu, dan cincimu… bukti jika kau milikku.”
Pandangan Hana terasa mengabur karena wajahnya kembali memanas.

.

“Nah akhirnya kalian kembali juga. Dari mana saja sih? Dilarang bermesraan di sekolah loh!” Belum saja Yoshiki selesai menutup pintu yang telah dilalui Hana terlebih dahulu, Maki sudah muncul di hadapan keduanya dengan kedua tangan tersilangkan dan berwajah dongkol.
“Tenang dulu Maki, ada apa?” Hana hanya bisa sweatdrop sambil menenangkan sahabatnya.
“Kami sekelas berniat melakukan perjalanan wisata ke Nara tanpa adanya guru. Jadi hanya agenda kelas kita saja! Bagaimana? Setuju tidak?” Maki menatap Hana dengan berseri-seri.
“Hooo… kenapa tiba-tiba?”
“Kita sudah hampir mendekati kelulusan. Setidaknya mari kita buat sebuah kenangan yang indah. Keluarga Amagawa-kun punya penginapan yang bagus di Nara! Dan hebatnya kita bisa menggunakannya secara gratis! Yak an Amagawa-kun!?” Maki sekarang menatap Nashiro Amagawa membutuhkan persetujuan.
Dengan sedikit tertawa ragu, Amagawa menangguk menyetujui.
“Yah… kalau aku sih setuju-setuju saja. Tapi…” Hana menoleh ke belakang, menunggu persetujuan Yoshiki.
Maki yang menyadari jika Hana meminta respon Yoshiki langsung memotong, “sudah ikut saja. Kita kan hanya sekelas. Tidak akan ada siswa kelas ini yang kelainan mata dan tertarik pada Hana selain Kuroto-kun. Jadi Kuroto-kun walaupun tidak bisa ikut itu bukan masalah.”
“Tidak. Aku ikut.” Yoshiki menjawab dengan tenang kemudian berlalu menuju bangkunya.
“Tcih, kapan kalian bisa terpisahkan sih?” Maki menatap Hana dongkol.
“Kamu kenapa sih Maki?” Hana balik menatap Maki dongkol.
Mengabaikan respon Hana, Maki kembali berdiri di depan kelas, “nah kawan-kawan~~ kembali lagi ke bahasan kita, karena sebentar lagi waktu istirahat siang juga akan segera habis, mari kita lanjutkan tentang jadwal keberangkatan dan apa-apa saja yang nanti akan kita lakukan selama 3 hari 2 malam menginap!”
“Bagaimana jika minggu ini? Bukankah hari senin bertepatan dengan hari anak? Kita bisa menambah jatah libur kita!” Celetuk seorang siswa.
“Ah bagus itu!”
“Baik, kita setuju mengambil hari itu ya!” Maki menggambil alih keputusan.
Sementara Hana kembali ke bangkunya, proses musyawara kelas terus berlanjut hingga membahas mengenai aktivitas apa saja yang akan direncanakan.
“BBQ!”
“Jurit malam!”
“Games!”
Berbagai saran berdatangan. Membuat senyum Maki melebar membentu sebuah seringaian. Hana yang menyadari senyum aneh Maki hanya bisa meneguk ludah.
.

