CHAPTER 26: MOCKED ARROUND
“HANA BERHENTILAH MAIN GAME!” Shiro mengomel-omel di depan Hana yang tetap asik bersama konsolnya.
“Diamlah Maki, aku harus mendapatkan rare item berikutnya,” Hana tidak bergeming.
“Aku jadi kasihan dengan Wataru-kun,” Yui muncul dengan bersilang tangan.
Merasa terpanggil, Wataru Taiga yang sedari tadi diam angkat bicara, “tidak apa, bukankah akan ramai jika ada suara game Rayumi?”
“Loh? Bukannya Wataru-kun ini penakut ya? Kemarin yang tidak mencoba rumah hantu kelas kita kan cuma Wataru-kun. Padahal kita buat bersama loh.”
“!!” Seketika raut wajah Wataru berubah.
“Benarkah?” Hana menatap polos.
“Ah itu kelompok 4 sudah kembali!” Seruan barusan mengalihkan perhantian kelompok kecil Hana.
“Wah, sudah giliran kita saja. Ayo Wataru-kun, kita tuntaskan main taruh-batu-trus-pulang ini supaya aku bisa segera melanjutkan main game!” Hana dengan percaya diri mendekat ke dasar tangga sebagai garis start.
“Ada apa dengan wajahmu Rui? Kau terlihat seperti habis dikejar setan saja!” Beberapa siswa tertawa mengejek.
“MEMANG KAMI SUDAH DIKEJAR SETAN TADI!” Teriak Rui.
“O-oh? Benarkah?” Semuanya terdiam.
“Y-Yah… awalnya biasa-biasa saja. Tapi begitu kami selesai menukar batu, tiba-tiba muncul suatu bayangan putih di samping kuil yang seperti bergerak perlahan ke arah kami. Awalnya aku mengira jika sedang berhalusinasi, tapi begitu aku menoleh ke arah Rui, wajahnya pucat pasi,” jelas anggota tim Rui.
“SIAPA YANG TIDAK PUCAT JIKA MELIHAT MAKHLUK SEPERTI ITU!?” Rui kembali berteriak.
“Lalu kalian berlari kembali? Haha, pantas saja kalian begitu berkeringat,” Hana tertawa santai.
“Tcih. Nih batu berengseknya!” Kesal, Rui melemparka begitu saja batu yang telah ditukarnya dengan serampangan pada Maki dan meninggalkan area kuil bersama timnya.
“Hup, batu nomor tiga…” Maki menangkap dan membolak-balik batu tersebut, “loh? Tidak ada nomornya.”
“A-Apa!?” Rui berbalik seketika. Merebut batu dari Maki dan menelitinya baik-baik. Tidak ada nomor apapun. Padahal ia yakin telah mengambil batu di tempat yang benar.
“Omong kosong! Aku benar-benar meletakkan batunya di sana! Ada di dekat altar persembahan kan!?”
Maki mengangguk ragu.
Andai kata ingin menghujat Rui karena mungkin saja Rui terlalu ketakutan sehingga asal mengambil batu, Maki tetap tidak bisa mengatakannya karena nampaknya Rui begitu serius dengan pendapatnya.
“Aku benar-benar mengambilnya! Iya kan!?” Rui meminta persetujuan pada anggota timnya.
“Y-Ya! Kamu sudah mengambilnya!” Dan dibenarkan.
“Tch pasti kelompok sebelumnya yang salah meletakkan batu! Sudahlah! Persetan dengan permainan berbahaya ini! Mati saja jika tetap dilanjutkan!” Rui benar-benar pergi kali ini.
“… Rui-taichou kondisinya buruk sekali ya,” akibat ketegangan barusan, Shiro untuk pertama kalinya memelankan suaranya.
Suasana mendadak menjadi was-was. Beberapa siswi bahkan meminta untuk menghentika permainan ini karena ketakutan.
Tapi Hana dengan nada cerianya segera menjadi pusat perhatian begitu memutuskan akan tetap melanjutkan gilirannya.
“Sudah sudah. Aku akan coba naik ke atas dan mengecek. Mungkin batu ketua tertukar. Akan kuambil batunya supaya uji nyali ini kembali bisa dilanjutakan! Yak an Wataru-kun?”
“Ah. U-uh,” Wataru Taiga sempat menjawab ragu.
“….” Yoshiki duduk terdiam memperhatikan Hana.
Terkadang, Yoshiki benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Hana. Apa yang dipikirkan istrinya itu!?
Yoshiki tahu jika kuil yang ada di atas pasti memiliki penunggu. Dan apa yang dikatakan Rui bisa jadi benar. Sial! Bila saja ia mendapatkan lotre yang sama dengan Hana, ia pasti bisa menjaga Hana sebagai rekan setim.
“Yosh! Aku berangkat!”
