Selasa, 28 Mei 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 29]

CHAPTER 29: Prom Night


Liburan telah berakhir. Ujian akhir pun dilaksanakan. Hari demi hari terasa seperti neraka bagi setiap siswa yang memiliki target nilai tertentu. Tapi hal itu tentu saja tidak berlaku bagi Kuroto Yoshiki.
“Ahh akhirnya hari terakhir ujian!” Hana meregangkan tubuhnya. Menangkat kedua tangannya ke udara.
“Hn, apa yang akan kau lakukan?” Yoshiki berjalan di samping Hana.
“Ngg… karena paman Asami-chan punya hotel di daerah pusat kota, jadi rencana perpisahan dengan pesta dansa kelas 3-4 benar-benar dilaksanakan besok malam. Bagaimana jika mencari gaun?”
“Tidak biasanya kau tertarik untuk mencari anggun.”
“Yoshiki-kun jahat deh. Aku kan hanya berinisiatif.”
“Hn…” Yoshiki menepuk kepala Hana ringan, “tentu. Ayo kita cari gaun untukmu.”



“Siapa yang tadi berkata ingin mencari gaun?” Yoshiki di depan laptopnya berguman tanpa menatap siapa yang ia ajak bicara.
“Ugh!” Sebuah suara yang sepertinya terluka akibat kalimat Yoshiki terdengar dari arah sofa di depan meja kerja Yoshiki. Di situ Hana berada. Perempuan berambut hitam pendek yang kini acak-acakan itu tengah tiduran dengan tidak sopan di atas sebuah sofa.
“Biarkan aku menyelesaikan pencarian item untuk mengupgrade karakterku,” Hana mendesis protes.
“Kau sudah melakukan itu sejak kita pulang dari sekolah tadi.”
“Habisnya aku tiba-tiba ingat kalau event di mana aku bisa mencari item langkah hanya sampai hari ini jam dua belas malam. Aku harus kerja rodi untuk mendapatkannya!” Hana terus menggerutu sementara wajahnya ia tenggelamkan di balik ponselnya, “lagi pula Yoshiki-kun kan juga sibuk bekerja.”
“Aku akan menunda—“
TRRRRRRRRRRRR!!!
“WAAAAAAAAA!!”
Kalimat Yoshiki terpotong seketika setelah ponsel Hana bergetar dan berdering hebat karena sebuah panggilan masuk.
“YUI BODOH! AKU SEDANG DALAM MISI MENJADI MASOKIS DAN KAMU SUDAH MENGHANCURKAN SEMUANYA! TANGGUNG JAWAB! KAMU HARUS MEMBERIKU ITEM EKOR RUBAH EMAS, BOLA MATA NAGA, DAN ABU POHON EK DARI TIMUR!”
Yoshiki hanya sweatdrop melihat tingkah Hana. Istrinya itu tiba-tiba masuk ke ruang kerjanya hanya untuk bermain game dengan tingkahnya yang luar biasa gila ketika dia kesusahan melawan musuh dalam game.
“Kamu ngomong apaan sih?”
‘Hn? Loudspeaker?’ Karena mendengar suara Yui dari ponsel Hana fokus Yoshiki kembali teralihkan.
“Aku sedang bermain game! Jadi berhenti meneleponku!” Hana terus meraung protes.
“Tidak tidak. Kamu pikir besok tidak ada apa-apa? Besok ada pesta dansa kelas kita! Sudah kuduga kamu tidak akan peduli soal hal ini! Aku akan segera ke rumahmu dan menjemputmu paksa! Kamu harus mencari gaunmu untuk besok!” Dari sebrang sana Yui juga terus meraung protes.
Hana bangkit dan posisinya seketika.
Yui tidak boleh ke rumahnya karena tempat itu sudah kosong semenjak Hana pindah ke mansion Yoshiki!
“Ng… ngg.. ya… a-aku…” Seketika Hana memalingkan wajahnya dengan gerakan terpotong-potong—meminta bantuan.
“Hn…” Yoshiki menghela nafas berat, “katakana saja kau akan pergi bersamaku. Tanyakan dia akan pergi mencari gaun di mana, kita ke sana.”
“A-aku akan ke sana bersama Yoshiki-kun, ingin mencari gaun di mana?”
“Kuroto-kun? Ah, boleh saja. Aku akan menunggumu bersama Ida-kun di pusat butik blok 5 ok?”
“O-ok,” masih dengan setengah gugup Hana mematikan panggilan telepon Yui.
“Ayo segera kita selesaikan misi kita Yoshiki-kun supaya aku bisa kembali menyiksa diri berburu item!” Orasi Hana semangat.

….

