Selasa, 23 Februari 2021

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 59]

 CHAPTER 59: Can’t Be Removed

Yoshiki mengangkat jemarinya yang telah sepenuhnya basah. Sekarang Hana sudah sepenuhnya tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah. Yoshiki dengan sengaja memainkan cairan pelicinnya di depan wajahnya.

“Feel your own, My Lady,” Pria itu menjejali mulunya dengan cairannya sediri.

Dalam keadaan badan masih setengah bergetar akibat orgasme pertamanya, Yoshiki kembali bergerak cepat dengan menarik jemarinya dan menggantinya dengan ciuman panas. Ciuman yang menuntut dan tak terelakkan.

Selama beberapa saat ruangan dengan pencahayaan yang minim itu dipenuhi oleh kecupan dan kulumat bibir keduanya.

“Cllk…. Lckk… hahh…” Berkali-kali Hana berusaha melepaskan jeratan bibir Yoshiki untuk meraih udara, namun bibir sang pria kembali melahapnya dengan cepat.

Desahan Hana semakin memenuhi ruangan begitu sang pria menggerakkan bibirnya pada leher dan payudara Hana. Meninggalkan beberapa bercak kemerahan yang cukup kontras pada kulit tannya.

“C-Cukup Yoshiki-kun…” Di tengah desahannya, Hana mati-matian mengucapkan dua kalimat tersebut.

Manjur. Pergerakkan Yoshiki terhenti. Onyx pria itu hanya mengamati bagaimana tubuh wanita miliknya telah telanjang sepenuhnya dengan badan bergetar.

Namun serigai yang ditunjukkan Yoshiki berikutnya membuat jantung Hana berkontraksi, “tidak mungkin cukup kan My Lady? Aku harus membersihkanmu—menghapus semua jejak yang ditinggalkan oleh si sialan itu padamu.”

“K-Keigo-kun tidak menyentuhku sejauh itu!”

Pandangan Yoshiki seolah semakin mengelam, “Hn, kau mengakuinya? Si sialan itu menjamah tubuhmu?”

“Itu tidak lebih dari pelukan untuk menenangkanku!”

Rahang pria itu mengeras, “aku suamimu My Lady. Bukankah itu seharusnya menjadi tugasku?”

“Bagaimana bisa itu menjadi tugasmu jika penyebab—”

Yoshiki tidak mengizinkan Hana melanjutkan kalimatnya. Yoshiki kembali melahap habis bibir Hana.

Tidak peduli lagi. Yoshiki melebarkan kedua paha Hana sementara ia telah mempersiapkan kejantanannya yang telah berdiri tegak tanpa sempat melepaskan sehelai kain pun dari tubuh kekarnya.

“Tidak—tidak—A-Aaa” Mau meronta seperti apapun, pada akhirnya Yoshiki berhasil menyatukan dirinya dengan Hana.

Pompa. Pompa. Dan pompa.

“Hhh…” Beberapa kali desahan tipis terdengar dari bibir tipis Yoshiki yang terpuaskan setelah sekian lama tak berani menyentuh sang istri.

Sayangnya, Hana yang berada di bawahnya malah bereskpresi kesakitan dan seperti setengah menangis.

“Grrtt…” Mood Yoshiki hancur berantakan. Setelah hembusan nafas berat, Yoshiki berujar congkak, sambil mengusap pipi Hana, “kenapa My Lady? Kau harus lebih menikmati ini lagi, Keigo-sialan-mu itu tidak akan bisa memberikanmu kenikmatan seperti ini.”

“S-Sakit Y-Yoshiki-kun…” Desisan kesakitan Hana tidak main-main. Yoshiki terlalu kasar. Keperkasaan pria itu seolah mengacak-acak dirinya di bawah sana.

Rintihannya sama sekali tidak membuat Yoshiki iba. Malahan pria itu seolah semakin semangat bergerak hingga ranjang yang seharusnya terbuat dari batang pohon terkuat itu berderit, “haha,” pria itu tertawa dalam, “lalu aku harus peduli pada rasa sakitmu? Bukankah kau sama sekali tidak peduli dengan rasa sakitku? Aku sudah mengatakannya padamu My Lady. Berhenti. Berhenti bertemu dengan si sialan itu. Tapi? Kau malah meninggalkanku dan pergi kabur dariku sejauh ke Australia! Apa kau tau seberapa menderitanya aku di sini? Hah!?” Yoshiki meracau bagai orang gila di atas Hana.

“M-Menderita? B-Benar. Yoshiki-kun pasti sangat menderita karena tidak mendapat darahku bukan?”

Kedua retina Yoshiki mengecil. Tidak menyangka Hana akan memandangnya serendah itu.

Emosinya semakin kacau. Bagai kesetanan Yoshiki semakin mempercepat pergerakkannya. Semakin memberikan stimulasi bagi kejantanannya dari pijatan kewanitaan Hana.

“Ahhh… Nggaaah….” Tak tahan lagi, rintihan Hana berubah menjadi desahan begitu kewanitaannya menanggapi respon kejantanan Yoshiki yang mulai berkedut.

Hingga—“Ngghh!!” Yoshiki menenggelamkan miliknya dalam untuk menyemburkan spermanya.

“Tidak. Kau tau betapa aku sangat tidak ingin menyakitimu. Aku akan menunggu sampai kau sendiri yang memberikannya padaku. Aku tidak mencium ataupun menyentuhmu jika kau tidak menyetujuinya. Aku tidak akan memaksamu. Aku bisa menahannya. Tapi kau—” Emosi Yoshiki kembali meluap, tanpa ampun, ia kembali menggerakkan miliknya di dalam milik Hana yang seharusnya telah penuh oleh spermanya.

“A-AAh—” Setengah terkejut Hana merintih. Pasalnya ia sendiri baru saja mengalami orgasme keduanya. Tanpa ada persiapan apapun kewanitaannya kembali diajak berkontraksi.

“Dia, raja iblis bodoh itu takut jika kau akan semakin membencinya jika menyakitimu. Aku tidak menyangka dia akan menjadi semenijijikkan ini karenamu,” ucapan Tomuro terlintas di benaknya.

“Nghh—haaah…hahhh…” Hana hanya mendesah di balik kacaunya isi kepalanya.

Dibalik kesibukkannya di bawah sana, Yoshiki kembali menenggelamkan wajahnya pada leher Hana. Memberikan beberapa sentuhan sensitive hingga beberapa kissmark kembali dibuatnya.

“My Lady…. Hahh…” Yoshiki berguman di tengah desahannya, “jangan pernah meninggalkanku lagi.”

Hana hanya bisa membulatkan kedua bola matanya mendengar kalimat itu. Ruangan yang bercahaya minimum itu menghalanginya melihat bagaimana ekspresi Yoshiki yang hanya berjarak dua puluh senti saja dari wajahnya.

Hana tidak tau lagi. Seolah ia sudah kehilangan kemampuan berpikirnya. Ia tidak bisa membohongi tubuhnya sendiri yang sama sekali tidak menolak setiap sentuhan yang dibuat Yoshiki. Bahkan bibirnya menyambut setiap ciuman yang datang.

Entah sudah berapa kali tubuhnya berkontraksi akibat orgasme. Gelombang kenikmatan terus menghantam dan mempermainkannya.

“Y-Yoshiki-k-kun…. Ahh….” Ia sudah gila. Ia mendesahkan nama pria yang saat ini sangat dibencinya.

Untuk saat ini Hana menyerah. Membiarkan sang iblis membuainya dalam kenikmatan duniawi. Membiarkan rahimnya terisi penuh oleh sperma sang iblis.

Yoshiki tidak berhenti. Sudah hampir ke lima kali ia memuncratkan benihnya pada tubuh Hana. Kewanitaan Hana bahkan seolah sudah tertutup oleh cairannya. Bercaknya pun bercecran pada perut, dada, leher, dan wajah Hana.

Ia tersenyum puas, “lihat dirimu My Lady. Seperti inilah seharusnya. Kau milikku,” ia mengusap lembut pipi Hana.

“Dan aku milikmu,” bersamaan dengan kalimat itu, Yoshiki kembali menyemburkan spermanya memenuhi rahim Hana. 


.


Suara derasnya pancaran air shower seolah menenggelamkan kegundahan Hana. Perempuan itu hanya bisa menyerah pada keadaan sekarang. 

Ia bersalah kepada Keigo Yasumoto. Seharusnya ia sama sekali tidak melibatkan pria itu pada urusannya. Seharusnya ia tahu, segala hal tidak akan berakhir baik jika melawan Yoshiki. Seperti dirinya saat ini yang berakhir di sebuah penjara bawah tanah. Masih baik Yoshiki memberinya beberapa fasilitas seperti kamar mandi yang ia gunakan saat ini.

Ia meraih handuk dan menggunakannya untuk mengeringkan rambut hitam pendeknya. Begitu kakinya melangkah ke depan cermin, yang ia dapati adalah pantulan dirinya tengah telanjang dan penuh dengan bercak kemerahan pada leher dan dadanya.

Diusapnya bercak itu, “tidak bisa hilang,” ia berguman.

Hana hanya tersenyum kecut, ‘bercak ini seperti kutukan saja,’ Ia melangkah lemah keluar kamar mandi, ‘kutukan yang diberikan oleh—’

Ucapan dalam benaknya terhenti. Sosok yang ada di pikirannya kini telah duduk di atas ranjangnya yang telah bersih.

‘—Kuroto Yoshiki. Lucifer.’

“Selamat pagi, My Lady,” sosok itu tersenyum dengan—lembut?

“A-Ah, Pagi,” begitu menyadari jika dirinya tengah bertelanjang, ia segera kembali memasuki kamar mandi dan menyembunyikan dirinya di balik dinding.

Sebuah tawa renyah terdengar, “kau masih malu bahkan setelah hampir empat tahun pernikahan kita?”

Tidak terdengar jawaban dari Hana.

“Hn… hari ini aku akan pergi ke Sapporo, My Lady.”

“Um, hati-hati di jalan,” respon Hana.

Yoshiki meletakkan sebuah ponsel di atas ranjang, “aku meninggalkan ponsel untukmu. Ponsel ini dilacak setiap aktivitasnya dan hanya bisa digunakan untuk berhubungan dengan ponselku. Tidak ada social media di dalamnya. Namun aku sudah menginstal dan membackup semua data game mu. Kau bisa menggunakannya ketika bosan.”

“Ah, um, terima kasih.”

Terdengar suara derit ranjang menandakan Yoshiki sudah bangkit berdiri, “tidak ada pelukan selamat jalan untukku?”

Dengan ragu Hana menunjukkan kepalanya dari balik dinding, ia mendapati pria itu tengah menundukkan kepalanya.

Hana bukanlah manusia tanpa hati. Memang benar ia sedang sangat marah pada pria yang membuat kakinya dirantai pada bola besi. 

“K-kali ini saja,” digerakkan oleh rasa kasihan karena melihat pria itu seperti murung, Hana mendekatkan dirinya yang kini sudah melilitkan handuk pada tubuh telanjangnya.

Walaupun tetap pada ekspresi stoicnya, namun mood pria itu seperti berubah serratus delapan puluh derajat. Ia menyambut tubuh Hana dan mendekapnya erat. Menyelipkan kepala dongkernya pada bahu Hana. Menarik nafas dalam-dalam menikmati aroma sabun dan shampoo Hana.

“Aku mencintaimu, My Lady.”


.


Hana hanya duduk terdiam di tepi ranjangnya. Beberapa set sarapan yang disiapkan para maid dibiarkannya tersaji tanpa ada minat untuk ia sentuh sedikit pun. Ia lapar. Bau daging hamburger yang diberi saus  berkali-kali menggodanya. Ia memang tidak berniat terlalu percaya diri, namun pemikiran jika ‘Yoshiki sengaja menyuruh menjadikan menu daging hamburger sebagai sarapanya karena Keigo memasakkan untuknya’ berkali-kali menggelitiknya. 

Hana menghelakan nafasnya dan kembali menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Kepalanya masih dipenuhi rasa bersalah dan cemas akan keberadaan Keigo Yasumoto. 

Di tengah ruangan tanpa adanya sumber penerangan dari luar, dan kakinya yang terikat pada bola besi besar semakin membuatnya terasa tertekan. 


.


“Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini Kuroto-sama,” beberapa pria nampak menundukkan kepalanya di hadapa Yoshiki sebelum akhirnya meninggalkannya sendirian.

Yoshiki menghelakan nafasnya berat. Diregangkannya ikatan dasi yang seolah mencekik lehernya.

Akhirnya ia sendirian. Kedua kakinya melangkah di tengah konstruksi jembatan yang dibangun dengan beberapa persen investasi dari perusahaannya.

Sebuah panggilan telefon masuk, sempat mengganggu ketangannya, “Selamat siang Kuroto-sama, Mr. Lee hari ini akan tiba di Sapporo pada petang hari. Restoran penjamuan sudah disiapkan,” Sekretarisnya dari anak perusahaannya yang lain yang bergerak di bidang sains memaparkan jadwalnya.

“Kirimkan lokasi restorannya. Pastikan restoran itu dipesan secara VVIP dan tertutup.”

“Baik, Kuroto-sama.”

Begitu panggilan itu ditutup, isi kepala Yoshiki seketika teralihkan kepada Hana. Kira-kira, apa yang sedang dilakukan istrinya tersebut?

Sebuah senyum tipis terulas ketika pria itu mulai membuka aplikasi chatting dan menuliskan sebuah pesan pada kontak yang ia beri nama sebagai ‘mine’.

‘Aku merindukanmu.’ Sebuah pesan sangat singkat untuk dikirimkan.

Kaki pria itu senantiasa melangkah dengan pandangannya tetap tertuju pada ponselnya. Mengharapkan sebuah balasan dari pesan yang dikirimkannya. Sayangnya, setelah mencapai mobilnya pun tidak ada pertanda adanya balasan dari istrinya, bahkan pesannya sama sekali tidak dibaca.

Dengan cepat dibukanya aplikasi pemantau CCTV yang ia pasang pada kamar—penjara—Hana melalui laptopnya.

Kedua onyx itu terfokus pada bagaimana pergerakkan Hana pada ruangan persegi serba minimalis itu. Setelah puas mengamati, pandangan pria itu meredup dengan kedua alisnya tertaut, kalut.

Hana sama sekali tidak memakan sarapannya. Bahkan sepertinya ponsel yang diberikannya tidak disentuh Hana sama sekali. Benda itu masih pada posisi terakhir ia memberikannya pada Hana. Begitu ponsel itu menyala karena notifikasi chatnya muncul, yang Hana lakukan hanya melihatnya sekilas kemudian kembali mengurung dirinya dibalik selimut.

“…. Ck.” Pria itu berdecak kesal.

Dikeluarkannya kembali ponselnya dan segera mendial ponsel Hana.

Dari tampilan CCTV Yoshiki bisa melihat ponsel yang ia berikan menyala, namun respon Hana hanya keluar dari balik selimut untuk melihat ponselnya setelah itu kembali mengurung dirinya pada selimut seolah tidak ingin berurusan dengan dirinya si penelepon.

“….” Yoshiki hanya menatap datar laptopnya.

Yoshiki sudah mengira hal ini akan terjadi. Oleh sebab itu ia memasang fitur auto-answer pada ponsel tersebut. Tepat pada satu menit, nada sambung terhenti dan tergantikan oleh suaranya.

“Aku tahu kau di sana My Lady.”

Seketika Hana keluar dari balik selimutnya. Terkejut oleh suara Yoshiki. Ia merangkak mendekat pada ponselnya dengan kebingungan.

“A-Ah, m-maaf aku dari toilet,” jawab Hana reflex berbohong.

“….” Yoshiki kembali terdiam beberapa saat, “Apa dibalik selimutmu ada toilet, My Lady?”

DEG. Hana terhenyak. Yoshiki tau. Ia tidaklah bodoh, seketika ia menolehkan kepalanya ke segala sudut kamar, mencari letak kamera yang mengintainya.

Sebuah seringai terukir tipis pada bibir pria itu, “Ada di pojok kanan atas,” ucapnya seolah menjawab pencarian Hana.

Hana menganga tidak percaya pada ponsel itu. Yoshiki benar-benar memata-matainya dengan CCTV.

“Hn, di kamar mandi pun ada.”

Hana tidak bisa mengatakan apapaun.

“Dan jika kau bertanya mengenai ponsel ini, aku sudah memasang fitur auto-answer jika kau tidak mengangkatnya dalam kurun waktu satu menit.”

Hana semakin tidak tau harus berkata apa. Di dalam ruangan sempit dan temaran itu Yoshiki mengendalikannya dari kejahuan. Memang pantas jika tempat ini disebut sebagai penjara.

“Hn, kenapa kau tidak memakan sarapanmu? Aku sudah menyediakan hamburger kesukaanmu.”

Tebakan Hana tepat sasaran. Yoshiki sengaja menyiapkan menu ini untuknya.

“Aku… tidak lapar,” jawab Hana lemah, “Dan, aku hanya menyukai hamburger sesuai resep keluarga Yasumoto.”

Yoshiki memijat pelipisnya, “bahkan sampai detik ini kau masih membuatku cemburu padanya,” ia berguman lemah, “lalu apa maumu? Kau ingin aku menculik ibu si sialan itu dan mebuatkan hamburger untukmu?”

“Aku tidak lapar, Yoshiki-kun,” namun begitu mendengar desahan kesal khas dari ujung telepon itu, Hana segera mengganti ucapannya, “aku akan memakannya… nanti…” ujarnya putus asa, tak ingin menambah masalah lain.

“Pastikan kau makan dengan benar.”

“Umm,” Hana mengangguk mengerti.

Merasa moodnya semakin ringan, Yoshiki mengendurkan ikatan dasinya dan melepas kancing kemejanya paling atas. Disandarkannya punggungnya pada jok mobil lebih dalam.

“Karena kau tidak membalas chat yang sebelumnya kukirimkan kepadamu, aku akan mengatakannya sekali lagi. Aku merindukanmu, My Lady,” ucapnya disusul dengan sebuah senyuman tipis.

“A-ah,” Hana terdengar kebingungan, “Ini baru beberapa jam sejak Yoshiki-kun berangkat.”

“Aku tau. Tapi aku memang merindukanmu saat ini. Ada sesuatu yang kau inginkan dari Sapporo? Aku akan pulang cukup larut mungkin,” Ah pria itu terlena. Ia bisa bicara sesantai itu kepada istrinya. Sudah berapa lama ia menunggu hal ini? Ia tidak peduli lagi. Ia bahagia.

Read More ->>

Kamis, 04 Februari 2021

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 58]

 CHAPTER 58: FOUND YOU

“Sebenarnya ini kesalahanku, aku yang sudah membuat semuanya menjadi seperti ini,” wanita itu berjalan perlahan dan serba hati-hati.

“Kenapa bisa begitu?” Hana berjalan di samping Graham perlahan mengikuti kecepatannya.

Sebelum bercerita, Graham tersenyum ragu, “Sebelumnya aku sudah menikah dengan seorang pria mapan. Dia seorang manajer di perusahaan yang bergerak di bidang percetakan kecil. Hubungan kami tidak memiliki masalah yang begitu berarti. 5 tahun menikah dengannya, kebodohan mendatangiku. Aku bertemu dengan cinta pertamaku saat sekolah. Dia baru kembali dari luar negri. Ketika ada kumpul alumni aku sangat terkejut dia datang, dan perasaan suka itu kembali datang. Kami bertukar kontak. Saling berbicara di aplikasi. Suamiku tidak tau semua itu. Dia percaya kepadaku. Selanjutnya semuanya menjadi salah. Aku tidur dengannya dan hamil.”

Hana tidak bisa berkata-kata apapun mendengarnya.

Graham mengelus perutnya, “benar ini adalah anaknya. Aku tidak akan berbohong kepada suamiku mengatakan jika ini anaknya. Ketika aku jujur kepadanya, dia hanya diam. Namun aku tau dia sangat marah kepadaku. Dan aku saat itu merasa sangat siap jika suamiku menceraikanku saat itu juga. Namun dia adalah pria terbaik yang pernah kutemui. Dia mau bertanggung jawab pada anak yang bukan miliknya. Dia tidak menceraikanku. Dengan janji aku tidak akan mengulangi kebodohanku. Kehidupan kami berjalan seperti sedia kala. Empat bulan kemudian aku kembali melakukan hal bodoh. Aku kembali tergoda pada cinta pertamaku. Aku bertemu diam-diam dengannya dan pergi menonton bioskop bersamanya. Selanjutnya kamu tau apa yang akan terjadi.”

Hana tidak mengatakan apapun sementara tubuhnya terus bergerak membawa kantung plastik sampahnya.

“Kami bertemu dengan suamiku ketika dia sedang membeli anggur di mall untuk menjamu salah satu tamu pentingnya. Dia kecewa denganku. Tentu saja. Setelah itu kami benar-benar bercerai.”

“Lalu bagaimana ayah dari anak ini? Cinta pertama Mrs. Graham itu?”

“Dia dipenjara karena penyelundupan narotika sejam 3 bulan lalu. Lagipula sepertinya dia tidak berniat bertanggung jawab sama sekali,” Graham berujar santai, seolah kekacauan yang terjadi sudah ia terima dengan lapang dada.

Hana kembali bungkam.

“Hal ini menjadi pelajaran bagiku. Jangan pernah mengkhianati seseorang yang tulus. Ah taxi onlineku sudah datang. Sudah dulu ya,” Graham tersenyum manis sebelum akhirnya menghilang menuju mobil yang berhenti di depan apartemen.

Hana mengangguk, “hati-hati di jalan Mrs. Graham.”

Begitu ia meletakan plastic sampahnya pada lokasi pembuangan, ia masih tidak bisa berhenti memikirkan ucapan si wanita hamil itu.


.


Senja telah tiba. Seluruh kota nampak tenggelam oleh warna jingga kemerahan sang surya. Hampir seluruh warga telah memutuskan untuk mengakhiri aktivitas di luar ruangan mereka untuk beristirahat.

Namun tidak dengan Yosiki Kuroto. Pria itu masih asyik meniupkan asap rokok yang telah ia hisap di sebuah bangku taman di dekat danau. Pandangannya dimanjakan oleh kilauan sinar surya yang terpantul pada permukaan danau. Walau begitu ia sama sekali tidak merasakan ketenangan pasalnya lokasi bangku yang ia pilih tepat berada di samping jalan raya.

Getaran dari ponselnya tidak pernah berhenti barang sedetik pun. Polisi Australia. Yoshiki sudah bisa menduga jika mereka menginginkan informasi darinya mengenai bawahannya yang kini malah menjadi buron. 


.


Kaki Hana melangkah kecil menapaki beabtuan yang ditata apik membentuk suatu lintasan setapak diantara rerumputan taman. Daerah taman ini memang biasa lalui untuk menuju apartemennya dari pusat kota untuk berbelanja. Namun kali ini sesuatu nampak menariknya untuk berjalan melalui taman daripada sekedar melintas dari luar. Pikir Hana, tidak ada salahnya menikmati suasana senja taman.

Lengan kirinya ia gunakan untuk memeluk buku-buku belanjaannya, tangan kanannya ia gunakan untuk memainkan ponsel. Cukup berbahaya karena Hana sama sekali tidak memfokuskan pandangannya pada jalan namun pada ponselnya. Ditambah, pikirannya pun melayang memikirkan mantan suaminya. Kuroto Yoshiki.

Tanpa berpikir lebih jauh, jemarinya sudah mengetikkan username Instagram Yoshiki. Begitu profilnya terbuka yang nampak adalah angka dengan jutaan pengikut dan hanya ratusan yang ia ikuti. Isi dari ratusan itu adalah tokoh-tokoh penting dan akun resmi perusahaan, dan salah satu yang beruntung dari ratusan itu, sebuah akun biasa, yaitu akunnya.


.


Moodnya hancur. Ia benar-benar kesal, lelah, dan marah seolah seluruh emosi negative menenggelamkan dirinya. Tanpa sadar rokok yang sedari tadi menempel pada bibirnya ia hisap dengan keras membuat benda panjang itu terbakar dengan cepat.

Ia membutuhkan Hana. Ia membutuhkan perempuan itu untuk meringankan bebannya.

Sesuatu seperti dejavu menyapanya. Benar juga. Ia sedang duduk di sebuah bangku taman. Kondisi yang tidak jauh berbeda dengan mimpinya. Yang berbeda hanya, tidak ada Hana di sampingnya.

Sebuah langkah kaki membuat kepala malas Yoshiki menoleh ke sumber suara. Detik itu juga, onyx gelap sang iblis membulat sempurna. Hanya beberapa meter darinya sosok yang selama ini ia cari dan pertanyakan di mana keberadaanya tengah berjalan santai membawa belanjaan berupa buku dan pandangannya tertuju pada ponsel di tangannya.

“My… Lady…?”


.


Jemari Hana mengusap highlight yang disimpan dalam judul “Mine”. Seperti biasa, Yoshiki selalu posesif dengan segala cara yang ia lakukan. Beberapa deretan foto muncul. Mulai dari beberapa selfie dirinya sendirian yang membuatnya malu dan bertanya-tanya kenapa Yoshiki mau memajang fotonya yang sangat biasa saja, hingga deretan foto manis keduanya di berbagai tempat dan kondisi.

“My… Lady…?”

Oh, apakah dia sedang berhalusinasi mendengar Yoshiki memanggilnya?

“MY LADY!”

Seketika Hana mendongkakkan wajahnya ke sumber suara. Di ujung jalan setapaknya itu, sosok Kuroto Yoshiki berdiri.

GRABH

Belum habis rasa terkejutnya, sesuatu mendekap mulutnya dan menariknya paksa memasuki sebuah vaan yang seketika melaju dengan kencang.

“!!!” Baik Yoshiki maupun Hana, keduanya sama-sama terkejut.

‘Yoshiki-kun! Itu tadi Yoshiki-kun! Kenapa dia bisa tahu aku ada di sini? Gawat. Gawat sekali!’ Sama sekali tidak memperdulikan keadaannya yang diculik oleh pria-pria yang terus berguman senang ‘Jepang! Cewek Jepang! Kita dapat cewek Jepang!’, kepala Hana malah terfokus pada sosok Yoshiki yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


.


“Grrrrttt…” Rahang Yoshiki bergemelatuk.

Sebuah mobil vans hitam baru saja menculik istrinya dan langsung kabur dengan kecepatan tinggi.

Tanpa ia sadari, tubuhnya mengalirkan aura dan partikel-partikel berwarna gelap sebelum akhirnya tubuh pria itu melesat dengan cepat menyusul si mobil vans.


.


Di dalam mobil sempit yang melaju dengan kencang itu Hana menyadari jika di dalam tidak hanya ada dirinya dan tiga orang pria yang menatapnya lapar. Tapi ada seorang lagi, seorang perempuan tergeletak dan tubuhnya dipenuhi bercak cairan putih kental, siapapun tau jika itu sperma dan perempuan itu entah hidup atau mati, baru saja diperkosa massal.

 Ah gawat. Sedari tadi ia sibuk memikirkan Yoshiki sampai tidak sadar posisinya.

BRAAAAAK

Bersamaan dengan hantaman itu, mobil vans yang tadinya melaju kencang tanpa hambatan mulai terdorong keluar jalur dibarengi teriakan panik kebingungan seluruh penumpang.

“What the fuck! What the fuck!” Tidak ada dari para penculik itu yang tidak mengumpat.

Vans itu mengalami hantaman dengan pagar pembatas jalan dan terhenti seketika.

“Apa yang terjadi hah?” Salah satu preman nampak meminta kejelasan pada supir.

Pertanyaannya tidak bisa dijawab oleh sang supir tentu saja. Tapi suara patahan besi yang terdengar dari pintu geser vans membawa jawaban untuk si preman.

Seorang pria dengan setelan jas gelapnya membuka paksa pintu geser mobil hingga menimbulkan suara kernyitan logam. Membuat tidak ada dari seorangpun di dalam mobil tidak terkejut.

“Bloody hell! Dia membuka pintunya paksa dari luar!”

“Apa-apaan orang ini!”

“Monster!” Salah satu dari mereka nampak menodongkan pistol.

“Hn, tembak saja,” pria itu malah dengan percaya diri menempelkan kepalanya pada moncong pistol.

“Sialan! Matilah!”

DOR. Suara tembakkan yang memekakkan telinga terdengar, membuat siapapun akan tanpa sadar menutup matanya walau sejenak. Termasuk Hana.

BRUK.

Bukannya sang pria yang tumbang, namun malah si pemegang pistol yang kini terkapar di jalanan dengan kepala mengalirkan darah dengan derasnya. Entah apa yang terjadi dalam sepersekian detik tadi.

Seringai muncul di bibir sang pria, “itulah akibat jika kalian berani menyentuh milikku.”

Tidak ada dari seorang pun diantara mereka yang tidak merinding mendengar ucapan pria itu barusan. Tak terkecuali Hana. Begitu merasa cengkraman pada tubuhnya telah sirna, instingnya memerintahkan dirinya untuk segera enyah dari tempat ini ketika semua pandangan sibuk terarah pada sang pria dan sang pria sibuk dengan penghakimannya.

Nafas Hana semakin memberat seiring pompa jantungnya yang semakin cepat. Ia tidak tau kemana ia pergi. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah berlari. Tangannya berkali-kali merogoh sakunya untuk menemukan ponselnya, namun sayang sekali benda itu sudah dilempar jauh oleh para preman saat menculiknya.

Ia harus kabur. Ia tidak boleh bertemu Yoshiki. Semuanya akan sia-sia. Perjuangan Keigo akan sia-sia.

“My Lady!” Dari arah belakang sayup-sayup terdengar suara panggilan untuknya.

Hana tidak berani menoleh untuk memastikkan. Yoshiki sudah menyelesaikan masalahnya hanya dalah hitungan saja. 

Di tengah kerumunan manusia yang penasaran oleh kejadian itu, Hana berlari menerobos dan tanpa pikir panjang memasuki sebuah stasiun kereta bawah tanah, semakin berusaha menyembunyikan dirinya di tengah keramaian.

Pandangannya mengabur, langkahnya melemah. Sepertinya efek obat tidur yang sempat ia cium ketika diculik mulai terasa. Ia harus segera menemukan tempat persembunyian.

Ting

Suara denting lift seolah memberikan Hana sedikit harapan. Dengan segala usahanya kakinya bergerak sehati-hati mungkin menuju lift dan memencet-mencet tombolnya dengan panik, pasalnya lift tersebut baru saja naik.

‘Cepat… cepat… cepat…’ Teriak Hana dalam hati panik. Dari sudut matanya ia berhasil melihat Yoshiki semakin mendekat, namun nampaknya pria itu masih tidak mengetahui keberadannya karena kepalanya masih menoleh ke segala penjuru.

Ting

Begitu pintu lift terbuka, tak membuang waktu lagi Hana dengan tubuh lemahnya meringsak masuk. Pandangannya mulai mengabur. Dengan tubuh tertunduk ia berusaha menekan tombol tutup lift sekuat tenaga.

Mesin itu menuruti kemauan Hana, pintunya perlahan tertutup—BRAK

Hana menoleh lemah pada pintu lift. Dan di sana berdiri Kuroto Yoshiki dengan wajah khawatirnya.

Berikutnya pandangannya telah ditelan kegelapan.


.


Beberapa jam berlaru semenjak Keigo tiba di apartemen tanpa adanya keberadaan Hana. Malam sudah menelan matahari dengan sempurna. Walaupun begitu tidak peduli seberapa banyak ia mencoba menelepon ponsel Hana, sama sekali tidak ada pertanda panggilannya hendak terespon.

Pria dengan paras tampan itu hanya bisa mengedarkan tubuhnya berkeliling ruangan dengan panik. Satu-satunya kesimpulan yang ia dapat adalah, Hana telah mendapat masalah, dan masalah itu pasti berhubungan dengan iblis itu, Lucifer, Kuroto Yoshiki. 

DRRRTTT

Pemikirannya dikacaukan oleh getaran ponselnya. Nama Hana tertera di sana. Tanpa banyak pikir, pria itu menekan tombol dial dan meneriakkan nama sang pemanggil, “Hana kamu di mana?”

“Selamat malam. Kami dari kepolisian bersama dengan dinas imigrasi.”

“Eh?”


.


Perlahan tapi pasti kerjapan kecil pada kedua kelopak matanya semakin intens, hingga bola matanya berhasil menyesuaikan diri dengan ruangan tanpa cahaya.

“Selamat pagi. My Lady.” Sebuah suara baritone berat seolah membawa kesempurnaan kesadarannya.

Pria itu, Kuroto Yoshiki, duduk di sebuah sofa di sebrang ranjang yang ia gunakan.

Begitu ia berusaha menggerakkan tubuhnya, sadarlah jika salah satu kakinya terikat oleh rantai yang sangat panjang dengan ujungnya terikat pada bola besi yang lumayan besar dan berat.

“Ini… dimana?” Suara lemahnya bertanya ragu.

“Tentu saja, di mansion kita My Lady,” Yoshiki menjawab santai.

Hana sangat terejut, namun ia lebih memilih menyembunyikan keterkejutannya. Ia hanya ingat jika ia berlari ke dalam lift dan pingsan oleh obat tidur yang ia hirup. Namun ia tidak menyangka akan terbangun di Jepang, terlebih di dalam mansion Yoshiki.

“Ah… Keigo-kun…” gumannya ragu begitu pada kepalanya terlintas sosok yang sudah susah payah membawanya kabur dengan segala perjuangannya.

PRAAANGG!!

Seketika suara pecahan menggema pada ruangan yang terbuat dari beton itu. Kuroto Yoshiki baru saja menyibakkan gelas dan botol winenya hingga membentur lantai.

Perlahan, sosok dibalik kemeja hitam itu bangkit dan berjalan mendekati Hana yang hampir beringsut ketakutan dan terkejut.

“My Lady kau tau kan jika kau berada di penjara bawah tanah? Setiap penjara selalu memiliki peraturan bukan? Peraturan penjara ini, terkhusus untukmu…” Yoshiki menarik dagu Hana untuk memandang wajahnya yang tersembunyi di balik rambut dongker gelapnya, “… tidak ada nama pria lain yang boleh kau sebut di sini selain namaku.”

“Hn, tapi untuk kali ini akan kuberikan informasi untukmu,” Yoshiki meletakkan pantatnya di tepi ranjang, “Keigo-sialan-mu itu sedang ditahan pihak imigrasi karena passport dan visa palsunya.”

Mendengar hal tersebut Hana hanya bisa menundukkan wajahnya. Ia kembali memberikan Keigo masalah.

Chu

Sebuah ciuman mendarat pada bibir Hana.

Terkejut, cepat-cepat Hana berusaha mendorong tubuh Yoshiki. Namun tangan pria itu lebih tanggap menangkap kedua tangan Hana dan menahannya.

Tangannya terkunci, namun Hana tidak menyerah. Ia menggelengkan kepalanya sekuat tenaga menghindari ciuman Yoshiki.

Berhasil.

Hening sejenak. Hana hanya diam dengan tubuh tegangnya. Kepalanya menghadap kiri dengan wajahnya tersembunyi dibalik rambutnya yang berantakan.

BREEEET. SRAAAAT.

Semua terjadi begitu saja. Kancing kemeja yang Hana kenakan ditarik paksa hingga kancingnya berterbangan dan membentur lantai disusul kemeja itu sendiri, meninggalkan tubuh atas Hana yang hanya menyisahkan branya.

Semuanya terjadi begitu cepat. Tidak ada kesempatan bagi Hana untuk menolak. Segala rangsangan yang diberikan sang pria membuatnya kelabakan setengah mati. Pria itu benar-benar ahli menaklukkan tubuhnya. Remasa, kecupan, semuanya sungguh memabukkan.

Nafas pria itu terasa berat menghembus lehernya yang kini telah penuh oleh bercak kemerahan hasil karya sang pria.

“Milikku…” pria itu berguman entah kepada siapa.

Clep

Jari pria itu telah menembus perbatasan Hana. Kedua jari sang pria bergantian memanjakkan bagian vitalnya. Membuat cairan-cairan berupa lendir mengalir deras dari sana.

“H-Hentikan… Hahh…”

“Hentikan? Dengan kau mendesah senikmat itu?” Pria itu berujar dengan nada merendahkannya.

Seolah semakin mengejek Hana, jemari pria itu semakin gila bergerak di bawah sana.

“A-Aaah---Unggghhh!!” Hana hanya bisa mengigit bibirnya dikala tubuhnya merasakan gejolak hebat. Ia orgasme oleh jemari Yoshiki.

Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.