CHAPTER 23: THE TURTH OF NATSUME HARU
“H-habisnya aku mendengarkannya secara langsung kalimat yang seperti pengakuan cinta itu,” dengan wajahnya yang agak memerah Hana menjawab pertanyaan Yoshiki walaupun ia memalingkan wajahnya sejauh mungkin.
“Aku kebingungan. Kau sama sekali tidak memberiku petunjuk kenapa Ishikawa Guren mendatangimu. Kuputuskan untuk menelepon Umei Yui.”
“Yui-chan?”
Yoshiki mengangguk mantap, “dia menjelaskan semuanya kepadaku. Tiket, dan kolam renang itu.”
“Pantas saja…” Hana sweatdrop di tempat. Akhirnya ia mengetahui mengapa Natsume Haru tiba-tiba bisa muncul di Paradise Pool waktu itu.
Yoshiki membuang mukanya, “kau semakin akrab dengan si sialan itu. Memanggilnya dengan nama kecilnya sangat akrab. Yang benar saja.”
Sebelah alis Hana sedikit terangkat, “Yoshiki-kun, jangan bilang kamu cemburu gara-gara hal itu?”
Yoshiki kembali menatap Hana dengan kesal, “tentu saja, dia bahkan juga memanggilmu dengan akrab.”
“Eh? Cuman karena itu?” Hana sweatdrop.
“Cuman?” Muncul kedutan di pelipis Yoshiki.
Dikuasi rasa kesal, Yoshiki mendorong tubuh Hana hingga membentur lantai dan ditahannya kedua tangan Hana. Sementara ia sendiri harus bertumpu pada lututnya agar tidak menindih Hana. Kedua wajah itu saling berhadapan.
“Kau tidak mengizinkanku memakan masakan buatanmu, dan malah mengizinkan si sialan itu menikmati masakanmu. Hn, aku baru ingat berniat membuat si sialan itu memuntahkan semua masakan buatanmu yang telah ditelannya setelah aku kembali ke diriku,” Yoshiki menyeringai lebar.
“T-tunggu, waktu itu aku tidak tahu jika Natsume-kun adalah Yoshiki-kun,” Hana mulai panic. Ancaman Yoshiki terdengar seperti tidak main-main.
Yoshiki semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Hana. Salah satu tangannya yang menggenggam tangan Hana pun mengerat.
“Dan yang terburuk… kau meleaskan genggaman tanganku dan meraih tangannya.”
Dingin.
Yoshiki yang kali ini berada di hadapan Hana sangat berbeda dari Yoshiki yang biasanya. Terlalu dingin. Tidak ada secuil ekspresipun muncul ketika Yoshiki berujar.
Hana terpaku di tempatnya. Yang bisa ia rasakan detik itu adalah tiap cengkraman tangan Yoshiki semakin menguat.
Kerongkongannya secara tiba-tiba terasa kering. Ia butuh menelan salivanya. Namun tatapan lekat dan dingin yang diberikan Yoshiki benar-benar mengintimidasinya. Benar-benar sampai membuatnya takut untuk membasahi kerongkongannya.
“A-aa…” Entah apa yang ingin dikatakan Hana, yang keluar dari bibirnya yang terbuka hanyalah kalimat tidak jelas dan terbata.
‘Chu’
Dalam sekejap bibir Hana kembali tertutup oleh bibir Yoshiki.
Hana terkejut bukan main.
Tekan, dorong, sapu, lumat. Yoshiki benar-benar menghajar bibir Hana tanpa ampun.
Hampir saja Hana larut dalam ciuman Yoshiki yang memabukkan. Namun syukurlah akal sehatnya masih terjaga. Membuatnya memukul-mulu ringan punggung lebar Yoshiki.
Dengan begitu Yoshiki mengakhiri keagresivannya menikmati bibir Hana, “Hn? Ada apa? Sekarang pun kau masih menolakku?”
“B-bukan begitu!” Hana mati-matian menahan rasa malunya, “kita masih di sekolah!”
“Hn, kau tahu aku bisa mengatasi itu dengan mudah.”
Benar saja. Apa yang tidak bisa dilakukan seorang raja iblis? Melakukan pengamanan yang siap dalam beberapa detik adalah hal yang teramat mudah.
“Uh…” Hana sedikit menundukkan kepalanya. Menatap lutut Yoshiki yang menyangga di antara pinggang kecilnya.
“My Lady…” Yoshiki melepaskan penyamarannya, “bukankah ada hal yang harus kau jelaskan padaku?”
Hana kembali menatap wajah Yoshiki, pria itu telah kembali dengan dirinya yang bermata gelap dan berambut jagged, “e-eh?”
“Mau kah kau membayangkan perasaanku?” Yoshiki berguman dalam, “aku menanti kabar darimu sangat lama, mengkhawatirkanmu, namun kau sama sekali tidak memberikan respon, dan tiba-tiba aku harus melihatmu keluar dari mobil Ishikawa Guren, pria yang memiliki perasaan padamu.”
