Senin, 06 Mei 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 28]

CHAPTER 28: I AM YOURS

Sejak tadi Yoshiki terus menulikan dan membutakan dirinya. Mengabaikan apa yang terjadi pada pocky game. Terus menang dan menang tanpa tujuan. Bahkan ia baru tahu jika Hana yang akan melaju ke babak berikutnya.
‘Menyerahlah.’
Satu kalimat perintah singkat Yoshiki kirimkan tepat pada otak Rina Urakawa.
Tanpa ada penolakan, Rina melepaskan gigitannya tiba-tiba.
“Oh!” Setiap pasang mata di ruangan itu seketika melebar melihat tingkah Rina.
“Nice game Kuroto-kun!” Rina Urakawa tersenyum lebar.
“Rina menyerah?” Salah satu siswa bertanya.
Hana pun menatap tidak percaya
“Yup. Aku sudah puas melihat wajah-wajah malu-malu kalian para pria. Tapi wajah Kuroto-kun benar-benar datar. Membosankan. Jadi aku sudahi saja. Lagipula lawan berikutnya adalah Hana. Akan lebih asyik jika yang bermain pasangan sebenarnya kan?”
“Alasan macam apa itu…” Maki menatap malas Rina.
“Nah, silahkan dilanjutkan permainannya. Terima kasihnya nanti saja Rayumi!” Rina melambai ditambah dengan sebuah kerlingan mata penuh tanda Tanya.
“E-eh!? Y-YA T-TERIMA KASIH!” Pegangannya pada konsol gamenya bergetar hingga membuat benda itu membentur lantai, menyisahkan Hana dungu yang menatap kedepan dengan wajah memerah.
“Hahaha… kamu kenapa sih?” Yui tertawa lepas melihat reaksi Hana.
Hana melangkah ke depan dengan menahan rasa malu yang menyerangnya akibat kebodohannya sendiri. Sekarang seisi ruangan menertawakannya.
“Ha? Kenapa kamu di sini? Aku kan belum memanggil namamu!” Maki dengan bersilang dada mengomeli Hana yang baru saja tiba di depan.
“EH??? EEEEEEEEHHHHH!!!???”
“HAHAHAHA!!” Tawa seisi ruangan semakin meledak.
“Duduh… aku kenapa sih?” Hana hanya bisa merutuki kebodohannya sendiri.
“Ah sudahlah! Ayo cepat dimulai! Biar kubawa pulang kamera itu!” Menahan rasa malunya Hana berteriak pada Maki.
“Yayaya… dasar pasangan bodoh. Ini pockynya,” Maki menyodorkan sebatang pocky.
“P-Pasangan bodoh!?” Wajah Hana semakin memerah.
“Sudah sana cepat,” Maki mengibas-ibaskan tangannya.
“Y-Ya…”
Ragu-ragu Hana duduk di samping Yoshiki. Mengigit pocky dan menghadap Yoshiki. Ah lihatlah tubuh tegap itu. Rambut gelapnya yang menantang gravitasi. Mata elangnya yang tajam bagaikan pedang. Dan… bibir tipisnya yang bergerak perlahan mengigit ujung pockynya.
BLUSH
Jantung Hana yang sedari tadi hanya berdegup normal sekarang seperti genderang yang dipukul dengan ritme dipercepat. Memompa semakin banyak darah pada wajahnya. Tak mampu menatap wajah datar Yoshiki lagi, Hana memejamkan matanya.
“Hei apa-apaan itu! Tidak boleh memejakan mata! Kalian kan sepasang kekashi! Masa secanggung itu?” Omel Maki.
“Prawtwuran Mwacwam apwa iwu!” Hana balas mengomel dengan giginya tetap mengigit pocky. (Translate: Peraturan macam apa itu).
“Sudah cepat selesaikan permainannya! Pokoknya dilarang memejamkan mata! Yang memejamkan mata kalah!”
“Huh!”
Sekarang mau tak mau Hana harus menatap wajah Yoshiki yang hanya berjarak kurang dari dua puluh sentimeter darinya.
‘U-Uwaaa dekat….’
Deg. Deg. Deg.
Jantung Hana kembali bereaksi.
Krak.
Hana mulai bergerak mengigit pocky. Bergerak, terus bergerak.