“Itu dia, akhirnya dia benar-benar datang,” Yui menatap kesal kedatangan Hana.
“Loh, kukira ada Maki dan Shiro juga,” ucap Hana ketika mendatangi Yui. Di belakang Yui ada Ida berdiri.
“Maki sudah dapat gaunnya. Sementara Shiro sepertinya mencari gaun bersama Dr. Araide. Kali ini kupastikan kamu akan menjadi anggun dan cantik!” Ujar Yui berapi-api.
“Heee? Begitu ya Yui? Udara panas dari semangatmu itu terasa loh,” Hana sweatdrop.
Keempat remaja itu akhirnya berkeliling keluar masuk setiap butik seenak mereka. Sudah hampir lebih dari sepuluh butik mereka kunjungi. Merepotkan penjaga toko sama sekali tak masuk dalam hitungan yang harus dipikirkan.
“Aku tau jika perempuan akan semerepotkan ini ketika membeli pakaian, tapi siapa sangka kali ini begitu buruk!” Ida seperti akan limbung dari posisi tegaknya.
Yoshiki yang ada di samping Ida tidak merespon.
Keduanya selalu mengekor di balik dua perempuan yang entah kenapa tidak memiliki kata lelah dalam kamus mereka.
“Mencari untuk satu orang saja sudah melelahkan. Apalagi untuk dua orang. Aku berharap Rayumi tidak mau datang tadi,”Ida kembali mengeluh.
“Dia memang tidak mau datang tadi. Sejak sepulang sekolah dia terus bermain game.”
“Aku bersumpah demi apapun ini harus menjadi butik terakhir kita Hana!” Teriakan Yui membuat fokus kedua pemuda itu teralihkan.
“Habisnya kamu seperti ibuku Yui… selera kita tidak pernah sama,” tidak mampu melawan Yui, Hana menatap kea rah lain.
“Itu karena pilihanmu selalu seperti pakaian cosplay!” Yui sekarang hampir mencekik mati Hana.
“Ughh… Ah bagaimana dengan itu!” Hana tiba-tiba menunjuk sebuah gaun yang dipajang.
Sebuah gaun—dress hitam setengah paha.
“Oh boleh juga! Ayo kita lihat!” Dengan semangat Yui menarik tangan Hana memasuki butik yang menyediakan dress yang ditunjuk Hana.
“Mereka mulai lagi…” mendesah, terpaksa Idan mengikuti keduanya mengikuti Hana dan Yui kembali memasuki butik.
“Akhirnya seleramu sedikit benar walaupun warnanya tetap hit—“
“Nah kan, aku juga masih punya sisi perempuan kok. Ng? Kamu kenapa Yui? Kok diem?” Hana memiringkan kepala melihat Yui yang seolah-olah membatu melihat gaun yang Hana maksud.
“Yah, seleramu memang bagus, untuk benda berharga mahal,” disusul tawa garing oleh Yui.
“Harganya berapa memang?” Hana yang penasaran meraih label harga yang tertemempel.
Detik berikutnya Hana ikut membatu di tempat.
“Hmm? Kalian berdua kenapa?” Dari arah belakang Ida dan Yoshiki muncul, “sudah dapat?”
“Ah, hahaha, ya kita dapat. Tapi harganya luar biasa,” Yui tersenyum kikuk.
“Berapa?” Yoshiki muncul dari balik tubuh Ida.
“Hngg 12,500 yen. Ayo kita cari yang lain saja yang seperti ini,” Yui hampir menarik Hana keluar butik.
“Kau suka ini?” Pertanyaan tiba-tiba Yoshiki menghentikan gerakan cepat kedua remaja perempuan itu.
“U-uh… y-ya…” jawab Hana ragu-ragu.
“Bagian punggungnya terlalu terbuka,” omel Yoshiki cepat.
“Siapapun tau jika dress akan sejenis itu! Kalau kamu mau Hana memakai pakaian tertutup, suruh saja Hana memakai sarung di seluruh badannya!” Yui meraung-raung kesal.
“Hn… dress yang ini,” mengabaikan Yui, Yoshiki sudah menyuruh seorang penjaga toko untuk membungkus gaun pilihan Hana.
“Baik tuan.”
“DIBELIIII!!??” Yui berteriak terkejut.
“Kau sudah dapat gaunmu, ayo segera pulang,” Yoshiki membawa dress pilihan Hana yang telah dikemas dalam sebuah kantung belanjaan.
“T-Tunggu K-Kuroto-k-kun!” Yui masih tidak mempercayai apa yang baru saja ia lihat, “k-kamu membeli dress seharga 12,500 yen itu!?”
“Hn, ya.”
“G-Gila…”
“Haha…” Hana sendiri hanya tersenyum kikuk melihat Yui begitu shock.

…..

