Minggu, 31 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 41]

Chap 41

Yui dan Ida-kun. Shiro dan Tomoaki-senpai.
"Loh? Maki mana?" tanya Hana.
"Maki harus kontrol hari ini. Kata kakanya yang overprotective itu" ucap Yui.
"Bukannya sifat overprotective itu tandanya orang itu benar-benar sayang kepada kita?" tanya Hana.
Yoshiki yang mendengar itu cukup tertegun.
"Tapi itu membosankan." Yui masih mempertahankan pendapatnya.
"Wah! Kuroto-san!" Shiro menunjuk pada Yoshiki yang tengah terdiam.
"Kau membawanya?" Yui memiringkan kepalanya.
"Hn. Kau fikir aku barang?" ucap Yoshiki dingin. Hana sweatdrop mendengarnya.
"Ah gomen Yui-chan, mulut Yoshiki-kun memang tajam"
"Baiklah! Ayo kita lari pagi ke arah taman kota! Ada festival es krim loh!" seru Shiro membuyarkan suasana.
"Yahooo! Es krim!" Shiro segera melesat hilang.
"Ah Shiro-chan! Matte!" Tomoaki-senpai nampak berusaha mengejar Shiro. Memang Shiro sangat hyperactive ketimbang Hana.
Yui dan Ida segera menyusul.
Diikuti Hana dan Yoshiki.
"hn? Email?" Yoshiki menatap Hana yg tengah sibuk mengetik email.
"untuk Maki" jawab Hana.

Sesampainya di taman kota Hana hanya bisa sweatdrop melihat Shiro sudah membawa banyak sekali es krim di tangannya. Di belakangnya terlihat Tomoaki-senpai yg tengah kebingungan melihat tingkah Shiro.
"aku juga ah" Hana segera berlari ke arah sebuah stand es krim.
Yoshiki yg ditinggal oleh Hana akhirnya hanya duduk di bangku taman dan membuka buku agendanya yg kecil.
Mata onix Yoshiki menatap Yui dan Ida tengah saling suap es krim. " ... ."
Kali ini onix Yoshiki beralih kepada Hana yg tengah membawa sebuah es krim crep yang sangat besar.
Karena terlalu sibuk mengagumi krepnya yg besar, Hana menabrak seorang pria. Duk.
"ah gomen" Hana menunduk sebentar. Krepnya sedikit tercolek. Jangan-jangan--
Hana mengangkat wajahnya untuk mengetahui kebenaran. Dan--
DEG. Seketika wajah Hana memerah luar biasa. Jantungnya berpacu sangat cepat.
"S-senpai..." ternyata yg Hana tabrak adalah Ryuu-senpai.
"Loh? Hana-kun?"
"Ah! Gomen senpai! A-akan k-ku c-cuci kan!!" Hana berojigi berkali-kali.
"Ah iie... Iie ini noda kecil"
"T-tapi i-ini s-salahku!" Hana bersikeras.
"..." Yoshiki hanya menatap sendu namun tetap datar Hana. Dia lelah. Beban pekerjaan sudah membuatnya lelah. Hari ini ia ingin bermesraan dengan Hana kalau bisa. Namun ia malah melihat wanita yg dicintainya sedang salah tingkah karena bertemu kakak kelas yg 'pernah' disukainya. Ya, setidaknya anggapan Yoshiki masih 'pernah' ia tak tau apakah 'pernah' atau 'masih'.
"Kalau kau memaksa baiklah. Besok menjelang libur berturut-turut kan? Kau bisa datang kapan saja. Tapi hubungi aku dulu ya" akhirnya Ryuu kalah.
"H-hontou!? Tapi aku tidak punya alamat email senpai"
"Ini" Ryuu menyerahkan kartu namanya.
"Senpai punya kartu nama?"
"Ah itu buatan teman. Iseng saja kok. Sudah ya! Yang lain sudah menungguku!"
"senpai sama siapa saja?"
"seluruh kelas. Kami refresing di gazebo sana" Ryuu berlari sambil menunjuk.
Sungguh. Hana bahagia bukan main! Dia dapat alamat email Ryuu-senpai yg pernah disukainya.
Read More ->>

Sabtu, 30 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 40]

Chap 40

"Hn. Kita lanjutkan"

"My Lady?"
"Ehm?" Hana menyauti dari dalam pemandian.
"Pakaian anda sudah saya siapkan. Akan saya bersihkan pakaian anda yg bernoda"
"Ah... Arigato" sahut Hana.
Setelah menggosok dan membilas tubuhnya Hana segera melilitkan handuk dan menuju ruang ganti untuk berganti pakaian.
Hana memasuki kamarnya dan Yoshiki. Jam digital di meja tidurnya menunjukkan pukul 10 malam.
"Aku berendam terlalu lama" ucap Hana sweatdrop.
"Hahhh... Yoshiki belum kembali..." Hana merebahkan tubuhnya di ranjang king size mereka.
Ditatapnya ponselnya.
"Aku merindukannya" batin Hana bosan.

Sinar matahari mulai menerobos tirai-tirai di kamar Hana tertidur.
"unghh" Hana mulai meregangkan badannya.
"Gawaaat! Sudah jam segini" Hana segera mengganti bajunya dengan baju olah raga.
"Semoga mereka masih menungguku!" Hari ini Hana ada janji dengan 3 sahabatnya untuk melakukan olah raga pagi.
"Ohayo My Lady" sapa si sopir.
"Paman tolong! Aku sudah telat! Di tempat kemarin ya!" Hana segera memasuki mobil.

Hampir sampai di tempat tujuan segerombol polisi mendekati mereka.
"Maaf bisa anda keluar?" Hana langsung keluar menuruti kemauan polisi.
"Perlihatkan sidik jari anda"
"Sidik jari anda cocok dengan sidik jari yg terdapat pada senjata pembunuh. Anda kami tangkap."
"Hn" bersamaan dengan terdengarnya suara nan dingin itu, sebuah gelombang berwarna merah yang tak kasat mata terpancar ke seluruh makhluk hidup.
"Ah?" semua polisi saling bertatapan. Bingung.
"Hn. Sedang apa kalian disini?" Yoshiki Kurotake. Dengan setelan jas hitamnya yang 'cukup berantakan' berjalan mendekati para polisi yang tengah bertugas.
"Kami sedang menangkap pelaku pembunuhan kemarin My Lord"
"Hn. Kalau begitu kalian salah tangkap. Dia istriku" Yoshiki menarik tangan Hana.
Dan para polisi itu segera bertugas kembali mencari si 'pembunuh'.
"Yo-Yoshiki-k-kun?"
"Hn."
"Hn apanya!" Hana sweatdrop. "Kenapa kau disini?"
"Hn. Aku merindukanmu"
Wajah Hana memerah. Segera dijauhkannya tubuhnya dari Yoshiki.
"Hn. Doushite?"
"Ah. Tidak. Disini panas sekali ya hahaha" Hana mengibas-ibaskan tangannya berpura-pura kepanasan.
Yoshiki segera masuk porsche yang tadi digunakan Hana, setelah setengah menit akhirnya Yoshiki keluar dengan menggunakan pakaian olah raga.
"k-kau ganti?" tanya Hana.
"Hn. Menggunakan pakaian berjas sangat membosankan"
"Lalu bagaiamana dengan pekerjaanmu!?"
"Hn. Hampir selesai. Hari ini aku memutuskan mengambil break" Yoshiki meregangka badannya.
"Kembalilah" Yoshiki menyuruh sopir itu untuk kembali.
"Yes, My Lord" supir itu segera melajukan mobilnya.
"Hn. Jadi dimana teman-temanmu yg manis itu?" Yoshiki meregangkan tubuhnya.
"Ayo kita berjalan sedikit" Hana berlari meninggalkan Yoshiki.
"Hn" Yoshiki ikut berlari menyamai langkah Hana.
"Waah masih bisa menyamaiku rupanya" Hana berlari semakin kencang. Dan tentu saja Yoshiki bisa menyamai Hana. Mereka terus berlomba sampai mereka sampai di tempat perjanjian dan mereka ditatap sweatdrop oleh empat orang yg berada di tempat itu.
Read More ->>

Jumat, 29 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 39]

Chap 39

"Shiro kedua!" sorak Shiro.

2 menit kemudian...
"Hhh hhh kalian gila" rutuk Yui sambil melap keringatnya.
"Mate yo Yui!!" teriak Maki dari kejahuan.
Hana segera berlari ke arah Maki dan menemaninya berjalan.
"Loh suruh siapa kalian berdua lari? Aku kan cuma ingin berlomba dengan Shiro"
"Tapi Yui ikut lari tiba-tiba"
"hhh dasar"
Dan pada sore hari itu empat sahabat itu bersenang-senang di taman kota.
"Onii-chan! Kenapa kau menjemputku!?" marah Maki kepada kakaknya yang sudah menjemputnya di taman.
"Sudah mulai dingin Maki. Aku mengkhawatirkanmu" ujar sang kakak.
"Nggak mau!" Maki membelakangi kakaknya.
"Kau beruntung punya kakak yang perhatian" Hana mendorong maki ke dekat motor kakak Maki.
Akhirnya mau tidak mau Maki pun menaiki motor itu dan pulang.
Tak lama kemudian Shiro berpapasan dengan Tomoaki-senpai yang tengah membeli beberapa perlatan p3k di apotek terdekat. Dan mereka pulang bersama.
Akhirnya Hana menemani Yui menuju statsiun, ternyata kereta terakhir sudah berangkat. Dan Yui memutuskan meminta jemputan Ida-kun. Pacarnya. Sekaligus teman sekelasku.
"Kalau begitu kami duluan ya. Maaf tidak bisa ikut memboncengmu" ucap Ida menyesal.
"Ara... Daijobu yo Ida-san," jawab Hana.

Sekarang Hana sendiri. Hana berjalan pelan sambil mendengarkan musik dengan earphonenya. Pukul 7 tepat. Malam ini benar-benar dingin sampai Hana kembali mengeratkan jaketnya.
"onee-chan apa yang kau lakukan disini?" ucap seorang preman.
"Ah? A-apa?" Hana takut.
"Malam ini dingin onee-chan mau kubantu menghangatkan tubuh?" preman itu semakin mendekat.
"A-ah..." Hana semakin ketakutan.
Preman itu semakin mendekat dan mendekat siap menerkam Hana.
"ARGHHHHHH!!" Preman itu menjerit kesakitaan saat pisau menusuk lambungnya.
"jangan berani-berani menyentuhku kuso yaro" Hana mencabut pisau itu sehingga darah segera mengalir banyak. Dan segera dibuangnya pisau itu sembarangan.
"Jemput aku. Sekarang" Hana menelepon supirnya. Sepertinya alter ego Hana benar-benar muncul.

"Maaf menunggu My Lady" ucap Sopir itu lalu membukakan pintu mobil untuk Hana.
"Anda berdarah?" tanya sopir itu.
"Hana berusaha menyingkirkan pemerkosa" jawab Hana datar.
"anda hampir diperkosa!?" sopir itu terbelalak kaget.
"tenanglah. Aku tak tersentuh sedikitpun. Aku hanya miliknya. Tidak ada pria yg boleh menyentuhku selain dia"
"Syukurlah kalau begitu"

akhirnya mobil porsche hitam itu memasuki area garasi istana.
Sopir itu membukakan pintu untuk Hana dan Hana keluar.
"My Lord, My Lady hampir diserang pemerkosa"
"NANI!?" Yoshiki yang tengah dalam rapat dewan direksi langsung terlonjak dari kursinya.
"Tenang My Lord. My Lady membunuh pemerkosa. Dan sepertinya alter ego milik My Lady benar-benar mengerikan"
"Dia dimana?" Yoshiki tetap tidak bisa tenang.
"Menuju pemandian untuk membersihkan noda darah ditubuhnya"
"Suruh para maid untuk membantunya. Dan pastikan dia tidak apa-apa!" perintah Yoshiki mutlak.
"Yes, My Lord"
Transmisi diakhiri.