Namun Yoshiki masih ditempatnya. Tidak memberikan pergerakan apapun.
‘Dia tidak bergerak?’ Pikir Hana.
‘Ini kesempatan!’
Mengabaikan Yoshiki yang tetap diam, Hana terus bergerak walaupun cukup canggung rasanya.
“Kuroto-kun? Kamu harus bergerak loh,”
“Hei… Kuroto… jangan hanya karena dia pacarmu kamu jadi menyerah dong!”
“Jangan-jangan dia menunggu Hana menyambut bibirnya?”
“….”
Semua suara yang ada disekitarnya seaakan memudar saat kedua mata gelapnya hanya dipenuhi oleh sosok wajah Hana yang tengah asyik mengigit pocky. Wajahnya yang memerah itu… pergerakan bibirnya itu… BAGAIMANA MUNGKIN HANA SUDAH MELAKUKAN POCKY GAME DENGAN NASHIRO AMAGAWA!?
Bibir Yoshiki seketika bergerak. Bergerak mengigit pocky dengan kecepatan gila.
“!!” Hana lantas kaget spontan melepaskan pockynya, “T-T—“
GREB
Ditahannya kedua bahu Hana.
Chu.
Pocky yang telah memisahkan keduanya telah hilang, tiada lagi jarak yang menghalangi kedua bibir mereka bertemu.
“!!!!!??”
“WOAAAAAAAA!!”
Kegemparan semakin menjadi-jadi. Beberapa siswa bahkan berdiri untuk bersorak. Sementara para siswa kebanyakan hanya kaget dan tersipu.
“M-mereka… hebat…” Alis kiri Maki berkedut aneh.
Sapphire Hana yang telah melebar sempurna akhirnya mengambil satu kedipan mengakhiri keterkejutannya. Tangannya bergerak cepat melepaskan diri dari Yoshiki.
“GGGGG——,” Gigi Hana bergemelatuk, sedikit busa keluar dari mulutnya, hidungnya memancarkan darah mimisan tanpa henti, dan wajahnya memerah bukan main.
“Eh?” Semuanya terdiam melihat ekspresi bodoh Hana. Termasuk Yoshiki cukup tertegun.
DASH!
Tanpa ada satu kata yang keluar Hana pergi begitu saja meninggalkan ruangan.
“KALAU BEGITU PEMENANGNYA ADALAH KUROTO-KUN!” Putus Maki dengan cepat. “Nah selamat ini hadiahnya!”
Permainan Pocky Game berakhir begitu saja.


“Hup!” Hana meletakkan seember arang di tanah.
“Hana, kamu letakkan di mana arangnya? Pemanggangnya ada di sini loh,” Amagawa berteriak beberapa meter dari Hana.
“Eh? Di sana?”
Hana kembali mengangkat embernya dan membawanya mendekat kea rah pemanggang.
“Astaga, kenapa kamu begitu kikuk? Efek dicium oleh Kuroto tadi pagi?” Gerutu Amagawa.
PSSSHH!
Wajah Hana seketika memerah.
“T-Tidak begitu bodoh!” Hana menendang kaki Amagawa sekeras mungkin.
“Ouch!”
Malam barbeque. Semua siswa Nampak sibuk mempersiapkan segala peralatan yang di butuhkan di pekarangan belakang penginapan.
Tidak hanya barbeque. Beberapa macam kembang api pun disiapkan untuk menjadi hiburan.
“Ah!” Pekik Hana tiba-tiba.
“Ada apa?” Respon Amagawa lagi yang sedang sibuk menata pemanggang.
“Aku lupa membawa ponselku.”
“Biarkan saja. Gak akan hilang.”
“Bukan begitu. Aku mau memfoto suasana di sini.”
“Dasar perempuan. Sedikit-sedikit foto.”
“Terserah aku. Aku balik ke kamar dulu!” Sambil meneriakkan kalimat itu, Hana melesat meninggalkan Amagawa.
“Heh! Bilang saja kamu menghindar dari membantuku menyiapkan pemanggang!”
“…” Beberapa meter dari keduanya, sepasang mata segelap malam tengah mengamati keduanya dalam diam.


“Itu dia…” begitu memasuki kamarnya Hana segera mendapati ponselnya yang tergeletak di atas meja dalam keadaan mengisi daya.