Akhirnya kelompok 5 berangkat. Hana yang bersemangat dan Taiga yang benar-benar ketakutan hingga mampu mengompol di tempat.
Hingga tubuh Hana hilang dari sudut pandang Yoshiki, akhirnya onyx gelap itu mengatup beberapa detik, “dasar bodoh,” gumannya tipis.
“Hisegawa,” Amagawa Nashiro mendatangi Maki dengan raut wajah serius.
“Ada apa Amagawa-kun?”
“Apa kamu yakin akan melanjutkan uji nyali ini?”
“T-tentu saja. Bukankah giliran Amagawa-kun sudah?”
“Yaaa aku urutan kedua,” Amagawa mengambil duduk di samping Maki.
“Lalu kenapa?”
“Kuil ini sudah seperti ini sejak delapan tahun yang lalu. Pemerintah daerah sempat berniat melakukan pemugaran agar bisa dilakukan perayaan untuk menungjang pendapatan daerah, tapi hal itu tidak dilaksanakan karena tidak ada yang mau mendekati kuil ini lagi. Jangankan untuk festival, berdoa pun orang luar takut.”
“A-ada apa?”
“Sebenarnya pernah ada dilakukan upacara pengusiran roh jahat di kuil ini. Karena suatu kesalahan kepala pendeta meninggal karena jatuh dan kepalanya menghantam batu. Sejak hari itu belum ada pendeta pengganti dan akhirnya penjaga kuil pun meninggal dan tidak memiliki penerus. Kuil ini pun terlupakan masyarakat. Padahal dulu waktu aku kecil aku sangat sering berdoa di sini.”
“L-Lalu… apa yang menyebabkan uji nyali ini dihentikan?”
“Aku pernah dengar. Liburan dua tahun lalu aku kemari dan mendengar pengunjung penginapanku bercerita bahwa mereka mengunjungi kuil ini untuk berdoa tapi malah dikejar-kejar sosok perempuan dengan lidah panjang tapi ujungnya terpotong.”
“HEH!?” Wajah Maki memucat.
“Aku sempat tidak percaya karena terkadang aku masih sering berdoa kemari sendirian. Tapi begitu kuingat-ingat, dulu upacara pengusiran roh jahat yang diusir pun katanya seorang perempuan berlidah panjang.”
“J-Jadi…”
“Ya… roh itu tidak diusir. Dia berdiam diri di kuil.”
“G-Gawat! Sebenarnya roh jahat apa dia?”
“Entahlah. Aku masih kecil waktu pengusiran itu dilakukan. Setahuku orang yang dirasuki baru saja berwisata di suatu tempat dan begitu kembali ia telah dirasuki.”
“B-Bagaimana ini Amagawa-kun. Apa kita hentikan saja uji nyalinya?” Maki mencengkram kedua tangan Amagawa.
“S-santai dulu Hisegawa,” Nashiro ikut gugup, “nyatanya aku dan 2 kelompok lain tak mendapatkan gangguan. Mungkin yang dialami Rui hanya delusinya saja.”
“Semoga saja begitu…” Maki menatap ke arah puncak tangga.
“…..” Pandangan Yoshiki tak henti-hentinya terarah pada kuil di ujung tangga.
.
SRAAAAKKK
“R-Rayumi…” Taiga bahkan tidak bisa menyembunyikan getaran ketakutan dalam suaranya begitu mendengar beberapa semak-semak bergesekkan di ujung penglihatannya.
“Mmmh? Ada apa Taiga-kun?”
“Apa masih jauh?” Taiga terus mengekor di belakang Hana.
“Beberapa meter lagi?” Tebak Hana.
“Hhhh….” Hana menghela nafas panjang.
‘Seandainya dengan Yoshiki-kun… posisinya pasti berbalik….’
Hana tersenyum manyun membayangkan jika ada punggung berbalut jaket hitam yang dikenakan Yoshiki.
Namun sialnya, Yoshiki malah berpasangan dengan Riko Juuji.
“Ah, itu batunya bukan?” Hana menunjuk sebuah altar persembahan di hadapannya, “loh? Ada dua batu?”
Dari belakang Wataru Taiga sedikit memunculkan kepalanya.
“Nomor 3 dan 4,” Hana mentap kedua batu yang telah diambilnya.
“Itu batu tim ketua dan tim sebelumnya kan? Seharusnya itu batu yang ditukar oleh ketua.”
“Haha… hantu apanya. Karena terlalu ketakutan sampai salah mengambil batu begini… nah, ayo kembali Taiga-kun,” Hana memutar tubuhnya.
“T-Tunggu Rayu—“
“Dendam…. Dendam…”
“Eh?” Keduanya lantas menoleh akibat suara bergetar perempuan yang tiba-tiba terdengar.
Keduanya memucat seketika.
