Kamis, 20 Desember 2018

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 23]

CHAPTER 23: THE TURTH OF NATSUME HARU

“H-habisnya aku mendengarkannya secara langsung kalimat yang seperti pengakuan cinta itu,” dengan wajahnya yang agak memerah Hana menjawab pertanyaan Yoshiki walaupun ia memalingkan wajahnya sejauh mungkin.
“Aku kebingungan. Kau sama sekali tidak memberiku petunjuk kenapa Ishikawa Guren mendatangimu. Kuputuskan untuk menelepon Umei Yui.”
“Yui-chan?”
Yoshiki mengangguk mantap, “dia menjelaskan semuanya kepadaku. Tiket, dan kolam renang itu.”
“Pantas saja…” Hana sweatdrop di tempat. Akhirnya ia mengetahui mengapa Natsume Haru tiba-tiba bisa muncul di Paradise Pool waktu itu.
Yoshiki membuang mukanya, “kau semakin akrab dengan si sialan itu. Memanggilnya dengan nama kecilnya sangat akrab. Yang benar saja.”
Sebelah alis Hana sedikit terangkat, “Yoshiki-kun, jangan bilang kamu cemburu gara-gara hal itu?”
Yoshiki kembali menatap Hana dengan kesal, “tentu saja, dia bahkan juga memanggilmu dengan akrab.”
“Eh? Cuman karena itu?” Hana sweatdrop.
“Cuman?” Muncul kedutan di pelipis Yoshiki.
Dikuasi rasa kesal, Yoshiki mendorong tubuh Hana hingga membentur lantai dan ditahannya kedua tangan Hana. Sementara ia sendiri harus bertumpu pada lututnya agar tidak menindih Hana. Kedua wajah itu saling berhadapan.
“Kau tidak mengizinkanku memakan masakan buatanmu, dan malah mengizinkan si sialan itu menikmati masakanmu. Hn, aku baru ingat berniat membuat si sialan itu memuntahkan semua masakan buatanmu yang telah ditelannya setelah aku kembali ke diriku,” Yoshiki menyeringai lebar.
“T-tunggu, waktu itu aku tidak tahu jika Natsume-kun adalah Yoshiki-kun,” Hana mulai panic. Ancaman Yoshiki terdengar seperti tidak main-main.
Yoshiki semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Hana. Salah satu tangannya yang menggenggam tangan Hana pun mengerat.
“Dan yang terburuk… kau meleaskan genggaman tanganku dan meraih tangannya.”
Dingin.
Yoshiki yang kali ini berada di hadapan Hana sangat berbeda dari Yoshiki yang biasanya. Terlalu dingin. Tidak ada secuil ekspresipun muncul ketika Yoshiki berujar.
Hana terpaku di tempatnya. Yang bisa ia rasakan detik itu adalah tiap cengkraman tangan Yoshiki semakin menguat.
Kerongkongannya secara tiba-tiba terasa kering. Ia butuh menelan salivanya. Namun tatapan lekat dan dingin yang diberikan Yoshiki benar-benar mengintimidasinya. Benar-benar sampai membuatnya takut untuk membasahi kerongkongannya.
“A-aa…” Entah apa yang ingin dikatakan Hana, yang keluar dari bibirnya yang terbuka hanyalah kalimat tidak jelas dan terbata.
‘Chu’
Dalam sekejap bibir Hana kembali tertutup oleh bibir Yoshiki.
Hana terkejut bukan main.
Tekan, dorong, sapu, lumat. Yoshiki benar-benar menghajar bibir Hana tanpa ampun.
Hampir saja Hana larut dalam ciuman Yoshiki yang memabukkan. Namun syukurlah akal sehatnya masih terjaga. Membuatnya memukul-mulu ringan punggung lebar Yoshiki.
Dengan begitu Yoshiki mengakhiri keagresivannya menikmati bibir Hana, “Hn? Ada apa? Sekarang pun kau masih menolakku?”
“B-bukan begitu!” Hana mati-matian menahan rasa malunya, “kita masih di sekolah!”
“Hn, kau tahu aku bisa mengatasi itu dengan mudah.”
Benar saja. Apa yang tidak bisa dilakukan seorang raja iblis? Melakukan pengamanan yang siap dalam beberapa detik adalah hal yang teramat mudah.
“Uh…” Hana sedikit menundukkan kepalanya. Menatap lutut Yoshiki yang menyangga di antara pinggang kecilnya.
“My Lady…” Yoshiki melepaskan penyamarannya, “bukankah ada hal yang harus kau jelaskan padaku?”
Hana kembali menatap wajah Yoshiki, pria itu telah kembali dengan dirinya yang bermata gelap dan berambut jagged, “e-eh?”
“Mau kah kau membayangkan perasaanku?” Yoshiki berguman dalam, “aku menanti kabar darimu sangat lama, mengkhawatirkanmu, namun kau sama sekali tidak memberikan respon, dan tiba-tiba aku harus melihatmu keluar dari mobil Ishikawa Guren, pria yang memiliki perasaan padamu.”
Kembali bola mata langit Hana melebar.
“Aku menyalahkan kebodohkanku. Bagaimana mungkin aku bisa sekhawatir itu padamu?” Entah sejak kapan Yoshiki berbicara dengan sedikit menundukkan kepalanya, membuat kedua mata tajamnya yang dingin tersembunyi di balik poninya yang sedikit menjuntai. Membuat Hana bertanya-tanya akan ekspresi Yoshiki.
“Kenyataannya kau tidak kenapa-kenapa dan malah tersenyum bahagia keluar dari mobil si sialan itu. Aku penasaran, bagaimana bisa kau diantar pulang oleh si sialan itu dan apa saja yang kau lakukan atau bicarakan dengannya selama aku tidak di dekatmu,” Yoshiki mulai menggunakan nada congkak, “oh, atau memang sejak awal kau tidak mengizinkanku ikut karena si sialan itu memang ikut dalam acara kali—“
“Bukan begitu!” Hana tiba-tiba menyela kalimat Yoshiki.
“…” Bibir Yoshiki sedikit terbuka, kedua bola mata gelapnya sekarang sibuk mengamati Hana yang ada di bawahnya.
“Guren-kun tiba-tiba saja datang dan berinisiatif mengantar kami pulang. Kebetulan saja memang aku paling akhir turun. Maafkan aku karena tidak menyadari email dan panggilan darimu. Aku sama sekali tidak menyadarinya,” Hana menatap berusaha Yoshiki dengan segala keberaniannya,”t-tapi sunggu Yoshiki-kun, aku tidak melakukan apapun dengannya. Kami hanya berbincang tentang sesuatu yang umum. Tidak ada hal khusus.”
“Oh… Guren-kun?” Yoshiki mengulangi cara Hana menyebut nama Ishikawa Guren dengan akrab.
“D-dia memintaku memanggilnya dengan nama kecilnya saja.”
“Hn, dan lagi, aku tidak menyangka jika dia benar-benar akan menyatakan perasaannya padamu kemarin,” Hana tak bisa membaca ekspresi Yoshiki yang menatapnya dengan seringai namun juga tersenyum meremehkan.
Yoshiki semakin menunjukkan ekspresinya yang meremehkan, “bagaimana jika aku tidak datang saat itu?”
“AKU TAHU!” Hana seketika merespon cepat sindiran Yoshiki dengan kuat.
Yoshiki terdiam menatap Hana.
“Yui, Maki, dan Shiro juga memberitahuku begitu. Dan aku sedikit banyak tahu jika Gure—“ Hana menginterupsi kalimatnya agar mengurangi kecemburuan Yoshiki, “Ishikawa-kun akan menyatakan perasaannya padaku. Oleh sebab itu…”
Hening beberapa saat karena Hana menghentikan kalimatnya. Sementara itu Yoshiki dengan tenang menunggu. Namun hal pertama yang muncul bukanlah lanjutan cerita Hana, tetapi air mata Hana. Yoshiki sedikit tersentak melihatnya.
“Aku berniat mengatakan jika aku tidak bisa menerimanya…” Hana berguman lemah diantara tumpahan air matanya.
Kedua onix Yoshiki membulat sempurna.
“Lagipula aku sudah memberitahu kepada Ishikawa-kun jika aku sudah memiliki kekasih ketika dia mengantarku pulang. Dia mengira jika kekasihku adalah Natsume Haru, aku mengelak—tentu saja—dan memberitahunya jika kekasihku adalah Yoshiki-kun,” Hana tersenyum tipis pada sosok Yoshiki yang menindihnya.
“Yoshiki-kun…” Tangan Hana bergerak mengalungi leher jenjang Yoshiki.
“Maafkan aku yang beberapa kali sempat melupakanmu, tapi sungguh, aku hanya mencintaimu, percayalah.”
“Buktikan,” Yoshiki berujar tiba-tiba.
“Eh?”
“Buktikan ucapanmu dengan melakukan sesuatu.”
“Sesuatu a-apa?”
“Hn, entahlah. Apapun itu,” Yoshiki hanya menatap datar Hana.
“A-ah… aku mau berdansa denganmu di prom night kelulusan?” Hana mulai berkeringat dingin.
“Hn, tentu kau harus berdansa denganku jika kau tidak ingin melihat acara prom night menjadi kacau dan penuh tumpukan mayat,” ujar Yoshiki santai.
Hana semakin terpojok, “a-aku t-tidak tahu lagi!”
“Hn,” Yoshiki mendekatkan wajahnya pada wajah Hana untuk beberapa detik. Membuat keringat di pelipis Hana bercucuran karena intimidasi langsung Yoshiki.
Hingga akhirnya sang Lucifer menarik dirinya tanpa melakukan sesuatu sambil berujar, “Untuk sekarang aku mempercayaimu. Tetapi jika kau kembali melupakanku, kupastikan aku akan memberikan hukuman yang akan membuatmu jera.”
Seketika bulu kuduk Hana berdesir.
Kedua bola mata langit Hana menangkap tangan Yoshiki bergerak memasuki saku celanan kanannya yang kemudian menariknya kembali dengan sebuah cincin.
“Ah,” Hana hanya bisa menganga kecil melihat cincin itu Yoshiki selipkan diantara jari-jarinya.
“Salah satu hal yang paling kubenci ketika harus menjadi Natsume Haru adalah aku tidak bisa memakai cincin ini,” Yoshiki berguman sembari menatapi cincin yang telah terpasang di jari manisnya, “cincin ini… bukti jika aku milikmu, dan cincimu… bukti jika kau milikku.”
Pandangan Hana terasa mengabur karena wajahnya kembali memanas.

.