“Semua sudah lengkap?” Rui mendekatkan kedua tangannya di dekat bibir supaya suaranya terdengar lebih nyaring.
“Sudaaaah!” Beberapa siswa 3-4 menjawab serempak.
Kini seluruh siswa 3-4 secara lengkap tengah berada di stasiun kereta untuk berangkat bersama-sama menuju Nara. Liburan bersama sebelum kelulusan yang sangat mereka nanti-nantikan akhirnya tiba. Waktu puncak dari menikmati masa sekolah.
“Yosh!” Maki berteriak semangat.
“Waaa tidak kusangka akan benar-benar lengkap. Bahkan Raku yang hikikomori juga ikut. Mungkin aku akan mengajak kalian ke danau karena telah berkumpul lengkap,” kalimat Nashiro Amagawa yang berbicara dengan beberapa siswa terdengar oleh Maki.
“Apa? Danau!?” Maki menatap Amagawa tidak percaya.
“A-aa… yah..” Amagawa dengan canggung menjawab. Ia cukup kaget dengan respon tiba-tiba Maki.
“Kenapa tidak bilang dari awal!? Seberapa jauh danau itu dari penginapanmu!?”
“H-Habisnya di sana sepi. Hanya 5-10 menit berjalan kaki.”
“Bagus! Hei jelaskan padaku danaunya seperti apa!”
“Seperti apa? Hmm itu hanya danau biasa di dekat gunung. Biasa kugunakan untuk berenang waktu kecil,” Nashiro Amagawa sedikit menaikan sebelah alisnya saat menjelaskan.
“DASAR! KENAPA TIDAK MEMBERITAHU KALAU ADA TEMPAT SEMENARIK ITU!? KAMI JADI TIDAK ADA PERSIAPAN KAN!” Maki melotot kea rah Amagawa.
Sekarang Maki berbalik ke arah kerumunan, “TEMAN-TEMAN DI PENGINAPAN AMAGAWA-KUN ADA SEBUAH DANAU YANG BISA DIGUNAKAN UNTUK BERENANG! APA KALIAN MEMBAWA BIKINI!?”
“EEEEEEEHHHHH!???” Sontak begitulah respon para siswa keseluruhan.
“He?” Sementara Amagawa malah cengo sendiri.
“Tentu saja aku tidak bawa!” Salah satu siswi menyahuti.
“Bagaimana ini? Kenapa begitu mendadak?” Terdengar sahutan yang lain.
“Kita beli saja bagaimana? Di dekat sini ada department store kan?” Maki memberikan saran setelah berpikir di tengah keributan.
“Waaa boleh!”
“Yaaay! Berenang!”
Mendengar respon teman-teman perempuannya positif, Maki meminta persetujuan pada ketua kelas dengan tatapan memohonnya.
Rui menghela nafas lalu mengecek jam tangannya, “kereta tiba 45 menit lagi. Kalian kuberi waktu belanja setengah jam. Cepat!”
“Waaaaaaiiii!!”
Dan begitulah, para siswi berbondong-bondong keluar stasiun untuk menuju departemen store terdekat.
“Ayo kamu juga!”
“He?” Hana Nampak kebingungan dengan kedua tangannya diapit teman-teman perempuannya dan ditarik mengikuti arus.
“Dasar para perempuan itu…” Nashiro Amagawa menghela nafas berat pada Rui.
“Salahmu juga baru memberitahu itu sekarang,” Rui tidak mendukung omelan Amagawa.
“Kamu mau berenang juga Ketua?”
“Entahlah. Tapi yang terpenting bukannya pemandangan saat teman perempuan sekelas kita mengenakan bikini? Hehehe…” Rui agak berbisik pada Amagawa.
“Ha ha ha,” Amagawa tertawa hambar.
“Ini seperti pesta terakhir kita sebelum kelulusan! Kita harus mencari momen-momen khusus yang membuat kita tidak menyesal telah menjadi seorang siswa SMA!”
“…” Sementara itu Kuroto Yoshiki yang diam-diam mendengar bisikan Rui hanya menatap datar ke arah lain dengan meminum perlahan kopi kalengnya. Tidak ada yang menyadari jika ada bekas peyot akibat dari pegangannya yang terlalu kuat pada kaleng kopi itu.

.

