Tanpa sadar Hana mengigit bibirnya. Ia bergetar beberapa saat. Kepalanya kalut penuh dengan berbagai pemikiran.
Email dari siapa itu?
Siapa perempuan yang tadi di dalam mobil Yoshiki?
Apa keduanya datang dari perempuan yang sama?
Hana nampak menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan beberapa pikiran negative yang mampir.
Berikutnya ia menjatuhkan punggungnya ke ranjang yang empuk. Matanya terpejam. Wajahnya terlihat damai. Namun tidak dengan hati dan kepalanya.
Dalam senyumnya Hana berguman, “Aku percaya Yoshiki-kun.”
Sebelum akhirnya perempuan berambut pendek itu terjatuh dalam mimpinya.
.
Dari: Rin2otome@mail.co.jp
Café Bethoveen di dekat stasiun bagaimana? Aku sangat sering ke sana. Tempatnya meneyenangkan. Aku yakin Kuroto-kun akan suka.
Yoshiki masih terdiam memandangi tampilan isi email dari Rin. Namun beberapa saat berfikir ia pun memberikan balasan.
Kepada: Rin2otome@mail.co.jp
Kapan dan jam berapa?
Jawaban singkat dan padat.
Dari: Rin2otome@mail.co.jp
Bagaimana jika lusa jam 5 sore?
Kepada: Rin2otome@mail.co.jp
Baiklah.
.
Dua hari kemudian.
Sebuah suara ketukan terdengar dari balik ruang kerja Yoshiki.
“Hn. Masuk,” sang pemilik kamar member izin.
Hana muncul dari balik pintu dengan tangannya membawa ponselnya. Ia mendekat ke arah Yoshiki yang diam tak bergerak dari kursinya.
“Ada apa My Lady?” Walaupun bertanya begitu tapi pandangan Yoshiki tak bisa teralihkan dari layar PCnya.
“Yoshiki-kun! Ayo berman FGA! AP-ku untuk bermain habis!” Entah kesal karena respon pasif Yoshiki, Hana dengan seenaknya saja duduk tiba-tiba di pertengahan paha Yoshiki yang kosong. FGA adalah sebuah game RPG berbasis gacha. Pelesetan dari FGO.
“….” Yoshiki sedikit terdiam melihat keagresivan Hana yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Ia akui Hana memang cukup aggressive. Tapi Hana sangat jarang menunjukkan tingkah seterang-terangan ini sebelumnya.
Kemarin pun tiba-tiba Hana menidurkan kepalanya di pahanya ketika duduk santai di taman, memeluknya dari belakang ketika ia sedang bekerja dan hanya mengatakan jika Hana merindukannya.
Drrrrttt…Drrrtt…
Ponsel di meja yang Yoshiki letakkan tidak jauh dari sana bergetar dan menyala menunjukkan sebuah email masuk. Mata Hana seketika menjadi awas dan segera melihat email yang masuk. Namun yang masuk hanyalah sebuah email pekerjaan biasa.
Yoshiki tidak bergeming pada ponselnya yang bergetar.
“Yoshiki-kun, ada email masuk,” Hana berusaha memancing Yoshiki.
“Hn, biarkan saja. Bisa kucek nanti.”
“Kalau begitu, aku main FGA punya Yoshiki-kun ya!” Tanpa menunggu persetujuan dari Yoshiki, Hana segera meraih benda persegi panjang tipi situ, membuka passcodenya dan menekan aplikasi FGA.
Yoshiki hanya sesekali melirik ke arah Hana yang masih duduk di pertengahan antara kedua belahan pahanya. Oh tentu saja miliknya akan bergesekkan dengan pantat Hana. Namun ia pasti bisa menahan hasratnya.
“ASTAGA! SUDAH BERAPA LAMA AKU TIDAK MEMBUKA SENDIRI AKUN YOSHIKI-KUN DAN SUDAH ADA 16 SSR DI SINI!?”
Hana selalu bertindak semaunya. Tapi Hana selalu meminta izin jika hendak melakukan sesuatu jika itu menyangkut dirinya. Padahal sejak awal Yoshiki sudah menekankan jika apa yang menjadi miliknya adalah milik Hana juga. Hana pasti butuh adaptasi tersendiri tentang hal itu.
Kenapa tindakan Hana yang seperti terasa berbeda ini memiliki maksud?
Mulut Yoshiki terbuka, “My Lady…”
“Umm? Ada apa Yoshiki-kun?” Hana masih berfokus pada game di ponsel Yoshiki.
“Kenapa—“
“Hoo begitu…”
Kalimat Yoshiki terpotong begitu saja karena gumanan Hana.
“Begitu?”
“Umm, tidak. Ehe.” Hana mendongkakkan kepalanya dan tersenyum riang ke arah Yoshiki.