Kembali bola mata langit Hana melebar.
“Aku menyalahkan kebodohkanku. Bagaimana mungkin aku bisa sekhawatir itu padamu?” Entah sejak kapan Yoshiki berbicara dengan sedikit menundukkan kepalanya, membuat kedua mata tajamnya yang dingin tersembunyi di balik poninya yang sedikit menjuntai. Membuat Hana bertanya-tanya akan ekspresi Yoshiki.
“Kenyataannya kau tidak kenapa-kenapa dan malah tersenyum bahagia keluar dari mobil si sialan itu. Aku penasaran, bagaimana bisa kau diantar pulang oleh si sialan itu dan apa saja yang kau lakukan atau bicarakan dengannya selama aku tidak di dekatmu,” Yoshiki mulai menggunakan nada congkak, “oh, atau memang sejak awal kau tidak mengizinkanku ikut karena si sialan itu memang ikut dalam acara kali—“
“Bukan begitu!” Hana tiba-tiba menyela kalimat Yoshiki.
“…” Bibir Yoshiki sedikit terbuka, kedua bola mata gelapnya sekarang sibuk mengamati Hana yang ada di bawahnya.
“Guren-kun tiba-tiba saja datang dan berinisiatif mengantar kami pulang. Kebetulan saja memang aku paling akhir turun. Maafkan aku karena tidak menyadari email dan panggilan darimu. Aku sama sekali tidak menyadarinya,” Hana menatap berusaha Yoshiki dengan segala keberaniannya,”t-tapi sunggu Yoshiki-kun, aku tidak melakukan apapun dengannya. Kami hanya berbincang tentang sesuatu yang umum. Tidak ada hal khusus.”
“Oh… Guren-kun?” Yoshiki mengulangi cara Hana menyebut nama Ishikawa Guren dengan akrab.
“D-dia memintaku memanggilnya dengan nama kecilnya saja.”
“Hn, dan lagi, aku tidak menyangka jika dia benar-benar akan menyatakan perasaannya padamu kemarin,” Hana tak bisa membaca ekspresi Yoshiki yang menatapnya dengan seringai namun juga tersenyum meremehkan.
Yoshiki semakin menunjukkan ekspresinya yang meremehkan, “bagaimana jika aku tidak datang saat itu?”
“AKU TAHU!” Hana seketika merespon cepat sindiran Yoshiki dengan kuat.
Yoshiki terdiam menatap Hana.
“Yui, Maki, dan Shiro juga memberitahuku begitu. Dan aku sedikit banyak tahu jika Gure—“ Hana menginterupsi kalimatnya agar mengurangi kecemburuan Yoshiki, “Ishikawa-kun akan menyatakan perasaannya padaku. Oleh sebab itu…”
Hening beberapa saat karena Hana menghentikan kalimatnya. Sementara itu Yoshiki dengan tenang menunggu. Namun hal pertama yang muncul bukanlah lanjutan cerita Hana, tetapi air mata Hana. Yoshiki sedikit tersentak melihatnya.
“Aku berniat mengatakan jika aku tidak bisa menerimanya…” Hana berguman lemah diantara tumpahan air matanya.
Kedua onix Yoshiki membulat sempurna.
“Lagipula aku sudah memberitahu kepada Ishikawa-kun jika aku sudah memiliki kekasih ketika dia mengantarku pulang. Dia mengira jika kekasihku adalah Natsume Haru, aku mengelak—tentu saja—dan memberitahunya jika kekasihku adalah Yoshiki-kun,” Hana tersenyum tipis pada sosok Yoshiki yang menindihnya.
“Yoshiki-kun…” Tangan Hana bergerak mengalungi leher jenjang Yoshiki.
“Maafkan aku yang beberapa kali sempat melupakanmu, tapi sungguh, aku hanya mencintaimu, percayalah.”
“Buktikan,” Yoshiki berujar tiba-tiba.
“Eh?”
“Buktikan ucapanmu dengan melakukan sesuatu.”
“Sesuatu a-apa?”
“Hn, entahlah. Apapun itu,” Yoshiki hanya menatap datar Hana.
“A-ah… aku mau berdansa denganmu di prom night kelulusan?” Hana mulai berkeringat dingin.
“Hn, tentu kau harus berdansa denganku jika kau tidak ingin melihat acara prom night menjadi kacau dan penuh tumpukan mayat,” ujar Yoshiki santai.
Hana semakin terpojok, “a-aku t-tidak tahu lagi!”
“Hn,” Yoshiki mendekatkan wajahnya pada wajah Hana untuk beberapa detik. Membuat keringat di pelipis Hana bercucuran karena intimidasi langsung Yoshiki.
Hingga akhirnya sang Lucifer menarik dirinya tanpa melakukan sesuatu sambil berujar, “Untuk sekarang aku mempercayaimu. Tetapi jika kau kembali melupakanku, kupastikan aku akan memberikan hukuman yang akan membuatmu jera.”