“Hn…”
Mendengar gumanan itu seketika Hana menoleh ke belakang. Ke arah pintu kamarnya yang ia biarkan terbuka tadi telah tertutup rapat. Kini seorang pria yang sangat ia kenal telah berdiri di sana. Kuroto Yoshiki tengah menatapnya dengan pandangan tak terdefinisikan.
“Yoshiki-kun?”
Bayangan ia dicium di depan seluruh penghuni kelas 3-4 tadi waktu pocky game kembali terlintas di kepalanya. Wajahnya kembali memerah karena itu, bahkan Hana sedikit memalingkan wajahnya.
“A-ada apa?” Tanyanya gagap.
Tak menjawab. Yoshiki memasuki kamar Hana tanpa izin.
“Hei hei…” tanpa sadar tubuh Hana bergerak mundur.
GREP… BRUK.
Yoshiki mencengkram kedua bahu Hana dan memaksa tubuh Hana terbaring di atas tatami dengan tubuhnya berada di atas tubuh Hana.
“Y-Yoshiki-kun!”
“…” Tidak ada jawaban dari sang pemilik nama. Hanya sebuah tatapan yang tak terdefinisikan yang bisa Hana tangkap.
Dalam diamnya, tangan Yoshiki bergerak mengusap wajah Hana perlahan.
“E-eeh?” Hana semakin kebingungan.
“A-ada apa Yoshiki-kun?”
Yoshiki hanya menatap datar wajah istrinya di bawah. 
“Ck!”
Tepat setelah decakan keras yang ia keluarkan, bibir Hana telah terlumat habis oleh bibirnya.
Yoshiki terus memaksakan ciumannya tanpa menghiraukan tolakan dari Hana.
Hana tak bisa mempertahankan bibirnya untuk tetap tertutup. Seluruh bagian mulutnya seakan-akan diacak-acak oleh Yoshiki. Tapi tetap saja ia tak bisa diam saja jika tidak mengetahui alasan suaminya melakukan ini secara tiba-tiba. Oleh karena itu tangannya terus menepuk-nepuk pundak Yoshiki berharap ia menyudahi aksinya.
Masih tak menghiraukan pukulan lembutnya, Hana memutuskan untuk sedikit membuat cakaran pada bahu suaminya dan hal itu sukses membuat Yoshiki menghentikan ciumannya.
‘Berhasil,’ pikir Hana.
Perlahan, dilepaskannya tautan anatara bibinya dan bibir Hana. Kini keduanya saling bertatapan. Berusaha menggali arti tatapan masing-masing.
“Ada apa Yoshiki-kun?” Sedikit ragu, Hana kembali melemparkan pertanyaan.
“…”
Yoshiki masih tak menjawab. Ia Nampak tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
Detik kemudian kedua tangannya telah meraih kancing celana jeans Hana. Entah karena memang sudah keahliannya atau apa, proses penarikan celana dari kaki Hana terasa begitu cepat.
“T-Tunggu!”
GREB
Sekarang kedua tangan Yoshiki telah sukses menyusuk ke dalam bajunya dan menggenggam kedua belah dadanya.
“Heiiii!!!”
“Katakan sesuatu dong! Kenapa tiba-tiba begini!?” Kedua tangan Hana mencengkram kedua tangan Yoshiki untuk menahannya bergerak lebih jauh lagi.
Karena telalu sibuk dengan pertahanan tubuh atasnya, Hana baru menyadari jika bagian vital bawah Yoshiki telah keluar dari balik celananya. Siap menyerangnya kapan saja.
“B-Bodoh! Kamu kenapa sih!?” Hana berusaha mendorong Yoshiki sekuat tenaga tetapi tentu saja gagal.
“Amagawa Nashiro, eh?”
Setelah melakukan hal-hal sensitive kepada Hana dan Hana menanyakan kenapa ia melakukan semua itu, Yoshiki hanya menjawab dengan sebuah nama. Hal itu lantas membuat Hana menaikkan kedua alisnya, tidak mengerti.
“Heh?”
Yoshiki menatap Hana dengan senyum merendahkah. Didekatkan wajahnya pada wajah Hana. Begitu dekat hingga dipastikan Hana tak bisa memalingkan pandangannya lagi.