Sebuah senyum riang yang seharusnya terlihat biasa saja namun bagi Yoshiki senyuman tiba-tiba itu terasa tidak wajar.
Hana meletakkan kembali ponsel Yoshiki yang menunjukkan layar kekalahan dalam game.
“Membosankan, mau main yang lain ah.”
Yoshiki semakin merasakan hawa aneh dari Hana. Tingkah dan sifat Hana yang sangat berubah dengan cepat kali ini membuatnya kebingungan.
Belum sempat Yoshiki menyelesaikan pemikirannya sendiri dan hendak bertanya kepada Hana, tapi perempuan itu sudah enyah di balik pintu.
“…. Ada apa dengannya?”
.
Hana terdiam berdiri di depan pintu ruang kerja Yoshiki. Tubuhnya ia sandarkan pada pintu kayu kokoh di belakangnya. Kepalanya tertunduk membuat kedua bola matanya tersembunyi di balik poni rambutnya. Kedua bola mata itu bergetar cepat diiringi dengan keringat dingin yang sesekali mengucur di seluruh wajahnya.
Dengan suara bergetar Hana berucap, “Rin Otome… Café Bethoveen… Jam 5 Sore…” Berikutnya perempuan berambut pendek itu berjalan seperti tak tentu arah sambil menggumankan kalimat-kalimat sejenis, “kucing pencuri…. Yoshiki-kun mengkhianatiku… kenapa… kenapa…”
.
Rayumi Hana: Ada yang kenal Otome Rin?
Umei Yui: Nggak. Kenapa tiba-tiba Tanya?
Rayumi Hana: Yah… sepertinya dia sedang dekat dengan Yoshiki-kun. Apa yang harus kulakukan?
Hisegawa Maki: Uwaaa… ada orang ketiga diantara kalian. Ceritakan dulu.
Rayumi Hana: Ingat beberapa malam lalu kita ke toko buku? Di sana ada konser orchestra kan. Orkestra itu sangat terkenal sepertinya. Yoshiki-kun pergi menontonnya sendirian. Lalu aku sempat melihat mobil Yoshiki-kun. Dan di sampingnya ada seorang perempuan. Aku tidak tau siapa itu.
Hisegawa Maki: Lalu dapat dari mana nama Otome Rin?
Rayumi Hana: Aku tadi menggunakan ponsel Yoshiki-kun untuk bermain game. Dan muncul notifikasi email dari seseorang bernama Otome Rin. Sepertinya Yoshiki-kun dan Otome Rin akan bertemu besok jam 5 sore di sebuah café.
Ayaki Shiro: WOAAAH AKHIRNYA DIA MENUNJUKKAN KEBERENGSEKANNYA! BENAR KAN KUROTO MEMANG BERENGSEK HEHE
Umei Yui: Shiro tolong tenang. Hana, apa kamu sudah mengatakan sesuatu kepada Kuroto-kun soal itu?
Rayumi Hana: Uh, belum tentu saja. Aku terlalu kaget. Aku langsung pergi begitu saja tanpa bicara apapun.
Hisegawa Maki: Lalu bagaiamana soal besok? Pacarmu mau selingkuh loh besok.
Ayaki Shiro: Kalau aku jadi kamu Hana-chan, AKU PATAHKAN EKOR KUCING BETINA ITU!
Hana terdiam menatap layar ponsel yang menampilkan multichat. Angin malam meniup rambut pendeknya yang memiliki warna senada dengan gelapnya malam.
Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum aneh.
Rayumi Hana: Aku lihat kondisi dulu besok.
Hisegawa Maki: woah, serius? Mau kami temani?
Umei Yui: Iya deh. Sepertinya kita harus datang juga.
Rayumi Hana: Tidak perlu, tidak perlu. Bisa saja ini cumin salah paham kan? Biar aku sendiri yang lihat kondisinya.
Ayaki Shiro: Yaaaah nggak seru. Padahal aku mau mencakar wajah kucing betina itu.
Umei Yui: Shiro….
.
Yoshiki duduk di kursinya dengan tenang menyantap hidangan sarapan yang disajikan saat itu. Sementara Hana duduk di sampingnya nampak tidak bisa menikmati apapun yang ia kecap.
Jam 5 sore hanya tinggal beberapa jam lagi. Namun tidak ada satu rencana pun yang terbesit dalam pikiran Hana mengenai apa-apa saja kemungkinan yang akan terjadi nanti dan bagaimana cara mengatasinya.
TRANG!
Tanpa Hana sadari sendok mangkuk yang ia suapkan tergelincir dari jepitan jarinya dan melesat membentur lantai marmer yang dingin, menimbulkan dentingan nyaring di ruang makan yang sunyi.
“Ah.”