“Kau kenapa? Tidak nyaman?”
Yoshiki yang seharusnya fokus menyetir sedikit mencuri pandang ke arah Hana lantaran istrinya itu seperti siput kepanasan yang terus saja bergerak walaupun kecil-kecilan di kursinya. Hari yang dinanti pun tiba. Prom night akan dilaksanakan jam 8 malam ini.
“Y-Ya… habisnya aku sedang mengenakan pakaian yang setara dengan upahku kerja paruh waktu setelah beberapa minggu,” ucap Hana sedikit kaku.
“Hn… santai saja. Rileks.”
Yoshiki menepikan mobilnya dan mengurangi kecepatan hingga akhirnya benda gelap itu berhenti di depan sebuah hotel berbintang.
“Kenapa juga orang Jepang harus melakukan seperti ini? Dasar ikut-ikut budaya negara sebelah,” Hana menggerutu kecil seraya keluar dari mobil.
GREP.
Yoshiki dengan cepat meraih lengan Hana dan membawanya memasuki hotel.
“A-a-a… uh…” Wajah Hana semakin memanas. Pertama, ia sendiri tidak yakin dengan penampilannya ketika menggunakan gaun, kedua, Yoshiki selalu melakukan hal-hal yang bisa membuatnya memanas.
“Kau terlihat cantik dengan gaun itu.” Ucap Yoshiki tiba-tiba ketika keduanya telah memasuki lift untuk menuju aula yang telah dipesan.
‘Eh?’ Hana hanya bisa mendongkak menatap wajah Yoshiki dengan keterkejutan.
“Dan itu membuatku kesal.”
“EH?” Kali ini Hana benar-benar menyuarakannya, “kenapa?”
“Aku harus lebih mengawasimu dari pandangan-pandangan para jantan nantinya.”
Pintu lift terbuka. Mengumbar suasana pesta yang begitu riuh.
“Ah! Itu Rayumi!”
“Wow astaga dia menggunakan dress demi apa?”
“Lihat, akhirnya dia benar-benar menjadi perempuan!”
Hal sejenis itu yang akan diucapkan kaum adam. Lain lagi dengan para hawa yang seketika terpana dengan gaun yang membalut tubuh Hana.
“H-Hey itukan….”
“Tidak salah lagi. Itu gaun versi terbatas yang dijual secara premium dan harganya cukup gila.”
“Hana mengenakan gaun itu!? Bagaimana bisa!?”
“T-tapi dia memang terlihat jadi cantik, dan…. Feminim.”
Hana bisa mendengar semua itu. Ia hanya bisa tertawa kaku.
“Seperti biasa kalian berdua memikat sekali,” Yui tiba-tiba muncul dari samping Hana dengan salah satu tangannya terkait dengan tangan Ida, “woaaah, lihatlah gaun itu, cocok sekali denganmu.”
Menahan rasa malu yang menyerangnya Hana pun menjadi congkak, “ya kan? Pilihanku tidak pernah salah!”
“Hahaha dasar…” Yui tertawa kaku.
“Siapa sih dia Yui? Aku tidak pernah melihatnya, anak kelas 3-4 juga?” Sekarang Amagawa Nashiro yang muncul.
“Ah ya, sepertinya mendadak ada murid pindahan,” seolah mengerti dengan candaan cepat Nashiro, Yui menyambungnya.
“Heh? Heh? Siapa?” Namun Hana dengan polosnya menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri mencari sosok yang keduanya bicarakan, “mana? Mana anaknya?”
“Pffftt—“ kedunya menahan tawa.
“Yang dibicarakan Nashiro itu kamu loh Hana,” jelas Yui.
“Aku? Kenapa?” Hana menunjuk dirinya dengan dungu.
“Yaah… habisnya kamu selalu terlihat berantakan, liar, dan kacau. Sekarang kamu lebih rapi, anggun, manis, dan cantik,” cengir Nashiro.
Sepasang mata gelap yang sedari tadi hanya memperhatikan percakapan yang ada mulai melebar ganas. Pandangannya menajam dan tertuju pada satu target.
“Tentu dia cantik. Karena itu dia kekasihku.”
Sebuah nada berat dan terkesan menusuk seketika mengalihkan fokus setiap pandangan mata orang-orang yang terlibat dalam percakapan kecil itu.
Kuroto Yoshiki, di belakang Hana—dengan tuksedo hitam yang Nampak begitu pas hingga hampir memperlihatkan lekuk tubuh tegapnya—tangan-tangannya ia letakan di bahu dan pinggang Hana seolah-olah mengatakan kepada siapapun untuk menjauhi Hana yang merupakan miliknya.
Kedua mata gelapnya terlihat lebih tajam daripada pedang. Seolah-olah bisa menebas siapapun yang hendak menyentuh barang seujung jaripun dari Hana.
“Ah… n-ngg…” Nashiro sedikit tersentak, “y-ya, Rayumi adalah kekasih yang tepat untukmu Kuroto.”
Siapapun tau, jika Amagawa Nashiro cukup ketakutan.
“WOAAAAA HANA-CHAN CANTIIIIKKK!!!” Sekarang giliran Shiro yang datang.
Bersama Maki yang juga berisik, “si buruk rupa menjadi Cinderella dadakan.”
“Geh kalian!!” Respon Hana.
Dan suasana mencekam sirna seketika.