“Nah akhirnya kalian kembali juga. Dari mana saja sih? Dilarang bermesraan di sekolah loh!” Belum saja Yoshiki selesai menutup pintu yang telah dilalui Hana terlebih dahulu, Maki sudah muncul di hadapan keduanya dengan kedua tangan tersilangkan dan berwajah dongkol.
“Tenang dulu Maki, ada apa?” Hana hanya bisa sweatdrop sambil menenangkan sahabatnya.
“Kami sekelas berniat melakukan perjalanan wisata ke Nara tanpa adanya guru. Jadi hanya agenda kelas kita saja! Bagaimana? Setuju tidak?” Maki menatap Hana dengan berseri-seri.
“Hooo… kenapa tiba-tiba?”
“Kita sudah hampir mendekati kelulusan. Setidaknya mari kita buat sebuah kenangan yang indah. Keluarga Amagawa-kun punya penginapan yang bagus di Nara! Dan hebatnya kita bisa menggunakannya secara gratis! Yak an Amagawa-kun!?” Maki sekarang menatap Nashiro Amagawa membutuhkan persetujuan.
Dengan sedikit tertawa ragu, Amagawa menangguk menyetujui.
“Yah… kalau aku sih setuju-setuju saja. Tapi…” Hana menoleh ke belakang, menunggu persetujuan Yoshiki.
Maki yang menyadari jika Hana meminta respon Yoshiki langsung memotong, “sudah ikut saja. Kita kan hanya sekelas. Tidak akan ada siswa kelas ini yang kelainan mata dan tertarik pada Hana selain Kuroto-kun. Jadi Kuroto-kun walaupun tidak bisa ikut itu bukan masalah.”
“Tidak. Aku ikut.” Yoshiki menjawab dengan tenang kemudian berlalu menuju bangkunya.
“Tcih, kapan kalian bisa terpisahkan sih?” Maki menatap Hana dongkol.
“Kamu kenapa sih Maki?” Hana balik menatap Maki dongkol.
Mengabaikan respon Hana, Maki kembali berdiri di depan kelas, “nah kawan-kawan~~ kembali lagi ke bahasan kita, karena sebentar lagi waktu istirahat siang juga akan segera habis, mari kita lanjutkan tentang jadwal keberangkatan dan apa-apa saja yang nanti akan kita lakukan selama 3 hari 2 malam menginap!”
“Bagaimana jika minggu ini? Bukankah hari senin bertepatan dengan hari anak? Kita bisa menambah jatah libur kita!” Celetuk seorang siswa.
“Ah bagus itu!”
“Baik, kita setuju mengambil hari itu ya!” Maki menggambil alih keputusan.
Sementara Hana kembali ke bangkunya, proses musyawara kelas terus berlanjut hingga membahas mengenai aktivitas apa saja yang akan direncanakan.
“BBQ!”
“Jurit malam!”
“Games!”
Berbagai saran berdatangan. Membuat senyum Maki melebar membentu sebuah seringaian. Hana yang menyadari senyum aneh Maki hanya bisa meneguk ludah.
.

“Semua sudah lengkap?” Rui mendekatkan kedua tangannya di dekat bibir supaya suaranya terdengar lebih nyaring.
“Sudaaaah!” Beberapa siswa 3-4 menjawab serempak.
Kini seluruh siswa 3-4 secara lengkap tengah berada di stasiun kereta untuk berangkat bersama-sama menuju Nara. Liburan bersama sebelum kelulusan yang sangat mereka nanti-nantikan akhirnya tiba. Waktu puncak dari menikmati masa sekolah.
“Yosh!” Maki berteriak semangat.
“Waaa tidak kusangka akan benar-benar lengkap. Bahkan Raku yang hikikomori juga ikut. Mungkin aku akan mengajak kalian ke danau karena telah berkumpul lengkap,” kalimat Nashiro Amagawa yang berbicara dengan beberapa siswa terdengar oleh Maki.
“Apa? Danau!?” Maki menatap Amagawa tidak percaya.
“A-aa… yah..” Amagawa dengan canggung menjawab. Ia cukup kaget dengan respon tiba-tiba Maki.
“Kenapa tidak bilang dari awal!? Seberapa jauh danau itu dari penginapanmu!?”
“H-Habisnya di sana sepi. Hanya 5-10 menit berjalan kaki.”
“Bagus! Hei jelaskan padaku danaunya seperti apa!”
“Seperti apa? Hmm itu hanya danau biasa di dekat gunung. Biasa kugunakan untuk berenang waktu kecil,” Nashiro Amagawa sedikit menaikan sebelah alisnya saat menjelaskan.
“DASAR! KENAPA TIDAK MEMBERITAHU KALAU ADA TEMPAT SEMENARIK ITU!? KAMI JADI TIDAK ADA PERSIAPAN KAN!” Maki melotot kea rah Amagawa.
Sekarang Maki berbalik ke arah kerumunan, “TEMAN-TEMAN DI PENGINAPAN AMAGAWA-KUN ADA SEBUAH DANAU YANG BISA DIGUNAKAN UNTUK BERENANG! APA KALIAN MEMBAWA BIKINI!?”
“EEEEEEEHHHHH!???” Sontak begitulah respon para siswa keseluruhan.
“He?” Sementara Amagawa malah cengo sendiri.
“Tentu saja aku tidak bawa!” Salah satu siswi menyahuti.
“Bagaimana ini? Kenapa begitu mendadak?” Terdengar sahutan yang lain.
“Kita beli saja bagaimana? Di dekat sini ada department store kan?” Maki memberikan saran setelah berpikir di tengah keributan.
“Waaa boleh!”
“Yaaay! Berenang!”
Mendengar respon teman-teman perempuannya positif, Maki meminta persetujuan pada ketua kelas dengan tatapan memohonnya.
Rui menghela nafas lalu mengecek jam tangannya, “kereta tiba 45 menit lagi. Kalian kuberi waktu belanja setengah jam. Cepat!”
“Waaaaaaiiii!!”
Dan begitulah, para siswi berbondong-bondong keluar stasiun untuk menuju departemen store terdekat.
“Ayo kamu juga!”
“He?” Hana Nampak kebingungan dengan kedua tangannya diapit teman-teman perempuannya dan ditarik mengikuti arus.
“Dasar para perempuan itu…” Nashiro Amagawa menghela nafas berat pada Rui.
“Salahmu juga baru memberitahu itu sekarang,” Rui tidak mendukung omelan Amagawa.
“Kamu mau berenang juga Ketua?”
“Entahlah. Tapi yang terpenting bukannya pemandangan saat teman perempuan sekelas kita mengenakan bikini? Hehehe…” Rui agak berbisik pada Amagawa.
“Ha ha ha,” Amagawa tertawa hambar.
“Ini seperti pesta terakhir kita sebelum kelulusan! Kita harus mencari momen-momen khusus yang membuat kita tidak menyesal telah menjadi seorang siswa SMA!”
“…” Sementara itu Kuroto Yoshiki yang diam-diam mendengar bisikan Rui hanya menatap datar ke arah lain dengan meminum perlahan kopi kalengnya. Tidak ada yang menyadari jika ada bekas peyot akibat dari pegangannya yang terlalu kuat pada kaleng kopi itu.

.

Seketika sebuah took di departemen store diserbu oleh kerumunan siswi kelas 3-4. Suasana menjadi riuh dan penuh. Bahkan pelayan toko sempat pontang-panting melayani.
“Lihat! Bagaimana? Cocok tidak?”
“One piece putih! Bagus-bagus!”
Di sisi lain Hana hanya bisa sweatdrop melihat teman-temannya begitu bersemangat bergantian keluar-masuk ruang ganti dengan beragam bikini melekat pada tubuh mereka.
“Uwaaa… sebenarnya apa yang kulakukan di sini?” Keluh Hana.
“Kamu ngapain di sini? Nggak cari bikini?” Celetuk Yui dari belakang Hana tiba-tiba.
Seketika Hana menolehkan kepalanya dan mendapati perempuan bersurai ungu itu tengah memasukkan sesuatu ke dalam tas plastic—sepertinya Yui telah mendapatkan bikininya, “ah Yui, sudah dapat?”
“Begitulah,” sahut Yui santai, “lalu bagaimana denganmu? Kamu nggak cari bikini?”
“Ah tidak… aku tidak berniat berenang… sepertinya,” Hana menatap ke arah lain dengan berkeringat dingin.
“Kenapa sih? Kita kan sudah pernah berenang bersama? Dan tidak ada yang aneh dengamu mengenakan bikini,” Yui menyilangkan tangannya di depan dada.
“Y-Yah… kemarin kan yang ikut cumin beberapa orang. Beda dengan sekarang di mana banyak yang ikut.”
“Tunggu di sini, akan kucarikan ukuran yang pas untukmu!” Yui kabur begitu saja.
“HEEEEEEE!!??”

.

Akhirnya beberapa jam kemudian kereta dengan salah satu gerbong dipenuhi oleh penghuni kelas 3-4 berangkat meninggalkan stasiun. Suasana riuh penuh canda menguar di dalam gerbong.
Read More ->>

Selasa, 04 Desember 2018

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 22]

CHAPTER 22: IS THIS HAPPINESS?

Jarum jam telah menunjuk ke angka 6 pagi itu. Bagi seorang pelajar, jam 6 adalah jam yang tepat untuk bangun dan bersiap-siap berangkat sekolah. Tapi tidak bagi Hana. Perempuan berambut pendek itu masih tidur bergumul dengan selimut putihnya yang tebal.
Yoshiki tersenyum tipis melihat ekspresi polos Hana yang masih larut dalam tidurnya walaupun cahaya matahari telah menerobos memasuki jendela kamar mereka. Sang raja iblis meraih kemejanya yang tercecer di sekitar ranjang akibat kegilaan-nya kemarin malam.
Bibir tipis Yoshiki tak bisa berhenti membentuk senyuman walaupun lebih mirip seperti seringai kemenangan. Akhirnya setelah beberapa minggu ia harus menderita sebagai Natsume Haru, kemarin malam ia kembali merasakan bagaimana perasaan bahagia yang egois karena berhasil menikmati tubuh istrinya. Mendengar istrinya mendesahkan namanya berkali-kali adalah candu yang lain baginya. Sejenak dadanya terasa hangat. Ia kembali tersenyum.
Disentuhkan jari-jarinya pada permukaan wajah Hana. Entah dengan niat membangunkan atau menghilangkan rindu. Tapi Hana yang merasakan sentuhan itu perlahan membuka matanya.
“Engh?” Dalam keadaan setengah sadar Hana berguman.
“Aku bisa menemanimu berbaring di sana seharian My Lady jika kau ingin mengabaikan jadwal sekolah hari ini,” Yoshiki berguman penuh lelucon sambil mengancingkan kancing kemejanya.
“AH!” Tubuh Hana seketika melompat dari ranjang.
Bola mata langit Hana melebar begitu melihat jarum-jarum jam yang terus bergerak.
“Baka! Yoshiki-kun kita akan terlambat! Kenapa tidak membangunkanku lebih pagi!” Hana menyemburkan kalimat-kalimat penuh kemarahan.
“Hn? Kukira kau cukup lelah setelah beberapa orgasme kemarin malam,” seolah mengucapkannya tak acuh, tetapi Yoshiki tetap tidak bisa menyembunyikan kejahilannya.
Seketika ruam merah meledak di wajah Hana. Kepalanya yang kaku berberak menunduk dan menyadari jika selimut yang menutupi tubuhnya telah lenyap. Sekarang tubuh kecilnya terpampang jelas tanpa selembar kainpun.
“B-BAKAAAAAAA KELUAR SANA!” Hana mendorong Yoshiki keluar kamar tanpa sadar.
BLAM!
Pintu besar kamar tertutup dari belakang. Menyisahkan Yoshiki dengan kemeja setengah terkancing. Membuat beberapa pelayan yang berjaga di depan kamar merasa kebingungan melihat raja mereka baru saja didepak dari kamarnya sendiri.
Tetapi sepertinya Yoshiki tidak memperdulikan hal itu. Justru ia malah tersenyum lebar. Sesuatu yang sangat langkah.
“My Lord, seragam sekolah anda telah kami siapkan,” seorang pelayan membungkuk di dekat Yoshiki.
“Hn,” Yoshiki berguman datar.
Namun entah mengapa rasanya kebahagian begitu meluap-luap di dalam rongga dada Yoshiki.
‘Tidak salah lagi, kebahagiaan ini…. My Lady…’
.

Hana hanya diam. Baik di ruang makan maupun di mobil yang tengah dikendarai Yoshiki dengan kecepatan yang mampu membuat polisi menilangnya.
Perempuan berambut gelap itu masih belum mempercayai apa yang terjadi. Kuroto Yoshiki telah kembali. Suaminya telah kembali. Seakan seperti mimpi ia bisa kembali sarapan di meja yang sama dengan sang suami, bahkan berangkat sekolah seperti dahulu bersama sang suami.
Bibirnya perlahan membentuk sebuah lekungan ke bawah.
‘Yoshiki-kun… aku bahagia.’
.