Kembali diusapnya perlahan pipi-pipi Hana yang kini telah berwarna merah.
Karena terlalu larut dalam usapan lembut pada kedua pipinya, Hana tak menyadari jika tangan suaminya itu bergerak bergerilya untuk melepas celana dalamnya.
“T-Tunggu!” Kedua tangan Hana sekarang berfungsi sebagai pagar pembatas dengan kedua daerah vitalnya.
“A-aku t-tidak keberatan jika Yoshiki-kun y-yang m-melakukannya.T-Tapi dengan keadaan Yoshiki-k-kun yang aneh seperti ini… a-aku… ingin tahu a-apa yang terjadi dengan…. S-s-s-s-uamik-k-k-ku…” sambil memalingkan muka, mati-matian Hana mengucapkan kata terakhir.
“….” Yoshiki membatu seketika. Gerakannya benar-benar terhenti sekarang. Sementara itu wajahnya telah melembut dan sedikit terkaget atas kalimat Hana.
Masih dengan ekspresinya yang tak terbaca, Yoshiki mendekatkan wajahnya untuk berikutnya mencium bibir Hana dengan lembut. Mengecupnya hingga Hana melupakan sekitar. Begitu mendapatkan timing yang pas, penetrasi antar kedua alat vital dilakukan.
Hana menggeram tertahan begitu Yoshiki mulai menggerakan pinggulnya.
Keduanya saling bertatapan dan berusaha membaca pikiran masing-masing.
Yoshiki tanpa aba-aba menggerakan pinggulnya kembali. Membuat Hana sukses merintih.
“U-Unghh…” Hana melenguh kecil.
“Apakah menyenangkan bermain pocky game dengan Amagawa Nashiro sehingga kau perlahan-lahan dekat dengannya? Atau… kau terkagum padanya karena orang tuaya memiliki villa seperti ini?” Jelas sekali jika nada bicara Yoshiki sepenuhnya menyindir dan meremehkan.
Di tengah kesibukannya menahan sakit-nikmat yang ditimbulkan oleh pergerakkan Yoshiki di atasnya, Hana tersulut emosi,”apa maksudmu Yoshiki-kun?”
Yoshiki—yang berada di atas Hana—menatap Hana dengan meremehkan.
“Kau tidak tau kenapa aku seperti ini?”
Hana masih menatap Yoshiki tidak mengerti.
Diusapnya dengan lembut pipi Hana tanpa mengurangi intensitas pergerakkannya di bawah. 
“Kau milikku My Lady. Kau tau betapa kesalnya aku begitu melihat kau dan Amagawa Nashiro saling bertatapan dengan begitu dekat? Ditambah kau memperlihatkan sisi manismu ketika wajahmu tersipu di depannya. Aku tidak suka itu My Lady.”
“A-aku… a-aah…” hendak saja Hana membalas kalimat Yoshiki tapi hentakan dari bawah terasa aneh di sekujur tubuhnya.
“Dan lagi My Lady, apa kau setidakpeduli itu terhadapku? Tiga kali aku bermain pocky game sialan itu bersama perempuan-perempuan lain. Kau tidak peduli?” Begitu kalimatnya selesai, Yoshiki menghentakkan pinggulnya lebih dalam dan cepat, membuat Hana bingung atas kendali tubuhnya.
“B-Bodoh…” Kalimat itu yang pertama kali keluar setelah Hana mati-matian menahan gejolak aneh di dalam dirinya.
“A-aku s-sangat cemburu saat Yoshiki-kun bermain pocky game dengan teman-teman perempuan…” Hana memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Hn? Tapi aku melihatmu biasa saja. Kau sibuk dengan gamemu tanpa menatap ke arahku sama sekali,” mungkin karena kesal, Yoshiki meremas kedua dada Hana hingga sang pemilik kembali melenguh.
“M-Memangnya aku bisa berbuat apa!? Menghentikan permainan!? A-aku tidak mungkin bisa santai-santai saja melihat Yoshiki-kun bertatapan dengan perempuan lain! J-Jadi aku menutupi pandanganku dengan game!”
Seketika Yoshiki memperlambat gerakannya.