Para maid yang cekatan segera memberikan sendok pengganti dan mengatasi kekacauan.
“Hn, ada apa denganmu?” Yoshiki dengan tatapan datarnya bertanya kepada Hana.
“Oh, umm,” Hana menundukkan kepalanya entah mengapa, “t-tanganku hanya licin kok.”
Detik demi detik berlalu. Menit demi menit berlalu. Hingga jam demi jam pun berlalu. Selama sepanjang hari Hana terus-terusan menguntit Yoshiki. Mulai dari suaminya itu berangkat ke kantor cabang, makan siang bersama rekan kerjanya, hingga waktu sudah hampir menunjukkan jam 5 sore Hana terus mengawasi Yoshiki dengan cara bodohnya.
Saat ini jam tangan Hana menunjukkan pukul 4:30 sore. Yoshiki kembali bergerak. Dengan cekatan Hana segera memanggil taksi untuk mengikuti mobil Yoshiki.
Inilah saatnya. Terlihat jelas dari rute yang diambil mobil Yoshiki jika mobil itu akan terarah pada stasiun dekat sekolah.
Yoshiki akan menemui Rin Otome.
Detak jantung Hana seolah berdetak semakin lambat dan pelan. Pikiran Hana mulai kalut sementara pandangannya masih mengawasi pergerakan mobil yang ia ikuti tidak lepas dari pandangannya.
“Pak ketika mobil di depan mulai mengurangi kecepatan, bapak juga ya, kalau mobilnya berhenti bisa tolong berhenti di tempat kira-kira 300 meter dari mobil itu?” Tanya Hana kepada sang sopir taksi.
“Tentu nona. Sebelumnya, boleh saya bertanya kenapa nona mengikuti mobil itu?” Sang sopir taksi balik bertanya, namun pandangannya tetap tertuju pada mobil yang dibuntuti.
“Itu mobil suami saya. Dan sepertinya… akan berselingkuh!”
Mendengar kalimat polo situ keluar dari mulut Hana sang sopir taksi lantas sedikit terkejut.
“Wah, sepertinya anda repot sekali ya nona. Oh, mobilnya berhenti,” dengan begitu sang sopir taksi menepikan mobilnya dalam jarak yang diinginkan Hana.
“Terima kasih pak. Maaf merepotkan,” tak ingin membuang-buang waktu lagi Hana segera menyerahkan ongkos taksi dan melesat menuju café.
Sebelum memasuki café, Hana harus siap dengan segala penyamarannya. Ia mengenakan sebuah jaket berhoodie berwarna merah mudah juga sebuah topi berwarna krim yang akan menyembunyikan wajahnya. Untuk mengurangi eye catching Yoshiki kepadanya, ia sengaja mengenakan sebuah rok pendek yang jarang digunakannya.
Kling.
Hana membuka pintu café.
Café Bethoveen. Tidak ada bedanya dari café-café pada umunya. Hanya saja ketika kau membuka pintu kau akan disambut oleh alunan indah music klasik.
Seketika mata Saphire-nya menemukan sosok Yoshiki yang entah kenapa begitu mencolok keleganannya diantara seluruh pengunjung café. Prianya itu duduk di tepi jendela dan nampak sibuk dengan ponselnya.
Dengan kepala tertunduk berusaha menyembunyikan wajahnya, Hana berjalan melewati meja Yoshiki dan mengambil tempat duduk kosong tepat di belakang Yoshiki.
Kini keduanya duduk saling berpunggungan. Hana tak ingin duduk di sisi sebrang untuk mengurangi resiko ketahuan ketika Yoshiki menoleh ke belakang.
Alunan music klasik masih mendengu-dengu memenuhi seluruh café. Dalam diamnya Hana tersenyum. Bukan sebuah senyuman tulus, namun senyuman yang menunjukkan betapa menyedihkannya keadaannya saat ini.
“Ah! Kuroto-kun! Maafkan aku keretanya tadi terlambat 10 menit dari jadwal!”
Kepala Hana sedikit tersentak begitu mendengar sebuah suara perempuang yang tak asing mengucapkan nama suaminya. Refleks kepala berhoodienya menoleh ke sumber suara. Namun Hana tak berani banyak menoleh, ia hanya sedikit melirik-lirik tipis.
‘Oh!’
Seorang perempuan berambut pendek sebahu dengan senyumannya meminta maaf mulai duduk di hadapan Yoshiki.
‘Tunggu! Aku pernah bertemu dengannya! Dimana? Dimana aku pernah bertemu dengannya?’
Sekarang Hana mulai sibuk menggali-gali dasar pikirannya. Mencari titik awal ia bertemu dengan si perempuan.
‘ITU DIA!’
Hana mengingatnya.
‘Dia perempuan yang di perpustakaan kapan hari!’ “Rosamunde,” terdengar suara Rin Otome dari belakang.