“Woah woah lihat siapa yang datang? Sang pangeran dan sang idiot!”
Hana terkejut begitu memasuki ruang kelas dan mendapati Maki berujar penuh sindiran, “EH!?”
Yoshiki sendiri tak begitu menanggapi kalimat Maki, ia memilih melewati Maki begitu saja untuK menuju bangkunya.
Hana menatap Yoshiki sejenak, ‘begitu ya… Yoshiki juga sudah menggembalikan ingatan setiap orang di sini.’
“Kamu ini kenapa sih Maki? Masih pagi loh?” Hana berguman kesal pada Maki yang masih menatapnya dongkol.
“Haaah… memangnya setelah kuceritakan kamu akan paham perasaan seorang jomblo? Kamu kan sudah bahagia dengan Kuroto-kun,” Maki menatap ke arah lain dongkol.
“Kamu gagal dapat alamat email kouhai yang kamu incar?” Hana menebak ragu.
Maki menghadiahi Hana dengan tatapan tajam, dengan begitu Hana berhasil menyimpulkan jika tebakannya tidaklah salah.
“Berarti dia bukan jodohmu Maki, berusahalah lagi,” memilih meninggalkan Maki, Hana melangkah menuju bangkunya yang berada tidak jauh dari bangku yang diduduki Yoshiki.
Tunggu—
Bukankah tempat duduk yang digunakan oleh Yoshiki sekarang adalah tempat duduk Natsume Haru biasanya? Kalau dipikir-pikir lagi, ia tidak pernah sekalipun bertemu Natsume Haru semenjak kejadian Ishikawa Guren yang mengantarnya pulang. Kemana gerangan perginya pria berambut putih itu?
“Anu, Yoshiki-kun?” Tiba-tiba saja Hana telah membuka suaranya. Membuat Yoshiki yang asyik bertopang dagu menatap keluar jendela kelas di lantai 3 menoleh ke arah Hana.
“Hn?” Gumannya dengan menaikan sebelah alisnya.

“Natsume Haru, aku tidak pernah melihatnya lagi, apa kamu tahu dia di mana?”
Yoshiki lumayan tersentak mendengar pertanyaan Hana, “Hn, kenapa mencarinya?”
Hana bungkam beberapa detik, ia menundukkan kepalanya, “tidak… kukira aku pernah membuatnya marah,”
“Marah?” Lagi-lagi Yoshiki melontarkan sebuah pertanyaan.
“Umm, yah, mungkin dia marah karena mengabaikan banyak email dan panggilan darinya sementara dia menunggu lebih dari 3 jam,” Hana masih menundukkan kepalanya.
Rahang Yoshiki mengeras begitu mengingat kejadian itu. Padahal ia sangat ingin melupakan kejadian itu. Dan lagi, Hana tetap saja tidak menyadari jika kemarahannya bukan karena ia menunggu seberapa lama. Tetapi inti dari kemarahannya adalah, bagaimana bisa Hana diantar pulang oleh Ishikawa Guren!? Apa yang terjadi diantara mereka!? Apa saja yang mereka lakukan dan bicarakan di dalam mobil!? Atau jangan-jangan Ishikawa Guren juga ikut dalam kegiatan makan crepe mereka!?
“Um? Yoshiki-kun?” Hana memutuskan memanggil nama sang pria karena dilihat dari manapun sepertinya Yoshiki tenggelam dalam pikirannya.
“Hn?” Yoshiki kembali mendongkak pada Hana. Kali ini tanpa sadar ia menatap Hana dengan sangat dingin.
“Sepertinya ia tidak kembali menjadi murid di kelas ini ya, Natsume Haru,” tentu saja Hana menyadari tatapan dingin tiba-tiba Yoshiki, tetapi ia lebih memilih melanjutkan topic pembicaraannya mempertimbangkan jika Yoshiki memiliki beban pikiran yang tak ingin dibicarakan.
“Dia tidak bisa kembali lagi,” ucap Yoshiki tiba-tiba.
“Eh?”
“Karena identitas sebenarnya Natsume Haru adalah aku.”
Tubuh Hana menegang.
SREEEEEEG
Pintu geser kelas terbuka dan memunculkan seorang pria tua berkacamata, itu Naoishi-sensei, guru pengajar Kimia. Seketika seluruh penghuni kelas duduk rapi di bangku masing-masing. Kecuali Hana yang masih mematung di tempatnya.
“Rayumi! Cepat kembali ke bangkumu!” Naoishi-sensei membentak Hana.
“A-ah,” Hana menoleh ragu. Apa maksud Yoshiki barusan? Tapi pelajaran telah dimulai. Dengan terpaksa Hana menuju bangkunya yang berada di belakang bangku Yoshiki berjarak 2 bangku.
Selama pelajaran berlangsung pun, Hana hanya mampu mengamati punggung Yoshiki dari belakang.
‘Natsume Haru-kun adalah Yoshiki-kun?’
‘Jadi selama ini Yoshiki-kun tidak ditangkap Exorcist?’
‘Lalu kenapa menyamar?’
Beberapa pertanyaan muncul bertubi-tubi di dalam kepalanya. Tak memberinya kesempatan untuk menyimak satu pelajaran pun.
.

Bel istirahat menggema beberapa saat setelah guru pengajar keluar dari kelas. Tak menyianyiakan kesempatan yang ada, Hana segera menuju bangku Yoshiki.
“Yoshiki-kun! Ayo makan siang di atap!” Hana harus segera mendengar jawaban-jawaban dari segala pertanyaannya dari mulut Yoshiki. Oleh karena itu mereka membutuhkan tempat yang lebih privasi.
“Hohoho… lihatlah pasangan yang sedang kasmaran ini,” Maki menyindiri dari arah belakang.
“H-he?” Hana menoleh ke arah Maki yang ternyata bukan cuma Maki yang tengah menatap mereka, tetapi seluruh penghuni kelas juga.
“APA-APAAN TATAPAN KALIAN ITU!?” Wajah Hana sukses memerah padam.
GREP
Tangan tan Hana yang digenggam oleh Yoshiki memaksanya mengikuti langkah Yoshiki keluar kelas.
“T-Tunggu Yoshiki-kun!” Protes Hana karena ditarik tiba-tiab.
“Fyuuut~” Siulan penuh godaan terdengar riuh di dalam kelas begitu keduanya meninggalkan kelas.
.

“Y-Yoshiki-kun sebentar!” Hana berusaha berhenti mengikuti tarikan Yoshiki.
“Hn? Ada apa? Bukankah ada hal yang ingin kau bicarakan denganku sambil makan siang di atap?” Ucap Yoshiki tak acuh.
“Itu memang benar, tetapi aku tak membawa makan siang, jadi sebaiknya kita beli terlebih dahulu.”
“…” Yoshiki sweatdrop.
.

Cuaca hari itu cukup cerah. Matahari tidak bersinar pada intensitas tinggi. Awan gelap juga tak terlihat di manapun mata memandang. Beberapa burung beraktivitas di angkasa. Dan ditambah tidak ada seorangpun yang menggunakan atap selain Rayumi Hana dan Kuroto Yoshiki. Entah situasi yang kebetulan atau semua orang yang hendak ke atap telah Yoshiki singkirkan terlebih dahulu.
“Yoshiki-kun, kamu yakin tidak mau mencoba roti soba ekstra keju ini?” Hana menyodorkan sebuah roti yang penuh berisi serutan keju.
“Hn, tidak, aku lebih menyukai masakan buatanmu daripada harus memakan makanan kantin,” tolak Yoshiki.
Wajah Hana sedikit memerah mendengar kalimat Yoshiki, “apaan sih, padahal kamu dulu pernah beberapa hari di kantin, dan lagi masakanku tidak seenak itu.”
“Hn, itu hanya demi mengurangi kecurigaan saja,” jawab Yoshiki enteng.
“Jadi, umm, apa benar? Yoshiki-kun adalah Natsume-kun?” Tanya Hana ragu-ragu.
“Hn,” jawab Yoshiki tak acuh, bahkan menoleh ke arah lain.
Hana menghentikan aktivitas makannya seketika. Menelan bulat-bulat kunyahan roti soba dalam mulutnya yang belum sepenuhnya lembut.
Hening beberapa saat.
“HEEEEEEEE!!?” Dalam beberapa detik Hana melakukan beberapa hal sekaligus, melemparkan roti sobanya, menduduki salah satu paha Yoshiki yang tengah duduk, mencengkram kerah baju Yoshiki, dan berteriak tepat di muka Yoshiki, “JADI ITU BENAR?? KENAPA HARUS MENYAMAR DAN MEMBUAT KABAR BAHWA YOSHIKI-KUN DITANGKAP? DASAR YOSHIKI-KUN BODOOH! Dasar bodoh…” hingga suaranya memelan dan menghilang, Hana menundukan kepalanya, menyandarkan rambut gelapnya pada dada bidang sang suami.
“Padahal aku… benar-benar shock, aku khawatir, aku bingung, semuanya… terasa menyedihkah…” setiap penggal kalimatnya, nada bicara Hana semakin melemah. Bahkan ia tak bisa menahan air mata yang menukik turun dari bola matanya.
“….” Kedua onyx gelap Yoshiki yang biasa memancarkan intimidasi kini merasa terkalahkan. Keduanya terbelalak lebar menatap kepala gelap Hana yang bergetar di dadanya.
“Aku… tidak memiliki pilihan lain,” Yoshiki menatap ke arah lain sebelum memulai penjelasannya, “mereka menggunakanmu untuk mengincarku. Karena keteledoranku, mereka berhasil mendapatkanmu untuk memancingku. Dalam keadaan terdesak aku segera bertukar posisi dengan Tomuro. Dia menyamar sebagai diriku dan aku kembali sebagai Natsume Haru. Tentu saja menggunakan penyamaran tradisional saja. Karena mereka pasti akan mencariku lewat energi dan gelombang sihirku aku harus mematikan aliran sihir dalam tubuhku.”
“Lihat,” Yoshiki memunculkan sebuah topeng penyamaran berupa kulit dan rambut berwarna putih dalam genggamannya. Tanpa banyak kata lagi dipakainya topeng tersebut. Dan dipasangnya sepasang lensa mata berwarna merah sebagai pelengkap.
Kedua bola mata langit pagi Hana melebar melihat sosok di hadapannya. Dalam kurang dari lima menit Kuroto Yoshiki yang berambut jagged gelap telah berubah menjadi Natsume Haru yang berambut putih.
“N-Natusme-kun?”
Yoshiki dalam penyamarannya mengangguk lemah, “begitu kembali ke mansion aku agak terkejut melihat reaksimu yang cukup jauh dari bayanganku,” ucapnya menggunakan suara Natsume Haru.
“Ah! S-Suaranya juga berubah!”
“Hn, dengan latihan aku masih bisa membuat suara yang lain.”
“S-soal reaksiku, aku hanya benar-benar bingung saat itu. Aku tidak ingin kamu ditangkap. Dan tiba-tiba ada orang asing muncul, membuatku marah saja dan tanpa sadar aku menusuknya. M-Maaf…” Hana kembali menundukan kepalanya.
Yoshiki dalam wajah Natsume Haru tersenyum tipis, ditepuknya kepala Hana halus, “tidak apa, lagi pula aku pernah ditusuk sampai setengah sekarat olehmu.”
Hana mengangkat kepalanya cepat dan menunjukkan ekspresi cemberut, “m-mou! Kenapa dibahas lagi!”
“Hahaha,” Yoshiki tertawa pendek, “tetapi bukan itu reaksi yang kumaksud.”
“Eh? Lalu?”
“Aku tidak menyangka kau benar-benar putus asa setelah menerima kabar itu. Bahkan kau sampai membenturkan kepalamu ke dinding. Padahal aku ada di dekatmu tetapi tidak bisa berbuat apa-apa,” Kedua alis Yoshiki mengerut ke atas.
“T-Tapi akhirnya Yoshiki-kun memberikan rekaman itu kan!” Hana mencoba membangkitkan kembali semangat Yoshiki.
“Hn, rasanya memang menyebalkan saat tidak bisa melakukan apa-apa untukmu walaupun aku berada di dekatmu. Saat Class Fest waktu itupun, aku telah meninggalkanmu sendirian,” ucap Yoshiki dengan nada berat namun berkesan sedih.
“Ah…” bukannya menyemangati Yoshiki, Hana ikut larut dalam alur pembicaraan, “waktu itu… aku memang berharap jika Yoshiki-kun ada di sampingku, dan… uh… ke ruang istirahat mungkin? Hehe.”
Diraihnya tubuh Hana yang duduk menindih pahanya yang tersilang, dan ditundukkannya kepalanya untuk bersandar pada bahu kecil Hana, “tanpa kau minta pun, aku akan membawamu ke sana. Apalagi setelah itu aku harus melihatmu bergandengan tangan dengan si sialan Ishikawa Guren itu,” ujar Yoshiki dongkol.
“T-tunggu. Kalau tidak salah setelah itu—“ Kalimat Hana tercekat di tenggorokannya begitu menyadari apa yang terjadi setelahnya. Natsume Haru memasuki kamarnya dan entah bagaimana
“Jadi ternyata memang Yoshiki-kun yang waktu itu kupeluk!”
“Hn, waktu itu aku tidak bisa menahan diriku.”
“U-uh…” Hana hanya menunduk lemah.
“Dan semuanya semakin memburuk ketika Ishikawa Guren semakin mendekatimu dan kau tiba-tiba membenci Natsume Haru. Sebenarnya kenapa kau membenci Natsume Haru?” Sekarang Yoshiki dalam penyamaran Natsume Haru menatap jengkel pada Hana. Sungguh terlihat aneh melihat Natsume Haru harus menyebut namanya sendiri.
“Habisnya waktu itu aku tidak sengaja mendengar pembicaraannya dengan Misaki. Dia bilang seperti ‘lebih baik seperti ini, Yoshiki-kun ditangkap’ seolah-olah Natsume-kun bisa mendapatkanku saat Yoshiki-kun tertangkap!”
“Menginginkamu? Kau menterjemahkannya seperti Natsume Haru tertarik padamu?” Yoshiki yang tengah menyamar sebagai Natsume Haru mengangkat satu alisnya.
“Ya begitulah! Mou!” Ruam merah kembali menyelimuti wajahnya saat mengungkapkan rasa kepercayaannya yang tinggi, mengira Natsume Haru menyukainya.
“Hhhh….” Yoshiki membuang nafas berat, “hal yang bagus kau bisa melindungi dirimu jika ada pria yang tertarik padamu, tetapi hal itu benar-benar menyulitkanku kali ini. Lagipula jika kau bisa merasakan bila Natsume Haru tertarik padamu, kenapa kau tidak menyadari jika Ishikawa Guren juga tertarik padamu?”
Read More ->>

