CHAPTER 61: MY HUSBAND’S OFFICE
“Maaf mengganggu,” guman Hana lemah sebelum akhirnya melangkahkan memasuki ruangan sang presiden.
“Ini… bentonya…” sedikit gugup Hana menyerahkan bungkusan yang ada padanya.
Yoshiki sempat menatap bingung pada sikap Hana, namun setelah menyadari jika istrinya hanyalah gugup ia menjadi terkekeh, “ada apa denganmu My Lady? Kau bisa duduk dulu, bagaimana jika makan bersama?”
Mengikuti maksud Yoshiki, dibukanya bungkusan bento tersebut di meja.
Yoshiki tidak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum semakin lebar ketika melihat beberapa sajian variasi menu masakan sang istri tersaji di hadapannya.
“Maaf aku tidak tau harus membuat apa lagi,” Hana yang duduk di hadapannya berguman ragu.
“Aku senang, My Lady. Selamat makan,” tak mengindahkan Hana yang menatapnya dengan pandangan tidak percaya, Yoshiki mulai melahap karage dan nasi yang ada, “enak, ini enak.”
“Begitu? Syukurlah.”
Sejenak Yoshiki menghentikan kegiatan makannya dan memandangi Hana, “makanlah juga My Lady, aku sangat merindukan makan bersama istriku sendiri.”
“Eh? U-Um.. baiklah..”
TOK TOK
“Permisi Sachou, ada beberapa dokumen yang harus segera anda tanda tangani,” dari arah luar terdengar seorang wanita berujar.
Mendangus malas, Yoshiki bangkit dari kursinya sembari menelan kunyahannya, “masuk.”
“Permisi, maaf mengganggu,” begitu pintu terbuka muncullah seorang office lady yang tadi membantu Hana memberitahu lokasi ruangan Yoshiki.
“Silahkan Sachou,” si office lady menyodorkn beberapa map.
Menerima lembaran map itu, Yoshiki dengan teliti membaca dokumen dan membubuhkan tanda tangannya.
“Sedang makan siang Sachou?”
“Hn, begitulah. Istriku datang membawakannya untukku,” Yoshiki menjawab sementara pandangannya tetap tertuju pada lembaran dokumen.
“Istri?”
Yoshiki mengangguk, “Hn, dia istriku.”
“O-ooh…” Sang office lady hanya bisa mengangguk kebingungan.
“Kenapa?” Tanya Yoshiki sembari menyerahkan dokumen yang telah selesai ia tanda tangani.
“Tadi saya bertemu istri anda di lobby bawah untuk menanyakan ruangan Sachou. Istri anda mengaku hanya sebagai kenalan anda, dan lagi tidak ada cincin pernikahan, jadi saya sama sekali tidak tau. Maafkan atas ketidaksopanan saya,” selanjutnya si office lady menundukkan kepalanya kepada Hana.
“Ah, um… aku tidak apa-apa kok,” ucap Hana canggung.
“Kalau begitu saya permisi,” sang office lady undur diri dan meninggalkan ruangan.
“….” Yoshiki terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya ia melangkah mendekati Hana, “hanya, ‘kenalan’ eh?” ucapnya penuh nada sarkastik.
“A-anu Yoshiki-kun t-tadi…”
“Kenapa kau mengatakan itu? Kau istriku! Sialan!” Setelah umpatannya itu, seluruh emosi meluap pada dirinya, diturunkannya resleting celananya dan mengeluarkan kejantanannya.
Semuanya terjadi begitu cepat, Hana yang kaget hidungnya ditekan paksa sehingga mulutnya terbuka lebar memberikan kesempatan bagi milik Yoshiki memasuki mulutnya.
“URGHHH—"
“Kau gunakan gigimu, lehermu akan kupatahkan.”
Yoshiki marah. Pria itu benar-benar menatapnya dengan pandangan dingin.
“Mulutmu ini harus diberi pelajaran, My Lady,” Yoshiki berujar geram.