Seketika sebuah took di departemen store diserbu oleh kerumunan siswi kelas 3-4. Suasana menjadi riuh dan penuh. Bahkan pelayan toko sempat pontang-panting melayani.
“Lihat! Bagaimana? Cocok tidak?”
“One piece putih! Bagus-bagus!”
Di sisi lain Hana hanya bisa sweatdrop melihat teman-temannya begitu bersemangat bergantian keluar-masuk ruang ganti dengan beragam bikini melekat pada tubuh mereka.
“Uwaaa… sebenarnya apa yang kulakukan di sini?” Keluh Hana.
“Kamu ngapain di sini? Nggak cari bikini?” Celetuk Yui dari belakang Hana tiba-tiba.
Seketika Hana menolehkan kepalanya dan mendapati perempuan bersurai ungu itu tengah memasukkan sesuatu ke dalam tas plastic—sepertinya Yui telah mendapatkan bikininya, “ah Yui, sudah dapat?”
“Begitulah,” sahut Yui santai, “lalu bagaimana denganmu? Kamu nggak cari bikini?”
“Ah tidak… aku tidak berniat berenang… sepertinya,” Hana menatap ke arah lain dengan berkeringat dingin.
“Kenapa sih? Kita kan sudah pernah berenang bersama? Dan tidak ada yang aneh dengamu mengenakan bikini,” Yui menyilangkan tangannya di depan dada.
“Y-Yah… kemarin kan yang ikut cumin beberapa orang. Beda dengan sekarang di mana banyak yang ikut.”
“Tunggu di sini, akan kucarikan ukuran yang pas untukmu!” Yui kabur begitu saja.
“HEEEEEEE!!??”

.

Akhirnya beberapa jam kemudian kereta dengan salah satu gerbong dipenuhi oleh penghuni kelas 3-4 berangkat meninggalkan stasiun. Suasana riuh penuh canda menguar di dalam gerbong.
Read More ->>

Selasa, 04 Desember 2018

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 22]

CHAPTER 22: IS THIS HAPPINESS?

Jarum jam telah menunjuk ke angka 6 pagi itu. Bagi seorang pelajar, jam 6 adalah jam yang tepat untuk bangun dan bersiap-siap berangkat sekolah. Tapi tidak bagi Hana. Perempuan berambut pendek itu masih tidur bergumul dengan selimut putihnya yang tebal.
Yoshiki tersenyum tipis melihat ekspresi polos Hana yang masih larut dalam tidurnya walaupun cahaya matahari telah menerobos memasuki jendela kamar mereka. Sang raja iblis meraih kemejanya yang tercecer di sekitar ranjang akibat kegilaan-nya kemarin malam.
Bibir tipis Yoshiki tak bisa berhenti membentuk senyuman walaupun lebih mirip seperti seringai kemenangan. Akhirnya setelah beberapa minggu ia harus menderita sebagai Natsume Haru, kemarin malam ia kembali merasakan bagaimana perasaan bahagia yang egois karena berhasil menikmati tubuh istrinya. Mendengar istrinya mendesahkan namanya berkali-kali adalah candu yang lain baginya. Sejenak dadanya terasa hangat. Ia kembali tersenyum.
Disentuhkan jari-jarinya pada permukaan wajah Hana. Entah dengan niat membangunkan atau menghilangkan rindu. Tapi Hana yang merasakan sentuhan itu perlahan membuka matanya.
“Engh?” Dalam keadaan setengah sadar Hana berguman.
“Aku bisa menemanimu berbaring di sana seharian My Lady jika kau ingin mengabaikan jadwal sekolah hari ini,” Yoshiki berguman penuh lelucon sambil mengancingkan kancing kemejanya.
“AH!” Tubuh Hana seketika melompat dari ranjang.
Bola mata langit Hana melebar begitu melihat jarum-jarum jam yang terus bergerak.
“Baka! Yoshiki-kun kita akan terlambat! Kenapa tidak membangunkanku lebih pagi!” Hana menyemburkan kalimat-kalimat penuh kemarahan.
“Hn? Kukira kau cukup lelah setelah beberapa orgasme kemarin malam,” seolah mengucapkannya tak acuh, tetapi Yoshiki tetap tidak bisa menyembunyikan kejahilannya.
Seketika ruam merah meledak di wajah Hana. Kepalanya yang kaku berberak menunduk dan menyadari jika selimut yang menutupi tubuhnya telah lenyap. Sekarang tubuh kecilnya terpampang jelas tanpa selembar kainpun.
“B-BAKAAAAAAA KELUAR SANA!” Hana mendorong Yoshiki keluar kamar tanpa sadar.
BLAM!
Pintu besar kamar tertutup dari belakang. Menyisahkan Yoshiki dengan kemeja setengah terkancing. Membuat beberapa pelayan yang berjaga di depan kamar merasa kebingungan melihat raja mereka baru saja didepak dari kamarnya sendiri.
Tetapi sepertinya Yoshiki tidak memperdulikan hal itu. Justru ia malah tersenyum lebar. Sesuatu yang sangat langkah.
“My Lord, seragam sekolah anda telah kami siapkan,” seorang pelayan membungkuk di dekat Yoshiki.
“Hn,” Yoshiki berguman datar.
Namun entah mengapa rasanya kebahagian begitu meluap-luap di dalam rongga dada Yoshiki.
‘Tidak salah lagi, kebahagiaan ini…. My Lady…’
.