"Doushite My Lord?" tanya salah satu dewan direksi.
Read More ->>

Kamis, 28 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 38]

Chap 38

"Akhh mou~" Maki menjambak rambutnya frustasi.
"Ehm sebentar" Yui menangkat panggilan di teleponnya. "Moshi-moshi Ida-kun?"
"Ah iie... Aku akan jalan-jalan dengan teman-teman tidak usah repot-repot menjemputku"
"ah arigatou"
dan telepon ditutup.
"Enaknya yang ditelepon pacarnya" Maki menggembungkan pipinya.
"NE COTTO SHIRO! APA YANG KAU LAKUKAN DARI TADI!? BERKIRIM EMAIL? HAH?" Maki merebut ponsel Shiro.
"Tomoaki-senpai!? Senpai yang sering menjaga UKS itu ya?"
"Iya. Kakaknya perawat disana soalnya"
"Hoo jadi Kyoko-san itu kakaknya Tomoaki-senpai? Kenapa kalian akrab sekali?"
"Kami pacaran"
"....... APA!? SEJAK KAPAN!?" Maki kembali heboh.
"Loh, sudah hampir 2 bulan" Yui menatap Maki sweatdrop.
"benar juga. Waktu Tomoaki-senpai 'nembak' Shiro kau sedang masuk rumah sakit Maki" jawab Hana tak kalah sweatdrop.
"JADI... CUMA AKU YANG JONES DISINI!?" Maki semakin frustasi.
"Tidak kok Maki-chan. Walaupun Hana-kun dan Kuroto-san pacaran, mereka tidak terlalu romantis" entahlah bisa dibilang ucapan Yui ini seperti ejekan. Namun ini upaya untuk menenangkan Maki.
"BENAR! Buktinya kalian tidak saling berkomunikasi dari tadi!"
"Yoshiki-kun sedang sibuk" ucap Hana.
"Sesibuk apapun kalau pacarnya yang telepon pasti diangkat!" Maki terus memanasi.
'masalahnya sibuk yang kaufikir sangatlah berbeda dengan sibuk yg sebenarnya' Hana sweatdrop.
"Ayo cepat telepon!"
"Telepon~ Telepon~" Shiro ikut-ikutan.
"Yamete yo!" akhirnya Hana mengelurakan ponselnya dan mulai menelepon Yoshiki. 'Aku pasti dimarahi' Hana sudah bersiap-siap untuk tearsdropnya.
"Moshi-moshi?" tak di duga. Telepon itu diangkat oleh Yoshiki.
"Ah m-moshi-m-moshi" Hana sangat gugup.
"Hn. Nani?"
"Ah eto apa aku mengganggumu? Teman-temanku--"
"Tidak aku sedang istirahat sebentar"
"Huft. Gomen Yoshiki-kun kau bisa melanjutk--"
"Tidak. Aku memang merindukanmu"
dan saat itu juga Yui, Maki, dan Shiro mengalami shock berat.
"A-akh..." wajah Hana memerah seketika.
"APAAN SIH!? AKU MALU TAHU!!" Hana meneriaki Yoshiki dengan keras, membuat seluruh penghuni restoran kue yg mereka singgahi terganggu.
"Hn. Tapi aku sungguh-sungguh merindukan--"
"Coto! Kuroto-san jika kau memang merindukan Hana kenapa tidak sedari tadi menelepon? DASAR TSUNDERE!" ucap Shiro ceplas-ceplos.
"Hn. Kau siapa?"
"Eh etto itu tadi Ayaki Shiro dari kelas 1-2. Aku pergi bersamanya, Maki, dan Umei Yui dari kelas 1-1. Gomen tidak memberitahumu"
"Hn. Daijobu. Mau kujemput nanti pulang?"
"A-AAAH! Tidak usah! Kau pasti sibuk sekali"
"Hn. Untukmu apapun kulakukan"
dari Yui sampai Shiro segera muntah-muntah alay.
"Sudahlah. Jaa nee" akhirnya Hana menutup telepon itu sambil menahan malu.
"SUDAH PUAS!?" Giliran Hana memarahi ketiga sahabatnya itu.
"Tak kusangka dia seromatis itu walaupun agak tsundere," Yui tertawa hambar.
"SIAAAAALLL!! AKU HARUS MENDAPATKAN KIZU-SENPAI!!" Maki semakin terbakar semangat.
Yui dan Hana langsung sweatdrop. Sementara Shiro masih asyik dengan cake desertnya.

"Aku sampai duluan, hahaha" tawa Hana sambil bersorak.
Read More ->>

Rabu, 27 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 37]

Chap 37

"Oh ini alamat email saya. My Lady bisa menghubungi saya lagi jika membutuhkan jemputan" ucap sang sopir tersenyum sambil memberikan secarik kertas.
"Arigato" Hana tersenyum.
Mobil porsche hitam itupun berhenti tepat di depan halte bus yg dimaksud. Hana segera turun dan saat itu Maki sudah menunggu Hana duduk di bangku halte bus menatap Hana dengan shock.
"Ha-hana?"
"Ma-maki? Ah aku tadi sekalian ikut paman tetangga yang mau berangkat kerja haha. Terima kasih paman... Haha" Hana melambaikan tangan kepada mobil hitam yang sudah mulai melaju itu.

"My Lord saya baru saja mengantar My Lady pergi berkumpul dengan teman-temannya" sopir itu mulai mengirimkan laporannya lewat transmisi.
Yoshiki menerima transmisi itu dengan alat yg dipasang di telinganya.
'KLIK' Yoshiki menekan tombol kecil pada alat itu dan berkata. "Hn"
"My Lady dijemput oleh seorang gadis bernama Mika. Dipastikan semua teman yg akan berkumpul dengannya semuanya perempuan"
"Hn. Kerja bagus"
KLIK. Yoshiki mematikan alat transmisi itu.
"Mooou Yui dan Shiro lama amat!"
'sudah kuduga mereka' Hana masih tak bergeming dengan komiknya.
"lakukan sesuatu Hana! Jangan baca manga terus!" Maki menggembungkan pipinya. "Telepon mereka atau kirimi mereka email atau ah aku lupa kau berhemat pulsa kan?"
"Ah tidak tidak. Mau kuteleponkan?" Hana mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon Yui.
"Ha? Sejak kapan kau begini?"
"Moshi moshi? Yui?" Hana mengacuhkan Maki.
"Ah Hana ya? Wah kau punya pulsa ya? Haha sabar aku sedang di bis ini"
"Ok kutunggu. Aku akan menelepon Shiro"
Dan telepon ditutup.
"Moshi moshi? Shiro?"
"Loh? Hana? Mimpi apa kau telepon aku? Merindukanku ya?"
"Haa dasar Shiro. Dimana kau sekarang? Aku dan Maki sudah menunggumu!"
"Loh kau juga ikut? Asyiiik! Sabar-sabar aku baru turun dari kereta tau! Tunggu 5 menit ya! Aku akan berlari!"
Dan telepon ditutup.
"Wah tak kusangka kau punya pulsa" ledek Maki, "dan lagi ponselmu baru!" Maki langsung merebut ponsel Hana dan mengamatinya.
"Heey! MAKI!" Hana mencoba kembali merebut ponselnya tapi gagal.
"Wow! Ini model terbaru kan? Keren! Kameranya 8 MP! Dan wallpapernya ini kau dan Kuroto-kun kan? He he he. Wah pulsanya juga sangat banyak. Jangan-jangan... Ponsel ini milik Kuroto-kun ya?"
"Chigau yo!" Hana merebut ponselnya. "Ini milikku."
"Saa berarti kau dibelikan Kuroto-kun beserta pulsanya!"
"mmh" lidah Hana keluh.
"Ha? Benar? Ciyeee..." Maki malah menyoraki Hana.
"Hentikan Maki! Malu tau!"

"Hontou? Hana pacaran dengan Kuroto-san?" Shiro langsung heboh.
"Urusai yo" Hana menahan rona diwajahnya dengan mencuri satu suapan cake desert Shiro.
"EEEEHHH??" Shiro tidak terima cakenya dicuri.
"Wah wah, aku benar-benar terkejut" Yui sendiri hanya menganggap enteng.
"AAAH SIAL! SEKARANG HANYA AKU YANG BERJUANG MENDAPATKAN KIZU-SENPAI!?" Maki menggebrak meja pelan.
"memang sejak awal yg berjuang mendapatkan si banci itu cuman kamu Maki" ucap Yui datar.
"KIZU-SENPAI TIDAK BANCI!"
"Iya, tapi keibuan" sambung Hana.
Read More ->>

Selasa, 26 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 36]

Chap 36

"Hn. Baik rapat.... " dan Yoshiki memulai pidato panjangnya.
Akhirnya setelah bicara selama setengah jam tanpa henti Yoshiki kembali duduk di kursinya dan melonggarkan sedikit dasinya.
"Kami memberikan sesi tanya jawab," Hazel menyiapkan sebuah catatan dan pulpen.
Seorang pria paruh bayah berperut buncit mengacungkan tangannya.
"Silahkan. Earl Govendy,"
Dan sampai akhirnya rapat itu mengambil sesi istirahat setelah kira-kira 2 jam lamanya.
Para psk itu kembali masuk dan mulai "melayani" tuan mereka.
Yoshiki yang melihat itu hanya mendecih pelan. "Tch. Pelacur."
"Wah wah, ini pertama kalinya kau melakukan pertemuan dan membawa perempuan. Kecuali Hazel tentunya"
"Hn. Diamlah Tomuro"
Yoshiki mengecek ponselnya. Dan muncul sebuah email yang sepertinya baru dikirim beberapa menit yang lalu. Yoshiki tersenyum tipis menyadari siapa yg baru saja mengiriminya email.

OPEN
From: Mine
Good Luck with your meeting...
My husband :p
maaf kalau email ini mengganggu .-.

"wah, wah email dari istri tercinta" goda Tomuro.
"Hn." Yoshiki mengantongi lagi hpnya.
"tidak dibalas?"
"Hn. Kau siapkan berkas selanjutnya" perintah Yoshiki.
"sudah kok. Ngomong-ngomong apa kau tidak iri dengan suasana disini? Para tamumu sibuk bercumbu. Kau sendiri?"
"Hn. Kau sungguh kaki tanganku yg terbaik. Iblis terkejam"
"hahaha gomen gomen"
"Hn. Aku adalah miliknya. Lagipula... Tubuh dan bibirnya lebih manis dari seluruh wanita di dunia ini"
"Haa? Hontou? Boleh kucoba?"
tiba-tiba mata azure Yoshiki muncul. "Hn. Aku tidak peduli kau siapa. Kau berani menyentuhnya kau mati" ucap Yoshiki sarkatis.
"Ternyata kau benar-benar mencintainya ya" Tomuro nyengir.
"Hn"

"Sugoii!! Itachi-kun kereeeen!" Hana menatap komik di depannya dengan bersemangat.
Tiba-tiba hp barunya bergetar. Menujukan panggilan masuk dari...
"Maki?" Hana mengangkat telepon tersebu. "Halo?"
"Hanaaa~ main yuk. Ini kan libur"
"um boleh... Dimana?"
"itu dipikirkan nanti. Aku jemput ya!"
"eh eh jangan aku di halte bus dekat toko pizza itu saja!" ucap Hana gelagapan. Tentu saja, ia sudah pindah dan tidak menempati rumah lamanya.
"ok. Kutunggu ya"
Dan telepon ditutup.

