CHAPTER 32: MJ CROWN Orc
“Eh? Yoshiki-kun mengajakku?” Hana menunjuk dirinya sendiri dengan tampang dungu.
“Hn,” Yoshiki menangguk mantap sebagai jawaban.
“Mustahil, mustahil,” Hana menggoyang-goyangkan tangannya, “aku bukan orang yang bisa menikmati music indah seperti itu. Nonton anime dengan instrumentasi saja aku tetap tak bisa menikmati back sound-nya.”
“Hanya duduk menemaniku saja. Kau tidak perlu mendengarkan musiknya,” entah kenapa nada bicara Yoshiki terdengar seperti memohon pada Hana.
“Ah—uh… a-aku ingin. Tapi aku tidak bisa. Rasa tidak nyaman pasti akan muncul,” Yoshiki tau Hana sedang membicarakan rasa trauma atau ketidaksukaannya pada instrument, “lagi pula ada aku atau tidak ada aku pun tidak ada bedanya. Aku kan tidak tau tentang music indah sama sekali haha.”
“Hn…”
Yoshiki tidak bisa memaksa Hana lebih lagi. Keabsolutan yang menjadi ciri khasnya seolah tidak bisa ia terapkan kepada Hana. Ia tidak mau menyiksa istri kecilnya itu hanya untuk kesenangannya yang sepele. Tunggu, ini sepele?
Membawa Hana bersamanya di sebuah konser dengan tiket Golden yang mana biasanya penghuni kursi-kursi tersebut adalah pecinta music instrument sepertinya. Setidaknya, Yoshiki ingin membawa istrinya ikut serta untuk dikenalkan kepada mereka.
Yoshiki dengan pikirannya yang runyam berjalan memasuki Convention Hall. Sementara pandangan matanya tertuju pada beberapa layar LCD yang sudah dipasang di luar dan beberapa pagar-pagar pembatas.
MJ Crown Orc adalah orkesta beraliran campuran yang mana terkadang mereka bisa memainkan lagu-lagu pop yang sudah diaransemen dengan apik. Ditambah dengan konduktor, pemain drum, dan beberapa pemain instrument lainnya memiliki wajah yang elok membuat orang yang tidak tau menau mengenai orkesta menjadi tertarik karena wajah mereka.
Tidak heran jika sampai dijual tiket untuk area luar yang walaupun hanya menggunakan LCD tiket tersebut bisa cepat laku terjual karena harganya pun sangat terjangkau, beda dengan kursi di dalam hall yang harganya cukup tinggi.
Yoshiki duduk setelah mendapatkan nomor kursinya. Segera pandangannya terisi oleh megahnya panggung yang telah disiapkan penuh dengan berbagai instrument-instrumen hingga ia terus mengedarkan pandangannya dan berhenti pada kursi kosong di sampingnya.
“……"
Tidak ada yang tau bagaimana arti dari pandangan Yoshiki yang tengah menatap kursi kosong di sampingnya.
‘My Lady….’
“Anda selalu menyisahkan satu kursi kosong di samping anda ya?” Sebuah suara berat terdengar membuat Yoshiki bangun dari lamunannya.
“Hn…” di samping kursi kosong itu duduk seorang yang telah mencapai umur setidaknya setengah abad, “Tanaka-san.”
Pria tua itu tersenyum.
“Dan pandanganmu seslalu terlihat sedih,” pria itu menambahkan.
Tanaka adalah senior yang entah mengapa selalu membeli kursi yang sama dengan Yoshiki. Sudah lima tahun Yoshiki sebagai manusia mengikuti komunitas pecinta orkesta, membuarnya bertemu banyak senior sehobi dengannya, salah satunya adalah Tanaka.
“Apakah kursi yang selalu kau sediakan kosong itu spesial? Teman-teman di forum terkadang membicarakan tentang kursi kosong itu.”
“Hn… spesial…” jawab Yoshiki sembari menghela nafas.
.
Akhirnya setelah 2 jam pertunjukan, orkesta MJ Crown Orc pun berakhir. Mendengar music-musik Schubert ditampilkan begitu indah membuat perasaan runyam dalam diri Yoshiki sedikit demi sedikit terhanyut.
Setelah berpisah dengan penghuni forum Yoshiki memutuskan untuk segera kembali. Dalam langkahnya menuju area parking suara seseorang memanggil namanya.
“Kuroto-kun? Kuroto-kun benar?”
Begitu Yoshiki membalik badannya, tak diduga Rin Otome berlari menyongsongnya.
“Rin Otome.”
“Ah benar! Wah Kuroto-kun rapi sekali! Apa Kuroto-kun menonton MJ Crown Orc langsung di dalam hall tadi?”
“Hn….”
“Wow, keren sekali. Pasti MJ Crown Orc keren sekali kalau dilihat secara langsung ya? Aku hanya mampu membeli tiket luar sih haha.”