Hana hanya diam. Baik di ruang makan maupun di mobil yang tengah dikendarai Yoshiki dengan kecepatan yang mampu membuat polisi menilangnya.
Perempuan berambut gelap itu masih belum mempercayai apa yang terjadi. Kuroto Yoshiki telah kembali. Suaminya telah kembali. Seakan seperti mimpi ia bisa kembali sarapan di meja yang sama dengan sang suami, bahkan berangkat sekolah seperti dahulu bersama sang suami.
Bibirnya perlahan membentuk sebuah lekungan ke bawah.
‘Yoshiki-kun… aku bahagia.’
.

“Woah woah lihat siapa yang datang? Sang pangeran dan sang idiot!”
Hana terkejut begitu memasuki ruang kelas dan mendapati Maki berujar penuh sindiran, “EH!?”
Yoshiki sendiri tak begitu menanggapi kalimat Maki, ia memilih melewati Maki begitu saja untuK menuju bangkunya.
Hana menatap Yoshiki sejenak, ‘begitu ya… Yoshiki juga sudah menggembalikan ingatan setiap orang di sini.’
“Kamu ini kenapa sih Maki? Masih pagi loh?” Hana berguman kesal pada Maki yang masih menatapnya dongkol.
“Haaah… memangnya setelah kuceritakan kamu akan paham perasaan seorang jomblo? Kamu kan sudah bahagia dengan Kuroto-kun,” Maki menatap ke arah lain dongkol.
“Kamu gagal dapat alamat email kouhai yang kamu incar?” Hana menebak ragu.
Maki menghadiahi Hana dengan tatapan tajam, dengan begitu Hana berhasil menyimpulkan jika tebakannya tidaklah salah.
“Berarti dia bukan jodohmu Maki, berusahalah lagi,” memilih meninggalkan Maki, Hana melangkah menuju bangkunya yang berada tidak jauh dari bangku yang diduduki Yoshiki.
Tunggu—
Bukankah tempat duduk yang digunakan oleh Yoshiki sekarang adalah tempat duduk Natsume Haru biasanya? Kalau dipikir-pikir lagi, ia tidak pernah sekalipun bertemu Natsume Haru semenjak kejadian Ishikawa Guren yang mengantarnya pulang. Kemana gerangan perginya pria berambut putih itu?
“Anu, Yoshiki-kun?” Tiba-tiba saja Hana telah membuka suaranya. Membuat Yoshiki yang asyik bertopang dagu menatap keluar jendela kelas di lantai 3 menoleh ke arah Hana.
“Hn?” Gumannya dengan menaikan sebelah alisnya.

