Senin, 23 September 2019

Yami no Ai: AFTER WORLD [chapter 34]

CHAPTER 34: SWEET HURT CLASSICAL MUSIC

‘Hei! Hei! Apa-apaan kalimat Yoshiki-kun barusan?’ Dengan pikiran berkecamkuk Hana meremas tepian hoodienya sendiri.
Yoshiki berharap bertemu Otome Rin lebih awal? Untuk apa? Apakah itu berarti Yoshiki menyesal bertemu dirinya terlebih dahulu?
Hana semakin gila sekarang.
Drrrtt!! Drrrt!! Drrrtt!!
Ponsel di saku Hana terus-terusan bergetar menandakan ada beberapa chat masuk.
‘Siapa sih!?’ Sambil mengumpat-umpat dalam hati, Hana mengeluarkan ponselnya.
Beberapa chat telah masuk di room chat sahabat-sahabatnya.
Hisegawa Maki: Wah Hana sepertinya ada yang gawat nih.
Hisegawa Maki: img9088722_1200_145.jpg
Hisegawa Maki: aku mendapatkan foto itu dari seorang teman yang bergabung dalam fans club pacarmu itu.
Tangan Hana bergetar hebat. Kedua Sapphirenya terbelalak lebar.
Foto yang baru saja dikirimkan Maki menggambarkan keduanya, Yoshiki dan Rin nampak duduk bersama dengan masing-masing earphone terpasang di kedua telinga mereka. Dengan sebuah sumber CD Player keduanya nampak begitu menikmati apa yang terputar di sana.
Oh betapa cemburunya Hana saat ini.
Seingatnya Yoshiki selalu merasa biasa saja ketika Hana memperdengarkan beberapa lagu favoritnya. Tapi kenapa di foto ini Yoshiki nampak begitu bahagia dengan sedikit senyuman di bibirnya yang jarang ia tunjukkan pada perempuan lain itu?
“Kuroto-kun sudah tau belum jika MJ Crown Orc mengupload interlude spesial mereka di akun niconico mereka?”
Pendengaran Hana yang sejenak menjadi tuli begitu melihat kiriman foto dari Maki kini kembali normal. Hana kembali melanjutkan proses pengupingannya dengan dada meradang.
“Aku baru tau.”
“Kalau begitu ayo kita dengarkan bersama! Kabarnya penampilan mereka kali ini akan dijadikan CD juga loh! Aku bersyukur mereka mau mengupload bagian interlude secara gratis! Haha!”
“Hn. Bukankah kemarin kau sudah menontonnya?”
Eh? Telinga Hana kembali menjadi tuli sementara ia sibuk dengan pikirannya. Bukankah orkesta yang dihadiri Yoshiki adalah MJ Crown Orc? Jadi memang benar. Perempuan yang berada di mobil Yoshiki kemarin adalah Rin Otome.
Rayumi Hana: Ternyata perempuan yang berada di mobil Yoshiki-kun kapan hari memang Rin Otome.
Rayumi Hana: Bagaimana ini? Yoshiki-kun benar-benar selingkuh :’) Mereka ada di belakangku sekarang. Sedang membicarakan sesuatu.
Hisegawa Maki : Astaga si brengsek itu benar-benar. Apa yang mereka bicarakan? Kamu bisa mendengarnya?
Rayumi Hana: Entahlah. Sesuatu yang terdengar seperti membahas musik klasik, instrumen, aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan tolong :(
Rayumi Hana: Ternyata mereka kemarin sepertinya menonton konser itu bersama :( kawan-kawan bagaimana ini?
Ayaki Shiro: GILAAAAAAAA. Coba ambil foto, aku ingin lihat!
Dengan enggan Hana membuka aplikasi kamera dan mengaturnya dalam mode selfie supaya ia bisa memfoto apa yang ada di belakangnya diam-diam.
“Nah, ayo kita dengarkan lagi interlude yang kemarin?”
Tepat ketika Hana hendak mendekan tombol shutter pada ponselnya untuk mengambil gambar, terlihat Otome RIn nampak memasangkan salah satu earphone pada telinga Yoshiki.
“!!!”
Dengan beribu emosi menyeruak dalam diri Hana, ditekannya tombol shutter itu dan dikirimkannya foto bukti perselingkuhan Yoshiki pada chat roomnya.
Rayumi Hana: IMG20181223212821.jpg
Rayumi Hana: woah… mereka mau mendengarkan music bersama lagi :’)
Umei Yui: ohmygod. Ini gila. Hana kau harus segera melabrak mereka! Itu di mana? Kami datang!
Hisegawa Maki: KAGET AKU. Send Loc cepat! Kita ke sana!
Ayaki Shiro: BANTAAAAAAAIIIII
Namun Hana tak lagi memperhatikan apa yang ditulis sahabat-sahabatnya di chat room. Pandangannya kosong. Pikirannya penuh.
“Aaaah Indah sekali nada nada yang mereka mainkan,” namun sayangnya lagi-lagi suara dari arah belakang masih terus mengisi indra pendengaran Hana.
“Ada beberapa miss pada Cello.”
“Seperti biasa Kuroto-kun teliti sekali.”
“Namun waktu konser orkesta mereka kemarin aku tidak terlalu memperdulikan miss-nya. Aku tetap menikmatinya.”
“Hahaha, dasar Kuroto-kun. Tapi memang menyenangkan sekali ya punya teman yang hobinya sejenis pada music klasik.”
“Hn. Cukup jarang juga menemukan perempuan seusiamu yang menyukai musik klasik di luar sekolah atau lingkungan music.”
“Ah? Hahaha. Apa sih kalimat Kuroto-kun gunakan barusan. Lucu sekali.”
Terdengar gelak tawa dari arah belakang.
Hana terdiam di tempatnya dengan kepala tertunduk.
‘Ah, jadi mereka satu hobi…’ “Musik klasik memang sesuatu yang sangat indah…”
Hana tersenyum kecut karena kalimat Yoshiki barusan. ‘Indah ya? Aku bahkan tidak bisa menikmati keindahan itu akibat trauma itu…’ sekilas bayangan bagaimana pamannya menghukumnya karena nilai musiknya jelek terlintas di benak Hana.
‘Kalau dipikir-pikir juga baru-baru ini saja aku mengetahui hobi dan kesukaan Yoshiki-kun apa. Selama ini aku…. Aku hanya memikirkan tentang kebahagianku sendiri.’
Genggaman salah satu tangannya mengerat, bibirnya bergetar, ‘apa yang sudah kuperbuat? Ini semua adalah salahku sendiri. Aku yang memberi lubang dalam hubungan ini. Siapa laki-laki yang tidak bosan jika si perempuan terus yang ingin diperhatikan sementara si laki-laki tidak pernah diperhatikan?’
Hana meraih French toast pesanannya yang sudah sangat dingin karena lama tak ia sentuh. Perlahan ia mengigit roti yang sedikit kering itu. Hambar. Hana seperti sudah tidak mampu merasakan apapun lagi dengan lidahnya.