Prom night malam itu penuh akan kilauan yang jauh dari kata sederhana. Bersamaan dengan itu jam terus bergerak hingga hampir tengah malam. Sayang sekali, kerlapan malam harus segera berakhir.
Sebelum itu, Hana menghabiskan malamnya dengan bercakap-cakap dengan hampir seluruh siswa di kelas. Dari yang paling easygoing, sampai yang paling menyendiri.
“AHAHAHAHAHA! Iya aku ingat, waktu itu Motohiro-sensei sampai marah-marah katanya ‘kalian mau meledakkan lab ha!?’” Tawa Hana meledak di tengah-tengah lima siswa yang mengelilinginya.
“Lalu Rayumi-chan kamu semakin membuat suasana kacau dengan terus beradu argument dengan Motohiro-sensei,” sahut salah seorang siswa.
“Hei hei, aku sedang membelamu saat itu Yamato-kun!” Sergah Hana.
“Ya, ya, lalu Motohiro-sensei berteriak, ‘KELUAR DARI LAB SEKARANG!’” celetuk siswa lain.
“HAHAHAHA!!” Tawa mereka meledak seketika.
“….” Beberapa kaki dari kerumunan Hana, Kuroto Yoshiki berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mengamati apa saja yang istrinya lakukan.
Hana memang tipe yang mudah bergaul dan dekat dengan siapapun. Yoshiki tau itu. Jadi dia harus bisa menahan dirinya.
Dialah sang iblis keangkuhan. Sejak awal pengendalian diri yang bisa menahan keangkuhannya tidak ada dalam kamusnya. Tetapi ia harus belajar menerima, perlahan-lahan.
“Kuroto-kun?”
Akibat terlalu tenggelam dalam pikirannya, ia baru saja karena dua gadis menghampirinya.
Enou dan Matsuoka.
“Hn, ada apa?”
“Ah, tidak-tidak. Ini mungkin pertemuan terakhir kita, jadi kami ingin menyapa setiap anggota kelas,” jelas Enou dengan tersenyum.
“Begitu…” respon Yoshiki datar.
“Kuroto-kun tidak menyapa teman-teman lain?” Tanya Matsuoka.
“Aku sudah melakukannya, bersama Rui tadi.”
Baik Enou maupun Matsuoka terdiam seketika. Rui sang ketua kelas memang mendatangi mereka tapi. Dan mereka memang jelas melihat keberadaan Kuroto Yoshiki di belakang Rui, hanya berdiri mengamati, tidak melakukan apapun.
“A-ah… begitu… yang tadi ya…” Enou dan Matsuoka sweatdrop.
“Omong-omong, Kuroto-kun akan ke mana setelah lulus?”
Yoshiki terdiam mendengar pertanyaan polos itu. Sebuah pertanyaan murni dari seorang siswi SMA yang hendak menata karir.
Ke mana ia akan pergi setelah lulus SMA?
Dialah Kuroto Yoshiki yang telah menjajaki berbagai kampus dan segala prodi di seluruh penjuru dunia di kala kebosanan menyerangnya. Sebenarnya jika ia harus menggunakan title program perkuliahan mungkin gelarnya akan menumpuk-numpuk di belakang namanya. Sarjana, Magister, Doktor, Spesialis, dan semua gelar telah berhasil ia dapatkan dalam kurun waktu hidupnya yang begitu lama.
“Hn, entahlah aku menunggu keputusan Hana.”
“Heeeee, Kuroto-kun akan mengikuti Rayumi? Kuroto-kun memang sesuatu sekali. Ah andai ada lagi pria yang seperti Kuroto-kun. Sudah pintar, tampan, setia sekali sampai mau mengikuti ke mana pacarnya kuliah,” guman Enou.
“Ngg? Ada apa dengan Yoshiki-kun?” Tiba-tiba Hana muncul di belakang ketiganya.
“Ah Rayumi! Selamat menikmati prom night ini! Kami permisi!” Enou dan Matsuoka menyingkir dengan cepat.
“Hnggg…. Kalian membicarakan apa? Aku mendengar kata Kuroto-kun itu pintar dan tampan, hmm,” Hana berguman sendiri.
“Yoshiki-kun menggoda perempuan lain ya!?” Ucap Hana dengan wajah bodohnya.
“Hn, itu tidak mungkin bodoh.”
“Lalu kena—“
“SELAMAT MALAM! KITA TELAH SAMPAI DI PENGHUJUNG ACARA! SEBENTAR LAGI MALAM DANSA TANPA AKHIR AKAN DILAKSANAKAN! MARI TERUS BERDANSA DENGAN BERTUKAR-TUKAR PASANGAN SETIAP MUSIK YANG MENGALUN BERUBAH! MARI BUAT KESAN TERINDAH DI MALAM TERAKHIR INI!” Terdengar suara Maki di seluruh penjuru ruangan, memotong kalimat Hana.

Read More ->>

Senin, 06 Mei 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 28]

