Selasa, 04 Desember 2018

Yami no Ai: AFTER WORLD [Chapter 22]

CHAPTER 22: IS THIS HAPPINESS?

Jarum jam telah menunjuk ke angka 6 pagi itu. Bagi seorang pelajar, jam 6 adalah jam yang tepat untuk bangun dan bersiap-siap berangkat sekolah. Tapi tidak bagi Hana. Perempuan berambut pendek itu masih tidur bergumul dengan selimut putihnya yang tebal.
Yoshiki tersenyum tipis melihat ekspresi polos Hana yang masih larut dalam tidurnya walaupun cahaya matahari telah menerobos memasuki jendela kamar mereka. Sang raja iblis meraih kemejanya yang tercecer di sekitar ranjang akibat kegilaan-nya kemarin malam.
Bibir tipis Yoshiki tak bisa berhenti membentuk senyuman walaupun lebih mirip seperti seringai kemenangan. Akhirnya setelah beberapa minggu ia harus menderita sebagai Natsume Haru, kemarin malam ia kembali merasakan bagaimana perasaan bahagia yang egois karena berhasil menikmati tubuh istrinya. Mendengar istrinya mendesahkan namanya berkali-kali adalah candu yang lain baginya. Sejenak dadanya terasa hangat. Ia kembali tersenyum.
Disentuhkan jari-jarinya pada permukaan wajah Hana. Entah dengan niat membangunkan atau menghilangkan rindu. Tapi Hana yang merasakan sentuhan itu perlahan membuka matanya.
“Engh?” Dalam keadaan setengah sadar Hana berguman.
“Aku bisa menemanimu berbaring di sana seharian My Lady jika kau ingin mengabaikan jadwal sekolah hari ini,” Yoshiki berguman penuh lelucon sambil mengancingkan kancing kemejanya.
“AH!” Tubuh Hana seketika melompat dari ranjang.
Bola mata langit Hana melebar begitu melihat jarum-jarum jam yang terus bergerak.
“Baka! Yoshiki-kun kita akan terlambat! Kenapa tidak membangunkanku lebih pagi!” Hana menyemburkan kalimat-kalimat penuh kemarahan.
“Hn? Kukira kau cukup lelah setelah beberapa orgasme kemarin malam,” seolah mengucapkannya tak acuh, tetapi Yoshiki tetap tidak bisa menyembunyikan kejahilannya.
Seketika ruam merah meledak di wajah Hana. Kepalanya yang kaku berberak menunduk dan menyadari jika selimut yang menutupi tubuhnya telah lenyap. Sekarang tubuh kecilnya terpampang jelas tanpa selembar kainpun.
“B-BAKAAAAAAA KELUAR SANA!” Hana mendorong Yoshiki keluar kamar tanpa sadar.
BLAM!
Pintu besar kamar tertutup dari belakang. Menyisahkan Yoshiki dengan kemeja setengah terkancing. Membuat beberapa pelayan yang berjaga di depan kamar merasa kebingungan melihat raja mereka baru saja didepak dari kamarnya sendiri.
Tetapi sepertinya Yoshiki tidak memperdulikan hal itu. Justru ia malah tersenyum lebar. Sesuatu yang sangat langkah.
“My Lord, seragam sekolah anda telah kami siapkan,” seorang pelayan membungkuk di dekat Yoshiki.
“Hn,” Yoshiki berguman datar.
Namun entah mengapa rasanya kebahagian begitu meluap-luap di dalam rongga dada Yoshiki.
‘Tidak salah lagi, kebahagiaan ini…. My Lady…’
.

Hana hanya diam. Baik di ruang makan maupun di mobil yang tengah dikendarai Yoshiki dengan kecepatan yang mampu membuat polisi menilangnya.
Perempuan berambut gelap itu masih belum mempercayai apa yang terjadi. Kuroto Yoshiki telah kembali. Suaminya telah kembali. Seakan seperti mimpi ia bisa kembali sarapan di meja yang sama dengan sang suami, bahkan berangkat sekolah seperti dahulu bersama sang suami.
Bibirnya perlahan membentuk sebuah lekungan ke bawah.
‘Yoshiki-kun… aku bahagia.’
.