“Natsume Haru, aku tidak pernah melihatnya lagi, apa kamu tahu dia di mana?”
Yoshiki lumayan tersentak mendengar pertanyaan Hana, “Hn, kenapa mencarinya?”
Hana bungkam beberapa detik, ia menundukkan kepalanya, “tidak… kukira aku pernah membuatnya marah,”
“Marah?” Lagi-lagi Yoshiki melontarkan sebuah pertanyaan.
“Umm, yah, mungkin dia marah karena mengabaikan banyak email dan panggilan darinya sementara dia menunggu lebih dari 3 jam,” Hana masih menundukkan kepalanya.
Rahang Yoshiki mengeras begitu mengingat kejadian itu. Padahal ia sangat ingin melupakan kejadian itu. Dan lagi, Hana tetap saja tidak menyadari jika kemarahannya bukan karena ia menunggu seberapa lama. Tetapi inti dari kemarahannya adalah, bagaimana bisa Hana diantar pulang oleh Ishikawa Guren!? Apa yang terjadi diantara mereka!? Apa saja yang mereka lakukan dan bicarakan di dalam mobil!? Atau jangan-jangan Ishikawa Guren juga ikut dalam kegiatan makan crepe mereka!?
“Um? Yoshiki-kun?” Hana memutuskan memanggil nama sang pria karena dilihat dari manapun sepertinya Yoshiki tenggelam dalam pikirannya.
“Hn?” Yoshiki kembali mendongkak pada Hana. Kali ini tanpa sadar ia menatap Hana dengan sangat dingin.
“Sepertinya ia tidak kembali menjadi murid di kelas ini ya, Natsume Haru,” tentu saja Hana menyadari tatapan dingin tiba-tiba Yoshiki, tetapi ia lebih memilih melanjutkan topic pembicaraannya mempertimbangkan jika Yoshiki memiliki beban pikiran yang tak ingin dibicarakan.
“Dia tidak bisa kembali lagi,” ucap Yoshiki tiba-tiba.
“Eh?”
“Karena identitas sebenarnya Natsume Haru adalah aku.”
Tubuh Hana menegang.
SREEEEEEG
Pintu geser kelas terbuka dan memunculkan seorang pria tua berkacamata, itu Naoishi-sensei, guru pengajar Kimia. Seketika seluruh penghuni kelas duduk rapi di bangku masing-masing. Kecuali Hana yang masih mematung di tempatnya.
“Rayumi! Cepat kembali ke bangkumu!” Naoishi-sensei membentak Hana.
“A-ah,” Hana menoleh ragu. Apa maksud Yoshiki barusan? Tapi pelajaran telah dimulai. Dengan terpaksa Hana menuju bangkunya yang berada di belakang bangku Yoshiki berjarak 2 bangku.
Selama pelajaran berlangsung pun, Hana hanya mampu mengamati punggung Yoshiki dari belakang.
‘Natsume Haru-kun adalah Yoshiki-kun?’
‘Jadi selama ini Yoshiki-kun tidak ditangkap Exorcist?’
‘Lalu kenapa menyamar?’
Beberapa pertanyaan muncul bertubi-tubi di dalam kepalanya. Tak memberinya kesempatan untuk menyimak satu pelajaran pun.
.

Bel istirahat menggema beberapa saat setelah guru pengajar keluar dari kelas. Tak menyianyiakan kesempatan yang ada, Hana segera menuju bangku Yoshiki.
“Yoshiki-kun! Ayo makan siang di atap!” Hana harus segera mendengar jawaban-jawaban dari segala pertanyaannya dari mulut Yoshiki. Oleh karena itu mereka membutuhkan tempat yang lebih privasi.
“Hohoho… lihatlah pasangan yang sedang kasmaran ini,” Maki menyindiri dari arah belakang.
“H-he?” Hana menoleh ke arah Maki yang ternyata bukan cuma Maki yang tengah menatap mereka, tetapi seluruh penghuni kelas juga.
“APA-APAAN TATAPAN KALIAN ITU!?” Wajah Hana sukses memerah padam.
GREP
Tangan tan Hana yang digenggam oleh Yoshiki memaksanya mengikuti langkah Yoshiki keluar kelas.
“T-Tunggu Yoshiki-kun!” Protes Hana karena ditarik tiba-tiab.
“Fyuuut~” Siulan penuh godaan terdengar riuh di dalam kelas begitu keduanya meninggalkan kelas.
.

“Y-Yoshiki-kun sebentar!” Hana berusaha berhenti mengikuti tarikan Yoshiki.
“Hn? Ada apa? Bukankah ada hal yang ingin kau bicarakan denganku sambil makan siang di atap?” Ucap Yoshiki tak acuh.
“Itu memang benar, tetapi aku tak membawa makan siang, jadi sebaiknya kita beli terlebih dahulu.”
“…” Yoshiki sweatdrop.
.