“R-Rayumi…” Wataru Taiga sudah berkeringat dingin sementara kedua kakinya benar-benar bergetar hebat.
“M-Mustahil…” Hana memasang kuda-kuda tetapi ia tak bisa menipu dirinya sendiri, ia juga ketakutan saat ini.
Dihadapan keduanya, sesosok perempuan berambut panjang—dan tent saja melayang—tengah menjulurkan lidahnya hingga hamper menyentuh tanah.
“U-ujung lidahnya…” Hana menatap ujung lidah sosok dihadapannya yang Nampak seperti terpotong.
“Dendam… GROAAAAAA!!” Dalam sekejap rambut sosok tersebut tersingkap dan menampakkan banyak ulat-ulat dari kedua bola matanya.
“UWAAAAAAAAAAAA!!” Kedua berteriak dan berlari tanpa arah.
“!!” Setiap orang yang menunggu di tangga bawah seketika menatap ke arah kuil begitu mendengar suara teriakan Hana dan Taiga.
“Oi oi, mereka berteriak barusan?” Amagawa menatap horror.
“Kuroto-kun!!” Disusul dengan teriakan lain sesaat setelah Yoshiki berlari menaiki tangga kuil.
Tanpa piker panjang lagi, Kuroto Yoshiki berlari menaiki tangga kuil. Sesampainya di atas pria itu segera mencari di mana suara keributan itu berasal. Hingga didapatinya di antara semak-semak gelap, pergerakan panik.
“Dendam….” Lagi, hantu perempuan dengan lidah terjulur itu terus meringkih dan mendekat pada kedua manusia yang sudah tak berdaya.
Wataru Taiga meringkuk di belakang Rayumi Hana yang terus menatap nyalang—walau sebenarnya takut—pada sosok di hadapannya. Keduanya terpojok pada sebatang pohon besar akibat kaki Taiga yang terjerat tanaman rambat. Dan sekarang, Taiga pingsan karena terlalu ketakutan.
‘G-gawat dia mendekat…’ Hana sudah panik bukan main. ‘Tolong … seseorang…’
Sosok tersebut tersuk mendekat dengan meraung-raung tanpa henti. Memuntahkan banyak ulat dari lubang bola matanya.
“H-Hiiiii!!”
‘Yoshiki-kun!!’ Hana hanya bisa berteriak dalam ringkukannya.
“….” Yoshiki tersenyum tipis.
“Aku di sini My Lady,” suara berat tiba-tiba mengalun dalam kegelapan.
Seketika Hana mendongkakkan kepalanya dan mendapati Yoshiki berdiri tidak jauh dari sosok yang mengejarnya.
“Enyahlah…” guman Yoshiki dingin pada sosok tersebut.
“Ack…. Ngaaaah…” Sosok itu perlahan-lahan ditelan kegelapan dalam rintihannya.
“D-dia hilang…” ucap Hana terbata.
“Kau tak apa?” Yoshiki menjulurkan tangannya membantu Hana berdiri.
“A-Ah… I-iya… aku tidak menyangka Yoshiki-kun akan datang,” kepala hitam Hana agak tertunduk. Menyembunyikan ruam merah yang telah memenuhi wajahnya.
PUK
Tangan lebar Yoshiki menepuk kepala Hana ringan.
“Hn, tentu saja aku akan datang.”
“Ah! Wataru-kun dia pingsan!”
“Tch… kenapa harus dia yang mendapatkan lotre satu tim denganmu?” Decak Yoshiki kesal.
“Y-yah… mau bagaimana lagi…” Hana memalingkan wajahnya.
“Kau tidak keberatan satu tim dengan pria pengecut seperti dia?”
“Aku hanya ingin segera menyelesaikan uji nyali ini dan melanjutkan gameku…”
“Hn?” Tidak sabaran, Yoshiki menarik dagu Hana dan membuat wajah yang telah sepenuuhnya memerah itu menghadapnya, “aku menjadi penasaran, apa saja yang kalian lakukan tadi?”
“T-Tidak ada! K-Kami hanya berjalan biasa! Dia ada di belakangku kemudian hantu itu muncul dan dia berlari meninggalkanku hingga kakinya terjebak tumbuhan dan dia pingsan!”
“Hhh…”
“S-sebenarnya aku ingin satu tim dengan Yoshiki-kun!”
Detik berikutnya onyx gelap Yoshiki sedikit melebar karena pernyataan Hana. ‘Dia…’
“Habisnya kalau dengan Yoshiki-kun aku bisa uji nyali sambil bermain game karena tidak perlu khawatir!”
“Bodoh,” disentilnya jidat Hana.
“Guh!”
‘CHU’
Dalam sekejap rasa sakit pada dahi Hana berubah menjadi rasa sesuatu yang lembut mengecup. Yoshiki menciumnya di dahi dalam waktu yang singkat.