Hana segera mengenakan jaket levis hitam miliknya, menganakan sepatu bot berhak coklatnya dan segera berlari dengan tegesa-gesa keluar.
"My Lady?" seorang pria paruh bayah mengenakan setelan jas hitam rapi bertag name Kazuhiko Kagawa menyapa Hana.
"Eh-eh?"
"Anda mau kamana?"
"M-mau pergi dengan temanku"
"Saya akan mengantar anda," pria itu menunduk sopan.
"B-baiklah" Hana canggung.
"Ano.. Di Halte bus dekat toko Pizza La Uno"
"Hm? Tapi kenapa My Lady?"
"Temanku akan menjeputku disana"
"Teman?"
"Iya teman sekelasku. Sepertinya Yui dan Shiro juga akan ikut" guman Hana.
'perempuan juga. Aman' batin sang supir.
"mh kenapa? Kok Kazuhiko-san kepo amat"
"Ah maaf maaf mengganggu privasi anda My Lady. Saya hanya khawatir, karena My Lord akan sibuk sekali selama beberapa hari kedepan..."
"Ah tidak apa. Aku bisa jaga diri kok."
Read More ->>

Senin, 25 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 35]

Chap 35

'GLUP' Hana meneguk habis sperma Yoshiki.
"Hn." tanpa pikir panjang Yoshiki segera mencumbu bibir Hana tanpa henti.
"mhh mhh" kedua mulut mereka saling beradu. Tangan Yoshiki tidaklah diam, setelah perlahan melepas kancing dari kemeja kebesaran Hana, Yoshiki segera menarik bra Hana dan hebatnya bra itu langsung lepas.
Seketika itu wajah Hana memerah tomat. Yoshiki terus memperdalam ciumannya tanpa peduli. Setelah tangannya puas menari-nari di payudara kanan dan kiri Hana tangan Yoshiki bergelirya di daerah selangkangan Hana.
Basah. Yoshiki tersenyum menyadarinya. Dengan sekali sentuh cd Hana sudah menghilang. Semakin panas rasanya wajah Hana.
"Hn. Kau basah," Goda Yoshiki menyudahi lumatannya.
"u-urusai" jawab Hana dengan memalingkan wajahnya.
"Hn. Kau tau? Aku juga ingin menandaimu. Di dalam."
Paham akan maksud Yoshik, wajah Hana semakin memerah.
"Hn. Akan kumasukkan" senyum Yoshiki sambil mempersiapkan milikknya untuk memasuki milik Hana.
Tanpa sadar Hana melebarkan pahanya agar memudahkan proses penetrasi.
Begitu mulut vaginanya merasakan tersentuh penis Yoshiki wajah Hana nampak seperti kepiting rebus.
Satu sentakan saja. Penis Yoshiki berhasil masuk dan menyentuh dinding rahim Hana.
"mhhh" Hana melenguh kenikmatan.
"Hn. Ternyata kau merindukan penisku."
Tanpa lama-lama segera di genjotnya tubuh Hana ke atas dan kebawah. Sungguh nikmat.
Sampai akhirnya...
"M-My L-lady... A-aku..." CROOT Sperma Yoshiki tumpah di dalam rahim Hana.
"nghhh" Hana semakin melenguh. 'Sperma Yoshiki tumpah di dalam rahimku. Kimochi.'
Yoshiki menarik penisnya dari milik Hana, dan saat itu menyembul banyak sekali sperma Yoshiki.
"hh hhh hhhh" Yoshiki sibuk menata nafas dan detak jantungnya. Jujur saja, ini benar-benar nikmat.
"Hn. Dengan begini aku sudah menandaimu keseluruhan" ucap Yoshiki tersenyum menatap hasil kerjanya.
Hana berusaha berdiri dan memeluk Yoshiki.
"Tanpa kau tandaipun, aku sepenuhnya milikmu," dan chu, Hana mengecup bibir Yoshiki ringan dengan wajah memerah.

Setelah kembali memasang setelan jas hitamnya, Yoshiki segera keluar kamar. Namun dicegah oleh Hana.
"Mate Yoshiki-kun."
"Hn?"
"Dasimu," Hana membenarkan letak dasi hitam Yoshiki.
"Hn" jujur Yoshiki sangatlah senang melihat perhatian Hana. "Semangat ya Yoshiki-kun!"
"Hn" lagi-lagi Yoshiki mengecup Hana kali ini dikeningnya.

"Bagaimana My Lord?" Hazel membuka pembicaraan dengan Yoshiki begitu menuju ruang rapat.
"Hn. Cukup percayakan padaku."
Yoshiki membuka ruang rapat mereka yg berada di sebuah hotel mewah bintang 5. Nampaklah para pejabat tinggi yang tengah bercumbu dengan psk mereka.
"Hn" hal yang biasa bagi Yoshiki. Ia segera menuju kursi utama karena dialah pemimpin rapat ini.
"Baik-baik. Saatnya serius. Karena My Lord telah siap," Tomuro segera menyiapkan presentasi dengan LCD proyektor. Semua yg sibuk bercumbu mulai membenahi diri. Dan semua psk itu keluar ruangan. Menunggu di ruang yg ditentukan.
"Silahkan, My Lord." Hazel memberikan beberapa berkas.
Read More ->>

Minggu, 24 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 34]

Chap 34

"Yasudah selingkuh sana!" kau berhasil Yoshiki. Kau membuatnya cemburu.
"Puh, hahahahaha" tak tahan akan melihat wajah cemberut Hana yg dipalingkan membuat Yoshiki tertawa. Ya Yoshiki tertawa. Sebuah keajaiban bukan?
"Kenapa tertawa?" Hana terus menggembungkan pipinya tidak terima.
"Hn. Sayangnya aku tidak bisa melakukan itu. Karena ada 3 alasan yang lebih kuat yang mencegahku melakukannya."
"a-apa?"
"satu, aku tidak tertarik pada wanita lain selainmu" jawab Yoshiki serius.
Wajah Hana mulai memerah mendengarnya.
"Dua, aku milikmu sepenuhnya."
Hana sudah berasap.
"Tiga, aku mencintaimu."
Jantung Hana semakin berdetak kencang.
Hana kelagapan. Dibukanya cepat-cepat jendela mobil. Dan dihirupnya udara banyak-banyak.
Yoshiki yang melihat itu hany tersenyum samar.
"P-Pokoknya kalau kau selingkuh aku tidak akan memaafkanmu!" ucap Hana akhirnya setelah berhasil menata baik nafasnya.
"Oh ya? Apa yg akan kau lakukan?"
"aku akan berselingkuh juga"
"aku tinggal membunuh pria yg berselingkuh denganmu" jawab Yoshiki dingin.
"aku juga akan membunuh wanita yg berselingkuh dengamu" Hana mengulangi ucapan Yoshiki sama dinginnya.

"Selama 3 hari kedepan aku tidak bisa menemuimu. Maaf," Yoshiki sedari tadi sibuk membaca berkas-berkas di tanganya.
"Tidak masalah. Aku akan pergi dengan teman-teman kalau bosan," Hana juga sibuk. Membaca komiknya.
"My Lady..." Yoshiki tiba-tiba menindih tubuh kecil Hana.
"Yo-yoshiki-k-kun?" Hana kebingungan.
Tiba-tiba saja bibir maskulin Yoshiki mengulum leher jenjang tan Han. Mengigitnya sedikit. Hingga muncul bercak kemerahan disana.
Yoshiki segera bangkit dan tersenyum melihat hasil kerjanya. Ia sudah selesai menandai miliknya.
"Ah-apa y-yg k-kau lakukan?" jawab Hana dengan nafas beratnya.
"Hn. Hana menandai milikku."
"Oh..." Hana meraba bercak kemerahan di lehernya.
"Kau curang," ucap Hana tiba-tiba.
"Hn?"
"Aku juga harus melakukan sesuatu pada milikku!" Hana segera bangkit dan menurunkan resleting celana hitam Yoshiki.
Sedikit kaget Yoshiki melihat kelakuan Hana.
Tangan Hana mulai menari melepaskan kaitan sabuk dan kaitan celana Yoshiki. Diturunkannya celana beserta celana dalam Yoshiki.
Dan terlihatlah senjata rahasia Yoshiki.
"Hn." Yoshiki hanya tersenyum simpul melihatnya.
"A-Aku a-akan menandai ini," dengan sedikit ragu-ragu Hana mulai mengocok penik Yoshiki. Memasukannya kemulut lalu mengoralnya bagai permen.
Walau diam namun nafas Yoshiki terdengar berat. Ternyata ia sangat menikmati permainan lidah Hana.
"Umhhh... mmh... Ump..." Hana terus menghisap-hisap penis Yoshiki. Kadang mengocoknya sebentar menggunakan tangannya.
"Hn. Kau suka?" tanya Yoshiki menggoda.
Wajah Hana yang memerah malu tidak menjawab pertanyaan Yoshiki dan kembali melumat penis Yoshiki.
"Aku anggap sebagai 'ya'."
sampai akhirnya Yoshiki mengerang tertahan dan menahan kepala Hana agar tetap mengulum penisnya di dalam mulut Hana agar nantinya--
CROOT
Sperma Yoshiki tumpah di dalam mulut Hana dan berceceran di wajah Hana karena saking banyaknya.
Read More ->>

Sabtu, 23 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 33]

Chap 33

"Tenangkan dirimu nona! Ini TKP! Bukan ajang memojokkan!" polisi paruh baya itu nampak frustasi.
"Kalian boleh pulang!"
Ya, pihak sekolah memutuskan memulangkan semua siswanya akibat insiden ini.

Entah kenapa hari ini Hana yang biasanya hyper lebih banyak diam. Berfikir mungkin.
'Mencurigakan. Luka sangat mencurigakan,' lama Hana berfikir sampai, 'benar juga. Sabuknya.'
Hana segera berlari secepat mungkin. Matanya awas berharap menemukan sosok gadis berambut coklat tua itu.
Ketemu! Dia sedang berada di gudang. Apa yang dilakukannya?
Hana mendekatkan perlahan. Nampaknya Luka tidak sendiri. Dia sedang bersama 2 siswa tahun ketiga yang nampaknya terkenal kenakalannya.
"Luka?" Hana mengangkat suaranya.
"Hei..." Luka menoleh kearah Hana "pelacur datang"
"Kau membunuh Shiro-senpai kan?" Hana melanjutkan analisisnya.
"Hoho. Analisis yang menajubkan! Sudah kuduga... Kau itu cerdas. Kau tahu? Aku jatuh cinta kepada Kuroto. Tapi kau malah pacaran dengannya! Oleh sebab itu aku aku memfitnahmu! Sekalian membunuh si sok pintar itu! Nah, Gakupo-senpai, Tobiro-senpai, i need your help," Luka mengerlingkan matanya. "bunuh jalang itu!!" bersamaan dengan teriakan itu dua senpai branalan itu menyerang Hana dengan pisau lipat. Sebisa mungkin Hana menghindari setiap sayatan.
TAK! tiba-tiba sebuah benda kecil melesat secepat kilat mengenai jidat seorang yang berambut keunguan.
"Ittai!" teriaknya.
"siapa disana!?" siswa yang berambut harajuku coklat berteriak.
"Tugas seorang suami adalah memastikan apakah istrinya berselingkuh atau tidak..." TAK! Dan pria berambut harajuku it ambruk setelah menerima tembakan peluru karet dari senapat berburu milik orang itu.
"Yo-yo-yoshiki!?" manik saphire Hana membulat sempurna begitu melihat sosok itu adalah suaminya.
"Ku-kuroto!?" Luka juga tak kalah kaget.
"Have a nice dream, bitch-chan" TAK! Peluru karet itu sukses membuat gadis bermata emerald itu pingsan.
"Bukannya kau ada pekerjaan!?" tanya Hana.
"Hn. Sudah selesai. Aku mencoba latihan tembak setelahnya. Tapi pikiranku tidak bisa fokus pada target tembakan dan malah memikirkanmu jadi, aku kemari."
"Hoo... Sambil membawa pistol mainan ini?" Hana memasang wajah konyolnya dan meraih pistol Yoshiki.