Jumat, 16 November 2018

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 21]

CHAPTER 21: TADAIMA

TOKYO EXORCIST HEADQUATERS 3.00 PM
Di antara mayat-mayat yang bergelimpangan, sebuah cahaya muncul sekejap dan memunculkan seseosok pemuda berambut keabuan. Dan seketika itu juga mata pemuda itu menggelap.
Pantas saja tidak ada kontak dari markas pusat Tokyo. Bahkan sudah tidak ada siapapun yang bernyawa di sini. Hanya ada bangkai para exorcist berserakan.
Yosef Strauss jatuh dalam keputusasaannya.
“Y-1 L-lari…” Angin sore membawa suara rintihan lemah kepada telinga Yosef.
“Chiaki! Chiaki!” Yosef yang mendengar suara harapan itu langsung berteriak sejadinya. Memanggil-manggil nama pemilik suara dengan nama kecilnya. Mengabaikan hukum jika saat bertugas Exorcist harus dipanggil dengan nama tugas.
“Kau mencari dia?”
DUAK!
Yosef tidak perlu mencari lagi sekarang. Karena Fushimi Chiaki yang ia cari-cari telah berada di hadapannya. Tersungkur dengan luka yang mengeluarkan darah di sekujur tubuhnya. Bahkan jas Exorcist yang seharusnya berwana hitam itu telah dikuasai oleh warna merah darah.
“L-lari Y-1. L-Lucifer d-di sini—uhuk!” Segumpal darah yang menyumbat kerongkongan remaja keliahiran Nara itu akhirnya membuatnya terbatuk keras dan pingsan.
“Dia Exorcist yang hebat. Bahkan hanya pingsan setelah kuhajar, dia pantas mendapat peringkat 6.”
Amarah Yosef kembali tersulut begitu melihat sosok Kuroto Yoshiki yang terlihat tenang-tenang saja setelah mengacak-acak markas pusat Tokyo.
“LUCIFEEEEEEERRR!” Tanpa acang-acang Yosef mengeluarkan Abschleppen Geist miliknya yang berupa pedang.
“Ada apa Yosef Strauss? Kau marah? Marah karena kehilangan banyak anggotamu hari ini?” Kuroto Yoshiki hanya berujar enteng walaupun dihadapannya Yosef Strauss telah siap membelah tubuhnya dengan pedangnya.
“Aku pun juga…” Yoshiki menundukkan kepalanya sesaat.
Bayangan berupa potongan-potongan film ketika Hana berbicara dengan Guren Ishikawa dengan akrab, Hana yang menggenggam tangan Ishikawa Guren, dan bagaimana Hana tersenyum manis kepada Ishikawa Guren.
Kedua tangan Yoshiki mengerat keras.
“… punya hak untuk marah.”
Detik itu juga tebasan berkekuatan tinggi dari Yosef Strauss terarah tepat pada kepala Yoshiki.
DAK!
“M-mustahil! H-hanya ditahan dengan tangan!”
Serangan bertenaga tinggi, ditahan dengan satu tangan oleh Kuroto Yoshiki.
Cahaya terang bertubrukan dengan kegelapan.
.

Ponsel Hana berbunyi tepat ketika ia mulai membersihkan mejanya. Diraihnya ponsel yang kala itu ia letakan pada kantung tasnya. Sebuah email masuk.
Dari Ishikawa Guren.
Sebuah email singkat hanya hanya berisi kalimat, “bisa kita bertemu sekarang di pematang sungai dekat stasiun?”
“YUI! MAKI! SHIRO! BAGAIMANA INI?” Dan Hana kebingungan harus menjawab apa.
Ketiga sahabat itu lantas berkumpul sebelum bersweatdrop masal.
“Err… Bagaimana kalau coba temui dia dan jelaskan jika kau sudah memiliki pacar? Memintanya mengakhiri ‘pendekatannya’?” Saran Yui.
Hana mengangkat kepalanya dengan pandangan berbinar, “Saran diterima! Terima kasih Yui-chan! Kalau begitu, teman-teman aku duluan ya!” Disambarnya tas yang belum sempat ia rapikan—memasukan asal segala buku dan peralatan tulisnya begitu saja ke dalam tas.
Begitu Hana mencapai pintu kelas, Yui tiba-tiba berteriak, “Hana, maafkan aku ya! Aku tidak tahu jika kamu ada pacar!”
Hana tersenyum lebar, “apa sih Yui-chan, aku nggak memikirkan hal itu sama sekali!” Dan melangkah lebar keluar kelas.
Derap langka Hana menggema di dalam lorong dan tangga yang ia tapaki. Terus berlari secepat mungkin menuju pematang sungai.
‘Harus kukatakan! A-aku… aku….,’ Hana semakin mempercepat larinya, mengabaikan berat tas yang tengah ia bawa di bahu kanannya.
‘Aku mencintai Yoshiki-kun! Dan hanya Yoshiki-kun!’
.

“Hentikan saja Strauss, kau tidak bosan dengan pertarungan berat sebelah seperti ini?” Kuroto Yoshiki mengembalikan pedang Kusanagi miliknya dalam bentuk partikel sihir.
“K-kau pikir aku akan menyerah setelah yang kau perbuat pada Exorcist hari ini!?” Yosef Strauss dengan luka disekujur tubuhnya—terutama di bagian kepalanya—perlahan bangkit dengan berpegangan pada pedang Abschleppen Geist miliknya.
“Hhhh…” Yoshiki menghelakan nafas berat, “kau bukan tandinganku, walaupun kau memang kuat—“
Jeda yang diberikan Yoshiki membuat Yosef mendongkakkan kepalanya penasaran walaupun rasanya untuk meneggakkan kepala lurus saja sangat pusing.
“—Datangkanlah Gabriel jika kau memang ingin mengalahkanku,” Yosef Strauss membelalakkan kedua bola matanya.
“I-itu…”
DUAKK!
Yoshiki mengarahkan tinjunya tepat di ulu hati Yosef Strauss. Mengakibatkan pemuda itu menghentikan kalimat ragu-ragunya. Dan pingsan beberapa saat kemudian.
‘Nah, aku terlalu menghabiskan waktu di sini. Aku harus segera menyusulnya,’ Kuroto Yoshiki kembali melompati bangunan dan pepohonan untuk kembali ke mansionnya.
‘My Lady…’
.

“Guren-kun!” Hana meneriakkan nama pria yang tengah berdiri menghadap sungai. Memandangi pantulan warna merah dari matahari senja.
Pemuda pemilik Ishikawa Corp. itu menoleh dengan wajah kalem. Pantulan sinar dari sungai entah kenapa malah membuat ketampanan pemuda itu meningkat. Hana tak ayal terpesona sesaat pada pemuda itu.
‘Dih! Kenapa malah terpesona!’ Hana merutuki dirinya sendiri.
.

Sebuah sedan gelap berhenti diiringi dengan decitan ban belakang di depan Mirai no Gakoo.
“Apa-apaan mobil itu?” Maki berbisik pada Yui yang berjalan di sampingnya.
Sesosok pria berambut jagged keluar dari kursi pengemudi mobil penyebab keributan itu. Mencegah langkah Yui dan Maki untuk pulang.
“Di mana Kuroto Hana?” Pria itu yang tak lain adalah Kuroto Yoshiki bertanya dengan terburu-buru.
“Hana? Dia ke pematang sungai dekat stasiun,” Maki lantas menjawab begitu saja.
Tanpa mengucapkan terima kasih Yoshiki kembali masuk ke dalam mobilnya. Melajukan mobilnya sekecang mungkin.
“Maki, apa kamu merasa pernah melihat pria barusan entah di mana?” Kedua bola mata Yui terpaku pada mobil sedan yang telah hilang memecah jalanan.
“Yui juga merasa begitu? K-kukira Cuma aku. Mungkin memang teman Hana atau semacamnya?”
.