“D-dan dan… k-kalau begitu kenapa Yoshiki-kun bisa sesantai itu bermain pocky game dengan tiga temanku? Padahal di situ ada aku. Kenapa Yoshiki-kun mengabaikanku?” Perlahan, tanpa Hana sadari, air mata keluar dari pelupuk mata Hana.
“!!!??” Yoshiki terhenyak. Pergerakannya sepenuhnya terhenti sekarang.
“K-Kau cemburu?”
“Yoshiki-kun bodoh…” dengan salah satu tangannya Hana gunakan untuk menutupi kedua matanya yang telah memerah karena menahan tangis, Hana menatap ke arah lain.
Meraih kedua tangan Hana, Yoshiki membuat kedua lengan Hana tertahan di ranjang. Tubuh kecil telanjang itu terekspos di hadapan sang raja iblis. Tidak ada apapun yang menghalangi. Yoshiki Kuroto bisa melihat setiap inchi tubuh istrinya. Termasuk, kelopak mata yang memerah dan bercak air mata di pipi Hana.
“Lain kali…” Yoshiki mendaratkan kecupan pada salah satu kelopak mata Hana yang memerah, “katakan saja jika kau cemburu. Karena aku hanya milikmu seorang.”
“Angh!” Pinggulnya kembali bergerak mengikuti tempo Yoshiki, “h-hanya milikku?”
“Ya. Hanya milikmu. Karena kau juga hanya milikku.”
“Emm…” Hana tersenyum di tengah rintihannya.
“Aku mencintaimu My Lady.”
Hana tak bisa lagi merespon kalimat Yoshiki. Bibirnya telah terkunci oleh lidah Yoshiki.
Beberapa saat kemudian, bibir Hana yang masih terpenjara mengeluarkan erangan tertahan setelah keduanya mencapai klimaks.


Ledakan demi ledakan kecil bertebaran pada gelapnya langit malam pegunungan. Gerlap-gerlip kembang api bermunculan.
“Woaaaa ini kembang api yang tadi pagi kubeli!”
Yui yang tengah asyik menatap ke arah langit bersama Ida terinterupsi oleh suara Hana, “akhirnya muncul juga. Dari mana saja sih?”
Lalu dari belakang Hana, muncul Yoshiki menyusul.
“U-Uwaaa apa yang baru saja kalian lakukan?”
Wajah Hana seketika memerah bagaikan tomat segar, “a-aku hanya mengambil ponselku yang tertinggal!”
“Tapi kamu dan Kuroto lama tidak kembali,” Ida menyahuti.
“K-K-kk—“ Kepala Hana hampir meledak memikirkan alasan yang tepat.
“HANAAAA! AKHIRNYA KAMU MUNCUL! CEPAT KEMARI! DAGINGNYA MASIH SISA!” Dari tempat pemanggangan, Shiro melambai bersemangat memanggilnya.
“Ah! Iya!” Segera Hana berlari menuju Shiro.
Kedua mata gelap Yoshiki terus bergerak mengawasi sosok Hana dalam diam. Bagaimana Hana tertawa bersama sahabatnya. Bagaimana Hana terlihat konyol karena memasukkan daging panas ke dalam mulutnya. Tanpa sadar, kakinya bergerak menuju lokasi istrinya.
“Shiro sepertinya melihat daging yang tersisa di pemanggang lain! Tunggu di sini saja!” Dengan begitu perempuan berambut putih itu berlari meninggalkan Hana.
“KEMBANG API TERAKHIR MELUNCUR!” Suara lantang khas pria menggema di seluruh pekarangan secara tiba-tiba.
Mendengar aba-aba barusan seketika seluruh kepala refleks mendongkak ke atas.
Suara melengking tinggi akibat luncuran kembang api sukses mengheningkan malam. Setiap pasang mata tertuju sepenuhnya pada kembang api terakhir yang hendak meledak.
GRAB
Tangan Hana digenggam sebuah tangan kekar.
“Eh?” Kepala Hana bergerak mencapati sosok yang menggengam tangannya.
DUAR!
Ledakan besar menerangi langit malam seketika.
Sapphire Hana dibantu dengan cahaya kembang api mendapati sosok Yoshiki lah yang menggenggam tangannya. Wajah datarnya menghadap ke arah langit.
“….”
Hana tersenyum lebar. Mengeratkan genggaman tangan Yoshiki.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.