CHAPTER 28: I AM YOURS

Sejak tadi Yoshiki terus menulikan dan membutakan dirinya. Mengabaikan apa yang terjadi pada pocky game. Terus menang dan menang tanpa tujuan. Bahkan ia baru tahu jika Hana yang akan melaju ke babak berikutnya.
‘Menyerahlah.’
Satu kalimat perintah singkat Yoshiki kirimkan tepat pada otak Rina Urakawa.
Tanpa ada penolakan, Rina melepaskan gigitannya tiba-tiba.
“Oh!” Setiap pasang mata di ruangan itu seketika melebar melihat tingkah Rina.
“Nice game Kuroto-kun!” Rina Urakawa tersenyum lebar.
“Rina menyerah?” Salah satu siswa bertanya.
Hana pun menatap tidak percaya
“Yup. Aku sudah puas melihat wajah-wajah malu-malu kalian para pria. Tapi wajah Kuroto-kun benar-benar datar. Membosankan. Jadi aku sudahi saja. Lagipula lawan berikutnya adalah Hana. Akan lebih asyik jika yang bermain pasangan sebenarnya kan?”
“Alasan macam apa itu…” Maki menatap malas Rina.
“Nah, silahkan dilanjutkan permainannya. Terima kasihnya nanti saja Rayumi!” Rina melambai ditambah dengan sebuah kerlingan mata penuh tanda Tanya.
“E-eh!? Y-YA T-TERIMA KASIH!” Pegangannya pada konsol gamenya bergetar hingga membuat benda itu membentur lantai, menyisahkan Hana dungu yang menatap kedepan dengan wajah memerah.
“Hahaha… kamu kenapa sih?” Yui tertawa lepas melihat reaksi Hana.
Hana melangkah ke depan dengan menahan rasa malu yang menyerangnya akibat kebodohannya sendiri. Sekarang seisi ruangan menertawakannya.
“Ha? Kenapa kamu di sini? Aku kan belum memanggil namamu!” Maki dengan bersilang dada mengomeli Hana yang baru saja tiba di depan.
“EH??? EEEEEEEEHHHHH!!!???”
“HAHAHAHA!!” Tawa seisi ruangan semakin meledak.
“Duduh… aku kenapa sih?” Hana hanya bisa merutuki kebodohannya sendiri.
“Ah sudahlah! Ayo cepat dimulai! Biar kubawa pulang kamera itu!” Menahan rasa malunya Hana berteriak pada Maki.
“Yayaya… dasar pasangan bodoh. Ini pockynya,” Maki menyodorkan sebatang pocky.
“P-Pasangan bodoh!?” Wajah Hana semakin memerah.
“Sudah sana cepat,” Maki mengibas-ibaskan tangannya.
“Y-Ya…”
Ragu-ragu Hana duduk di samping Yoshiki. Mengigit pocky dan menghadap Yoshiki. Ah lihatlah tubuh tegap itu. Rambut gelapnya yang menantang gravitasi. Mata elangnya yang tajam bagaikan pedang. Dan… bibir tipisnya yang bergerak perlahan mengigit ujung pockynya.
BLUSH
Jantung Hana yang sedari tadi hanya berdegup normal sekarang seperti genderang yang dipukul dengan ritme dipercepat. Memompa semakin banyak darah pada wajahnya. Tak mampu menatap wajah datar Yoshiki lagi, Hana memejamkan matanya.
“Hei apa-apaan itu! Tidak boleh memejakan mata! Kalian kan sepasang kekashi! Masa secanggung itu?” Omel Maki.
“Prawtwuran Mwacwam apwa iwu!” Hana balas mengomel dengan giginya tetap mengigit pocky. (Translate: Peraturan macam apa itu).
“Sudah cepat selesaikan permainannya! Pokoknya dilarang memejamkan mata! Yang memejamkan mata kalah!”
“Huh!”
Sekarang mau tak mau Hana harus menatap wajah Yoshiki yang hanya berjarak kurang dari dua puluh sentimeter darinya.
‘U-Uwaaa dekat….’
Deg. Deg. Deg.
Jantung Hana kembali bereaksi.
Krak.
Hana mulai bergerak mengigit pocky. Bergerak, terus bergerak.
Namun Yoshiki masih ditempatnya. Tidak memberikan pergerakan apapun.
‘Dia tidak bergerak?’ Pikir Hana.
‘Ini kesempatan!’
Mengabaikan Yoshiki yang tetap diam, Hana terus bergerak walaupun cukup canggung rasanya.
“Kuroto-kun? Kamu harus bergerak loh,”
“Hei… Kuroto… jangan hanya karena dia pacarmu kamu jadi menyerah dong!”
“Jangan-jangan dia menunggu Hana menyambut bibirnya?”
“….”
Semua suara yang ada disekitarnya seaakan memudar saat kedua mata gelapnya hanya dipenuhi oleh sosok wajah Hana yang tengah asyik mengigit pocky. Wajahnya yang memerah itu… pergerakan bibirnya itu… BAGAIMANA MUNGKIN HANA SUDAH MELAKUKAN POCKY GAME DENGAN NASHIRO AMAGAWA!?
Bibir Yoshiki seketika bergerak. Bergerak mengigit pocky dengan kecepatan gila.
“!!” Hana lantas kaget spontan melepaskan pockynya, “T-T—“
GREB
Ditahannya kedua bahu Hana.
Chu.
Pocky yang telah memisahkan keduanya telah hilang, tiada lagi jarak yang menghalangi kedua bibir mereka bertemu.
“!!!!!??”
“WOAAAAAAAA!!”
Kegemparan semakin menjadi-jadi. Beberapa siswa bahkan berdiri untuk bersorak. Sementara para siswa kebanyakan hanya kaget dan tersipu.
“M-mereka… hebat…” Alis kiri Maki berkedut aneh.
Sapphire Hana yang telah melebar sempurna akhirnya mengambil satu kedipan mengakhiri keterkejutannya. Tangannya bergerak cepat melepaskan diri dari Yoshiki.
“GGGGG——,” Gigi Hana bergemelatuk, sedikit busa keluar dari mulutnya, hidungnya memancarkan darah mimisan tanpa henti, dan wajahnya memerah bukan main.
“Eh?” Semuanya terdiam melihat ekspresi bodoh Hana. Termasuk Yoshiki cukup tertegun.
DASH!
Tanpa ada satu kata yang keluar Hana pergi begitu saja meninggalkan ruangan.
“KALAU BEGITU PEMENANGNYA ADALAH KUROTO-KUN!” Putus Maki dengan cepat. “Nah selamat ini hadiahnya!”
Permainan Pocky Game berakhir begitu saja.