“Hn, sebaiknya kita bangunkan Wataru Taiga supaya dia turun sendiri.”
Sapphire Hana membulat lebar. Menatap Yoshiki tidak percaya.
‘KENAPA DIA BISA SANTAI SAJA SETELAH SEENAKNYA MENCIUMKU DI SANA-SINI!?’
‘Hidung… Dahi… Check.’ Yoshiki menyeringai tipis.
Karena kejadian kemunculan hantu, maka uji nyali terpaksa dihentikan demi keamanan bersama.
.
“Kemarin malam benar-benar parah. Siapa yang akan menyangka kalau hantu benar-benar muncul?”
“Untunglah waktu giliranku tidak ada apapun.”
“Benar juga! Emi-chan kamu giliran pertama dengan Amagawa-kun kan?”
“Begitulah…”
“Sekarang ada acara apalagi ya? Maki-chan tiba-tiba meminta kita berkumpul. Semoga tidak aneh-aneh seperti kemarin.”
“Ya…”
“Selamat pagi! Terima kasih telah berkumpul! Bisa tolong buat lingkaran besar?” Maki tiba-tiba muncul dan memberikan instruksi.
“Ada apa? Jangan-jangan hal yang seperti kemarin?” Seseorang memperotes.
“Kali ini hanya sebuah permainan biasa kok kawan-kawan. Nah, maukah kalian duduk melingkar yang lebar?”
Membutuhkan waktu setidaknya sepuluh menit untuk meyakinkan dan membuat para siswa 3-4 duduk melingkar.
“Yaah… kalian pasti bertanya-tanya kali ini ada apa, mengingat besok kita sudah kembali, mari kita buat ini menjadi kenangan paling menyenangkan. Kita akan bermain….”
Setiap pasang mata memandang Maki serius.
“POCKY GAME!!!”
“EEEEEEEEEEE!!!” Teriakan keputusasaan menggema.
Maki berdiri di samping sebuah akuarium bola yang berisi sterofoam dan beberapa gulungan kertas kecil, “pertama aku akan mengambil satu kertas. Nama yang muncul akan mengambil nama berikutnya, dan keduanya akan berpasangan untuk melakukan pocky game. Daaaaaaann… ada yang special di permainan kali ini! Ada yang mau coba tebak?”
“Apa? Kamu ingin kamu wajib melakukan ciuman di akhir?” Salah seorang siswa menyindir kesal.
“Haha… mana mungkin…” Maki sweatdrop.
“Lagipula kalau seacak itu bagaimana kalau partner kita sesame jenis!?” Siswa yang lain ikut menyahut.
Seketika satu ruangan menjadi hening. Tenggelam dalam pikiran jijik mereka masing-masing. ‘Ah… benar juga…’
“Tidak apa tidak apa!” Maki dengan gugup mengibatkan tangannya di udara.
“Baiklah karena tidak ada yang berhasil menebak, aku jelaskan saja langsung,” pandangan Maki terlihat tajam, “setiap pemenang akan terus diversuskan dengan pemenang yang lain, hingga tersisa 2 pemenang, seperti babak penyisihan.”
“HEEEEEEEE!! JADI KALAU MENANG HARUS MAIN BERKALI-KALI LAGI!?” Suara protesan semakin keras.
Tanpa gentar Maki terus melanjutkan kalimatnya, “DAN YANG MENJADI PEMENANG AKAN MENDAPAT HADIAH!” Dilanjutkan dengan ia mengangkat sebuah kotak kardus ke udara.
Semua pandangan terarah pada benda yang diacungkan Maki tinggi-tinggi.
“WOAAAAAA KAMERA DIGITAL!” Sorak beberapa siswa.
“Benar. Dan lagi ini kamera digital yang memiliki super zoom mikro! Sponsor dari orang tua Amagawa loooh!”
“WOAAAH KEREN KEREN!” Tepuk tangan memenuhi ruangan sementara tatapan seluruh siswa 3-4 terarah pada Nashiro Amagawa.
“Ahahaha… kamera itu juga awalnya sebuah pemberian kok. Tapi karena keluarga kami tidak ada yang memiliki hobi fotografi dan sudah puas dengan kamera lama kami, orang tuaku memilih memberikan pada kelas ini,” Amagawa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Yah walaupun aku harus menyebarkan pamphlet online di akun media sosialku sih,” Maki mendesah kecil.
Kedua sapphire Hana membulat berbinar menatap kotak kardus berisi kamera yang kini telah diletakkan Maki. Sebuah kamera yang sempurna untuk memotret koleksi figure dan nendo yang dimilikinya dan Yoshiki di mansion.
‘Pokoknya…. Harus dapat kamera itu!’ Batin Hana berapi-api.