Seketika bulu kuduk Hana berdesir.
Kedua bola mata langit Hana menangkap tangan Yoshiki bergerak memasuki saku celanan kanannya yang kemudian menariknya kembali dengan sebuah cincin.
“Ah,” Hana hanya bisa menganga kecil melihat cincin itu Yoshiki selipkan diantara jari-jarinya.
“Salah satu hal yang paling kubenci ketika harus menjadi Natsume Haru adalah aku tidak bisa memakai cincin ini,” Yoshiki berguman sembari menatapi cincin yang telah terpasang di jari manisnya, “cincin ini… bukti jika aku milikmu, dan cincimu… bukti jika kau milikku.”
Pandangan Hana terasa mengabur karena wajahnya kembali memanas.
.
“Nah akhirnya kalian kembali juga. Dari mana saja sih? Dilarang bermesraan di sekolah loh!” Belum saja Yoshiki selesai menutup pintu yang telah dilalui Hana terlebih dahulu, Maki sudah muncul di hadapan keduanya dengan kedua tangan tersilangkan dan berwajah dongkol.
“Tenang dulu Maki, ada apa?” Hana hanya bisa sweatdrop sambil menenangkan sahabatnya.
“Kami sekelas berniat melakukan perjalanan wisata ke Nara tanpa adanya guru. Jadi hanya agenda kelas kita saja! Bagaimana? Setuju tidak?” Maki menatap Hana dengan berseri-seri.
“Hooo… kenapa tiba-tiba?”
“Kita sudah hampir mendekati kelulusan. Setidaknya mari kita buat sebuah kenangan yang indah. Keluarga Amagawa-kun punya penginapan yang bagus di Nara! Dan hebatnya kita bisa menggunakannya secara gratis! Yak an Amagawa-kun!?” Maki sekarang menatap Nashiro Amagawa membutuhkan persetujuan.
Dengan sedikit tertawa ragu, Amagawa menangguk menyetujui.
“Yah… kalau aku sih setuju-setuju saja. Tapi…” Hana menoleh ke belakang, menunggu persetujuan Yoshiki.
Maki yang menyadari jika Hana meminta respon Yoshiki langsung memotong, “sudah ikut saja. Kita kan hanya sekelas. Tidak akan ada siswa kelas ini yang kelainan mata dan tertarik pada Hana selain Kuroto-kun. Jadi Kuroto-kun walaupun tidak bisa ikut itu bukan masalah.”
“Tidak. Aku ikut.” Yoshiki menjawab dengan tenang kemudian berlalu menuju bangkunya.
“Tcih, kapan kalian bisa terpisahkan sih?” Maki menatap Hana dongkol.
“Kamu kenapa sih Maki?” Hana balik menatap Maki dongkol.
Mengabaikan respon Hana, Maki kembali berdiri di depan kelas, “nah kawan-kawan~~ kembali lagi ke bahasan kita, karena sebentar lagi waktu istirahat siang juga akan segera habis, mari kita lanjutkan tentang jadwal keberangkatan dan apa-apa saja yang nanti akan kita lakukan selama 3 hari 2 malam menginap!”
“Bagaimana jika minggu ini? Bukankah hari senin bertepatan dengan hari anak? Kita bisa menambah jatah libur kita!” Celetuk seorang siswa.
“Ah bagus itu!”
“Baik, kita setuju mengambil hari itu ya!” Maki menggambil alih keputusan.
Sementara Hana kembali ke bangkunya, proses musyawara kelas terus berlanjut hingga membahas mengenai aktivitas apa saja yang akan direncanakan.
“BBQ!”
“Jurit malam!”
“Games!”
Berbagai saran berdatangan. Membuat senyum Maki melebar membentu sebuah seringaian. Hana yang menyadari senyum aneh Maki hanya bisa meneguk ludah.
.
“Semua sudah lengkap?” Rui mendekatkan kedua tangannya di dekat bibir supaya suaranya terdengar lebih nyaring.
“Sudaaaah!” Beberapa siswa 3-4 menjawab serempak.
Kini seluruh siswa 3-4 secara lengkap tengah berada di stasiun kereta untuk berangkat bersama-sama menuju Nara. Liburan bersama sebelum kelulusan yang sangat mereka nanti-nantikan akhirnya tiba. Waktu puncak dari menikmati masa sekolah.
“Yosh!” Maki berteriak semangat.
“Waaa tidak kusangka akan benar-benar lengkap. Bahkan Raku yang hikikomori juga ikut. Mungkin aku akan mengajak kalian ke danau karena telah berkumpul lengkap,” kalimat Nashiro Amagawa yang berbicara dengan beberapa siswa terdengar oleh Maki.
“Apa? Danau!?” Maki menatap Amagawa tidak percaya.
“A-aa… yah..” Amagawa dengan canggung menjawab. Ia cukup kaget dengan respon tiba-tiba Maki.
“Kenapa tidak bilang dari awal!? Seberapa jauh danau itu dari penginapanmu!?”