“Hup!” Hana meletakkan seember arang di tanah.
“Hana, kamu letakkan di mana arangnya? Pemanggangnya ada di sini loh,” Amagawa berteriak beberapa meter dari Hana.
“Eh? Di sana?”
Hana kembali mengangkat embernya dan membawanya mendekat kea rah pemanggang.
“Astaga, kenapa kamu begitu kikuk? Efek dicium oleh Kuroto tadi pagi?” Gerutu Amagawa.
PSSSHH!
Wajah Hana seketika memerah.
“T-Tidak begitu bodoh!” Hana menendang kaki Amagawa sekeras mungkin.
“Ouch!”
Malam barbeque. Semua siswa Nampak sibuk mempersiapkan segala peralatan yang di butuhkan di pekarangan belakang penginapan.
Tidak hanya barbeque. Beberapa macam kembang api pun disiapkan untuk menjadi hiburan.
“Ah!” Pekik Hana tiba-tiba.
“Ada apa?” Respon Amagawa lagi yang sedang sibuk menata pemanggang.
“Aku lupa membawa ponselku.”
“Biarkan saja. Gak akan hilang.”
“Bukan begitu. Aku mau memfoto suasana di sini.”
“Dasar perempuan. Sedikit-sedikit foto.”
“Terserah aku. Aku balik ke kamar dulu!” Sambil meneriakkan kalimat itu, Hana melesat meninggalkan Amagawa.
“Heh! Bilang saja kamu menghindar dari membantuku menyiapkan pemanggang!”
“…” Beberapa meter dari keduanya, sepasang mata segelap malam tengah mengamati keduanya dalam diam.