‘Yosh!’
Read More ->>
“HANA BERHENTILAH MAIN GAME!” Shiro mengomel-omel di depan Hana yang tetap asik bersama konsolnya.
“Diamlah Maki, aku harus mendapatkan rare item berikutnya,” Hana tidak bergeming.
“Aku jadi kasihan dengan Wataru-kun,” Yui muncul dengan bersilang tangan.
Merasa terpanggil, Wataru Taiga yang sedari tadi diam angkat bicara, “tidak apa, bukankah akan ramai jika ada suara game Rayumi?”
“Loh? Bukannya Wataru-kun ini penakut ya? Kemarin yang tidak mencoba rumah hantu kelas kita kan cuma Wataru-kun. Padahal kita buat bersama loh.”
“!!” Seketika raut wajah Wataru berubah.
“Benarkah?” Hana menatap polos.
“Ah itu kelompok 4 sudah kembali!” Seruan barusan mengalihkan perhantian kelompok kecil Hana.
“Wah, sudah giliran kita saja. Ayo Wataru-kun, kita tuntaskan main taruh-batu-trus-pulang ini supaya aku bisa segera melanjutkan main game!” Hana dengan percaya diri mendekat ke dasar tangga sebagai garis start.
“Ada apa dengan wajahmu Rui? Kau terlihat seperti habis dikejar setan saja!” Beberapa siswa tertawa mengejek.
“MEMANG KAMI SUDAH DIKEJAR SETAN TADI!” Teriak Rui.
“O-oh? Benarkah?” Semuanya terdiam.
“Y-Yah… awalnya biasa-biasa saja. Tapi begitu kami selesai menukar batu, tiba-tiba muncul suatu bayangan putih di samping kuil yang seperti bergerak perlahan ke arah kami. Awalnya aku mengira jika sedang berhalusinasi, tapi begitu aku menoleh ke arah Rui, wajahnya pucat pasi,” jelas anggota tim Rui.
“SIAPA YANG TIDAK PUCAT JIKA MELIHAT MAKHLUK SEPERTI ITU!?” Rui kembali berteriak.
“Lalu kalian berlari kembali? Haha, pantas saja kalian begitu berkeringat,” Hana tertawa santai.
“Tcih. Nih batu berengseknya!” Kesal, Rui melemparka begitu saja batu yang telah ditukarnya dengan serampangan pada Maki dan meninggalkan area kuil bersama timnya.
“Hup, batu nomor tiga…” Maki menangkap dan membolak-balik batu tersebut, “loh? Tidak ada nomornya.”
“A-Apa!?” Rui berbalik seketika. Merebut batu dari Maki dan menelitinya baik-baik. Tidak ada nomor apapun. Padahal ia yakin telah mengambil batu di tempat yang benar.
“Omong kosong! Aku benar-benar meletakkan batunya di sana! Ada di dekat altar persembahan kan!?”
Maki mengangguk ragu.
Andai kata ingin menghujat Rui karena mungkin saja Rui terlalu ketakutan sehingga asal mengambil batu, Maki tetap tidak bisa mengatakannya karena nampaknya Rui begitu serius dengan pendapatnya.
“Aku benar-benar mengambilnya! Iya kan!?” Rui meminta persetujuan pada anggota timnya.
“Y-Ya! Kamu sudah mengambilnya!” Dan dibenarkan.
“Tch pasti kelompok sebelumnya yang salah meletakkan batu! Sudahlah! Persetan dengan permainan berbahaya ini! Mati saja jika tetap dilanjutkan!” Rui benar-benar pergi kali ini.
“… Rui-taichou kondisinya buruk sekali ya,” akibat ketegangan barusan, Shiro untuk pertama kalinya memelankan suaranya.
Suasana mendadak menjadi was-was. Beberapa siswi bahkan meminta untuk menghentika permainan ini karena ketakutan.
Tapi Hana dengan nada cerianya segera menjadi pusat perhatian begitu memutuskan akan tetap melanjutkan gilirannya.
“Sudah sudah. Aku akan coba naik ke atas dan mengecek. Mungkin batu ketua tertukar. Akan kuambil batunya supaya uji nyali ini kembali bisa dilanjutakan! Yak an Wataru-kun?”
“Ah. U-uh,” Wataru Taiga sempat menjawab ragu.
“….” Yoshiki duduk terdiam memperhatikan Hana.
Terkadang, Yoshiki benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Hana. Apa yang dipikirkan istrinya itu!?
Yoshiki tahu jika kuil yang ada di atas pasti memiliki penunggu. Dan apa yang dikatakan Rui bisa jadi benar. Sial! Bila saja ia mendapatkan lotre yang sama dengan Hana, ia pasti bisa menjaga Hana sebagai rekan setim.
“Yosh! Aku berangkat!”