“…” Kepala Yoshiki kembali menjadi kacau.
Andai saja jika Otome adalah Hana.
“Umm? Kuroto-kun tidak apa-apa? Kuroto-kun terlihat pucat.”
‘!!!’ Yoshiki kembali dari pikirannya begitu melihat wajah Otome yang mendekat pada wajahnya.
‘Umm? Yoshiki-kun tidak apa-apa? Yoshiki-kun terlihat pucat loh.’ Bayangan wajah Otome terbayang wajah Hana seolah-olah menghantuinya.
“Ck!”
“Eh?” Rin Otome semakin kebingungan begitu Yoshiki mendecakkan lidahnya.
“Hn, aku tidak apa-apa,” namun sedetik kemudian Yoshiki berhasil mengambil alih kembali dirinya.
“Jika Kuroto-kun tidak enak badan sebaiknya Kuroto-kun segera pulang.”
“Aku memang berencana segera pulang.”
“Syukurlah. Kalau begitu hati-hati di jalan,” Otome melambaikan tangannya.
“Hn….” Yoshiki hanya berguman dan melanjutkan langkah kakinya.
Namun beberapa langkah berikutnya Yoshiki menghentikan langkahnya. Membuat Otome yang masih berdiri di tempatnya kebingungan.
Yoshiki membalik badannya dan berucap, “Bagaimana denganmu? Kau tidak pulang?”
“Eh? Ah ya aku akan pulang dengan taksi.”
Yoshiki terdiam sejenak sebelum melontarkan pertanyaannya, “kenapa tidak ikut denganku saja? Akan kuantar kau pulang.”
Otome menunjukkan ekspresi keterkejutan.
.
“Uwaaa, di sana ramai sekali,” gerutu Hana begitu melihat lautan manusia keluar dari sebuah gedung, “memangnya kita bisa lewat kalau begitu?”
“Kamu benar, apa kita harus memutar ya? Toko bukunya kan beberapa blok lagi dari gedung itu,” setuju Maki.
“Memangnya ada apa sih? Sampai seramai itu?” Tanya Yui.
“KAN ADA MJ CRONW ORC! JELAS SAJA RAMAI!” Jawab Shiro penuh semangat seperti biasa.
“MJ Crown Orc?” Yui menaikkan alisnya tidak mengerti.
.
“Hn? Ada apa? Kau tidak mau?” Tanya Yoshiki dengan nada datarnya.
“Ah t-tidak. B-bukan begitu,” mendadak Otome menjadi agak canggung, “memangnya Kuroto-kun tidak apa dengan mengantarku?”
“Aku yang menawarkannya padamu, mana mungkin hal itu menjadi masalah bagiku?”
Rin Otome menatap Yoshiki dengan tatapan ragu untuk beberapa saat, “b-baiklah. Terima kasih atas tawarannya.”
.
“ITULOH! GRUP ORKESTA YANG ISINYA KAKAK-KAKAK GANTENG DAN CANTIK YANG TERAMPIL BERMAIN INSTRUMEN!!”
“Waw, aku terkejut kamu tau yang begituan Shiro,” celetuk Maki.
“…..”
Hana terdiam di tempatnya memandangi LED Iklan yang terpasang di sekitar gedung menampilkan promosi orkesta dari MJ Crown Orc. Lantunan indah yang terdengar dari iklan seperti mengingatkannya pada sesuatu.
Benar. Itu nada yang sama dengan yang ia dengar ketika berada di ruang kerja Yoshiki kapan hari. Ia memang buta nada, tapi setidaknya telinganya akan mengenali bunyi-bunyi yang mirip.
“Hana! Ayo! Kita akan memutar! Ngapain sih kamu ngelamun aja!” Yui menarik tangan Hana.
“Oh! Maaf maaf!” Hana hanya nyengir lima jari.
Dari arah gedung melaju sebuah mobil sedan gelap dengan kecepatan sedang, dengan pasti mobil tersebut melewati Hana dkk.
“!!”
Entah sebuah kebetulan atau apa. Hana bisa dengan jelas melihat dibalik jendela kemudi mobil tersebut.
‘Itu Yoshiki-kun—‘
Begitu Hana melihat nomor plat di belakang mobil tersebut semakin yakinlah jika itu Yoshiki. Namun… jika pandangan Hana tidak salah, ada seseorang lain di samping Yoshiki.
‘Siapa perempuan itu?’
.
“Aku suka sekali orkesta mereka malam ini! Katanya tur mereka berikutnya di Paris! Rasanya aku sangat ingin terbang ke paris hanya untuk melihat mereka lagi secara langsung!” Rin Otome berceloteh riang.
“Langsung? Bukannya kau hanya memnonton di depan layar LCD?” Nada mengejek terdengar jelas dari setiap ucapan Yoshiki.