“Telingamu memang cukup bagus,” respon Yoshiki.
“Romantis sekali loh habisnya. Rosamunde yang sengaja dibesarkan oleh gembala janda dalam penyamarannya untuk kudeta. Gubernur yang menyadarinya berusaha menikahinya untuk meracuninya namun hal itu digagalkan oleh suaminya Pangeran Krret Alfonso.”
“Hn….”
“Aku ingin pria seperti Pangeran Krret Alfonso jadi suamiku sepertinya, haha.”
“Krret sebenarnya cukup kejam dalam mengkahikimi Gubernur jika kau membaca di beberapa sumber.”
“Begitukah? Hmm… susah juga ya.”
‘EH? APA? APA YANG MEREKA BICARAKAN!?’
Kedua bola mata Hana bergetar kebingungan mendengar pembicaraan dua orang di belakangnya. Sementara eorang pelayan telah menunggunya membacakan makanan apa yang akan dipesannya. Genggamannya pada buku menu pun seolah mengerat seiring kebingungannya yang terus naik.
“Nona? Anda kenapa?” Pelayan yang bertugas mencatat pesanan Hana menangkap gelagat aneh Hana.
“Oh, uhm, t-tidak. Aku ingin sandwich telur dan es kopi saja,” ucap Hana dengan nada yang ia serak-serakan untuk penyamaran.
“Baik. Mohon ditunggu,” sang pelayan mengambil daftar menu kemudian menghilang dari hadapan Hana.
Hana kembali menajamkan telinganya setelah menghela nafas lega. Nampaknya meja di belakangnya juga baru selesai memesan makanan.
“Aku selalu ke sini setiap beberapa minggu. Bagaimana café ini menurut Kuroto-kun?”
“Hn, tidak buruk juga.”
“Eh, kenapa responnya begitu?”
“Sebenarnya, aku juga sudah beberapa kali ke sini.”
“Sungguh? Jadi ini bukan pertama kali Kuroto-kun?”
“Bukan.”
“Yaaah, tidak asik. Maaf ya Kuroto-kun, aku tidak tau.”
“Hn. Tidak apa.”
“Omong-omong, Kuroto-kun akan melanjutkan kemana setelah lulus? Kalau dipikir-pikir aku selalu ingin menanyakan ini.”
“Kuliah.”
“Keren. Tentu saja. Kuroto-kun pintar dan berfinansial cukup. Mau ke universitas mana memangnya?”
“Universitas Tokyo.”
“Iya ya. Itu universitas bagus. Kalau bisa, akupun ingin masuk ke sana.”
“Hn? Kau tidak melanjutkan kuliah?”
“Tidak. Orang tuaku melarang. Aku harus mencari uangku sendiri jika mau kuliah. Orang tuaku punya perkebunan. Mereka ingin aku meneruskan lahan mereka.”
“Hn…”
“Padahal aku ingin sekali sekolah musik. Terutama piano.”
“Kau bermain piano?”
“Yap. Oh aku ingin sekali berduet dengan Kuroto-kun. Aku dengan piano dan Kuroto-kun dengan biola. Memainkan Rosamunde bersama mungkin? Rekaman permainan biola yang Kuroto-kun kirimkan kapan hari keren sekali loh!”
Hana terdiam menyesap es kopinya. Namun pikirannya tak bisa diam.
Setahu Hana, Yoshiki bukanlah orang yang mau repot karena orang asing. Jika Yoshiki sampai mau memainkan biola di tengah kesibukannya selama ini, artinya hubungan keduanya bukanlah orang asing lagi.
Terlebih, ini pertama kalinya bagi Hana mengetahui jika suaminya sangat jago memainkan biola.
Ah, dadanya sedikit terasa sesak sekarang.
“Kuroto-kun keren sekali. Tidak heran banyak anak perempuan di kelasku menyukai Kuroto-kun.”
“Hn…”
“Yah sejak kepindahan Kuroto-kun anak-anak sudah sangat heboh. Semua orang membicarakan Kuroto-kun. Namun aku yang cuma siswi biasa tidak berani aneh-aneh. Aku hanya…. Melihat Kuroto-kun dari jauh.”
Tidak terdengar respon dari Yoshiki.
Sementara Hana? Pegangannya pada gelas berisi es kopinya mengerat. Seolah mampu memutihkan buku-buku jarinya.
“Tidak kusangka Kuroto-kun yang itu juga suka music klasik sepertiku. Aku bahagia sekali. Padahal menemukan teman sehobi di era ini saja sudah susah, sekali dapat malah yang seperti Kuroto-kun. Aku merasa beruntung sekali!”
“Hn, benar juga. Kenapa kita tidak bertemu sejak awal tahun?”