"Aku mungkin selama beberapa hari kedepan akan sibuk" ucap Yoshiki sambil tetap fokus pada kemudinya.
"Jadi kau akan meninggalkanku sendiri?"
"Hn. aku sudah menyediakan berbagai macam komik, anime, dan game favoritmu"
"baiklah!" jawab Hana berbinar.
"Hn." Yoshiki menghela nafas, "ternyata kau lebih mencintai benda-benda itu dari pada aku."
"Apa ada Tokyo Ghoul?" tanya Hana semangat.
"Hn"
"Mekaku City Actors?"
"Hn"
"Yey! Kalau Pandora Hearts?"
"Hn"
"J--"
"semua ada" potong Yoshiki kesal.
"Jangan selingkuh."
apa? Hana mengatakan jangan selingkuh barusan?
"Hn. Berikan aku 3 alasan suapaya aku tidak selingkuh." goda Yoshiki.
Hana terdiam. Ia tahu Yoshiki tengah menggodanya sekarang. Sungguh menyebalkan.
"Satu, mereka cantik-cantik. Dua, mereka menggoda. Tiga, mereka sex-- "
Read More ->>

Jumat, 22 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 32]

Chap 32

"Lihat... Kau hanya menginginkanku bukan?" tanya Yoshiki dingin. Tangannya masih terus mempermainkan puting payudara Hana yang sudah mengeras.
"A-aku me-menyerah... Uuh..." ucap Hana tak bisa menahan desahannya. "A-April... F-Fool" ucap Hana akhirnya.
Yoshiki terdiam sejenak.
"Apa maksudnya?" tanyanya.
"April Fool!!" jelas Hana.
"Kau... Mengerjaiku?" tanya Yoshiki lagi.
'Chu' Hana mengecup ringan bibir Yoshiki.
Wajah Yoshiki sedikit tercengang dan memerah samar.
"Bo-bodoh... Ma-mana mungkin aku mencintai Ayato. Aku kan...." Hana terdiam sejenak. Wajahnya dialihkannya menjahui tatapan mata Yoshiki. Dikerucutkanya bibirnya dan melanjutkan, "Me-mecintaimu."
Jadi sebenarnya, Hana suka menggoda Yoshiki yang sangan possesif. Tapi di dalam hatinya ia sangat mencintapi pria bersurai kelam itu.
Dan sekarang. Rencananya berhasil dan sukses. Ah, tapi nampaknya Hana berhutang sebuah es krim pada Ayato.

Keesokan harinya Yoshiki tidak bisa mengikuti pelajaran karena ada rapat dengan petinggi PBB.
"Kuroto Yoshiki..." Kato-sensei mengabsen para siswa.
"Etto, Yoshiki-san ada keperluan mengenai data kepindahannya," jelas Hana bohong.
"Oh. Luka Yuuki?"
"Hadir"
Sekolah berjalan seperti biasa. Saphire Hana melirik jam tangannya. Masih jam 8. Sekolah akan berakhir pukul 6. Cukup membosankan.

Pada pukul 5 sore saat pelajaran sejarah, wanita berambut gelap itu izin ke toilet untuk sekedar membuang air kecil.
Dengan tenang di cucinya tangannya di wastafel. Sampai suara "KYAAAA" khas lengkingan wanita memekakkan telingannya. Segera Hana berlari menuju asal suara yang merupakan tepat di dekat toilet.
Dengan wajah horor Hana menatap mayat gadis yang merupakan kakak kelasnya.
Drap Drap Drap
beberapa siswa dan guru lainnya mulai berdatangan menghampiri mayat itu dan segera melapor ke polisi.
'dia tewas karena kehabisan darah karena sayatan di lehernya sangat dalam,' pikir Hana.
"Kau penemu mayat?" seorang polisi paruh baya menanyai Hana.
"E-eh... I-iya," jawab Hana gugup.
"bisa kau ceritakan dimana dan sedang apa kau sebelum menemukan mayat?"
"anda menuduh saya? Saya sedang mencuci tangan saya sehabis buang air kecil!" ketus Hana.
"Ho, kau mencuci tanganmu setelah membunuh senpai karena tanganmu berlumuran darah? Hei pelacur?" Luka muncul dengan wajah meremehkannnya.
"Apa maksudmu? Kalau begitu pak polisi. Coba cek tangan saya, apakah ada luminol atau tidak!?"
"kau tau tes luminol?" tanya polisi itu kaget.
"loh. Saya kan detektif," Hana menatap polisi itu datar. Walaupun jantungnya tak bisa berhenti memompa dengan kuat. Ini pertama kalinya, bicara sombong di depan polisi. Mengakui bahwa dirinya detektif.
"Haa?" Luka nampak semakin menejek Hana.
"Baiklah kita tes luminol."

5 menit berlalu setelah tes luminol dilakukan. Hasilnya tentu negativ. Hana memang tidak membunuh siapapun.
"Bohong! Hana pintar Kimia! Dia pasti melakukan sesuatu sampai tes itu negativ!" Luka terus berusaha memojokkan Hana .
Read More ->>

Kamis, 21 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 31]

Chap 31

'Tidak! Dia hanya milikku! Tidak akan kubiarkan orang lain menyentuhnya! Apalagi memilikinya! Hana hanya milikku!' batin Yoshiki emosi.
Tauhkah kau Hana Kuroto? Hati pria di depanmu sudah benar-benar kau hancurkan berkeping-keping.
"Apa maksudnya ini?" tanya Yoshiki tidak sabaran sambil menyengkarm kerah baju seragam milik Ayato.
"Bukannya sudah ku katakan tadi," Ayato menutup matanya.
"Hana pacarku sekarang. Dia harus putus darimu. Karena dia milikku sekarang," Ayato membuka matanya dan menatap sinis pada Yoshiki. Oh Ayato, andai kau tahu siapa yang kau hadapi sekarang.
" ... ." Yoshiki melepaskan cengkaramannya. Lalu mundur dan tertawa hambar.
"Kalau begitu, aku tinggal membunuhmu untuk menjadikannya milikku lagi kan?" ucap Yoshiki dengan senyum psikonya.
"Yamete kudasai!" ucap Hana menengahi.
"Gomen Yoshiki-kun." Hana segera menarik Ayato pergi dari tempat itu.

Sudah lebih dari 4 jam Yoshiki mengurung diri di ruang kerjanya. Jam sudah menunjuk pukul 7 malam.
Hidupnya kembali berantakan. Tidak ada yang spesial. Hanya itu-itu saja. Membosankan.
Berjuta pertanyaan masih menggelayuti pikirannya. Ya, itu semua karena Hana Kuroto. Wanita yang menyandang nama keluarganya.
Yoshiki tak habis pikir akan apa yang ada di pikiran Hana. Kenapa? Kenapa semuda itu? Dia pikir ini cuma permainan?
Yoshiki telah berpesan, hari ini dia akan sepenuhnya di ruang kerjanya. Ia tak ingin keluar. Ia juga berpesan kepada penjaga gerbang, siapapun yang keluar masuk mansion harus dilaporkan padanya melalui interphone.
"zzzzt...zzt... My Lord? My Lady data...zzzt...ng" sebuah speaker yang berada di dekat Yoshiki berbunyi gemersik.
Deg! Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apa yang Hana lakukan disini? Menghancurkannya lebih lagi?
"Tunggu. Aku ke sana."

"Untuk apa kau kemari?" tanya Yoshiki dingin dari sisi dalam mansion--gerbang masih belum dibuka.
"S-saa... Aku sudah diusir dari sini?" tanya Hana menunduk.
" ... ." Yoshiki tidak menjawab.
"A-aku cuma ingin mengambil beberapa barangku," ucap Hana.
Mata Onix Yoshiki menatap dibelakang Hana terdapat sebuah motor berwarna hijau dan dikendarai oleh si sialan itu!
" ... ." lama Yoshiki tidak menjawab, akhirnya "Baiklah"

Saat ini Hana tengah sibuk memasukan semua barangnya ke dalam kopor minimalis yang ia pinjam dari Ayato.
Ekor mata Yoshiki hanya bisa menatap semua gerak-gerik Hana.
Tiba-tiba tangan Hana ditarik oleh Yoshiki, menjatuhkannya ke ranjang, membuat posisi Hana dibawah Yoshiki.
"Apa maksudmu? Putus? Lalu untuk apa pernikahan itu!? Kau menertawakanku hah?" tanya Yoshiki meledak-ledak.
"e-etto..." Hana menjawab kikuk.
"Jadi begitukah perasaanmu padaku?" tanya Yoshiki sinis.
"..." Hana tak menjawab.
Tiba-tiba tangan Yoshiki menyusup ke dalam kaos putih Hana.
Tangannya menyentuh salah satu puncak payudara Hana.
"Akhh!" Hana tersentak kaget.
"Yo-yoshiki-k-kun..." Hana menggeliat menahan sensasi itu.
Bibir Yoshiki melengkung membentuk sebuah seringai.
Read More ->>

Rabu, 20 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 30]

Chap 30

"Ne, Hana-chan ini untukmu," Tomuro berlalu melewati Hana sambil memberikan sebuah tape recorder kecil.
Penasaran, Hana segera menekan tombok Play.
"Dia masih menyukai Ryuu,.... Disini sakit...." bunyi rekaman tersebut.
"Saa... Aku tak menyangka Yoshiki yang dingin mengatakan itu. Aku jadi ingin tertawa, khahahaha!!" tawa Tomuro lalu melompat dari beranda lantai 3 manor Yoshiki itu.
Hana menatap Yoshiki bingung.
Yoshiki terdiam. Lalu dengan cepat dilumatnya bibir Hana dan dikuncinya Hana diantara dirinya dan tembok.
"Uhmp" Hana semakin bingung.
"Hhh hhh" Yoshiki melepaskan panggutan bibir mereka. Sedikit jejak saliva terlihat.
"Kau hanya milikku. Kau hanya boleh menatapku. Kau hanya boleh mengaggumiku," racau Yoshiki.
Hana terperangah mendengar ucapan Yoshiki.
"Did you understand? My Lady?" Onix kelam Yoshiki menatap dalam Saphire Hana.
"Wa-wakatta" jawab Hana sambil menyembunyikan rona wajahnya.