Gurat merah karena malu muncul pada wajah Otome.
“Y-yah… pokoknya kan aku datang langsung ke lokasi dan mendukung mereka!”
“Hn…” hanya gumanan yang diberikan Yoshiki.
“Imran sangat tampan sekali. Dia memainkan flute dengan sangat indah! Aku bersyukur kamera menyorotnya berkali-kali tadi.”
Yoshiki sedikit melirik ke arah perempuan berambut sebahu itu. Ia bisa menangkap ketulusan dari pandangan perempuan itu.
Dengan satu tangannya masih mengendalikan kemudi, tangannya yang lain meraih sesuatu di dalam saku dalam jasnya. Kemudian disodorkannya sebuah tiket kepada Otome.
“Eh? Apa itu?” Keadaan gelap dan hanya mendapat pencahayaan dari lampu jalanan membuat Otome kesusahan melihat apa yang disodorkan Yoshiki. Begitu ia mendekatkan kepalanya, tubuhnya seolah tersengat listrik, “ya Tuhan itu tiket fan meeting anggota MJ Crown Orc!”
“Ambilah,” ucap Yoshiki datar tanpa memandang ke arah Otome.
“B-buatku!???”
“Hn. Aku tidak berminat pada hal seperti ini.”
Tangan Otome yang bergetar karena bahagaia menerima tiket yang diberika Yoshiki.
“Terima kasih banyak Kuroto-kun. Aku sangat senang sekali,” Otome memandangi tiket yang telah berada di tangannya dengan riang, sebelum akhirnya ia simpan pada tas tangannya.
“Namun, kenapa Kuroto-kun bisa dapat tiket itu jika tidak tertarik?”
“Aku mendapatkannya setelah memesan kursi.”
“Kursi?”
Hening sejenak. Hanya suara deru mobil yang terdengar.
“…. T-tunggu. Seingatku kursi yang menyediakan free fan meet hanya…. G-Golden Ticket…” Sekarang rasanya seperti aliran darah berhenti mengalir di sekujur tubuh Otome.
“Hn. Kursiku Golden Ticket,” jawab Yoshiki santai.
“….wow,” Otome berkedip berkali-kali speechless, “Kuroto-kun sepertinya kaya sekali ya.”
“Hn….”
Tak lama kemudian sedan gelap itu nampak berhenti di depan sebuah rumah yang cukup sederhana.
“Terima kasih sudah mengantarku Kuroto-kun,” Otome Rin nampak membungkuk berterimakasih.
“Hn…”
Yoshiki menyalakan kembali mesin mobilnya.
“Kuroto-kun! Biarkan aku mentraktirmu sesuatu!”
Hampir saja Yoshiki menginjak pedal gas, namun akibat ucapan tiba-tiba Otome ia mengurungkan niatnya dan alisnya malah setengah terangkat sekarang, “hn? Untuk apa?”
“Telah mengantarku pulang, tiket fan meeting tadi, dan… aku juga belum mengembalikan CD milik Kuroto-kun.”
“Kau bisa memberikannya ketika di se—“ Yoshiki menghentika kalimatnya begitu menyadari jika masa SMA telah berakhir.
“Kita tidak bisa bertemu di sekolah lagi,” Otome sedikit menuduk namun beberapa detik kemudian ia segera menatap Yoshiki dengan tatapan yakin dan wajahnya memerah, “karena itu Kuroto-kun aku akan mentraktirmu atas semua kebaikanmu!”
“….” Yoshiki menatap Otome untuk beberapa saat, menyelidiki isi kepala perempuan itu.
“Hn… baiklah, terserah saja.”
“Benarkah Kuroto-kun mau? Bagus! Aku akan mengemailkan tempatnya nanti!” Otome berucap riang.
KLEK.
Dari arah rumah muncul ibu Otome Rin yang hendak menjemput kedatangan putrinya, “Rin-chan sudah datang, ara… diantar pacar Rin-chan? Kenapa tidak disuruh masuk dulu?”
“IBU!? BUKAN PACAR RIN BU!” Wajah Rin sukses memerah bagaikan kepiting rebus.
“Selamat malam. Maaf mengantarkan anak ibu selarut ini. Saya tidak bisa mampir karena masih ada beberapa hal yang harus saya kerjakan,” Yoshiki berujar sopan.
“Begitu? Sayang sekali.”
“SUDAH DEH IBU! DUH!” Rin semakin salah tingkah.
“Maaf Kuroto-kun, ibuku selalu berpikir seenaknya. Sekali lagi terima kasih sudah mengantarku, berhati-hatilah,” Rin tersenyum tulus.
“Hn, dewa mata.”
.
Klik
Yoshiki melepas pengait dasi kupu-kupunya.