Akhirnya kelompok 5 berangkat. Hana yang bersemangat dan Taiga yang benar-benar ketakutan hingga mampu mengompol di tempat.
Hingga tubuh Hana hilang dari sudut pandang Yoshiki, akhirnya onyx gelap itu mengatup beberapa detik, “dasar bodoh,” gumannya tipis.
“Hisegawa,” Amagawa Nashiro mendatangi Maki dengan raut wajah serius.
“Ada apa Amagawa-kun?”
“Apa kamu yakin akan melanjutkan uji nyali ini?”
“T-tentu saja. Bukankah giliran Amagawa-kun sudah?”
“Yaaa aku urutan kedua,” Amagawa mengambil duduk di samping Maki.
“Lalu kenapa?”
“Kuil ini sudah seperti ini sejak delapan tahun yang lalu. Pemerintah daerah sempat berniat melakukan pemugaran agar bisa dilakukan perayaan untuk menungjang pendapatan daerah, tapi hal itu tidak dilaksanakan karena tidak ada yang mau mendekati kuil ini lagi. Jangankan untuk festival, berdoa pun orang luar takut.”
“A-ada apa?”
“Sebenarnya pernah ada dilakukan upacara pengusiran roh jahat di kuil ini. Karena suatu kesalahan kepala pendeta meninggal karena jatuh dan kepalanya menghantam batu. Sejak hari itu belum ada pendeta pengganti dan akhirnya penjaga kuil pun meninggal dan tidak memiliki penerus. Kuil ini pun terlupakan masyarakat. Padahal dulu waktu aku kecil aku sangat sering berdoa di sini.”
“L-Lalu… apa yang menyebabkan uji nyali ini dihentikan?”
“Aku pernah dengar. Liburan dua tahun lalu aku kemari dan mendengar pengunjung penginapanku bercerita bahwa mereka mengunjungi kuil ini untuk berdoa tapi malah dikejar-kejar sosok perempuan dengan lidah panjang tapi ujungnya terpotong.”
“HEH!?” Wajah Maki memucat.
“Aku sempat tidak percaya karena terkadang aku masih sering berdoa kemari sendirian. Tapi begitu kuingat-ingat, dulu upacara pengusiran roh jahat yang diusir pun katanya seorang perempuan berlidah panjang.”
“J-Jadi…”
“Ya… roh itu tidak diusir. Dia berdiam diri di kuil.”
“G-Gawat! Sebenarnya roh jahat apa dia?”
“Entahlah. Aku masih kecil waktu pengusiran itu dilakukan. Setahuku orang yang dirasuki baru saja berwisata di suatu tempat dan begitu kembali ia telah dirasuki.”
“B-Bagaimana ini Amagawa-kun. Apa kita hentikan saja uji nyalinya?” Maki mencengkram kedua tangan Amagawa.
“S-santai dulu Hisegawa,” Nashiro ikut gugup, “nyatanya aku dan 2 kelompok lain tak mendapatkan gangguan. Mungkin yang dialami Rui hanya delusinya saja.”
“Semoga saja begitu…” Maki menatap ke arah puncak tangga.
“…..” Pandangan Yoshiki tak henti-hentinya terarah pada kuil di ujung tangga.
.
SRAAAAKKK
“R-Rayumi…” Taiga bahkan tidak bisa menyembunyikan getaran ketakutan dalam suaranya begitu mendengar beberapa semak-semak bergesekkan di ujung penglihatannya.
“Mmmh? Ada apa Taiga-kun?”
“Apa masih jauh?” Taiga terus mengekor di belakang Hana.
“Beberapa meter lagi?” Tebak Hana.
“Hhhh….” Hana menghela nafas panjang.
‘Seandainya dengan Yoshiki-kun… posisinya pasti berbalik….’
Hana tersenyum manyun membayangkan jika ada punggung berbalut jaket hitam yang dikenakan Yoshiki.
Namun sialnya, Yoshiki malah berpasangan dengan Riko Juuji.
“Ah, itu batunya bukan?” Hana menunjuk sebuah altar persembahan di hadapannya, “loh? Ada dua batu?”
Dari belakang Wataru Taiga sedikit memunculkan kepalanya.
“Nomor 3 dan 4,” Hana mentap kedua batu yang telah diambilnya.
“Itu batu tim ketua dan tim sebelumnya kan? Seharusnya itu batu yang ditukar oleh ketua.”
“Haha… hantu apanya. Karena terlalu ketakutan sampai salah mengambil batu begini… nah, ayo kembali Taiga-kun,” Hana memutar tubuhnya.
“T-Tunggu Rayu—“
“Dendam…. Dendam…”
“Eh?” Keduanya lantas menoleh akibat suara bergetar perempuan yang tiba-tiba terdengar.
Keduanya memucat seketika.
