CHAPTER 64: Treat Me
“Bagaimana makan malam tadi?” Ujar Yoshiki begitu mobil yang membawa mereka pulang telah berjalan beberapa menit.
“Oh, hahaha,” Hana menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, “kukira tadi kita akan makan bersama, ternyata di pisahkan.”
“Hn? Sesuatu mengganggumu?’
Hana sempat kebingungan mencari kalimat begitu sang suami berhasil menebak kegundahannya, “mungkin aku yang butuh sedikit beradaptasi?”
“Ada apa My Lady?” Pria itu menatapnya serius.
“Yah, ini pertama kalinya bagiku makan malam bersama dengan para istri orang-orang penting. Aku cukup…. Kaku? Ehehe,” Hana tertawa garing.
“Kenapa begitu?”
“Umm, mereka menmbicarakan sesuatu yang biasa istri-istri sosialita bicarakan. Aku hanya tidak terbiasa dan tidak terlalu mengikuti perkembangan sosialita. Maaf Yoshiki-kun.”
“Hn?” Yoshiki menaikkan sebelah alisnya, “untuk apa meminta maaf?”
“Aku…. Menjelekkan namamu?”
Yoshiki memposisikan tubuhnya untuk sedikit condong pada Hana, “apa maksudnya?”
Hana semakin kebingungan mencari kata-kata untuk menjelaskan, “Bagaimana ya… Yoshiki-kun itu keren… seorang pengusaha besar di mata mereka… Namun aku tidak bisa mengimbangi Yoshiki-kun,” Hana menundukkan kepalanya, “dan selanjutnya mungkin mereka pasti memikirkan hal buruk tentangku, otomatis membuat nama Yoshiki-kun jelek.”
Yoshiki menghelakan nafasnya, kembali menyandarkan posisinya dengan nyaman, “ternyata hanya begitu.”
“Eh? Hanya begitu?” Hana menatap Yoshiki konyol.
“Aku ini Lucifer, My Lady. Hal tersebut tidak akan menurunkan namaku sama sekali. Mereka membutuhkanku maka mereka tidak akan berani macam-macam. Dan…. Akhirnya kau menyebutku keren.”
Wajah Hana memerah seketika, “Uh.”
Yoshiki terkekeh kecil, “kau sering sekali mengatakan aktor ini keren, dosen ini keren, entahlah siapapun itu keren. Tapi cukup jarang memuji suamimu. Padahal suamimu jauh lebih dari mereka dari segala aspek.”
“Ya habisnya aku kan selalu melihat Yoshiki-kun, mungkin mataku sudah terbiasa dengan Yoshiki-kun yang seperti ini adalah hal yang biasa.”
Pria itu menyandarkan kepalanya pada tangan yang ia sandarkan pada jendela mobil, “selalu melihatku, eh?” Wajah Yoshiki menunjukkan sebuah seringai tipis.
“A-apa?”
“Kalau begitu untuk seterusnya My Lady. Tetaplah seperti itu. Kau hanya perlu melihatku. Hanya diriku saja. Jika kau kembali melirik pria lain, sepertinya aku perlu menerapak kedisiplinan untukmu.”
“Ehh apa ini? Sejak kapan Yoshiki-kun menjadi kinky?” Kedua sapphire Hana menatap Yoshiki berpura-pura ketakutan.
“I’m always kinky, My Lady. But in a normal way, we can increase the level if you want to,” pria itu balik menatap Hana dengan sebuah seringai.
“Ahahaha tidak usah bila begitu,” tawa Hana garing, “ah soal itu, jadi teringat tadi ada istri si pengusaha perhiasan yang ternyata dulu adalah matan sugar babynya suaminya yang sekarang.”
“Hn, Kusano Aya, istri dari Kusano Kenji.”
“Benar, Kusano Aya-san. Aku tidak menyangka ada hubungan sugar daddy-baby yang berakhir dengan manis sepeti itu.”
Tangan Yoshiki tiba tiba menarik tangan Hana, membuat tubuh wanita itu menjadi sangat dekat dengan sang suami, “bagaimana jika kau menjadi sugar baby ku?”
“HAH!?” Hana menarik tubuhnya terkejut.
Pria itu kembali terkekeh, “sepertinya kita perlu melakukan roleplay-sex suatu saat nanti.”
“A-aa… aku tidak meyangka harga cincin ini akan semahal itu,” Hana memalingkan wajahnya yang memerah, dan buru-buru mengganti topik pembicaraan.
“Hn?” Pria itu menaikkan alisnya.