“H-Habisnya di sana sepi. Hanya 5-10 menit berjalan kaki.”
“Bagus! Hei jelaskan padaku danaunya seperti apa!”
“Seperti apa? Hmm itu hanya danau biasa di dekat gunung. Biasa kugunakan untuk berenang waktu kecil,” Nashiro Amagawa sedikit menaikan sebelah alisnya saat menjelaskan.
“DASAR! KENAPA TIDAK MEMBERITAHU KALAU ADA TEMPAT SEMENARIK ITU!? KAMI JADI TIDAK ADA PERSIAPAN KAN!” Maki melotot kea rah Amagawa.
Sekarang Maki berbalik ke arah kerumunan, “TEMAN-TEMAN DI PENGINAPAN AMAGAWA-KUN ADA SEBUAH DANAU YANG BISA DIGUNAKAN UNTUK BERENANG! APA KALIAN MEMBAWA BIKINI!?”
“EEEEEEEHHHHH!???” Sontak begitulah respon para siswa keseluruhan.
“He?” Sementara Amagawa malah cengo sendiri.
“Tentu saja aku tidak bawa!” Salah satu siswi menyahuti.
“Bagaimana ini? Kenapa begitu mendadak?” Terdengar sahutan yang lain.
“Kita beli saja bagaimana? Di dekat sini ada department store kan?” Maki memberikan saran setelah berpikir di tengah keributan.
“Waaa boleh!”
“Yaaay! Berenang!”
Mendengar respon teman-teman perempuannya positif, Maki meminta persetujuan pada ketua kelas dengan tatapan memohonnya.
Rui menghela nafas lalu mengecek jam tangannya, “kereta tiba 45 menit lagi. Kalian kuberi waktu belanja setengah jam. Cepat!”
“Waaaaaaiiii!!”
Dan begitulah, para siswi berbondong-bondong keluar stasiun untuk menuju departemen store terdekat.
“Ayo kamu juga!”
“He?” Hana Nampak kebingungan dengan kedua tangannya diapit teman-teman perempuannya dan ditarik mengikuti arus.
“Dasar para perempuan itu…” Nashiro Amagawa menghela nafas berat pada Rui.
“Salahmu juga baru memberitahu itu sekarang,” Rui tidak mendukung omelan Amagawa.
“Kamu mau berenang juga Ketua?”
“Entahlah. Tapi yang terpenting bukannya pemandangan saat teman perempuan sekelas kita mengenakan bikini? Hehehe…” Rui agak berbisik pada Amagawa.
“Ha ha ha,” Amagawa tertawa hambar.
“Ini seperti pesta terakhir kita sebelum kelulusan! Kita harus mencari momen-momen khusus yang membuat kita tidak menyesal telah menjadi seorang siswa SMA!”
“…” Sementara itu Kuroto Yoshiki yang diam-diam mendengar bisikan Rui hanya menatap datar ke arah lain dengan meminum perlahan kopi kalengnya. Tidak ada yang menyadari jika ada bekas peyot akibat dari pegangannya yang terlalu kuat pada kaleng kopi itu.
.
Seketika sebuah took di departemen store diserbu oleh kerumunan siswi kelas 3-4. Suasana menjadi riuh dan penuh. Bahkan pelayan toko sempat pontang-panting melayani.
“Lihat! Bagaimana? Cocok tidak?”
“One piece putih! Bagus-bagus!”
Di sisi lain Hana hanya bisa sweatdrop melihat teman-temannya begitu bersemangat bergantian keluar-masuk ruang ganti dengan beragam bikini melekat pada tubuh mereka.
“Uwaaa… sebenarnya apa yang kulakukan di sini?” Keluh Hana.
“Kamu ngapain di sini? Nggak cari bikini?” Celetuk Yui dari belakang Hana tiba-tiba.
Seketika Hana menolehkan kepalanya dan mendapati perempuan bersurai ungu itu tengah memasukkan sesuatu ke dalam tas plastic—sepertinya Yui telah mendapatkan bikininya, “ah Yui, sudah dapat?”
“Begitulah,” sahut Yui santai, “lalu bagaimana denganmu? Kamu nggak cari bikini?”
“Ah tidak… aku tidak berniat berenang… sepertinya,” Hana menatap ke arah lain dengan berkeringat dingin.
“Kenapa sih? Kita kan sudah pernah berenang bersama? Dan tidak ada yang aneh dengamu mengenakan bikini,” Yui menyilangkan tangannya di depan dada.
“Y-Yah… kemarin kan yang ikut cumin beberapa orang. Beda dengan sekarang di mana banyak yang ikut.”
“Tunggu di sini, akan kucarikan ukuran yang pas untukmu!” Yui kabur begitu saja.
“HEEEEEEE!!??”
.
Akhirnya beberapa jam kemudian kereta dengan salah satu gerbong dipenuhi oleh penghuni kelas 3-4 berangkat meninggalkan stasiun. Suasana riuh penuh canda menguar di dalam gerbong.
