CHAPTER 54: Play Behind Me
“Aku masih tidak menyangka kamu benar-benar dekat dengan perempuan ini,” Nikole menerima ayam mentega pesanannya, walau begitu masih terdengar nada sindiran pada kalimatnya.
“Sebenarnya ada apa denganmu Nikole?” Keigo tidak bisa menahan kekesalan dirinya.
“Yah…” Nikole hanya menaikkan bahunya sekilas, “aku masih tidak bisa menangka saja.”
“Apa…?”
“Hanya karena perempuan ini memiliki takdir sebagai pemegang segel Lucifer, sudah berapa nyawa exorcist melayang? Apalagi perang besar kemarin.”
Hana terenyuh. Ia yang sedari tadi hanya menatap tidak mengerti kini hanya bisa menundukkan kepalanya penuh pengutukkan pada dirinya sendiri.
“Tunggu tunggu. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Exorcist pusat juga tidak bisa berbuat apa-apa, padahal kita harus segera menjauhkan Hana dari Lucifer.”
“Tentu saja. Lucifer itu sudah menghancurkan markas pusat sampai luluh lantak. Kita hanya bisa fokus untuk rebuild saat ini.”
“Eh?” Keigo hanya bisa melongo.
Sementara Hana hanya semakin menundukkan kepalanya.
“Perang terakhir kita dengan massa terbanyak terjadi karena kita mati-matian menahan Lucifer yang ternyata Tomuro Arashi yang menyamar.”
“Eh? Itu kapan?”
“Beberapa bulan yang lalu. Bukan hal yang aneh jika kau tidak tau Keigo. Peringkat pertama yang memberikan dekrit agar tidak mengerahkan exorcist tak berperingkat.”
Tubuh Keigo menegang, “pantas saja…”
Nikole hanya bisa mengangguk kaku, “kita terpuruk.”
Seketika pandangan Keigo tertuju pada Hana, “lalu bagaimana kita melindungi dia?”
“Kamu suka perempuan ini ya Keigo?”
Blush. Wajah pria berusia 25 tahun itu memerah bagai kepiting rebus.
“Astaga. Kamu ini anak SMA? Wajahmu merah sekali loh,” Nikole menghelakan nafasnya.
Dengan kesal, ditutupinya wajahnya dengan telapak tangannya, “pokoknya kita harus menjauhkan Hana dari iblis itu!”
“Ya iya. Kita jauhkan dari Lucifer.”
“Eh? Nikole mau membantuku?”
“Tentu. Akan kubantu sebisaku. Demi pemuda yang baru puber dan baru jatuh cinta.”
“Sialan kamu Nikole.”
“Kalau begitu aku akan mencoba menghubungi beberapa exorcist untuk membantu. Kamu buatlah rencana yang matang, awas kalau kamu gegabah, kamu sudah tau kan kondisi exorcist bagaimana?”
Keigo mengangguk mantap, “terima kasih Nikole!”
Pria itu hanya melambai ringan sebelum akhirnya meninggalkan area restoran.
“Bagaimana caramu bisa kemari? Si Iblis itu benar-benar pergi?” Kali ini giliran Keigo bertanya dengan intens.
Hana mengangguk menjawab, “walaupun aku tadi aku benar-benar cemas jika dia tidak jadi pergi, dan entah mengapa dalam perjalanan aku merasa seperti sedang diikuti.”
TAP.
“Eh?”
Tau-tau kepala Hana sudah mendapat tepukan dan usapan lembut dari tangan kekar Keigo. Dosen muda itu hanya bisa memberikan tatapan murung.
“Maaf sudah membuatmu cemas dan merasakan hal seperti ini, semoga semua ini segera berakhir dan kamu bisa kembali ke kehidupan normalmu.”
Namun Hana hanya bertanya-tanya. Kehidupan normal seperti apa yang dimaksud oleh Keigo? Keadaan seperti sebelum ia bertemu Yoshiki? Di mana ia selalu kesulitan sendirian? Di mana ia harus sekolah sambil bekerja demi menyambung hidup? Di mana ia selalu dibully dan dibenci oleh seluruh dunia?
Hana tidak tau.
.
“My Lord, mohon maaf.”
“Hn, ada apa?” Yoshiki menolehkan kepalanya kesal.
Mamon yang ada di hadapannya juga ikut menolehkan kepalanya, ingin tau.
“Sebelumnya mohon maaf mengganggu waktu—”
“Ya, kamu sangat mengganggu. Jadi bisa cepat katakan apa maumu? Kita punya banyak hal untuk didiskusikan,” potong Mamon kesal.
“B-baik,” perempuan yang mendatangi Yoshiki itu menyerahkan beberapa lembar foto dengan gugup, “berikut laporan dari pengawal My Lady.”