“Itu dia…” begitu memasuki kamarnya Hana segera mendapati ponselnya yang tergeletak di atas meja dalam keadaan mengisi daya.
“Hn…”
Mendengar gumanan itu seketika Hana menoleh ke belakang. Ke arah pintu kamarnya yang ia biarkan terbuka tadi telah tertutup rapat. Kini seorang pria yang sangat ia kenal telah berdiri di sana. Kuroto Yoshiki tengah menatapnya dengan pandangan tak terdefinisikan.
“Yoshiki-kun?”
Bayangan ia dicium di depan seluruh penghuni kelas 3-4 tadi waktu pocky game kembali terlintas di kepalanya. Wajahnya kembali memerah karena itu, bahkan Hana sedikit memalingkan wajahnya.
“A-ada apa?” Tanyanya gagap.
Tak menjawab. Yoshiki memasuki kamar Hana tanpa izin.
“Hei hei…” tanpa sadar tubuh Hana bergerak mundur.
GREP… BRUK.
Yoshiki mencengkram kedua bahu Hana dan memaksa tubuh Hana terbaring di atas tatami dengan tubuhnya berada di atas tubuh Hana.
“Y-Yoshiki-kun!”
“…” Tidak ada jawaban dari sang pemilik nama. Hanya sebuah tatapan yang tak terdefinisikan yang bisa Hana tangkap.
Dalam diamnya, tangan Yoshiki bergerak mengusap wajah Hana perlahan.
“E-eeh?” Hana semakin kebingungan.
“A-ada apa Yoshiki-kun?”
Yoshiki hanya menatap datar wajah istrinya di bawah. 
“Ck!”
Tepat setelah decakan keras yang ia keluarkan, bibir Hana telah terlumat habis oleh bibirnya.
Yoshiki terus memaksakan ciumannya tanpa menghiraukan tolakan dari Hana.
Hana tak bisa mempertahankan bibirnya untuk tetap tertutup. Seluruh bagian mulutnya seakan-akan diacak-acak oleh Yoshiki. Tapi tetap saja ia tak bisa diam saja jika tidak mengetahui alasan suaminya melakukan ini secara tiba-tiba. Oleh karena itu tangannya terus menepuk-nepuk pundak Yoshiki berharap ia menyudahi aksinya.
Masih tak menghiraukan pukulan lembutnya, Hana memutuskan untuk sedikit membuat cakaran pada bahu suaminya dan hal itu sukses membuat Yoshiki menghentikan ciumannya.
‘Berhasil,’ pikir Hana.
Perlahan, dilepaskannya tautan anatara bibinya dan bibir Hana. Kini keduanya saling bertatapan. Berusaha menggali arti tatapan masing-masing.
“Ada apa Yoshiki-kun?” Sedikit ragu, Hana kembali melemparkan pertanyaan.
“…”
Yoshiki masih tak menjawab. Ia Nampak tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
Detik kemudian kedua tangannya telah meraih kancing celana jeans Hana. Entah karena memang sudah keahliannya atau apa, proses penarikan celana dari kaki Hana terasa begitu cepat.
“T-Tunggu!”
GREB
Sekarang kedua tangan Yoshiki telah sukses menyusuk ke dalam bajunya dan menggenggam kedua belah dadanya.
“Heiiii!!!”
“Katakan sesuatu dong! Kenapa tiba-tiba begini!?” Kedua tangan Hana mencengkram kedua tangan Yoshiki untuk menahannya bergerak lebih jauh lagi.
Karena telalu sibuk dengan pertahanan tubuh atasnya, Hana baru menyadari jika bagian vital bawah Yoshiki telah keluar dari balik celananya. Siap menyerangnya kapan saja.
“B-Bodoh! Kamu kenapa sih!?” Hana berusaha mendorong Yoshiki sekuat tenaga tetapi tentu saja gagal.
“Amagawa Nashiro, eh?”
Setelah melakukan hal-hal sensitive kepada Hana dan Hana menanyakan kenapa ia melakukan semua itu, Yoshiki hanya menjawab dengan sebuah nama. Hal itu lantas membuat Hana menaikkan kedua alisnya, tidak mengerti.
“Heh?”
Yoshiki menatap Hana dengan senyum merendahkah. Didekatkan wajahnya pada wajah Hana. Begitu dekat hingga dipastikan Hana tak bisa memalingkan pandangannya lagi.
Kembali diusapnya perlahan pipi-pipi Hana yang kini telah berwarna merah.
Karena terlalu larut dalam usapan lembut pada kedua pipinya, Hana tak menyadari jika tangan suaminya itu bergerak bergerilya untuk melepas celana dalamnya.
“T-Tunggu!” Kedua tangan Hana sekarang berfungsi sebagai pagar pembatas dengan kedua daerah vitalnya.
“A-aku t-tidak keberatan jika Yoshiki-kun y-yang m-melakukannya.T-Tapi dengan keadaan Yoshiki-k-kun yang aneh seperti ini… a-aku… ingin tahu a-apa yang terjadi dengan…. S-s-s-s-uamik-k-k-ku…” sambil memalingkan muka, mati-matian Hana mengucapkan kata terakhir.
“….” Yoshiki membatu seketika. Gerakannya benar-benar terhenti sekarang. Sementara itu wajahnya telah melembut dan sedikit terkaget atas kalimat Hana.
Masih dengan ekspresinya yang tak terbaca, Yoshiki mendekatkan wajahnya untuk berikutnya mencium bibir Hana dengan lembut. Mengecupnya hingga Hana melupakan sekitar. Begitu mendapatkan timing yang pas, penetrasi antar kedua alat vital dilakukan.
Hana menggeram tertahan begitu Yoshiki mulai menggerakan pinggulnya.
Keduanya saling bertatapan dan berusaha membaca pikiran masing-masing.
Yoshiki tanpa aba-aba menggerakan pinggulnya kembali. Membuat Hana sukses merintih.
“U-Unghh…” Hana melenguh kecil.
“Apakah menyenangkan bermain pocky game dengan Amagawa Nashiro sehingga kau perlahan-lahan dekat dengannya? Atau… kau terkagum padanya karena orang tuaya memiliki villa seperti ini?” Jelas sekali jika nada bicara Yoshiki sepenuhnya menyindir dan meremehkan.
Di tengah kesibukannya menahan sakit-nikmat yang ditimbulkan oleh pergerakkan Yoshiki di atasnya, Hana tersulut emosi,”apa maksudmu Yoshiki-kun?”
Yoshiki—yang berada di atas Hana—menatap Hana dengan meremehkan.
“Kau tidak tau kenapa aku seperti ini?”
Hana masih menatap Yoshiki tidak mengerti.
Diusapnya dengan lembut pipi Hana tanpa mengurangi intensitas pergerakkannya di bawah. 
“Kau milikku My Lady. Kau tau betapa kesalnya aku begitu melihat kau dan Amagawa Nashiro saling bertatapan dengan begitu dekat? Ditambah kau memperlihatkan sisi manismu ketika wajahmu tersipu di depannya. Aku tidak suka itu My Lady.”
“A-aku… a-aah…” hendak saja Hana membalas kalimat Yoshiki tapi hentakan dari bawah terasa aneh di sekujur tubuhnya.
“Dan lagi My Lady, apa kau setidakpeduli itu terhadapku? Tiga kali aku bermain pocky game sialan itu bersama perempuan-perempuan lain. Kau tidak peduli?” Begitu kalimatnya selesai, Yoshiki menghentakkan pinggulnya lebih dalam dan cepat, membuat Hana bingung atas kendali tubuhnya.
“B-Bodoh…” Kalimat itu yang pertama kali keluar setelah Hana mati-matian menahan gejolak aneh di dalam dirinya.
“A-aku s-sangat cemburu saat Yoshiki-kun bermain pocky game dengan teman-teman perempuan…” Hana memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Hn? Tapi aku melihatmu biasa saja. Kau sibuk dengan gamemu tanpa menatap ke arahku sama sekali,” mungkin karena kesal, Yoshiki meremas kedua dada Hana hingga sang pemilik kembali melenguh.
“M-Memangnya aku bisa berbuat apa!? Menghentikan permainan!? A-aku tidak mungkin bisa santai-santai saja melihat Yoshiki-kun bertatapan dengan perempuan lain! J-Jadi aku menutupi pandanganku dengan game!”
Seketika Yoshiki memperlambat gerakannya.
“D-dan dan… k-kalau begitu kenapa Yoshiki-kun bisa sesantai itu bermain pocky game dengan tiga temanku? Padahal di situ ada aku. Kenapa Yoshiki-kun mengabaikanku?” Perlahan, tanpa Hana sadari, air mata keluar dari pelupuk mata Hana.
“!!!??” Yoshiki terhenyak. Pergerakannya sepenuhnya terhenti sekarang.
“K-Kau cemburu?”
“Yoshiki-kun bodoh…” dengan salah satu tangannya Hana gunakan untuk menutupi kedua matanya yang telah memerah karena menahan tangis, Hana menatap ke arah lain.
Meraih kedua tangan Hana, Yoshiki membuat kedua lengan Hana tertahan di ranjang. Tubuh kecil telanjang itu terekspos di hadapan sang raja iblis. Tidak ada apapun yang menghalangi. Yoshiki Kuroto bisa melihat setiap inchi tubuh istrinya. Termasuk, kelopak mata yang memerah dan bercak air mata di pipi Hana.
“Lain kali…” Yoshiki mendaratkan kecupan pada salah satu kelopak mata Hana yang memerah, “katakan saja jika kau cemburu. Karena aku hanya milikmu seorang.”
“Angh!” Pinggulnya kembali bergerak mengikuti tempo Yoshiki, “h-hanya milikku?”
“Ya. Hanya milikmu. Karena kau juga hanya milikku.”
“Emm…” Hana tersenyum di tengah rintihannya.
“Aku mencintaimu My Lady.”
Hana tak bisa lagi merespon kalimat Yoshiki. Bibirnya telah terkunci oleh lidah Yoshiki.
Beberapa saat kemudian, bibir Hana yang masih terpenjara mengeluarkan erangan tertahan setelah keduanya mencapai klimaks.