Dengan kepala Hana yang telah terhimpit pada punggung kursi, Yoshiki dengan leluasa mulai menggerakkan milikknya dengan kasar, “mnhhgg---hnggk—” membuat Hana kerepotan.
Berkali-kali Hana tersedak dikarenakan milik Yoshiki menerobos masuk tenggorokannya.
Ditahannya kepala Hana dengan kedua tangannya, dan membuat kepala hitam itu bergerak maju mundur tanpa perlawanan. Mulut Hana kini sepenuhnya belepotan oleh liurnya, begitu pula milik Yoshiki.
“HHhh… Kenapa kau tidak menggunakan cincin pernikahan kita? My Lady?” Yoshiki semakin menghimpitnya, kejantanan Yoshiki seolah semakin menerobos masuk ke dalam kerongkongannya.
Sakit. Tidak bisa bernafas. Hana tak bisa mengatakan apapun, hanya air mata kesakitan yang mulai mengalir.
“Ck!” Dengan decakkan itu, Yoshiki menarik keluar kejantanannya dari mulut Hana, seketika benang-benang saliva timbul antara mulut Hana dan kejantanan Yoshiki. Memberikan kesempatan Hana untuk terbatuk.
“Jangan katakana jika kau masih memikirkan si sialan Keigo Yasumoto itu?” Lagi, Yoshiki menggunakan nada dinginnya.
“Uhug… uhug… a-aku lupa…”
“Lupa?” Kini pria itu tertawa seolah mencemooh jawaban konyol Hana, “lalu kenapa kau mengaku hanya sebagai kenalan ku? Kita hanya sebatas kenalan?” Tangan kekar Yoshiki meraih dagu Hana dan membawa wajah itu menatapnya, “aku hanya kenalanmu My Lady?”
Dibalik emosi itu, Hana bisa melihat kedua alis Yoshiki mengernyit ke atas, pria itu… sedih.
“M-maaf aku hanya menjawab respon saja,” bola matanya seolah tidak berani menatap wajah Yoshiki, “semua office lady yang ada di sini begitu cantik dan elegan, sementara aku… aku… insecure.. aku tidak yakin jika mereka akan percaya jika aku memiliki hubungan denganmu yang seorang petinggi di sini, aku juga tidak ingin membuatmu malu…”
“….” Tanpa ada kalimat lagi dari bibir Yoshiki, ia kembali memasukkan miliknya ke dalam mulut Hana, kembali membuat perempuan itu kerepotan oleh genjotannya.
“Persetan dengan itu semua! Kau… kau istriku My Lady!” Seolah semakin dibakar emosi, Yoshiki semakin menggerakkan pinggulnya dengan cepat.
Sementara Hana mati-matian menahan agar milik Yoshiki tidak masuk lebih dalam ke dalam tenggorokannya dengan tangannya menahan kedua paha pria itu.
“Ahghh—” Namun Yoshiki tidak akan kalah dari Hana, ia semakin menekan miliknya yang hendak menuju klimaks.
“My Lad—Arggg—” Hana bisa merasakan milik Yoshiki berkedut beberapa saat tak terhentikan, menyemburkan gumpalan sperma ke dalam mulut dan kerongkongannya tanpa sempat ia muntahkan.
“Telan semuanya, My Lady,” pria itu berdesis panas.
Tidak punya pilihan lain, Yoshiki masih menekan miliknya ke dalam mulutnya, ditelannya cairan ejakulasi Yoshiki dengan susah payah.
Begitu yakin seluruh cairannya telah ditelan habis, barulah Yoshiki mau menarik keluar kejantanannya, “bersihkan dirimu,” ia meraih sekotak tisu, “kita turun sebentar lagi,”
Hana mulai membersihkan wajahnya yang kacau oleh air mata, saliva, dan sedikit bercak sperma Yoshiki, “t-turun?” Tanyanya lemah.
“Membuatmu dikenal jika kau istriku.”
Oh tidak, bagi Hana ini akan menjadi ide yang buruk.