“R-Rayumi…” Wataru Taiga sudah berkeringat dingin sementara kedua kakinya benar-benar bergetar hebat.
“M-Mustahil…” Hana memasang kuda-kuda tetapi ia tak bisa menipu dirinya sendiri, ia juga ketakutan saat ini.
Dihadapan keduanya, sesosok perempuan berambut panjang—dan tent saja melayang—tengah menjulurkan lidahnya hingga hamper menyentuh tanah.
“U-ujung lidahnya…” Hana menatap ujung lidah sosok dihadapannya yang Nampak seperti terpotong.
“Dendam… GROAAAAAA!!” Dalam sekejap rambut sosok tersebut tersingkap dan menampakkan banyak ulat-ulat dari kedua bola matanya.
“UWAAAAAAAAAAAA!!” Kedua berteriak dan berlari tanpa arah.
“!!” Setiap orang yang menunggu di tangga bawah seketika menatap ke arah kuil begitu mendengar suara teriakan Hana dan Taiga.
“Oi oi, mereka berteriak barusan?” Amagawa menatap horror.
“Kuroto-kun!!” Disusul dengan teriakan lain sesaat setelah Yoshiki berlari menaiki tangga kuil.
Tanpa piker panjang lagi, Kuroto Yoshiki berlari menaiki tangga kuil. Sesampainya di atas pria itu segera mencari di mana suara keributan itu berasal. Hingga didapatinya di antara semak-semak gelap, pergerakan panik.
“Dendam….” Lagi, hantu perempuan dengan lidah terjulur itu terus meringkih dan mendekat pada kedua manusia yang sudah tak berdaya.
Wataru Taiga meringkuk di belakang Rayumi Hana yang terus menatap nyalang—walau sebenarnya takut—pada sosok di hadapannya. Keduanya terpojok pada sebatang pohon besar akibat kaki Taiga yang terjerat tanaman rambat. Dan sekarang, Taiga pingsan karena terlalu ketakutan.
‘G-gawat dia mendekat…’ Hana sudah panik bukan main. ‘Tolong … seseorang…’
Sosok tersebut tersuk mendekat dengan meraung-raung tanpa henti. Memuntahkan banyak ulat dari lubang bola matanya.
“H-Hiiiii!!”
‘Yoshiki-kun!!’ Hana hanya bisa berteriak dalam ringkukannya.
“….” Yoshiki tersenyum tipis.
“Aku di sini My Lady,” suara berat tiba-tiba mengalun dalam kegelapan.
Seketika Hana mendongkakkan kepalanya dan mendapati Yoshiki berdiri tidak jauh dari sosok yang mengejarnya.
“Enyahlah…” guman Yoshiki dingin pada sosok tersebut.
“Ack…. Ngaaaah…” Sosok itu perlahan-lahan ditelan kegelapan dalam rintihannya.
“D-dia hilang…” ucap Hana terbata.
“Kau tak apa?” Yoshiki menjulurkan tangannya membantu Hana berdiri.
“A-Ah… I-iya… aku tidak menyangka Yoshiki-kun akan datang,” kepala hitam Hana agak tertunduk. Menyembunyikan ruam merah yang telah memenuhi wajahnya.
PUK
Tangan lebar Yoshiki menepuk kepala Hana ringan.
“Hn, tentu saja aku akan datang.”
“Ah! Wataru-kun dia pingsan!”
“Tch… kenapa harus dia yang mendapatkan lotre satu tim denganmu?” Decak Yoshiki kesal.
“Y-yah… mau bagaimana lagi…” Hana memalingkan wajahnya.
“Kau tidak keberatan satu tim dengan pria pengecut seperti dia?”
“Aku hanya ingin segera menyelesaikan uji nyali ini dan melanjutkan gameku…”
“Hn?” Tidak sabaran, Yoshiki menarik dagu Hana dan membuat wajah yang telah sepenuuhnya memerah itu menghadapnya, “aku menjadi penasaran, apa saja yang kalian lakukan tadi?”
“T-Tidak ada! K-Kami hanya berjalan biasa! Dia ada di belakangku kemudian hantu itu muncul dan dia berlari meninggalkanku hingga kakinya terjebak tumbuhan dan dia pingsan!”
“Hhh…”
“S-sebenarnya aku ingin satu tim dengan Yoshiki-kun!”
Detik berikutnya onyx gelap Yoshiki sedikit melebar karena pernyataan Hana. ‘Dia…’
“Habisnya kalau dengan Yoshiki-kun aku bisa uji nyali sambil bermain game karena tidak perlu khawatir!”
“Bodoh,” disentilnya jidat Hana.
“Guh!”
‘CHU’
Dalam sekejap rasa sakit pada dahi Hana berubah menjadi rasa sesuatu yang lembut mengecup. Yoshiki menciumnya di dahi dalam waktu yang singkat.