‘!!!!!!’ Hana tersentak oleh kalimat Yoshiki.
Read More ->>
Email dari siapa itu?
Siapa perempuan yang tadi di dalam mobil Yoshiki?
Apa keduanya datang dari perempuan yang sama?
Hana nampak menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan beberapa pikiran negative yang mampir.
Berikutnya ia menjatuhkan punggungnya ke ranjang yang empuk. Matanya terpejam. Wajahnya terlihat damai. Namun tidak dengan hati dan kepalanya.
Dalam senyumnya Hana berguman, “Aku percaya Yoshiki-kun.”
Sebelum akhirnya perempuan berambut pendek itu terjatuh dalam mimpinya.
.
Dari: Rin2otome@mail.co.jp
Café Bethoveen di dekat stasiun bagaimana? Aku sangat sering ke sana. Tempatnya meneyenangkan. Aku yakin Kuroto-kun akan suka.
Yoshiki masih terdiam memandangi tampilan isi email dari Rin. Namun beberapa saat berfikir ia pun memberikan balasan.
Kepada: Rin2otome@mail.co.jp
Kapan dan jam berapa?
Jawaban singkat dan padat.
Dari: Rin2otome@mail.co.jp
Bagaimana jika lusa jam 5 sore?
Kepada: Rin2otome@mail.co.jp
Baiklah.
.
Dua hari kemudian.
Sebuah suara ketukan terdengar dari balik ruang kerja Yoshiki.
“Hn. Masuk,” sang pemilik kamar member izin.
Hana muncul dari balik pintu dengan tangannya membawa ponselnya. Ia mendekat ke arah Yoshiki yang diam tak bergerak dari kursinya.
“Ada apa My Lady?” Walaupun bertanya begitu tapi pandangan Yoshiki tak bisa teralihkan dari layar PCnya.
“Yoshiki-kun! Ayo berman FGA! AP-ku untuk bermain habis!” Entah kesal karena respon pasif Yoshiki, Hana dengan seenaknya saja duduk tiba-tiba di pertengahan paha Yoshiki yang kosong. FGA adalah sebuah game RPG berbasis gacha. Pelesetan dari FGO.
“….” Yoshiki sedikit terdiam melihat keagresivan Hana yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Ia akui Hana memang cukup aggressive. Tapi Hana sangat jarang menunjukkan tingkah seterang-terangan ini sebelumnya.
Kemarin pun tiba-tiba Hana menidurkan kepalanya di pahanya ketika duduk santai di taman, memeluknya dari belakang ketika ia sedang bekerja dan hanya mengatakan jika Hana merindukannya.
Drrrrttt…Drrrtt…
Ponsel di meja yang Yoshiki letakkan tidak jauh dari sana bergetar dan menyala menunjukkan sebuah email masuk. Mata Hana seketika menjadi awas dan segera melihat email yang masuk. Namun yang masuk hanyalah sebuah email pekerjaan biasa.
Yoshiki tidak bergeming pada ponselnya yang bergetar.
“Yoshiki-kun, ada email masuk,” Hana berusaha memancing Yoshiki.
“Hn, biarkan saja. Bisa kucek nanti.”
“Kalau begitu, aku main FGA punya Yoshiki-kun ya!” Tanpa menunggu persetujuan dari Yoshiki, Hana segera meraih benda persegi panjang tipi situ, membuka passcodenya dan menekan aplikasi FGA.
Yoshiki hanya sesekali melirik ke arah Hana yang masih duduk di pertengahan antara kedua belahan pahanya. Oh tentu saja miliknya akan bergesekkan dengan pantat Hana. Namun ia pasti bisa menahan hasratnya.
“ASTAGA! SUDAH BERAPA LAMA AKU TIDAK MEMBUKA SENDIRI AKUN YOSHIKI-KUN DAN SUDAH ADA 16 SSR DI SINI!?”
Hana selalu bertindak semaunya. Tapi Hana selalu meminta izin jika hendak melakukan sesuatu jika itu menyangkut dirinya. Padahal sejak awal Yoshiki sudah menekankan jika apa yang menjadi miliknya adalah milik Hana juga. Hana pasti butuh adaptasi tersendiri tentang hal itu.
Kenapa tindakan Hana yang seperti terasa berbeda ini memiliki maksud?
Mulut Yoshiki terbuka, “My Lady…”
“Umm? Ada apa Yoshiki-kun?” Hana masih berfokus pada game di ponsel Yoshiki.
“Kenapa—“
“Hoo begitu…”
Kalimat Yoshiki terpotong begitu saja karena gumanan Hana.
“Begitu?”
“Umm, tidak. Ehe.” Hana mendongkakkan kepalanya dan tersenyum riang ke arah Yoshiki.