“Ayo,” tanpa menunggu persetujuan dari Hana, Yoshiki menarik tangan Hana keluar dari ruangannya dan menaiki lift untuk turun.
“Y-Yoshiki-kun tidak perlu seperti ini,” Hana berusaha menarik tangannya keluar dari cengkraman tangan Yoshiki.
Tak bergeming, Yoshiki hanya berujar, “It’s important thing to do. Because you are my pride.”
Denting lift berbunyi mendakan mereka telah dibawa hingga Lobby, seketika suara kesibukan menyeruak begitu pintu lift terbuka.
Dalam sekali sentak, tangan Hana tertarik keluar lift. Langkah kaki Yoshiki begitu lebar seakan terburu-buru. Bahkan Hana yang berusaha menahan tubuhnya agar tidak tertarik tetap saja tidak mampu melawan.
“Y-Yoshiki-kun… o-oke aku mengerti! Aku akan selalu menggunakan cincinnya jadi tolong berhenti!”
Berhasil. Yoshiki berhenti.
BRAK.
Namun sebagai gantinya tubuhnya di himpitkan pada dinding. Lokasi yang mereka gunakan tidaklah seramai itu, namun tetap saja ada dua atau tiga karyawan yang mindar mandir melihat apa yang ia dan Yoshiki lakukan.
“Y-Yoshiki-kun, banyak yang melihat,” Hana hanya bisa menundukkan kepalanya menghindari tatapan orang lain, terlebih tatapan Yoshiki yang berjarak minimal dengannya.
“Hn. Lalu? Ini kantorku, perusahaanku, aku bebas melakukan apapun.”
“T-Tapi—”
“Lagipula kau istriku.”
“Bukan itu masalahnya! Memangnya Yoshiki-kun tidak takut akan tersebar gossip aneh-aneh!?” Kali ini Hana memandang wajah Yoshiki dengan segala keberaniannya.
“Bagus bukan?”
“Bagu--!?” Hana sudah tidak bisa menanyakan kalimat Yoshiki, bibirnya telah terkunci rapat oleh bibir pria itu.
“Hngg—Mn!” Kedua tangan Hana berontak, namun kedua tangan Yoshiki lebih sigap.
Beberapa karyawan yang melewati Lorong itu nampak canggung dan memilih berbalik arah.
“Yosh—Ugh!” Berhasil. Hana mendorong Yoshiki.
Sebuah seringai tipis muncul pada bibir pria itu, “bibirmu rasa asin Karage, My Lady.”
“Ugh—Memangnya itu penting sekarang? Para karyawan tadi merasa canggung melihat kita!”
“Hn, tidak masalah, justru hal yang bagus bukan? Sekarang mereka tau jika kau adalah istriku. Istri dari presidir kantor ini.”
“G-Gila…” ucap Hana refleks.
Seringai pada bibir Yoshiki semakin melebar, “benar, aku gila karenamu My Lady. Dan ingat akan janjimu, kau akan mengenakan cincin pernikahan kita untuk seterusnya dan tidak akan pernah melepaskannya.”
“A-aku tidak berjanji seperti itu!”
Namun Yoshiki mengabaikan ucapannya, pria itu melirik jam tangannya, “tunggulah, dua jam lagi kita akan pulang bersama.”
“Aku mau ke toilet,” Hana membalik badannya, ia kesal.
Yoshiki tertawa dalam, “My Lady, Sekarang kemanapun kau berusaha melarikan diri dariku, gelang kaki jutaan dollar itu akan melacakmu bahkan sampai ke palung terdalam sekalipun.”
“Ya ya jutaan dollar,” ujar Hana mocking dan menghilang dari balik koridor menuju lobby.
“….” Sementara pria dengan kedua bola mata gelapnya itu masih terdiam di tempatnya mengamati bagaimana punggung sang istri menghilang.
.