Jam di pergelangan tangan Hana telah menunjukkan jam 6. Seharusnya di jam-jam ini Yoshiki akan segera pulang untuk makan malam. Tapi Yoshiki sudah makan di sini? Memangnya aka nada makan malam? Miris Hana memikirkan hal itu. Namun ia harus segera pulang sebelum Yoshiki mencapai mansion namun dirinya tidak ada. Ditambah ramalan cuaca tadi pagi sepertinya memberitau jika sore sampai malam ini akan turun hujan lebat.
Hana kembali merapatkan hoodie jaketnya sebelum akhirnya meninggalkan kursinya.
‘Uwaaa mendungnya gelap sekali. Seperti akan ada badai saja,’ dengan kepala terdongkak Hana menatap kea rah langit yang telah penuh awan cumulonimbus pekat.
Perlahan Hana berjalan meninggalkan café, namun belum ada sepuluh langkah begitu ia melewati kaca café, ia telah disuguhkan dengan pemandangan yang menyayat hati. Otome Rin  menjulurkan badannya untuk mencium suaminya, Kuroto Yoshiki.
‘……’
Untuk sepersekian detik bola mata birunya membulat lebar dan bibirnya sedikit ternganga. Jantungnya berpacu liar sementara gelombang kegelisahan menyerangnya sedemikian rupa.
‘Ah… memang sudah badai ya?’

.

“Apa yang kau lakukan?” Yoshiki berguman datar setelah perempuan di depannya mencium bibirnya tanpa persetujuan.
“Kuroto-kun memang dingin sekali ya, setelah dicium pun ekspresi itu tidak berubah.”
Suara gemuruh awan mendung terdengar begitu keras hingga mampu mengusik keduanya, membuat Yoshiki segera bangkit dari bangkunya.
“Lebih baik kita segera pulang. Badai akan datang.”
“Ah, oh, benar.” Otome Rin cepat-cepat pula bangkit dari bangkunya untuk mendahului Yoshiki membayar makan mereka.

.