Sebuah senyum riang yang seharusnya terlihat biasa saja namun bagi Yoshiki senyuman tiba-tiba itu terasa tidak wajar.
Hana meletakkan kembali ponsel Yoshiki yang menunjukkan layar kekalahan dalam game.
“Membosankan, mau main yang lain ah.”
Yoshiki semakin merasakan hawa aneh dari Hana. Tingkah dan sifat Hana yang sangat berubah dengan cepat kali ini membuatnya kebingungan.
Belum sempat Yoshiki menyelesaikan pemikirannya sendiri dan hendak bertanya kepada Hana, tapi perempuan itu sudah enyah di balik pintu.
“…. Ada apa dengannya?”
.
Hana terdiam berdiri di depan pintu ruang kerja Yoshiki. Tubuhnya ia sandarkan pada pintu kayu kokoh di belakangnya. Kepalanya tertunduk membuat kedua bola matanya tersembunyi di balik poni rambutnya. Kedua bola mata itu bergetar cepat diiringi dengan keringat dingin yang sesekali mengucur di seluruh wajahnya.
Dengan suara bergetar Hana berucap, “Rin Otome… Café Bethoveen… Jam 5 Sore…” Berikutnya perempuan berambut pendek itu berjalan seperti tak tentu arah sambil menggumankan kalimat-kalimat sejenis, “kucing pencuri…. Yoshiki-kun mengkhianatiku… kenapa… kenapa…”
.
Rayumi Hana: Ada yang kenal Otome Rin?
Umei Yui: Nggak. Kenapa tiba-tiba Tanya?
Rayumi Hana: Yah… sepertinya dia sedang dekat dengan Yoshiki-kun. Apa yang harus kulakukan?
Hisegawa Maki: Uwaaa… ada orang ketiga diantara kalian. Ceritakan dulu.
Rayumi Hana: Ingat beberapa malam lalu kita ke toko buku? Di sana ada konser orchestra kan. Orkestra itu sangat terkenal sepertinya. Yoshiki-kun pergi menontonnya sendirian. Lalu aku sempat melihat mobil Yoshiki-kun. Dan di sampingnya ada seorang perempuan. Aku tidak tau siapa itu.
Hisegawa Maki: Lalu dapat dari mana nama Otome Rin?
Rayumi Hana: Aku tadi menggunakan ponsel Yoshiki-kun untuk bermain game. Dan muncul notifikasi email dari seseorang bernama Otome Rin. Sepertinya Yoshiki-kun dan Otome Rin akan bertemu besok jam 5 sore di sebuah café.
Ayaki Shiro: WOAAAH AKHIRNYA DIA MENUNJUKKAN KEBERENGSEKANNYA! BENAR KAN KUROTO MEMANG BERENGSEK HEHE
Umei Yui: Shiro tolong tenang. Hana, apa kamu sudah mengatakan sesuatu kepada Kuroto-kun soal itu?
Rayumi Hana: Uh, belum tentu saja. Aku terlalu kaget. Aku langsung pergi begitu saja tanpa bicara apapun.
Hisegawa Maki: Lalu bagaiamana soal besok? Pacarmu mau selingkuh loh besok.
Ayaki Shiro: Kalau aku jadi kamu Hana-chan, AKU PATAHKAN EKOR KUCING BETINA ITU!
Hana terdiam menatap layar ponsel yang menampilkan multichat. Angin malam meniup rambut pendeknya yang memiliki warna senada dengan gelapnya malam.
Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum aneh.
Rayumi Hana: Aku lihat kondisi dulu besok.
Hisegawa Maki: woah, serius? Mau kami temani?
Umei Yui: Iya deh. Sepertinya kita harus datang juga.
Rayumi Hana: Tidak perlu, tidak perlu. Bisa saja ini cumin salah paham kan? Biar aku sendiri yang lihat kondisinya.
Ayaki Shiro: Yaaaah nggak seru. Padahal aku mau mencakar wajah kucing betina itu.
Umei Yui: Shiro….
.
Yoshiki duduk di kursinya dengan tenang menyantap hidangan sarapan yang disajikan saat itu. Sementara Hana duduk di sampingnya nampak tidak bisa menikmati apapun yang ia kecap.
Jam 5 sore hanya tinggal beberapa jam lagi. Namun tidak ada satu rencana pun yang terbesit dalam pikiran Hana mengenai apa-apa saja kemungkinan yang akan terjadi nanti dan bagaimana cara mengatasinya.
TRANG!
Tanpa Hana sadari sendok mangkuk yang ia suapkan tergelincir dari jepitan jarinya dan melesat membentur lantai marmer yang dingin, menimbulkan dentingan nyaring di ruang makan yang sunyi.
“Ah.”
Para maid yang cekatan segera memberikan sendok pengganti dan mengatasi kekacauan.