“Kusano Aya-san yang memberitahuku. Tadi waktu para istri yang lain memamerkan cincin pernikahan Fox-san, cincin ini dibandingkan. Mereka sempat meragukan karena cincn ini memiliki berlian lebih kecil daripada milik Fox-san. Tapi untunglah Aya-san membalikkan keadaan. Aya-san memberitahu jika harga cincin ini hampir menyentuh 22-24 juta dollar.”
“Tidak diragukan lagi Kusano sebagai pengusaha jewellery. Lebih tepatnya harga cincin itu 24,70 juta dollar. Aku memutuskan menggunakan ukuran berlian yang lebih kecil karena kukira kau akan merasa aneh dengan hiasan yang berlebihan. Kau pasti akan lebih suka dengan plain design. Hn? Kau kenapa?” Fokus pria itu teralih pada sang wanita yang memunggungi dirinya sekarang.
“Nolnya banyak sekali jika dijadikan yen ya,” sekarang mata Hana nampak berputar, “ah daripada itu, Yoshiki-kun aku minta maaf telah membuang cincin seharga 24,70 juta dollar ini ke waduk waktu itu!”
Pria itu menaikkan sebelah alisnya, “memangnya kenapa?”
“Habisnya harganya mahal sekali kan? Bagaimana jika cincinnya tidak ketemu? Lagipula sepertinya apakah aku akan merusak berliannya karena sudah melemparkannya ke dalam air wad—”
“Hahh…” Pria itu menghela nafas berat. Kali ini pandangannya hanya tertuju pada jalanan malam.
“Yoshiki-kun…?”
“Waduk itu dalamnya lebih dari sepuluh meter, kau tau siapa yang menemukkan cincin itu di tengah gelapnya air dan bertanah liat?”
Hana menggelengkan kepalanya.
“Aku.”
“Eh?” Hana tidak bisa menahan keterkejutannya.
“Aku tidak bisa menggunakan kuasaku untuk menemukan cincin itu karena cincin itu adalah bagian darimu dan merupakan pengecualian untuk kuasaku. Jadi malam itu aku benar-benar kesusahan mencari cincin itu. Aku tidak bisa menunggu pagi. Siapa yang akan tau arus akan membawanya ke mana. Jadi setelah kau meninggialkanku bersama si sialan itu, aku melompat ke dalam danau.”
“A-ah….” Hana mulai kehilangan kalimat.
“Aku tidak mempermasalahkan harga. 20-30 juta dollar bukanlah suatu masalah untukku. Apalagi jika itu untukmu. Yang menjadi masalah adalah cincin itu adalah satu-satunya benda fisik yang bisa menjadi bukti jika kau dan aku ada dalam satu ikatan.”
Hanya hanya pupil Hana yang bergerak menyesuaikan intensitas cahaya.
Keheningan seketika menyeruak di dalam sedan hitam itu. Hanya suara aktifnya jalanan malam yang mengisi kekosonan.
Bibir Hana nampak bergerak beberapa saat, namun kembali terkatup kemudian.
“My Lady, apa kau bermasalah jika seluruh dunia tau apabila kau milikku?”
Hana terdiam.
“Apa kau tidak suka jika suamimu adalah aku? Apa di luar sana ada pria yang lebih baik dariku?”
Tidak ada jawaban dari Hana.
“Ketika kau melarikan diri bersama si sialan itu aku benar-benar seperti sudah gila. Aku menenggelamkan diriku dalam berbagai kesibukan. Mengikuti beberapa pertemuan, dan pada salah satunya, aku merasa iri dengan semua makhluk yang derajatnya jauh di bawahku, mereka bisa berbahagia membawa istri mereka. Bagaimana denganku? Istriku dibawa kabur pria lain,” rahang pria itu mengeras sebelum mengumpat, “sialan!”
Onyx pria itu sedikit melirik kepada sang wanita berharap mendapati sesuatu, namun wanitanya itu hanya tertunduk saja.
Sebuah helaan nafas kembali terdengar.
Puk
Tangan pria itu menpuk kepala hitam sang wanita.
“Jangan lepaskan lagi cincin itu. Bukan karena harganya. Tapi cincin itu adalah benda penting yang menunjukkan ikatan kita. Mengerti?”
Perlahan kepala hitam wanita itu terangkat, dari situ pria itu bisa melihat jelas ada sedikit air mata mengalir dari pelupuk sapphirenya.
Wanita itu perlahan mengangguk.
“.....” ditariknya kepala hitam itu untuk bersandar pada bahunya.
Cukup lama posisi itu bertahan. Usapannya pada rambut sang wanita tidak berhenti hingga beberapa saat.
“Ehem.” Pria itu sedikit berdehem membersihkan tenggorokannya, “lebih sering manjakan aku berikutnya.”
“Eh?” Seketika kepala hitam wanita itu terangkat.
.