“A-anu Guren-kun!”
“Aku bicara dulu, boleh?” Pemuda itu menyela kalimat Hana dengan tenang, tersenyum tulus.
“Eh?” Hana yang mendapat senyuman seperti itu lantas tak bisa menolak permintaan halus Ishikawa Guren, “b-baiklah, silahkan.”
“Fufu,” Ishikawa Guren tertawa tipis, “tak kusangka kamu juga punya sesuatu untuk diucapkan.”
Hana hanya menunggu kalimat Ishikawa Guren berikutnya.
Guren terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan kalimatnya, “aku tidak menyangka jika kamu adalah anak nakal yang kutemui di tempat cukur rambut sepuluh tahun lalu, dan lagi bodohnya aku mengira jika kamu laki-laki,” tawa kecil Ishikawa Guren di tengah udara senja membuat wajah Hana memerah perlahan.
“Dan…. Tanpa sadar… semenjak kita kembali bertemu… melakukan banyak aktivitas bersama akhir-akhir ini… sebuah perasaan tumbuh. Oleh sebab itu,” kaki berpantofel hitam Guren melangkah menaiki tanah yang terjal untuk mendekati Hana, “aku menyukaimu Kuroto Hana, maukah—“
“Cukup sampai di situ.”
Sebuah nada Baritone yang khas dan dalam menginterupsi segera kalimat Ishikawa Guren. Baik Hana maupun Ishikawa Guren seketika menoleh ke arah suara.
Kuroto Yoshiki, keluar dari mobil sedannya.
“Y-Y-Yoshiki-kun…” Hana berujar lemah.
Sementara Ishikawa Guren menatap tidak mengerti. Kepalanya masih memproses kejadian-kejadian yang tengah berlangsung dalam kepalanya.
Kuroto Yoshiki berjalan menuruni pematang sungai dan berhenti tepat di hadapan Ishikawa Guren, “dia milikku, Ishikawa Guren,” menekankan setiap kalimatnya dengan absolut, Kuroto Yoshiki menatap tajam Ishikawa Guren.
“Y-Yoshiki-kun!” Tak bisa menahan lagi, kaki Hana bergerak menuruni pematang dengan ceroboh.
Kuroto Yoshiki yang selama ini tak ada di sampingnya, Kuroto Yoshiki yang tak pernah ia lihat. Benarkah? Benarkah itu Kuroto Yoshiki? Kuroto Yoshiki yang telah mengacaukan kehidupannya setelah sosok itu menghilang?
GREP!
Diraihnya lengan berbalut jas gelap itu.
Air mata menetes dari kedua bola mata Hana.
‘Baunya… sama… Yoshiki-kun, ini benar Yoshiki-kun,’
Yoshiki cukup tertegun melihat perliaku Hana yang menangis dengan mengapit lengan kanannya.
“Tadaima…” gumannya.
“Hiks… hiks… Okaweri…” Hana bahkan tidak bisa mengucapkan kalimat selamat dating yang tepat karena ingus dan air mata yang membanjiri wajahnya.
Kedua alis Yoshiki terangkat. Ujung-ujung bibirnya yang kaku terangkat perlahan. Tangannya bergerak mengusap rambut hitam pendek yang sudah teracak-acak itu.
Ah, sudah berapa lama dia tidak bisa mengusap rambut ini?
“… M-maaf, anda siapa?”
Acara melepas rindu Hana dan Yoshiki terinterupsi oleh pertanyaan Ishikawa Guren.
“Kuroto Yoshiki. Suami dari Kuroto Hana,” Yoshiki tak bisa menipu dirinya sendiri, bahkan kalimat penuh keangkuhan khas dirinya tak bisa ia tahan untuk keluar. Betapa bangganya ia bisa mengatakan hal itu di depan Ishikawa Guren yang selama ini tak bisa ia katakana sebagai Natsume Haru.
“E-EH!?” Pemuda dengan jas coklat itu tersentak di tempatnya.
“S-SUAMI? M-MARGANYA MEMANG SAMA! T-TUNGGU, K-KUROTO YOSHIKI BUKANKAH—“ Mungkin karena terlalu shock atas apa yang baru saja ia dengar, Ishikawa Guren tak bisa menahan dirinya.
“Benar, jika kau memang mengenal nama itu, maka akulah pemilik nama itu,” suatu hal lain untuk dibanggakan pada Ishikawa Guren, tapi Yoshiki hanya menggunakan nada biasa tanpa keponggahan. Memiliki nama besar sebagai pengusaha tidaklah lebih baik daripada mengumumkan kepada siapapun bahwa Hana adalah miliknya.
“T-tidak mungkin…” Ishikawa Guren berguman lemah, kalah telak.
“Sekarang, Ishikawa Guren jika urusanmu dengan istriku sudah selesai, kami harus pergi dari sini,” ucap Yoshiki tak acuh sambil menarik tangan Hana pergi.
“….” Ishikawa Guren hanya mampu memandangi kepergian keduanya dengan perasaan campur aduk.
.

Deru halus mobil sedan satu-satunya hal yang mengisi keheningan. Yoshiki terus mengemudi tanpa membuka suara. Sementara Hana terus memegangi lengan jas Yoshiki dengan kepala tertunduk. Sesekali Yoshiki melirik ke arah Hana dengan bibir tertarik tipis.
Dalam diamnya Hana hanya tak mengerti harus mengucapkan kata apa yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya saat ini. Yang ia tahu, ia hanya tidak ingin Yoshiki meninggalkannya lagi, jadi dia akan terus memegang Yoshiki, tidak akan mengizinkan pria itu pergi lagi.
Begitu pula Yoshiki, kali ini ia akan memilih mengikuti insting keras kepala pada harga dirinya yang tinggi. Hana sudah terlalu banyak lepas kendali ketika kepergiannya. Setidaknya ia akan menunggu Hana menceritakan semuanya.
.

“My Lord,” seorang penjaga membukakan pintu mobil begitu Yoshiki menghentikan mobilnya tepat di depan pintu mansion.
“Selamat datang kembali, My Lord,” ucap beberapa penjaga.
“Hn…” mengabaikan ucapan selamat datang yang cukup ramai itu, Yoshiki kembali meraih tangan Hana dan menariknya memasuki mansion.
Seorang dengan jas putih datang menghampiri Yoshiki ketika ia hendak menuju kamarnya, “My Lord,” ucap pria tua yang merupakan kepala kesehatan mansion.
“Hn, ada apa?” Ucap Yoshiki datar.
“My Lord bisakah anda datang ke pusat kesehatan untuk menjalani pemeriksaan. Anda baru kembali dari markas Exorcist, kami ingin memeriksa keadaan anda,” ungkap sang dokter.
“Hn, tidak perlu. Kau lihat, aku baik-baik saja,” Yoshiki kembali menjawab tanpa minat, “Tomuro bagaimana keadaannya?”
“Arashi-sama mengalami banyak kerusakan sirkuit sihir. Organ manusianya tidak bisa bertahan. Butuh pemulihan cukup lama bagi Arashi-sama,” jelas sang dokter.
“Hn, berapa lama?”
“Setidaknya lebih dari 2 minggu.”
Yoshiki terdiam sejenak sementara ia berpemikiran, ‘tidak kusangka akan separah itu, Exorcist sialan itu, mereka telah memiliki teknologi yang benar-benar maju.’
“Kalau begitu kalian fokuskan saja penyembuhan Tomuro. Kalian tidak perlu memeriksaku,” Yoshiki berujar sambil menarik Hana memasuki kamarnya, mengabaikan teriakan khawatir para dokter lain yang mulai datang menyusul.
Begitu memasuki kamarnya Yoshiki melepaskan jas gelanya dan melemparkannya ke sembarang tempat.
“A-anu, Yoshiki-kun apa yang terjadi dengan Tomuro-kun?”
Yoshiki terhenyak. Ia menatap Hana yang tengah duduk di tepi ranjang dengan tidak percaya.
Pria yang sekarang telah melepaskan beberapa kancing kemeja bagian atasnya itu mengambil beberapa langkah dan mendekat ke arah Hana. Diangkatnya dagu Hana yang tertunduk. Dalam sekali sentak wajah Hana telah menatap wajah Yoshiki.
“Hn? Tomuro? Setelah lama tak bertemu yang kau tanyakan pertama kali padaku adalah Tomuro?” Walaupun hanya sebuah kelakar tidak lucu, Yoshiki tetap tidak bisa menahan rasa jengkelnya.
“A-Aa—“ Begitu wajah Hana berhadapan dengan wajah Yoshiki, seketika semburat merah memenuhi wajahnya.
Lidah Hana kelu. Ia sendiri memliki banyak hal yang menahannya untuk berujar lebih pada Yoshiki. Semua rasa bersalah berkumpul dan menyumbat kebahagian Hana walaupun telah bertemu dengan Yoshiki.
Perlahan kepalanya kembali menunduk, “maaf…,” guman Hana lemah akhirnya.
“…” Yoshiki masih terdiam, mengamati Hana.
Kedua tangan Yoshiki bergerak meraih telapak tangan Hana. Ditatapnya lekat jari-jari mereka yang saling bersatu dalam genggamannya yang absolut. Lalu dengan pandangan agak ragu, dibawanya tangan kecil Hana untuk ia kecup.
‘Chu’ sebuah ciuman ringan namun cukup lama diberikan Yoshiki pada jari-jari tan Hana.
“Eh?” Hana terhenyak karena tindakan Yoshiki. Semburat merah semakin menyebar ke seluruh permukaan wajahnya.
“Dia menggenggam tanganmu di sini kan?” Ujar Yoshiki berat. Kedua bola mata hitamnya hanya terbuka sedikit, seolah menatap dalam jari-jari Hana.
Hana tercekat. Yoshiki tahu! Yoshiki mengetahui jika ia pernah menggenggam tangan Ishikawa Guren pada malam festival, dan di kolam renang.
Hana hanya menunduk, ia sepenuhnya menyadari kesalahannya yang sangat fatal.
Suara decitan-decitan pada ranjang mengimbangi perlakuan Yoshiki pada Hana. Didorongnya perempuan berambut pendek itu hingga tertindih. Kembali dagu perempuan itu ia naikkan sebelum dicumnya dalam bibir kemerahan yang telah lama tak ia rasakan.
Keduanya seolah terseret dalam gelombang yang sama mulai saling mengimbangi.
Seperti seorang gentleman, dilepasnya setiap kancing yang mengait pada seragam Hana, “akan kuhapus setiap jejak yang dia buat padamu.”
“Eh?” Hana sweatdrop.
“Y-Yoshiki-k-kun dia tidak mungkin menyentuhku sampai di situ!” Hana berteriak melawan rasa malunya.
Yoshiki menyeringai tipis, “kalau begitu aku yang akan membuat jejak baru padamu.”
“U-uuh!!”
Read More ->>

Sabtu, 01 September 2018

Yami no Ai: AFTER WORLD [chapter 20]

CHAPTER 20: REVENGE

“Ternyata meninggalkanmu sendirian memang hal yang buruk,” bahkan dalam sebuah rekaman pun aura intimidasi dari Yoshiki masih terasa.
Tubuh Yoshiki yang awalnya duduk bersandar pada sofa dan kakinya ia silangkan, mulai melepaskan semua sikapnya dan mencondongkan wajahnya, “my lady, kejahatan terbesarmu adalah melupakanku, berpaling dariku, dan meninggalkanku.”
Kembali Yoshiki menyandarkan dirinya pada sofa, “my lady… kau itu… milikku.”
Hana tercekat karena mendadak ia merasakan tatapan menusuk dari kedua bola mata kelam Yoshiki.
Sejenak Yoshiki terdiam sebelum ia kembali melanjutkan kalimatnya, “walaupun untuk saat ini ragaku tak bisa menjangkaumu, dengan kuasaku aku bias menghancurkan siapapun yang merebutmu dariku, bahkan aku tidak keberatan jika harus mengurungmu dalam kegelapan jika situasinya memaksa.”
Bulu roma Hana menegang detik itu juga. Ia sempat merasakan aura membunuh tanpa keragu-raguan di sana.
Lalu sebuah seringai terukir pada bibir tipis Yoshiki, “kau ketakutan My Lady?”
Yoshiki bisa menebak dengan tepat.
Seringai itu berganti menjadi sebuah senyuman tipis yang mampu membuat siapapun tersipu karenanya, “oleh sebab itu My Lady, tetaplah menjadi istri yang baik hingga aku kembali.”
Hana melepaskan nafas berat begitu video tersebut berada pada detik terakhirnya.