“Uwaaaa benar deras sekali.” Otome Rin terperangah menatap langit yang terus menerus menjatuhkan tetesan air berkecepatan tinggi.
“Anginnya kencang sekali pula, kalau begini bakal susah ke stasiun,” perempuan berambut pendek itu terus berguman kebingungan.
“Kalau begitu kau akan kuantarkan,” ucap Yoshiki datar sembari melirik jam tangannya.
“Eh? Antar? Tapi Kuroto-kun….” Rin menjawab kebingungan karena walaupun berniat mengantarkannya, namun tidak ada tanda-tanda mobil Yoshiki dimanapun.
Dari arah jalanan terdengar suara ban kendaraan yang memecah genangan air hujan. Perlahan namun pasti sebuah sedan berwarna putih berhenti tepat di depan Rin dan Yoshiki berteduh dari hujan.
Begitu pintu mobil itu terbuka muncullah seorang pria berpakaian rapi lengkap dengan 2 buah payung di tangannya.
“Kau terlambat 2 menit 19 detik.” Ucap Yoshiki dingin sambil menerima uluran payung yang diberikan oleh sang pria.
“Maafkan saya My Lord. Tidak ada alasan,” sang pria menunduk di hadapan Yoshiki.
Rin hanya terperangah melihat adegan di depannya sampai Yoshiki mengajaknya berpayungan bersama untuk masuk mobil.
“Kuroto-kun.”
“Hn?”
Kini keduanya telah berada di dalam mobil yang hangat. Telindung sempurna dari guyuran hujan badai. Duduk dengan jarak beberapa sentimeter saja yang memisahkan mereka.
Kedua tangan Rin mencengkram rok yang ia kenakan erat. Sementara bibirnya bergetar kecil. Sepertinya kegugupan tengah menguasainya.
“Tidak kusangka, Kuroto-kun sekaya ini.”
Rupanya perempuan itu hanya terkejut karena kekayaan pria yang duduk di sampingnya.
“Hn…” Tidak ada respon dari Yoshiki, ia hanya berguman malas sambil menatap kota yang terus menerus diguyur badai.
CKIIIIITTTTT!!!!
Belum ada sepuluh menit perjalanan, mobil yang Yoshiki dan Rin tumpangi mendadak melakukan rem mendadak lantas saja keduanya yang tanpa persiapan nampak limbung mengikuti gaya kelembaman.
“Apa yang kau lakukan!?” Ditengah emosinya Yoshiki menyalak kepada supirnya.
“M-My Lord…. I-itu….” Sang supir hanya bisa berguman rancu dengan tatapannya yang terarah pada bayangan manusia yang hanya diterangi oleh lampu mobil berdiri di tengah hujan menghalangi jalan mereka.
Kedua Onyx milik Yoshiki melebar sempurna sebelum akhirnya sang empunya merengsek keluar mobil dan berlari kea rah sosok itu.
Terbawa penasaran, Rin Otome yang masih memiliki kewarasannya keluar mobil dengan payung di tangannya.
“Ada apa Kuroto-kun?” Tanya Rin tenang begitu ia telah berdiri sedekat mungkin dari Yoshiki.
“HEEEEE JADI INI KUCING PENCURINYA!!” Tiba-tiba dari bisingnya suara hujan pecah suara teriakan Hana. Pandangannya menyala-nyala penuh dendam dan semua terarah pada Otome Rin.
“Eh? A—“
CRAAASSSHHH
Belum habis kalimat perempuan malang itu. Sebuah kapak terayun dan memisahkan badan kepalanya. Kejadian itu begitu cepat, membuat Yoshiki sampai-sampai tak bisa berbuat apapun selain kedua matanya melebar karena reflex.
Kepala Otome Rin menggelinding di jalanan yang tergenang oleh air hujan. Menjadi seonggok kepala yang terus diguyur airhujan tanpa ampun. Sama halnya dengan tubuhnya yang tergeletak.
“HA HA HA HA!!” Derasnya suara hujan tidak menghalangi gelak tawa Hana yang tertawa seperti orang kesetanan. Matanya melotot dan bibirnya terbuka lebar sambil menatap awan kelabu.
BRUUK
Tak lama setelah itu Hana pingsan dalam dekapan Yoshiki. Keduanya kembali ke mansion setelah supir memberikan mereka handuk untuk mengeringkan diri sementara.