“Hn, ada apa denganmu?” Yoshiki dengan tatapan datarnya bertanya kepada Hana.
“Oh, umm,” Hana menundukkan kepalanya entah mengapa, “t-tanganku hanya licin kok.”
Detik demi detik berlalu. Menit demi menit berlalu. Hingga jam demi jam pun berlalu. Selama sepanjang hari Hana terus-terusan menguntit Yoshiki. Mulai dari suaminya itu berangkat ke kantor cabang, makan siang bersama rekan kerjanya, hingga waktu sudah hampir menunjukkan jam 5 sore Hana terus mengawasi Yoshiki dengan cara bodohnya.
Saat ini jam tangan Hana menunjukkan pukul 4:30 sore. Yoshiki kembali bergerak. Dengan cekatan Hana segera memanggil taksi untuk mengikuti mobil Yoshiki.
Inilah saatnya. Terlihat jelas dari rute yang diambil mobil Yoshiki jika mobil itu akan terarah pada stasiun dekat sekolah.
Yoshiki akan menemui Rin Otome.
Detak jantung Hana seolah berdetak semakin lambat dan pelan. Pikiran Hana mulai kalut sementara pandangannya masih mengawasi pergerakan mobil yang ia ikuti tidak lepas dari pandangannya.
“Pak ketika mobil di depan mulai mengurangi kecepatan, bapak juga ya, kalau mobilnya berhenti bisa tolong berhenti di tempat kira-kira 300 meter dari mobil itu?” Tanya Hana kepada sang sopir taksi.
“Tentu nona. Sebelumnya, boleh saya bertanya kenapa nona mengikuti mobil itu?” Sang sopir taksi balik bertanya, namun pandangannya tetap tertuju pada mobil yang dibuntuti.
“Itu mobil suami saya. Dan sepertinya… akan berselingkuh!”
Mendengar kalimat polo situ keluar dari mulut Hana sang sopir taksi lantas sedikit terkejut.
“Wah, sepertinya anda repot sekali ya nona. Oh, mobilnya berhenti,” dengan begitu sang sopir taksi menepikan mobilnya dalam jarak yang diinginkan Hana.
“Terima kasih pak. Maaf merepotkan,” tak ingin membuang-buang waktu lagi Hana segera menyerahkan ongkos taksi dan melesat menuju café.
Sebelum memasuki café, Hana harus siap dengan segala penyamarannya. Ia mengenakan sebuah jaket berhoodie berwarna merah mudah juga sebuah topi berwarna krim yang akan menyembunyikan wajahnya. Untuk mengurangi eye catching Yoshiki kepadanya, ia sengaja mengenakan sebuah rok pendek yang jarang digunakannya.
Kling.
Hana membuka pintu café.
Café Bethoveen. Tidak ada bedanya dari café-café pada umunya. Hanya saja ketika kau membuka pintu kau akan disambut oleh alunan indah music klasik.
Seketika mata Saphire-nya menemukan sosok Yoshiki yang entah kenapa begitu mencolok keleganannya diantara seluruh pengunjung café. Prianya itu duduk di tepi jendela dan nampak sibuk dengan ponselnya.
Dengan kepala tertunduk berusaha menyembunyikan wajahnya, Hana berjalan melewati meja Yoshiki dan mengambil tempat duduk kosong tepat di belakang Yoshiki.
Kini keduanya duduk saling berpunggungan. Hana tak ingin duduk di sisi sebrang untuk mengurangi resiko ketahuan ketika Yoshiki menoleh ke belakang.
Alunan music klasik masih mendengu-dengu memenuhi seluruh café. Dalam diamnya Hana tersenyum. Bukan sebuah senyuman tulus, namun senyuman yang menunjukkan betapa menyedihkannya keadaannya saat ini.
“Ah! Kuroto-kun! Maafkan aku keretanya tadi terlambat 10 menit dari jadwal!”
Kepala Hana sedikit tersentak begitu mendengar sebuah suara perempuang yang tak asing mengucapkan nama suaminya. Refleks kepala berhoodienya menoleh ke sumber suara. Namun Hana tak berani banyak menoleh, ia hanya sedikit melirik-lirik tipis.
‘Oh!’
Seorang perempuan berambut pendek sebahu dengan senyumannya meminta maaf mulai duduk di hadapan Yoshiki.
‘Tunggu! Aku pernah bertemu dengannya! Dimana? Dimana aku pernah bertemu dengannya?’
Sekarang Hana mulai sibuk menggali-gali dasar pikirannya. Mencari titik awal ia bertemu dengan si perempuan.
‘ITU DIA!’
Hana mengingatnya.
‘Dia perempuan yang di perpustakaan kapan hari!’ “Rosamunde,” terdengar suara Rin Otome dari belakang.