'1 April,' Pikir Hana. Senyum di bibirnya muncul tanpa ia sadari.
"Hn. Ada apa?" tanya Yoshiki dingin.
"Ah-ah Iie... Nandemonai," jawab Hana gugup.
"Hn" Yoshiki masih penasara. Ia sama sekali tidak puas dengan jawaban konyol Hana. Seandainya Yoshiki bisa membaca dan menebak apa yang ada di dalam pikirannya seperti ia membaca pikiran orang lain, tapi nyatanya Yoshiki tidak bisa.
"Ck!" decak Yoshiki.
"A-YA-TO!" seru Hana tiba-tiba sambil melambaikan tangannya.
"Aku duluan ya Yoshiki-kun," ucap Hana sambil berlari menuju siswa berambut hitam ke hijauan itu.
"Ne, Ayato-kun bantu aku ya!" mohon Hana.
"Pokoknya Ice Cream cone vanillanya ada, aku siap kok" jawab siswa bermata emas itu.
"Oke!" ucap Hana sumringah.

"Dari mana saja kau?" tanya Yoshiki saat melihat Hana baru duduk tenang di bangku sebelahnya.
"Dari kelas Ayato-kun. Kau tidak melihatnya tadi?" tanya Hana balik.
"Ada perlu apa?" Tanya Yoshiki lagi.
"Um... Tidak ada hal khusus sih," jawab Hana polos.
"Ck!" Yoshiki mendecak lagi.
"Nee... Hari ini kita belajar Logaritma! Buka halaman 77!" ucap Nishi-sensei.

Bel pulang sudah berbunyi sejak 20 menit yang lalu. Yoshiki dengan gusar membuka pintu mobilnya. Ia tidak sabar menunggu Hana lebih lama lagi.
Belum lama kakinya melangkah, terlihat Hana berlari menyongsongnya.
"Hn. Kau lama," ucap Yoshiki.
"Yoshiki-kun...." ucap Hana lirih.
"Hn?" sahut Yoshiki.
"Dia ingin putus darimu. Karena dia sudah menjadi pacarku sekarang." susul sebuah suara.
Onix Yoshiki melebar. Apa? Telinganya salah dengar mungkin.
"Apa maksudnya?" tanya Yoshiki datar. Baik, walaupun Yoshiki sedang dalam mode jaga image, tapi deru nafasnya terdengar oleh Hana. Yoshiki telah tersulut emosi tapi ditahannya.
"M-maaf" Hana bisa menunduk dan berguman pelan.
"Jelaskan di dalam," Yoshiki menarik lengan Hana untuk membawanya ke dalam mobil.
PLAK! "lepaskan dia" tiba-tiba tangan Yoshiki ditepis oleh seseorang yaitu Ayato.
"Jangan sentuh milikku" ujar Ayato dingin. "Dia milikku sekarang."
Read More ->>

Selasa, 19 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 29]

Chap 29

"Kau memilih Ryuu," ucap Yoshiki kecut lalu berlalu.
Butuh waktu sedikit bagi Hana untuk mencerna ucapan Yoshiki. Sampai akhirnya matanya terbelalak menyadari sesuatu.
'Jangan-jangan Yoshiki membaca smsku dan Maki! INI SALAH PAHAM!' teriak Hana dalam hari lalu segera menuruni ranjang dan berlari sekencang mungkin mencari sosok Yoshiki.

Yoshiki terdiam menatap bulan seperempat saat ini. Rambut emonya hampir sepenuhnya menutupi matanya. Sehingga sulit mengetahui ekspresinya saat itu.
"Yo~ My Lord~" ucap seseorang berambut merah dengan belepotan darah di mulutnya.
"Tomuro," ucap Yoshiki.
"Ada apa? Tidak biasanya kau seperti ini?" tanya Tomuro sambil mengelap darah di sekitar mulutnya.
"Hana," jawab Yoshiki singkat.
"Oh istrimu. Kudengar kau langsung melakukannya kemarin?"
"Hn. Bukan soal itu,"
"Lalu?"
"Hn. Ternyata dia masih menyukai Ryuu." Yoshiki terdiam sebentar. Tak lama kemudian tangannya meremas dada bangian kanannya. "Disini, sakit."
Sebuah senyum mengembang muncul pada wajah pria bermata azure itu.
"Hn" Yoshiki menyadari perubahan eskpresi sahabatnya itu.
"Hoo~ My Lord kita benar-benar sudah jatuh cinta!!" ejek Tomuro.
"Hn"
'Darah.... Ah benar! Kenapa tidak kubunuh saja si sial Ryuu itu! Memotong tubuhnya kecil-kecil dan memberikan jantungnya sebagai hadiah untuk My Lady,' pikir Yoshiki dalam hati dengan wajah psikopatnya.
Tanpa pikir panjang, Yoshiki segera beranjak dari tempatnya. Namun segera saja Tomuro mencegahnya.
"Hn"
"Jangan membunuhnya," ucap Tomuro seolah ia tahu apa yang dipikirkan Yoshiki.
"Hn"
"Kau bisa membuat Hana sedih"
" ... ." Yoshiki tidak menjawab.
"...ki-kun... Yoshiki-kun..." terdengar sayup-sayup suara wanita memanggil Yoshiki berkali-kali bersamaan dengan suara derap kaki berlari."YOSHIKI-KUN!!" munculah Hana dengan hanya memakai kemeja putih kebesaran sehingga memperlihatkan sedikit celana dalam putihnya.
"hosh...hosh..." sejenak Hana mengatur nafasnya.
"Hn"
"Gomen!! Hountoni Gomennasai!! Apa ini karena smsku dengan Maki?" tebak Hana.
"Hn"
Wajah khawatir dan ketakutan di wajah Hana sejenak berubah menjadi bosan.
"Sudah kuduga."
"Hn" Yoshiki sedikit bingung tentang tingkah Hana.
"Pinjam Ponselmu. Ini benar-benar salah paham,"
Yoshiki memberikan ponsel canggihnya dan segeralah dimasukan SIM-CARD miliknya.
Segeralah dibuka list percakapan. Dan tampilannya benar-benar berbeda dengan ponsel jadul Hana.
"Baca!" ucap Hana dengan wajah memerah menunjukan percakapannya dengan Maki.

Maki : Hoi...Hoi... Ryuu-senpai atau Kuroto-san?
Me : Ryuu-senpai itu kakak kelas yang aku kagumi.
Sementara Yoshiki-kun adalah pria yang aku cintai. Suamiku. Tapi aku tidak bisa menghilangkan kebiasaan lamaku, yaitu heboh saat bertemu Ryuu-senpai.
Itu. Itu lah kebenarannya. Pada ponsel Hana kau harus menekan tombol 'Baca' untuk membaca selengkapnya.
Hana mencintainya. Itu hanya salah paham.
Sunyi. Tidak ada yang berbicara sampai akhirnya Tomuro memecah keheningan itu.
Read More ->>

Senin, 18 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 28]

Chap 28


"Masih jam 10 siang. Kau mau kemana lagi?" tanya Yoshiki sambil tetap fokus pada kegiatan menyetirnya.
"...." tidak terdengar jawaban dari Hana.
Cukup lama, sampai akhirnya Yoshiki menolehkan kepalanya sebentar dan mendapati Hana tengah mengetik sesuatu--yang ternyata sms--di hpnya sambil tersenyum aneh.
"Hn" Yoshiki kembali fokus kepada jalanan. Entah apa yang ada dipikirannya. Tapi raut wajahnya nampak tidak tenang.

Sudah seharian penuh mereka 'berkeliling' kota. Jam menunjukan pukul 6 sore saat mobil Yoshiki memasuki garasi 'manor'nya.
"Aku lelah~ hah~" ucap Hana setelah turun dari mobil mewah itu.
"Demo... Arigato ne... Yoshiki-kun" Hana bergelayut manja pada tangan Yoshiki.
"Steak dadu yang kumakan tadi e--"
"Kuroto-sama!?" ucapan Hana tiba-tiba dipotong oleh seorang wanita yang berlari menghampiri mereka.
"Hn. Hazel?" respon Yoshiki.
"My Lord. Direksi dari ASEAN sudah menunggu anda" ucap wanita cantik berambut coklat ikal itu.
"Hn. Tidak--"
"Daijobu Yoshiki-kun" potong Hana merasa tidak enak mengganggu pekerjaan Yoshiki.
'Ck!' decak Hazel pelan.
"Hn. Kalau begitu aku berganti pakaian dulu," Yoshiki segera pergi meninggalkan Hana yang juga sudah menghilang entah kemana.
Pukul 11 malam. Yoshiki membuka daun pintu kamarnya--dan kamarnya Hana. Mata onixnya masih berkutat pada jepretan kertas ditangannya. Dilonggarkannya dasi yang mengelilingi lehernya. Sedikit helaan nafas lelah terdengar.
Suasana gelap dikamar tidak membuatnya buta terhadap sosok Hana yang tengah tertidur pulas diranjang.
Sekelebatan ingatan kecil mengenai malam kemarin membuat Yoshiki sedikit salah tingkah.
Dilemparkannya berkas ditangannya di laci dekat ranjang mereka. Namun dihentikannya aksi tersebut melihat handphone Hana menyala.
Ada SMS masuk.
Kembali bayangan Hana saat di mobil menghantui Yoshiki. Ya, sebenarnya apa yang ada di hpnya?
Dengan tenang di ambilnya hp Hana. Sementara pemiliknya masih bermain di alam mimpinya.

Form: Maki
Aku jadi kasihan dengan Kuro-kun

merasa namanya disebut, Yoshiki segera membuka list percakapan Hana dan Maki.

Maki : Hana-kun? Tidak bekerja?
Me: Tidak. Sedang "Bulan Madu"
Maki : Kuroto-san?
Me : yup
Maki : Eh. Hari ini katanya kelasnya Kizu-senpai akan makan malam disini!
Me : hounto kah!!? Akh! Tidak bisa bertemu Ryuu-senpai!
Maki : Hoi... Hoi... Kuroto-san atau Ryuu-senpai?
Me: Ryuu-senpai ....

BRAKK!! Dan bersamaan dengan suara berdebam keras itu Hp Hana--satu-satunya--hancur berkeping-keping.
Saphire Hana mendadak terbuka lebar saat daun telinganya mendengar suara keras tidak wajar di dekatnya.
Melihat sosok Yoshiki, Hana menjadi sedikit tenang.
Perlahan, Hana bangkit dari posisi tidurnya.
"Yoshi--"
"Apa maksudmu?" potong Yoshiki.
"Hah? A--" Saphire Hana terbelalak menatap ponselnya hancur di lantai. "Ponselku!" teriak Hana.
Senyum kecut Yoshiki nampak diantara kegelapan kamar.
"Sou ka," Yoshiki mengacak rambutnya dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya ia tenggerkan pada
Read More ->>

Minggu, 17 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 27]