Read More ->>
“H-habisnya aku mendengarkannya secara langsung kalimat yang seperti pengakuan cinta itu,” dengan wajahnya yang agak memerah Hana menjawab pertanyaan Yoshiki walaupun ia memalingkan wajahnya sejauh mungkin.
“Aku kebingungan. Kau sama sekali tidak memberiku petunjuk kenapa Ishikawa Guren mendatangimu. Kuputuskan untuk menelepon Umei Yui.”
“Yui-chan?”
Yoshiki mengangguk mantap, “dia menjelaskan semuanya kepadaku. Tiket, dan kolam renang itu.”
“Pantas saja…” Hana sweatdrop di tempat. Akhirnya ia mengetahui mengapa Natsume Haru tiba-tiba bisa muncul di Paradise Pool waktu itu.
Yoshiki membuang mukanya, “kau semakin akrab dengan si sialan itu. Memanggilnya dengan nama kecilnya sangat akrab. Yang benar saja.”
Sebelah alis Hana sedikit terangkat, “Yoshiki-kun, jangan bilang kamu cemburu gara-gara hal itu?”
Yoshiki kembali menatap Hana dengan kesal, “tentu saja, dia bahkan juga memanggilmu dengan akrab.”
“Eh? Cuman karena itu?” Hana sweatdrop.
“Cuman?” Muncul kedutan di pelipis Yoshiki.
Dikuasi rasa kesal, Yoshiki mendorong tubuh Hana hingga membentur lantai dan ditahannya kedua tangan Hana. Sementara ia sendiri harus bertumpu pada lututnya agar tidak menindih Hana. Kedua wajah itu saling berhadapan.
“Kau tidak mengizinkanku memakan masakan buatanmu, dan malah mengizinkan si sialan itu menikmati masakanmu. Hn, aku baru ingat berniat membuat si sialan itu memuntahkan semua masakan buatanmu yang telah ditelannya setelah aku kembali ke diriku,” Yoshiki menyeringai lebar.
“T-tunggu, waktu itu aku tidak tahu jika Natsume-kun adalah Yoshiki-kun,” Hana mulai panic. Ancaman Yoshiki terdengar seperti tidak main-main.
Yoshiki semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Hana. Salah satu tangannya yang menggenggam tangan Hana pun mengerat.
“Dan yang terburuk… kau meleaskan genggaman tanganku dan meraih tangannya.”
Dingin.
Yoshiki yang kali ini berada di hadapan Hana sangat berbeda dari Yoshiki yang biasanya. Terlalu dingin. Tidak ada secuil ekspresipun muncul ketika Yoshiki berujar.
Hana terpaku di tempatnya. Yang bisa ia rasakan detik itu adalah tiap cengkraman tangan Yoshiki semakin menguat.
Kerongkongannya secara tiba-tiba terasa kering. Ia butuh menelan salivanya. Namun tatapan lekat dan dingin yang diberikan Yoshiki benar-benar mengintimidasinya. Benar-benar sampai membuatnya takut untuk membasahi kerongkongannya.
“A-aa…” Entah apa yang ingin dikatakan Hana, yang keluar dari bibirnya yang terbuka hanyalah kalimat tidak jelas dan terbata.
‘Chu’
Dalam sekejap bibir Hana kembali tertutup oleh bibir Yoshiki.
Hana terkejut bukan main.
Tekan, dorong, sapu, lumat. Yoshiki benar-benar menghajar bibir Hana tanpa ampun.
Hampir saja Hana larut dalam ciuman Yoshiki yang memabukkan. Namun syukurlah akal sehatnya masih terjaga. Membuatnya memukul-mulu ringan punggung lebar Yoshiki.
Dengan begitu Yoshiki mengakhiri keagresivannya menikmati bibir Hana, “Hn? Ada apa? Sekarang pun kau masih menolakku?”
“B-bukan begitu!” Hana mati-matian menahan rasa malunya, “kita masih di sekolah!”
“Hn, kau tahu aku bisa mengatasi itu dengan mudah.”
Benar saja. Apa yang tidak bisa dilakukan seorang raja iblis? Melakukan pengamanan yang siap dalam beberapa detik adalah hal yang teramat mudah.
“Uh…” Hana sedikit menundukkan kepalanya. Menatap lutut Yoshiki yang menyangga di antara pinggang kecilnya.
“My Lady…” Yoshiki melepaskan penyamarannya, “bukankah ada hal yang harus kau jelaskan padaku?”
Hana kembali menatap wajah Yoshiki, pria itu telah kembali dengan dirinya yang bermata gelap dan berambut jagged, “e-eh?”
“Mau kah kau membayangkan perasaanku?” Yoshiki berguman dalam, “aku menanti kabar darimu sangat lama, mengkhawatirkanmu, namun kau sama sekali tidak memberikan respon, dan tiba-tiba aku harus melihatmu keluar dari mobil Ishikawa Guren, pria yang memiliki perasaan padamu.”