Perlahan namun pastin sapphire Hana terbuka dan disambut oleh cahaya matahari yang berhasil menyusup ke dalam jendela kamarnya.
“Geserkan pertemuan jam 11 siang ke sore hari terserah pukul berapapun.”
“Maaf My Lord, apa ada masalah di jam itu?”
“Jam 12 adalah jam makan siang…”
Samar-samar indra pendengarannya mulai aktif menangkap beberapa suara.
Di tengah pupilnya yang mulai membiasakan dengan insensitas cahaya yang ada, ia bisa melihat punggung suaminya. Punggung telanjang suaminya menghadap seseorang—seorang wanita.
Seketika kedua matanya terbuka lebar memastikan siapa wanita yang ada di hadapan suaminya.
“… dan aku perlu makan siang bersamanya.”
“Baik My Lord, saya permisi,” sang wanita yang merupakan asisten pribadi suaminya itu undur diri meninggalkan ruangan.
Suara selimut yang digesek dengan kasar membuat kepala dengan rambut jaged berantakan itu menoleh mendapati wanitanya meregangkan tubuh. Bibir tipisnya tersenyum, “selamat pagi, My Lady.”
“Ughh… selamat pagi,” jawab Hana di tengah erangannya.
Pria itu dengan gerakan cepat merangkak ke atas ranjang dan tubuh Hana.
“Hei… hei… hei…” seketika wajah Hana meemerah begitu wajah sang suami berada sangat dengan dengan wajahnya.
“A-ada apa?” Hana tertegun. Ia tidak bisa menahan diri untuk melihat betapa indahnya sosok di hadapannya. Wajah tampan pria itu sangat sempurna. Di tambah sekarang sang pria hanya mengenakan celana kainnya dengan bertelanjang dada, memamerkan otot otot kekar dengan volume yang menurut Hana sangat pas—tidak kurang tidak lebih.
“Tidak ada,” jawab pria itu datar.
“T-Tidak ada? Lagipula Yoshiki-kun kenapa bertelanjang dada begitu sih!?”
“Hn? Kau tidak suka?”
Wajah Hana memerah, “ya… aku tidak bilang tidak suka sih…”
Chu.
Sebuah kecupan mendarat pada bibir Hana.
“!!!” Wanita itu hanya bisa menahan nafasnya.
“Aku ada meeting pagi ini dan kembali saat makan siang. Kita akan makan siang bersama, mengerti?”
Dengan ragu Hana menganggukkan kepalanya.
Pria itu beranjak dari ranjang dan menuju wardrobe, “apa yang akan kau lakukan sampai siang nanti?”
“Uumm… bermain game?” Jawab Hana tidak yakin.
“Sebentar lagi kuliah akan dimulai lagi, My Lady.”
Begitu pria itu keluar dari ruang ganti dengan mengenakan sebuah kemeja berwarna keabuan, ia mendapati gundukan selimut di atas ranjang, menutup seluruh keberadaan Hana.
“Aku malas belajar,” ujar wanitanya itu merajuk.
“Mau kursus bahasa Inggris? Untuk mengisi kekosongan waktu,” pria itu berujar sambil merapikan kemejanya.
“Huungg…” sosok berkepala hitam itu menarik dirinya dari balik selimut, menunjukkan betapa berantakannya rambut pendeknya, “aku bisa belajar bahasa Inggris dari game.”
“Namun nyatanya kamu tidak bisa memahami kuliah yang kuberikan,” pria itu sedikit menggoda.
Pipi Hana sedikit menggembung, “ya kan yang dibahas sesuatu yang bukan bidangku.”
Pria itu terkekeh kecil, “jika kau membutuhkan kursus apapun kau bisa meminta padaku. Akan kusediakan guru terbaik untuk mengajarimu. Tentu saja, gurunya perempuan.”
“Eeeh membosankan, padahal aku berharap gurunya kakak-kakak tampan yang punya charisma ketika mengajar sehingga membuatku semangat,” wanita itu balik menggoda, membalas sang pria.
Di luar dugaan, godaan konyol Hana membuat wajah Yoshiki sedikit tertekuk, pria itu tidak suka. Terlihat untuk beberapa saat pria itu membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu, namun mengurungkannya.
‘Eh? Apa barusan? Dia marah? Astaga lucu sekali!!!’ Batin Hana berteriak.
“A-anu, tadi hanya bercanda kok Yoshiki-kun,” Hana sweatdrop.
“Hn. Aku tau. Tapi rasanya menyebalkan juga,” pria itu merespon datar sementara tubuhnya terus bergerak mengenakan jas dan merapikan dirinya, menciptakan sosok tampan dirinya.
“Sementara aku akan mencoba belajar sendiri. Jika kesusahan aku akan memberitahu Yoshiki-kun. Yoshiki-kun akan mengajariku kan?”