“Hn, sebaiknya kita bangunkan Wataru Taiga supaya dia turun sendiri.”
Sapphire Hana membulat lebar. Menatap Yoshiki tidak percaya.
‘KENAPA DIA BISA SANTAI SAJA SETELAH SEENAKNYA MENCIUMKU DI SANA-SINI!?’
‘Hidung… Dahi… Check.’ Yoshiki menyeringai tipis.
Karena kejadian kemunculan hantu, maka uji nyali terpaksa dihentikan demi keamanan bersama.
.
“Kemarin malam benar-benar parah. Siapa yang akan menyangka kalau hantu benar-benar muncul?”
“Untunglah waktu giliranku tidak ada apapun.”
“Benar juga! Emi-chan kamu giliran pertama dengan Amagawa-kun kan?”
“Begitulah…”
“Sekarang ada acara apalagi ya? Maki-chan tiba-tiba meminta kita berkumpul. Semoga tidak aneh-aneh seperti kemarin.”
“Ya…”
“Selamat pagi! Terima kasih telah berkumpul! Bisa tolong buat lingkaran besar?” Maki tiba-tiba muncul dan memberikan instruksi.
“Ada apa? Jangan-jangan hal yang seperti kemarin?” Seseorang memperotes.
“Kali ini hanya sebuah permainan biasa kok kawan-kawan. Nah, maukah kalian duduk melingkar yang lebar?”
Membutuhkan waktu setidaknya sepuluh menit untuk meyakinkan dan membuat para siswa 3-4 duduk melingkar.
“Yaah… kalian pasti bertanya-tanya kali ini ada apa, mengingat besok kita sudah kembali, mari kita buat ini menjadi kenangan paling menyenangkan. Kita akan bermain….”
Setiap pasang mata memandang Maki serius.
“POCKY GAME!!!”
“EEEEEEEEEEE!!!” Teriakan keputusasaan menggema.
Maki berdiri di samping sebuah akuarium bola yang berisi sterofoam dan beberapa gulungan kertas kecil, “pertama aku akan mengambil satu kertas. Nama yang muncul akan mengambil nama berikutnya, dan keduanya akan berpasangan untuk melakukan pocky game. Daaaaaaann… ada yang special di permainan kali ini! Ada yang mau coba tebak?”
“Apa? Kamu ingin kamu wajib melakukan ciuman di akhir?” Salah seorang siswa menyindir kesal.
“Haha… mana mungkin…” Maki sweatdrop.
“Lagipula kalau seacak itu bagaimana kalau partner kita sesame jenis!?” Siswa yang lain ikut menyahut.
Seketika satu ruangan menjadi hening. Tenggelam dalam pikiran jijik mereka masing-masing. ‘Ah… benar juga…’
“Tidak apa tidak apa!” Maki dengan gugup mengibatkan tangannya di udara.
“Baiklah karena tidak ada yang berhasil menebak, aku jelaskan saja langsung,” pandangan Maki terlihat tajam, “setiap pemenang akan terus diversuskan dengan pemenang yang lain, hingga tersisa 2 pemenang, seperti babak penyisihan.”
“HEEEEEEEE!! JADI KALAU MENANG HARUS MAIN BERKALI-KALI LAGI!?” Suara protesan semakin keras.
Tanpa gentar Maki terus melanjutkan kalimatnya, “DAN YANG MENJADI PEMENANG AKAN MENDAPAT HADIAH!” Dilanjutkan dengan ia mengangkat sebuah kotak kardus ke udara.
Semua pandangan terarah pada benda yang diacungkan Maki tinggi-tinggi.
“WOAAAAAA KAMERA DIGITAL!” Sorak beberapa siswa.
“Benar. Dan lagi ini kamera digital yang memiliki super zoom mikro! Sponsor dari orang tua Amagawa loooh!”
“WOAAAH KEREN KEREN!” Tepuk tangan memenuhi ruangan sementara tatapan seluruh siswa 3-4 terarah pada Nashiro Amagawa.
“Ahahaha… kamera itu juga awalnya sebuah pemberian kok. Tapi karena keluarga kami tidak ada yang memiliki hobi fotografi dan sudah puas dengan kamera lama kami, orang tuaku memilih memberikan pada kelas ini,” Amagawa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Yah walaupun aku harus menyebarkan pamphlet online di akun media sosialku sih,” Maki mendesah kecil.
Kedua sapphire Hana membulat berbinar menatap kotak kardus berisi kamera yang kini telah diletakkan Maki. Sebuah kamera yang sempurna untuk memotret koleksi figure dan nendo yang dimilikinya dan Yoshiki di mansion.
‘Pokoknya…. Harus dapat kamera itu!’ Batin Hana berapi-api.
‘Yosh!’