Chap 27

"Anggur" Tatsuki ikut-ikut.
Hana menyadari bahwa salah seorang 'anak'nya belum menyebutkan rasa es krim yang dinginkannya.
"Yomiyama-kun? Tidak mau?" tanya Hana berjongkok untuk menyamakan tingginya denga bocah lelaki berumur 4 tahun itu.
"Va-vanilla" ucap Masaru akhirnya.
"hee... Akhirnya Masaru-chan mau membuka hatinya selain kepada bola" ejek Tatsuki yang tengah menjilati es krimnya.
"Ini," Hana memberikan pesanan Masaru.
"A-arigato... Panggil aku Masaru saja" jawab Masaru sambil menunduk malu.
"Wakatta... Ma-sa-ru-kun" ucap Hana sambil tersenyum.
"Hehe" Tatsuki dan Ringo tertawa.
"Tatsuki-chaaan~" tiba-tiba sebuah suara membuat bocah berambut cokelat itu berlari dan menghambur seorang wanita paruh baya.
"Kau bawa es krim?" ucap sang ibu bingung.
"nii-chan yang belikan" jawab Tatsuki sambil menunjuk Hana.
Sementara Hana hanya sweatdrop dan melambai kepada ibu Tatsuki.
"waah, kau menjaga mereka ya. Terimakasih" sebuah suara wanita paruh baya lain muncul.
Ternyata itu ibu Masaru.
"Uhm... Iya..."
"terima kasih ya" ucap ibu Masaru dengan tersenyum.
"Arigato ne... Hana-niichan" senyum Masaru.
"Hmm dia seperti... Yoshiki kecil..." pikir Hana.
"Oh ya! Yoshiki!" Hana langsung berbalik arah mengingat ia telah "mengacangi" suaminya.
Saat itu juga terlihat Yoshiki sedang membaca sebuah buku. Tapi... Di sampingnya ada wanita tak dikenalnya.
Cemburu? Bisa jadi Hana cemburu. Lihat saja, Hana langsung berjalan mendekati mereka dan duduk diantara mereka.
"Hei! Apa maksudmu duduk di sini?" teriak sang wanita tidak terima.
"..." Yoshiki tersenyum samar lalu kembali fokus pada bukunya.
"Aku duduk" jawab Hana tidak jelas.
"Kau bisa duduk di lain tempat!" sergah sang wanita.
Refleks Hana bergeser ke arah Yoshiki yang tengah fokus. "Aku ingin duduk di sini!" jawab Hana ketus.
Melihat Hana semakin mendekati Yoshiki, si wanita berpikir bahwa Hana juga tertarik dengan Yoshiki.
"Dasar wanita jalang! Pergi kau! Menggaggu kedekatan kami saja!!" teriak sang wanita.
"He?" Hana cengo.
"Yoshiki-kun? Apa maksudnya kedekatan?" tanya Hana pada Yoshiki.
"Hn" jawab Yoshiki tidak jelas.
"Jangan hanya 'Hn' BAKA! KONOYARO! Yang jelas!" Hana menarik-narik tangan Yoshiki.
"Eh? Kalian saling kenal?" tanya sang wanita bingung.
GREP
tiba-tiba Yoshiki memeluk Hana dari samping. Wajah Hana refleks memerah.
"She's my wife... Dia istriku" ucap Yoshiki lalu mengecup ringan jidat lebar Hana.

"Baka! Dasar bebek! Main cium saja!" ucap Hana dengan menggembungkan pipinya sambil mengencangkan sabuk pengamanannya.
"Hn. Selanjutnya mau kemana?"
"Ke hatimu bagaimana?" goda Hana.
"Hn" Yoshiki merogoh sakunya sebentar. Lalu mengeluarkan kotak merah dari sakunya. Dibukanya kotak itu hingga nampak cincin emas polos yang berkilau.
Yoshiki mengambil cincin itu lalu menarahkannya kepada jari manis sebelah kanan Hana.Di dalam mata saphire Hana yang senada dengan langit terpantul cicin itu bertengger manis di jari manisnya.
"Ki-kirei..." ucap Hana terpesona.
"Hn" Yoshiki segera menjalankan mobilnya.
Read More ->>

Sabtu, 16 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 26]

Chap 26

DUK. Sebuah bola menggelinding dan berhenti saat terpantul kaki jenjang Hana.
"nee-chaaan.... Bisa bawa bolanya kemari?" teriak seorang anak perempuan berumur kira-kira 5 tahun.
"nee-chan? Bukannya nii-san?" tanya anak laki-laki yang disebelahnya.
DUK...DUK...DUK... Tanpa sadar kaki jenjang Hana menjugling bola yang baru saja menggelinding kearahnya.
"Heee! Sugoii nii-chan!" seru anak laki-laki yang lain dengan tatapan berkilauan.
"Sudah kubilang itu nii-san!" ucap anak laki-laki yang sebelumnya.
"Itu nee-chan tomboy!" seru si anak perempuan.
"HUP!" Hana menendang pelan bola itu kearah pemiliknya yang kira-kira 3 anak kecil itu.
"Sugoii! Ajari aku nii-chan!" seru anak laki-laki yang berambut coklat muda.
"Iie" Hana mengacak rambut cepak anak itu. "Watashi wa onna desu!" ucap Hana sambil mengedipkan mata sebelah kanannya.
"Eh? Heeee?" teriak kedua anak laki-laki itu tidak percaya.
"Hmm! Sudah kuduga! Intuisi wanitaku tidak pernah salah!" ucap anak perempuan dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Intuisi apanya!? Kau kan masih kecil!" sahut anak laki-laki berambut hitam.
"Hee... Dari pada itu, kenalkan nama err... Nee-chan Hana Ra--Kuroto. Hehe"
"Kuroto-niichan?" ulang anak perempuan.
"nee-chan!!" ralat Hana.
"Wa-watashi Ringo Abarai desu!" si anak perempuan memperkenalkan diri.
"Ore Tatsuki Kimiyo" ucap anak laki-laki yang berambut cokelat muda.
"Masaru Yomiyama desu!" ucap anak laki-laki yang berambut hitam.
"Saa... Abarai-chan, Kimiyo-kun, Yomiyama-kun mana orang tua kalian?"
"Kaa-chan dan Tou-chan lari pagi seperti biasa!" jawab Ringo polos.
"Orang tua kami rutin lari pagi di sekitar sini. Dan kebetulan kami bertiga mengalami hal yang sama. Sehingga sering bertemu dan bermain bersama disini" jelas Masaru seperti orang dewasa.
"Hee... Ngomong-ngomong berapa umur kalian?"
"5 tahun!" jawab Ringo.
"5 tahun!" jawab Tatsuki.
"4 tahun" jawab Masaru datar.
"...." suasana sunyi.
"Houto kah? Kupikir kau lebih tua dari pada yang lain" ucap Hana.
"Es klim!" tiba-tiba Ringo merajuk sambil menarik-narik baju Hana.
"Ringo! Tidak boleh! Tunggu Kaa-chan dan Tou-chan!" Tatsuki berusaha mencegah Ringo.
"Tapi hiks... Hiks... Kaa-chan dan Tou-chan lama" mata emerald Ringo mulai basah.
".... Aku belikan..." ucap Masaru sambil merogoh saku kecil dari celana pendeknya.
Sementara itu, Yoshiki yang tengah membaca di salah satu bangku taman mulai terusik dengan kedatangan seorang wanita.
"Domo...." sapa wanita itu.
"...." Yoshiki tak menjawab.
"D-Domo...." wanita itu mengulangnya dan dengan suara yang sedikit keras.
Yoshiki memalingkan wajahnya dan menatap dingin sebentar pada wanita itu lalu kembali sibuk dengan bukunya.
"Eh? Apa aku mengganggumu? Kau membaca apa?" tanya wanita itu.
Kembali kepada Hana yang sedang terpesona oleh tindakan bocah berambut hitam yang nampak dewasa. Seperti... Yoshiki.
"Wakatta! Yomiyama-kun simpan kembali uangmu. Nee-chan traktir" ucap Hana sambil mengerlikan sebelah matanya.
"Jii-san! Es krim rasa--"
"Ringo!!" potong Ringo.
Read More ->>

Jumat, 15 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 25]

Chap 25

Ingatan kemarin saat ia dan Yoshiki tengah dikalahkan oleh nafsu kembali berputar dikepalanya.
Tangannya meraba bagian perut kebawahnya.
'Yoshiki... Keluar didalam... Suamiku...' guman Hana dalam hati.
"Dasar..." Hana menenggelamkan kepalanya.

CKLEK. Hana keluar dari kamar mandi hanya mengenakan selembar handuk yang dilitkannya sampai dadanya.
Kepalanya menoleh kekanan dan kekiri mencari sosok Misaki.
"Ohayo gosaimash My Lady" ucap Misaki sambil berojigi.
"A-ano... Mi-Misaki-s-san... B-bajuku b-bagaimana?"
"Ha'i sudah saya siapkan" ucap Misaki dengan senyumnya lalu menunjukan pakaian yang sudah disiapkannya tertata rapi diatas ranjang.
"K-kalau begitu a-aku p-pakai sendiri saja"
"Eh? Tidak saya bantu?"
"mm... Tidak perlu... Kau bisa meninggalkanku. Oh ya, dimana... Yoshiki-k-ku-sama?" tanya Hana sedikit bingung menyebutkan sufix apa.
"My Lord ada di taman belakang" jelas Misaki.
setelah Misaki pamit undur diri dan keluar, Hana segera memakai pakaian yang telah disiapkan Misaki untuknya.

Yoshiki yang tengah mengutak-atik handphone touchscreennya hilang fokus saat Misaki melintas disampingnya.
"Misaki?" panggil Yoshiki.
"Yes, My Lord?" Misaki langsung berhenti dan berojigi.
"Sudah selesai?" tanya Yoshiki.
"My Lady ingin memakainya sendiri" jelas Misaki.
"Hn. Baiklah"
"Permisi" Misaki berojigi lalu kembali menjalankan tugasnya sebagai maid.
Yoshiki kembali mengutak-atik ponsel canggihnya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar menunjukan panggilan masuk. Mengenali nomor yang memanggilnya, Yoshiki segera menekan tombol dial dilayar ponselnya.
"My Lord?" terdengar suara alto seorang wanita.
"Hn?"
"....Bagaimana pagi anda?"
"Hazel. Bisa kah kau berhenti menanyakan hal-hal konyol seperti itu?"
"...."
Yoshiki ikut terdiam.
"....Jadwal anda hari ini, rapat dewan direksi pada pukul 10 pagi ini, lalu dilanjut--"
"Batalkan semuanya" potong Yoshiki.
"A--ap--"
"Hn. Aku sibuk sekarang" potong Yoshiki lagi.
"Sibuk?"
Yoshiki menutup telepon itu dengan sangat-sangat dingin.

"Jeng jeng!" Hana tiba-tiba berada di depan Yoshiki.
"Hn" Dengan kemeja berwarna biru muda keunguan tak berlengan, beserta celana pendek 7 cm diatas lutut Hana menampakkan dirinya.
"O-ha-yo Yo-shi-ki-kun" sapa Hana dengan senyum mataharinya.
"Taman kota dihari minggu nampaknya akan ramai" ucap Yoshiki sambil menarik tangan Hana.
"Heee?" Hana ketarik.

Setelah memarkir mobil Honda Jazz hitamnya, mereka berdua keluar dan segera memasuki area taman kota.
"Heeee!! Sudah lama aku tidak kemari! Biasanya hari minggu seperti ini aku sudah bekerja dan-- ... AAAH! GAWAT KERJA! AKU SAMPAI LUPA!" racau Hana sambil berbalik arah berusaha berlari entah kemana.
Dengan sigap, Yoshiki menarik Hana yang 'lost control'.
"Yoshiki-kun lepaskan aku! Aku harus bekerja! Jika tidak Wataru-san akan membunuhku!"
"Kau istriku. untuk apa kau bekerja? Kota Wataru tidak akan membunuhmu"
"Kau kenal Wataru-san?" tanya Hana kaget.
"Dia salah satu 'pion'ku untuk menjagamu disini sebelum aku bangkit" jelas Yoshiki.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 24]

Chap 24

Yoshiki mencabut miliknya. Sehingga beberapa spermanya menyembul keluar dari milik Hana.
Yoshiki ambruk disamping Hana. Peluh masih terus menetes dari balik pori-pori tubuhnya. 'Pertama kalinya. Ya untuk pertama kalinya aku sampai kewalahan dalam menghadapi wanita' pikir Yoshiki.
Hana bangkit perlahan sambil melilitkan selimut ditubuhnya. Namun dengan segera pergelangan tangannya ditangkap Yoshiki.
"mau kemana?" selidik Yoshiki.
Hana malah tersenyum misterius. "Hanya sebentar kok" jawab Hana misterius.
Dan entah kenapa Yoshiki melepaskan tangan Hana begitu saja.
Hana melangkah mendekati tasnya lalu mengobrak-abrik isinya.
Tak lama, Hana kembali menghampiri Yoshiki yang sudah terduduk di tepi ranjang.
"O-Otanjobi O-omedetto" Hana menyerahkan sebuah buku sketsanya dengan sedikit gemetar.
"Hn?" Yoshiki menerima buku sketsa itu.
Dibukanya halaman pertama.
Nampak Yoshiki sedang berjalan di halaman sekolah.
Halaman kedua, Yoshiki tengan menyetir mobil.
Halaman ketiga, Yoshiki tengah serius mengerjakan soal.
Halaman keempat, Yoshiki tengah mencium seorang gadis, yang ternyata itu Hana.
Lengkungan di bibir Yoshiki muncul.
"Arigato..." ucap Yoshiki lalu merengkuh tubuh Hana seolah tubuh itu rapuh.