“Telingamu memang cukup bagus,” respon Yoshiki.
“Romantis sekali loh habisnya. Rosamunde yang sengaja dibesarkan oleh gembala janda dalam penyamarannya untuk kudeta. Gubernur yang menyadarinya berusaha menikahinya untuk meracuninya namun hal itu digagalkan oleh suaminya Pangeran Krret Alfonso.”
“Hn….”
“Aku ingin pria seperti Pangeran Krret Alfonso jadi suamiku sepertinya, haha.”
“Krret sebenarnya cukup kejam dalam mengkahikimi Gubernur jika kau membaca di beberapa sumber.”
“Begitukah? Hmm… susah juga ya.”
‘EH? APA? APA YANG MEREKA BICARAKAN!?’
Kedua bola mata Hana bergetar kebingungan mendengar pembicaraan dua orang di belakangnya. Sementara eorang pelayan telah menunggunya membacakan makanan apa yang akan dipesannya. Genggamannya pada buku menu pun seolah mengerat seiring kebingungannya yang terus naik.
“Nona? Anda kenapa?” Pelayan yang bertugas mencatat pesanan Hana menangkap gelagat aneh Hana.
“Oh, uhm, t-tidak. Aku ingin sandwich telur dan es kopi saja,” ucap Hana dengan nada yang ia serak-serakan untuk penyamaran.
“Baik. Mohon ditunggu,” sang pelayan mengambil daftar menu kemudian menghilang dari hadapan Hana.
Hana kembali menajamkan telinganya setelah menghela nafas lega. Nampaknya meja di belakangnya juga baru selesai memesan makanan.
“Aku selalu ke sini setiap beberapa minggu. Bagaimana café ini menurut Kuroto-kun?”
“Hn, tidak buruk juga.”
“Eh, kenapa responnya begitu?”
“Sebenarnya, aku juga sudah beberapa kali ke sini.”
“Sungguh? Jadi ini bukan pertama kali Kuroto-kun?”
“Bukan.”
“Yaaah, tidak asik. Maaf ya Kuroto-kun, aku tidak tau.”
“Hn. Tidak apa.”
“Omong-omong, Kuroto-kun akan melanjutkan kemana setelah lulus? Kalau dipikir-pikir aku selalu ingin menanyakan ini.”
“Kuliah.”
“Keren. Tentu saja. Kuroto-kun pintar dan berfinansial cukup. Mau ke universitas mana memangnya?”
“Universitas Tokyo.”
“Iya ya. Itu universitas bagus. Kalau bisa, akupun ingin masuk ke sana.”
“Hn? Kau tidak melanjutkan kuliah?”
“Tidak. Orang tuaku melarang. Aku harus mencari uangku sendiri jika mau kuliah. Orang tuaku punya perkebunan. Mereka ingin aku meneruskan lahan mereka.”
“Hn…”
“Padahal aku ingin sekali sekolah musik. Terutama piano.”
“Kau bermain piano?”
“Yap. Oh aku ingin sekali berduet dengan Kuroto-kun. Aku dengan piano dan Kuroto-kun dengan biola. Memainkan Rosamunde bersama mungkin? Rekaman permainan biola yang Kuroto-kun kirimkan kapan hari keren sekali loh!”
Hana terdiam menyesap es kopinya. Namun pikirannya tak bisa diam.
Setahu Hana, Yoshiki bukanlah orang yang mau repot karena orang asing. Jika Yoshiki sampai mau memainkan biola di tengah kesibukannya selama ini, artinya hubungan keduanya bukanlah orang asing lagi.
Terlebih, ini pertama kalinya bagi Hana mengetahui jika suaminya sangat jago memainkan biola.
Ah, dadanya sedikit terasa sesak sekarang.
“Kuroto-kun keren sekali. Tidak heran banyak anak perempuan di kelasku menyukai Kuroto-kun.”
“Hn…”
“Yah sejak kepindahan Kuroto-kun anak-anak sudah sangat heboh. Semua orang membicarakan Kuroto-kun. Namun aku yang cuma siswi biasa tidak berani aneh-aneh. Aku hanya…. Melihat Kuroto-kun dari jauh.”
Tidak terdengar respon dari Yoshiki.
Sementara Hana? Pegangannya pada gelas berisi es kopinya mengerat. Seolah mampu memutihkan buku-buku jarinya.
“Tidak kusangka Kuroto-kun yang itu juga suka music klasik sepertiku. Aku bahagia sekali. Padahal menemukan teman sehobi di era ini saja sudah susah, sekali dapat malah yang seperti Kuroto-kun. Aku merasa beruntung sekali!”
“Hn, benar juga. Kenapa kita tidak bertemu sejak awal tahun?”
‘!!!!!!’ Hana tersentak oleh kalimat Yoshiki.