“Woah woah lihat siapa yang datang? Sang pangeran dan sang idiot!”
Hana terkejut begitu memasuki ruang kelas dan mendapati Maki berujar penuh sindiran, “EH!?”
Yoshiki sendiri tak begitu menanggapi kalimat Maki, ia memilih melewati Maki begitu saja untuK menuju bangkunya.
Hana menatap Yoshiki sejenak, ‘begitu ya… Yoshiki juga sudah menggembalikan ingatan setiap orang di sini.’
“Kamu ini kenapa sih Maki? Masih pagi loh?” Hana berguman kesal pada Maki yang masih menatapnya dongkol.
“Haaah… memangnya setelah kuceritakan kamu akan paham perasaan seorang jomblo? Kamu kan sudah bahagia dengan Kuroto-kun,” Maki menatap ke arah lain dongkol.
“Kamu gagal dapat alamat email kouhai yang kamu incar?” Hana menebak ragu.
Maki menghadiahi Hana dengan tatapan tajam, dengan begitu Hana berhasil menyimpulkan jika tebakannya tidaklah salah.
“Berarti dia bukan jodohmu Maki, berusahalah lagi,” memilih meninggalkan Maki, Hana melangkah menuju bangkunya yang berada tidak jauh dari bangku yang diduduki Yoshiki.
Tunggu—
Bukankah tempat duduk yang digunakan oleh Yoshiki sekarang adalah tempat duduk Natsume Haru biasanya? Kalau dipikir-pikir lagi, ia tidak pernah sekalipun bertemu Natsume Haru semenjak kejadian Ishikawa Guren yang mengantarnya pulang. Kemana gerangan perginya pria berambut putih itu?
“Anu, Yoshiki-kun?” Tiba-tiba saja Hana telah membuka suaranya. Membuat Yoshiki yang asyik bertopang dagu menatap keluar jendela kelas di lantai 3 menoleh ke arah Hana.
“Hn?” Gumannya dengan menaikan sebelah alisnya.

“Natsume Haru, aku tidak pernah melihatnya lagi, apa kamu tahu dia di mana?”
Yoshiki lumayan tersentak mendengar pertanyaan Hana, “Hn, kenapa mencarinya?”
Hana bungkam beberapa detik, ia menundukkan kepalanya, “tidak… kukira aku pernah membuatnya marah,”
“Marah?” Lagi-lagi Yoshiki melontarkan sebuah pertanyaan.
“Umm, yah, mungkin dia marah karena mengabaikan banyak email dan panggilan darinya sementara dia menunggu lebih dari 3 jam,” Hana masih menundukkan kepalanya.
Rahang Yoshiki mengeras begitu mengingat kejadian itu. Padahal ia sangat ingin melupakan kejadian itu. Dan lagi, Hana tetap saja tidak menyadari jika kemarahannya bukan karena ia menunggu seberapa lama. Tetapi inti dari kemarahannya adalah, bagaimana bisa Hana diantar pulang oleh Ishikawa Guren!? Apa yang terjadi diantara mereka!? Apa saja yang mereka lakukan dan bicarakan di dalam mobil!? Atau jangan-jangan Ishikawa Guren juga ikut dalam kegiatan makan crepe mereka!?
“Um? Yoshiki-kun?” Hana memutuskan memanggil nama sang pria karena dilihat dari manapun sepertinya Yoshiki tenggelam dalam pikirannya.
“Hn?” Yoshiki kembali mendongkak pada Hana. Kali ini tanpa sadar ia menatap Hana dengan sangat dingin.
“Sepertinya ia tidak kembali menjadi murid di kelas ini ya, Natsume Haru,” tentu saja Hana menyadari tatapan dingin tiba-tiba Yoshiki, tetapi ia lebih memilih melanjutkan topic pembicaraannya mempertimbangkan jika Yoshiki memiliki beban pikiran yang tak ingin dibicarakan.
“Dia tidak bisa kembali lagi,” ucap Yoshiki tiba-tiba.
“Eh?”
“Karena identitas sebenarnya Natsume Haru adalah aku.”
Tubuh Hana menegang.
SREEEEEEG
Pintu geser kelas terbuka dan memunculkan seorang pria tua berkacamata, itu Naoishi-sensei, guru pengajar Kimia. Seketika seluruh penghuni kelas duduk rapi di bangku masing-masing. Kecuali Hana yang masih mematung di tempatnya.
“Rayumi! Cepat kembali ke bangkumu!” Naoishi-sensei membentak Hana.
“A-ah,” Hana menoleh ragu. Apa maksud Yoshiki barusan? Tapi pelajaran telah dimulai. Dengan terpaksa Hana menuju bangkunya yang berada di belakang bangku Yoshiki berjarak 2 bangku.
Selama pelajaran berlangsung pun, Hana hanya mampu mengamati punggung Yoshiki dari belakang.
‘Natsume Haru-kun adalah Yoshiki-kun?’
‘Jadi selama ini Yoshiki-kun tidak ditangkap Exorcist?’
‘Lalu kenapa menyamar?’
Beberapa pertanyaan muncul bertubi-tubi di dalam kepalanya. Tak memberinya kesempatan untuk menyimak satu pelajaran pun.
.