Suara cicitan para burung mengahmbur di setiap bagian istana kediaman Kurotake. Sudah pukul 8 lewat rupanya.
Disebuah kamar, nampak cahaya matahari sudah mulai meenrobos beberapa tirai.
"Nghh..." seorang gadis--ah bukan--wanita berambut pendek tengah mengucek-ucek matanya.
Saphire itu terbuka juga pada akhirnya. Dilihatnya tubuhnya tengah telanjang bulat.
Psssh... Wajahnya seketika kembali memerah. Entah utuk keberapa kalinya dalam sehari ini.
Cklek. Terdengar suara sebuah pintu terbuka. Refleks Hana menoleh mencari asal suara. Ternyata, 'suaminya' baru saja keluar dari kamar mandi pribadi mereka. Hanya dengan lilitan handuk dibagian pinggulnya.
"Kyaaaaa!!" refleks Hana berteriak dan segeram membelakangi Yoshiki sambil menutupi tubuh beserta wajahnya dengan selimut.
"Hn" Yoshiki tersenyum samar melihat tingkah Hana.
GREP...
Tiba-tiba Hana merasakan ada sesorang yang memeluknya dari belakang.
"Ohayou... My wife..." goda Yoshiki sambil berbisik seksi di telinga Hana.
Deg...Deg...Deg... Hei seseorang! Tolong tahan jantung Hana agar tidak melompat dari tempatnya!
"Hn" jari Yoshiki perlahan mencoba membuka selimut yang menutupi tubuh Hana.
"Gyaaaa!!" Hana segera berlari dengan tetap menarik selimutnya menjauhi Yoshiki.
"Hn. Masih malu?" goda Yoshiki. Pria bermata onix itu bangkit dan mulai membuka handuk yang memnutupi pinggulnya. Melihat itu Hana langsung menuju kamar mandi dan menguncinya rapat.
Setelah memakai kaos putih dengan kemeja hitam yang tidak dikancingkan dengan celana jeans hitam, Yoshiki mengetuk pintu kamar mandi yang ditempati Hana.
"Akan kupanggilkan Misaki untuk membantumu"
Hana yang tengah berendam hanya menenggelamkan wajahnya.
Read More ->>

Rabu, 13 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 23]

Chap 23

'Ukh sial! Aku bisa keluar sekarang!' dengan segera menarik kepala Hana. Dan dilumatnya kembali bibir Hana.
Yoshiki membalik posisi mereka sehingga Hana berada dibawahnya sekarang.
Hana melepas panggutan bibir mereka.
"Kenapa? Apa kau takut kuKALAHkan?" ucap Hana sambil menekan kata kalah.
"Hn. Apa kau begitu menyukai mengulum milikku?" tanya Yoshiki balik sambil menggoda Hana.
Blush. Wajah Hana memerah.
"My Lady?" tiba-tiba Yoshiki berubah serius.
"ya?"
"Aku akan memasukkannya..."
Hana mengangguk pelan sambil memejamkan matanya.
Yoshiki melepas seluruh kemejanya dan celananya.
Diarahkannya miliknya kearah milik Hana.
"Aku mulai..."
"Pe-pelan.. Pelan..." peringat Hana.
Yoshiki kembali membuat Hana 'terangsang' dengan memberikan kissmark dan pijatan pada payudara Hana.
"Umhh~" setelah yakin Hana telah melupakan rasa takutnya.
Secara perlahan Yoshiki memasukan miliknya kedalam Hana.
'Shht... Rapat sekali' keluh Yoshiki.
"mhhh" Hana merintih tertahan dalam lumatan bibir Yoshiki.
'Satu hentakan!' Yoshiki langsung menghentakan miliknya walau tidak terlalu keras. Sukses merobek selaput darah Hana. Darah mengalir sedikit dari milik Hana.
Air mata perlahan mengalir dari kedua pelupuk mata Hana.
Yoshiki melepas panggutan bibir mereka dan menyeka air mata Hana.
"Ittai... Yoshiki-kun..." rintih Hana.
Yoshiki tersenyum.
"My Lady..." Yoshiki mengecup bibir Hana perlahan. "Kau milikku sekrang"
"BAKA! Aku sudah jadi milikmu sedari dulu!" ucap Hana tsundere. Jujur Hana senang Yoshiki mengatakannya. Mungkin, bisa jadi bukti kalau Yoshiki benar-benar mencintainya.
Seketika itu badan Yoshiki menengang. Nampaknya Yoshiki baru saja menerima kekuatan baru dari tubuh Hana.
'Hhh.... Aku berhasil mengendalikan kekuatan baru ini. Tak kusangka sehebat ini' ucap Yoshiki dalam hati.
"Yoshiki-kun? Daijobu kah?" tanya Hana khawatir.
"Hn. Milikmu sangat nikmat" goda Yoshiki.
"Aku gerakan...?" tanya Yoshiki.
Hana mengangguk perlahan.
Dengan begitu Yoshiki menggerakan pinggulnya perlahan.
"Mhhh" nampaknya Hana sangat menikmati setiap dorongan Yoshiki. Terlihat sekarang Hana tengah merengkuh leher Yoshiki dan mendesah sejadinya.
Sudah hampir 15 menit Yoshiki menggerakan pinggulnya.
Peluh mulai menemani tiap desahan yang terdengar.
Tempo gerakan Yoshiki semakin meningkat.
"Khhh... M-My Lad-dy... A-aku-"
"Diluar!" Hana memotong perkataan Yoshiki panik.
Sedetik Yoshiki tertegun melihat wajah panik Hana.
Setelah itu mimiknya berubah menjadi menenangkan Hana.
"Kau tidak akan hamil walaupun kukeluarkan di dalam" bisik Yoshiki sambil terus menggerakan pinggulnya ketas kebawah.
"B-bagaimana bisa?" tanya Hana tak percaya.
"Karena aku... Raja iblis..." ucap Yoshiki dengan kilatan mata merah azurenya.
Akhirnya Hana mengangguk. Menandakan Yoshiki diperbolehkan keluar didalam.
"My Lady... Akhhh!!" bersamaan dengan itu, milik Yoshiki berkedut dan menyemburkan sperma kedalam rahim Hana.
"Nghhh..." Hana juga klimaks. Tubuhnya bergetar hebat.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 22]

Chap 22

"Aku bertaruh kau sudah basah sekarang."
"Urusai! Dasar kakek-kakek menopouse!" ucap Hana.
"Hn? Kau sudah sadar?" ucap Yoshiki sedikit kaget.
"Tentu saja!!"
"Padahal aku suka sifat nakalmu saat kau mabuk tadi" goda Yoshiki.
"Dasar kakek-kakek menopouse HENTAI!" ledek Hana dengan sifat 'tsunderenya'.
"Hn. Menopouse? Akan kubuat kau menyesal mengatakan itu," seringai Yoshiki muncul.
Tangan kirinya yang semula diam mulai menari menggelitik milik Hana.
"Nghh" tak bisa ditahan. Desahan murni itu keluar begitu saja dari mulut Hana.
"Kau mendesah karena jari seorang kakek menopouse?" ledek Yoshiki dengan seringainya.
"mhh" Hana berusaha menahan desahannya.
"Kau menahannya?" tangan Yoshiki menemukan sebuah tonjolan yang merupakan clitoris Hana. Dicubitnya perlahan tonjolan itu dan sedikit memainkannya.
Tubuh Hana menggelinjang seketika. Rona di wajah Hana semakin bertambah.
Seringa Yoshiki semakin nampak.
Dilumatnya bibir Hana yang tengah menahan lenguhan itu dengan halus.
Sementara tangan kirinya masih sibuk mengaduk-aduk vagina milik Hana.
"uhm!" Hana melepas lumatan bibir Yoshiki.
"Yo-yoshiki-kun.. A... Aku..." rintih Hana.
Mengetahui Hana akan segera klimaks, Yoshiki semakin menambah kelincahannya mempermainkan milik Hana itu.
"A--Ahhh~" dan sebuah cairan mengalir sedikit demi sedikit membahasi tangan Yoshiki.
Yoshiki menunjukan seringainya dan jarinya yang basah karena cairan Hana.
"kau... Keluar" ledek Yoshiki sambil menjilati tangannya yang basah.
"Urusai!" Hana tak mau kalah. Ia mendorong tubuh Yoshiki sehingga membuat dirinya berada diatas tubuh Yoshiki.
Tangannya masih malu-malu meraba milik Yoshiki dibawah sana yang sudah mengeras.
Diturunkannya resleting celana Yoshiki besera dilepasnya pengait celana Yoshiki.
Sesuatu yang merupakan penis Yoshiki itu segera menyembul keluar.
Rona diwajah Hana semakin bertambah mengingat ini pertama kalinya. Ya, ini pertama kalinya Hana melihat 'kejantanan' milik lelaki secara langsung.
"Hn?"
"Aku akan mengalahkanmu kakek menopouse!" ucap Hana sambil menahan rona di pipinya.
"Coba saja" ledek Yoshiki.
Sudah beribu wanita di dunia ini telah Yoshiki coba. Dan tidak ada yang bisa membuatnya klimaks hanya dengan permainan lidah.
Perlahan tangan Hana mengocok milik Yoshiki. Sedikit kaku. Yoshiki merasakan itu. Tentu saja, ini merupakan pertama kali bagi Hana.
Perlahan, Hana memasukan milik Yoshiki kedalam mulutnya.
Dihisapnya perlahan milik Yoshiki. Dimainkannyah lidahnya pada ujung milik Yoshiki.
Deg. Jantung Yoshiki seperti dipompa dengan tekanan penuh. 'Sial! Kenapa rasamya berbeda sekali! Aku jadi mudah terangsang!' rutuk Yoshiki. 'Apa karena dia yang melakukannya?'
Yoshiki membelai rambut pendek Hana.
"Kau... Apa benar ini pertama kalinya? Kau terlihat seperti sudah master..."
Hana tak menggubris ucapan Yoshiki.
Dilepaskannya milik Yoshiki dari mulutnya.
Dikocoknya sekali lagi dengan sedikit cepat dengan lidahnya menari pada ujung milik Yoshiki.
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 21]