Cuaca hari itu cukup cerah. Matahari tidak bersinar pada intensitas tinggi. Awan gelap juga tak terlihat di manapun mata memandang. Beberapa burung beraktivitas di angkasa. Dan ditambah tidak ada seorangpun yang menggunakan atap selain Rayumi Hana dan Kuroto Yoshiki. Entah situasi yang kebetulan atau semua orang yang hendak ke atap telah Yoshiki singkirkan terlebih dahulu.
“Yoshiki-kun, kamu yakin tidak mau mencoba roti soba ekstra keju ini?” Hana menyodorkan sebuah roti yang penuh berisi serutan keju.
“Hn, tidak, aku lebih menyukai masakan buatanmu daripada harus memakan makanan kantin,” tolak Yoshiki.
Wajah Hana sedikit memerah mendengar kalimat Yoshiki, “apaan sih, padahal kamu dulu pernah beberapa hari di kantin, dan lagi masakanku tidak seenak itu.”
“Hn, itu hanya demi mengurangi kecurigaan saja,” jawab Yoshiki enteng.
“Jadi, umm, apa benar? Yoshiki-kun adalah Natsume-kun?” Tanya Hana ragu-ragu.
“Hn,” jawab Yoshiki tak acuh, bahkan menoleh ke arah lain.
Hana menghentikan aktivitas makannya seketika. Menelan bulat-bulat kunyahan roti soba dalam mulutnya yang belum sepenuhnya lembut.
Hening beberapa saat.
“HEEEEEEEE!!?” Dalam beberapa detik Hana melakukan beberapa hal sekaligus, melemparkan roti sobanya, menduduki salah satu paha Yoshiki yang tengah duduk, mencengkram kerah baju Yoshiki, dan berteriak tepat di muka Yoshiki, “JADI ITU BENAR?? KENAPA HARUS MENYAMAR DAN MEMBUAT KABAR BAHWA YOSHIKI-KUN DITANGKAP? DASAR YOSHIKI-KUN BODOOH! Dasar bodoh…” hingga suaranya memelan dan menghilang, Hana menundukan kepalanya, menyandarkan rambut gelapnya pada dada bidang sang suami.
“Padahal aku… benar-benar shock, aku khawatir, aku bingung, semuanya… terasa menyedihkah…” setiap penggal kalimatnya, nada bicara Hana semakin melemah. Bahkan ia tak bisa menahan air mata yang menukik turun dari bola matanya.
“….” Kedua onyx gelap Yoshiki yang biasa memancarkan intimidasi kini merasa terkalahkan. Keduanya terbelalak lebar menatap kepala gelap Hana yang bergetar di dadanya.
“Aku… tidak memiliki pilihan lain,” Yoshiki menatap ke arah lain sebelum memulai penjelasannya, “mereka menggunakanmu untuk mengincarku. Karena keteledoranku, mereka berhasil mendapatkanmu untuk memancingku. Dalam keadaan terdesak aku segera bertukar posisi dengan Tomuro. Dia menyamar sebagai diriku dan aku kembali sebagai Natsume Haru. Tentu saja menggunakan penyamaran tradisional saja. Karena mereka pasti akan mencariku lewat energi dan gelombang sihirku aku harus mematikan aliran sihir dalam tubuhku.”
“Lihat,” Yoshiki memunculkan sebuah topeng penyamaran berupa kulit dan rambut berwarna putih dalam genggamannya. Tanpa banyak kata lagi dipakainya topeng tersebut. Dan dipasangnya sepasang lensa mata berwarna merah sebagai pelengkap.
Kedua bola mata langit pagi Hana melebar melihat sosok di hadapannya. Dalam kurang dari lima menit Kuroto Yoshiki yang berambut jagged gelap telah berubah menjadi Natsume Haru yang berambut putih.
“N-Natusme-kun?”
Yoshiki dalam penyamarannya mengangguk lemah, “begitu kembali ke mansion aku agak terkejut melihat reaksimu yang cukup jauh dari bayanganku,” ucapnya menggunakan suara Natsume Haru.
“Ah! S-Suaranya juga berubah!”