Ledakan demi ledakan kecil bertebaran pada gelapnya langit malam pegunungan. Gerlap-gerlip kembang api bermunculan.
“Woaaaa ini kembang api yang tadi pagi kubeli!”
Yui yang tengah asyik menatap ke arah langit bersama Ida terinterupsi oleh suara Hana, “akhirnya muncul juga. Dari mana saja sih?”
Lalu dari belakang Hana, muncul Yoshiki menyusul.
“U-Uwaaa apa yang baru saja kalian lakukan?”
Wajah Hana seketika memerah bagaikan tomat segar, “a-aku hanya mengambil ponselku yang tertinggal!”
“Tapi kamu dan Kuroto lama tidak kembali,” Ida menyahuti.
“K-K-kk—“ Kepala Hana hampir meledak memikirkan alasan yang tepat.
“HANAAAA! AKHIRNYA KAMU MUNCUL! CEPAT KEMARI! DAGINGNYA MASIH SISA!” Dari tempat pemanggangan, Shiro melambai bersemangat memanggilnya.
“Ah! Iya!” Segera Hana berlari menuju Shiro.
Kedua mata gelap Yoshiki terus bergerak mengawasi sosok Hana dalam diam. Bagaimana Hana tertawa bersama sahabatnya. Bagaimana Hana terlihat konyol karena memasukkan daging panas ke dalam mulutnya. Tanpa sadar, kakinya bergerak menuju lokasi istrinya.
“Shiro sepertinya melihat daging yang tersisa di pemanggang lain! Tunggu di sini saja!” Dengan begitu perempuan berambut putih itu berlari meninggalkan Hana.
“KEMBANG API TERAKHIR MELUNCUR!” Suara lantang khas pria menggema di seluruh pekarangan secara tiba-tiba.
Mendengar aba-aba barusan seketika seluruh kepala refleks mendongkak ke atas.
Suara melengking tinggi akibat luncuran kembang api sukses mengheningkan malam. Setiap pasang mata tertuju sepenuhnya pada kembang api terakhir yang hendak meledak.
GRAB
Tangan Hana digenggam sebuah tangan kekar.
“Eh?” Kepala Hana bergerak mencapati sosok yang menggengam tangannya.
DUAR!
Ledakan besar menerangi langit malam seketika.
Sapphire Hana dibantu dengan cahaya kembang api mendapati sosok Yoshiki lah yang menggenggam tangannya. Wajah datarnya menghadap ke arah langit.
“….”
Hana tersenyum lebar. Mengeratkan genggaman tangan Yoshiki.
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.