Chap 21

"Tapi aku tidak peduli. Aku mencintaimu... Aku ingin selalu bersamamu..." racau Hana tanpa henti.
Yoshiki tersenyum tipis mengetahui perasaan Hana yang sesungguhnya. Sedikit bersyukur akan keadaan mabuk Hana, dengan begini Yoshiki bisa leluasa mengentahui semua hal yang dipendam Hana. Tentu saja dalam keadaan mabuk alias tidak sadar.
"Hn"
"Makanya baka! Jangan dekat-dekat wanita lain!" teriak Hana tiba-tiba.
"Kau sudah mengatakan kan tadi kalau kau hanya milikku!" tiba-tiba Hana mencium bibir Yoshiki.
Dalam keadaan gaun pakaian yang semakin berantakan dan tidak nyaman.
Yoshiki segera menyudahi ciuman yang semakin "memanas" itu.
"Misaki" Yoshiki memanggil pelayannya.
"Yes My Lord?" pelayan itu ternyata telah sampai di depan pintu kamarnya dan mengetuk.
"Lepaska gaunnya" perintah Yoshiki.
"Yes, My Lord" pelayan itu melepaskan satu persatu bagian dari gaun Hana. Sedikit kewalahan memang, mengingat tingkah Hana seperti itu. Ditambah, dia mabuk sekrang.
Yoshiki juga melepaskan 'seragam'nya itu. Sehingga tinggal kemeja hitamnya. Dibukanya 2 kancing teratas kemejanya karena gerah.
"Done. My Lord" Misaki langsung meninggalkan tempatnya.
"Hn" kini pandangan Yoshiki teralihkan kearah Hana yang hanya tertutup selembar selimut tebal.
Belahan dada 'pettan'nya sedikit terlihat.
'Gluk' Yoshiki menelan ludah melihat pemandangan intens didepannya.
"Shit!" rutuk Yoshiki dalam hati. Tangannya mengepal menahan gejolak hormon di tubuhnya. Miliknya yang dibawah saja rasanya sudah mengeras.
"Tidak. Aku tidak akan melakukannya sebelum dia menginginkannya" ucap Yoshiki pada dirinya sendiri.
"Yoshiki-chan~" tiba-tiba Hana menggerang di tempatnya dengan menarik-narik selimutnya seperti orang err-- terangsang-- mungkin.
"Hn. Astaga, dia tidak pernah merasakan alkohol kah? Lama sekali mabuknya" rutuk Yoshiki.
"Ooh!" mata Saphire Hana menangkap sesuatu yang menyembul di celana 'suaminya'.
Dengan cekatan Hana menarik tangan Yoshiki dan membuat Yoshiki berada di atasnya sekarang.
"Hn? Apa?" tanya Yoshiki berusaha menahan dirinya.
"Umm.. Yoshiki-chan jahat~" Hana merajuk dan menggembungkan pipinya. "Apa karena dadaku kecil kau tak mau menyentuhku?" ucap Hana sambil meremas kedua dadanya.
Oke. Yoshiki sudah kalah oleh akal sehatnya sekarang.
"My Lady" Yoshiki mulai mengecup perlahan bibir ranum Hana. Dalam pengaruh alkohol, tentu saja akal sehat Hana juga menghilang dan segera membalas ciuman Yoshiki.
Kecupan demi kecupan kedua bibir itu menimbulkan sebuah sensasi aneh diruangan itu.
Tangan Yoshiki tak hanya diam begitu saja.
Mulai dirabanya dada Hana dengan tangan kanannya.
"nghh~" Hana hanya menlenguh perlahan.
Kecupan Yoshiki berpindah pada leher tan jenjang Hana.
"kau milikku" guman Yoshiki sambil menciptakan sebuah tanda memerah dileher Hana.
"mhh" sekali lagi Hana mengeluh dan sedikit menarik rambut jaged Yoshiki.
"Hn" Yoshiki tersenyum tipis. Didekatkannya lagi wajahnya ke arah wajah Hana.
"Sudah terangsang. Eh?" goda Yoshiki.
Read More ->>

Yami No Ai [Chapter 20]

Dan akhirnya, tanpa banyak pikir Hana segera mengambil sepotong coklat dan memakannya dengan (berusaha)anggun.
Dituangkannya sebotol anggur ke sebuah gelas seperti sudah biasa. Padahal Hana sendiri baru pertama kali ini menyentuh botol anggur.
Kenapa Hana menggambil anggur?
Karena hanya itu yang ada. Tidak ada jus. Tidak ada susu.
Hana sendiri memang sedikit penasaran dengan rasa anggur.
"Gluk" tegukan pertama Hana pada minuman beralkohol.
"ukh" rasanya pahit dan aneh.
Akhirnya diputuskannya memakan coklat lagi untuk mengurangi rasa aneh di lidahnya.
5 menit...
Nampaknya Wine Putih yang telah diminum Hana mulai bereaksi. Membuat wajah Hana sedikit memerah.
"Domo, My Lady" ternyata seorang tamu undangan berambut ikal coklat menghampirinya sambil menunduk.
"Ehh?" Hana kebingungan. Wajahnya memerah. Matanya sedikit sayu.
"Watashi wa Kagaru desu" orang itu memperkenalkan diri.
"H-Hana K-Kuroto desu hiks.." Hana mabuk
"Saa, Yoroshiku onegaimashu. My Lady" pria itu merah tangan Hana dengan sopan hendak mengecupnya. Tangan Hana semakin dekat dengan bibir pria itu.
PLAK
Tiba-tiba tangan Hana ditepis dan ditarik seseorang.
"Apa maksudmu?" tanya Yoshiki dingin pada pria yang berusaha mengecup punggung tangan istrinya.
"M-M-My Lord! Gomen! Hountoni gomennasai!" Pria itu berojigi berkali-kali lalu berlari entah kemana.
"Hn" Onix Yoshiki terus mengekor pada Kagaru sampai ia tak terlihat lagi karena kerumunan.
"Nee~ Yo-shi-ki-chan" tiba-tiba Hana bergelayut manja pada leher Yoshiki.
Yoshiki sedikit kaget dengan perlakuan tidak biasa Hana.
"Hn?" respon Yoshiki.
"Ini... Hiks... Jam berapa hiks...?" tanya Hana berusaha sadar dari kondisi mabuknya.
"Kau mabuk" Yoshiki segera melepaskan gelayutan Hana.
"Pesta selesai My Lady" dan digendongnya Hana ala bridal Style.
"Mate! My Lord! Anda mau kemana?" tiba-tiba seorang wanita cantik beriris emerald menginterupsi mereka.
"Pesta selesai" jelas Yoshiki dingin
"Demo... Bagaimana dengan pesta ulang tahun anda?"
"Batalkan." Setelah itu Yoshiki segera bergegas meninggalkan aula.
"nee~ Yoshiki... Turunkan! Ngggh!!" Hana terus meronta dalam gendongan Yoshiki.
"Diamlah sebentar My Lady... Dasar. Wine putih saja bisa membuatmu mabuk seperti ini"
Akhirnya Yoshiki berhenti pada sebuah pintu berdaun dua yang sangat besar.
"Hn" pintu itu terbuka dengan sendirinya.
"Yoshiki-kun!" dan bertepatan dengan masuknya Yoshiki dan mendekati ranjang king size mereka, Hana meronta sekuat-kuatnya hingga Yoshiki limbung dan terjatuh di ranjang itu sehingga menimbulkan suara "BRUK" keras.
Dan posisi mereka sungguh berbahaya sekarang dengan Yoshiki di bawah, dan Hana diatas.
"Hee..." Hana menatap Yoshiki dengan tatapan sayu khas orang mabuk.
"Yoshiki-kyun, kau sangat tampan... Aku... Hiks... Sangat mencintaimu... Bukan. Bukan. Bukan karena kau tampan atau kau seorang raja... Hiks... Tapi... Di sini..." Hana menyentuh dadanya "selalu berdetak kencang saat melihatmu. Dan terasa sakit saat aku melihatmu bersama wanita lain"
Read More ->>

Yami no Ai [Chapter 19]

Chap 19

"A-aku berjanji" jawab Hana menunduk malu.
"My Lord, Yoshiki Kuroto-sama. Berjanji dalam suka maupun duka tetap mencintai Hana Kuroto-sana?"
"Tidak"
semua terdiam. Termasuk Hana. Apa maksudnya ini?
"Aku tidak berjanji hanya dalam suka maupun duka saja. Aku sepenuhnya adalah miliknya sekarang. Maka akan kuberikan hidupku untuk mencintainya" ucap Yoshiki.
Semua terdiam.
Blush. Wajah Hana semakin memerah saja.
"Baiklah, kalian diperkenankan untuk berciuman"
Yoshiki mendekatkan wajahnya kepada wajah Hana yang sudah tidak bisa diangkat saking malunya.
"My Lady..." goda Yoshiki.
Akhirnya Hana pun menaikan wajahnya untuk menatap Yoshiki.
"Aku... Mencintaimu..." dan 'chu' Yoshiki mencium Hana.
Prok... Prok... Prok... Tepuk tangan menyambut hal itu.

Upacara pernikahan yang sesungguhnya telah selesai. Kini tugas 'pasangan baru' itu hanya menemani para tamu undangan.
"Hn. Sekarang kau resmi menjadi milikku" goda Yoshiki.
Wajah Hana kembali memerah dan panas.
"Berhenti menggodaku" Hana memukul tangan Yoshiki dengan kepalan pelan.
"Oh ya. Ngomong-ngomong, kau benar-benar cantik"
"He?" Hana terperangah dengan tutur Yoshiki barusan.
"H-hounto k-kah?" tanya Hana.
"Hn. Aku pikir seseorang menggantikanmu. Tapi setelah mengetahui-- beberapa hal, aku tahu itu kau"
"Hal?" tanya Hana.
'Karena milikku yang dibawah seketika menjadi sedikit tidak tenang. Dan jantungku sedikit berdegub' Ucap Yoshiki dalam hati.
"Kau berjalan terlalu cepat. Itu kebiasaanmu" ucap Yoshiki datar.
"Si-si-al!" tiga siku sudah muncul di kepala dan kepalan tangan Hana.
"Yoshiki?" sebuah suara menginterupsi candaan sang 'pasangan baru'.
"Arashi Tomuro" Yoshiki menyebutkan nama pria yang memanggilnya.
'siapa pria ini? Nampaknya ia dekat sekali dengan Yoshiki-kun. Sudara? Tidak. Marganya berbeda' selidik Hana.
"Kemarilah. Aku mau bicara" ucap pria berambut merah itu dengan senyumnya.
"Senyummu menjijikkan" ucap Yoshiki dingin lalu mengikutinya.
"Seperti biasa kau dingin juga Kuro-chan" ledek Arashi.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" ucap Yoshiki to the point.
"Hng... Aku hanya ingin memberimu selamat telah mendapatkan gadis itu"
"Hn"
"Jadi, kapan kau 'melakukannya'?"
"Entahlah. Aku tidak ingin merusak hidupnya demi kepentinganku"
"Masa depan? Bukannya masa depannya bersamamu"
"Hn. Tapi dia punya mimpi. Aku tak ingin mengacaukannya"
"Hee... Kau kan hanya perlu mengambil 'virgin'nya saja"
seketika itu Onix Yoshiki menatap tajam Arashi seolah tatapan membunuh.
"Itu bukan hanya. Aku tidak akan melakukannya sebelum dia menyetujuinya"
"Hee... Sejak kapan My Lord yang kita puja-puja Out Of Character seperti ini?"
"Hn"

Hana yang ditinggal Yoshiki mulai bosan dan kebingungan. Ia berjalan menyusri meja hidang. Sederet makanan desert manis berjejer menunggu dilahap.
Air liur Hana hampir menetes akibat hasrat murni perutnya.
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.