Jumat, 22 Agustus 2014

Yami no Ai [Chapter 32]

Chap 32

"Lihat... Kau hanya menginginkanku bukan?" tanya Yoshiki dingin. Tangannya masih terus mempermainkan puting payudara Hana yang sudah mengeras.
"A-aku me-menyerah... Uuh..." ucap Hana tak bisa menahan desahannya. "A-April... F-Fool" ucap Hana akhirnya.
Yoshiki terdiam sejenak.
"Apa maksudnya?" tanyanya.
"April Fool!!" jelas Hana.
"Kau... Mengerjaiku?" tanya Yoshiki lagi.
'Chu' Hana mengecup ringan bibir Yoshiki.
Wajah Yoshiki sedikit tercengang dan memerah samar.
"Bo-bodoh... Ma-mana mungkin aku mencintai Ayato. Aku kan...." Hana terdiam sejenak. Wajahnya dialihkannya menjahui tatapan mata Yoshiki. Dikerucutkanya bibirnya dan melanjutkan, "Me-mecintaimu."
Jadi sebenarnya, Hana suka menggoda Yoshiki yang sangan possesif. Tapi di dalam hatinya ia sangat mencintapi pria bersurai kelam itu.
Dan sekarang. Rencananya berhasil dan sukses. Ah, tapi nampaknya Hana berhutang sebuah es krim pada Ayato.

Keesokan harinya Yoshiki tidak bisa mengikuti pelajaran karena ada rapat dengan petinggi PBB.
"Kuroto Yoshiki..." Kato-sensei mengabsen para siswa.
"Etto, Yoshiki-san ada keperluan mengenai data kepindahannya," jelas Hana bohong.
"Oh. Luka Yuuki?"
"Hadir"
Sekolah berjalan seperti biasa. Saphire Hana melirik jam tangannya. Masih jam 8. Sekolah akan berakhir pukul 6. Cukup membosankan.

Pada pukul 5 sore saat pelajaran sejarah, wanita berambut gelap itu izin ke toilet untuk sekedar membuang air kecil.
Dengan tenang di cucinya tangannya di wastafel. Sampai suara "KYAAAA" khas lengkingan wanita memekakkan telingannya. Segera Hana berlari menuju asal suara yang merupakan tepat di dekat toilet.
Dengan wajah horor Hana menatap mayat gadis yang merupakan kakak kelasnya.
Drap Drap Drap
beberapa siswa dan guru lainnya mulai berdatangan menghampiri mayat itu dan segera melapor ke polisi.
'dia tewas karena kehabisan darah karena sayatan di lehernya sangat dalam,' pikir Hana.
"Kau penemu mayat?" seorang polisi paruh baya menanyai Hana.
"E-eh... I-iya," jawab Hana gugup.
"bisa kau ceritakan dimana dan sedang apa kau sebelum menemukan mayat?"
"anda menuduh saya? Saya sedang mencuci tangan saya sehabis buang air kecil!" ketus Hana.
"Ho, kau mencuci tanganmu setelah membunuh senpai karena tanganmu berlumuran darah? Hei pelacur?" Luka muncul dengan wajah meremehkannnya.
"Apa maksudmu? Kalau begitu pak polisi. Coba cek tangan saya, apakah ada luminol atau tidak!?"
"kau tau tes luminol?" tanya polisi itu kaget.
"loh. Saya kan detektif," Hana menatap polisi itu datar. Walaupun jantungnya tak bisa berhenti memompa dengan kuat. Ini pertama kalinya, bicara sombong di depan polisi. Mengakui bahwa dirinya detektif.
"Haa?" Luka nampak semakin menejek Hana.
"Baiklah kita tes luminol."

5 menit berlalu setelah tes luminol dilakukan. Hasilnya tentu negativ. Hana memang tidak membunuh siapapun.
"Bohong! Hana pintar Kimia! Dia pasti melakukan sesuatu sampai tes itu negativ!" Luka terus berusaha memojokkan Hana .

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.