Bel istirahat menggema beberapa saat setelah guru pengajar keluar dari kelas. Tak menyianyiakan kesempatan yang ada, Hana segera menuju bangku Yoshiki.
“Yoshiki-kun! Ayo makan siang di atap!” Hana harus segera mendengar jawaban-jawaban dari segala pertanyaannya dari mulut Yoshiki. Oleh karena itu mereka membutuhkan tempat yang lebih privasi.
“Hohoho… lihatlah pasangan yang sedang kasmaran ini,” Maki menyindiri dari arah belakang.
“H-he?” Hana menoleh ke arah Maki yang ternyata bukan cuma Maki yang tengah menatap mereka, tetapi seluruh penghuni kelas juga.
“APA-APAAN TATAPAN KALIAN ITU!?” Wajah Hana sukses memerah padam.
GREP
Tangan tan Hana yang digenggam oleh Yoshiki memaksanya mengikuti langkah Yoshiki keluar kelas.
“T-Tunggu Yoshiki-kun!” Protes Hana karena ditarik tiba-tiab.
“Fyuuut~” Siulan penuh godaan terdengar riuh di dalam kelas begitu keduanya meninggalkan kelas.
.

“Y-Yoshiki-kun sebentar!” Hana berusaha berhenti mengikuti tarikan Yoshiki.
“Hn? Ada apa? Bukankah ada hal yang ingin kau bicarakan denganku sambil makan siang di atap?” Ucap Yoshiki tak acuh.
“Itu memang benar, tetapi aku tak membawa makan siang, jadi sebaiknya kita beli terlebih dahulu.”
“…” Yoshiki sweatdrop.
.