….
Kejap.
Kejap.
“Ah!”
Hana bangkit seketika begitu merasa kesadarannya telah terkumpul sepenuhya.
“Ohayou, My Lady,” sapaan yang begitu familiar dan menenangkan itu menghentikan Hana dari kebungungannya.
“Y-Yoshiki-kun…” Terbata-bata Hana mengucapkan nama pria yang kini duduk di dekat ranjangnya sambil menyodorkan segelas milk tea—favoritnya.
Hana menerima cangkir itu dengan sedikit enggan akibat pikirannya yang berkecamuk.
“….” Sedetik kemudian sapphirenya membulat begitu ia mengingat dengan jelas mengenai apa yang telah terjadi.
Bibir Hana bergetar, “m-maaf…. Aku seperti kehilangan kendali diriku. Aku melihat kapak karatan dibuang lalu semuanya menjadi gelap, dan… dan… aku memenggal leher perempuan itu...” hampir saja dijatuhkannya milk tea ditangannya, namun Yoshiki dengan tanggap meraih dan menjaga genggaman Hana.
“Hn?” Yoshiki hanya menanggapi santai, “dan kenapa kau harus meminta maaf?”
Kepala Hana perlahan tertunduk, rambut-rambut hitam pendeknya menjuntai kecil menutupi wajahnya, “karena aku sudah membunuh selingkuhanmu.”
“Selingkuh?”
“Yoshiki-kun pergi menonton orchestra dan pergi ke café dengannya…. Dan… kalian berciuman…” ujar Hana lemah.
Alis Yoshiki berkerut beberapa saat, rasa terkejut sempat menyerang dirinya karena Hana nampak mengetahui semuanya, “… kau tau?”
“Umm…” Hana mengangguk lemah menyetujui, “aku pernah bilang ke toko buku bersama Yui, Shiro, dan Maki kan? Malam itu aku melihat mobil Yoshiki-kun lewat. Dan aku melihat… siluet seorang perempuan di samping Yoshiki-kun. Aku penasaran siapa perempuan itu tapi aku tidak berani menanyakannya kepada Yoshiki-kun. Hingga aku meminjam ponsel Yoshiki-kun dan malah menemukan email berisi janji bertemu di café. Maka aku datang. Untuk melihat langsung.”
“Kau datang?” Kernyitan dalam alis Yoshiki nampak semakin dalam, ia ditelan kebingungan sekarang lantaran tak menyadari keberadaan Hana di dalam café yang berukuran luas tidak sampai 50 meter persegi itu.
“Aku duduk tepat di belakang Yoshiki-kun.”
Yoshiki tertohok oleh kalimat Hana. Dengan jarak yang luar biasa dekat itu bahkan Yoshiki tidak menyadari keberadaan Hana. Betapa memalukan dirinya.
Hana mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menunjukkan sebuah foto yang semakin membuat Yoshiki tak mampu berkata apapun. Itu foto yang Hana ambil ketika ia dan Otome Rin bersama mendengarkan music lewat earphone. Dari sudut pengambilan fotonya, terbukti jika Hana memang duduk tepat di belakangnya.
“Aku…. Buta nada… tidak tau apapun soal musik klasik…” Hana menghela nafas berat untuk menjeda kalimatnya, “namun hobi Yoshiki malah kebalikannya. Yoshiki-kun begitu hebat dalam musik klasik, aku tak bisa apa-apa, lalu perempuan itu muncul, ia menemani Yoshiki-kun dalam hobinya. Aku tidak keberatan. Ah, bohong, aku iri, namun mau bagaimana lagi? Namun perempuan itu menjadi seolah lebih tau segala hal dari Yoshiki-kun yang tak kuketahui. Sampai-sampai…. Dia… dia—“
GREP
Kalimat Hana terhenti. Kedua bola matanya membesar karena terkejut.
Yoshiki memeluknya tiba-tiba.
Getaran pada bibir Hana meningkat intensitasnya dibarengi dengan lelehan air mata yang mulai membasahi pipinya.
“Huwaaaaaa aaaaaaa” Tangis Hana pecah di dalam dekapan hangat suaminya.
Hujan masih terus mengguyur seisi kota. Seolah menemani tangis Hana.



“Ini koleksiku,” Yoshiki membawa Hana memasuki sebuah ruangan yang pintunya bahkan tak pernah Hana sentuh.
Ruangan itu penuh dengan deretam rak-rak berisikan berbagai album musik klasik yang ditata begitu apik bagaikan tempat pameran. Tak lupa berbagai CD Player berada di tengah-tengah ruangan. Bahkan gromofon tua yang jarang ditemui pun ada.
“Woah…. Tempat ini keren…” aku Hana terpukau.
Perlahan Yoshiki meletakan sebuah piringan hitam ada gromofon dan menyetelnya. Perlahan sebuah suara yang cukup rapuh mengalir keluar.
“Erlkonig, Franz Schubert.”
Hana terpukau. Tidak hanya musik klasik yang mampu mengingatkannya pada kenangan lama, tapi juga terdengar suara pria yang menggumankan bahasa asing—bagi Hana—seolah bercerita.
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.