Kepala pria itu yang awalnya tengah fokus menyiapkan berkasnya tiba-tiba terarah pada sang wanita, “tentu,” bibir Yoshiki sedikit tertarik ke atas, “aku akan mengajarimu.”
.
“Yoshiki-kun!” Hana membuka pintu perpustakaan dan mendapati sosok yang dpianggilnya tengah berdiri di tepi pintu membenarkan letak jasnya.
“Hn, ayo kita makan siang.”
Anggukan kecil diberikan Hana, “ayo.”
Pria itu menjulurkan tangannya. Tidak seperti beberapa minggu-minggu lalu, tangan pria itu kini disambut dan digenggam.
“Kita akan ke mana?” Kepala Hana sedikit terangkat ke samping, mengamati wajah pria yang berjalan di sampingnya, menggenggam tangannya erat.
“Kau ingin ke mana?” Pria itu malah balik melemparkan pertanyaannya.
“Umm, aku ingin hamburger, soda, kentang goreng, prekedel….”
“Itu semua junk food kau tau?” Yoshiki melirik Hana sekilas.
“Tapi aku ingin!” Tak memperdulikan ketidaksukaan Yoshiki, Hana memberikan senyum lima jarinya.
.
Walaupun pria itu mendengus tidak setuju berkali-kali, pada akhirnya pria itu tetap membuka kertas pembungkus burgernya.
“Umm… ada apa Yoshiki-kun? Pesananmu salah?” Di hadapannya, wanitanya itu tengah dengan lahap mengunyah burger dan kentang goreng secara bersamaan.
“Hn…” sembari mendengus, pria itu mengigit burgernya dengan enggan.
“Ini enak lohh! Ah aku boleh menambah 2 burger lagi Yoshiki-kun?”
Pria itu masih mengunyah gumpalan daging dan roti dalam mulutnya, namun mengangguk beberapa saat kemudian.
“Yash!” Dengan semangat Hana mengkombinasikan makanan dalam mulutnya dengan beberapa perkedel daging.
“Ini hanya junk food di restoran cepat saji… kenapa kau bersemangat sekali?” Yoshiki tidak bisa habis pikir dengan wanita di hadapannya.
Tak mempedulikan gumanan kesal sang suami, Hana melanjutkan kunyahannya seolah menikmati setiap kecapannya.
“Aku berencana mengajakmu makan siang pada restoran hotel di dekat Roponggi sebenarnya.”
“Ehh jwauh skwali,” Hana merespon cepat walaupun mulutnya penuh dengan makanan.
“Telan dulu makananmu,” Yoshiki sweatdrop.
Hana menelan bulat-bulat makananya, “Ke Roponggi untuk makan siang saja bukannya sedikit berlebihan?”
“Untuk seorang penguasa dunia bawah dunia ini?”
“Yah… hehe,” Hana memerkan senyum lima jarinya.
Sementara itu dari luar restoring cepat saji itu, seorang wanita dengan rambut ikal coklatnya hanya menatap dengan penuh penghinaan, “aku ditolak demi wanita konyol seperti itu? Yang benar saja.”
.
Grim Impact berikutnya memiliki update data yang besar.
Yoshiki mengirimkan sebuah chat pada ruang obrolannya yang bertuliskan ‘Mine’.
Parah sekali, pasti aka nada banyak karakter baru yang muncul.
Pesan dari Hana datang.
Sekarang entah mengapa setiap ia memiliki waktu senggang, ia selalu menyempatkan diri untuk berbicara dengan sang istri entah serandom apapun itu topik pembicaraannya.
Jarinya sudah bersiap mengetik beberapa kata untuk balasan hingga ketukan pintu ruangannya membatalkan niatnya.
“Masuk.” Responnya dalam.
Pintu terbuka dan sosok yang telah berani menginterupsinya adalah Shiroi Tenko. Wanita pemilik grup Tenko. Wanita yang seperti orang gila mengejar-ngejarnya beberapa bulan terakhir.
“Hn, ada apa Tenko-san?” Yoshiki bertanya datar.
“Ternyata benar cincin yang kamu gunakan itu cincin pernikahan.” Perempuan itu tiba-tiba berbicara dalam posisinya yang masih berdiri dan melipat tangan.
Yoshiki menghela nafas malas, “lagi pula kenapa anda tidak percaya Tenko-san? Saya sudah menikah.” Yoshiki berbalik menggunakan kalimat sopan.
“Tch!” Perempuan itu berdecak dan mengalihkan pertanyaan Yoshiki, “sekarang aku tahu siapa istrimu.”
“Hn?” Kepala Yoshiki sedikit terangkat sekarang.