Kembali bola mata langit Hana melebar.
“Aku menyalahkan kebodohkanku. Bagaimana mungkin aku bisa sekhawatir itu padamu?” Entah sejak kapan Yoshiki berbicara dengan sedikit menundukkan kepalanya, membuat kedua mata tajamnya yang dingin tersembunyi di balik poninya yang sedikit menjuntai. Membuat Hana bertanya-tanya akan ekspresi Yoshiki.
“Kenyataannya kau tidak kenapa-kenapa dan malah tersenyum bahagia keluar dari mobil si sialan itu. Aku penasaran, bagaimana bisa kau diantar pulang oleh si sialan itu dan apa saja yang kau lakukan atau bicarakan dengannya selama aku tidak di dekatmu,” Yoshiki mulai menggunakan nada congkak, “oh, atau memang sejak awal kau tidak mengizinkanku ikut karena si sialan itu memang ikut dalam acara kali—“
“Bukan begitu!” Hana tiba-tiba menyela kalimat Yoshiki.
“…” Bibir Yoshiki sedikit terbuka, kedua bola mata gelapnya sekarang sibuk mengamati Hana yang ada di bawahnya.
“Guren-kun tiba-tiba saja datang dan berinisiatif mengantar kami pulang. Kebetulan saja memang aku paling akhir turun. Maafkan aku karena tidak menyadari email dan panggilan darimu. Aku sama sekali tidak menyadarinya,” Hana menatap berusaha Yoshiki dengan segala keberaniannya,”t-tapi sunggu Yoshiki-kun, aku tidak melakukan apapun dengannya. Kami hanya berbincang tentang sesuatu yang umum. Tidak ada hal khusus.”
“Oh… Guren-kun?” Yoshiki mengulangi cara Hana menyebut nama Ishikawa Guren dengan akrab.
“D-dia memintaku memanggilnya dengan nama kecilnya saja.”
“Hn, dan lagi, aku tidak menyangka jika dia benar-benar akan menyatakan perasaannya padamu kemarin,” Hana tak bisa membaca ekspresi Yoshiki yang menatapnya dengan seringai namun juga tersenyum meremehkan.
Yoshiki semakin menunjukkan ekspresinya yang meremehkan, “bagaimana jika aku tidak datang saat itu?”
“AKU TAHU!” Hana seketika merespon cepat sindiran Yoshiki dengan kuat.
Yoshiki terdiam menatap Hana.
“Yui, Maki, dan Shiro juga memberitahuku begitu. Dan aku sedikit banyak tahu jika Gure—“ Hana menginterupsi kalimatnya agar mengurangi kecemburuan Yoshiki, “Ishikawa-kun akan menyatakan perasaannya padaku. Oleh sebab itu…”
Hening beberapa saat karena Hana menghentikan kalimatnya. Sementara itu Yoshiki dengan tenang menunggu. Namun hal pertama yang muncul bukanlah lanjutan cerita Hana, tetapi air mata Hana. Yoshiki sedikit tersentak melihatnya.
“Aku berniat mengatakan jika aku tidak bisa menerimanya…” Hana berguman lemah diantara tumpahan air matanya.
Kedua onix Yoshiki membulat sempurna.
“Lagipula aku sudah memberitahu kepada Ishikawa-kun jika aku sudah memiliki kekasih ketika dia mengantarku pulang. Dia mengira jika kekasihku adalah Natsume Haru, aku mengelak—tentu saja—dan memberitahunya jika kekasihku adalah Yoshiki-kun,” Hana tersenyum tipis pada sosok Yoshiki yang menindihnya.
“Yoshiki-kun…” Tangan Hana bergerak mengalungi leher jenjang Yoshiki.
“Maafkan aku yang beberapa kali sempat melupakanmu, tapi sungguh, aku hanya mencintaimu, percayalah.”
“Buktikan,” Yoshiki berujar tiba-tiba.
“Eh?”
“Buktikan ucapanmu dengan melakukan sesuatu.”
“Sesuatu a-apa?”
“Hn, entahlah. Apapun itu,” Yoshiki hanya menatap datar Hana.
“A-ah… aku mau berdansa denganmu di prom night kelulusan?” Hana mulai berkeringat dingin.
“Hn, tentu kau harus berdansa denganku jika kau tidak ingin melihat acara prom night menjadi kacau dan penuh tumpukan mayat,” ujar Yoshiki santai.
Hana semakin terpojok, “a-aku t-tidak tahu lagi!”
“Hn,” Yoshiki mendekatkan wajahnya pada wajah Hana untuk beberapa detik. Membuat keringat di pelipis Hana bercucuran karena intimidasi langsung Yoshiki.
Hingga akhirnya sang Lucifer menarik dirinya tanpa melakukan sesuatu sambil berujar, “Untuk sekarang aku mempercayaimu. Tetapi jika kau kembali melupakanku, kupastikan aku akan memberikan hukuman yang akan membuatmu jera.”
Seketika bulu kuduk Hana berdesir.
Kedua bola mata langit Hana menangkap tangan Yoshiki bergerak memasuki saku celanan kanannya yang kemudian menariknya kembali dengan sebuah cincin.
“Ah,” Hana hanya bisa menganga kecil melihat cincin itu Yoshiki selipkan diantara jari-jarinya.
“Salah satu hal yang paling kubenci ketika harus menjadi Natsume Haru adalah aku tidak bisa memakai cincin ini,” Yoshiki berguman sembari menatapi cincin yang telah terpasang di jari manisnya, “cincin ini… bukti jika aku milikmu, dan cincimu… bukti jika kau milikku.”
Pandangan Hana terasa mengabur karena wajahnya kembali memanas.
.
“Nah akhirnya kalian kembali juga. Dari mana saja sih? Dilarang bermesraan di sekolah loh!” Belum saja Yoshiki selesai menutup pintu yang telah dilalui Hana terlebih dahulu, Maki sudah muncul di hadapan keduanya dengan kedua tangan tersilangkan dan berwajah dongkol.
“Tenang dulu Maki, ada apa?” Hana hanya bisa sweatdrop sambil menenangkan sahabatnya.
“Kami sekelas berniat melakukan perjalanan wisata ke Nara tanpa adanya guru. Jadi hanya agenda kelas kita saja! Bagaimana? Setuju tidak?” Maki menatap Hana dengan berseri-seri.
“Hooo… kenapa tiba-tiba?”
“Kita sudah hampir mendekati kelulusan. Setidaknya mari kita buat sebuah kenangan yang indah. Keluarga Amagawa-kun punya penginapan yang bagus di Nara! Dan hebatnya kita bisa menggunakannya secara gratis! Yak an Amagawa-kun!?” Maki sekarang menatap Nashiro Amagawa membutuhkan persetujuan.
Dengan sedikit tertawa ragu, Amagawa menangguk menyetujui.
“Yah… kalau aku sih setuju-setuju saja. Tapi…” Hana menoleh ke belakang, menunggu persetujuan Yoshiki.
Maki yang menyadari jika Hana meminta respon Yoshiki langsung memotong, “sudah ikut saja. Kita kan hanya sekelas. Tidak akan ada siswa kelas ini yang kelainan mata dan tertarik pada Hana selain Kuroto-kun. Jadi Kuroto-kun walaupun tidak bisa ikut itu bukan masalah.”
“Tidak. Aku ikut.” Yoshiki menjawab dengan tenang kemudian berlalu menuju bangkunya.
“Tcih, kapan kalian bisa terpisahkan sih?” Maki menatap Hana dongkol.
“Kamu kenapa sih Maki?” Hana balik menatap Maki dongkol.
Mengabaikan respon Hana, Maki kembali berdiri di depan kelas, “nah kawan-kawan~~ kembali lagi ke bahasan kita, karena sebentar lagi waktu istirahat siang juga akan segera habis, mari kita lanjutkan tentang jadwal keberangkatan dan apa-apa saja yang nanti akan kita lakukan selama 3 hari 2 malam menginap!”
“Bagaimana jika minggu ini? Bukankah hari senin bertepatan dengan hari anak? Kita bisa menambah jatah libur kita!” Celetuk seorang siswa.
“Ah bagus itu!”
“Baik, kita setuju mengambil hari itu ya!” Maki menggambil alih keputusan.
Sementara Hana kembali ke bangkunya, proses musyawara kelas terus berlanjut hingga membahas mengenai aktivitas apa saja yang akan direncanakan.
“BBQ!”
“Jurit malam!”
“Games!”
Berbagai saran berdatangan. Membuat senyum Maki melebar membentu sebuah seringaian. Hana yang menyadari senyum aneh Maki hanya bisa meneguk ludah.
.
“Semua sudah lengkap?” Rui mendekatkan kedua tangannya di dekat bibir supaya suaranya terdengar lebih nyaring.
“Sudaaaah!” Beberapa siswa 3-4 menjawab serempak.
Kini seluruh siswa 3-4 secara lengkap tengah berada di stasiun kereta untuk berangkat bersama-sama menuju Nara. Liburan bersama sebelum kelulusan yang sangat mereka nanti-nantikan akhirnya tiba. Waktu puncak dari menikmati masa sekolah.
“Yosh!” Maki berteriak semangat.
“Waaa tidak kusangka akan benar-benar lengkap. Bahkan Raku yang hikikomori juga ikut. Mungkin aku akan mengajak kalian ke danau karena telah berkumpul lengkap,” kalimat Nashiro Amagawa yang berbicara dengan beberapa siswa terdengar oleh Maki.
“Apa? Danau!?” Maki menatap Amagawa tidak percaya.
“A-aa… yah..” Amagawa dengan canggung menjawab. Ia cukup kaget dengan respon tiba-tiba Maki.
“Kenapa tidak bilang dari awal!? Seberapa jauh danau itu dari penginapanmu!?”
“H-Habisnya di sana sepi. Hanya 5-10 menit berjalan kaki.”
“Bagus! Hei jelaskan padaku danaunya seperti apa!”
“Seperti apa? Hmm itu hanya danau biasa di dekat gunung. Biasa kugunakan untuk berenang waktu kecil,” Nashiro Amagawa sedikit menaikan sebelah alisnya saat menjelaskan.
“DASAR! KENAPA TIDAK MEMBERITAHU KALAU ADA TEMPAT SEMENARIK ITU!? KAMI JADI TIDAK ADA PERSIAPAN KAN!” Maki melotot kea rah Amagawa.
Sekarang Maki berbalik ke arah kerumunan, “TEMAN-TEMAN DI PENGINAPAN AMAGAWA-KUN ADA SEBUAH DANAU YANG BISA DIGUNAKAN UNTUK BERENANG! APA KALIAN MEMBAWA BIKINI!?”
“EEEEEEEHHHHH!???” Sontak begitulah respon para siswa keseluruhan.
“He?” Sementara Amagawa malah cengo sendiri.
“Tentu saja aku tidak bawa!” Salah satu siswi menyahuti.
“Bagaimana ini? Kenapa begitu mendadak?” Terdengar sahutan yang lain.
“Kita beli saja bagaimana? Di dekat sini ada department store kan?” Maki memberikan saran setelah berpikir di tengah keributan.
“Waaa boleh!”
“Yaaay! Berenang!”
Mendengar respon teman-teman perempuannya positif, Maki meminta persetujuan pada ketua kelas dengan tatapan memohonnya.
Rui menghela nafas lalu mengecek jam tangannya, “kereta tiba 45 menit lagi. Kalian kuberi waktu belanja setengah jam. Cepat!”
“Waaaaaaiiii!!”
Dan begitulah, para siswi berbondong-bondong keluar stasiun untuk menuju departemen store terdekat.
“Ayo kamu juga!”
“He?” Hana Nampak kebingungan dengan kedua tangannya diapit teman-teman perempuannya dan ditarik mengikuti arus.
“Dasar para perempuan itu…” Nashiro Amagawa menghela nafas berat pada Rui.
“Salahmu juga baru memberitahu itu sekarang,” Rui tidak mendukung omelan Amagawa.
“Kamu mau berenang juga Ketua?”
“Entahlah. Tapi yang terpenting bukannya pemandangan saat teman perempuan sekelas kita mengenakan bikini? Hehehe…” Rui agak berbisik pada Amagawa.
“Ha ha ha,” Amagawa tertawa hambar.
“Ini seperti pesta terakhir kita sebelum kelulusan! Kita harus mencari momen-momen khusus yang membuat kita tidak menyesal telah menjadi seorang siswa SMA!”
“…” Sementara itu Kuroto Yoshiki yang diam-diam mendengar bisikan Rui hanya menatap datar ke arah lain dengan meminum perlahan kopi kalengnya. Tidak ada yang menyadari jika ada bekas peyot akibat dari pegangannya yang terlalu kuat pada kaleng kopi itu.
.
Seketika sebuah took di departemen store diserbu oleh kerumunan siswi kelas 3-4. Suasana menjadi riuh dan penuh. Bahkan pelayan toko sempat pontang-panting melayani.
“Lihat! Bagaimana? Cocok tidak?”
“One piece putih! Bagus-bagus!”
Di sisi lain Hana hanya bisa sweatdrop melihat teman-temannya begitu bersemangat bergantian keluar-masuk ruang ganti dengan beragam bikini melekat pada tubuh mereka.
“Uwaaa… sebenarnya apa yang kulakukan di sini?” Keluh Hana.
“Kamu ngapain di sini? Nggak cari bikini?” Celetuk Yui dari belakang Hana tiba-tiba.
Seketika Hana menolehkan kepalanya dan mendapati perempuan bersurai ungu itu tengah memasukkan sesuatu ke dalam tas plastic—sepertinya Yui telah mendapatkan bikininya, “ah Yui, sudah dapat?”
“Begitulah,” sahut Yui santai, “lalu bagaimana denganmu? Kamu nggak cari bikini?”
“Ah tidak… aku tidak berniat berenang… sepertinya,” Hana menatap ke arah lain dengan berkeringat dingin.
“Kenapa sih? Kita kan sudah pernah berenang bersama? Dan tidak ada yang aneh dengamu mengenakan bikini,” Yui menyilangkan tangannya di depan dada.
“Y-Yah… kemarin kan yang ikut cumin beberapa orang. Beda dengan sekarang di mana banyak yang ikut.”
“Tunggu di sini, akan kucarikan ukuran yang pas untukmu!” Yui kabur begitu saja.
“HEEEEEEE!!??”
.
Akhirnya beberapa jam kemudian kereta dengan salah satu gerbong dipenuhi oleh penghuni kelas 3-4 berangkat meninggalkan stasiun. Suasana riuh penuh canda menguar di dalam gerbong.