Cuaca hari itu cukup cerah. Matahari tidak bersinar pada intensitas tinggi. Awan gelap juga tak terlihat di manapun mata memandang. Beberapa burung beraktivitas di angkasa. Dan ditambah tidak ada seorangpun yang menggunakan atap selain Rayumi Hana dan Kuroto Yoshiki. Entah situasi yang kebetulan atau semua orang yang hendak ke atap telah Yoshiki singkirkan terlebih dahulu.
“Yoshiki-kun, kamu yakin tidak mau mencoba roti soba ekstra keju ini?” Hana menyodorkan sebuah roti yang penuh berisi serutan keju.
“Hn, tidak, aku lebih menyukai masakan buatanmu daripada harus memakan makanan kantin,” tolak Yoshiki.
Wajah Hana sedikit memerah mendengar kalimat Yoshiki, “apaan sih, padahal kamu dulu pernah beberapa hari di kantin, dan lagi masakanku tidak seenak itu.”
“Hn, itu hanya demi mengurangi kecurigaan saja,” jawab Yoshiki enteng.
“Jadi, umm, apa benar? Yoshiki-kun adalah Natsume-kun?” Tanya Hana ragu-ragu.
“Hn,” jawab Yoshiki tak acuh, bahkan menoleh ke arah lain.
Hana menghentikan aktivitas makannya seketika. Menelan bulat-bulat kunyahan roti soba dalam mulutnya yang belum sepenuhnya lembut.
Hening beberapa saat.
“HEEEEEEEE!!?” Dalam beberapa detik Hana melakukan beberapa hal sekaligus, melemparkan roti sobanya, menduduki salah satu paha Yoshiki yang tengah duduk, mencengkram kerah baju Yoshiki, dan berteriak tepat di muka Yoshiki, “JADI ITU BENAR?? KENAPA HARUS MENYAMAR DAN MEMBUAT KABAR BAHWA YOSHIKI-KUN DITANGKAP? DASAR YOSHIKI-KUN BODOOH! Dasar bodoh…” hingga suaranya memelan dan menghilang, Hana menundukan kepalanya, menyandarkan rambut gelapnya pada dada bidang sang suami.
“Padahal aku… benar-benar shock, aku khawatir, aku bingung, semuanya… terasa menyedihkah…” setiap penggal kalimatnya, nada bicara Hana semakin melemah. Bahkan ia tak bisa menahan air mata yang menukik turun dari bola matanya.
“….” Kedua onyx gelap Yoshiki yang biasa memancarkan intimidasi kini merasa terkalahkan. Keduanya terbelalak lebar menatap kepala gelap Hana yang bergetar di dadanya.
“Aku… tidak memiliki pilihan lain,” Yoshiki menatap ke arah lain sebelum memulai penjelasannya, “mereka menggunakanmu untuk mengincarku. Karena keteledoranku, mereka berhasil mendapatkanmu untuk memancingku. Dalam keadaan terdesak aku segera bertukar posisi dengan Tomuro. Dia menyamar sebagai diriku dan aku kembali sebagai Natsume Haru. Tentu saja menggunakan penyamaran tradisional saja. Karena mereka pasti akan mencariku lewat energi dan gelombang sihirku aku harus mematikan aliran sihir dalam tubuhku.”
“Lihat,” Yoshiki memunculkan sebuah topeng penyamaran berupa kulit dan rambut berwarna putih dalam genggamannya. Tanpa banyak kata lagi dipakainya topeng tersebut. Dan dipasangnya sepasang lensa mata berwarna merah sebagai pelengkap.
Kedua bola mata langit pagi Hana melebar melihat sosok di hadapannya. Dalam kurang dari lima menit Kuroto Yoshiki yang berambut jagged gelap telah berubah menjadi Natsume Haru yang berambut putih.
“N-Natusme-kun?”
Yoshiki dalam penyamarannya mengangguk lemah, “begitu kembali ke mansion aku agak terkejut melihat reaksimu yang cukup jauh dari bayanganku,” ucapnya menggunakan suara Natsume Haru.
“Ah! S-Suaranya juga berubah!”
“Hn, dengan latihan aku masih bisa membuat suara yang lain.”
“S-soal reaksiku, aku hanya benar-benar bingung saat itu. Aku tidak ingin kamu ditangkap. Dan tiba-tiba ada orang asing muncul, membuatku marah saja dan tanpa sadar aku menusuknya. M-Maaf…” Hana kembali menundukan kepalanya.
Yoshiki dalam wajah Natsume Haru tersenyum tipis, ditepuknya kepala Hana halus, “tidak apa, lagi pula aku pernah ditusuk sampai setengah sekarat olehmu.”
Hana mengangkat kepalanya cepat dan menunjukkan ekspresi cemberut, “m-mou! Kenapa dibahas lagi!”
“Hahaha,” Yoshiki tertawa pendek, “tetapi bukan itu reaksi yang kumaksud.”
“Eh? Lalu?”
“Aku tidak menyangka kau benar-benar putus asa setelah menerima kabar itu. Bahkan kau sampai membenturkan kepalamu ke dinding. Padahal aku ada di dekatmu tetapi tidak bisa berbuat apa-apa,” Kedua alis Yoshiki mengerut ke atas.
“T-Tapi akhirnya Yoshiki-kun memberikan rekaman itu kan!” Hana mencoba membangkitkan kembali semangat Yoshiki.
“Hn, rasanya memang menyebalkan saat tidak bisa melakukan apa-apa untukmu walaupun aku berada di dekatmu. Saat Class Fest waktu itupun, aku telah meninggalkanmu sendirian,” ucap Yoshiki dengan nada berat namun berkesan sedih.
“Ah…” bukannya menyemangati Yoshiki, Hana ikut larut dalam alur pembicaraan, “waktu itu… aku memang berharap jika Yoshiki-kun ada di sampingku, dan… uh… ke ruang istirahat mungkin? Hehe.”
Diraihnya tubuh Hana yang duduk menindih pahanya yang tersilang, dan ditundukkannya kepalanya untuk bersandar pada bahu kecil Hana, “tanpa kau minta pun, aku akan membawamu ke sana. Apalagi setelah itu aku harus melihatmu bergandengan tangan dengan si sialan Ishikawa Guren itu,” ujar Yoshiki dongkol.
“T-tunggu. Kalau tidak salah setelah itu—“ Kalimat Hana tercekat di tenggorokannya begitu menyadari apa yang terjadi setelahnya. Natsume Haru memasuki kamarnya dan entah bagaimana
“Jadi ternyata memang Yoshiki-kun yang waktu itu kupeluk!”
“Hn, waktu itu aku tidak bisa menahan diriku.”
“U-uh…” Hana hanya menunduk lemah.
“Dan semuanya semakin memburuk ketika Ishikawa Guren semakin mendekatimu dan kau tiba-tiba membenci Natsume Haru. Sebenarnya kenapa kau membenci Natsume Haru?” Sekarang Yoshiki dalam penyamaran Natsume Haru menatap jengkel pada Hana. Sungguh terlihat aneh melihat Natsume Haru harus menyebut namanya sendiri.
“Habisnya waktu itu aku tidak sengaja mendengar pembicaraannya dengan Misaki. Dia bilang seperti ‘lebih baik seperti ini, Yoshiki-kun ditangkap’ seolah-olah Natsume-kun bisa mendapatkanku saat Yoshiki-kun tertangkap!”
“Menginginkamu? Kau menterjemahkannya seperti Natsume Haru tertarik padamu?” Yoshiki yang tengah menyamar sebagai Natsume Haru mengangkat satu alisnya.
“Ya begitulah! Mou!” Ruam merah kembali menyelimuti wajahnya saat mengungkapkan rasa kepercayaannya yang tinggi, mengira Natsume Haru menyukainya.
“Hhhh….” Yoshiki membuang nafas berat, “hal yang bagus kau bisa melindungi dirimu jika ada pria yang tertarik padamu, tetapi hal itu benar-benar menyulitkanku kali ini. Lagipula jika kau bisa merasakan bila Natsume Haru tertarik padamu, kenapa kau tidak menyadari jika Ishikawa Guren juga tertarik padamu?”

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.