DEG
Kedua bola mata Yoshiki melebar begitu melihat foto-foto yang diberikan.
Foto itu menunjukkan jika istrinya tengah seperti berada di sebuah restoran. Dengan Keigo Yasumoto. Keigo Yasumoto yang menepuk kepala istrinya.
Dilemparkannya foto-foto itu hingga berhamburan di udara sebelum akhirnya menyentuh kelembutan dari karpet mahal milik Mamon.
“Ho ho…” berkebalikan dengan Yoshiki yang depresi, Mamon yang melihat itu hanya menyeringai menahan tawa.
“Kau dikhianati, eh Lucifer? Oleh perempuan kebanggaanmu itu?”
“Laki-laki itu cinta pertamanya,” Yoshiki menyandarkan tubuhnya dengan serampangan pada punggung kursi.
“Kapan foto ini diambil?” Yoshiki menolehkan kepalanya pada pelayan yang memberikannya deretan foto yang membuat kepalanya berputar pening.
“Dua puluh menit yang lalu My Lord. Sekarang My Lady sudah dalam perjalanan pulang.”
“Hn….” Yoshiki terdiam beberapa saat.
“Enyahlah. Tetap pantau dia.”
“Yes, My Lord,” sang pelayan pergi meninggalkan Yoshiki yang frustasi hingga melonggarkan dasinya dengan kasar.
Meneguk wine dalam gelasnya, Mammon berujar, “kau boleh pulang daripada kau memberikan energi ingin membunuh itu kepadaku.”
Tanpa berpikir dua kali, Yoshiki menyambar mantelnya dan meninggalkan Mammon, “kita lanjutkan lagi lain waktu Mammon.”
Mamon hanya menaikkan kedua alisnya sementara mulutnya tak bisa berhenti tersenyum.
.
Yoshiki membawa keluar mobil yang ia kendarai dengan tenang. Oh dia hanya berusaha tenang. Kakinya berusaha mati-matian agar tidak menekan pedal gas sembarangan dan menabrak semua kendaraan yang ada di depannya. Genggamannya pada kemudi tidak main-main.
“Kenapa si sialan itu bisa tau My Lady ada di sini…” Gumannya pada udara dingin yang sedari tadi mengalir di dalam mobil.
Semakin ia berpikir semakin ia menemukan sebuah jawaban absolut yang sudah ia tidak bisa tolak lagi seberapa ingin ia menolaknya, “My Lady…. Dia yang memberi tau si sialan itu.”
Decakan dan gertakan tidak bisa berhenti keluar dari mulutnya untuk beberapa saat.
.
CKLEK
Begitu membuka pintu yang Yoshiki dapati adalah kegelapan, dan tubuh tidur Hana yang sudah tertutupi selimut hingga lehernya.
Yoshiki hanya bisa meletakkan mantelnya pada rak mantel dengan perlahan. Sementara pandangannya tak bisa lepas dari sosok yang hampir sepenuhnya tertutupi oleh selimut.
Ia cukup yakin Hana hanya berpura-pura tidur di sana. Berdasarkan perhitungan waktu perjalanan, seharusnya ia tak memiliki selisih waktu yang panjang dengan waktu tibanya Hana di sini.
Ia tidak bisa berbuat apapun.
Segala gejolak ada di dalam dirinya. Bagaimana mungkin Hana bisa setega itu kembali mengkhianati dirinya bahkan di tengah bulan madu mereka? Bagaimana bisa ia mendapat jalan untuk bertemu si sialan itu? Bagaimana mereka bisa berhubu—pertanyaannya terhenti—Ia sudah tau jawabannya. Saat itu, saat ia memberi kesempatan Hana untuk membalas pesannya. Benar. Saat dimana ia menanti jawaban dari Hana atas pesannya, wanitanya itu justru berhubungan dengan pria lain.
Namun sekali lagi, sayangnya ia tak bisa berbuat apapun.
.
Sarapan di hari esok terasa bergitu mencekam bagi Hana. Memang dirinya yang memutuskan untuk tidak berbicara pada Yoshiki kecuali untuk hal-hal penting. Namun biasanya pria itu selalu membuka pembicaraan walaupun singkat. Tidak seperti saat ini. Pria itu makan dalam diam. Seolah pria itu sedang mengabaikannya.
Bahkan setelah sarapan selesai pria itu pergi begitu saja. Tidak mengatakan sepatah katapun.
Ada apa ini?
.
Bahkan ketika sudah mencapai setengah hari pria itu hanya duduk di mejanya dan sibuk dengan pekerjaannya. Mengabaikan seluruh ucapannya kemarin jika mereka seharusnya pergi ke tempat yang cukup jauh dari Prancis. Di sisi lain Hana bisa bersyukur jika Yoshiki benar-benar melupakan ajakannya untuk meninggalkan Prancis. Ia masih bisa bertemu dengan Keigo nanti malam.
Keigo Yasumoto, pria itu berjanji padanya akan berada di tempat yang sama nanti malam, menunggunya. Keputusan itu diambil akibat media penghubung keduanya yang terbatas. Hanya sebuah perjanjian yang bisa diandalkan. Jika malam nanti Hana tidak datang, maka diartikan Hana telah meninggalkan prancis. Dan Hana harus berusaha menghubungi Keigo selanjutnya.
Berada di satu ruangan tertutup bersama dengan Yoshiki yang seolah memberikan aura mencekik membuatnya merasa pening. Benar juga jika ada sebuah kalimat berbunyi, jarum jam akan bergerak lambat jika kamu menantikannya.
Sebaiknya ia memberi Yoshiki ruang untuknya sendiri, dengan begitu Hana memutuskan untuk meninggalkan kamar.
“Kemana?”
Kalimat itu lantas menghentikan Hana, sekaligus mengagetkan perempuan itu. Bukankah Yoshiki sedang tidak ingin berbicara dengannya?
“Mencari angin sebentar,” jawab Hana ragu.
Yoshiki tidak bisa menahan senyum mengejeknya untuk tidak terlihat jelas. Kemarin Hana juga beralsan begini untuk keluar bertemu dengan si sialan itu kan?
Tentu saja Hana menyadari perubahan wajah Yoshiki, “kenapa?”
“Hn. Tidak.”
Apa? Yoshiki memang selalu tidak bisa dipahami. Tapi kali ini sikap pria ini benar-benar diluar nalar Hana.
.
“Huh! Memangnya dia perempuan? Ngambek segala!” Hana menendang kaleng secara sembarangan dengan kesal. Dijatuhkan pantatnya pada sebuah tepian air mancur di sebuah taman.
Dikeluarkannya sebuah corn dog dari pembungkusnya, asap tebal seketika menyelimuti pandanganan Hana.
“Asik… masih hangat…. Haup…. Amastaga emnak skali…”
Setengah hari itu, Hana menghabiskan beberapa lembar dollar hanya untuk corn dog saja.
.
Setelah puas bermain-main dengan burung dara dan mengisi perutnya hingga penuh dengan corn dog, Hana baru memutuskan untuk kembali menjelang malam tiba.
“Astaga aku ingin berendam dengan air hangat—”
Yoshiki tidak ada. Begitu ia membuka pintu kamarnya, sosok pria yang sedari tadi sibuk di mejanya itu telah menghilang.
‘Dia pergi…’
Tunggu dulu. Kenapa dia harus bersedih karena pria itu pergi tiba-tiba? Bukankah ini hal yang bagus? Saatnya bersiap-siap untuk menemui Keigo.
.
“Masih pukul enam…” Guman Hana menatap jam dinding yang terasa berdetik begitu lambat, “jika aku berangkat sekarang apa Keigo-kun sudah di tempat?”
“Oh!” Mengingat sesuatu Hana segera merogoh saku pada mantelnya.
Didapatinya sebuah cincin plastic berwarna hitam dengan ukiran berbentuk tangkai daun.
Kemarin sebelum ia pulang, Keigo memberikannya cincin tersebut. Cincin yang seharusnya keigo berikan sebagai hadiah ulang tahunnya berbelas tahun lalu. Namun sayangnya, sebelum Keigo berhasil memberikan kado tersebut, sang keluarga sudah beranjak meninggalkan Jepang.
“Aku selalu menyimpannya, sehingga suatu saat nanti bisa kuberikan kepadamu, karena aku tahu, kita pasti akan bertemu lagi,” ucap pria itu dengan senyumnya yang tulus.
Hana menggenggam cincin tersebut dengan erat dengan kedua matanya terpejam, seolah-olah pria itu masih dihadapannya memberikan ketenangan dibalik semua kekacauan.
Tanpa pikir panjang segera dikenakannya cincin itu pada jari kelingkingnya—mau bagaimanapun cincin itu seharusnya dikenakan oleh bocah berusia 8 tahun.
Ia ingin menemui pria itu. Ia ingin melupakan segala kekacauan yang ditimbulkan oleh Yoshiki.
Hana sudah tidak memikirkan kembali apakah Keigo sudah ada di tempat pertemuan atau tidak. Kakinya melangkah memasuki lift hotel dan melangkah keluar dengan langkah lebar.
“Mau kemana?”
Langkahnya terhenti, Kuroto Yoshiki, pria itu sudah berdiri di depan lift dengan kedua tangannya terlipat di depan dada.
“E-eh? Y-Yoshiki-kun…. Bukankah kamu pergi?”
“Hn, dan aku kembali sekarang.”
“Eh? Ini kan masih pukul—”
Kalimat Hana terpotong begitu sang pria mendorongnya kembali masuk ke dalam lift.
“Memangnya kenapa? Kau belum menjawab pertanyaanku My Lady, akan pergi kemana kau?”
Hanya ada Hana dan Yoshiki di dalam lift yang mulai bergerak. Hanya ada dirinya dan Yoshiki yang menghimpitnya.
Skak mat. Hana sudah tidak tau harus menjawab apa. Pria itu benar-benar intens menatapnya dengan tatapan dinginnya.
Namun detik berikutnya pria itu seolah memberikan sebuah senyum, senyum yang mampu membawanya terjun ke neraka terdalam sekalipun, “kau manis sekali dengan pakaian itu My Lady, berencana kemana kau dengan penampilan manis seperti itu?”
Hana mengalihkan pandangannya, “ah t-tidak..”
“Hn, tidak? Jadi kau tidak berencana kemanapun? Kau menyambutku?”
Pria itu terus menekan Hana secara seduktif. Bahkan wajah pria it uterus mengejar wajah Hana. Berusaha selalu mengurangi jarak diantara mereka.
Denting lift menginterupsi, setelah berdecak kesal, Yoshiki meraih tangan Hana untuk menyeret perempuan itu memasuki suit mereka.
Didudukkannya perempuan berambut kelam itu pada sofa. Dan dituangkannya segelas wine untuk Hana, “minumlah.”
“A-Ah… a-aku…” Hana tidak tau harus menjawab apa.
“Kenapa? Kau sedang ditunggu seseorang?”
DEG
Kali ini Yoshiki benar-benar berbeda. Pria itu benar-benar mengeluarkan aura mengintimidasinya walaupun nada yang digunakan pria itu hanyalah nada mengejek.
Saat ini yang ada di kepala Hana hanya ada satu kesimpulan. Yoshiki mengetahui semuanya. Yoshiki tau jika ia diam-diam menemui Keigo. Dan fakta itu seperti membuat seluruh tubuhnya bergidik ngeri.
“T-Tidak…” lagi. Hana hanya bisa berguman tidak jelas.
Sebuah tawa rendah nan mengejek terdengar dari mulut Yoshiki yang hanya terbuka sedikit. Pria itu sibuk menunduk dan menggoyang-goyang gelas winenya.
“Bagaimana bulan madu ini? Kau senang?”
“Ah… um… ya, terima kasih.”
Lagi, tawa itu terdengar. Kali ini cukup keras.
“Tentu saja kau senang,” sambil berucap begitu, Yoshiki memindah posisi duduknya untuk duduk di samping Hana, mendekatkan tubuhnya pada perempuan yang sudah sangat ketakutan itu, “setiap malam kau bertemu si sialan itu dibelakangku.”
‘Benar! Yoshiki-kun tau!’ teriak kepala Hana.
Yoshiki kembali tertawa. Pria itu seperti tidak waras sama sekali sekarang. Diraihnya tangan Hana tanpa persetujuan sang pemilik dan membawanya pada dadanya.
“My Lady…. Kau harus tau… di sini sangat sakit sekali setiap mengetahui kau bersama si sialan itu,” cengkramannya pada tangan Hana di dadanya menguat sementara ekspresi wajahnya terlihat begitu kacau.
Kedua bola mata Hana melebar. Ia ingin kembali menarik tangannya cepat-cepat namun tentu saja cengkraman Yoshiki jauh lebih kuat.
“Hn…. Apa ini?” Onyx pria itu tertuju pada sebuah cincin yang melilit jari kelingking Hana.
Dilepasnya cincin tersebut, mendapatkan protes dari Hana, “j-jangan Yoshiki-kun.”
“Mainan plastic apa ini My Lady?” Pandangan pria itu kosong, “kau lebih memilih mengenakan mainan ini daripada cincin pernikahan kita?”
Hana meneguk ludahnya, “kumohon kembalikan Yoshiki-kun.”
“Si sialan itu memberikanmu ini? Hn, aku ingat. Dia sangat ingin memberikan benda ini di hari ulang tahunmu….”
‘Yoshiki-kun tau!’ Kaget Hana.
“Baiklah,” pria itu tiba-tiba bangkit dari tempatnya, meraih sebuah vas yang berada di nakas. Kemudian menghantamkan vas kramik itu pada cincin yang sudah ia letakkan di lantai hingga menyebabkan kegaduhan bunyi pecahan barang.