“Apa? Sosok Lucifer terlihat di dalam mansionnya?” Seorang penjaga yang kala itu ikut memantau proses penyiksaan Kuroto Yoshiki sedikit menatap tidak percaya pada sang pembawa pesan.
“Informasi ini memang belum diresmikan, tapi kalian selaku penanggung jawab Lucifer setidaknya harus tahu soal ini terlebih dahulu. Bisa tolong beritahukan hal ini pada S-8?” Sang pembawa pesan membisikan kalimatnya. Berjaga agar sosok di dalam jeruji sinar UV itu tidak mendengar kalimatnya.
Arashi Tomuro dengan penyamaran sebagai Kuroto Yoshiki a.k.a masih terantai di tengah-tengah pancaran sinar UV. Tubuhnya hancur. Bahkan bisa dibilang keadaannya benar-benar tidak seperti ‘manusia’. Tulang-tulang tangan dan kakinya yang patah menekuk kea rah yang berlawanan. Tulang rusuknya remuk membuat dadanya tak berbentuk. Lubang di perutnya pun terus-terusan memancurkan cairan-cairan berwarna merah.
Bukan hal yang aneh karena memang dirinya bukanlah manusia. Tetapi iblis. Ia tidak akan mati semudah itu hanya karena kekerasan fisik. Lagipula dirinya saat ini adalah Lucifer. Akan sangat memalukan jika Lucifer tumbang hanya karena hal kecil seperti ini.
“Ada apa?”
Tomuro dengan kesadarannya perlahan bisa mendengar sedikit bisikan dari S-8. Jika kekerasan fisik saja bukanlah masalah. Tetapi kabar buruk selalu muncul, alat-alat penyiksa yang ia rasakan selalu memiliki sihir untuk merusak sel-sel iblisnya yang jauh lebih kuat dari manusia.
‘Sialan. Sebenarnya siapa yang sudah membuat alat-alat gila ini?’ Tomuro tidak yakin sudah berapa kali ia mengumpatkan hal semacam ini walau dalam hati saja.
“Lucifer terlihat di kediamannya? Kau yakin dengan berita itu?”
‘Oh?’
Tomuro menyeringai lebar. Sepertinya ini adalah kode tidak langsung baginya untuk mengakhiri misi menyamarnya ini.
“Baiklah, baiklah.”
Tomuro mendongkakkan kepalanya yang terasa berat. Berusaha mengamati ekspresi kelicikan yang saat ini menguasai wajah rupawan khas Asia S-8.
“Siapa sangka H-5 akan membuat kesalahan fatal?”
Tomuro masih memperhatikan gerak-gerik aneh S-8.
“Alat-alat aneh buatannya sama sekali tidak berfungsi mendeteksi Lucifer sekalipun!” Dilemparnya sebuah alat yang sedari tadi digunakannya untuk menyiksa ‘sosok’ Lucifer di hadapannya.
‘Jadi pembuatnya H-5. Seleranya jelek sekali,’ Tomuro kembali menggerutu.
“Nah, sebaiknya apa yang akan kita lakukan pada Lucifer palsu ini?” S-8 kembali menyeringai.
“Wah, ketahuan?” Tomuro dengan berani kembali menggunakan suaranya.
“Matikan sinar UV ini. Kita akan lihat siapa sebenarnya di balik wajah tampan Lucifer!”
Begitu sinar keunguan yang menyinari sekeliling Tomuro memudar, S-8 melangkahkan kakinya maendekati tubuh hancur Tomuro.
“Ohh, kalian menggunakan penyamaran Tradisional. Pantas saja alat bodoh H-5 tidak bisa mendeteksi,” S-8 nampak sedikit menundukkan dirinya saat menyadari ada sedikit kelupasan kulit pada leher Tomuro.
BREEEEET
Penyamaranpun terbongkar.
“Arashi Tomuro, benar?” S-8 yang berhasil mengungkap jati diri Lucifer palsu pun tersenyum lebar.
“Te-ternyata benar. Harus segera mengkabarkan ini pada Y-1!” Sang pembawa pesan segera berlari keluar.


Sementara itu, Kuroto Hana tetap terdiam di bangkunya walaupun bel pertanda istirahat pertama telah bergema. Hanya menatap ponselnya dalam kesunyian di balik bisingnya ruang kelas.
“Hana, mau ikut makan?” Yui dengan tepukannya pada bahu Hana, berhasil membawa Hana keluar dari lamunannya.
“Oh, Yui, tentu aku akan ikut. Tapi aku harus ke kantin dulu.”
“Kalau begitu cepatlah. Roti Soba favoritmu akan segera habis.”


“Semua kepala prajurit segera menghadap ke aula utama,” sebuah suara bernada berat dan gelap tiba-tiba bergema dari balik serambi pintu-pintu di sebuah bangunan tradisional Jepang.
Seluruh kepala prajurit yang kala itu tengah duduk di dalam ruangan seketika mengenali siapa pemilik suara itu. Dengan serentak mereka menjawab, “Yes, My Lord!”


Yosef Strauss dengan segala kegundahan di dalam hatinya melangkah memasuki ruang ‘penyiksaan’.
“Jadi kabar itu be—“ Kalimat pemuda itu terpotong begitu saja saat kedua bola matanya bertemu sosok Tomuro yang terantai. Bukan Kuroto Yoshiki. Bukan Lucifer.
Tomuro tidak bisa menahan lagi seringainya yang melebar. Walaupun seluruh pipinya terasa sakit luar biasa akibat siksaan-siksaan yang menerpanya.
“Yo! Tuan peringkan 1! Apa kabar?” Nada congkak keluar dari bibir Tomuro.
“Apa bukan dia sedang menyamar menjadi bawahannya?” Yosef Strauss masih tak mempercayai berita yang ia dengar. Ia mendekat ke arah Tomuro dan memeriksa setiap inchi tubuh babak belur Tomuro.
“Itu tidak mungkin. Dia menyamar secara tradisional sebagai Lucifer,” Seong Shi-Woo menyahuti dari arah belakang.
“Kau sangat yakin S-8?” Yosef menoleh dengan kegundahan.
“Dia bukan Lucifer,” Shi-Woo menjawab mentap.
“Tch!” Yosef segera bergegas meninggalkan ruangan.
Dari balik bola mata hitamnya, Shi-Woo tetap mengamati punggung Yosef hingga menghilang.
“Jadi, apa Lucifer akan datang menjemputmu hey bawahan?” Shi-Woo menatap Tomuro.
“Hmm… tidak mungkin My Lord akan datang menjemputku. Abaikan saja aku, sebaiknya kalian lebih bersiap diri,” bahkan di tengah rasa sakitnya Tomuro tidak bisa berhenti cekikikan.
Shi-Woo hanya menunjukkan wajah bingung.
“My Lord luar biasa marah loh,” celetuk Tomuro.


“Hana kau itu kenapa sih? Di kelas diam, makan pun diam! Kamu hamil?” Tetapi di sebuah atap sekolah, seorang gadis berambut putihlah yang berceletuk.
“BUUUUHH—“ Dua mulut dari empat menyemburkan makanan yang sedang mereka kunyah seketika.
“S-Shiro?” Maki sweatdrop.
“Makan memang sebaiknya diam Shiro, atau kau akan tersedak!” Yui mengomeli kalimat kasar Shiro. Tetapi walaupun begitu, apa yang dikatakan Shiro memang benar. Hana yang biasa kecerewetannya dan keceriannya berada tepat di bawah Shiro sekarang malah diam seribu bahasa.
“Hey, ada yang ingin kudiskusikan dengan kalian?” Tiba-tiba saja Hana bicara dengan nada yang berbeda dari biasanya. Apalagi Hana mengunyah roti melon biasa saja. Padahal biasanya Hana akan terus mengeluh karena gagal mendapat roti Soba. Sepertinya kondisi saat ini sangat mengerikan.
Yui sedikit meneguk ludahnya, “apa itu?”
“Apa yang harus kulakukan atas kesalahanku?”
Sekarang Yui yakin jika masalah Hana nampaknya tergolong berat.
Yui menghela nafas berat, “ceritakan saja pelan-pelan, setelah istirahan kan jam pelajaran Jepang Modern, aku yakin guru itu akan pergi entah ke mana lagi.”
Maki menatap Hana dengan anggukan.
Hana tersenyum tipis sebelum memulai ceritanya, “aku memiliki seorang—“


Tidak ada yang perlu memgetahui alasan atau cara bagaimana bisa pemimpin tertinggi mereka—raja mereka—bisa ada di hadapan mereka setelah terklaim jika sang raja tertangkap musuh. Tapi setiap=setiap pribadi yang saat itu telah membawa peralatan perangnya, telah terlampau yakin, jika sosok pria yang berdiri di atas podium itu adalah raja mereka. Kuroto Yoshiki, sang Lucifer.
“M-My Lord kembali! Astaga! Bahkan ketampanannya nampak berkali-kali lipat sekarang!” Beberapa prajurit hawa yang memandangi dari bawah pun tak bisa henti-hentinya terpesona menatap sang raja yang tengah berdisukusi dengan penasehat perangnya.
“Baju kerajaan memang sangat cocok dengan My Lord astaga!” Teriakan yang lain menyambut.
Kuroto Yoshiki yang terbalut sutra kerajaannya menatap ke arah seluruh prajuritnya dan berujar, “hari ini kita hancurkan Exorcist!”
“YES! MY LORD!” Serentak ribuan pasukan itu merespon perintah raja mereka.
‘Ayo hancurkan. Hancurkan mereka yang telah membuat keadaan sialan ini. Hancurkan mereka yang berusaha merebut milikku!’
“DS-23, AD-48, dan XO-01 sebagai tim penyergap dan beberapa naga yang baru datang segera menuju pangkalan!”
Pengarahan demi pengarahan dari penasehat perang terus diumumkan. Tidak ada satu iblispun yang berdiam diri.


 “LUCIFEEEEEERRR!!” Yosef Strauss tidak bisa menahan emosinya.
Di kala ia benar-benar kebingungan dan mencari segala kemungkinan kenapa Lucifer bisa bertukar dengan Tomuro Arashi, segerombolan iblis datang menyerang markas utama tanpa peringatan.
“Y-1 KITA HARUS SEGERA MENGEVAKUASI PENDUDUK SIPIL SESEGERA MUNGKIN!”
“Y-1 NAMPAKNYA PARA IBLIS MENDATANGI SELURUH MARKAS PUSAT!”
“KITA KEHILANGAN KONTAK DENGAN MARKAS PUSAT DI TOKYO!”
Yosef Strauss mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku memutih.
“M-Maaf Y-1, aku seharusnya…” Hilda yang merasa semua ini adalah kesalahannya berujar lemah.
“Bukan. Ini kebodohkanku!” Bahkan urat-urat nadi di sekitar lehernya menegang.
“Y-1 semua pekerja telah di ungsikan. Selanjutnya bagaimana?” Michaelis dengan raut wajah kebingungan mendatangi Yosef.
“Kita berikan Arashi Tomuro,” sahut Yosef lemah.
“Apa!?” Setiap orang yang ada di ruangan itu menganga atas jawaban Yosef.
“Kita tidak boleh merusuh di negara ini. Setelah urusan kita selesai di sini, kita harus segera kembali ke negara kita masing-masing dan mengambil alih markas pusat. Aku tidak menyangka… jika Lucifer akan semarah ini,” Yosef hanya bisa berujar lemah sementara ponselnya terus menampilkan statistik kehancuran yang dilakukan oleh pasukan Lucifer.


“Dan terakhir dia mengirimkan sebuah video padaku, yang mengingatkanku agar tidak berpaling darinya. A-aku tidak bisa memperlihatkan video itu pada kalian, tapi begitulah intinya,” kedua mata Hana telah memerah dan beberapa tetes air mata siap meluncur turun.
“Apa yang harus kulakukan? Dia sedang berjuang—bekerja di luar sana, dan di sini aku malah seperti menghianatinya,” cerita Hana diakhiri dengan ia mengajukan sebuah pertanyaan dan mengusap air matanya.
“Eh? Serius? Kamu sudah punya pacar?” Maki malah sweatdrop setelah rentetan cerita kebingungan Hana.
“Aku serius teman-teman! Berikan aku solusi!” Hana menahan ruam wajah memerahnya yang meledak.
Tentu saja Yoshiki telah menghapus ingatan seluruh temannya mengenai sosoknya. Sekarang Hana malah terlihat seperti orang bodoh, menceritakan sebuah cerita yang terdengar seperti hayalan gila Hana. ‘Aku memiliki seorang pacar, dia pergi untuk bekerja di luar sana. Dan sekarang aku di sini malah bersenang-senang bersama pria lain. Dia yang merasa aku semakin melupakannya, mengirimkan aku sebuah video,’ sungguh terdengar seperti fantasi seorang jomblo yang putus asa.
“Well, ya… jika ceritamu itu sungguhan…” Yui menggaruk pipinya yang tidak gatal, “sepertinya ini memang kebanyakan salahku.”
“HEEEEE?? SALAH YUI-CHAN??” Mulut Shiro melebar.
“Ini soal Ishikawa Guren benar?” Yui menebak.
Hana menangguk dalam diam.
“Begitu… kukira kamu sedang kosong, makanya aku dekatkan kamu dan Ishikawa Guren. Lagipula dia kan kaya dan CEO perusahaan besar, hidupmu pasti terjamin jika kamu bersamanya. Ah, aku tidak bermaksud hanya memandang hartanya saja. Tapi pria itu nampak tertarik padamu Hana, jadi yah…. Aku hanya berusaha mendekatkanmu,” jawab Yui.
“Eh?” Hana mengangkat kepalanya seketika.
“EEEEEEHHHHHHHHH????? A-APAAA? GUREN-KUN TERTARIK PADAKU??” Sembur Hana.
Maki dan Yui sweatdrop seketika.
‘Dasar tidak peka!’
Hana memiringkan kepalanya layaknya orang idiot.
“Jadi, perasaanmu pada pacarmu bagaimana sekarang?” Tanya Maki.
“A-aku mencintainya! Sampai kapanpun!” Luapan ruam merah memenuhi wajah Hana.
“Kalau begitu tinggal balas pesan videonya. Katakan jika kamu tetap mencintainya, dan tidak berminat berpaling pada pria lain. Simple kan?” Maki menyahuti enteng.
“T-Tapi setelah mengirimkan video itu ponselnya tidak bisa dihubungi lagi,” Hana pundung.
“Hah? Kok bisa begitu?” Yui melipat kedua tangannya, meluapkan nada emosi.
‘Ya kan, Yoshiki-kun sedang ditangkap Exorcist. Aku sendiri bahkan tidak tahu bagaimana Yoshiki-kun membuat video itu,’ inner Hana sweatdrop.
“Mungkin pacarnya sedang berlayar? Tidak ada sinyal kan di laut lepas?” Seloroh Maki.
“Benar?” Yui meminta persentujuan dari Hana.
“Ah, ya,” Hana asal mengangguk saja. Lagipula bagi Hana yang tidak punya ide apapun mengenai apa pekerjaan Yoshiki di sini, sebaiknya menyetujui ide Maki saja yang terlihat masuk akal.
“Kalau begitu susah juga. Lagipula kenapa tidak lepaskan saja pria yang bekerja pelayaran seperti itu? Kamu pasti akan jarang dapat kabar darinya, dan… penghasilan seorang pelayar, masih kalah dengan seorang CEO kok,” Yui berdehem beberapa kali setelah kalimatnya.
“Eh?” Hana sweatdrop akibat kalimat Yui.
Jika membandingkan Ishikawa Guren dan Kuroto Yoshiki dalam hal penghasilan, ah Hana tidak bisa membandingkannya. Lebih tepatnya Hana tidak bisa membayangkan seberapa luas jangkauan seorang raja Iblis dalam hal ekonomi.
“YUI-CHAN TIDAK BOLEH! HANA SUDAH MENCINTAI PACARNYA!” Shiro kembali menyahuti.
“Kalau begitu, setelah kamu bisa menghubungi pacarmu, minta maaf padanya, dia pasti mengerti kalau memang juga mencintaimu,” ujar Maki lembut.
Seketika ketiga orang yang mendengar kalimat Maki barusan terperangah.
“Wah, bijak sekali,” seloroh Yui.
“A-APA SIH!?” Sekarang Maki yang harus menahan rasa malu.
.
“Uwaaa kau tidak boleh terlalu megacau Exorcist lebih dari ini Yoshiki,” sebuah suara serak terdengar dari arah belakang Yoshiki yang kala itu tengah mematau pergerakan prajurit-prajuritnya.
“Hn,” Yoshiki yang menyadari suara itu adalah milik Arashi Tomuro hanya berguman menyahuti.
“Gantikan aku Tomuro, ada yang harus kulakukan,” tanpa mendapat persetujuan dari yang diminta, Yoshiki menghilang begitu saja dari hadapan Tomuro.


Serangan dadakan pihak Iblis mengakibatkan lebih dari 1000 Exorcist di seluruh dunia kehilangan nyawa

Read More ->>

Kamis, 28 Juni 2018

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 19]

Chapter 19: Drown Into Despair

Sebuah Email masuk. Sudah bisa ditebak siapa yang mengirimkan Hana email di saat-saat seperti ini.
Natsume Haru.
Hana menyentuh gambar pesan di layar ponsel pintarnya.
Begitu membaca isi email Natsume, entah mengapa perasaan bersalah mengisi rongga dadanya.
“Bila anda memang sedang membenci saya, tolong respon email ini saja. Saya sangat mengkawatirkan anda.”
Ia sudah bersalah karena lupa mengabari Natsume. Kemudian ia melakukan suatu kesalahan fatal lagi, yaitu naik mobil Ishikawa Guren.
“Guren-kun bisa berhenti di ujung belokan sana,” Hana menunjuk sebuah tempat sebelum ada jalan yang berkelok.
“Di sana? Rumahmu di sana Hana-san? Bukankah itu perumahan elit itu?”
Benar juga. Bagaimana Hana bisa lupa jika belokan itu adalah perumahan petinggi Iblis yang juga bekerja sebegai parlemen di Jepang.
“Bukan, bukan. Pamanku yang tinggal di sana. Aku ada keperluan dengan Pamanku,” Hana mengelak cepat.
“Hooo paman,” Ishikawa Guren menepikan mobilnya.
“Kalau begitu terima kasih, Guren-kun,” Hana melepas seat belt dan keluar dari mobil.
‘Yoshiki? Yoshiki…. Kuroto Yoshiki?’ Ishikawa Guren kembali mengingat nama yang disebutkan Hana.
‘Pebisnis besar itu? Nama marga mereka sama! Tapi Hana berkata jika si Yoshiki ini hanya kekasihnya. Jadi…. Mungkin hanya kebetulan,’ Ishikawa Guren menepis jauh-jauh pemikirannya.

***

Natsume yang bersandar di belakang pohon terdekat mendengar deru mesin mobil yang dimatikan. Dengan tatapan datarnya pria itu mencari kendaraan mana yang berhenti. Karena ia tahu, tidak sembarangan mobil yang akan melintasi daerah perumahan elit ini kecuali rasnya sendiri. Para iblis.
Sebuah sedan berwarna cerah terlihat.
‘Mobil itu? Bukankah?’ Natsume teringat akan kapan hari ia mendapati Hana berbicara dengan Ishikawa Guren sepulang sekolah.
‘Ishikawa Guren!?’
Manik Crimson Red miliknya mendapati visual Hana keluar dari mobil itu. Menunduk sekilas dan tersenyum mengatakan sesuatu.
NYUUT!!
Bagian dadanya kembali terasa sakit dalam sekejap.
Hana. Keluar dari mobil Ishikawa Guren.
Tersenyum pada pria itu.
“Kkkh…” Natsume Haru meremat dada kirinya yang kembali terasa aneh.
Sesak. Rasanya ia butuh bernafas sekarang.
Apa ia sudah gila? Bukankah iblis tidak butuh nafas?
Semua kekhawatirannya akan keselamatan Hana lenyap seketika.
Natsume Haru tersenyum tipis. Atau lebih tepatnya, pria itu tersenyum getir.
Bagaimana mungkin Hana dalam bahaya? Hana sedang bersenang-senang dengan si brengsek itu. Lihat saja wajah Hana yang nampak manis saat tersenyum tadi.
Ah, sepertinya ia benar-benar cemburu sekarang.
Dari semua email dan panggilan yang tak terjawab itu seharusnya ia mengerti. Hana tak ingin diganggu.
Natsume Haru menegadahkan kepalanya ke atas. Ekspresinya penuh dengan kesedihan. “Kau menghukumku lagi, eh?”

***

“Ah Hana-san, jika kamu mau, aku bisa mengantar dan menjemputmu ke sekolah…” Ucap Ishikawa Guren sebelum melajukan mobilnya yang telah panas.
“Eh? Tidak. Tidak Guren-kun. Kamu kan bukan supir!” Hana kebingungan karena tawaran Ishikawa Guren.
“Aku kan mengatakan jika kamu mau, kalau tidak mau yah mau bagaimana lagi,” Ishikawa Guren terkekeh pelan.
“Kalau begitu, hati-hati di jalan Guren-kun,” Hana melambai pendek.
Ishikawa Guren menutup kaca jendela mobilnya dan menekan pedal gas mobilnya meninggalkan Hana.
Setelah memastikan mobil Ishikawa Guren menghilang di belokan, Hana baru beranjak dari titiknya berdiri.
Tangannya masih menggenggam ponselnya dengan erat. Mengigit kecil bibirnya dengan kedua alisnya tertaut ke atas. Ia dipenuhi rasa bersalah sekarang.
Tap
Sebuah langkah kaki dari sisi lain jalan membuat Hana mencari siapa orang lain yang berjalan tidak jauh darinya.
Mata Hana kembali melebar. Itu Natsume Haru. Pria berambut putih itu berjalan dengan kedua tangannya memasuki kantung celananya masing-masing.
“N-Natsume-kun!” Hana membenci pria ini. Itu beberapa jam yang lalu. Tapi sekarang Hana sangat merasa berdosa pada pria ini.
Pira itu berhenti melangkah. Syukurlah, pikir Hana. Sepertinya Natsume tidak marah padanya.
Namun wajah yang ditunjukan Natsume malah membuat hati Hana seolah tersayat. Pria itu menoleh ke belakang. Menunjukkan tatapan kosong dan kedua alisnya tertaut menyedihkan.
“Setidaknya anda kembali dengan selamat,” Natsume berujar lemah.
“Maaf! Natsume-kun! Ponselku di tas dan aku tidak menyadari semua panggilan dan email darimu!” Hana membungkukkan badannya.
Natsume tersenyum lemah.
“Tidak apa My Lady, saya mengerti,” Natsume menyahuti lemah.
Hana menegakkan kembali tubuhnya, melihat Natsume Haru telah melangkah meninggalkannya.
Walaupun Natsume mengatakan seperti itu, Hana masih tidak bisa tenang. Natsume muncul tiba-tiba. Oh tidak. Jangan-jangan Natsume….
“Ano, Natsume-kun, apa kamu menungguku di sana tadi?” Sebenarnya Hana tidak ingin menanyakan ini, namun ia ingin memastikan.
Natsume menangguk lemah, “Sejak tiga setengah jam yang lalu.”
Jawaban itu malah menjadi tombak yang menyerang Hana.
Keduanya terus berjalan tanpa ada satu suara pun dari Natsume Haru. Sementara Hana hanya bisa menatap punggung tegap pria itu dari belakang.
Hana yang tidak menyukai keheningan apalagi dalam keadaan ia merasa sangat bersalah seperti ini akhirnya berucap, “Hei… maafkan aku ya, aku sudah membuatmu menunggu selama tiga setengah jam.”
“Saya tidak mempermasalahkan seberapa lama saya menunggu My Lady. Semalaman pun, saya akan menunggu anda,” Natsume Haru menyahuti cepat.
“Jadi, jadi kamu tidak marah?” Harap-harap cemas Hana menunggu jawaban dari Natsume Haru.
“….”
Namun tidak ada jawaban dari Natsume Haru.
Hana sedikit memiringkan kepalanya ke depan, mencoba melihat wajah pria yang diajaknya bicara.
Hingga mulut Natsume Haru terbuka dan mengucapkan sebuah kalimat, “saya sangat marah My Lady. Namun saya sangat lelah untuk melakukannya. Jadi saya hanya berusaha melupakannya saja,” dan diakhiri dengan sebuah senyuman yang mampu menampar Hana.
Lidah Hana keluh.
Apa yang membuatmu marah? Kenapa ekspresimu seperti itu? Apa aku penyebabnya?
Beribu pertanyaan ingin Hana lontarkan saat itu. Namun bayangan wajah Natsume yang tersenyum penuh penderitaan itu seakaan membungkam mulutnya.
“Makan malam akan segera disiapkan, anda bisa mandi untuk membersihkan tubuh anda sebelum itu,” Natsume melompat-lompat beberapa tanjakan untuk menuju beranda suatu kamar di lantai tiga manor, meninggalkan Hana yang hanya mematung menatapnya.
Dalam langkahnya Natsume tersenyum, lebih tepatnya pria itu sedang tertawa pelan. Menertawakan dirinya. Dirinya yang begitu pengecut.
Kenapa Hana pulang bersama Natsume Haru? Apa saja yang mereka lakukan dan bicarakan? Atau jangan-jangan mereka berdua berkencan di tempat krepe?
Seandainya ia lebih berani menerima tatapan kebencian Hana, ia pasti sudah memata-matai Hana dari awal.
Dan jika ia memikirkan seandainya. Mungkin lebih baik menjadi, seandainya ia adalah Kuroto Yoshiki sekarang. Bukan Natsume Haru. Maka hal ini tidak akan terjadi.

***

Walaupun di hadapannya tersaji berbagai makanan mewah, Hana yang biasa memiliki nafsu makan diluar batas kemanusiaan entah kenapa saat itu benar-benar kehilangan nafsu makannya.
Seseorang yang harusnya menjadi sosok paling ia benci kembali mengisi kepalanya. Kali ini bukan karena betapa besar rasa bencinya kepada sosok itu. Tapi karena rasa bersalahnya pada sosok itu.
Ekspresi yang diberikan sosok itu padanya beberapa jam lalu masihlah terngenang jelas.
Bunyi derita kursi yang ia geser menggema di seluruh ruangan makan, membuat semua atensi pelayan di ruangan itu tertuju padanya seketika.
Sekali lagi dia harus meminta maaf kepada Natsume Haru. Mungkin dengan begini akan menghilangkan perasaan mengganjal dalam dirinya.
“Kalian tahu Natsume Haru?” Secara acak Hana bertanya pada pelayan yang ia temui.
Kedua pelayan yang Hana temui saling bertatapan sejenak sebelum menggeleng pelan, “maaf My Lady, kami tidak tahu.”
“Oke, terima kasih,” Hana berlari meninggalkan kedua pelayan itu.
Lorong-lorong mansion yang panjang ia lalui, bertanya kepada siapapun yang ia temui. Namun nihil.
Setelah mencapai halaman belakang Hana tertunduk dengan nafasnya yang sedikit tersenggal karena telah berkeliling mansion. “Dimana dia?”

***

Di sebuah ruangan yang cukup gelap tanpa ada satu sumber cahaya pun, seorang pria duduk di sofa yang di letakan di tengah ruangan. Tangannya menggenggam gelas goblin berisi anggur berkualitas tinggi terisi hanya sepertiga gelas.
Masih teringat jelas di kepalanya.
Bagaimana Hana melepaskan genggaman tangannya ketika di kolam renang, bagaimana Hana memanggil Ishikawa Guren dengan akrab, bagaimana Hana memberikan senyumannya untuk Ishikawa Guren, dan semua tatapan kebencian yang hanya terarah padanya.
Natsume Haru meneguk cairan merah dalam gelas dan menyisahkan sedikit.
Ia benar-benar kehabisan ide. Dalam sosok Natsume Haru ia harus bisa mengingatkan Hana kembali jika ia milik Kuroto Yoshiki. Sudah terbukti jika hanya ucapan tidak akan berefek apapun.
“Kau jatuh pada keputusasaanmu, eh?” Suara serak mengalun di dalam ruangan itu.
Kedua bola mata merah Natsume Haru yang sedari tadi tertutup, kembali terbuka dengan tatapan datar. Ia mengenal suara ini.
7 Penguasa Dosa Besar yang lain.
“Leviathan,” desis Natsume datar.
“Kau pasti kerepotan ya?” suara tanpa sosok itu kembali bertanya.
“Hn, apa maumu?” Tanpa berbasa-basi Natsume menanyakan perihal kemunculan suara ‘kawan’nya tiba-tiba.
“Aku hanya main kak! Masa tidak boleh main sih? Mentang-mentang enak di dunia manusia aku dilupakan! Jangan buat iri dong!”
“…” Tidak ada respon dari Natsume.
“Ya sudahlah kak, silahkan nikmati detik-detik keputusasaanmu. Aku hanya mau ngomong kalau kakak butuh bantuan, kami siap membantu kakak.”
“Hn,”
Sudah tidak ada lagi suara cempreng yang menyahuti.
Tangan Natsume Haru ia gunakan untuk menyibak rambut-rambut putih yang memenuhi dahinya ke atas. Ia kembali meneggelamkan pikirannya.
Ah, sepertinya ia baru saja menemukan sebuah cara.

***

Pagi kembali datang.
Hana sudah sengaja bangun lebih pagi hari ini. Menunggu di depan mobil dengan pandangan mencari-cari seseorang. Tentu saja siapa lagi jika bukan Natsume Haru yang gagal ia temukan kemarin malam.
Derap kaki berat terdengar. Seketika kepala Hana terangkat. Tanpa sadar ia memasang senyum sumringah menyambut sosok yang datang. Namun detik berikutnya senyumannya itu luntur.
“Paman!?”
Sayang sekali, bukan Natsume Haru yang datang. Namun sopir pribadinya.
“Selamat pagi, My Lady. Anda semangat sekali. Maaf membuat anda menunggu,” pria itu tersenyum ke arah Hana sembari membukakan pintu mobil untuk Hana.
“Loh? Natsume-kun ke mana?” Tanya Hana heran.
“Natsume-dono? Ah, saya tidak tahu. Saya hanya mendapat pesan dari Misaki jika saya harus mengantar anda hari ini.”
“Oh…” hanya desahan kecewa yang diberikan Hana.

***

Untuk pertama kalinya sejak kemunculan Natsume Haru, ia harus berjalan sendirian memasuki gerbang sekolah. Padahal biasanya pemuda itu selalu lengket padanya.
Pandangannya hanya terarah ke bawah. Mengawasi langkah kakinya sendiri.
“Kuroto-senpai, Haru-senpai mana?” Tak hayal para junior perempuan yang mengagumi paras Natsume pun bertanya-tanya ke mana perginya Natsume Haru.
“A-aku sendiri tidak tahu, haha.”
“Tidak masuk?” Beberapa junior lain bertanya.
“K-kurang tahu sih.”
“Eeeh kok tidak tahu? Kuroto-senpai kan dekat dengan Natsume-senpai! Email dong!”
Hana terdiam seketika. Benar juga, bagaimana ia bisa lupa untuk mengirimkan email?
“Atau kalau tidak, biar kami saja yang email Natsume-senpai. Bagi email Natsume-senpai ya, Kuroto-senpai!”
“I-itu kalian minta sendiri saja pada Natsume!” Tak ingin direpoti beberapa pertanyaan lain, Hana segera kabur meninggalkan kerumunan junior yang mengepungnya.
Walaupun sudah memutuskan untuk mengirimkan email pada Natsume Haru, Hana masih sangat bingung harus mengetikkan apa. Layar ponsel pintarnya menyala menampilkan kotak menulis pesan yang masih kosong.
Tidak ke sekolah?—Hapus.
Kamu di mana?
‘Nanti akan kelihatan kalau aku mencari dia,’ Hana menatao serius layar ponsel yang berisi ketikan emailnya.
—Hapus.
‘Astaga. Mau kirim email saja susahnya minta ampun,’ Hana menatap jengkel layar ponselnya.
“Ah terserah!”
Dengan cepat Hana mengetik, “Natsume-kun di mana? Tidak sekolah?” Dan mengirimkannya pada Natsume.
“Kamu kenapa sih? Masih pagi teriak-teriak seperti itu?” Yui dari bangku seberangnya mengomel.
“Hahaha, anime yang kutunggu hari ini tidak tayang,” jawab Hana asal. Untuk sementara lebih baik ia tak membahas segala hal tentang Natsume Haru pada Yui.
“Mana Haru-kun? Dia tidak kelihatan.”
Hana sweatdrop. ‘Padahal baru saja aku berniat menghindar membicarakan Natsume Haru.’

***

“….” Natsume Haru menatap datar email yang baru saja masuk pada ponselnya.
Natsume mengunci layar ponsel itu tanpa membalas email tersebut. Namun ia meraih ponsel lain dan menyentuh logo aplikasi email. Lalu mengirimkan sebuah video.

***

Ponsel Hana bergetar di tengah homeroom.
Sebelum mengambil ponselnya, Hana sempat menoleh ke belakang bangkunya yang kosong. Natsume Haru masih belum muncul.
Ditundukkan kepalanya untuk melihat ponsel yang ia sembunyikan di bawah meja. Membuka fitur kunci ponselnya dan mendapati sebuah email masuk dari alamat email Kuroto Yoshiki.
Tunggu. Apa?
Mata Hana terbelalak seketika.
Cepat-cepat dibukanya email masuk itu.
Tidak ada kalimat apapun. Hanya berisi sebuah video.
Seketika banyak pertanyaan mengisi kepalanya.
Email dari siapa? Bukankah Yoshiki-kun tertangkap? Video apa ini?
Namun akhirnya dengan ragu-ragu Hana menyentuh logo video dalam email itu. Begitu video berhasil terdownload dan terbuka, frame pertama yang Hana lihat membuat cairan bening mengumpul di pelupuk matanya.
“Sensei! Saya izin ke toilet!” Tanpa mengkonfirmasi izin dari guru, Hana berlari meninggalkan kelas.

***

Walaupun mengatakan ‘ke toilet’ pun, tujuan Hana adalah atap sekolah. Karena kelas pagi baru saja dimulai, lorong menjadi sangat sepi, memudahkan Hana menaiki tangga menuju atap tanpa diketahui siapapun.
Setelah memasang earphone pada kedua telinganya, Hana menekan tombol ‘play’ pada aplikasi pemutar video ponselnya.
Di layar ponselnya terlihat seorang pria berambut jagged gelap dan pakaiannya yang serba gelap. Duduk di ruang kerjanya dengan kaki tersilangkan. Menatap dengan arogan seperti biasa.
Saat itu juga Hana tak bisa menahan tumpahan air matanya. Itu suaminya. Kuroto Yoshiki yang sangat ia rindukan.
“Langsung saja My Lady, jika kau sampai melihat video ini maka telah terjadi hal yang tidak mengenakkan—“
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.