Wajah polos Otome Rin muncul beberapa kali di benaknya ketika ia menyusuri lorong mansionnya untuk menuju kamarnya.
‘Kenapa dengan diriku?’
Yoshiki menghela nafas berat ketika ia memasuki kamarnya. Pandangan matanya menjelajah seluruh sudut kamar. Namun ia tak bisa menemukan seseorang yang seharusnya ada saat itu.
Tidak ada. Hana tidak ada di kamar. Di mana perempuannya itu?
Dengan cepat ia meraih ponsel yang ada di sakunya, mendial sebuah kontak yang bertuliskan ‘Mine’.
Setelah beberapa kali terdengar nada tunggu, telepon pun tersambung.
‘Ah, halo, selamat malam Yoshiki-kun. Ada apa?’
“Apa maksudmu ada apa? Kau di mana sekarang?” Tanya Yoshiki kesal.
‘Oh maaf aku lupa memberi tau, aku ke toko buku bersama Maki, Yui, dan Shiro.’
“Hn, toko buku di mana? Akan kujemput.”
‘Eh, tidak usah. Aku sudah di dalam mansion kok sekarang. Perjalanan menuju kamar sang tuan raja,’ kelakar Hana.
“….. Baguslah.”
‘Yoshiki-kun!’
Hendak saja Yoshiki mematikan panggilan teleponnya.
“Hn? Ada apa?”
‘…..’
Namun tidak ada jawaban dari Hana. Dalam keheningan itu Yoshiki hanya bisa mendengar derap kaki Hana yang menggema.
Keheningan itu lantas membuat rasa ingin tau Yoshiki mencuat, “ada a—“
‘Ah tidak usah, tunggu aku ya!’ Sayangnya Hana segera menginterupsinya dan mengakhiri panggilan secara sepihak.
.
“Tadaima! Yang mulia raja!” Hana membuka pintu kamar dengan keras beserta mengucapkan salam yang terdengar riang.
Sapphire Hana menangkap sosok Yoshiki yang tengah melepas kemejanya di tepi ranjang. Memperlihatkan tubuh bagian atasnya telanjang, beserta otot otot padatnya.
‘Uwaaa… asupan malam…’ Hana hampir mimisan jika tidak segera menahan dirinya.
‘Tidak tidak, aku harus bertanya kepada Yoshiki-kun siapa perempuan tadi!’’
“Yoshiki-kun baru pulang dari menonton orkesta?” Tanya Hana sambil meletakan platik berisi buku-buku yang telah ia beli di nakas.
“Hn. Bukankah kau sudah tau itu?” Yoshiki malah bertanya balik.
“Ah—uh,” Hana menggaruk pipinya yang tidak gatal. Ia bingung harus memulai dari mana, “oh yang di prefektur sebelah itu ya?”
Yoshiki mengerutkan alisnya, “kau tau?”
“Yaah… aku tadi pergi membeli buku di toko yang berdekatan dengan tempat orkesta itu. Aku melihat papan iklahnnya.”
“Kenapa tidak bilang saat itu? Seharusnya aku bisa mengantarmu pulang juga,” sambil memakai sebuah kaos berwarna abu-abu Yoshiki merespon santai.
“Ah ya itu—aku—“
‘—aku melihat seorang perempuan di mobilmu.’
“Hn?” Yoshiki merasa aneh dengan kalimat Hana yang tergantung.
“Aku bersama Yui, Maki, dan Shiro kan? Jadi kita pulang dengan bis saja.”
Yoshiki nampak sibuk dengan laptop di pangkuannya dan beberapa lembar kertas di tangannya.
“…..” Hana terdiam dengan pandangannya yang tertunduk ke bawah. Kedua jari telunjuknya saling berkaitan erat. Dan—gemetar.
Namun beberapa saat kemudian sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Karena jika diingat-ingat lagi di kejadian lalu, semuanya hanyalah sebuah kesalahpahaman yang konyol. Yoshiki tidak pernah selingkuh.
Benar kan Yoshiki-kun? Kamu tidak mungkin bermain dengan perempuan lain kan?
Hana melemparkan tubuhnya di ranjang sebelum mengganti pakaiannya. Membuat benda itu berderit cukup keras.
“Uwaaaa! Badanku capek banget setelah jalan kaki lama tadi! Yoshiki-kun ayo tidur,” hendak saja Hana meraih tangan Yoshiki untuk menariknya tidur bersama namun pria itu malah berjalan pergi.
“Maaf My Lady, ada beberapa dokumen yang harus kuambil dan kucek di ruang kerja,” dan begitulah Yoshiki pergi meninggalkan kamar.
“….” Hana terdiam di tempatnya.
Beberapa saat kemudian bibirnya bergerak perlahan, “Lalu yang barusan email dari siapa, Yoshiki-kun?”
Jumat, 02 Agustus 2019
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar