CHAPTER 58: FOUND YOU
“Sebenarnya ini kesalahanku, aku yang sudah membuat semuanya menjadi seperti ini,” wanita itu berjalan perlahan dan serba hati-hati.
“Kenapa bisa begitu?” Hana berjalan di samping Graham perlahan mengikuti kecepatannya.
Sebelum bercerita, Graham tersenyum ragu, “Sebelumnya aku sudah menikah dengan seorang pria mapan. Dia seorang manajer di perusahaan yang bergerak di bidang percetakan kecil. Hubungan kami tidak memiliki masalah yang begitu berarti. 5 tahun menikah dengannya, kebodohan mendatangiku. Aku bertemu dengan cinta pertamaku saat sekolah. Dia baru kembali dari luar negri. Ketika ada kumpul alumni aku sangat terkejut dia datang, dan perasaan suka itu kembali datang. Kami bertukar kontak. Saling berbicara di aplikasi. Suamiku tidak tau semua itu. Dia percaya kepadaku. Selanjutnya semuanya menjadi salah. Aku tidur dengannya dan hamil.”
Hana tidak bisa berkata-kata apapun mendengarnya.
Graham mengelus perutnya, “benar ini adalah anaknya. Aku tidak akan berbohong kepada suamiku mengatakan jika ini anaknya. Ketika aku jujur kepadanya, dia hanya diam. Namun aku tau dia sangat marah kepadaku. Dan aku saat itu merasa sangat siap jika suamiku menceraikanku saat itu juga. Namun dia adalah pria terbaik yang pernah kutemui. Dia mau bertanggung jawab pada anak yang bukan miliknya. Dia tidak menceraikanku. Dengan janji aku tidak akan mengulangi kebodohanku. Kehidupan kami berjalan seperti sedia kala. Empat bulan kemudian aku kembali melakukan hal bodoh. Aku kembali tergoda pada cinta pertamaku. Aku bertemu diam-diam dengannya dan pergi menonton bioskop bersamanya. Selanjutnya kamu tau apa yang akan terjadi.”
Hana tidak mengatakan apapun sementara tubuhnya terus bergerak membawa kantung plastik sampahnya.
“Kami bertemu dengan suamiku ketika dia sedang membeli anggur di mall untuk menjamu salah satu tamu pentingnya. Dia kecewa denganku. Tentu saja. Setelah itu kami benar-benar bercerai.”
“Lalu bagaimana ayah dari anak ini? Cinta pertama Mrs. Graham itu?”
“Dia dipenjara karena penyelundupan narotika sejam 3 bulan lalu. Lagipula sepertinya dia tidak berniat bertanggung jawab sama sekali,” Graham berujar santai, seolah kekacauan yang terjadi sudah ia terima dengan lapang dada.
Hana kembali bungkam.
“Hal ini menjadi pelajaran bagiku. Jangan pernah mengkhianati seseorang yang tulus. Ah taxi onlineku sudah datang. Sudah dulu ya,” Graham tersenyum manis sebelum akhirnya menghilang menuju mobil yang berhenti di depan apartemen.
Hana mengangguk, “hati-hati di jalan Mrs. Graham.”
Begitu ia meletakan plastic sampahnya pada lokasi pembuangan, ia masih tidak bisa berhenti memikirkan ucapan si wanita hamil itu.
.
Senja telah tiba. Seluruh kota nampak tenggelam oleh warna jingga kemerahan sang surya. Hampir seluruh warga telah memutuskan untuk mengakhiri aktivitas di luar ruangan mereka untuk beristirahat.
Namun tidak dengan Yosiki Kuroto. Pria itu masih asyik meniupkan asap rokok yang telah ia hisap di sebuah bangku taman di dekat danau. Pandangannya dimanjakan oleh kilauan sinar surya yang terpantul pada permukaan danau. Walau begitu ia sama sekali tidak merasakan ketenangan pasalnya lokasi bangku yang ia pilih tepat berada di samping jalan raya.
Getaran dari ponselnya tidak pernah berhenti barang sedetik pun. Polisi Australia. Yoshiki sudah bisa menduga jika mereka menginginkan informasi darinya mengenai bawahannya yang kini malah menjadi buron.
.
Kaki Hana melangkah kecil menapaki beabtuan yang ditata apik membentuk suatu lintasan setapak diantara rerumputan taman. Daerah taman ini memang biasa lalui untuk menuju apartemennya dari pusat kota untuk berbelanja. Namun kali ini sesuatu nampak menariknya untuk berjalan melalui taman daripada sekedar melintas dari luar. Pikir Hana, tidak ada salahnya menikmati suasana senja taman.
Lengan kirinya ia gunakan untuk memeluk buku-buku belanjaannya, tangan kanannya ia gunakan untuk memainkan ponsel. Cukup berbahaya karena Hana sama sekali tidak memfokuskan pandangannya pada jalan namun pada ponselnya. Ditambah, pikirannya pun melayang memikirkan mantan suaminya. Kuroto Yoshiki.
Tanpa berpikir lebih jauh, jemarinya sudah mengetikkan username Instagram Yoshiki. Begitu profilnya terbuka yang nampak adalah angka dengan jutaan pengikut dan hanya ratusan yang ia ikuti. Isi dari ratusan itu adalah tokoh-tokoh penting dan akun resmi perusahaan, dan salah satu yang beruntung dari ratusan itu, sebuah akun biasa, yaitu akunnya.
.
Moodnya hancur. Ia benar-benar kesal, lelah, dan marah seolah seluruh emosi negative menenggelamkan dirinya. Tanpa sadar rokok yang sedari tadi menempel pada bibirnya ia hisap dengan keras membuat benda panjang itu terbakar dengan cepat.
Ia membutuhkan Hana. Ia membutuhkan perempuan itu untuk meringankan bebannya.
Sesuatu seperti dejavu menyapanya. Benar juga. Ia sedang duduk di sebuah bangku taman. Kondisi yang tidak jauh berbeda dengan mimpinya. Yang berbeda hanya, tidak ada Hana di sampingnya.
Sebuah langkah kaki membuat kepala malas Yoshiki menoleh ke sumber suara. Detik itu juga, onyx gelap sang iblis membulat sempurna. Hanya beberapa meter darinya sosok yang selama ini ia cari dan pertanyakan di mana keberadaanya tengah berjalan santai membawa belanjaan berupa buku dan pandangannya tertuju pada ponsel di tangannya.
“My… Lady…?”
.
Jemari Hana mengusap highlight yang disimpan dalam judul “Mine”. Seperti biasa, Yoshiki selalu posesif dengan segala cara yang ia lakukan. Beberapa deretan foto muncul. Mulai dari beberapa selfie dirinya sendirian yang membuatnya malu dan bertanya-tanya kenapa Yoshiki mau memajang fotonya yang sangat biasa saja, hingga deretan foto manis keduanya di berbagai tempat dan kondisi.
“My… Lady…?”
Oh, apakah dia sedang berhalusinasi mendengar Yoshiki memanggilnya?
“MY LADY!”
Seketika Hana mendongkakkan wajahnya ke sumber suara. Di ujung jalan setapaknya itu, sosok Kuroto Yoshiki berdiri.
GRABH
Belum habis rasa terkejutnya, sesuatu mendekap mulutnya dan menariknya paksa memasuki sebuah vaan yang seketika melaju dengan kencang.
“!!!” Baik Yoshiki maupun Hana, keduanya sama-sama terkejut.
‘Yoshiki-kun! Itu tadi Yoshiki-kun! Kenapa dia bisa tahu aku ada di sini? Gawat. Gawat sekali!’ Sama sekali tidak memperdulikan keadaannya yang diculik oleh pria-pria yang terus berguman senang ‘Jepang! Cewek Jepang! Kita dapat cewek Jepang!’, kepala Hana malah terfokus pada sosok Yoshiki yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
.
“Grrrrttt…” Rahang Yoshiki bergemelatuk.
Sebuah mobil vans hitam baru saja menculik istrinya dan langsung kabur dengan kecepatan tinggi.
Tanpa ia sadari, tubuhnya mengalirkan aura dan partikel-partikel berwarna gelap sebelum akhirnya tubuh pria itu melesat dengan cepat menyusul si mobil vans.
.
Di dalam mobil sempit yang melaju dengan kencang itu Hana menyadari jika di dalam tidak hanya ada dirinya dan tiga orang pria yang menatapnya lapar. Tapi ada seorang lagi, seorang perempuan tergeletak dan tubuhnya dipenuhi bercak cairan putih kental, siapapun tau jika itu sperma dan perempuan itu entah hidup atau mati, baru saja diperkosa massal.
Ah gawat. Sedari tadi ia sibuk memikirkan Yoshiki sampai tidak sadar posisinya.
BRAAAAAK
Bersamaan dengan hantaman itu, mobil vans yang tadinya melaju kencang tanpa hambatan mulai terdorong keluar jalur dibarengi teriakan panik kebingungan seluruh penumpang.
“What the fuck! What the fuck!” Tidak ada dari para penculik itu yang tidak mengumpat.
Vans itu mengalami hantaman dengan pagar pembatas jalan dan terhenti seketika.
“Apa yang terjadi hah?” Salah satu preman nampak meminta kejelasan pada supir.
Pertanyaannya tidak bisa dijawab oleh sang supir tentu saja. Tapi suara patahan besi yang terdengar dari pintu geser vans membawa jawaban untuk si preman.
Seorang pria dengan setelan jas gelapnya membuka paksa pintu geser mobil hingga menimbulkan suara kernyitan logam. Membuat tidak ada dari seorangpun di dalam mobil tidak terkejut.
“Bloody hell! Dia membuka pintunya paksa dari luar!”
“Apa-apaan orang ini!”
“Monster!” Salah satu dari mereka nampak menodongkan pistol.
“Hn, tembak saja,” pria itu malah dengan percaya diri menempelkan kepalanya pada moncong pistol.
“Sialan! Matilah!”
DOR. Suara tembakkan yang memekakkan telinga terdengar, membuat siapapun akan tanpa sadar menutup matanya walau sejenak. Termasuk Hana.
BRUK.
Bukannya sang pria yang tumbang, namun malah si pemegang pistol yang kini terkapar di jalanan dengan kepala mengalirkan darah dengan derasnya. Entah apa yang terjadi dalam sepersekian detik tadi.
Seringai muncul di bibir sang pria, “itulah akibat jika kalian berani menyentuh milikku.”
Tidak ada dari seorang pun diantara mereka yang tidak merinding mendengar ucapan pria itu barusan. Tak terkecuali Hana. Begitu merasa cengkraman pada tubuhnya telah sirna, instingnya memerintahkan dirinya untuk segera enyah dari tempat ini ketika semua pandangan sibuk terarah pada sang pria dan sang pria sibuk dengan penghakimannya.
Nafas Hana semakin memberat seiring pompa jantungnya yang semakin cepat. Ia tidak tau kemana ia pergi. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah berlari. Tangannya berkali-kali merogoh sakunya untuk menemukan ponselnya, namun sayang sekali benda itu sudah dilempar jauh oleh para preman saat menculiknya.
Ia harus kabur. Ia tidak boleh bertemu Yoshiki. Semuanya akan sia-sia. Perjuangan Keigo akan sia-sia.
“My Lady!” Dari arah belakang sayup-sayup terdengar suara panggilan untuknya.
Hana tidak berani menoleh untuk memastikkan. Yoshiki sudah menyelesaikan masalahnya hanya dalah hitungan saja.
Di tengah kerumunan manusia yang penasaran oleh kejadian itu, Hana berlari menerobos dan tanpa pikir panjang memasuki sebuah stasiun kereta bawah tanah, semakin berusaha menyembunyikan dirinya di tengah keramaian.
Pandangannya mengabur, langkahnya melemah. Sepertinya efek obat tidur yang sempat ia cium ketika diculik mulai terasa. Ia harus segera menemukan tempat persembunyian.
Ting
Suara denting lift seolah memberikan Hana sedikit harapan. Dengan segala usahanya kakinya bergerak sehati-hati mungkin menuju lift dan memencet-mencet tombolnya dengan panik, pasalnya lift tersebut baru saja naik.
‘Cepat… cepat… cepat…’ Teriak Hana dalam hati panik. Dari sudut matanya ia berhasil melihat Yoshiki semakin mendekat, namun nampaknya pria itu masih tidak mengetahui keberadannya karena kepalanya masih menoleh ke segala penjuru.
Ting
Begitu pintu lift terbuka, tak membuang waktu lagi Hana dengan tubuh lemahnya meringsak masuk. Pandangannya mulai mengabur. Dengan tubuh tertunduk ia berusaha menekan tombol tutup lift sekuat tenaga.
Mesin itu menuruti kemauan Hana, pintunya perlahan tertutup—BRAK
Hana menoleh lemah pada pintu lift. Dan di sana berdiri Kuroto Yoshiki dengan wajah khawatirnya.
Berikutnya pandangannya telah ditelan kegelapan.
.
Beberapa jam berlaru semenjak Keigo tiba di apartemen tanpa adanya keberadaan Hana. Malam sudah menelan matahari dengan sempurna. Walaupun begitu tidak peduli seberapa banyak ia mencoba menelepon ponsel Hana, sama sekali tidak ada pertanda panggilannya hendak terespon.
Pria dengan paras tampan itu hanya bisa mengedarkan tubuhnya berkeliling ruangan dengan panik. Satu-satunya kesimpulan yang ia dapat adalah, Hana telah mendapat masalah, dan masalah itu pasti berhubungan dengan iblis itu, Lucifer, Kuroto Yoshiki.
DRRRTTT
Pemikirannya dikacaukan oleh getaran ponselnya. Nama Hana tertera di sana. Tanpa banyak pikir, pria itu menekan tombol dial dan meneriakkan nama sang pemanggil, “Hana kamu di mana?”
“Selamat malam. Kami dari kepolisian bersama dengan dinas imigrasi.”
“Eh?”
.
Perlahan tapi pasti kerjapan kecil pada kedua kelopak matanya semakin intens, hingga bola matanya berhasil menyesuaikan diri dengan ruangan tanpa cahaya.
“Selamat pagi. My Lady.” Sebuah suara baritone berat seolah membawa kesempurnaan kesadarannya.
Pria itu, Kuroto Yoshiki, duduk di sebuah sofa di sebrang ranjang yang ia gunakan.
Begitu ia berusaha menggerakkan tubuhnya, sadarlah jika salah satu kakinya terikat oleh rantai yang sangat panjang dengan ujungnya terikat pada bola besi yang lumayan besar dan berat.
“Ini… dimana?” Suara lemahnya bertanya ragu.
“Tentu saja, di mansion kita My Lady,” Yoshiki menjawab santai.
Hana sangat terejut, namun ia lebih memilih menyembunyikan keterkejutannya. Ia hanya ingat jika ia berlari ke dalam lift dan pingsan oleh obat tidur yang ia hirup. Namun ia tidak menyangka akan terbangun di Jepang, terlebih di dalam mansion Yoshiki.
“Ah… Keigo-kun…” gumannya ragu begitu pada kepalanya terlintas sosok yang sudah susah payah membawanya kabur dengan segala perjuangannya.
PRAAANGG!!
Seketika suara pecahan menggema pada ruangan yang terbuat dari beton itu. Kuroto Yoshiki baru saja menyibakkan gelas dan botol winenya hingga membentur lantai.
Perlahan, sosok dibalik kemeja hitam itu bangkit dan berjalan mendekati Hana yang hampir beringsut ketakutan dan terkejut.
“My Lady kau tau kan jika kau berada di penjara bawah tanah? Setiap penjara selalu memiliki peraturan bukan? Peraturan penjara ini, terkhusus untukmu…” Yoshiki menarik dagu Hana untuk memandang wajahnya yang tersembunyi di balik rambut dongker gelapnya, “… tidak ada nama pria lain yang boleh kau sebut di sini selain namaku.”
“Hn, tapi untuk kali ini akan kuberikan informasi untukmu,” Yoshiki meletakkan pantatnya di tepi ranjang, “Keigo-sialan-mu itu sedang ditahan pihak imigrasi karena passport dan visa palsunya.”
Mendengar hal tersebut Hana hanya bisa menundukkan wajahnya. Ia kembali memberikan Keigo masalah.
Chu
Sebuah ciuman mendarat pada bibir Hana.
Terkejut, cepat-cepat Hana berusaha mendorong tubuh Yoshiki. Namun tangan pria itu lebih tanggap menangkap kedua tangan Hana dan menahannya.
Tangannya terkunci, namun Hana tidak menyerah. Ia menggelengkan kepalanya sekuat tenaga menghindari ciuman Yoshiki.
Berhasil.
Hening sejenak. Hana hanya diam dengan tubuh tegangnya. Kepalanya menghadap kiri dengan wajahnya tersembunyi dibalik rambutnya yang berantakan.
BREEEET. SRAAAAT.
Semua terjadi begitu saja. Kancing kemeja yang Hana kenakan ditarik paksa hingga kancingnya berterbangan dan membentur lantai disusul kemeja itu sendiri, meninggalkan tubuh atas Hana yang hanya menyisahkan branya.
Semuanya terjadi begitu cepat. Tidak ada kesempatan bagi Hana untuk menolak. Segala rangsangan yang diberikan sang pria membuatnya kelabakan setengah mati. Pria itu benar-benar ahli menaklukkan tubuhnya. Remasa, kecupan, semuanya sungguh memabukkan.
Nafas pria itu terasa berat menghembus lehernya yang kini telah penuh oleh bercak kemerahan hasil karya sang pria.
“Milikku…” pria itu berguman entah kepada siapa.
Clep
Jari pria itu telah menembus perbatasan Hana. Kedua jari sang pria bergantian memanjakkan bagian vitalnya. Membuat cairan-cairan berupa lendir mengalir deras dari sana.
“H-Hentikan… Hahh…”
“Hentikan? Dengan kau mendesah senikmat itu?” Pria itu berujar dengan nada merendahkannya.
Seolah semakin mengejek Hana, jemari pria itu semakin gila bergerak di bawah sana.
“A-Aaah---Unggghhh!!” Hana hanya bisa mengigit bibirnya dikala tubuhnya merasakan gejolak hebat. Ia orgasme oleh jemari Yoshiki.
Casino Roll Casino - $10 No Deposit Bonus - Slots Roll
BalasHapusCasino Roll 라이브 스코어 Casino is a 먹튀 사이트 먹튀 랭크 member of the Casino Rewards Program. We do not charge any fees to play 스포츠라이브스코어 or win real money or prizes on our website. 스핀토토 Rating: 3.8 · Review 바카라총판 by CasinoRoll