“Haaah sudah kuduga di luar rasanya segar sekali,” Hana meregangkan tubuhnya di sebuah taman belakang yang sepertinya di desain untuk bersantai bagi para pegawai, “ruangan itu benar-benar penjara, bahkan jendela pun hanya ada di dekat langit-langit,” gerutu Hana berikutnya.
“Segarnyaaaaa!” Tubuh Hana berputar kebelakang menikmati semilir angin, tubuhnya tidak bisa menahan diri untuk bergerak lebih aktif sejak keluar dari ruangan yang seolah mengekangnya.
BRUKK—
Ia terjatuh setelah menabrak seseorang.
“Ah, anda tidak apa-apa?” Seorang pria menyodorkan tangannya khawatir melihat Hana.
“O-Oh,” Hana segera bangkit, ia menundukkan kepalanya berkali-kali dengan wajah memerah malu, “maafkan saya maafkan saya.”
“Ah, saya tidak apa-apa,” ucap pria yang sepertinya berumur hampir menyentuh setengah abad itu, “Anda klien? Saya tidak mengingat ada karyawati seperti anda.”
“S-Saya…” bibir Hana kesusahan mengucapkan kalimat yang berikutnya ia ucapkan, “i-istri Kuroto Yoshiki.”
“Ah, istri sachou?”
Hana mengangguk dengan wajah memerah, ia tidak menyangka mengucapkan hal seperti ini akan terasa semalu ini.
“Benar juga kalau diingat-ingat Sachou mengenakan cincin di jari manisnya, ternyata itu cincin pernikahan, haha, semua perempuan di divisi Marketing akan menangis mengetahui hal ini.”
“Eh?”
“Yah, bagaimanapun Sachou terlihat masih muda dan ikemen kata mereka, hampir seluruh perempuan di divisi Marketing menyukai Sachou. Ah maaf belum memperkenalkan diri, saya Fujiwara Okazaki, saya kepala divis Marketing.”
“Salam kenal Fujiwara-san, saya Hana… Kuroto.” Hana menundukkan kepalanya sopan dan canggung.
“Oh, tapi mengapa Kuroto-san tidak mengenakan cincin pernikahan seperti Sachou?”
“Ah—hari ini saya terburu-buru membawakan bentou untuk Yoshiki-kun, saya lupa memakainya lagi setelah mencuci tangan tadi.”
“Begitu…”
“Wah saya masih tidak menyangka jika Sachou sudah menikah, terlebih dengan perempuan yang sederhana seperti Kuroto-san.”
‘Sederhana.’ Kalimat itu menohok Hana tepat sasaran.
“Ah, maaf bukan maksud saya begitu,” Fujiwara segera memperbaiki kalimatnya, “selama ini saya—dan mungkin sebagaian besar pegawai wanita—mengira Sachou hanya akan menyukai wanita elite karena Sachou selalu menatap dingin kepada setiap wanita yang mendekatinya, bahkan pernah seorang komisaris wanita dari grup Tenko yang begitu terkesan elite dan glamour terlihat terang-terangan berusaha mendekati Sachou, sayangnya Sachou malah mengatakan hal mengejamkan di depan semua orang, mempermalukan komisaris besar itu, begitulah gossip yang beredar, haha,” pria itu mengakhiri ceritanya dengan tertawa garing.
‘Gossip.’ Hana kembali tertohok oleh kalimat Fujiwara.
“Yah setidaknya pertanyaan kami semua sudah terjawab jika cincin yang dikenakan Sachou memang benar cincin pernikahan.”
“Umm,” Hana hanya mengangguk canggung—“Fujiwara-san sedang apa di sini?” Hana harus segera mengalihkan pembicaraan ini.
“Saya sedang menunggu istri saya di bagian HRD.”
“Wah pas sekalian anda berdua bekerja di perusahaan yang sama.”
“Hana.”
Sebuah suara menginterupsi keduanya, sebuah suara yang dalam dan berat, dan benar saja begitu keduanya menoleh ke asal suara, Kuroto Yoshiki berdiri dengan tatapan datarnya.
“Sachou,” Fujiwara segera menundukkan kepalanya hormat.
“Hn, Fujiwara, sedang apa kau di sini?”
“Saya menunggu istri saya menyelesaikan pekerjaannya, dan tanpa sengaja bertemu dengan istri anda.”
Pandangan datar pria itu sedikit berkliat—bahagia—mendengar kalimat Fujiwara. Ia tidak pernah mengatakan pada Fujiwara jika Hana adalah istrinya. Maka kemungkinan terbesarnya adalah, Hana sendiri yang memberi tahu pada Fujiwara jika ia adalah istrinya.
“Hn… apakah kalian sudah selesai?”
“Ah, silahkan jika Sachou sudah mau pergi.”
Yoshiki tersenyum tipis kepada Hana, “kalau begitu kami permisi. Ayo kita pulang Hana,” Tangan Yoshiki meraih pinggang Hana dan membawanya jalan bersama, “butuh mampir ke supermarket?”
“Eh? Untuk apa?” Benar. Untuk apa Yoshiki mengajaknya mampir ke supermarket secara tiba-tiba?
“Membeli keperluan untuk makan malam tentu saja,” jawab Yoshiki santai.
“Eh?” Oke Hana bingung sekarang.
“Mari kita coba menjadi pasangan normal pada umunya. Kau pernah bilang bukan kau senang menjalani kehidupan pasangan normal bersama si sialan itu. Kita bisa mencobanya. Lagipula aku ingin memakan masakanmu lagi, karage tadi sangat enak.
“E-eeh…”
Hana semakin tidak mengerti cara berpikir Yoshiki.
.
“M-memangnya Yoshiki-kun mau makan apa?” Hana dengan ragu bertanya begitu keduanya telah memasuki supermarket.
“Hn…. Apapun?”
Hana menepuk keningnya pelan, “sungguh jawaban yang ambigu.”
“DISKON UNTUK PEMBELIAN DAGING!” Terdengar suara gaduh yang seketika mengalihkan fokus keduanya.
“Serang!!!”
Detik berikutnya setelah menyadari istrinya baru saja berteriak, begitu Yoshiki meoleh, sosok wanitanya itu telah lenyap.
.
“Ah, itu dia, Yoshiki-kun!” Hana berlarian membawa beberapa bungkusan berisi daging diskonan hasil perebutan.
Kuroto Yoshiki, sang suami dengan santai menoleh. Di hadapannya telah ada sebuah troli berisikan beberapa kentang, wortel, dan bawang Bombay.
“Lihat aku dapat!” Hana tersenyum lima jari memamerkan bungkusan perjuangannya.
Alis pria itu mengernyit begitu menyadari jika di bawah dagu kanan istrinya itu berwarna kebiruan, “dagumu, kenapa?”
“Ah? Oh,” dengan konyol Hana mengusap dagunya, “aduh. Loh kok sakit?”
“Dasar bodoh,” Yoshiki mendengus kesal.
“Sepertinya tadi tersikut ibu-ibu ganas, hehe.”
Seketika ingatan mengenai bagaimana hidung istrinya tersikut ketika bermain basket saat sekolah dulu mengisi kepalanya. Ia menghela nafas berat, “aku mohon berhati-hatilah, aku tidak ingin melihatmu menderita seperti kejadian hidungmu yang patah.”
Hana tidak bisa mengatakan apapun, wajah pria di hadapannya itu terlihat benar-benar sedih dengan kedua alisnya tertaut ke atas.
“A-aah—Lihat lihat apa yang kudapat!” Hana berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Hn, kenapa kau begitu bersemangat. Kita bisa membeli yang non diskon,” Yoshiki mendengus malas.
“Ehh sesuatu yang didapat dengan perjuangan itu rasanya lebih enak loh. Oooh apa ini? Kentang, wortel, bawang… hmm… tunggu, ini bahan-bahan untuk membuat Kare.”
“Memang kare. Kita akan memasak kare bersama.”
“Eh?”