“Hn, dengan latihan aku masih bisa membuat suara yang lain.”
“S-soal reaksiku, aku hanya benar-benar bingung saat itu. Aku tidak ingin kamu ditangkap. Dan tiba-tiba ada orang asing muncul, membuatku marah saja dan tanpa sadar aku menusuknya. M-Maaf…” Hana kembali menundukan kepalanya.
Yoshiki dalam wajah Natsume Haru tersenyum tipis, ditepuknya kepala Hana halus, “tidak apa, lagi pula aku pernah ditusuk sampai setengah sekarat olehmu.”
Hana mengangkat kepalanya cepat dan menunjukkan ekspresi cemberut, “m-mou! Kenapa dibahas lagi!”
“Hahaha,” Yoshiki tertawa pendek, “tetapi bukan itu reaksi yang kumaksud.”
“Eh? Lalu?”
“Aku tidak menyangka kau benar-benar putus asa setelah menerima kabar itu. Bahkan kau sampai membenturkan kepalamu ke dinding. Padahal aku ada di dekatmu tetapi tidak bisa berbuat apa-apa,” Kedua alis Yoshiki mengerut ke atas.
“T-Tapi akhirnya Yoshiki-kun memberikan rekaman itu kan!” Hana mencoba membangkitkan kembali semangat Yoshiki.
“Hn, rasanya memang menyebalkan saat tidak bisa melakukan apa-apa untukmu walaupun aku berada di dekatmu. Saat Class Fest waktu itupun, aku telah meninggalkanmu sendirian,” ucap Yoshiki dengan nada berat namun berkesan sedih.
“Ah…” bukannya menyemangati Yoshiki, Hana ikut larut dalam alur pembicaraan, “waktu itu… aku memang berharap jika Yoshiki-kun ada di sampingku, dan… uh… ke ruang istirahat mungkin? Hehe.”
Diraihnya tubuh Hana yang duduk menindih pahanya yang tersilang, dan ditundukkannya kepalanya untuk bersandar pada bahu kecil Hana, “tanpa kau minta pun, aku akan membawamu ke sana. Apalagi setelah itu aku harus melihatmu bergandengan tangan dengan si sialan Ishikawa Guren itu,” ujar Yoshiki dongkol.
“T-tunggu. Kalau tidak salah setelah itu—“ Kalimat Hana tercekat di tenggorokannya begitu menyadari apa yang terjadi setelahnya. Natsume Haru memasuki kamarnya dan entah bagaimana
“Jadi ternyata memang Yoshiki-kun yang waktu itu kupeluk!”
“Hn, waktu itu aku tidak bisa menahan diriku.”
“U-uh…” Hana hanya menunduk lemah.
“Dan semuanya semakin memburuk ketika Ishikawa Guren semakin mendekatimu dan kau tiba-tiba membenci Natsume Haru. Sebenarnya kenapa kau membenci Natsume Haru?” Sekarang Yoshiki dalam penyamaran Natsume Haru menatap jengkel pada Hana. Sungguh terlihat aneh melihat Natsume Haru harus menyebut namanya sendiri.
“Habisnya waktu itu aku tidak sengaja mendengar pembicaraannya dengan Misaki. Dia bilang seperti ‘lebih baik seperti ini, Yoshiki-kun ditangkap’ seolah-olah Natsume-kun bisa mendapatkanku saat Yoshiki-kun tertangkap!”
“Menginginkamu? Kau menterjemahkannya seperti Natsume Haru tertarik padamu?” Yoshiki yang tengah menyamar sebagai Natsume Haru mengangkat satu alisnya.
“Ya begitulah! Mou!” Ruam merah kembali menyelimuti wajahnya saat mengungkapkan rasa kepercayaannya yang tinggi, mengira Natsume Haru menyukainya.
“Hhhh….” Yoshiki membuang nafas berat, “hal yang bagus kau bisa melindungi dirimu jika ada pria yang tertarik padamu, tetapi hal itu benar-benar menyulitkanku kali ini. Lagipula jika kau bisa merasakan bila Natsume Haru tertarik padamu, kenapa kau tidak menyadari jika Ishikawa Guren juga tertarik padamu?”
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.